Dukung Program Pemerintah, Garuda Indonesia Buka Rute Menuju Nagoya Jepang

Flag carrier Garuda Indonesia mulai 23 Maret 2019 mendatang akan membuka rute penerbangan Jakarta – Nagoya, Jepang PP dengan menggunakan armada Airbus A330 yang berkapasitas 36 seat untuk kelas bisnis dan 186 seat sisanya untuk kelas ekonomi. Pembukaan rute penerbangan ini sejalan dengan komitmen di tubuh Garuda Indonesia sendiri untuk mendukung program Pemerintah, khususnya dalam meningkatkan hubungan bisnis antara Jepang dengan Indonesia.

Baca Juga: Siap-Siap! Juni 2019 Garuda Indonesia Buka Rute Penerbangan Langsung Makassar – Jepang

Sebagaimana siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com, Direktur Utama Garuda Indonesia, Ari Askhara mengatakan bahwa pembukaan penerbangan Jakarta – Nagoya tersebut merupakan dukungan perusahaan terhadap program percepatan pertumbuhan ekonomi nasional – khususnya dalam mendorong peningkatan investasi di industri manufaktur.

“Sebagai kota terbesar keempat di Jepang dan dikenal sebagai salah satu kota industri & manufactural tersibuk di Jepang, menjadikan Nagoya yang berada di Prefektur Aichi tersebut pangsa pasar yang potensial bagi Garuda Indonesia,” tutur Ari.

“Pembukaan penerbangan ini kami harapkan tidak hanya akan memperkuat jaringan penerbangan internasional Garuda Indonesia, namun juga dapat mendukung pemerintah untuk mendukung percepatan investasi – khususnya program Kementerian Perindustrian dalam menggenjot investasi,” tandasnya.

Layanan penerbangan Garuda Indonesia pada rute ini juga diplot sebagai langkah positif perusahaan dalam upayanya untuk mempertahankan pangsa pasar sektor penerbangan Jepang – Indonesia yang terus mengalami pertumbuhan dan semakin menjanjikan, dimana angka kunjungan para pebisnis dan wisatawan mancanegara asal Jepang menunjukan peningkatan signifikan khususnya ke sejumlah destinasi wisata utama di Indonesia, salah satunya Jakarta sebagai pusat perekonomian terbesar di Indonesia.

Jepang adalah salah satu pangsa pasar paling penting untuk Garuda Indonesia. Selama lebih dari 50 tahun, Garuda Indonesia telah menunjukkan dukungannya terhadap hubungan bilateral yang kuat antara Indonesia dan Jepang. Dengan dibukanya layanan ini, penumpang diharapkan dapat menikmati lebih banyak pilihan penerbangan dan tujuan ke Jepang dan Indonesia maupun sebaliknya.

Baca Juga: Garuda Indonesia Canangkan Penerbangan Langsung Denpasar – Moskow

Menurut rencana, Garuda Indonesia akan melayani penerbangan Jakarta – Nagoya PP sebanyak empat kali per minggu (Selasa, Jumat, Sabtu, dan Minggu). Penerbangan dari Jakarta menuju Chubu Centrair International Airport dengan GA 884 pukul 23.35 WIB dan akan tiba di Chubu Centraair International Airport pada keesokan harinya pukul 07.25 LT dan akan terbang kembali dari Chubu Centraair International Airport dengan GA 885 pada pukul 10.00 LT dan akan tiba bandara Soekarno-Hatta pada pukul 15.00 WIB.

Selain Nagoya, destinasi penerbangan lain yang dilayani Garuda Indonesia menuju Jepang adalah Tokyo (Narita dan Haneda), Osaka, Okinawa, Sendai, Sapporo, Fukuoka, Hiroshima, Komatsu, dan Takamatsu. Jika menilik sejarahnya, Garuda Indonesia melakukan penerbangan pertama kali menuju Jepang di tahun 1963 menuju Tokyo dan transit di Hong Kong. Kala itu, rute penerbangan yang lebih dikenal dengan nama Emerald Route ini dioperasikan Garuda Indonesia dengan menggunakan pesawat turboprop Lockheed L-183.

 

 

Lebih dari Setengah Total Kuota Uji Coba Gratis MRT Jakarta Telah Terlampaui di Hari Ke-2 Pendaftaran

Bagaimana langkah PT MRT Jakarta menghadapi antusisas masyarakat yang akan ikut uji coba publik dari 12 hingga 24 maret 2019 mendatang? Pasalnya hingga hari kedua pendaftaran yakni 6 Maret 2019, sebanyak 144.623 orang sudah mendaftarkan diri mereka di website milik MRT Jakarta yakni http://www.ayocobamrtj.com.

