Ini Arti dan Fungsi yang Dilakukan Petugas Stasiun Lakukan ‘Tunjuk-Sebut’ Saat Kereta Api Melintas

Kita pastinya menyadari dan melihat setiap berada di stasiun kereta api manapun, tentunya petugas stasiun menunjuk bahkan menyebut saat kereta api melintas. Ya, dari segi peraturan di kereta api yang berlaku itu ada arti dan fungsinya. Aktivitas tersebut adalah Semboyan 1, dimana petugas di stasiun siap menerima kedatangan kereta api.

Baik stasiun besar maupun kecil petugas yang melayani kedatangan maupun keberangkatan kereta api, pastinya melakukan aktivitas semboyan 1 tersebut. Terlebih jika kereta api dalam keadaan setelah berhenti ataupun melintas langsung di stasiun.

Namun jangan salah, melakukan aktivitas semboyan 1 ini harus sesuai dengan Standar Operasional Pegawai (SOP) yang berlaku. Selain menunjuk saat akhir dari kereta api melintas, petugas tersebut juga harus berucap untuk memastikan keberadaan semboyan pada akhir kereta api terlihat. Biasanya petugas stasiun ini mengatakan kalimat, “21 lengkap”. Tanda bahwa semboyan 21 terlihat di akhir rangkaian kereta.

Tunjuk Sebut yang dilakukan petugas Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) saat kereta api melintas. (Foto: Dok. Istimewa)

Semboyan 1 menandakan kepada masinis bahwa jalur yang akan dilewati kereta api berstatus aman, kereta api boleh berjalan seperti biasa dengan kecepatan yang telah ditetapkan dalam peraturan perjalanan. Semboyan 1 dibagi menjadi dua yaitu semboyan 1 siang dan semboyan 1 malam. Untuk semboyan 1 siang ditandai PPKA berdiri tegak, sementara semboyan 1 malam petugas yang berdiri tegak membawa lampu semboyan berwarna hijau yang dijinjing sejajar dengan paha petugas dan tidak digerak-gerakkan.

Nah, maksud dari petugas PPKA berdiri di peron adalah untuk mengawasi kereta yang lewat terutama semboyan-semboyan yang diperlihatkan oleh kereta api tersebut. Serta untuk mengawasi kondisi rangkaian terutama peralatan yang terdapat di bawah kereta atau rangka bawah terhadap kemungkinan kerusakan yang membahayakan keselamatan perjalanan kereta api. Setelah melakukan semboyan 1, jika kereta api hampir selesai melintas seluruhnya, maka PPKA wajib menunjuk-sebut semboyan 21 yang berada pada akhir rangkaian kereta sebagai tanda bahwa rangkaian kereta api dinyatakan lengkap.

Untuk menjamin keselamatan perjalanan para penumpang, pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) akan selalu memastikan keamanan setiap aspek operasional dengan detail. Jadi tak perlu ragu untuk memilih kereta api sebagai perjalanan yang aman, nyaman, dan selamat sampai tujuan.

‘Tunjuk Sebut’ Selalu Dilakukan Masinis Saat Berdinas, Biar Fokus?

Sembilan Hari Pasca Penambahan Jadwal, KAI Layani 862 Ribu Pengguna LRT Jabodebek dengan Ketepatan Waktu Mencapai 99,96%

Penambahan jumlah perjalanan LRT Jabodebek yang mulai diberlakukan sejak 1 Juli 2025 telah berjalan selama sembilan hari. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa penyesuaian jadwal tersebut memberikan dampak positif, baik dari sisi kenaikan jumlah pengguna maupun kinerja operasional yang tetap terjaga optimal. Selama periode 1–9 Juli 2025, layanan LRT Jabodebek mencatat tingkat ketepatan waktu perjalanan mencapai 99,96% serta melayani lebih dari 862.892 pengguna.

Rata-rata pengguna pada hari kerja mencapai 108.124 pengguna, sementara di akhir pekan rata-rata 53.009 pengguna per hari. Lonjakan ini menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap transportasi publik yang nyaman, tepat waktu, dan semakin terjangkau.

Selain pertumbuhan jumlah pengguna, tingkat ketepatan waktu perjalanan atau on-time performance (OTP) juga menunjukkan konsistensi yang sangat baik, yakni 99,94% untuk keberangkatan, 99,97% untuk kedatangan, dan jika dirata-rata 99,96%.

