Ayo Buruan Daftar Uji Coba Gratis MRT Jakarta, Kuota Tersisa Hanya untuk 193.252 Orang!

Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta akan mulai diuji coba untuk publik pada 12 Maret 2019 mendatang. Uji coba ini disambut antusias oleh masyarakat saat registrasi online mulai dibuka kemarin, 5 Maret dan akan ditutup pada 23 Maret 2019. Staf PT MRT Jakarta bekerja sejak pukul 10.00 hingga 19.00 WIB untuk menyeleksi dan memilah ribuan para pemohon uji coba MRT, meski resgistrasi dapat dilakukan 24 jam lewat online di http://www.ayocobamrtj.com.

Baca juga: Siap Layani Penumpang, PT MRT Jakarta Kerahkan 3 Shift Karyawan di Setiap Stasiun

Dan sehari pasca regsitasi online dibuka, PT MRT Jakarta memberikan paparan tentang animo peserta. Dalam siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (66/3/2019), disebutkan sudah 92.348 orang yang telah melakukan pendaftaran. Bisa dikatakan, antusias ini hampir menyentuh setengah dari kuota 285.600 orang, dengan pertingan ujo coba dilakukan pada 12 hingga 24 Maret 2019. Dalam websitenya, pendaftaran dibagi menjadi dua yakni untuk reguler dan penyandang disabilitas.

“Saat ini sudah ada 92.348 orang yang mendaftar dan ini dari total kuota publik yang kita buka dari 12-24 Maret. Ini artinya tinggal tersisa sebanyak 193.252 orang lagi,” kata Corporate Secretary Division Head MRT Jakarta, Muhamad Kamaluddin melalui keterangan tertulis yang diterima KabarPenumpang.com, Selasa (5/3/2019).

Dari data yang didapat melalui hasil pendaftaran online ini, Kamaludin mengatakan mayoritas memilih stasiun keberangkatan MRT dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) sebanyak 25 ribu orang dan Stasiun Lebak Bulus sebanyak 19 ribu orang. Sedangkan untuk hari keberangkatan sendiri pilihan terbanyak di hari Sabtu 16 Maret 2019 yang mencapai 19 ribu orang dan Minggu 17 Maret 2019 dengan 22 ribu orang.

“Pemberlakukan kuota ini dengan mempertimbangkan kenyamanan, keamanan dan keselamatan masyarakat yang berpartisipasi dalam uji coba ini dan PT MRT Jakarta memiliki kewenangan dalam mengatur jumlah kuota berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan,” ujar Kamaludin.

Dia berharap, melalui uji coba tersebut masyarakat bisa merasakan pengalaman awal sebelum MRT Jakarta beroperasi secara komersial dan dapat menjadi masukan bagi MRT Jakarta untuk meningkatkan kualitas layanan. Kehadiran MRT Jakarta sendiri nantinya tidak hanya akan meningkatkan mobilitas masyarakat, tetapi juga memberikan manfaat tambahan seperti perbaikan kualitas udara dan mendorong perubahan gaya hidup masyarakat ibukota dengan beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum.

Untuk diketahui, pada uji coba untuk masyarakat ini, kereta MRT Jakarta yang akan dioperasikan ada tujuh dan satu cadangan. Uji coba akan berlangsung mulai pukul 08.00-16.00 dengan total perjalanan per harinya 98.

Penumpang yang akan naik per harinya akan berbeda-beda yakni pada 12 Maret sebanyak empat ribu orang, 13 Maret delapan ribu orang, 14 Maret 12 ribu orang, 15 Maret 16 ribu orang, 16 Maret 20 ribu orang dan 17 Maret 20 ribu orang. Untuk tanggal 18 hingga 24 Maret, MRT Jakarta menargetkan akan mengangkut penumpang sebangak 28.800 orang per harinya.

Baca juga: Jamin Kelancaran Saat Uji Coba Gratis, PT MRT Jakarta Berlakukan Kuota Penumpang Per Hari

Sehingga bila di total dari 12 hingga 24 Maret MRT Jakarta akan mengangkut 285.600 orang. Nantinya penumpang yang tiba di stasiun harus menunjukkan QR Code kepada petugas stasiun dan akan mendapat stiker yang disesuaikan dengan waktu kedatangan. Warna merah pukul 08.00-10.00, biru pukul 10.00-12.00, kuning pukul 12.00-14.00 dan hijau pukul 14.00-16.00.

