Pelabuhan Angin Punya Pantai Terbaik di Dunia untuk Olahraga Selancar Air

Angin bukanlah yang berhembus membuat situasi yang panas menjadi adem. Angin yang satu ini merupakan nama pelabuhan terbesar di Pulau Nias, Sumatera Utara tepatnya di Gunungsitoli

Nama Pelabuhan Angin mungkin terdengar sederhana, namun pelabuhan ini menyimpan sejarah panjang sebagai salah satu titik penting dalam jalur perdagangan laut di masa lalu. Bagi masyarakat pesisir, Pelabuhan Angin bukan sekadar tempat sandar kapal, melainkan juga pusat aktivitas ekonomi yang menghubungkan daratan dengan berbagai wilayah lain.

Hinterland pelabuhan ini menghasilkan komoditas karet, kelapa dan minyak nilam. Selain itu terdapat daerah kunjungan wisata pantai Lagundri, Kabupaten Nias Selatan yang merupakan salah satu pantai terbaik didunia untuk olahraga selancar air.

Letaknya yang strategis di tepi laut dengan ombak relatif tenang membuatnya cocok menjadi pelabuhan tradisional. Memiliki alur panjang open sea kedalaman 11-12 mlws- Luas Kolam Open sea kedalaman 9-11 mlws.

Secara morfologi, Pelabuhan Angin terletak di daerah dataran rendah dengan pantai yang sempit. Sedangkan di sebelah Barat, terdapat puncak bukit dengan ketinggian 184 meter.

Bahkan, keadaan hidro-oseanografi kawasan sekitar adalah landai dan banyak ditumbuhi pohon kelapa. Dasar laut sekitar kawasan Pelabuhan Angin sendiri cukup terjal dan terdiri dari lumpur karang dan lumpur pasir.

Kemudian, posisi berlabuh ditetapkan di Pelabuhan Lama Gunungsitoli yang jaraknya lebih kurang dua kilometer dari Pelabuhan Angin. Pelabuhan ini mampu disandarkan kapal dengan bobot total kapal didermaga adalah 6.000 DWT dengan draft 7 meter, panjang kapal maksimum 90 meter.

Untuk diketahui, pada masa Kolonial Belanda Pelabuhan Gunungsitoli yang terletak di Moawo (1864). Kemudian pelabuhan ini dipindahkan ke dalam pusat kota yang terletak di Kelurahan Pasar (1926) dan pada tahun 1980 pelabuhan Gunungsitoli kembali dipindahkan di Kelurahan Labuhan Angin.

Pada kolonial, pelabuhan ini menjadi persinggahan kapal layar dan perahu dagang yang membawa hasil bumi, ikan, hingga kebutuhan pokok dari luar daerah. Seiring berkembangnya aktivitas perdagangan, Pelabuhan Angin turut menjadi pusat pertemuan masyarakat pesisir.

Hingga akhirnya, pasar rakyat tumbuh di sekitar pelabuhan, menjadikannya simpul ekonomi sekaligus ruang sosial bagi para pedagang dan nelayan.

Pelabuhan ‘Penawar Rindu’, Cermin Perasaan Perantau di Kala Pulang Kampung

 

 

Ini Perbedaan Naik Bus dan Kereta Keliling Pulau Jawa

Pulau Jawa, dengan jaringan transportasi yang semakin maju, menawarkan dua moda utama bagi masyarakat yang ingin menjelajahinya ada bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dan kereta api. Keduanya sama-sama menjadi tulang punggung perjalanan darat, namun pengalaman yang diberikan memiliki perbedaan mencolok.

Naik bus AKAP memberi keleluasaan dalam memilih rute. Karena hampir semua kota dan kabupaten di Pulau Jawa dapat dijangkau, bahkan hingga daerah yang jauh dari jalur kereta. Terminal dan agen bus tersebar luas, sementara sebagian operator menyediakan layanan pool hingga penjemputan penumpang di titik tertentu.

Dari segi fasilitas, pilihan bus bervariasi, mulai dari kelas ekonomi hingga sleeper bus dengan kursi rebahan dan hiburan layar. Namun, waktu tempuh bus kerap bergantung pada kondisi lalu lintas, terutama di jalur padat seperti pantura.

