24 Januari 1957, Indonesia Pertama Kali Punya Pesawat Kepresidenan

Setiap tanggal 24 Januari diperingati sebagai momen bersejarah dalam dunia penerbangan di Tanah Air, khususnya dalam konteks kerjasama bilateral antara Indonesia dan Rusia (d/h Uni Soviet). Pasalnya, pada 24 Januari 1957, Pemerintah Rusia melalui Duta Besar untuk Indonesia Zukhov menyerahkan Pesawat Ilyushin Il-14 Avia kepada Presiden RI Ir. Soekarno di Lanud Halim Perdanakusuma.

Baca juga: Pesawat Ilyushin Il-14 Avia, Sejarah TNI AU yang Nyaris Terlupakan! Pernah Jadi Pesawat Kepresidenan

Penyerahan pesawat angkut sedang bermesin ganda tersebut sebagai tanda persahabatan antara kedua negara. Pesawat Ilyushin Il-14 kemudian diberi nama Dolok Martimbang oleh Presiden Soekarno dengan register T-401 dan perawatannya diserahkan kepada TNI AU (d/h AURI).

Sejak saat itu, Presiden Soekarno selalu menggunakan Pesawat Dolok Martimbang setiap kali melaksanakan perjalanan dinas ke daerah-daerah di seluruh pelosok Nusantara maupun ke luar negeri, yang sekaligus menjadikan Il-14 Avia sebagai pesawat kepresidenan pertama Republik Indonesia.

Setelah sempat luput dari perhatian, Ilyushin Il-14 Avia akhirnya masuk dalam barisan koleksi Museum Pusat TNI Dirgantara Mandala (Muspusdirla), Yogyakarta pada 2017 lalu. Foto: IG TNI AU

Keberadaan Dolok Martimbang sebagai pesawat kepresidenan merupakan tonggak sejarah dalam perkembangan AURI sekaligus menjadi embrio lahirnya Skadron Angkut Khusus (Skadron Udara 17) yang mempunyai tugas pokok melayani penerbangan VIP/VVIP termasuk penerbangan kepresidenan dengan pesawat khusus.

Kru pertama dari pesawat Dolok Martimbang yaitu, Kapten Udara Sri Moelyono Herlambang, Letnan Udara I The Tjing Hoo, Letnan Udara II A. Carqua, Kapten Udara Soesanto, dan Letnan Udara I Basjir.

Tahun 1962, pesawat Dolok Martimbang tidak dioperasionalkan lagi, dan digantikan oleh pesawat eksekutif C-140 Jet Star buatan Amerika Serikat.

Kemudian pada tahun 1975 pesawat Dolok Martimbang dinyatakan dihapus dari arsenal TNI AU. Pesawat Il-14 Avia yang dimiliki TNI AU tersisa hanya satu, kemudian dijadikan monumen di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang. Pada tahun 2017, berdasarkan Instruksi KSAU, Il-14 Avia direlokasi ke Muspusdirla Jogjakarta untuk dijadikan sebagai koleksi bersejarah.

Sejatinya ada 22 unit Il-14 yang diserahkan dari Rusia ke Indonesia. Sebagai pesawat angkut sedang, kodrat Il-14 tak jauh beda dengan C-47/DC-3 Dakota yang legendaris, bisa digerakan sebagai pesawat angkut taktis militer, bisa juga diperankan sebagai angkutan sipil.

Baca juga: Bernilai Sejarah, Keberadaan Lockheed JetStar Peninggalan Elvis Presley Masih Misterius

Karena masuk kelas angkut sedang, maka Il-14 dan Dakota ditempatkan dalam skadron yang sama, yakni Skadron Udara 2 yang ber-home base di Lanud Halim Perdanakusuma. Pengadaan Il-14 berlangsung mulai periode 1958 hingga 1962-an. Sisa 21 pesawat Il-14 lainnya tiba di Indonesia dari Cekoslovakia pada Juni 1958. Sebanyak 19 unit memperkuat Skadron Udara 2, dan sisanya dua unit ditempatkan di Skadron Udara 17 Angkut VIP/VVIP.

Mengenal RESA, ‘Juru Selamat’ Pesawat di Ujung Runway

Insiden kecelakaan pesawat Boeing 737-800 Air India Express IX 1134 dan Jeju Air Flight 2216 di Korea Selatan mengingatkan semua orang terhadap Runway End Safety Area (RESA). RESA menjadi penting mengingat fungsinya dalam meminimalisir jatuhnya korban jiwa akibat berbagai kecelakaan saat proses lepas maupun turun landas.

