Seikan, Terowongan Kereta Terpanjang dan Terdalam di Dunia

Bila Channel Tunnel atau Euro Tunnel dikenal sebagai terowongan kereta terpanjang kedua di dunia, maka yang menjadi nomer satu terpanjang di dunia adalah terowongan Seikan di Jepang. Dengan panjang 53,85 km terowongan Seikan menghubungkan antara Pulau Honsu dan Pulau Hokkaido. Terowongan ini melalui Selat Tsugaru dan menjadi terowongan kereta api terdalam dan terpanjang dunia.

Baca juga: Serba-Serbi Channel Tunnel, Terowongan Rel Terpanjang Kedua di Dunia

KabarPenumpang.com melansir dari laman railway-technology.com, bahwa sekitar 2,3 km dari terowongan ini berada di dasar laut dan menjadikannya terowongan bawah laut terpanjang di dunia. Pembangunan terowongan ini setidaknya menghabiskan dana senilai US$3,6 miliar atau sekitar Rp49 triliun.

Pembangunan terowonngan Seikan dimulai dari konsepnya yang dibuat dari tahun 1939-1940 dan pembangunannya dimulai 1971 serta selesai tahun 1988. Proyek ini dikembangkan oleh Japan Railway Construction, Transport and Technology Agency dan dioperasikan oleh JR Hokkaido.

Terowongan Seikan (www.railway-technology.com)

Saat ini sekitar 50 kereta melakukan perjalanan melalui terowongan setiap harinya. Lokomotif yang digunakan untuk melalui terowongan ini adalah ED79 dan EH500 yang digunakan untuk mengangkut barang serta penumpang sejak Maret 1988.

Terowongan Seikan memiliki jalur tiga lempeng yang mampu menjalankan kereta peluru Shinkansen. Terowongan ini sendiri memiliki dua stasiun kereta api yakni Tappi Kaitei di Pulau Honsu dan Yoshioka Kaitei di Pulau Hokkaido.

Stasiun-stasiun ini merupakan stasiun kereta api pertama yang dibangun dibawah laut dan juga sebagai tempat mengungsi jika terjadi bencana. Stasiun ini dilengkapi kipas angin untuk menghilangkan asap, sistem alarm kebakaran infra merah dan semprotan air untuk meningkatkan keselamatan penumpang.

Diketahui, konstruksi terowongan dimulai pada September 1971 yang meliputi pengeboran dan peledakan melalui zona rawan gempa. Bahan peledak yang dihabiskan sekitar 2.900 ton dan 168 ribu ton baja untuk konstruksi terowongan.

Pembangunan pintu masuknya dilakukan Agustus 1982 dan penggalian bagian bawah air dimulai tahun 1983. Terowongan ini awalanya hanya terdiri dari satu jalur pengukur tunggal, namun kemudian diubah menjadi alat pengukur ganda dan terhubung ke sistem Shinkansen sebagai bagian dari proyek Hokkaido Shinkansen tahun 2005 lalu.

Saat ini lokomotif listrik EH800 Bo-Bo+Bo-Bo dari Toshiba sudah melintas di terowongan ini sejak tahun 2014 kemarin untuk menggantikan ED79 dan EH500. Lokomotif baru ini memiliki panjang 25 meter dengan kekuatan daya 4MW dan berjalan dikecepatan 110 km per jam.

Baca juga: 10 Terowongan Kereta Terpanjang di Indonesia, Ada Dimana Saja Ya?

Terowongan tersebut juga memfasilitasi perjalanan kereta peluru Shinkansen dari tahun 2016. Sistem listrik di terowongan akan ditingkatkan dari 20kV menjadi 25kV untuk memudahkan kereta Shinkansen. Kecepatan kereta api dibatasi sampai 140 km per jam selama dua tahun pertama beroperasi untuk menghindari risiko menggelincirkan kereta pengangkut barang di area yang sempit.

Stasiun Tsutsuishi, Stasiun Bawah Tanah yang Menyerupai Sebuah Bangker

Pernahkah terlintas di pikiran Anda mengenai sebuah stasiun bawah tanah yang memiliki suasana layaknya di film horror? Lengkap dengan pencahayaan yang tidak terlalu terang serta ratusan anak tangga yang siap menemani langkah Anda menuju pinggir rel. Jika Anda ingin merasakan nuansa yang berbeda dari stasiun bawah tanah seperti ini, silakan Anda mencobanya sendiri di Tsutsuishi Station di Jepang.

Baca Juga: Stasiun Ini Dalamnya Melebihi Tinggi Patung Liberty Loh!

