Peminat Compartment Suite Class Kian Ramai, Ini Pelayanan yang Dirasakan Penumpang

Tak sekadar menikmati pemandangan saat menggunakan kereta api, tapi dari segi fasilitas dan pelayanan pun turut dirasakan penumpang karena kenyamanan. Ya, PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) tentunya memberikan yang terbaik bagi para penumpang dalam melakukan perjalanan di berbagai kelas tersedia. Tak Cuma kelas reguler seperti ekonomi dan eksekutif, bahkan kelas yang paling mewah pun justru memperkuat pelayanan terhadap penumpangnya agar terus merasa nyaman.

Seperti halnya pada kelas yang satu ini. Compartment Suite Class yang tentu memberi rasa kenyamanan dari pelayanan yang diberikan selama perjalanan. Dari data yang dikabarkan PT KAI mencatat jumlah pelanggan Compartment Suite Class mencapai 26.123 orang sepanjang Semester I 2026 atau meningkat 64,76 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 15.855 penumpang.

Pada kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap layanan perjalanan yang mengutamakan privasi, kenyamanan, dan pengalaman eksklusif. Karena menggunakan layanan itu, penumpang tentunya bisa merasakan pelayanan yang terbaik dalam pengalaman dirasakan selama perjalanan. Apalagi dengan kenyamanan interior yang tentunya bisa menambah kepuasan penumpang saat menggunakan kereta tersebut.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan pertumbuhan jumlah pelanggan menjadi indikasi bahwa semakin banyak masyarakat yang menjadikan kenyamanan sebagai pertimbangan utama dalam memilih moda transportasi jarak jauh. Tentunya, KAI ingin menghadirkan perjalanan yang tidak sekadar mengantarkan pelanggan ke tujuan, tetapi juga memberikan pengalaman yang berkesan sejak berada di stasiun hingga tiba di kota tujuan.

Sepanjang Semester I 2026, jumlah pengguna layanan tersebut bertambah 10.268 pelanggan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan itu didorong oleh meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap ruang perjalanan yang lebih tenang untuk beristirahat maupun tetap produktif selama berada di dalam kereta.

Pelanggan kini semakin menempatkan kenyamanan personal, privasi, serta mutu layanan sebagai faktor utama dalam pengalaman perjalanan, khususnya pada rute antarkota dengan waktu tempuh yang relatif panjang. Selain itu, banyak penumpang reguler yang kini beralih ke compartment ini karena mencari kenyamanan lebih selama perjalanan jarak jauh.

Fasilitas di dalamnya mencakup kursi yang dapat direbahkan hingga 180 derajat menyerupai tempat tidur, fitur pijat dan pemanas, meja multifungsi, hingga televisi pribadi yang terhubung dengan Train Onboard Infotainment System. KAI juga melengkapi layanan tersebut dengan penyajian makanan dan minuman langsung di dalam kompartemen oleh petugas khusus.

Selain itu, ada sejumlah fasilitas premium lainnya yang dirancang untuk memberikan pengalaman perjalanan layaknya hotel kapsul. Setiap kabin dilengkapi ruang privat dengan pintu geser otomatis, kursi reclining yang dapat diubah menjadi tempat tidur datar (fully-flat bed), layar hiburan pribadi, meja kerja, dan suasana tenang yang mendukung produktivitas maupun istirahat.

Saat ini Compartment Suite Class telah tersedia pada tiga layanan unggulan KAI, yakni KA Bima relasi Gambir – Surabaya Gubeng pulang pergi, KA Argo Semeru relasi Gambir – Surabaya Gubeng pulang pergi, serta KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir – Surabaya Pasar Turi pulang pergi. Setiap rangkaian dilengkapi 16 kompartemen privat dengan pintu otomatis yang memberikan keleluasaan bagi pelanggan menikmati perjalanan secara lebih eksklusif.

Selain menawarkan fasilitas eksklusif, Compartment Suite Class juga memberikan pengalaman menikmati panorama sepanjang lintas Pulau Jawa. Pelanggan KA Bima dan KA Argo Semeru dapat menyaksikan pemandangan pegunungan, persawahan, hingga kawasan perkotaan di jalur selatan dan tengah Jawa, sementara pengguna KA Anggrek disuguhkan panorama pesisir dan bentang alam di jalur utara Jawa.

Dari sisi desain, kereta ini mengusung konsep “Biru Malam (BIMA)” dengan sentuhan warna elegan yang dipadukan ornamen khas Nusantara, seperti motif Borobudur, Talawang, dan burung enggang. Material interior menggunakan granit, High Moisture Resistant (HMR), dan Glassfibre Reinforced Cement (GRC) guna meningkatkan daya tahan sekaligus mengurangi penggunaan material berbahan plastik.