Executive Vice President LRT Jabodebek, Mochamad Purnomosidi menyampaikan apresiasinya kepada para pengguna.

“Kami bersyukur atas kepercayaan masyarakat selama sepekan terakhir sejak penambahan jadwal diberlakukan. Kinerja operasional yang tetap terjaga ini menjadi semangat bagi kami untuk terus memberikan layanan yang prima bagi masyarakat,” ujar Purnomosidi.

Tiga stasiun dengan pengguna tertinggi selama sepekan terakhir:
• Dukuh Atas BNI: 141.301 pengguna tap in, 129.126 tap out
• Harjamukti: 97.924 tap in, 99.650 tap out
• Kuningan: 79.786 tap in, 74.867 tap out

Sebagai pengingat, mulai 1 Juli 2025, jadwal perjalanan LRT Jabodebek pada hari kerja (Senin hingga Jumat) ditingkatkan dari 366 menjadi 398 perjalanan per hari. Penambahan ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas layanan dan memberikan kenyamanan lebih bagi pengguna, khususnya pada jam-jam sibuk.

Informasi jadwal keberangkatan dapat diakses melalui Instagram resmi LRT Jabodebek di @lrt_jabodebek.

Penambahan jadwal ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan KAI untuk menghadirkan layanan transportasi publik yang andal, efisien, dan ramah lingkungan bagi masyarakat Jabodebek.

Masih Bingung Stasiun LRT Mana yang Terhubung dengan KRL Commuter Line? Simak Penjabarannya

Terminal Tanjung Priok Kini Dikenal Sebagai Terminal Angkot

Di tengah hiruk pikuk pelabuhan dan padatnya arus kendaraan kontainer, Terminal Tanjung Priok menyimpan sejarah panjang sebagai salah satu simpul transportasi darat paling penting di ibu kota. Bagi banyak orang, nama Tanjung Priok mungkin langsung terasosiasi dengan pelabuhan terbesar di Indonesia.

Namun tak banyak yang tahu bahwa terminal bus antarkota di kawasan ini pernah menjadi denyut nadi mobilitas warga dari dan menuju Jakarta. Terminal Tanjung Priok berdiri sejak era 1980-an sebagai bagian dari pengembangan kawasan pelabuhan.

Pada masa kejayaannya, terminal ini melayani ratusan keberangkatan bus setiap harinya, terutama menuju wilayah barat dan utara Pulau Jawa, seperti Banten, Cirebon, Indramayu, hingga Semarang. Terminal ini juga menjadi titik penting bagi buruh pelabuhan, nelayan, dan warga sekitar yang menggantungkan hidup dari aktivitas ekonomi maritim.

Lokasinya yang strategis, berdampingan dengan Stasiun Tanjung Priok dan Pelabuhan Tanjung Priok, membuat terminal ini memiliki peran unik yakni menghubungkan moda laut dan darat secara langsung. Banyak penumpang kapal yang melanjutkan perjalanan dengan bus antarkota dari terminal ini.

Tak jarang juga, barang bawaan dari kapal laut ikut diboyong ke daerah-daerah lewat bagasi bus. Namun, memasuki era 2000-an, geliat Terminal Tanjung Priok mulai meredup. Perubahan rute transportasi, pembangunan jalan tol, dan pemindahan fungsi ke terminal-terminal lain seperti Terminal Pulo Gebang dan Kalideres menyebabkan arus penumpang berkurang.

Ditambah lagi dengan pembangunan infrastruktur pelabuhan yang semakin modern, terminal ini perlahan tak lagi menjadi pilihan utama. Kini, Terminal Tanjung Priok lebih dikenal sebagai terminal angkutan dalam kota dan area bagi sebagian armada bus yang tersisa serta beroperasi dari sana.

Beberapa bangunan tua masih berdiri, menjadi saksi bisu masa keemasan terminal yang pernah begitu hidup. Di sudut-sudutnya, tersisa cerita tentang pedagang kaki lima yang dulu ramai, porter yang bersahut-sahutan, dan deru mesin bus yang silih berganti.

Meski tak sepadat dulu, Terminal Tanjung Priok tetap memiliki tempat tersendiri dalam ingatan banyak warga Jakarta. Ia bukan sekadar tempat naik-turun penumpang, melainkan bagian dari sejarah mobilitas masyarakat kota pelabuhan ini.

