Puas Kualitas KCJB Usai Jajal Bareng Luhut, Cina Siap Garap Kereta Cepat Jakarta-Surabaya

Perdana Menteri (PM) Cina, Li Qiang, mengaku puas dengan kualitas dan capaian Kereta Cepat Jakarta-Bandung hasil konsorsium Cina-Indonesia (KCIC). Hal ini diungkap Menteri Kordinator Bidang Maritim dan Investasi RI Luhut Binsar Pandjaitan usai meninjau kesiapan sekaligus menjajal KCJB.

Baca juga: Ini Dia Penampakan Nomor Kereta Ukur Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) yang Akan Dikirim ke Jakarta

Luhut juga mengungkapkan, utusan Presiden Xi Jinping itu mengaku Cina siap terlibat dalam proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya sejauh 888 km. Hanya saja Luhut menyebut akan melihat dahulu perkembangan ke depannya sekalipun Cina memiliki pengalaman membangun kereta cepat dengan bentang cukup panjang.

“PM Li Qiang sangat happy uji coba selama 11 menit ke Karawang dan kembali kemari,” ujar Luhut kepada wartawan setelah mencoba kereta cepat di depan Stasium Halim, Jakarta Timur, pada Rabu, 6 September 2023.

“Mereka (Cina) juga senang kalau bisa ikut terlibat (proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya),” tambahnya setelah disinggung terkait posisi Cina di proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya.

Dalam kunjungannya ini, Li Qiang dan rombongan, yang juga didampingi oleh Menteri Perhubungan RI Budi Karya Sumadi beserta tim Kementerian BUMN, mencoba KA Cepat dari Stasiun Halim hingga Karawang dengan waktu tempuh selama 15 menit. Li Qiang juga dikenalkan dengan motif batik Mega Mendung yang menghiasi interior KA Cepat dan berbagai fasilitas rangkaian KA Cepat yang lengkap dan nyaman.

Li Qiang berkesempatan melihat berbagai fasilitas dan interior dari Stasiun KA Cepat Halim dan Karawang. Li Qiang juga mencoba Kereta Penumpang dan Kereta Inspeksi dengan kecepatan hingga 350 km per jam.

GM Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa menjelaskan, pihaknya menyambut baik dan mengapresiasi kehadiran PM Tiongkok tersebut. Ia menyebut kunjungan ini merupakan bentuk dukungan dari Tiongkok terhadap kemajuan transportasi di Indonesia.

Kolaborasi kedua negara, lanjut Eva, sangat penting dalam perkembangan Kereta Api Cepat Indonesia. Sebagai salah satu negara dengan fasilitas KA Cepat terbaik di dunia, Tiongkok membawa teknologi dan melakukan transfer pengetahuan mengenai infrastruktur dan operasional KA Cepat pada SDM-SDM Indonesia.

“Kunjungan ini memberi dorongan dan motivasi bagi kami untuk menyediakan layanan KA Cepat yang optimal dan paripurna kepada masyarakat Indonesia. Ke depan kami harap KA Cepat ini bisa disambut baik oleh masyarakat dan menjadi pilihan moda transportasi untuk perjalanan dari Jakarta menuju Bandung atau sebaliknya,” jelasnya.

Baca juga: Enam Hal ini Jadi Pembeda Antara Rel Kereta Cepat dan Rel Kereta Konvensional

Adapun saat ini menjelang operasional sejumlah persiapan terus dilakukan ujicoba hingga menjalankan 30 KA perhari terus berlanjut guna memastikan keandalan sarana kereta dan prasarana. Untuk layanan operasional KCIC memiliki 11 rangkaian KA Penumpang dan 1 CIT yang seluruhnya sudah tiba di Indonesia dan berada di Dipo Tegalluar.

Selain uji coba yang berjalan lancar, proses sertifikasi sarana dan prasarana juga dilakukan bersama Kementerian Perhubungan. Mengingat Kereta Api Cepat merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional, KCIC memastikan saat operasional dilakukan, maka dipastikan sudah sesuai dengan seluruh regulasi yang ada.

 

Parade Kawis Malam, Bikin Railfans Gempar!

Tak seperti biasanya, penggemar kereta api (Railfans) ramai membicarakan momen yang jarang terjadi di aplikasi Whatsapp. Informasi yang mereka bicarakan mengenai rangkaian kereta api yang tidak biasanya akan lewat. Meski mereka ada yang sedang menghadapi pembelajaran secara daring maupun tatap muka, namun informasi tersebut membuat mereka makin penasaran dan terus mencari tahu dengan bertanya ke sesama hobinya.

