Wings Air Kembali Buka Penerbangan Banyuwangi-Surabaya, Hanya Berdurasi 11 Menit!

Setelah sempat dihentikan, ada kabar bahwa Wings Air (Lion Air Group) akan kembali membuka penerbangan jarak pendek yang menghubungkan Banyuwangi dan Surabaya. Penerbangan singat dengan durasi 11 menit tersebut rencananya akan kembali dibuka mulai 30 Agustus 2023. Keputusan ini akan membuka pintu peluang baru menuju destinasi unggulan, serta mendekatkan jarak dan mempersingkat waktu yang membangkitkan semangat Jawa Timur.

Baca juga: Tak Ada Pembagian Daerah, Angkasa Pura II Kini Kelola Bandara Banyuwangi

Rute Banyuwangi – Surabaya pergi pulang (PP) akanmenghidupkan kembali jaringan intra Jawa Timur. Surabaya dan Bandar Udara Internasional Juanda memiliki peran yang signifikan sebagai tempat transit terbaik bagi perjalanan menuju dan dari Banyuwangi. Dan kesempatan penumpang dari Banyuwangi untuk terhubung ke jalur internasional melalui Bandar Udara Internasional Juanda.

Banyuwangi terkenal karena pesona alamnya yang memukau, seperti Pantai Pulau Merah, Kawah Ijen, Taman Nasional Balura, dan lainnya. Rute ini memungkinkan para wisatawan untuk dengan mudah menikmati keindahan alam yang beragam dan eksotis di Banyuwangi. Dari pemandangan pantai hingga gunung berapi yang menakjubkan.

Penerbangan singkat Banyuwangi-Surabaya dilayani pesawat turboprop ATR 72-600 (kapsitas 72 kursi kelas ekonomi), dan berikut di bawah ini adalah jadwal penerbangan yang dirilis Wings Air dalam siaran pers.

Mengenal Lebih Dalam Emplasemen, Istilah Perkeretaapian Yang Terlupakan

Bagi Anda yang sering atau pernah menggunakan jasa yang ditawarkan oleh PT KAI untuk plesir ke luar kota, mungkin pernah melihat sebuah lahan kosong yang berada di setiap ujung stasiun, baik stasiun besar maupun yang kecil. Biasanya lahan kosong tersebut berisikan patok atau plang nama stasiun, lengkap dengan elevasi stasiun. Bahkan beberapa diantaranya dilengkapi dengan pagar pembatas, seperti yang ada di stasiun Kiaracondong, Bandung.

Baca Juga: Sering Naik Kereta? Kini Saatnya Anda Mengenal Jenis dan Karakter Peron di Stasiun

Bagi Anda yang belum tahu, lahan tersebut merupakan emplasemen. Ya, salah satu istilah di dunia perkeretaapian ini memang terdengar asing di telinga kita. Secara etimologi, emplasemen merupakan kata serapan dari Bahasa Inggris, emplacement. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), emplasemen merupakan tempat terbuka atau tanah lapang yang disediakan untuk jawatan atau satuan bangunan (seperti tanah lapang di dekat stasiun untuk keperluan jawatan kereta api).

Rangkuman KabarPenumpang.com dari berbagai sumber dan literatur, emplasemen sendiri terbagi dari beberapa jenis, dilihat dari fungsi dan kegunaannya.

Emplasemen Stasiun/Penumpang
Emplasemen penumpang yang gunanya untuk memberi kesempatan kepada penumpang untuk membeli karcis, menunggu datangnya kereta api sampai naik ke kereta api melalui peron.

Emplasemen Barang
Khusus melayani pengiriman dan penerimaan barang dan letaknya dekat dengan daerah industri, perniagaan, dan lalu lintas umum. Sepur gudang dapat dibuat di satu sisi atau pada kedua sisi gudang dan di dalam gudang satu sepur atau lebih. Untuk cadangan perluasan dan ketentraman kota bisa dibuat di luar kota.

Emplasemen Langsir
Kereta Api barang dari semua jurusan yang menuju ke emplasemen langsir gerbong-gerbongnya dipisah-pisahkan dalam kelompok-kelompok menurut jurusan dan tempat tujuannya. Letak emplasemen harus jauh dari pemukiman agar pekerjaan melangsir gerbong tidak mengganggu ketertiban umum.

