Cuma Rp5.000 Bebas Macet! Libur Long Weekend Makin Sat-set dengan LRT Jabodebek

LRT Jabodebek menghadirkan solusi mobilitas yang praktis dan terjangkau bagi masyarakat selama periode libur long weekend pada 3–5 April 2026. Dengan tarif mulai dari Rp5.000 hingga maksimal Rp10.000, masyarakat dapat menikmati perjalanan yang efisien, nyaman, dan bebas dari kemacetan di tengah aktivitas selama libur panjang.

Momen libur Wafat Yesus Kristus dan Paskah yang bertepatan dengan long weekend diperkirakan akan mendorong peningkatan mobilitas masyarakat untuk beribadah maupun berwisata. LRT Jabodebek dapat menjadi salah satu alternatif transportasi perkotaan yang diandalkan dengan waktu tempuh yang pasti serta konektivitas antarmoda yang luas.

Manager Public Relations LRT Jabodebek, Radhitya Mardika, menyampaikan bahwa LRT Jabodebek hadir untuk memberikan kemudahan mobilitas masyarakat di tengah potensi kepadatan lalu lintas selama libur panjang. Selama periode tersebut, LRT Jabodebek beroperasi dengan 270 perjalanan setiap hari untuk mengakomodasi kebutuhan perjalanan pengguna di berbagai waktu.

“Tarif yang terjangkau mulai dari Rp5.000,- dihadirkan agar masyarakat memiliki alternatif transportasi yang efisien dan nyaman selama long weekend. Dengan layanan yang andal dan terintegrasi, LRT Jabodebek dapat menjadi pilihan untuk mendukung berbagai aktivitas masyarakat, baik untuk beribadah maupun berwisata,” ujarnya.

Berikut jadwal keberangkatan LRT Jabodebek periode Sabtu, Minggu, dan Libur Nasional:

Keberangkatan pertama:
Harjamukti – Dukuh Atas BNI: 05.35 WIB
Dukuh Atas BNI – Harjamukti: 06.28 WIB
Jatimulya – Dukuh Atas BNI: 05.25 WIB
Dukuh Atas BNI – Jatimulya: 06.21 WIB

Keberangkatan terakhir:
Harjamukti – Dukuh Atas BNI: 21.46 WIB
Dukuh Atas BNI – Harjamukti: 22.39 WIB
Jatimulya – Dukuh Atas BNI: 22.13 WIB
Dukuh Atas BNI – Jatimulya: 22.31 WIB

Layanan ini terhubung dengan sejumlah kawasan strategis dan destinasi populer seperti :

Stasiun Rasuna Said: Plaza Festival
Stasiun Setiabudi: Setiabudi One
Stasiun Cikoko: Tebet Eco Park
Stasiun TMII: Taman Mini Indonesia Indah
Stasiun Harjamukti: Taman Rekreasi Wiladatika, Trans Studio Mall Cibubur
Stasiun Bekasi Barat: Revo Mall, Pakuwon Mall

Maupun transportasi terintegrasi antarmoda yakni :
Dukuh Atas: KRL, KA Bandara, MRT Jakarta, TransJakarta, dan lainnya;
Halim: Kereta Cepat Whoosh, Bandara Halim Perdana Kusuma
Cikoko: KRL, TransJakarta

Selain itu, LRT Jabodebek juga menghadirkan fasilitas yang ramah bagi keluarga. Seluruh stasiun telah dilengkapi dengan lift serta platform screen door (PSD) untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan, khususnya bagi pengguna yang membawa anak. Fasilitas area bermain anak juga tersedia di Stasiun Cawang.

Untuk mendukung gaya hidup ramah lingkungan, selama periode long weekend pengguna juga diperbolehkan membawa sepeda non-lipat tanpa biaya tambahan, sehingga dapat menjadi pilihan aktivitas rekreasi di berbagai titik kota.

Ini Dia Stasiun Paling Padat di LRT Jabodebek Disaat Jam Sibuk, Mana Saja?

Makin Praktis! Bank of Korea Resmi Luncurkan Koneksi Pembayaran QR di Indonesia

Kabar gembira bagi para pelancong dan pelaku bisnis yang sering bepergian antara Indonesia dan Korea Selatan. Bank of Korea (BOK) secara resmi telah meluncurkan interkoneksi pembayaran berbasis QR di Indonesia.

Langkah strategis ini memungkinkan integrasi sistem pembayaran digital antara kedua negara, di mana wisatawan Korea kini dapat melakukan transaksi di berbagai gerai di Indonesia hanya dengan memindai kode QR melalui aplikasi perbankan atau dompet digital asal Negeri Gingseng tersebut.

Kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan antara Bank Indonesia (BI) dan Bank of Korea untuk memperkuat penggunaan mata uang lokal (Local Currency Settlement) serta efisiensi transaksi lintas batas. Dengan sistem ini, nilai tukar yang digunakan menjadi lebih kompetitif dan transparan, karena transaksi dilakukan secara langsung tanpa harus melalui konversi mata uang ketiga seperti Dollar AS.

Kemudahan bagi sektor pariwisata bagi ekosistem transportasi dan pariwisata di Indonesia, kehadiran sistem pembayaran QR dari Bank of Korea ini diprediksi akan meningkatkan kenyamanan wisatawan mancanegara.

Para penumpang pesawat asal Korea Selatan kini tidak perlu lagi khawatir membawa uang tunai dalam jumlah besar atau mencari tempat penukaran uang (money changer) segera setelah mendarat di bandara. Mulai dari pembayaran transportasi bandara, kuliner, hingga belanja suvenir, semuanya bisa diselesaikan melalui satu genggaman ponsel.

Standar baru konektivitas regional Indonesia menjadi salah satu mitra kunci Korea Selatan dalam memperluas jaringan pembayaran digital di Asia Tenggara. Keberhasilan implementasi ini menempatkan Indonesia sejajar dengan negara tetangga seperti Thailand dan Singapura yang telah lebih dulu mengadopsi sistem serupa.

Bagi pemerintah Indonesia, kolaborasi ini juga memperkuat posisi QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) sebagai platform pembayaran universal yang ramah bagi turis asing.

Lihat Barcode atau QR Code di Tiket Anda? Inilah Maknanya!

Garuda Indonesia Group Unjuk Gigi: Armada Makin Siap, Citilink Pecah Rekor 48 Ribu Penumpang Sehari

Kabar baik datang dari maskapai pembawa bendera negara, Garuda Indonesia Group. Memasuki kuartal kedua tahun 2026, grup maskapai ini menunjukkan sinyal pemulihan yang semakin solid. Tidak hanya dari sisi finansial, penguatan fundamental ini berdampak langsung pada kenyamanan penumpang melalui kesiapan armada yang lebih baik dan ketepatan waktu (On-Time Performance) yang meningkat signifikan.

Salah satu motor penggerak pemulihan ini adalah kinerja positif PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI). Sebagai jantung perawatan pesawat grup, GMFI berhasil membukukan laba bersih sebesar US$33,9 juta pada tahun buku 2025. Perbaikan kinerja ini menjadi kunci utama dalam memastikan pesawat-pesawat Garuda Indonesia dan Citilink selalu dalam kondisi prima dan siap terbang (serviceable), meskipun tantangan rantai pasok global masih membayangi industri penerbangan.

Rekor Penumpang di Musim Lebaran 1447 H Bukti nyata dari pulihnya kepercayaan masyarakat terlihat pada periode peak season Idulfitri 1447 Hijriah (Maret 2026). Anak usaha Garuda, Citilink, berhasil memecahkan rekor jumlah penumpang harian tertinggi sepanjang sejarah operasionalnya. Pada 29 Maret 2026, maskapai berbiaya rendah (LCC) ini mengangkut sebanyak 48 ribu penumpang dalam satu hari.

Secara total, Garuda Indonesia Group melayani 1,1 juta penumpang selama periode Lebaran (14–29 Maret 2026). Lonjakan volume penumpang ini berhasil diimbangi dengan kualitas layanan yang mumpuni. Tingkat ketepatan waktu (On-Time Performance) grup mencatatkan angka 92,08%, sebuah capaian tertinggi dalam tiga tahun terakhir, jauh melampaui performa tahun 2024 dan 2025.

Keluar dari Pemantauan Khusus, Fokus pada Layanan Kepercayaan pasar terhadap grup ini juga semakin pulih setelah saham GMFI resmi keluar dari daftar Efek Pemantauan Khusus per 31 Maret 2026, menyusul langkah sang induk, GIAA. Direktur Utama GMF, Andi Fahrurrozi, menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan refleksi dari pemulihan substansial, bukan sekadar administratif.

Bagi para penumpang, penguatan fundamental ini berarti kepastian jadwal yang lebih baik dan ketersediaan kursi yang lebih luas. Di tahun 2026 ini, fokus grup adalah melanjutkan reaktivasi armada dan memperluas jangkauan pasar internasional.

Dengan kondisi finansial yang lebih sehat dan operasional yang disiplin, “Burung Garuda” beserta lini maskapainya siap kembali menjadi pilihan utama mobilitas udara masyarakat Indonesia dengan standar keselamatan dan keandalan yang lebih tinggi.

