LRT Jabodebek Sabet Gelar di World Skill Competition 2024 dan DTKJ Award

LRT Jabodebek meraih dua penghargaan bergengsi dalam ajang DTKJ Awards 2024. Acara yang diselenggarakan oleh Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) ini bertema “Transportasi Terintegrasi yang Inklusif & Berkelanjutan untuk Jakarta Kota Global”. Tak hanya itu, LRT Jabodebek yang diwakili pekerjanya berhasil menyabet gelar emas di ajang World Skill Competition 2024 di Lyon, Perancis.

Baca juga: Dijamin Nyambung ke Sudut Kota, Berikut Daftar Koneksi-Integrasi Transportasi di Stasiun LRT Jabodebek

Pada penghargaan DTKJ Award 2024, LRT Jabodebek berhasil membawa pulang predikat silver dalam dua kategori:

1. Operator dengan Kelembagaan Terakomodir dalam Pelayanan Disabilitas.
2. Operator Terbaik Penyedia Sarana dan Prasarana Transportasi Ramah Disabilitas, Lansia, Ibu Hamil, dan Anak.

Manager Public Relations LRT Jabodebek, Mahendro Trang Bawono, menyampaikan bahwa penghargaan ini tidak hanya merupakan bentuk apresiasi atas layanan LRT Jabodebek, tetapi juga menjadi motivasi untuk terus meningkatkan pelayanan.

“Penghargaan ini adalah bukti nyata dari komitmen LRT Jabodebek dalam menyediakan layanan yang ramah bagi seluruh pengguna, termasuk penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya,” kata Mahendro.

Ajang DTKJ Awards 2024 bertujuan untuk memberikan apresiasi kepada berbagai operator transportasi yang berkomitmen pada integrasi, keberlanjutan, dan inklusivitas. Komitmen LRT Jabodebek terus diwujudkan melalui berbagai fasilitas, seperti guiding block, lift prioritas, toilet khusus difabel, gate khusus untuk kursi roda, dan kursi serta space prioritas di dalam kereta. Selain itu, platform screen door yang dipasang di semua peron menjamin keselamatan pengguna, terutama anak-anak.

Tidak hanya sukses di dalam negeri, pekerja LRT Jabodebek juga berhasil mengukir prestasi gemilang di ajang internasional World Skill Competition ke-47 yang diselenggarakan di Lyon, Perancis, pada 14 September 2024.

Cahyo Dwi Prayogo, pekerja LRT Jabodebek, berhasil meraih Gold Medal dalam kategori Rail Vehicle Technology, mengungguli negara-negara seperti Hong Kong dan Singapura. Cahyo menampilkan performa terbaik dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk pemeliharaan pantograf, pengujian pintu kompartemen penumpang, pemeliharaan bogie, serta troubleshooting kerusakan kendaraan.

Baca juga: Long Weekend Maulid Nabi, LRT Jabodebek Diserbu Ratusan Ribu Penumpang

Kemenangan ini menjadi bukti bahwa pekerja LRT Jabodebek tidak hanya memiliki keterampilan dan dedikasi tinggi di bidang teknologi perkeretaapian, tetapi juga mampu bersaing di level internasional. “Raihan gold medal ini merupakan kebanggaan bagi LRT Jabodebek dan juga bagi industri perkeretaapian Indonesia,” ujar Mahendro.

“Kami sangat bangga dengan pencapaian ini, baik di tingkat nasional melalui DTKJ Awards maupun di kancah internasional melalui World Skill Competition. Keberhasilan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas layanan transportasi publik,” tutupnya.

Gara-gara Pengaturan Bagasi Kargo Tidak Tepat, Sejumlah Penerbangan Berakhir Nahas

Seperti diulas pada artikel sebelum ini, yakni pentingnya peran Load Control Officer (LCO) atau Load Controller dalam penerbangan komersial. Bila mereka tidak mampu mengatur posisi bagasi kargo dengan tepat, maka bisa berujung tidak seimbangnya pesawat saat mengudara, dan pada akhirnya mengancam keselamatan dalam penerbangan secara keseluruhan.

Baca juga: Di Tangan Mereka, Keseimbangan Muatan pada Bagasi Kargo Pesawat Menjadi Taruhan

Ada beberapa kasus atau insiden pesawat yang terkait dengan pengaturan bagasi atau kargo yang tidak tepat. Ketidakseimbangan beban atau pengaturan muatan yang salah bisa berdampak serius pada stabilitas, performa lepas landas, dan pendaratan pesawat. Berikut beberapa contoh insiden yang terjadi akibat pengaturan muatan yang tidak tepat:

1. Fine Air Flight 101 (1997)
Pada 7 Agustus 1997, pesawat kargo Douglas DC-8 milik Fine Air lepas landas dari Bandar Udara Internasional Miami menuju Santo Domingo. Setelah lepas landas, pesawat kehilangan kendali dan jatuh, menewaskan semua orang di dalam pesawat dan dua orang di darat.

Penyebab kecelakaan adalah muatan yang tidak diamankan dengan benar, yang menyebabkan pergeseran pusat gravitasi pesawat. Hal ini membuat pesawat menjadi tidak stabil selama lepas landas.

2. National Airlines Flight 102 (2013)
Pada 29 April 2013, sebuah pesawat kargo Boeing 747-400 milik National Airlines jatuh tak lama setelah lepas landas dari Bagram Airfield di Afghanistan. Pesawat ini membawa kendaraan militer berat, termasuk lima kendaraan lapis baja.

