Ini Dampak Aktivitas Ekonomi Masyarakat dari Keberadaan KA Kertanegara

Perjalanan kereta api yang satu ini ternyata membuat masyarakat sebagai pengguna setia kereta api cukup terbantu. Tentunya dalam perjalanan yang menghubungkan baik dari Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga Jawa Timur maupun sebaliknya. Hal tersebut mendorong dengan adanya kereta api dengan rute yang tentunya banyak digemari masyarakat. Salah satu rute yang kini menjadi sorotan adalah Kereta Api (KA) Kertanegara.

Mulai dioperasikan pada 10 Maret 2021, kereta ini diperkenalkan satu bulan setelah peluncuran grafik perjalanan kereta api tahun 2021. Nama Kertanegara diambil dari raja terakhir Kerajaan Singasari, yaitu Kertanagara, yang memerintah sekitar tahun 1268–1292. Pengoperasian kereta api ini melibatkan perluasan rute perjalanan kereta api Malioboro Ekspres, yang sebelumnya hanya mencapai Yogyakarta.

Rute perjalanan Kereta api Kertanegara dimulai dari Malang dan berakhir di Purwokerto, mencakup jarak tempuh sejauh 559 km dengan waktu tempuh rata-rata 8 jam 48 menit. Frekuensi perjalanan kereta ini adalah satu kali setiap hari. Sejak 10 Maret 2021, KA Kertanegara menggunakan rangkaian kereta buatan PT Industri Kereta Api (INKA) yang terdiri dari empat kereta eksekutif, empat kereta ekonomi premium, satu kereta makan (M), dan satu kereta pembangkit (P).

PT KAI mencatat jumlah pelanggan KA Kertanegara relasi Malang–Purwokerto pergi pulang (pp) mencapai 168.085 orang sepanjang Januari hingga Mei 2026, atau naik 5,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 159.637 pelanggan.

Menurut Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan peningkatan jumlah pelanggan tersebut menunjukkan KA Kertanegara semakin menjadi pilihan masyarakat untuk bepergian antarkota di wilayah Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Jawa Tengah. Menurut dia, layanan tersebut turut memperkuat konektivitas di lintas tengah Jawa sekaligus mendukung berbagai aktivitas masyarakat.

Lonjakan penumpang paling tinggi terjadi pada Maret 2026. Pada bulan tersebut, KA Kertanegara melayani 41.282 penumpang atau meningkat 65,94 persen dibandingkan Maret 2025 yang tercatat sebanyak 24.877 penumpang. Sementara itu, pada Mei 2026 jumlah penumpang mencapai 35.807 orang, naik dari 31.811 penumpang pada Mei tahun sebelumnya.

Anne menuturkan keberadaan KA Kertanegara juga memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi di daerah yang dilalui. Meningkatnya mobilitas penumpang dinilai berpotensi mendorong sektor transportasi lanjutan, usaha mikro, kuliner, penginapan, hingga destinasi wisata di sekitar stasiun. Setiap stasiun pemberhentian memiliki cerita dan manfaat bagi daerahnya. Ada penumpang yang menuju kampus, bertemu keluarga, bekerja, berwisata, atau menjalankan usaha.

Diketahui bahwa KA Kertanegara menghubungkan sejumlah kota seperti Malang, Blitar, Kediri, Madiun, Solo, Yogyakarta, Kebumen, hingga Purwokerto, sehingga menjadi salah satu alternatif transportasi bagi masyarakat untuk keperluan pendidikan, pekerjaan, maupun wisata. Tentunya, KAI ingin perjalanan dengan KA Kertanegara terasa menyenangkan sejak berangkat, nyaman selama di perjalanan, dan memberi nilai bagi kota-kota yang dilalui.

KAI juga mengimbau kepada masyarakat merencanakan perjalanan lebih awal, terutama menjelang akhir pekan dan masa liburan sekolah, mengingat tingginya minat masyarakat menggunakan layanan KA Kertanegara. Informasi mengenai jadwal, tarif, dan ketersediaan tempat duduk dapat diakses melalui kanal resmi penjualan KAI.

KAI Luncurkan Entertainment on Board Gratis di KA Taksaka, Syaratnya Harus Aktifkan “Flight Mode” di Ponsel

Kisah Panjang Stasiun Gambir di era Kolonial, Hingga Wacana Kembalinya Layanan KRL

Rasanya tak ada habisnya berbagai platform media sosial membahas tentang stasiun nasional yang menjadi tulang punggung kedatangan dan keberangkatan Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ). Apalagi berbagai wacana yang salah satunya pengoperasian layanan Kereta Rel Listrik (KRL) akan diberlakukan di stasiun nasional ini. Ya, Stasiun Gambir bakal terus menjalani revitalisasi besar-besaran pada tahun 2028 mendatang.

Rencana tersebut mengingatkan kembali perjalanan panjang Stasiun Gambir yang pernah melayani KRL sebelum akhirnya fokus sebagai stasiun KAJJ. Diketahui Stasiun Gambir adalah sebuah stasiun kelas besar tipe A yang berada di Jakarta Pusat. Terletak di ketinggian +16 meter di atas permukaan laut, Stasiun Gambir masuk dalam Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta.

