Tana Beru Gudangnya Pengrajin Kapal Pinisi Legandaris

Indonesia memiliki warisan maritim yang telah diakui dunia, salah satunya adalah kapal pinisi. Kapal layar tradisional yang ikonik ini tidak hanya dikenal karena kekokohan dan keindahannya, tetapi juga karena sejarah panjang pembuatannya yang bertumpu pada satu daerah yakni Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Di kawasan Tana Beru, Kecamatan Bontobahari, suara palu bertalu-talu masih menjadi irama harian. Di sini, para pengrajin kapal—yang dikenal sebagai panrita lopi mewarisi keterampilan turun-temurun membuat kapal kayu besar tanpa bantuan cetak biru atau teknologi canggih. Mereka hanya mengandalkan keahlian tangan, intuisi, dan perhitungan tradisional.

Pembuatan satu unit kapal pinisi bisa memakan waktu hingga satu tahun, tergantung ukuran dan kompleksitasnya. Kayu ulin dan kayu bitti dipilih secara khusus karena daya tahan terhadap air laut.

Para pengrajin menganggap proses pembuatan kapal sebagai sesuatu yang sakral. Ada berbagai ritual adat yang dilakukan, termasuk pemilihan hari baik untuk memulai pembangunan dan prosesi peluncuran kapal ke laut.

Kapal pinisi dari Bulukumba telah melintasi lautan Nusantara bahkan mancanegara. Tak sedikit kapal buatan tangan dari Tana Beru ini dipesan wisatawan asing dan dijadikan kapal pesiar eksklusif atau kapal selam wisata.

Keunikan dan nilai sejarah dari tradisi ini membuat UNESCO menetapkan pengetahuan dan keterampilan pembuatan pinisi sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia pada tahun 2017. Seiring waktu, Tana Beru dan sekitarnya pun berkembang menjadi destinasi wisata budaya.

Pengunjung dapat menyaksikan langsung proses pembuatan kapal pinisi dari awal hingga peluncuran. Banyak pelancong domestik maupun mancanegara yang tertarik mendokumentasikan tahapan-tahapan pembangunan kapal yang berlangsung di tepi pantai, di bawah terik matahari dan deru ombak.

Tak jauh dari lokasi galangan tradisional, wisatawan juga bisa menikmati keindahan alam Bulukumba. Pantai Bira, yang terkenal dengan pasir putihnya dan air laut jernih, hanya berjarak sekitar 20 menit dari Tana Beru.

Di sini tersedia penginapan dari yang sederhana hingga resort mewah. Aktivitas seperti snorkeling, menyelam, atau sekadar menikmati matahari terbenam menjadi pelengkap pengalaman wisata yang tak terlupakan.

Dengan kombinasi antara kekayaan budaya dan keindahan alam, Bulukumba menawarkan lebih dari sekadar tempat pembuatan kapal. Ia adalah tujuan yang membawa wisatawan menyelami jejak kejayaan maritim Indonesia.

Kapal Pinisi, Kapal Warisan Leluhur Asli Indonesia yang Diakui UNESCO

Tanjung Bira Punya Segudang Destinasi, Dishub Bulukumba Gratiskan Angkutan Umum

Banyak hal yang bisa menarik minat para pelancong baik dalam maupun luar negeri di suatu tempat ataupun suatu negara. Salah satunya dalah hal yang terkait gratis alias tidak membayar.

Biasanya ini menjadi minat pelancong untuk menikmati suatu destinasi. Meski begitu sebenarnya banyak hal lainnya yang menarik bagi pelancong bila sudah memiliki destinasi wisata masing-masing dan gratis menjadi faktor tambahan.

Di Kabupten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Dinas Perhubungan (Dishub) menyiapkan layanan angkutan wisata gratis ke destinasi wisata Tanjung Bira Sulsel. Layanan angkutan gratis ini pun bisa dinikmati para pelancong setiap hari Minggu.

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Dispapora) Kabupaten Bulukumba Ferryawan Z Fahmi mengatakan, hadirnya angkutan gratis ini diinisiasi untuk memudahkan pelancong menikmati keindahan Tanjung Bira tanpa ongkos.

Bus wisata gratis ini disiapkan setiap hari Minggu dengan titik kumpul keberangkatan di Pantai Merpati pada 08.00 Wita. Sedangkan untuk jadwal kepulangan, titik kumpulnya di lapangan Hitam Bira pada 15.00 Wita.

Pemkab Bulukumba berkomitmen untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata dengan membuka layanan jasa wisata bus gratis yang disiapkan oleh Dinas Perhubungan Kabupaten Bulukumba. Di mana Pemkab Bulukumba berharap kolaborasi antara organisasi perangkat daerah terkait dengan masyarakat lokal ini dapat menjadi pendorong peningkatan kunjungan di lokasi destinasi wisata Tanjung Bira.

