Saudi Arabian Airlines dan Garuda Indonesia Perluas Perjanjian Codeshare

Sejak tahun 2007, Saudi Arabian Airlines atau yang dikenal Saudia memulai codeshare pertamanya dengan Garuda Indonesia. Kemudian maskapai nasional Arab Saudi ini memperluas perjanjian codeshare bilateral yang ada tersebut.

Baca juga: Singapore Airlines Jalin Kerjasama Codeshare dengan Lufthansa Group

Dimana kode SV sendiri akan ditambahkan ke penerbangan Garuda Indonesia antara negara Indonesia, Arab Saudi dan lainnya. Keduanya yang merupakan mitra di SkyTeam Airline Alliance ini juga sepakat untuk memperluas penerbangan antara keduanya melalui penjualan langsung di kedua operator penerbangan tersebut.

KabarPenumpang.com yang melansir dari laman aviationtribune.com (3/9/2018), ini sebenarnya juga untuk memudahkan pelanggan dari kedua maskapai untuk menikmati beberapa hak istimewa seperti reservasi dan pembelian tiket. Selain itu juga untuk transfer pesawat atau transit lebih fleksibel dengan hanya menggunakan satu tiket.

Saudia sendiri akan meningkatkan kehadirannya di Indonesia dengan harga yang bersaing dan memungkinkan perjalanan dari Arab Saudi ke Indonesia serta ke kota-kota baru seperti Surabaya, Makassar dan Medan melalui satu tiket dari Garuda Indonesia. Perjanjian ini juga mencakup tujuan lainnya yakni Sydney dan Melbourne di Australia serta Bangkok di Thailand.

Sedangkan penumpang Garuda Indonesia juga bisa menyambangi tujuan yang ditawarkan Saudia secara domestik, seperti ke Riyadh, Dammam, Al-Qasim dan Tabuk, serta penerbangan internasionalnya ke Casablanca, Kairo, Istanbul, Madrid, Bahrain dan kota-kota lainnya. Dengan rute tambahan sendiri, akan membuka opsi penerbangan tambahan dan mengurangi waktu perjalanan dengan terbang bersama dari dua maskapai tersebut.

Baca juga: Sesama Anggota SkyTeam, Vietnam Airlines dan Garuda Indonesia Sepakati Codeshare dan MRO

Disamping itu, pelanggan kedua maskpai yang menggunakan kartu anggota dapat menambah dan menukarkan miles atau poin yang mereka punya untuk penerbangan-penerbangan yang akan datang. Tak hanya dengan Saudia, Garuda Indonesia juga melakukan codeshare dengan Vietnam Airlines untuk rute Hanoi-Ho Chi Minh City ke Singapura dan Singapura ke Jakarta serta Bali ke Jakarta.

Perluasan kedua maskapai ini juga untuk memperkuat kerja sama dalam kontribusi pengembanan SkyTeam. Pada umumnya, maskapai yang melakukan codeshare akan memiliki nomor penerbangan empat digit yang diawali dengan tiga atau angka lebih tinggi untuk menunjukkan pengoperasian oleh mitranya.

Bandara Langkawi Mulai Beroperasi Kembali Setelah Renovasi Besar-Besaran

Bandara Internasional Langkawi di Malaysia kembali dikabarkan memulai operasionalnya setelah renovasi perluasan yang dilakukan hampir satu tahun. Renovasi besar-besaran tersebut dilakukan agar bandara di Pulau Langkawi ini mampu menampung lebih banyak penumpang dari yang sebelumnya.

Baca juga: Pasar LCC Meningkat, Bandara Internasional Narita Siap ‘Upgrade’ Kapasitas Terminal 3

KabarPenumpang.com melansir dari laman airport-technology.com (4/9/2018), sebelumnya Bandara Langkawi hanya mampu menampung 1,5 juta pelancong pertahun. Namun setelah diperluas, mampu menampung hingga empat juta penumpang pertahunnya.

Terletak di Pulau Langkawi tepatnya di Kedah, bandara ini memiliki ritel yang bebas bea, kafe dan restoran serta lounge untuk penumpang premium. Dengan kembali dibukanya, CEO Malaysia Airports acting group, Raja Azmi Raja Nazudding mengaku sangat senang karena proyek perluasan bandara tersebut sesuai dengan yang dijadwalkan.

“Dengan ekspansi ini, Bandara Langkawi akan memiliki posisi yang lebih baik untuk mendukung pertumbuhan Langkawi sebagai tujuan wisata yang populer, serta bertindak sebagai katalisator yang lebih besar untuk pembangunan ekonominya,” ujar Raja.