Investigasi menemukan bahwa muatan tidak diikat dengan benar dan bergeser ke belakang, mengakibatkan pusat gravitasi pesawat bergeser terlalu jauh ke belakang. Ini menyebabkan pesawat kehilangan kendali dan akhirnya jatuh, menewaskan seluruh awak pesawat yang berjumlah tujuh orang.

3. Air Midwest Flight 5481 (2003)
Pada 8 Januari 2003, pesawat Beechcraft 1900D yang dioperasikan oleh Air Midwest jatuh tak lama setelah lepas landas dari Charlotte/Douglas International Airport di North Carolina.

Investigasi menemukan bahwa berat pesawat melebihi batas maksimum yang diizinkan dan pusat gravitasi berada terlalu jauh ke belakang. Selain itu, penumpang dan bagasi tidak didistribusikan dengan benar, sehingga pesawat kehilangan kendali saat mendaki.

4. Arrow Air Flight 1285 (1985)
Pada 12 Desember 1985, pesawat McDonnell Douglas DC-8 milik Arrow Air jatuh setelah lepas landas dari Gander, Newfoundland, Kanada. Pesawat ini membawa personel militer Amerika Serikat.

Penyebab kecelakaan termasuk pengaturan muatan yang buruk dan kemungkinan akumulasi es di sayap, yang mengurangi daya angkat pesawat. Kombinasi faktor-faktor ini menyebabkan pesawat tidak dapat mencapai ketinggian dan akhirnya jatuh.

5. MK Airlines Flight 1602 (2004)
Pada 14 Oktober 2004, pesawat kargo Boeing 747-200F milik MK Airlines mengalami kecelakaan di Halifax Stanfield International Airport, Kanada.

Investigasi mengungkapkan bahwa perhitungan berat pesawat yang salah dan pengaturan muatan yang tidak tepat menyebabkan pesawat tidak memiliki kecepatan angkat yang cukup untuk lepas landas. Pesawat jatuh di ujung landasan pacu, menewaskan semua awak pesawat.

Insiden-insiden di atas menunjukkan pentingnya pengaturan muatan yang tepat dan perhitungan berat serta keseimbangan pesawat yang akurat. Kesalahan dalam pengaturan muatan dapat berakibat fatal, mempengaruhi stabilitas pesawat dan kemampuan untuk terbang dengan aman. Oleh karena itu, petugas pengatur muatan seperti loadmaster, Load Control Officer, dan kru lainnya memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan semua muatan di pesawat terdistribusi dengan aman sesuai dengan spesifikasi teknis pesawat.

Bawa Bagasi Besar Saat Naik Pesawat, Ini yang Perlu Diketahui

Di Tangan Mereka, Keseimbangan Muatan pada Bagasi Kargo Pesawat Menjadi Taruhan

Pengaturan bagasi kargo pada pesawat bukan perkara sepele, pasalnya salah dalam pengaturan, maka bobot pesawat bisa menjadi tidak seiumbang, yang ujung-ujung dapat mengancam keselamatan penerbangan. Nah, untuk itu, ada petugas yang punya peran khusus untuk mengatur tata letak dan penempatan bagasi kargo, mereka bekerja dengan cermat dan cepat menjelang jadwal keberangkatan.

Baca juga: Bayi Macan Tutul Lemas Setelah Disembunyikan di Dalam Tas Bagasi Kargo

Dalam konteks pesawat penumpang sipil, petugas yang bertanggung jawab untuk mengatur posisi bagasi dan kargo di pesawat tidak selalu disebut loadmaster, yang umumnya lebih pada pesawat angkut militer. Sebaliknya, posisi ini lebih dikenal dengan istilah Load Control Officer (LCO) atau Load Controller.

Load Control Officer adalah petugas yang mengawasi dan merencanakan distribusi muatan, termasuk bagasi penumpang, kargo, dan surat muatan udara, untuk memastikan keseimbangan dan keamanan pesawat. Mereka bertanggung jawab untuk membuat Load Sheet yang memberikan informasi detail tentang distribusi berat dan keseimbangan pesawat kepada pilot.

Kemudian ada yang disebut Ramp Agent, juga dikenal sebagai baggage handler atau ground handling staff, adalah petugas yang secara fisik menangani muatan, termasuk pemuatan dan pembongkaran bagasi dan kargo dari pesawat. Mereka bekerja di apron (landasan pesawat) dan memastikan muatan dimasukkan sesuai dengan petunjuk Load Control Officer.

Lalu ada lagi Weight and Balance Coordinator, beberapa maskapai menyebut petugas yang mengatur muatan dan melakukan perhitungan keseimbangan pesawat sebagai Weight and Balance Coordinator. Mereka memastikan bahwa distribusi muatan pesawat sesuai dengan regulasi keselamatan dan batasan operasional pesawat.

Terakhir ada dispatcher, yang mengatur rencana penerbangan, mereka juga berkolaborasi dengan Load Control Officer untuk memastikan perhitungan berat dan keseimbangan pesawat sesuai dengan rencana penerbangan yang aman.