Di Indonesia, insiden kecelakaan pesawat yang mengingatkan kita pada RESA pernah salah satunya pernah terjadi pada Rabu 7 Maret 2007. Kala itu, langit sedang cerah bersahabat di atas Yogyakarta. Namun, pendaratan berlangsung jauh dari mulus. Pesawat Garuda Indonesia yang dipiloti Kapten Marwoto Komar itu turun dalam kondisi miring tajam. Oleng. Kecepatan pesawat melampaui kecepatan operasi dengan wing flaps.

Buntut Musibah Jeju Air Flight 2216, Tanggul Beton di Beberapa Bandara Korea Selatan Akan ‘Dipindahkan’

Sejurus kemudian, sistem peringatan bahaya Ground Proximity Warning System (GPWS) meraung-raung selama 15 kali. “Go around, go around (terbang kembali),” teriak sang kopilot Gagam Saman Rohmana. GA-200 mendarat pada zona touchdown atau kurang lebih 650 meter dari ujung landasan pacu (departure runway) 09.

Setelah menyentuh landasan, pesawat mengalami bouncing 2 kali. Saat kembali menyentuh landasan kali ketiganya, roda pendarat depan patah menyisakan batangan logam.

Gesekan logam pada landasan menimbulkan percikan api pada sisa landasan pacu. Pesawat pun gagal berhenti di titik yang ditentukan, terus meluncur dengan kecepatan tinggi hingga menabrak pagar besi bandara. Roda menabrak tanggul, sementara sayap bagian kanan patah akibat menghantam tanah di lahan pertanian.

Patahannya kemudian terlempar ke arah kiri pesawat, sehingga bertumpuk pada sayap kiri. Akibatnya, bahan bakar yang tertampung di bagian sayap tumpah dan menyebar ke area persawahan.

GA-200 kemudian berhenti di area persawahan dalam kondisi terbakar. Asap hitam mengepul. Suara ledakan terdengar mengerikan. Sekali lagi, insiden itu mengingatkan kita pada RESA.

Menurut Annex 14 Convention on International Civil Aviation (ICAO), zona aman di ujung landasan harus dimiliki setiap bandara. Sebelumnya, RESA hanya rekomendasi tetapi mulai tahun 2005 silam RESA menjadi sebuah keharusan.

Dilansir skybrary.aero, Runway End Safety Area sendiri adalah permukaan di sekitar landasan pacu yang disiapkan untuk mengurangi risiko kerusakan pada pesawat jika terjadi undershoot, overshoot, atau overrun dari runway.

Dimensi RESA. Foto:
Transportation Safety Board of Canada

Namun, sebelum masuk ke RESA, Runway Strip juga menjadi instrumen tambahan penting di ujung landasan yang juga patut diketahui. Besaran dimensi runway strip berbeda-beda, tergantung dari bandara atau runway itu sendiri.

Bagi runway dengan Kode 3 (panjang mencapai 1200-1799 meter) dan 4 (1800 meter atau lebih), runway strip setidaknya harus diperpanjang di kedua sisi (melebar) masing-masing setidaknya 150 meter. Dengan begitu, total lebar runway strip mencapai 300 meter. Adapun runway strip di luar area threshlod atau biasa juga disebut blast pad atau stopway, runway dengan kode tersebut (3 dan 4) wajib diperpanjang minimal 60 meter.

Sedangkan untuk runway dengan Kode 1 (panjang kurang dari 800 meter) dan 2 (800-1199 meter), persyaratannya jauh lebih ringan menjadi dikurangi 75 meter (tambahan lebar runway) serta blast pad dikurangi menjadi hanya 30 meter.

Baca juga: Matekane Air Strip, Bandara Terekstrem dengan Ujung Runway Langsung Mengarah Ke Jurang

Dalam perjalanannya, RESA mengalami beberapa kali revisi. Saat ini, Recommended Practice RESA oleh ICAO harus memiliki panjang minimal 90 meter di luar runway strip dan minimal dua kali lebar lebar runway yang ditentukan. Kemudian panjang RESA ditambah lagi sepanjang 240 meter untuk runway Kode 3 dan 4 dan 120 meter untuk runway Kode 1 dan 2. Adapun di keempat kode runway itu mencapai 125 meter.

