Berdiri Sejak Tahun 1800-an, ‘Stasiun Malasan’ Punya Beragam Kisah Unik

Rasanya jalur KA timur Pulau Jawa tak ada habisnya untuk dibahas. Mulai dari spot menarik untuk diabadikan dalam bentuk gambar, hingga jalur KA-nya yang penuh dengan sejarah panjang. Nah, kabarpenumpang kali ini akan mengajak pembaca untuk melihat stasiun kecil di jalur bersejarah wilayah Daerah Operasi (Daop) 9 Jember ini.

Stasiun Malasan (MLS) merupakan stasiun kereta api kelas III/kecil yang terletak di Malasan Wetan, Tegalsiwalan, Probolinggo; termasuk dalam Daerah Operasi IX Jember pada ketinggian +138 meter. Dengan bangunan stasiunnya yang sederhana, Stasiun Malasan hanya memiliki 2 jalur yang tersedia dan tidak melayani naik dan turun penumpang.

Stasiun ini merupakan stasiun yang letaknya paling selatan di Kabupaten Probolinggo. Stasiun ini terletak agak masuk ±200 m sebelah kiri dari jalan raya Lumajang-Probolinggo, setelah perlintasan sebidang jalan raya tersebut bila mengarah dari utara.

Sebagai informasi, stasiun dengan sistem persinyalan mekanik yang berada di petak antara Stasiun Ranuyoso dan Stasiun Leces ini ternyata sudah berusia lebih dari 1 abad. Bangunan Stasiun Malasan ini merupakan bangunan peninggalan Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan adanya pembangunan jalur rel kereta api dari Pasuruan-Probolinggo-Klakah yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, dari tahun 1884 hingga tahun 1895.

Stasiun ini diresmikan pada 1 Juli 1895 bersamaan dengan stasiun-stasiun lainnya yang ada di jalur rel Probolinggo-Klakah. Jalur tersebut merupakan bagian dari proyek jalur kereta api di Jawa untuk line menuju bagian timur (Oosterlijnen) sepanjang 74 kilometer. Pengerjaannya dimulai dari Pasuruan menuju Probolinggo dan selesai pada tahun 1884, selang sepuluh tahun barulah dilanjutkan pengerjaannya dari Probolinggo menuju Klakah.

Stasiun Malasan hanya memiliki 2 jalur. (Foto: Tangkapan Layar Youtube/RF Ndeso Channel)

Saksi Bisu Penurunan Penumpang yang Melanggar Peraturan
Sebagai informasi bahwa stasiun ini tidak untuk digunakan sebagai naik/turun penumpang, ternyata ada kisah yang tersebar di media sosial yang menjadikan stasiun ini ramai diperbincangkan. Ya, informasi yang belum lama ini mengungkapkan bahwa adanya ketidaktertiban penumpang kereta api sehingga harus turun di Stasiun Malasan ini.

Ya, dari banyak kabar yang beredar bahwa salah seorang penumpang KA Sri Tanjung relasi Ketapang-Lempuyangan, kedapatan merokok elektrik (vape) diatas kereta. Penumpang itu kedapatan merokok vape oleh petugas On Train Cleaning (OTC) di bordes antara sambungan kereta ekonomi 6-7.

OTC kemudian melaporkan kejadian tersebut ke kondektur dan berkoordinasi dengan Polsuska (Polisi Khusus Kereta Api). Padahal sudah jelas sebelumnya peringatan sesuai dengan regulasi yang menyatakan bahwa perjalanan kereta api bebas asap rokok, sudah diinformasikan melalui pengeras suara yang didalam kereta selama perjalanan berlangsung. Setelah diketahui penumpang tersebut melanggar, akhirnya diturunkan di stasiun yang terdekat saat kereta memacu perjalanannya. Stasiun Malasan menjadi stasiun terdekat untuk penumpang yang melanggar tersebut diturunkan.

Jalur Ekstrem, Stasiun Malasan Dilengkapi ‘Sepur Luncur’
Stasiun yang berlokasi di Jalan Stasiun Malasan, Dusun Krajan RT. 08 RW. 02 Desa Malasan Wetan, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur ini bila ditelaah memiliki jalur dengan tanjakan/turunan agak curam.

Dengan jalur yang bisa dibilang ekstrem ini memiliki keamanan untuk perjalanan kereta api. Sepur lurus di Stasiun Malasan ini berada dijalur 2. Nah, di jalur 2 inilah Stasiun Malasan memiliki jalur khusus yang dinamakan ‘sepur luncur’. Alasan dibuatnya sepur luncur ini, tentu saja untuk menghindari perjalanan kereta api yang tidak bisa dikendalikan. Jika tidak ada kereta api melintas, wesel jalur 2 berada diposisi sepur luncur. Namun, jika kereta api akan melintas normal, wesel sepur luncur ditutup mengarah ke jalur raya.