Garuda Indonesia Tebar Promo Tiket Jakarta-Arab Saudi Mulai Rp4 Jutaan, Cek Syaratnya!

Selain Diambil dari Bahasa Belanda, Ternyata Ada Asal Usul Lain pada Nama ‘Lampegan’

Masyarakat tentu paham betul nama dari daerah di Cianjur Jawa Barat ini sudah sangat terkenal jika menggunakan kereta api. Ya, baik stasiun maupun terowongan legendaris, nama Lampegan sudah santer di telinga masyarakat. Apalagi yang biasa menggunakan kereta api lokal Siliwangi dengan rute Sukabumi – Cianjur – Cipatat pulang pergi.

Lampegan, Terowongan Tertua di Indonesia, Abadikan Misteri Nyi Ronggeng

Meski bangunan stasiunnya kecil dan statusnya kelas 3, namun dari segi sejarah tentu area tersebut memiliki cagar budaya yang kental. Karena selain stasiun, terowongan yang digadang-gadang memiliki sejuta kisah tersebut masih dapat dijumpai lengkap dengan ornamennya yang kokoh.

Selain kisah yang panjang dan legendaris, terowongan maupun stasiun Lampegan turut menjadi bagian penting dalam perjalanan kereta api. Masyarakat yang menggunakan kereta api yang naik dan turun di Stasiun Lampegan pun cukup ramai, karena akses dari area tersebut menuju jalan raya antar kota cukup jauh.

Selain Lampegan Jalur KA Kawasan Ciganea juga Terkenal Ekstrem, Ini Penyebabnya

Lalu, kira-kira dari mana muncul nama Lampegan tersebut? Tak lain itu berasal dari kondektur kereta api yang tiap menjelang terowongan kerap berteriak: “Lampen aan!” yang berarti “nyalakan lampu”. Di telinga orang lokal kata-kata itu seolah terdengar sebagai “lampegan”.

Saat itu ada juga yang mengatakan “Lamp a gan,” yang berarti untuk memerintahkan agar lampu segera dinyalakan untuk membantu masinis mengemudi dalam terowongan gelap itu. Versi lainnya mengatakan bahwa Lampegan merupakan perintah mandor proyek Van Beckman yang mencampurkan bahasa Indonesia dengan Inggris pada anak buahnya, “Lamp pegang! Lamp pegang!” katanya ketika hendak memasuki terowongan untuk memantau hasil kerja mereka.

Lalu versi berikutnya dalam tulisannya, Kereta Api dan Jejak Penjajahan Belanda di Priangan: Dari Tanam Paksa Hingga Plesiran Kode teriakan dari petugas stasiun pada saat selesai menyalakan lampu adalah “lampen gaan”. Lampen gaan dari kata Belanda yang artinya lampu sudah menyala. Kata-kata ini berulang terus setiap lokomotif masuk ke arah terowongan dan itu kemudian ditangkap oleh orang-orang lokal yang menyangka itu adalah seolah-olah nama dari terowongan ini. Sehingga sampai sekarang disebut dengan Lampegan.

Menurut tiga tulisan di atas, setidak ada empat versi asal-usul, yaitu: lampen aan!, lamp a gan, lamp pegang!, dan lampen gaan untuk nama terowongan yang mulai dibangun tahun 1879, yang digali dari kedua sisinya. Dari arah Sukabumi terowongan digali di daerah Bencoy, Cireunghas, dan dari arah Cianjur digali di daerah Cimenteng, Campaka.

Pada Peta Topografi yang terbit tahun 1908, terowongan kereta api pertama di Hindia Belanda ini menembus bebatuan di antara Gunung Lampegan dan Gunung Kendeng. Nama stasiunnya mengacu pada nama geografi yang sudah terlebih dahulu dibangun dibandingkan dengan tempat di ujung barat-dayanya.

Nama geografi tempat penduduk bermukim sudah ada dengan nama Lampegan, mengikuti nama Gunung Lampegan. Pemberian nama perkebunan Lampegan pun karena lokasinya berada di sekitar Gunung Lampegan, yang dijadikan penanda bumi.

Nama geografi Gunung Lampegan diambil dari nama tumbuhan yang banyak tumbuh di sana, yaitu tumbuhan lampegan, sehingga menjadi ciri bumi kawasan. Dalam Kamus Basa Sunda karya R. Satjadibrata (cetakan pertama, Jakarta, 1946), lampegan, ngaran tatangkalan leutik, nama tumbuhan kecil.

