Bus Tak Layak Operasional, Tanda Silang Merah Jadi Penanda Penting

Pernah lihat bus umum dan ditempeli stiker berbentuk silang merah di bagain kaca depan atau samping? Ternyata ini merupakan tanda identifikasi khusus yang diberikan kepada bus yang dinyatakan tidak layak jalan, baik secara teknis maupun administratif, namun masih berada dalam proses evaluasi atau penertiban.

Stiker ini dikeluarkan oleh petugas Dinas Perhubungan (Dishub) atau tim uji KIR sebagai peringatan visual kepada masyarakat dan petugas lain di lapangan agar tidak menggunakan atau mengizinkan bus tersebut mengangkut penumpang.

Tujuan pemasangan stiker silang merah ini menyatakan sebagai bus tidak layak operasi. Bus yang mendapat stiker ini umumnya tidak lulus uji KIR, mengalami kerusakan parah, atau tidak memiliki izin trayek yang sah.

Tanda tersebut juga memudahkan pengawasan petugas di lapangan yang melihat bila bus tersebut bermasalah tanpa rus melihat berkas satu per satu. Selain itu dengan anda ini dan bus masih beroperasi, petugas bisa langsung memberi teguran kepada pemilik armada.

Stiker ini sifatnya sementara yakni sebagai bentuk teguran administratif sebelum kendaraan benar-benar ditarik paksa atau dikenakan sanksi hukum. Adanya tanda silang ini pun untuk meningkatkan kesadaran publik.

Di mana, penumpang diharapkan tidak menaiki bus dengan tanda silang merah karena mengandung risiko keselamatan yang tinggi. Sehingga bila melihat bus dengan stiker silang merah dan mengangkut penumpang, Anda bisa melaporkan kepada Dishub terdekat.

Kemudian menghindari menaiki bus tersebut demi keselamatan diri dan memberi edukasi pada penumpang lain yang belum mengerti makna tanda tersebut. Bilapun bus dengan silang merah masih nekat beroperasi, maka akan dikenakan denda administrative.

Selain itu juga kendaraan bisa ditarik permanen atau sementara. Bahkan pemutusan izin trayek serta pembekuan usaha angkutan. Untuk diketahui, stiker silang merah bukan sekadar coretan.

Ini adalah sinyal penting bahwa bus tersebut tidak layak jalan dan membahayakan keselamatan penumpang. Masyarakat diimbau untuk peka terhadap tanda ini dan mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan standar keselamatan transportasi umum.

Sulap Bus Reyot, Ecotact Hadirkan Bus Toilet Berfasilitas Lengkap!

Tulisan “Sukaresmi” Muncul pada Peta Jaringan di KRL Baru, Apakah Stasiun Baru?

Mungkin beberapa masyarakat yang mencoba atau merasakan naik Kereta Rel Listrik (KRL) Terbaru dari Cina ini sempat melihat layar monitor yang menampilkan peta jaringan KRL? Ya, layar monitor yang berada di tiap-tiap pintu KRL dengan posisi diatas ini khususnya pada Jalur Bogor (Bogor Line) ada stasiun KRL yang muncul dengan nama baru.

Nama stasiun itu adalah Sukaresmi. Padahal kita tahu bahwa nama-nama stasiun di jalur tersebut memang sudah ada sejak dulu namun hingga kini masih belum diaktifkan, seperti Stasiun Gunung Putri. Nah, penamaan Stasiun Sukaresmi yang terletak antara petak Stasiun Cilebut dengan Stasiun Bogor ini cukup menarik perhatian masyarakat. Padahal bangunan stasiun tersebut belum sepenuhnya terlihat dan letak lokasi jelasnya pun tidak ada.

Tulisan “Sukaresmi” sebagai stasiun baru yang nantinya melayani di Jalur Bogor.

Menurut Direktur Operasi dan Pemasaran PT KAI Commuter (KCI) Broer Rizal yang dilansir kutipannya dari laman Detik ternyata buka suara. Menurutnya, Stasiun Sukaresmi memang belum dibangun. Ia menyebut memang sempat ada rencana pembangunan stasiun tersebut, namun belum ada persiapan untuk dibangun.

Broer menegaskan satu-satunya stasiun baru yang dioperasikan KCI hanyalah Stasiun Pondok Rajeg yang berada di jalur kereta menuju Stasiun Nambo. Stasiun itu direaktivasi dari stasiun yang sudah ada. Sedangkan Stasiun Sukaresmi belum pernah dibangun sebelumnya, bila ada rencana dibangun akan menjadi stasiun baru. Namun, dia menegaskan semua masih wacana dan belum ada lagi rencana untuk membuat stasiun tersebut.