Kini, seiring waktu, terminal ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga dan merawat simpul-simpul sejarah transportasi. Sebab, dari tempat seperti inilah wajah kota dan dinamika warganya terbentuk.

Setiap 17 Juni Diperingati Sebagai Hari Dermaga di Indonesia, Ternyata Berlatar Sejarah

Pelindo Mulai Terapkan Sistem e-Pass di Pelabuhan Jayapura

Pembayaran secara cashless atau non-tunai dewasa ini semakin banyak digunakan. Selain memudahkan, Anda juga tidak perlu membawa uang tunai dalam jumlah banyak lagi yang memenuhi dompet.

kehadiran pembayaran non-tunai ini, Anda hanya menggunakan kartu uang elektronik atau scan barcode dari mobile banking. Hal ini juga kemudian digunakan oleh pihak Pelabuhan untuk meningkatkan pelayanan dan kenyamanan bagi pengguna jasa Pelabuhan.

Di mana pihak Pelabuhan Jayapura kini terus mendorong penggunaan kartu uang elektronik sebagai akses masuk ke Pelabuhan. Penggunaannya baik untuk pengunjung pejalan kaki, pengantar maupun penjemput yang menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat.

Mereka akan diarahkan untuk menggunakan system e-Pass berbasis elektronik. Dilansir dari berbagai laman sumber, General Manager PT Pelindo Regional 4 Jayapura, Ramdan Affan Kiai Demak mengatakan, penerapan system ini memberikan dampak signifikan terhadap ketertiban dan efisiensi di area pelabuhan.

“Dulu kondisinya semrawut dan padat karena banyaknya angkutan kota yang tidak teratur. Kini mulai tertata dengan lebih baik,” kata Ramdan.

Dia mengatakan, ketertiban terjadi karena para pengemudi angkutan kota (angkot) sudah dilengkapi dengan kartu uang elektronik. Sehingga pengaturan kendaraan menjadi lebih terkendali. Meski begitu, pengelola mengaku bahwa kenyamanan pengunjung masih bersifat relative.

Ramdan menyebutkan bahwa pihaknya baru menyediakan tempat menaik turunkan penumpang bukan area parkir seperti di terminal. Hal ini yang kemudian membuat kenyamanan masih bergantung pada kebutuhan dan persepsi masing-masing pengguna.

“Sistem e-Pass sangat membantu dalam pengelolaan arus kendaraan dan pencatatan data. Seluruh transaksi kini dilakukan secara non tunai, yang tidak hanya mempercepat proses masuk dan keluar, tetapi juga mempermudah pengumpulan data pendapatan secara real time dan akurat,” kata dia.

Penerapan teknologi dalam pengelolaan pelabuhan ini menjadi langkah maju dalam mewujudkan pelayanan publik yang lebih modern dan efisien.

“Kami berharap, sistem ini dapat terus disempurnakan dan diterima oleh seluruh pengguna jasa pelabuhan,” ujarnya.

Pelaksanaan tarif progresif dalam sistem e-Pass juga memberikan sejumlah manfaat nyata, antara lain adalah mengurangi kemacetan, tarif progresif mendorong pengguna untuk lebih efisien dalam menggunakan waktu, sehingga mengurangi potensi kemacetan di kawasan pelabuhan.

Meningkatkan fisiensi, di mana rus lalu lintas menjadi lebih terkelola yang secara langsung mengurangi waktu tunggu dan biaya operasional. Mengoptimalkan infrastruktur yang membuat sistem ini membantu mengatur penggunaan gerbang masuk dan keluar dengan lebih efektif, melalui pengaturan waktu kedatangan dan keberangkatan kendaraan.

Selain itu juga meningkatkan pendapatan, dengan sistem pembayaran yang lebih efektif, pelabuhan mampu meningkatkan pendapatannya secara signifikan.

Star Voyager Bersandar di Pelabuhan Kuala Tanjung, Pelindo Beri Kenyamanan Pelancong

 

Sama-sama Stasiun Besar, Ternyata Masih Ada Perbedaan Antara Stasiun Yogyakarta dengan Lempuyangan. Apa saja?

