2 Juni, AirAsia Buka Rute Penerbangan Langsung Jakarta – Perth, Penjualan Tiket Telah Dibuka

Saat pandemi dua tahun silam, AirAsia dengan terpaksa menutup rute penerbangan langsung dari Jakarta ke Perth. Namun, saat ini AirAsia berencana untuk membuka kembali rute tersebut pada bulan Juni mendatang, persisnya AirAsia akan memulai penerbangan Jakarta – Perth mulai 2 Juni 2023.

Baca juga: Pasca Insiden AirAsia Rute Perth-Bali, KNKT Australia Rekomendasi Tinjau Ulang Instruksi Keselamatan

Terkait dengan pembukaan rute tersebut, pihak AirAsia mulai membuka penjualan untuk penerbangan perdana pada 30 Maret lalu.

Rute antara Jakarta dan Perth akan diterbangi empat kali per minggu pada awalnya. Ini berarti rute tersebut akan mengantarkan lebih dari 1.400 penumpang setiap minggunya. AirAsia berencana menambah frekuensi rute seiring dengan meningkatnya permintaan.

Rute Jakarta – Perth akan menggunakan pesawat narrow body Airbus A320 berkapasitas 180 tempat duduk. Waktu penerbangan Jakarta – Perth memakan waktu sekitar 4,5 jam.

Saat ini, AirAsia menjadi satu-satunya maskapai yang akan menerbangi rute ini secara langsung. Maskapai telah menerbangi rute ini di masa lalu, tetapi tidak ada maskapai yang melanjutkan layanan setelah pandemi Covid-19.

Baca juga: Naik AirAsia Kini Bantu Kurangi Emisi Karbon Berkat Teknologi Descent Optimization Airbus

Rute antara Indonesia dan Australia sangat populer bagi pelancong. Banyak wisatawan tertarik ke tujuan di kedua ujung layanan karena daya tarik belanja, makan, pantai, dan bahkan pendidikan. Menurut Kedutaan Besar Republik Indonesia, jumlah pelajar Indonesia yang telah melakukan perjalanan ke Australia tahun ini sudah lebih dari 20.000 orang. Ini lebih besar dari jumlah pelajar tahun lalu yang mencapai 15.000 orang.

Bukan Soal Isu Keamanan, Mulai 31 Maret 2023 Bandara Israel Larang Operasional Pesawat Jet Bermesin Empat

Otoritas bandara Israel belum lama ini membuat gebrakan terkait layanan penerbangan, yakni dengan rencana pelarangan melintasnya pesawat widebody bermesin empat dengan rute dari dan ke wilayah Israel. Namun di luar dugaan, alasan pelarangan bukan terkait isu dan faktor keamanan yang kerap menjadi momok bagi Negeri Yahudi.

Baca juga: Ben Gurion, Bandara Paling Aman dengan Standar Keamanan Tertinggi di Dunia

Otoritas Bandara Israel – Israel Airports Authority (IAA) telah mengumumkan larangan pesawat dengan empat mesin beroperasi ke atau dari Israel. Larangan akan mulai berlaku pada 31 Maret 2023, dan telah diperkenalkan karena masalah lingkungan, kebisingan, dan keberlanjutan.

Dengan larangan tersebut, pesawat bermesin empat hanya akan dapat beroperasi ke atau dari Israel dalam keadaan luar biasa, dan izin khusus harus diperoleh terlebih dahulu dari Bandara Tel Aviv Ben Gurion (TLV). Sementara rincian pengecualian apa yang akan diizinkan belum dirilis secara resmi, pendaratan darurat atau pesawat pemerintah (seperti Air Force One) mungkin akan diberikan izin.

Direktur Jenderal Otoritas Bandara Israel, Hagai Topolansky, membenarkan tindakan tersebut, dengan menyatakan, “Peningkatan lalu lintas penumpang dan pesawat di Bandara Ben Gurion merupakan tantangan lingkungan. Kami bermaksud untuk memimpin Otoritas Bandara dan Bandara Ben Gurion tidak hanya di bidang digitalisasi tetapi juga untuk memimpin lingkungan dan keberlanjutan dalam dunia penerbangan, menghentikan pendaratan pesawat bermesin 4 di Bandara Ben Gurion adalah satu langkah dan yang pertama langkah dalam rencana yang lebih luas yang saat ini sedang dirumuskan.”

Terkait hal tersebut, IAA telah menghubungi maskapai penerbangan untuk memberi tahu mereka tentang larangan yang akan datang. Namun, saat ini tidak ada penerbangan komersial terjadwal ke Israel yang menggunakan Airbus A340, Airbus A380, atau Boeing 747.

