Mulai 7 September 2018, Lion Air Tambah Frekuensi Penerbangan Denpasar-Lombok

Belum lama gempa besar melanda Lombok yang berada di Nusa Tenggara Barat dan membuat masyarakatnya sampai saat ini masih terus tinggal di tenda karena trauma. Meski begitu, Lombok masih menjadi incaran para pelancong baik domestik maupun internasional. Bahkan bisa dikatakan Lombok menjadi saudara Pulau Bali karena deteran objek wisatanya.

Baca juga: Mulai 25 Mei 2018, Wings Air Layani Rute Kupang-Lombok Setiap Hari

Lombok sendiri mendapat sebutan Paradise Island karena keindahan pantainya. Banyaknya destinasi yang ada di dua pulau ini, membuat Lion Air Group menambah frekuensi penerbangannya pada 7 September 2018 mendatang. Lion Air akan menggunakan pesawat dengan penerbangan JT828 yang akan berangkat dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar pukul 10.30 WITA dan tiba di Bandara Internasional Lombok Praya pukul 11.00 WITA.

Sedangkan rute sebaliknya Lion Air bernomor JT829 akan lepas landas dari Lombok pukul 11.40 WITA dan diperkirakan tiba di Denpasar pukul 12.10 WITA. Penerbangan ini sendiri hanya memakan waktu tempuh 30 menit karena jarak Bali dan Lombok yang tidak terlalu jauh.

“Penambahan frekuensi terbang Denpasar ke Lombok, akan melengkapi penerbangan yang sudah beroperasi saat ini, yaitu Lion Air dua kali setiap hari dan Wings Air satu kali per hari,” ujar Danang Mandala Prihantoro, Corporate Communications Strategic of Lion Air yang dikutip KabarPenumpang.com dari sairan pers, Selasa (4/9/2018).

Adanya peningkatan jumlah penerbangan di dua pulau dengan destinasi populernya merupakan salah satu bentuk keseriusan Lion Air untuk mengakomodir tingginya trend traveling saat ini. Memperkuat jaringan di Lombok juga sebagai langkah Lion Air sejalan upaya mendukung program pemerintah guna pemerataan ekonomi dan menyokong Kementerian Pariwisata RI untuk pencapaian 17 juta wisatawan menuju Indonesia.

Dimana salah satunya termasuk pengembangan destinasi 10 Bali Baru yakni destinasi pariwisata yang menjadi prioritas sejak 2016, salah satunya Mandalika Lombok (NTB). Pada penambahan frekuensi Denpasar-Lombok PP ini, Lion Air akan menggunakan pesawat terbarunya yakni Boeing 737 MAX 8, Boeing 7373-900ER atau 737-800NG.

Lion Air memproyeksikan pertumbuhan trafik khususnya wisatawan di Bali dan Lombok akan terus berkembang, seiring berbagai inisiasi maupun kolaborasi pemerintah, maskapai, perhotelan, pengelola bandar udara, pelaku industri wisata, dengan dukungan dari banyak pihak. Menurut Badan Pusat Statistik Bali, kedatangan wisman ke Bali pada Juli 2018 mencapai 624.366 kunjungan, dengan melalui bandar udara 624.337 kunjungan.

Baca juga: Banyuwangi Hadirkan Kapal Cepat ke Denpasar, Hanya 2 Jam Perjalanan!

Jumlah wisman Juli 2018 naik sebesar 14,66 persen dibandingkan catatan Juni 2018. Sebagai informasi, data perkembangan lalu lintas penumpang PT Angkasa Pura I cabang Denpasar tercapat pada 2017 yaitu 21.047.746 orang atau tumbuh 5,23 persen dari tahun sebelumnya 20.001.275 orang. Untuk jumlah penumpang di Lombok Praya meningkat 4,92 persen dengan total 3.589.812 penumpang di 2017 bila dibandingkan pada 2016 yang mencapai 3.421.584 orang.

Diketahui masih banyak destinasi Lombok yang belum terkeksplore oleh pelancong dan pelancong berkesempatan untuk menjelajahnya. Selain itu perayaan legendaris Festival Bau Nyale, tradisi turun temurun untuk memperingati legenda dari penguasa kerajaan masa lampau yang berjaya menjadi salah satu incaran pelancong seperti halnya Dieng Festival Cultur.