Emplasemen Penyusun/ Depo Kereta
Tempat untuk membersihkan, memeriksa, memperbaiki kerusakan kecil dan melengkapi kereta-kereta kembali menjadi rangkaian kereta api untuk disiapkan di sepur yang nantinya akan diberangkatkan dari emplasemen penumpang.

Emplasemen Depo Lokomotif
Untuk kebutuhan lokomotif-lokomotif yang menginap. Diperlukan ditempat-tempat peralihan dari jalan dataran ke jalan pegunungan untuk pergantian lokomotif dan di tempat-tempat yang harus melayani lokomotif-lokomotif untuk keperluan di emplasemen langsir.

Emplasemen Pelabuhan
Terdiri dari dua jurusan, yaitu dari daerah pedalaman ke pangkalan sebaliknya. Kereta api barang yang datang dari pedalaman diceraikan di emplasemen pelabuhan menurut kelompok-kelompok pembagi, kemudian gerbong-gerbong dibawa ke kelompok pembagi masing-masing, dimana dilakukan penyusunannya menurut pangkalan-pangkalan dan gudang-gudang.

Sumber: flickr.com

Jika dilihat dari beragam jenis emplasemen di atas, maka bisa disimpulkan bahwa emplasemen mencakup keseluruhan lahan di sebuah stasiun. Sebagai salah satu negara di dunia yang paling lama mencantumkan kereta api sebagai salah satu moda transportasinya, maka tidak heran jika bergam ‘penghargaan’ disematkan di perusahaan plat merah ini. Sebut saja emplasemen terpanjang di Indonesia terdapat bukan di Jawa, melainkan di Sumatera, tepatnya di Stasiun Tulungbuyut.

Baca Juga: Stasiun Gorakhpur, Punya Peron Terpanjang di Dunia

Stasiun dengan kode TLY ini berada di Tulung Buyut, Kecamatan Hulu Sungkai, Kabupaten Lampung Utara. Stasiun ini terletak di dekat perbatasan antara Kabupaten Lampung Utara dengan Kabupaten Way Kanan, menjadikan stasiun Tulungbuyut terletak paling utara dan barat di Lampung Utara. Untuk emplasemen dari stasiun ini sendiri memiliki panjang 2 kilometer dan dapat mengakomodir persilangan dua KA Babaranjang. Stasiun yang berada di bawah wilayah operasi Divisi Regional IV Tanjungkarang ini terletak di Jalur Kereta Api Panjang-Prabumulih, yang diapit oleh dua stasiun, yaitu Stasiun Negararatu dan Stasiun Negeriagung.

Awak Kabin Etihad Tampilkan “The Skydiving Orchestra Stunt” ala Mission Impossible

Tak ingin kalah aksi dari Emirates yang menampilkan aksi pramugari berdiri di puncak Burj Khalifa, gedung tertinggi di dunia, maka Etihad Airways yang juga berasal dari Uni Emirat Arab (UEA), membuat gebrakan dengan meluncurkan video awak kabin (pramugara dan pramugari) yang melakukan aksi terjung payung (skydiving) sembari memainkan alat musik.

Baca juga: Pramugari Emirates Berdiri di Puncak Burj Khalifa, Apa Tujuannya?

Video spektakuler tersebut melibatkan Emirates Airways yang menggandeng Paramount Pictures, yang menaungi produksi dan promosi global film “Mission: Impossible – Dead Reckoning Part One.” Dengan jutaan pemirsa yang menonton melalui platform media sosial maskapai, aksi unik ini siap meninggalkan jejak yang tak terhapuskan baik di industri penerbangan maupun hiburan.

Apa yang disuguhkan Etihad adalah The Skydiving Orchestra Stunt, yang membuat jantung berdebar kencang. Tindakan berani tersebut menampilkan sekelompok musisi terjun payung yang membawakan lagu tema Mission: Impossible yang ikonik sambil meluncur melintasi langit dari ketinggian 13.000 kaki (sekitar 4.000 meter). Meluncur (terjun bebas) dengan kecepatan 193 km per jam, ansambel ini menentang gravitasi dan konvensi untuk menciptakan simfoni yang memompa adrenalin jauh di atas awan.