Emirates saat ini beroperasi ke Tel Aviv dua kali sehari dari Dubai (DXB) dengan pesawat Boeing 777 bermesin ganda. Ada desas-desus bahwa layanan itu segera direncanakan untuk ditingkatkan ke Airbus A380, berkat kinerjanya yang lebih kuat dari yang diharapkan. Namun, setelah pengumuman dari IAA, Emirates sekarang harus memikirkan kembali rencana tersebut.

Bandara Ben Gurion saat ini menjadi home base bagi sejumlah operator kargo Boeing 747, termasuk CAL Cargo Air Lines, yang menerbangkan pesawat kargo Boeing 747-400F antara Tel Aviv, Liege, dan New York. Masih harus dilihat bagaimana maskapai dan operator kargo akan bereaksi terhadap larangan tersebut.

Secara fakta, pesawat dengan empat mesin tidak selalu kurang ramah lingkungan dibandingkan pesawat bermesin ganda. Misalnya, berkat kapasitas penumpangnya yang besar, Airbus A380 memiliki pembakaran bahan bakar per penumpang yang lebih rendah daripada kebanyakan pesawat bermesin ganda.

Baca juga: Lucu! Ada Keledai Nyasar ke Bandara Internasional Ben Gurion

Memiliki empat mesin tidak selalu berarti bahwa pesawat juga lebih berisik – teknologi canggih berarti bahwa mesin pada pesawat modern seperti Airbus A380 dapat lebih tenang daripada pesawat bermesin ganda yang usianya lebih tua.

Garuda Indonesia dan Ditjen Imigrasi Luncurkan “Special Lane” Keimigrasian di Bandara Soetta dan Ngurah Rai

Garuda Indonesia bersama dengan Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia, resmi menghadirkan layanan jalur khusus (special lane) keimigrasian bagi penumpang Garuda. Melalui kerja sama ini, seluruh penumpang kelas first class, business class, dan anggota GarudaMiles Platinum khususnya penumpang rute internasional akan mendapatkan nilai tambah.

Baca juga: Mau Melancong? Yuk Intip Biaya Visa on Arrival Saat Tiba di Bandara Luar Negeri

Nilai tambah yang dimaksud berupa seamless travel exprerience terintegrasi khususnya pada proses pre-flight dan post-flight melalui proses pemeriksaan imigrasi yang lebih cepat baik pada saat keberangkatan maupun ketibaan di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta dan di Terminal Internasional Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Special lane di kedua bandara tersebut juga telah beroperasi mulai hari ini, Kamis (30/3).

Peluncuran special lane tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama yang dilaksanakan oleh Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra dan Direktur Jenderal Imigrasi Kemenkumham RI, Silmy Karim pada hari ini, Kamis (30/3) di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan bahwa layanan jalur khusus ini tidak hanya merupakan upaya Garuda Indonesia untuk terus memberikan nilai tambah bagi pengguna jasa namun juga merupakan bentuk komitmen Garuda Indonesia sebagai national flag carrier untuk turut berkontribusi terhadap pemulihan ekonomi nasional khususnya sektor pariwisata melalui berbagai inisiasi dan sinergi strategis bersama stakeholders pariwisata.

Dalam alur layanan jalur khusus tersebut, penumpang first class, business class, dan anggota GarudaMiles Platinum akan diberikan sebuah kartu penanda untuk selanjutnya Passenger Service Assistance (PSA) Garuda Indonesia yang akan mengarahkan penumpang ke counter proses pemeriksaan keimigrasian khusus.

Direktur Jenderal Imigrasi Kemenkumham RI Silmy Karim menyampaikan, bahwa kerja sama ini merupakan perwujudan kolaborasi positif antar stakeholders dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Tidak menutup kemungkinan adanya kerja sama lain, atau mungkin pengembangan layanan ke depannya.

Baca juga: [Update Terbaru] 39 Negara ini Bebas Visa Bagi Pemegang Paspor Indonesia

“Kami Bersama Garuda Indonesia juga akan mensosialisasikan berbagai macam visa yang kami sediakan untuk orang asing, mulai dari Visa kunjungan wisata, electronic Visa on Arrival, Visa pra-investasi, dan dalam waktu dekat akan kami luncurkan Golden Visa yang bisa dimanfaatkan dengan baik oleh orang asing yang berkualitas, “ pungkas Silmy.

Kereta Ferry, Sensasi Naik Kereta di Tengah Laut

Peran ferry kereta dalam dunia transportasi memang memberikan kemudahan tersendiri bagi para penggunanya. Ferry kereta yang pada awalnya berkembang di dataran Inggris ini lalu membawa dampak luas ke seluruh dunia. Tidak hanya melayani kereta biasa, tapi ada juga kereta cepat yang turut menyebrang menggunakan ferry, tentunya dengan berbagai tujuan, seperti wisata atau hanya sekedar perjalanan biasa.