Sepur badug sekaligus sepur luncur di Stasiun Malasan. (Foto: Tangkapan Layar Youtube/RF Ndeso Channel)

Informasi tambahan bahwa Stasiun Malasan ini merupakan stasiun yang kecil dan lokasinya berada sudut permukiman yang masih jarang atau belum padat, sehingga stasiun ini tidak memperlihatkan aktivitas stasiun pada umumnya, yaitu menaikkan maupun menurunkan penumpang. Stasiun itu hanya untuk persilangan dan persusulan antarkereta api yang melintas di jalur tersebut, sehingga setiap harinya stasiun ini terlihat sepi.

Dengan Airbus A350-900, Malaysia Airlines Kembali Buka Penerbangan Langsung Kuala Lumpur – Paris

Malaysia Airlines menandai kembalinya ke Paris sebagai destinasi ke-68 dengan dimulainya penerbangan langsung (direct flight) dengan flight MH22 ke Bandara Charles de Gaulle. Maskapai nasional tersebut mengatakan penerbangan perdana berangkat dari Terminal 1 Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) pukul 23.45 waktu setempat pada hari Sabtu dan tiba di Paris pukul 06.40 waktu setempat.

Layanan tersebut mendapat respons yang luar biasa, dengan jumlah penumpang mencapai 95 persen untuk MH22, dan 98 persen untuk penerbangan kembali flight MH21, yang mencerminkan tingginya permintaan perjalanan antara Malaysia dan Perancis.

Malaysia Airlines akan mengoperasikan empat penerbangan mingguan antara Kuala Lumpur dan Paris mulai 22 hingga 27 Maret dengan pesawat jenis Airbus A350-900, sebelum menambah frekuensi menjadi penerbangan harian mulai 29 Maret 2025.

Kepala bagian komersial Malaysia Aviation Group, Dersenish Aresandiran, mengatakan layanan langsung ke Paris memperkuat posisi perusahaan sebagai pintu gerbang ke Asia dan sekitarnya, sekaligus mencerminkan permintaan yang terus meningkat untuk perjalanan yang lancar antara Malaysia dan Perancis.

“Untuk mengantisipasi kembalinya layanan ini, kami memperkenalkan kampanye ‘Time for Paris’ tahun lalu, yang mengajak para pelancong untuk menemukan kembali keajaiban Kota Cahaya dengan Keramahtamahan Khas Malaysia Airlines.

Untuk menyambut layanan penerbangan ini, Malaysia Airlines memperkenalkan buku saku ‘Time for Memorable Journeys’ untuk semua penumpang pada rute baru ini.

Sebagai bagian dari komitmen Malaysia Airlines untuk meningkatkan konektivitas global, dilakukan kerja sama berupa codeshare dengan American Airlines untuk memperluas pilihan perjalanan bagi penumpang yang terbang ke dan dari Paris dan sekitarnya.

Dengan dibukanya kembali rute Paris, penumpang Malaysia Airlines kini dapat mengakses empat tujuan AS tambahan melalui Bandara Charles de Gaulle – New York, Dallas, Miami, dan Orlando – yang semakin memperkuat peran maskapai dalam menghubungkan Eropa dengan Asia dan sekitarnya.

Dari Bandara Charles de Gaulle Mau ke Pusat Kota Paris? Paling Murah dan Tepat Waktu Gunakan RER B

Stasiun Kiaracondong yang Kini Lebih Besar dan Nyaman. Tapi …

Berada di wilayah Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung, Stasiun Kiaracondong menjadi urat nadi masyarakat wilayah Bandung dan sekitar sebagai pengguna setia kereta api. Dengan ketinggian +681 meter merupakan stasiun kereta api kelas besar tipe B yang terletak di Kiaracondong, Bandung, tepatnya di batas antara Babakansari dan Kebonjayanti.

Peningkatan jadwal pemberangkatan di Stasiun Bandung menjadi alasan semua keberangkatan kereta api antarkota kelas ekonomi lintas selatan Jawa dipindahkan ke Stasiun Kiaracondong, sedangkan kereta api antarkota kelas eksekutif, campuran, dan sebagian kecil kelas ekonomi tetap dilayani di Stasiun Bandung.

Saat ini, Stasiun Kiaracondong tetap menjadi stasiun penting di Bandung, karena kebijakan PT KA yang menjadikan stasiun ini menjadi stasiun perhentian untuk KA ekonomi dari dan menuju Bandung, atau yang melewati Bandung. Sama seperti Jakarta yang memisahkan KA eksekutif/bisnis (berhenti Gambir) dan ekonomi (berhenti Pasarsenen). Begitupun bangunan stasiun yang saat ini makin bagus, megah dan juga nyaman bagi penumpang. Namun dengan adanya bangunan baru yang dilengkapi skybridge ini justru dikeluhkan oleh penumpang yang biasa naik dari stasiun ini.

