Gunakan Bus Low Deck, TransJakarta Gratiskan Selama 2 Minggu Rute Kalideres-Bandara Soekarno-Hatta

Uji coba rute Bus Transjakarta dari Kalideres ke Bandara Soekarno-Hatta resmi digelar sejak Rabu (5/7) lalu. Seluruh warga yang hendak berpergian ke Bandara Soekarno-Hatta kini dapat menggunakan bus Transjakarta secara gratis dalam masa uji coba selama dua minggu. Adapun caranya, calon penumpang tinggal menaiki Bus Transjakarta di Terminal Kalideres. Calon penumpang tetap diwajibkan untuk tap-in saat naik dan tap-out saat turun bus Transjakarta.

Baca juga: Bus Low Deck Terbaru Hadir di Apron Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Selain itu, calon penumpang juga dapat naik Bus TransJakarta rute Bandara Soekarno-Hatta di titik pemberhentian yang ada di 18 titik. Bus yang digunakan berjenis low deck (lantai rendah), sehingga lebih mudahkan dalam aspek mobilitas penumpang. Dalam pelaksanaannya, uji coba bus Transjakarta dari Kalideres ke Bandara Soekarno-Hatta menghabiskan waktu sekitar 43 menit.

Bukan hanya pegawai bandara, seluruh lapisan masyarakat dapat mencoba perjalanan dari Kalideres ke Bandara Soekarno-Hatta dengan gratis selama dua minggu. “Rute ini dilayani mulai jam 06.00 WIB sampai jam 09.00 WIB. Begitu juga sore hari jam 18.00 sampai dengan 21.00 WIB.

Baca juga: Kenapa Shuttle Bus di Apron Bandara Berjenis Low Deck? Ini Jawabannya

Berikut daftar Rute Bus Transjakarta Kalideres-Bandara Soetta
1. Halte Kalideres 1
2. Pos Polisi Daan Mogot Baru
3. RSUD Kalideres
4. SMAN 84
5. Simpang Jalan Peta Selatan
6. Sekolah Kairos Garcia
7. Jalan Citra Garden VII
8. Jalan Alam Raya
9. Jalan Rawa Lele
10. Jalan Rawa Lele 1
11. SMPN 186
12. Seberang Jalan Peta Barat 1
13. Jalan Husein Sastranegara 2
14. Jalan Husein Sastranegara 1
15. Gerbang Soetta 1
16. Seberang Sowan Wisata Belanja
17. Jalan Cengkareng Golf Club 1
18. Soewarna Foodhall 1
19. Jalan Cengkareng Golf Club 3
20. Terminal Kargo 1
21. Terminal Kargo 2
22. Perkantoran Soekarno Hatta

Rawat Interior Kabin Pesawat, Lion Air Group Punya Batam Aero Technic

Lion Air Group rupanya punya kemandirian dalam kemampuan pengerjaan perawatan interior armada pesawatnya. Alih-alih mengorder pengerjaan ke luar negeri, Lion Air Group lewat anak perusahaan, Batam Aero Technic (BAT) mampu melakukan perawatan dalam mengembalikan pesawat seperti baru dengan tampilan interior kabin yang mengesankan.

Baca juga: Air India Renovasi Besar-besaran Interior Kabin Boeing 777 dan 787

Seluruh proses pembaruan dilakukan di hanggar yang terletak di Batam, menunjukkan dedikasi perusahaan dalam memberikan hasil terbaik kepada maskapai selaku klien (pelanggan). Interior kabin pesawat adalah ruang tempat penumpang menghabiskan waktu selama perjalanan udara dan sebagai lingkungan yang mencerminkan kenyamanan dan keindahan.

Dalam siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com, Lion Air Group memberikan beberapa tahap yang dilakukan dalam memperbarui interior kabin pesawat.

1. Evaluasi Awal
Tahap ini melibatkan pemeriksaan menyeluruh terhadap interior kabin pesawat yang akan diperbarui. Tim teknis akan mengevaluasi kondisi keseluruhan kabin, termasuk dinding, lantai, langit-langit, panel, kursi, perlengkapan kabin, dan sistem pendukung lainnya. Evaluasi ini bertujuan mengidentifikasi area yang membutuhkan perbaikan atau penggantian.

2. Perencanaan dan Desain
Tim perencana dan desain akan merancang konsep pembaruan interior kabin yang sesuai kebutuhan dan keinginan klien. Mempertimbangkan faktor seperti gaya, warna, bahan, dan elemen-elemen estetika lainnya. Perencanaan dan desain ini melibatkan kerjasama antara tim teknis dan klien untuk mencapai hasil yang diinginkan.

