Kenali Apa Itu ‘Wake Turbulance’ dan Insiden Maut American Airlines Flight 587

Meski sebagian dapat dihindari, turbulensi (turbulance) dalam dunia penerbangan dianggap sebagai hal yang wajar, terlebih turbulensi kebanyakan tidak membayakan penerbangan, walau harus diakui membuat penumpang tidak nyaman. Nah, dari beragam jenis turbulensi, ada jenis turbulensi yang bukan diakibatkan oleh alam. Yang dimaksud adalah ‘Wake Turbulance.’

Wake turbulence adalah gangguan atau turbulensi udara yang dihasilkan oleh pesawat terbang saat mereka melintasi atau lepas landas. Ketika pesawat bergerak melalui udara, sayapnya menciptakan pusaran udara di sekitar ujung sayap. Pusaran ini dikenal sebagai vortex atau turbulensi sisa (wake turbulence).

Baca juga: Terjadi Turbulensi? Tetap Tenang dan Jangan Panik

Wake turbulence bisa menjadi bahaya bagi pesawat lain yang berada di belakangnya, terutama pesawat yang lebih kecil atau pesawat yang sedang dalam fase penerbangan yang rentan seperti lepas landas atau mendarat. Turbulensi sisa ini dapat mempengaruhi stabilitas dan kendali pesawat yang mengikutinya.

Vortex tersebut bisa bertahan cukup lama di udara, terutama jika kondisi angin tenang. Mereka memiliki karakteristik yang berbeda-beda tergantung pada ukuran, berat, dan kecepatan pesawat yang menciptakannya.

Pesawat besar seperti Airbus A380 atau Boeing 747 menghasilkan vortex yang lebih kuat dibandingkan dengan pesawat kecil.

Karena potensi bahaya yang ditimbulkan oleh wake turbulence, ada aturan khusus yang mengatur jarak yang harus dijaga antara pesawat-pesawat di udara. Pesawat yang mengikuti pesawat lain harus menjaga jarak yang cukup untuk menghindari masuk ke dalam turbulensi sisa yang dihasilkan oleh pesawat di depannya.

Dalam dunia penerbangan, wake turbulance pernah menjadi kenangan buruk, terutama pada insiden Airbus A300-600 American Airlines Flight 587 pada 12 November 2001. Kronologinya, saat pesawat lepas landas dari Bandar Udara Internasional John F. Kennedy (JFK), pesawat sebelumnya yang lepas landas adalah sebuah Boeing 747. Pesawat tersebut menghasilkan wake turbulence yang cukup kuat.

Pesawat Airbus A300-600 American Airlines Flight 587 mengalami turbulensi eksternal akibat dari wake turbulence yang dihasilkan oleh pesawat sebelumnya. Turbulensi tersebut menyebabkan pesawat mengalami getaran yang signifikan pada sayapnya.

Pilot merespons turbulensi tersebut dengan menggunakan pedal kemudi untuk melakukan manuver yang berlebihan pada ketinggian yang rendah. Manuver yang berlebihan tersebut menyebabkan tekanan yang berlebihan pada ekor pesawat. Akibatnya, bagian vertikal ekor (vertical stabilizer) pesawat mengalami kegagalan struktural dan terpisah dari pesawat. Hilangnya vertikal stabilizer mengakibatkan hilangnya kontrol pesawat dan menyebabkan pesawat jatuh.

Meski wake turbulence yang dihasilkan oleh pesawat sebelumnya bukan satu-satunya penyebab langsung dari kecelakaan tersebut, namun hal tersebut berperan dalam rangkaian kejadian yang menyebabkan hilangnya kontrol pesawat dan kecelakaan yang fatal.

Dalam insiden American Airlines Flight 587, jarak antara pesawat yang terlibat tidak menjadi faktor penyebab utama kecelakaan. Pesawat sebelumnya yang lepas landas adalah sebuah Boeing 747, sedangkan pesawat yang mengalami kecelakaan adalah Airbus A300-600.

Setelah penyelidikan insiden, tidak ada pelanggaran jarak yang tercatat antara kedua pesawat tersebut. Yang menjadi faktor penentu dalam kecelakaan adalah respons pilot terhadap wake turbulence yang dihasilkan oleh pesawat sebelumnya, yang mengakibatkan manuver yang berlebihan pada ketinggian yang rendah.

Jarak yang harus dijaga antara pesawat di udara untuk menghindari wake turbulence diatur oleh aturan-aturan penerbangan yang disusun oleh otoritas penerbangan sipil, seperti Federal Aviation Administration (FAA) di Amerika Serikat. Aturan tersebut memperhitungkan jenis pesawat, kecepatan, dan ketinggian pesawat yang menghasilkan wake turbulence, dan memberikan panduan tentang jarak yang aman yang harus dijaga oleh pesawat di belakangnya.