Lintasan kereta api antara Batavia sampai Buitenzorg sudah dibangun oleh pihak swasta. Karena nilai ekonomi yang sangat tinggi di kawasan antara Bogor – Sukabumi – Cianjur. Pembangunan lintasan kereta api itu untuk mendukung pengangkutan hasil dari perkebunan-perkebunan yang sudah ada lebih dulu, satu di antaranya Perkebunan Lampegan.

Artinya, nama geografi Gunung Lampegan, kemudian menjadi nama Perkebunan Lampegan, dan Kampung Lampegan, sudah ada ketika lintasan kereta api itu dibangun. Pastilah nama terowongan sepanjang 632 meter dan nama stasiunnya mengacu pada nama geografi yang sudah ada, yaitu Lampegan, bukan dari teriakan masinis, lampen aan! lamp a gan, lamp pegang!, atau lampen gaan!

Julukan KA “Argo Peuyeum” Sempat Muncul Karena Adanya Stasiun Ini

Tak Perlu Paspor Lagi! Bandara Hong Kong Luncurkan 12 ‘e-Channel’ Biometrik Terbaru untuk Akses Bebas Dokumen

Otoritas Bandara Hong Kong (AAHK) resmi meningkatkan standar pelayanan digital mereka dengan meluncurkan 12 gerbang e-Channel biometrik terbaru di terminal keberangkatan Bandara Internasional Hong Kong (HKIA). Inovasi ini memungkinkan para penumpang yang memenuhi syarat untuk melewati proses imigrasi dan pemeriksaan keamanan tanpa perlu menunjukkan dokumen fisik seperti paspor atau tiket pesawat (document-free).

Langkah ini merupakan bagian dari transformasi besar-besaran Hong Kong dalam memanfaatkan teknologi pengenalan wajah (facial recognition) guna mempercepat arus penumpang. Dengan sistem terbaru ini, identitas penumpang akan diverifikasi secara instan melalui data biometrik yang telah terdaftar, sehingga mengurangi waktu antrean secara signifikan di titik-titik krusial bandara.

Kemudahan bagi Penumpang Internasional Gerbang e-Channel baru ini tidak hanya ditujukan bagi warga lokal, tetapi juga mencakup para pelancong internasional yang telah mendaftarkan data biometrik mereka saat kedatangan.

Setelah terdaftar, penumpang cukup berjalan melewati gerbang elektronik yang akan memindai wajah mereka dalam hitungan detik. Teknologi ini memastikan tingkat akurasi yang tinggi sekaligus menjaga keamanan protokol kesehatan dengan meminimalkan kontak fisik dengan petugas maupun perangkat mesin.

Indonesia Menjadi Negara Pertama di Dunia yang Terapkan “Seamless Corridor” Biometrik

Mendukung Pemulihan Pariwisata Global Peluncuran 12 unit tambahan ini membawa total gerbang biometrik di HKIA menjadi lebih banyak dan tersebar di area-area strategis. Direktur Operasi Bandara menyatakan bahwa modernisasi ini sangat krusial dalam menghadapi lonjakan penumpang pasca-pandemi. Dengan sistem yang lebih efisien, HKIA berambisi untuk mempertahankan posisinya sebagai salah satu hub penerbangan paling canggih dan ramah pengguna di dunia.

Bagi para pengguna Kabarpenumpang.com yang berencana bepergian ke atau transit di Hong Kong, inovasi ini menjanjikan pengalaman perjalanan yang lebih cerdas dan praktis. Pastikan Anda telah memeriksa kriteria pendaftaran biometrik di situs resmi imigrasi Hong Kong untuk menikmati fasilitas bebas dokumen ini pada kunjungan berikutnya.

Terminal 2 Bandara Hong Kong Siap Beroperasi Penuh Mei 2026

Wilayah Daop 2 Bandung Menjadi Titik Rawan Bencana Cukup Banyak, Ini Tindakan dari KAI

Kejadian yang menimpa Kereta Api (KA) Ciremai pada 1 April 2026 kemarin menjadi hal yang mengejutkan. Berada di area perbukitan yang berdekatan dengan Terowongan Sasaksaat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat tersebut terjadi saat cuaca sedang turun hujan. Alhasil perjalanan KA tersebut terganggu akibat adanya longsoran tanah di petak jalan Maswati – Sasaksaat.

Kejadian tersebut menyebabkan perjalanan KA Ciremai harus berhenti sementara di lokasi terdampak, tepatnya di KM 142+8/9 pada petak jalan Maswati – Sasaksaat. Gangguan ini terjadi sebagai dampak adanya hujan lebat dan kondisi alam di lokasi tersebut yang berada di luar kendali operasional KAI.

