Pakistan Diguncang Krisis Ekonomi, Maskapai Nasional (PIA) Bakal Diprivatisasi

Dampak dari krisis ekonomi yang melanda Pakistan telah berimbas langsung pada kelangsungan maskapai plat merah negeri di Asia Selatan itu. Sebagai bagian dari kucuran bantuan dana IMF senilai US$3 miliar (setara Rp45 triliun), pemerintah Pakistan harus melakukan langkah privatisasi pada beberapa perusahaan nasional, yang salah satunya adalah Pakistan International Airlines (PIA).

Baca juga: Dibalut Ketegangan, Boeing 777 Pakistan International Airlines (PIA) ‘Nyasar’ ke Wilayah India

Seperti dikutip Simple Flying, Pemerintah Pakistan telah mengumumkan niatnya untuk memprivatisasi PIA, sebagai bagian dari program privatisasi yang sedang berlangsung. Langkah signifikan ini dilakukan ketika Pakistan berupaya untuk mengalihdayakan operasi bandaranya, sejalan dengan persyaratan kesepakatan dengan Dana Moneter Internasional – International Monetary Fund (IMF).

Dalam langkah penting menuju reformasi ekonomi, Komite Kabinet Privatisasi, yang diketuai oleh Menteri Keuangan Ishaq Dar, telah memasukkanPIA ke dalam daftar aktif proyek privatisasi. Keputusan strategis ini mengikuti amandemen undang-undang baru-baru ini oleh Parlemen, yang memfasilitasi dimasukkannya PIA dalam agenda privatisasi yang sedang berlangsung.

Reputasi PIA telah dirusak oleh serangkaian masalah, yang berpuncak pada keputusannya untuk mengejar privatisasi. Salah satu pukulan paling signifikan terhadap reputasi maskapai ini adalah penangguhan penerbangannya ke Eropa dan Inggris pada tahun 2020. Penangguhan ini terjadi setelah Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa mencabut otorisasi PIA untuk terbang ke wilayah tersebut karena skandal yang melibatkan lisensi pilot palsu. Insiden ini tidak hanya membahayakan kredibilitas maskapai tetapi juga menyoroti perlunya reformasi menyeluruh dalam operasi penerbangan.

Awal tahun ini, sengketa pajak muncul dengan Dewan Pendapatan Federal Pakistan (FRB), yang mengakibatkan pembekuan rekening bank operator beberapa kali. Masalah keuangan PIA meningkat, terutama karena salah urus dana dan kenaikan biaya bahan bakar.

Baca juga: Buntut Lisensi Palsu Pilot, Pakistan International Airlines Ditolak Masuk Uni Eropa Enam Bulan

Saat ini armada PIA terdiri dari 33 pesawat, 12 di antaranya tidak aktif, menurut data dari ch-aviation. PIA memiliki 16 Airbus A320ceo, empat ATR 42-500, satu ATR-72-500, delapan Boeing 777-200S, dan empat B777-300.

FAA Keluarkan Peringatan Potensi Bahaya Selama Proses ‘Anti Icing’ pada Boeing 737 Max

Administrasi Penerbangan Federal (Federal Aviation Administration/FAA) selaku regulator penerbangan di AS, belum lama ini telah memperingatkan bahaya atas keselamatan dari rumah mesin (engine housing) pada pesawat Boeing 737 Max selama proses anti icing (anti es).

Baca juga: Mengenal Traffic Collision Avoidance System (TCAS) – Perangkat ‘Anti Tabrakan’ di Pesawat Udara

Seperti dikutip dari reuters.com (9/8/2023), FAA memperingatkan maskapai penerbangan untuk membatasi penggunaan sistem anti-es pada Boeing 737 Max di udara kering untuk menghindari bagian rumah mesin menjadi terlalu panas, yang dapat menyebabkan mereka lepas dari struktur pesawat.

FAA mengatakan risiko bagi publik penerbangan cukup serius atas hal ini, sehingga akan memberlakukan perintah hanya dalam 15 hari, dan tanpa mengizinkan komentar publik terlebih dahulu. FAA mengatakan jika saluran masuk mesin terlalu panas, bagian dari rumah mesin bisa lepas dan menabrak jendela. Dan yang paling fatal dapat menyebabkan dekompresi dan bahaya bagi penumpang di kursi dekat jendela.