Baca juga: Mau Naik Pesawat dengan Turbulensi Minimal, Sebaiknya Pilih Penerbangan di Malam Hari

Meskipun jarak antara pesawat dalam insiden American Airlines Penerbangan 587 tidak menjadi faktor utama penyebab kecelakaan, insiden tersebut menggarisbawahi pentingnya pemahaman dan penanganan yang tepat terhadap wake turbulence dalam operasi penerbangan.

Dalam insiden American Airlines Flight 587, terdapat total 265 korban jiwa yang terdiri dari penumpang dan awak pesawat. Dari jumlah tersebut, 260 penumpang dan 5 awak pesawat tewas dalam kecelakaan tersebut.

5 Agustus 2023, Vietjet Buka Rute Penerbangan Langsung Ketiga ke Indonesia (Jakarta)

Vietjet, maskapai berbiaya murah asal Vietnam, semakin memperluas kehadirannya di Indonesia dengan layanan penerbangan langsung ketiga yang menghubungkan Jakarta dengan Ho Chi Minh City mulai tanggal 5 Agustus 2023. Setelah berhasil mengoperasikan rute Bali – Ho Chi Minh City dan Bali – Hanoi.

Baca juga: Vietjet Persiapkan Penerbangan Langsung Ho Chi Minh City – Brisbane, 2 Kali Seminggu

Vietjet akan mengoperasikan penerbangan pulang-pergi harian dari Jakarta ke Ho Chi Minh City dengan durasi penerbangan kira-kira 3 jam. Penerbangan akan berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) di Jakarta pukul 13:30 WIB dan tiba di Bandara Internasional Tan Son Nhat (SGN) di Ho Chi Minh City pukul 16:40 (waktu setempat). Penerbangan dari Ho Chi Minh City akan berangkat pukul 09:35 (waktu setempat) dan tiba di Jakarta pukul 12:30 WIB.

Ho Chi Minh City, pusat keuangan, budaya, dan pariwisata Vietnam, adalah salah satu destinasi menarik di Vietnam yang menawarkan berbagai situs bersejarah dan selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan asing.

Kota metropolitan terbesar di Vietnam ini terkenal dengan kuliner yang luar biasa mulai dari restoran bintang Michelin hingga street food, kafe kekinian, hiburan malam (nightlife), dan landmark bersejarah. Wisatawan dapat mengunjungi bangunan bersejarah dari era kolonial Prancis seperti Saigon Central Post Office, Notre Dame Cathedral Basilica atau melakukan tur harian ke Cu Chi Tunnel.

Untuk merayakan peluncuran layanan baru ke Jakarta, Vietjet menawarkan promosi super hemat setiap hari Rabu, Kamis, dan Jumat dengan harga tiket mulai dari Rp880.000 sekali jalan (termasuk pajak dan biaya tambahan). Promosi ini berlaku untuk seluruh jaringan penerbangan internasional Vietjet, termasuk rute Jakarta – Ho Chi Minh City. Tamu dapat memesan tiket promosi mereka di www.vietjetair.com dan aplikasi Vietjet Air untuk perjalanan mulai tanggal 10 Agustus 2023 hingga 31 Maret 2024 (tidak termasuk hari libur nasional).

Baca juga: Sepanjang 2022, Vietjet Bukukan Laba Hampir US$38,7 Juta, LCC Sukses Pasca Pandemi

Saat ini, Vietjet mengoperasikan dua layanan ke Indonesia, dengan layanan pulang-pergi tiga kali sehari antara Bali dan Ho Chi Minh City, dan satu penerbangan pulang-pergi harian antara Bali dan Hanoi. Dengan penambahan rute penerbangan ke Jakarta, Vietjet akan mengoperasikan tiga rute penerbangan komersial ke Indonesia mulai bulan Agustus.

KA Bandara Diperpanjang Sampai Stasiun Bekasi: Bisa Check-in, Drop, dan Ambil Bagasi di Stasiun

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengungkapkan layanan kereta api atau KA Bandara Soekarno-Hatta akan diperpanjang sampai Stasiun Bekasi. Tak hanya itu, sebagai bagian dari inovasi untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap KA Bandara, penumpang nantinya dapat melakukan check-in, drop, dan ambil bagasi di Stasiun Manggarai dan Bekasi.

Baca juga: Ternyata Negara Ini Jadi Benchmark KA Bandara di Indonesia

“Orang yang akan ke bandara atau sebaliknya pasti membawa barang. Kami akan pikirkan bagaimana check-in itu tidak perlu di bandara tetapi bisa di Stasiun Manggarai atau Bekasi. Begitupun sebaliknya dari bandara, bisa ambil barangnya di stasiun tujuan. Kemudahan-kemudahan ini yang akan kami upayakan,” jelasnya, saat menggelar rapat bersama Pelaksana Jabatan (PJ) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono membahas upaya peningkatan layanan angkutan massal dari dari dan ke Bandara Soekarno Hatta dan sebaliknya, Minggu (28/5).