Hingga saat ini destinasi wisata di kawasan Yoguakarta dan sekitarnya masih sangat diminati masyarakat dari berbagai kota di Indonesia. Apalagi transportasi andalan yang praktis dan nyaman adalah pengguna kereta api. Dari segi perjalanan dengan kereta api menuju Yogyakarta saat ini bisa terjangkau dengan jadwal yang cukup banyak, baik kelas ekonomi sampai eksekutif/argo.

Menggunakan kereta api masyarakat bisa memilih rute tujuan saat tiba di Yogyakarta. Ada Stasiun Yogyakarta dan Stasiun Lempuyangan. Ya, meski kedua stasiun tersebut memiliki status yang sama yakni stasiun besar, namun disisi lain ada juga, lho yang membedakan antara kedua stasiun tersebut. Nah, kabarpenumpang kali ini akan membahas kedua perbedaan antara Stasiun Yogyakarta dan Lempuyangan, berikut rangkumannya:

1. Stasiun Yogyakarta
Stasiun Tugu, atau dikenal juga sebagai Stasiun Yogyakarta (YK), adalah ikon transportasi di kota ini. Berlokasi di Sosromenduran, Kecamatan Gedongtengen, stasiun ini dekat dengan kawasan Malioboro dan melayani kereta kelas eksekutif dan bisnis.

Selain itu, stasiun ini juga menyediakan layanan kereta bandara YIA dan KRL Commuter Line Yogyakarta. Dengan arsitektur klasiknya, Stasiun Tugu adalah pemandangan yang memukau bagi penumpang sekaligus menjadi jalur penting di jalur selatan dan tengah Pulau Jawa.

Dari segi lalu lintas kereta api, stasiun ini pun tergolong ramai dengan aktifitas langsir. Langsir yang seringkali dijumpai di Stasiun Yogyakarta adalah lokomotif dan rangkaian kereta api. Tak heran, stasiun ini memiliki jalur simpan untuk rangkaian kereta dan juga Depo Lokomotif Yogyakarta.

Hal berikutnya Stasiun Yogyakarta memiliki halaman untuk pengendara jalan raya yang sangat luas. Area parkir serta area naik turun penumpang teraedia di bagian depan pintu masuk stasiun. Hal ini banyak penumpang sangat antusias jika ke berlibur Yogyakarta untuk naik dan turun di Stasiun Tugu ini.

Lempuyangan, Sejarah Panjang Stasiun KA Ekonomi di Yogyakarta

2. Stasiun Lempuyangan
Tak jauh dari Stasiun Tugu, hanya sekitar satu kilometer, terdapat Stasiun Lempuyangan yang terletak di Kecamatan Danurejan. Stasiun ini menjadi titik pemberhentian utama untuk kereta ekonomi dan campuran.

Meski namanya mungkin tidak sepopuler Stasiun Tugu, Lempuyangan memainkan peran besar sebagai pusat transportasi bagi warga dan wisatawan yang ingin menjelajahi berbagai destinasi menarik di sekitar Yogyakarta.

Nama “Lempuyangan” diambil dari kawasan Tegal Lempuyangan yang ada di dekatnya, dan stasiun ini menawarkan kenyamanan serta nostalgia bagi para penumpang yang melintasi jalur selatan dan tengah Pulau Jawa.

Antusias masyarakat yang naik dan turun di Stasiun Lempuyangan pun tak jauh beda dengan Stasiun Yogyakarta. Beberapa kereta api dengan tarif subsidi inilah yang membuat ramainya penumpang berbondong-bondong berlibur di Yogyakarta, tentu dengan budget yang murah pula.

Stasiun Lempuyangan memiliki jalur simpan untuk rangkaian kereta maupun gerbong. Membedakan dari Stasiun Yogyakarta adalah stasiun ini memiliki jalur menuju gudang angkutan semen dan Balai Yasa Yogyakarta. Proses langsir juga sering dilakukan di stasiun ini pada waktu-waktu yang ditentukan.

Nah, itulah rangkuman tentang perbedaan antara Stasiun Yogyakrata dengan Stasiun Lempuyangan. Meski memiliki perbedaan, kedua stasiun tersebut masih dipertahankan bangunan aslinya sebagai cagar budaya yang dimiliki PT Kereta Api Indonesia (KAI). Kira-kira kalian lebih sering turun di Stasiun Yogyakarta atau Lempuyangan?