Jika bagian tersebut terlepas dari rumah mesin, itu tidak hanya dapat merusak jendela tetapi juga dapat mengenai bagian penting lainnya dari pesawat, menyebabkan pilot kehilangan kendali, kata FAA.

Temuan ini mempengaruhi mesin LEAP-1B yang digunakan pada semua versi Max. Mesinnya dibuat oleh CFM International, perusahaan patungan antara General Electric dan Safran Prancis.

Pada tahun 2018, seorang penumpang Southwest Airlines meninggal setelah bagian dari rumah mesin pada jet Boeing 737 versi lama terbang dan memecahkan jendela di samping tempat duduknya. Kegagalan mesin itu dimulai dengan bilah kipas yang patah.

FAA mengatakan belum ada laporan tentang masalah panas berlebih yang terjadi pada penerbangan Max. Dikatakan potensi kerusakan ditemukan selama pengujian dan analisis penerbangan pada bulan Juni.

Boeing mengatakan inlet yang terlalu panas – yang dibuat oleh Boeing, bukan CFM – hanya dapat terjadi dalam kondisi “sangat spesifik” dan tidak diketahui hingga saat ini.

“Boeing telah mengidentifikasi langkah-langkah untuk mengurangi potensi masalah dan (sedang) bekerja dengan pelanggan kami untuk menerapkan langkah-langkah tersebut sementara perbaikan permanen dikembangkan,” kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan.

Masalah yang disorot oleh FAA melibatkan sesuatu yang disebut proses anti icing, di mana udara panas dari mesin digunakan untuk memanaskan rumah dan mencegah pembentukan es yang dapat tersedot ke dalam mesin.

Baca juga: Apa Itu Tes ‘Rendam’ Dingin Ekstem pada Pesawat dan Mengapa Diperlukan?

Anti icing pada pesawat adalah proses atau sistem yang dirancang untuk mencegah atau menghilangkan pembentukan es atau penumpukan es pada permukaan eksternal pesawat selama operasi di lingkungan yang dingin atau cuaca yang membeku. Pembentukan es pada permukaan pesawat dapat mengganggu aliran udara di sekitar sayap, ekor, dan bagian lainnya, yang dapat mengurangi kinerja dan stabilitas pesawat.

Sistem anti icing yang digunakan pada pesawat terdiri dari beberapa elemen, termasuk pemanas listrik atau elemen pemanas yang ditempatkan di sepanjang permukaan kritis pesawat.

“Tanggung,” Stasiun Kedua Tertua di Indonesia, Masih Beroperasi dan Jadi Cagar Budaya

Namanya memang Stasiun Tanggung dan menjadi stasiun kereta api nomor dua tertua dan masih beroperasi hingga kini. Terletak di Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah, stasiun Tanggung merupakan stasiun kereta api kelas III atau stasiun kecil.

Baca juga: Hari ini 156 Tahun Lalu, Jalur Kereta Api Penumpang Pertama di Indonesia Resmi Beroperasi

Berada di ketinggian +20 meter dari permukaan laut, stasiun Tanggung masuk dalam Daerah operasional (Daop) IV Semarang dan memiliki dua jalur dengan jalur dua sebagai sepur lurus. KabarPenumpang.com mengabarkan dari berbagai sumber, awalnya stasiun Tanggung memiliki lebar rel 1435 mm yang merupakan standar Eropa, kemudian pada masa penjajahan Jepang, jalur rel tersebut digeser hingga menjadi 1067 mm sampai sekarang.

Stasiun ini memiliki gaya arsitektur Swiss Chalet yang berasal dari Swiss dan biasanya bentuk bangunan tersebut digunakan pada lumbung, kandang ataupun rumah tinggal. Gaya ini sangat sederhana tetapi sangat cantik bila melihat dari sisi seninya. Ciri Swiss Chalet ini bisa terlihat di bagian atap pelana yang diberi dekorasi dan ekspose tiang konstruksi.

Namun entah bagaimana gaya arsitektur milik pegunungan Swiss dipakai untuk gaya stasiun ini. Ada kemungkinan, gaya arsitektur ini sesuai dengan bangunan stasiun Tanggung yang kecil dengan tanpa mengurangi nilai estetika atau keindahannya.