Stasiun Gambir Jadi Stasiun Nasional, Pemberhentian KRL dan KAJJ Bakal Berdampingan

Melalui informasi akun resmi KAI, cikal bakal Stasiun Gambir bermula dari sebuah halte sederhana bernama Halte Koningsplein yang berdiri pada 1871. Halte ini dibangun oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) di kawasan yang saat itu masih berupa tanah rawa, tepatnya di sekitar Lapangan Raja atau Koningsplein yang kini menjadi kawasan Silang Monas.

Halte tersebut melayani perjalanan kereta Batavia menuju Buitenzorg atau Bogor. Seiring meningkatnya jumlah penumpang, NISM kemudian membangun Stasiun Weltevreden pada 4 Oktober 1884 di lokasi Stasiun Gambir saat ini. Bangunan baru itu memiliki konstruksi yang lebih kokoh dengan atap besi yang ditopang tiang besi cor.

Menurut keterangan KAI, pengelolaan Stasiun Weltevreden beralih kepada Staatsspoorwegen (SS) pada tahun 1913. Setelah itu dilakukan renovasi besar pada 1928 sehingga bangunan stasiun mengusung gaya arsitektur art deco dengan perluasan atap di sisi utara. Kemudian pada tahun 1937, nama stasiun berubah menjadi Stasiun Batavia Koningsplein. Saat itu, stasiun tersebut menjadi salah satu simpul transportasi terpenting di Hindia Belanda karena hampir seluruh perjalanan kereta api jarak jauh singgah di lokasi tersebut.

KAI juga menjelaskan bahwa penyebutan nama Stasiun Gambir diduga mulai populer sekitar 1922 ketika masyarakat lebih sering menyebut kawasan Koningsplein sebagai Lapangan Gambir. Nama itu kemudian terus digunakan hingga setelah Indonesia merdeka. Namun di sisi lain, ada pula yang mengatakan kalau namanya diambil dari nama seorang Letnan Belanda keturunan Prancis bernama Gambier. Konon ia ditugaskan oleh Daendels untuk membuka jalan ke arah selatan.

Transformasi besar kembali terjadi pada 1988 ketika pemerintah membangun jalur layang Jakarta Kota-Manggarai. Bangunan lama Stasiun Gambir dibongkar dan digantikan dengan bangunan baru yang diresmikan pada 5 Juni 1992. Bangunan tiga lantai dengan empat jalur kereta itu mengadopsi bentuk atap bergaya Joglo yang masih menjadi ciri khas hingga sekarang.

Setelah diresmikan sebagai stasiun layang, Stasiun Gambir masih melayani perjalanan KRL selama beberapa tahun. Namun, layanan KRL di Stasiun Gambir resmi dihentikan pada 2012. Pemberhentian KRL kemudian dialihkan ke Stasiun Gondangdia dan Stasiun Juanda, sementara Stasiun Gambir difokuskan sebagai stasiun utama yang melayani perjalanan kereta api jarak jauh.

Wacana mengembalikan layanan KRL di Stasiun Gambir kembali mencuat seiring rencana transformasi kawasan stasiun. Meski sudah beberapa kali dibahas dalam beberapa tahun terakhir, hingga kini rencana tersebut masih dalam tahap pengembangan dan belum direalisasikan.

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengatakan pemerintah tengah menyiapkan transformasi Stasiun Gambir agar dapat melayani kereta api jarak jauh sekaligus KRL. Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian dari program beautifikasi untuk memperkuat konektivitas transportasi perkeretaapian.

Kehadiran layanan KRL di Stasiun Gambir tidak akan mengurangi peran Stasiun Manggarai sebagai simpul utama perkeretaapian. Sebaliknya, kedua stasiun akan memiliki fungsi yang saling melengkapi sehingga perpindahan penumpang antarmoda menjadi lebih mudah. Apabila terealisasi, Stasiun Gambir akan kembali melayani KRL setelah lebih dari satu dekade berhenti menjadi pemberhentian kereta komuter.

Jejak Sejarah Yang Terlupakan, Stasiun Gambir Dulunya Adalah Tanah Rawa

Bukan Cuma Indonesia, Tiga Negara Tetangga Ini Juga Punya Kereta Panoramic Mewah

Kehadiran Kereta Panoramic yang dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) melalui anak usahanya, KAI Wisata, telah sukses mencuri perhatian para pencinta moda transportasi rel di tanah air. Dengan kaca jendela berukuran ekstra besar di kedua sisi dan atap kaca (sunroof) otomatis yang dapat dibuka-tutup, kereta ini memberikan pengalaman visual yang memukau sepanjang perjalanan menembus lanskap hijau Pulau Jawa.

Keberhasilan konsep ini ternyata sejalan dengan tren pariwisata berbasis rel (rail tourism) yang sedang berkembang pesat di kawasan regional. Selain Indonesia, sejumlah negara di Asia Tenggara ternyata juga menghadirkan layanan kereta serupa yang mengandalkan desain jendela panorama untuk memanjakan mata para pelancong.