Selain dukungan transportasi, Tanjung Bira yang dikenal dengan keindahan alamnya juga telah didukung oleh sarana akomodasi berupa restoran, penginapan dan tokoh oleh-oleh. Adanya bus layanan gratis tersebut, diharapkan pelancong dapat memanfaatkan jasa itu sehingga lebih memudahkan akses menikmati surga tersembunyi di Tanjung Bira.

Tanjung Bira sendiri dikenal sebagai primadona atau destinasi wisata unggilan di Provinsi Sulawesi Selatan. Ini karena Tanjung Bira memiliki banyak spot wisata menarik mulai dari pantai berpasir putih, jembatan kaca, titik nol, tempat pembuatan Kapal Pinisi, bahkan wisata religi untuk melihat makan salah satu penyebar agama islam di Sulawesi, yakni Dato Ri Tiro.

Tanjung Bira berlokasi di Desa Bira, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba berjarak sekitar 200 km atau tiga sampai empat jam perjalanan dari Kota Makassar. Di Pantai Tanjung Bira, pengunjung dapat melakukan berbagai aktivitas, seperti diving, dan snorkeling. Selain itu, pengunjung juga bisa berkeliling pulau dengan menggunakan perahu.

Pelabuhan Hodeidah, Titik Penting Perdagangan Laut Merah di Kawasan Afrika dan Asia

Nordwind Airlines Buka Penerbangan Langsung Moskow – Pyongyang

Penerbangan langsung dari Moskow ke Korea Utara selama delapan jam telah dimulai minggu ini, di tengah menguatnya hubungan antara kedua negara dan berkurangnya pilihan bagi pelancong Rusia yang bepergian ke luar negeri.

Penerbangan pertama Moskow-Pyongyang, yang dioperasikan oleh maskapai LCC Rusia, Nordwind Airlines. Pesawat lepas landas pada hari Minggu, menurut situs web bandara Sheremetyevo, dan mendarat di ibu kota Korea Utara sekitar delapan jam kemudian.

Rute ini awalnya hanya akan dilayani sebulan sekali, kata Kementerian Perhubungan Rusia, dengan penerbangan pulang pertama dari Pyongyang ke Moskow akan berlangsung pada hari Selasa.

Korea Utara Melarang Wisatawan Asing Memasuki Resor Pantai Setelah Kunjungan Menlu Rusia

Nordwind Airlines – yang dulu mengangkut warga Rusia ke destinasi liburan di Eropa sebelum Uni Eropa memberlakukan larangan penerbangan Rusia, mematok harga tiket 45.000 rubel ($570).

“Ini adalah peristiwa bersejarah, yang memperkuat hubungan antara kedua negara kita,” ujar Oleg, seorang karyawan Nordwind yang mengelola penerbangan tersebut yang tidak ingin menyebutkan nama lengkapnya, kepada Agence France-Presse di bandara. Ia juga menolak menyebutkan jumlah penumpang di dalam pesawat.

Rusia dan Korea Utara telah menjalin hubungan militer yang lebih erat dalam beberapa tahun terakhir, dengan Pyongyang memasok pasukan dan senjata untuk operasi militer Rusia di Ukraina. Mereka menandatangani pakta pertahanan bersama tahun lalu ketika Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengunjungi Korea Utara.

“Untuk pertama kalinya dalam lebih dari 70 tahun hubungan diplomatik, kami meluncurkan penerbangan langsung antar ibu kota negara kami,” kata Wakil Menteri Perhubungan Rusia, Vladimir Poteshkin, seperti dikutip di akun Telegram kementerian.

Hal ini terjadi di saat Korea Utara sedang menggenjot pariwisatanya sendiri, dengan perlahan-lahan melonggarkan pembatasan terhadap pengunjung luar negeri yang diberlakukan selama pandemi Covid-19. Pariwisata reguler masih dilarang secara efektif, meskipun wisatawan Rusia telah diizinkan untuk mengunjungi beberapa wilayah negara itu dalam tur kelompok, dan pelari asing berkompetisi dalam maraton di Pyongyang pada bulan April.

Pada bulan Juni, pemimpin Korea Utara Kim Jong-un meluncurkan sebuah resor pantai baru yang terletak di pesisir timur negara itu yang kabarnya diharapkan oleh pihak berwenang akan menarik 20.000 pengunjung per tahun.

Anti Mainstream, Bandara Pyongyang Diklaim AS Terhubung dengan Fasilitas Nuklir Terbesar Korea Utara

Long Distance Ferry Balikpapan – Parepare Perkuat Konektivitas dan Majukan Ekonomi Daerah

Pengembangan layanan penyeberangan jarak jauh atau Long Distance Ferry (LDF) oleh PT ASDP Indonesia Ferry terus diperkuat kontribusinya. Meski perjalanan LDF ini tidak langsung dilayani ASDP, tetapi dioperasikan oleh anak usahanya PT Jembatan Nusantara (JN).