Sebelum rapat, Menhub bersama Pj Gubernur dan beberapa pejabat terkait menggunakan kereta bandara dari Stasiun Manggarai menuju Stasiun Bandara Soetta.

Rombongan kembali dari Bandara Soetta menggunakan kereta inspeksi menuju Stasiun Sudirman Baru (BNI City) dan menggelar rapat koordinasi yang dihadiri sejumlah pejabat terkait di antaranya Dirjen Perkeretaapian Risal Wasal, Dirut KAI Didiek Hartantyo, Dirut AP II Muhammad Awaluddin, Direktur Utama PT KAI Commuter Suryawan Putra Hia, Kadishub DKI Syafrin Liputo, dan jajaran Walikota Pemprov DKI Jakarta.

“Kami berdiskusi bagaimana upaya meningkatkan kapasitas, memperluas jangkauan, mengintegrasikan dengan berbagai moda, dan mengupayakan tarif angkutan massal yang lebih terjangkau kepada masyarakat yang akan menuju Bandara Soekarno Hatta maupun sebaliknya di wilayah Jabodetabek,” ujar Menhub.

Baca juga: Hindari Desak-desakan di KRL, Penumpang Pilih Naik KA Bandara Premium

Angkutan kereta api, lanjut Menhub, menjadi salah satu angkutan yang dapat diandalkan untuk bermobilitas dari Jabodetabek menuju ke Bandara Soetta. Menurutnya, kereta api adalah moda yang tepat waktu, nyaman dan bisa menjangkau setiap tempat.

Salah satu upaya yang akan dilakukan untuk meningkatkan layanan kereta api dari dan ke Bandara Soetta adalah dengan menyediakan counter check-in dan bagasi di stasiun kereta api, sehingga memudahkan masyarakat yang akan menuju bandara maupun sebaliknya.

Upaya lainnya yang akan dilakukan untuk meningkatkan layanan kereta api yaitu: meningkatkan jumlah kereta api dari yang saat ini berjumlah 40 trainset menjadi 56 trainset, sehingga akan meningkatkan kapasitas angkutnya.

Kemudian, menambah rute perjalanan kereta api dari dan ke Bandara Soetta sampai ke Stasiun Bekasi, dengan rute Bekasi, Jatinegara, Pasar Senen, Kampung Bandan, Duri, hingga Stasiun Bandara Soetta dan sebaliknya. Integrasi dapat dilakukan termasuk menjangkau hingga ke Stasiun Bekasi, karena KA bandara saat ini dikelola oleh KAI Commuter sehingga bisa diselaraskan dengan jadwal KRL.

Upaya selanjutnya yaitu, memaksimalkan fasilitas-fasilitas yang ada di stasiun di Jabodetabek seperti fasilitas park and ride. “Penambahan fasilitas ini bisa dilakukan dengan cara bekerjasama dengan pihak swasta,” tutup Menhub.

Hanya saja, seluruh rencana di atas, mulai dari layanan KA Bandara sampai Stasiun Bekasi hingga penumpang KA Bandara dapat check-in, drop, dan ambil bagasi di stasiun, belum jelas kapan akan dimulai.

Baca juga: Kenapa Tiket KA Bandara Mahal? Ini Jawabannya

Pada kesempatan yang sama, Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono menyampaikan mendukung penuh kebijakan dari pemerintah pusat melalui Kemenhub dalam upaya meningkatkan layanan angkutan massal dari dan ke Bandara Soetta. Ia mendukung upaya pemerintah pusat untuk mengintegrasikan antar moda transportasi seperti: kereta api, Damri, Transjakarta dan moda lainnya agar saling melengkapi.

“Kami mendukung usulan-usulan yang disampaikan, salah satunya yaitu agar Bus Transjakarta bisa masuk ke bandara di jam tertentu untuk kemudahan karyawan bandara. Semoga kemudahan-kemudahan ini bisa dirasakan warga Jakarta dan sekitarnya,” tegasnya.

Jejak Sejarah Stasiun Medan, Sisakan Kenangan Menara Jam Antik

Siapa yang tak kenal dengan kota Medan? Ibukota provinsi Sumatera Utara ini selalu menjadi buah bibir masyarakat baik bandara barunya, tempat wisata bahkan sajian kulinernya. Tak kenal maka tak sayang, setiap pelancong tahu akan adanya kereta api di kota ini, apalagi sekarang sudah ada kereta dari Bandara Kualanamu menuju Medan.

Baca juga: Setelah Baso, Butuh, dan Tanggung, Kapas Juga Ternyata Nama Stasiun Kereta!

Hal tersebut tak pelak membuat kota Medan semakin terkenal dan memiliki fasilitas modern pertama di Indonesia dengan sistem kereta bandaranya. Merujuk ke sejarahnya, sistem perkeretaapian di kota Medan sudah ada sejak abad ke 19 seiring banyaknya infrastruktur yang dibangun pada masa itu karena pembukaan lahan untuk perkebunan tembakau Deli.