Baca juga: Ferry Kereta, Penyambung Lintasan Jalur Kereta Antar Pulau

Sumber: ulearnchinese.files.wordpress.com
Sumber: ulearnchinese.files.wordpress.com

Pulau Hainan yang berada di Tiongkok merupakan salah satu tempat tujuan wisata yang berada di daerah paling selatan Cina. Menyadari wilayah yang terpisahkan oleh laut ini sebagai salah satu destinasi wisata, pemerintah Tiongkok lalu memudahkan para wisatawan untuk dapat menjangkaunya. Selain menggunakan bus, para pelancong juga dapat menggunakan kereta untuk sampai di pulau yang terkenal dengan Kota Sanya sebagai tujuan wisatanya itu.

Ada beberapa kereta dari berbagai daerah di Tiongkok yang melayani perjalanan menuju Pulau Hainan, seperti Guangzhou, Beijing, Shanghai, Chengdu, Changsha, dan Xi’an. Apabila Anda sedang berada di Guangzhou dan hendak pergi ke Pulau Hainan, Anda dapat menaiki kereta Z385, Z201, K511, K1167, atau Z111. Setiap kereta tersebut memiliki jadwal keberangkatan yang berbeda, jadi pastikan Anda mengeceknya terlebih dahulu. Begitu juga dengan pilihn kursi yang tersedia, ada kelas soft sleepers, hard sleepers, dan hard seat di setiap keretanya, tentu saja tiap kelas memiliki harga yang berbeda.

Kota Beijing pun menawarkan perjalanan menggunakan kereta menuju Pulau Hainan. Walaupun jumlah perjalanannya sebanyak yang ditawarkan oleh Guangzhou, namun para wisatawan merasa terbantu dengan adanya kereta jurusan Pulau Hainan. Anda dapat pergi ke stasiun Barat Beijing dan mencari kereta dengan nomor Z201 yang akan membawa Anda menuju Hainan.

Sesampainya di provinsi Guangdong, kereta lalu dimasukkan ke dalam Yuehai Ferry yang kemudian akan mengantarkan Anda menuju Pulau Hainan. Sesampainya di seberang, Anda tidak perlu repot keluar kereta untuk menunggu kereta keluar dari ferry, tapi Anda akan tetap berada di dalam kereta hingga seluruh rangkaian sepenuhnya keluar dari ferry dan melanjutkan perjalanan menuju stasiun tujuan.

Sumber: Pentaxforums.com
Kereta  dari Jerman ke Denmark. Sumber: Pentaxforums.com

Selain di Tiongkok, ada juga Negara lain yang menawarkan layanan ferry kereta, yaitu kereta yang menghubungkan Jerman dengan Denmark. Kereta yang bertolak dari kota Hamburg, Jerman ini akan membawa Anda menuju Puttgarten, salah satu tempat yang berada di ujung dataran Skandinavia. Lalu kereta akan masuk ke lambung kapal ferry yang dioperasikan oleh Scandlines dan menyeberangi laut dengan jarak kurang lebih 19 km dan akan berlabuh di Rødby, pelabuhan yang berada di Denmark, lalu kereta akan melanjutkan perjalanan menuju Ibu Kota Denmark, Copenhagen. Bagi Anda yang hendak melakukan perjalanan pada rute ini, Anda perlu mengecek jadwalnya terlebih dahulu karena ferry kereta ini hanya beroperasi 2 kali dalam sehari.

Kereta Ferry Bohai. Sumber: Wikimedia.org
Kereta Ferry Bohai. Sumber: Wikimedia.org

Baca juga: Sebaiknya Anda Tahu, Kapal Ferry Bukan Hanya Jenis Ro-Ro Saja

Bohai Train Ferry adalah kereta ferry yang menghubungkan Dalian, Liaoning, Cina dan Yantai Shandong di Laut Bohai. Dengan predikat sebagai pionir ferry kereta, kapal ini memiliki panjang 182,6 m yang memungkinkan untuk memuat 50 gerbong barang, 50 truk bermuatan besar, 25 mobil pribadi, dan 480 penumpang. Kereta ferry ini mulai beroperasi sejak tahun 2007 silam, namun pemerintah Tiongkok sedang berusaha membangun tunnel yang menghubungkan 2 daerah ini, dengan kata lain, ada kemungkinan dihapuskannya layanan kereta ferry ini di masa yang akan datang.

Kuranda Scenic Railroad – Jalur Kereta Berbahaya di Australia yang Tampilkan Eksotisme

Kuranda Scenic Railroad di Negara Bagian Queensland, Australia, dikenal sebagai salah satu jalur kereta paling berbahaya di dunia, lantara ada jalur yang harus melewati tebing berputar di sekitar air terjun dan membuat kereta bergerak perlahan. Namun, lain dari itu, Kuranda Scenic Railroad adalah salah satu destinasi wisata andalan di Negeri Kanguru.