Untuk pengembangan ini, salas satu rute strategis yang kini terus dioptimalkan adalah lintasan Balikpapan (Kalimantan Timur) menuju Parepare (Sulawesi Selatan). Di mana jalur ini menjadi tulang punggung mobilitas logistic dan penumpang antarpulau i Kawasan Indonesia tengah dan timur.

Corporate Secretary ASDP, Shelvy Arifin, menyampaikan bahwa kehadiran layanan LDF JN bukan hanya menopang kinerja operasional perusahaan, namun juga memberikan dampak nyata terhadap kelancaran distribusi logistik, penguatan rantai pasok bahan pokok, serta peningkatan aktivitas ekonomi di wilayah yang dilayani.

“Layanan ini bukan semata soal penyeberangan, tetapi soal menyatukan Indonesia. Dengan moda kapal yang mampu mengangkut kendaraan logistik sekaligus penumpang, efisiensi distribusi menjadi lebih tinggi. Ini mempercepat mobilitas barang dan orang, serta mendukung pemerataan ekonomi di wilayah yang terhubung,” ujarnya yang dikutip dari siaran pers.

Sepanjang tahun 2024, JN mencatat kinerja positif di lintasan Balikpapan – Parepare dengan melayani 38.883 penumpang dan 10.124 unit kendaraan. Dari jumlah tersebut, terdapat 1.431 unit kendaraan golongan II, 4.078 kendaraan pribadi, dan 4.615 unit truk logistik.

Tren positif ini berlanjut pada semester I tahun 2025, di mana total 29.235 penumpang dan 7.569 unit kendaraan telah dilayani. Komposisinya meliputi 1.338 kendaraan golongan II, 3.508 kendaraan golongan IV, dan 2.698 truk logistik.

Dari tren ini tercermin bahwa permintaan terhadap layanan LDF terus meningkat, seiring pentingnya konektivitas maritim bagi sektor logistik dan perdagangan nasional.
Lintasan Balikpapan – Parepare memiliki jarak tempuh sekitar 250 mil laut dan memerlukan waktu pelayaran sekitar 22 jam dalam kondisi cuaca baik.

Untuk bulan Juli 2025, jadwal keberangkatan dari Balikpapan dilakukan setiap Kamis dan Minggu pukul 22.00 WITA menggunakan KMP. Swarna Bahtera, serta setiap Selasa dan Sabtu pukul 22.00 WITA menggunakan KM Madani Nusantara.

Long Distance Ferry, KMP Ferrindo 5 Kembali Berlayar dari Jakarta-Surabaya

Adapun jadwal keberangkatan dari Parepare berlangsung setiap Rabu dan Sabtu pukul 07.00 WITA oleh KMP. Swarna Bahtera, serta setiap Senin dan Jumat pukul 07.00 WITA menggunakan KMP. Madani Nusantara.

Jadwal ini bersifat dinamis dan menyesuaikan kondisi cuaca maupun operasional. ASDP sendiri turut memperkuat cakupan layanan LDF nasional melalui dua rute tambahan yang dilayani langsung, yaitu Patimban – Pontianak dan Patimban – Banjarmasin.

Kedua lintasan ini dilayani oleh KMP Ferrindo V yang fokus mengangkut kendaraan logistik dari Pulau Jawa menuju Kalimantan. Kapal ini memiliki kapasitas hingga 145 unit kendaraan campuran, menempuh jarak 420 mil ke Pontianak dengan waktu pelayaran 38 jam, dan 444 mil ke Banjarmasin dengan estimasi waktu pelayaran 40 jam.

“Layanan LDF adalah bentuk nyata transformasi peran ASDP dalam logistik maritim. Bukan sekadar penyeberangan, tapi solusi konektivitas nasional yang efisien dan strategis untuk mendukung distribusi logistik, ketahanan pasok, serta pertumbuhan ekonomi berbasis konektivitas laut,” jelas Shelvy.

Ke depan, ASDP bersama anak usahanya akan terus meningkatkan kualitas layanan, memperluas jangkauan, dan memperkuat sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan agar layanan LDF ini menjadi bagian integral dari sistem logistik nasional dan terus menjadi katalis kemajuan ekonomi di berbagai wilayah Indonesia.

KMP Legundi – Long Distance Ferry, Kapal RoRo Terbesar di Indonesia

Selain Tidak Punya Setir, Ternyata Ada Fakta Lain saat Kereta Api Berpindah Jalur

Tak perlu susah payah jika mau belok atau pun pindah jalur, karena cara mengemudi lokomotif tentu saja tak seperti kendaraan lainnya yang melintas diatas aspal. Nah, kereta api punya cara kerja yang unik dan tentu berbeda. Jika mobil atau sejenisnya jika ingin belok atau pindah jalur cukup putar setir saja, namun jika lokomotif cukup bergerak mengikuti arah rel.