KabarPenumpang.com menemukan fakta bahwa, stasiun kereta api Medan merupakan stasiun terbesar yang berada di bawah naungan Divisi Regional 1 Sumatera Utra dan Aceh. Stasiun ini diketahui sudah berdiri sejak 1883 dan dulunya bernama bernama Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) dan sempat melayani rute Medan-Aceh (Atjeh Stoomtram Staatspoorwegen).

monumen lokomotif uap bertipe 2-6-4T di depan stasiun Medan

Untuk rute Medan-Aceh memang sudah tidak beroperasi, tetapi bekas jejak rel rute ini masih ada. Stasiun Medan sendiri terletak di ketinggian +22 meter dan mempunyai kapasitas penumpang 2.000-2.500 ke seantero Sumatera Utara.

Letaknya sendiri berada di Jalan Stasiun Kereta Api No.1, Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Medan, Sumatera Utara. Letak stasiun ini berada di pertemuan antara Medan Timur di Kesawan dan Medan Barat di Gang Buntu. Tak jauh dari stasiun Medan terdapat Lapangan Medeka, Kesawan Square, Kantor Pos Besar Medan, Balai Kota, Hotel Dharma Deli, Bank Indonesia, Gedung London Sumatra dan lainnya. Arsitektur Stasiun Medan Kota ini telah mengalami perombakan total dari bentuk aslinya.

gate kereta bandara Medan-Kualanamu

Setelah mengalami renovasi besar yang terakhir dilakukan tahun 2013 lalu dengan pembangunan gedung baru untuk kereta bandara, juga ada perombakan desain gedung eksisting untuk pelayanan kereta regional. Hal ini membuat yang tersisa dari kompleks stasiun lama adalah menara jam di bagian depan stasiun, dipo lokomotif yang masih berarsitektur Belanda, bagian peron untuk jalur 2 dan 3 serta jembatan gantung di bagian selatan stasiun.

Di stasiun ini sendiri sekarang memiliki city check in untuk penumpang kereta bandara Kualanamu. Diketahui, ada tiga pintu untuk masuk/keluar dari stasiun ini yakni sisi Lapangan Merdeka pintu masuk/keluar untuk layanan regional, sisi Lapangan Merdeka pintu masuk/keluar untuk layanan kereta bandara, sisi Jalan Jawa/Mall Centre Point pintu keluar untuk layanan kereta bandara.

Stasiun Medan tempo dulu

Di samping bangunan stasiun terdapat monumen lokomotif uap bertipe 2-6-4T buatan Hartmann di Chemnitz, Jerman tahun 1914. Stasiun ini diresmikan pembukaanya pada 25 Juli 1886. Kala itu terdapat jalur yang menghubungkan Stasiun Medan dan Stasiun Labuhan sepanjang 16,7 kilometer. Jalur tersebut menghubungkan pusat Kota Medan ke arah Pelabuhan Belawan. Jalur rel dilanjutkan dari Stasiun Labuhan hingga Stasiun Belawan yang diresmikan pada 16 Februari 1888.

Baca juga: “Baso,” Bukan Cuma Makanan, Tapi Juga Nama Bekas Stasiun di Sumatera Barat

Rel yang terdapat di Stasiun Medan Kota membujur dari utara ke selatan. Rel yang mengarah ke selatan merupakan rel dengan arah perjalanan ke Tebing Tinggi, Kisaran, Tanjung Balai, Siantar dan Rantau Prapat, sedangkan rel yang mengarah ke utara merupakan arah perjalanan ke Belawan, Binjai dan Besitang, yang bercabang sekitar 850 m di utara stasiun. Dari Stasiun Medan dahulunya terdapat percabangan rel ke Pancur Batu dan Batu.

Diterjang Badai, Kereta Penumpang di Jembatan Pamban Terbalik, 200 Orang Tewas

Terkait dengan jembatan kereta api ekstrem Pamban yang telah dikupas di artikel sebelumnya, rupanya menyisakan kisah kelam bagi dunia perkeretaapian India. Persisnya pada 22 – 23 Desember 1964, terjadi sebuah tragedi yang melanda Dhanushkodi, yang mengakibatkan tenggelamnya kota dan terbaliknya kereta penumpang Pamban-Dhanushkodi.

Baca juga: Empat Poin ini Layak Menjadikan Pamban Sebagai Jembatan Kereta Paling Ekstrem

Pada saat itu, Dhanushkodi dilanda oleh siklon tropis yang sangat kuat dengan gelombang topan yang menghantam kota tersebut. Gelombang topan yang tinggi dan kuat ini menyebabkan banjir besar dan merusak banyak bangunan, termasuk stasiun kereta api di Dhanushkodi.