Baca juga: Ingin Ada Kereta Wisata di Lampung? – PT KAI: Benahi Dulu Infrastrukturnya

Informasi yang membuat Railfans gempar tersebut adalah rangkaian kereta api saat dinas posko. Seperti diketahui, wilayah Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta setiap harinya selalu ada rangkaian posko untuk pengiriman kereta api dari stasiun ke depo kereta/Balai Yasa Manggarai maupun sebaliknya. Disebut Dinas Posko adalah rangkaian kereta api lintas loop line (jalur putar) yang membawa lokomotif/kereta/gerbong ke stasiun/depo/balai yasa maupun sebaliknya untuk pengiriman dan pengecekan rangkaian. Rangkaian Posko pada Kamis, 16 Desember 2021 adalah rangkaian Kereta Wisata (Kawis).

Saking hebohnya dan tidak mau ketinggalan momen, mereka pun bergerak menuju lokasi dari siang hari untuk berburu rangkaian KA. Tak lupa mereka juga menanyakan rute mana yang akan di lewati Kawis tersebut. Alhasil jawaban yang didapat adalah lintas Cipinang – Jatinegara – Pasar Senen – Kampung Bandan – Tanah Abang – Manggarai.

Stamformasi Posko Kereta Wisata
Beberapa Railfans saat menunggu momen yang akan melintas mereka mencari tahu rangkaian Kawis apa saja yang akan dibawa untuk posko. Ada yang menginformasikan bahwa Kawis yang berdinas saat posko terdiri dari 6 Stamformasi (SF) yang memiliki nama yang berbeda pada masing – masing kereta. Adapun rangkaian Kawis tersebut adalah:
1. Kereta Wisata Imperial (K1 0 82 13)
2. Kereta Wisata Jawa (K1 0 82 22)
3. Kereta Wisata Toraja (S1 0 67 03)
4. Kereta Wisata Priority (K1 0 82 12)
5. Kereta Wisata Retro (K1 0 82 24)
6. Kereta Wisata Priority (K1 0 82 09)

Saat Dinas posko tak hanya ke-6 Kawis yang dibawa, tapi ada 1 unit Kereta Pembangkit dengan nomor seri (P 0 95 03) dan kereta kelas Ekonomi Premium yang nempel pada Kawis tersebut.

Lokomotif CC 201 83 01 milik Depo Induk Cipinang dinas Posko persiapan berangkat dari jalur 4 Stasiun Tanah Abang. (Foto: Sendy Prasetya)

Mengejar Kawis, Momen pun Dapat
Antusiasme Railfans sejak siang memang yang sangat ditunggu. Namun, hingga sore hari menjelang antusiasme Railfans yang ingin ikut mengabadikan pupus sudah. Karena mereka tidak biasa untuk keluar bebruru kereta api bahkan ada larangan dari orang tua mereka untuk tidak pulang saat senja bahkan waktu malam tiba apalagi bukan waktu weekend. Akhirnya hanya beberapa Railfans saja yang mengabadikan momen Rangkaian Kereta Posko Kawis tersebut.

Ternyata rangkaian posko yang membawa Kawis masuk stasiun Jatinegara pada pukul 18.50 WIB. Jepretan kamera pun terlihat saat kereta tersebut lewat. Rangkaian KA Posko membawa Kawis melintas langsung di jalur 7 Stasiun Jatinegara (JNG). Setelah rangkaian tersebut lewat, inisiatif mereka langsung tertuju ke Stasiun Tanah Abang (THB). Pukul 19.02 WIB mereka pun naik KRL dari Stasiun Jatinegara menuju Stasiun Manggarai (MRI). Setelah tiba di Stasiun Manggarai mereka pun transit/pindah kereta dari jalur 1 menuju jalur 6 Stasiun Manggarai untuk naik KRL tujuan Stasiun Angke (AK).

Pukul 19.18 WIB, KRL tujuan Angke pun masuk jalur 6 Stasiun Manggarai. Seakan khawatir tertinggal momen, selama di KRL mereka sempat ketar ketir berpikir dapat atau tidaknya momen rangkaian Kawis tersebut. Akhirnya pukul 19.28 Railfans pun tiba di Stasiun Tanah Abang. Sempat tertolong juga, karena posisi rangkaian posko Kawis masih standby di jalur 4 Stasiun Tanah Abang untuk gerakan langsir.