Selain Manjakan Penumpang, Layanan Virtual Reality Buka Peluang Peningkatan Laba Maskapai

Perkembangan zaman yang semakin menggiring setiap orang untuk jadi pribadi yang serba digital ternyata dapat dimanfaatkan oleh sejumlah sektor usaha guna meraup keuntungan lebih dalam lagi, seperti digitalisasi di pasar aviasi global ini tidak hanya menyasar zona pengoperasian saja, melainkan juga di sistem hiburan untuk penumpang (in-flight entertainment/IFE). Salah satu digitalisasi yang kini tengah ramai diperbincangkan adalah adopsi teknologi Virtual Reality (VR).

Baca Juga: Virtual dan Augmented Reality Ubah Pengalaman Penumpang di Udara

Perusahaan periset pasar yang bermarkas di San Antonio, Texas, Amerika Serikat, Frost & Sullivan menganalisis bahwa investasi di IFE akan meningkatkan dividen yang cukup signifikan bagi maskapai penumpang. Bagi mereka yang berada di luar industri, peningkatan sistem hiburan VR ke dalam penerbangan mungkin tampak seperti pengeluaran modal yang signifikan, tapi pada kenyataannya, itu jauh lebih murah ketimbang meningkatkan sistem IFE seatback yang ada.

Lalu, poin-poin apa saja yang dapat meningkatkan dividen maskapai pengguna IFE berbasis VR ini? Berikut KabarPenumpang.com himpun sejumlah keuntungan, sebagaimana yang dikutip dari laman techwireasia.com (27/2/2019).

Meningkatkan Kepuasan Pelanggan
Jika penumpang sudah puas dengan pelayanan prima dari sebuah maskapai, maka bukan tidak mungkin jika ia akan kembali menggunakan layanan tersebut bersama dengan kerabat terdekat dan keluarganya. Asa inilah yang tercipta jika sebuah maskapai menerapkan IFE berbasis VR, dimana seperti yang kita ketahui bersama, VR kini tengah naik daun dan digandrungi oleh berbagai kalangan.

Pendapatan Tambahan dari Penumpang “Baru”
Sebagaimana yang sudah disebutkan di atas, harapan yang tercipta ini akan terus diperjuangkan oleh pihak maskapai. Sudah bukan rahasia lagi jika pihak maskapai akan terus memperjuangkan margin keuntungan walaupun hanya setipis ‘kue wafer’. Dengan biasa pemasangan yang terbilang lebih hemat ketimbang IFE seatback biasa, maka sudah sewajarnya jika pihak maskapai akan terus memperjuangkan margin tersebut.

Baca Juga: Inilah Para Pengguna Augmented Reality di Industri Dirgantara

Pendapatan Tambahan dari Iklan
Jika ada sarana hiburan baru, maka sudah barang tentu ini akan menjadi celah baru bagi para pebisnis untuk memasangkan iklan produk mereka di sarana tersebut. Tinggal pihak maskapai menyeleksi saja, mana perusahaan yang berani mematok harga tinggi, mana yang tidak. Pendapatan tambahan lagi, bukan?

 

Pernah Gagalkan Pembajakan Singapore Airlines, Mantan Anggota Pasukan Khusus Kini Menjadi Biksu

Terjadi 28 tahun silam tepatnya 21 Maret 1991,  pesawat Singapore Airlines dengan nomor penerbangan SQ117 yang lepas landas dari Kuala Lumpur dibajak oleh empat orang pria asal Pakistan. Pesawat itu akhirnya mendarat darurat di Bandara Changi sekitar pukul 22.30 waktu setempat.

Baca juga: Pembajakan Pesawat Terlama, 39 Hari Kelam Penumpang El Al Flight 426

Empat pria pembajak menginginkan pesawat diisi bahan bakar dan terbang ke Sydney. Mereka juga membuat tuntutan untuk berbicara dengan Perdana Menteri Pakistan saat itu yakni Benazir Bhutto agar membebaskan sejumlah orang yang ditahan. KabarPenumpang.com merangkum dari laman channelnewsasia.com (3/3/2019), setelah negosiasi terjadi dini hari keesokan harinya, para pembajak mulai tak sabar dan mengancam akan membunuh sandera.

Kemudian pihak berwenang memberikan sinyal bagi pasukan elite Singapura (SOF/Special Operation Force) untuk menyerbu pesawat dan menyelamatkan sandera. Seorang anggota pasukan khusus Fred Cheong adalah bagian dari tim tersebut.

