Pentingnya Pelampung Untuk Keselamatan Penerbangan

Pesawat banyak disebut sebagai alat transportasi paling aman, pasalnya sebelum mengudara dan sesudah mendarat sesuai prosedur internasional dilakukan pengecekan hingga terperinci alias tidak ada yang terlewatkan. Di dalam pesawat sebagai alat pengamanan untuk penumpang ada beberapa macam seperti sabuk pengaman di tempat duduk, masker oksigen saat oksigen berkurang dalam kabin dan pelampung untuk penyelamatan di laut.

Pelampung pada pesawat sangat menarik untuk dibahas. Hingga kini masih banyak orang yang bertanya-tanya kenapa ada pelampung di pesawat dan apa kegunaannya. Anda yang biasa melakukan perjalanan pun pasti masih suka bertanya-tanya untuk apa pelampung di pesawat, apalagi yang baru pertama kali naik pesawat udara. Agar tidak bingung, sebenernya pelampung adalah pengaman utama sama seperti sabuk pengaman dan masker oksigen.

Hanya saja, pelampung akan digunakan bila ada pendaratan darurat di laut. Tak hanya penumpang yang menggunakan pelampung, saat akan mendarat, di dekat pintu baik darurat maupun utama akan terpampang pelampung yang berupa perosotan untuk turun ke air.
jaket-pelampung1-500(www.wikihow.com)Dilansir dari www.traveller.com.au, demonstrasi penggunaan alat-alat keselamatan di pesawat adalah persyaratan mutlak dari PBB dalam organisasi penerbangan sipil internasional yang mengatur transportasi udara internasional. Harus dalam demo yang dilakukan pramugari atau pramugara sesaat sebelum pesawat lepas landas, para penumpang harus memerhatikannya.

Memang, untuk Anda yang sudah sering menggunakan pesawat akan mengatakan “bosan lihat demo alat penyelamatan” atau “sudah hafal penggunaannya”. Namun, lebih baik buang jauh-jauh perkataan atau pikiran seperti itu, karena ini sangat di perlukan. Apalagi bila tiba-tiba pesawat yang Anda tumpangi mengalami hal seperti pendaratan darurat di air dan Anda lupa cara menggunakan pelampung dan sengaja tak memperhatikan saat peragaan.

Minimal, peragaan penggunaan alat-alat keselamatan khususnya pelampung bisa mengingatkan Anda cara penggunaannya bila tiba-tiba terjadi hal itu. Tak hanya iitu, saat terjadi pendaratan darurat minimal tidak panik agar tidak lupa cara menggunakan pelampung. Untuk penyelamatan darurat di air, Anda diharapkan tidak menggembungkan pelampung saaat berada di pesawat, Anda baru boleh menggembungkan epelampung saat di depan pintu darurat sesaat sebelum terjun ke air.

Untuk Anda ketahui, pelampung yang ada di pesawat bukanlah untuk mainan. Biasanya letak pelampung berada di bawah tempat duduk Anda, dan digunakan saat darurat. Bila Anda sengaja mengambil pelampung untuk di bawa pulang, Anda akan dikenakan sanksi. Hal ini tertulis dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang penerbangan Pasal 54 dan Pasal 412 mengganggu keselamatan penerbangan : menyalakan telepon genggam, mengambil atau memindahkan pelampung, pengrusakan peralatan pesawat akan dikenakan denda Rp200 juta atau kurungan 2 tahun penjara.

Mengapa Navigasi Penerbangan Pakai Satuan Nautical Mile? Ini Jawabannya

Umumnya, masyarakat menggunakan sistem imperial atau metrik, seperti kilometer, meter, dan lain-lain, saat menghitung jarak tertentu. Namun, tidak demikian dengan navigasi penerbangan dan laut. Dua itu diketahui sudah sejak lama mengadopsi sistem nautical (NM). Lantas, mengapa navigasi penerbangan menggunakan NM?

Baca juga: Mengapa Pesawat Buang Bahan Bakar Saat di Udara? Simak Penjelasannya

Dilansir Simple Flying, nautical mile atau dalam bahasa Indonesia berarti mil laut adalah satuan panjang yang digunakan di seluruh dunia untuk keperluan kelautan seperti menghitung jarak dalam pelayaran dan penerbangan.