Stasiun Tanggung memiliki empat ruang pada bangunan stasiunnya yakni ruang kepala stasiun yang juga digunakan untuk loket, gudang, ruang tunggu dan ruang PPKA.

Gaya arsitektur Swiss Chalet terlihat di bangunan Stasiun Tanggung tempo dulu

Stasiun ini pertama kali dibangun tahun 1867. Kemudian pada 1910 dibangun kembali dan berdiri hingga saat ini dan mengalami perubahan bentuk atap dari yang semula berupa kombinasi atap pelana pada bagian atas dan atap jurai di bagian bawah menjadi bentuk atap pelana serta teras berkanopi dibagian depan dan overstek di bagian belakang.

Diketahui, stasiun ini sudah empat kali direnovasi, yakni pertama tahun 1984, kedua setelah banjir 1996 tepatnya tahun 1997, ketiga kali renovasi pada tanggal 15 Maret 2000 dan terakhir kali banjir pada Desember 2006 tepatnya pada bulan Februari 2007.

Pada pertengahan tahun 1980an, stasiun ini pernah hendak dibongkar dan ditempatkan di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, untungnya tidak jadi dan tetap berada di tempatnya semula. Stasiun ini juga sudah ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya berdasarkan UU Cagar Budaya No.5/1992.

Ada beberapa keunikan yang terlihat dari stasiun ini, yang pertama saat masuk akan terlihat sebuah tugu peringatan dengan tulisan “Di Bumi iniliah kita bermula” sebagai pegingat sejarah bermulanya kereta api di Indonesia. Keunikan kedua adalah sebuah rumah tua kecil yang dulunya menjadi rumah dinas kepala stasiun Tanggung dan masih ada hingga saat ini.

Baca juga: “Baso,” Bukan Cuma Makanan, Tapi Juga Nama Bekas Stasiun di Sumatera Barat

Karena sulitnya moda transportasi umum ke stasiun ini, akhirnya stasiun Tanggung beralih fungsi sebagai stasiun pemantau. Saat ini satu-satunya kereta api yang berhenti di stasiun Tanggung adalah KA Bangunkarta tujuan Jakarta untuk bersilang dengan sesamanya tujuan Surabaya yang melintas langsung.

Di India, Pengguna Lift dan Eskalator Mendapat Perlindungan Asuransi

Maraknya kecelakaan pada sarana dan pra sarana publik kerap terjadi di India, salah satu pangkal musababnya adalah faktor perawatan yang rendah. Selain peliknya problem transportasi di Negeri Anak Benua tersebut, kini kecelakaan yang terjadi di dalam gedung bertingkat juga mendapat perhatian serius dari regulator.

Baca juga: Laju Eskalator Stasiun Bawah Tanah Terlalu Kencang, Manula di Perth Kerap Jadi Korban

Di India, pengguna lift dan eskalator akan mendapat asuransi atau biaya pertanggungan jika terjadi kecelakaan. Menteri Energi Chandrashekhar Bawankule mengatakan bahwa Maharashtra Lifts Act 1939 belum diubah selama 78 tahun terakhir. RUU tersebut disahkan oleh majelis tanpa ada diskusi dan saat ini sedang dikirim kepada Dewan untuk menentukan hasilnya.

Dalam RUU tersebut menyebutkan bahwa pemilik lift dan eskalator wajib memberikan asuransi pada pihak ketiga jika terjadi kecelakaan. Perusahaan pemilik eskalator dan lift dapat di adili dan bertanggung jawab untuk mendapatkan hukuman berdasarkan Undang-undang tersebut jika terjadi kecelakaan pada lift atau eskalator karena tidak berfungsinya salah satu ketentuan keselamatan.

Eksalator dan elevator atau lift, merupakan dua teknologi pengangkut orang dalam gedung yang berbeda kapasitas. Bisa dikatakan setiap gedung perkantoran, mall, stasiun hingga bandara memiliki dua alat pngangkut ini, selain untuk memudahkan pengangkutan, keduanya juga mempercepat orang berjalan jika dibandingkan berjalan biasa melewati tangga manual.