RESA bukanlah satu-satunya ‘juru selamat’ dalam mengantisipasi kecelakaan di bandara akibat undershoot, overshoot, atau overrun. Dari segi instrumen, sebetulnya, selain RESA, ada juga EMAS atau Engineered Material Arrestor/Arresting System. EMAS sudah digunakan di seluruh bandara internasional di Amerika Serikat, menggantikan RESA. EMAS terbuat dari beton ringan dan dinilai lebih efektif. Disebutkan, EMAS sepanjang 75 meter sama dengan RESA sepanjang 240 meter.

Buntut Musibah Jeju Air Flight 2216, Tanggul Beton di Beberapa Bandara Korea Selatan Akan ‘Dipindahkan’

Buntut dari musibah yang menimpa Jeju Air Flight 2216 yang menewaskan 179 orang, pemerintah Korea Selatan akan meninjau sistem keselamatan yang terkait dengan pendaratan darurat di bandara di seluruh negeri. Rencana tersebut di antaranya pemindahan tanggul beton di Bandara Internasional Muan.

Seperti yang dilaporkan oleh Korea Times, Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, dan Transportasi Korea Selatan telah mengidentifikasi tujuh bandara dengan struktur berbahaya di dekat landasan pacu dan akan memprioritaskan penyesuaian keselamatan.

Ungkap Misteri Jeju Air Flight 7C 2216, Cockpit Voice Recorder (CVR) “Kotak Hitam” Dibawa ke Amerika Serikat

Meskipun belum jelas apa yang menyebabkan kecelakaan Jeju Air Flight 2216 , banyak ahli berpendapat bahwa tanggul beton di Bandara Muan kemungkinan membuat insiden tersebut lebih fatal.

Struktur di setiap bandara akan disesuaikan mengikuti peraturan pemasangan yang relevan dan dengan solusi yang dapat diterapkan dengan cepat. Para pejabat bertujuan untuk menyederhanakan peraturan tertentu untuk memastikan penyesuaian keselamatan selesai dalam paruh pertama tahun 2025 dan paling lambat akhir tahun.

Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, dan Transportasi juga telah mengidentifikasi tujuh bandara dengan area keselamatan landasan pacu yang lebih pendek dari yang direkomendasikan yaitu 240 meter (787 kaki) dan telah memperpanjangnya. Area keselamatan landasan pacu (RSA), yang ditemukan berdekatan dengan atau di ujung landasan pacu, berfungsi sebagai mitigasi keselamatan utama untuk penyimpangan landasan pacu.

Namun, menurut Korea Times, jika tidak ada cukup ruang untuk memperluas area tersebut, pemerintah juga mempertimbangkan untuk memasang sistem penahan material rekayasa (EMAS), yang membantu menghentikan pesawat dengan aman jika melewati landasan pacu.

Pihak berwenang masih menyelidiki insiden Jeju Air Flight 2216 , tetapi beberapa detail penting telah muncul. Sekitar dua minggu setelah penyelidikan, pihak berwenang Korea Selatan mengungkapkan bahwa kotak hitam dari Boeing 737 Jeju Air telah berhenti merekam sekitar empat menit sebelum kecelakaan. Baik perekam data penerbangan (FDR) dan perekam suara kokpit (CVR) berhenti mengumpulkan data selama tahap kritis ini, membuat penyelidikan menjadi lebih rumit.

Seorang mantan penyelidik mencatat bahwa semua daya ke kotak hitam mungkin telah diputus, yang jarang terjadi. Minggu lalu, penyelidik menemukan bulu burung dan darah di kedua mesin pesawat, yang mengarah pada serangan burung (bird strike) ganda. Beberapa menit sebelum kecelakaan, kru telah melaporkan adanya tabrakan burung dan mengumumkan keadaan darurat sebelum memulai upaya penyelamatan.

Bandara Internasional Muan, Jadi Saksi Bisu Musibah Tragis Jeju Air Flight 2216

Bus Listrik dengan Pantograf (Trolleybus) – Moda Transportasi Massal Khas Beijing dan Shanghai

Bus listrik milik TransJakarta kini tak asing wara-wiri di tengah kepadatan lalu lintas, namun ada yang berbeda dari ‘sebagian’ bus listrik yang melaju di Beijing dan Shanghai, di dua kota utama Cina itu tak sulit melihat bus dengan pantograf jaringan kabel listrik atas.