Baca juga: Inilah Hindenburgdamm, Jalur Kereta Api di Atas Laut Sepanjang 11 Km di Jerman

Kuranda Scenic Railroad adalah sebuah kereta api wisata yang beroperasi di sekitar daerah Kuranda, Queensland. Kereta api ini menawarkan perjalanan yang spektakuler melintasi pegunungan hutan hujan dan mengunjungi berbagai tempat wisata menarik.

Kuranda Scenic Railroad memiliki sejarah yang panjang dan menarik. Pada tahun 1880-an, selama zaman emas di Australia, terdapat kebutuhan untuk membangun jalur kereta api yang menghubungkan kota Cairns dengan daerah tambang emas di kawasan Atherton Tablelands. Pekerjaan pembangunan jalur kereta api dimulai pada tahun 1886 dan memakan waktu selama tiga tahun. Konstruksi jalur kereta api di daerah pegunungan tropis dengan medan yang sulit dan hutan hujan yang lebat merupakan tantangan besar bagi para insinyur dan pekerja.

Setelah selesai dibangun, jalur kereta api ini digunakan untuk mengangkut penumpang dan barang dari Cairns ke daerah Atherton Tablelands. Namun, setelah periode emas berakhir, jalur kereta api ini mulai mengalami penurunan penggunaan dan akhirnya ditutup pada tahun 1960-an.

Pada tahun 1990-an, jalur kereta api ini direnovasi dan dibuka kembali sebagai jalur kereta api wisata yang menghubungkan Cairns dengan daerah wisata Kuranda. Pada tahun 1995, Kuranda Scenic Railroad resmi dibuka dan sejak itu menjadi salah satu atraksi wisata paling populer di Queensland, Australia.

Saat ini, Kereta api ini telah menjadi ikon wisata Cairns dan menjadi salah satu cara terbaik untuk menikmati keindahan hutan hujan tropis Queensland. Jalur kereta api ini telah diakui oleh UNESCO sebagai bagian dari Situs Warisan Dunia Queensland Wet Tropics.

Selain menikmati perjalanan kereta api, penumpang Kuranda Scenic Railroad juga dapat melakukan berbagai kegiatan wisata seperti mengunjungi Taman Burung dan Kupu-kupu Kuranda, mengambil tur helikopter atau balon udara panas, atau melakukan perjalanan pulang-pergi dengan Kereta Api Skyrail Rainforest Cableway.

Secara keseluruhan, Kuranda Scenic Railroad menawarkan pengalaman yang spektakuler dan tak terlupakan bagi siapa saja yang ingin menikmati keindahan hutan hujan tropis Queensland.

Biaya untuk naik Kuranda Scenic Railroad bervariasi tergantung pada pilihan tiket dan waktu perjalanan. Berikut adalah perkiraan biaya tiket untuk Kuranda Scenic Railroad:

Tiket Standar: sekitar AUD 50-60 per orang untuk satu arah atau sekitar AUD 90-100 per orang untuk perjalanan pulang pergi.

Tiket Gold Class: sekitar AUD 120-150 per orang untuk satu arah atau sekitar AUD 200-250 per orang untuk perjalanan pulang pergi. Tiket Gold Class menawarkan tempat duduk yang lebih luas, layanan makanan dan minuman, serta panduan tur pribadi.

Baca juga: Ngeri! Inilah Satu-satunya Jembatan Lengkung Kereta Api yang Ekstrim di Jalur Selatan Pulau Jawa

Harap diingat bahwa harga tiket dapat berubah sesuai dengan musim dan waktu perjalanan. Juga, jika Anda memilih untuk melakukan perjalanan pulang-pergi dengan Kereta Api Skyrail Rainforest Cableway, biayanya akan lebih tinggi. Namun, ada beberapa promo tiket yang ditawarkan secara berkala, jadi pastikan untuk memeriksa situs web resmi Kuranda Scenic Railroad untuk mengetahui penawaran terbaru.

Tanggula, Stasiun Terbengkalai di Atas Awan

Mungkin nama stasiun Tanggula agak sedikit asing di telinga kita. Stasiun yang terletak di dataran tinggi Tibet, Cina ini memiliki keunikan tersendiri yang membuat namanya menjadi tersohor. Stasiun ini berada di ketinggian 16.627 ft atau setara dengan 5.068 meter di atas permukaan laut.

Baca juga: Kereta Berkecepatan Tinggi Jadi Sejarah Baru Tibet 

Ini menjadikannya sebagai stasiun tertinggi di dunia, mengalahkan stasiun Ticlio yang berada di Peru dengan ketinggian 4.829 meter di atas permukaan laut, stasiun Condor di Bolivia, India dengan ketinggian 4.786 meter di atas permukaan laut, dan stasiun La Galera yang juga berada di Peru dengan ketinggian 4.781 meter di atas permukaan laut.