Keduanya sebenarnya diperlukan untuk memudahkan pengangkutan orang dalam gedung. Walaupun memiliki persamaan tetapi eskalator dan lift juga memiliki perbedaan yang cukup signifikan.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, perbedaan keduanya dimana eskalator merupakan tangga berjalan yang bisa memindahkan orang lebih banyak. Sedangkan lift adalah tabung atau ruang kecil dengan pengungkit untuk mengangkat  orang dan memiliki kapasitas terbatas dalam mengangkut.

Selain itu jika menggunakan eskalator, kereta dorong bahkan kursi roda tidak bisa naik dalam eskalator. Tetapi jika menggunakan lift keduanya bisa masuk, terlepas dari yang ditakuti seperti terjebak dalam lift, atau tiba-tiba lift jatuh ke beberapa lantai bawahnya.

Tak hanya itu, bisa dikatakan, lift lebih hemat energi dibandingkan eskalator. Sebab, lift jika tidak digunakan akan mati secara otomatis sedangkan eskalator jika tidak digunakan ada energi yang tetap berjalan.

Baca juga: Intip Eskalator Stasiun Bersejarah di Sydney, Disulap Jadi Karya Seni Nan Artistik

Di dalam RUU tersebut juga menyatakan bahwa siapa pun yang melanggar ketentuan dalam Undang-undang atau peraturan atau persyaratan lisensi atau petugas pemeriksa listrik ini harus dihukum dengan denda sampai Rs50 ribu jika terbukti bersalah. Undang-undang baru tersebut juga mewajibkan bangunan yang memiliki eskalator untuk mendapatkan lisensi dalam retrospeksi.

F-16 AU Singapura ‘Scramble’, Lebih dari 20 Penerbangan di Bandara Changi Mengalami Delay

Tak kurang dari 20 penerbangan dari Bandara Internasional Changi mengalami penundaaan setelah flight jet tempur F-16 Fighting Falcon milik Angkatan Udara Singapura diterbangkan dalam moda siaga tempur. Flight jet tempur F-16 dikerahkan secara cepat dalam scramble untuk melakukan intercept, sebagai tanggapan atas penerbangan helikopter sipil tanpa izin di kawasan Changi.

Baca juga: Apa yang Terjadi Bila Pilot Tidak Berkomunikasi dengan ATC? Ini Jawabannya

Angkatan Udara Republik Singapura (RSAF) menerbangkan dua jet tempur F-16 pada Rabu sore (9 Agustus 2023) sebagai tanggapan atas helikopter sipil, kata Kementerian Pertahanan (MINDEF) dan Otoritas Penerbangan Sipil Singapura (CAAS). “Pemeriksaan awal menunjukkan bahwa helikopter itu adalah milik sipil dan terdaftar di perusahaan asing,” tambah mereka.

“Setelah memastikan bahwa keamanan kami tidak terganggu, jet tempur F-16 kemudian didaratkan, dan penerbangan komersial dari Bandara Changi dapat dilanjutkan.” Dikutip dari akun Twitter @alert5, kedua jet tempur F-16 dikerahkan sekitar pukul 12.40 siang.

Operasi di Bandara Changi terpengaruh selama sekitar 40 menit, antara pukul 12.50 dan 13.28, kata pihak berwenang. Sebanyak sembilan penerbangan kedatangan dan 11 penerbangan keberangkatan mengalami beberapa delay.

Dengan menggunakan layanan pelacakan penerbangan online Flightradar24, pengguna akun mengatakan jet tempur telah melakukan scramble sebagai tanggapan atas “helikopter terdaftar Malaysia” yang memasuki wilayah udara Bandara Changi.

Wartawan pertahanan Roy Choo menambahkan bahwa helikopter yang dimaksud terdaftar di Malaysia dan diketahui dari jenis AS350 atau Squirrel produksi Airbus Helicopters.

Baca juga: Amankan Jalur Penerbangan, Pesawat Timnas Polandia Dikawal Jet Tempur F-16

Sebagai catatan, scramble adalah istilah dalam dunia kemiliteran, yang artinya jet tempur harus take-off secara cepat, salah satunya penerbang harus sudah mengudara maksimal 12-15 menit sejak perintah operasi diturunkan oleh pimpinan.

Mau Tahu Seberapa Tebal Dinding Pesawat? Cek Jawabannya di Sini!