3. Penggantian dan Pemasangan
Tahap ini termasuk penggantian panel dinding, karpet, langit-langit, penutup kursi, jendela, lampu, perlengkapan kabin, dan sistem hiburan penumpang. Proses ini dilakukan secara hati-hati untuk memastikan setiap komponen dipasang tepat dan menurut desain yang diinginkan.

4. Finishing dan Detail
Meliputi pengecatan ulang, perapian, penghalusan permukaan, dan pemasangan detail kecil seperti trim, panel kontrol, dan penutup kursi. Tujuan tahap ini adalah mencapai tampilan yang rapi, halus, dan serasi dalam interior kabin.

5. Pengujian dan Inspeksi
Setelah proses pembaruan selesai, tahap pengujian dan inspeksi dilakukan guna memastikan bahwa semua sistem dan komponen interior kabin berfungsi baik. Tes yang dilakukan meliputi pengujian sistem hiburan penumpang, pencahayaan, ventilasi, dan perlengkapan kabin lainnya. Inspeksi visual dilakukan untuk memastikan kualitas dan kesesuaian hasil pembaruan menurut standar keselamatan dan kualitas yang berlaku.

Dari Bandara Charles de Gaulle Mau ke Pusat Kota Paris? Paling Murah dan Tepat Waktu Gunakan RER B

Seperti halnya bandara internasional pada umumnya, maka bandara Charles de Gaulle (CDG) di Perancis, menyediakan beragam layanan transportasi dari bandara untuk menuju jantung Kota Paris. Dan diantara beragam layanan yang tersedia, maka yang paling populer digunakan warga Perancis dan pelancong adalah bus dan kereta. Tapi bila dipertajam, dari keduanya yang menawarkan ongkos paling murah dan tepat waktu adalah kereta komuter.

Baca juga: Porte de Saint-Cloud – Stasiun Bawah Tanah Tua di Jaringan Paris Metro, Beroperasi Sejak 1923

Dengan merogoh kocek tiket sekitar 11,45 euro, pelancong yang irit budget bisa menggunakan kereta komuter RER B dari bandara CDG menuju pusat kota Paris, yang selanjutnya tanpa harus membeli tiket lagi, pelancong bisa melanjutkan perjalanan ke stasiun akhir menggunakan layanan kereta bawah tanah yang terkenal – Paris Metro.

Nah, tentu menarik untuk mengenal kerera RER B ini, pasalnya RER B menjadi tumpuan bagi para pelancong dan warga lokal di pinggiran Paris.

RER B (Réseau Express Régional – Regional Express Network B) adalah jalur kereta rel regional di wilayah Paris. RER B adalah salah satu dari lima jalur di RER yang ada di Paris. Desainnya berupa kereta komuter hibrid dan sistem transit cepat yang melayani Paris dan pinggiran kota Île-de-France.

Jalur RER B membentang sepanjang 80 kilometer (50 mil) melintasi wilayah tersebut dari utara ke selatan, dengan semua kereta melayani sekelompok stasiun di pusat kota Paris, sebelum bercabang menuju ujung jalur.

Interior RER B.

Jalur RER B dibuka secara bertahap mulai Desember 1977 dengan menghubungkan dua jalur kereta komuter pinggiran kota yang ada dengan terowongan baru di bawah Paris: Chemin de Fer du Nord di utara (yang sebelumnya berakhir di Gare du Nord) dan Ligne de Sceaux di selatan (yang sebelumnya berhenti di stasiun Luksemburg).

RER B, bersama dengan jaringan RER lainnya, membawa dampak sosial yang signifikan di Paris dan kawasan sekitarnya dengan mempercepat perjalanan melintasi pusat kota Paris, dengan melakukan pemberhentian yang jauh lebih sedikit daripada Paris Métro.

Jalur tersebut telah melampaui semua ekspektasi lalu lintas, dengan penumpang melakukan 165 juta perjalanan per tahun pada tahun 2004. Itu menjadikan RER B jalur rel tunggal tersibuk kedua di Eropa (setelah RER A).

Pada tahun 1994, RER B diperpanjang hingga Bandara Charles de Gaulle di Roissy, dengan pembukaan stasiun khusus, Aéroport Charles de Gaulle 1 dan Aéroport Charles de Gaulle 2-TGV. Ini memberikan akses yang lebih mudah dari pusat kota Paris ke bandara internasional tersebut.