Skybridge Stasiun Kiaracondong. (Foto: Dok. Istimewa)

Terutama belum lama ini penumpang hendak naik kereta api dengan rute Kiaracondong-Kutoarjo tidak bisa boarding dikarenakan tiket tidak bisa digunakan. Melansir dari Tribun Jabar bahwa salah satu penumpang berusia paruh baya yang mengalami hangus tiket dadakan, Lina, selaku warga Antapani mengatakan, dirinya terpaksa merelakan tiketnya hangus padahal ia datang 25 menit sebelum keberangkatan.

Padahal, tambah Lina, jadwal tiket keberangkatan kereta api yang tertera pada tiket miliknya yakni pukul 20.50 WIB. Lina juga mengungkap, bahwa aturan tersebut tidak diberitahukan sebelumnya oleh pihak PT KAI kepada dirinya. Bahkan, ada sekira 5 penumpang lainnya, termasuk penumpang yang membawa anak dan lansia, harus mengalami tiket hangus.

Tak hanya itu selain akses penghubung selepas boarding hingga peron tempat rangkaian KA diparkir yang ditempuh penuh dengan berjalan kaki, bagian lorongnya pun menanjak-menurun karena ketiadaan eskalator. Kapasitas lift yang tersedia juga cenderung terbatas. PT KAI sendiri ingin memoles bangunan baru Stasiun Kiaracondong. Termasuk opsi memasang eskalator dan lift sehingga keberadaannya lebih pantas. Hanya saja, prosesnya tidak mudah. Pasalnya, bangunan Skybridge Stasiun Kiaracondong yang dibangun dari APBN itu masih milik negara. Untuk peningkatan atau mengganti fungsi mesti terlebih dahulu mendapatkan clearance, atau izin terlebih dulu.

Jalur Ganda Kiaracondong – Cicalengka Dibangun, Kereta Api Tambah Kecepatan 100 Km Per Jam

Enam Jemaah Umrah Indonesia Meninggal Setelah Bus Terguling Akibat Disalip Jeep

Enam orang Warga Negara Indonesia (WNI) meninggal dunia setelah bus yang mereka tumpangi saat umrah mengalami kecelakaan. Insiden mematikan ini terjadi saat bus dalam perjalanan dari Madinah menuju Mekkah, Arab Saudi pada Kamis (20/3/2025) kemarin.

Dilansir dari berbagai laman sumber, keenam korban merupakan bagian dari rombongan Jemaah umrah yang totalnya sebanyak 20 orang. Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengatakan, enam jenazah WNI korban kecelakaan bus sudah proses pemakaman di Arab Saudi.

Nasaruddin mengatakan korban meninggal dalam proses pemakanan di Arab Saudi. Sedangkan korban luka masih dalam perawatan di rumah sakit di sana. Ia mengatakan jemaah umrah atau haji memang biasa dimakamkan di tanah Arab Saudi.

“Kebiasaannya kan memang dimakamkan di sana,” kata Nasaruddin kepada awak media.

Kementerian Agama telah berkoordinasi dengan perwakilannya di Arab Saudi, begitu juga dengan Konsulat Jenderal (Konjen) RI di Jeddah, Arab Saudi. Namun, Nasaruddin mengatakan dia belum memastikan informasi mengenai pemakaman seluruh korban.

Sebab, pemerintah juga masih berkoordinasi dengan keluarga. Nasaruddin mengatakan total ada enam korban meninggal dan 13 orang luka-luka. Satu jemaah dilaporkan selamat tanpa luka. Adapun rombongan jemaah tersebut berasal dari Bojonegoro, Jawa Timur.

Nasaruddin mengatakan sesuai aturan korban meninggal saat ibadah umrah atau haji akan mendapat kompensasi dari asuransi. Kementerian Agama akan tetap membina dan mengkoordinasikan penanganan jenazah. Namun ia belum mendapatkan informasi penyebab kecelakaan.

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah memberikan klarifikasi terkait kecelakaan bus yang mengangkut Jemaah umrah asal Indonesia itu. Berdasarkan laporan resmi kepolisian lalu lintas Provinsi Mekkah, kecelakaan bukan akibat bus menabrak jeep. melainkan sebaliknya.

Konsul Jenderal RI di Jeddah, Yusron Ambari, menjelaskan bahwa kecelakaan terjadi ketika sebuah Jeep Land Cruiser double cabin yang melaju dari arah berlawanan tiba-tiba melewati pembatas jalan dan menabrak bus yang membawa jemaah umrah asal Indonesia. Benturan keras tersebut menyebabkan bus terguling dan kedua kendaraan terbakar.

Yang mana selain enam penumpang bus, dua orang di dalam jeep juga tewas dalam kecelakaan itu. Diketahui keduanya adalah warga negara Bangladesh. Dalam keterangan tertulisnya, Yusron mengatakan, bahwa bus saat itu menabrak jeep yang menyalip.