KAI menegaskan akan terus mengembangkan layanan premium sesuai kebutuhan pelanggan, seiring meningkatnya permintaan terhadap perjalanan kereta api yang mengedepankan kenyamanan dan kualitas pelayanan. Tentu harapan ke depannya, kereta api tetap menjadi pilihan utama masyarakat untuk perjalanan jarak jauh yang aman, nyaman, dan berkelas.

Kereta Panoramic Belum Bisa Dioperasikan Secara Reguler, Kenapa? Ini Jawaban dari PT KAI

Tak Terima Ditegur! Petugas Perlintasan Leuwigoong Dikeroyok Oknum, Dedi Mulyadi: Pelaku Segera Menyerahkan Diri

Insiden yang terjadi pada petugas perlintasan di Jalan Karangsari – Cibatu, Garut tepatnya di pintu perlintasan (JPL) 227 Leuwigoong. Dalam kasus yang beredar di media sosial tersebut bahwa korban seorang petugas pintu perlintasan di kawasan tersebut menjadi sasaran pengeroyokan oleh pemuda. Sedikitnya 3 pemuda yang menjadi pelaku pengeroyokan terhadap petugas yang sedang berjaga.

Aksi yang terjadi pada 14 Juli 2026 tersebut menjadi sorotan warga net yang melihatnya geram terhadap para pelaku. Menurut informasi yang diterima bahwa insiden yang terjadi ketika petugas tengah menjalankan tugasnya untuk menjaga keselamatan perjalanan kereta api dan mengingatkan pengguna jalan agar mematuhi aturan saat melintasi perlintasan sebidang. Namun, upaya petugas dalam mengutamakan keselamatan justru berujung pada tindakan kekerasan yang dilakukan oleh sejumlah oknum.

Manager Humas PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung, Kuswardojo, mengatakan pihaknya sangat menyesalkan aksi kekerasan yang menimpa petugas yang sedang menjalankan tugas menjaga keselamatan perjalanan kereta api dan pengguna jalan. Menurutnya, hal tersebut hingga terjadi adanya pemukulan dan pengeroyokan terhadap petugas JPL 227 Leuwigoong yang terjadi pada hari kemarin lebih kurang pukul 14.00 WIB siang hari.

KAI menegaskan bahwa keberadaan petugas penjaga perlintasan merupakan bagian dari upaya menjaga keselamatan perjalanan kereta api maupun pengguna jalan yang melintasi perlintasan sebidang. Karena itu, KAI mengajak seluruh masyarakat untuk menghormati petugas yang sedang menjalankan tugas dan mematuhi aturan saat melintasi rel kereta api.

Hingga berita ini diturunkan dan tersebar di media sosial, peristiwa tersebut turut mendapat perhatian Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Ia mengecam aksi pengeroyokan yang dilakukan para pelaku dan meminta kepolisian segera menangkap mereka.

“Orang menjalankan tugas dengan baik, mencegah terjadinya kecelakaan akibat kelalaian adalah tugas yang sangat mulia. Orang yang marah ketika ditegur adalah tindakan yang sangat bodoh. Saya meminta agar pelaku segera menyerahkan diri,” kata Dedi. Ia juga memastikan akan mengawal penanganan perkara hingga tuntas dan mendampingi petugas yang menjadi korban.

Orang nomor satu di Jawa Barat itu juga memastikan akan memberikan pendampingan hingga proses hukum terhadap pelaku selesai. Dedi menambahkan bahwa petugas perlintasan tidak hanya menjalankan tugas lalu lintas kereta api, tetapi juga tugas kemanusiaan untuk melindungi keselamatan masyarakat.

PT KAI menegaskan tidak akan berhenti pada penanganan internal semata. Perseroan memastikan akan terus mengawal proses hukum agar kasus tersebut diproses sesuai ketentuan yang berlaku dan memberikan efek jera kepada pelaku. Selain itu, KAI juga berkomitmen memberikan perlindungan kepada seluruh petugas yang bertugas di lapangan agar dapat menjalankan pekerjaannya dengan aman dan nyaman.

Jalur Perlintasan KA, Masih Jadi Momok Menakutkan

Pet Airways: Maskapai Penerbangan Khusus Hewan yang Pernah Mengudara di AS

Bagi para pemilik hewan peliharaan, bepergian menggunakan pesawat terbang sering kali menjadi urusan yang mencemaskan karena menaruh mereka di dalam kompartemen kargo yang gelap dianggap berisiko tinggi, sementara membawa mereka ke dalam kabin memiliki banyak batasan ukuran.