Satuan ini biasa digunakan pada hukum dan perjanjian internasional, terutama menyangkut batas wilayah perairan. Satu mil laut sama dengan 1,852 km; 1,1508 mil normal; atau 6,076 feet. Lambang untuk nautical mile adalah M, NM atau nmi.

Secara historis, satu mil laut berarti busur satu menit dari garis lintang di sepanjang garis bujur. Satu busur lintang, pada gilirannya, dibagi menjadi 60 menit, dengan demikian, satu NM sama dengan 1/60 derajat lintang.

Namun, pada Konferensi Hidrografi Luar Biasa Internasional Pertama di Monako, pada tahun 1929 silam, mil laut internasional ditetapkan sebagai 1.852 meter atau 1.151 mil. Jadi, bisa dibilang, alasan penggunaan nautical mile di navigasi penerbangan lebih dikarenakan terkait erat dengan koordinat peta.

Dalam peta, terdapat garis bujur dan lintang yang sama-sama memiliki satuan derajat. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin terbiasa menyebut “Berapa meter jarak rumahmu ke rumahnya Sully?”.

Tetapi, jika seseorang tersebut mengucapkannya dengan bahasa peta, maka yang ada menjadi “Berapa derajat selisih jarak rumahmu ke rumah Sully?”. Jadi setiap derajat perbedaan garis bujur atau lintang di bumi, menandakan bahwa dalam perbedaan derajat tersebut terdapat juga perbedaan jarak.

Sebetulnya, pada tahun 1947, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) sempat mengadopsi resolusi untuk membakukan sistem unit di seluruh penerbangan untuk memperkenalkan Sistem Satuan Internasional, yang dikenal sebagai SI dari ‘Système International d’Unités’, dan akan didasarkan pada sistem metrik.

Hanya saja, ICAO sadar bahwa mengubah sistem nautical mile menjadi sistem metrik secepat itu akan membuat penerbangan kacau. Alhasil, nautical mile tetap digunakan sampai saat ini.

Kekhawatiran ICAO terkait perubahan sistem nautical mile ke metrik dengan terburu-buru memang terbukti. Pada 22 Juli 1983, pesawat Air Canada Boeing 767 dalam penerbangan dari Montreal ke Edmonton via Ottawa, Kanada, mengalami masalah.

Kapten Robert Pearson, 48 tahun, dengan pengalaman 15.000 jam terbang, dan kopilot Maurice Quintal, 36 tahun, dengan waktu terbang 7.000 jam, mendapati bahwa alarm tekanan bahan bakar rendah pesawat yang dikemudikannya tiba-tiba berbunyi.

Ketika itu, pilot berasumsi bahwa bahan bakar masih banyak, merujuk pada indikator Flight Management Computer (FMC). Alarm pun dimatikan. Tak lama berselang, alarm yang sama kembali berbunyi dan kru pun memutuskan untuk mendarat di Winnipeg, berjarak sekitar 120 mil.

Baca juga: Kenapa Mayoritas Badan Pesawat Berwarna Putih? Ini Dia Alasan Ilmiahnya!

Saat pesawat mulai turun, mesin kiri mati, diikuti dengan ledakan pada mesin kanan. Alhasil, pesawat pun kehabisan bahan bakar di ketinggian 41 ribu kaki atau 12 kilometer dari permukaan tanah.

Setelah diusut, ternyata salah satu penyebabnya karena sistem metrik. Teknisi memberikan sejumlah catatan dalam bentuk pound / L sedangkan pesawat menggunakan kg / L. Alhasil, dari seharusnya pesawat mengisi 20.088 liter bahan bakar menjadi hanya di bawah 5.000 liter. Tak heran bila pada akhirnya pesawat kehabisan bahan bakar saat tengah mengudara.

Kenapa Kapten Pilot Selalu Duduk di Sebelah Kiri dan Kopilot di Sebelah Kanan?

Pilot dan kopilot saling melengkapi dalam melakukan tugas-tugas penerbangan. Kopilot bisa saja mengerjakan apa yang menjadi tugas pilot, demikian juga  sebaliknya. Namun, tidak dengan posisi tempat duduk di kokpit. Umumnya, pilot selalu duduk di sebelah kiri dan kopilot di sebelah kanan. Kenapa demikian?