Vietnam menjadi salah satu negara yang paling agresif dalam menggarap pasar kereta wisata premium berkonsep panorama. Melalui kerja sama dengan grup perhotelan mewah Anantara, negara ini menghadirkan layanan bernama The Vietage. Kereta mewah ini melayani rute pesisir tengah Vietnam yang menghubungkan Da Nang, Quy Nhon, hingga Nha Trang.

Setiap bilik pribadi di dalam kereta didesain dengan jendela-jendela besar yang memberikan pandangan tak terbatas ke arah hamparan sawah, perbukitan hijau, dan garis pantai Laut China Selatan selama enam jam perjalanan. Selain The Vietage, Vietnam juga memiliki SJourney Express yang menawarkan konsep luxury rail tour lintas utara-selatan, menggunakan gerbong berdesain klasik yang dilengkapi jendela panorama berukuran besar untuk menikmati keindahan pedesaan Vietnam yang ikonik.

Tidak ketinggalan, Thailand melalui otoritas kereta apinya, State Railway of Thailand (SRT), juga aktif merestorasi dan memodifikasi armada mereka demi mendukung sektor pariwisata. Salah satu andalan terbaru mereka adalah SRT Royal Blossom, gerbong wisata premium yang didesain ulang secara khusus dengan jendela kaca yang dibuat jauh lebih lebar, tinggi, dan minim sekat masif. Kereta ini secara berkala dioperasikan untuk rute-rute wisata domestik dari Bangkok menuju kota-kota bersejarah atau destinasi alam. Selain itu, SRT juga mengoperasikan kereta legendaris KiHa 183 hasil hibahan dari JR Hokkaido Jepang.

Penumpang Kian Meningkat, Ternyata Ini Keunggulan yang Bikin Kereta Panoramic Makin Digemari

Keunikan dari KiHa 183 ini terletak pada posisi kabin masinis yang berada di lantai atas (elevated), sehingga penumpang yang duduk di barisan paling depan dapat menikmati pandangan panoramic ke arah depan lintasan rel, menyajikan sensasi perjalanan yang sangat mirip dengan kereta wisata di negeri sakura.

Bagi mereka yang mencari kemewahan kelas dunia di atas rel, jalur lintas batas yang menghubungkan Singapura dan Malaysia menawarkan pengalaman legendaris melalui Eastern & Oriental Express yang dikelola oleh operator ternama Belmond. Kereta mewah ini membawa penumpang menerobos lebatnya hutan tropis, perkebunan kelapa sawit, dan pemukiman tradisional di sepanjang semenanjung Malaya.

Daya tarik utama dari kereta ini adalah keberadaan gerbong observasi (Observation Car) yang ditempatkan di bagian paling belakang rangkaian. Gerbong ini mengombinasikan area semi-terbuka dengan jendela melengkung berukuran raksasa yang menyuguhkan pemandangan lanskap Asia Tenggara secara 180 derajat tanpa halangan, lengkap dengan tiupan angin alami yang menambah kesan petualangan romantis masa lalu.

Melalui berbagai inovasi tersebut, negara-negara di Asia Tenggara membuktikan bahwa perjalanan dengan kereta api kini bukan lagi sekadar urusan berpindah dari satu titik ke titik lain, melainkan sebuah destinasi pariwisata itu sendiri. Jika Indonesia unggul dengan keunikan atap kaca komersial regulernya, negara-negara tetangga berhasil mengemas konsep jendela panorama ini ke dalam paket wisata premium dan kereta charter eksklusif. Kehadiran kereta-kereta panoramic ini semakin memperkaya pilihan bagi para pelancong domestik maupun internasional untuk mengeksplorasi kekayaan alam dan budaya Asia Tenggara dengan cara yang lebih lambat, mendalam, dan tentu saja, estetis.

Dongkrak Sektor Pariwisata, Thailand Gandeng Raksasa Perhotelan Garap Jaringan Kereta Mewah Kelas Dunia

Termasuk Indonesia, UEA Berikan Fasilitas Visa on Arrival untuk Empat Negara Asia Tenggara

Uni Emirat Arab (UEA) secara resmi melakukan manuver besar dalam kebijakan imigrasinya demi mendongkrak arus kunjungan wisatawan dan pebisnis global ke negaranya. Pemerintah UEA mengumumkan pemberian fasilitas Visa on Arrival (VoA) bagi warga negara dari empat negara di kawasan Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Kebijakan strategis ini memungkinkan para pelancong dari keempat negara tersebut untuk memperoleh visa kunjungan langsung di seluruh pintu perlintasan udara, laut, maupun darat sesaat setelah mereka mendarat di emirat-emirat utama seperti Dubai maupun Abu Dhabi, tanpa perlu lagi melakukan proses pengurusan visa yang rumit dari negara asal.