Di belakang layar, sebuah rencana yang cermat dibuat untuk melaksanakan upaya yang berani ini. Etihad Airways berkolaborasi erat dengan agensi kreatif mereka, Impact BBDO, untuk mengatasi tantangan yang datang dengan menggabungkan seni musik dan kehebatan skydiving.

Berminggu-minggu persiapan yang ketat dijalani, dengan setiap penerjun menerima segmen tertentu dari komposisi musik untuk dikuasai. Tuntutan bagi mereka untuk menjalankan bagian mereka dengan sempurna meskipun terjadi turbulensi saat terjun bebas. Selain itu, rigging khusus dirancang dengan cermat untuk setiap instrumen guna memastikan para penerjun payung dapat bermain dengan aman sambil mengatur parasut mereka secara bersamaan.

Baca juga: Airbus A380 Emirates Nyaris ‘Tabrak’ Pramugari di Atas Burj Khalifa

Untuk mengabadikan setiap momen yang menakjubkan, seorang sinematografer terjun payung yang terampil menemani ansambel di setiap lompatan, mencatat prestasi luar biasa mereka untuk anak cucu. Sepanjang seluruh proses, keselamatan tetap yang terpenting.

Bus Merah Muda Hadir di Tokyo untuk Gadis yang ‘Terlantar’

Banyaknya gadis-gadis belia yang berkeliaran di Shinjuku dan Shibuya, Tokyo membuat anggota kelompok sipil Colabo menghadirkan sebuah bus unik. Bus dengan warna merah muda atau pink ini dihadirkan untuk menawarkan perlindungan bagi gadis-gadis yang rentan di tempat hiburan malam Tokyo, Jepang.

Baca juga: Hino Motors Kembangkan Bus Mini Otonom di Bandara Haneda

Mirip dengan bus kemping, bus yang dijuluki Tsubomi (Bud) Cafe ini memiliki livery lukisan bunga. Tak hanya itu, bus tersebut memberikan makanan dan minuman gratis serta ruang untuk berbincang secara eksklusif bagi para gadis remaja di distrik Shinjuku dan Shibuya.

Bus ini hadir pertama kali di Tokyo, Jepang pada 17 Oktober 2018 di distrik dekat lampu merah Kabukicho di Shinjuku Ward. Seorang staf Colabo tersenyum dan mengajak dua gadis yang penasaran dengan bus itu untuk masuk dan mengatakan mereka bisa ke dalam.

“Kami menghadirkan bus ini, untuk menjalin hubungan dengan para gadis-gadis muda itu dibandingkan menawarkan bantuan hidup untuk mereka,” ujar Yumeno Nito salah seorang perwakilan Colabo.

Dia berharap hadirnya bus tersebut akan memberikan kenyamanan pada para gadis remaja dan bercerita kekhawatiran mereka dimana telah diabaikan oleh orang tua karena kemiskinan atau korban kekerasan. Bus ini juga bisa menjadi tempat untuk melindugi mereka dari eksploitasi seksual.

Konsep bus malam tersebut awalnya berasal dari Seoul saat Nito mengunjungi Ibukota Korea Selatan dan melihat gadis-gadis remaja yang mengalami hal sama dengan yang ada di Jepang. Ini yang membuatnya menghadirkan konsep bus tersebut di Tokyo.

Tsubomi (Bud) Cafe bus akan parkir seminggu sekali baik di Shinjuku atau Shibuya. Pemilihan proyek ini dihadirkan sebagai model untuk mendukung gadis remaja yang rentan oleh pemerintah pusat dan pemerintah kota Tokyo.

Seiko Kitazawa, kepala divisi promosi kesetaraan gender Shinjuku Ward, mengatakan dia telah melihat gadis-gadis datang ke Shinjuku setelah tidak lagi merasa aman di rumah mereka karena kemiskinan atau pelecehan. Kitazawa menekankan pentingnya dukungan sebaya.

“Jika kita mengatakan ‘Kami dari kantor lingkungan dan kami akan membantu Anda,’ saya yakin tidak ada yang akan menerima bantuan. Orang-orang yang dekat dengan usia mereka perlu mendekati mereka dan menciptakan kesempatan untuk memberi dukungan,” katanya.