Mulai 5 September 2018, PT MRT Jakarta Kembali Lanjutkan Pekerjaan di Koridor Jalan Sudirman

Dengan berakhirnya perhelatan Asian Games 2018, maka kini saatnya PT MRT Jakarta untuk kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda di koridor Jalan Sudirman. Adapun pekerjaan yang sudah menanti ini berupa pembangunan Entrance (pintu masuk), Cooling Tower, dan Ventilation Tower stasiun bawah tanah dan trotoar. Hal ini diungkapkan Corporate Secretary PT MRT Jakarta, Tubagus Hikmatullah dalam sebuah pernyataan tertulis kepada KabarPenumpang.com.

Baca Juga: MRT Jakarta Fokus Testing and Commissioning, Ini Bedanya dengan Trial Run!

Di sepanjang Jalan Sudirman sendiri, PT MRT Jakarta memiliki empat stasiun yang akan mendukung pengoperasian Fase 1 – Stasiun Senayan, Stasiun Istora, Stasiun Bendungan Hilir (Benhil), dan Stasiun Setiabudhi. “Di depan Ratu Plaza (sisi barat) masih ada area pekerjaan konstruksi. Kami akan sediakan jalur sementara khusus untuk pejalan kaki di antara Ratu Plaza dan area konstruksi,” tutur Tubagus menerangkan skenario penyelesaian Stasiun Senayan.

Sementara di sisi timur sendiri, Tubagus menambahkan, para pejalan kaki dapat menggunakan trotoar yang sebelumnya sudah dibangun. “Untuk lajur jalan kendaraan tidak berkurang. Empat jalur untuk kendaraan bermotor dan satu lajur busway TransJakarta,” tandasnya.

Untuk Stasiun Istora, para pejalan kaki yang melintas di depan kompleks Stadion Gelora Bung Karno dapat menggunakan trotoar yang telah dibangun. Berbeda dengan area konstruksi di depan Gedung Bursa Efek, dimana PT MRT Jakarta akan membangun jalur sementara khusus untuk pejalan kaki. “Sama seperti Stasiun Senayan, lajur jalan untuk kendaraan tidak berkurang,” jelasnya.

Pun dengan penyelesaian Stasiun Benhil, dimana tidak ada skema lalu lintas khusus yang akan diterapkan di sekitaran stasiun ini. “Di depan Wisma Sudirman, Intiland, dan Gedung World Trade Center pejalan kaki bisa menggunakan trotoar yang telah dibangun. Sedangkan untuk di depan Gedung Sampoerna Strategic, kami sediakan jalur sementara khusus pejalan kaki,” ujar Tubagus.

Terakhir, para pejalanan kaki yang melintas di depan Mid Plaza dan Wisma Nurgaha Santana (Stasiun Setiabudhi) akan disediakan jalur khusus – sedangkan untuk mereka yang jalan di depan Gedung Chaze Plaza, Prudential Tower, dan Indofood Tower sudah bisa menggunakan trotoar. “Lajur jalannya pun tidak ada yang dikurangi di sekitaran Stasiun Setiabudhi,” tambahnya.

Baca Juga: Lanjutkan Uji Coba Persinyalan, Ini Kali Pertama Kereta MRT Jakarta Masuki Terowongan

Guna meminimalisir dampak dari pekerjaan empat stasiun ini, PT MRT Jakarta akan melakukan koordinasi intensif dengan sejumlah instansi terkait – bahkan tidak menutup kemungkinan juga akan ada rekayasa lalu lintas di koridor Jalan Sudirman. Dengan mengantongi ijin dari Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta, pekerjaan ini akan dimulai pada tanggal 5 September 2018 hingga Maret 2019.

‘Ceramah’ di Dalam Penerbangan Frontier Airlines, Pria Ini Disinyalir Terkena Gangguan Mental

Kendati Anda sudah membayar mahal untuk membeli tiket pesawat, bukan berarti Anda bisa berbuat seenaknya saja. Tetaplah menjaga sikap dan saling menghargai satu sama lain merupakan prinsip yang harus Anda pegang kapanpun, dimanapun Anda berkendara menggunakan sarana transportasi berbasis massal. Jangan sampai nasib Anda berakhir seperti seorang pria yang menjadi penumpang dari Frontier Airlines.

Baca Juga: Ditendang Penumpang Cilik, Wanita Ini Keluhkan Regulasi Delta Airlines

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman foxnews.com (2/9/2018), pria ini terpaksa dibekuk petugas keamanan karena telah meresahkan penerbangan Frontier Airlines pada Kamis (30/8/2018) dari Las Vegas menuju San Antonio, Texas. Kerusuhan yang ditimbulkan oleh pria yang namanya enggan dibongkar ini sempat diabadikan dalam bentuk video oleh penumpang lain bernama Clifton McBee dan diunggah ke internet.