Bus listrik dengan pantograf, yang biasa dikenal sebagai trolleybus, rupanya bukan berasal dari Cina. Dari beberapa literasi, trolleybus pertama kali diperkenalkan pada awal abad ke-20. Sistem ini menggunakan kabel listrik di atas jalan raya untuk memasok energi ke bus melalui pantograf atau tiang kontak.

London Mulai Gunakan Bus Listrik dengan Pantograf, Isi Ulang Baterai Hanya 10 Menit

Konsep trolleybus pertama kali diusulkan oleh Werner von Siemens, seorang insinyur Jerman, pada tahun 1882. Sistem percobaan bernama Elektromote dioperasikan di sebuah jalur pendek di kota Halensee, Berlin, Jerman. Elektromote menggunakan dua kabel listrik di atas jalan untuk menggerakkan bus dengan roda karet.

Meski digaungkan oleh insinyur Jerman, namun sistem trolleybus komersial pertama di dunia justru mulai beroperasi di Leeds, Inggris, pada tahun 1911. Sistem ini kemudian diikuti oleh kota-kota lain di Eropa, seperti London dan Paris, serta di Amerika Utara.

Pada awalnya, trolleybus menggunakan dua tiang panjang dengan roda kecil di ujungnya untuk menjaga kontak dengan kabel listrik overhead. Seiring waktu, desain pantograf berkembang untuk meningkatkan stabilitas dan mengurangi kehilangan kontak dengan kabel.

Keunggulan desain trolleybus utamanya tidak menghasilkan emisi langsung, yang membuatnya lebih ramah lingkungan dibandingkan bus berbahan bakar fosil. Efisiensi tinggi karena menggunakan energi listrik, dan lebih tenang dibandingkan bus berbahan bakar internal.

Pada pertengahan abad ke-20, trolleybus menjadi populer di berbagai negara di Eropa, Amerika Utara, dan Asia. Kota-kota seperti Moskow, San Francisco, dan Shanghai mengadopsi sistem ini dalam skala besar.

Trolleybus di Cina
Trolleybus pertama di Cina diperkenalkan di Shanghai pada 15 November 1914. Ini menjadikan Shanghai sebagai kota pertama di Asia yang mengoperasikan sistem transportasi trolleybus.

Trolleybus di Cina disebut sebagai (Wúguǐ Diànchē), yang secara harfiah berarti “kendaraan listrik tanpa rel”. Nama ini mencerminkan cara kerjanya, yaitu bus listrik yang mendapatkan daya dari kabel udara melalui tiang pantograf, tanpa memerlukan rel seperti trem.

Sistem ini dioperasikan oleh perusahaan swasta Inggris dengan rute pendek di wilayah kota. Namun, proyek awal ini berumur pendek karena kendala teknis dan kurangnya permintaan.

Shanghai memperkenalkan kembali sistem trolleybus pada 1936, yang lebih modern dan lebih sesuai dengan kebutuhan transportasi kota yang terus berkembang.

Setelah berdirinya Republik Rakyat Cina (1949), pemerintah mulai melihat potensi transportasi listrik seperti trolleybus sebagai solusi hemat energi dan ramah lingkungan, terutama di kota-kota besar. Beijing memperkenalkan sistem trolleybus pada 1951. Kota-kota lain seperti Tianjin, Guangzhou, dan Wuhan juga mulai mengembangkan jaringan trolleybus.

Beijing masih mengoperasikan jaringan trolleybus besar, dengan lebih dari 20 rute aktif. Kota-kota lain seperti Shanghai, Guangzhou, dan Harbin juga mempertahankan sistem trolleybus yang telah ditingkatkan dengan teknologi modern.

Bukan Tanpa Tantangan
Meski menawarkan sejumlah keunggulan, desain trolleybus menciptakan ketergantungan pada infrastruktur kabel overhead membuat trolleybus kurang fleksibel dibandingkan bus berbahan bakar fosil atau baterai.

Di beberapa kota, trolleybus digantikan oleh bus diesel atau bus listrik berbaterai modern yang tidak memerlukan kabel overhead.

Lantaran tidak melaju di dalam rel, lantas bagaimana bila sang sopir bus tidak sengaja keluar dari jalur kabel listrik? Atau bagaimana bila pasokan listrik terputus? Nah, desain trolleybus sudah mengantisipasi hal seperti di atas, pasalnya tersedia pasokan tenaga dari baterai, yang membuat bus masih dapat melaju dengan durasi 10 sampai 30 menit pasca terputus dari sumber listrik jaringan kabel atas.