Menurut informasi dari berbagai sumber mengatakan bahwa sebelumnya Pemerintah Kota Bogor melalui Badan Perencanaan Pembangunan RIset dan Inovasi Daerah (Bapperida) sempat memastikan adanya rencana pembangunan stoplet atau stasiun Sukaresmi nantinya akan terus berjalan. Hal itu diungkapkan pernyataan Kepala Bapperida Kota Bogor, Rudy Mashudi pada tahun 2024 lalu yang menjelaskan sedang proses Detail Engenering Design (DED) oleh Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kemenhub.

Ia juga sudah menyampaikan melalui forum Bapenas sedang menyusun RIPKA Rencana Induk Pengembangan Kawasan Aglomerasi turunan dari Undang-Undang Nomor 2 tahun 2024 tentang Daerah Khusus Jakarta kami bagian dari aglomerasi salah satunya penataan transportasi di Kota Bogor adalah Stasiun Sukaresmi.

Depo KRL Depok. (Foto: Dok. Istimewa)

Pemkot Bogor menilai pembangunan Stasiun Sukaresmi menjadi suatu kebutuhan ditengah semakin meningkatnya mobilitas masyarakat yang bertumpu pada satu stasiun besar yakni Stasiun Bogor. Karena berdasarkan data dari Stasiun Bogor bahwa rata-rata penumpang perhari di Stasiun Bogor mencapai lebih dari 85.000 orang pada hari kerja, sementara pada akhir pekan mencapai lebih dari 90.000.

Akses Keluar Stasiun Bogor Kini Ada Dua Pintu

“Voyager Station” – Hotel Luar Angkasa Pertama Pertama, Dibuka Tahun 2027 Tampung 280 Tamu

Hotel luar angkasa pertama, Voyager Station, akan dibuka pada tahun 2027 oleh Orbital Assembly Corporation (OAC). Resor mewah ini akan mengorbit Bumi dan menawarkan gravitasi buatan, yang dirancang untuk menampung 280 tamu dan 112 awak.

Proyek ini bertujuan untuk menjadikan perjalanan luar angkasa sebagai pengalaman umum bagi individu, seperti perjalanan internasional saat ini. Voyager Station memanfaatkan teori dan desain kedirgantaraan selama puluhan tahun, termasuk konsep roda berputar yang pertama kali diusulkan oleh Wernher von Braun.

Stasiun ini akan diluncurkan dari Kennedy Space Center (KSC) dan memberikan pengalaman unik seperti olahraga gravitasi rendah dan pemandangan Bumi yang indah.

Dikembangkan oleh OAC, stasiun luar angkasa berputar ini akan menghasilkan gravitasi buatan melalui gaya sentrifugal, sehingga menawarkan pengalaman yang lebih mirip Bumi daripada proyek luar angkasa sebelumnya. Desain hotel ini terinspirasi oleh visi Wernher von Braun abad ke-20, yang mengonseptualisasikan stasiun roda berputar untuk mensimulasikan gravitasi.

Stasiun Voyager akan berputar sekitar 1,5 kali per menit, awalnya mensimulasikan gravitasi bulan dan berpotensi meningkat ke level Mars atau Bumi.

Jadi Pelancong Luar Angkasa Pertama, Dennis Tito Rogoh Kocek $20 Juta

Fitur gravitasi sangat penting untuk kenyamanan dan fungsionalitas tamu, dengan poros lift yang mengarah dari pusat gravitasi nol ke modul hunian luar tempat gravitasi buatan berlaku.

Stasiun Voyager akan menawarkan 24 modul yang disusun dalam roda melingkar, yang membentang sekitar 125.000 kaki persegi.

Setiap modul akan memiliki fungsi tertentu, mulai dari akomodasi dan rekreasi hingga perhotelan dan penelitian. Fasilitas yang diharapkan meliputi restoran & Bar Layanan bersantap lengkap dengan hidangan dan minuman yang ramah antariksa, aiula konser untuk pertunjukan musik tanpa gravitasi, kemudian ada pusat kebugaran yang dibangun untuk memanfaatkan gravitasi rendah demi pengalaman kebugaran yang unik

Tamu akan tiba melalui hub dok pusat, lalu melanjutkan ke modul mereka melalui poros transfer bertekanan. Saat ini, perjalanan antariksa masih dapat diakses terutama oleh individu yang sangat kaya. Misalnya, Oliver Daemen membayar $28 juta untuk penerbangan suborbital singkat dengan Blue Origin.