Seperti video yang diunggah oleh akun resmi Instagram KAI dengan username @kai121_ yang menjelaskan tentang bagaimana kereta api bisa berpindah jalur. Selama kereta api berjalan diatas rel yang menentukan arah lokomotif itu bukan setir, tapi pada relnya. Jika rel tersebut posisi berbelok atau lurus saat melewati wesel maka otomatis rangkaian kereta juga akan berpindah jalur.

Jalur kereta api dan wesel. (Foto: Dok. Istimewa)

Wesel berasal dari bahasa Belanda, yaitu wissel. Wesel adalah konstruksi kereta api bercabang yang berguna untuk mengalihkan atau membuat kereta api berpindah dari jalur satu ke jalur lainnya. Dengan wesel ini, rel-rel banyak tersebut bisa digabungkan menjadi satu tujuan atau sebaliknya. Wesel sendiri terdiri dari sepasang rel yang ujungnya diruncingkan sehingga mampu melancarkan perpindahan kereta api dari jalur satu ke jalur lainnya.

Ini definisi nyata kepada lokomotif tidak memiliki setir, sementara yang bertugas mengatur perpindahan jalur kereta api adalah Petugas Pengatur Kereta Api (PPKA) di setiap stasiun. PPKA inilah yang menentukan kereta keluar masuk di jalur berapa dan mengatur persilangan kereta api melalui sistem persinyalan dan wesel elektrik maupun mekanik.

Saat kereta api berjalan, masinis di lokomotif bertugas untuk mengendalikan kecepatan, memantau sinyal, melakukan tunjuk sebut serta menjaga komunikasi dengan pusat pengendali, berkonsentrasi penuh, dan siaga menghadapi kondisi darurat.

Tak hanya itu, ada fakta menarik lain soal bagaimana kereta bisa menikung tanpa setir. Selain mengikuti rel, roda kereta dirancang dengan bentuk tirus, artinya bagian pinggir roda memiliki diameter yang sedikit berbeda dibandingkan bagian tengahnya.

Saat kereta melewati tikungan, perbedaan diameter ini membuat roda yang berada di sisi luar tikungan berputar sedikit lebih jauh dibanding roda sisi dalam, membantu kereta menjaga kestabilannya di tikungan. Desain inilah yang membuat kereta tetap stabil walaupun melewati rel berbelok.

Wesel Kereta Bukanlah Wesel Pos untuk Kirim Uang

Ingin Berwisata ke Dieng Naik Kereta Api? Ini Pilihan Rute dan Jadwalnya

Berwisata ke kawasan Dieng hingga kini masih menjadi daya tarik masyarakat yang hobi berpetualang yang dekat dengan alam. Dieng sering dijuluki sebagai negeri di atas awan karena diselimuti oleh awan. Hal ini terjadi, lantaran lokasinya berada pada ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut.

Dikutip melalui laman Visit Jawa Tengah, secara geografis, Dataran Tinggi Dieng memiliki 6 kabupaten, yaitu Kabupaten Wonosobo, Batang, Kendal, Banjarnegara, Pekalongan, dan Temanggung.

Berbagai macam transportasi yang mengarah ke objek wisata tersebut sudah bisa digunakan misalnya dari Ibu Kota Jakarta. Bahkan berbagai alternatif transportasi seperti kereta api sudah banyak digunakan karena perjalanannya yang cepat, praktis dan efisien. Menggunakan kereta api khususnya ke kota Wonosobo memang bisa dicapai dari berbagak kota, mengingat Stasiun Wonosobo sudah tidak aktif untuk perjalanan kereta api.

Untuk tiba ke kabupaten di Jawa Tengah ini, wisatawan dapat naik kereta ke kota terdekatnya. Ada 4 kota yang bisa menjadi pilihan yaitu Semarang, Jogja, Purwokerto dan Pekalongan. Setelah sampai di kota-kota ini, wisatawan bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan travel, bus atau sewa kendaraan pribadi. Berikut ini beberapa pilihan transportasi kereta api menuju Wonosobo:

1. Jakarta – Semarang
• Argo Sindoro: (Eksekutif) Berangkat pukul 16:45 WIB dari Gambir dan tiba di Semarang Tawang pukul 21:55 WIB.

• Argo Muria: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 07:00 WIB, tiba di Stasiun Semarang Tawang pukul 12:10 WIB.

• Gumarang: (Bisnis) Berangkat pukul 15.00 WIB, tiba di Semarang Tawang pukul 18.52 WIB.

• Sembrani: (Eksekutif) Berangkat pukul 10.20 WIB, tiba di Semarang Tawang 15.25 WIB.

• Tawang Jaya Premium: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 06.45 WIB, tiba di Semarang Tawang pukul 12.53 WIB.

• Dharmawangsa: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 08.50 WIB dan tiba di Semarang Tawang pukul 15.15 WIB.

• Matarmaja: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 15.15 WIB dan tiba di Semarang Tawang pukul 21.52 WIB.