Seiring berjalannya waktu, RER B telah mengalami peningkatan dan perbaikan. Pada tahun 2009, sebagian besar jalur ditingkatkan dengan kereta baru yang lebih modern dan nyaman. Juga, pengembangan terus dilakukan untuk meningkatkan frekuensi kereta dan mengatasi kepadatan lalu lintas.

Baca juga: Châtelet–Les Halles – Dari Pusat Kota Paris, Inilah Stasiun Bawah Bawah Tanah Terbesar di Dunia

RER B saat ini menjadi salah satu jalur RER yang paling penting dan sibuk di wilayah Paris. Jalur ini menghubungkan pusat kota Paris dengan pinggiran utara dan selatan, termasuk wilayah pinggiran seperti Aulnay-sous-Bois, Gare du Nord, Saint-Rémy-lès-Chevreuse, dan tentunya Bandara Charles de Gaulle. (Haryo Adjie – Paris)

Tarif Rp5.000 Per Km, Kemenhub: LRT Jabodebek Lebih Canggih Dibanding MRT Jakarta dan LRT Palembang

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyebut LRT Jabodebek lebih canggih dibanding MRT Jakarta dan LRT Palembang. Hal itu didasari dari teknologi yang digunakan ketiganya.

Baca juga: Walau Listrik PLN Padam, LRT Jabodebek Tetap Bisa Meluncur Sampai Stasiun Terdekat: Penumpang Tidak Akan Terjebak

“LRT Jabodebek menggunakan teknologi yang lebih tinggi dari MRT Jakarta ataupun LRT Sumsel, yaitu generasi ke-3 atau GoA Level 3,” jelas Juru Bicara Kemenhub Adita Irawati dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (8/7).

Dengan teknologi ini, lanjut Adita, memungkinkan kereta dioperasikan tanpa masinis dan mengatur jarak antar kereta menjadi lebih dekat dengan tetap konstan menjaga jarak aman.

Saat terjadi pemadaman listrik oleh PLN, LRT Jabodebek tetap bisa berjalan atau dijalankan secara manual oleh train attendant sampai stasiun berikutnya dengan bantuan baterai, teknologi yang tidak dimiliki MRT Jakarta dan LRT Palembang.

Sayangnya, teknologi yang lebih canggih tersebut, tidak dibarengi dengan tarif yang juga kompetitif dibanding tarif MRT Jakarta, LRT Palembang, atau bahkan KRL Jabodetabek.

Masih menurut Adita, tarif LRT Jabodebek yang akan ditetapkan dalam Keputusan Menteri (Kepmen) adalah sebesar Rp5.000 untuk kilometer pertama dan Rp700 untuk kilometer berikutnya, dengan catatan tarif tersebut belum dipotong subsidi atau public service obligation (PSO) yang direncanakan berkisar 40 persen untuk jarak terjauh.

Dengan begitu, penumpang akan membayar sebesar Rp20.000 – Rp25.000 untuk jarak terjauh dari Stasiun Dukuh Atas – Stasiun Harjamukti, Cibubur atau sebaliknya dan Stasiun Dukuh Atas – Stasiun Jati Mulya, Bekasi atau sebaliknya.

Tarif tersebut jauh lebih mahal dibanding KRL Jabodebek yang tarifnya sebesar Rp3000 untuk 25 km pertama dan untuk rute lanjutan akan ditambahkan Rp1000 untuk perjalan setiap 10 kilometer. Meski begitu, tarif LRT Jabodebek masih cukup kompetitif dibandingkan tarif MRT Jakarta.

Tarif MRT Jakarta diketahui berkisar Rp3.000 – Rp14.000 untuk rute terjauh dari Stasiun Lebak Bulus Grab – Stasiun Bundaran HI atau sebaliknya dengan panjang lintasan 16 km. Sedangkan LRT Jabodebek untuk jarak terjauh dari Stasiun Dukuh Atas – Stasiun Harjamukti, Cibubur atau sebaliknya dengan panjang lintasan 24 km dikenakan tarif Rp20.000.

Adapun jarak terjauh Stasiun Dukuh Atas – Stasiun Jati Mulya, Bekasi atau sebaliknya dengan panjang lintasan 27 km dikenakan tarf Rp25.000.

Saat ini, progres kesiapan LRT Jabodebek baik dari sisi sarana, prasarana dan SDM rata-rata sudah mencapai sekitar 97 persen. Berbagai pengujian terkait sumber daya manusia (SDM), seperti penyelia, pengawas Stasiun, pengendali operasi terpusat kereta otomatis, petugas pemeriksaan, dan petugas perawatan sarana dan prasarana terus dilakukan.