Sementara itu, kereta api menawarkan kepastian jadwal dan perjalanan bebas macet. Apalagi jalur rel yang membentang dari ujung barat hingga timur Jawa menjadikan moda ini unggul dalam hal ketepatan waktu.

Penumpang juga menikmati suasana perjalanan yang lebih tenang, dengan gerbong yang memungkinkan mereka berjalan, beristirahat, atau bersantap di kereta restorasi. Para penumpang pun disuguhkan beragam pemandangan seperti sawah, gunung, hingga garis pantai menjadi bonus selama perjalanan.

Meski begitu, kereta hanya berhenti di stasiun resmi sehingga fleksibilitas naik dan turun penumpang lebih terbatas dibanding bus. Dari sisi harga, tiket bus cenderung fleksibel dengan rentang tarif sesuai kelas dan musim perjalanan.

Tiket kereta api relatif stabil dan dapat dipesan lebih awal melalui sistem daring, meski kursi di kelas favorit cepat habis saat libur panjang. Perbedaan mencolok lainnya ada pada pengalaman perjalanan.

Bus memberi nuansa jalan raya yang penuh dinamika, berhenti di rumah makan khas daerah, dan interaksi langsung dengan awak bus maupun sesama penumpang. Sebaliknya, kereta memberikan kenyamanan ritme perjalanan panjang yang lebih tenang dan teratur.

Dengan karakteristik masing-masing, baik bus maupun kereta tetap menjadi pilihan utama untuk menjelajahi Pulau Jawa. Penumpang tinggal menyesuaikan dengan kebutuhan: fleksibilitas rute ala bus, atau kenyamanan dan kepastian waktu ala kereta api.

Hore! KAI Berikan Tarif Flat Rp80 Ribu Bertepatan HUT 28 September 2025

Tayo Hijau (Trans Banjarbakula) Beroperasi Tiga Tahun Sudah Ramah Disabilitas

Suasana pagi di beberapa titik halte baru di Banjarmasin dan Banjarbaru tampak berbeda. Deretan bus berwarna hijau kuning yakni Trans Banjarbakula kini mulai menjadi pemandangan baru di jalanan utama Kalimantan Selatan.

Kehadiran moda transportasi massal ang disebut sebagai tayo hijau ini menandai langkah baru pemerintah daerah dalam membangun layanan publik yang lebih modern dan terintegrasi. Trans Banjarbakula hadir untuk melayani kawasan metropolitan Banjarbakula yang meliputi Banjarmasin, Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Barito Kuala, dan Tanah Laut.

Dengan trayek yang menghubungkan terminal, pusat kota, kawasan pendidikan, hingga area perkantoran, bus ini dirancang sebagai solusi atas persoalan transportasi perkotaan yang selama ini bergantung pada kendaraan pribadi dan angkutan kota. Layanan ini diresmikan pada tanggal 22 Desember 2021.

Namun, baru pertama kali beroperasi pada tanggal 1 Februari 2022 dan menjadi yang ke sembilan di Indonesia. Armada Trans Banjarbakula dilengkapi fasilitas yang membuat perjalanan terasa lebih nyaman.

Setiap bus memiliki pendingin udara, tempat duduk yang lebih rapi, serta akses untuk penyandang disabilitas. Dengan tarif yang terjangkau yakni Rp4.300 untuk umu dan Rp2.000 bagi penyandang disabilitas.

Layanan ini mulai menarik perhatian pelajar, pekerja, dan masyarakat umum yang ingin bepergian tanpa harus menghadapi kemacetan atau biaya bahan bakar yang terus meningkat. Selain kenyamanan, kehadiran bus yang baru beroperasi tig tahun ini juga membawa semangat baru bagi wajah transportasi umum Kalimantan Selatan.

Jalanan yang sebelumnya didominasi kendaraan pribadi perlahan mulai diwarnai bus kota modern yang beroperasi secara terjadwal.

Halte-halte baru yang dibangun di titik strategis juga menambah kesan bahwa kota-kota di kawasan Banjarbakula sedang bergerak menuju sistem transportasi yang lebih tertata. Meski baru beroperasi, antusiasme masyarakat terlihat dari meningkatnya jumlah penumpang di beberapa rute utama.