Tak hanya itu, Nito juga ikut menggemakan pandangan itu. “Beberapa gadis tampaknya merasa tidak nyaman menerima bantuan umum karena mereka tidak mempercayai orang dewasa, jadi kami adalah orang-orang yang harus mencoba keluar untuk melihat dan berbicara dengan mereka,” katanya.

Yukiko Sakamoto, kepala kelompok lokal yang mendukung rehabilitasi pelanggar, bergabung dengan proyek bus Colabo pada hari pertama.

Baca juga: Kecewa Pada Perusahaan, Sopir Bus di Jepang Tak Tarik Biaya Perjalanan!

“Aku yakin para gadis itu tidak berkeliaran di malam hari karena pilihan. Mereka pasti memiliki beberapa alasan untuk tidak bisa pulang ke rumah. Beberapa dari mereka menderita kekerasan seksual yang dilakukan oleh ayah atau saudara tiri dan yang lainnya ditutup oleh pacar ibu mereka,” kata Sakamoto.

Sakamoto mengatakan dia terkejut ketika dia mendengar warna bus akan berwarna merah jambu. Tetapi penting untuk menonjol untuk menarik penumpang dan Yumeno benar-benar ingin menyelamatkan gadis-gadis itu.

Diet Coke, Inilah Minuman Yang Dibenci Pramugari

Minuman bersoda memang nikmat untuk melepas dahaga dalam suatu penerbangan, tapi tahukah Anda bahwa dalam penerbangan sebenarnya tidak disarankan untuk mengkonsumsi minuman bersoda. Para pramugari atau awak kabin malah sebenarnya kurang menyukai bila ada penumpang yang meminta minuman bersoda, terkhusus adalah diet coke.

Baca juga: Ada ‘Sesuatu’ di Hidangan Full Service, Antara Fakta dan Sensasi dalam Penerbangan

Ditengah padatnya aktivitas melayani banyak penumpang, menyajikan diet coke dianggap dapat merepotkan pekerjaan pramugari. Meski begitu, hampir semua maskapai hingga saat ini masih tetap menyajikan minuman bersoda dalam kemasan kaleng dalam berbagai rasa dan merek. Lantas apa yang ‘salah’ dari diet coke?

Salah satu awak kabin mengatakan, permintaan yang paling membuat kesal adalah memberikan minuman segelas diet Coke. Hal ini diungkapkan seorang awak kabin yang menuliskan di blognya yang bernama Wings Gold, dimana salah satu tuntutan pelanggan, dan ketakutan pramugari adalah waktu menuangkan minuman bersoda, banyak waktu yang tersita untuk menuangkan soda.

news.com.au

Baca juga: Nikmati Perjalanan dengan Makanan dan Minuman Sehat

Pangkal musababnya  ternyata minuman bersoda yang berada di udara bertekanan rendah seperti kabin pesawat, akan lebih mudah melepaskan CO2 yang menjadi salah satu kandungan utama diet coke. Ia juga menuliskan waktu atau durasi yang dibutuhkan untuk menuangkan satu gelas diet coke oleh seorang pramugari sebenarnya sudah bisa melayani minuman untuk tiga orang penumpang.

“Seperti yang Anda tahu, kabin pesawat tidak bertekanan ke permukaan laut, tapi setara dengan sekitar tujuh atau delapan ribu kaki. Ini berarti beberapa penumpang mungkin merasa sedikit pusing atau alkohol mempengaruhi mereka hampir dua kali lipat seperti di tanah. Ini juga berarti minuman ringan membengkak lebih banyak saat dituangkan dari kaleng, dan minuman dengan karakter seperti yang disebutkan mengarah pada diet coke. Saya benar-benar harus duduk dan menunggu gelembung (busa) jatuh sebelum saya dapat terus menuangkannya,”ujar awak kabin tersebut.

Baca juga: SpiceJet Tega Buat Penumpang Menunggu 7 Jam Tanpa Kepastian dan Minum

Sebenarnya, diet coke bukanlah satu-satunya minuman yang harus dihindari dalam penerbangan, sebab air panas, teh dan kopi juga bisa menjadi minuman yang dihindari namun tidak terlalu seperi diet coke. Alasannya? Tangki air panas yang ada di pesawat sangat jarang dibersihkan, sehingga air yang digunakan untuk menyeduh tidak 100 persen higienis.