Guna mengasilkan daya angkat yang maksimal, selain pesawat dibekali mesin yang kuat, material badan pesawat pun harus dibuat seringan mungkin. Nah, yang disebut terakhir, ringan, menjadi momok tersendiri dalam benak masyarakat. Ringan identik dengan tipis, dan kemudian yang menjadi pertanyaan, seberapa tebal sih dinding pada pesawat? Yang memisahkan antara ruang kabin Anda dengan udara di luar.

Baca Juga: Dielukan dan Selalu Dicari, Inilah Serba Serbi Low Cost Carrier

Pertanyaan ini menjalar semakin liar, mengingat dua material utama pembentuk badan pesawat ini adalah besi dan material komposit. Selain itu, dinding pesawat yang sejatinya membatasi manusia dengan angkasa luas ini juga terdiri dari beberapa lapisan yang memiliki fungsinya masing-masing. Sebut saja ada lapisan yang bisa ‘mengunci udara’ di dalam kabin, lapisan yang bisa meredam bisingnya suara jet, hingga lapisan yang bisa menjaga temperatur di dalam kabin.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, KabarPenumpang.com mengutip dari laman Quora.com, dimana salah seorang analis menjawab rata-rata ketebalan dari dinding pesawat yang memisahkan Anda dengan angkasa luar ketika tengah mengudara hanyalah berkisar enam inci atau yang setara dengan 15,24 centimeter saja. Ketebalan tersebut sudah mencakup keseluruhan lapisan yang tadi disebutkan diatas.

Kendati tidak keseluruhan pesawat memiliki ketebalan dinding yang sama – ada yang lebih tebal, ada yang lebih tipis, namun di sini Anda akan terkagum-kagum mengingat Anda hanya dilindungi oleh besi dan material komposit yang tebalnya kurang dari 20 centimeter selama berada di udara! Keren, bukan?

Baca Juga: Mengenal Serba Serbi dan Peran Air Traffic Controller

Selain itu, pria yang bernama Tim Yarrow ini juga mengatakan bahwa kabel-kabel dan saluran yang ‘menjembatani’ masing-masing fungsi di dalam ruang kabin terpasang pada bagian langit-langit fuselage. Kembali lagi, penjelasan dari Tim tadi bukanlah sesuatu yang mutlak sama di setiap pesawat. Dalam kasus ini, tim mengambil contoh dari pesawat terbaru dari Airbus, A321.

Wah, apakah sekarang pertanyaan Anda terkait ketebalan dinding pesawat sudah terjawab?

Setelah Era Concorde, Inilah Lima Pesawat Jet Penumpang dengan Mesin Paling Bising

Ciri khas dari pesawat jet adalah bunyi bising dari mesinnya yang memekakkan telinga. Dan tingkat kebisingan mesin pesawat dapat bervariasi, tergantung pada berbagai faktor, termasuk teknologi mesin, desain pesawat, dan kembali lagi yakni penilaian subjektif. Bila di masa lalu Concorde dikenal sebagai pesawat jet penumpang yang paling bising mesinnya, maka bagaimana dengan pesawat jet penumpang saat ini.

Baca juga: Apakah Ada Pesawat yang Dibuat untuk Meredam Kebisingan Mesinnya?

Tingkat kebisingan mesin pesawat diukur dalam satuan desibel (dB) dan dapat bervariasi, dipengaruhi banyak faktor, termasuk kondisi penerbangan, tahap operasional, dan jarak dari sumber kebisingan. Dilansir dari Aviaonline.com, berikut ini adalah lima pesawat penumpang jet yang dalam beberapa situasi dianggap memiliki mesin paling bising.

1. Boeing 737-800
Tingkat kebisingan lepas landas (takeoff) pesawat ini umumnya berkisar antara 85 hingga 95 dB, tergantung pada kondisi operasional dan lokasi pengukuran.