Baca juga: Ayo Buruan Daftar Uji Coba Gratis MRT Jakarta, Kuota Tersisa Hanya untuk 193.252 Orang!

Dari pendaftaran tersebut bisa dikatakan lebih dari setengah kuota yang ditetapkan PT MRT Jakarta sudah terpenuhi dan tersisa 140.977 orang lagi. Hal ini membuat PT MRT mengatakan, pihaknya pernah mendiskusikan bila kuota yang ditetapkan melebihi batas.

“Kami sudah pernah membahasnya kalau kelebihan kuota. Tetapi ini belum pasti akan diberlakukan seperti apa,” ujar Humas PT MRT Jakarta yang dihubungi KabarPenumpang.com, Jumat (8/3/2019).

Pihak humas mengaku, direksi PT MRT Jakarta masih terus mendiskusikan hal bila akan adanya kelebihan kuota dari yang sudah ditetapkan. Sebab hal ini masih menyangkut dengan pertimbangan keselamatan, kenyaman dan keamanan masyarakat yang ikut berpartisipasi dalam uji coba tersebut.

“Ini kan uji coba dan belum ada tiket berbayar. Makanya saat mendaftar ada ketentuan yang memang ditekankan salah satunya tidak ada biaya asuransi ketika masyarakat mengikuti uji coba ini,” jelas pihak humas.

Ternyata, hingga saat ini diketahui dari pendaftaran yang sudah dilakukan masyarakat ibukota Jakarta sendiri, keberangkatan dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) masih menjadi pilihan utama. Total dari dua hari pendaftaran keberangkatan dari Bundaran HI sendiri ada 32.084 orang.

Pada hari pertama pendaftaran sudah ada 92.348 orang yang melakukan pendaftaran dalam jangka waktu pukul 10.00 pagi hingga 19.00. Pendaftaran ini sendiri dibuka 24 jam dan website tidak pernah ditutup.

Untuk diketahui, pada uji coba untuk masyarakat ini, kereta MRT Jakarta yang akan dioperasikan ada tujuh dan satu cadangan. Uji coba akan berlangsung mulai pukul 08.00-16.00 dengan total perjalanan per harinya 98.

Baca juga: Siap Layani Penumpang, PT MRT Jakarta Kerahkan 3 Shift Karyawan di Setiap Stasiun

Nantinya penumpang yang tiba di stasiun harus menunjukkan QR Code kepada petugas stasiun dan akan mendapat stiker yang disesuaikan dengan waktu kedatangan. Warna merah pukul 08.00-10.00, biru pukul 10.00-12.00, kuning pukul 12.00-14.00 dan hijau pukul 14.00-16.00.

Pihak PT MRT Jakarta berharap, melalui uji coba tersebut masyarakat bisa merasakan pengalaman awal sebelum MRT Jakarta beroperasi secara komersial dan dapat menjadi masukan bagi MRT Jakarta untuk meningkatkan kualitas layanan. Kehadiran MRT Jakarta sendiri nantinya tidak hanya akan meningkatkan mobilitas masyarakat, tetapi juga memberikan manfaat tambahan seperti perbaikan kualitas udara dan mendorong perubahan gaya hidup masyarakat ibukota dengan beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum.

Mitsubishi Uji Coba Regional Jet, Inikah Momen Kebangkitan Industri Dirgantara Jepang?

Jika Anda ditantang untuk menyebutkan produsen pesawat selain Boeing, Airbus, Embraer, dan Bombardier, bisakah Anda menyebutkannya? Apabila di antara Anda yang menyebutkan merek Mitsubishi, maka Anda tepat! Ya, manufaktur yang terkenal dengan produksian mobil ini baru saja mengumumkan bahwa uji coba Mitsubishi Regional Jet yang baru telah berlangsung di Amerika Serikat. Jika berhasil lolos uji coba tersebut, maka pesawat jet yang mampu mengangkut 90 penumpang ini akan menjadi pesawat buatan Jepang pertama – setidaknya sejak tahun 1960-an.