Baca juga: Rute Abu Dhabi-Kairo, Seluruh Awak Etihad EY653 adalah Perempuan dengan Kapten Pilot Warga Indonesia

Posisi kapten pilot di sebelah kiri tak lepas dari peran sejarah. Menurut Captain Lim dalam program Ask Captain, di masa-masa awal kehadiran pesawat, salah satunya di peristiwa Perang Dunia I, teknologi masih sangat terbatas dan umumnya pesawat masih berupa mesin tunggal (biplane) dengan putara mesin searah jarum jam. Ini membuat beban pesawat lebih condong ke kanan.

Dengan adanya kursi pilot dan kopilot di sebelah kanan, ini akan membuat keseimbangan dalam bermanuver, utamanya saat berbelok ke kiri.

Seiring waktu, teknologi pesawat berkembang pesat meninggalkan mesin piston menjadi mesin jet. Letaknya pun sudah tidak di tengah melainkan di sayap pesawat. Hal ini membuat kesimbangan lebih terjaga dan tidak terlalu berpengaruh pada posisi tempat duduk pilot-kopilot di kokpit. Begitupun juga dengan kontrol pesawat, sama saja antara di kanan dan di kiri.

Kendati begitu, kebiasaan yang sudah terbentuk lambat laun seolah menjadi tradisi. Ini juga didukung oleh bandara melalui pola lalu lintas yang lebih memudahkan pesawat berbelok ke kiri. Belokan ke kiri dan kursi kapten di sebelah kiri menjadi perpaduan sempurna untuk membuat kapten mendapat visibilitas lebih saat berbelok.

Di era penerbangan modern, operasional pesawat juga umumnya dilakukan dari sisi sebelah kiri. Penumpang diketahui masuk dari sebelah kiri pesawat. Itu karena pintu utama berada di sebelah kiri dan garbaratanya pun demikian. Ini menuntut kapten pilot untuk berada di sisi paling dekat dengan garbarata yaitu dengan duduk di sebelah kiri.

Akan tetapi, mengingat kontrol pesawat di kokpit sebelah kiri maupun kanan sama, menurut pengakuan salah seorang pilot, itu tak selalu terjadi. Karena bukan menjadi bagian dari regulasi secara umum atau khusus yang diatur regulator penerbangan sipil Indonesia maupun dunia (FAA dan EASA).

Baca juga: Khawatir Arogan, Bahayakah Pilot Militer Pindah Jadi Pilot Komersial?

Lain pesawat, lain helikopter. Menurut Majalah Smithsonian, tradisi kapten pilot duduk di sebelah kiri tak berlaku di helikopter. Justru sebaliknya, kapten pilot pada helikopter umumnya duduk di sebelah kanan untuk memegang kontrol penuh pada sensitive cyclic control stick pesawat.

Posisi kapten pilot di sebelah kanan juga didukung data. Menurut American Psychological Association, 90 persen orang lebih menyukai penggunaan tangan kanan dan ini pun diadopsi di helikopter. Sementara kanan kanan memegang kontrol sensitif helikopter, tangan kiri memegang kontrol lainnya yang tak terlalu sensitif.

Naik Kereta Api ke Bandung Cuma Bayar Rp12 Ribu, Beneran?

Bagi penikmat travelling dengan harga murah pasti sudah diidamkan dan dijalani semua orang. Apalagi menggunakan transportasi yang aman dan nyaman. Tentu kereta api menjadi pilihan masyarakat Indonesia terutama yang tinggal di Pulau Jawa. Bagi traveler yang doyan naik kereta api sebelum melakukan perjalanan pastinya selalu cek jadwal perjalanan untuk menentukan hari yang pas untuk melakukan perjalanan dan juga jam yang tepat. Tak ketinggalan harga yang lumayan ekonomis.

Baca juga: Satu Layanan Bisa Beda Tarif, Kenali Sub Class di Kereta Api

Bepergian ke tempat yang tidak terlalu jauh dari Kota Jakarta, sebut saja Kota Bandung. Ternyata ada lho, naik kereta api dari Jakarta ke Bandung cukup dengan bayar tiket yang super murah.