Informasi awal mengenai kejadian ini diterima oleh Pusdalopka Daop 2 Bandung dari crew KA Ciremai pada Rabu, 1 April 2026 pukul 14.53 WIB. Setelah menerima laporan tersebut, petugas segera melakukan koordinasi intensif untuk memastikan keselamatan perjalanan kereta api serta penanganan situasi di lapangan.

Petugas prasarana bersama tim terkait saat ini telah diterjunkan ke lokasi untuk melakukan penanganan di jalur lintasan tersebut dan melakukan evakuasi terhadap kondisi KA Ciremai. Akibat kejadian ini, untuk sementara waktu petak jalan Maswati – Sasaksaat terhalang dan tidak dapat dilalui perjalanan KA. KAI juga terus berkoordinasi dengan pihak terkait guna mempercepat proses penanganan.

Bila ditelusuri, wilayah Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung memiliki potensi jalur kereta api yang cukup rawan akan bencana. Pemantauan tersebut dibuktikan oleh KAI saat menjelang arus mudik Lebaran pada Maret 2026 lalu, ternyata banyaknya titik rawan tersebut khususnya area perbukitan maupun jembatan yang diawasi oleh KAI.

Sekitar 72 titik daerah rawan yang memerlukan pengawasan khusus di wilayah operasionalnya. Dari jumlah tersebut, dua lokasi, yaitu Bumiwaluya di Garut dan di Ciganea, Purwakarta, Jawa Barat, menjadi titik yang paling diawasi. Daerah-daerah pantauan tersebut memiliki karakteristik demografi yang meliputi lereng dan tebing.

Meskipun wilayah Daop 2 Bandung cukup ekstrem untuk kawasan rawan bencana, namun untuk mengurangi potensi bahaya yang dapat mengganggu perjalanan kereta api, KAI Daop 2 Bandung terus melaksanakan beberapa langkah, termasuk normalisasi saluran air dari sampah, pengangkutan lumpur, pembuatan trucuk dari bambu, pembuatan penahan tanah menggunakan karung berisi tanah, serta pembangunan retaining wall.

Sebagai tindakan antisipasi tambahan, petugas khusus juga ditempatkan di daerah pemantauan yang berisiko. Mereka bersiaga secara bergantian 24 jam untuk memantau potensi bencana. Petugas dapat langsung mengambil tindakan jika ada masalah di jalur yang dipantau. PT KAI Daop 2 Bandung juga telah menyiapkan Petugas Penilik Jalan (PPJ) dan staf posko untuk menjamin keamanan perjalanan kereta api di sepanjang jalur yang ada.

Selain itu, Alat Material Untuk Siaga (AMUS) juga disertakan di beberbagai lokasi stasiun termasuk Stasiun Bandung, Kiaracondong, Cicalengka, dan Tasikmalaya. AMUS ini meliputi pasir dalam karung, bantalan rel, perancah besi untuk menahan pondasi jalur, serta peralatan baik ringan maupun berat seperti Multi Tie Tamper (MTT) untuk memastikan jalur rel tetap aman untuk dilalui kereta.

Dari hal tersebut kesiapan operasional perjalanan kereta api juga harus selalu dilakukan seperti pemeriksaan menyeluruh terhadap sarana dan prasarana sebelum digunakan, serta meningkatkan keamanan dan pelayanan selama di perjalanan agar penumpang selalu aman dan nyaman dalam bepergian dengan kereta api.

Serba-serbi Kecelakaan Kereta Api, Antara Mitos dan Fakta

KA Sangkuriang: Perjalanan Favorit Bandung-Ketapang

Stasiun Bandung di awal Bulan Mei memang terlihat tak biasanya. Masyarakat memenuhi ruang tunggu stasiun dan juga peron jalur kereta api. Ya, bertepatan pada Jumat (1/5) PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) hadirkan perjalanan kereta api baru yang tentunya membuat masyarakat antusias menyambut kehadirannya. Apa lagi kalau bukan Kereta Api (KA) Sangkuriang.

KA Sangkuriang resmi dioperasikan KAI dengan keberangkatan perdana dari Stasiun Bandung pada pukul 14:45 WIB. Susunan rangkaian kereta api ini 3 kelas ekonomi premium, 5 kelas eksekutif, 1 kelas compartment suite class dan 1 kereta makan (restorasi). Dalam pembukaannya, rangkaian kereta kelas eksekutif dan ekonomi premium menggunakan jenis stainless steel. Dan untuk compartment suite class hasil modifikasi dari tim Balai Yasa Manggarai maupun Surabaya Gubeng.

Saat peluncuran KA Sangkuriang hadir langsung Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin di Stasiun Besar Bandung. Pada saat pemberangkatan pun, Bobby mengenakan topi pet khas merah dan mengacungkan tongkat dengan papan lingkaran hijau berupa semboyan 40, kemudian dia melepas perjalanan perdana KA yang namanya diambil dari cerita rakyat asal usul Gunung Tangkuban Parahu, Jawa Barat.