2. Airbus A320
Tingkat kebisingan lepas landas pesawat ini biasanya berkisar antara 85 hingga 93 dB.

3. Boeing 777 series
Tingkat kebisingan lepas landas pesawat ini berkisar antara 88 hingga 96 dB.

4. Airbus A380
Tingkat kebisingan lepas landas pesawat ini berkisar antara 85 hingga 93 dB.

5. McDonnell Douglas MD-80 Series
Tingkat kebisingan lepas landas pesawat ini umumnya berkisar antara 85 hingga 95 dB.

Baca juga: Yuk! Pahami Berbagai “Bunyi Bising” di Dalam Kabin Pesawat

Perlu dicatat, tingkat kebisingan dapat berfluktuasi berdasarkan berbagai faktor, termasuk kondisi cuaca, konfigurasi mesin, dan teknologi pengurangan kebisingan yang mungkin diterapkan oleh maskapai atau produsen. Selain itu, pengukuran kebisingan dapat bervariasi berdasarkan lokasi pengukuran dan metode yang digunakan.

Boeing 787 Terbaru El Al Dikirim Menggunakan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan

Maskapai penerbangan kini sedang giat menjajal penggunaan bahan bakar penerbangan berkelanjutan – sustainable aviation fuel (SAF). Namun, sejauh ini masih jarang SAF digunakan pada pesawat baru yang dikirim gress dari pabrik. El Al dengan Boeing 787 Dreamliner terbaru berhasil membuat gebrakan tentang penggunaan SAF.

Baca juga: Emirates Jadi Pelopor Penggunaan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan di Boeing 777-300ER

Maskapai penerbangan Israel El Al Airlines menerima pengiriman Boeing 787 ke-16 pada hari Senin, 31 Juli 2023. Meskipun pengiriman pesawat selalu mengasyikkan, pengiriman pesawat khusus ini istimewa, mengingat penerbangannya ke Tel Aviv didukung oleh bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

El Al menerima pengiriman 787-8 keempatnya minggu lalu, varian terkecil dari keluarga Dreamliner. 12 Dreamliner lainnya adalah varian 787-9 yang lebih besar. Pesawat baru membawa registrasi 4X-ERD dan tiba di Bandara Internasional Ben Gurion (TLV) Tel Aviv pada pagi hari tanggal 31 Juli, langsung dari fasilitas Boeing Everett di Washington.

Hal yang menarik adalah penerbangan pengantaran selama 12 jam dioperasikan dengan menggunakan 30 persen bahan bakar penerbangan berkelanjutan, sehingga menandai penggunaan SAF yang pertama oleh maskapai dan menandakan kesediaannya untuk berperan dalam mengurangi emisi gas rumah kaca. Pengiriman khusus ini dilakukan tepat setelah maskapai terdaftar dalam Program Penilaian Lingkungan (IEnvA) Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA).

Program IEnvA menilai komitmen maskapai penerbangan di seluruh dunia untuk meningkatkan kinerja lingkungan dan keberlanjutan mereka. Program ini mencakup maskapai penerbangan global, seperti Qatar Airways, easyJet, Azores, dan Finnair.

Menggunakan SAF untuk penerbangan pengiriman pasti membantu maskapai mengurangi jejak karbon mereka dan menunjukkan upaya mereka, dengan beberapa mencoba inisiatif dalam beberapa bulan terakhir.

Baru-baru ini, LATAM menerima pengiriman Airbus A320neo baru, yang terbang dari Toulouse, Prancis ke Fortaleza, Brasil, menggunakan 30 persen SAF, yang dihasilkan dari minyak goreng.

Baca juga: Setelah Singapore Airlines, Giliran Malaysia Airlines Gunakan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan

Selain itu, pada bulan Juni tahun ini, Cebu Pacific juga menerima pengiriman pesawat A320neo yang menggunakan bahan bakar campuran SAF 41 persen. Penerbangan feri ini dioperasikan dari jalur perakitan Airbus di Tianjin, China, menuju Bandara Internasional Manila (MNL). Penggunaan campuran SAF merupakan bagian dari upaya maskapai untuk mengurangi dampak lingkungannya.

Richard Branson – Sosok Pengidap Disleksia di Balik Nama Besar Virgin Ltd

Sebagai salah satu perusahaan multinasional tersukses asal Inggris, sudah barang tentu keberadaan Virgin Ltd. tidak bisa dipandang sebelah mata. Tidak hanya menaungi bisnis layanan jasa penerbangan, Virgin juga diketahui menggeluti bidang spaceflight, industri seluler, radio, industri musik dan film, hingga perbankan. Dengan banyaknya usaha yang perusahaan ini geluti, tidaklah heran jika sang founder, Richard Branson dianugerahi gelar Sir oleh Kerajaan Inggris.