Namun, tujuan jangka panjang OAC adalah membuat liburan antariksa kompetitif dengan paket pelayaran mewah tradisional. Dengan kemajuan dari perusahaan seperti SpaceX, biaya peluncuran diproyeksikan turun, yang berpotensi membuat masa inap di orbit layak untuk pasar yang lebih luas dalam satu dekade.

Meskipun OAC memimpin dengan konsep hotel luar angkasa pertama di dunia, persaingan semakin meningkat. Axiom Space telah bermitra dengan NASA untuk mengembangkan modul komersial di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), yang akhirnya membentuk fasilitas independen. Demikian pula, Sierra Space dan Blue Origin berkolaborasi di Orbital Reef, stasiun luar angkasa komersial multiguna.

Lebih Murah, Wisata ke Luar Angkasa Naik Balon Udara World View Cuma Rp712 Juta!

Bantul Kembangkan Bus Sekolah, Minta Dua Unit Armada dari Kementerian Perhubungan

Bus sekolah menjadi salah satu alternatif murah bagi para pelajar. Ini karena setiap pelajar yang menggunakan bus sekolah tidak akan dikenakan tarif perjalanan.

Sehingga, para pelajar bisa dengan bebas menikmati bus sekolah baik saat berangkat ataupun pulang dari sekolah. Seperti Bantul di Yogyakarta yang saat ini hanya memiliki satu bus.

Pihak Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bantul di Yogyakarta, baru-baru ini melakukan pengembangan bus angkutan sekolah di wilayah mereka. Di mana saat ini ada dua rute baru dalam pengembangan tersebut.

Baca juga: Jadikan Bus Sekolah Tempat Tinggal, Suami Istri Lakukan Perjalanan Keliling AS

Awalnya, bus sekolah tersebut hanya melayani satu rute wilayah yakni Bantul Barat. Kepala Dishub Bantul, Singgih Riyadi mengatakan, pihaknya memiliki rintisan bus sekolah satu rute wilayah Bantul Barat dari Palbapang, Pandak, dan Panjangan Sedayu.

Dia mengatakan, kehadiran rute baru ini karena minat yang besar sehingga Dishub berencana mengembangkan ke dua wilayah lain di Bantul yakni tengah dan timur.

“Minatnya cukup besar dengan kehadiran bus sekolah ini. Maka kami minta penambahan bus,” katanya

Singgih menyebutkan, bahwa rencana pengembangan tersebut sudah diusulkan ke pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Adapun usulan tersebut terkait pengadaan armada bus.

“Karena kendala keterbatasan keuangan, kita beinisiasi ntuk mengusulkan ke pusat ke Kementerian Perhubungan, sudah kami sampaikan usulan tersebut, mudah-mudahan mendapat perhatian dari kementerian,” kata Singgih.

Baca juga: Resmi Beroperasi, KRL Terbaru dari Cina Nyaman dan Mudahkan Penumpang Commuter Line Jabodetabek

Usulan bus sekolah tersebut berjumlah tiga armada baru. Karena satu akan digunakan untuk mengganti bus lama yang kondisi usianya pun sudah tak muda lagi. Selain itu juga bus lama tersebut belum dilengkapi pendingin ruangan.

“Kita mengajukan tiga unit. Kalau diberikan tiga untuk Bantul barat, timur, dan tengah. Karena bus yang sekarang kita gunakan mohon maaf bus lama dan tidak ber AC, dan mudah-mudahan nanti bantuan dari kementerian bisa memenuhi standar sebagaimana bus sekolah,” tutupnya.

Jadikan Bus Sekolah Tempat Tinggal, Suami Istri Lakukan Perjalanan Keliling AS

Mengenal Tradisi “Plesiran” Saat Warga Banyumas Berwisata, Hanya Gunakan Kereta Api di Jalur SDS

Tahun 1893 menjadi tahun bersejarah bagi masyarakat yang hidup di kawasan sepanjang Sungai Serayu. Di tahun itu, berdirilah sebuah perusahaan kereta api bernama SDS (Serajoedal Stoomtram Maatschappij).

Perusahaan itu membangun sebuah jalur kereta api di sepanjang lembah Sungai Serayu dari Wonosobo hingga Cilacap. Pada saat jalur Purwokerto-Wonosobo beroperasi, perusahaan yang paling berkepentingan terhadap jalur ini adalah perusahaan gula.