Dalam rekaman berdurasi lebih dari dua menit tersebut, tampak si penumpang pria ‘berceramah’ dengan sangat kencang. “Biar semua orang di dalam kabin bisa mendengar saya,” tutur sang pria. Sumpah serapah pun tak pelak dilontarkan oleh pria berkulit gelap tersebut. “Anda tidak bisa tidur karena pria ini?” ujar pria yang disinyalir memiliki masalah mental ini. “Dan Anda juga berharap petugas keamanan melakukan tugasnya, bukan?” tandasnya.

Dalam rekaman tersebut, terdengar suara gemuruh yang cukup keras yang menandakan kejadian ini terjadi ketika pesawat tengah mengudara. Hasil dari ‘ceramahnya’ tersebut membuat si penumpang pria ini turun dari pesawat dengan mengenakan borgol dan dikawal oleh beberapa petugas keamanan.

https://www.youtube.com/watch?v=xcUo6r_YnGg

Tidak berhenti sampai di situ, pria ini malah semakin mengamuk setibanya di terminal. Emosinya semakin tidak bisa terbendung ketika ia menanyakan anaknya yang berusia lima tahun – memaksa petugas keamanan menjatuhkannya ke lantai guna membekukannya sampai lebih banyak petugas yang datang untuk mengamankannya.

Priaini juga terus berteriak tentang luka bekas operasinya yang terasa sakit ketika salah satu petugas memegang area tertentu. “Ada sebuah peluru yang bersarang di tubuh saya dan itu sangat sakit!” teriak sang pria kepada petugas keamanan.

Baca  Juga: Phobia Pada Bayi, Penumpang Delta Airlines Mengamuk di Kabin

Menurut petugas Departemen Kepolisian San Antonio yang menangani kasus ini, mengatakan bahwa si pria diamankan sebelum akhirnya dilarikan ke fasilitas kesehatan mental untuk investigasi lebih lanjut.

“Keselamatan adalah prioritas utama di Frontier Airlines dan kami tidak mentoleransi apa pun yang mengancam keamanan pelanggan atau kru kami. Seorang penumpang menmbuat kekacauan selama penerbangan 1144 dari Las Vegas ke San Antonio pada 30 Agustus 2018. Polisi mengamankan penumpang yang bersangkutan saat mendarat di San Antonio. FBI tengah menyelidiki kasus ini karena sebagian insiden terjadi dalam penerbangan. Untuk menghormati penyelidikan, kami tunduk kepada FBI untuk rincian lebih lanjut,” tutur pihak Frontier Airlines dalam sebuah pernyataan resmi.

64 Tahun Beroperasi, Beech Hurst Park Miniature Railway Torehkan Sejarah Baru!

Kecintaan seseorang terhadap moda transportasi yang mengular di atas rel ini mencatatkan berbagai rekor baru. Sebut saja Jepang yang memiliki fan base tersendiri yang menyebut dirinya sebagai railway geeks, dan yang paling baru adalah sebuah pencapaian yang diraih oleh Beech Hurst Park Miniature Railway di Bolnore Road, Haywards Heath, Inggris. Taman bermain ini berhasil mencatatkan sejarah setelah mengumumkan jumlah pecinta kereta yang berkunjung ke sana – 1,5 juta pengunjung.

Baca Juga: Punya Panjang Rel 12 Km, Inilah Miniatur Jaringan Kereta Api Terbesar di Dunia!

Ya, kereta api telah menorehkan kenangan tersendiri di benak setiap orang sehingga mereka bertumbuh menjadi seorang pecinta si ular besi. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber yang berbasis di Inggris, theargus.co.uk (2/9/2018), Beech Hurst Park Miniature Railway ini sendiri mulai dibuka untuk umum pada tahun 1954. Tingginya minat pengunjung kala itu membuat operator Beech Hurst Park Miniature Railway berencana untuk memperpanjang tracknya.

Lalu jalur yang terbentang di Beech Hurst Park Miniature Railway hari ini merupakan hasil pemanjangan terakhir yang dilakukan pada tahun 1974. Berbeda dengan miniatur kereta lainnya, di Beech Hurst Park Miniature Railway Anda bisa menaiki sendiri keretanya, namun dalam skala yang jauh lebih kecil ketimbang aslinya. Nah, untuk Beech Hurst Park Miniature Railway sendiri menggunakan rel dengan lebar 127 mm dan ‘mempekerjakan’ miniatur lokomotif uap bertenaga campuran – uap dan elektrik.