 

Pelabuhan Lembar Pintu Masuk Wisata Lombok yang Tak Pernah Sepi

Di sisi barat Pulau Lombok, berdiri kokoh Pelabuhan Lembar, pintu masuk utama bagi wisatawan dan barang dari Pulau Bali serta wilayah barat Indonesia. Terletak di Kabupaten Lombok Barat, pelabuhan ini tak hanya memainkan peran strategis dalam logistik, tetapi juga menjadi saksi bisu pertumbuhan pariwisata dan ekonomi masyarakat Nusa Tenggara Barat.

Pelabuhan Lembar dikenal sebagai pelabuhan penyeberangan utama dari Pelabuhan Padangbai, Bali. Dengan waktu tempuh sekitar 4–6 jam menggunakan kapal ferry, pelabuhan ini menjadi rute favorit wisatawan yang ingin menjelajah keindahan Lombok dengan kendaraan pribadi atau rombongan tour.

Setiap hari, aktivitas di dermaga tak pernah sepi. Truk-truk logistik membawa sembako, material bangunan, hingga kendaraan dari Jawa dan Bali menyeberang untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal. Di sisi lain, para backpacker, keluarga wisatawan, dan pelaku perjalanan bisnis lalu lalang dari kapal menuju terminal penumpang.

Baca juga: Pelayanan Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk, Bakal Ditingkatkan dengan Automatic Ticketing System

Di tengah geliat transportasi ini, Pelabuhan Lembar juga telah mengalami berbagai peningkatan fasilitas. Area terminal kini lebih nyaman, lengkap dengan ruang tunggu, toilet bersih, serta informasi digital keberangkatan kapal. Sistem tiket daring mulai diterapkan guna mempermudah penumpang sekaligus mengurangi antrean panjang di loket.

Seiring berkembangnya sektor pariwisata di Lombok, Pelabuhan Lembar semakin memiliki peran penting sebagai “gerbang laut” menuju objek wisata seperti Pantai Senggigi, Gili Trawangan, hingga kawasan Mandalika. Tak jarang, rombongan wisatawan langsung melanjutkan perjalanan begitu turun dari kapal, menuju destinasi indah di selatan dan utara pulau.

Baca juga: Pelabuhan Depapre Layanin Penumpang Setelah Subsidi Pemerintah Pusat Dihentikan

Namun, tantangan tetap ada. Cuaca buruk di musim tertentu bisa menyebabkan keterlambatan jadwal kapal. Selain itu, perlunya peningkatan kapasitas dan manajemen antrian kendaraan menjadi perhatian, terutama saat musim liburan atau arus mudik.

Meski begitu, daya tarik Pelabuhan Lembar tetap kuat. Tak hanya sebagai infrastruktur vital, tapi juga sebagai representasi wajah ramah Lombok yang menyambut siapa pun yang datang dari seberang.

Pelabuhan Lembar, Pintu Masuk Utama Pelancong di Lombok Barat

Punya Rumah di Pinggir Rel? Ternyata Ada Keuntungan dan Kerugiannya

Setiap naik kereta api, selain bisa melihat pemandangan luas yang indah namun bisa juga melihat banyaknya pemukiman yang dekat dengan jalur kereta api. Disisi lain masyarakat yang memiliki rumah dekat dengan rel kereta api terkesan dekat dengan akses jika wilayahnya bisa menjangkau stasiun. Tapi disisi lainnya potensi kebisingan saat kereta api melintas bisa menjadi faktor yang tidak mengenakkan, bahkan bisa menjadi bahaya jika bermain di area sekitar jalur kereta api.

Nah, kali ini kabarpenumpang akan membahas soal keuntungan dan kerugian jika tempat tinggal kita berdekatan dengan rel kereta api.

Ilustrasi rel kereta api dengan latar belakang area pemukiman warga. (Foto: Dok. Kompas)

– Keuntungan Memiliki Rumah di Pinggir Jalur Kereta Api
Dari beberapa keuntungan memiliki rumah pinggir jalur kereta api apalagi yang berdekatan dengan akses ke stasiun ketersediaan berbagai fasilitas publik. Stasiun kereta api biasanya dikelilingi oleh toko-toko, restoran, dan tempat hiburan sehingga menciptakan suasana yang hidup dan semarak. Selain itu, hal ini bisa memudahkanmu dalam memenuhi berbagai kebutuhan akan fasilitas-fasilitas publik.