Mau Bawaan Anda Tiba Lebih Cepat di Ban Berjalan? Ini Kata Petugas Penanganan Bagasi

Beragam Inovasi Teknologi Penerbangan PTDI, Mulai Dari Pengembangan Pesawat Eksisting Sampai Transportasi Udara Masa Depan

Pada Bali International Airshow 2024, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menekankan berbagai kolaborasinya dengan global partner untuk produk pesawat eksisting, CN235-220 dan NC212i, serta perannya dalam menciptakan terobosan dan revolusi teknologi dirgantara Indonesia melalui pengembangan moda transportasi masa depan berbasis Advanced Air Mobility (AAM). Hal ini menegaskan komitmen PTDI dalam mendorong inovasi dan pemenuhan kebutuhan pasar akan solusi penerbangan berkualitas tinggi.

Baca juga: Hari Ini, 37 Tahun Lalu, CN-235 Pesawat Turboprop Kebanggaan Indonesia Terbang Perdana

Pengembangan pesawat CN235-220 konfigurasi MPA/ASW
Sebagaimana hasil pertemuan Presiden RI, Joko Widodo dengan Menteri Pertahanan Filipina, Gilberto Eduardo Gerardo C. Teodoro Jr. pada bulan Januari 2024 lalu, bahwa terdapat peluang kedepan bagi PTDI secara khusus, dan bagi Indonesia secara umum untuk mencapai tonggak penting lainnya di Filipina, yaitu potensi pengadaan pesawat CN235-220 Maritime Patrol Aircraft dan Anti-Submarine Warfare (MPA/ASW) dari PTDI untuk Philippine Navy.

PTDI berkolaborasi dengan partner strategisnya untuk menjawab kebutuhan pesawat MPA/ASW di Filipina tersebut, dalam hal ini bersama SCYTALYS, Perusahaan pengembangan software dan integrasi sistem terkemuka yang berkantor di Yunani, Amerika Serikat dan Singapura.

“SCYTALYS sangat antusias untuk dapat meningkatkan peran pesawat CN235 sebagai solusi yang serbaguna dan efisien dari segi biaya, memenuhi kebutuhan yang terus berkembang untuk platform multi-role surveillance, patroli maritim, serta pencarian dan penyelamatan (SAR). Sistem MIMS (Mission Information & Management System) Airborne kami adalah sistem misi yang canggih, modular dan dapat dikombinasikan dengan CN235 dari PTDI, memberikan solusi untuk misi MPA/ASW yang efektif,” kata Dimitris Karantzavelos, Presiden SCYTALYS.

PTDI dan SCYTALYS akan bekerja sama secara erat, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan Filipina tetapi juga untuk melayani permintaan MPA/ASW dari negara-negara lain. “Kami memaksimalkan upaya untuk menjadikan produk pesawat CN235 menjadi lebih kompetitif, sehingga dapat mendorong peningkatan kontrak ekspor baru,” jelas Gita Amperiawan, Direktur Utama PTDI.

Kemajuan pasar pesawat NC212i dan pengembangannya
Sebagai produsen satu-satunya pesawat NC212i di dunia, PTDI selalu memastikan peningkatan kualitas dan kepuasan pelanggan/user terhadap produk yang dihasilkan. Pada tahun 2023 lalu PTDI dan DND Philippines tanda tangani kontrak baru untuk pengadaan 6 (enam) unit pesawat NC212i beserta suku cadangnya. Pengadaan ini merupakan kelanjutan dari pengadaan 2 (dua) unit sebelumnya di tahun 2014, yang mengindikasikan bahwa produk PTDI secara kualitas dapat diterima oleh pelanggan.

Untuk mendukung pemenuhan kontrak baru dari DND Philippines tersebut, pada momentum Bali International Airshow 2024 hari pertama (18/09) PTDI dan Honeywell sepakati pembelian sebanyak 6 (enam) set mesin turboprop tipe TPE331 untuk mendukung pesawat NC212i produksi PTDI yang kemudian akan dioperasikan Philippine Air Force. Keberadaan Honeywell dalam menyediakan mesin turboprop tipe TPE331 sejak tahun 2007 mendorong pesawat NC212i memiliki kemampuan take off lebih cepat, serta efisien saat menjelajah, menjadikan pesawat NC212i kompetitif di pasar dan dapat menciptakan kepuasan bagi pelanggan, terbukti dari repeat order yang dilakukan oleh DND Philippine yang telah menjadi loyal customer PTDI terhadap pesawat NC212i.

Adapun saat ini PTDI juga telah menapaki babak barunya dalam produksi pesawat NC212i kedepan dengan baling-baling baru buatan MT Propeller, Jerman, yakni MTV-27 yang telah disertifikasi oleh EASA. Penggunaan MTV-27 pada NC212i telah teruji compatible dengan engine terpasang, yaitu Honeywell TPE331, yang kemudian dapat menghasilkan noise dan vibrasi yang rendah pada operasi pesawat. Pengembangan pesawat NC212i dengan MT Propeller telah dimulai sejak bulan Agustus 2023, yaitu pada pesawat NC212i produksi PTDI yang ke-123 untuk pelanggan Kementerian Pertahanan RI/TNI AU.