Berdasarkan regulasi terbaru yang dirilis oleh Otoritas Identitas, Kewarganegaraan, Bea Cukai, dan Keamanan Pelabuhan Federal (ICP) UEA, fasilitas Visa on Arrival yang diberikan ini berlaku untuk jangka waktu tinggal maksimal selama 30 hari. Kebijakan ini dirancang dengan fleksibilitas tinggi bagi para pengguna jasa transportasi udara, di mana para pelancong dapat memperpanjang masa tinggal tersebut untuk jangka waktu 30 hari berikutnya dengan membayar biaya administrasi yang telah ditentukan secara resmi oleh pihak otoritas setempat. Kemudahan ini tentu menjadi angin segar, khususnya bagi para pelancong mandiri (backpacker) maupun wisatawan korporat yang seringkali membutuhkan mobilitas dinamis ke wilayah Timur Tengah.

Kendati memberikan kelonggaran besar, Pemerintah UEA tetap menerapkan sejumlah persyaratan standar kepatuhan imigrasi demi menjaga keamanan nasional mereka. Dokumen wajib yang harus dipersiapkan oleh setiap penumpang dari empat negara Asia Tenggara tersebut saat berada di konter imigrasi bandara meliputi paspor dengan masa berlaku minimal enam bulan dari tanggal kedatangan.

Selain itu, para pelancong juga diwajibkan untuk menunjukkan tiket penerbangan pulang-pergi (return ticket) yang valid, serta bukti akomodasi yang jelas selama berada di UEA, baik berupa pemesanan hotel terkonfirmasi maupun surat undangan resmi jika menginap di kediaman kerabat.

Langkah akomodatif yang diambil oleh UEA ini dipandang para analis industri penerbangan sebagai strategi jitu untuk bersaing memperebutkan kue pasar pariwisata premium di kawasan Asia Tenggara yang tengah tumbuh pesat. Dengan memangkas birokrasi visa, UEA berambisi menjadikan kota-kota seperti Dubai dan Abu Dhabi tidak sekadar sebagai titik transit penerbangan internasional (hub airport), melainkan sebagai destinasi akhir yang wajib dikunjungi.

Kebijakan ini juga diproyeksikan akan memberikan stimulus positif secara langsung terhadap tingkat keterisian kursi (load factor) maskapai-maskapai raksasa lokal seperti Emirates dan Etihad Airways yang melayani rute langsung ke Jakarta, Manila, Bangkok, hingga Hanoi.

Bagi para pengguna jasa transportasi udara dan pencinta pelesiran di tanah air, keputusan ini secara otomatis memotong biaya perjalanan pengurusan visa yang selama ini kerap menjadi kendala psikologis sebelum terbang. Dengan berlakunya aturan baru ini, merencanakan liburan menyaksikan kemegahan Burj Khalifa atau menjelajahi eksotisme gurun pasir di Dubai kini menjadi jauh lebih mudah, cepat, dan ekonomis.

Dongkrak Sektor Pariwisata, Thailand Gandeng Raksasa Perhotelan Garap Jaringan Kereta Mewah Kelas Dunia

Pemerintah Thailand terus melakukan manuver agresif untuk memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata utama di Asia Tenggara. Langkah terbaru yang diambil tidak lagi berfokus pada moda transportasi udara, melainkan membidik optimalisasi infrastruktur rel melalui pengembangan layanan kereta api wisata mewah berkelas dunia (luxury train services).

Kementerian Transportasi Thailand kini tengah mempercepat rencana strategis tersebut untuk menarik segmen pelancong internasional kelas atas (high-spending travelers) serta mendorong pemerataan ekonomi di wilayah-wilayah pelosok. Langkah ambisius ini diambil dengan memanfaatkan momentum regulasi baru, yakni Undang-Undang Transportasi Kereta Api (Rail Transport Act) 2026, yang membuka pintu lebar-lebar bagi keterlibatan sektor swasta dalam kepemilikan dan pengoperasian armada di jaringan rel milik negara.

Guna mengeksekusi visi besar ini, Kementerian Transportasi Thailand telah melakukan pembicaraan tingkat tinggi dengan Minor International Public Company Limited (MINT), salah satu raksasa industri perhotelan dan hospitalitas global yang terkenal lewat jaringan hotel mewah seperti Anantara. Kolaborasi strategis ini dipimpin langsung oleh Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Transportasi Thailand, Phiphat Ratchakitprakarn. Melalui kemitraan pemerintah-swasta (Public-Private Partnership / PPP) ini, keahlian Minor Group dalam menyajikan pelayanan premium akan dikombinasikan dengan kapabilitas teknis State Railway of Thailand (SRT). Proyek ini juga disinergikan dengan proyek domestik milik SRT, “Siamese Train”, yang berfokus pada restorasi dan modifikasi interior gerbong kereta agar memiliki fasilitas setara hotel berbintang, lengkap dengan sentuhan seni dari pengrajin lokal Thailand.

Kehadiran Undang-Undang Perkeretaapian yang baru diundangkan pada tahun 2026 ini menjadi katalis penting yang mengubah peta industri transportasi di Negeri Gajah Putih. Regulasi ini melakukan deregulasi mendasar yang untuk pertama kalinya mengizinkan perusahaan swasta untuk berinvestasi, ikut memiliki, dan mengoperasikan layanan kereta di atas jalur rel SRT. Bagi pemerintah Thailand, skema ini merupakan solusi cerdas untuk memaksimalkan utilitas aset infrastruktur rel ganda (double-track) yang telah dibangun secara masif, sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru yang berkelanjutan bagi SRT guna mendukung penyehatan fiskal jangka panjang sang operator pelat merah tersebut.