Bagi masyarakat pengguna kereta api, tentu ada alasan tersendiri sebagai penumpang. Karena nyaman, ketepatan waktu, aman, dan harga terjangkau. Contohnya jika perjalanan ke Kota Bandung ada pilihan untuk menggunakan kereta api. Sebut saja jika menggunakan Kereta Api Argo Parahyangan. Dengan waktu 2 setengah jam penumpang bisa merasakan perjalanan yang cukup cepat dari Jakarta ke Bandung kelas Ekonomi dan Eksekutif dengan tarif diatas Rp90 ribu.

Ada juga tarif menengah yang akan membawa penumpang kereta api untuk perjalanan dari Jakarta (Pasar Senen) ke Bandung (Kiaracondong), yaitu Kereta Api Serayu. Tarif KA Serayu dengan kelas ekonomi jarak jauh ini sebesar Rp 63 ribu dengan waktu tempuh sekitar 4 jam. Beda dengan kelas ekonomi KA Argo Parahyangan yaitu ekonomi Ekonomi Premium kursi 2 + 2, untuk KA Serayu rangkaian kelas ekonomi kursi 2 + 3. Sebenarnya untuk rute KA Serayu adalah Jakarta (Pasar Senen) – Purwokerto, tapi lewat jalur selatan yaitu Kota Bandung.

Jakarta Bandung Bisa Naik KA yang Murah Banget
Selain pilihan KA Argo Parahyangan dengan perjalanan singkat dan KA Serayu murah tapi sedikit lama. Kini ke Bandung juga bisa menggunakan tarif yang super murah. Yaitu hanya cukup membayar total Rp12 ribu saja. Ya, memang kenyataannya benar. Cukup naik kereta lokal sedikitnya 2 kali kalian bisa sampai ke Bandung dari Jakarta.

Namanya juga kereta lokal, tarifnya murah dan waktu tempuh perjalanannya pasti lebih lama bahkan hampir butuh waktu seharian. Jika ingin menggunakan kereta api lokal dari Jakarta ke Bandung, terlebih dahulu naik KRL (Kereta Rel Listrik) dengan tujuan Stasiun Cikarang. Saat di Stasiun Cikarang, kalian bisa naik Kereta Lokal Walahar. Berangkat Cikarang: 11.20 WIB – tiba Purwakarta: 13.20 WIB, atau berangkat Cikarang: 15.35 WIB – tiba Purwakarta: 17.05 WIB dengan tarif hanya Rp4.000,-

Jika sudah tiba di Stasiun Purwakarta, kalian bisa transit atau berpindah kereta lokal lainnya, yaitu KA Lokal Cibatu. Keberangkatan Purwakarta: 17.35 WIB – tiba di Padalarang: 19.32 WIB, tiba di Cimahi: 19.48, tiba di Bandung: 20.05 WIB dan tiba di Kiaracondong: 20.56 WIB. Jika ingin meneruskan sampai Stasiun Cibatu dengan jadwal tiba pada pukul 22.53 WIB. Tarif KA Lokal Cibatu hanya Rp 8.000,-. Bila di total tarif Jakarta ke Bandung cukup mengeluarkan biaya Rp12 ribu saja.

Bagaimana kalau sebaliknya, apa tetap murah? Naik lokal dari Bandung ke Jakarta pun tetap murah yaitu dengan total Rp12 ribu saja. Jika kalian menggunakan KA Lokal Cibatu dengan keberangkatan awal Stasiun Cibatu pada pukul 10.35 WIB, kalian bisa naik dari Kiaracondong pada pukul 12.54 WIB, dari Bandung pukul 13.37 WIB, dari Cimahi pukul 13.54 WIB dan dari Padalarang pukul 14.26 WIB – tiba di Stasiun Purwakarta pada pukul 16.14 WIB. Lalu kalian bisa transit di Stasiun Purwakarta dengan naik KA Lokal Walahar tujuan Cikarang.

Baca juga: Dompet Digital Terus Berkembang, KAIPay Mudahkan Penumpang Bertransaksi Tiket Kereta

Keberangkatan dari Purwakarta pada pukul 17.45 WIB – tiba di Cikarang pada pukul 19.10 WIB. Sebagai catatan KA Lokal tersebut berhenti di semua stasiun besar dan kecil, tak heran waktu tempuhnya juga pasti sangat lama. Bagaimana, tertarik naik kereta api dengan tarif murah? (PRAS – Cinta Kereta Api)

Bogie K5 Jadi Populasi Terbanyak Digunakan Kereta Api Indonesia

Bogie pada sarana perkeretaapian memang memiliki fungsi masing – masing sesuai dengan kegunaannya untuk angkutan barang maupun penumpang. Waktu tempuh yang dimiliki pun beragam. Mulai dari 50 km per jam hingga 120 km per jam.

