Mulai 16 April 2023, Qantas Buka Penerbangan Langsung Melbourne – Jakarta, 3x Seminggu

Ada kabar gembira bagi penikmat perjalanan Indonesia – Australia, pasalnya Qantas telah mengumumkan rencana pembukaan rute penerbangan langsung – non stop – antara Jakarta (CGK) dan Melbourne (MEL). Bagi Qantas, ini merupakan pembukaan rute internasional ketiga dari Melbourne pasca pembukaan pembatasan perjalanan pada 2022 lalu.

Baca juga: Qantas Terbang Lagi ke Jakarta Sepekan Tiga Kali Mulai November, Catat Tanggalnya

Sebelum ke Jakarta, Qantas telah membuka penerbangan pasca pembatasan untuk Melbourne – New Delhi (India) dan Melbourne – Dallas (AS). Dikutip dari flighthacks.com.au, mulai 16 April 2023, Qantas akan membuka penerbangan 3x seminggu antara Melbourne – Jakarta, dengan menggunakan pesawat widebody Airbus A330.

Rute baru ini menambah operasi harian Qantas yang sudah ada antara Sydney dan Jakarta, serta penerbangan ke kawasan wisata populer Denpasar (Bali) dari Sydney dan Melbourne. Sebagai catatan, Garuda Indonesia, juga telah melayani Sydney dan Melbourne dari Jakarta dan Denpasar.

Penerbangan 3x seminggu antara Melbourne – Jakarta akan dilayani setiap hari Minggu, Rabu, dan Jumat mulai 16 April 2023, untuk detail jadwalnya adalah sebagai berikut:

QF39, MEL-CGK, 15:10 hingga 19:15, 7 jam 5 menit
QF40, CGK-MEL, 21.00 hingga 06.40(+1), 6 jam 40 menit

Seperti disebutkan, penerbangan ini diatur untuk dioperasikan oleh pesawat Airbus A330, yang menampilkan kelas bisnis dan ekonomi dalam konfigurasi 2-4-2.

Baca juga: Masalah Keamanan, Qantas Tiba-tiba Batalkan Penerbangan Perth-Jakarta, Gegara Wanita Terobos Istana?

Data dari ch-aviation.com menunjukkan Qantas memiliki 18 unit A330-200 dan 10 unit A330-300, dengan kebutuhan widebody didukung juga oleh 11 unit Boeing 787-9 dan 10 unit Airbus A380. Sementara, armada pesawat narrow body memiliki 75 unit Boeing 737-800.

British Airways Terbitkan Pedoman Bermedia Sosial, Pilot dan Awak Kabin Dilarang Buat Konten Saat Berseragam

Bagi Anda penikmat konten dari awak kokpit dan awak kabin di media sosial, sepertinya akan kehilangan atas konten yang berasal dari pilot dan pramugari maskapai British Airways (BA). Pasalnya, telah diterbitkan pedoman khusus menggunakan media sosial bagi pilot, awak kabin dan karyawan lainnya selama mereka mengenakan seragam. Larangan tersebut secara efektif mencakup beberapa platform media sosial ternama, seperti Instagram, TikTok, dan Twitter.

Baca juga: British Airways Luncurkan Seragam Baru Pramugari Ramah Gender: Diizinkan Pakai Hijab-Jumpsuit

Dikutip dari paddleyourownkanoo.com (2/3/2023), maskapai nasional Inggris yang berbasis di Heathrow ini, telah melarang staf membuat konten, seperti mengambil dan membagikan foto diri mereka di tempat kerja, atau pada saat mereka terlibat secara profesional dalam pekerjaan mereka.

Beberapa pilot dan awak kabin yang telah menemukan kesuksesan dan popularitas di media sosial dengan memposting foto dan konten lain tentang pekerjaan mereka, kemudian menafsirkan aturan baru tersebut sebagai larangan total terhadap hobi mereka.

Khawatir bahwa mereka dapat menghadapi tindakan disipliner yang serius, termasuk pemutusan hubungan kerja, banyak karyawan menggunakan media sosial pada hari Rabu lalu, yaitu untuk mengumumkan bahwa mereka tidak akan lagi memposting konten yang terkait kehidupan kerja.

Aturan baru dari British Airways diyakini telah diperkenalkan setelah lonjakan aktivitas media sosial oleh pilot dan awak kabin yang berisiko membocorkan data sensitif. Maskapai juga khawatir dengan munculnya perilaku influencer media sosial di dalam jajarannya sendiri.