Berbeda dengan layanan kereta komuter reguler yang berfungsi sebagai sarana mobilisasi harian, rute-rute kereta mewah ini didesain sebagai mesin penggerak distribusi kekayaan ke wilayah pedesaan. Kementerian Transportasi Thailand berencana menggandeng Kementerian Pariwisata dan Olahraga serta Tourism Authority of Thailand (TAT) untuk merancang rute-rute tematik yang menarik. Jaringan kereta ini nantinya tidak hanya menghubungkan kota-kota wisata utama (primary destinations), tetapi juga menembus kota-kota sekunder (secondary-tier provinces) yang kaya akan potensi wisata budaya dan sejarah namun selama ini minim akses. Setiap perjalanan akan dikonsep secara unik dengan mengangkat narasi lokal, kuliner khas daerah, dan pengalaman budaya langsung guna meningkatkan daya pikat bagi para turis.

Pada akhirnya, transformasi layanan kereta api menjadi moda pariwisata premium ini diyakini akan memberikan dampak rembesan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat akar rumput. Kehadiran turis asing berkantong tebal di sepanjang jalur perkeretaapian akan memicu permintaan yang tinggi pada sektor akomodasi lokal, pemandu wisata, pusat perbelanjaan, hingga konsumsi produk pertanian dan kerajinan tangan daerah.

Dengan strategi penyelarasan antara transportasi, perdagangan, dan hospitalitas ini, Thailand tidak hanya sekadar meng-upgrade sistem perkeretaapian nasionalnya, melainkan juga menciptakan ekosistem pariwisata berkualitas tinggi yang mampu meningkatkan daya saing global negara tersebut dalam jangka panjang.

Dobrak Monopoli Abadi: Thailand Resmi Buka Jaringan Kereta Nasional untuk Operator Swasta

Simbol Konektivitas Jawa dan Sumatra, Jejak Ratusan Tahun Stasiun Merak yang Tak Pernah Padam

Sebagai jalur kereta api paling barat Pulau Jawa, tentu menyimpan cerita bersejarah mengenai kereta api yang melintas. Apalagi sangat dikenal sejak jaman Kolonial Belanda yang digunakan sebagai penghubung jalur perdagangan maupun angkutan masyarakat. Bahkan hingga kini jalur tersebut masih banyak digunakan untuk menyambung aktivitas dari berbagai kota khususnya wilayah Banten dan sekitarnya.

Ya, jalur ini cukup terkenal antara Stasiun Rangkasbitung hingga paling akhir di Stasiun Merak. Bahkan stasiun yang digadang-gadang memiliki aset bersejarah ini pun merupakan transportasi penghubung antara Jawa dan Sumatra. Stasiun Merak yang bangunannya terlihat sederhana ini sudah tak asing lagi dengan aktivitas kereta api yang dikenal sebagai lokalnya jalur barat. Masyarakat pun tentunya sangat terbantu dengan transportasi kereta api tersebut dengan tarifnya yang terjangkau dan murah.

Diketahui Stasiun Merak diresmikan pada 1 Desember 1914 oleh Staatsspoorwegen Hindia Belanda. Sejak awal, stasiun ini dibangun untuk mendukung pergerakan penumpang dan barang, khususnya bagi masyarakat yang akan menyeberang ke Sumatra melalui jalur laut. Terletak di pesisir Cilegon, Banten, Stasiun Merak menjadi titik temu penting antara jalur rel dan jalur laut.

Hingga kini, arsitektur bergaya Indische Klasik masih dipertahankan, menjadikan Stasiun Merak bagian penting dari sejarah perkeretaapian nasional. Keunggulan utama Stasiun Merak adalah lokasinya yang bersebelahan langsung dengan Pelabuhan Penyeberangan Merak–Bakauheni. Integrasi ini memudahkan penumpang berpindah moda transportasi dengan cepat, baik menuju kapal laut, bus antarkota, maupun angkutan lokal.

Stasiun Merak sekarang ini melayani perjalanan KA Commuter Line Merak dengan relasi Merak-Rangkasbitung (pp) sebanyak 14 perjalanan setiap hari. Volume pelanggan mencapai rata-rata 1.300 orang per hari atau sekitar 40.000 pelanggan per bulan. Sebagian besar adalah pengguna komuter harian, sementara sisanya merupakan wisatawan dan penumpang yang akan melanjutkan perjalanan dengan kapal penyeberangan di Pelabuhan Merak.