Selain mengangkut gula yang akan diekspor ke luar negeri melalui Pelabuhan Cilacap, kereta api-kereta api yang lewat jalur ini juga mengangkut perlengkapan pabrik yang didatangkan langsung dari luar negeri. Tak hanya itu, selain mengangkut hasil bumi yang disebutkan, dilansir dari laman Perpustakaan Nasional RI bahwa masyarakat yang tinggal dikawasan Banyumas juga memanfaatkan jalur tersebut dengan istilah tradisi “Plesiran”. Ini adalah satu tradisi yang sudah “mbalung sungsum” atau kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan.

Dahulu di Banyumas, hanya ada angkutan umum yaitu kereta api yang dikelola oleh perusahaan SDS tersebut, jadi plesiran masyarakat Banyumas hanya bisa dilakukan dengan kereta api. Jalur ini melayani rute dari Maos ke timur, Ke utara melalui Gambarsari (Kebasen), untuk selanjutnya memasuki kota Purwokerto dan berhenti di Stasiun Purwokerto sebelah timur, kemudian dikenal dengan nama Stasiun Timur tepat di tengah kota Purwokerto.

Dari stasiun Purwokerto perjalanan dilanjutkan ke Sokaraja-Purbalingga-Banjarnegara dan Wonosobo. Dengan angkutan ini masyarakat Banyumas dapat berwisata yang bisa dikunjungi sepanjang jalur SDS atau cukup sekadar “sepur-sepuran” (pulang – pergi) menggunakan kereta api.

Tempat-tempat wisata yang dikunjungi waktu itu antara lain Bendung Banjarcahyana yang dikenal dengan nama Jenggawur yang berlokasi di Kabupaten Banjarnegara. Bendung ini dibangun dengan kerja paksa di masa pendudukan Jepang. Terowongannya yang panjang bukan hanya dimanfaatkan untuk mengalihkan aliran Kali Serayu tetapi juga terowongan ini juga menembus aliran sungai lain. Jadi ada sungai mengalir dibawah sungai lain yang pembangunannya dilakukan oleh ratusan manusia secara paksa. Obyek lainnya yang cukup unik adalah wisata sungai, dengan mengunjungi area “siphon” yaitu mengalihkan arus sungai dengan saluran yang berbentuk huruf U.

Seiring dengan dibukanya jalur kereta api ke Wonosobo, kereta api itu juga mengangkut komoditas tembakau. Pada masa jayanya, satu rangkaian kereta api dapat mencapai 5 kereta yang terdiri dari gerbong barang dan kereta penumpang. Dilansir dari Kai.id, jadwal keberangkatannya adalah 2 kali dari Wonosobo pada waktu pagi dan sore, dan 2 kali dari Purwokerto pada pagi dan sore juga.

Namun, penutupan jalur SDS terlebih dahulu dimulai pada masa pendudukan Jepang tahun 1942. Pada waktu itu, jalur SDS antara Stasiun Kebasen hingga Tanjung dibongkar untuk menyederhanakan jalur dan penghematan, mengingat waktu itu jalurnya berdampingan dengan jalur Staats Spoorwegen (SS) Cirebon-Kroya yang sudah diresmikan sejak 1917.

Jembatan kereta api di jalur SDS. (Foto: Dok. Laman Banjoemas)

Setelah kemerdekaan, jalur SDS antara Purwokerto-Banjarnegara-Wonosobo sebenarnya masih beroperasi. Namun pada tahun 1978 jalur itu ditutup karena kalah bersaing dengan moda transportasi yang menggunakan jalan raya.

Mengenang Purwokerto Timur, Stasiun Termegah yang Bernilai Sejarah

Transjakarta Branding Persija di 30 Armada Bus

Sebagai klub sepak bola di Ibu Kota Jakarta, Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta atau yang dikenal dengan Persija akan diperkuat brandingannya. Hal ini dikatakan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.

Pramono mengatakan, brandingan Persija akan ada di bus milik Transjakarta. Nantinya ada 30 armada bus Transjakarta yang berukuran besar maupun kecil dan bakal menjadi media branding Macan Kemayoran ini.

Pramono mengaku, dirinya sudah meminta kepada pihak PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) untuk media branding klub sepak bola Ibu Kota ini. Terkait hal ini, Transjakarta akhirnya angkat bicara.