Gambaran stasiun sama sekali tidak tercermin dari Tsutsuishi Station, bahkan lebih terkesan seperti sebuah bangker. Stasiun yang dibangun pada 16 Desember 1912 ini awalnya merupakan bagian dari Japanese Government Railways, namun pada 1 April 1987, JR West mengambil alih pengoperasian dari stasiun yang terletak di kota Itoigawa ini. Anda harus menuruni kurang lebih 290 anak tangga untuk sampai ke bibir rel, tanpa escalator, tanpa lift, hanya anak tangga.

Sumber: kotaku.com

Udara dingin yang menusuk tulang akan selalu mendampingi Anda selama berada di dalam stasiun ini. Pada awalnya, stasiun ini berada di permukaan, namun karena berbagai alasan, akhirnya dipindahkan ke bawah tanah. Warna putih kusam yang menempel di tembok lorong menuju stasiun menjadi pemandangan yang terpapar di sini, lengkap dengan lumut yang mulai menghiasi beberapa sudutnya.

Baca juga: Beragam Alasan Mengapa Orang Jepang Fanatik Pada Sosok Kereta

Stasiun ini terdiri dari dua platform yang terletak pada sisi yang berlawanan, berada di dalam Terowongan Kubiki seluas 11.353 meter, dengan kedalaman sekitar  40 meter di bawah tanah. Stasiun Tsutsuishi ini dilewati oleh kereta yang berada di jalur Nihonkai Hisui dengan jarak 40,9km dari Stasiun Ichiburi dan 335,4km dari Stasiun Maibara.

Sumber: kotaku.com

Karena tekanan udara yang dihasilkan oleh kereta yang lewat, akses ke platform dan ruang tunggu terbatas serta terlindungi dengan pintu besi besar yang dapat digunakan oleh orang-orang sebagai tempat berlindung dari terpaan badai.

Sumber: kotaku.com

Rata-rata, pengguna stasiun ini adalah para pelajar yang hendak pergi sekolah atau kuliah dengan jumlah kurang lebih 60 orang per harinya. Wajar saja jika stasiun yang terletak di 928 Otani, Senno,Itoigawa-shi, Niigata ini selalu terlihat sepi, layaknya sebuah lokasi syuting film-film horror.

Lampegan, Terowongan Tertua di Indonesia, Abadikan Misteri Nyi Ronggeng

Sekilas, tidak ada yang aneh dengan terowongan yang dibangun pada 1879 sampai dengan 1882 oleh Perusahaan Kereta Api Negara Staatspoorwegen (SS) ini, namun jika ditelusuri lebih jauh, terowongan ini memiliki sisi yang menarik untuk dibahas. Terowongan yang berada di Kabupaten Cianjur ini bukan saja sebagai terowongan kereta pertama yang dibangun di Jawa Barat, melainkan di Indonesia. Jadi, tidak heran jika predikat terowongan tertua di Tanah Air disematkan kepada Terowongan Lampegan ini. Lalu, apa saja yang menarik dari terowongan ini?

Baca Juga: Rute KA Bogor – Sukabumi – Cianjur, Masih Eksis Meski Terlupakan

Berada di lintasan jalur Sukabumi – Cianjur, terowongan ini membentang sejauh 686 meter. Namun sejak bencana longsor pada tahun 2000 silam, membuat panjang dari terowongan ini menyusut menjadi 415 meter saja. Banyak spekulasi yang berkembang tentang pembangunan terowongan ini, dari mulai mengandalkan cara manual (menggali), hingga cara peledakkan.

Setelah Lampegan, beberapa stasiun lain dibangun untuk mendukung pengoperasian kereta api di Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Tercatat, ada terowongan Sasaksaat di jalur Jakarta – Bandung yang dibangun pada tahun 1902, serta  empat terowongan lain yang dibangun pada tahun 1914. Keempat terowongan tersebut adalah Terowongan Batulawang, Hendrik, Juliana, dan Wilhelmina. Namun sayang, keempat terowongan tersebut sudah tidak digunakan lagi dan hanya menyisakan cerita kelam dibalik pembangunannya.

Terowongan yang dilewati oleh kereta Siliwangi dan Pangrango ini sempat berstatus non-aktif yang disebabkan oleh rembesan air pada bagian atas terowongan. Setelah mengalami renovasi pada September 2000, jalur Sukabumi – Cianjur kembali terhubung. Namun, tertanggal 12 Maret 2001, terowongan itu ambruk lagi, dan jalur Cianjur – Sukabumi kembali cacat. Lalu pada tahun 2010 kemarin, setelah selesai direnovasi, terowongan tersebut kembali dibuka dan masih berdiri kokoh hingga kini.