Baca Juga: Airbus A220, Pesawat Narrow-Body yang Mampu Jabani Tugas Boeing 787 Dreamliner

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman fortune.com (5/3/2019), adapun pengumuman ini dilontarkan pihak Mitsubishi pada Senin (4/3/2019) kemarin. Namun, dalam upayanya untuk membangkitkan produksian pesawat asal Negeri Matahari Terbit, tidaklah mudah bagi Mitsubishi. Mitsubishi Regional Jet telah dikembangkan selama lebih dari satu dekade dan menghadapi tujuh tahun keterlambatan pengiriman yang mampu diantisipasi – mungkin lebih jika perusahaan melampaui tanggal pengiriman yang direncanakan saat ini, yaitu di pertengahan tahun 2020.

“Pada hari Minggu (3/3/2019), fungsi mesin dari narrow-body twin-engine jetliner ini telah dikonfirmasi setelah penerbangan dari pangkalan Mitsubishi Aircraft, sebuah unit Mitsubishi Heavy Industries Ltd., di negara bagian Washington,” ujar salah seorang pejabat perusahaan.

Sebenarnya, jadwal pengujian ini telah mundur dari jadwal semula. Di awal, Mitsubishi berencana untuk melakukan uji coba pada akhir Januari 2019 kemarin, namun karena kondisi cuaca yang kurang bersahabat dan keterlambatan perusahaan dalam menyiapkan uji coba ini, maka dari itu uji coba terpaksa diundur.

“Dua model Mitsubishi Regional Jet baru saat ini tengah diproduksi di pangkalan di Toyoyama, Prefektur Aichi, dimana dua model ini juga akan diuji di Amerika Serikat. Rencananya di akhir tahun 2019 ini,” tandas sang pejabat.

Baca Juga: Ini Dia Boeing 787-900 Ke-787 Milik China Southern Airlines

Jika ingin meluncurkan mahakaryanya ini, Mitsubishi hanya memiliki waktu kurang dari 18 bulan untuk mendapatkan sertifikasi. Sebagai pembanding, Boeing 787 Dreamliner saja membutuhkan waktu 20 bulan terhitung sejak tanggal uji penerbangan, sementara itu HondaJet dari Honda memerlukan waktu hingga dua tahun.

Semisal sudah lulus sertifikasi kelak, Mitsubishi harus melawan kedigdayaan dari Airbus dan Boeing yang namanya notabene sudah lebih dikenal oleh massa dan memiliki reputasi yang sudah tidak bisa diragukan lagi.

Apakah ini akan menjadi titik balik kebangkitan sektor aviasi Jepang?

Grab Hadirkan Beberapa Fitur Baru di Aplikasi, Termasuk Raih Poin Bila Order Dibatalkan Pengemudi

Grab belum lama ini memperkenalkan fitur baru di aplikasinya untuk peningkatan layanan dengan inisiatif Better Day. Fitur baru ini hadir di Filipina dan Grab sendiri merupakan satu-satunya aplikasi yang melayani kebutuhan pokok di salah satu negara Asia Tenggara tersebut.

Baca juga: GrabPet Hadir Untuk Angkut Hewan Piaraan di Singapura

KabarPenumpang.com melansir laman philstar.com (20/2/2019), selain GrabFood, GrabExpress, GrabRewards dan GrabPay, Grab meluncurkan serangkaian peningkatan aplikasi yang membuat perjalanan lebih aman, lancar dan bermanfaat. Berikut ini fitur baru yang dihadirkan Grab.

Pengalaman berekendara lebih baik
Grab berfokus untuk pengalaman berkendara yang lebih baik, dimana penumpang bisa menggunakan fitur transportasi baru yang akan mendefinisikan kembali pengalaman pelanggan dalam industri ride hailing.

Batalkan pesanan kapan saja
Fitur ini memungkinkan penumpang membatalkan pemesanan sebelum pengemudi menemukan Anda di aplikasi dan mulai menjalankan tugasnya.

Lokasi tersimpan
Kini pengguna Filipina bisa menyimpan lokasi yang sering mereka kunjungi untuk memudahkan pencarian dan pengalaman pemesanan lebih cepat. Lokasi yang biasanya tersimpan seperti rumah, kantor dan beberapa tempat lainnya. Bahkan fitur ini juga memungkinkan pemilihan alamat yang sering digunakan pengguna untuk penggambilan atau pengantaran. Menggunakannya pun mudah hanya dengan mengklik tempat tersimpan dari tombol menu dan simpan dipilihan Anda.