Warga mulai terbiasa menunggu bus di halte khusus, alih-alih menghentikan angkutan di sembarang tempat. Perubahan kebiasaan kecil ini menjadi tanda bahwa Trans Banjarbakula perlahan membangun budaya baru dalam mobilitas perkotaan.

Di balik layanan ini, terdapat harapan besar agar transportasi publik dapat menjadi tulang punggung pergerakan masyarakat di Kalimantan Selatan. Dengan penambahan armada dan perluasan trayek, Trans Banjarbakula diproyeksikan mampu menjangkau lebih banyak wilayah, sekaligus mengurangi beban lalu lintas di kawasan metropolitan yang terus tumbuh.

Kehadiran Trans Banjarbakula bukan sekadar menyediakan pilihan transportasi baru, tetapi juga menghadirkan simbol perubahan. Ia menjadi gambaran tentang bagaimana kota-kota di Kalimantan Selatan menata diri untuk masa depan yang lebih berkelanjutan, ramah lingkungan, dan nyaman bagi warganya.

Stasiun Probolinggo Makin Ramai, Walikota Probolinggo Realisasikan Kereta Commuter

Berdiri Sejak Era Kolonial Belanda, Stasiun Parung Panjang Sempat Menjadi yang Terbesar Kalahkan Tanah Abang

Jika kalian melakukan perjalanan menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL) rute Tanah Abang – Rangkasbitung, tentu akan melewati stasiun yang terkenal dengan jumlah penumpang yang transitnya cukup banyak. Ya, berada di Kabupaten Bogor inilah Stasiun Parung Panjang berdiri. Memiliki 4 jalur aktif untuk naik dan penumpang dan 4 jalur simpan untuk rangkaian KRL menjadikan stasiun ini menjadi stasiun paling besar di sepanjang jalur Tanah Abang – Rangkasbitung ini.

Stasiun Parung Panjang merupakan stasiun kereta api besar Tipe B yang berada pada ketinggian 54 meter di atas permukaan laut. Seusai direvitalisasi, fasilitas yang terdapat di Stasiun Parung Panjang pun semakin lengkap. Fasilitas-fasilitas yang terdapat di Stasiun Parungpanjang antara lain eskalator, lift, musala, toilet, area parkir, minimarket, hingga beragam restoran.

Stasiun Parung Panjang direvitalisasi besar-besaran oleh Kementerian Perhubungan pada tahun 2016 bersama dengan Stasiun Maja dan Stasiun Kebayoran. Saat ini, bangunan Stasiun Parung Panjang menjadi 2 tingkat dengan arsitektur yang lebih megah dan modern.

Peron Stasiun Parungpanjang.

Masa Hindia Belanda, Stasiun Parung Panjang jadi stasiun pembantu untuk bengkel pemerintah kolonial karena berada di pertengahan antara Merak dan Jakarta. Dulu stasiun ini termasuk yang terbesar, bahkan lebih besar dari Stasiun Tanah Abang di Jakarta. Tapi kini sudah tidak menjadi titik akhir stasiun terelektrifikasi, sebab sudah diperpanjang sampai Stasiun Maja.

Pembangunan Stasiun Parung Panjang dilakukan pada 1890-an ketika perusahaan kereta api Belanda, Staatsspoorwegen membangun jalur kereta api yang menghubungkan daerah Duri hingga Rangkasbitung, melewati Tanah Abang. Proyek ini rampung pada 1899.

Stasiun yang memiliki bangunan lama seluas 140 m² ini telah tercatat oleh PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) yang memiliki 4 jalur. Jalur 1 dan 4 digunakan untuk parkir KRL. Jalur 2 digunakan untuk jalur yang menuju ke arah barat, yaitu Stasiun Cilejit hingga Merak. Sedangkan, jalur 3 digunakan untuk jalur menuju ke arah timur, yaitu Stasiun Serpong hingga Tanah Abang.

Stasiun Parung Panjang sempat melayani kereta api lokal, seperti KA Lokal Merak, KA Lokal Rangkasbitung serta KA Ekspres Rangkas Jaya. Tapi sekarang, stasiun ini hanya melayani perjalanan KRL yang mengantar penumpang ke berbagai daerah sepanjang jalur Tanah Abang – Rangkasbitung.