Baca juga: Tertinggal Bus Panik? Cek Tips Ini Agar Anda Tetap ‘Aman’

Kepala Departemen Humas dan CSR PT Transportasi Jakarta Ayu Wardhani mengiyakan adanya media branding tersebut. Dia mengatakan, akan ada 30 armada yang akan dibranding Persija.

“Ada 30 armada, sepuluh di antaranya adalah bus kecil atau mikrotrans. Sisanya bus besar,” kata Ayu kepada KabarPenumpang.com (2/6/2025).

Dia menegaskan bus besar dan metrotrans juga akan dipasang stiker branding Persija.

“Untuk mikrotrans kami tempel branding Persija di bagian belakang. Sedangkan untuk bus besar dan metrotras kami branding di bagian belakang juga sisi samping bodi bus,” jelasnya.

Baca juga: Resmi Beroperasi, KRL Terbaru dari Cina Nyaman dan Mudahkan Penumpang Commuter Line Jabodetabek

Selain itu, Pramono mengatakan bahwa Jakarta International Stadium (JIS) sekarang sudah bekerjasama dengan Persija secara penuh.

“Yang pertama, saya sudah meminta kepada Dirut Jakpro JIS itu sekarang kan sudah dikerjasamakan dengan Persija secara penuh.Sehingga pertandingan seluruh Persija home base itu ada di JIS. Sehingga dengan demikian overhead-nya akan ada,” tambah dia.

Selanjutnya, Pramono menilai saat Persija main di JIS susana begitu terasa. Hal itu ia rasakan sendiri saat menyaksikan pertandingan Persija kontra Malut United Jumat, 23 Mei 2025 malam.

“Jadi kalau ini bisa dilakukan, kemarin ketika saya menonton terakhir pertandingan lawan Maluku Utara walaupun ada flare. Tetapi saya yakin bahwa ambien dan vibe-nya itu, suasananya itu luar biasa,” ungkapnya.

Tempuh Jarak 72,8 Km dengan Durasi Dua Jam, Inilah Sensasi Transjabodetabek Rute PIK 2-Blok M

Hanya Berjarak 2,7 Km dengan Durasi 53 Detik, Inilah Rute Penerbangan Berjadwal Terpendek di Dunia

Memecahkan rekor Guinness World Records, rute penerbangan maskapai Loganair yang menghubungkan dua pulau di Kepulauan Orkney, Skotlandia, didaulat sebagai penerbangan berjadwal dengan rute terpendek dan durasi tersingkat di dunia.

Penerbangan terjadwal terpendek tersebut menghubungkan dua pulau di Kepulauan Orkney, Skotlandia: Westray dan Papa Westray. Jarak antara kedua pulau ini hanya sekitar 2,7 km (1,7 mil), dan waktu terbang biasanya sekitar 90 detik, dengan rekor tercepat tercatat 53 detik.

Penerbangan ini menggunakan pesawat Britten-Norman BN-2B-26 Islander, sebuah pesawat ringan bermesin ganda dengan konfigurasi sayap tinggi. Pesawat ini memiliki kapasitas delapan penumpang, dikemudikan oleh satu pilot, dan dikenal karena kemampuannya beroperasi di landasan pendek dan kondisi cuaca yang menantang.

Penerbangan berlangsung setiap hari dengan jadwal yang bervariasi, tergantung hari dalam seminggu. Penerbangan ini sering digunakan oleh guru dan siswa yang mengunjungi situs arkeologi di Papa Westray, serta oleh tenaga medis yang memberikan layanan kesehatan kepada sekitar 90 penduduk pulau tersebut.

Pada tahun 2016, rute ini merayakan penumpang ke satu jutanya, menunjukkan pentingnya layanan ini bagi komunitas lokal . Penerbangan ini juga menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman unik ini.

Meskipun terdapat layanan feri antara Westray dan Papa Westray, perjalanan laut memakan waktu sekitar 25 menit dan dapat terganggu oleh kondisi cuaca yang tidak menentu. Tidak ada jembatan yang menghubungkan kedua pulau, menjadikan penerbangan ini sebagai opsi transportasi tercepat dan paling andal bagi penduduk setempat.

Tarif penerbangan ini cukup terjangkau. Harga tiket satu arah mulai dari £8, (setara Rp178.000) dan tiket pulang-pergi dapat berkisar antara £14 hingga £17 (setara Rp400.000), tergantung pada waktu pemesanan dan ketersediaan.