Ironisnya, kereta penumpang Pamban-Dhanushkodi, yang merupakan kereta api yang menghubungkan Pulau Pamban dengan Dhanushkodi, terperangkap dalam badai tersebut. Kereta tersebut terbalik akibat gelombang topan yang kuat, dan sekitar 200 penumpang yang ada di dalamnya dinyatakan tewas dalam tragedi tersebut.

Tragedi tersebut mengakibatkan kerusakan parah dan mengubah Dhanushkodi menjadi sebuah desa hantu yang ditinggalkan. Sejak saat itu, pemerintah India memutuskan untuk tidak membangun kembali kota tersebut.

Baca juga: Jembatan Pamban, Selipkan Maut Dibalik Keindahan Pemandangannya

Dengan melaju di Selat Palk sepanjang 2.065 meter yang menghubungkan Pulau Pamban dengan daratan India di negara bagian Tamil Nadu, ditambah kondisi geografi yang berupa perairan yang cukup dalam dan terkenal dengan arus pasang yang kuat, serta angin kencang dan gelombang tinggi, maka kereta api saat melintasi jembatan Pamban harus selalu dalam kondisi waspada dengan kecepatan tidak lebih dari 45 km per jam.

Empat Poin ini Layak Menjadikan Pamban Sebagai Jembatan Kereta Paling Ekstrem

Jembatan kereta api Pamban, juga dikenal sebagai Jembatan Pamban atau Jembatan Rameswaram, terletak di sepanjang Selat Palk yang menghubungkan Pulau Pamban dengan daratan India di negara bagian Tamil Nadu. Jembatan ini sering disebut sebagai “jembatan ekstrem”.

Baca juga: Jembatan Pamban, Selipkan Maut Dibalik Keindahan Pemandangannya

Jembatan kereta Pamban memiliki panjang sekitar 2.065 meter. Ini menjadikannya salah satu jembatan terpanjang di India yang melintasi perairan. Tentu saja ada beberapa alasan mengapa jembatan ini layak disebut ekstrem. Untuk lebih detailnya, kami sarikan beberapa poin yang menjadikan jembatan kereta ini layak disebut ekstrem.

1. Lokasi Geografis
Jembatan Pamban melintasi perairan yang cukup dalam dan terkenal dengan arus pasang yang kuat. Daerah ini juga sering terkena angin kencang dan gelombang tinggi. Kondisi alamiah ini membuat konstruksi dan pemeliharaan jembatan menjadi tantangan teknis yang signifikan.

2. Konstruksi yang Unik
Jembatan Pamban memiliki struktur yang unik dan rumit. Bagian tengah jembatan dapat terbuka untuk memungkinkan kapal-kapal besar melewatinya. Ini diperlukan karena ada lalu lintas kapal-kapal melalui Selat Palk. Kemampuan jembatan untuk terbuka dan ditutup memastikan keselamatan kapal dan integritas jembatan itu sendiri.

3. Sejarah dan Warisan
Jembatan Pamban merupakan salah satu jembatan terpanjang di India yang dibangun pada tahun 1914. Jembatan ini memiliki nilai sejarah dan warisan yang tinggi karena menjadi salah satu prestasi teknik pada masanya. Sebagai jembatan yang terletak di daerah yang rawan gempa bumi dan badai tropis, keberadaannya menjadi bukti kehandalan dan ketahanan konstruksi.

4. Keindahan Arsitektur
Jembatan Pamban juga menarik perhatian karena keindahan arsitektur dan pemandangan alam sekitarnya. Dengan latar belakang Teluk Benggala yang indah, jembatan ini menjadi daya tarik bagi para wisatawan dan fotografer.

Baca juga: Jembatan Kereta ‘Spiral’ Brusio – Terbuat dari Batu Berusia Lebih dari Satu Abad

Kombinasi dari tantangan geografis, konstruksi yang unik, sejarah dan warisan, serta keindahan arsitektur menjadikan Jembatan Pamban dikenal sebagai “jembatan ekstrem” yang menantang dan mengesankan.

A220 – Generasi Narrow Body Terbaru Airbus Mendarat di Jakarta

Pesawat A220-300, generasi terbaru pesawat penumpang A220, baru saja mendarat di Jakarta dalam rangkaian tur demonstrasi di Asia Tenggara. Pesawat tersebut berangkat dari Malaysia, di mana pesawat berpartisipasi dalam Langkawi International Maritime and Aerospace Exhibition (LIMA) 2023.

Baca juga: Airbus A220 Adakan Tur Demonstrasi Asia-Pasifik, Sambangi Indonesia?

Setelah dari Jakarta, A220 selanjutnya akan terbang ke Bangkok untuk menjemput tamu industri dan media untuk melakukan penerbangan demonstrasi ke Koh Samui.

Selama berada di Jakarta, pesawat A220 dipamerkan kepada para tamu undangan dari industri penerbangan. Pesawat ini juga melakukan dua penerbangan demonstrasi khusus untuk perwakilan maskapai dan media. Sehingga, para tamu dapat merasakan kenyamanan tingkat tinggi yang ditawarkan A220 dan teknologi mutakhir pada pesawat ini.