Pada Sabtu (1/9/2018) kemarin, taman hiburan tematik ini kedatangan sebuah keluarga dari North Chailey yang menandakan penorehan sejarah baru bagi Beech Hurst Park Miniature Railway – karena keluarga ini menjadi pengunjung ke 1,5 juta di tahun ke-64 pengoperasiannya. “Ini (pencapaian pengunjung terbanyak) telah menjadi sejarah dan menandakan bahwa betapa populernya dunia perkeretaapian – terutama miniatur di ruang lingkup terkecil negara ini,” tutur anggota Sussex Miniature Locomotive Society, Chris Saunders. “Jumlah tersebut hampir setara dengan jumlah populasi di Sussex,” tandasnya bangga.

Pencapaian ini terasa semakin berharga manakala mengingat jadwal operasi dari taman ini yang hanya buka pada Sabtu dan Minggu. Itu pun tidak beroperasi penuh, hanya dari pukul 14.00 hingga 17.00 waktu setempat.

Baca Juga: Kakek ini Pajang 1.500 Koleksi Miniatur Pesawatnya di Bandara Shannon, Irlandia

Jika dilihat dari sudut pandang lain, maka pencapaian ini menandakan adanya peningkatan kecintaan masyarakat akan moda yang kerap dijuluki si ular besi ini. Bukan tidak mungkin juga semisal kecintaan tersebut akan berimbas langsung pada meningkatnya pendapatan operator kereta api karena semakin banyak orang yang menggunakan layanan tersebut.

 

MH370 (Kembali) Tampak di Google Maps, Akankah Menjawab Teka-Teki Terbesar di Sektor Aviasi Global?

Kasus menghilangnya Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH370 hingga kini memang masih menjadi salah satu misteri terbesar di dunia aviasi global. Beragam upaya masih terus dilakukan oleh sejumlah pihak guna membongkar teka-teki dari hilangnya pesawat yang membawa serta 239 penumpang dan awak kabin ini. Hingga pemberitaan terbaru menyebutkan bahwa salah satu investigator telah berhasil menemukan bangkai dari MH370 yang hilang kontak sejak 8 Maret 2014 ini.

Baca Juga: Empat Tahun Pasca Hilangnya MH370, Malaysian Airlines Rilis Laporan Investigasi

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailystar.co.uk (4/9/2018), seorang ahli teknologi bernama Ian Wilson berhasil menemukan bangkai yang diperkirakan milik MH370 melalui aplikasi Goggle Maps. Temuan tersebut pun sontak membuat geger dunia aviasi karena jika dilihat dari ukurannya, maka objek tersebut memiliki tingkat kesamaan yang cukup tinggi dengan MH370 yang hilang.

Dugaan bangkai MH370 ini ditemukan di sebuah hutan di daerah Kamboja – tidak terlalu jauh dari menara ATC yang juga turut menanyakan posisi dari Boeing 777-200 milik Malaysia Airlines ini. Walaupun panjang dari temuan ini tidaklah sama persis seperti MH370 – panjang temuan 70 meter, panjang MH370 63,7 meter, namun gambar yang tersaji di Google Maps menunjukkan sebuah celah yang cukup besar. Disinyalir, celah inilah yang akhirnya menambahkan panjang dari pesawat nahas ini.

https://www.youtube.com/watch?v=x8Smky5haOo

Berdasarkan hipotesa, celah yang memisahkan bagian fuselage dan ekor ini terbentuk akibat adanya benturan yang sangat keras ketika melakukan pendaratan. Menurut pendiri perusahaan teknologi militer Unicorn Aerospace, Andre Milne, dirinya meminta raksasa mesin pencarian Google untuk lebih memaksimalkan teknologi satelit mutakhirnya untuk meninjau kembali koordinat kemungkinan bangkai MH370 yang ditemukan oleh Ian.

“Peninjauan kembali koordinat yang ditemukan oleh Ian oleh pihak Google akan sangat membantu agar kasus terbesar di jagad aviasi ini dapat menemukan titik terang,” ujar Andre.

Baca Juga: Penyidik Asal Australia Temukan Puing yang Dianggap Sebagai Serpihan Malaysia Airlines MH370!

Penampakan bangkai MH370 di aplikasi Google Maps seperti ini bukanlah yang kali pertama terjadi. Mundur ke 28 November 2016 silam, dimana Ahli statistik asal Amerika Serikat, Mike Chillit mengunggah sebuah gambar yang ia nilai sebagai puing-puing dari MH370 ke media sosial Twitter pribadinya. Adapun gambar yang didapat oleh Mike ini berada di perairan antara Pulau Saint Brandon, sekitar 430 kilometer dari Mauritius.

Jadi, akankah MH370 masih menyandang gelar sebagai misteri terbesar di dunia aviasi global?