Aturan bermedia sosial juga secara tegas melarang foto dan video yang dibawa ke tempat istirahat ‘rahasia’ para kru, serta video timelapse kru yang bekerja di galeri selama layanan makan atau selama naik dan turun pesawat.

Bidikan ikon awak kabin yang duduk di dalam mesin pesawat juga telah dilarang berdasarkan pedoman baru.

Juru bicara British Airways membantah pedoman tersebut melarang karyawan memposting foto diri mereka di media sosial dan sebaliknya bersikeras bahwa aturan baru memberikan lebih banyak kebebasan. “Kami tidak menghentikan kolega mana pun untuk memposting di media sosial – justru sebaliknya,” kata maskapai itu dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: British Airways Mulai Uji Coba Boarding Biometrik ke Penumpang Penerbangan Internasional

“Kami telah memberikan kejelasan kepada orang-orang kami tentang apa yang tepat dan kapan. Misalnya, saat kolega kita menerbangkan pesawat, mereka bertanggung jawab atas keselamatan semua orang di dalamnya. Tidak masuk akal untuk meminta mereka menunggu sampai istirahat untuk mengambil foto.”

Manjakan Para Turis, Thailand Bangun “Kota Penerbangan” U-Tapao

Pemerintah Thailand sedang membangun “Kota Penerbangan” baru yang epik senilai US$8,8 miliar. Proyek tersebut adalah dengan mengubah Bandara tua U-Tapao di Thailand Timur menjadi Aviation City. Konstruksi megastruktur akan dimulai awal tahun ini dan dilaporkan akan menghasilkan 15.600 pekerjaan tambahan dalam lima tahun pertama pembangunan.

Baca juga: ‘Raja Garbarata’ Indonesia Menangkan Tender Pengadaan di Bandara Don Mueang Thailand

Dikutip dari Reuters.com, pembangunan Kota Penerbangan U-Tapao juga akan memperkuat industri penerbangan Thailand. Kota Penerbangan U-Tapao mencakup area sekitar 2.570 hektar di timur industri Thailand. Konsepnya pusat transportasi baru ini bertujuan untuk menarik lebih banyak wisatawan ke Negara Gajah Putih.

Terminal internasional baru akan dihubungkan dengan bandara untuk melayani penerbangan berbiaya murah (Don Muang) dan bandara utama Thailand (Suvarnabhumi) untuk membawa penumpang berbagai penerbangan dan operator. Selain itu, Kota Penerbangan ini akan mencakup zona perdagangan bebas untuk berbagai komoditas, pusat pelatihan penerbangan, dan pusat perawatan pesawat.

One Works telah ditunjuk sebagai desainer utama untuk proyek ini. Perusahaan konsultan dan desain arsitektur internasional ini berharap dapat meningkatkan kenyamanan wisatawan sambil menampilkan budaya Thailand yang penuh warna. Bagian luar Gedung Terminal Penumpang mengambil inspirasi tradisional yor (jaring ikan) di kota-kota pesisir terdekat di Provinsi Rayong. Interior yang cerah dan lapang akan menampilkan skylight besar dan banyak tanaman hijau.

Gedung Terminal Penumpang juga akan dilengkapi dengan berbagai tempat makan yang membangkitkan semangat pasar jalanan Thailand. Selain itu, gedung ini akan memiliki area Ritel Smart Eco Hub yang terletak di pusat untuk pembelanja dan Desa Budaya yang akan memberikan hiburan bagi semua pengunjung.

Pada dasarnya, konsep Kota Penerbangan adalah tempat di mana Anda dapat makan dan bersantai sebelum, selama, atau setelah perjalanan.

Baca juga: Begini Gaya Marshaller Cilik di Bandara Thailand Parkir Pesawat

Dengan perluasan tersebut, Bandara Internasional U-Tapao pada akhirnya dapat menerima antara 60 juta hingga 75 juta penumpang per tahun.

Singapore Airlines Luncurkan Layanan WiFi Gratis Tanpa Batas, Ini Syaratnya

Singapore Airlines (SIA) meluncurkan layanan WiFi gratis tanpa batas dalam penerbangan untuk semua pelanggan Business Class, serta anggota PPS Club dan pemegang kartu tambahan PPS Club. Selain itu, anggota KrisFlyer sekarang dapat menikmati paket WiFi gratis selama tiga jam saat berpergian dengan Premium Economy Class dan paket WiFi gratis selama dua jam saat berpergian dengan Economy Class.