Dulunya sebelum di ekspansi, luas gedung terminal hanya 15 ribu meter persegi dan kini sudah menjadi 23 ribu meter persegi. Tak hanya itu, fasilitas di terminal Bandara Langkawi sendiri telah ditingkatkan guna mengurangi kemacetan dan meningkatkan efisiensi operasional.

Selain terminal, kawasan parkir pun diperluas dan mampu menampung hingga 600 mobil dibanding sebelumnya hanya 400. Konter check in di bandara ini pun bertambah dari 24 menjadi 30 serta konter imigrasi yang sebelumnya 14 menjadi 18.

Sistem In-Line Hold Baggage Handling (ILHBS) baru juga telah dipasang di bandara. Sistem otomatis tersebut memiliki tiga tingkat fasilitas pemeriksaan keamanan. Jumlah gate pun telah bertambah menjadi delapan dari lima sambil menambah dan memperbaiki fasilitas toilet yang ada.

Baca juga: Bandara Baru Istanbul Diharapkan Menjadi Aerotropolis

“Kami yakin bahwa perluasan ini akan lebih memfasilitasi pertumbuhan Langkawi. Kami sudah melihat lebih banyak minat dari maskapai asing untuk beroperasi dari sini. Saat ini, ada enam maskapai penerbangan yang beroperasi dari Langkawi ke empat tujuan domestik dan lima tujuan internasional dengan frekuensi mingguan gabungan sebesar 238,” jelas Raja.

Diketahui, Bandara Langkawi sendiri dibangun pada tahun 1991 dan selesai Desember 1993. Bandara Internasional Langkawi sempat menjadi lapangan terbang tentara Jepang tahun 1945 silam dan kemudian digunakan oleh tentara Inggris.

Bandara Sentani dan Bandara Mutiara Sis Al-Jufri Akan Beralih Pengelolaan

Dua bandara di Indonesia Bagian Timur, yakni Bandara Sentani Jayapura dan Bandara Mutiara Sis Al-Jufri Palu, kedepan akan dialihkan pengelolaannya. Dari yang selama ini ditangani oleh Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, kedepan akan dialihkan ke PT Angkasa Pura I (Persero).

Baca juga: Angkasa Pura I Bangun Base Ops dan Safe House di Lanud I Gusti Ngurah Rai

Terkait dengan rencana pengalihan pengelolaan tersebut, kajian tengah dilakukan bersama kedua institusi. Persisnya pada 6 September 2018, Direktur Utama PT Angkasa Pura I Faik Fahmi dan Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Pramintohadi Sukarno, melakukan penandatanganan Kesepakatan bersama.

Adanya kesepahaman ini merupakan landasan awal atas rencana kerja sama dan bertujuan untuk menyusun kajian rencana pengalihan pengelolaan Bandara Sentani Jayapura dan Bandara Sis Al-Jufri Palu yang saling menguntungkan, efisien, berkelanjutan, dan sesuai dengan aturan yang berlaku.

“Angkasa Pura I siap menerima penugasan untuk mengelola Bandara Sentani Jayapura dan Bandara Sis Al-Jufri Palu dan mengembangkannya secara komersial bersamaan dengan peningkatan pelayanan kepada para pengguna jasa bandara. Hal ini juga diharapkan dapat menstimulus pengembangan daerah yang pada akhirnya dapat meningkatkan perekonomian daerah,” kata Direktur Utama PT Angkasa Pura I Faik Fahmi.

Adapun ruang lingkup kesepakatan bersama ini adalah rencana kerja sama pengalihan pengelolaan Bandara Sentani Jayapura dan Bandara Sis Al-Jufri yang meliputi pemanfaatan barang milik negara dengan pola Kerja Sama Pemanfaatan (KSP).

Baca juga: Potensial Ganggu Keselamatan dan Keamanan Penerbangan, Angkasa Pura I Imbau Warga Tidak Lepaskan Benda Terbang

Pada kesepakatan bersama ini, PT Angkasa Pura I akan mengeksplorasi peluang kerja sama Bandar Udara Sentani Jayapura dan Bandara Sis Al-Jufri yang berkelanjutan dengan menyusun proposal kerjasama pemanfaatan barang milik negara pada Bandar Udara Sentani Jayapura, termasuk di dalamnya rencana investasi sesuai rencana induk bandar udara dan rencana investasi sesuai proposal kerjasama pemanfaatan barang milik negara pada Bandar Udara Sentani Jayapura yang diajukan.