 

Inilah 10 Makanan yang ‘Dilarang’ Dibawa Masuk ke Kabin Pesawat

Mengacu pada standar yang berlaku di dunia penerbangan, maka ada pembatasan jenis makanan yang diizinkan atau tidak diizinkan dibawa ke dalam kabin pesawat. Dan hal tersebut memiliki beberapa tujuan utama, terutama terkait dengan faktor keamanan, higiene, dan kenyamanan penumpang. Meski begitu, perlu diketahui bahwa persyaratan makanan yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan di pesawat dapat bervariasi antara maskapai penerbangan dan negara.

Baca juga: Era 40 dan 50-an, Jadi Masa Keemasan Sajian Makanan di Kabin Pesawat

Berikut ini adalah beberapa contoh jenis makanan yang umumnya memiliki batasan atau tidak diizinkan untuk dibawa di pesawat:

1. Makanan Cair Berlebihan
Ini termasuk saus, sup, selai, minyak, dan produk cair lainnya. Cairan harus dimasukkan dalam kantong plastik transparan dengan volume terbatas sesuai peraturan.

2. Makanan Mudah Rusak
Produk susu segar, daging mentah, dan makanan laut segar mungkin memiliki batasan karena risiko kerusakan atau kontaminasi.

3. Makanan dengan Aroma Kuat
Makanan dengan aroma kuat seperti durian atau makanan yang berbumbu sangat kuat mungkin mengganggu penumpang lain.

4. Makanan Tumpah atau Bocor
Minuman dalam botol yang tidak rapat atau makanan yang mudah bocor dari kemasannya mungkin tidak diizinkan.

5. Makanan dengan Kemasan Terbuka
Makanan dengan kemasan yang sudah terbuka atau rusak mungkin tidak diizinkan karena alasan higiene.

6. Makanan dengan Potensi Alergi atau Reaksi
Makanan yang berpotensi menyebabkan alergi atau reaksi serius pada penumpang lain mungkin memiliki batasan.

7. Makanan dengan Bahan Terlarang
Makanan yang mengandung bahan yang dilarang oleh peraturan kesehatan atau hukum setempat mungkin tidak diizinkan.

8. Makanan Panas
Makanan panas atau masih panas mungkin tidak diizinkan karena risiko keamanan.

9. Makanan dalam Wadah Besar
Makanan yang dimasukkan dalam wadah besar atau bahan non-transparan mungkin diperiksa lebih ketat oleh petugas keamanan.

Baca juga: Telur dan Tuna Berada di Urutan Teratas Daftar Makanan yang Tidak Boleh Dimakan di Dalam Kabin!

10. Makanan yang Melanggar Aturan Karantina atau Peraturan Kesehatan
Terutama dalam situasi pandemi, makanan yang melanggar aturan karantina atau peraturan kesehatan mungkin tidak diperbolehkan.

Jan Philip de Bordes – Pelopor Pembangunan Kereta Api di Wilayah Tropis (Indonesia)

Bordes. Apa yang Anda ketahui tentang bordes? Mungkin sebagian dari Anda akan mengetahui bordes merupakan bagian paling ujung yang ada di gerbong kereta, dimana Anda bisa menemukan kamar mandi di sini ataupun jalan menuju gerbong lain. Jika ditelusuri di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pun, Anda akan menemukan defisini dari bordes adalah tangga untuk naik ke pintu (kereta api dan sebagainya).

Baca Juga: Ternyata, Bordes Merupakan Nama Seorang Meneer Belanda Lho!

Namun apakah Anda tahu bahwa kata bordes ini diambil dari nama seorang meneer Belanda yang pada tanggal 17 Juni 1864 silam memprakarsai pencangkulan pertama jalur kereta api di desa Kemijen, Jawa Tengah? Ya, ia adalah Jan Philip de Bordes. Lahir di Amsterdam, 7 Juni 1817, Bordes bisa dibilang sebagai anak dari pedagang yang kaya raya.

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Bordes tidaklah diberkahi orang tua yang ‘berkecukupan’ saja, melainkan otak yang cukup encer. Ini terbukti dari penempatan Bordes di kamp pelatihan militer dan ditempatkan bersama orang-orang jenius lainnya pada tahun 1837. Dua puluh tahun berselang, Bordes mendapat kepercayaan untuk menyandang pangkat Kapten.

