Tunggu Investor, Kendaraan Berbentuk UFO Siap Mengudara

Penggunaan drone sebagai salah satu moda angkutan dewasa ini menjadi topik pembicaraan serius di berbagai Negara di seluruh dunia. Selain diusung-usung sebagai moda transportasi masa depan, keberadaan drone ini juga sudah mulai diuji coba di beberapa Negara, membuktikan bahwa pemerintah Negara yang bersangkutan serius dalam pengadaan salah satu sarana transportasi futuristiknya tersebut. Tidak hanya diperuntukkan sebagai pengangkut penumpang, seperti halnya di Swiss, drone ini juga digunakan untuk mengantarkan hasil sampel laboratorium dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya.

Namun, dari sekian banyak Negara yang mengadopsi drone sebagai moda angkutan, IFO (Identified Flying Objects) menarik perhatian banyak orang. Bagaimana tidak, drone yang nantinya akan digunakan untuk membawa penumpang itu berbentuk layaknya sebuah UFO (Unidentified Flying Objects). Adalah Pierpaolo Lazzarini, seorang berkebangsaan Italia yang merancang drone ini. Pria yang bekerja untuk Jet Capsule ini merancang sedemikian rupa sehingga keselamatan penumpang yang menaikinya dapat diutamakan.

Sumber: dailymail.co.uk
Sumber: dailymail.co.uk

Drone ini memiliki 8 baling-baling berdaya listrik yang mengitari kabin penumpang dan dapat melaju dengan kecepatan maksimum hingga 193 km per jam. Selain itu, IFO juga dapat terbang dengan ketinggian rata-rata dari sebuah helikopter. Ukuran drone berkapasitas 2 orang ini terbilang cukup besar, yaitu memiliki tinggi sekitar 3 meter dan diameter kokpit sekitar 2 meter. Layaknya gambaran sebuah UFO yang biasa Anda lihat di film-film, bagian kokpit dari drone ini sungguh futuristik dengan 2 buah tuas kemudi lengkap dengan 2 buah layar kemudi di depan tuas tersebut. Juga terdapat 2 buah bangku kemudi yang menghiasi bagian dalam dari drone tersebut.

Sumber: dailymail.co.uk
Sumber: dailymail.co.uk

Ketika mendarat, 6 kaki-kaki kokoh menopang badan drone dan bagian kokpit akan turun menggunkan mesin elevator sehingga penumpng tidak perlu kesusahan untuk menaiki atau turun kendaraan masa depan ini. Selain menggunakan elevator, penumpang juga dapat menggunakan sebuah tangga canggih yang terpisah dengan badan drone. Tangga tersebut akan mengeluarkan sebuah jalur khusus yang menghubungkan dengan kokpit, lalu pintu kokpit akan terbuka dan penumpang bisa turun melalui tangga itu. Fungsi dari jalur khusus tersebut adalah mencegah sayap drone patah karena diinjak oleh penumpang saat turun.

Sumber: dailymail.co.uk
Sumber: dailymail.co.uk

Dalam keadaan darurat, drone yang memiliki kapasitas baterai cadangan pada bagian kokpitnya ini secara otomatis akan melepaskan bagian baling-baling dan mengeluarkan parasut. IFO dapat menempuh perjalanan hingga sekitar 70 menit dan harus kembali diisi ulang ketika daya sudah habis. Berdasarkan pada data yang dihimpun dari dailymail.co.uk, Lazzarini mengaku tidak terlalu banyak merubah setelan dari drone tersebut. “Drone ini dikendalikan dari dalam (kokpit) sehingga dapat mencapai ketinggian yang sama dengan sebuah helikopter,” tuturnya kepada dailymail.co.uk, Senin (27/3/2017). “Saat ini saya tengah mencari investor untuk mewujudkannya. Teknologi ini akan segera dipasarkan,” tambahnya pada kesempatan yang sama. Hingga berita ini diturunkan, belum ada waktu pasti kapan drone dapat mulai mengudara.

Atapers, Para Penantang Maut dari Atas Gerbong

Naik di atas atap kereta menjadi sebuah cerita panjang di Indonesia. Padahal duduk di atap kereta sengat membahayakan keselamatan, risikonya fatal, pasalnya maut dengan mudah melepas nyawa dari raga bila berbuat kesalahan sedikit. Di Indonesia, para penumpang nekad ini disebut sebagai atapers, artinya penumpang yang naik kereta api atau kereta listrik dan berada di atap gerbongnya. Istilah ini sendiri sebenarnya hadir dan populer pada era 90-an hingga 2000-an ketika KRL (Kereta Rel Listrik) saat ini masih berstatus kereta ekonomi yang di kelola Divisi Angkutan Perkotaan Jabodetabek.

Munculnya istilah atapers karena penumpang ingin naik kereta tanpa tiket alias gratis, tidak ada moda transportasi lain dan KRL penuh pada jam berangkat-pulang kerja, sekolah ataupun kuliah. Tidak sulit untuk melihat aksi nekad atapers, umumnya pada pagi dan sore hari, KRL Jabodetabek lumrah dipadati atapers. Panasnya kondisi di dalam gerbong, dan desak berdesakannnya penumpang pada jam sibuk menjadi motif dari aksi atapers.