Jeep yang terlibat dalam kecelakaan tersebut memiliki plat nomor Qatar dan dikemudikan oleh seorang warga negara Pakistan dengan seorang penumpang berkewarganegaraan Bangladesh. Kedua orang tersebut dinyatakan meninggal dunia di tempat kejadian.

Untuk diketahui, kecelakan bus yang menewaskan enam Jemaah umrah Indonesia terjadi pada Kamis (20/3/2025) sekitar pukul 13.30 Waktu setempat atau pukul 17.30 WIB. Kecelakaan terjadi di Wadi Qudeid jalan Mekkah-Madinah.

Insiden tersebut membuat bus terguling dan terbakar. Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah telah mengirim tim perlindungan WNI Indonesia untuk berkoordinasi dengan otoritas setempat, termasuk perwakilan kementerian haji, muassasah atau badan pelayanan haji di Makkah dan perusahaan bus yang membawa jemaah umroh tersebut.

“Kementerian Luar Negeri saat ini tengah berkoordinasi dengan Kementerian Agama dan Agensi Umroh,” kata Judha.

Bus Shalawat, Angkutan Gratis Istimewa Untuk Jamaah Haji Indonesia

 

Pulau Onrust – Saksi Bisu Sejarah Maritim Jakarta

Terletak di gugusan Kepulauan Seribu, Jakarta, Pulau Onrust menyimpan sejarah panjang yang kaya. Nama “Onrust” sendiri berasal dari bahasa Belanda yang berarti “tidak pernah beristirahat,” mencerminkan aktivitas pulau ini yang tak pernah sepi sejak masa kolonial. Dahulu, pulau ini merupakan pelabuhan penting dan pusat perbaikan kapal bagi Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Baca Juga: Sejarah Pulau Onrust, Tempat Karantina Jemaah Haji hingga Bendung Semangat Nasionalisme

Mengutip dari berbagai laman sumber, Pulau Onrust memiliki catatan sejarah yang panjang dan multifungsi. Pada abad ke-17, VOC membangun galangan kapal dan benteng pertahanan di pulau ini. Lokasinya yang strategis di jalur pelayaran menuju Batavia (yang sekarang menjadi Jakarta) menjadikannya tempat yang vital untuk perbaikan kapal, penyimpanan logistik, dan pertahanan.

Rumah sakit karantina di pulau Onrust, diambil pada tahun 1917. Sumber: wikipedia

Selain sebagai pelabuhan dan benteng, Pulau Onrust juga pernah berfungsi sebagai:
* Rumah sakit karantina: Pada masa penjajahan Belanda dan setelah kemerdekaan Indonesia, pulau ini digunakan sebagai tempat karantina bagi penderita penyakit menular.
* Penjara: Pulau ini juga pernah menjadi tempat tahanan bagi para pemberontak dan tahanan politik.
* Pemakaman: Di pulau ini terdapat kompleks pemakaman yang menjadi saksi bisu berbagai peristiwa sejarah yang terjadi di sana.

Meskipun waktu telah berlalu, Pulau Onrust masih menyimpan berbagai peninggalan sejarah yang menarik untuk dikunjungi. Beberapa di antaranya adalah:
* Benteng pertahanan: Sisa-sisa benteng pertahanan VOC masih dapat dilihat, meskipun sebagian besar telah rusak.
* Kompleks pemakaman: Kompleks pemakaman di pulau ini berisi makam-makam dari berbagai periode sejarah, termasuk makam orang Belanda dan makam para tahanan.
* Bangunan-bangunan tua: Beberapa bangunan tua peninggalan masa kolonial masih berdiri, meskipun dalam kondisi yang memprihatinkan.
* Museum Mini: terdapat museum mini yang menyimpan barang barang peninggalan sejarah di pulau onrust.

Foto udara pulau Onrust, diambil pada 1925. Sumber: wikipedia

Saat ini, Pulau Onrust menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang populer di Kepulauan Seribu. Pulau ini menawarkan pesona sejarah yang kuat, dengan peninggalan-peninggalan masa lalu yang tersebar di seluruh pulau. Pengunjung dapat menjelajahi pulau ini, mengunjungi situs-situs bersejarah, dan menikmati suasana pulau yang tenang.

Pemerintah Indonesia telah menetapkan Pulau Onrust sebagai cagar budaya, sebagai upaya untuk melestarikan warisan sejarah yang berharga ini. Pulau ini diharapkan dapat menjadi tempat yang tidak hanya menarik bagi wisatawan, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda tentang sejarah maritim Indonesia.

Pulau Onrust adalah tempat yang tepat bagi mereka yang ingin menjelajahi sejarah maritim Jakarta dan menikmati suasana pulau yang tenang. Dengan peninggalan-peninggalan sejarahnya yang kaya, pulau ini menawarkan pengalaman wisata yang unik dan berkesan.

Sejarah Ibadah Haji Sejak 1.400 Tahun Lalu: Pernah 20 Tahun Ditiadakan Gegara Hajar Aswad Dicuri!