Mereka pun buru – buru untuk pindah dari peron jalur 3 menuju peron jalur 5. Dari peron jalur 5 inilah pengambilan gambar dirasa cukup bagus karena tidak terhalang dengan kereta api lainnya. Tak lama kemudian rangkaian posko Kawis bergerak langsir mundur menuju arah utara, untuk menggandeng 1 unit kereta kelas Ekonomi Premium (K3 0 17 23). Rangkaian posko saat itu ditarik oleh lokomotif seri CC 201 83 01 milik Depo Induk Cipinang (CPN).

Baca juga: Kursi di Gerbong Menghadap Laut, Inilah “Sea Rail” Kereta Wisata Khas Pesisir Korea Selatan 

Setelah menggandeng 1 unit kereta kelas Ekonomi Premium, rangkaian posko bergerak maju dan masuk kembali ke jalur 4 Stasiun Tanah Abang. Saat lokomotif berhenti dekat sinyal keluar Tanah Abang dan petugas langsir turun dari lokomotif, Petugas PAP (Pengawas Peron) pun keluar dari ruangannya dengan membawa lampu hansin (lampu tanda pemberangkatan kereta api). Petugas PAP pun mengangkat lampu hansin warna hijau, tanda kereta api diberangkatkan. Lokomotif pun menyambut dengan klakson dan melanjutkan perjalanan sampai Stasiun Manggarai. Railfans pun fokus mengabadikan keberangkatan rangkaian posko Kawis meninggalkan Stasiun Tanah Abang.

Saat rangkaian posko sudah berangkat, kepuasan pun terlihat dari raut wajah Railfans yang berhasil mengabadikan momen jarang tersebut. (Pras – Cinta Kereta Api)

Lebak Jero, Spot Foto yang Tak Tertandingi

Bagi penikmat foto/videografi kereta api, wilayah ini sudah menjadikan panutan untuk mengambil gambar kereta api dengan pemandangan super duper keren. Ya, wilayah yang dikenal sebagai Lebak Jero menjadikan daerah ini yang paling sering dituju dan digunakan ajang pengambilan gambar kereta api. Sebagai Railfans, jika tidak merasakan bahkan menginjakan kaki di wilayah ini seperti belum lengkap dalam kepuasan pengambilan gambar kereta api. Karena wilayah ini menyajikan pemandangan yang menawan yang tidak ada tandigannya.

Baca juga: Stasiun Lebak Jero, Suguhkan Pemandangan Cantik Hingga Jalur Elok Berbentuk “S” 

Memiliki ketinggian 818 MDPL
Tak hanya pemandangannya yang bagus, nama Lebak Jero juga digunakan sebagai nama stasiun. Stasiun kecil merupakan stasiun satu satunya yang berada di Wilayah Daop 2 Bandung dengan mengikuti jalur keretanya yang melengkung. Dengan kata lain stasiun seperti tidak ditemukan di stasiun lain wilayah bandung. Di Stasiun Lebak Jero juga tertulis angka +818 M yang berarti berada di ketinggian 818 meter diatas permukaan laut.

Bagi penikmat foto dan video kereta api, segala macama spot yang tersedia disini sangat mudah di jangkau. Karen banyak jalan setapak diantara semak – semak seakan sudah disediakan menuju ke spot menarik. Banyak Railfans yang mengabadikan panorama ini dari atas bukit, agar terlihat lebih indah sekaligus diperlihatkan pemandangannya.

Akses Menuju Lokasi
Sangat disayangkan, meski terdapat stasiun walaupun kecil tapi tak ada kereta api yang berhenti atau singgah. Sampai akhir tahun 2018 hanya kereta api yang sering berhenti disini yaitu kereta api lokal dengan tujuan Cibatu maupun Purwakarta. Karena sudah berhenti di Stasiun Lebak Jero, kereta lokal ini dialihkan pemberhentiannya di Stasiun Leles dan Stasiun Nagrek.