SkyscraperCity
SkyscraperCity

Perilaku atapers ini sontak menuai kecaman dan menimbulkan bahaya yang besar bagi para atapers seperti jatuh dan tersetrum aliran listrik atas. Di tahap-tahap awal, PT Kereta Api Indonesia telah memasang bola-bola beton dengan berat 3 kg, alat sapu-sapu atap, alat penyemprot cat hingga anjing pelacak. Bahkan PT KAI sampai sempat mendatangkan Ustad untuk menasehati atapers. Namun masih saja banyak atapers yang naik di atap gerbong dan melempari alat-alat yang dipasang sehingga tidak berfungsi. Dikutip KabarPenumpang.com dari buku “The Untold Story of E-Ticketing – Kisah Di Balik Modernisasi KRL Jabodetabek,” disebutkan para atapers justru takut setelah pihak kemananan stasiun melibatkan pasukan Marinir dan Brimob sebagai tenaga bantuan pengamanan.

Pada 28 Februari 2013, atapers sempat bentrok dengan Polisi dan petugas kereta hingga dari pihak petugas ada yang terluka. Sebenarnya, alasan yang mendasari bentrok adalah saat PT KCJ yang dibentuk KAI untuk mengoperasikan KRL membuat peraturan yang menegaskan jika masih ada penumpang yang naik di atap gerbong kereta, termasuk bergelantungan di pintu, lokomotif, masuk kabin masinis dan mengganjal pintu otomatis kereta, maka kereta tidak akan dijalankan.

Beruntungnya setelah kejadian bentrok tersebut, tidak ada lagi atapers di KRL Jabodetabek maupun KRD (Kereta Rel Diesel), kereta jarak jauh dan lokal. Dengan adanya atapers membuat nama transportasi Indonesia menjadi tak baik di mata dunia. Kemudian, 25 Juli 2013, PT Kereta Commuter Jabodetabek resmi menghapus seluruh KRL ekonomi non AC dan menggantikan dengan kereta listrik yang saat ini di sebut CommuterLine. Trend atapers juga langsung memudar setelah PT KAI dan PT KCJ menetapkan sterilisasi pada stasiun, sterilisasi menjadi bagian dari implementasi e-ticketing PT KAI yang telah menuai sukses.
447456-kereta-india-

Ternyata, tak hanya Indonesia yang memiliki atapers. India dan Bangladesh, dua negara yang berada di Asia Selatan ini memiliki atapers setia. Namun, setelah adanya kereta buatan PT Industri Kereta Api (Persero) (INKA) diharapkan tidak ada lagi atapers di kereta Bangladesh. Sayangnya saat diikutip dari detik.com, ada permintaan agar konstruksi kereta tahan untuk dinaiki para atapers dan permintaan ini sesuai dokumen tender. Bangladesh sebenarnya lebih mengutamakan kekokohan karena penumpang bisa naik dimana saja.

Hingga kini, India pun masih punya atapers setia, baik perjalanan kereta dalam kota maupun luar kotanya. Selain itu, beberapa negara Afrika Selatan juga memiliki atapers yang memenuhi kereta dengan paenumpangnya.

BUMN Angkat Komisaris Baru PT Angkasa Pura I

Petinggi PT Angkasa Pura I (Persero) resmi berganti pada 4 April 2017, pemberhentian dan pengangkatan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Nomor SK/-65/MBU/4/2017 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota-Anggota Dewan Komisaris PT Angkasa Pura I. Saat ini Komisaris Utama Airport adalah Andi Widjajanto menggantikan Andrinof Chaniago yang ditunjuk sebagai Komisaris Utama PT Bank Rakyat Indonesia sejak 15 Maret 2017 lalu.

Tak hanya itu Agus Santoso yang sempat menjadi Komisaris Angkasa Pura Airports diberhentikan dengan hormat karena di angkat menjadi Dirjen Pehubungan Udara Kemenhub sejak 24 Februari 2017 dan digantikan oleh Suprasetyo yang sebelumnya menjabat Dirjen Perhubungan Udara.

“Kami berterima kasih sebesar-besar kepada Bapak Andrinof Chaniago dan Bapak Agus Santoso atas sumbangsihnya dalam membina dan mengarahkan manajemen Angkasa Pura I untuk menjalankan operasional bisnisnya. Selamat datang kepada Bapak Andi Widjajanto sebagai Komisaris Utama dan Bapak Suprasetyo. Kami percaya hadirnya dua komisaris baru ini akan berdampak positif terhadap kinerja perusahaan yang tengah melakukan percepatan pembangunan bandara baru dan infrastruktur pendukung di dalamnya,” ujar Corporate Secretary Angkasa Pura Airports yang dilansir dari Ap1.co.id.

Sebelumnya Andi Widjajanto sudah terkenal oleh publik sebagai Sekretaris Kabinet Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla sejak 3 November 2014-15 Agustus 2015. Diketahui Andi memiliki latar belakang pendidikan tinggi yang beragam, bermula dari FISIP jurusan Hubungan Internasional UI dan lulus tahun 1996, kemudian mendapat gelar Sarjana School of Oriental dan African Studies University of London. Andi mendapatkan gelar Master of Sciences dari London School of Economics sekaligus juga mendapat gelar Master of Sciences dari Industrial Collage of Armed Forces, Washington DC, Amerika Serikat tahun 2003.