Dengan jarak tempuh perjalanan sepanjang 1.002 Km menjadikan KA Sangkuriang sebagai KA kedua dengan layanan terpanjang setelah KA Blambangan Ekspres rute Pasarsenen-Ketapang (1.031 Km). Waktu tempuhnya sama-sama di kisaran 16 jam dengan melewati 6 daerah operasi, mulai dari Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Madiun, Surabaya, dan Jember.

Kelas yang ditawarkan cukup lengkap mulai dari compartement berkapasitas 16 ruang, kelas eksekutif 50 seat, dan ekonomi 80 tempat duduk. Tingkat keterisian penumpang di hari perdana layanan lebih dari 100 persen. Khusus kompartemen, harganya menjadi paling mahal bisa tembus Rp 2,5 juta sekali jalan.

Dengan tanpa lagi transit di Surabaya, Kuswardojo optimis kehadiran KA Sangkuriang bisa mendorong jumlah kunjungan terutama aktivitas wisata Bandung dan Ketapang yang bisa menjadi akses ke Kawah Ijen dan Baluran serta akses ke Pulau Bali.

Kini KA Sangkuriang hadir sebagai jawaban atas tingginya kebutuhan konektivitas langsung dari Jawa Barat menuju Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga pintu menuju Pulau Bali. Perjalanan ini melintasi enam wilayah Daerah Operasi (Daop), yaitu Daop 2 Bandung, Daop 5 Purwokerto, Daop 6 Yogyakaeta, Daop 7 Madiun, Daop 8 Surabaya, dan Daop 9 Jember.

Manager Humasda Daop 2 Bandung Kuswardojo mengungkapkan bahwa kehadiran KA Sangkuriang langsung disambut antusiasme luar biasa dari masyarakat. Pada hari pertama beroperasi, penjualan tiket mencapai 1.076 tiket atau mencapai okupansi sebesar 235,9 persen dari total kapasitas harian. Tingginya angka penjualan tiket ini menunjukkan bahwa layanan rute langsung Bandung hingga Banyuwangi maupun sebaliknya merupakan favorit masyarakat karena tidak perlu transit.

Tak hanya sekadar moda transportasi saja, KA Sangkuriang diproyeksikan menjadi motor penggerak pariwisata antar daerah. Rute ini tentu menghubungkan berbagai destinasi unggulan nasional, mulai dari wisata cagar budaya di Yogyakarta dan Solo, kawasan pegunungan Bromo di Probolinggo, hingga destinasi alam Kawah Ijen di Banyuwangi.

Yuk Kenali Nama Kereta Api yang Terinspirasi dari Kerajaan-kerajaan di Indonesia

Bukan Hanya Gunung dan Sungai, Inilah Daftar Kereta Api Indonesia yang Menggunakan Nama Tumbuhan

Kereta api di Indonesia tentu identik dengan nama-nama yang diambil dari alam nusantara. Bahkan kerajaan-kerajaan di Indonesia pun kerap kita dengar bahwa turut di jadikan sebagai nama sesuai dengan rute kota tersebut. Selain itu ada berbagai keunikan yang disebutkan nama-nama kereta api yang dijadikan singkatan dari kota-kota di Indonesia khususnya Pulau Jawa.

Nama kereta api di Indonesia pun beragam kelas dan rute yang ditempuh. Bahkan ada pula yang dijadikan destinasi favorit dengan kereta api tertentu yang paling setia dalam perjalanan walaupun harga tiket yang sangat murah. Tak hanya itu ada pula yang rela membayar tiket mahal demi ingin menggunakan kereta api diambil dari nama tertentu, alasannya karena ingin bernostalgia walaupun pelayanan yang diberikan sudah sangat berbeda.

Nah, nama-nama kereta api yang kita kenal justru mengarah ke beberapa nama hewan mitologi, nama pegunungan, nama sungai, bahkan nama kerajaan yang sangat legendaris di Indonesia. Bahkan memiliki sejarah panjang yang bisa kita temukan dalam pelajaran sejarah di bangku sekolah. Namun, bagaimana jika nama kereta api diambil dari nama flora atau tumbuh-tumbuhan?