Baca juga: Empat Dekade Tak Beroperasi, Stasiun Garut Akhirnya Direaktivasi

Memang agak sulit jika ingin berkunjung ke Lebak Jero, apalagi yang baru pertama kali ke kawasan ini. Jika ingin berkunjung ke Lebak Jero, disarankan untuk menggunakan moda transportasi lainnya seperti bus, mini bus ataupun kendaraan pribadi. Kemudian bisa turun sebelum Gapura bertuliskan “Selamat Datang di Kota Garut”. Dekat gapura itu terdapat jalan masuk menuju desa dan diluarnya terdapat papan plat bertuliskan “Stasiun Lebak Jero”. Dan juga terdapat gapura desa bertuliskan “Selamat Datang di RW 11”. Jika kesulitan bisa dicari melalui aplikasi Google Map. Bagaimana, kalian tertarik ingin mencoba? (PRAS – Cinta Kereta Api)

Selain Banyak Minum, Dehidrasi di Pesawat Bisa Dicegah dengan Cara Ini

Dehidrasi bisa saja dirasakan setiap orang yang kekurangan cairan karena kurang minum atau berada di ruangan dengan tekanan udara rendah. Biasanya akibat dehidrasi kulit akan kering dan bisa menyebabkan masalah pernafasan dan yang terparah bisa menyebabkan seseorang harus mendapat bantuan medis.

Baca juga: Hindari Penumpang Pingsan, Suhu Kabin Pesawat Harus Selalu Dingin

Seperti halnya di dalam pesawat dengan udara kabin yang dingin dan tekanan udara yang rendah bisa membuat seseorang dehidrasi. Tapi, KabarPenumpang.com merangkum everydayhealth.com, ternyata ada beberapa cara untuk seseorang terhidrasi dengan baik dan tidak kekurangan cairan saat berada dalam pesawat dengan perjalanan yang cukup lama.

Cara paling ampuh agar sistem tubuh tetap terhidrasi dengan baik saat berada di dalam pesawat yakni minum banyak air. Chief of infectious diseases William L Sutker dari Baylor University Medical Center di Dallas mengatakan, dehidrasi bisa menyebabkan seseorang lelah. “Anda bisa menghindari dehidrasi dengan minum air selama penerbangan berlangsung,” ujar Sutker.

Dia mengatakan, sebelum melakukan perjalanan dengan pesawat, baiknya siapkan sebotol besar air dan minumlah setiap saat dalam penerbangan. Setiap orang diwajibkan untuk meminum 0,3 liter setiap jam di udara.

Baca juga: Terbang Jarak Jauh? Don’t Worry Ikuti Tips Ini

Tetapi, jangan lupa, bahwa setiap minuman itu bagus untuk menghilangkan dehidrasi dalam penerbangan. Minuman olahraga bisa menggantikan elektrolit dan menjadi pilihan yang baik dalam beberapa kasus, tetapi tidak perlu bila hanya untuk tetap terhidrasi. Minuman yang mengandung alkohol, kafein dan minuman bersoda bisa menjadi pilihan yang buruk untuk tubuh dalam penerbangan.

“Alkohol dapat memperparah dehidrasi dan harus dihindari serta dijaga seminimal mungkin.” ujar Sutker. Selain minuman, baiknya gunakan pelembab untuk kulit Anda, karena tekanan udara yang rendah juga bisa membuat kulit Anda kering hingga gatal. Bila kulit Anda terasa kering, baiknya langsung gunakan pelembab seperti body lotion dan spray isi air untuk disemprotkan ke bagain wajah agar kelembaban kulit terjaga.

Baca juga: Pentingnya Relaksasi di Perjalanan Jauh

Obat tetes mata juga perlu digunakan apalagi bagi Anda yang menggunakan lensa kontak. Saat dehidrasi mata juga akan terasa kering dan perlu untuk untuk diberi obat tetes mata.

Bagi Anda yang memiliki penyakit asma, baiknya siapkan inhaler steroid dan sebelum berangkat konsultasi ke dokter untuk mengetahui kecukupan obat tersebut. Hal ini untuk mencegah kehabisan obat saat berada dalam penerbangan.

Apa itu Rute Penerbangan Point-to-Point? Apa Bedanya dengan Hub and Spoke?

Dalam artikel sebelum ini disebut bahwa Riyadh Air dari Arab Saudi akan mengembangkan rute “point-to-point”. Lantas apa yang dimaksud dengan point to point dalam dunia penerbangan? Penerbangan “point-to-point” adalah konsep di dalam industri penerbangan yang mengacu pada rute penerbangan yang langsung menghubungkan dua kota atau bandara tanpa adanya perhentian atau transit di bandara lain.