Sedangkan Suprasetyo awalnya sebagai Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub dan menjabat sejak 12 Januari 2015. Sebelum menjadi Dirjen, Ia diketahui memiliki karir yang cukup panjang di Kemenhub sebagai Kasubdit Pengamanan Pelayanan Darurat tahun 2002, Atase Perhubungan KBRI di washington tahun 2007, Kasubdit Kendali Mutu Keamanan Penerbangan tahun 2011, Kasubdit Pelayanan Darurat Direktorat Keamanan Penerbangan tahun 2012, Kepala Bandara kelas Utama Hang Nadim, Batam tahun 2013 dan menjadi Kepala Kantor Otoritas Bandara Wilayah I Kelas Utama Soekarno-Hatta tahun 2014.

Berikut susunan Komisari baru PT Angkasa Pura I (Persero) per 4 April 2017:
Komisaris Utama : Andi Widjajanto

Komisaris Independen : Boy Syahril Qamar

Komisaris : Selby Nugraha Rahman

Komisaris : Dwi Ary Purnomo

Komisaris : Anandy Wati

Komisaris : Suprasetyo

Seabreg Tantangan Implementasi E-Ticketing Pada Transportasi Massal

Keberadaan tiket elektronik atau e-ticketing bukanlah hal baru lagi di dunia teknologi saat ini. Hampir semua moda transportasi massal seperti kereta, Transjakarta dan kapal ferry menggunakan tiket elektronik sebagai alat pembayarannya. Tiket elektronik ini menggantikan pembayaran yang tadinya dengan uang tunai menjadi dalam sebuah bentuk kartu yang berisikan nominal pembiayaan saat menggunakan transportasi massal.

Memulai pembayaran dengan tiket elektronik bukanlah hal yang mudah. Karena banyak tantangan yang perlu dihadapi oleh perusahaan pengelola moda transportasi. Tantangan terbesar adalah mensosialisasikan masyarakat pada penggunaan tiket elektronik ini. Apalagi, masih banyak masyarakat Indonesia khususnya Jakarta yang masih tabu dengan dunia elektronik.

Seperti halnya di pelabuhan baik Merak ataupun Bakauheni yang di kelola oleh PT ASDP Indonesia Ferry, saat ini sudah menggunakan tiket elektronik untuk masuk ke dalam kapal ferry baik penumpang biasa maupun pengguna kendaraan umum dan angkutan lainnya. Sayangnya tiket elektronik yang digunakan PT ASDP berbeda dengan milik CommuterLine atau TransJakarta. Untuk PT ASDP kartu yang digunakan untuk masuk ke kapal dan dikembalikan ke petugas sesaat sebelum masuk ke kapal.

www.taptopay.com
www.taptopay.com

Tantangan yang dihadapi PT ASDP Indonesia Ferry pun hampir sama dengan PT KCJ ataupun TransJakarta untuk membentuk masyarakat tradisional menjadi masyarakat teknologi salah satunya lewat penggunaan tiket elektronik. Selain pembentukan karakter masyarakat dengan sosialisasi dan edukasi serta biaya pengembangan yang relatif mahal, tantangan lainnya adalah bentuk tiket yang belum optimal dan belum adanya standarisasi tiket elektronik yang sah. Ada satu hal lain yang paling tragis yakni hilangnya tiket elektronik tersebut dan belum jelas denda yang akan dikenakan.

Banyaknya oknum yang bermain dengan tiket elektronik ini dengan menyalahkan sistem bila tiket tidak bisa di gunakan atau masalah lainnya menjadi satu tantangan lain yang harus diatasi. Padahal dengan adanya tiket elektronik, masyarakat dimudahkan tanpa harus memberikan uang tunai lagi saat akan menggunakan moda transportasi massal tersebut.

Salah satu yang sudah sukses menggunakan tiket elektronik pada moda transaportasi massal adalah kereta listrik (KRL) atau CommuterLine yang dikelola PT KCJ. pada penggunaan tiket elektronik pada KRL ini dibagi menjadi dua macam yakni tiket harian berlangganan atau tiket berlangganan seperti e-money atau kartu lainnya sesuai bank yang bekerjasama dengan PT KCJ. Biasanya kartu tiket harian berlangganan hanya digunakan untuk sekali jalan atau PP. Tiket elektronik harian berlangganan milik KRL sudah di isi sesuai nominal tujuan akhir kereta atau saat mengisi pada mesin penjualan tiket Anda mengambil rute PP, sehingga bisa digunakan kembali menuju stasiun awal.

Contohnya seperti Anda yang akan naik kereta tujuan Stasiun Bogor dari Stasiun Kota PP biasanya akan dikenakan pertiketnya Rp15 ribu dengan rincian, ongkos Rp5 ribu dan uang jaminan kartu Rp10 ribu. Sehingga bila PP, Anda akan membayar pada mesin tiket Rp20 ribu. Pada tiket elektronik milik KRL, uang kartu jaminan Rp10 ribu bisa Anda ambil kembali. Sedangkan dengan tiket berlangganan seperti e-money, sekali tap ke gate Anda sesuka hati turun dimana dan setelah sampai di stasiun tujuan baru terpotong ongkos sesuai tujuan Anda.

Tak hanya KRL saja yang sukses dalam penggunaan tiket elektronik, TransJakarta juga bisa dikatakan cukup sukses mengembangkan pembayaran dengan tiket elektronik. Hanya saja cara penggunaannya berbeda dengan CommuterLine. Pemotongan biaya TransJakarta hampir sama dengan milik PT ASDP di kapal ferry, ongkos akan di potong dari awal Anda naik. Tetapi untuk TransJakarta, tiket tersebut digunakan untuk pintu keluar sama dengan CommuterLine, sedangkan untuk kapal ferry, tiket tidak digunakan saat keluar hanya masuk saja.