Dari sejarahnya, penerbangan di rute ini dimulai pada tahun 1967 oleh maskapai regional Skotlandia, Loganair. Penerbangan ini merupakan bagian dari layanan antar-pulau yang menghubungkan Westray, Papa Westray, dan Kirkwall, pusat transportasi utama di Orkney.

Penerbangan ini dioperasikan sebagai bagian dari kewajiban layanan publik (public service obligation) yang disubsidi oleh Dewan Kepulauan Orkney untuk memastikan konektivitas antar pulau.

Ternyata Penerbangan (Rute) Terpendek Airbus A320 Ada di Indonesia

Resmi Beroperasi, KRL Terbaru dari Cina Nyaman dan Mudahkan Penumpang Commuter Line Jabodetabek

Sekian lama sejak kedatangan di Jakarta dan uji coba lintas di jalur Jakarta – Bogor, Bekasi dan Cikarang, KRL baru dari Cina pun akhirnya dioperasikan secara reguler. Bertepatan 1 Juni 2025 KRL ini dijalankan dengan rute Jakarta – Bogor pp. dan Kampung Bandan – Bekasi – Cikarang pp.

Awal perdana melintas KRL tersebut telah dirasakan masyarakat pengguna KRL yang hendak mengisi liburan di Jakarta. Teruntuk kepada penggemar kereta api atau Railfans pun tak mau ketinggalan mengabadikan momen perdana yang sangat antusias dengan berbagai aksi memotret baik dari stasiun maupun dari bagian dalam KRL.

Fyi, Pengoperasian KRL ini dilakukan setelah seluruh rangkaian KRL baru tersebut lulus uji sertifikasi keselamatan dan kelayakan oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan, sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor PM 49 Tahun 2023 tentang Standar, Tata Cara Pengujian, dan Sertifikasi Kelaikan Kereta Api Kecepatan Normal dengan Penggerak Sendiri.

KRL baru ini merupakan generasi pertama yang dimiliki langsung oleh KAI Commuter dan diberi seri CLI-125. Nama ini merupakan singkatan dari Commuter Line Indonesia (CLI), dengan angka 1 menandakan generasi pertama, dan angka 25 menunjukkan tahun mulai operasional, yakni 2025.

Berbagai fasilitas yang sangat modern dari KRL tersebut memang sudah sangat lengkap. Beberapa informasi mengenai larangan, keadaan darurat, hingga layar LCD diatas pintu tentang informasi posisi KRL saat tiba di stasiun yang dituju pun terlihat sangat jelas untuk memudahkan penumpang saat berada di dalam KRL.

Pun teknologi terbaru KRL seri CLI-125 ini mengusung sistem Train Control Monitoring System (TCMS) yang memusatkan kendali operasional untuk meningkatkan keselamatan dan efisiensi. Selain itu, sistem pintu otomatisnya dilengkapi teknologi Anti Trap guna mencegah risiko penumpang terjepit pintu saat naik atau turun kereta.

Pada bagian interior, KRL ini memiliki kapasitas angkut antara 250 hingga 300 orang per kereta. Kereta kabin menyediakan 42 tempat duduk, sementara kereta non-kabin menyediakan 54 tempat duduk.

Untuk mendukung kenyamanan pengguna prioritas, tempat duduk dengan warna abu-abu ditempatkan dekat pintu. Terdapat pula area khusus untuk pengguna kursi roda yang terletak di kereta nomor 1 dan 12. Menyesuaikan dengan karakteristik daerah operasi, desain kursi juga menampilkan unsur budaya khas Jakarta, seperti gambar ondel-ondel dan tanjidor.

KRL seri CLI-125 ini berukuran panjang sekitar 20 meter dengan lebar 3 meter, serta memiliki 12 kereta atau Stamformasi 12 (SF12) untuk tiap rangkaian. Untuk desain eksterior, kereta ini mengusung tema “Growing”, yaitu garis lengkung warna merah dan putih yang mengarah ke atas sebagai simbol untuk terus tumbuh dan meningkatkan layanan.

Gelombang Kedua Pengiriman 24 Unit KRL dari Cina Tiba di Tanjung Priok

Tempuh Jarak 72,8 Km dengan Durasi Dua Jam, Inilah Sensasi Transjabodetabek Rute PIK 2-Blok M

Akses transportasi dari Banten menuju ke Ibu Kota Jakarta semakin dimudahkan. Hal ini terlihat dari dua minggu sudah armada Transjabodetabek beroperasi melintasi Banten menuju Jakarta.