Lalu tinggal di pinggir rel kereta api bisa membangkitkan rasa petualangan dan keingintahuan. Melihat kereta lewat, membayangkan tujuan yang mungkin mereka tuju, dan sesekali naik ke kereta untuk melakukan perjalanan spontan bisa menambah kegembiraan dalam kehidupan sehari-hari. Rel kereta api bisa menambah daya tarik estetika yang unik ke suatu lingkungan.

Pemandangan kereta api yang melintas, suara klakson, dan pesona industri secara keseluruhan bisa menciptakan karakter yang berbeda pada area tersebut. Daya tarik ini bisa sangat menarik bagi mereka yang menyukai keramaian dan suasana saat kereta api melintas.

Selain itu Salah satu keuntungan utama tinggal di pinggir rel kereta adalah akses transportasi yang mudah. Jika kamu sering bepergian atau senang menjelajahi tempat-tempat baru, memiliki rumah di dekat stasiun kereta akan sangat nyaman. Hal ini memungkinkan perjalanan yang cepat dan tidak merepotkan. Selain itu, kamu juga bisa menghemat ongkos perjalanan dari rumah ke stasiun kereta api.

– Kerugian Memiliki Rumah di Pinggir Jalur Kereta Api
Rumah di pinggir rel kereta api juga memiliki beberapa kerugian. Biasanya kereta yang melintas bisa menyebabkan getaran dan guncangan yang bisa dirasakan rumah-rumah di sekitarnya. Meskipun tidak selalu berbahaya, getaran ini bisa mengganggu beberapa orang, terutama jika getaran tersebut sering terjadi atau mengganggu aktivitas sehari-hari.

Kedekatan dengan kereta yang melaju kencang meningkatkan risiko kecelakaan jika tindakan pencegahan yang tepat tidak dilakukan. Sangat penting untuk mengedukasi diri sendiri dan orang yang kamu cintai tentang keselamatan kereta api dan selalu berhati-hati saat menyeberangi rel.

Kekurangan yang paling jelas dari tinggal di dekat rel kereta api adalah kebisingannya. Kereta api bisa sangat bising, terutama saat klakson dibunyikan klakson atau saat melintas di malam hari. Jika kamu sensitif terhadap kebisingan atau menyukai kedamaian dan ketenangan di lingkungan tempat tinggal, suara gemuruh dan siulan kereta api yang terus-menerus bisa mengganggu dari waktu ke waktu.

Dan yang terpenting adalah undang-undang yang berlaku tentang rumah yang berdekatan dengan jalur kereta api. Secara hukum, memiliki rumah di pinggir rel kereta api dilarang karena bisa membahayakan, baik bagi penghuni rumah maupun keselamatan perjalanan kereta api itu sendiri.

Larangan memiliki rumah di pinggir rel kereta api tertuang dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian Pasal 178 yang berbunyi: “Setiap orang dilarang membangun gedung, membuat tembok, pagar, tanggul, bangunan lainnya, menanam jenis pohon yang tinggi, atau menempatkan barang pada jalur kereta api yang dapat mengganggu pandangan bebas dan membahayakan keselamatan perjalanan kereta api.”

Sedangkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Pemukiman Pasal 140, berbunyi: “Setiap orang dilarang membangun perumahan dan/atau permukiman di tempat yang berpotensi dapat menimbulkan bahaya bagi barang ataupun orang.”

Kham Thien Street, Sebuah Cerita dari Pemukiman Pinggir Rel di Vietnam

Sesama Anggota SkyTeam, Saudia dan Vietnam Airlines Umumkan Kemitraan Codeshare

Saudia, maskapai nasional Arab Saudi, menandatangani perjanjian codeshare dengan Vietnam Airlines untuk meningkatkan konektivitas antara Republik Sosialis Vietnam dan Kerajaan Arab Saudi. Kolaborasi ini bertujuan untuk menawarkan lebih banyak pilihan perjalanan bagi para penumpang antara Asia Tenggara dan Timur Tengah, serta memberikan pengalaman perjalanan yang lebih lancar.

Perjanjian codeshare ini memungkinkan perjalanan pada penerbangan yang menghubungkan Hanoi dan Ho Chi Minh City dengan Jeddah dan Riyadh. Penumpang kini dapat memesan perjalanan melalui salah satu maskapai, termasuk segmen yang dioperasikan oleh mitra codeshare, sehingga memberikan fleksibilitas lebih besar dan pengalaman pemesanan yang lebih terintegrasi di seluruh jaringan kedua maskapai.