Tentu kereta api di Indonesia memiliki nama dari tumbuhan tersebut. Nah, kabarpenumpang akan merangkum nama-nama kereta api yang berasal dari nama tumbuhan, berikut rangkumannya:

• Kereta Api Pandanwangi (Jember – Ketapang pp.)
Bagi para pengguna setia transportasi kereta api di Jawa Timur, nama Pandanwangi mungkin lebih dikenal sebagai nama kereta api lokal. KA Pandanwangi adalah layanan kereta api ekonomi yang melayani rute Jember – Ketapang (Banyuwangi) pulang pergi. Kereta api ini menjadi pilihan transportasi yang terjangkau bagi masyarakat yang ingin bepergian antara Jember dan Banyuwangi. Dengan harga tiket yang relatif murah, KA Pandanwangi beroperasi dua kali sehari.

Nah, nama Pandanwangi sendiri juga merupakan tanaman yang kaya akan manfaat. Pandanwangi memiliki ciri khas daunnya yang panjang, hijau, dan mengeluarkan aroma harum yang khas. Aroma inilah yang membuat pandanwangi banyak digunakan sebagai bahan tambahan dalam berbagai hidangan. Selain memberikan aroma yang sedap, pandanwangi juga dipercaya memiliki berbagai manfaat kesehatan. Masyarakat tradisional sering menggunakan daun pandan untuk mengatasi masalah seperti nyeri sendi, sakit kepala, dan insomnia.

• Kereta Api Sri Tanjung (Lempuyangan – Ketapang pp.)
Rute kereta api ini sangat populer bagi penumpang yang ingin perjalanan jauh namun dengan tarif yang relatif murah. Ya, Kereta Api Sri Tanjung masih sangat digemari bagi penumpang khususnya wisatawan yang ingin menyeberang ke Pulau Bali. Karena kereta ini memiliki tujuan akhir Stasiun Ketapang yang merupakan stasiun yang berdekatan dengan Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur.

Diketahui bahwa nama Sri Tannjung memang diambil dari legenda rakyat Banyuwangi, yaitu kisah kesetiaan seorang istri bernama Sri Tanjung kepada suaminya, Raden Sidapaksa. Legenda ini dipercaya sebagai asal-usul nama Kabupaten Banyuwangi (air yang harum/wangi). Penggunaan nama ini bertujuan melestarikan cerita rakyat setempat.

Namun, ada pula nama kereta api ini dikaitkan dengan nama tumbuhan. Nama Sri Tanjung dapat pula dikaitkan dengan bunga tanjung (Mimusops elengi), sejenis bunga yang beraroma wangi. Bunga ini juga memiliki khasiat obat. Buahnya dapat dimakan.

• Kereta Api Argo Bromo Anggrek (Surabaya Pasar Turi – Gambir pp.)
Siapa yang tak kenal dengan kereta nomor wahid di Indonesia ini. Ya, Kereta Api Argo Bromo Anggrek yang merupakan kereta api unggulan PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) yang diresmikan pada 31 Juli 1995 oleh Presiden RI ke-2 Soeharto.

Nama kereta api ini memiliki arti masing-masing yang merujuk kekayaan alam Indonesia. Nama “Argo” berarti gunung (bahasa Jawa Kuno), “Bromo” merujuk pada gunung di Jawa Timur, dan “Anggrek” adalah julukan bunga kebanggaan Indonesia, sekaligus menandai keunggulan fasilitas “generasi kedua” yang lebih nyaman untuk kelas eksekutif.

Nama Kereta Api Favorit Ini Berasal dari Nama Sungai Terkenal di Indonesia, Apa Saja?

Garuda Indonesia Tebar Promo Tiket Jakarta-Arab Saudi Mulai Rp4 Jutaan, Cek Syaratnya!

Garuda Indonesia kembali memanjakan para pengguna jasanya dengan menghadirkan penawaran spesial untuk rute internasional. Kali ini, maskapai bintang lima tersebut mengoptimalkan ketersediaan kursi pada penerbangan langsung (non-stop) dari Jakarta menuju dua destinasi utama di Arab Saudi, yakni Jeddah dan Madinah, dengan harga yang sangat kompetitif mulai dari Rp4 jutaan.

Melalui siaran pers yang dirilis pada Rabu (1/4/2026), manajemen Garuda Indonesia menjelaskan bahwa penawaran ini merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk memberikan pengalaman perjalanan yang lebih praktis dan efisien dari sisi waktu tempuh. Dengan layanan langsung tanpa transit, penumpang dapat menikmati kenyamanan optimal melalui standar layanan full service yang selama ini menjadi ciri khas maskapai pembawa bendera bangsa tersebut.

Khusus untuk periode keberangkatan tanggal 3 hingga 6 April 2026, masyarakat dapat menikmati pilihan harga yang sangat menarik. Layanan kelas ekonomi tersedia mulai dari kisaran Rp4 jutaan, sementara bagi penumpang yang menginginkan kemewahan ekstra, kelas bisnis ditawarkan mulai dari Rp15 jutaan. Harga tersebut sudah mencakup seluruh fasilitas premium, mulai dari bagasi hingga hidangan selama penerbangan di atas pesawat.