PTDI sebagai sentra pengembangan produk aerospace generasi baru
Kesadaran akan pentingnya moda transportasi masa depan pesawat terbang e-VTOL berbasis Advanced Air Mobility (AAM) dengan teknologi terkini mendorong PTDI untuk mengambil perannya sebagai sentra pengembangan produk aerospace yang terbuka dan dapat diakses oleh perusahaan-perusahaan start-up yang berinisiatif mengembangkan produk aerospace generasi baru. Hal ini dilatarbelakangi oleh posisi PTDI yang merupakan satu-satunya pabrikan/OEM pesawat terbang di Indonesia yang sudah memiliki resources lengkap di industri dirgantara, yang dapat mendukung untuk merealisasikan pengembangan, manufaktur, hingga komersialisasi pesawat AAM.

Pada kesempatan Bali International Airshow hari kedua (19/09), Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan menyaksikan penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara PT Vela Prima Nusantara (Vela) –salah satu partner PTDI dalam pengembangan pesawat AAM, dengan PT Sayap Garuda Indah (SGI Air Bali) untuk kolaborasi pengembangan produk Vela Alpha sampai dengan keberhasilan perolehan sertifikasi oleh otoritas penerbangan terkait, dalam hal ini Direktorat Kelaikudaraan & Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan RI, yang kemudian akan berlanjut kesepakatannya hingga pembelian unit Vela Alpha yang akan dioperasikan untuk mendukung sektor pariwisata, maupun penerbangan transfer. Adapun setelahnya Vela dan PTDI juga sepakati Framework Agreement untuk kerja sama dalam rekayasa, pengembangan dan produksi pesawat Vela Alpha.

Vela Alpha merupakan Lift & Cruise Aircraft dengan kapasitas 4 penumpang untuk VIP transport dan kapasitas 6 penumpang untuk economy transport. “Disini Vela membawa sub-scale aircraft yang berskala 1:3 untuk dipamerkan di Bali International Airshow 2024. Berikutnya Vela akan membangun pesawat technology demonstrator berskala 1:1 dengan target selesai pembangunan di akhir tahun 2025. Kedua pesawat tersebut adalah langkah Vela sebelum masuk tahap certification prototype aircraft,” ujar Rejeki Simanjorang, Direktur Teknologi Vela.

Di samping kerjasamanya dengan Vela, PTDI juga menjalin kolaborasi dengan start-up lainnya, yaitu PT Intercrus Aero Indonesia (Intercrus) untuk bersama-sama mengembangkan, mensertifikasi, memanufaktur dan komersialisasi produk multicopter berbasis AAM yang bernama Intercrus Sola dengan kapasitas 3 penumpang untuk memenuhi kebutuhan mobility transport. Pada kesempatan hari ini (19/09), PTDI dan Intercrus mengumumkan kerja samanya yang ditandai dengan penadatanganan Framework Agreement tentang kerja sama kegiatan preliminary design, feasibility study & full-scale prototype development Intercrus Sola, sebagai tindak lanjut dari kesepakatan MoU sebelumnya terkait kerja sama pengembangan, sertifikasi, manufaktur dan komersialisasi Intercrus Sola yang telah ditandatangani pada Juni 2024.

Kerja sama PTDI dengan masing-masing partner start-up tersebut merupakan bentuk komitmen PTDI dalam mewujudkan visi transportasi udara masa depan yang lebih efisien dan ramah lingkungan. “Ini adalah produk inovasi yang diciptakan oleh generasi muda yang harus kita dukung, dan PTDI bersedia menjadi fasilitator dengan lembaga Pemerintah, akademisi dan beberapa industri terkait, untuk memastikan bahwa setiap aspek industrialisasi teknologi AAM ini dapat diterima dan diintegrasikan secara efektif dalam ekosistem aviasi yang ada, berlanjut sampai komersialisasi dan dioptimalkan pemanfaatannya oleh masyarakat Indonesia,” kata Moh Arif Faisal, Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI.

Proyeksi Boeing: “Lalu Lintas Penumpang Udara di Asia Tenggara Tumbuh 7,2 Persen di Tahun 2043”

Boeing memproyeksikan lalu lintas penumpang udara di Asia Tenggara akan meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam 20 tahun mendatang. Pertumbuhan ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang melampaui rata-rata global serta meningkatnya kelas menengah.

Baca juga: Kata Petinggi Airbus: “Indonesia Butuh 1.000 Pesawat Baru Dalam 20 Tahun ke Depan”

Untuk memenuhi lonjakan permintaan perjalanan udara, armada pesawat di kawasan ini diperkirakan akan tumbuh lebih dari tiga kali lipat menjadi 4.960 pesawat, menurut Prospek Pasar Komersial Boeing 2024 (Commercial Market Outlook atau CMO), yang merupakan proyeksi jangka panjang perusahaan untuk pesawat komersial dan layanan pendukung.

Berdasarkan CMO, lalu lintas udara penumpang di Asia Tenggara akan tumbuh sekitar 7,2% per tahun hingga 2043, jauh melampaui tingkat pertumbuhan rata-rata global sebesar 4,7% per tahun.

“Dengan proyeksi Asia Tenggara sebagai kawasan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di dunia, peningkatan pendapatan rumah tangga akan membuka peluang bagi konsumen baru di pasar penerbangan. Hal ini akan mendorong perkembangan model bisnis berbiaya rendah dan segmen perjalanan wisata,” ujar David Schulte, Managing Director Boeing Commercial Marketing untuk Asia Timur Laut, Asia Tenggara, dan Oseania.