Arved von zur Muehlen, Chief Commercial Officer Saudia, menyatakan, “Kami sangat menantikan untuk mempererat hubungan dengan Vietnam Airlines. Perjanjian codeshare ini menegaskan komitmen Saudia untuk menghadirkan lebih banyak destinasi kepada para penumpang dan meningkatkan konektivitas demi pengalaman perjalanan yang lebih lancar, seiring dengan keanggotaan kami bersama di aliansi SkyTeam. Melalui kerja sama dengan maskapai nasional ternama, kami terus memperluas jaringan global kami, yang selaras dengan tujuan strategis kami untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan pertukaran budaya.”

Nguyen Quang Trung, Direktur Perencanaan & Pengembangan Perusahaan di Vietnam Airlines, mengatakan: “Kami gembira dapat bermitra dengan Saudia untuk memperkuat jaringan global kami dan menawarkan lebih banyak pilihan bagi pelanggan kami untuk bepergian ke Timur Tengah. Kolaborasi ini menggarisbawahi komitmen kami untuk menyediakan layanan yang luar biasa dan koneksi internasional yang lancar.”

Ia menambahkan, “Sebagai sesama anggota SkyTeam, kemitraan ini memungkinkan kami menawarkan manfaat dari jaringan global yang lebih luas dan pilihan program frequent flyer yang lebih beragam, serta kesempatan untuk merasakan kekayaan budaya, warisan, dan kuliner khas Vietnam.”

Kemitraan ini mendukung tujuan strategis Saudia dalam menghubungkan dunia dengan Kerajaan Arab Saudi, termasuk inisiatif peningkatan pengalaman perjalanan melalui layanan dan produk darat maupun udara. Kemitraan ini juga sejalan dengan Strategi Transportasi dan Logistik Nasional yang menargetkan peningkatan konektivitas udara ke lebih dari 250 destinasi pada tahun 2030, serta mendukung target Kementerian Pariwisata Arab Saudi untuk mencapai 150 juta kunjungan pada tahun 2030.

Untung-Rugi Gabung Aliansi SkyTeam yang Juga Diikuti Garuda Indonesia, Apa Saja?

Rotterdam, Pelabuhan Terbesar Eropa Siapkan Dermaga Khusus Hadapi Perang NATO-Rusia

Belanda mulai siap menghadapi potensi konflik antara NATO dan Rusia. Negeri Kincir Angin ini menyiapkan dermaga khusus di Pelabuhan Rotterdam bagi kapal-kapal yang membawa kargo militer dan merencaranakan Latihan mliter rutin.

Dilansir dari financialtimes.com, Rabu (9/7/2025), saat ini terminal peti kemas di Pelabuhan Rotterdam sedang dirancang untuk pemindahan amunisi yang aman, dan latihan amfibi akan diadakan beberapa kali dalam setahun. Ini juga termasuk dengan mulai melaksanakan pemetaan rute logistik untuk transfer senjata.

Kemudian juga melakukan koordinasi dengan Pelabuhan Antwerp di negara tetangga yakni Belgia. Sebelumnya, Pelabuhan Rotterdam telah melayani pengiriman senjata, tetapi kali ini untuk pertama kalinya mereka menetapkan dermaga khusus untuk keperluan militer NATO.

Khusus untuk pasokan logistik militer akan dikoordinasikan dengan Pelabuhan Antwerp. Pelabuhan Rotterdam sendiri merupakan pelabuhan terbesar di Eropa dan menjadi pelabuhan tersibuk di dunia sejak tahun 1962 hingga 2004 lalu.

Tahun 2011, Rotterdam menjadi pelabuhan kontainer tersibuk kesebelas di dunia dalam hal twenty-foot equivalent unit (TEU) yang ditangani Pada tahun 2012, Rotterdam adalah pelabuhan terbesar keenam di dunia dalam hal tonase kargo tahunan.

Dengan luas 105 kilometer persegi (41 sq mi), pelabuhan Rotterdam sekarang membentang lebih dari 40 kilometer (25 mil). Pelabuhan ini terdiri dari daerah pelabuhan bersejarah di pusat kota, mencakup Delfshaven; kompleks Maashaven/Rijnhaven/Feijenoord; pelabuhan sekitar Nieuw-Mathenesse; Waalhaven; Vondelingenplaat; Eemhaven; Botlek; Europoort, terletak di sepanjang Calandkanaal, Nieuwe Waterweg dan Scheur; dan daerah reklamasi Maasvlakte, yang diproyeksikan ke Laut Utara.