Demikian juga pengujian prasarana seperti, stasiun, rel, persinyalan, dan lain-lain serta pengujian sarana yaitu rangkaian kereta api.

Setelah dilakukan serangkaian pengujian tersebut, Kemenhub melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) akan mengeluarkan sertifikat hasil pengujian. Kemudian akan dikeluarkan izin operasi oleh Menteri Perhubungan (Menhub).

Baca juga: Tuntas Direvitalisasi, 4 Halte Transjakarta yang Terintegrasi KRL dan LRT Jabodebek Mulai Beroperasi

LRT Jabodebek merupakan karya anak bangsa dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang lebih dari 60 persen, termasuk kereta apinya yang dibuat oleh PT INKA.

Direncanakan, uji coba terbatas (trial operation) LRT Jabodebek akan dilakukan pada 12 Juli hingga Agustus 2023 mendatang,  dan ditargetkan sudahberoperasi secara komersial pada 18 Agustus 2023 mendatang.

Dilema Seat Pitch, Maskapai Tambah Untung Penumpang Merana

Jarak antarbaris kursi atau biasa disebut seat pitch bervariasi di tiap-tiap penerbangan dan pesawat. Semakin kecil ukuran seat pitch semakin dekat jarak antara lutut penumpang dengan kursi di depannya. Mengurangi jarak antarbaris akan memberikan maskapai baris kursi yang lebih banyak sehingga otomatis akan menaikkan penjualan tiket.

Baca juga: Adu Jarak Antar Kursi, Inilah Maskapai Terbaik Penyedia Kelas Ekonomi Premium

Namun berbanding terbalik, bila penjualan tiket maskapai meningkat, sebaliknya penumpang akan merasakan dampak negatif. Semakin kecil ukuran seat pitch maka semakin dekat jarak antara lutut penumpang dengan kursi di depannya. Ini artinya ruang gerak dan kenyamanan penumpang dikorbankan, belum lagi semakin sempit seat pitch maka juga bisa membahayakan dalam kasus evakuasi darurat. Untuk itu ‘keinginan’ maskapai untuk terus menyusutkan ukuran seat pitch harus mendapat perhatian secara seksama.

Bukan hanya memiliki batas semakin kecil antar kursi, desain jok kini dibuat sedemikian rupa yang membuat maskapai baik besar maupun kecil mendongkrak keuntungan untuk lebih mengemas kursi-kursi pada masing-masing pesawat mereka. Apalagi dengan seperti itu, harga yang ditawarkan akan semakin bervariasi dari sebelumnya dan ini yang di harapkan penumpang berkocek hemat.

Dilansir KabarPenumpang.com dari chicagotribune.com (30/6/2017), American Airlines berupaya menyoroti realitas lain dengan menggunakan desain kursi dan jarak yang lebih sempit dari biasanya di penerbangan ekonomi. Saat ini jarak antara bangku yang satu dengan yang lain pada American Airlines yakni 29 inchi, lebih kecil dari milik Spirit Airlines yang memiliki ukuran 31 inchi.

Baca juga: Survei: Penumpang “Pengganggu” Terbanyak dari Belakang Kursi

“Ini adalah tindakan penyeimbang yang harus dilakukan maskapai besar saat menentukan jok di kursi dibandingkan dengan maskapai bertarif rendah,” kata Joe Leader, CEO dari kelompok perdagangan Asosiasi Penumpang Maskapai Penerbangan. Dulunya kursi pesawat menggunakan padding yang tebal, tetapi saat ini masing-masing lebih memilih untuk mengurangi ketebalan kursi penumpang tersebut. CEO Recaro Aircraft Seating, Mark Hiller mengatakan, mereka memberikan tumpangan yang lebih nyaman dikarenakan tidak bergantug pada busa padding yang bisa rusak seiring berjalannya waktu.

Menurut direktur desain pembuat kursi Encore, Tom Eaton mengatakan, pihaknya akan tetap ada batasan dimana kursi bisa menyusut dan membuat pabrik pembuat memberi penumpang sebuah ilusi dan memaksimalkan faktor kenyamanan yang bisa lebih dikendalikan. Saat ini perusahaan yang berkolaborasi dengan Boeing untuk mendesain kursi ekonomi 737 dan 787 Dreamliner menghindari penggunaan bahan plastik keras, murah serta menggantinya dengan bahan yang lebih lembut dan membuat penumpang lebih nyaman.