Baca juga: Catat! Riyadh Air Buka Lowongan untuk 700 Pilot dalam Tiga Tahun ke Depan

Ini artinya pada point-to-point, pesawat terbang langsung dari satu titik awal ke satu titik tujuan tanpa berhenti di tengah-tengah perjalanan untuk mengambil atau menurunkan penumpang. Konsep penerbangan point-to-point sering kali digunakan sebagai lawan dari konsep “hub-and-spoke” dalam manajemen rute penerbangan.

Dalam model hub-and-spoke, ada satu atau beberapa bandara pusat (hub) yang digunakan sebagai pusat penghubung. Penumpang dari berbagai kota kecil atau kota besar lainnya terbang ke bandara pusat (hub), dan dari sana, mereka terhubung ke penerbangan berikutnya ke tujuan akhir mereka. Dengan kata lain, ada perhentian atau transfer di bandara hub sebelum mencapai tujuan akhir.

Dalam penerbangan point-to-point, pesawat terbang langsung dari kota asal ke kota tujuan tanpa memerlukan transfer atau perhentian di bandara hub. Ini seringkali memungkinkan perjalanan yang lebih cepat dan lebih efisien bagi penumpang yang ingin mencapai tujuan akhir mereka tanpa perlu mengalami gangguan perubahan pesawat di bandara hub.

Banyak maskapai penerbangan menggunakan campuran model point-to-point dan hub-and-spoke dalam jaringan rute mereka, tergantung pada kebutuhan pasar dan strategi bisnis mereka.

Baca juga: Inilah Empat Rute Penerbangan Langsung Jarak Jauh yang Dominan Melintasi Daratan

Beberapa rute penerbangan jarak pendek atau regional mungkin lebih cocok untuk penerbangan point-to-point, sementara rute jarak jauh dengan volume penumpang yang tinggi mungkin lebih cocok untuk model hub-and-spoke yang memanfaatkan bandara hub besar.

Catat! Riyadh Air Buka Lowongan untuk 700 Pilot dalam Tiga Tahun ke Depan

Ada kabar baik bagi Anda para pilot yang ingin mengadu nasib di maskapai asing, pasalnya Riyadh Air, second flag carrier Arab Saudi yang berbasis di kota Riyadh, punya proyeksi untuk merekrut penerbang dalam jumlah besar. Menghadapi kekurangan pilot global untuk memenuhi rencana ambisius namun dengan jaringan rute yang unik, Riyadh Air berencana mempekerjakan 700 pilot dalam tiga tahun ke depan.

Baca juga: Byee Airbus, Arab Saudi Pesan 121 Pesawat Boeing 787 Dreamliner untuk Saudia dan Riyadh Air

Dalam menghadapi kekurangan pilot internasional, Riyadh Air ingin mempekerjakan 700 pilot dalam 3 tahun untuk menerbangkan Boeing 787-9 – dan nantinya juga akan melayani penerbangan dengan pesawat berbadan sempit (narrow body) di masa depan. Riyadh Air menjanjikan jaringan point-to-point untuk membantu jaringan pariwisata Saudi, ditambah gaji dan tunjangan yang kompetitif.

Dikutip dari Gulf News, belum lama ini, Chief Operating Officer Riyadh Air Peter Bellew, memberitahukan bahwa Riyadh Air membutuhkan 700 pilot selama tiga tahun ke depan. “Kami memperkirakan orang-orang akan bergabung secara fisik dengan kami mulai Januari hingga April tahun depan. Perekrutan untuk kelompok inti akan berlanjut hingga Desember tahun ini,” ujar Bellew.

Namun maskapai ini mempekerjakan lebih dari sekadar pilot. Kita harus ingat bahwa menjalankan sebuah maskapai penerbangan saat ini membutuhkan awak kabin, teknisi, dan profesional TI serta sejumlah staf lainnya. Seleksi sedang dilakukan, dan roadshow rekrutmen awak kabin global seperti yang dilakukan Emirates juga sedang dilakukan. Saat ini, Riyadh Air sedang membuka lowongan untuk staf bandara, tenaga audit, awak kabin, dan staf ruang tunggu.

Riyadh Air menawarkan pendekatan baru terhadap penerbangan Timur Tengah. Penerbangan Timur Tengah semakin ditentukan oleh operasi ruji dan hub, di mana Qatar Airways, Etihad, dan Emirates mengoperasikan operasi ruji global untuk melayani bandara hub mereka. Sebaliknya, Riyadh Air, yang didanai oleh Dana Investasi Publik Arab Saudi, memiliki tujuan yang jelas, menurut situs webnya

Riyadh Air berupaya memimpin industri penerbangan dengan mentransformasi Arab Saudi, mengingat lokasi strategisnya yang unik, menjadi pusat penerbangan dan perdagangan global.