Masalah inilah yang melahirkan ide unik sebuah maskapai bernama Pet Airways, maskapai penerbangan pertama di dunia yang khusus melayani hewan peliharaan tanpa adanya penumpang manusia di dalam kabin. Didirikan pada tahun 2009 di Amerika Serikat oleh pasangan Alysa Binder dan Dan Wiesel, Pet Airways lahir dari pengalaman pribadi mereka yang kesulitan saat ingin membawa anjing peliharaan bepergian dengan aman. Maskapai ini murni dirancang untuk kenyamanan hewan, yang secara jenaka mereka sebut sebagai “pawsengers”.

Berbeda dengan maskapai konvensional yang memperlakukan hewan sebagai bagasi, Pet Airways memodifikasi bagian dalam pesawat turboprop Beechcraft 1900 milik mereka dengan mencopot seluruh kursi penumpang manusia. Sebagai gantinya, kabin diisi dengan rak-rak khusus yang kokoh untuk menempatkan kandang pembawa hewan secara aman, lengkap dengan kontrol suhu dan tekanan udara yang diatur sempurna sepanjang penerbangan.

Proses pelayanan di Pet Airways dibuat semirip mungkin dengan pengalaman manusia namun disesuaikan untuk kebutuhan hewan. Sebelum terbang, hewan-hewan ini tidak menunggu di terminal bising melainkan di ruang tunggu khusus (Pet Lounge) yang tenang, lalu di dalam kabin terdapat pramugara khusus hewan (Pet Attendants) yang memantau kondisi mereka setiap 15 menit serta memberikan air minum. Selain itu, sebelum lepas landas dan setelah mendarat, hewan-hewan akan dibawa berjalan-jalan sejenak untuk meregangkan otot dan buang air selama melayani rute kota besar di AS seperti New York, Los Angeles, Chicago, Denver, Washington D.C., dan Fort Lauderdale.

Meski idenya sangat dicintai oleh komunitas pencinta hewan dan sempat menuai popularitas tinggi, Pet Airways harus menghadapi tantangan operasional dan finansial yang sangat berat. Tingginya biaya perawatan pesawat, harga bahan bakar, regulasi penerbangan yang ketat, serta keterbatasan armada membuat model bisnis ini sulit bertahan dalam jangka panjang. Skala penerbangan mereka pun mulai menyusut akibat masalah keuangan hingga akhirnya Pet Airways terpaksa menghentikan total operasional penerbangannya sekitar tahun 2012-2013.

Walaupun saat ini Pet Airways sudah tidak beroperasi lagi, warisannya tetap membekas dalam industri penerbangan global karena mereka berhasil membuktikan adanya ceruk pasar yang besar untuk transportasi hewan yang manusiawi, yang kemudian menginspirasi banyak maskapai besar saat ini untuk meningkatkan standar keselamatan bagi hewan peliharaan yang ikut terbang.

Sering Ada Penyalahgunaan, Maskapai Penerbangan Batasi Jenis Hewan Pendukung Emosional

Dukung Penerapan Bahan Bakar Nabati, KAI Divre I Sumut Beralih Gunakan B50 di Lokomotif dan Kereta Pembangkit

Perubahan yang dilakukan PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) memang terus menunjukkan inovasi yang bermanfaat. Tak hanya peningkatan pelayanan kereta bagi penumpang, namun peningkatan untuk bahan bakar yang ramah lingkungan juga dilakukan sepenuhnya untuk langkah yang strategis dan bermanfaat.

Hal ini dilakukan pada wilayah PT KAI Divisi Regional (Divre) I Sumatera Utara yang secara resmi mengalihkan seluruh operasional sarana perkeretaapiannya dari bahan bakar biodiesel B40 menjadi BioSolar B50 sejak 5 Juli 2026.

Menurut Manager Humas Divre I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, di Medan, Senin, mengatakan langkah strategis itu merupakan komitmen nyata perusahaan dalam mendukung program “Langit Biru” sekaligus menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Selama periode awal implementasi pada 5 hingga 10 Juli 2026, KAI Divre I Sumut mencatat penggunaan BioSolar B50 telah mencapai 97.580 liter. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa transisi perubahan BBM dari B40 menjadi B50 berjalan lancar tanpa mengganggu jalannya pelayanan publik.