Jelajah Stasiun Salemba, Saksi Bisu Sentral Jalur Kereta Api di Jakarta yang Masih Berdiri Kokoh

Petugas ATC Tertidur, Airbus A320 Air Corsica Terpaksa Terbang Berputar-putar di Udara Selama 1 Jam

Nyaris fatal, baru-baru ini, sebuah pesawat Airbus A320 milik Air Corsica terpaksa berputar-putar di udara selama hampir satu jam karena petugas kontrol lalu lintas udara (ATC) di bandara tujuan tertidur.

Insiden yang terjadi pada tengah malam 12 September 2025, melibatkan Airbus A320 Air Corsica Flight XK777, rute Bandara Orly, Paris, menuju Bandara Napoleon Bonaparte di Ajaccio, Pulau Korsika, Perancis.

Paris Bukan Hanya ditopang Bandara Charles de Gaulle, Inilah Bandara Orly yang Lebih Dekat ke Pusat Kota

Saat pesawat memulai proses pendaratan, pilot berulang kali mencoba menghubungi menara kontrol, tetapi tidak mendapat respons. Ditambah lagi, lampu landasan pacu juga tidak menyala. Karena tidak ada izin pendaratan, pilot terpaksa menahan posisi dengan berputar-putar di atas laut Mediterania.

Para pilot kemudian mencoba menghubungi pemadam kebakaran bandara yang berada di darat. Setelah petugas pemadam kebakaran bersama polisi pergi ke menara kontrol, mereka terkejut mendapati satu-satunya petugas ATC yang bertugas sedang tertidur di posnya.

Setelah petugas tersebut dibangunkan, dia segera menyalakan lampu landasan dan memberikan izin pendaratan. Pesawat pun berhasil mendarat dengan selamat, meskipun lebih dari satu jam dari jadwal seharusnya.

Otoritas penerbangan sipil Perancis (DGAC) mengonfirmasi insiden ini dan telah memulai penyelidikan. Petugas ATC tersebut juga telah menjalani tes alkohol dan obat-obatan yang hasilnya negatif. Insiden ini menimbulkan kekhawatiran tentang masalah kelelahan dan manajemen jadwal di bandara-bandara kecil yang hanya memiliki satu petugas ATC yang bertugas.

Ternyata! Pendapatan Petugas ATC Jauh Lebih Tinggi dari Seorang Pilot

Pembersihan Area Ketinggian di Stasiun Kereta Nantinya Bakal Menggunakan Jasa Cleaning Drone

KAI Services melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan PT Inovasi Solusi Transportasi Indonesia (Frogs Indonesia) untuk pengembangan cleaning drone yang dirancang sesuai spesifikasi teknis dan kebutuhan layanan kebersihan KAI Services di masa depan.

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Direktur Corporate Business KAI Services, Bambang Suliastowo, dan Direktur Frogs Indonesia, Asro Nasiri, di Yogyakarta pada Jumat (12/9).

Kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam menghadirkan teknologi drone pembersih yang mampu menjangkau area ketinggian seperti fasad gedung, kaca luar, dan permukaan sulit lainnya. Dengan teknologi ini, proses pembersihan tidak hanya menjadi lebih efektif dan efisien, tetapi juga dapat mengurangi risiko kecelakaan kerja, sehingga menciptakan layanan yang lebih aman, modern, dan berkelanjutan.

Vice President Corporate Secretary KAI Services, Hilmi Ridwan, menjelaskan bahwa Frogs Indonesia dipilih sebagai mitra karena rekam jejaknya dalam mengembangkan drone untuk sektor pertanian yang adaptif dan aplikatif.

“Dengan keahlian Frogs Indonesia, kami optimis teknologi drone dapat dikembangkan sesuai kebutuhan spesifik layanan kebersihan KAI Services. Kolaborasi ini menjadi langkah nyata dalam transformasi digital perusahaan untuk menghadirkan solusi inovatif yang berorientasi pada keselamatan dan kualitas layanan,” ujarnya.

Sementara itu, Manager Corporate Communication KAI Services, Nyoman Suardhita, menambahkan: “Pengembangan cleaning drone ini merupakan terobosan penting dalam industri jasa kebersihan. Inovasi ini tidak hanya mendukung peningkatan produktivitas, tetapi juga memperkuat citra KAI Services sebagai perusahaan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi serta peduli pada aspek keselamatan dan keberlanjutan.”