“Ketika saatnya tiba, bagi saya hanya ‘lakukan saja’. Tidak ada pikiran lain,” kata Cehong. Sebagai pasukan komando, Cheong beserta semua rekan timnya sudah mempelajari desain interior tata letak kursi di pesawat tersebut. Pada hari H, mereka mulai mendekati Airbus A310 dan melakukan operasi tersebut seperti pada latihan.

“Anda telah melatih pikiran untuk beroperasi di bawah tekanan. Sasaran harus terlihat jelas, menembak tepat pada sasaran, dan mari kita lakukan,” katanya. Pada pukul 06.50 pagi, pasukan komando menyerbu pesawat dan berteriak agar penumpang turun serta menembak para pembajak hingga tewas.

Aksi Cheong dan tim pada momen penyerbuan ikut mengangkat pamor angkata bersenjatab Singapura di mata dunia.

Di usia 18 tahun, Cheong masuk dinas militer Singapura pada tahun 1982. Dia berpikir masuk militer tidaklah salah setelah melihat teman-teman seperjuangannya melakukan hal yang sama.

Hingga akhirnya tahun 2013 lalu, Cheong mengakhiri tugas militernya dan pensiun kemudian ikut dalam pelajaran di Pusat Buddha Amitbha di Geylang karena dirinya seorang Buddhis. Dia terbiasa bangun pukul 04.00 pagi saat menjadi seorang anggota militer untuk berdoa sebelum berangkat bertugas.

Cheong kini memiliki nama baru Yang Mulia Tenzin Drachom yang diberikan Dalai Lama atas pengakuan karirnya di militer selama 32 tahun. Dia menjadi biksu pada 27 September setelah terbang ke Dharamsala, India untuk ditahbiskan.

“Itu menandai awal yang sangat baru bagi saya, awal kehidupan spiritual. Kerasnya biksu, ketika tujuannya adalah untuk menyingkirkan pikiranmu dari gangguan duniawi melalui doa dan meditasi yang terus-menerus,” ujar Cheong.

Menurutnya ada persamaan antara menjadi seorang biarawan dan berada di militer, yakni sama-sama membutuhkan kedisplinan. Salah satunya adalah kesadaran akan musuh dan situasi sedangkan yang lainnya adalah kesadaran akan emosi negatif yang menyebabkan kondisi pikiran yang tidak menyenangkan menjadi lazim bagi semua orang. “Di militer, saya menghancurkan musuh di luar. Sekarang saya menghancurkan musuh di dalam diri,” jelasnya.

“Ada sedikit transisi, maka Anda mengerti bahwa ini adalah kesempatan yang fantastis dan sangat langka untuk berlatih. Itu hanya transit dari prajurit militer ke prajurit spiritual,” ujar Cehong.

Baca juga: Saat Terjadi Pembajakan, Inilah Sinyal Rahasia Yang Dapat Dikirimkan Oleh Pilot

Sebagai seorang biksu, Drachom mengatakan dia merindukan beberapa bagian dari pekerjaan lamanya, terutama interaksi sehari-harinya, seperti berbicara dengan para kadet.

Meski begitu, dia tidak benar-benar menyesal. “Satu-satunya penyesalan saya adalah saya hanya memiliki satu kehidupan untuk melayani negara sayai.”

Goyang Pasar Wide-Body, Boeing Siap Luncurkan 777X 13 Maret 2019

Salah satu peluncuran ‘burung besi’ yang paling dinanti-nantikan dalam sejarah penerbangan baru-baru ini akan terjadi pada 13 Maret 2019 mendatang ketika Boeing meluncurkan pesawat double-jet raksasa – 777X. Tanggal tersebut diketahui dari sebuah cuitan yang ditulis pihak Boeing dalam akun jejaring sosial Twitter miliknya. Sesuai jadwal 777X akan terbang perdana pada 2019, dan akan diserahkan ke kustomer mulai 2020.

Baca Juga: Kolaborasikan Tenaga Manusia dan Robot, Boeing 777X Siap Mengudara di 2020

Sebagaimana yang sudah diketahui bersama, Boeing 777X terbagi ke dalam dua varian; 777-8 dan 777-9. Di antara kedua varian ini, Boeing adapun varian 777-9 yang akan terlebih dahulu diluncurkan, menyusul 777-8. Memiliki kapasitas 400 bangku untuk Boeing 777-9 dan 350 bangku di Boeing 777-8, kedua varian ini mampu menembus jangkauan lebih dari 17.220 km. Tapi tahukah Anda siapa yang jadi ‘dalang’ di balik perakitan Boeing 777X ini?