Harapan untuk Transportasi Jakarta, Ada Bus Listrik dengan Teknologi Pantograf

Sering Terlupakan, “Coat Hook” di Bekakang Kursi Penumpang Ternyata Punya Fungsi Ganda

Dalam penerbangan jarak jauh di kelas ekonomi, area kursi yang Anda duduki bisa saja terasa ‘sesak’, maklum pada penerbangan jarak jauh, umumnya penumpang akan menggunakan headset, kabel data USB untuk pengisian daya perangkat, belum lagi bantal serta selimut. Bila itu tidak diatur penempatannya, maka barang-barang tadi bakal menganggu kenyamanan dalam penerbangan. Namun, semua itu bisa sedikit berkurang bila Anda memanfaatkan ‘coat hook’.

Baca juga: Ini Dia Sejumlah Etika Penumpang yang Duduk di Samping Lorong Kabin

Meski asasinya adalah gantungan mantel, namun pada kenyataan coat hook di kursi kelas ekonomi jarang digunakan untuk menggantungkan mantel atau jaket. Sebab menggantung jaket atau mantel di kursi kelas ekonomi bisa membuat kabin terasa penuh, apalagi bila posisi kursi di pinggir lorong (aisle), maka gantungan jaket dapat menganggu keluar masuknya penumpang lain.

Namun, coat hoaks yang kini dirancang ergonomis dengan kenop tarik, dapat Anda manfaatkan untuk menggantung kabel headset atau kabel USB. Ya itu lebih baik, ketimbang menaruh headset di tempat majalah atau panduan keselamatan penerbangan.

Dari definisinya, gantungan baju pada kursi pesawat, yang sering disebut juga sebagai “coat hook” atau “clothing hook,” adalah fasilitas kecil yang biasanya terpasang di bagian belakang kursi di kabin pesawat. Fungsi utama gantungan baju ini adalah untuk memberikan tempat bagi penumpang untuk menggantungkan jaket, mantel, atau pakaian lainnya selama penerbangan.

Baca juga: Pipis Dilorong Kabin, Pria Mabuk Ini Viral di Media 

Coat hook adalah fasilitas yang sederhana tetapi bermanfaat untuk meningkatkan kenyamanan penumpang di pesawat.

Obskaya – Karskaya, Jalur Kereta Paling Utara yang Akan Bawa Anda ke Ujung Dunia!

Jika Anda dilempar pertanyaan, “Moda apa yang mampu menjangkau Kutub Utara?”. Mungkin sebagian besar dari Anda akan menjawab pesawat terbang dan kapal laut, apapun jenisnya. Tidak ada yang salah dengan jawaban tersebut, namun pada kenyataannya, tidak hanya pesawat terbang lho yang mampu menjangkau daerah Kutub Utara yang terkenal dengan suhu udaranya yang sangat ekstrem, kereta api juga bisa!

Baca Juga: Maharajas Express, Kereta Termewah di Asia Bertarif Mulai Rp51 Juta

Ya, bak sebuah koin yang saling berkiatan antara tampak depan dan belakang, sama halnya dengan kereta yang selalu berkorelasi dengan stasiun. Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, karena posisi geografisnya yang terletak di Arctic Circle, Stasiun Karskaya dinobatkan sebagai stasiun kereta paling utara di dunia. Menurut aturan territorial, stasiun ini masuk ke dalam wilayah kekuasaan Rusia.

Berbeda dengan kebanyakan stasiun yang ada di berbagai penjuru dunia, stasiun paling ujung dari jalur kereta Obskaya – Karskaya ini merupakan salah satu bagian dari Gazprom’s Yamal Mega Project. Dalam membangun jalur ini, sebenarnya Gazprom hanya melanjutkan pembangunan yang sebelumnya dikepalai oleh otoritas Soviet. Sebelumnya, jalur kereta ini hanya menghubungkan Obskaya – Bovanenkovo, namun karena satu dua hal, akhirnnya sang operator melakukan ekstensi hingga ke Karskaya. Bovanenko sendiri diketahui sebagai lading gas terbesar di Semenanjung Yamal, Siberia.