• Menoreh: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 13.35 WIB dan tiba di Semarang Tawang 19.22 WIB.

• Kertajaya: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 14.30 WIB dan tiba di Semarang Poncol pukul 02.36 WIB.

• Tawang Jaya: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 23.55 WIB dan tiba di Semarang Poncol pukul 06.15 WIB.

• Jayabaya: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen 19.06 WIB dan tiba di Semarang Poncol pukul 19.27 WIB.

• Airlangga: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 11.30 WIB dan tiba di Semarang pukul 18.30 WIB.

• Brantas: (Ekonomi/Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 13.30 WIB dan tiba di Semarang Tawang pukul 19.56 WIB.

2. Jakarta – Yogyakarta
• Argo Dwipangga: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 08.50 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 15.39 WIB.

• Taksaka: (Eksekutif) KA Taksaka Pagi berangkat dari Gambir pukul 09.20 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 15.30 WIB, sedangkan KA Taksaka Malam berangkat dari Gambir pukul 21.30 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 03.45 WIB.

• Gajayana: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 18.50 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 01:26 WIB.

• Argo Lawu: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 20.45 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 02.49 WIB.

• Argo Semeru: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 06.20 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 12.54 WIB.

• Taksaka Luxury: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 09.20 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 15.40 WIB. Kereta ini juga memiliki jadwal keberangkatan malam pukul 21.40 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 04.00 WIB.

• Mataram: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasan Senen pukul 21.40 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 04.35 WIB.

• Bengawan: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 08.55 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 16.45 WIB.

• Gaya Baru Malam Selatan: (Ekonomi) Berangkat dari Stasun Pasar Senen pukul 11.00 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 19.15 WIB.

• Jayakarta: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 17.10 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 00.54 WIB.

• Progo: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 22.30 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 07.05 WIB.

• Bogowonto: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 18.10 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 06.09 WIB.

• Singasari: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 20.55 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 05.25 WIB.

• Jaka Tingkir: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 11.50 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 19.08 WIB.

• Fajar Utama YK: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 06.40 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 14.37 WIB.

• Fajar Utama Solo: (Eksekutif-Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 05.45 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 12.32 WIB.

3. Jakarta – Pekalongan
• Menoreh: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 06.45 WIB dan tiba di Pekalongan pukul 11.33 WIB.

• KertajayaEkonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 14.30 WIB dan tiba di Pekalongan pukul 19.40 WIB.

• MajapahitEkonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 17.40 WIB dan tiba di Pekalongan pukul 22.02 WIB.

• Dharmawangsa Ekspres: (Eksekutif/Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 08.10 WIB dan tiba di Pekalongan pukul 13.56 WIB.

• Brantas: (Eksekutif/Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 14.10 WIB dan tiba di Pekalongan pukul 19.07 WIB.

• Tawang Jawa Premium: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 06.45 WIB dan tiba di Pekalongan pukul 11.33 WIB.

4. Jakarta – Purwokerto
• Argo Lawu: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 20.45 WIB dan tiba di Purwekerto pukul 00.54 WIB.

• Argo Dwipangga: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 08.50 WIB dan tiba pukul 12.58 WIB.

• Taksaka Malam: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 21.20 WIB dan tiba di Purwokerto pukul 01.30 WIB.

• Bima: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 17.00 WIB dan tiba di Purwokerto pukul 21.16 WIB.

• Gajayana: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 18.50 WIB dan tiba di Purwokerto pukul 23.11 WIB.

• Fajar Utama Solo (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 05.40 WIB dan tiba di Purwokerto pukul 10.14 WIB.

• Sawunggalih: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 06.30 WIB dan tiba di Purwokertp pukul 11.00 WIB.

• Serayu: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 19.25 dan tiba di Purwokerto pukul 06.00 WIB.

• Bangunkarta: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 12.25 WIB dan tiba di Purwokerto pukul 17.23 WIB.

Kursi Tegak Dihapus, Ternyata Segini Harga Tiket KA Pasundan Saat Berganti New Generation

Kabar bagi penumpang yang biasa menggunakan perjalanan kereta api dari Bandung ke Surabaya maupun sebaliknya, sudah harus mengetahui informasi ini. Ya, ramai di media sosial mengenai persiapan pergantian rangkaian untuk Kereta Api (KA) Pasundan yang semula menggunakan kelas ekonomi biasa menjadi kelas ekonomi New Generation. Rangkaian tersebut akan mulai dioperasikan mulai tanggal 1 Agustus 2025 mendatang.

Seperti kita ketahui bahwa rangkaian KA Pasundan merupakan rute kereta api dengan perjalanan jarak jauh yang masih menggunakan kelas ekonomi biasa namun masih menggunakan interior kursi dengan formasi 2+3. Pada jadwal Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka), keberangkatan KA Pasundan dari Stasiun Kiaracondong pukul 11.10 WIB dan tiba dan tiba di Stasiun Surabaya Gubeng pukul 00.40 WIB. Sedangkan keberangkatan dari Stasiun Surabaya Gubeng pada pukul 05.00 dan tiba di Stasiun Kiaracondong pukul 18.58 WIB.