Mengenal Chip Memori di Dalam Tiket Elektronik

Teknologi dunia semakin hari semakin berkembang, tak ayal dengan tiket yang digunakan pada transportasi massal pun berubah dari kertas menjadi elektronik. Beberapa moda transportasi yang menggunakan tiket elektronik seperti kereta listrik, kereta api jarak jauh, TransJakarta, pesawat hingga kapal ferry. Sebagian besar tiket elektronik ini hanya berisi nominal uang untuk tarif yang akan dikenakan pada setiap perjalanan saat menggunakan transportasi massal.

Seperti tiket elektronik milik KRL dan TransJakarta, hanya bentuk seperti kartu ATM biasa dan isinya berupa nominal sejumlah uang yang akan digunakan. Sedangkan tiket elektronik di pesawat pastinya berbeda dengan yang lainnya. Tiket elektronik pesawat berisikan data penumpang, nama maskapai, nomor pesawat, waktu keberangkatan dan tiba pesawat, serta kode booking serta barcode yang bisa di scan saat berada di bandara. Sama halnya dengan pesawat, kereta api yang juga mengeluarkan tiket elektronik yang berisi hampir sama.
IMG-20170406-WA0020Saat ini PT ASDP Indonesia Ferry selaku pengelola pelabuhan Merak dan Bakauheni juga mengeluarkan versi baru dari tiket elektronik. Dulu, tiket yang digunakan sama dengan milik KRL ataupun TransJakarta yang berisi nominal sejumlah uang untuk tarif saja. Untuk tiket baru, ASDP menambahkan sebuah chip berlisensi pada kartunya yang tidak terlihat karena sudah di tanam dalam kartu tersebut.

Dari pantauan KabarPenumpang.com, chip tersebut berguna untuk menyimpan data penumpang seperti nama, usia, jenis kelamin, alamat dan data pribadi lainnya. Sedangkan untuk kendaraan baik untuk penumpang maupun kendaraan barang chip yang ada di kartu tersebut berguna untuk menyimpan foto kendaraan, kartu pengenal seperti KTP ataupun SIM. Kartu ini juga digunakan untuk menyipan manifestasi yakni tarif sekali jalan untuk penumpang atau kendaraan.

Tak hanya berguna untuk menyimpan data, chip pada kartu ini juga tidak akan membuat kartu ganda sehingga tidak akan ada lagi kecurangan yang akan dilakukan oleh para oknum. Nantinya, setiap kembali ke loket pembelian kartu seakan-akan seperti baru lagi. Padahal bila di ricek di kantor, Anda bisa melihat sudah berapa banyak kartu tersebut digunakan oleh penumpang. Sebab sebenarnya data tersebut tidak hilang melainkan tersimpan di data base chip tersebut.

Diketahui, chip dalam kartu ini mampu menyimpan data baik penumpang atau kendaraan kurang lebih 300 dan akan kembali menghilangkan data pertama bila sudah full 300 data. Sehingga secara otomatis data pertama akan hilang bila kartu sudah berisi 301 data, dan akan berlanjut seperti itu setiap lebih dari batas maksimal data yang tersimpan dalam chip kartu tersebut.

E-Ticket, Antara Mempermudah Atau Memperkeruh

Dewasa ini, semua bentuk pembayaran sudah mulai berevolusi menggunakan kartu, termasuk untuk membayar sebuah jasa transportasi. Sebut saja KRL, dan TransJakarta sudah mulai mengadopsi sistem pembayaran bersifat modern tersebut. Cukup dengan mengisi saldo pada kartu Anda di outlet-outlet penjualan, maka secara otomatis saldo tersebut akan bertambah sesuai dengan jumlah yang Anda beli. Sistem seperti ini tentu saja dapat meredam antrian pada moda-moda transportasi dan akan lebih efisien ketimbang menggunakan sistem loket.

Tapi, bukan berarti dengan menggunakan program e-ticketing bebas dari yang namanya masalah, baik internal maupun eksternal. Permasalahan internal yang sering dijumpai dalam sistem e-ticketing adalah kesalahan pada data yang disebabkan oleh sistem komputer, namun permasalahan tersebut bukanlah menjadi suatu perkara serius karena dapat diselesaikan dengan cara menghubungi operator. Namun, permasalahan eksternal ini yang dapat memberikan kerugian, bukan hanya pada calon penumpang, tapi juga pada penyedia jasa transportasi tersebut.

Tersedianya layanan e-ticketing memang tidak selalu berjalan mulus, contohnya PT KAI yang memberlakukan sistem ini terhadap salah satu transportasi andalannya di ibu kota, KRL. Membludaknya penumpang kala rush hour memang memberikan imbas sendiri terhadap sistem yang diterapkan oleh PT KAI pada tahun 2013 ini. Banyaknya penumpang yang antri di depan gate in membuat perjalanan penumpang sedikit terhambat. Ditambah lagi dengan banyaknya orang yang nyelonong, menjadi suasana di depan gate in semakin runyam. Belum lagi ada oknum yang mekalukan dorongan dari belakang hingga mengakibatkan palang besi gate in patah, dan ketidaksabaran penumpang yang terlambat dengan men-tap 2 kartu secara bersamaan dengan penumpang lainnya akan membuat mesin gate in error sehingga berdampak pada antrean yang semakin mengular.