Penerapan bahan bakar nabati itu diaplikasikan langsung secara menyeluruh untuk mendukung operasional mulai dari lokomotif, kereta pembangkit serta sarana operasional lainnya di wilayah kerja Sumatera Utara. KAI terus melakukan pemantauan terhadap performa sarana sebagai bagian dari evaluasi sehingga pelayanan kepada pelanggan maupun pengguna jasa angkutan barang tetap berjalan aman, nyaman, selamat, dan tepat waktu.

Selama masa awal implementasi B50, operasional kereta api di Divre I Sumatera Utara berjalan normal. Penggunaan BioSolar B50 secara ilmiah memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kualitas udara di wilayah Sumatera Utara karena emisi yang dihasilkan jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan bahan bakar fosil murni atau varian biodiesel sebelumnya.

Secara teknis, pemanfaatan B50 ini terbukti mampu menurunkan tingkat kepekatan asap sisa pembakaran hingga mencapai 10,5 persen. Selain itu, pada skala makro nasional, optimalisasi konsumsi B50 diproyeksikan dapat mereduksi emisi karbon dioksida (CO2) sebesar 4,8 juta ton lebih banyak jika dibandingkan dengan penggunaan B40 yang sebelumnya berada di angka 39,66 juta ton.

Sebelum memasuki era B50, KAI Divre I Sumatera Utara tercatat telah menghabiskan Biodiesel B40 sebanyak 3.079.580 liter BBM sepanjang periode 1 Januari hingga 4 Juli 2026 untuk menggerakkan seluruh lini operasionalnya. Diketahui bahwa biosolar B40 juga bersifat biodegradable atau mudah terurai oleh mikroorganisme sehingga meminimalkan dampak polusi pada tanah dan air di lingkungan sekitar jalur kereta api.

Hal tersebut membuat KAI terus menggandeng para pemangku kepentingan untuk memastikan penggunaan B50 ini selain bermanfaat demi keberlanjutan energi hijau, juga menjadikan sarana perkeretaapian tetap andal melayani pelanggan. KAI juga berkomitmen penuh menjaga keandalan sarana agar misi lingkungan ini berjalan selaras dengan aspek keselamatan perjalanan kereta api.

Lolos Sejumlah Uji Coba, PT KAI Mulai Gunakan Bahan Bakar Biodiesel B20

Sejarah 14 Juli 2009: Garuda Indonesia, Airfast, Mandala, dan Premiair Resmi Dibebaskan dari Blacklist Uni Eropa

Tepat pada tanggal 14 Juli 2009, dunia dirgantara Indonesia mencatatkan sebuah pencapaian bersejarah yang sekaligus menjadi titik balik dari krisis keselamatan udara nasional yang paling kelam. Pada tanggal tersebut, Komisi Eropa secara resmi mengumumkan pembebasan empat maskapai penerbangan asal Indonesia, yaitu Airfast Indonesia, Garuda Indonesia, Mandala Airlines, dan Premiair, dari daftar hitam larangan terbang (blacklist) Uni Eropa.

Keputusan krusial ini diambil setelah Komisi Eropa, melalui komite keselamatan penerbangannya, melakukan evaluasi mendalam dan mengakui adanya perbaikan signifikan pada standar pengawasan keselamatan yang dilakukan oleh otoritas penerbangan sipil Indonesia (DGCA).

Pembebasan empat maskapai ini menjadi angin segar setelah sejak Juni 2007, seluruh maskapai yang terdaftar di Indonesia dilarang keras memasuki wilayah udara Uni Eropa akibat rentetan kecelakaan fatal yang meruntuhkan reputasi keselamatan udara tanah air di mata dunia internasional.

Langkah pencabutan embargo ini tidak didapatkan dengan mudah, melainkan melalui perjuangan diplomasi yang melelahkan serta reformasi regulasi yang sangat ketat di dalam negeri. Pasca-pelarangan total pada tahun 2007, pemerintah Indonesia langsung berbenah dengan merombak Undang-Undang Penerbangan (melahirkan UU No. 1 Tahun 2009) serta memperketat proses sertifikasi keselamatan dan kelaikan udara bagi setiap operator.

Masuknya Garuda Indonesia sebagai maskapai pembawa bendera negara (flag carrier) dalam gelombang pertama pembebasan tersebut langsung membuka kembali jalan bagi ekspansi rute internasionalnya menuju benua biru, yang kemudian direalisasikan dengan membuka kembali rute ke Amsterdam. Di sisi lain, masuknya maskapai charter seperti Airfast Indonesia dan Premiair, serta maskapai berjadwal Mandala Airlines, membuktikan bahwa peningkatan standar keselamatan ini merata dan diakui secara global di berbagai segmen bisnis penerbangan nasional.