Baca juga: Qatar Airways Luncurkan Pesawat Ke-100 dengan Super WiFi, Tawarkan Satu Jam Gratis Akses

Pelanggan yang bukan anggota KrisFlyer, dan anggota KrisFlyer yang mungkin telah menggunakan paket gratis mereka selama penerbangan, dapat memanfaatkan paket harga Wi-Fi baru yang semakin mudah dan menarik dari SIA. Paket baru ini mulai dari USD3,99 (sekitar SGD5,25) untuk satu jam, USD8,99 (sekitar SGD11,80) untuk tiga jam, dan USD15,99 (sekitar SGD21,00) untuk selama penerbangan.

Penyempurnaan layanan ini semakin meningkatkan pengalaman pelanggan dalam penerbangan bersama SIA, dimana pelanggan Suites dan First Class juga dapat menikmati WiFi gratis tanpa batas. Hasilnya, SIA menjadi salah satu maskapai penerbangan pertama yang menawarkan Wi-Fi gratis tanpa batas di seluruh jaringan penumpangnya untuk pelanggan Suites, First Class, dan Business Class, serta anggota PPS Club.

Baca juga: Sering Bepergian Naik Pesawat, Pasti Tahu Aplikasi Pembobol WiFi Bandara Ini, Kan?

Sebelumnya, pelanggan Business Class dan anggota PPS Club mendapatkan layanan WiFi gratis dalam penerbangan sebesar 100MB. Sedangkan anggota KrisFlyer yang berpergian dengan Premium Economy Class dan Economy Class mendapatkan layanan WiFi gratis dalam penerbangan yang dioptimalkan untuk layanan pesan teks saja.

Pesawat Bakal Tanpa Jendela di Masa Depan, Ini Alasannya

Salah satu hal paling berkesan dalam penerbangan adalah melihat pemandangan indah di luar pesawat. Terlebih pada penerbangan malam hari, utamanya di wilayah kutub dimana terdapat Aurora. Sayangnya, di masa depan penumpang terancam tak bisa melihat pemadangan lantaran pesawat bakal tanpa atau tidak ada jendela. Kenapa demikian?

Baca juga: Di Masa Mendatang, Pesawat Bakal Tanpa Jendela! Layar OLED Jadi Gantinya

Di awal kemunculan pesawat jet komersial pada dekade awal tahun 1950, jendela pesawat jauh lebih besar dari ukuran jendela pesawat saat ini. Selama setahun lebih, jendela besar di pesawat, salah satunya pesawat jet komersial pertama di dunia, De Havilland Comet, terus memanjakan penumpang.

Namun nahas, setahun setelah beroperasi untuk pertama kalinya secara komersial atau pada 2 Mei 1952, pesawat De Havilland Comet mengalami kecelakaan fatal. Kecelakaan fatal terulang di tahun berikutnya atau pada tahun 1954.

Dari dua kecelakaan tersebut, penyidik menemukan sumber masalahnya berasal dari metal fatigue. Selain itu, jendela pesawat berbentuk kotak dan cukup besar juga menjadi penyebab utama kecelakaan De Havilland Comet. Jadi, jendela besar dan bentuknya kotak adalah masalah.

Di penghujung dekade 50an dan awal dekade 60an, semakin banyak pesawat jet bermunculan dan bisa ditebak, jendelanya berbentuk bulat atau oval dan ukurannya kecil. Kendati kecil, kebutuhan penumpang melihat pemandangan di luar pesawat tetap terakomodir.

Ukuran jendela semakin kecil pada akhir dekade 60an seiring kemunculan pesawat supersonik Concorde. Diketahui jendela pesawat tersebut tak lebih dari telapak tangan orang dewasa. Sangat kecil.

Baca juga: Kenapa Jendela Tidak Sejajar dengan Kursi di Pesawat untuk Kenyamanan Penumpang?

Di dekade yang sama, Boeing juga berhasil membuat pesawat pertama tanpa jendela, Boeing 797. Pesawat itu bukan hanya peruntukan militer tetapi juga komersial dan mulai mengangkut penumpang dari tahun 1968 hingga 1992. Saat ini, memang tidak ada pesawat komersial atau pesawat penumpang tanpa jendela. Tetapi, di masa depan, itu diprediksi akan terulang.

Ron Wagner, mantan pilot USAF dan mantan pilot maskapai, menulis di Quora, ada sederet alasan mengapa di masa depan pesawat akan didesain tanpa jendela. Pertama, seiring kecanggihan teknologi, penumpang dapat berselancar di media sosial dan internet selama dalam penerbangan. Belum lagi ada layar 4K di depan penumpang. Ini jauh lebih menarik dibanding melihat keluar jendela.