A220 merupakan pesawat paling modern jika dibandingkan dengan pesawat lain pada kategori ukuran yang sama. Pesawat ini mampu mengangkut antara 100 hingga 160 penumpang dalam satu penerbangan dengan jangkauan hingga 3.450 mil laut (6.400 km). Kemampuan ini memungkinkan maskapai melayani semua rute domestik di Indonesia secara point-to-point non-stop Pesawat ini juga dapat melayani rute internasional ke berbagai tujuan dengan lalu lintas tinggi seperti kota Sydney dan Melbourne di Australia, serta Mumbai dan Beijing.

Jangkauan terbang Airbus A220.

A220 menghadirkan efisiensi konsumsi bahan bakar dan emisi karbon sebesar 25% jika dibandingkan dengan pesawat generasi sebelumnya dengan ukuran yang mirip. Hal ini merupakan wujud kontribusi langsung dari Airbus terhadap misi industri penerbangan dalam mengurangi dampak lingkungan. Pesawat ini ditenagai oleh mesin turbofan generasi terbaru Pratt & Whitney PW1500G.

A220 tersedia dalam dua versi, yakni varian -100 yang dapat mengangkut 100 hingga 130 penumpang dan varian -300 yang lebih besar dengan kapasitas 130 hingga 160 penumpang dengan tata letak kursi yang serupa. A220 memiliki kabin dan jendela terbesar, serta kursi terluas di kelasnya, menawarkan pengalaman terbang dengan kenyamanan penumpang yang unggul. Pesawat ini juga merupakan pelengkap yang ideal untuk armada dengan Keluarga Airbus A320.

Pesawat yang ikut serta dalam tur demonstrasi ini disewa oleh Airbus dari airBaltic, dan memiliki tata letak 148 kursi di kabin penumpang kelas tunggal.

Baca juga: CEO airBaltic: Airbus A220 Jadi Pesawat Sempurna Pasca Pandemi Corona, Gegara Hal Ini?

Saat ini, A220-300 dioperasikan di kawasan Asia-Pasifik oleh Korean Air untuk layanan domestik dan internasional dengan total 10 pesawat. Maskapai Qantas dari Australia akan menjadi operator kedua di kawasan ini setelah menerima pengiriman pesawat pertamanya dari 20 pesawat A220 yang telah dipesan dalam rangka program pembaruan armada domestiknya.

Hingga saat ini, Airbus telah menerima 785 pesanan untuk A220 dan mengirimkan lebih dari 260 pesawat jenis ini kepada pelanggan.

Mengenal Traffic Collision Avoidance System (TCAS) – Perangkat ‘Anti Tabrakan’ di Pesawat Udara

Dalam lalu lintas penerbangan yang padat, kadang terbesit pertanyaan, bagaimana cara agar antar pesawat tidak mengalami tabrakan di udara. Tentu ada di pesawat ada perangkat radar, plus ada panduan navigasi dari air traffic control (ATC). Namun, apakah itu saja cukup?

Baca juga: Pilot Tak Sabar, 35 Orang Tewas Akibat Tabrakan Pesawat USAir Flight 1493 dan SkyWest Flight 5569

Guna menjamin keselamatan penerbangan, khususnya dalam lalu lintas yang padat, dikenal penggunaan teknologi Traffic Collision Avoidance System (TCAS) yang disematkan di setiap pesawat.

Dari definisinya, TCAS adalah sistem yang digunakan dalam penerbangan untuk membantu menghindari tabrakan antara pesawat yang berada dalam udara. TCAS dirancang untuk bekerja secara mandiri dari sistem pengawasan lalu lintas udara darat (ATC) dan memberikan peringatan kepada pilot tentang adanya pesawat lain yang berada dalam jarak yang dekat dan berpotensi mengancam.

Sistem ini menggunakan transponder yang terpasang pada pesawat untuk mendeteksi sinyal transponder dari pesawat lain, dan dengan menggunakan informasi ini, TCAS dapat menghitung jarak dan arah pesawat lain yang berada dalam jangkauan.

Ketika TCAS mendeteksi adanya pesawat lain yang berpotensi berada dalam jarak dekat, sistem akan mengeluarkan peringatan kepada pilot, yang umumnya berupa “Traffic Advisory” (TA) yang memberitahu pilot tentang adanya pesawat lain yang mendekati, dan jika situasi semakin berbahaya, peringatan “Resolution Advisory” (RA) akan diberikan kepada pilot untuk memberikan instruksi tindakan yang spesifik guna menghindari tabrakan. RA biasanya berupa instruksi untuk mengubah kecepatan atau arah terbang.

TCAS merupakan sistem yang wajib ada pada pesawat komersial yang beroperasi di wilayah yang padat lalu lintas udara, dan merupakan salah satu langkah keamanan penting untuk mencegah tabrakan antara pesawat. Sistem ini telah terbukti efektif dalam mengurangi risiko tabrakan dan meningkatkan keselamatan penerbangan secara keseluruhan.