“Pertumbuhan armada di Asia Tenggara – terutama pesawat berlorong tunggal – akan menjadi kunci dalam meningkatkan konektivitas di kawasan kepulauan ini, sekaligus memenuhi permintaan perjalanan di seluruh Asia-Pasifik, terutama untuk rute menuju Tiongkok dan Asia Timur Laut,” tambah Schulte.

Hingga 2043, Boeing juga memproyeksikan:
– Maskapai di Asia Tenggara akan memperluas pangsa armada Asia-Pasifik mereka dari 17% menjadi 25%.
– Untuk memenuhi permintaan penerbangan jarak jauh, pesawat berbadan lebar seperti 787 Dreamliner akan menyumbang satu dari lima pengiriman di Asia Tenggara.
– Kawasan ini akan membutuhkan lebih dari 120 pesawat kargo baru dan yang dikonversi untuk mendukung rantai pasokan global yang semakin terdiversifikasi serta permintaan e-commerce yang terus meningkat.
– Operator di Asia Tenggara akan membutuhkan lebih dari 234.000 pilot baru, teknisi pemeliharaan, dan awak kabin – lebih dari tiga kali lipat jumlah personel aktif saat ini.

Industri penerbangan komersial di Asia Tenggara terus berfokus pada peningkatan keberlanjutan. Dalam 20 tahun mendatang, sekitar 1.200 pesawat baru yang lebih efisien bahan bakar akan menggantikan armada lama di kawasan ini. Selain itu, seiring dengan upaya industri penerbangan global untuk mencapai emisi karbon nol bersih (net-zero) pada 2050, sumber bahan baku bio di Asia Tenggara diproyeksikan mampu memenuhi sekitar 12% dari permintaan global untuk bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF), menurut riset penilaian bahan baku SAF yang didukung oleh Boeing.

Kata Petinggi Airbus: “Indonesia Butuh 1.000 Pesawat Baru Dalam 20 Tahun ke Depan”

Airbus memperkirakan bahwa Indonesia akan membutuhkan setidaknya 1.000 pesawat baru dalam 20 tahun ke depan, menjadikannya salah satu pasar dengan pertumbuhan tertinggi di dunia untuk sektor penerbangan.

Baca juga: Airbus dan Pertamina Berkolaborasi Jajaki Pengembangan SAF di Indonesia 

Airbus President Asia Pacific, Anand Stanley memaparkan pada acara media briefing di Bali International Airshow (BIAS), bahwa perkiraan ini berdasarkan angka pertumbuhan lalu lintas penumpang yang kuat sekitar 7,4 persen per tahun – lebih dari dua kali lipat dari rata-rata pertumbuhan global yang hanya sebesar 3,6 persen.

“Di negara besar yang terdiri dari 17.000 pulau dan berpenduduk 280 juta jiwa, yang mana sebagian besar penduduknya belum pernah terbang dengan pesawat, transportasi udara akan menjadi sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” kata Anand.

“Dan seiring dengan meningkatnya minat untuk melakukan perjalanan udara, armada yang ada saat ini serta backlog pesanan yang telah dikonfirmasi jelas tidak akan cukup untuk memenuhi permintaan.”

Saat ini, di Indonesia, jumlah pesawat yang beroperasi dan masing-masingnya memiliki lebih dari 100 kursi (dari semua pabrikan) adalah 480 pesawat, sementara pesawat tambahan yang telah dipesan berjumlah 490. Setengah dari pesawat yang beroperasi ini adalah pesawat Airbus, dan setengah dari backlog pesanan juga merupakan pesawat Airbus.

Anand membandingkan  beberapa koneksi perjalanan di dalam negeri berdasarkan pilihan jadwal penerbangan yang ada saat ini melalui jalur darat dan laut. Ia mencontohkan perjalanan antara titik paling timur dan barat Indonesia, dari Banda Aceh di Sumatera ke Merauke di Papua Barat. Melalui udara, perjalanan tercepat saat ini memakan waktu 13 jam 35 menit dengan dua kali transit, sementara melalui darat dan laut perjalanan memakan waktu sekitar 11 hari.

Dia menambahkan, bahkan untuk beberapa rute pendek seperti Jakarta ke Denpasar, menggunakan moda transportasi selain penerbangan akan bisa memakan waktu hampir 24 jam. Anand menjelaskan bahwa untuk membuka rute baru, A220 lorong tunggal generasi terbaru akan menjadi pilihan yang sempurna bagi maskapai penerbangan di Indonesia.

“A220 memiliki jangkauan terbang paling jauh jika dibandingkan dengan pesawat manapun di kategori ukurannya. Pesawat ini akan memungkinkan dibukanya penerbangan langsung tanpa henti antara dua titik di seluruh kepulauan Indonesia. Selain itu, pesawat ini juga hanya membutuhkan landasan pacu yang pendek sehingga memungkinkan maskapai untuk membuka jaringan penerbangan baru untuk melayani masyarakat di daerah yang lebih terpencil.”

Untuk rute-rute dengan permintaan jumlah penumpang yang lebih tinggi, serta untuk mengembangkan layanan internasional, Anand mengatakan bahwa minat negara ini terfokus pada A330neo, yang telah beroperasi dengan Garuda Indonesia dan Lion Group.