“Hasil kajian ini nantinya akan dievaluasi oleh Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan dan dijadikan dasar pertimbangan untuk pembuatan perjanjian kerja sama. Kami harap rencana pengalihan pengelolaan secara komersial kedua bandara di timur Indonesia ini akan membawa kontribusi positif terhadap pemerataan pengembangan perekonomian daerah,” ujar Faik Fahmi.

Gelontorkan Rp2 Triliun, PT KAI Pesan 438 Kereta dari PT INKA

Semakin banyaknya masyarakat yang antusias menggunakan jasa kereta api sebagai moda transportasi membuat PT Kereta Api Indonesia (KAI) harus menambah dan memperbaharui armadanya hingga 2019 mendatang. Jumlah penambahannya pun mencapai 438 kereta yang akan diproduksi dan dipesan langsung dari PT INKA.

Baca juga: Sejarah Singkat Kereta di Pulau Jawa, Butuh 36 Tahun Untuk Hadirkan Jaringan Sepanjang 3.000 Km!

Anggaran yang dikeluarkan untuk menambah armada ini pun tak tanggung-tanggung yakni sebesar Rp2 triliun. Nantinya dari 438 kereta ini akan menjadi 38 trainset atau rangkaian kereta api dan pengadaannya secara bertahap hingga 2019 mendatang.

“Sekarang sedang jalan. Mudah-mudahan tahun ini keluar lagi dari INKA. Kita sudah pesan sekitar 438 unit,” ujar Executive Vice President PT KAI Daop 1 Jakarta, Dadan Rudiansyah yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber.

Adapun saat ini pihak PT KAI yakni Daop 1 Jakarta sendiri sudah menerima enam kereta dan sebelum Natal bisa bertambah.

“Mudah-mudahan sebelum Natal akan datang lagi, saya enggak ngerti, belum tahu pastinya kontrak kantor pusat dengan INKA,” ujar Dadan.

Dadan sendiri menambahkan, pengadaan kereta baru ini dikarenakan banyaknya armada milik PT KAI yang sudah dimakan usia. Bahkan ada kereta yang usianya sudah 20-30 tahun, sehingga pengadaan kereta baru sangat diperlukan.

Pengadaan kereta baru, sebenarnya masuk dalam program jangka panjang PT KAI. Untuk diketahui, 438 kereta tersebut terbagi atas 210 kereta eksekutif, 150 kereta premium, 39 kereta makan dan 39 kereta pembangkit.

Baca juga: Lolos Sejumlah Uji Coba, PT KAI Mulai Gunakan Bahan Bakar Biodiesel B20

Sebenarnya tak hanya Daop 1 saja yang sudah menerima enam kereta, Direktur Keselamatan dan Keamanan merangkap Direktur Komersial PT KAI Apriyono Wedi Chresnanto mengatakan, sepuluh rangkaian sudah beroperasi sebelum Lebaran 2018 kemarin. Dimana empat diantaranya digunakan pada Argo Parahyangan relasi Bandung-Jakarta PP.

“14 rangkaian akan datang akhir tahun ini. Sedangkan sisanya 14 rangkaian lain akan datang sebelum Lebaran 2019 mendatang. Produk ini bukan kereta lama yang diperbaiki melainkan kereta baru yang dibuat dari nol. Kereta-kereta baru ini juga akan terbesar di Pulau Jawa dan Sumatera. Untuk Sumatera sudah dikirim ke Medan dan Tanjung Karang,” ujar Apriyono.

Siemens Mobility Siap Pamerkan Lokomotif yang Bisa Beroperasi dengan Dua Metode

Sebuah perusahaan transportasi yang berbasis di Berlin, Jerman, Siemens Mobility diketahui akan membuat sebuah gebrakan yang dipercaya akan mengguncang dunia transportasi, terutama kereta api pada perhelatan InnoTrans 2018 yang akan diselenggarakan pada 18-21 September mendatang. Pasalnya, perusahaan ini akan merilis Lokomotif Vectron Dual Mode.

Baca Juga: Bagaimana Cara Kerja Lokomotif Diesel Elektrik? Cek Jawabannya di Sini!

Sesuai dengan namanya, lokomotif ini bisa mengular dengan dua metode – diesel dan listrik. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, pengoperasian moda dengan menggunakan tenaga listrik membawa sejumlah manfaat, diantaranya adalah penghematan biaya bahan bakar, biaya perawatan yang bisa ditekan, dan juga ramah bagi lingkungan.

