Pembukaan kembali operasional bandara usai terdampak sebaran abu vulkanik menjadi angin segar bagi pemulihan penerbangan nasional. Namun, di balik kesiapan bandara untuk kembali melayani penerbangan, terdapat proses teknis sangat krusial yang wajib dilalui armada pesawat sebelum diizinkan membawa penumpang ke udara.
Hal inilah yang kini tengah dilakukan maskapai nasional Garuda Indonesia seiring dengan pemulihan operasional penerbangan secara bertahap di Bandara Internasional Soekarno-Hatta serta sejumlah bandara terdampak lainnya di kawasan Jakarta, Bandung, dan Lampung, setelah sebelumnya sempat melakukan pembatalan penerbangan demi menjaga keselamatan penumpang.
Partikel abu vulkanik bukanlah debu biasa, melainkan material tajam dan korosif yang dapat menempel pada permukaan airframe hingga berisiko masuk ke dalam kompartemen sistem sensitif. Pada pesawat yang terparkir di darat, endapan abu berpotensi menumpuk di area atas badan pesawat, sayap, hingga ekor horizontal.
Selain itu, saluran masuk udara (intake) dan perangkat roda pendaratan (landing gear) menjadi titik rawan yang wajib diperiksa. Sementara bagi pesawat yang sempat terpapar abu vulkanik saat mengudara, ketelitian ekstra diterapkan pada komponen kaca kokpit, bilah mesin (engine fan blades), serta bagian depan sayap guna mengantisipasi efek pengikisan atau penyumbatan komponen vital.
Direktur Teknik Garuda Indonesia, Mukhtaris, menegaskan bahwa prosedur pemeriksaan awal pada bagian luar, mesin, sensor kelaikan terbang, dan saluran udara menjadi acuan utama teknisi dalam menentukan tindakan perawatan (maintenance). Pembersihan material abu dilakukan menggunakan metode dan cairan khusus sesuai standar pabrikan untuk mencegah partikel mikro masuk lebih dalam ke sistem avionik atau dapur pacu. Jika hasil inspeksi menunjukkan perlunya penanganan tambahan, tim teknisi akan melanjutkan perawatan terukur hingga verifikasi kelaikudaraan (airworthiness) terpenuhi sepenuhnya sebelum sertifikat rilis diterbitkan.
Tak hanya tindakan responsif setelah terpapar, langkah antisipasi protektif juga dilakukan saat armada masih berada di apron bandara terdampak. Berkoordinasi intensif dengan pengelola bandara dan otoritas penerbangan, tim darat Garuda Indonesia langsung memasang penutup khusus (protective covers) pada saluran masuk mesin, pitot tube, sensor statis, serta lubang-lubang ventilasi utama.
Seluruh tahapan ketat dari perlindungan, inspeksi, pembersihan, hingga verifikasi kelaikudaraan ini menjadi komitmen mutlak Garuda Indonesia dalam memastikan bahwa setiap armada penerbangan yang kembali mengudara berada dalam kondisi 100 persen aman dan siap melayani penumpang dengan nyaman.