Sejarah Pesawat Airbus A300, Dari Proses Penamaan Hingga Sumbangsih Dirut Garuda Indonesia

“Versi terbaru dari pesawat berbadan lebar yang populer dan telah terbukti kemampuannya ini memiliki tingkat fleksibilitas yang tinggi. Kami melihat kemampuan tersebut terbukti di Indonesia, di mana maskapai penerbangan Garuda Indonesia mengoperasikan pesawat ini dengan konfigurasi premium pada berbagai rute di seluruh kawasan Asia Pasifik. Sementara itu, Lion Group menerbangkan versi pesawat dengan konfigurasi kepadatan tinggi yakni dengan kapasitas 440 kursi, yang digunakan baik di dalam negeri maupun penerbangan untuk ibadah ke Timur Tengah.”

Selain menjadi pasar utama bagi Airbus, Anand mengatakan bahwa Airbus ingin membangun kemitraan di Indonesia. Ia mengatakan bahwa salah satu prioritas perusahaan adalah untuk memajukan hubungan jangka panjang dengan PT DI, yang kini telah berlangsung selama hampir 50 tahun, dan mengembangkan kemitraan baru baik dengan sektor pemerintahan maupun swasta.

Sambut Hari Nasional, Saudia Luncurkan Livery Baru di Boeing 787-9 Dreamliner

Maskapai plat merah Arab Saudi, Saudia telah merilis foto-foto yang perdana yang memperlihatkan Boeing 787-9 Dreamliner yang dicat khusus dengan livery untuk merayakan Hari Nasional Saudi yang akan datang.

Baca juga: Saudia vs Etihad, Siapa Juara di Kelas Ekonomi?

Boeing 787-9 Dreamliner yang dipilih dengan livery khusus diketahui adalah pesawat dengan registrasi HZ-ARB. Pesawat itu difoto dengan penutup mesin hijau tua dan desain ekor baru yang menawan.

Maskapai penerbangan nasional Arab Saudi itu mengunggah foto-foto jet berbadan lebar itu melalui media sosial pada 10 September 2024, saat perayaan Hari Nasional Saudi mulai berlangsung pada 23 September 2024.

Saudia mengunggah foto-foto 787-9 Dreamliner saat pengerjaan untuk mengubah desain livery pesawat hampir selesai. Pada tanggal 23 September 1932, Raja Abdulaziz ibn Saud mengganti nama Kerajaan Nejd dan Hejaz menjadi Kerajaan Arab Saudi dan pada tahun 1965 Raja Faisal bin Abdulaziz memutuskan bahwa hari tersebut harus diperingati dengan perayaan nasional.

Setiap tahun, Hari Nasional Saudi diperingati dengan hari libur umum dan perayaan tradisional diadakan di seluruh Kerajaan.

Menjelang akhir tahun 2023, Saudia meluncurkan brand dan livery pesawat yang diperbarui yang juga mencakup logo baru dan seragam awak kabin.

Identitas warna logo baru, yang dicirikan oleh nuansa hijau, biru, dan pasir, melambangkan ambisi Saudia untuk memperluas armada dan destinasinya, sehingga mendorong konektivitas global dengan Arab Saudi.

Saudia juga menambahkan ekor yang didesain ulang, sekarang dihiasi warna hijau dan menampilkan logo baru, dengan kata “Saudia” di bagian bawah badan pesawat.

Ketika Hibah Pesawat DC-3 Presiden AS Jadi Sebab Lahirnya Maskapai Saudia

Hari Ini, 48 Tahun Lalu, Turkish Airlines Flight 452 Jatuh Gegara Pilot Mengira Jalan Raya Sebagai Runway

Hari Ini, 48 Tahun Lalu, bertepatan dengan 19 September 1976, pesawat Boeing 727-200 Turkish Airlines dilaporkan hancur berkeping-keping akibat menabrak lereng bukit dekat Isparta, Turki. Kecelakaan tersebut lebih diakibatkan oleh human error, tatkala pilot kukuh telah melihat runway Bandara Antalya sepanjang 4.000 meter dan tanpa pikir panjang langsung melakukan approach dengan menurunkan ketinggian. Alhasil, pesawat dengan nomor penerbangan 452 itu pun berakhir nahas dan menewaskan 154 orang (penumpang dan awak).

Baca juga: Hari Ini, 46 Tahun Lalu, Kecelakaan Terburuk Turkish Airlines Akibat Mekanik Tak Paham Bahasa Inggris

Seperti dilansir aviation-safety.net, Turkish Airlines flight TK452 diketahui berangkat dari Bandara Internasional Atatürk, Istanbul, pukul 22:45 waktu setempat untuk melahap penerbangan satu jam ke Bandara Internasional Antalya di Turki selatan.

Setelah melewati Bandara Afyon yang terletak 210 km di utara Antalya, pilot meminta turun dari flight level 250 (FL250) atau 25 ribu kaki ke FL130 13 ribu kaki (3.962 meter). Tak lama setelah itu, pilot dan co-pilot melaporkan ke air traffic controller (ATC) bahwa secara visual mereka telah melihat lampu-lampu Kota Antalya, termasuk runway sepanjang 4.000 meter. Atas dasar itu, pilot meminta izin untuk melalukan landing approach di runway 36 bandara.

Sampai di sini, sempat terjadi berdebatan alot antara petugas ATC dengan pilot. Petugas ATC menyatakan bahwa secara visual dan radar, Boeing 727-200 Turkish Airlines flight TK452 sama sekali belum terlihat. Namun, pilot tentu tak ingin kehilangan timing pendaratan mengingat hal itu cukup fatal. Singkat kata, pilot mengaku yakin dengan apa yang ia lihat, diikuti dengan approach landing dari semula di ketinggian 3.962 meter menjadi 3.000 meter, 2.500 meter, 1.500 meter, dan 1.000 meter.