Bagi maskapai, pesawat tanpa jendela sangat menguntungkan dari sisi finansial. Sekecil apapun, keberadaan jendela justru membuat bobot pesawat bertambah. Tak cukup sampai di situ, keberadaan jendela juga melemahkan badan pesawat sehingga pabrikan harus memperkuat struktur. Akibatnya, bobot jadi lebih bertambah, konsumsi bahan bakar meningkat, dan cost bertambah.

Dengan mengoperasikan pesawat tanpa jendela, itu berarti bobot pesawat jadi lebih ringan, konsumsi bahan bakar rendah, dan menghemat lebih banyak uang. Pesawat tanpa pesawat juga tidak membutuhkan banyak perawatan selama umur badan pesawat.

Saat di darat, pesawat tanpa jendela menguntungkan bagi maskapai karena menghemat uang dari penggunaan APU. Adanya jendela membuat kabin menjadi panas. APU bekerja lebih keras untuk mendinginkan pesawat sehingga cost menjadi lebih tinggi. Dengan tanpa jendela, suhu di kabin lebih stabil sekalipun keadaan di luar sangat panas.

Baca juga: Apakah Pilot Pernah Bosan Melihat Keluar Jendela Selama Penerbangan Jarak Jauh?

Alasan lain kenapa di masa depan pesawat tanpa jendela adalah perkembangan teknologi virtual window atau jendela virtual. Jendela virtual menawarkan lebih banyak keuntungan bagi penumpang, termasuk dapat melihat objek di bagian kiri dan kanan pesawat. Bagi maskapai, jendela virtual tetap menguntungkan layaknya tanpa jendela.

Selain jendela virtual, di tren di masa depan adalah melapisi seluruh bagian kanan dan kiri pesawat dengan layar OLED. Ini akan memberikan kesan luas di kabin dengan pemandangan menakjubkan seolah-olah pemandangan di luar pesawat. Layar OLED tersebut juga mengurangi perasaan claustrophobia.

Mau Jadi Investigator Kecelakaan Udara? Ini Sederet Syaratnya

Investigator Kecelakaan Udara (Air Accident Investigators) memainkan peranan sangat penting dalam menciptakan keamanan dan keselamatan penerbangan. Salah satunya caranya ialah dengan mengungkap penyebab kecelakaan udara dan merekomendasikan banyak hal  mulai dari desain sampai prosedur semata agar kejadian serupa atau kecelakaan lainnya tak terjadi.

Baca juga: Ada “Investigator Ridge” di Layar IFE Etihad, Apakah Itu?

Mengingat posisinya itu yang sangat penting, Investigator Kecelakaan Udara harus memiliki kualifikasi tinggi di berbagai bidang, mulai dari psikologi untuk mempelajari kecederungan pilot sebelum terjadinya kecelakaan, keputusan pilot, dan banyak lainnya. Lantas, apa saja syarat menjadi seorang Investigator Kecelakaan Udara?

Masing-masing negara tentu saja mempunyai instansi yang fokus di bidang investigasi kecelakaan, dalam hal ini kecelakaan udara. Di Inggris ada AAIB (Cabang Investigasi Kecelakaan Udara) dan di Amerika Serikat (AS) ada NTSB (Dewan Keselamatan Transportasi Nasional).

Di kedua instansi tersebut, selain syarat umum seperti harus memiliki gelar sarjana di bidang kedirgantaraan, penerbangan, listrik, elektronik, dan mekanik dan gelar master di bidang yang lebih spesifik lagi terkait kecelakaan udara dan keselamatan penerbangan, pengalaman menjadi syarat lainnya yang juga wajib.

Itu berarti, calon Investigator Kecelakaan Udara harus memiliki sertifikasi pilot dan harus mempunyai pengalaman terbang sebagai pilot, insinyur pesawat terbang, ATC, dan banyak lainnya. Pengalaman ini nantinya akan sangat berguna dalam memahami kerangka kejadian penyebab kecelakaan pesawat udara secara utuh.

AAIB dan NTSB juga mensyaratkan kemampuan di bidang psikologi dalam memahami kondisi batin pilot sampai terjadinya kecelakaan. Psikologi yang dimiliki Investigator Kecelakaan Udara terbukti sukses mengungkap banyak kecelakaan udara, salah satunya kecelakaan pesawat Boeing 747-200F Korean Air Cargo dengan nomor penerbangan 8509 di Bandara London Stansted, Inggris, tak lama setelah lepas landas.