Baca juga: Cara Mudah Pelajari Kodefikasi Batas Kecepatan Kereta Api

Konstruksi bogie sendiri terdiri dari pemasangan susunan pegas yang lebih banyak antara roda dan rangka bogie. Konstruksi bogie tersebut dapat dengan mudah melewati tikungan bahkan melintasi wesel kereta api. Namun, bogie yang paling sering digunakan khususnya untuk angkutan penumpang adalah bogie jenis NT 11 (K5).

Digunakan Semua Jenis Kelas Kereta Api
Bisa dibilang jenis Bogie K5 merupakan bogie yang paling banyak dipakai untuk segala jenis kereta api angkutan penumpang. Kelas Eksekutif, Bisnis, maupun Ekonomi yang biasa menggunakan bogie jenis K5. Kereta – kereta yang menggunakan bogie K5 diproduksi oleh berbagai pabrik Yugoslavia, Hongaria, Jepang, bahkan Indonesia (PT INKA).

Selama ini dinilai bahwa bogie K5 merupakan jenis bogie yang paling sesuai dengan kondisi jalan rel di Indonesia.

Bogie ini masih digunakan sejak jaman PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api) hingga saat ini. Namun, bogie K5 yang sudah berusia tua dan tidak lagi digunakan, bahkan sudah ada yang dikonservasi kebagian pembuangan kereta api di Stasiun Purwakarta, Stasiun Cikaum dan Stasiun Pasirbungur. Untuk bogie K5 saat ini adalah murni produksi PT INKA Madiun untuk digunakan dibeberapa kereta penumpang dan merupakan bogie yang sudah di upgrade ketahanan dan kenyamana pegasnya supaya saat dipejalanan lebih terasa halus. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Mengenal Marka Batas Kecepatan Kereta Api

Tentu saja setiap transportasi memiliki batas kecepatan yabg dapat kita lihat pada speedometer kendaraan. Bahkan bisa terlihat dipinggir jalan terdapat marka batas kecepatan. Selain dijalan raya, marka batas kecepatan pun terdapat pada perjalanan KA yang berada dipinggir rel kereta api. Rambu ini mengisyaratkan dan berfungsi untuk mengetahui berapa kecepatan kereta api yang dilintasi daerah tersebut.

Baca juga: Cara Mudah Pelajari Kodefikasi Batas Kecepatan Kereta Api

Marka Batas Kecepatan atau biasa disingkat Taspat biasanya ditulis dengan angka satuan, mulai dari angka 1 yang berarti 10 km per jam dan seterusnya hingga angka 9 yang berarti 90 km per jam. Misalnya jika masinis melihat angka 5 saat melintas berarti harus dibatasi kecepatannya yaitu 50 km per jam. Masinis pun wajib mematuhi Marka Taspat tersebut.

Marka Taspat ini berupa angka yang tercetak dalam lingkaran pada papan plat besi dipasang di sisi kanan arah laju kereta api.

Siapa yang Berwenang Memasang Marka Taspat?
Nah, Marka Taspat ini kira – kira siapa yang berwenang memasangnya? Marka ini dipasang oleh Distrik Jalan Rel berdasarkan perintah Distrik Jalan Rel dan Jembatan PT KAI (Persero). Lalu mengapa disetiap jalur, Marka Taspat dipasang berbeda angkanya? Banyak faktor yang mempengaruhi kondisi jalan disetiap aera yang berbeda.