Baca juga: Pangeran Arab Saudi Dirikan Maskapai Baru Riyadh Air, Siap Saingi Emirates Sampai Qatar Airways

Penerbangan point-to-point menjadi tawaran dari Riyadh Air. Maskapai ini juga memburu pesawat yang dimaksudkan untuk penerbangan tersebut. Laporan dari Aerotime Hub menunjukkan bahwa Riyadh Air sedang mempertimbangkan setidaknya 150 pesawat berbadan sempit dan lebih memilih pesawat Boeing 737 MAX. Pesawat MAX akan melengkapi armada 787 yang sudah dipesan maskapai tersebut.

Karpet di Kabin Pesawat Terbuat dari Bahan Khusus, Nomer Empat Paling Penting

Kelengkapan yang satu ini menjadi standar di kabin pesawat penumpang. Apa pun kelasnya, kabin pesawat dipastikan dilengkapi dengan karpet. Namun, apakah karpet di kabin pesawat sama dengan karpet yang digunakan di tempat lain?

Baca juga: Bandara Lapisi Lantai dengan Karpet, Ternyata Ini Alasannya!

Jawabannya, karpet yang digunakan di dalam kabin pesawat biasanya dibuat dari jenis material yang memiliki karakteristik khusus untuk memenuhi standar keamanan dan kenyamanan yang diperlukan dalam penerbangan komersial. Menurut dokumen dari penerbangan sipil seperti Federal Aviation Administration (FAA), ada beberapa material yang umumnya digunakan untu karpet di kabin pesawat, seperti:

1. Nylon
Nylon adalah material yang sering digunakan untuk karpet kabin pesawat. Nylon memiliki kekuatan, daya tahan, dan ketahanan terhadap noda yang baik. Ini juga dapat dicetak dengan desain yang beragam.

2. Wool (Wol)
Karpet wol mungkin digunakan dalam beberapa kelas kabin yang lebih mewah atau penerbangan dengan maskapai penerbangan mewah. Wol adalah bahan alami yang tahan lama dan memberikan tampilan yang elegan.

3. Olefin (Polypropylene)
Olefin adalah jenis bahan sintetis yang tahan terhadap noda dan kelembaban. Ini sering digunakan dalam penerbangan regional atau pesawat dengan kelas ekonomi.

4. Bahan Antiapi
Untuk memenuhi persyaratan ketahanan api, karpet pesawat sering kali dilapisi dengan lapisan pelindung yang tahan api atau menggunakan bahan yang memang tahan api.

5. Desain dan Pola
Karpet pesawat sering kali memiliki desain dan pola yang dirancang khusus untuk mencerminkan merek maskapai penerbangan atau estetika kabin pesawat tertentu.

Sifat-sifat ini menjadikan material tersebut ideal untuk digunakan di dalam kabin pesawat, karena mereka harus tahan terhadap banyak faktor, termasuk lalu lintas penumpang yang tinggi, noda, kelembaban rendah, dan tuntutan estetika.

Baca juga: Rawat Interior Kabin Pesawat, Lion Air Group Punya Batam Aero Technic

Selain itu, karpet tersebut harus memenuhi regulasi keamanan yang ketat yang berlaku di industri penerbangan. Jadi, pemilihan jenis karpet yang digunakan oleh maskapai penerbangan biasanya didasarkan pada berbagai faktor, termasuk kelas kabin, merek, dan persyaratan regulasi.

Air France-KLM dan Airbus Bentuk Joint Venture untuk Produksi Komponen A350

Air France-KLM dan Airbus mengumumkan bahwa Air France SA (“Air France”) dan Airbus SAS (“Airbus”) telah mengadakan negosiasi eksklusif untuk membentuk usaha patungan (joit venture) dalam penyediaan komponen dan layanan pemeliharaan pesawat Airbus A350, yang mencakup manajemen rantai pasokan, perbaikan, pembuatan kumpulan komponen pesawat A350 di seluruh dunia.