Rute baru ini menghubungkan Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2) di Tangerang dengan Blok M di Jakarta Selatan. Kehadiran bus dengan kode T31 tersebut, memudahkan masyarakat yang ingin ke PIK 2 dan Blok M.

Di PIK 2 sendiri bus akan tiba dan berangkat dari Tokyo Riverside Selatan. Adapun perhentiannya dari PIK 2 ke Blok M yakni Tokyo Riverside Selatan, Spring Ville, Thamrin CBD, Pantai Pasir Putih, Buddha Tzu Chi, Kemanggisan, Petamburan, Gerbang Pemuda, Senayan Bank DKI, Masjid Agung, Kejaksaan Agung, ASEAN, dan Blok M.

Sedangkan dari Blok M menuju PIK 2 yakni Blok M, ASEAN, Kejaksaan Agung, Masjid Agung, Senayan Bank DKI, Gerbang Pemuda, Petamburan, Kemanggisan, PIK Avenue, Pantai Maju, Marketing Gallery, Pantai Pasir Putih 1, Aloha, Menara Syariah, Sedayu Watertown, San Antonio, NICE, Mega Kuningan PIK 2, dan PIK 2.

“Adanya rute ini, cukup memudahkan saya menikmati perjalanan ke PIK 2. Biasanya harus naik taksi atau ojek online. Sekarang ada Transjabodetabek,” ujar Dewi yang ditemui KabarPenumpang.com di bus rute PIK 2 ini.

Penumpang lainnya pun mengaku, perjalanan bekerja atau pun menikmati liburan jadi lebih dimudahkan dengan hadirnya rute ini.

“Memang, perjalanannya cukup lama hampir dua jam. Tapi lumayan untuk kocek kantong jadi nggak terlalu bayar taif lebih kalua naik bus ini,” ungkap penumpang lainnya.

Bus Transjabodetabek rute ini menempuh perjalanan sepanjang 72,8 km dengan Waktu tempuh sekitar 165 hingga 180 menit. Perjalanan ini pun tergantung kondisi lalu lintas.

Pada awal peluncuran, Transjakarta telah menyiapkan sebanyak 20 unit bus single deck untuk melayani rute ini. Setiap bus akan berhenti di 24 titik pemberhentian atau halte. Masing-masing, 11 titik pemberhentian di Jakarta dan 13 titik pemberhentian di Banten.

Titik pemberhentian atau halte mencakup berbagai kawasan strategis, mulai dari lokasi pusat bisnis, pemerintahan, hingga destinasi wisata yang kerap dikunjungi masyarakat. Perjalanan ini, penumpang yang berjalan dari jam 05.00-07.00 pagi akan dikenakan tarif Rp2.000.

Sedangkan di dari jam 07.00-22.00 WIB, penumpang akan dikenakan tarif normal yakni Rp3.500 sekali perjalanan. Bagi penumpang dengan 15 kategori yang menerima subsidi dari Pemprov DKI Jakarta dan menggunakan kartu yang menggunakan kartu khusus pun bisa tetap naik Transjabodetabek rute PIK 2 menuju Blok M atau sebaliknya ni.

Mereka seperti penumpang biasa lainnya hanya gratis karena kartu yang digunakan untuk pembayaran berbeda dari penumpang lainnya. Bagi penumpang yang berasal dari kawasan sekitar PIK 1 dan PIK 2 dan ingin menuju halte Transjabodetabek, juga tersedia layanan armada pengumpan (feeder) yang dapat digunakan untuk memudahkan akses perjalanan.

Tertinggal Bus Panik? Cek Tips Ini Agar Anda Tetap ‘Aman’

Wacana Reaktivasi Sejak 5 Tahun Lalu, Jalur KA Madiun-Ponorogo Ternyata Masih Ada Kendala Berbagai Hal. Apa Saja?

Pada tanggal 22 Januari 2024, sempat dibahas mengenai reaktivasi jalur rel kereta api Madiun-Ponorogo kembali dibahas dalam rapat DPRD Ponorogo. Menurut pembahasan dari berbagai sumber, dalam rapat tersebut, disusunlah Raperda tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Madiun-Ponorogo Tahun 2023-2043.

Langkah ini mencerminkan keseriusan pemerintah daerah dalam mengembangkan infrastruktur transportasi yang dapat memberikan dampak positif bagi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut. Meskipun rencana reaktivasi rel kereta api telah diakomodasi dalam RTRW, tapi hingga saat ini belum ada kepastian mengenai realisasi rencana tersebut.