Sebebnarnya ukuran 29 inchi bukan menjadi patokan, apalagi bila dimensi kursi tidak menyusut, pelanggan maskapai juga akan tetap sama. Wakil Presiden Eksekutif dan Kepala Keuangan United Airlines, Andrew Levy menambahkan, “dengan mengemas lebih banyak kursi membantu prioritas penumpang dan menjaga harga tiket pesawat tetap rendah.” Setiap maskapai saat ini mengusahakan penumpang mendapat peenerbangan yang nyaman dengan harga tertentu. Salah satunya diman banyak maskapai yang menawarkan kursi dengan ruang kaki ekstra untuk penumpang yang mau membayar ekstra.

Baca juga: “Jual Tiket Berdiri” di Pesawat, Awak Maskapai Pakistan Diperkerakan

American Airlines dan Delta, sudah memiliki rencana untuk menambah kelas ekonomi premium untuk rute internasional dengan lebih banyak fasilitas seperti makanan hingga jok kursi lebih besar. Untuk kelas bisnis dengan penerbangan jarak jauh dengan kursi dibuat lebih spesifikasi memberi akses lorong yang lebih pada penumpang dan menjadi standar baru. Dengan letak kursi baru pada American Airlines, sebenarnya banyak reaksi yang tidak menyenangkan dari penumpang. Hal ini karena dianggap tidak adil dimana dua orang penumpang kelas ekonomi dengan tiket yang sama mendapatkan pengamalan yang berbeda.

Jarak antarbaris menurun menjadi 31 inchi (79 cm) dari 35 inchi (89 cm) di tahun 1970, dan penyusutan lebar kursi dari 18 inchi (46 cm) menjadi 16,5 inchi (42 cm). Belum ada aturan pasti yang mengatur jarak antarbaris pada penerbangan kecuali pada baris kursi di dekat pintu keluar.

Adu Jarak Antar Kursi, Inilah Maskapai Terbaik Penyedia Kelas Ekonomi Premium

Saat ini sebagian besar maskapai besar dunia menawarkan kabin kelas ekonomi premium yang memberikan kenyamanan dan layanan terbaik bagi para penumpang tanpa label harga kelas bisnis. Kabin kelas ekonomi premium pada dasarnya dihadirkan untuk menjembatani kesenjangan antara kelas ekonomi dan kelas bisnis.

Baca juga: Dilema Soal Seat Pitch, Masih Dimaklumi Penumpang

Awalnya, kelas ekonomi premium muncul sebagai pilihan yang menarik di beberapa maskapai penerbangan bagi pelancong yang menginginkan ruang kaki ekstra, fasilitas yang ditingkatkan, dan perjalanan yang lebih menyenangkan tanpa biaya tiket Kelas Bisnis.

Saat ini sebagian besar maskapai besar dunia menawarkan kabin seperti itu dan popularitasnya terus meningkat. Lantas yang menjadi pertanyaan, maskapai mana yang menyajikan kelas ekonomi premium terbaik?

Semua maskapai besar menawarkan penumpang kelas ekonomi premium dengan sajian kuliner yang lebih baik, layar belakang kursi yang besar, peredam kebisingan atau setidaknya headphone, selimut, bantal, dan kelas bisnis. Namun pertanyaannya tetap, siapa yang menawarkan ruang paling banyak?

Dikutip dari airlineratings.com, berikut adalah peringkat maskapai penyaji kelas ekonomi premium terbaik. Peringkat didasarkan pada jarak antar kursi (seat pitch) dan lebar kursi (seat width). Jarak kursi dan lebar kursi adalah faktor utama yang ditawarkan pada kelas ekonomi premium.

Baca juga: Dalam Penerbangan, Pilih Kelas Ekonomi Premium Atau Ekonomi Biasa?

Dengan jarak tempat duduk (seat pitch) 41 inchi yang konsisten di seluruh armada penerbangan jarak jauh, Air New Zealand adalah pemenang yang menawarkan ruang kaki paling luas bagi penumpang. Perlu dicatat bahwa selain ruang kaki, Air New Zealand menyediakan layanan terbaik bagi penumpangnya setiap saat.