Saat ini rangkaian KA Pasundan masih menggunakan rangkaian lama yakni ekonomi dengan formasi kursi 2+3. Namun dari segi harga, PT Kereta Api Indonesia (KAI) memberikan tarif diskon yaitu Rp189.000 untuk rute terjauh sampai dengan tanggal 31 Juli 2025. Lebih lanjut rangkaian KA Pasundan akan dihentikan pengoperasiannya dengan mengganti rangkaian yang sudah di perbaharui yaitu kelas ekonomi New Generation hasil modifikasi Balai Yasa Manggarai.

Rangkaian kereta kelas ekonomi New Generation. (Foto: Dok. KAI)

Kursi tegak lurus dan posisi duduk berhadapan kini ditinggalkan. Sebagai gantinya, penumpang akan menikmati captain seat yang searah laju kereta api, dengan leg room yang lega dan desain kursi ergonomis.

Sebagi informasi, Kereta Ekonomi New Generation memiliki kapasitas 72 tempat duduk per kereta, jumlah ini lebih sedikit dibanding sebelumnya yang memuat 80 tempat duduk. Pengurangan kursi ini memberikan keleluasaan ruang kaki serta kenyamanan duduk yang optimal, terutama untuk perjalanan jarak jauh.

Langkah ini merupakan bentuk komitmen KAI dalam memberikan kenyamanan lebih kepada pelanggan seiring dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap KA Pasundan. Sejauh ini, KA Pasundan menjadi pilihan favorit pelanggan dengan rute strategis penghubung wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur, seperti melintasi Tasikmalaya, Banjar, Gombong, Kutoarjo, Lempuyangan, Purwosari, Madiun, dan lainnya.

Masa pengenalan KA Pasundan dengan rangkaian New Genertion untuk tarif promo yang dikenakan dari Kiaracondong – Surabaya Gubeng maupun sebaliknya adalah Rp369.000. Untuk tarif normal KA Pasundan dikenakan Rp410.000. Kini KA Pasundan segera hadir dengan wajah baru. Sarana yang digunakan telah ditingkatkan, tapi KA Pasundan tetap melayani kelas ekonomi, tetapi dengan fasilitas yang lebih baik dan memadai.

Reaktivasi Jalur Kereta Jawa Barat, Pertanda Peningkatan Sektor Pariwisata di Tanah Pasundan?

 

Pelabuhan Hodeidah, Titik Penting Perdagangan Laut Merah di Kawasan Afrika dan Asia

Terletak di pesisir barat Yaman, Pelabuhan Hodeidah (juga dikenal sebagai Al-Hudaydah) bukan hanya sekadar pelabuhan komersial, melainkan titik penting dalam sejarah perdagangan Laut Merah. Sejak berabad-abad lalu, Hodeidah telah menjadi penghubung utama antara Semenanjung Arab dengan kawasan Afrika dan Asia.

Keberadaan pelabuhan ini sudah dikenal sejak era Kesultanan Utsmaniyah pada abad ke-16. Saat itu, wilayah Hodeidah dijadikan pusat logistik dan pertahanan militer oleh Kekaisaran Ottoman untuk mengontrol jalur perdagangan di Laut Merah. Posisi strategisnya di pesisir barat Yaman membuat pelabuhan ini berkembang pesat menjadi pusat niaga rempah, kopi, dan hasil bumi lainnya.

Pada abad ke-19, Pelabuhan Hodeidah semakin dikenal sebagai salah satu pintu ekspor utama kopi Mocha Yaman yang legendaris. Kota ini menjadi tempat transit penting sebelum barang-barang dikirim ke pelabuhan-pelabuhan di Eropa dan Asia.

Waspada Spoofing GPS di Sekitar Teheran, Jalur Favorit Penerbangan Internasional di Timur Tengah

Para saudagar dari India, Mesir, dan Timur Tengah kerap menjadikan Hodeidah sebagai pelabuhan persinggahan. Memasuki abad ke-20, pelabuhan ini mengalami modernisasi secara bertahap. Pemerintah Yaman membangun infrastruktur dermaga, gudang, dan fasilitas bongkar muat yang lebih memadai.

Hingga awal abad ke-21, Pelabuhan Hodeidah menjadi salah satu pelabuhan tersibuk di Yaman, menyumbang sebagian besar impor kebutuhan pokok negara tersebut seperti bahan makanan, obat-obatan, dan bahan bakar. Namun, konflik bersenjata yang melanda Yaman sejak 2015 membuat pelabuhan ini menjadi lokasi krusial sekaligus rentan.