Seperti kebanyakan stasiun, pada umumnya, Stasiun Karskaya dipergunakan untuk mengangkut orang dan juga barang. Jalur kereta Obskaya – Karskaya sendiri membentang sejauh 572 kilometer, atau 47 kilometer lebih jauh ketimbang jalur Obskaya – Bovanenkovo (hanya 525 kilometer). Sepanjang jalur Obskaya – Karskaya ini, terdapat lima buah stasiun, 12 jalur langsiran, dan 70 jembatan yang jika ditotal, panjangnya melebihi 12 kilometer.

Sumber: railwaygazette.com

Jalur Obskaya – Bovanenko sendiri pertama kali dibuka untuk umum pada tahun 2010 silam. Lalu pada Februari 2011, jalur ini diperpanjang hingga Karskaya. Tak lama dari perpanjangan rute tersebut, jalur Obskaya – Karskaya resmi dibuka untuk umum. Menurut kabar yang tersiar, jalur Obskaya – Karskaya ini rencananya akan kembali diekstensi hingga ke pelabuhan Arctic Sabetta.

Baca Juga: Oriental Desert Express, Sensasi Kereta Mewah Pelintas Padang Pasir

Jika Oriental Desert Express yang beroperasi di Maroko, Afrika harus berkutat dengan pasir yang menutupi jalur, maka kereta yang melintas di sepanjang jalur Obskaya – Karskaya ini akan berhadapan dengan dinginnya es khas Kutub Utara. Begitu pun dengan armadanya sendiri, Yamal Express, dimana sejumlah partikel harus mendapat perlindungan ekstra agar kinerjanya tidak menurun ketika menerjang dinginnya jalur ini.

Polandia Punya Fasilitas Pencucian Kereta dengan Tenaga Surya

Kereta api yang digunakan untuk mengangkut penumpang setiap hari akan dicuci ketika kembali ke depo agar kotoran sepanjang hari itu tak lagi ada di kereta, sehingga besoknya ketika beroperasi akan kembali bersih. Banyak negara yang sudah mengoperasikan pencucian kereta secara manual atau otomatis alias mesin yang akan mencuci bagian luarnya.

Baca juga: India Luncurkan Kereta Bertenaga Panel Surya

Seperti Koleje Mazowieckie yang merupakan perusahaan kereta api terbesar kedua di Polandia ini sejak 2015 lalu memiliki mesin pencuci kereta otomatis yang hemat energi dengan sumbernya melalui panas dari sinar matahari. Mereka memiliki tempat pencucian kereta dengan energi sinar matahari ini di Tłuszcz yang berada 40 km timur laut di dari Warsawa.

KabarPenumpang.com melansir laman railtech.com, rencananya di masa depan, perusahaan ini berencana untuk menambah empat fasilitas baru. Dua diantaranya akan berlokasi di Warsawa tepatnya di Stasiun Grochów dan Ochota di mana depertemen pemeliharaan dan operasional Koleje Mazowieckie berada serta dua lainnya di Sochaczew dan Radom di Provinsi Mazovia.

Namun perusahaan kereta terbesar di Polandia ini belum menentukan kapan pastinya pembangunan tempat cuci kereta baru mereka akan di buat. Meski begitu rencana ini nyata dan akan direalisasikan. Untuk diketahui, fasilitas pencucian kereta di Tłuszcz ternyata memiliki dua fitur penting yakni sistem pasokan energi dan air.

“Energi diperoleh, antara lain, dari panel surya yang dipasang di atap bangunan. Selain itu, pencucian memiliki ruang ketel modern. Dari Maret hingga Oktober, air hanya dipanaskan oleh panel surya dan tidak perlu menghidupkan boiler,” kata Koleje Mazowiecki.

Pasokan air untuk tempat pencucian di Tłuszcz sepenuhnya berasal dari pasokan air kota dan sistem poembuangan. Tak hanya itu, mereka juga memperoleh dari sumur sendiri dan air hujan yang ditampung secara khusus dengan filter. Tempat cuci kereta di Tłuszcz di bangun oleh Koleje Mazowieckie dengan dana pribadi mereka yang mengabiskan 18,7 juta zlotys atau lebih dari 4,2 juta euro.

Pencucian kereta di Tłuszcz mampu membersihkan hingga 20 kendaraan per hari. Fasilitas ini tersedia untuk seluruh armada perusahaan yang bervariasi dari 19 meter hingga 100 meter sepanjang tahun. Proses pencucian disediakan dengan bantuan sikat khusus yang dipasang pada alat mencuci.