Pahami Bendera dari Setiap Kapal Pesiar Mewah dan Masing-Masing ‘Keuntungannya’

Jika Anda membaca artikel berita tentang moda laut, baik itu yacht hingga kapal pesiar, tidak sedikit yang mencantumkan kalimat, “kapal berbendera Bahama” atau “kapal berbendera Kepulauan Cayman” dan lain sebagainya. Nah, mungkin sebagian dari Anda bertanya-tanya, apakah maksud dari kalimat tersebut? Apakah bendera tersebut merupakan representasi dari mana kapal tersebut berasal?

Baca Juga: Profil Silver Nova, Kapal Pesiar Ramah Lingkungan yang Sempat Mampir ke Bali

Contoh sederhananya seperti ini, Anthem of the Seas yang tergabung ke dalam jaringan kapal pesiar Royal Caribbean International. Kapal pesiar super besar ini memiliki bendera Bahama, padahal Royal Caribbean International sendiri berkantor pusat di Florida. Amerika Serikat. Atau Seabourn Quest, yang juga berbendera Bahama, padahal Seabourn Cruise Line berkantor pusat di Seattle, Amerika Serikat.

Untuk memecah kebingungan ini, KabarPenumpang.com melansir dari berbagai sumber dan menemukan bahwa bendera yang berkibar di atas sebuah kapal merupakan penanda di mana kapal tersebut di daftarkan. Ada sebutan tersendiri untuk negara-negara ini, yaitu flags of convenience. Julukan ini diberikan bukan tanpa alasan, mengingat negara-negara ini menawarkan keuntungan dan kemudahan bagi para operator kapal. Biasanya, kapal-kapal yang di daftarkan ke flags of convenience adalah kapal-kapal pesiar mewah dan kapal komersial.

Mungkin Bahama adalah negara yang kerap didaftarkan oleh para operator kapal, tapi sebenarnya masih banyak negara-negara lain yang tergabung ke dalam flags of convenience:

Liberia
Republik tertua di Afrika ini adalah salah satu negara pendaftaran kapal terbesar di dunia. Mulai dari regulasi yang fleksibel, proses pendaftaran yang disederhanakan, minimnya birokrasi, hingga lingkungan pajak yang menguntungkan pemilik kapal (pajak rendah bahkan nol) menjadi daya tarik utama bagi para operator kapal untuk mendaftarkan armada mereka di Liberia.

Panama
Tidak jauh seperti Liberia, Panama juga menawarkan beragam keringanan pada para operator kapal untuk mendaftarkan armada mereka di sana. Sebut saja regulasi pendaftaran yang relatif mudah dan tidak rumit, tarif pajak yang rendah (bahkan di sebagian kasus ada pembebasan pajak), hingga diketahui Panama memiliki sistem pendaftaran kapal yang sudah mapan dan efisien, yang memungkinkan proses pendaftaran berlangsung dengan cepat dan lancar. Tentu poin-poin di atas seolah menjadi hal yang tidak bisa dihindari oleh para operator kapal.

Kepulauan Marshall
Kepulauan Marshall telah menjadi salah satu negara “flags of convenience” yang berkembang pesat dalam industri pelayaran internasional. Kepulauan Marshall menawarkan sistem pendaftaran kapal yang sangat modern dan efisien. Prosesnya cenderung cepat dan mudah, menarik bagi pemilik kapal yang menginginkan penyelesaian yang cepat. Negara ini juga memiliki regulasi yang dirancang untuk bersaing secara global dalam industri pendaftaran kapal. Mereka menawarkan fleksibilitas yang menarik bagi pemilik kapal. Pun dari segi tarif pajaknya yang terbilang rendah atau bahkan nol.

Di luar 3 negara di atas, sebenarnya masih ada Malta dan Kepulauan Cayman yang kirang lebih menawarkan hal-hal serupa. Kendati 5 negara ini dikenal sebagai flags of convenience, namun semuanya tetap berusaha untuk mempertahankan standar keselamatan dan kepatuhan internasional yang tinggi. 5 negara ini akan terus memastikan bahwa kapal-kapal yang terdaftar di bawah bendera mereka mematuhi peraturan maritim internasional.

Celestia, Kapal Pesiar Tradisional Indonesia Berhasil Sabet Predikat Sebagai Tempat Menginap Terbaik di Dunia

Sekelumit Cerita di Balik Asal Usul Nama Kapal Feri

Kapal feri, atau yang lebih dikenal dengan sebutan “feri”, adalah salah satu moda transportasi laut yang memiliki peran penting dalam menghubungkan wilayah-wilayah yang dipisahkan oleh perairan. Nama “feri” sendiri, yang terdengar sederhana, ternyata memiliki akar sejarah yang cukup panjang dan menarik untuk ditelusuri.