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (30/8/2018), selain dapat beroperasi di jalur yang dialiri listrik, Lokomotif Vectron Dual Mode ini dapat dialihkan ke mode diesel untuk beroperasi di jalur yang tidak dialiri listrik. Tentu saja terobosan seperti ini akan diminati oleh berbagai negara yang menjadikan kereta api sebagai salah satu tulang punggung di sektor transportasinya.

“The Vectron Dual Mode menggabungkan yang terbaik dari dua sisi: ia memiliki mesin diesel yang kuat dan bandel serta dilengkapi juga untuk operasi dalam versi listrik,” tutur CEO Siemens Mobility, Sabrina Soussan. “Di mana pun ada jaringan listrik di atas (Overhead Power Line), lokomotif berjalan dengan tenang tanpa emisi, menghemat bahan bakar dan biaya perawatan,” tandasnya.

Secara tersirat, sebenarnya lokomotif ini khusus dikembangkan untuk memindahkan muatan (freights) di Jerman – kampung halamannya. Namun Siemens melihat ada peluang bisnis di sini dan kini mereka tengah mempersiapkan segala sesuatunya supaya pada akhir bulan September ini, pemesanan secara massal sudah bisa dilakukan.

Baca Juga: Kereta Listrik Diesel Keluaran Siemens, Solusi Pertumbuhan Populasi di Amerika

Lokomotif dengan berat metrik 90 ton ini mampu mengular di jalur yang dialiri listrik 15kV. Dilengkapi dengan sistem keamanan kereta Punktförmige Zugbeeinflussung (PZB), kereta ini memakan tenaga 2.000kW. Terlepas dari mode listriknya, lokomotif ini sendiri mampu menampung bahan bakar diesel hingga 2.500 liter dan dapat ‘berlari’ hingga kecepatan maksimal 160km/jam.

“Dengan Vectron Dual Mode, kami telah mengembangkan alternatif yang berkelanjutan, ramah lingkungan dan sangat hemat biaya di kelas lokomotif diesel konvensional.” tutup Sabrina.

 

Didera Masalah Politik, Jalur Kereta Cepat Perancis-Italia Terancam Batal

Kereta cepat Italia yang akan terhubung dengan Perancis melalui bawah Pegunungan Alpen terancam batal karena Partai Populis yang memerintah Italia dengan gigih menentang proyek tersebut jelang pemilihan pada Maret lalu. Padahal proyek ini merupakan gerakan 5Star Italia yang membantu mengkonsolidasikan dukungan di Lembah Susa Treno Alta Velocita (TAV) antara Lyon dan Turin terancam terbengkalai.

Baca juga: Terkendala Utang, Mahathir Tinjau Berbagai Proyek Kereta di Malaysia

“Saya hanya bisa merasa marah dan jijik pada bagaimana uang warga Italia telah terbuang,” ujar Menteri Transportasi Italia Danilo Toninelli yang juga anggota 5Star di halaman Facebooknya yang dikutip KabarPenumpang.com dari politico.eu (17/8/2018).

Sayangnya kini 5Star bertentangan dengan Liga yang mendukung proyek tersebut. Bahkan Menteri Dalam Negeri dan Wakil Perdana Menteri Matteo Salvini pemimpin liga tersebut mengatakan, hal ini perlu terus maju dengan TAV meski pihak telah mengindikasi dalam beberapa hari terakhir proyek dapat diturunkan.

“Hal yang paling masuk akal adalah untuk berhemat Sebab ini adalah perbatasan paling berbahaya di Eropa,” ujar Giancarlo Giorgetti.

Masalahnya menjadi lebih sulit untuk 5Star setelah jatuhnya jembatan Genoa yang menewaskan 43 orang. Bagian awal banding adalah gerakan penentangan terhadap proyek-proyek infrastruktur termasuk jalan raya baru di Genoa dimana sebelumnya peringatan jembatan tersebut rapuh sudah diberitahukan.

Presiden Parlemen Eropa Antonio Tajani, pemimpin de facto dari Forza Italia, Silvio Berlusconi yang sekarang menjadi oposisi mengatakan bahwa membuang jalur itu akan menjadi pilihan yang buruk. Karena hal ini 5Star membatasi pergerakan sebelumnya, karena Toninelli telah menugaskan analisis biaya untuk mendapat manfaat sebelum dia membuat keputusan.