Misalnya jika Marka Taspat menunjukkan angka 1 berarti kondisi di area jalan rel rawan pasca bencana alam seperti pasca tanah longsor, berarti kecepatan harus dibatasi 10 km/jam. Kemudian angka 2 ataupun 3 yakni dibatasi 20 atau 30 km per jam, biasanya saat kereta api memasuki wesel stasiun saat kereta api akan berbelok. Lalu angka 9, biasanya kecepatan ini berada di area track lurus ataupun berbelok saat kereta api mampu bisa berjalan dengan berkecepatan tinggi walaupun dibatasi kecepatannya hingga 90 km per jam. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Dibekali Pelatihan Khusus, Inilah Rincian Tugas Pramugari Bus AKAP Premium

Masih ingat dengan pramugari atau pramugara di bus AKAP? Mereka ini yang akan membantu penumpang dalam segala hal seperti memasukkan tas, melayani kebutuhan penumpang saat perjalanan dan lainnya.

Baca juga: Ada Pramugari di Bus AKAP, Perjalanan Lintas Darat Jadi Terasa Eksklusif

Nah, belum lama ini, tim KabarPenumpang.com bertemu langsung dengan seorang pramugari bus dari perusahaan otobus (PO) dari Sudiro Tungga Jaya. Pramugari itu bernama Helena Trianis. Wanita 22 tahun ini mengaku dirinya sudah menjadi pramugari bus selama setahun belakangan.

Helen mengatakan, dirinya mulai bergabung dengan PO Sudiro Tungga Jaya pada November 2020 kemarin. Dia menjelaskan bahwa pramugari di bus itu berada di armada tiktok atau putar balik yang menggunakan sasis premium

“Untuk pramugari ada di armada tiktok (putarbalik) yang menggunakan sasis premium, kalo armada selain itu gak ada pramugarinya,” ujar pemilik Instagram @hlntrianis.

Menurutnya di PO tempatnya bekerja ada training untuk para pramugari termasuk dengan ‘on job training’. Dalam training inilah nantinya akan dijelaskan mengenai SOP perusahaan, dan apa-apa saja yang harus dilakukan sebagai seorang pramugari bus.

“Kalau di PO Sudiro, untuk barang bagasi bawah ada kru yang urus. Tugas pramugari ngambil setoran dari agen-agen tiket yang dilalui, cek manifes penumpang termasuk menanyakan tujuan akhir penumpang dan menjelaskan rute yang dilalui bus”

“Untuk bagasi atas (di dalam bus) tugas pramugari, mengecek barang bawaan penumpang semisal ada yang ketinggalan dan juga kordinasi dengan agen-agen tiket, tugas pramugari,” Helen menambahkan.

Sedangkan untuk kebersihan bus, Helen mengatakan, dalam pencuciannya dilakukan di terminal dan pramugari hanya membersihkan kaca dalam bus, menyemprotkan pewangi, desinfektan, merapikan bantal da selimut.

Baca juga: Ada Pramugari di Bus AKAP, Dari Layani Penumpang Hingga Turunkan Barang di Bagasi

“Biasanya untuk merapikan selimut saya cicil sebelum terminal tujuan akhir. Biasanya kan penumpang sudah mulai turun dan sisa sedikit di dalam bus. Tapi kalo penumpang masih banyak ya berarti saya rapikan di terminal pemberhentian akhir” jelasnya.

Dear Penumpang Pesawat: BBN Airlines Indonesia Buka Rute Jakarta-Surabaya, Harga Tiketnya Paling Murah!

Maskapai pendatang baru, BBN Airlines Indonesia, akhirnya mulai melayani angkutan niaga berjadwal baik penumpang maupun kargo. Penerbangan perdana dilakukan pada hari ini, Jumat, 27 September 2024, dari Bandara Soekarno-Hatta (Jakarta) ke Bandara Juanda (Surabaya).

Baca juga: Raih Sertifikasi Operasi Udara, BBN Airlines Segera Ramaikan Penerbangan Domestik di Indonesia

Sejauh ini, rute penerbangan penumpang hanya tersedia di Jakarta-Surabaya PP, menggunakan pesawat sejuta umat, Boeing 737-800.

Pantauan kabarpenumpang.com di salah satu aplikasi online travel agent, untuk penerbangan besok, tiket maskapai BBN Airlines menjadi yang paling murah mulai Rp946.608/pax, selisih sekitar Rp100 ribu dari tiket termurah lainnya dari Citilink yang dijual mulai Rp1.054.061/pax.

Jam keberangkatan juga tergolong kompetitif, dimana BBN Airlines berangkat pukul 17.20 WIB dan tiba pukul 18.45. Sedangkan Citilink berangkat pukul 17.05 sampai di SUB pukul 18.45 WIB. Dengar harga lebih murah dan durasi tempuh yang lebih singkat, tentu saja BBN Airlines Indonesia patut diperhitungkan untuk rute CGK-SUB.