Stasiun Merak, Pilihan Integrasi Lintas Moda Penumpang Kapal Ferry

Berbagai fakta tentunya bisa ditemukan di Stasiun Merak. Diketahui bahwa pada dekade 1890-an, perusahaan kereta api Staatsspoorwegen (SS) memiliki rencana untuk membangun jalur kereta api yang menghubungkan wilayah Duri hingga Serang, melalui Tangerang dan Cikande. Tujuan utama dari proyek ini adalah meningkatkan mobilitas penumpang dari Batavia ke kawasan Banten, sehingga perjalanan dapat berjalan lebih lancar dan terkoneksi secara efisien melalui jalur kereta api yang direncanakan.

Sejarah menyebutkan pada Stasiun Merak ini awalnya memiliki kanopi kayu dan berdekatan langsung dengan laut dan dermaga. Diperkirakan, kanopi ini dihancurkan pada masa kemerdekaan. Bangunan ini sebelumnya dilengkapi dengan turntable dan jalur cabang menuju Pelabuhan Indah Kiat untuk kereta api angkutan bubur kertas, namun fasilitas tersebut telah dibongkar dan tidak lagi ada.

Fakta lainnya adalah bangunan stasiun asli telah dihancurkan pada akhir 1980-an untuk pembangunan terminal penyeberangan kapal feri, yang sekarang menjadi kantor Pelabuhan ASDP Merak. Pada masa lalu, antara Stasiun Merak dan Stasiun Krentjeng (Krenceng), terdapat Halte Rangkamila dan Halte Tegalwangi, tetapi keduanya tidak aktif lagi.

Hingga kini, Stasiun Merak menjadi contoh nyata bagaimana aset bersejarah dapat terus berperan dalam sistem transportasi modern. Melalui inovasi digital seperti aplikasi Access by KAI, masyarakat kini dapat memesan tiket, mengecek jadwal perjalanan secara real-time, memilih tempat duduk, hingga mengakses informasi promo dengan lebih mudah. Meski usianya lebih dari seratus tahun, Stasiun Merak tetap menjadi nadi transportasi dan simbol keterhubungan antarpulau, menjembatani masa lalu dan masa depan perkeretaapian Indonesia.

Stasiun Krenceng, Kecil Namun Memiliki Keunikan

Penumpang Kian Meningkat, Ternyata Ini Keunggulan yang Bikin Kereta Panoramic Makin Digemari

Dalam melakukan perjalanan kereta api, tentu yang menarik perhatian adalah menikmati pemandangan dari balik jendela. Apalagi jalur kereta api yang membentang melewati pesona alam Indonesia yang memiliki berbagai lokasi yang terbaik dan terlihat kagum. Ya, menggunakan kereta api sambil melihat indahnya pemandangan alam jika disuguhkan dari atas kereta wisata yang hingga kini masih terbilang populer. Kereta wisata Panoramic ternyata makin hari makin digemari masyarakat untuk melakukan perjalanan yang istimewa.

Menurut data yang diterima dari PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) mencatat pertumbuhan penumpang Kereta Panoramic periode Januari-Mei 2026 meningkat 62,32% secara tahunan. VP Corporate Communication KAI, Anne Purba mengatakan jumlah penumpang Kereta Panoramic mencapai 79.933 orang pada Januari-Mei 2026. Adapun, pada periode yang sama tahun sebelumnya hanya 49.244 orang.

Peningkatan tersebut sejalan dengan tren pariwisata nasional. Kementerian Pariwisata mencatat sepanjang Januari-November 2025 lalu jumlah perjalanan wisatawan nusantara mencapai 1,09 miliar perjalanan atau tumbuh 18,95% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut menjadi rekor tertinggi pergerakan wisata domestik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Anne menuturkan pertumbuhan pelanggan Kereta Panoramic mencerminkan perubahan preferensi masyarakat dalam menikmati perjalanan kereta api. Perjalanan kini menjadi bagian dari pengalaman wisata dan penumpang ingin menikmati setiap momen selama perjalanan.

Saat ini Kereta Panoramic hadir pada rangkaian Kereta Api (KA) Argo Wilis relasi Bandung – Surabaya Gubeng (PP), KA Turangga relasi Bandung – Surabaya Gubeng (PP), KA Pangandaran relasi Gambir – Banjar (PP), KA Papandayan relasi Gambir – Garut (PP), KA Parahyangan relasi Gambir–Bandung (PP), serta KA Manahan relasi Gambir – Solo Balapan (PP). Nah, dari berbagai kereta api yang menghadirkan Panoramic ternyata memiliki keunggulan yang hingga kini digemari masyarakat.

Sejak pertama kali diluncurkan, kereta ini langsung mencuri perhatian para pelancong karena tampilannya yang beda dari kereta api pada umumnya. Layanan ini didesain khusus untuk memberikan pengalaman sightseeing atau melihat pemandangan secara maksimal selama perjalanan. Serta bertujuan agar penumpang tidak hanya sampai ke tujuan, tapi juga menikmati setiap jengkal keindahan alam di sepanjang jalur rel.

Kereta Panoramic menyuguhkan jendela kaca yang ukurannya sangat besar di kedua sisi kabin. Tidak hanya itu, bagian paling istimewa adalah atap kaca (panoramic roof) yang membentang dari depan ke belakang. Karena didominasi oleh kaca, suasana di dalam kabin terasa sangat lega dan tidak membuat merasa terkurung dalam kotak besi.