Hasil investigasi mengungkap, selain masalah teknis, penyebab utama kejadian adalah kapten pilot yang seorang mantan perwira tinggi tentara terlalu berwibawa. Sehingga kopilot dan flight engineer tidak berani mengkoreksi kapten sekalipun keduanya tahu kapten pilot salah menilai insiden yang berujung fatal.

Saat terjadi kecelakaan udara, Investigator Kecelakaan Udara adalah orang pertama yang datang ke lokasi, mengumpulkan barang bukti, memetakan lokasi, memdokumentasikan kejadian, menyusun riwayat penerbangan, melihat data, menganalisis FDR (flight data recorder) dan CVR (cockpit voice recorder), membuat urutan kecelakaan, menggambarnya, sampai mengungkap kecelakaan.

Di Indonesia sendiri, cara kerja dan tanggung jawab Investigator Kecelakaan Udara kurang lebih sama dengan yang di atas. Demikian juga dari segi persyaratan. Hanya saja terdapat beberapa perbedaan kecil.

Baca juga: Diam-diam ‘Warisan’ Alm. Dirut Sardjono Jhony Jadi Solusi KNKT Akhiri Kecelakaan di TransJakarta

Dikutip dari jdih.kemenkeu.go.id, Investigator Kecelakaan Udara bukanlah anggota dari KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi). Itu berarti Investigator Kecelakaan Udara bukanlah PNS, tetapi mereka bisa berasal dari unsur PNS dan swasta.

Mengingat posisinya yang sangat penting, Investigator Kecelakaan Udara mendapat gaji sangat besar. NTSB diketahui membayar sampai Rp1,7 miliar per tahun. AAIB juga demikian dan angkanya tak jauh-jauh dari itu. Di Indonesia, seorang investigator mendapat gaji Rp144 juta per bulan, tergantung jabatan dan posisinya.

Terbangkan Pesawat Kosong Tanpa Penumpang dan Kargo, Apakah Pilot Dibayar?

Selain mendapat gaji sebagaimana karyawan lainnya, pilot maskapai turut dibayar berdasarkan jam terbang mereka. Namun, saat pilot menerbangkan pesawat dalam kondisi tanpa penumpang dan kargo alias kosong, apakah pilot tetap dibayar berdasarkan jam terbang, ada tidaknya penumpang dan kargo?

Baca juga: (2) 10 Maskapai yang Menggaji Pilot Paling Tinggi di Dunia

Di dunia, ada beragam jenis pekerjaan pilot, mulai dari airline pilot, corporate pilot, cargo pilot, charter pilot, private pilot, flight instructor, law enforcement pilot, aerial firefighter pilot, sampai crop duster pilot.

Besaran gaji jenis pilot di atas tentu berbeda-beda. Selain jenis pekerjaannya juga beda, perbedaan gaji pilot juga didasari oleh tipe operasional, pesawat yang mereka terbangkan, posisi atau jabatan, serta seberapa lama mereka bekerja untuk perusahaan. Belum lagi pundi-pundi uang lainnya yang mungkin bisa diraup pilot di beberapa kondisi.

Airline pilot pay normalnya dihitung berdasarkan per jam. Tetapi, turunan dari itu bergantung pada setidaknya sembilan kondisi. Sembilan kondisi tersebut mulai dari pilot pay rigs, trip rig pay, duty rig pay, block rig pay, determining pay earned based on pilot pay rigs, work rules effect on pay, paid time of within the rig system, pilot employer operations and quality of life, hingga pilot per diem day.

Pilot pay rigs pada intinya pilot dibayar berdasarkan trip atau tugas yang diberikan kepada mereka, mulai dari satu hari hingga satu minggu. Hal itu tentu berbeda dengan trip rig pay. Rig system tersebut memungkinkan pilot dibayar berdasarkan rasio perjalanan.

Baca juga: Pernah Dengar dan Tahu Makna Ferry Flight? Simak di Sini Jika Belum

Seumpama, dalam empat hari, pilot menyelesaikan perjalanan sekitar 78 jam. Biasanya rasio yang digunakan 1:3, 1:4, dan 1:5. Dengan rasio, misalnya, 1: 4 maka 78 dibagi 4 dan hasilnya adalah 19,5. Jika pilot dibayar berdasarkan trip rig, pilot akan mendapat bayaran 19,5 jam.

Senada dengan trip rig, duty rig juga memungkinkan pilot dibayar berdasarkan rasio. Sebagai contoh, dalam empat hari, pilot berhasil terbang selama 42 jam, dengan rincian 8-12-12-10 hari berturut-turut dari hari pertama samapi ke empat.