Wakil Perdana Menteri Luigi Di Maio berjanji untuk memikirkan kembali proyek dan merundingkan kembali persyaratan dengan Paris. Perancis, yang di masa lalu menyatakan keberatan tentang proyek mahal yang diperkirakan €26,1 miliar atau Rp449 triliun sekarang menunggu keputusan Roma, sementara Brussels meminta Italia untuk tetap dengan rencana tersebut.

“Proyek ini sedang berlangsung dan penting bahwa semua pihak mempertahankan upaya mereka untuk menyelesaikannya tepat waktu,” kata juru bicara Komisi Eropa.

Tetapi jika Roma mengikuti saran Brussels, 5Stars berisiko kehilangan harga diri dengan pemilih mereka, yang dapat meningkatkan posisi dominan Liga dalam pemerintahan koalisi.

Kedalaman perasaan anti-TAV terbukti di lembah Susa yang subur, di mana grafiti yang menentang jalur rel mencakup tiang listrik dan rambu-rambu jalan. Situs konstruksi terowongan dikelilingi oleh kawat berduri dan di bawah perlindungan militer serta polisi.

Sejauh ini skema tersebut telah menelan biaya €1,46 miliar untuk rencana dan 24 kilometer terowongan persiapan yang setengahnya dibiayai oleh UE, dengan sisanya dibagi antara Prancis dan Italia.

“Mereka membangun infrastruktur raksasa dengan biaya operasi yang besar, terutama jika Anda tidak memiliki barang untuk diisi,” ujar Alberto Poggio.

Jalur kereta api sepanjang 270 km seharusnya selesai pada tahun 2030. Ini termasuk terowongan senilai €8,6 miliar, dimana 57 km yang membentang di bawah Pegunungan Alpen, dan merupakan bagian dari koridor transportasi Mediterania Uni Eropa. Tujuannya adalah untuk mengalihkan beberapa lalu lintas truk yang berjalan antara Prancis dan Italia ke kereta api.

Ini juga akan membantu mengurangi ketergantungan Uni Eropa pada impor minyak dan mengurangi emisi dari transportasi.

“Hari ini, lebih dari 4 juta truk melakukan perjalanan ke timur-barat selatan Alpen dan tidak ada sambungan rel yang realistis yang memungkinkan untuk memindahkan sebagian besar transportasi angkutan jalan ke rel. Lyon-Turin akan menawarkan kemungkinan seperti itu, dan dengan demikian mengurangi kemacetan lalu lintas dan emisi CO2,” kata juru bicara Komisi.

Sebelumnya perkiraan pemerintah Italia mengatakan bahwa dengan jalur baru dalam layanan, akan ada 40 juta ton angkutan kereta api bergerak antara Italia dan Prancis pada 2035. Itu lompatan besar dari 3,7 juta ton yang dibawa oleh kereta api pada tahun 2015 dan hanya sebagian kecil dari 41 juta ton barang antar kedua negara.

Para penentang TAV berpendapat bahwa angka-angka itu terlalu dibesar-besarkan, sesuatu yang sekarang diterima oleh pemerintah Italia.

“Mereka sedang membangun infrastruktur raksasa dengan biaya operasi yang besar, terutama jika Anda tidak memiliki barang untuk diisi,” kata Poggio.

Poggio merasa terowongan itu harus diisi dan diubah menjadi museum tentang cara menghambur-hamburkan uang publik. Stéphane Guggino, CEO Komite Transalpine asosiasi Franco-Italia yang melobi mendukung proyek memperingatkan akan ada konsekuensi jika Italia keluar.

“Perancis akan meminta uang kembali, Eropa akan meminta uang kembali. Dan jika Italia tidak memberikannya, siapa yang akan membuat perjanjian dengan Italia di masa depan? ”Katanya.

Baca juga: Lintasi Hutan di Karawang, Pembebasan Lahan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Optimis Tuntas Akhir Tahun

Masalah untuk 5Stars adalah karena biaya keluar dari proyek tinggi karena pekerjaan telah dimulai dimana sesuatu yang berat adalah mendukung pembangunan berkelanjutan.

“Jika saya melakukan proyek bodoh, tetapi saya membangun tiga perempat, saya mungkin harus membangunnya karena semua manfaat akan masuk pada kuartal terakhir itu,” kata Marco Guido Ponti, seorang profesor ekonomi pensiunan dari Politeknik Universitas Milan.