Lain halnya dengan PT ASDP Indonesia Ferry, dalam melayani penyebrangan Merak – Bakauheni, ASDP juga kerap kali mendapati oknum-oknum yang berusaha untuk bermain curang dengan sistem e-ticketing yang berlaku. Menurut data yang diperoleh dari salah satu mitra ASDP di lapangan, Ia menemukan beberapa kecurangan yang akhirnya berdampak pada masalah di kedua elemen, baik penumpang maupun pihak penyedia jasa itu sendiri.

Masalah yang paling sering muncul adalah sistem tiket berputar. Sistem ini merupakan kecurangan yang dilakukan oleh oknum kru kapal ini marak dipraktikkan dalam kurun waktu 3 tahun ke belakang. Tiket resmi berupa kartu yang dibeli di loket berisikan data penumpang yang diambil dari kartu identitasnya. Tiket berupa kartu tersebut lalu mesti disetorkan calon penumpang kepada kru kapal yang nantinya akan memvalidasi tiket tersebut dengan cara memasukkan tiket ke dalam sebuah mesin yang biasa disebut dispenser. Namun, praktik kecurangan bermula ketika kru kapal tidak memvalidasi kartu tersebut, tapi malah menjualnya kembali kepada calon penumpang lain. Dengan kecurangan seperti ini, tentu saja penyebrangan dari Merak menuju Bakauheni menjadi tidak aman bagi keselamatan, bagaimana tidak, dengan adanya praktik ini, kapal ferry menjadi overload dan memungkinkan terjadinya kecelakaan.

Sementara masalah pada sistem e-ticketing di TransJakarta sedikit berbeda dengan kedua kasus di atas. Masalah tersebut muncul ketika mengisi ulang kartu atau top up, ada beberapa kasus penumpang yang mengeluhkan hal tersebut dan diminta untuk membeli kartu baru oleh petugas di lapangan. Selain itu, pemberlakuan sistem e-ticketing di TransJakarta sejak tahun 2014 silam memberikan sedikit masalah bagi pendatang yang tidak memiliki tiket elektronik tersebut. Penumpang TransJakarta yang tidak memiliki e-ticket diwajibkan untuk membelinya terlebih dahulu di halte seharga Rp40.000 dengan saldo Rp20.000. Hal ini menjadi pertimbangan para pelancong yang datang ke ibu kota dalam waktu yang sebentar, niat menggunakan TransJakarta yang relatif murah terpaksa bayar mahal untuk membeli e-ticket, atau bahkan lebih memilih untuk mengunakan moda lain.

Dielukan dan Selalu Dicari, Inilah Serba Serbi Low Cost Carrier

Penerbangan bertarif rendah atau Low Cost Carrier (LCC) ini juga disebut sebagai Budget Airlines atau no frills flight atau Discounter Carrier. LCC merupakan maskapai penerbangan yang memberikan tarif rendah dan menghapus beberapa layanan penumpang yang biasa. Pada penerbangan LCC biasanya airlines akan menghilangkan penyediaan catering, koran atau majalah, hiburan dalam penerbangan dan hal-hal lainnya. Walaupun pelayanan yang diberikan minimal, tetapi keamanan dan keselamatan penumpang dalam penerbangan sampai ke tujuan tetap terjaga.

Awalnya konsep ini diperkenalkan oleh Amerika Serikat tepatnya dirintis oleh maskapai Southwest yang didirikan Rollin King, Lamar Muse dan Herber Kelleher tahun 1967. Dilansir dari Wikipedia, adanya fenomena LCC dari Southwest menjadi sebuah kajian bisnis penerbangan yang sangat menarik di bahas di universitas Harvard dan berbagai sekolah bisnis diseluruh belahan dunia. Ini karena ada efisiensi yang dilakukan mulai dari harga murah, teknologi, struktur biaya, rute hingga berbagai peralatan operasional yang digunakan.

Apex.aero
Apex.aero

Kemudian keberhasilaan dari Southwest banyak ditiru beberapa maskapai lainnya yang berdiri tahun 1990 yakni Vanguard, America West, Kiwi Air dan Ryanair. Pada awal 1990-an konsep ini juga menyebar ke Eropa dan seluruh dunia.  Tahun 2000, langkah LCC diadopsi oleh Air Asia yang bermarkas di Malaysia, Virgin Blue di Australia dan Lion serta Wings Air di Indonesia. Sedangkan Arab Saudi dan Meksiko baru menerapkan LCC tahun 2006.

Sebenarnya dengan maskapai bertarif rendah justru menjadi ancamaan berat bagi maskapai tanpa LCC atau memiliki layanan penuh. Hal ini menjadikan maskapai dengan layanan penuh mencegah untuk bersaing pada harga yang menjadi faktor penting di antara konsumen saat memilih maskapai. Ketika itu industri penerbangan dikejutkan dengan terorisme, perang dan SARS pada 2001 hingga 2003 sejak adanya LCC, sehingga maskpai besar mengalami penurunan yang drastis pada layanannya dibandingkan dengan maskapai dengan LCC justru mendapat keuntungan.

Keuntungan paling terlihat dengan adanya LCC adalah wisatawan dengan budget yang minim bisa berpergian dengan nyaman dengan harga yang terjangkau. Sayangnya, model tarif rendah ini justru menjadi kritikan oleh pemerintah dan regulator, salah satunya di Inggris yang menjadi masalah dengan tarif rendah. Sebab adanya biaya tambahan yang tidak mengikat pada maskapai bertarif rendah lainnya seperti pembayaran pajak bandara dan pajak lainnya yang dipisah sebagai bagian dari harga iklan untuk terlihat lebih rendah tetapi menjadi aksi pemaksaan.