Baca juga: Sejarah Merger KLM-Air France pada 5 Mei 2004: Gegara Open Skies

Kerja sama yang direncanakan akan berbentuk usaha patungan 50-50 antara Air France dan Airbus dan melibatkan pengalihan aset komponen pesawat milik kedua mitra ke dalam kelompok usaha patungan tersebut.

Usaha patungan ini, menggabungkan keahlian rekayasa dan pemeliharaan KLM Air France Industries dan Airbus, akan menghasilkan penawaran komersial yang dioptimalkan, yang bertujuan untuk lebih memenuhi kebutuhan pemeliharaan jangka panjang yang terus meningkat dari armada Airbus A350 di seluruh dunia. Saat ini lebih dari 1.000 pesawat dipesan dan 550 A350 saat ini beroperasi di seluruh dunia.

Baca juga: Inilah Alasan Airbus A350 dan Boeing 787 Dominan Menggunakan Material Komposit

Rencananya usaha patungan tersebut dapat beroperasi pada paruh pertama tahun 2024 sejalan dengan semua persyaratan kepatuhan dan harus mendapat persetujuan dari semua otoritas terkait.

Inilah Asal Mula Kata ‘Roger’ yang Kerap Diucapkan Pilot Sipil dan Militer

Dalam penerbangan sipil maupun militer, pilot masih sering mengucapkan kata ‘Roger’ sebagai tanda kalau informasi dari lawan bicara bisa dimengerti. Selain digunakan oleh pilot, ‘Roger’ juga kerap digunakan di berbagai waktu dan tempat lainnya, salah satunya tentara, baik itu angkatan laut, darat, maupun udara hingga saat ini.

Baca juga: Dulu Taksi Kondang dengan Cat Warna Kuning, Inilah Asal Muasalnya

Dilihat dari asal usulnya, sejarah kata roger sebetulnya tak lebih dari sekedar alfabet fonetik yang digunakan oleh personel militer selama Perang Dunia II. Ketika penggunaan radio komunikasi dua arah menjadi wadah komunikasi utama dan antar lawan bicara harus sama-sama menjelaskan sesuatu tanpa kemungkinan salah tafsir, inisiatif penggunaan alfabet fonetik kemudian menjadi populer.

Saat ini, alfabet fonetik versi NATO (Alpha, Bravo, Charlie) atau dikenal juga dengan ejaan internasional, yang pada umumnya dikenal luas di dunia, kata “R” adalah Romeo, bukan “Roger”. Tetapi, sebelum standar itu diadopsi pada tahun 1957, kata-katanya sedikit berbeda, dan kata untuk “R” adalah “Roger”. Dari sini, kesimpulan awal bisa ditarik, bahwa sejarah atau asal mula pengucapan “Roger” oleh pilot atau juga “Roger That”, juga oleh khalayak luas, merupakan alfabet fonetik yang mewakili “R”, “Roger”.

Akan tetapi, jauh sebelum radio komunikasi dua arah digunakan secara massif, penggunaan “Roger” sama sekali belum muncul. Seperti dikutip dari popularmechanics.com, pada zaman kode Morse, ketika mengirim pesan panjang bisa jadi sulit, cara singkat yang paling berguna dan mungkin adalah menanggapi dengan satu huruf yang bermakna.

Menanggapi atau membalas pesan dengan huruf “R”, misalnya, lebih dari cukup untuk mengabarkan kepada pengirim bahwa pesan mereka telah diterima. Tentu, sebagaimana syarat utama dari komunikasi ialah keduanya harus saling mengerti tanda ataupun kode satu sama lain, kode Morse mewakili huruf “R” tentu saja tak akan berhasil dimaknai apapun bila salah satu atau bahkan kedua pengguna kode Morse tak mengerti maksudnya.

Baca juga: Mengapa Kokpit Disebut Kokpit? Inilah Jawaban dari 3 Teori Termasyhur

Hanya saja, kata “R” di era kode Morse tersebut berhenti sampai di situ, belum berlanjut menjadi “Roger”. Ketika radio dua arah datang, barulah singkatan itu berlanjut, dari semula hanya kata “R” menjadi “Roger” dengan makna yang sama, “Dimengerti”.

Meskipun Roger telah diganti dengan Romeo (dan menjadi “Robert” sebelum berubah jadi Roger), penggunaan radio dua arah oleh masyarakat selama Perang Dunia II secara massif mempopulerkan kepanjangan dari alfabet fonetik atau ejaan internasional “R” menjadi “Roger”. Selain itu, “Roger” juga masih terus aktif digunakan hingga saat ini, dengan berbagai variasi, seperti “Roger That” dan di beberapa film Hollywood kerap muncul pengucapan “Roger Man”, tak sekedar “Roger” belaka.