Frogs Indonesia menyambut baik kolaborasi ini dan menegaskan komitmennya untuk bertransformasi dari sektor pertanian menuju solusi teknologi kebersihan modern.

Ardenna Kembangkan Drone yang Mampu Deteksi Rintangan di Sepanjang Rel Kereta

Stasiun Probolinggo Makin Ramai, Walikota Probolinggo Realisasikan Kereta Commuter

Stasiun besar yang satu ini kembali menjadi sorotan. Berada di wilayah Daerah Operasi (Daop) 9 Jember, Stasiun Probolinggo saat ini menjadi destinasi tujuan selanjutnya pada masyarakat. Ya, stasiun yang sangat dekat dengan pelabuhan ini lebih ramai dengan warganya yang hendak transit dari Pelabuhan Probolinggo menuju Pelabuhan Sumenep, Madura.

Selama ini hanya ada Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) yang berhenti di Stasiun Probolinggo. Sama sekali tak ada layanan Kereta Komuter di stasiun ini yang lebih memudahkan masyarakat dari beberapa kota di Jawa Timur dengan tarif yang relatif murah. Padahal tercatat pada bulan Agustus lalu, Stasiun Probolinggo ini memang sudah sangat ramai dengan penumpang yang naik dan turun di stasiun ini. Rata-rata mereka yang hendak menuju ke Surabaya, Yogyakarta, Bandung, maupun Jakarta.

Dari data PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) Daop 9 Jember mencatat lebih dari 95 ribu penumpang dilayani sepanjang periode 15–18 Agustus 2025. Jumlah tersebut terdiri dari 47.877 penumpang berangkat dan 47.380 penumpang datang. Angka itu naik sekitar 5 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang mencapai 90.720 penumpang.

Penumpang kereta api di Stasiun Probolinggo. (Foto: Dok. Radar7)

Lonjakan jumlah penumpang ini menjadi bukti bahwa kereta api kian dipercaya sebagai moda transportasi publik yang aman, nyaman, dan andal, khususnya pada momen liburan nasional berskala besar.

Bahkan di Kota Probolinggo, ada sekitar 1.200 orang yang naik turun kereta api di Stasiun Probolinggo hingga saat ini. Karena itu, Pemkot Probolinggo mengusulkan perpanjangan rute kereta api komuter menjadi Probolinggo-Surabaya. Rencanya ditargetkan usulan ini bisa terealiasi tahun depan.

Diketahui bahwa Kereta Komuter hanya melayani rute hanya sampai Stasiun Pasuruan dengan tarif Rp6.000 dari Stasiun Surabaya Gubeng. Ini membuat usulan Walikota Probolinggo mengharap perjalanan Komuter tersebut bisa digeser hingga Probolinggo. Ia pun mengaku tengah berusaha untuk sesegera mungkin ada penandatanganan kesepakatan.

Para pengguna jasa KA berlatar belakang berbagai keperluan. Mulai urusan pekerjaan, wisata, dan kepentingan lainnya. Di sisi lain, jika ribuan penumpang berangkat dari Stasiun Probolinggo, Wali Kota menilai akan ada multiple effect yang dapat mengangkat perekonomian warga Probolinggo. Mulai dari transportasi, pariwisata, hingga kuliner.

Walikota pun optimistis bahwa jika terealisasinya layanan Komuter dari Surabaya ke Probolinggo ataupun sebaliknya, masyarakat dimudahkan dalam perjalanan. Setidaknya ada beberapa pilihan waktu keberangkatan dari Stasiun Probolinggo hingga Stasiun Surabaya Gubeng yang melewati beberapa stasiun besar, diantaranya Stasiun Bangil, Stasiun Sidoarjo dan Stasiun Wonokromo. Saat ini perpanjangan rute Kereta Komuter masih dalam proses kajian. Dan mereka akan menargetkan pada tahun 2026 sudah dapat terealisasi.

 

Hore! KAI Berikan Tarif Flat Rp80 Ribu Bertepatan HUT 28 September 2025

Masyarakat pengguna kereta api tentu akan terus dibuat senang dengan harga-harga yang ditawarkan. Ya, PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) pada bulan September 2025 ini akan merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) yang ke-80. Disaat bersamaan nantinya KAI akan berikan tarif flat promosi sebesar Rp80.000 untuk perjalanan masyarakat pengguna kereta api ke berbagai destinasi.