Baca Juga: Bukan Cuma Faktor Sejarah, Ini Alasan Kecepatan Kapal Diukur dalam “Knots”

KabarPenumpang.com mengutip dari berbagai laman sumber, asal usul kata “feri” dapat ditelusuri hingga ke Piagam Kerajaan Inggris. Dalam dokumen-dokumen kerajaan tersebut, istilah “hak feri” (ferry right) digunakan untuk merujuk pada hak operasional yang diberikan kepada kapal-kapal untuk melakukan penyeberangan. Hak ini mencakup izin untuk mengangkut orang, hewan, dan barang melintasi perairan tertentu.

Secara etimologis, kata “feri” berasal dari bahasa Inggris “ferry”, yang memiliki arti “membawa di atas kapal”. Makna ini sangat sesuai dengan fungsi utama kapal feri, yaitu sebagai sarana transportasi yang mengangkut penumpang dan muatan dari satu sisi perairan ke sisi lainnya.

Penggunaan istilah “feri” kemudian menyebar luas, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki tradisi maritim yang kuat, seperti Inggris dan negara-negara yang pernah berada di bawah pengaruhnya. Seiring berjalannya waktu, istilah ini menjadi istilah yang umum digunakan untuk menyebut kapal penyeberangan, tanpa memandang ukuran atau jenis kapal tersebut.

Selain itu, ada juga pengaruh dari bahasa Jerman. Dalam bahasa Jerman, terdapat kata “Fähre” atau “fahren” yang memiliki arti “berlayar”. Hal ini menunjukkan bahwa konsep kapal penyeberangan telah dikenal dan digunakan sejak lama di berbagai budaya.

Seiring dengan perkembangan teknologi, kapal feri juga mengalami evolusi yang signifikan. Kapal feri modern kini dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan teknologi canggih, seperti sistem navigasi yang akurat, mesin yang lebih efisien, dan desain yang lebih aman dan nyaman.

Selain itu, jenis-jenis kapal feri juga semakin beragam, disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi perairan. Ada kapal feri yang dirancang khusus untuk mengangkut kendaraan, ada pula yang dirancang untuk mengangkut penumpang dalam jumlah besar.

Hingga saat ini, kapal feri masih memegang peranan penting dalam sistem transportasi modern, tidak terkecuali di Indonesia. Kapal feri menjadi penghubung yang vital bagi komunitas-komunitas yang tinggal di pulau-pulau atau wilayah pesisir, dan juga menjadi alternatif transportasi yang populer bagi wisatawan.

Dengan demikian, asal usul nama kapal feri tidak hanya sekadar sebuah kata, tetapi juga cerminan dari sejarah panjang dan perkembangan peradaban manusia dalam memanfaatkan jalur laut sebagai sarana transportasi.

Kenali 10 Rute Kapal Ferry Terindah di Dunia

Makin Cakep! Begini Kondisi Terkini Stasiun Tegal Tampak Depan

Stasiun Tegal (TG) yang berada di wilayah Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang merupakan stasiun yang cukup banyak digandrungi masyarakat yang bepergian dengan jarak yang tidak begitu jauh dari Jakarta.

Stasiun kereta api Tegal yang berada di jalur pantai utara Jawa, juga merupakan satu dari dua stasiun Besar Kelas A di Daop 4 Semarang selain stasiun Besar Semarang Tawang dan merupakan pintu gerbang kota Tegal.

Stasiun yang memiliki 6 jalur dengan jalur 1 dan 2 sebagai sepur lurus arah barat menuju ke Stasiun Brebes, dan yang ke timur menuju ke Stasiun Larangan. Jalur 3 digunakan sebagai sepur lurus dari dan ke arah Slawi-Balapulang hingga Prupuk. Jalur 4 sebagai jalur menuju ke balai yasa maupun Depo Pertamina (saat ini dpindah di Stasiun Larangan). Sedangkan dua jalur sisanya digunakan untuk menyimpan gerbong. Sebagian stasiun ini banyak dilewati dan disinggahi oleh sejumlah kereta api, baik kelas ekonomi, bisnis maupun eksekutif.

Bangunan stasiun ini memang sudah diperbaharui dan dipercantik sebagaimana stasiun-stasiun besar pada umumnya. Perubahan Stasiun Tegal pun terletak pada perpanjang dan peninggian peron, pemasangan overcapping atau atap pada peron di jalur 1-3 agar penumpang terlindung dari panas dan hujan saat naik dan turun kereta.

Peron dan Emplasemen Stasiun Tegal (Foto: Tangkapan Layar Youtube/Iman Jaya

Pembaharuan selanjutnya yang paling luar biasa terdapat pada bagian depan Stasiun Tegal. Dimana sejak Agustus 2024 bagian depan stasiun yang semula merupakan lahan parkir kini disulap menjadi taman yang luas serta area drop bagi penumpang yang menggunakan kendaraan bermotor.