Penamaan dari terowongan ini pun memiliki beberapa versi. Dari mulai mandor proyek Van Beckman yang selalu berteriak “Lamp pegang, Lamp pegang,” ketika hendak masuk ke dalam terowongan untuk memantau anak buahnya, hingga cerita tentang masinis yang pada masa itu selalu meneriakkan, “Lampen aan! Lampen aan!” saat kereta melewati terowongan itu. Teriakkan itu bermaksud agar para pegawainya menyalakan lampu agar kondisi dalam kereta tidak gelap saat melintas dalam terowongan. Sementara itu, dalam bahasa Sunda, Lampegan merupakan nama dari tumbuhan kecil.

Terlepas dari penamaan tersebut, ada pula cerita mistis dibalik terowongan ini. Nampaknya, ini menjadi salah satu daya tarik pengunjung datang ke terowongan ini. Pada sekitar tahun 1882, Meneer-Meneer Belanda dan Menak-Menak Priangan lalu mengundang Nyi Sadea, seorang pekerja Seni Ronggeng yang cukup tenar kala itu untuk menghibur mereka di acara peresmian terowongan Lampegan. Acara yang dimulai pada sore hari tersebut berjalan dengan meriahnya dan tidak terasa waktu sudah menunjukkan tengah malam.

Baca Juga: Hanya Cerita yang Tersisa dari Terowongan KA Wilhelmina di Pangandaran

Salah satu opsir Belanda lalu mengantarkan Nyi Sadea pulang melewati terowongan yang baru saja diresmikan tersebut. Sejak saat itu, Nyi Sadea tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya. Spekulasi kembali bermunculan, ada yang mengatakan bahwa Nyi Sadea “diperistri” oleh penunggu terowongan, ada juga yang menyebutkan bahwa Nyi Sadea dijadikan tumbal dalam acara peresmian tersebut dan jenazahnya ditanam di dalam tembok terowongan. Cerita tersebut terus berkembang di kalangan masyarakat sekitar dan hingga kini tidak ada yang mengetahui kemana Nyi Sadea pergi.

Ternyata, Lampegan banyak menyimpan cerita unik nan seram. Tidak hanya terkenal dengan terowongan kereta tertua di Indonesia saja, Stasiun Lampegan juga disinyalir sebagai salah satu stasiun kereta tertua di Indonesia. Bila Anda tertarik untuk menyambangi situs megalitikum Gunung Padang, maka salah satu rekomendasi terbaik adalah naik KA Siliwangi lalu turun di stasiun Lampegan, pasalnya jarak dari stasiun tersebut ke situs Gunung Padang hanya 8 kilometer.

Sebagai Bangsa yang menjunjung tinggi sejarah, sudah seharusnya Kita menjaga peninggalan-peninggalan sejarah semacam ini, bukan malah dijadikan “kanvas” oleh anak-anak tidak bertanggungjawab yang mencoret-coretnya. Sungguh miris melihat keberadaannya kini, seolah tidak dihargai. Dan, jangan lupakan keberadaan Nyi Ronggeng Sadea yang mungkin saja menyapa Anda atau oknum vandalisme ketika tengah melintasi terowongan Lampegan. Hiii!

Hyundai Rotem Pamerkan Trem Next Generation Bertenaga Hidrogen di Busan

Produsen kereta api dari Korea Selatan, Hyundai Rotem tengah mengerjakan trem generasi berikutnya (next generation) dengan bahan bakar hidrogen. Hal tersebut diungkapkan Hyundai Rotem kepada publik untuk pertama kalinya dalam pameran RailLog Korea 2023 di Busan.

Baca juga: Railbus Batara Kresna, Wahana Unik yang Melaju di Rel Bekas Trem

Trem Next Generation telah dikembangkan sejak tahun 2021, sebagai bagian dari proyek yang didukung oleh Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi Korea Selatan; serta Institut Korea untuk Kemajuan Teknologi, Institut Penelitian Kereta Api Korea, Pusat Penelitian Otomotif Korea, dan Taman Ulsan Tecno.

Hyundai Rotem berkata: “Infrastruktur hidrogen yang lebih luas dan teknologi produksi hidrogen harus disiapkan untuk membangun masyarakat hidrogen dengan memanfaatkan variasi kereta hidrogen yang lebih luas dimulai dengan trem sel bahan bakar hidrogen. Untuk mencapai visi ini, Hyundai Rotem sedang mengembangkan kereta dengan mesin hidrogen cair untuk menerapkan energi hidrogen di seluruh industri kereta api sambil membangun infrastruktur hidrogen.”

Trem ini menggunakan sel bahan bakar hidrogen untuk menghasilkan listrik di dalam trem itu sendiri yang langsung digunakan untuk menggerakkan trem dan juga disimpan dalam baterai yang dapat memberikan tenaga ekstra saat trem membutuhkannya.