Singkat cerita, di tahun 1860 Bordes mengundurkan diri dari dunia kemiliteran dan ditunjuk menjadi sekretaris dari Commissie tot Aanleg van Staatsspoorwegen atau Komisi Pembangunan Kereta Api Negara. Setahun menjabat sebagai sekretaris, Bordes lalu dipercaya untuk memimpin Raad van Toezicht op de Spoorwegdiensten atau Dewan Pengawas Layanan Kereta Api.

Karir Bordes di dunia perkeretaapian semakin melesat dengan mandat untuk memimpin pembangunan jalur kereta api Semarang – Vorstenlanden di tahun 1863. Di bawah bendera Naamloze Vennootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (Perseroan Terbatas Perkeretaapian Hindia Belanda) yang dibawanya, Bordes pun menjalani tugasnya dengan baik.

Tujuh tahun berselang setelah penunjukkan dirinya sebagai pemimpin pembangunan jalur kereta api Semarang – Vorstenlanden, Bordes diberhentikan secara tidak terhormat oleh pihak perusahaan dengan alasan yang tidak diekspos. Kendati begitu, Bordes tidak begitu saja meninggalkan dunia perkeretaapian yang sudah membesarkan namanya. Ini dibuktikan dengan rajinnya ia menulis artikel tentang dunia perkeretaapian di tabloid The Economist.

Jan Philip de Bordes dikabarkan meninggal pada 5 Januari 1899 di usianya yang ke 82 tahun. Sebagai apresiasi atas apa yang telah dilakukannya, nama bordes diabadikan sebagai nama dari sambungan yang ada di gerbong kereta api.

Dari Bekas Kuburuan Sampai Rawa, Inilah Fakta Unik Tentang Nama Stasiun MRT Singapura

Warga asli atau pelancong banyak menggunakan MRT dalam perjalanan mereka baik untuk bekerja maupun berwisata. Namun, ternyata banyak hal menarik yang tidak diketahui tentang fakta dari stasiun MRT di Singapura. KabarPenumpang.com melansir timeout.com, berikut ini adalah cerita di balik nama-nama stasiun MRT di Singapura.

Baca juga: Inilah Lima Stasiun MRT dengan Desain Terunik di Singapura

Bishan
Banyak dari stasiun MRT di Singapura yang dulunya adalah kuburan dan tidak terkecuali Bisha. Ini pernah menjadi rumah bagi pemakaman Kwong Wai Siew Peck San Theng yang didirikan imigran Hakka dan Kanton. Namun pada 1980-an ketika pemerintah mengambil alih tanah tersebut, banyak kuburan digali dan setelahnya tidak lagi dikubur melainkan di kremasi. Meski begitu pelancong masih bisa mengunjungi pusat budaya dan kolumbarium Kwong Wai Siew Peck San Theng yang terletak dekat dengan stasiun MRT.

Dhoby Ghaut
Sebelum dikenal sebagai salah satu stasiun MRT tersibuk di kota, Dhoby Ghaut pernah ramai dengan dhobis, atau tukang cuci India yang bekerja di daerah tersebut. Ghaut mengacu pada ‘ghat’ yang merupakan kata Hindi untuk langkah-langkah yang mengarah ke sungai. Dulu, para dhobi akan mengambil air dari Sungai Bras Basah dan mencuci pakaian pelanggan mereka di tempat Dhoby Green sekarang.

Toa Payoh
Nama ini mengambil referensi dari daerah rawa besar di kota itu dulu dan toa adalah kata Hokkien untuk besar dan payoh adalah kata Melayu untuk rawa. Are juga terkenal dengan penghuni liar yang dipindahkan untuk memberi jalan bagi flat dan perkebunan HDB.

Orchard
Hingga saat ini daerah Orchard adalah tempat belanja pelancong. Ternyata, dulunya Orchard Road penuh dengan kebun buah-buahan dan merupakan rumah bagi kebun buah pala, cabai, merica, dan banyak lagi.

Novena
Namanya cukup unik dan area stasiun MRT Novena dulunya merupakan bagian dari pemakaman Yahudi. Meski begitu ini bukan situs pertama dan yang asli terletak di belakang Fort Canning dan dikenal sebagai Old Cemetery. Pada tahun 1985, lahan tersebut dibuka karena pembangunan jalur MRT.