“Bahkan jika angkanya positif, analisis ini akan menunjukkan kegilaan sebelumnya sebuah proyek yang telah diluncurkan dengan analisis yang sangat terdistorsi mengenai penghitungan manfaat,” kata Ponti.

Integrasi Sektor Transportasi dan Pariwisata Mampu Tingkatkan ‘Derajat’ Suatu Negara

Sebuah studi yang dilakukan oleh Applied Economics & Management, Research Group yang berbasis di University of Seville, Spanyol, mengemukakan pandangannya tentang perbedaan hubungan antara kereta api berkecepatan tinggi dan pariwisata di Eropa dengan hubungan antara pesawat dengan pariwisata di Eropa. Namun setelah ditelaah lebih jauh lagi, ternyata kedua hal ini bukanlah untuk dicari perbedaannya, melainkan untuk dikembangkan agar bisa saling terintegrasi.

Baca Juga: Kementerian Pariwisata Gandeng Jetstar Bangun Pariwisata Indonesia

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman sciencedaily.com, seorang Profesor Ekonomi bernama José Ignacio Castillo Manzano mengatakan bahwa terdapat hubungan komplementer antara perjalanan udara dan jaringan perkeretaapian berkecepatan tinggi yang keduanya sama-sama akan memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata di suatu destinasi tertentu – tidak terkecuali Benua Biru. Ia beranggapan bahwa diperlukannya pengembangan strategi antara kedua belah operator agar mereka bisa bekerja sama untuk mengembangkan sektor pariwisata.

Namun di sisi lain, kendati positif, José Ignacio juga tidak menampik bahwa kerja sama antara kedua operator beda moda ini tidak terlalu berdampak banyak terhadap sektor pariwisata yang sudah disebutkan di atas. “Kereta api berkecepatan tinggi lebih berhubungan erat dengan pariwisata dalam negeri, dan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap pariwisata internasional,” pungkas José Ignacio.

Mengambil contoh pada jaringan kereta cepat Spanyol, AVE, José Ignacio beranggapan bahwa wisatawan mancanegara tetap bisa mengandalkan perjalanan udara untuk menyambangi daerah lain di Negeri Matador semisal tidak ada jaringan kereta cepat ini. “Bahkan tidak ada bukti empiris yang mengatakan bahwa berkat koneksi kereta api berkecepatan tinggi (AVE), wisatawan asing memperpanjang masa tinggal mereka di negara tersebut,” tandasnya.

Selain berhasil menyimpulkan poin di atas, José Ignacio juga mengatakan bahwa negara-negara dengan pendapatan per kapita dan harga di sektor pariwisata yang lebih rendah adalah mereka yang menarik lebih banyak wisatawan asing untuk mengunjungi wilayah tertentu di dalam suatu negara. Berbeda dengan negara maju adalah mereka yang lebih banyak mengoptimalkan dan menggali potensi pariwisata nasional baru.

Baca Juga: Angkasa Pura I Dorong Sektor Pariwisata Solo Raya Untuk Pengembangan Berkelanjutan

Pada akhirnya, José Ignacio berkesimpulan bahwa, “Kerja sama yang baik dari pasangan transportasi dan pariwisata adalah jaminan terbaik dari masa depan kedua sektor yang mampu meningkatkan ‘derajat’ suatu negara ini.” Tutup José Ignacio.

 

Lolos Sejumlah Uji Coba, PT KAI Mulai Gunakan Bahan Bakar Biodiesel B20

Dilandaskan pada rekomendasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengenai penggunaan bahan bakar biodiesel 20 persen (B20), maka melalui Humas PT KAI Agus Komarudin, BUMN yang tengah naik daun ini akan mengikuti rekomendasi dari Kementerian ESDM tersebut. Menurut Agus, PT KAI mulai menggunakan B20 pada pengoperasiannya tertanggal 1 September 2018 kemarin.

Baca Juga: Ketika Mobil Mogok di Atas Rel Kereta, Inilah Solusi Mengatasinya

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman Tempo.co (5/9/2018), adapun rekomendasi yang dianjurkan tersebut dilakukan setelah Kementerian ESDM menyelesaikan serangkaian uji coba penggunaan B20 pada jenis lokomotif Progress Pail (EMD) dan General Electric (GE) milik PT KAI.

“KAI mendukung program pemerintah dalam penggunaan B20 pada setiap operasi kereta api dan pendukungnya,” kata Agus. Secara tidak langsung, PT KAI telah membantu pemerintah untuk menghemat devisa karena kuota impor BBM berkurang.