Proses ini mungkin melibatkan sejumlah pertimbangan teknis, finansial, dan regulasi yang perlu dipertimbangkan secara matang sebelum langkah selanjutnya dapat diambil. Dengan persoalan yang kompleks tersebut, dikutip dari laman Ponorogo News, berikut ini adalah fakta lain yang berkaitan dengan jalur kereta api Ponorogo.

Tampak bekas rel lintas Madiun–Ponorogo saat pengerjaan proyek perbaikan jalan di Perempatan Tugu, Kota Madiun. (Foto: Dok. Istimewa)

1. Jalur Reaktivasi
Beberapa stasiun yang masih terawat meskipun tidak beroperasi adalah Stasiun Ponorogo, Stasiun Balong, Stasiun Jetis, dan Stasiun Badegan. Perubahan jalur kereta api bisa dipengaruhi oleh kondisi alam dan berbagai faktor lainnya. Namun, jika reaktivasi jalur rel dilakukan, stasiun-stasiun tersebut kemungkinan akan menjadi bagian dari jalur kereta api Madiun-Ponorogo. Hal ini akan memberikan manfaat besar bagi konektivitas antarwilayah dan mobilitas masyarakat di Ponorogo serta sekitarnya.

2. Proses Reaktivasi Terhenti Sementara
Kondisi sulit dan padatnya pemukiman warga di sepanjang jalur rel kereta api Madiun-Ponorogo, khususnya di wilayah jalan Ploso, Kelurahan Oro-oro Ombo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, telah menghentikan sementara rencana reaktivasi yang telah direncanakan sebelumnya.

Para pihak terkait, termasuk PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan Pemerintah, menghadapi kesulitan dalam menemukan solusi atas situasi ini. Hal ini telah menyebabkan sebagian jalur rel tertimbun oleh pemukiman serta aspal, membuat jalur rel menjadi tidak terlihat di beberapa titik, khususnya di sekitar Halte Kota.

3. Wacana yang Cukup Lama
Sejak tahun 2020, pembahasan mengenai reaktivasi jalur rel kereta api Madiun-Ponorogo telah disampaikan oleh PT KAI kepada publik. Rencana tersebut tentu disambut antusias oleh masyarakat lokal, terutama di Ponorogo. Masyarakat berharap bahwa reaktivasi jalur rel kereta api Madiun-Ponorogo bukan hanya sekadar wacana belaka, tetapi dapat segera terealisasi.

4. Melibatkan Stasiun Lama
Jalur reaktivasi rel kereta api Madiun-Ponorogo yang dipertimbangkan kembali melibatkan beberapa stasiun kereta api di Ponorogo, termasuk Stasiun Ponorogo, Stasiun Balong, Stasiun Jetis, dan Stasiun Badegan. Meskipun saat ini stasiun-stasiun tersebut tidak beroperasi, tapi masih terawat dengan baik. Keterlibatan stasiun-stasiun lama ini menjadi penting karena beberapa faktor alam telah mempengaruhi perubahan jalur kereta api di wilayah Ponorogo.

Beberapa faktor alam yang mempengaruhi perubahan jalur kereta api meliputi topografi atau kondisi geografis, perubahan lahan dan lingkungan sekitar, serta perkembangan infrastruktur dan perkotaan. Stasiun-stasiun lama ini mungkin akan direnovasi atau disesuaikan kembali dengan standar operasional yang diperlukan untuk mendukung kegiatan operasional kereta api.

5. Berbagai Kendala Saat Upaya Reaktivasi
Upaya reaktivasi rel kereta api Madiun-Ponorogo memang menjadi agenda penting bagi Pemerintah Kabupaten Ponorogo, yang telah diakomodasi melalui pengesahan Raperda tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Ponorogo tahun 2023-2043 oleh DPRD Ponorogo. Namun, proses reaktivasi ini tidaklah mudah dan memerlukan pertimbangan matang, terutama mengingat potensi dampak sosial yang mungkin timbul.

Dengan berbagai kondisi tersebut, rencana reaktivasi jalur rel kereta api Madiun-Ponorogo harus ditangguhkan sementara waktu. Pihak KAI dan Pemerintah setempat kini sedang berupaya mencari solusi yang memungkinkan untuk mengatasi masalah ini dan melanjutkan rencana reaktivasi dengan lancar. Semoga saja terwujud.

Napak Tilas Jalur Madiun-Ponorogo. Dulu Primadona, Sekarang Menebar Dilema