 

Dukung Program 20 Juta Wisman, AirAsia Indonesia Lirik Pasar Cina, Jepang dan Korea Selatan

Maskapai penerbangan berbiaya rendah atau low cost carrier (LCC), AirAsia Indonesia yang telah sukses menembus pasar penerbangan Asia Tenggara kini mulai melirik penerbangan wilayah Asia bagian Utara. Diketahui ada tiga negara utama yang tengah dilirik yakni Cina, Jepang dan Korea Selatan.

Baca juga: JOOX dan AirAsia Rilis “Fly Away,” Musik Tanpa Internet di Pesawat

Hal tersebut dikatakan oleh Dendy Kurniawan, Direktur Utama AirAsia Indonesia saat berada di Kuala Lumpur, Malaysia. Menurutnya, ini sebagai salah satu upaya dalam mendukung program pemerintah mendatangkan 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia.

“Kita lagi mengarah pasar Asia bagian Utara itu Cina, Korea Selatan dan Jepang. Akannya kapan belum bisa disampaikan, tapi khusus terkait program kita ini mendukung pemerintah mendatangkan 20 juta wisatawan mancanegara di 2019,” ujar Dendy yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber.

Untuk negara-negara ini sendiri rute penerbangannya pun bisa secara langsung maupun tidak langsung, sebab tergantung dengan jenis pesawat yang digunakan untuk melakukan penerbangan pada rute itu sendiri. Tak hanya itu, jika penerbangan pada tiga negara tersebut tidak dilakukan secara langsung, ada beberapa negara yang akan menjadi negara transit yakni Malaysia ataupun Thailand.

“Untuk beberapa destinasi misalnya Tokyo, kalau pesawatnya narrow body ya harus conecting, mungkin lewat Bangkok, Thailand sebagai salah satu hub utama kita,” jelas Dendy.

Armada AirAsia Indonesia sendiri diperkuat oleh Airbus A320 yang mampu terbang hingga empat jam, dan Airbus A330 yang memiliki kemampuan terbang 10 hingga 12 jam. Dendy menjelaskan, saat ini berbagai pelayanan penerbangan menuju negara-negara Asia di bagian timur umumnya dilakukan dengan transit terlebih dahulu di Kuala Lumpur.

Baca juga: Bayi Ditemukan Tewas dalam Toilet Pesawat AirAsia, Perempuan 19 Tahun Jadi Tersangka

Saat ini AirAsia Indonesia juga tengah mengembangkan layanan wisata medis yang bekerja sama dengan Malaysia Healtcare Travel Council atau MHTC. Kerja sama ini dilakukan untuk memberikan layanan perjalanan medis kepada wisatawan Indonesia.

Kolaborasi ini sendiri juga untuk mempromosikan Penang sebagai destinasi wisata medis terbaik di Malaysia. Dimana AirAsia merupakan maskapai pilihan yang menyediakan penerbangan langsung ke Penang.

Punya ATR 72-600 Baru, Wings Air Punya Kini Punya 61 Armada

Lion Air Group baru saja menerima satu pesat ATR 72-600 yang diterbangkan dari pusat perakitan pesawat ATR (Aerei da Trasporto Regionale atau Avions de Transport Régional) Aircraft, Toulouse Blagnac, Prancis. Kehadiran ATR 72-600 ini menambah armada Wings menjadi 61. Pesawat ATR 72-600 ini bernomor registrasi PK-WJG yang mendarat di Bandara Internasional Hang Nadim, Batam pada 3 Septermber 2018 kemarin.

Baca juga: Dengan ATR 72-600, Garuda Indonesia Resmi Layani Medan-Nias 12 Kali dalam Seminggu

Sebelum mendarat di Indonesia tepatnya di Batam, ATR 72-600 berangkat dari bandara Toulouse Blagnac dan menyinggahi beberapa bandara lainnya yakni Bandara Internasional Paphos, di Republik Siprus, Bandara Internasional Abu Dhabi di UEA dan Bandara Internasional Bandaranaike, Colombo, Sri Lanka. Danang Mandala Prihantoro, Corporate Communications Strategic of Wings Air, mengatakan, pesawat berkapasitas 72 penumpang ini dibekali interior yang dirancang lebih futuristik. Sehingga menawarkan layanan terbaik bagi pelancong maupun pebisnis agar bisa bersantai saat di kabin.

“Pesawat ini mampu terbang rendah, jadi bagi penumpang bisa menikmati perjalanan dengan melihat pemandangan,” ujar Danang yang dikutip KabarPenumpang.com melalui keterangan tertulis, Senin (3/9/2018).