Sambil terus diperingatkan ATC agar tak lebih dahulu mendarat sebelum diberi clearance, pesawat terus menurunkan ketinggian untuk melakukan pendaratan mulus dari arah utara ‘runway’ sepanjang 4.000 meter tadi.

Saat pesawat berada di ketinggian 150 meter di atas ‘runway’ barulah pilot menyadari bahwa pesawat sedang menuju ke jalan raya Isparta yang saat itu tengah dilalui oleh beberapa truk. Mengetahui pengelihatannya keliru, pilot berusaha menambahkan ketinggian pesawat untuk menuju bandara sebenarnya yang masih berada 100 km di Selatan.

Namun, apa mau dikata, pesawat berusia 1 tahun 10 bulan dengan nomor registrasi TC-JBH tak berada pada posisi yang tepat hingga sayap kanan menabrak lereng bukit di ketinggian 1130 m dan jatuh berkeping, tak lama usai sayap kanan hancur. Akibat kejadian itu, sebanyak 146 penumpang dan delapan orang kru dilaporkan tewas seketika.

Baca juga: Sempat Sesak Napas, Penumpang Turkish Airlines Coba Mendobrak Kokpit

Kecelakaan Boeing 727-200 Turkish Airlines flight TK452 pun melengkapi tiga kecelakaan sebelumnya dalam tempo dua tahun berturut-turut.

Catatan airsafe.com, pada 26 Januari 1974, pesawat Fokker F28 Turkish Airlines flight 301 jatuh dan menewaskan 66 penumpang dan kru. 3 Maret 1974, Douglas DC-10 flight 981 maskapai tersebut juga kecelakaan dan menewaskan 333 penumpang serta 12 kru. Di tahun berikutnya, 30 Januari 1975, pesawat Fokker F28 Turkish Airlines flight 345 jatuh dan menewaskan empat kru serta 37 penumpang.

Bisnis Makin Menggeliat, KAI Wisata Bukukan 772.313 Pelanggan

PT KA Pariwisata (KAI Wisata) mencatat sebanyak 772.313 pelanggan setia yang menggunakan jasa layanan fasilitasnya. Capaian ini tak lepas dari berbagai inovasi yang ditempuh perseroan, termasuk kereta panoramic dan layanan kereta wisata terbaru Dining on Train (DoT) yang terakhir dioperasikan saat perayaan ulang tahun ke-15 yang mengusung tema Momen Istimewa Luxurious Journey Inspiring the Future.

Baca juga: Sudah Tahu Beda Kereta Wisata by KAI Wisata dengan Kereta Api Reguler by KAI? Simak Di Sini

Pada periode Januari-Agustus 2024, KAI Wisata memberikan hasil nyata pada lini bisnisnya. Salah satu pencapaian signifikan adalah jumlah penumpang kereta wisata yang mencapai 11.121 orang untuk pola perjalanan perorangan dan sebanyak 381 kereta wisata yang terpakai untuk perjalanan pola carter. Perjalanan ini melintasi dua jalur utama, yaitu jalur selatan dan jalur utara.

Di jalur selatan, perjalanan mencakup rute Cirebon, Purwokerto, Kutoarjo, Yogyakarta, hingga Solo, yang menawarkan pemandangan alam serta pengalaman budaya khas Jawa Tengah dan Yogyakarta. Sementara itu, di jalur utara, rute mencakup Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, hingga Surabaya Pasar Turi, dengan beberapa perjalanan juga dilanjutkan ke Malang, yang dikenal sebagai destinasi wisata populer di Jawa Timur.

Wawan Ariyanto selaku Direktur Operasi mengatakan, “keberhasilan ini menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap layanan kereta wisata KAI Wisata, yang tidak hanya menawarkan kenyamanan, tetapi juga menghadirkan pengalaman berwisata yang berkesan. Selain itu, pencapaian ini juga mendukung sektor pariwisata di berbagai daerah yang dilalui oleh kereta wisata”.

Tidak hanya penumpang kereta wisata, pelanggan setia juga ramai menghampiri lini bisnis lainnya seperti tempat wisata Lawang Sewu sebanyak 417.135 pengunjung, Museum Ambarawa sebanyak 99.266 pengunjung.

Kemudian fasilitas bisnis Shower n Locker juga ramai di empat titik lokasi di antaranya SnL Stasiun Gambir sebanyak 25.971 pengunjung, Slasar Malioboro sebanyak 25.367 pengunjung, Stasiun Pasar Senen sebanyak 4.971 pengunjung, dan Stasiun Surabaya Gubeng sebanyak 2.367 pengunjung, jika ditotal keseluruhan sebanyak 58.676 pengunjung yang menggunakan fasilitas SnL ini.

Pengunjung tidak hanya meramaikan fasilitas Shower n Locker namun juga banyaknya traveler yang menginap di Rail Transit Suite Gambir sebanyak 12.310 tamu menginap.