Perang saudara membuat aktivitas pelabuhan terhambat, dan peran vitalnya sebagai pintu masuk bantuan kemanusiaan menjadikan Hodeidah sering menjadi titik perundingan dalam upaya perdamaian internasional. Meski menghadapi tantangan besar, Pelabuhan Hodeidah tetap menjadi simbol ketahanan sejarah maritim Yaman.

Keberadaannya yang telah melintasi berbagai zaman, kekuasaan, dan konflik menjadikannya salah satu pelabuhan paling bersejarah di kawasan Laut Merah. Sebagai informasi baru-baru ini Pelabuhan Hodeidah diserang oleh Israel melalui udara.

Tentara mengklaim target yang disasar adalah kendaraan rekayasa, kontainer bahan bakar, termasuk kapal angkatan laut yang digunakan untuk kegiatan militer.

“(Menyerang) kekuatan yang melawan Negara Israel dan kapal-kapal di zona maritim yang berdekatan dengan pelabuhan, serta infrastruktur teror tambahan yang digunakan oleh rezim teroris Houthi,” kata Menteri Pertahanan Israel Katz.

151 Tahun Sudah Terusan Suez Menghubungkan Laut Mediterania dan Laut Merah

Wisata Berikut Ini Bisa Ditempuh Cukup Naik KRL Lintas Yogya – Solo, Apa Saja?

Berwisata di kawasan Yogyakarta dan sekitarnya memang sudah banyak masyarakat dari berbagai kota di Indonesia berkunjung ke lokasi yang sangat terkenal termasuk memiliki nilai sejarah panjang. Mulai dari keraton, taman wisata, pantai hingga museum, daerah ini lebih dominan dikunjungi para pelancong baik dari dalam dan luar negeri.

Bagi yang memiliki kendaraan pribadi atau bahkan sewaan tentu menjadi hal yang mudah untuk berkunjung kapan saja. Namun, bagaimana jika wisatawan berkunjung ke lokasi wisata di Yogyakarta hanya menggunakan transportasi KRL atau kereta lokal?

Di jalur kereta api lintas Yogya – Solo bahkan dari arah Kutoarjo pun kini sudah semakin mudah dan terjangkau menggunakan kereta lokal bahkan ada Kereta Rel Listrik (KRL) yang tiap hari melayani masyarakat lokal untuk mengantarkan ke berbagai daerah di lintas tersebut. Tak hanya lokasi-lokasi yanh strategis untuk mencapai ke tempat yang sangat ramai dikunjungi, ternyata ada beberapa stasiun di jalur Yogya – Solo ini bisa terjangkau dengan destinasi wisata yang membuat kalian tidak akan bosan untuk berkunjung. Bermodalkan naik KRL, berikut beberapa destinasi wisata yang dekat dengan stasiun di Yogyakarta.

Kawasan wisata di Yogyakarta saat malam hari. (Foto: Dok. Istimewa)

• Taman Wanasutan Asri
Tak jauh dari Stasiun Maguwo, Taman Wanasutan Asri cocok untuk rekreasi keluarga. Area ini menyuguhkan taman rindang, taman bermain anak, dan mini zoo yang dihuni berbagai satwa seperti burung hantu, luwak, dan kura-kura. Tidak ada tiket masuk resmi, cukup mengisi kotak dana sukarela. Suasana yang tenang membuat tempat ini jadi alternatif healing tanpa harus pergi jauh ke luar kota.

• Embung Langensari
Terletak sekitar 1,5 km dari Stasiun Lempuyangan. Embung ini berfungsi sebagai danau buatan sekaligus ruang terbuka hijau. Biasanya warga sering datang ke sini untuk jogging, memancing, atau bersantai sambil menikmati matahari terbenam. Karena buka 24 jam, tempat ini cocok dikunjungi pagi atau sore hari. Letaknya yang strategis membuatnya ideal sebagai destinasi transit sebelum atau sesudah naik KRL.

• Diorama Arsip Yogyakarta
Berjarak hanya 11 menit dari Stasiun Maguwo, Diorama Arsip Jogja menyajikan suasana wisata edukatif yang tenang dan fotogenik. Koleksinya berisi arsip sejarah Yogyakarta dari masa Panembahan Senopati hingga era modern. Bangunan ini juga terkenal karena desainnya yang estetik, cocok untuk foto bertema vintage. Tiket masuk dibanderol Rp 30 ribu, namun pelajar bisa masuk seharga Rp 20 ribu. Suasana tenang dan adem menjadikannya tempat yang ideal untuk wisata singkat sambil mengenal sejarah.

• Museum Sonobudoyo
Berada tak jauh dari Tugu Yogyakarta, bisa dijangkau dari Stasiun Tugu atau Lempuyangan. Museum ini menyimpan koleksi budaya Jawa seperti wayang, keris, tekstil, dan lukisan. Lokasinya strategis di dekat Alun-Alun Utara dan Keraton. Meski kecil, koleksi yang ditampilkan cukup lengkap dan informatif. Pengunjung bisa menyaksikan sejarah panjang budaya Jawa hanya dalam waktu singkat.