Dengan perluasannya halaman Stasiun Tegal, penumpang juga bisa langsung menikmati Taman Pancasila yang terlihat lebih jelas dan juga bangunan gedung Samarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS). Untuk lokasi parkirnya, kini dipindahkan ke sisi selatan stasiun tentunya dengan lahan yang begitu luas. Lahan parkir juga disediakan dekat dengan pintu keluar serte tempat penjemputan Stasiun Tegal sehingga memudahkan penumpang untuk akses turun dari kereta api. Rencananya persiapan beautifikasi tahap dua di Stasiun Tegal berada di sebelah selatan yakni bekas bangunan ruko yang akan dibangun pusat bisnis dan layanan.

Ada yang menarik juga dari interior stasiun ini. Pembaharuan selanjutnya dilakukan pengecatan ulang pada dinding stasiun biar lebih cerah dan hidup.

Fyi, dikutip dari laman IRPS bahwa Stasiun Tegal dibangun pada tahun 1885 sebagai stasiun trem JSM (Java Spoorweg Maatschappij). Pada tahun 1897, Stasiun Tegal dibeli oleh maskapai perkeretapian SCS (Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij), stasiun dengan atap besar berbahan kayu yang mengatapi tiga sepur (jalur). Pada tahun 1918, sebagian dari bangunan direnovasi berdasarkan karya arsitek Henri Maclaine Pont (1885-1971) tetapi atap buatan tahun 1897 tidak diubah banyak.

KA Tegal Bahari Kembali Muncul, Tapi Kini “Turun Tahta”

Lama Vakum, KA Argo Anjasmoro Kembali Hadir di Jadwal Tambahan Lebaran 2025

Jadwal Gapeka 2025 memang sudah dijalankan sejak awal Februari. Banyaknya perjalanan kereta api yang ditambah, membuat penumpang semakin praktis saat melakukan perjalanan ke luar kota. Sebagai contoh perjalanan KA Taksaka dengan rute Gambir-Yogyakarta, dalam sehari total 6 kali perjalanan pulang pergi. Sama halnya seperti KA Sawunggalih rute Pasar Senen-Kutoarjo yang juga ditambah jadwal perjalanannya pada pagi, siang, dan malam hari. Dari perjalanan reguler yang ditambah, ada pula perjalanan kereta api dengan status Fakultatif (berjalan pada hari-hari tertentu). Seperti yang akan kabarpenumpang bahas kali ini adalah KA Anjasmoro.

Nama Anjasmoro diambil dari nama gunung yang memiliki ketinggian 2.331 meter dan Puncak Anjasmoro dengan ketinggian 2.269 meter keduanya berada di wilayah Kabupaten Mojokerto. Gunung Anjasmoro termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Jombang, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Malang, dan Kota Batu, Jawa Timur.

Fyi, pada tanggal 1 Desember 2019, jenama Anjasmoro dipakai oleh Kereta api Anjasmoro yang melayani relasi Pasar Senen–Jombang melalui lintas selatan Jawa (via Cirebon–Yogyakarta), dengan kelas eksekutif dan ekonomi. Kereta tersebut menggunakan pola operasi bertukar rangkaian dengan kereta api Jayabaya, rangkaian kereta api Anjasmoro dialokasikan oleh Depo Kereta Jakarta Kota. Kereta api Anjasmoro mengalami penjenamaan ulang menjadi kereta api Bangunkarta pada Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) 2021 yang berlaku mulai tanggal 10 Februari 2021.

Nah, KA Argo Anjasmoro memiliki rute Gambir-Surabaya Pasar Turi yang merupakan kereta api lintas utara Pulau Jawa. Seperti kelas argo lainnya, KA ini sudah menggunakan rangkaian berbadan stainless steel. Dengan waktu tempuh rata-rata 9 jam 5 menit, kereta api ini menjadi satu-satunya kereta api kelas eksekutif Argo yang berstatus Fakultatif. Berdasarkan Gapeka 2025, rangkaian kereta api Argo Anjasmoro terdiri dari 8 kereta eksekutif baja ringan, 1 kereta makan, dan satu kereta pembangkit. Rangkaian tersebut dialokasikan oleh Depo Kereta Jakarta Kota. KA Argo Anjasmoro berjalan hanya satu kali pulang pergi dengan tarif mulai dari Rp600.000 hingga Rp800.000.