Di Balik Kesuksesan JetStar, Tak Lepas dari Dukungan dan Restu Qantas

Jika Garuda Indonesia Group punya Citilink sebagai maskapai berbiaya murah, maka begitu pun dengan Qantas, dimana maskapai nasional Australia itu punya JetStar yang menjadi low cost carrier (LCC). Seperti halnya Citilink, maka JetStar juga dikenal luas melayani penerbangan berjadwal internasional, termasuk (sebelum pandemi) menjadi maskapai internasional yang masif melayani rute ke Denpasar, Bali.

Baca juga: AirAsia X Vs Scoot Vs Jetstar, Siapa yang Terbaik?

Uniknya, dalam waktu kurang dari 20 tahun, JetStar telah menjelma sebagai salah satu maskapai penerbangan berbiaya rendah paling sukses di dunia. Dalam prosesnya, Qantas telah memberikan akses master yang sangat menguntungkan bagi eksistensi JetStar, salah satunya dengan melayani penerbangan ke 40 tujuan di sepuluh negara.

JetStar sendiri bukan maskapai berbiaya rendah pertama di Australia, LCC pertama di Negeri Kanguru adalah Virgin Blue. Namun Jetstar adalah maskapai penerbangan bertarif rendah paling sukses di Australia. Sejak penerbangan pertamanya pada tahun 2004, JetStar telah diuntungkan dengan adanya Qantas di belakangnya, berbeda dengan kasus di negara lain, maskapai ini selalu hidup berdampingan dengan nyaman dan mampu memetakan arahnya sendiri.

Ketika awal berdiri, banyak pihak yang menyangsikan kelangsungan JetStar, bahkan para kritikus menyebut maskapai ini akan gagal. Dikutip dari simpleflying.com, disebutkan salah satu rahasia kesuksesan awal JetStar adalah pemilihan CEO pertamanya, yang menjadi CEO Grup Qantas saat ini, Alan Joyce.

Seperti halnya Citilink yang pada awalnya memanfaatkan jet eks Garuda Indonesia, maka JetStar pertama kali menggunakan Boeing 717-200 yang diambil dari Qantas ketika membeli Impulse Airlines pada tahun 2001. JetStar memulai terbang perdana dari Bandara Avalon Melbourne, bandara marjinal yang terus diterbangi JetStar (walaupun dengan insentif dari dewan lokal dan pemangku kepentingan Avalon lainnya). Dengan beroperasinya penerbangan di Avalon, maskapai berbiaya rendah ini berkembang pesat. Pada tahun 2005, JetStar beroperasi di kota-kota utama di timur Melbourne, Sydney, Brisbane, dan Gold Coast, selain memulai penerbangan ke Selandia Baru.

Qantas Group juga membawa JetStar dalam membuka jaringan di luar negeri, seperti mendirikan Jetstar Asia yang berbasis di Singapura. Selama tahun-tahun berikutnya, Qantas membawa merek JetStar ke Vietnam, Jepang, dan Hong Kong, meski belakangan Jetstar Hong Kong tidak pernah berhasil, dan Qantas kini juga telah keluar dari investasi di Vietnam.

Baca juga: Kasus Awak Kabin Jetstar: Tenaga Asing Dibayar Murah dengan Kerja Ekstra 

Lepas dari itu semua, dapur keuntungan terbesar JetStar dan tulang punggung kesuksesannya adalah operasi domestiknya di Australia. Ditambah lagi, setelah Virgin Blue berubah menjadi Virgin Australia dan memutuskan untuk fokus di rute kota-kota besar, JetStar memiliki pasar penerbangan murah untuk pasar terbesar di Australia. Sementara juga menerbangi banyak rute yang dioperasikan oleh maskapai induk Qantas, JetStar mengejar basis pelanggan yang berbeda dan menetapkan harga yang sesuai untuk penerbangannya.

Jetstar Hentikan Sementara Penerbangan dari Darwin Ke Denpasar, Ini Sebabnya

Maskapai berbiaya murah asal Australia, Jetstar, berencana untuk menghentikan sementara penerbangan pada rute populer Darwin-Denpasar akhir tahun ini. Hal tersebut dikarenakan adanya rencana pembangunan landas pacu di Bandara Darwin, Australia Utara.

Baca juga: Jetstar Ganti Pesawat Seenaknya dan Ditolak Masuk Bali, Pengamat: Tidak Punya Etika

Atas dasar rencana pengentian penerbanga tersebut, Jetstar telah berhenti menjual tiket selama sebulan – antara 9 Oktober dan 8 November 2023, yakni menjelang pekerjaan landasan pacu yang direncanakan.