Teknologi hidrogen juga memurnikan udara sekitar saat bergerak dengan mengumpulkan oksigen yang dibutuhkannya untuk reaksi sel bahan bakar dari udara melalui sistem filtrasi dan hanya mengeluarkan udara bersih.

Menurut Hyundai, Trem Next Generation ini mampu menempuh jarak 150 km dengan sekali pengisian daya dan menghasilkan 107,6 kg udara bersih dan memurnikan 800 mikrogram debu halus untuk setiap jam pengoperasian.

Baca juga: Hyundai Rotem Luncurkan EMU-320, Kereta Berkecepatan Tinggi Tercepat di Korea Selatan

Selain mengembangkan trem hidrogen, Hyundai Rotem telah mempersiapkan peluncurannya dengan membangun stasiun pengisian bahan bakar hidrogen dan Hynet Hydrogen Shipping Center, yang akan memproduksi hidrogen dengan mengekstraksi unsur tersebut dari gas alam. Pembangunan trem diharapkan selesai pada akhir 2023.

Pilihan Maskapai Jadi Launch Customer Pesawat, Ada Risiko di Antara Beragam Benefit

Dalam setiap peluncuran jenis pesawat baru, identik dengan istilah ‘launch customer’ yang dirilis oleh pihak pabrikan. Menyebutkan identitas launch customer saat momen peluncuran pesawat merupakan suatu kebanggaan bagi pihak pabrikan. Apalagi bila identitas customer pesawat adalah maskapai besar dan ternama, yang tak pelak bakal mendongkrak citra pesawat yang baru diluncurkan.

Baca juga: Singapore Airlines Sumbangkan Kursi Kelas Bisnis dan Suite A380 Pertama ke National Museum?

Dari definisi, launch customer (pelanggan pertama) adalah istilah yang digunakan dalam industri penerbangan untuk mengacu pada pelanggan pertama yang melakukan pemesanan atau pembelian pesawat terbang baru dari produsen pesawat.

Dalam konteks ini, “launch” merujuk pada peluncuran atau pengenalan model pesawat baru ke pasar oleh produsen. Sebagai pelanggan pertama, launch customer memiliki peran penting dalam membantu produsen pesawat dalam tahap awal pengembangan dan produksi pesawat baru. Sebut saja, Singapore Airlines yang menjadi launch customer Airbus A380 dan Air France yang menjadi launch customer Boeing 777-300ER.

Lantas yang menjadi pertanyaan, apa manfaat atau benefit suatu maskapai menjadi launch customer atas peluncuran pesawat baru?

Disarikan dari beberapa forum penerbangan, disebut menjadi launch customer memiliki beberapa manfaat yang dapat memberikan keuntungan bagi maskapai penerbangan atau operator yang memutuskan untuk melakukan pemesanan atau pembelian pesawat baru dari produsen. Berikut adalah beberapa manfaat menjadi launch customer suatu pesawat:

1. Diskon dan Harga Khusus
Sebagai pelanggan pertama, launch customer sering kali mendapatkan kesepakatan khusus dan diskon dari produsen pesawat. Hal ini dapat mengurangi biaya investasi awal dan memberikan harga yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan pelanggan lain yang memesan pesawat setelahnya.

2. Akses Awal dan Pilihan Kustomisasi
Sebagai launch customer, maskapai penerbangan memiliki akses awal untuk mendapatkan pesawat baru sebelum pesawat tersebut tersedia secara luas di pasar. Hal ini memungkinkan maskapai untuk memiliki armada baru lebih cepat dan memungkinkan waktu yang lebih lama untuk melakukan kustomisasi sesuai kebutuhan mereka.

3. Kontribusi dalam Pengembangan
Launch customer berperan dalam pengujian dan evaluasi awal pesawat baru, dan masukan mereka membantu produsen dalam menyempurnakan desain dan kinerja pesawat. Hal ini memungkinkan maskapai untuk berpartisipasi secara aktif dalam pengembangan pesawat dan memastikan pesawat sesuai dengan kebutuhan dan harapan mereka.

4. Promosi dan Prestise
Menjadi pelanggan pertama untuk pesawat baru sering kali mendapatkan perhatian media dan publik. Maskapai penerbangan dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk mempromosikan merek mereka dan memperoleh eksposur positif. Selain itu, menjadi launch customer juga memberikan prestise karena menunjukkan kepercayaan produsen pada maskapai tersebut.