Bugis
Stasiun MRT Bugis awalnya bernama Victoria dan berganti nama menjadi Bugis pada tahun 1985. Sebelum kedatangan Inggris, kanal besar yang melintasi daerah itu adalah tempat orang Bugis yang adalah suku pelaut terkenal dari Sulawesi Selatan.

Bedok
Bedok mendapatkan namanya dari kata Melayu ‘bedoh’ yang merupakan gendang besar. Kembali pada hari-hari, sebuah drum besar digunakan di Masjid Al-Taqua terdekat sebagai panggilan doa bagi umat Islam yang tinggal di daerah tersebut.

Simei
Simei mendapatkan namanya dari Jalan Soo Bee yang sebenarnya masih ada di Upper Changi Road hingga saat ini. Sementara beberapa orang tidak setuju bahwa Simei (terjemahan Mandarin dari Soo Bee) mengacu pada empat keindahan legendaris Tiongkok kuno (yaitu Xishi, Diaochan, Zhaojun dan Guifei), Anda akan menemukan empat mural di sekitar kota para wanita ini sendiri yang membuat lebih banyak orang percaya.

Bukit Merah
Juga dikenal sebagai Bukit Merah, sejarah di balik nama itu sangat menarik. Menurut catatan sejarah Melayu, Singapura dulu diganggu oleh ikan todak yang akan menyerang orang-orang yang tinggal di pantai.

Baca juga: Sejarah MRT Singapura, Dibangun di Atas Keterbatasan Lahan

Tiong Bahru
Seperti Novena dan Bishan, Tiong Bahru juga pernah menjadi kuburan. Kata ‘tiong’ adalah kuburan dalam bahasa Hokkien sedangkan ‘bahru’ berarti baru dalam bahasa Melayu. Sebelumnya, jalan tersebut diberi nama Jalan Tanah Pemakaman karena mengarah dari Jalan Outram ke daerah yang dikelilingi oleh banyak kuburan Cina.

“Rotate!” – Mengapa Pilot Ucapkan Kata Tersebut Saat Lepas Landas

Bagi Anda yang pernah naik pesawat dengan kursi tak jauh dari kokpit, mungkin akan mendengar kata “rotate” yang diucapkan oleh pilot. Bagi yang penasaran, tentu itu mengundang tanya, perihal apakah maksud dari kata rotate tadi? apakah artinya pesawat akan berputar? Berikut penjelasannya.

Baca juga: Mengapa Pesawat Berhenti Sejenak Sebelum Lepas Landas? Ini Jawabannya

Kata “rotate” adalah istilah yang digunakan oleh pilot pesawat saat proses lepas landas (take-off) untuk memberi instruksi kepada kopilot atau pilot yang mengendalikan pesawat untuk mulai mengangkat hidung pesawat dari landasan. Ini adalah tahap penting dalam lepas landas, di mana pilot bertanggung jawab untuk mengatur sudut serangan pesawat sehingga sayap menghasilkan daya angkat yang cukup untuk mengangkat pesawat dari landasan.

Dikutip dari Simple Flying, disebutkan bahwa kata “rotate” merupakan istilah yang berasal dari bahasa Inggris dan merujuk pada gerakan memutar atau mengangkat hidung pesawat. Setelah mendengar instruksi “rotate” dari pilot, kopilot atau pilot yang bertugas di kendali akan menarik kemudi atau yoke pesawat ke belakang dengan lembut untuk meningkatkan sudut serangan sayap. Ini akan mengakibatkan pesawat mulai mengangkat hidungnya dari landasan dan bergerak ke dalam posisi penerbangan.

Baca juga: “Pre-Flight Check”, Inilah Lima Inspeksi Wajib yang Dilakukan Sebelum Pesawat Lepas Landas

Sejarah penggunaan kata ini dalam penerbangan dapat dikaitkan dengan perkembangan awal industri penerbangan dan bahasa yang digunakan dalam komunikasi antara pilot dan personel darat atau antarpilot.

Sejarah MRT Singapura, Dibangun di Atas Keterbatasan Lahan

Pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) di Jakarta memang menimbulkan efek besar, terutama pada jalur-jalur tertentu. Mulai dari polusi yang ditimbulkan, hingga kemacetan yang terjadi setiap saat membuat sebagian warga Jakarta menggerutu akibat lamanya pengerjaan dari proyek ini. Namun, sebagian lainnya tetap bersabar menantikan kehadiran dari sarana transportasi yang diharapkan dapat mengentaskan kemacetan Ibu Kota.