Tanggula sendiri merupakan nama dari sebuah gunung yang terletak di dataran tinggi Tibet, Cina dengan ketinggian punggung bukit lebih dari 5.000 meter di atas permukaan laut. Gunung ini juga merupakan muara dari sungai terpanjang ketiga di dunia, sungai Yang Tze.

eca86bd9e2f918df5c5f61

Stasiun Tanggula terbentang dengan jarak 1,25 km dan berdiri di atas lahan seluas 77.002 meter persegi. Stasiun ini terletak di jalur perlintasan kereta api Cina Qinghai – Tibet. Stasiun ini resmi beroperasi pada 1 Juli 2006, namun sejak 2010 stasiun ini tidak lagi beroperasi karena wilayah tersebut tidak berpenghuni. Walaupun kereta sedang berhenti di stasiun ini untuk menunggu jadwal kereta lain yang melintas, Anda tidak diperkenankan untuk turun dan harus tetap berada di dalam kereta, sungguh disayangkan.

Apabila Anda melewati stasiun ini, mungkin beberapa dari Anda akan mengalami sakit kepala dan sesak napas, karena lokasinya yang tinggi membuat kandungan oksigen menjadi semakin menipis. Ini merupakan hal yang wajar terjadi. Namun semua itu akan terbayar dengan pemandangan yang disuguhkan sepanjang stasiun ini. Dari sini Anda dapat melihat indahnya hamparan pegunungan di dataran tinggi Tibet. Ditambah lagi dengan bentuk stasiun Tanggula yang menyerupai sebuah tugu dengan tulisan Cina melintang di bagian tengahnya, sungguh unik.

Tanggula-Mountain-Railway-Station-Tibet

Waktu tempuh dari Qinghai menuju kota Lhasa, Tibet ini sekitar 15 jam dengan jarak tempuh kurang lebih 1.150 km. sepanjang perjalanan, Anda akan melewati wilayah utara pegunungan Kunlun, dimana wilayah ini terkenal sebagai wilayah paling suram dan tidak ramah lingkungan di muka bumi.

Dengan menghabiskan dana sebesar 2,3 miliar poundsterling, pembangunan stasiun ini lebih cepat satu tahun dari waktu yang diperkirakan. Pembangunan ini memecahkan beberapa rekor dunia seperti jalur kereta tertinggi di dunia, stasiun kereta tertinggi di dunia, kereta yang melewati gunung-dataran tinggi dengan jarak terpanjang di dunia, dan terowongan yang melintasi gunung-dataran tinggi terpanjang di dunia.

Tidak dapat dipungkiri, perjalanan dari Qinghai menuju Lhasa, Tibet ini merupakan salah satu perjalanan yang paling menantang, bagaimana tidak, Anda dituntut untuk melewati daerah dengan tingkat oksigen yang tipis, udara yang amat dingin, dan waktu tempuh yang bisa dibilang tidak sebentar. Sempat tersiar kabar, selang satu bulan setelah perjalanan perdana kereta api jalur ini, pemerintah Cina mengumumkan bahwa pemanasan global telah menaikkan suhu di pegunungan lebih cepat dari yang diperkirakan. Ini tentu membuat penumpang sedikit ketakutan, namun masalah ini dapat segera diatasi.

Dengan kondisi medan yang ekstrim seperti ini, tentu saja proses pembangunan stasiun dan jalur rel di daerah ini terbilang amat sulit. Para pekerja harus berjuang melawan dingin, sulit bernapas karena kandungan oksigen yang tipis, dan harus mengeluarkan banyak energi. Situasi ini menjadi semakin suram karena jauhnya akses menuju pemukiman warga, jadi para pekerja harus mempersiapkan segalanya sebelum mereka membangun stasiun ini, termasuk menyuplai nitrogen dan oksigen cair sebagai alat bantu pernapasan.

Pembangunan jalur kereta ini dibuat dengan perhitungan yang matang. Dengan menambahkan beberapa inovasi seperti gerbong yang dipasang oleh alat penyalur oksigen, jendela kereta yang dilengkapi dengan perlindungan dari sinar UV, dan alat khusus yang dipasang di bagian pinggir kereta guna mencegah badai pasir merusak bagian mesin ular besi ini.

Baca juga: Cina Siap Hubungkan Nepal via Jalur Kereta Anyar

Apabila Anda melihat ada aktifitas atau hilir mudik orang di stasiun ini, mungkin Anda sudah mulai berhalusinasi karena stasiun ini sudah terbengkalai dan hanya bongkahan salju yang menghiasi stasiun ini.

Boeing 777-300ER Hasil Konversi ke Pesawat Kargo Terbang Perdana

Konversi pesawat penumpang ke pesawat kargo – passenger-to-freighter (P2F) Boeing 777-300ER (Extended Range) pertama di dunia telah melakukan penerbangan uji perdananya. Israel Aerospace Industries (IAI) sekalu kontraktor telah menyelesaikan konversi untuk pelanggan AerCap, yang pesawat kargo tersebut diharapkan memasuki layanan maskapai kargo Kalitta Air yang berbasis di AS akhir tahun ini.