• Keraton Yogyakarta
Keraton Yogyakarta hanya sekitar 2 km dari Stasiun Tugu dan bisa dicapai sambil berjalan kaki melewati Malioboro. Sebagai kediaman Sultan dan pusat kebudayaan Jawa, Keraton menyimpan banyak benda bersejarah, mulai dari kereta kencana hingga lukisan lawas. Suasana khas Jawa sangat terasa di kompleks bangunannya. Wisatawan juga bisa menyaksikan pertunjukan seni tradisional jika datang di waktu tertentu.

• Malioboro
Ikon utama wisata di Yogya ini lokasinya hanya 800 meter dari Stasiun Tugu dan sekitar 2 km dari Stasiun Lempuyangan. Kawasan ini selalu ramai oleh wisatawan yang ingin berbelanja, berburu suvenir, mencicipi kuliner khas, atau sekadar menikmati suasana. Jalan kaki di trotoar Malioboro sambil menikmati musik jalanan jadi pengalaman yang tak terlupakan. Delman juga siap mengantar keliling untuk pengalaman klasik.

Itulah destinasi wisata yang bisa ditempuh cukup menggunakan KRL lintas Yogya – Solo. Kira-kira destinasi wisata mana yang kalian ingin kunjungi?

Selain Mudik, Stasiun Yogyakarta Menjadi Tujuan Destinasi Wisata Favorit Saat Lebaran

Pelabuhan Teluk Bayur Dulu dan Kini Tetap Jadi Urat Nadi Sumatera Barat

“Selamat tinggal Teluk Bayur permai…” lirik lagu yang dippopulerkan oleh Ernie Djohan tahun 1980 silam, mengingatkan tentang sebuah pelabuhan yang ada di Padang Sumatera Barat. Ya, itu adalah Pelabuhan Teluk Bayur atau dikenal dengan Bahasa Minangkabau Pelabuhan Taluak Bayua.

Pelabuhan Teluk Bayur dikenal dengan nama Emmahaven di masa kolonial Belanda. Nama Emmahaven sendiri beasal dari penamaan terhadap Ratu Emma.

Ia merpakan seorang ratu uang menjadi penguasa di Belanda pada Perang Dunia I dan II. Pelabuhan ini dibangun antara tahun 1888 sampai 1893 silam dan pada masa itu menjadi andalan Pemerintah kolonial Belanda.

Masa lalu, Pelabuhan Teluk Bayur pernah dihantam gelombang beras hingga membuat kapal yang tengah bersandar terlempar sejauh dua kilometer ke daratan. Sebagai andalan masa kolonial Belanda, Pelabuhan Teluk Bayur pun juga berfungsi sebagai pintu gerbang antar pulau serta pintu gerbang arus keluar masuk barang ekspor impor dari dan ke Sumatera Barat.

Di masa lalu hingga era Perang Dunia II, pelabuhan ini menjadi satu dari lima pelabuhan terbesar dan tersibuk di Indonesia. Namun dengan berkembangnya Singapura sebagai pelabuhan transit dan Selat Malaka menjadi jalur pelayaran yang penting, ini justru membuat aktivitas perdagangan di Pelabuhan Teluk Bayur pun menurun.

Pelabuhan Teluk Bayur yang sempat sepi, kembali ramai pada 1930, saat ratusan anggota Muhammadiyah berlabuh di sana untuk mengikuti kongres mereka di Bukittinggi. Hingga saat ini, Pelabuhan Teluk Bayur merupakan pelabuhan laut teramai dan terbesar yang terletak di Pantai barat Pulau Sumatera.

Pelabuhan ini ramai karena dikunjungi oleh kapal antar Samudera dan antar pulau yang singgah di Teluk Bayur. Tak heran jika Teluk Bayur menjadi urat nadi yang penting bagi Sumatera Barat.

Seperti pelabuhan-pelabuhan lain yang dioperasikan oleh PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), Pelabuhan Teluk Bayur juga memberikan sejumlah pelayanan standar, yakni pelayanan pandu dan tunda, pelayanan peti kemas, pelayanan curah cair, pelayanan curah kering, dan pelayanan multipurpose.

Fasilitas yang ada di Pelabuhan Teluk Bayur antara lain Kolam Pelabuhan 30,89 Ha, Area Darat 544 Ha, Dermaga 1.565 m, Gudang Penumpukan 18.401 m², Fasilitas Batu Bara 10,77 Ha, Fasilitas Semen 11 unit, Fasilitas Pupuk 9.500 ton, Fasilitas Minyak Sawit 15 unit, dan Area Terminal Penumpang.

PT Pelindo II sebagai pengelola, menetapkan Pelabuhan Teluk Bayur menjadi Pelabuhan Kelas Satu, dengan sertifikat ISO 9002.

Sejarah Stasiun Padang, Bangkit dari Kebutuhan Transportasi Batu Bara