Rasio yang digunakan biasanya berkisar 1:1,5 – 1:3. Itu berarti, dengan rasio, misalnya, 1:2 pilot akan dibayar sebanyak 21 jam, hasil dari 42 dibagi 2. Hal itu justru berbanding terbalik dengan block rig pay, dimana model pembayaran pilot cenderung statis. Maksudnya, bila pilot menyelesaikan 25 jam perjalanan dalam sepekan, maka, ia dibayar seharga itu.

Lain lagi dengan determining pay earned based on pilot pay rigs. Sistem ini dinilai menguntungkan pilot dengan pembayaran berdasarkan catatan tertinggi. Biasanya, pilot diminta untuk memilih mereka dibayar untuk model yang mana di antara tiga ini, away from base, duty time, dan actual flight time.

Dengan model determining pay earned, maka, pilot tak perlu repot memilih ketiga itu. Sebab, sudah otomatis, pembayaran tertinggilah yang akan diberikan ke pilot. Misalnya, berdasarkan away from base, maka pilot mendapat jam terbang 19,5 jam. Berdasarkan duty time, pilot mendapatkan 21 jam. Sedangkan bila berdasarkan actual flight time, pilot mendapat 25 jam. Jika demikian, pilot otomatis akan dibayar sebanyak 25 jam kerja.

Pada intinya -menjawab pertanyaan di awal- mulai dari pilot pay rigs sampai pilot per diem day, pilot profesional dibayar berdasarkan jam penerbangan, tak peduli apakah penerbangan itu ferry flight atau kosong tanpa penumpang dan kargo atau tidak. Begitu menurut Imran Ismawi, pilot sebuah maskapai, seperti dikutip dari Quora.

Baca juga: (2) Hidup Bak ‘Sultan,’ Inilah Rincian Umum Sistem Gaji Pilot! Pantas Saja Bergelimang Harta

Lebih lanjut, selain pilot maskapai (airline pilot), pilot lain, seperti private pilot, mungkin saja tidak dibayar saat menerbangkan pesawat kosong.

Karenanya, pada penerbangan ferry flight, operator private jet bekerja sama dengan sekolah penerbangan untuk memberikan kesempatan pilot newbie menambah jam terbang secara gratis. Di saat yang bersamaan, operator bisa memindahkan pesawat gratis tanpa membayar pilot. Ini menjadi win-win solution bagi kedua belah pihak.

Cross Island Line Tahap 1 Mulai Dibangun, Jalur Metro Bawah Tanah Kedelapan dan Terpanjang di Singapura

Land Transport Authority (LTA) atau Otoritas Transportasi Singapura, telah memulai pembangunan Cross Island Line (CRL) Fase 1 setelah upacara peletakan batu pertama yang diresmikan Menteri Transportasi, Iswaran, di lokasi stasiun CRL Bright Hill pada 18 Januari 2023.

Baca juga: Dari Bekas Kuburuan Sampai Rawa, Inilah Fakta Unik Tentang Nama Stasiun MRT Singapura

CRL sepanjang 50 km akan menjadi jalur metro bawah tanah kedelapan dan terpanjang di Singapura, yang menghubungkan pusat-pusat utama seperti distrik Jurong Lake, distrik Punggol Digital, dan Changi. Jalur yang akan dibuka dalam tiga tahap ini diharapkan dapat mengangkut lebih dari 600.000 penumpang per hari ketika tahap pertama dibuka pada tahun 2030.

CRL Fase 1 terbentang sepanjang 29 km dengan 12 stasiun dari Aviation Park ke Bright Hill, dengan persilangan ke Jalur Timur-Barat di stasiun Pasir Ris, Jalur Timur Laut di stasiun Hougang, Jalur Utara-Selatan di Stasiun Ang Mo Kio dan Thomson-Pantai Timur Jalur di Stasiun Bright Hill.

LTA meluncurkan tender untuk CRL Tahap 2, yang terdiri dari enam stasiun dari Turf City ke Jurong Lake District, sementara studi teknik sedang berlangsung untuk tahap ketiga.

Stasiun Bright Hill juga akan terhubung dengan Transit Priority Corridor (TPC) sepanjang 2 km di sepanjang Sin Ming Avenue yang akan mencakup jalur bus khusus, jalur bersepeda baru, dan jalan setapak yang lebih lebar. Ketika TPC selesai sepenuhnya pada tahun 2029, penduduk di kawasan Sin Ming akan memiliki lebih banyak pilihan perjalanan untuk menuju stasiun MRT Bright Hill dan tempat rekreasi seperti Bishan-Ang Mo Kio Park.