Baca Juga: Virgin Galatic Uji Coba Pesawat Luar Angkasa Komersial

Lahir di Blackheath, London, pada 18 Juli 1950, Richard merupakan anak sulung dari pasangan seorang Barista bernama James Branson dan pramugari bernama Eve Branson. Walaupun Richard merupakan seorang pengidap disleksia, yakni gangguan dalam perkembangan baca-tulis yang umumnya terjadi pada anak menginjak usia 7 hingga 8 tahun. Richard sempat mengalami fase jatuh bangun di bangku sekolah, namun kekurangan yang ia miliki sama sekali tidak mematahkan semangatnya untuk melampaui kedua orang tuanya.

Diketahui, Ia pernah hampir dikeluarkan dari sekolah khusus laki-laki, Scaitcliffe. Kemudian Richard pindah ke Stowe School, ketika menginjak umur 16 tahun, ia dikeluarkan dari sekolah. Hal tersebut lantas menjadi pemicu Richard untuk terus bangkit dan berusaha. Diketahui, ia membangun jaringan bisnis pertamanya berupa majalah remaja bernama “Student”. Produk yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1966 ini mampu meraup keuntungan dari iklan sebesar US$8.000. Keuntungan tersebut lalu ia gunakan untuk membagikan 50.000 eksemplar majalah secara gratis. Dari sinilah bibit-bibit kedermawanan Richard mulai terbentuk.

Layaknya kebanyakan anak remaja, lingkungan hidup Richard pada era 60-an akhir dikelilingi oleh komunitas musik dan obat-obatan terlarang. Dari sinilah ide Richard untuk mendukung bisnis majalahnya muncul, dan mulai mendirikan Virgin, sebuah bisnis audio record mail-order. Keuletan Richard membuahkan hasil yang cukup manis, terbukti dengan terbentuknya toko ritel kaset dan perusahaan rekaman ada tahun 1972.

Sumber: wikipedia

Selain berhasil menggaet Mike Oldfield dengan single berjudul “Tubular Bells” pada tahun 1973, Virgin Records juga diketahui menggawangi beberapa musisi Biritsh terkenal lainnya, seperti Sex Pistols, The Rolling Stones, Culture Club, hingga Paula Abdul. Kesuksesan Richard di dunia rekaman tidaklah membuat dirinya cepat puas, diketahui KabarPenumpang.com dari laman Wikipedia, kali ini, Richard mencoba mengembangkan bisnis dengan membangun agen perjalanan bernama Voyager Group pada tahun 1980. Selanjutnya, ia mengekspansi usaha dengan membuka perusahaan penerbangan bernama Virgin Atlantik di tahun 1984.

Sayangnya, Dewi Fortnuna belum berpihak pada Richard di dunia aviasi. Richard Branson pernah hampir mengalami kebangkrutan di tahun 1992 yang menyebabkan bisnis tersebut di jual ke THORN EMI dengan nilai transaksi sebesar US$1 milyar. Alih-alih menyesali langkahnya, Richard malah kembali ke industri hiburan dan mendirikan the Station Virgin Radio yang diikuti dengan terbentuknya perusahaan rekaman keduanya bernama V2.

Kesuksesan  Richard Branson di industri penerbangan dimulai ketika ia melakukan perjalanan ke Puerto Riko. Penerbangannya dibatalkan, jadi ia memutuskan untuk menyewa pesawat sendiri dan menawarkan tumpangan kepada para penumpang yang terdampar dan menarifkan penerbangan tersebut dengan biaya rendah menutupi biaya penyewaan pesawat tersebut. Sembari mempelajari kembali tentang bisnis di dunia aviasi, Richard kembali mempertaruhkan keuntungan yang selama ini ia raih dengan memasuki bisnis perkeretaapian pada tahun 1993. Tidak disangka-sangka, Virgin Trains memenangkan waralaba untuk sektor Intercity West Coast dan Cross-Country Rail Inggris.