5. Penetapan Standar
Sebagai pelanggan pertama, maskapai penerbangan dapat membantu menetapkan standar operasional dan pemeliharaan untuk pesawat tersebut. Hal ini dapat memberikan keuntungan bagi maskapai lain yang akan mengoperasikan pesawat yang sama di masa depan.

6. Kemitraan dengan Produsen
Dengan menjadi launch customer, maskapai penerbangan membangun kemitraan dengan produsen pesawat. Hal ini dapat membuka peluang kolaborasi dan komunikasi yang lebih erat dengan produsen untuk kebutuhan operasional, layanan purna jual, dan pengembangan produk di masa depan.

Baca juga: Boeing 777-300ER Hasil Konversi ke Pesawat Kargo Terbang Perdana

Meskipun menjadi launch customer memiliki sejumlah manfaat, keputusan untuk menjadi pelanggan pertama juga berisiko karena pesawat baru mungkin mengalami masalah awal yang perlu diperbaiki. Namun, banyak maskapai penerbangan besar dan mapan biasanya merasa percaya diri dalam memilih untuk menjadi launch customer karena keuntungan jangka panjang yang mereka dapatkan.

Mulai Hari ini, PT KAI Berikan Sanksi ‘Tegas’ Kepada Penumpang yang Melebihi Relasi dengan Sengaja

PT Kereta Api Indonesia (KAI) memberlakukan aturan baru bagi penumpang yang “dengan sengaja” melebihi relasi yang tertera ditiketnya mulai 3 Agustus 2023. Apabila sengaja melebihi relasi (tujuan), maka penumpang akan mendapatkan sanksi denda hingga sanksi untuk tidak diperkenankan naik kereta api sementara waktu sesuai aturan yang berlaku.

Baca juga: Dalam Dua Hari, Tiga Kondektur Kereta di India Diserang Penumpang Tak Bertiket

VP Public Relations PT KAI Joni Martinus mengungkapkan bahwa aturan ini diterapkan dengan kenyamanan bersama dalam tertib menggunakan transportasi kereta api. “Sekaligus sebagai bagian upaya dalam pencegahan pelanggaran atas penumpang yang melebihi relasi yang menggangu kelancaran perjalanan KA,” tambah Joni.

Sebagai langkah pencegahan atas jenis pelanggaran tersebut, kondektur selalu mengumumkan melalui pengeras suara di dalam kereta api bahwa pelanggan wajib turun di stasiun tujuan sesuai dengan yang tertera di tiket.

Diumumkan pula, bagi pelanggan yang melebihi relasi yang tertera di tiketnya, akan dikenakan sanksi berupa denda atau tidak diperkenankan naik kereta api sementara waktu sesuai dengan aturan yang berlaku.

Kondektur juga melakukan kegiatan pengecekan guna memastikan kenyamanan pelanggan dalam kurun waktu tertentu yang meliputi kesesuaian identitas, tempat duduk, nama kereta api, nomor kereta api, tanggal dan relasi tiket penumpang sesuai manifest bila diperlukan.

“Pengecekan tersebut dilakukan oleh kondektur melalui aplikasi Check Seat Passenger, sehingga dapat mengetahui identitas penumpang, tempat duduk, dan relasi tiket yang dibeli,” kata Joni.

Jika kondektur mendapati penumpang yang dengan sengaja melebihi relasi, maka kondektur menyampaikan kepada penumpang yang bersangkutan, bahwa secara aturan dikenakan sanksi berupa denda yang harus dibayar menggunakan uang tunai di kereta saat itu juga. Serta akan diturunkan pada stasiun kesempatan pertama.

Adapun besaran dendanya yaitu 2 kali dari harga tiket “parsial” subkelas terendah sesuai dengan kelas pelayanan yang dimiliki penumpang dari stasiun “tujuan” yang tertera pada tiketnya sampai dengan stasiun tempat penumpang diturunkan.

Bagi penumpang yang dengan sengaja melebihi relasi dan tidak dapat membayar di atas kereta api, maka penumpang tersebut tetap diturunkan pada stasiun kesempatan pertama, serta akan dijemput oleh petugas stasiun.

Petugas di stasiun akan mengantar penumpang tersebut ke loket untuk dilakukan pembayaran denda. KAI masih memberi waktu 1×24 jam sejak jadwal kedatangan KA tempat penumpang diturunkan untuk pembayaran denda.

Apabila dalam kurun 1×24 jam, penumpang tersebut tidak membayarkan dendanya, maka yang bersangkutan tidak diperkenankan naik kereta api sementara waktu selama 90 hari kalender.

Sementara bagi penumpang yang tercatat lebih dari 3 kali melakukan pelanggaran atas tindakan melebihi relasi dari yang tertera di tiket, maka yang bersangkutan tidak diperkenankan naik kereta api sementara waktu selama 180 hari kalender.