Berbagai teknologi telah diadopsi untuk meningkatkan efisiensi dan keselamatan konstruksi di CRL. Ini termasuk alat realitas virtual dan augmented untuk meningkatkan kemampuan dan memfasilitasi koordinasi. Produktivitas lebih ditingkatkan melalui platform seperti simulasi komputer dari berbagai skenario operasi di Depot Changi East.

Tunnel Boring Machine (TBM) berdiameter besar setinggi 12,6 meter akan digunakan untuk membangun berbagai bentangan terowongan antara stasiun CRL seperti antara stasiun Aviation Park dan stasiun Loyang, dengan masing-masing terowongan membawa dua jalur.

Baca juga: Tunnel Boring Machine Pertama untuk Jalur MRT Jakarta Fase 2A Tiba di Pelabuhan Tanjung Priok

Nantinya rangkaian kereta komuter CRL akan dtempatkan di Depot Timur Changi seluas 57 hektar, tidak jauh dari Pusat Pameran Changi. Depo tersebut akan mencakup Pusat Kendali Operasi serta fasilitas perawatan hingga 70 kereta CRL, dan akan dilengkapi dengan panel surya fotovoltaik untuk menghasilkan energi terbarukan untuk operasi depot.

Wing of Zion, “Air Force One” Israel Berbasis Boeing 767 Kembali Mengudara: Dilengkapi ‘Ruang Perang’

Setelah tertatih-tatih di bawah kepemimpinan Perdana Menteri (PM) Israel Naftali Bennett dan semakin suram di bawah PM Yair Lapid, Wing of Zion, proyek pesawat Air Force One Israel kembali dilanjutkan di bawah pimpinan PM Benjamin Netanyahu. Pada 30 Januari lalu, pesawat berbasis Boeing 767-300ER itu sukses melakukan uji terbang lanjutan.

Baca juga: Inilah Air Sinai, Maskapai ‘Hantu’ yang Hubungkan Israel dan Mesir!

Proyek senilai US$241 juta yang dijuluki Wing of Zion itu didasari atas mahalnya biaya kunjungan luar negeri kepala negara, dalam hal ini PM dan Presiden Israel.

Meski kunjungan luar negeri kedua pemimpin Israel itu tidak terlalu banyak atau sebanyak negara besar dan berpengaruh, sekitar 10 kunjungan per tahun, tetapi, PM Israel terdahulu yang saat ini kembali menduduki kursi tersebut, Benjamin Netanyahu, menganggap penting keberadaan pesawat kenegaraan semisal Air Force One. Gagasan ini sudah muncul sejak tahun 2013 silam.

Selama bertahun-tahun, prosesnya terus mandek, baik di tingkat pemerintahan karena perbedaan pandangan antar pemimpin tinggi negara maupun protes keras dari masyarakat karena dianggap membuang-buang anggaran.

Pada tahun 2019, Israel, di bawah pimpinan PM Benjamin Netanyahu, membeli pesawat Boeing 767-300ER bekas pakai Australian Airlines dan Qantas. Pesawat berusia 20 tahun itu sukses melakukan uji terbang perdana pada 3 Novemver 2019.

Setelah Israel berganti kepemimpinan dan posisi PM jatuh ke tangan Naftali Bennett, masa depan pesawat kenegaraan Israel Wing of Zion menjadi suram. Di bawah PM baru Yair Lapid, pesawat itu bahkan sempat ingin dijual tanpa ada pemimpin dari koalisi pemerintahan yang menolaknya.

Di tahun 2022, koalisi pemerintahan bubar dan Israel melakukan pemilihan PM baru sampai akhirnya Benjamin Netanyahu sukses kembali menjabat.

Sebagai pihak yang menggagas adanya pesawat kenegaraan, ia langsung tancap gas melanjutkan proyek Wing of Zion. Terbaru, pada 30 Januari 2023 lalu, seperti dikutip dari Times of Israel, peawat Air Force One Israel itu sukses  lepas landas dari pangkalan angkatan udara Nevatim di selatan.

Pesawat kemudian melakukan sejumlah manuver udara, dan mendarat di Bandara Ben Gurion. Setelah menghabiskan beberapa waktu di sana untuk pemeriksaan lebih lanjut, pesawat diterbangkan kembali ke Nevatim. Belum jelas apakah Wing of Zion pesawat kenegaraan Israel itu siap menerbangkan PM dan Presiden Israel atau tidak.