Baca Juga: Elon Musk – Sosok Dibalik Transportasi Ultra Modern

Pada tahun 1996, Virgin mengakuisisi maskapai penerbangan jarak pendek Eropa Euro Belgian Airlines dan merubah identitasnya menjadi Virgin Express. Pada tahun 2006, Virgin Express bergabung dengan SN Brussels Airlines yang akhirnya membentuk Brussels Airlines. Maskapai lainnya, Virgin America, mulai mengudara dari Bandara Internasional San Francisco pada bulan Agustus 2007.

Merupakan suatu hal yang wajar jika nama Richard Branson masuk ke jajaran 10 besar orang terkaya di tanah Britania Raya dan salah satu orang terkaya di dunia versi Forbes. Membawahi lebih dari 200 perusahaan di lebih dari 30 negara tidak ditempuh Richard dengan cara yang instan. Ia harus mengorbankan masa muda dan waktu istirahatnya untuk bisa sesukses sekarang. Salah satu kata mutiara yang dilontarkan langsung oleh The Old Beardie adalah, “Do not be embarrassed by your failures, learn from them and start again.”

Ancillary Revenue, Berawal dari ‘Standar’ Pendapatan di Maskapai Berbiaya Murah

Banyak istilah dalam dunia penerbangan, salah satu yang menarik adalah ancillary revenue. Ancillary revenue merujuk pada pendapatan yang diperoleh oleh maskapai penerbangan dari sumber-sumber selain penjualan tiket pesawat.

Baca juga: Sudah Tahu “Ancillary Revenue” Maskapai Penerbangan? Simak di Sini Jika Belum

Ancillary revenue adalah pendapatan tambahan yang diperoleh oleh maskapai dengan menawarkan berbagai layanan dan produk ekstra kepada penumpang selama atau sebelum perjalanan mereka. Pendapatan tambahan in juga berasal dari semua tambahan kecil yang Anda bayarkan; seperti pemilihan kursi, tas ekstra, ruang kaki ekstra, dan kudapan waktu makan itu. Ada juga kontribusi dari skema frequent flyer, kredit kredit merek bersama, perusahaan asuransi, dan mitra hotel.

Dikutip dari Simple Flying, Awalnya, awalnya ancillary revenue secara eksklusif dikaitkan dengan maskapai penerbangan berbiaya rendah dan sangat murah (low cost carrier). Meskipun demikian, operator jaringan global di seluruh dunia telah beralih ke metode ini karena kebutuhan persaingan.

Komponen ancillary revenue memberikan lapisan stabilitas untuk maskapai penerbangan, karena harga layanan yang ditawarkan tidak berfluktuasi atau ditentukan oleh penawaran dan permintaan seperti tarif.

Pada tahun 2022, ancillary revenue global mencapai rekor tertinggi, terhitung sekitar 15% dari total pendapatan maskapai penerbangan. Ini terbukti di Amerika Serikat, di mana maskapai penerbangan memperoleh sekitar $4 miliar dari pendapatan biaya kursi yang ditetapkan.

Mengapa Ancillary revenue itu penting?
Bukan rahasia lagi bahwa industri penerbangan dicirikan oleh kerentanan terhadap kemerosotan ekonomi, biaya operasional yang tinggi, dan tekanan tarif yang menurun.

Dengan memperluas jangkauan aliran pendapatan, maka maskapai penerbangan mencoba melakukan lindung nilai terhadap hal ini. Operator layanan penuh dengan skema frequent flyer yang komprehensif dapat mengumpulkan pendapatan melalui usaha dengan lembaga keuangan, hotel, perusahaan persewaan mobil, supermarket, asuransi, pom bensin; daftarnya terus berlanjut. Ini mencapai titik di mana hampir setiap transaksi yang Anda lakukan dapat ditautkan ke akun frequent flyer, menghasilkan poin untuk Anda sendiri dan, pada akhirnya, pendapatan untuk maskapai.

Baca juga: “Dining Experiences” dari Citilink Bantu Penumpang Kreasikan Set Hidangan dalam Penerbangan

Ideaworks mencatat bahwa peran ancillary revenue mengubah operasi industri penerbangan. Terlepas dari tantangan ekonomi dan operasi industri penerbangan, pendapatan tambahan terus meningkat. Ini adalah pot emas untuk maskapai penerbangan.