Poin bila dibatalkan pengemudi
Penumpang yang telah memesan kendaraan dari Grab dan tiba-tiba dibatalkan oleh pengemudi, maka berhak mendapat poin reward. Reward sebanyak 30 poin ini akan diberikan dalam waktu 24 jam. Nantinya poin-poin itu bisa digunakan untuk mengambil GrabRewards seperti makanan, layanan dan diskon.

Ubah tujuan
Pengguna bisa mengubah tujuan jika lokasi yang dituju salah saat menit terakhir atau keadaan darurat. Kehadiran fitur ini bisa memudahkan penumpang tanpa harus bernegosiasi dengan pengemudi. Cara mengubahnya yakni penumpang mengetuk titik drop off dan pilih ubah, sehingga nantinya tarif akan berubah dengan sendirinya. Fitur ini hanya tersedia di GrabCar, GrabCar enam kursi dan layanan GrabCar Premium yang bisa ditemukan di Metro Manila, Cebu, Bacolod dan Pampanga.

Hilang dan ditemukan
Grab juga telah mengintegrasikan ke dalam aplikasi fitur baru yang hilang dan ditemukan, yang membantu penumpang menghubungi pengemudi secara langsung setelah pemesanan selesai. Untuk memulihkan item yang tersisa di mobil, cukup klik pada tab histori pemesanan, pilih catatan pemesanan terakhir dan ketuk tombol panggil baru untuk mencapai pengemudi. Fungsi tombol panggil tersedia dalam waktu empat jam setelah perjalanan berakhir. Sesuai dengan undang-undang privasi data, nomor telepon baik penumpang dan pengemudi ditutup dan aplikasi hanya akan menampilkan nomor virtual. Di luar periode empat jam, penumpang dapat mencapai pengemudi melalui pusat bantuan.

Waktu tunggu penumpang
Grab juga telah menerima umpan balik dari pengemudi yang mengeluhkan konsumen membatalkan setelah dialokasikan, dan bahkan jika pengemudi sedang dalam perjalanan ke titik penjemputan. Dengan demikian, Grab juga memperkenalkan fitur batas waktu penumpang, yang sementara melarang penumpang dengan pembatalan yang berlebihan.
penumpang tidak akan dapat memesan layanan untuk maksimum 23 jam setelah mencapai batas yakni, maksimal dua pembatalan per layanan Grab dalam waktu satu jam, maksimal tiga pembatalan per layanan Grab dalam waktu 24 jam dan maksimal lima pembatalan per layanan Grab dalam tujuh hari.

Baca juga: Siap ‘Bertarung’ di Jakarta, GrabBajay Kini Tengah Matangkan Uji Coba

“Pada 2019 ini, kami terus menggarisbawahi komitmen kami menuju pengalaman Grab yang lebih baik. Kami senang memulai tahun ini dengan memperkenalkan fitur-fitur baru yang akan mendefinisikan kembali pengalaman konsumen, ”kata Brian Cu, presiden Grab Philippines.

Kadung Beli Makanan Sebelum Mengudara, Lihat Cara Unik yang Dilakukan Penumpang Ini!

Di antara Anda semua, siapa nih yang suka datang terlalu ‘tepat waktu’ ke bandara hingga pada akhirnya melakukan segala persiapan sebelum mengudara dengan terburu-buru? Wah, tentu hal seperti ini kurang patut untuk dicontoh ya, karena bukan tidak mungkin jika Anda terlalu mepet datang ke bandara, Anda akan ketinggalan pesawat hanya karena Anda belum menghabiskan makanan yang tengah di santap. Nah, bagi Anda yang kadung membeli makanan di bandara padahal waktu keberangkatan sudah mepet, ada baiknya Anda meniru life-hack dari seorang penumpang ini.

Baca Juga: Ingin Jadi Penumpang yang ‘Beradab’? Langkah ini Bisa Jadi Rujukan

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman bbc.co.uk (5/3/2019), Nathan, seorang penumpang maskapai tujuan London – Roma memasukkan makanan yang sudah ia beli ke dalam plastik wrapping bening yang biasanya tersedia di security gate. Nathan yang kala itu tengah melakukan perjalanan bersama pasangan dan keluarganya ini melakukan hal tersebut lantaran waktu yang dimiliki Nathan dan rombongannya ini tidak terlalu banyak untuk sampai ke gate keberangkatan.

Seketika melakukan ide brilian ini, Nathan langsung mengabadikan makanannya tersebut dan membagikannya di grup Whatsapp keluarganya.