Kedua ‘kelinci percobaan’ ini biasa digunakan PT KAI untuk menarik kereta batu bara rangkaian panjang (babaranjang). “Dipilihnya kereta babaranjang pada kajian ini dengan berbagai pertimbangan beban mesin pada lokomotif menarik babaranjang ini merupakan salah satu lokomotif dengan beban terberat dibandingkan lokomotif lain yang dimiliki P T KAI,” ungkap Ketua Tim Kajian Rail Test B20, Dadan Kusdiana.

Adapun uji coba penggunaan B20 ini berlangsung di Dipo Lokomotif Tanjung Karang, Bandar Lampung pada Selasa (14/8/2018) kemarin. “Jadi sampai saat ini tidak ada maslah dengan penggunaan B20 bagi operasional kereta api seperti halnya pada uji coba sebelumnya,” tandas Agus.

Dilansir dari laman sumber lain, PT KAI telah melakukan mandatori bahan bakar nabati secara bertahap, mulai dari pencampuran 5 persen atau B5 – dan sejak tahun 2016 silam, pencampuran bahan bakar diesel dengan bahan bakar nabati ini sudah ditingkatkan menjadi 20 persen atau B20.

Baca Juga: India Luncurkan Kereta Bertenaga Panel Surya

Agus menambahkan, hingga saat ini PT KAI mengoperasikan 486 unit Lokomotif dan 256 unit kereta pembangkit dengan konsumsi bahan bakar realisasi 220,1 juta liter per tahun pada tahun 2017 kemarin. Sedangkan untuk tahun 2018, realisasi sampai dengan Juni 2018 atau semester I 2018 adalah 114 juta liter – atau setengah dari kuota yang diberikan yaitu 280 juta liter.

“PT KAI intinya siap penggunaan ini (B20) untuk lokomotif dan genset,” ujar Agus pada kesempatan terpisah.

Ribut di Penerbangan Garuda Indonesia, Pasangan Mabuk ini Paksa Kapten Lakukan Pendaratan Tak Berjadwal

Lagi, penumpang yang berada di bawah pengaruh minuman beralkohol mengacaukan sebuah penerbangan – dan sialnya itu merupakan penerbangan GA728 milik Flag Carrier Garuda Indonesia. Tidak hanya satu, melainkan sepasang muda-mudi inilah yang akhirnya membuat sang kapten penerbangan memutuskan untuk melakukan pendaratan tak berjadwal. Seperti yang sudah Anda bayangkan, penerbangan menuju Perth, Australia dari Denpasar, Bali ini pun mengalami keterlambatan.

Baca Juga: Mabuk Berat! Pria Muda Kencingi Penumpang Lain dalam Penerbangan ke Jepang

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman news.com.au (29/8/2018), mulanya, penerbangan yang dijadwalkan mendarat di Perth pada Senin (27/8/2018) pukul 23.00 waktu setempat ini berjalan dengan lancar. Menurut penuturan sejumlah penumpang yang berada di dalam penerbangan yang sama pun mengatakan bahwa pasangan ini nampak riang dan tampak tidak ada masalah.

Namun tak berselang lama, percekcokan mulai terjadi diantara keduanya. Entah sejak kapan pasangan ini menenggak minuman keras, namun dapat dipastikan bahwa mereka dalam kondisi mabuk ketika tengah cekcok. Para penumpang yang berada di dalam kabin pun tidak bisa menyimpulkan apa yang mereka tengkarkan, namun menurut seorang penumpang yang bernama John Caputo, pertengkaran tersebut sangatlah hebat.

Ia menuturkan bahwa penumpang lain harus turun membantu petugas keamanan untuk menangani si pria yang semakin tidak bisa dikendalikan tersebut. “Mereka (petugas keamanan) harus meringkusnya, setelah terus meminta dia tenang, menggunakan kekuatan untuk memaksa dia tetap di kursi karena dia ingin keluar. Sampai-sampai ia harus diikat dengan menggunakan cable ties,” tutur John menceritakan apa yang terjadi.

Baca Juga: Diamankan Karena Berteriak ‘Bom,’ Pria Ini Ternyata Mabuk

Akibat kejadian ini, sebagai langkah keamanan, sang kapten penerbangan terpaksa melakukan pendaratan tak berjadwal di Port Hedland, sekitar dua jam penerbangan dari Perth. Setibanya di Bandara Port Hedland, pria yang berusia 32 tahun dan wanita yang berusia 29 tahun asal Perancis yang tinggal di Perth ini lalu digelandang oleh petugas kepolisian guna dimintai keterangan lebih lanjut mengenai kekacauan yang mereka timbulkan di penerbangan GA728.