Meskipun pencapaian pada 14 Juli 2009 itu merupakan kemenangan besar, peristiwa tersebut sekaligus menjadi alarm pengingat jangka panjang bagi industri dirgantara nasional bahwa keselamatan penerbangan adalah aspek yang tidak boleh dikompromikan sedikit pun. Proses pemulihan sisa maskapai Indonesia lainnya dari daftar hitam tersebut membutuhkan waktu bertahun-tahun pasca-2009, hingga akhirnya Uni Eropa mencabut sepenuhnya larangan terbang bagi seluruh maskapai Indonesia pada tahun 2018.

Terbukti Turunkan Emisi CO2, Uni Eropa Usulkan Penumpang Pesawat Beralih ke Kereta untuk Rute Jarak Pendek

Belasan KRL Baru Dioperasikan, SF 12 Diutamakan Secara Optimal untuk Kapasitas Besar

Kereta Rel Listrik (KRL) wilayah Jabodetabek memang menjadi pilihan utama masyarakat dalam melakukan aktivitas tiap harinya. Ketergantungan terhadap transportasi komuter ini membuat makin bertambahnya populasi penumpang KRL yang menjadi hal utama karena lebih praktis dan waktu yang signifikan. Ditambah lagi dengan beberapa penambahan rangkaian KRL menjadi 12 kereta (SF 12) sangat terbantu pada jam-jam aktivitas yang padat.

Seperti halnya saat ini telah memasuki fase terbaru beberapa rangkaian yang beroperasi yang didatangkan dari Cina maupun buatan anak bangsa yakni PT Industri Kereta Api (INKA). Namun, beberapa rangkaian yang sudah lama beroperasi pihak dari PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) tengah melakukan peremajaan rangkaian KRL.

Peremajaan armada KRL tersebut sedang dilakukan selama beberapa tahun terakhir. Ada 27 rangkaian kereta baru yang disiapkan, dengan total gerbong mencapai 324 unit. Kereta tersebut dibagi dua pengadaannya. Sekitar 11 rangkaian diimpor dari China dan diproduksi oleh CRRC, sementara itu 16 rangkaian sisanya diproduksi di dalam negeri oleh PT INKA.

Berdasarkan pembaruan internal terakhir oleh PT KAI, sudah 18 dari 27 rangkaian baru atau 216 kereta telah beroperasi. Terdiri atas 11 rangkaian produksi CRRC dan 7 rangkaian produksi INKA. Rangkaian SF 12 tentunya memberikan kapasitas lebih besar dalam satu perjalanan. Penyediaan sarana berkapasitas lebih besar perlu didukung kesiapan peron, jalur, sistem kelistrikan, fasilitas perawatan, petugas, dan pengaturan perjalanan agar manfaatnya dapat dirasakan pelanggan secara optimal.

Sebanyak sembilan rangkaian produksi INKA lainnya, masih melanjutkan tahapan sesuai progres masing-masing sebelum digunakan dalam pelayanan. Penempatan setiap rangkaian disesuaikan dengan kebutuhan operasi pada berbagai lintas pelayanan KRL Jabodetabek. Sejauh ini, sudah ada 11 rangkaian CRRC telah dioperasikan secara bertahap untuk memperkuat layanan Bogor Line dan Cikarang Line.

Hal ini membuat salah satu stasiun yang baru-baru ini melakukan perbaikan peron, yaitu Stasiun Bogor. KAI menyiapkan peron jalur 6, 7, dan 8 agar dapat mendukung pengoperasian rangkaian KRL dengan formasi 12 kereta atau SF 12. Sebelumnya, jalur tersebut secara maksimal melayani rangkaian SF 10. Peron jalur tersebut telah melalui uji bersama yang melibatkan tim prasarana, sarana, dan operasi.

Uji bersama tersebut melanjutkan uji beban menggunakan lokomotif pada 29 Juni 2026 dan uji coba operasional KRL pada 1 Juli 2026. Seluruh hasil pengujian menjadi bahan evaluasi dan penyempurnaan pada tahap akhir pekerjaan. Hal ini memastikan sarana, prasarana, dan pola operasi memiliki kesiapan yang selaras. Pemeriksaan dilakukan secara cermat karena keselamatan pelanggan dan keandalan perjalanan menjadi acuan utama sebelum fasilitas digunakan.