Ada beberapa ciri maskapai dengan LCC yang dikutip dari kompasiana.com :

1. Menghilangkan kelas premium dan bisnis
2. Memperluas ruangan untuk penumpang sehingga maskapai pesawat bisa menampung lebih banyak penumpang
3. Pesawat yang digunakan adalah pesawat baru yang dianggap lebih hemat untuk urusan konsumsi avtur (bahan bakar pesawat)
4. Penumpang tidak mendapatkan minuman ataupun makanan (tetapi ada beberapa yang memberikan snack dan minuman)
5. Tidak ada nomor kursi
6. Waktu terbang saat dini hari atau tengah malam
7. Rute yang ditempuh sitem PP
8. Kru pesawat punya tugas ganda

Untuk Indonesia, hingga kini masih banyak yang belum menerapkan pola bisnis LCC dengan jelas. Seperti Lion dan Wings Air, dianggap harga yang diberikan masih di atas rata-rata maskapai LCC pada umumnya. Lion Air grup ini dianggap oleh para analis keuangan masih menyatakan biaya per available seat mil masih berada diatas ambang standar operating biaya dari suatu biaya terendah sejati. Memang, struktur harganya sudah sesuai dengan konsep LCC, tetapi mungkin akan lebih tepat disebut dengan Low Far Carrier (LFC), karena hanya menawarkan harga murah dan belum mendukung prinsip LCC secara jelas.

Tiket Sriwijaya Air
Tiket Sriwijaya Air

Dengan konsep LFC yang ada di Indonesia, juga menguntungkan para konsumen, sebab transportasi udara dengan biaya murah dan cepat. Hal ini bisa dilihat dengan harga yang cukup berbeda jauh terkadang harga kereta dengan bus hampir sama atau lebih murah, misalnya Rp250 ribu sekali jalan menuju Jawa Tengah dengan menggunakan moda transportasi darat dengan waktu tempuh hampir 10 jam, tetapi dengan pesawat terbang harga bisa saja hanya Rp120 ribu hanya memakan waktu selama 1,5 jam. Fenomena ini membuat slogan Lion Air “Make People Can Fly” menyadarkan masyarakat sekarang ini bahwa semua orang bisa terbang dengan harga terjangkau.

Namun, dengan perkembangan saat ini, bisnis perbangan dengan strategi LCC atau LFC menghadapi tantangan berat dimana harga avtur terus meningkat dan menjadi komponen biaya paling besar dibanding maintenance pesawat lainnya. Sehingga otomatis membuat biaya operasi pesawat semakin meningkat dan maskapai menaikkan tarif. Nantinya, dengan konsep LCC, diharpakan maskapai mampu membuat penghematan akan konsumsi avtur, mengingat para penumpang Indonesia saat ini sangat sensitif terhadap harga dan cenderung memilih maskpai yang menawarkan harga murah dan masih mendapatkan keuntungan dari bisnis ini. Berharap di masa depan, maskpai dengan bisnis LCC kemungkinan lebih mampu bertahan dibanding dengan maskapai pola layanan tradisonal.

Islandia (2): Finally! Perjumpaan Langsung dengan Sang Aurora

Hari kedua di Reykjavik, kami tak ingin membuang banyak waktu karena berdasarkan itinerary yang telah kami buat saat di London, hari ini adalah jadwal bagi kami untuk berburu Aurora. Sebagai info, Aurora adalah fenomena pancaran cahaya yang menyala-nyala pada lapisan ionosfer akibat adanya interaksi antara medan magnetik yang dimiliki bumi dengan partikel bermuatan yang dipancarkan Matahari. Menurut informasi yang kami peroleh, spot terbaik untuk melihat Aurora berada di daerah utara. Oleh karena itu kami berempat bertolak menuju Siglufjörður untuk mencoba peruntungan melihat Aurora.

Baca juga: Islandia (1) – Menjejakkan Kaki di Negeri Surga Aurora

Memang, kami sudah merencanakan semuanya dari jauh-jauh hari termasuk waktu kunjungan yang tepat, karena pada bulan September hingga pertengahan April merupakan waktu dimana Aurora menampakkan dirinya. Perjalanan kami memakan waktu sekitar 5 jam 45 menit dari Reykjavik menuju Siglufjörður. Jalan demi jalan di Islandia kami telusuri menggunakan mobil yang disewa di hari pertama. Ada pemandangan yang sedikit janggal selama perjalanan, dimana kami berempat tidak melihat adanya rambu batas kecepatan maksimum layaknya di negara-negara di Eropa, bahkan kami tidak melihat kehadiran petugas Polisi sepanjang perjalanan. Selain itu, kendaraan pun melaju dengan kecepatan normal walaupun jalanan waktu itu terbilang lengang.

Beginllah jalan raya menuju Siglufjörður .
Beginllah jalan raya menuju Siglufjörður .