Tidak kalah Luxury Lounge juga diramaikan pelanggan setia KAI Wisata sebanyak 173.424 penumpang kereta api jarak jauh di delapan Stasiun kota besar di antaranya Stasiun Gambir, Stasiun Cirebon Kejaksan, Stasiun Purwokerto, Stasiun Solo Balapan, Stasiun Tugu Yogyakarta, Stasiun Surabaya Gubeng, Stasiun Surabaya Pasar Turi dan Stasiun Malang Kota Baru,

Wawan Ariyanto juga menambahkan, “pertumbuhan ini terus terlihat karena adanya konsistensi KAI Wisata dalam mengembangkan dan memajukan lini bisnis agar dapat menjadi tujuan para traveler yang melakukan wisata di Indonesia akan selalu menggunakan jasa dari KAI Wisata”.

Baca juga: Dipuji Dunia, KAI Wisata Segera Operasikan Dining on Train: Gandeng Chef Kenamaan

KAI Wisata terus berkomitmen menyediakan jasa kepada masyarakat khususnya yang memiliki hobi traveling baik wisatawan lokal maupun asing agar dapat menikmati layanan jasa dengan nyaman dan aman yang dapat menimbulkan rasa ingin menggunakan kembali fasilitas tersebut.

“Saya mewakili KAI Wisata mengucapkan Terima kasih kepada masyarakat yang telah setia menggunakan jasa layanan fasilitas KAI Wisata baik itu kereta wisata maupun lini bisnis lainnya, yuk dukung terus KAI Wisata menjadi tujuan para traveler untuk menggunakan jasa layanan saat tiba di Indonesia,” tutup Wawan Ariyanto.

Airbus dan Pertamina Berkolaborasi Jajaki Pengembangan SAF di Indonesia 

Airbus dan PT Pertamina (Persero) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) untuk meluncurkan sebuah studi penjajakan peluang pengembangan ekosistem bahan bakar penerbangan berkelanjutan (sustainable aviation fuel/SAF) di Indonesia.

Baca juga: Studi Penerbangan Pertama di Dunia Ungkap Penggunaan SAF Mampu Kurangi Emisi Non CO2 Secara Signifikan

Kesepakatan ini merupakan fondasi dari kolaborasi Airbus dan Pertamina untuk mempelajari berbagai bahan baku dalam negeri untuk mendorong perkembangan SAF di Indonesia. Kedua pihak akan memetakan bahan baku yang ada di negara ini dan memeriksa kebutuhan logistik serta peluang pengembangan komersialnya. Hasil studi ini akan mendukung pengembangan dan produksi SAF dalam negeri sesuai dengan syarat-syarat ICAO-CORSIA dan EU RED2.

Sebagai bentuk dukungan terhadap Peta Jalan Nasional Pengembangan SAF di Indonesia, Airbus dan Pertamina akan berkontribusi pada pengembangan kemampuan di dalam negeri, menyiapkan ekosistem dalam negeri untuk dapat menangani penggunaan dan sertifikasi SAF.

Julie Kitcher, Airbus Chief Sustainability Officer, mengatakan: “SAF adalah suatu langkah esensial menuju dekarbonisasi industri penerbangan dan Airbus berkomitmen penuh untuk meningkatkan pengembangan dan pengadopsiannya. Indonesia menawarkan potensi yang signifikan dalam hal penyediaan sumber bahan baku SAF yang disetujui oleh CORSIA dan kami menyambut baik pengumuman peta jalan SAF Indonesia. Kami sangat senang dapat bekerja sama dengan Pertamina untuk menjajaki dan mendukung potensi pengembangan industri SAF dalam negeri di Indonesia.”

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menambahkan, “Pertamina berperan aktif dalam membangun ekosistem yang ramah lingkungan. Melalui pengembangan bahan bakar hijau, Pertamina bertekad menjalankan mandat ketahanan dan kedaulatan energi Indonesia.

Kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam mendukung komitmen Pertamina terhadap transisi energi berkelanjutan dan dekarbonisasi sektor penerbangan. Kemitraan dengan Airbus diharapkan dapat meningkatkan kemampuan Pertamina dalam melakukan terobosan inovasi dan pengembangan ekosistem di industri Sustainable Aviation Fuel (SAF). Bersama Airbus, kami akan fokus pada pengembangan SAF yang diharapkan dapat mendukung upaya dalam mengurangi emisi karbon.”

Indonesia diproyeksikan sebagai salah satu pasar dengan pertumbuhan tertinggi di dunia pada sektor industri penerbangan, dengan perkiraan pertumbuhan lalu lintas penumpang sekitar 7,4% per tahun. Angka ini lebih dari dua kali lipat dari rata-rata pertumbuhan global yakni sebesar 3,6%. Selain itu, Indonesia juga menawarkan potensi yang besar sebagai sumber bahan baku untuk SAF, dengan potensi sumber yang menjanjikan seperti minyak goreng bekas, residu pertanian, dan sampah kota.

Garuda Indonesia Operasikan Penerbangan Komersial dengan Pesawat Berbahan Bakar Bioavtur

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah meluncurkan Peta Jalan SAF Indonesia.

Sebagai faktor pendorong utama dalam upaya menuju dekarbonisasi industri penerbangan, SAF memungkinkan pengurangan emisi karbon hingga rata-rata 80% selama siklus hidupnya dibandingkan dengan bahan bakar fosil, mulai dari produksi hingga penggunaan akhir. Kini, semua pesawat Airbus dapat beroperasi dengan 50% SAF. Airbus menargetkan agar semua pesawatnya dapat beroperasi dengan 100% SAF pada tahun 2030.