Direktur Bisnis dan Pengembangan Usaha PT KAI, Rafli Yandra, mengatakan penyesuaian harga tiket itu dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 PT Kereta Api Indonesia (KAI) sekaligus perayaan delapan dekade pengabdian KAI di sektor transportasi massal.

 

KAI juga mendorong masyarakat untuk memantau informasi resmi terkait mekanisme dan syarat promo melalui akun media sosial perusahaan. Hal ini dilakukan agar calon penumpang mendapatkan informasi yang jelas dan akurat sebelum melakukan pembelian tiket.

Ia mengatakan harga ini berlaku untuk semua rute kereta api yang dioperasikan PT KAI. KAI ingin memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk bepergian dengan tarif yang lebih terjangkau pada hari tersebut. Meski demikian, Rafli belum memerinci mekanisme dan syarat ketentuan lebih lanjut terkait promo ini. Ia mengimbau masyarakat terus memantau informasi terbaru melalui akun media sosial resmi PT KAI.

Namun masyarakat tetap menikmati harga promosi yang diberikan KAI selama Bulan September ini. Promo tersebut adalah potongan harga 20 persen pada setiap perjalanan kereta api. Jadi masyarakat hanya membayar tiket hanya 80 persen untuk kelas eksekutif dan ekonomi (premium). Potongan tarif tersebut juga berlaku untuk perjalanan kereta api sesuai destinasi yang dituju. Namun, potongan tarif 20 persen ini tak berlaku untuk kereta subsidi dan kereta wisata.

Promo 20 persen ini berlaku untuk keberangkatan dari tanggal 1 hingga 30 September. Informasi mengenai promo dapat diakses melalui aplikasi Access by KAI maupun situs resmi KAI di kai.id. Dengan adanya program diskon ini bertujuan mendorong masyarakat untuk lebih memanfaatkan transportasi umum. Selain itu, upaya ini diharapkan dapat memperkenalkan generasi muda pada layanan kereta api yang aman, nyaman, dan modern.

Program diskon reguler menjadi bagian dari strategi KAI dalam menghadirkan pengalaman perjalanan yang terjangkau sekaligus mendekatkan perusahaan dengan masyarakat luas. KAI pun memastikan perjalanan penumpang lebih terjangkau, aman, dan menyenangkan, sekaligus menegaskan komitmen delapan dekade pengabdian di sektor transportasi massal Indonesia.

Monorel Tertua Ada di Jerman dan Masih Beroperasi

Monorel merupakan salah satu moda transportasi yang sudah jarang ditemukan. Di Indonesia sendiri bisa ditemukan di Taman Mini Indonesia Indah dan di Jepang pun sudah dipensiunkan karena usia yang cukup tua.

Namun, tak semua monorel di atas rel, ada juga yang menggantung seperti di Jepang yang belum lama ini dipensiunkan. Namun, tahukah kalian bahwa ada monorel tertua yang menggantung alias rel di atas?

Monorel ini ada di Jerman dengan menggunakan kereta gantung bernama Schewebebahn Wuppertaler. Monorel Jerman ini pun seringali disebut dengan julukannya kereta mengambang. Ini karena monorel Jerman tersebut memiliki rel di bagian atas seperti menggantung.

Schewebebahn Wuppertaler ini dibangun tahun 1989 silam dan sudah dirancang sejak tahun 1824. Monorel tersebut dirancang oleh insinyur Inggris Henry Palmer dan instalasi dengan stasiunnya dibangun di Barmen, Elberfeld dan Vohwinkel antara tahun 1897.

Monorel tersebut dibangun dalam waktu tiga tahun dan jalur pertama tahun 1901 siap dioperasikan. Uji coba monorel ini dimulai pada 24 Oktober 1900 oleh Kaisar Jerman William II.

Pada masa itu, monorel menjadi transportasi yang sangat diandalkan. Hingga sekarang, lintasan dari monorel ini sepanjang 13,3 km dengan 20 pemberhentian. Tingginya mulai dari delapan hingga 12 meter di atas tanah.

Kecepatan monorel mencapai 60 km per jam dan ini mengangkut 75 ribu penumpang per hari, atau sekitar 25 juta per tahun (2008). Monorel tertua ini memiliki banyak kisah sejarah sejak Perang Dunia I hingga saat ini.