Baca juga: Islandia (3) – Sensasi Mekakjubkan ala Dunia Es Interstellar

Tapi kebingungan kami berempat seakan terhapuskan dengan pemandangan indah yang disuguhkan oleh Islandia. Pemandangan hamparan savanna membentang bak lautan luas tak berujung tersaji hampir di sepanjang perjalanan. Jalan di Islandia bisa dibilang cukup kecil dan tidak dikenal istilah jalan bebas hambatan, karena hanya memiliki satu ruas jalan dengan dua lajur yang saling berlawanan. Kami juga sedikit heran dengan beberapa spot yang sedikit melebar ke tepi jalan dengan kotak parkir menghiasi spot tersebut. Ternyata, menurut tour guide pribadi kami, itu adalah tempat parkir apabila pendatang ingin berfoto-foto dengan latar pemandangan di sini. Sesekali kami melewati kota-kota kecil dan memilih untuk beristirahat sejenak guna menghilangkan rasa lelah.

Setelah dirasa cukup beristirahat, perjalanan kami lanjutkan agar bisa sampai Siglufjörður tepat waktu. Kembali, hamparan savanna menemani perjalanan kami dalam berburu The Northen Lights. Setelah menempuh perjalanan sekian lama, akhirnya kami tiba di Siglufjörður, sebuah kota dimana penduduknya rata-rata bermata pencaharian sebagai nelayan. Karena ini merupakan tur tunggal mengelilingi Islandia, konsekuensi yang harus kami terima adalah beristirahat di dalam mobil selama melakukan perjalanan.

2

Matahari mulai bersembunyi di ufuk barat, dan kami mulai mempersiapkan diri untuk melihat Aurora. Rasa lelah yang menggelayuti tubuh kami seakan tidak memberikan toleransi untuk tetap terjaga dan melihat Aurora. Hingga pukul 20.00 waktu setempat, Aurora tidak kunjung menampakkan dirinya. Walaupun sempat terlelap untuk beberapa saat, salah satu tim membangunkan ketika The Northen Lights mulai muncul. Semburat cahaya hijau zamrud seakan berdansa di atas langit. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, kami langsung menyiapkan kamera untuk mengabadikan momen langka tersebut.

1
Berpose dengan latar Aurora.

3

Dinginnya malam di Siglufjörður bukanlah menjadi penghalang kami untuk menikmati karya cantik Sang Pencipta. Aurora dapat dinikmati dengan mata telanjang asalkan tidak ada awan yang menghalangi, dan betapa beruntungnya kami pada malam itu, alam begitu bersahabat sehingga Aurora dapat terlihat dengan jelas. Seakan tidak ingin menghentikan perburuan sampai di sini, kami memutuskan untuk bermalam di Siglufjörður agar esok hari dapat kembali melihat lukisan Sang Pencipta.

Petualangan kami belum berakhir di Islandia, setelah mata terpuaskan atas keindahan Aurora, tujuan kami berikutanya adalah glacier di Svínafellsjökull. Obyek wisata ini tak kalah seru, glacier ini menjadi latar untuk pengambilan gambar pada film Interstellar. Bagi Anda penyuka film Batman, ingat adegan saat Bruce Wayne (Christian Bale) bertarung dengan Ra’s al ghul (Liam Neeson) di scene awal Batman Begins? Nah lokasinya ternyata juga di Svínafellsjökull. Penasaran dengan cerita petualangan kami di Svínafellsjökull, pantau terus update perjalanan kami di KabarPenumpang.com (Rheza Ariftha Gentha – Mahasiswa Pasca Sarjana di University of Birmingham)

Foto Viral Ini Ingatkan Pentingnya Car Seat Untuk Anak

Keselamatan saat berada di dalam kendaraan bukan hanya untuk Anda orang dewasa saja, tetapi untuk buah hati Anda yang masih bayi ataupun balita. Biasanya, di dalam kendaraan pribadi, Anda pasti memiliki tempat duduk khusus anak lengkap dengan sabuk pengaman.

Seperti dilansir dari attn.com, beberapa waktu lalu ada foto viral seorang ibu bernama Rachel McNamara yang memposting foto dengan anaknya yang duduk di kursi khusus anak untuk mobil (car seat). Dalam foto menggambarkan Rachel menjungkir balikkan bangku yang di duduki sang anak, namun dalam keadaan sabuk pengaman terpasang dengan baik saat si anak duduk.

Postingan Rachel ini sentak memicu diskusi di media sosial tentang pentingnya keamanan kursi mobil untuk anak-anak segala usia. Awalnya di postingannya Rachel menuliskan “Setelah anak di dudukkan pada kursi dan terasa nyaman, tanyakan pada diri Anda saat membalikkan kursi tersebut.” Kemudian, Rachel mengedit postingan tersebut dengan menambahkan tips untuk pemilihan kursi yang tepat, posisi meletakkan kursi anak di mobil dan memeriksa sabuk pengaman apakah sudah pas di anak atau belum.

Facebook Rachel McNamara
Facebook Rachel McNamara

Menurut Dr Benjamin Hoffman dokter anak Oregon Hekath Sciences University, ada dua point keselamatan anak di mobil, yang pertama memposisikan anak di kursinya dan kedua keamanan meletakkan kursi di dalam kendaraan. “Langkah pertama kursi tersebut haruslah tepat untuk si anak, berarti pas untuk berat badan dan tinggi badannya,” ujar hoffman.

Menurutnya, prinsip-prinsip dasar harus diperhatikan, dimana Anda harus memperhatikan anak duduk di kursi setidaknya sampai usia mereka dua tahun dan jangan lupa untuk mengikuti instruksi dari produsen ketika membeli kursi mobil untuk anak dan sangat penting untuk diingat. Keamanan meletakkan kursi adalah hal terpenting kedua, apalagi kursi untuk tempat buah hati Anda duduk, ini karena mengingat jalanan adalah nomor satu penyebab kematian anak di Amerika Serikat menurut Safe Kids Worldwide sebuah organisasi yang didirikan oleh Children’s National Health System.