Demi memberikan fleksibilitas maksimal, Garuda Indonesia memungkinkan calon penumpang untuk melakukan pemesanan tiket hingga empat jam sebelum jadwal keberangkatan. Proses reservasi dapat dilakukan dengan mudah melalui berbagai kanal penjualan resmi, mulai dari website Garuda Indonesia, aplikasi mobile FlyGaruda, hingga berbagai mitra online travel agent. Langkah ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat yang memiliki kebutuhan perjalanan mendesak namun tetap mengutamakan kenyamanan.

Optimalisasi ketersediaan kursi ini juga mencerminkan komitmen Garuda Indonesia dalam merespons tingginya minat masyarakat untuk melakukan perjalanan ke Timur Tengah, baik untuk keperluan ibadah maupun bisnis.

Rekor Baru! OTP Garuda Indonesia Group Tembus 92,08% Selama Musim Mudik Lebaran 2026

Badai Harga Avtur: Korean Air Masuk Mode Darurat, Industri Penerbangan Asia Pasifik Mulai Terguncang

Industri penerbangan di kawasan Asia Pasifik kini tengah bersiap menghadapi turbulensi ekonomi yang hebat akibat melonjaknya harga bahan bakar jet. Maskapai nasional Korea Selatan, Korean Air, baru saja mengumumkan transisi ke mode “manajemen darurat” sebagai langkah perlindungan terhadap dampak melambungnya biaya avtur yang dipicu oleh konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Keputusan ini diambil setelah harga minyak mentah melonjak lebih dari 50 persen sejak akhir Februari 2026, sementara harga bahan bakar jet global telah meningkat dua kali lipat dalam periode yang sama.

Dalam memo internalnya, Wakil Ketua Korean Air, Woo Ki-hong, menegaskan bahwa perusahaan akan menerapkan langkah-langkah pengurangan biaya internal guna memastikan stabilitas finansial di tengah ketidakpastian ekonomi global. Langkah serupa juga diikuti oleh maskapai Korea Selatan lainnya seperti Asiana Airlines dan Air Busan. Para ahli menyebutkan bahwa maskapai di Asia kini menghadapi “kejutan ganda”, yakni lonjakan harga minyak global yang dibarengi dengan kelangkaan pasokan avtur regional, memaksa mereka untuk mengerem investasi dan memperlambat pemutakhiran armada.

Kondisi serupa merambat ke negara-negara tetangga, termasuk Cina dan Hong Kong. China Eastern Airlines memberikan peringatan bahwa gangguan global ini akan membebani kinerja operasional mereka sepanjang tahun 2026.

Banyak maskapai di Cina mulai menaikkan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge), sementara kilang-kilang minyak di sana diperintahkan untuk menghentikan ekspor bahan bakar demi menjaga stabilitas harga domestik. Di Hong Kong, Cathay Pacific telah menerapkan biaya tambahan pada seluruh penerbangannya, yang memicu kenaikan harga tiket secara tajam bagi para penumpang.

Asia Tenggara pun tak luput dari dampak krisis energi ini. Singapore Airlines dan unit low-cost-nya, Scoot, telah menaikkan tarif untuk menutupi biaya avtur yang kini menyumbang sekitar 30 persen dari total pengeluaran mereka. Bahkan, pemerintah Singapura terpaksa menunda pemberlakuan pajak bahan bakar hijau yang semula dijadwalkan pada April 2026 demi meringankan beban maskapai.

Di Filipina, situasi bahkan lebih genting dengan deklarasi keadaan darurat energi nasional, di mana Presiden Ferdinand Marcos memperingatkan kemungkinan adanya pengandangan pesawat (grounding) akibat kelangkaan bahan bakar.

Meskipun maskapai besar seperti Qantas dan Singapore Airlines mencoba melakukan strategi relokasi rute untuk mengisi celah yang ditinggalkan maskapai Timur Tengah, maskapai kecil diprediksi akan menjadi pihak yang paling menderita.

Para ahli industri penerbangan mencatat bahwa maskapai dengan armada pesawat tua yang boros bahan bakar akan kesulitan bertahan karena memiliki keterbatasan ruang untuk melakukan efisiensi. Seiring dengan berlanjutnya konflik, peta persaingan dan cara kita terbang di masa depan dipastikan akan mengalami perubahan struktur yang signifikan.

Bagaimana Bisa Naiknya Harga Avtur Bakal Rugikan Maskapai dan Penumpang?