Kursi yang di desain pada Kereta Panoramic pun memiliki keunikan, salah satunya bisa diputar menghadap jendela. Jadi, jika bosan melihat ke depan, penumpang tinggal memutar kursi untuk langsung menghadap ke pemandangan luar yang memukau. Tentunya inovasi ini membuktikan bahwa kereta api kini bukan hanya sekadar moda transportasi, tetapi telah bertransformasi menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman wisata yang unik dan berkesan.

KAI mencatat antusiasme pelanggan terhadap Kereta Panoramic terus meningkat. Fitur 90 derajat menjadi salah satu pengalaman khas yang memperkuat posisi layanan ini sebagai premium scenic train di Indonesia. Dan yang pasti, dukungan serta kepercayaan masyarakat menjadi motivasi bagi KAI untuk terus berinovasi dan menghadirkan layanan kereta api yang tidak hanya memenuhi kebutuhan transportasi, tetapi juga memberikan pengalaman perjalanan yang berkesan dan sesuai dengan perkembangan zaman.

Kereta Panoramic Belum Bisa Dioperasikan Secara Reguler, Kenapa? Ini Jawaban dari PT KAI

Tingkatkan Standar Keselamatan, India Sukses Gelar Uji Tabrak Kereta Skala Penuh pada Kereta LHB

Badan Riset dan Standar Perkeretaapian India, Research Designs & Standards Organisation (RDSO), bersama Automotive Research Association of India (ARAI) sukses melaksanakan uji kelaikan tabrak (crashworthiness test) skala penuh pada kereta jenis Linke Hofmann Busch (LHB). Pengujian komprehensif ini dilakukan secara khusus pada armada kereta varian LSLRD (LHB Second Class Luggage Brake & Generator Car with Guard’s Compartment) dan LWSPP.

Langkah krusial ini diambil guna memastikan armanda kereta penumpang masa depan di India memenuhi parameter keamanan global yang ketat. Pelaksanaan uji tabrak ini sengaja dikalibrasi agar sepenuhnya sesuai dengan standar internasional EN 15227, yang merupakan regulasi standar Eropa untuk persyaratan kelaikan tabrak (crashworthiness) pada badan kendaraan perkeretaapian.

Melalui simulasi tabrakan skala penuh tersebut, tim penguji berhasil memperoleh berbagai data dampak (impact data) yang sangat krusial. Data teknis yang dikumpulkan secara langsung dari lapangan ini nantinya akan digunakan sebagai basis validasi desain bodi kereta, memperkuat sekaligus menaikkan standar keselamatan (safety standards) industri perkeretaapian, serta secara signifikan meningkatkan proteksi penumpang pada moda transportasi rel di India untuk masa depan.

Keberhasilan uji coba ini menandai lompatan besar bagi ekosistem perkeretaapian India dalam mengadopsi teknologi keselamatan mutakhir guna meminimalkan risiko fatalitas saat terjadi insiden di lintasan.

Inilah Kavach, Teknologi Asli India Cegah Dua Kereta Tabrakan

Bagaimana Slot Bandara Dialokasikan ke Maskapai dan Mengapa Slot Bandara Sangat Berharga?

Pada tahun 2016, Oman Air dan Bandara Heathrow memecahkan rekor harga dunia untuk sepasang slot (lepas landas dan mendarat). Oman Air membayar US$75 juta untuk hak mendarat di Heathrow, termasuk mendapatkan slot kedatangan di pagi hari yang diperebutkan. Lantas, bagaimana slot bandara dialokasikan ke maskapai dan mengapa slot bandara sangat berharga?

Baca juga: Apa Itu Landing Slot Bandara, yang Bikin Maskapai Rusia Rugi Rp1 Triliun Gegara Inggris?

Pesawat maskapai perlu mendapat slot bandara, terdiri dari landing slot atau slot pendaratan dan take off slot atau slot lepas landas untuk bisa beroperasi di sebuah bandara internasional, dalam hal ini bandara besar dan sibuk secara global. Slot bandara ini harus sepasang. Sistem slot bandara ini sudah ada sejak bertahun-tahun lalu dengan merujuk pedoman dari International Air Transport Association (IATA).

Slot bandara terbagi ke dalam tiga kategori atau level. Level 1 ialah non-coordinated airport atau yang tidak terkoordinasi dengan slot bandara global. Level 2 merupakan slot facilitated airport. Di bandara level 1 dan 2 ini, landing slot dan take off slot dikelola oleh bandara dan melalui kerjasama antar maskapai. Ini biasanya berada di level domestik atau penerbangan domestik.

Terakhir adalah level 3 atau yang terkoordinasi dengan slot bandara oleh IATA. Biasanya level 3 ini hanya bandara-bandara besar dan sibuk di banyak negara di dunia.

Menurut IATA, seperti dikutip dari Simple Flying, pada Musim Panas 2019, ada 205 bandara terkoordinasi slot secara global. Ini mencakup 43 persen dari lalu lintas udara global. Jumlah landing slot dan take off slot disepakati serta dialokasikan untuk maskapai di bandara-bandara tersebut sebelum menjadwalkan penerbangan dari dan ke bandara.