Rute sebaliknya, BBN Airlines terbang dari Bandara Juanda Surabaya pukul 19.35 dan tiba di Bandara Soekarno-Hatta pukul 20.55.

Sebelumnya, BBN Airlines pada pertengahan Maret 2024 mendapatkan Sertifikat Operasi Udara atau AOC penerbangan komersial penumpang dari Kementerian Perhubungan.

Baca juga: 9 Maskapai Baru yang Lahir Selama Pandemi Covid-19, Dari Negara Mana Saja?

Sejak itu, maskapai yang didirikan di Jakarta pada Agustus 2022 fokus di usaha niaga berjadwal yang mengkhususkan diri dalam penyewaan ACMI, operasi penerbangan charter, dan layanan kargo udara, serta menyediakan layanan penerbangan terjadwal.

Barulah setelah sekitar enam bulan, maskapai yang menjadi bagian dari Avia Solutions Group, provider ACMI (Aircraft, Crew, Maintenance and Insurance) terbesar di dunia, mulai melayani penerbangan penumpang. Menarik ditunggu, akankah BBN Airlines Indonesia dapat menjadi pesaing Lion Group dan Garuda Indonesia Group kelak?

Melancong ke Tokyo, Pilih Turun Dimana? Bandara Haneda atau Narita?

Dengan segala hiruk pikuk dan kemegahannya, Tokyo merupakan salah satu destinasi wisata terbaik di dunia, jadi wajar adanya apabila ibu kota Jepang ini selalu ramai didatangi oleh pelancong. Nah, bagi Anda yang sudah pernah ke Tokyo, mungkin Anda sudah tidak asing dengan dua bandara yang ada di sini, Narita dan Haneda.

Baca juga: Hari ini 73 Tahun Lalu, Bandara Internasional Haneda Resmi Dibuka Setelah Berfungsi Sebagai Bandara Militer

Mungkin pada awalnya Anda akan dibuat bingung dengan hadirnya kedua bandara yang sama-sama menyandang predikat sebagai bandara internasional ini. Namun, kedua bandara ini ternyata memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Jadi, dimanakah Anda harus turun ketika menyambangi Tokyo? Berikut adalah panduan yang bisa sedikit menggambarkan kedua bandara ini. Jangan salah, di akhir tulisan, ada juga lho pemenangnya!

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thepointsguy.co.uk, sebenarnya jarak yang terpaut antara dua bandara ini terbilang cukup jauh. Namun jika diukur menuju pusat kota, maka Bandara Haneda-lah yang keluar sebagai pemenang, karena jarak dari bandara menuju pusat kota hanyalah sekitar 13 mil saja dan membutuhkan waktu sekitar 40 menit berkendara dengan mobil. Sedangkan Bandara Narita terpisah 47 mil dari pusat kota dengan estimasi perjalanan 90 menit.

Kendati terpaut jarak yang cukup jauh, tapi kedua bandara ini sama-sama dapat diakses dengan menggunakan bus dan kereta cepat, kok!

Ketika masalah jarak tempuh menuju pusat kota dimenangi oleh Bandara Haneda, namun untuk urusan ketersediaan maskapai penerbangan jarak jauh, Bandara Narita-lah yang menjadi pemenangnya.

Ya, Jepang merupakan negara yang mengoperasikan dua maskapai penyandang predikat “Five Stars Airlines” versi Skytrax – All Nippon Airlines (ANA) dan Japan Airlines (JAL). Dari Bandara Narita, maskapai ANA menerbangkan delapan penerbangan jarak jauh menuju Negeri Paman Sam. Sedangkan JAL mengkoneksikan Bandara Narita dengan tujuh destinasi penerbangan di Amerika Serikat.

Selain itu, kebanyakan maskapai asal AS pun banyak yang mengudara menuju Bandara Narita ketimbang Haneda – dimana rencananya skema ini akan diubah tahun depan, dimana pemerintah Amerika Serikat menyetujui 12 slot penerbangan menuju Haneda. Dengan begitu, para pelancong dari Negeri Paman Sam akan lebih dekat menunjungi Tokyo.