Mereka beradaptasi dengan dimensi masing-masing jenis rolling stock dan mengubah sudut kemiringan. Selain itu, ada platform khusus yang dapat diperpanjang untuk mencuci atap kereta secara efektif.

Baca juga: Stasiun Kachiguda di India, 100 Persen Lakukan Efisiensi Energi

“Tepat di bawah atap gedung, ada rantai khusus yang dipasang untuk memasok listrik dan air. Dapat digulung lebih dari jarak 100 meter. Ini adalah aplikasi pertama di Polandia,” kata perusahaan itu lagi.

Optimalkan Kebersihan Kereta, KAI Services Datangkan Mesin Cuci Kereta High Pressure dari Italia

Sebagai Central of Services PT KAI (Persero),  KAI Services terus berkomitmen untuk mendukung kinerja PT KAI (Persero) sebagai induk perusahaan dalam memberikan pelayanan terbaik kepada para penumpang kereta api.

Salah satu langkah strategis yang diambil dari Unit Cleaning KAI Services adalah dengan mendatangkan mesin cuci kereta high pressure terbaru yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses pencucian kereta.

Mesin cuci kereta high pressure ini memiliki kemampuan menyemburkan air hingga 15 liter per menit dengan tekanan sebesar 200 bar. Dengan kekuatan ini, proses pencucian kereta menjadi lebih praktis dan efisien, sehingga kebersihan kereta dapat selalu terjaga.

Mesin cuci kereta high pressure ini didatangkan langsung dari Italia sebagai bentuk inovasi dan investasi dalam mendukung operasional yang lebih modern.

Saat ini, mesin cuci kereta high pressure tersebut telah tersedia di dua depo utama, yakni Depo Jakarta Kota dan Depo Surabaya Pasarturi untuk kereta jarak jauh. Kehadiran mesin ini diharapkan dapat mempercepat proses pembersihan kereta api sehingga selalu dalam kondisi bersih dan nyaman saat digunakan oleh para penumpang. Sementara kedepannya, akan ada di Depo Solo Balapan dan Depo Depok untuk kereta KRL.

LRT Jabodebek Terapkan Sistem Cuci Kereta Otomatis dengan Teknologi Canggih dan Ramah Lingkungan

Menurut Vice President Corporate Secretary KAI Services, Rachman Firhan, dengan adanya mesin cuci kereta high pressure ini, kami berharap kebersihan kereta api dapat terjaga secara optimal, sehingga penumpang merasakan kenyamanan yang lebih baik selama perjalanan, hal ini juga sejalan dengan visi KAI Services untuk memberikan pelayanan terbaik untuk penumpang Kereta Api.

“KAI Services senantiasa berupaya mendukung program kerja PT KAI (Persero) dengan menghadirkan berbagai inovasi yang menunjang kualitas layanan transportasi kereta api. Langkah ini juga merupakan bagian dari upaya mewujudkan standar pelayanan yang lebih tinggi demi kenyamanan dan kepuasan pelanggan.” ujar Firhan.

Polandia Punya Fasilitas Pencucian Kereta dengan Tenaga Surya

22 Januari 1970, Boeing 747 (Pan Am) Lakukan Penerbangan Perdana Komersial dari New York ke London

Bila 9 Februari 1969 menjadi tanggal penerbangan perdana prototipe pesawat Jumbo Jet Boeing 747, maka hampir satu tahun kemudian, persisnya 22 Januari 1970, menjadi momen penerbangan perdana komersial Boeing 747.

Penerbangan perdana komersial Boeing 747 adalah peristiwa bersejarah dalam dunia penerbangan komersial. Pada 22 Januari 1970, pesawat ini pertama kali melayani penerbangan penumpang dengan rute New York (John F. Kennedy International Airport) ke London (Heathrow Airport) yang dioperasikan oleh maskapai Pan American World Airways (Pan Am).

9 Februari 1969, Memperingati 54 Tahun Penerbangan Perdana Boeing 747

Pesawat yang digunakan adalah Boeing 747-100, dengan nama Clipper Victor. Penerbangan awalnya dijadwalkan berangkat pada malam hari, tetapi mengalami penundaan selama enam jam karena masalah teknis pada salah satu mesin. Sebagai pengganti, Pan Am menyiapkan pesawat 747 lain untuk melanjutkan perjalanan.