Bagi maskapai yang sudah mempunyai slot, ini bukan berarti aman. Begitupun juga dengan maskapai yang belum mendapat slot bandara, bukan berarti kiamat selamanya. Sebab, dalam Panduan Slot Bandara Seluruh Dunia (WASG) oleh IATA, slot bandara dialokasikan ke maskapai dua kali dalam setahun.

Itu berarti, per enam bulan (biasanya setiap musim dingin dan musim panas), slot bandara direview dan harus menjalankan minimal 80 persen slot bandara. Bila tidak, maskapai tersebut akan diganti dengan maskapai lain yang sudah menunggu. Sistem dikenal sebagai “grandfather rights”. Aturan ini harus dijalankan kecuali ketika force majeure.

Akan tetapi, di awal-awal pandemi, banyak maskapai yang mempertahankan slot bandara dengan menerbangkan penerbangan hantu atau terbang tanpa penumpang. Seiring waktu, sistem grandfather rights pun akhirnya ditangguhkan selama pandemi.

Selain itu, maskapai tertentu bisa saja mendapat prioritas lantaran memiliki histori slot yang cukup baik di sebuah bandara.

Meski begitu, ada aturan dimana tersisa beberapa persen slot bandara untuk maskapai baru yang ingin mendapat landing slot dan take off slot di bandara tertentu.

Menjawab pertanyaan di awal, slot bandara dialokasikan dan dikelola secara global oleh IATA. Sistemnya sendiri tidak dijelaskan dengan rinci. Yang pasti bukan berbasis lelang. Di luar itu (diatur IATA), maskapai yang sudah mendapat slot bisa saja menjual slot bandara ke maskapai lainnya.

Pada tahun 2016, misalnya, Oman Air dan Bandara Heathrow memecahkan rekor harga dunia untuk sepasang slot (lepas landas dan mendarat). Oman Air tidak langsung mendapatkannya dari IATA melainkan dari maskapai lain yaitu Air France-KLM seharga US$75 juta untuk hak mendarat di Heathrow, termasuk mendapatkan slot kedatangan di pagi hari yang diperebutkan banyak maskapai.

Baca juga: Mengapa Slot Bandara Bisa Sangat Mahal? Inilah Jawabannya

Masih di Bandara Heathrow, maskapai Air New Zealand pernah menjual sepasang slot pada tahun 2020 ke maskapai lain seharga US$27 juta, cukup murah memang dibanding penjualan slot Air France-KLM ke Oman Air mengingat jam slot yang dijual Air New Zealand tak semenarik yang dijual Air France-KLM.

Mahal tidaknya slot bandara tergantung banyak hal, mulai dari jam, frekuensi, durasi dari mendarat sampai kembali lepas landas, dan musim.

Agar Penerbangan Aman Sampai Tujuan, Inilah Cara Pilot Menafsirkan Laporan Cuaca

Sudah menjadi keharusan bagi setiap pilot untuk selalu memperhatikan laporan cuaca. Pilot dalam misi penerbangan apa pun, baik sipil dan militer, perlu perlu menganalisis dan menafsirkan laporan cuaca untuk memutuskan apakah penerbangan aman dilakukan.

Baca juga: Hari ini dalam Sejarah, Nusantara Buana Air Flight 823 Jadi Korban Hilangnya Kesadaran Situasional Pilot

Dari forum quora.com yang merangkup beberapa komentar penerbang, berikut adalah beberapa langkah yang biasa dilakukan oleh pilot dalam menafsirkan laporan cuaca sebelum melakoni suatu penerbangan.

1. Membaca informasi cuaca
Pilot harus membaca informasi cuaca secara keseluruhan untuk memahami kondisi cuaca di area penerbangan.

2. Memahami jenis cuaca
Pilot harus memahami jenis cuaca yang terjadi, seperti awan, hujan, salju, kabut, atau angin kencang.

3. Memperhatikan intensitas cuaca
Pilot perlu memperhatikan intensitas cuaca, seperti intensitas hujan, intensitas angin, dan tingkat kejelasan pandangan.

4. Memperhatikan daerah cuaca buruk
Pilot harus memperhatikan daerah cuaca buruk, seperti badai petir dan turbulensi.

5. Menghubungkan laporan cuaca dengan rute penerbangan
Pilot perlu menghubungkan laporan cuaca dengan rute penerbangan untuk memutuskan apakah rute tersebut aman dilalui.

6. Membuat keputusan
Berdasarkan informasi cuaca dan faktor-faktor lainnya, pilot harus membuat keputusan apakah penerbangan dapat dilakukan atau harus ditunda.

Baca juga: Lawan Cuaca Buruk, Pesawat WestJet Tergelincir di Landas Pacu

Dalam memahami dan menafsirkan laporan cuaca, pilot juga dapat memanfaatkan layanan informasi cuaca yang disediakan oleh otoritas penerbangan setempat dan sumber informasi cuaca lainnya.