Departemen Pertahanan Australia, selaku otoritas pengelola Bandara Internasional Darwin (DRW), berencana untuk memperkuat landasan pacu di bandara Northern Territory menjelang perkiraan peningkatan pada penerbangan pertahanan. Bandara ini menyelenggarakan operasi komersial dan militer dan memiliki dua landasan pacu yang berpotongan (29/11 dan 18/36) yang digunakan bersama dengan Angkatan Udara Australia, yang mengelola Pangkalan RAAF Darwin di sebelah bandara.

“Untuk sementara kami menghentikan penjualan penerbangan langsung antara Darwin dan Denpasar yang dijadwalkan dari 9 Oktober hingga 8 November 2023 karena potensi pekerjaan landasan pacu oleh Departemen Pertahanan.”

Maskapai ini saat ini mengoperasikan lima layanan mingguan antara Darwin dan Bandara Internasional Ngurah Rai (DPS) di Bali, dan merupakan satu-satunya maskapai penerbangan yang menyediakan layanan ke hotspot pariwisata Indonesia dari Darwin.

Masih ada banyak ketidakpastian mengenai waktu yang tepat dari pekerjaan landasan pacu, yang tidak dapat dikonfirmasi oleh Grup Pengembangan Bandara Darwin (ADG) selain mengatakan mereka akan “berlangsung selama 12 hingga 19 bulan mendatang.” Departemen Pertahanan idealnya menginginkan mereka berlangsung selama musim kemarau di kawasan itu – antara Mei dan September.

Baca juga: Di Balik Kesuksesan JetStar, Tak Lepas dari Dukungan dan Restu Qantas

Akibatnya, mereka yang sudah memesan penerbangan selama periode ini tidak akan langsung dibatalkan penerbangannya. Sebagai gantinya, Jetstar akan memperbarui penumpang setelah pekerjaan landasan pacu dikonfirmasi dan memesan ulang, atau mengeluarkan pengembalian uang. Selain itu, maskapai mengatakan penerbangan akan kembali dijual jika pekerjaan yang direncanakan tidak jadi dilakukan selama periode ini.

Fenomena “Bus Artis” – Dari Loyalis Bus Hingga Bikin Banyak Orang Penasaran

Moda transportasi bus, khususnya bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) perkembangan baik dari fasilitas maupun dari segi penumpang. Tak heran, semakin banyaknya ruas tol menjadi hal yang membuat moda transportasi bus makin diminati. Dan ketika ingin melakukan perjalanan dengan moda transportasi bus, jika syarat nyaman dan aman sudah terpenuhi, maka kita akan menjadikan bus tersebut sebagai angkutan pilihan kita.

Baca juga: Jajal Bus Mewah PO Pandawa 87 – Suites Class dengan Rute Terpanjang di Indonesia

Hal ini tentu berbeda dengan para penggemar bus, syarat aman dan nyaman masih belum cukup bagi para penggemar bus untuk menentukan sebuah pilihan ketika ingin bepergian naik bus. Maklum, seringkali tujuan perjalanan tersebut hanyalah ‘perjalanan itu sendiri’ atau bahkan hanya menikmati armada bus dari sebuah perusahaan otobus (PO).

Bahkan para penggemar bus memiliki sebutan “bus artis” yang disematkan kepada sebuah armada. Julukan bus artis ini mengacu kepada sebuah armada yang diminati banyak penggemar bus. Bisa jadi karena variasi atau modifikasi pada bus tersebut, keramahan awaknya, cara mengemudi driver, ketepatan waktu tempuh dan lain-lain.

Boleh dibilang, kebanyakan perusahaan otobus memiliki armada yang disebut-sebut oleh para penggemar bus sebagai bus artis. Tentunya ini juga berpengaruh terhadap okupansi penumpang karena tak jarang penumpang yang notabenenya bukan penggemar bus pun menjadi penasaran untuk menaiki bus tersebut.

Bahkan bus artis ini memiliki penggemar yang sangat fanatik dan bahkan bisa dibilang ‘militan’. Mereka menyebarkan informasi dan membuat konten tentang kelebihan apa saja yang dimiliki bus artis ini melalui banyak media sosial seperti instagram, youtube, facebook, dan twitter.

Beberapa bus artis pun memiliki akun official instagram masing-masing. Isinya, semua foto-foto tentang armada bus tersebut, informasi terkini tentang armada bus tersebut, dan jadwal keberangkatan bus tersebut termasuk apabila bus tersebut berpindah trayek.