Stasiun Gorakhpur, Punya Peron Terpanjang di Dunia

Sentuhan Ikonik Hong Kong di Amerika: Bus Tingkat Merah Ini Disulap Jadi Kedai Kopi dan Pizza Unik

Bagi para pencinta transportasi publik, bus tingkat (double-decker) berwarna merah selalu identik dengan jalanan kota London atau Hong Kong. Namun, sebuah inovasi menarik hadir di Lakewood, Colorado, Amerika Serikat, di mana sebuah replika bus tingkat merah khas Hong Kong kini tidak lagi menyusuri jalanan kota, melainkan terparkir statis untuk melayani pelanggan sebagai kedai kopi unik bernama Red Bus Coffee.

Tepat di sebelah bus tingkat ini terparkir, terdapat kedai pizza bernama Metro Pie Pizza. Kolaborasi kedua usaha kuliner keluarga ini secara kolektif dinamai Red Line Station, sebuah konsep area makan yang mengusung atmosfer stasiun transportasi terpadu.

Ide unik ini diinisiasi oleh Alice Choi bersama sang ayah, Ricky Choi, yang tumbuh besar di Hong Kong dan sangat akrab dengan bus tingkat sebagai moda transportasi harian utama di bawah sejarah pemerintahan Inggris di sana. Terinspirasi dari memori tersebut, Alice memutuskan untuk memesan bus tingkat yang dibangun dari nol di Asia, lengkap dengan mesin asli, lalu dikapalkan menuju California.

Sayangnya, dimensi bus yang terlampau tinggi membuatnya berisiko menabrak kabel utilitas dan tidak bisa melewati terowongan pegunungan saat diangkut truk menuju Denver. Akibatnya, impian awal Alice untuk mengendarai bus ini sebagai food truck keliling terpaksa diurungkan. Bus tersebut akhirnya diparkir permanen, dimodifikasi interiornya menjadi bilik-bilik tempat duduk yang nyaman di lantai dua, dan bahkan meletakkan boneka beruang raksasa yang memakai sabuk pengaman di kursi kemudi.

Sementara Alice melayani pelanggan lewat jendela drive-thru di lantai satu bus dengan menu kopi dan pastry, orang tuanya mengelola Metro Pie Pizza di ruko sebelahnya. Sang orang tua yang memiliki rekam jejak puluhan tahun di industri restoran Asia kini mencoba peruntungan baru dengan menghadirkan menu pizza bernama Kowloon Express, yang diambil dari nama distrik transit tersibuk di Hong Kong.

Uniknya, pizza ini tidak menggunakan saus tomat, melainkan saus kacang manis khas Cina (tian mian jiang) yang dipadukan dengan suwiran ayam panggang, keju mozzarella, dan daun bawang segar. Red Line Station menawarkan sensasi unik menikmati kopi di atas bus tingkat mulai pukul 5 pagi, disusul dengan hidangan pizza hangat yang buka sejak jam 11 siang.

Hong Kong Punya Bus Wisata Unik untuk Penumpang ‘Insomnia’

Perkuat Konektivitas, Air China dan Singapore Airlines Resmi Jajaki Kemitraan Usaha Patungan

Dua maskapai raksasa Asia, Air China dan Singapore Airlines (SIA), resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) untuk membentuk kemitraan usaha patungan (joint venture) komersial. Penandatanganan strategis ini dilakukan langsung oleh Presiden Air China, Qu Guangji, dan Chief Executive Officer Singapore Airlines, Goh Choon Phong, di Beijing, Cina, pada 29 Juni 2026.

Kemitraan yang lebih erat ini dirancang untuk memperkuat konektivitas udara antara Singapura dan Cina. Langkah ini diharapkan mampu mendukung pemulihan aktivitas pariwisata, mendorong hubungan bisnis, serta mempererat hubungan ekonomi dan antar masyarakat dari kedua negara.

Melalui penyelarasan komersial ini, kedua maskapai berkomitmen untuk memberikan nilai tambah serta fleksibilitas yang lebih besar bagi para pelaku perjalanan. Beberapa rencana inisiatif yang akan dihadirkan antara lain:

Penyelarasan Jadwal & Tarif: Kedua maskapai berencana menyelaraskan jadwal penerbangan serta menjajaki produk tarif bersama demi memberikan koneksi perjalanan yang lebih lancar.

Perluasan Jaringan Codeshare: Potensi perluasan kerja sama codeshare akan mencakup lebih banyak destinasi rute Singapura – Cina daratan, rute domestik di dalam wilayah Cina, hingga destinasi internasional di luar kedua negara.