Baca juga: Bukan Cuma Bisa Mengecam, Indonesia Pernah Larang Pesawat PM Israel Lintasi Ruang Udara Indonesia

Wing of Zion diketahui memiliki banyak fitur canggih selama dimodifikasi manufaktur dalam negeri Israel, mulai dari kantor pribadi PM, kamar tidur, kaman mandi dengan shower, kitchen set, ruang meeting, bahkan ada ‘ruang perang’.

Sayangnya, tak ada detail lebih lanjut apa yang dimaksud dengan ‘ruang perang’ tersebut. Demikian juga dengan kapasitas penumpang. Sebelumnya pesawat Wing of Zion diajukan mampu mengakut 100-120 orang. Tetapi itu dikritik habis oleh Pengawas Keuangan Negara yang menganggap rata-rata penerbangan PM hanya berisi 61 orang.

Libatkan Dua Kepala Negara, Airbus dan Qatar Airways Negosiasi Penyelesaian Kasus A350

Airbus dan Qatar Airways dikabarkan sedang menuju kesepakatan untuk menyelesaikan perselisihan pahit atas pengadaan pesawat widebody A350 yang telah dilarang terbang. Setelah berbulan-bulan perseteruan publik, tidak ada jaminan bahwa kesepakatan dapat dicapai setelah upaya sebelumnya untuk menghindari persidangan tingkat tinggi di London tahun ini dibatalkan.

Baca juga: Makin Panas, Airbus Tuntut Qatar Airways Rp3,1 Triliun Gegara Batal Beli Dua Pesawat A350

Dikutip dari reutes.com, dua sumber mengatakan bahwa ada indikasi yang menggembirakan dan negosiasi telah dipercepat setelah kesibukan aktivitas politik dan pertemuan empat arah yang lancar antara kedua perusahaan dan regulator masing-masing (Perancis dan Qatar) di Doha pekan lalu.

“Akan ada kesepakatan,” kata salah satu sumber, sementara yang lain memperingatkan bahwa pembicaraan masih berlangsung. Airbus dan Qatar Airways sejauh ini belum memberik komentar resmi.

Kedua perusahaan telah bertarung di pengadilan Inggris selama berbulan-bulan atas dampak keselamatan dari pengelupasan cat yang mengekspos korosi dan celah di sub-lapisan proteksi petir.

Perselisihan antara dua pemain terbesar penerbangan telah menyebabkan pembatalan pesanan skala besar yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Airbus. Perseteruan antara dua perusahaan unggulan Perancis dan Qatar juga menjadi perhatian para pemimpin kedua negara.

Sumber diplomatik mengatakan kepada Reuters bulan ini bahwa Presiden Perancis Emmanuel Macron dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani telah berbicara tentang perselisihan tersebut dalam beberapa pekan terakhir.

Menteri Keuangan Perancis Bruno Le Maire juga membahas masalah ini selama kunjungan empat hari di wilayah Teluk termasuk singgah pada Minggu di Doha, di mana dia bertemu dengan emir dan pejabat lainnya, kata sumber kementerian keuangan Perancis.

Kerusakan yang dilaporkan pada sistem antipetir pada Airbus A350 telah mendorong Qatar Airways untuk berhenti menerima pengiriman dan menuntut Airbus dengan jumlah yang ganti rugi yang telah meningkat jauh di atas US$1 miliar.

Regulator Qatar telah mengandangkan setidaknya 29 unit pesawat dengan alasan pertanyaan keselamatan yang belum terjawab. Airbus telah mengakui adanya masalah kualitas dengan model penerbangan jarak jauh perdananya, tetapi menyangkal adanya risiko terhadap keselamatan.

Qatar Airways menuduh Airbus berkolusi dengan Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa – European Union Aviation Safety Agency (EASA), yang menyatakan jet itu aman. Ditanya tentang klaim tersebut, direktur eksekutif agensi tersebut, Patrick Ky, mengatakan kepada Reuters dalam sebuah wawancara: “Tentu saja tidak.”

Baca juga: Airbus Batalkan Kontrak Rp85 Triliun, Qatar Airways Ngamuk-Bocorkan Video Buruknya Kualitas Cat Pesawat A350

Sementara itu Airbus menuduh Qatar Airways sebagai tangan tersembunyi di balik keputusan untuk meng-grounded A350 oleh Otoritas Penerbangan Sipil Qatar – Qatar Civil Aviation Authority, tuduhan yang dibantah oleh maskapai.