Baca juga: Emirates Jadi Pelopor Penggunaan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan di Boeing 777-300ER

Boeing 777-300ERSF “Big Twin” pertama, yang merupakan singkatan dari ‘Extended Range Special Freighter’, terbang pada hari Jumat saat program konversi yang sangat dinanti-nantikan tersebut mendekati masuknya layanan.

Menawarkan kapasitas hingga 25% lebih banyak daripada 777-200F dan sejumlah keunggulan efisiensi dibandingkan kargo besar lainnya, Big Twin akan menjadi tambahan utama dalam permainan kargo jarak jauh. Berangkat dari Tel Aviv pada pagi hari tanggal 24 Maret, penerbangan berlangsung kurang dari dua jam dan naik hingga 20.000 kaki di atas Mediterania sebelum kembali dengan selamat.

IAI telah berhasil menyelesaikan penerbangan pertama pesawat penumpang B777-300ER setelah mengubahnya menjadi konfigurasi kargo untuk AerCap. Sebelum menjadi pesawat kargo, pesawat merupakan Boeing 777-300ER milik Emirates yang beroperasi mulai tahub 2005, dan melayani maskapai Timur Tengah selama 15 tahun sebelum diserahkan ke tangan GECAS pada tahun 2020, kemudian AerCap setelah akuisisi sebelumnya pada tahun 2021.

Boeing 777-300ER berbadan lebar akan memiliki muatan maksimum 101,6 ton dan ditenagai oleh dua mesin GE90 dengan pengurangan pembakaran bahan bakar 21% dibandingkan dengan Boeing 747-400F.

Menjelang masuknya layanan yang diantisipasi akhir tahun ini, uji terbang adalah salah satu rintangan terakhir untuk mendapatkan sertifikasi penuh, yang menurut IAI “dalam tahap akhir.”

Jika semua berjalan sesuai rencana, 777-300ERSF pertama akan mulai beroperasi dengan pelanggan peluncuran Kalitta Air pada paruh pertama tahun 2023.

IAI memanfaatkan pengalaman konversi kargo selama 45 tahun, yang mencakup program P2F yang sukses untuk Boeing 767-200/300, Boeing 747-400, dan Boeing 737-700/800, yang semuanya beroperasi saat ini. Perusahaan telah bekerja secara ekstensif dengan lessor AerCap, dengan keduanya bermitra di lebih dari 60 konversi P2F dan terus bertambah.

Baca juga: Saab 2000 Untuk Pertama Kalinya Dikonversi Jadi Pesawat Kargo

Mengingat suksesnya Boeing 777-300ER sebagai pesawat penumpang yang telah mencapai hampir 850 pesanan, tidak mengherankan melihat permintaan untuk pesawat kargo yang dikonversi ini terus meningkat. Kabarnya IAI membangun fasilitas konversi tambahan di beberapa negara untuk memenuhi permintaan konversi.

Yuk Kenali AREX – Kereta Ekspress yang Hubungkan Bandara Incheon dan Kota Seoul

Bila di Swedia ada Arlanda Express sebagai kereta cepat yang menghubungkan akses dari bandara Arlanda ke pusat kota Stockholm, maka di Korea Selatan ada Airport Railroad Express (AREX) yang menjadi wahana kereta cepat yang menghubungkan Bandara Internasional Incheon dan kota Seoul.

Baca juga: Melesat 200 Km Per Jam, Arlanda Express Jadi Kereta Bandara Tercepat

Akses cepat dengan harga lebih murah ketimbang bus dan taksi, menjadikan AREX sebagai alternatif yang dicari saat pelancong baru tiba atau akan meninggalkan Negeri Ginseng. Untuk tarif AREX, bervariasi tergantung pada jenis kereta yang digunakan dan rute yang dilalui. AREX menggunakan dua jenis kereta, yaitu kereta ekspres (Express Train) dan kereta komuter (All Stop Train).

Tarif AREX bervariasi tergantung pada jenis kereta yang digunakan dan rute yang dilalui. Berikut adalah tarif AREX yang berlaku saat ini:

Express Train (kereta ekspres):
Kereta ekspres AREX dapat mencapai kecepatan maksimum sekitar 120 km per jam dan memakan waktu sekitar 43 menit untuk menempuh jarak sekitar 60 kilometer antara kedua stasiun tersebut.

Untuk perjalanan satu arah antara Bandara Incheon dan Stasiun Seoul: KRW 9.000 – KRW 14.800 (tergantung pada jarak yang ditempuh dan kelas kereta yang dipilih).

Untuk perjalanan bolak-balik antara Bandara Incheon dan Stasiun Seoul: KRW 16.000 – KRW 27.000 (tergantung pada jarak yang ditempuh dan kelas kereta yang dipilih).