“Perhatian terbesarnya adalah keselamatan anak yang berasal dari kekuatan yang di alami seorang anak dalam sebuah kecelakaan mobil,” ujar Hoffman.

Dia menambahkan, seorang anak dengan berat 10 pon dalam kecelakaan yang terjadi dengan kecepatan 30 meter per mil, akan mengalami tabrakan dengan kekuatan 450 pon, dan semuanya akan mengguncang sang anak. Sehingga Anda harus bisa menyingkirkan semua permasalahan tersebut dan menghindari sang anak dari luka akibat kecelakaan.

“Untuk menghindari luka terhadap sang anak saat terjadi kecelakaan, baiknya posisi anak tidak menghadap belakang,” tambahnya. Sayangnya bila kursi anak tersebut menghadap belakang justru sistem akan memanfaatkan tenaga yang lebih merata dari sabuk pengaman tradisional. Ini juga sebenarnya penting agar anak lebih erat saat di mobil. “Mobil ini benar-benar akan melakukan sesuatu dalam menghamburkan tenaga dan kekuatannya. Tubuh manusia tidak akan terjadi apa-apa jika mobil tidak bekerja,” lanjut Hoffman.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sistem pengendalian anak terkadang sering digunakan secara tidak benar. Mereka memperkirakan 46 persen dari kursi mobil dan pendorong (59 persen kursi mobil dan 20 persen dari pendorong kursi) disalahgunakan dengan cara yang bisa mengurangi kefektivan kinerja. National Highway Traffic Safety Administration and Safe Kids Worldwide menemukan, menginstal dan menggunakan kursi yang benar pada anak dari berbagai ukuran dan usia.

Yang Tabu Saat Anda Berada di Bandara

Bandara sebagai tempat awal keberangkatan dan tibanya pesawat menjadi sangat sakral dengan larangan-larangan baik tertulis ataupun tidak. Mungkin, sebagian dari Anda tidak sadar akan larangan atau aturan tidak tertulis di bandara. Tapi, tahukah Anda bahwa ternyata banyak larangan baik tertulis maupun tidak yang harus dan wajib di taati setiap penumpangnya baik dalam penerbangan domestik maupun internasional.

Ada beberapa hal yang mungkin buat Anda dan para penumpang lainnya sepele, tetapi ini menjadi pantangan dan larangan terberat saat berada di bandara. Penasaran dengan apa saja pantangan atau larangan saat berada di bandara? Berikut beberapa hal yang di pantang atau di larang saat berada di bandara.

1. Tidak boleh bicara sembarangan
Mungkin Anda pernah mendengar, seorang penumpang mengatakan bahwa dirinya membawa bom saat petugas X-ray curiga dengan isi tas yang dibawa. Padahal maksud orang tersebut adalah bercanda, tetapi justru saat Anda mengatakan seperti itu akan dibawa dan diamankan petugas untuk memastikan benar itu bom atau bukan. Biasanya bila hal tersebut hanya sebuah bercandaan, Anda akan di lepaskan dan kembali diperbolehkan melanjutkan perjalanan dengan syarat tidak mengulangi hal tersebut karena bisa membuat panik penumpang lainnya, bila sebaliknya Anda akan di lanjutkan penanganannya oleh pihak berwajib.

karawangtravel.com
karawangtravel.com

2. Dilarang membawa cairan lebih dari 100 ml
Anda sebagai penumpang yang akan berangkat ke luar negeri ada baiknya tidak membawa barang bawaan berupa cairan di atas 100 ml. Mungkin ini ada benarnya pihak bandara melarang membawa cairan karena tidak mau repot membersihkan cairan yang tumpah apalagi cairan kimia yang berbahaya. Tak hanya itu, ini juga bisa mengurangi pendapatan restoran atau toko di airport jika banyak membawa minuman dari rumah. Biasanya cairan di atas 100ml akan di sita petugas bandara seperti parfume ataupun air minum.

3. Benda tajam
Pisau lipat dan gunting, kedua barang ini di anggap benda tajam berbahaya, sehingga tidak boleh di bawa ke bandara. Ada baiknya tinggalkan benda-benda itu di rumah.

4. Obat-obatan terlarang
Jangan sesekali berani membawa obat-obatan terlarang kalau Anda tidak mau di amankan pihak berwajib. Obat-obatan terlarang menjadi hal terharam untuk di bawa ke bandara apalagi saat penerbangan.

5. Senjata Api
Sama seperti benda tajam, membawa senjata api tidak diperkenankan saat Anda memasuki bandara apalagi saat penerbangan. Membawa senjata api justru akan menjadikan Anda target operasi dan bisa-bisa Anda dikira seorang teroris.

6. Membawa binatang
Beberapa kejadian membawa hewan piaraan dalam tas, karena mecurigakan hewan piaraan Anda bisa masuk karantina bandara dan tidak dijinkan menaiki pesawat bersama Anda. Baiknya hewan piaraan di tinggal di rumah atau tempat penitipan. Binatang selain yang piaraan juga dilarang dibawa ke bandara seperti ular, buaya dan lainnya. Kalaupun Anda akan membawa binatang harus masuk ke bagian kargo.