ATR 72-600 milik Wings Air sendiri mampu beroperasi dengan waktu tempuh 60 menit atau melayani rute jarak dekat dengan tarif tiket terjangkau sehingga memberikan alternatif baru untuk melakukan perjalanan antar destinasi yang lebih cepat bagi pelancong. Wings Air optimis, pengoperasian pesawat jenis ATR diharapkan akan lebih menarik minat wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan nusantara (wisnus) untuk plesiran ke berbagai tujuan wisata serta pusat pertumbuhan bisnis baru.

Dengan demikian Wings Air semakin mudah menghantarkan momen traveling era kekinian. Wings Air dengan ATR 72 berdampak positif sebagai feeder (penghubung) penumpang dan distribusi barang. Para wisatawan ditawarkan kemudahan layanan jaringan penerbangan yang saling terhubung (connecting flight) dengan Lion Air, Batik Air, Malindo Air dan Thai Lion Air member of Lion Air Group.

Dengan armada ini, Wings Air akan menyesuaikan permintaan pasar dan pelanggan dengan didasarkan jarak rute penerbangan, tingkat isian penumpang, memperkuat layanan rute yang sudah ada, rencana pengembangan atau pembukaan rute baru, frekuensi terbang per hari serta operasional bandara, khususnya setingkat kabupaten. ATR 72-600 didesain mampu lepas landas dan mendarat di panjang runway kurang dari 1600 meter.

Baca juga: Lion Air Terima Boeing 737 Max 8 Pesanan Kesepuluh

Upaya Wings Air tersebut dalam mendukung program pemerintah untuk mendatangkan turis dan membantu percepatan ekonomi daerah sejalan dengan pembukaan bandara baru di daerah, sebagai salah satu gerbang wisata. ATR 72-600 dikenal sebagai pesawat baling-baling (propeller) modern dan canggih di kelasnya, antara lain menggunakan teknologi avionik terbaru serta fitur “synthetics runway visions” yaitu sistem yang mampu memberikan bantuan visualisasi runway saat mendarat.

Selain itu memberikan keuntungan karena ramah lingkungan (emisi rendah), bahan bakar lebih hemat dengan efisiensi biaya perawatan. Hingga kini, Wings Air telah terbang ke 110 destinasi dalam dan luar negeri. Untuk jaringan regional, sudah melayani ke Kuching, Malaka di Malaysia. Wings Air memiliki frekuensi yang mencapai lebih dari 350 penerbangan perhari dengan didukung 61 pesawat ATR 72-500/ 600.

Tutup Rute Penerbangan Langsung Jakarta-London, Ada Apa dengan Garuda Indonesia?

Sempat dielu-elukan pada awal pengoperasiannya, kini rute penerbangan Jakarta–London yang dijabani oleh Flag Carrier Garuda Indonesia terancam ditutup pada akhir Oktober mendatang. Hal tersebut dilontarkan langsung pihak Garuda melalui akun Twitternya, bahwa layanan ini dengan berat hati akan ditutup tertanggal 28 Oktober 2018.

Baca Juga: Setelah Penebalan Landasan, Boeing 777-300ER Garuda Indonesia Kini Bisa Terbang Langsung Jakarta-London

Kendati isi cuitan yang diunggah pada tanggal 29 Agustus 2018 kemarin itu menyiratkan kabar tidak sedap, namun maskapai plat merah itu akan kembali mengoperasikan rute Heathrow-Amsterdam-Jakarta sebanyak enam kali penerbangan per pekan.

“Kami ingin memberi tahu Anda bahwa mulai dari 30 Oktober 2018, musim dingin 2018-2019 ini, Garuda Indonesia tidak lagi melayani rute Jakarta–London,” tulis Garuda Indonesia di laman Twitter resminya.

Dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, ada banyak spekulasi berkembang yang mengarah pada penutupan rute ini, mulai dari evaluasi Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mengatakan rute ini tidak efektif dan lebih baik ditutup, hingga pernyataan dari pihak internal Garuda yang mengatakan ingin mengoptimalkan rute penerbangan Jakarta–Amsterdam.

Sebelumnya, Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei dan Konsultan Gatot Trihargo mengatakan Menteri BUMN Rini Sumarno telah meminta Garuda Indonesia untuk mempertimbangkan kembali pengoperasian rute penerbangan internasional langsung Jakarta-London. Pasalnya, sejak dibuka pada 31 Oktober 2017 silam, rute tersebut dinilai kurang menguntungkan bagi Garuda.

“Bu Menteri minta untuk ditinjau yang ke London. Itu bukanya April tahun lalu, sudah lebih dari setahun. Daripada merugi di luar, lebih baik di dalam,” ujar Gatot, dikutip dari laman Liputan6.com (1/9/2018).