Untuk diketahui, monorel Schewebebahn Wuppertaler pernah berhenti saat Perang Dunia II karena serangan udara dan merusak relnya. Sehingga pada tahun 1946, lintasan rel ini pernah direkonstruksi sehingga monorel ini bisa beroperasi lagi.

Bukan hanya itu, kecelakaan paling fatal terjadi pada tahun 1999 yang menelan korban jiwa. Saat itu, kereta nomor 4 tergelincir karena danya benda yang tertingga di lintasan rel setelah dilakukan perbaikan.

Hal ini kemudian membuat satu gerbong jatuh dan mengakibatkan lima penumpang meninggal dunia serta 47 lainnya luka-luka.

Beroperasi Sejak Tahun 1957, Tokyo Bersiap Pensiunkan Monorel di Kebun Binatang Ueno

Halte Gebang: Saksi Bisu Tempat Singgah Presiden Soekarno Saat Gunakan Kereta Api

Terletak antara petak Stasiun Blitar dengan Stasiun Garum, Halte Gebang memiliki ciri khusus dengan bangunan pada masa Era Hindia Belanda. Halte Gebang hingga saat ini masih berdiri kokoh dan masih terlihat jelas tepatnya di Jalan Ahmad Yani, Kota Blitar, Jawa Timur. Tak ada kekurangan pada halte tersebut, terutama pada peron yang juga masih terlihat berdampingan dengan bangunan pada halte tersebut.

Sempat ada kabar bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar bersama Daop 7 Madiun berencana merenovasi Halte Gebang. Pasalnya, halte kereta api ini dianggap menyimpan nilai sejarah penting Kota Blitar dahulu. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Blitar, Juari mengatakan, rencana renovasi ini akan dilaksanakan dengan melibatkan PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) wilayah Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun.

Halte Gebang yang hingga kini bangunannya masih utuh dan kokoh. (Foto: Dok. Istimewa)

Dahulu bangunan Halte Gebang ini berawal memiliki nama yang dikenal sebagai Perhentian Gelang. Berdiri sejak era Hindia Belanda, halte ini ditopang bangunan kayu sederhana dan kanopi sebagai pelindung ruang tunggu. Halte ini berfungsi untuk melayani penumpang kereta lokal yang menghubungkan Blitar dengan kota-kota sekitarnya.

Lokasi Halte Gebang sangat strategis. Hanya sekitar 400 meter dari Istana Gebang atau rumah masa kecil Bung Karno, Presiden pertama Republik Indonesia. Dekatnya halte ini dengan area pendidikan seperti SMA Negeri 1 Blitar juga menjadikannya pusat mobilitas masyarakat di masa lalu.

Tak hanya itu, halte ini pun dulu digunakan oleh Bung Karno untuk setiap singgah dan akan berangkat dari Blitar menggunakan kereta api. Keberadaan halte tersebut menjadi bukti sejarah perjalanan Bung Karno sehingga kondisinya perlu dijaga dan dilestarikan.

Memasuki dekade 1980-an, Halte Gebang resmi dinonaktifkan. Menurunnya jumlah pengguna jasa kereta api lokal dan perubahan pola transportasi menjadi alasan utama penutupan tersebut. Berjalannya seiring waktu, bangunan asli halte sempat berubah fungsi menjadi rumah tinggal warga, pangkalan ojek, hingga warung kecil.

Stasiun Blitar, Sejarah Panjang dari Fokker Hingga Soekarno

Halte Gebang memang sudah tidak digunakan lagi sebagai naik dan turun penumpang kereta api mengingat jarak dengan Stasiun Blitar yaitu sekitar 1 kilometer. Namun begitu, halte ini akan dibangun kembali dengan konsep yang lebih rapi, indah, dengan tetap mempertahankan nilai sejarah. Dengan begitu, masyarakat maupun pengunjung yang datang dapat menyaksikan bagaimana tempat bersejarah itu dipelihara dengan baik.

Meski demikian, beberapa sisa peninggalan, seperti papan nama dan kursi tua, masih bertahan sebagai saksi sejarah. Warisan ini mengingatkan kita bahwa transportasi rel pernah menjadi urat nadi utama pergerakan manusia dan ekonomi di masa lampau.