Sinergi Program Frequent Flyer: Sebagai sesama anggota Star Alliance, Air China dan SIA akan mempererat integrasi antara program PhoenixMiles (Air China) dan KrisFlyer (SIA). Hal ini memungkinkan penumpang mengumpulkan dan menukarkan miles dengan lebih banyak pilihan reward.

Selain aspek komersial di atas, kedua perusahaan juga berkomitmen untuk saling bertukar praktik terbaik (best practices) pada operasional darat (ground handling), katering, hingga peningkatan layanan di dalam kabin pesawat. Seluruh implementasi dari inisiatif kerja sama pemasaran dan skema pembagian pendapatan dalam MoU ini nantinya tetap bergantung pada persetujuan dari masing-masing otoritas regulator terkait.

Dari Kasus Kebakaran Mesin Airbus A320neo Air China, Inilah Beberapa Potensi Penyebabnya

Masuk Balai Yasa, Ratusan Kereta Jalani Proses Pemeriksaan Ketat

Setiap perjalanan kereta api tentu selalu dilakukan pengecekan secara berkala baik sebelum maupun setelah keberangkatan. Hal ini bukan semata pengecekan rutin biasa, namun perawatan yang dilakukan harus secara ketat. Bahkan keselamatan perlu ditingkatkan pada setiap perjalanan agar penumpang tetap merasa aman dan nyaman.

PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) terus memastikan keandalan armada melalui program perawatan sarana yang dijalankan secara sistematis dan berkesinambungan. Hal tersebut membuat UPT Balai Yasa Manggarai telah menuntaskan perawatan berkala dua tahunan dan empat tahunan (P24/P48) terhadap 246 unit kereta, melampaui target yang ditetapkan sebanyak 242 unit atau mencapai 102 persen dari rencana kerja.

Vice President Corporate Communication` KAI Anne Purba mengatakan bahwa setiap kereta yang beroperasi dan melayani pelanggan telah melalui serangkaian proses pemeriksaan serta perawatan yang ketat. Menurutnya, di balik operasional kereta yang andal terdapat dedikasi para teknisi yang bekerja dengan tingkat presisi tinggi untuk memastikan seluruh komponen berfungsi optimal.

Di Balai Yasa Manggarai, proses menyiapkan kereta tersebut berlangsung sejak pemeriksaan awal, pembongkaran komponen, perawatan badan kereta dan `bogie`, pengujian sistem pengereman serta kelistrikan, hingga pemeriksaan akhir. Seluruh tahapan diarahkan untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan perjalanan.

Diketahui bahwa Balai Yasa Manggarai memiliki perjalanan panjang dalam sejarah perkeretaapian Indonesia. Kompleks bengkel ini mulai dibangun pada 1915 dan beroperasi pada 1920 dengan nama `Hoofd-Werkplaats Manggarai`. Pada masa awal operasinya, bengkel tersebut menangani pembuatan suku cadang serta pemeriksaan dan perbaikan lokomotif, kereta penumpang, serta gerbong barang.

Saat ini, Balai Yasa Manggarai berfokus pada perawatan dan pengembangan kereta penumpang, kereta makan, serta kereta pembangkit atau `genset`. Balai yasa memiliki fungsi yang berbeda dengan `dipo`. Pemeriksaan harian dan perawatan berkala jangka pendek dilaksanakan di `dipo`, sedangkan balai yasa menangani perawatan berkala jangka panjang, perbaikan kerusakan yang membutuhkan fasilitas khusus, rehabilitasi, serta modifikasi sarana.

Badan kereta dan `bogie` dipisahkan agar teknisi dapat memeriksa struktur, perangkat roda, sistem pengereman, `suspensi`, kelistrikan, pintu, `interior`, hingga fasilitas pendukung perjalanan secara lebih mendalam. “Perawatan berkala berfungsi menjaga kondisi sarana tetap sesuai standar teknis.

Selain perawatan kereta, Balai Yasa Manggarai menyelesaikan pemeliharaan kategori `medium overhaul` dan `general overhaul` atau MO/GO terhadap 26 `genset` dari program 29 unit, setara 89,6 persen. `Genset` pada kereta pembangkit berfungsi memasok listrik bagi pendingin udara, penerangan, dan berbagai fasilitas pelayanan selama perjalanan.

Balai Yasa Manggarai juga menangani 302 pekerjaan perbaikan pada kereta dan `genset` selama Semester I 2026. Jumlah tersebut setara 127 persen dari capaian periode yang sama tahun lalu atau tumbuh sekitar 27 persen. Sebanyak 67 persen pekerjaan perbaikan berkaitan dengan pembubutan dan penggantian roda.