Baca juga: Ikuti Jejak Indonesia, Peraturan Penumpang di Kereta India Dipertegas, Ribuan Orang Terkena Sanksi

“Aturan baru ini sebagai bagian komitmen KAI dalam menyediakan layanan transportasi kereta api yang nyaman, aman, dan selamat,” tutup Joni.

Pada Kondisi Darurat Ini, Masker Oksigen Akan Turun Secara Otomatis di Kabin Pesawat

Meski tak ada yang mengharapkan adanya suatu insiden di udara. Namun, yakinlah bahwa masker oksigen akan turun pada waktu yang tepat. Sesuai standar keselamatan penerbangan, maka masker oksigen di dalam pesawat akan turun secara otomatis ketika terjadi penurunan tekanan kabin yang signifikan atau dekompresi.

Baca juga: Bisakah Pilot Mengaktifkan Masker Oksigen untuk Penumpang Secara Manual?

Penurunan tekanan kabin dapat terjadi jika pesawat mengalami masalah dengan sistem tekanan kabin atau karena beberapa alasan lain, seperti krisis mendadak yang membutuhkan penurunan cepat ketinggian pesawat.

Sistem deteksi di pesawat dirancang untuk mendeteksi penurunan tekanan kabin atau dekompresi. Saat sistem deteksi ini mendeteksi masalah tersebut, maka secara otomatis akan mengaktifkan mekanisme yang menyebabkan masker oksigen turun dari panel atas atau di atas kursi penumpang.

Ketika masker oksigen turun, penumpang dan awak kabin diinstruksikan untuk segera mengenakan masker oksigen pada diri mereka sendiri terlebih dahulu sebelum membantu orang lain. Hal ini penting karena jika tekanan kabin turun secara drastis, penumpang hanya memiliki waktu yang sangat terbatas untuk mendapatkan pasokan oksigen tambahan dan mempertahankan tingkat oksigen yang cukup untuk tetap sadar.

Penggunaan masker oksigen ini sangat penting untuk keselamatan penumpang dan awak kabin selama situasi darurat yang melibatkan penurunan tekanan kabin atau dekompresi. Instruksi penggunaan masker oksigen ini biasanya dijelaskan dalam prosedur keselamatan pesawat selama pengumuman pra-lepas landas atau dengan menggunakan kartu keselamatan di kabin.

Kapasitas masker oksigen darurat di kabin pesawat bervariasi tergantung pada masker dan desain pesawat tertentu. Namun, umumnya masker oksigen darurat di pesawat dirancang untuk memberikan pasokan oksigen yang cukup untuk membantu penumpang dan awak kabin selama periode waktu tertentu selama situasi darurat.

Biasanya, masker oksigen di pesawat komersial dirancang untuk memberikan pasokan oksigen selama sekitar 12 hingga 15 menit. Waktu ini biasanya sudah cukup untuk mengatasi situasi darurat, seperti penurunan tekanan kabin yang tiba-tiba atau dekompresi, serta memberikan kesempatan bagi pilot untuk menurunkan pesawat ke ketinggian yang lebih aman.

Baca juga: Saat Masker Oksigen Turun, Ini yang Penumpang Wajib Tahu!

Namun, penting untuk diingat bahwa masker oksigen darurat di pesawat dirancang untuk memberikan oksigen tambahan sementara, bukan sebagai pengganti oksigen normal dari ketinggian yang lebih rendah.

Setelah Tiga Tahun, Bandara Internasional Pyongyang Kembali Beroperasi Meski ‘Terbatas’

Pasca pandem Covid-19, semua negara kini telah membuka jalur penerbangan internasional. Namun, ada satu negara yang tetap menutup pintu untuk perjalanan internasional. Dan negara yang dimaksud adalah Korea Utara, Negeri yang dipimpin Kim Jong Un itu tetap teguh untuk menutup diri dari semua akses internasional, khususnya pada penerbangan berjadwal.

Baca juga: Anti Mainstream, Bandara Pyongyang Diklaim AS Terhubung dengan Fasilitas Nuklir Terbesar Korea Utara

Penerbangan internasional ke Korea Utara memang penuh kontroversi. Bicara tentang bandaranya, yakni Bandara Internasional Pyongyang (FNJ) dikabarkan dijadikan situs pengujian rudal balistik, yang sontak menimbulkan pertanyaan dan kekhawatiran pada aspek keselamatan penerbangan.

Dengan rezim yang otoriter dan penuh curiga pada setiap pendatang asing, Korea Utara jelas bukan negara yang ramah untuk tujuan wisata.