Baca juga: Dari Bekas Kuburuan Sampai Rawa, Inilah Fakta Unik Tentang Nama Stasiun MRT Singapura

Dibalik semua reaksi yang ditimbulkan oleh warganya, proses pengerjaan proyek MRT tetaplah berlanjut sesuai dengan apa yang sudah dijadwalkan sebelumnya. Ternyata berkaca pada negara tetangga yang sudah terlebih dahulu memiliki sistem transportasi serupa, yaitu Singapura yang juga pernah mengalami kejadian serupa dimana pembangunan MRT sempat mengalami gejolak sebelum akhirnya sistem transportasi ini menjadi salah satu andalan dari  negara yang kadang disebut sebagai Kota Singa tersebut.

Pada awalnya, pengadaan MRT dilandasi oleh hasil dari The Comprehensive Traffic Study pada tahun 1981 yang menunjukkan bahwa seluruh sistem bus di Singapura dinilai tidak praktis dan efisien. Hasil dari studi tersebut seolah mendapat dukungan dari Perdana Menteri Singapura pada masa itu, Lee Kuan Yew yang menyimpulkan bahwa sistem transportasi dengan hanya menggunakan bus tidak akan mencukupi kebutuhan warga Singapura karena akan memerlukan jalur jalan yang besar sementara masalah utama dari negara tersebut adalah keterbatasan lahan.

Sumber: techinasia.com

Biaya konstruksi awal MRT sebesar 5 miliar dolar Singapura merupakan gelontoran dana termahal yang pernah dikeluarkan untuk sebuah proyek pada waktu itu. Pembangunan awal  proyek MRT dimulai di Toa Payoh dan Noveda pada 22 Oktober 1983 setelah tahapan ground-breaking yang diadakan di Jalan Shan. Jaringan MRT dibangun secara bertahap dimulai dari Jalur Utara – Selatan karena melewati daerah pusat kota yang dinilai sangat memerlukan transportasi publik. Adalah Singapore Mass Rapid Transit (SMRT) Corp. yang sebelumnya bernama Mass Rapid Transit Corporation (MRTC) yang kemudian mengelola proyek pembangunan MRT ini.

Warga Singapura harus mengapresiasi para pekerja yang bersusah payah membangun salah satu moda transportasi darat ini, mengingat bukanlah perkara mudah untuk “melubangi bumi” pada masa itu. Momen berbahagia terjadi pada 7 November 1987 dimana jalur pertama dari MRT Singapura secara resmi dibuka. Wakil Perdana Menteri Singapura pada masa itu, Ong Teng Cheong bahkan menggambarkannya sebagai prestasi luar biasa setelah 20 tahun mengalami masa-masa sulit dalam tahap perencanaan hingga pembangunan.

Baca juga: Siap Hadapi Perang, Stasiun MRT Singapura Punya Fungsi Ganda Sebagai Bunker Berkapasitas Besar

Publik menyambut moda anyar tersebut dengan sangat antusias, terlihat dari ramainya massa yang datang ke Toa Payoh MRT Station. Kebanyakan dari mereka ingin merasakan pengalaman menaiki moda anyar tersebut. Dalam perjalanan pertamanya, MRT ini membawa 400 tamu VIP dan regular bertolak dari Toa Payoh menuju Yio Chu Kang dalam waktu 15 menit saja. Berselang tiga minggu dari grand opening tersebut, tercatat sudah satu juta orang yang menggunakan jasa MRT ini.

Sebuah apresiasi pun diberikan oleh bos konstruksi tersebut kepada para pegawainya, tiga diantaranya adalah wanita Samsui, dengan memberikan waktu libur kepada mereka dan turut menikmati perjalanan menaiki kereta baru. Ini merupakan sebuah bentuk apresiasi terhadap mereka yang sudah bekerja keras selama empat tahun belakangan untuk membangun salah satu tulang punggung transportasi di Singapura ini.

Dengan lima jalur lintasan utama, saat ini MRT Singapura memiliki 113 stasiun dengan panjang rel mencapai 152,9 kilometer.