Kinerja Balai Yasa Manggarai juga terlihat dari penyelesaian modifikasi enam Kereta Ekonomi Kerakyatan atau 100 persen dari program Semester I 2026. Lima kereta diselesaikan untuk mendukung pelayanan Angkutan Lebaran 2026, sedangkan satu kereta berikutnya rampung pada Mei 2026. Kehadirannya memperluas pilihan layanan yang nyaman dan tetap terjangkau bagi masyarakat.

Dari sisi tata kelola, penyerapan anggaran kerja Balai Yasa Manggarai mencapai 86,6 persen. Sebanyak tiga dari empat program investasi 2026 sedang berjalan dengan `progres` keseluruhan 35,2 persen. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas fasilitas, kualitas perawatan, serta kemampuan internal dalam mengembangkan sarana.

Balai Yasa Manggarai mempertemukan pengalaman lebih dari satu abad dengan kompetensi teknis yang terus berkembang. KAI akan melanjutkan peningkatan fasilitas, kemampuan Insan perawatan, penerapan teknologi, dan pengendalian mutu agar setiap sarana yang kembali melayani pelanggan berada dalam kondisi andal, aman, serta nyaman.

Yuk, Kenali Istilah ‘Ramp Check’ yang Menempel di Tiap Kereta dan Lokomotif

Langkah Bertahap Aviasi Hijau, Pemerintah Fokuskan Mandatori Bioavtur 1 Persen di Dua Bandara Internasional

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI menetapkan strategi awal yang terukur dalam implementasi bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF). Pemerintah memutuskan untuk memfokuskan penerapan awal campuran bioavtur sebesar 1 persen (SAF-1%) khusus untuk penerbangan internasional yang beroperasi melalui dua gerbang udara utama Indonesia, yakni Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Tangerang, Banten) dan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai (Badung, Bali).

Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub, Sokhib Al Rokhman, mengungkapkan bahwa implementasi mandatori ramah lingkungan ini ditargetkan mulai berjalan pada tahun 2027. “Ini hanya akan berlaku untuk penerbangan internasional dan kami hanya fokus di dua bandara tersebut,” jelas Sokhib dalam keterangannya.

Langkah pembatasan operasional di dua bandara ini diambil demi memastikan aspek regulasi dan pemenuhan operasional berjalan optimal. Pelaksanaan mandatori SAF-1% ini nantinya akan sangat bergantung pada kesiapan rantai pasok dari PT Pertamina (Persero), yang saat ini tengah memperluas kapasitas produksi bioavtur melalui sejumlah fasilitas kilang domestik di dalam negeri.

Pemerintah sengaja memilih pendekatan bertahap (gradual approach) dengan memulainya dari angka 1 persen untuk menjamin pemenuhan standar keselamatan, efektivitas, dan kepatuhan penerbangan sipil internasional secara ketat. Hal ini dilakukan meskipun beberapa negara di dunia telah mengadopsi mandat persentase campuran SAF yang jauh lebih tinggi.

Sebelum keputusan ini diambil, serangkaian pengujian teknis yang panjang telah dilakukan. Indonesia sukses menggelar uji coba penerbangan menggunakan pesawat komersial Airbus A320 milik maskapai Pelita Air untuk rute Jakarta–Denpasar dan sebaliknya (PP). Pengujian intensif tersebut berlangsung selama enam bulan, terhitung sejak Agustus hingga Desember 2025.

Selama fase uji coba komersial tersebut, operasional penerbangan dipastikan berjalan lancar tanpa kendala teknis apa pun. Kemenhub juga menegaskan bahwa penggunaan SAF campuran 1 persen ini sama sekali tidak memerlukan modifikasi pada arsitektur mesin pesawat yang sudah ada (drop-in fuel).

Seluruh pengujian sel teknis mesin sebelumnya telah rampung dilaksanakan di fasilitas test cell Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia. Hasil pantauan menunjukkan performa mesin pesawat beroperasi normal dan tetap andal.

Setelah implementasi campuran 1 persen ini resmi berjalan di tahun 2027, pemerintah akan melakukan evaluasi komprehensif secara berkala sebelum menaikkan kadar pencampuran bioavtur secara bertahap pada penerbangan komersial berikutnya. Target jangka panjangnya, Indonesia membidik penggunaan rasio campuran bioavtur mampu mencapai 30 hingga 50 persen pada tahun 2060 mendatang, sebagai bagian dari komitmen global untuk memangkas emisi karbon di sektor aviasi nasional.

Garuda Indonesia Operasikan Penerbangan Komersial dengan Pesawat Berbahan Bakar Bioavtur