“Pengaturan waktu agak ketat di bandara,” tulis Nathan di grup Whatsapp keluarganya.

“Apakah seketat waktu kita pergi ke Barca (Barcelona, Spanyol)?” tandas anggota keluarganya yang lain.

“Saya harus memasukkan makanan yang saya beli tadi ke dalam plastik wrapping bening dan melanjutkan makan di gate,” jawab Nathan.

Kepada bbc.co, Nathan menjelaskan bahwa sebenarnya dirinya cukup tepat waktu untuk datang ke bandara sebelum keberangkatannya tersebut, namun kala itu bertepatan dengan jam makan malam dan mereka merundingkan apakah bisa menyempatkan diri untuk makan terlebih dahulu.

Baca Juga: Tips – Mau Tidur di Pesawat, Jangan Turunkan Tirai Jendelanya!

“Kami akhirnya berhenti di sebuah pub karena sudah waktunya makan malam. Makanan tiba sangat cepat tetapi sepertinya saya mungkin terlalu optimis tentang waktu ekstra yang dibutuhkan untuk sampai ke gate,” ujar Nathan.

Wah, mungkin cara Nathan ini bisa Anda tiru semisal Anda hendak mengudara dan waktu keberangkatannya bertepatan dengan jam makan malam. Sebenarnya, Anda bisa saja memilih untuk membungkus makanan tersebut (take away). Perjalanan tenang, perut pun aman!

Kepolisian Kuala Lumpur Berhasil Bekuk Pelaku Perampok Sadis di Lift Stasiun MRT

Tentu Anda masih ingat dengan tindak kekerasan yang menimpa seorang penumpang wanita di MRT Kuala Lumpur, dimana dirinya dianiaya oleh seorang pria ketika tengah berada di dalam lift stasiun. Pelaku yang kala itu sempat melarikan diri kini telah berhasil dibekuk oleh petugas kepolisian setempat dan langsung diadili pada Jumat (1/3/2019) kemarin. Ternyata setelah diselidiki lebih jauh, pria yang diketahui bernama G. Thinathayaalan (25 tahun) ini berprofesi sebagai tukang service Air Conditioner (AC).

Baca Juga: [Video] Brutal, Perampok Aniaya Wanita Paruh Baya di Lift MRT Kuala lumpur

Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman nst.com.my (1/3/2019), G. Thinathayaalan dituduh telah melakukan pencurian yang disertai kekerasan terhadap seorang manajer bank yang bernama Lee Meei Shan (40 tahun) pada 14 Februari 2019 lalu di sebuah stasiun MRT di daerah Cheras.

Akibat dari tindakan anarkisnya ini, G. Thinathayaalan dijatuhi pasal 394 KUHP dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara yang disertai dengan hukuman cambuk di akhir masa kurungannya.

Wakil jaksa penuntut umum, N. Joy Jothy tidak menawarkan jaminan kepada terdakwa, karena tindakan yang sudah ia lakukan tergolong sebagai tindakan yang terlalu kejam dan tidak patut mendapat jaminan.

“Insiden di MRT tertangkap di kamera CCTV (closed-circuit television) dan rekaman CCTV dari insiden tersebut menjadi viral. Insidennya sangatlah kejam,” ujar Joy Jothy.

Sementara itu, sebelum hakim Emilia Kaswati Mohamad Khalid menjatuhkan sanksi terhadap terdakwa, Thinathayaalan mengaku telah terlibat dalam tindakan perampokan bersenjata terhadap Hossain Mobarok dari Bangladesh dan melarikan diri dengan delapan kotak rokok yang diambilnya secara paksa dari sebuah toko swalayan, tepat 15 menit sebelum insiden di lift stasiun MRT itu terjadi.

Baca Juga: Perkeretaapian India Bocorkan Cara Ampuh Tindak Lanjuti Aksi Kriminal

Sebagaimana yang sudah diberitakan sebelumya, Lee Meei Shan – korban, mengalami sejumlah luka pada bagian tubuhnya dan memar di dahinya.

Tidak berhenti sampai di situ, Lee Meei Shan juga harus mengikhlaskan barang berharganya yang dibawa lari oleh terdakwa, seperti dompet yang berisikan KTP, kartu ATM, serta uang tunai senilai RM400 (sekira Rp1,4 juta).