Menimbang poinnya yang masih imbang, sebenarnya agak sulit untuk menentukan siapa yang menjadi pemenang dalam perlombaan dua bandara ini – mengingat keduanya merupakan bandara kelas wahid. Menanggapi hal ini, salah seorang juru bicara dari ANA Indonesia mengatakan bahwa baiknya pelancong memperhatikan terlebih dahulu tujuan kedatangan mereka ke Jepang, apakah untuk keperluan bisnis, wisata, atau hanya sekedar transit.

Baca Juga: Ada Tujuh Tiket di Jaringan Perkeretaapian Jepang, Jangan Salah Pilih Ya!

“Haneda itu cocok bagi yang ingin bisnis, atau wisata kota di Tokyo. Seperti ke Tokyo Tower, pusat perbelanjaan, dan yang paling baru Tokyo Sky Three yang paling tinggi,” terangnya

“Sedangkan di Narita itu tidak banyak destinasi, hanya ada satu temple tradisional. Narita lebih banyak digunakan untu penerbangan transfer ke Amrerika Utara, ataupun internasional lainnya,” sambungnya.

Jadi, harus terbang kemanakah Anda?

Hari ini 73 Tahun Lalu, Bandara Internasional Haneda Resmi Dibuka Setelah Berfungsi Sebagai Bandara Militer

Siapa yang tak kenal dengan Bandara Internasional Haneda, bandara yang berlokasi tak jauh dari Tokyo ini begitu tersohor namanya. Dan pada hari ini 73 tahun lalu, menjadi momen bersejarah bagi bandara Haneda, yakni dengan pembukaan Bandara Haneda (Haneda Airport) pada 27 September 1951.

Baca juga: Melancong ke Tokyo, Pilih Turun Dimana? Bandara Haneda atau Narita?

Pembukaan Bandara Internasional Tokyo Haneda pada 27 September 1951 menandai momen penting dalam sejarah penerbangan Jepang pasca-Perang Dunia II. Sebelumnya, Haneda digunakan sebagai pangkalan udara militer oleh Amerika Serikat setelah Perang Dunia II. Namun, setelah Jepang mulai memulihkan kedaulatannya, bandara tersebut dikembalikan ke fungsi sipil dan kembali melayani penerbangan komersial.

Dari sejarahnya, Bandara Haneda awalnya dibuka pada 1931 sebagai bandara domestik kecil di tepi Tokyo Bay. Selama Perang Dunia II, bandara ini diambil alih oleh militer Jepang dan kemudian oleh pasukan pendudukan Amerika Serikat. Setelah perang, Haneda menjadi basis militer utama bagi angkatan udara AS hingga tahun 1951.

Pada 27 September 1951, Bandara Haneda secara resmi kembali dibuka sebagai bandara internasional. Ini memungkinkan penerbangan komersial internasional kembali beroperasi dari dan ke Jepang, menandai kembalinya Jepang sebagai bagian dari jaringan penerbangan global. Penerbangan sipil internasional pertama yang terbang dari Haneda setelah pembukaan kembali adalah penerbangan menuju San Francisco.

Setelah dibuka kembali, Haneda terus berkembang menjadi salah satu bandara tersibuk di dunia. Bandara ini berperan penting dalam memperkuat hubungan Jepang dengan negara-negara lain, terutama selama dekade berikutnya ketika ekonomi Jepang mengalami pertumbuhan pesat.

Bandara Haneda juga tetap menjadi gerbang utama untuk penerbangan domestik di Jepang hingga saat ini, sementara Bandara Narita yang dibuka pada tahun 1978 mengambil alih sebagian besar lalu lintas penerbangan internasional.

Sejak 2010-an, Bandara Haneda telah kembali meningkatkan lalu lintas penerbangan internasionalnya dengan membuka terminal internasional baru. Lokasinya yang dekat dengan pusat kota Tokyo membuat Haneda menjadi pilihan yang lebih populer bagi para pelancong, baik domestik maupun internasional.

Pembukaan kembali Bandara Haneda pada 1951 mencerminkan upaya Jepang untuk memulihkan diri dari dampak perang dan menata kembali hubungan dengan dunia internasional melalui transportasi udara.

NEC Hadirkan “Waiting Time Forecast System” di Bandara Haneda