TCAS terdiri dari beberapa komponen utama yang bekerja bersama-sama untuk menyediakan peringatan dan instruksi kepada pilot untuk menghindari tabrakan. Berikut adalah komponen-komponen penting dalam TCAS:

Transponder
Transponder adalah komponen penting dalam TCAS. Setiap pesawat yang dilengkapi TCAS harus memiliki transponder yang berfungsi untuk mengirimkan sinyal identifikasi dan posisi pesawat kepada pesawat lain yang dilengkapi dengan TCAS.

Antena
Antena digunakan untuk menerima dan mengirimkan sinyal transponder antara pesawat yang dilengkapi TCAS.

Mode S Receiver
Mode S receiver adalah komponen yang digunakan untuk menerima informasi dari transponder pesawat lain yang berada dalam jangkauan. Informasi ini meliputi identifikasi pesawat, ketinggian, dan kecepatan.

Computer Processor
TCAS dilengkapi dengan unit pemrosesan komputer yang mengolah data yang diterima dari mode S receiver. Komputer ini melakukan perhitungan jarak, kecepatan, dan arah pesawat lain yang berada dalam jangkauan.

Display
Display TCAS menampilkan informasi penting kepada pilot. Informasi ini dapat berupa peringatan “Traffic Advisory” (TA) yang memberi tahu pilot tentang adanya pesawat lain yang mendekati, serta “Resolution Advisory” (RA) yang memberikan instruksi tindakan yang spesifik kepada pilot untuk menghindari tabrakan.

Control Panel
Control panel memungkinkan pilot untuk memilih mode operasi TCAS, mengatur parameter, dan mengelola pengaturan TCAS.

Data Link
TCAS juga dapat dilengkapi dengan kemampuan data link untuk berkomunikasi dengan sistem pengawasan lalu lintas udara darat (Air Traffic Control) atau dengan pesawat lain yang dilengkapi dengan TCAS. Data link memungkinkan pertukaran informasi tambahan yang dapat meningkatkan situasional awareness dan koordinasi antara pesawat.

Seluruh komponen ini bekerja bersama-sama untuk menyediakan informasi yang akurat dan peringatan yang tepat waktu kepada pilot, sehingga memungkinkan pengambilan keputusan yang tepat dan tindakan yang diperlukan untuk menghindari tabrakan dalam penerbangan.

Baca juga: Bawa 189 Penumpang, Pesawat Ini Nyaris Tabrakan dengan Drone di Ketinggian 900 Meter

Sejarah pengembangan TCAS dimulai pada tahun 1956 ketika pertama kali dibahas oleh Radio Technical Commission for Aeronautics (RTCA), sebuah organisasi yang terdiri dari perwakilan industri penerbangan di Amerika Serikat. Pada saat itu, tujuan utama adalah mengembangkan sistem untuk memperbaiki keselamatan penerbangan dengan memberikan peringatan tentang pesawat lain yang berada dalam jarak dekat.

Wow, Negara Ini Memiliki 11 Zona Waktu!

Luas suatu wilayah memang tidak selalu menentukan banyaknya pembagian zona waktu di lokasi tersebut. Sebut saja India dan Cina, dua negara yang diketahui memiliki area yang cukup luas namun hanya terdapat satu perbedaan zona waktu pada kedua negara tersebut. Seperti yang sudah diketahui oleh kita semua, Indonesia memiliki tiga zona waktu, yaitu Waktu Indonesia bagian Barat (WIB), Waktu Indonesia bagian Tengah (WITA), dan Waktu Indonesia bagian Timur (WIT). WIB sendiri memiliki standar perbedaan waktu GMT +7, WITA di GMT +8, dan WIT di GMT+9.

Baca juga: Jembatan Kereta ‘Spiral’ Brusio – Terbuat dari Batu Berusia Lebih dari Satu Abad

Sedangkan benua tetangga kita, Australia memiliki jumlah zona perbedaan waktu yang sama dengan Indonesia, yaitu tiga perbedaan waktu. Namun tahukah Anda mengenai negara yang memiliki 11 zona perbedaan waktu dan menjadikannya negara dengan zona waktu terbanyak di dunia? Jika Anda menebak Amerika, maka jawaban Anda kurang tepat karena Negeri Paman Sam hanya memiliki sembilan zona perbedaan waktu.

Jawaban yang tepat dari pertanyaan di atas adalah Rusia. Ya, negara yang dijuluki Negeri Beruang Merah tersebut memiliki 11 zona perbedaan waktu, dan jarak waktu antar negara dengan dua perbedaan zona waktu adalah satu jam. Lalu, kira-kira apa saja yang unik dari negara ini? Sebagaimana KabarPenumpang.com sarikan dari berbagai sumber, salah satunya dari rbth.com, julukan Negara Matahari Terbit yang selama ini melekat di Jepang nampaknya kurang cocok pasalnya di Petropavlovsk-Kamchatsky, matahari terbit dua jam lebih awal dari Tokyo.