Kolaborasi Volvo dan NTU, Singapura Sukses Uji Coba Bus ‘Besar’ Otonom Pertama di Dunia

Bus tanpa pengemudi adalah salah satu pencapaian teknologi masa kini yang tengah diuji coba di berbagai belahan dunia. Di Asia Tenggara, Singapura tak pelak menjadi pelopornya setelah keberhasilan Negara Pulau tersebut menguji bus ukuran besar milik Volvo tanpa pengemudi pada Selasa (5/3/2019) kemarin.

Baca juga: Singapura Hadirkan “Kota Mini” dengan Kendaraan Otonom

KabarPenumpang.com melansir dari laman engadget.com (5/3/2019), peluncuran uji coba bus listrik tanpa awak ini dilakukan oleh Volvo dan Universitas Teknologi Nanyang Singapura (NTU). Sebagai wahana adalah bus Volvo singlle deck 7900, dimana bus mampu mengangkut hingga 80 penumpang sekaligus dari NTU.

Sedangkan bus kedua asal Swedia ini akan menjalani uji coba di sebuah depot bus yang dikelola oleh operator angkutan umum Singapura. Peluang ini akhirnya akan membuat bus listrik tanpa awak itu bergabung dengan armada transit lainnya.

Gabungan ini sendiri termasuk dengan mini van yang ukurannya lebih kecil dan akan menyusuri tiga wilayah Singapura pada tahun 2020 mendatang. Tak hanya itu, Jepang dan Inggris juga merencanakan inisiatif transportasi otonom yang serupa dengan miliknya sendiri.

Bus listrik Volvo 7900 mengemas 36 kursi dan melepaskan emisi nol. NTU mengklaim bahwa bus tersebut mengkonsumsi energi 80 persen lebih sedikit daripada bus diesel berukuran setara. Universitas telah menjadi jantung dari eksperimen transit otonom Singapura, yang sebelumnya telah membangun kota kecil untuk uji coba bus tanpa pengemudi. Keterlibatan NTU dalam proyek bersama Volvo 7900 dilakukan sejak awal 2018.

Presiden NTU Subra Suresh mengatakan, tes dengan satu bus di kampus universitas dapat dimulai dalam beberapa minggu hingga berbulan-bulan, sebelum pindah ke jalan umum setelah mendapat pengesanan dari regulator. Dia berharap tes bisa diperpanjang ke jalan umum dalam satu tahun.

“Bus kedua akan menjalani tes di depot bus kota. Kendaraan 12 meter (39 kaki) dapat mengangkut hingga 80 penumpang dan merupakan bus listrik otonom ukuran penuh pertama di dunia,” katanya.

“Ini adalah jenis kendaraan yang akan digunakan operator secara komersial dan itulah sebabnya ini merupakan tonggak sejarah,” ujar Håkan Agnevall, presiden Volvo Buses.rada di

Singapura berada di peringkat kedua secara global dalam indeks yang menilai keterbukaan dan kesiapsiagaan negara untuk kendaraan otonom. Sebelumnya, pada November 2018 kemarin, Singapura membuat kota mini seluas dua hektare dan berisikan kendaraan tanpa awak.

Baca juga: Bus Tanpa Awak Segera Beroperasi di Taiwan

Di kota mini, Nanyang Technological University sedang menguji sebuah minibus tanpa sopir dengan 15 penumpang yang dibangun oleh perusahaan Perancis Navya SAS, dimana peneliti dapat beroperasi menggunakan perangkat lunak otonom atau secara manual melalui handset gaya video game. Bus menavigasi jalur, berhenti di depan pejalan kaki yang tersesat di jalan dan berhenti di halte bus untuk mengumpulkan dan mengantarkan penumpang.

Ketika ‘Dihujani’ Pembatalan Pesanan, Akankah Berpengaruh Langsung Pada Finansial Manufaktur Pesawat?

Satu hal yang harus sudah dipersiapkan dan melewati perhitungan matang oleh manufaktur-manufaktur di seluruh dunia adalah perihal pembatalan pesanan – tidak terkecuali pabrikan pesawat seperti Boeing dan Airbus.

Baca Juga: Stop Produksi di Awal 2019, Kapan Airbus A380 Pensiun Sepenuhnya?

Sebagaimana yang sudah santer diberitakan sejak beberapa bulan ke belakang, dimana salah satu raksasa maskapai berbiaya rendah Indonesia, Lion Air secara terang-terangan akan membatalkan pesanan sejumlah armada Boeing – pasca ketegangan yang terjadi antara dua belah pihak. Pertanyaannya adalah, apakah pihak manufaktur mengalami kerugian yang cukup signifikan terhadap pembatalan pesanan ini?