Mengapa Pesawat Boeing Selalu Dimulai dan Berakhir dengan Angka 7? Ini Jawabannya

Bagi pecinta penerbangan atau traveller yang kerap bepergian menggunakan pesawat, pasti sering mendengar berbagai jenis pesawat keluaran Airbus atau Boeing, seperti A330, Boieng 737, Boeing 787, A380, A350, dan sebagainya.

Baca juga: Mengapa Pesawat Buatan Airbus Selalu Dimulai dengan Huruf ‘A’? Berikut Penjelasannya

Meski berbeda, keduanya sama-sama mencirikan pesawat masing-masing, Airbus dengan ciri huruf A dan diikuti oleh tiga nomor, sedangkan Boeing mencirikan pesawat-pesawat mereka dengan tiga angka berawalan 7 dan berakhiran 7 atau biasa dibilang formula penamaan 7×7. Tentu ada alasan filosofis dibalik formula tersebut dan untuk menjawabnya tidak bisa lepas dari sejarah.

Dilansir Simple Flying, sejarah formula penamaan 7×7 Boeing dimulai saat pesawat Boeing 707 lahir sekitar akhir dekade 50an. Sampai di sini, sebetulnya Boeing masih belum memutuskan pakem 7×7. Sebab, pesawat penumpang modern pertama Boeing adalah 367-80 atau Dash 80, jauh berbeda dengan pakem tersebut.

Setelah kemunculan Boeing 707, departemen pemasaran Boeing untuk pesawat komersial pun mulai berpikir diperlukannya sebuah formula yang membuat pesawat jadi lebih menarik dan mudah diingat serta dapat memudahkan identifikasi pesawat-pesawat mereka, baik dari pesawat-pesawat komersial itu sendiri maupun dari pesawat-pesawat non komersial Boeing. Secara umum, formula penamaan produk-produk Boeing untuk kemudahan identifikasi detailnya seperti di bawah ini.

100 untuk model sebelumnya. Boeing tidak lagi menggunakan penunjukan ini, tetapi melakukan retrospektif untuk biplan pertama yang dibuatnya.
200 untuk desain sayap tunggal awal yang menyimpang dari tren biplan kontemporer.
300 dan 400 untuk pesawat yang digerakkan baling-baling komersial.
500 untuk pesawat bermesin turbo.
600 untuk rudal dan perangkat bertenaga roket.
700 untuk pesawat komersial bertenaga jet.
800 saat ini belum digunakan di divisi manapun.
900 untuk perahu. Seperti umum diketahui, Boeing juga memproduksi hidrofoil turbojet yang ditetapkan sebagai 929.

Selain formula penamaan di atas, secara teknis ada seri lain, yang dikenal sebagai Boeing 2707, sebuah pesawat supersonik Amerika Serikat yang rencananya dibangun untuk menandingi pesawat supersonik Concorde mahakarya Eropa atau mungkin juga untuk menandingi mahakarya Uni Soviet Tupolev Tu-144. Namun, sampai akhirnya kedua pesawat supersonik tersebut stop produksi, Boeing tidak pernah memproduksi pesawat tersebut.

Akan tetapi, di masa mendatang, Boeing bukan tidak mungkin akan melanjutkan itu. Bukan proyeknya, melainkan formula penamaannya (formula penamaan empat angka seperti Boeing 2707 pada tahun 1970an silam).

Baca juga: Inilah Alasan Kenapa Boeing Tak Buat Seri 777-100

Saat ini, Boeing nyaris menghabiskan seluruh slot formula 7×7 yang tersisa, mulai dari 707, 717, 727, 737, 747, 757, 767, 777, 787, dan hanya menyisakan 797. Varian 737 juga demikian, sudah menghabiskan penomoran sub variannya, mulai dari -100 sampai -900. Itulah mengapa seri terbaru Boeing 737 disebut sebagai MAX atau Boeing 737 MAX.

Selain itu, Boeing juga dimungkinkan untuk penggunaan formula awalan 7 dan akhiran setelah 7, seperti 748, 738, 708, 788, dan seterusnya. Di antara ketiga kemungkinan formula penamaan pesawat-pesawat Boeing, manakah yang akan benar-benar terealisasi di masa mendatang? Menarik dinanti.