Selain itu, di Rusia Anda bisa lebih menikmati waktu luang. Sebagai contoh, Anda membutuhkan waktu delapan jam untuk terbang dari Vladivostok menuju Moskow. Jika Anda terbang pukul 19.00 waktu Vladivostok, maka Anda bisa tiba di Moskow pada pukul 20.00 pada hari yang sama. Hal unik ini diakibatkan oleh perbedaan waktu antara kedua lokasi yang sangat jauh. Jadi, Anda bisa menikmati tujuh jam waktu luang yang tersedia.

Selain itu, Negara ini juga memiliki “jembatan terpanjang di dunia”, dimana Anda membutuhkan waktu dua jam untuk menyebranginya. Tentu saja ini hanyalah gurauan dari warga yang tinggal di Republik Tatarstan dan Republik Bashkortostan, dimana kedua republik tersebut dipisahkan oleh Sungai Ik. Warga setempat mengatakan jembatan yang membelah sungai Ik tersebut sebagai jembatan menuju masa depan, karena membutuhkan waktu dua jam untuk sampai ke sisi seberang, padahal, rentang jembatan tersebut hanyalah 10 meter.

Salah satu adegan di film Yolki. Sumber: youtube.com

Baca juga: Jembatan Tumangang – Jembatan Kereta Penghubung Antara Rusia dan Korea Utara

Berkat lokasinya yang unik, jembatan ini pernah dijadikan salah satu latar dari film populer Rusia, berjudul Yolki. Dalam film tersebut, diceritakan seorang wanita yang terlambat memanjatkan harapan tahun barunya lalu bergeser melintasi jembatan itu menuju zona waktu yang lebih lambat, sehingga ia bisa memanjatkan permintaan tahun barunya. Sungguh unik!

Pesawat Jet Bisnis Terbang Lebih Tinggi Dibanding Pesawat Jet Komersial Reguler, Ini Alasannya!

Ada banyak hal menarik untuk dicermati dalam dunia dirgantara, salah satunya seputar ketinggian terbang pada pesawat penumpang. Yang mana pesawat jet bisnis cenderung terbang lebih tinggi daripada pesawat jet komersial reguler. Ini kerap menjadi pertanyaan, mengingat ketinggian pesawat akan berpengaruh pada beberapa faktor, seperti kenyamanan dan efisiensi bahan bakar.

Baca juga: Apakah Pesawat Sipil Bisa Terbang Di Atas Ketinggian 60 Ribu Kaki?

Dari forum quora.com, berikut beberapa alasan mengapa pesawat jet bisnis cenderung terbang lebih tinggi dibandingkan pesawat jet komersial reguler.

1. Kecepatan dan Efisiensi
Pesawat jet bisnis sering kali didesain untuk mencapai kecepatan yang lebih tinggi daripada pesawat jet komersial. Dengan terbang pada ketinggian yang lebih tinggi, pesawat jet pribadi dapat mencapai kecepatan maksimumnya dengan lebih efisien.

Ketinggian yang lebih tinggi juga mengurangi hambatan atmosfer, seperti tekanan udara yang lebih rendah dan kepadatan yang lebih rendah, sehingga memungkinkan pesawat jet pribadi terbang lebih cepat.

2. Bebas dari Lalu Lintas Udara Komersial
Dengan terbang pada ketinggian yang lebih tinggi, pesawat jet bisnis dapat menghindari lalu lintas udara komersial yang padat. Pesawat jet komersial reguler biasanya terbang pada ketinggian yang ditentukan untuk efisiensi penerbangan dan mengikuti jalur-jalur yang telah ditetapkan.

Dengan terbang lebih tinggi, pesawat jet pribadi dapat menemukan jalur-jalur yang lebih bebas dari lalu lintas udara, sehingga memungkinkan perjalanan yang lebih cepat dan efisien.

3. Kenyamanan dan Pengalaman Penumpang
Pesawat jet bisnis sering kali digunakan untuk memberikan pengalaman yang lebih mewah dan pribadi kepada penumpangnya. Dengan terbang pada ketinggian yang lebih tinggi, pesawat jet pribadi dapat menghindari turbulensi yang lebih sering terjadi di ketinggian yang lebih rendah. Hal ini memungkinkan penumpang merasa lebih nyaman selama penerbangan.

Baca juga: Alami Overrun di Bandara Maleo Morowali, Inilah Profil Pesawat Bisnis Jet Hawker 900XP

Meskipun pesawat jet bisnis cenderung terbang lebih tinggi, perlu dicatat bahwa terdapat batasan ketinggian yang ditentukan untuk setiap jenis pesawat berdasarkan desain, kemampuan mesin, dan faktor keamanan.