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman seekingalpha.com, ternyata pembatalan pesanan dari pihak maskapai kepada pabrikan pesawat tidak mencerminkan berkurangnya daya tarik pesawat. Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, jika maskapai Emirates, Etihad, dan Qantas lebih memilih untuk membatalkan pesanan Airbus A380 karena dinilai kurang ekonomis dari segi pengoperasiannya – biaya pengoperasian tinggi, load factor tidak dapat mengimbangi, maka berbanding terbalik dengan British Airways yang malah ingin membeli Airbus A380 bekas dari maskapai lain.

Contoh di atas hanyalah gambaran sederhana terkait pembatalan pesanan pesawat tidak mencerminkan berkurangnya daya tarik pesawat.

Lalu bagaimana dengan pihak manufaktur? Apakah kerugian yang harus mereka tanggung akibat pembatalan pesanan ini berdampak signifikan terhadap kondisi kas perusahaan?

Sebuah data menyebutkan bahwa pada tahun 2018, manufaktur burung besi asal Amerika, Boeing menerima 1.090 pesanan pesawat. Di sisi lain, Dennis Muilenburg cs. menerima 197 pembatalan pesanan dari para konsumennya. Jika dihitung, maka tingkat pembatalan yang diterima Boeing berkisar di angka 18 persen – bukan angka yang sedikit. Angka tersebut mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2017 silam, dimana perusahaan menerima total 1.053 pesanan pesawat dan pembatalan pesanan berada di angka 141 – persentase pembatalan berada di angka 13 pesen.

Baca Juga: Semakin Terpuruk, Airbus Terima Pembatalan Pesanan A380 dari Qantas Airways

Jika dihitung-hitung, sudah jelas perusahaan akan mengalami kerugian dengan adanya pembatalan semacam ini, namun ketika dibandingkan dengan jumlah pesanan yang masuk, bukan tidak menutup kemungkinan jika manufaktur pesawat akan mampu untuk tetap ‘balik modal’.

Sebagai catatan tambahan, tidak melulu pembatalan pesanan ini berhubungan dengan pihak maskapai yang mengurungkan apa yang sebelumnya sudahh mereka pesan, tapi bisa juga mencakup perpindahan tangan dari pihak maskapai dengan lessor (pihak yang biasa menyewakan pesawat).

 

Jangan Salah Naik, Bus Scania ini Hanyalah Sebuah Mural!

Siapa dari Anda yang sering naik bus sekolah ketika mengenyam bangku pendidikan? Bertemu dengan teman-teman dari kelas lain dan saling bertukar cerita menjadi bagian seru yang tidak boleh terlewatkan, bukan? Nah, tapi hati-hati ketika Anda mengunjungi Kerala, India dimana di salah satu sekolahnya terdapat sebuah bus yang tidak pernah jalan sama sekali – bahkan sejak pertama kali kemunculannya. Duh, ini bus apa ya?

Baca Juga: Seni Graffiti di Inggris, Kebanggaan Kaum Bronx yang Sisakan Kesan Kotor dan Tidak Terjaga

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cartoq.com (24/2/2019), bus yang terparkir rapi di depan Government Model Boys’ Higher Secondary School, Attingal, Kerala bukanlah selayaknya bus sekolah yang biasa ditemui di sekolah-sekolah pada umumnya – melainkan hanya sebuah mural yang diciptakan oleh seorang seniman. Lukisan yang sangat realistik tersebut kerap mengecoh setiap orang yang melihatnya. Sontak, foto-foto dari mural bus ini menjadi bahan pembicaraan hangat di berbagai platform media sosial, seperti Facebook dan Whatsapp.

Pada caption foto yang tersebar ini, tertulis, “jangan menganggap ini merupakan bus KSRTC yang menabrak sebuah pohon di sekolah,”

Sumber: dailyhunt.in

Ya, pada gambar-gambar yang tersebar di sosial media tersebut, memang tampak sebuah bus Scania berwarna hitam bertuliskan “GOVT. VEHICLE” – lengkap dengan gambaran penumpang beserta pengemudinya yang seolah terpantulkan oleh kaca depan bus. Pada gambar tersebut, terlihat seperti sebuah bus Scania yang terparkir di dekat beranda sekolah. Uniknya lagi, mural ini memiliki skala perbandingan 1:1.