All Stop Train (kereta komuter):
Kereta komuter AREX berhenti di semua stasiun di antara Bandara Incheon dan Stasiun Seoul, sehingga memakan waktu lebih lama, sekitar 58 menit untuk menempuh jarak yang sama.

Untuk perjalanan satu arah antara Bandara Incheon dan Stasiun Seoul: KRW 4.150 – KRW 4.750 (tergantung pada jarak yang ditempuh dan kelas kereta yang dipilih).

Untuk perjalanan bolak-balik antara Bandara Incheon dan Stasiun Seoul: KRW 8.300 – KRW 9.500 (tergantung pada jarak yang ditempuh dan kelas kereta yang dipilih).

Namun, kecepatan AREX juga dapat bervariasi tergantung pada kondisi lalu lintas dan faktor-faktor lainnya, sehingga waktu perjalanan yang sebenarnya bisa sedikit lebih lama dari estimasi waktu yang disebutkan di atas.

Pada umumnya, tarif AREX relatif terjangkau dan kompetitif dibandingkan dengan moda transportasi lainnya seperti taksi atau bus bandara. Namun, tarif dapat berubah sewaktu-waktu, sehingga disarankan untuk memeriksa tarif terbaru di situs web resmi AREX atau melalui informasi yang tersedia di stasiun sebelum melakukan perjalanan.

Pembangunan AREX dimulai pada tahun 2001, yakni setelah Korea Selatan terpilih sebagai tuan rumah Piala Dunia FIFA 2002. Pemerintah Korea Selatan menganggap penting untuk membangun infrastruktur transportasi yang modern dan efisien, termasuk sistem kereta api yang menghubungkan bandara dengan kota utama.

Baca juga: Lima Bandara Ini Punya Jalur “Kereta Bandara” Terbaik di Dunia 

Pembangunan AREX dilakukan dalam beberapa tahap. Tahap pertama dimulai pada tahun 2001, yang meliputi pembangunan jalur kereta antara Bandara Incheon dan stasiun di kota Gimpo. Tahap kedua meliputi pembangunan jalur kereta antara stasiun Gimpo dan stasiun utama di Seoul. Seluruh proyek selesai pada tahun 2010 dan AREX dibuka untuk umum pada tanggal 23 Maret 2007.

Buka Penerbangan Melintasi Ruang Udara Rusia, Air India Rogoh Jutaan Dollar ke Kremlin

Lantaran punya ruang udara yang sangat luas dan sangat berpengaruh pada rute-rute penerbangan strategis jarak jauh, menjadikan Rusia punya daya tawar tersendiri pada maskapai-maskapai global. Dengan kebutuhan akan efiensi waktu dan bahan bakar, tak sedikit maskapai internasional yang harus meminta izin kepada Kremlin untuk bisa menggunakan ruang udara Rusia. Dan setelah Cathay Pacific, kini giliran Air India yang melakukan lobi intens pada Kremlin.

Baca juga: Demi Efisiensi Waktu dan Biaya, Cathay Pacific Kembali Layani Rute Hong Kong – New York Melintasi Ruang Udara Rusia

Dikutip dari telegraph.co.uk (28/3/2023), disenbutkan pihak Air India rela membela membayar jutaan dollar ke Kremlin untuk bisa terbang di atas wilayah udara Rusia saat maskapai nasional India itu bersiap untuk meningkatkan operasinya di Inggris.

Terlepas dari perang yang terjadi di Ukraina, Pentolan Air India Campbell Wilson, mengatakan Air India terbuka untuk terbang di atas Rusia ke tujuan Inggris dan AS, jika “langkah itu” adalah yang paling ekonomis.

Dengan melintasi ruang udara Rusia, maka jutaan pound bakal diserahkan ke Kremlin dalam apa yang disebut biaya penerbangan. Sebelum pandemi, Rusia menghasilkan US$1,7 miliar (£1,3 miliar) dari biaya penerbangan setiap tahun.

Wilson mengatakan kepada Telegraph: “Kalian [Inggris] sedang membeli bensin. Kalian membeli minyak. Berapa banyak investasi dari diaspora Rusia yang Anda miliki di Kensington dan tempat lain?

“Seluruh prinsip jika Negara A dan Negara B mengalami konflik, dan kemudian Negara A bersikeras negara C harus melakukan X, Y, dan Z. Itu adalah preseden yang saya pikir kita semua harus berhati-hati.”

Inggris telah melarang impor minyak dan gas Rusia. Para menteri juga telah memperkenalkan undang-undang baru setelah invasi Rusia ke Ukraina yang mengharuskan perusahaan asing yang memegang properti Inggris untuk mengidentifikasi pemilik manfaatnya dalam daftar publik.