Baca juga: Begini Sensasi Nyaman Rebahan ala Suites Class PO Pandawa 87

Tak jarang juga penggemar bus rela menaiki bus yang sama berkali-kali. Atau ketika gagal mendapat bus incaran, maka seorang penggemar bus akan mencoba berkali-kali sampai berhasil menaiki bus yang diincarnya. Karena semacam ada kepuasan tersendiri apabila berhasil menaiki bus artis yang menjadi incarannya. (Senna Aditya – Pecinta Bus Indonesia)

Canggih! Inilah Alasan Mengapa Kaca Kokpit Airbus A350 Disebut Mirip ‘Zorro’

Airbus A350 XWB (eXtra Wide Body) memang terkenal sebagai pesawat komersial jarak jauh dengan efisiensi tinggi. Selain itu, desain yang mengusung konsep Airspace serta kokpit berteknologi tinggi juga membuat pesawat ini lebih menarik dibanding kompetitor; termasuk tampilan dark outline atau garis gelap atau hitam yang mengelilingi kaca kokpit (cockpit windshield atau biasa juga disebut aircraft windshield).

Baca juga: Pernah Dengar Seberapa Tebal Kaca Pesawat? Simak Di Sini Jika Belum

Dilansir Simple Flying, secara kasat mata, kokpit A350 memang berbeda dengan pesawat lain. Sekilas pesawat seperti sedang menggunakan penutup mata. Beberapa avgeek bahkan memandang kaca kokpit A350 mirip seperti karakter fiksi Zorro.

Tujuan dari ini tentu saja agar membuat tampilan kokpit secara khusus dan pesawat secara umum jadi lebih menarik dan futuristik. Namun, di balik itu, ternyata dark outline A350 juga memiliki fungsi keamanan.

“Jendela kokpit ini menawarkan lebih dari sekadar tampilan paling futuristik, estetika, dan khas. Kaca depan baru meningkatkan efisiensi aerodinamis pesawat secara keseluruhan. Bentuk hidung yang melengkung sempurna membantu aliran udara mengalir di permukaan pesawat, dengan cara yang paling halus, sehingga mengurangi hambatan (drag),” Donna Lloyd, Kepala Communication Business Partners Airbus.

“Lambang ‘Ray-Ban’ seperti kaca depan hitam memudahkan perawatan jendela dan berkontribusi untuk menyelaraskan kondisi termal area jendela yang sensitif terhadap suhu,” lanjutnya.

http://https://www.youtube.com/watch?v=P104-1o2-vk

Selain A350, fitur dark outline atau tampilan garis hitam yang mengelilingi kaca kokpit juga disematkan di pesawat Airbus A330neo. Mengingat fungsinya yang brilian, bukan tak mungkin seluruh armada Airbus akan dilengkapi dengan fitur ini pada tahun-tahun mendatang.

Dilihat dari lama resmi Airbus, pesawat ini diklaim sebagai pesawat paling modern dan efisien di dunia. Dari segi komposisi, pesawa dibuat dari 70 persen material canggih, menggabungkan komposit karbon dengan kadar 53 persen, titanium, dan paduan aluminium modern, untuk menciptakan pesawat yang lebih ringan dan lebih hemat biaya sekaligus mengurangi kebutuhan perawatan. Mesin Rolls-Royce Trent generasi terbaru lebih senyap dan lebih efisien.

Selain itu, A350 juga dilengkapi dengan sayap canggih berbahan dasar komposit serat karbon. Performa tinggi sayap A350 XWB memungkinkan pesawat ini untuk terbang lebih cepat, lebih efisien, serta dengan tingkat kebisingan yang lebih rendah.

Rancangan sayapnya juga mencakup sejumlah fitur efisiensi. Di antaranya yaitu perangkat mutakhir “droop-nose” dan perangkat “adaptive dropped-hinge flaps” yang baru. Kedua fitur tersebut menambah efisiensi pesawat ketika dioperasikan dalam kecepatan rendah.

Baca juga: Mengapa Kokpit Disebut Kokpit? Inilah Jawaban dari 3 Teori Termasyhur

Sementara, untuk meningkatkan efisiensi pesawat pada kecepatan tinggi, A350 XWB bisa membelokkan sirip sayapnya ke berbagai tingkat elevasi berbeda. Perubahan ini memungkinkan dicapainya optimalisasi profil sayap pesawat dan pengendalian beban yang lebih baik.

Kombinasi dari berbagai keunggulan di atas pun menghasilkan biaya operasional, konsumsi bahan bakar, dan emisi CO2 hingga 25 persen lebih rendah jika dibandingkan dengan pesawat generasi sebelumnya.