Namun, setelah tiga tahun ‘terisolir’, pada bulan Juli 2023, Bandara Pyongyang membuka landasan pacunya untuk layanan internasional untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, yakni guna menyambut delegasi diplomat Cina dan Rusia untuk parade militer. Dua pemerbangan yang membuka aktvitas Bandara Pyongyang adalah maskapai Air China dan pesawat angkut VVIP dari Angkatan Udara Rusia. Kedatangannya unik – ini adalah pertama kalinya pengunjung ke Korea Utara dapat masuk tanpa harus karantina selama enam minggu.

Awal tahun ini, South China Morning Post dan Mainichi Shimbun melaporkan, bahwa Korea Utara sejatinya sudah bersiap untuk melanjutkan penerbangan pada awal Juni 2023. Menurut Global Times, pada Juli 2023, beberapa agen perjalanan Cina mencantumkan tur Korea Utara di situs web mereka. Berbicara kepada surat kabar, juru bicara salah satu grup yang menawarkan perjalanan ke Pyongyang dan Sinuiju, Young Pioneer Tours, mencatat bahwa daftar tersebut telah disiapkan sebelumnya untuk melanjutkan bisnis dengan lancar setelah perbatasan dibuka.

Air Koryo, maskapai nasional Korea Utara, telah menangguhkan semua layanan berjadwal internasional sejak awal tahun 2020. Sementara rute populer ke Bandara Internasional Beijing (PEK) dan Bandara Internasional Vladivostok (VVO), Rusa, belum dilanjutkan.

Baca juga: Stasiun Pyongyang, Titik Awal Perjalanan Kim Jong Un Saat Melawat ke Luar Negeri

Beberapa penerbangan terlihat beroperasi di FlightRadar24.com, dengan peningkatan nyata dalam operasi antara Pyongyang dan Hamhung (DSO) di musim panas 2022 dan hingga awal 2023.

Aturan dan Etika Tata Rias Awak Kabin Masih Mengacu Ke Standar Era 60-an

Awak kabin harus tampak ramah meski lelah karena baru saja selesai perjalanan back to back. Bahkan dalam kondisi ini pun mereka tidak pernah menunjukkan bahwa mereka tengah kelelahan karena pekerjaan mereka yang berlangsung seharian tersebut. Tak hanya itu, awak kabin selalu rapi dengan setelan seragam yang dikenakan. Bahkan gaya rambut dan make up atau riasan mereka terlihat segar meski dalam kabin yang kering.

Baca juga: Hadirkan Seragam Mini, Qantas dan Emirates Harapkan Anak-Anak Cintai Profesi Awak Kabin

Mereka ini diwajibkan untuk tetap mempertahankan senyuman, tetap melayani dengan ketenangan dan memberikan pengalaman bagi pelancong yang bepergian ke luar negeri ataupun domestik. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman express.co.uk, seragam yang dikenakan awak kabin merupakan tanda pengenal sebuah maskapai, sehingga saat mereka keluar selesai bertugas dan pelancong tidak naik maskapai, maka tetap mengetahui awak kabin dari masakapai mana.

Namun, ternyata meski terlihat cantik, ramah dan murah senyum, awak kabin juga dilarang menggunakan aksesoris berlebihan. Hal ini diungkapkan salah seorang awak kabin Emirates terkait perhiasan yang digunakan saat bertugas.

Joanna Colins mengatakan dirinya telah bekerja selama enam tahun terakhir untuk maskapai Emirates. Dia mengaku peraturan terkait penggunaan perhiasan cukup ketat dan tidak boleh digunakan semuanya saat penerbangan.

“Kita bisa mengenakan anting-anting mutiara atau kancing yang berlian atau kristal. Ini berarti setiap pramugari udara atau pramugari dengan rantai di leher mereka, tidak peduli seberapa halus, bisa melanggar peraturan,”ujar Joanna.

Dia mengatakan, menggunakan arloji atau jam tangan diperbolehkan, namun dalam balutan sederhana dan jelas. Bahkan sebagai awak kabin pun hingga kini masih harus mengikuti peraturan yang ada sejak tahun 1960-an.

Seragam yang digunakan awak kabin Lufthansa dan staf lounge Bandara Munich (Lufthansa Group)

“Mereka harus mengikuti banyak aturan mengenai penampilan mereka dan beberapa dari mereka kembali ke masa kejayaannya. Awak kabin perempuan harus mengenakan lipstik dan perona pipi minimal, menurut Standar Seragam Praktik Penaksiran Profesional (USPAP),” ujarnya.

Mantan awak kabin British Airways juga mengakui bahwa peraturan dari tahun 1960-an tersebut tidak berubah. Wendy Barlow mengatakan, selama pelatihan mereka mendapat kunjungan dari Elizabeth Arden yang mengajari para awak kabin pemula cara merias wajah.