Wilson menambahkan: “Saya benar-benar tidak sanksi atau memaafkan atau mendukung konflik. Tetapi penerbangan mungkin adalah pendorong perdamaian dan konektivitas global terbesar karena menyatukan orang-orang, membuat budaya bercampur, dan mengurangi sifat alami kita versus sifat kemanusiaan mereka.

“Dan jika kita membatasi itu, apakah itu negatif atau positif? Saya pikir itu jelas negatif.”

Baca juga: Air India Pesan 500 Pesawat Senilai Rp1517 Triliun, Terbesar Sepanjang Sejarah

Air India belum lama ini telah mengumumkan salah satu pesanan pesawat terbesar dalam sejarah, dengan rencana untuk membeli 500 pesawat dari Boeing dan Airbus untuk merevitalisasi armadanya.

Inggris adalah pasar internasional terbesar kedua Air India setelah Amerika Utara. Wilson mengatakan Air India akan mulai terbang dari Gatwick serta Heathrow.

Varian Pesawat Boeing yang Paling Tidak Laku: Boeing 767-400ER Sampai 747-400ER

Tak diragukan lagi, keluarga Boeing 737 menjadi pesawat tersukses sepanjang masa di pasar penerbangan sipil. Namun, tak semua varian pesawat Boeing laku keras dan sukses di pasaran. Ada juga yang tidak laku. Bahkan hanya terjual dua unit sejak pertama diperkenalkan sampai saat ini. Dikutip dari Simple Flying, berikut deretan varian pesawat Boeing yang paling tidak laku.

Baca juga: Jadi Keluarga Pesawat Terlaris di Dunia, Ternyata Boeing 737-100 Paling Tak Laku Gegara Kekecilan

Boeing 767-400ER

Pengembangan Boeing 767-400ER dimulai pada Januari 1997 pasca merger Boeing dan Douglas Aircraft Company. Pesawat hasil pengembangan dari varian 767-300ER ini menawarkan kapasitas penumpang yang lebih besar dan ongkos pengoperasian yang lebih baik.

Pesawat memasuki tahun layanan komersial perdana pada tahun 2001 bersama Delta Air Lines, dengan penerbangan perdananya membawa penumpang antara Bandara LaGuardia New York dan Bandara Internasional Fort Lauderdale Hollywood, Florida.

Menurut Boeing, 767-400ER lebih panjang 6,4 meter dari 767-300ER. Rentang sayap varian ini juga bertambah 4,35 meter dibandingkan ‘saudaranya yang lebih kecil’. Ukuran yang lebih besar dan kapasitas yang lebih tinggi berarti -400ER memiliki berat lepas landas maksimum 17.240 kg, lebih besar daripada -300ER.

Sayangnya, pesawat ini kalah saing di pasaran seiring kehadiran Airbus A330-200 yang notabene lebih besar, memuat lebih banyak penumpang, dan lebih canggih. Alhasil, varian Boeing 767-400ER tercatat hanya terjual sebanyak 38 unit. Sempat ada opsi untuk mengembangkan 767-400ERX demi melawan A330-200. Namun, niatan tersebut urung dilaksanakan.

Boeing 737-700ER

Keluarga Boeing 737 menjadi pesawat paling sukses di dunia. Tetapi, salah satu dari keluarga tersebut, Boeing 737-700ER bisa dibilang sangat buruk penjualannya. Varian tersebut diketahui menawarkan jangkauan yang lebih jauh dari -700 mencapai 10.200 km.

Seperti Boeing 767-400ER, Boeing 737-700ER juga gagal di pasaran lantaran kalah saing dengan pesawat Airbus, yaitu Airbus A318. Pesawat tersebut diketahui hanya diproduksi dua unit.

Boeing 747-400D dan 747-400ER

Boeing 747 adalah salah satu pesawat quadjet paling sukses di dunia. Pesawat ini juga terus terbang sampai saat ini setelah puluhan tahun. Di balik kesuksesan itu, sedikitnya terdapat dua varian pesawat Boeing 747, yaitu Boeing 747-400D dan 747-400ER.

Baca juga: Jadi Pesawat Terlaris, Ini Alasan Boeing 737 Digandrungi Maskapai LCC

Dibuat khusus untuk pasar Jepang untuk rute jarak pendek dan kepadatan tinggi, 747-400D memiliki dimensi yang sama dengan 747-400, tetapi dikonfigurasikan secara internal untuk mengangkut hingga 660 penumpang dalam satu kelas. Pesawat ini diproduksi sebanyak 19 unit dan dioperasikan oleh Japan Airlines dan ANA.

Sedangkan Boeing 747-400ER hanya diproduksi sebanyak enam unit. Pesawat ini sejatinya dikembangkan khusus untuk memenuhi permintaan Qantas. -400ER memiliki ukuran yang sama sebagai standar 747-400. Namun, varian tersebut menampilkan satu tangki bahan bakar tambahan di ruang kargo depan serta badan pesawat, roda pendaratan, dan sayap yang diperkuat.