Tidak ada yang mengetahui secara persis siapa seniman di balik mural realistis ini, namun beberapa ada yang meyakini bahwa Suresh Babu merupakan seniman yang ‘bertanggungjawab’ di balik pembuatan mural yang sempat viral di India ini.

Baca Juga: Lukisan Dinding Ramaikan 100 Stasiun di India

Jika diperhatikan hingga ke belakang, barulah Anda akan sadar bahwa ini hanyalah sebuah mural – bukan bus yang sebenarnya. Karena mural ini tidak memiliki ban dan bagian yang menonjol lainnya, seperti spion, gagang pintu, dan lain sebagainya.

Wah, kalau mural seperti ini ada di Indonesia, nampaknya akan menjadi sasaran jepret fotografer dan milenial jaman sekarang, ya!

Alami Kelainan Genetika, Ibu dan Balitanya ‘Diusir’ dari Penerbangan American Airlines

Jika seorang penumpang dikeluarkan dari pesawat pasca ia berbuat ulah, maka itu suatu hal yang wajar. Namun apa jadinya jika ada seorang Ibu yang membawa serta buah hatinya yang masih balita dikeluarkan dari pesawat – padahal ia tidak berbuat ulah sebelumnya. Adapun maskapai yang mengeluarkan kedua penumpang ini adalah American Airlines. Sontak, kejadian pengusiran dari maskapai ini menjadi bahan pembicaraan hangat di Negeri Paman Sam.

Baca Juga: Karena Masalah Sepele, Tara Reid Dikeluarkan dari Penerbangan Delta Airlines

Kejadian ini berawal ketika seorang Ibu yang bernama Jordan Flake bersama buah hatinya yang baru berumur 12 bulan hendak pulang menuju South Carolina setelah mengunjungi suaminya yang merupakan seorang militer di Texas. Ketika naik ke dalam pesawat, Jordan Flake ditanyai perihal ruam di kulitnya dan buah hatinya. Ruam tersebut seperti radang yang disebabkan oleh kelainan kulit yang diidap oleh Jordan Flake dan bayinya.

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman marketwatch.com (4/3/2019), Jordan Flake mengidap penyakit yang bernama Ichthyosis – sebuah kelainan genetik yang mempengaruhi kemampuan kulit untuk melepaskan sel-sel kulit mati, menyebabkan kulit menjadi kering, tebal, dan bersisik.

Penyakit ini sendiri bisa dibilang penyakit yang sangat langka, dan ketika sang pramugari tersebut menanyakan kepada Jordan Flake apakah ia membawa surat rujukan dari dokter yang mengijinkan ia untuk bepergian, namun Jordan Flake tidak dapat menunjukkan itu. Pihak maskapai mengatakan bahwa mereka tidak bisa mengembalikan barang bawaan mereka sebelum lepas landas.

Dari situ, Jordan Flake mendapatkan saran dari pramugari untuk membeli produk krim kulit dan pakaian baru karena ia beserta anaknya harus menginap di hotel selama satu malam sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan pada keesokan harinya. Dengan kata lain, pramugari yang identitasnya tidak dibongkar tersebut sudah mengusir Jordan Flake beserta anaknya dari penerbangan American Airlines.

“Saya tidak pernah merasa sesadar ini dan malu terhadap kondisi kulit yang harus saya turunkan kepada anak saya ini,” tulis Jordan Flake dalam blog LoveWhatMatters.com.

“Saya seharusnya tidak merasa malu pada kondisi turunan ini,” tandasnya.

Baca Juga: Melahirkan di Dalam Pesawat, Antara Jaminan Terbang Gratis dan Isu Kewarganegaraan

Menanggapi kejadian ini, pihak American Airlines meminta maaf atas ketidaknyamanan yang menimpa Jordan Flake dan menempatkan dirinya di First Class ketika perjalanan pulang menuju South Carolina.

“Kami meminta maaf atas ketidaknyamanan yang menimpa Jordan Flake pada penerbangannya Kamis (28/2/2019) lalu. Kami akan mengembalikan biaya perjalanan Jordan Flake secara penuh, dan kami berjanji untuk mengusut kasus ini sampai tuntas.” ujar salah seorang juru bicara dari American Airlines.

Sebenarnya, putusan petugas untuk mengeluarkan penumpang dari sebuah penerbangan ini merupakan hal yang sangat legal, karena pada dasarnya kru kabin harus menjaga kondisi penerbangan tersebut tetap kondusif dan tidak membahayakan penumpang lain.