Sementara itu, Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N Mansury mengatakan bahwa penutupan rute ini ditengarai karena tingkat keterisiannya yang tidak sesuai dengan harapan. “Untuk itu, kami akan bekerja sama dengan mitra maskapai kami untuk membantu penumpang yang terkena dampak perubahan ini untuk memastikan dapat mengatur ulang jadwal perjalanan mereka dan mengakomodasi kembali melalui rute Amsterdam-Jakarta kami atau penerbangan alternatif lainnya,” kata Pahala dalam keterangannya, Sabtu (1/9/2018).

Dikutip dari laman sumber lain, sebagai bentuk tanggung jawab Garuda Indonesia pasca rencana penutupan rute ini, pihaknya akan membantu masyarakat yang ingin terbang ke Inggris dengan menghubungkan rute penerbangan seluruh maskapai Sky Team Alliance di Amsterdam Schiphol Airport, Belanda.

Baca Juga: Jadi Penumpang Business Class di Boeing 777 Garuda Indonesia, Inilah yang Anda Nikmati

“Bersama dengan mitra agen perjalanan kami, Garuda Indonesia akan bekerja sama dengan penumpang yang terkena dampak untuk perjalanan mereka dan mengakomodasi kembali mereka melalui rute Jakarta – Amsterdam kami atau penerbangan alternatif lainnya,” terang pihak Garuda melalui sebuah pernyataan resmi.

Jika sudah seperti ini, bagaimana nasib armada Boeing 777-300ER yang sebelumnya ditujukan untuk beroperasi di rute penerbangan internasional langsung Jakarta – London? Akankah pesawat berkapasitas 314 penumpang ini ditujukan untuk melayani rute penerbangan internasional lainnya? Ataukah akan dijual kembali?

Seperempat Penduduk Inggris Mabuk di Bandara dan Penerbangan

Penumpang mabuk dalam sebuah penerbangan bukanlah hal yang menyenangkan. Pasalnya penumpang tersebut bisa melakukan apapun, baik itu tindakan kasar atau melontarkan kata-kata yang membuat banyak penumpang panik.

Baca juga: Tangkal Masuknya Penumpang Mabuk, Inggris Perketat Peredaran Alkohol di Bandara

Bahkan di Inggris ditemukan dua pertiga penumpangnya mabuk dan dalam kondisi tidak baik saat berada di bandara maupun penerbangan. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thetimes.co.uk (16/8/2018), bahwa jumlah penerbangan yang terganggu oleh penumpang mabuk telah meningkat tahun ini.

“Awal liburan harus menjadi waktu yang bahagia dan santai bagi keluarga. Alih-alih orang dapat dimasukkan ke dalam situasi yang menakutkan dan kadang-kadang benar-benar berbahaya oleh sebagian kecil orang yang minum terlalu banyak dan menjadi mengganggu di pesawat,” ujar Kepala kebijakan Institute of Alcohol Studies, Jennifer Ken.

Dia mengatakan, pemerintah perlu berbuat lebih banyak untuk melindungi penumpang biasa dari para pemabuk yang agresif. Sebab hasil dari studi, ditemukan seperempat penduduk Inggris minum alkohol di bandara.

Tetapi hanya dua persen yang mengatakan mereka minum lebih dari empat macam. Bahkan otoritas penerbangan sipil menyerukan lebih banyak tuntutan terhadap penumpang yang mabuk.

Angka menunjukkan bahwa lebih dari 2000 insiden penumpang yang mengganggu di pesawat antara Januari hingga Juli. Pada tahun 2017 lalu ada 417 insiden dan maskapai penerbangan mengatakan, bahwa jumlah sebenarnya jauh lebih tinggi, sebab hanya kasus terburuk yang dilaporkan ke CAA.

“Perilaku mabuk dan kasar di pesawat terbang benar-benar tidak dapat diterima. Tidak hanya mengganggu orang lain, tetapi juga dapat membahayakan keselamatan penerbangan. Tuntutan pidana harus dibawa lebih sering untuk bertindak sebagai pencegah,” ujar seorang direktur otoritas, Richard Stephenson.

Sebenarnya penumpang yang ditemukan mabuk dalam pesawat terbang bisa didenda hingga £5 ribu atau Rp95 juta dan dipenjara selama dua tahun karena melanggar navigasi udara. Dalam kasus pesawat terpaksa harus dialihkan dan mendarat darurat, penumpang bisa dikenakan denda £80 ribu atau Rp1,5 miliar.