British Airways tetap ketat dengan persyaratan awak kabinnya, bahkan hingga hari ini agar stafnya sesuai dengan citra perusahaan mereka. Panduan Pemakai Seragam British Airways bahkan merinci warna lipstik yang diperlukan. Warna-warna tersebut diperlukan untuk melengkapi warna seragam.

Baca juga: Kerap Alami Pelecehan, Cathay Pacific Bakal Ganti Seragam Awak Kabin

Tiga contoh warna yang ditampilkan dalam panduan ini mencakup warna seperti merah dengan nada biru dan merah muda gelap. Awak kabin wanita diharuskan menggunakan bedak untuk mengatur make-up mereka untuk hari itu dan menggunakan perona pipi. Kulit cerah juga dituntut, “Dimana noda yang kelihatan harus disembunyikan sedapat mungkin,” yang tertulis dalam panduan.

Sejarah Life Jacket – Mulai dari Berbahan Gabus Sampai Berteknologi Hybrid Inflatable

Bagi Anda para pengguna setia moda udara, mungkin Anda kerap mendengar nama barang yang satu ini – namun berharap untuk tidak pernah sama sekali menggunakannya. Apakah Anda tahu barang apa yang dimaksud? Ya, life jacket atau yang biasa disebut jaket pelampung merupakan salah satu instrumen keselamatan yang dapat Anda temui tidak hanya di pesawat saja, pun dengan di kapal. Tentu Anda tidak pernah berharap untuk mengenakan pelampung berwarna jingga ini, bukan?

Baca juga: Kerap Hilang, Jaket Pelampung di Kabin Harus Rutin Diperiksa Keberadaannya

Layaknya instrumen-instrumen lain yang mengalami imbas dari perkembangan jaman, jaket pelampung ini pun mengalami perubahan dari masa ke masa – kendati masih menyandang fungsi yang sama, hanya saja perubahan terjadi pada bahan yang digunakan dan bentukannya.

Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, jaket pelampung ini mulai dikembangkan pada sekitar tahun 1850-an – periode yang sama ketika kapal-kapal berbahan dasar besi mulai menggantikan eksistensi dari kapal tradisional yang berbahan kayu.

“Ketika sebuah kapal berbahan besi tenggelam, maka muatan berbobotnya (penumpang) juga akan ikut tenggelam, maka dari itu dirancanglah jaket pelampung untuk mencegah penumpangnya ikut tenggelam,” tulis Dr. Christopher Brooks, seorang dokter, ilmuwan, dan penulis buku “Designed for Life: Life Jackets Through the Ages”.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, evolusi dari jaket pelampung ini sendiri sebenarnya hanya terjadi pada model dan bahan dasarnya saja. Mundur ke tahun-tahun awal jaket ini dikembangkan, orang-orang jaman dulu masih menggunakan kulit binatang sebagai bahan dasar dari jaket pelampung ini.

Maju ke awal abad 19, Anda akan menemukan jaket pelampung yang sudah menggunakan lembaran gabus sebagai bahan dasarnya. Menilai gabus merupakan bahan yang tepat agar manusia bisa mengambang, jaket keselamatan ini terus dikembangkan sebagaimana mestinya.

Pada pertengahan abad ke-19, para pengembang jaket ini mulai menggunakan blok kayu atau gabus yang dibentuk menyerupai sebuah rompi.

Perkembangan terus berlanjut dengan serangkaian insiden yang terjadi di dalamnya – dimana insiden-insiden yang berhubungan dengan nyawa seseroang di laut menjadi pelatuk yang siap memicu perkembangan dari jaket pelampung ini dengan bentuk, bahan, dan fungsi yang lebih mutakhir.

Baca juga: Ini Alasan Tak Boleh Kembangkan Pelampung di Dalam Kabin

Jaket pelampung pesawat (Hong Kong Airlines)

Sampai pada akhirnya, jaket pelampung ini menggunakan teknologi hybrid inflatable dimana jaket baru akan mengembang ketika tali yang terletak di bagian dada ditarik atau peluit yang juga tersemat pada jaket tersebut ditiup.

Kendati sederhana, namun jaket pelampung ini terbukti menurunkan angka korban meninggal karena tenggelam dengan sangat signifikan. Mengutip dari laman cottagelife.com, angka korban meninggal karena tenggelam sudah sangat berkurang drastis terhitung sejak tahun 1994 silam. Di tahun 2016 kemarin, masih ada 1,4 kematian akibat tenggelam di Kanada untuk setiap 100.000 orang, dan sebagian besar dari mereka dapat dicegah.