Perjalanan KA Argo Anjasmoro selama libur lebaran dimulai pada Jumat, 21 Maret 2025 sampai dengan Minggu, 13 April 2025. Berikut jadwal pemberhentian KA Argo Anjasmoro:

• KA 29F Argo Anjasmoro
Stasiun Surabaya Pasarturi: 12.05
Stasiun Bojonegoro: 13.18 ~ 13.21
Stasiun Cepu: 13.47 ~ 13.50
Stasiun Semarang Tawang: 15.20 ~ 15.32
Stasiun Pekalongan: 16.36 ~ 16.39
Stasiun Tegal: 17.23 ~ 17.26
Stasiun Cirebon: 18.16 ~ 18.35
Stasiun Bekasi: 20.40 ~ 20.42
Stasiun Jatinegara: 20.54 ~ 20.56
Stasiun Gambir: 21.10

• KA 30F Argo Anjasmoro
Stasiun Gambir: 23.35
Stasiun Bekasi: 00.01 ~ 00.03
Stasiun Cirebon: 02.10 ~ 02.16
Stasiun Tegal: 03.08 ~ 03.11
Stasiun Pekalongan: 03.50 ~ 03.53
Stasiun Semarang Tawang: 05.02 ~ 05.13
Stasiun Cepu: 06.54 ~ 06.57
Stasiun Bojonegoro: 07.25 ~ 07.27
Stasiun Surabaya Pasarturi: 08.40

Baca juga:

Angka Kecelakaan Tinggi, Hindari Mudik Pakai Sepeda Motor

Mudik Lebaran tak tersisa tinggal menghitung hari. Anak sekolah sudah mulai libur dan orang tua sudah mengambil cuti untuk bertemu sanak saudara di kampung halaman. tiket bus dan kereta pun mungkin juga tersisa sedikit.

Meski begitu, banyak keluarga yang memilih menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan moda transportasi umum seperti kereta dan bus. Ini biasanya karena mudik Bersama keluarga dan meminimalisir pengeluaran untuk transportasi umum.

Bila menggunakan mobil, hal ini sudah barang tentu pergi dengan keluarga. Namun banyak juga pemudik yang menggunakan sepeda motor mereka. Padahal menggunakan kendaraan road dua untuk mudik tidaklah dianjurkan.

Hal tersebut karena risiko tinggi terlibat kecelakaan. Pasalnya, sepeda motor, menjadi kendaraan yang paling sering terlibat kecelakaan lalu lintas. Bahkan tercatat, sepeda motor menjadi penyumpang korban lalu lintas tertinggi. Apalagi jika mudik dengan berboncengan lebih dari satu orang dan membawa barang yang berlebihan.

Dari data yang tercatat, Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat mengatakan, pada tahun 2005 lalu, mulai marak mudik lebaran menggunakan sepeda motor.

Demikian pula pada saat mudik lebaran, semula pemudik selalu memadati terminal penumpang untuk berebutan memasuki bus yang akan berangkat. Beralih menggunakan sepeda motor ke kampung halaman, terminal mulai sepi setiap lebaran. Jalan mulai dipadati sepeda motor tidak hanya mobil.

Tanpa ada panduan keselamatan berkendara dari pemerintah untuk menggunakan sepeda motor berperjalanan jarak jauh dari pemerintah telah menambah korban kecelakaan pemudik sepeda motor. Padahal, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan melarang pemanfaatan sepeda motor untuk dimuati lebih dari dua orang tanpa kereta samping.

Sepeda motor bukan kendaraan yang menjamin keselamatan dan keamanan karena fitur perlindungan minim. Perlindungan tidak terjamin dan amat terbatas pada kelengkapan yang dikenakan pengemudi dan penumpang. Sepeda motor tidak dirancang untuk perjalanan jarak jauh.

Mengutip data Korlantas Polri (Februari 2024), selama tiga tahun terakhir cenderung tidak banyak perubahan. Popupasi sepeda motor 84,5 persen dari jumlah kendaraan bermotor. Jika mengacu dari jenis kendaraan, angka kecelakaan masih didominasi sepeda motor. Untuk tahun 2021 sebesar 73 persen, tahun 2022 (77 persen) dan tahun 2023 (76 persen).

Untungnya untuk meminimalisir kecelakaan sepeda motor, sejak tahun 2014, mudik motor gratis dipelopori menggunakan KA. Lalu tahun berikutnya ditambah menggunakan truk.

Mudik Lebaran tahun 2025, Direktorat Jenderal perhubungan Darat mengalokasikan 10 unit truk (mudik 5 truk dan balik 5 truk) guna mengangkut 300 sepeda motor. Sementara Direktorat Jenderal Perkeretapian menyediakan kuota sebanyak 7.424 unit sepeda motor gratis menggunakan moda KA.

Jika tetap mudik pakai sepeda motor, maka harus menyiapkan kondisi fisik dan kendaraan, menyiapkan surat-surat kendaraan, menggunakan helm standar nasional, tidak berbonceng lebih dari satu, tidak membawa barang berlebih, memeriksa kondisi motor sebelum berangkat, memastikan komponen krusial diganti jika kondisinya sudah mengkhawatirkan, dan hindari berkendara pada malam hari.

Terlebih, kondisi jalan masih banyak yang berlubang, pemudik sepeda motor haeus ekstra hati-hati.

Ditinggal Mudik Pelanggan, LRT Jabodebek Manfaatkan untuk Percepatan Perawatan Kereta