Bahkan ada tindakan keras yang diluncurkan bulan lalu, dimana penumpang telah diingatkan, bahwa mereka bisa dikenakan denda atau larangan terbang seumur hidup dari maskapai penerbangan jika menyebabkan gangguan. Sebagai bagian dari kampanye yang didukung pemerintah, staf bandara dan maskapai penerbangan serta petugas kepolisian telah mengidentifikasi penumpang yang telah mengonsumsi alkohol dan memperingatkan mereka akan konsekuensi dari perilaku buruk.

Baca juga: Diamankan Karena Berteriak ‘Bom,’ Pria Ini Ternyata Mabuk

Pada bulan Januari, terungkap bahwa para menteri mengusulkan untuk menutup celah yang memungkinkan pub dan bar beroperasi di luar undang-undang perizinan.

“Tidak ada alasan yang jelas mengapa toko-toko dan bar di bandara harus dibebaskan dari aturan lisensi normal ketika orang mabuk di udara adalah risiko keamanan yang jauh lebih besar bagi orang lain daripada orang mabuk di jalan raya,” kata Keen.

Ryanair, maskapai penerbangan terbesar di Eropa, telah menyerukan larangan penjualan alkohol di bandara sebelum pukul 10.00 waktu setempat dan batas dua minuman sebelum terbang.

Jamin Keselamatan Pejalan Kaki, Jaguar Land Rover Uji Sensor Indikator di Moda Otonom

Simpang siurnya pemberitaan tentang moda otonom dewasa ini membuat sebagian kalangan masyarakat menantikan kehadirannya meramaikan jalanan. Namun sejumlah regulasi baru harus segera dibentuk yang dikhususkan untuk mengatur pengoperasian dari kendaraan jenis ini di masa yang akan datang – salah satu yang paling santer diperdebatkan adalah tentang kemampuan si moda untuk membaca situasi di sekitar, terutama yang berkaitan dengan hambatan selama beroperasi.

Baca Juga: Kendati Futuristik, Namun Masih Banyak yang Meragukan Pod Otonom

Dalam menjawab permasalahan tersebut, Jaguar Land Rover punya solusinya! Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (30/8/2018), dilandaskan pada studi yang dilakukan oleh American Automobile Association yang menemukan bahwa 63 persen orang dewasa merasa khawatir jika keberadaannya tidak terdeteksi oleh sistem sensor yang ada di mobil otonom, Jaguar Land Rover merasa ini merupakan satu masalah serius yang akan menghambat laju perkembangan dari mobil otonom.

Perusahaan yang berbasis di Coventry, Inggris ini lalu menambahkan sebuah sensor yang dapat mengisyaratkan kepada para pejalan kaki bahwa dirinya sudah ‘terlihat’ oleh kendaraan tersebut. Sensor ini berbentuk seperti mata, namun perusahaan mengatakan mungkin penambahan sensor ini akan mebuat takut pejalan kaki ketika sensor tersebut sudah mengijinkan pejalan kaki untuk melintas – mungkin indikatornya akan berupa sebuah lampu penyeberangan atau bentuk lain yang hingga kini masih dipertimbangkan oleh perusahaan.

“Diharapkan, ini dapat mengurangi kekhawatiran para pejalan kaki yang takut tertabrak oleh kendaraan otonom,” ujar pihak Jaguar Land Rover. “Hadirnya indikator semacam ini juga dapat menawarkan jaminan psikologis pada setiap pejalan kaki, dimana mereka (para pejalan kaki) akan merasakan seperti melintas di depan kendaraan yang dikendarai oleh manusia, padahal itu otonom,” tandasnya.

Tidak bisa dipungkiri, sudah menjadi satu kebiasaan bagi setiap pejalan kaki untuk melihat ke arah kendaraan yang melaju ketika hendak menyeberang jalan. Ketika mereka sudah mendapat tanda berupa pengurangan laju kendaraan atau si pengemudi yang melambaikan tangan sebagai tanda dirinya sudah boleh menyeberang, hal inilah yang coba disasar oleh Jaguar Land Rover dalam mengembangkan teknologi sensor indikator ini.

Baca Juga: Hadirkan Bus Otonom, DeNA Terbentur Regulasi Tentang Bangku Pengemudi

“Kami sangat paham bahwa tanda-tanda seperti ini merupakan hal vital yang akan berpengaruh dalam perkembangan moda otonom di masa yang akan datang. Melalui uji coba sensor indikator ini, kami ingin mengetahui apakah penambahan teknologi ini dapat memberikan manfaat kepada para pejalan kaki atau tidak. Tapi kami yakin, dengan ditambahkannya teknologi sensor ini pada kendaraan otonom kelak, itu akan mengurangi kekhawatiran para pejalan kaki dan dapat melintasi jalan secara normal.” ujar Future Mobility Research Manager dari Jaguar Land Rover, Pete Bennett.