Penerbangan perdana komersial Boeing 747 dari New York (JFK) ke London (Heathrow) memakan waktu sekitar 6 jam 50 menit.

Rute penerbangan ini mencakup jarak sekitar 5.540 kilometer (3.440 mil). Jarak tersebut merupakan salah satu rute transatlantik utama, dan dengan kecepatan jelajah Boeing 747-100, yang berkisar antara 907 km/jam (565 mph), pesawat mampu menyelesaikan perjalanan ini dengan efisien.

Penerbangan perdana komersial Boeing 747 oleh Pan American World Airways pada 22 Januari 1970 membawa 336 penumpang dan 20 awak kabin, sehingga total orang di dalam pesawat adalah 356 orang. Penumpang terdiri dari campuran tamu VIP, awak media, eksekutif maskapai, dan pelanggan umum yang mendapatkan pengalaman pertama dalam sejarah penerbangan menggunakan pesawat berbadan lebar.

Perancis Pasok Batch Pertama Seribu Ton Rel Kereta Api ke Ukraina

Sejak invasi Rusia pada Februari 2022, maka sebagian besar jalur rel kereta api di Ukraina saat ini dalam kondisi rusak berat. Maklum, jaringan rel kereta termasuk yang menjadi sasaran penghancuran oleh serangan udara Rusia. Namun, belum lama ini ada kabar baik dari Perancis.

Seperti dikutip railtech.com, perusahaan kereta api Ukraina – Ukrainian Railways (UZ), telah menerima gelombang (batch) pertama muatan rel dari produsen rel asal Perancis, Saarstahl Rail SAS. Pengiriman tersebut terdiri dari sekitar seribu ton rel, tetapi sebagai bagian dari perjanjian antarpemerintah yang mendasarinya antara Perancis dan Ukraina, Ukraina akan mendapatkan total 19.000 ton.

Di Ukraina, Penumpang Bahu-membahu Mendorong Kereta yang Mogok

Rel baru buatan Perancis tersebut diharapkan dapat membantu UZ melaksanakan rencana pembangunan infrastruktur yang ambisius untuk tahun 2025.

“Setelah pendudukan Mariupol, kami kehilangan satu-satunya produsen rel Ukraina – pabrik baja Azovstal”, jelas ketua dewan UZ Oleksandr Pertsovsky. “Dan berkat mitra internasional, kami menerima produk langka ini dan terus memulihkan serta mendukung infrastruktur kereta api.”

Rel dari gelombang pertama akan digunakan pada bulan Maret-April tahun ini untuk melakukan perbaikan besar pada jalur di ruas Viytivtsi – Volochysk dan Fastiv-2 – Ustinivka – ini adalah rute kereta api berkecepatan tinggi ke Lviv dan Dnipro. Kementerian Keuangan Ukraina, dan mitra Perancis berharap seluruh pasokan akan dikirim ke Ukraina pada awal musim gugur 2025.

Maryna Denysiuk, Wakil Menteri Komunitas dan Pembangunan Teritorial Ukraina, mengemukakan bahwa rel lebar yang dikirim akan membantu memulihkan infrastruktur yang rusak akibat perang. Ia mengatakan bahwa Ukraina akan dapat memastikan keselamatan lalu lintas, logistik berkelanjutan, dan koneksi penting antarwilayah di masa perang.

Dengan rel yang saat ini dipasok, UZ akan dapat memulihkan rel sepanjang 145 kilometer. Secara khusus, perbaikan besar akan dilakukan di jalur-jalur yang paling penting: Lviv – Uzhhorod, Kyiv – Lviv – perbatasan UE, Kyiv – Odesa, Kyiv – Dnipro, dan Kyiv – Kharkiv.

Sebagai bagian dari perjanjian antara Perancis dan Ukraina, UZ menerima pinjaman sebesar 37,6 juta euro selama 35 tahun dengan bunga 0,0161 persen per tahun. UZ tidak perlu membayar pinjaman ini selama 14 tahun pertama dan dengan demikian akan menggunakan rel tersebut secara praktis tanpa biaya.

Pada saat yang sama, Bank Eropa untuk Rekonstruksi dan Pembangunan mendanai pembelian 30.000 ton rel lagi, dan UZ menerima 25.000 ton rel dari Jepang.

Infrastruktur Rusak Berat, Ukraina Canangkan Reformasi Jaringan Kereta, Termasuk Impor 130 Lokomotif dari Perancis