 

Mulai 7 September 2018, Lion Air Tambah Frekuensi Penerbangan Denpasar-Lombok

Belum lama gempa besar melanda Lombok yang berada di Nusa Tenggara Barat dan membuat masyarakatnya sampai saat ini masih terus tinggal di tenda karena trauma. Meski begitu, Lombok masih menjadi incaran para pelancong baik domestik maupun internasional. Bahkan bisa dikatakan Lombok menjadi saudara Pulau Bali karena deteran objek wisatanya.

Baca juga: Mulai 25 Mei 2018, Wings Air Layani Rute Kupang-Lombok Setiap Hari

Lombok sendiri mendapat sebutan Paradise Island karena keindahan pantainya. Banyaknya destinasi yang ada di dua pulau ini, membuat Lion Air Group menambah frekuensi penerbangannya pada 7 September 2018 mendatang. Lion Air akan menggunakan pesawat dengan penerbangan JT828 yang akan berangkat dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar pukul 10.30 WITA dan tiba di Bandara Internasional Lombok Praya pukul 11.00 WITA.

Sedangkan rute sebaliknya Lion Air bernomor JT829 akan lepas landas dari Lombok pukul 11.40 WITA dan diperkirakan tiba di Denpasar pukul 12.10 WITA. Penerbangan ini sendiri hanya memakan waktu tempuh 30 menit karena jarak Bali dan Lombok yang tidak terlalu jauh.

“Penambahan frekuensi terbang Denpasar ke Lombok, akan melengkapi penerbangan yang sudah beroperasi saat ini, yaitu Lion Air dua kali setiap hari dan Wings Air satu kali per hari,” ujar Danang Mandala Prihantoro, Corporate Communications Strategic of Lion Air yang dikutip KabarPenumpang.com dari sairan pers, Selasa (4/9/2018).

Adanya peningkatan jumlah penerbangan di dua pulau dengan destinasi populernya merupakan salah satu bentuk keseriusan Lion Air untuk mengakomodir tingginya trend traveling saat ini. Memperkuat jaringan di Lombok juga sebagai langkah Lion Air sejalan upaya mendukung program pemerintah guna pemerataan ekonomi dan menyokong Kementerian Pariwisata RI untuk pencapaian 17 juta wisatawan menuju Indonesia.

Dimana salah satunya termasuk pengembangan destinasi 10 Bali Baru yakni destinasi pariwisata yang menjadi prioritas sejak 2016, salah satunya Mandalika Lombok (NTB). Pada penambahan frekuensi Denpasar-Lombok PP ini, Lion Air akan menggunakan pesawat terbarunya yakni Boeing 737 MAX 8, Boeing 7373-900ER atau 737-800NG.

Lion Air memproyeksikan pertumbuhan trafik khususnya wisatawan di Bali dan Lombok akan terus berkembang, seiring berbagai inisiasi maupun kolaborasi pemerintah, maskapai, perhotelan, pengelola bandar udara, pelaku industri wisata, dengan dukungan dari banyak pihak. Menurut Badan Pusat Statistik Bali, kedatangan wisman ke Bali pada Juli 2018 mencapai 624.366 kunjungan, dengan melalui bandar udara 624.337 kunjungan.

Baca juga: Banyuwangi Hadirkan Kapal Cepat ke Denpasar, Hanya 2 Jam Perjalanan!

Jumlah wisman Juli 2018 naik sebesar 14,66 persen dibandingkan catatan Juni 2018. Sebagai informasi, data perkembangan lalu lintas penumpang PT Angkasa Pura I cabang Denpasar tercapat pada 2017 yaitu 21.047.746 orang atau tumbuh 5,23 persen dari tahun sebelumnya 20.001.275 orang. Untuk jumlah penumpang di Lombok Praya meningkat 4,92 persen dengan total 3.589.812 penumpang di 2017 bila dibandingkan pada 2016 yang mencapai 3.421.584 orang.

Diketahui masih banyak destinasi Lombok yang belum terkeksplore oleh pelancong dan pelancong berkesempatan untuk menjelajahnya. Selain itu perayaan legendaris Festival Bau Nyale, tradisi turun temurun untuk memperingati legenda dari penguasa kerajaan masa lampau yang berjaya menjadi salah satu incaran pelancong seperti halnya Dieng Festival Cultur.