Ada lima daerah pelabuhan berbeda dan tiga parkir distribusi yang memfasilitasi kebutuhan 40 juta konsumen di Pelabuhan Rotterdam. Sejarhanya, pada paruh pertama abad ke-19 kegiatan pelabuhan dipindahkan dari pusat ke arah barat menuju Laut Utara.

Untuk meningkatkan koneksi ke Laut Utara, Nieuwe Waterweg (“Waterway”), sebuah kanal berukuran besar, dirancang untuk menghubungkan sungai Rhein dan Meuse ke laut. Nieuwe Waterweg dirancang hanya sebagian yang digali, maka untuk lebih memperdalam dasar kanal digunakan aliran alami air.

Namun pada akhirnya, bagian terakhir yang harus digali menggunakan tenaga kerja manual. Nieuwe Waterweg telah diperdalam beberapa kali. Kanal ini suap digunakan pada tahun 1872 dan segala macam kegiatan industri terbentuk di tepi kanal ini.

Inilah Splashtours, Bus Amfibi Ikonik yang Hanya Ada di Rotterdam dan Amsterdam Belanda

Dilayani 14 Angkutan Penghubung Aktif, Pengguna LRT Jabodebek di Stasiun Harjamukti Terus Naik

Perjalanan menuju Stasiun Harjamukti kini semakin mudah. Berbagai angkutan penghubung atau feeder hadir untuk mengantar pengguna dari terminal, perumahan, hingga pusat aktivitas masyarakat ke stasiun LRT Jabodebek. Kehadiran moda feeder yang semakin beragam ini menjadi bagian penting dari meningkatnya kenyamanan dan kemudahan layanan.

Menariknya, munculnya layanan-layanan feeder di Stasiun Harjamukti tak lepas dari tingginya minat masyarakat menggunakan LRT Jabodebek. Seiring bertambahnya jumlah pengguna dari tahun ke tahun, berbagai operator transportasi mulai membuka layanan penghubung ke stasiun untuk menjawab kebutuhan akses yang terus tumbuh. Kini Stasiun Harjamukti tidak hanya menjadi titik untuk naik LRT Jabodebek, namun juga pusat integrasi perjalanan dari berbagai arah.

Saat ini, Stasiun Harjamukti dilayani oleh 14 angkutan penghubung aktif, mulai dari BISKITA Trans Depok, JakLingko, Royaltrans, hingga shuttle dari kawasan perumahan seperti Kota Wisata, Citra Indah, Bukit Golf, Podomoro, dan Cimanggis. Jumlah ini terus bertambah seiring waktu, mengikuti pertumbuhan pengguna dan tingginya mobilitas harian masyarakat di sekitar stasiun.

Pertumbuhan ini tercermin dari jumlah pengguna di Stasiun Harjamukti yang meningkat secara signifikan. Selama Januari hingga Juni 2025, tercatat 1.513.886 pengguna tap in, naik 52% dari jumlah tahun sebelumnya. Adapun 1.535.547 pengguna melakukan tap out naik 47% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Executive Vice President LRT Jabodebek, Mochamad Purnomosidi, menyampaikan bahwa meningkatnya jumlah pengguna mendorong konektivitas yang lebih luas. “Kami melihat pertumbuhan pengguna Harjamukti tidak hanya sebagai hasil dari kemudahan akses, tapi juga sebagai pemicu hadirnya berbagai layanan feeder. Semakin banyak masyarakat yang menggunakan LRT, semakin besar pula minat penyedia transportasi lain untuk membuka jalur ke stasiun ini,” jelasnya.

KAI akan terus mendukung perluasan akses menuju LRT Jabodebek melalui kolaborasi antarmoda. Dengan integrasi yang terus berkembang, diharapkan semakin banyak masyarakat dapat merasakan manfaat perjalanan yang efisien, nyaman, dan terhubung dari rumah hingga ke tujuan akhir.

Nikmati BISKITA Trans Depok di Stasiun LRT Harjamukti, Gratis Selama Enam Bulan Pertama