KabarPenumpang.com mengutip dari laman airlineratings.com (5/3/2019), bukan pimpinan Boeing yang ternyata menjadi kekuatan pendorong di balik 777X ini, melainkan Presiden Emirates, Sir Tim Clark. Di sini, Emirates telah mencantumkan diri sebagai pembeli utama varian ini dengan total pesanan 150 unit. Mungkin hal ini juga yang melatarbelakangi pembatalan pesanan Emirates terhadap super-jumbo jet, Airbus A380.

“Ini (Boeing 777X) amat baik, dan itu sifatnya absolut,” ujar Sir Tim Clark.

Satu poin yang membuat Sir Tim Clark memuji Boeing 777X ini adalah karena nilai ekonomis dan ruang kabin yang lebih besar. Dikabarkan Boeing 777X lebih efisien 20 persen per-bangku ketimbang saudara tuanya, Boeing 777-300ER. 777X juga memiliki ruang kabin yang lebih besar dengan ukuran jendela yang juga diperbesar. Boeing 777X menggabungkan fitur terbaik dari 777 saat ini dengan badan pesawat yang lebih panjang, mesin baru dan desain sayap komposit dari Boeing 787.

Baca Juga: Wow! Mesin Boeing 777X Lebih Besar dari Body 737

Adapun maskapai lain yang juga telah mencatatkan diri dalam daftar pesanan Boeing 777X adalah Lufthansa, Etihad Airways, Qatar Airways, Singapore Airlines, Cathay Pacific Airways, All Nippon Airlines, dan British Airways.

Alih-alih bersaing, kali ini Boeing dan rival utamanya, Airbus sama-sama sepakat untuk tetap berusaha mengikuti kemauan para maskapai, “atau paling tidak mendekati permintaan tersebut,”

 

Tak Perlu Make Up, Kini Pramugari Virgin Atlantic Bisa Tampil Natural

Awak kabin pria memang tak pernah menggunakan riasan atau make up dalam pekerjaannya dalam penerbangan. Namun bagaimana bila hal tersebut dilakukan para pramugari yang akan melayani penumpang tetapi tidak memakai make up sama sekali?

Baca juga: Aturan dan Etika Tata Rias Awak Kabin Masih Mengacu Ke Standar Era 60-an

KabarPenumpang.com melansir dari laman fastcompany.com (4/3/2019), baru-baru ini Virgin Atlantic telah memutuskan untuk membuat beberapa perubahan dalam kebijakan penataan dan perawatan yang memungkinkan lebih banyak pilihan bagi para pramugarinya. Seorang perwakilan untuk Virgin Atlantic mengatakan, pramugari tak lagi diharuskan memakai riasan saat bekerja.

“Dalam perubahan signifikan untuk industri penerbangan, awak kabin perempuan kami tidak lagi diharuskan memakai riasan apa pun, jika mereka memilihnya,” ujar juru bicara itu.

Tetapi Virgin Atlantic tetap memperbolehkan pramugari mereka bila tetap menggunakan lipstik, bedak dan riasan lainnya yang ditetapkan oleh maskapai dalam panduannya. Bila dikatakan, menggunakan riasan sudah terlampau lama dengan kemudian mengaplikasikan semuanya di wajah. Hal itu bisa memakan waktu dan uang lebih banyak dibandingkan awak kabin pria.

Tak hanya itu, dengan sebuah riasan dalam panduan yang seharusnya, bisa membuat pramugari menjadi incaran yang potensial dalam pelecahan di kabin.

“Kami telah mendengarkan pandangan orang-orang dan sebagai hasilnya telah mengumumkan beberapa perubahan pada kebijakan gaya dan penampilan pada awak pesawat,” ujar Mark Anderson, Wakil pPresiden Eksekutif Layanan Pelanggan Virgin Atlantic.

“Tidak hanya pedoman baru ini menawarkan tingkat kenyamanan, mereka juga memberi tim kami lebih banyak pilihan tentang bagaimana mereka ingin mengekspresikan diri di tempat kerja. Membantu orang menjadi diri sendiri adalah inti dari keinginan kami untuk membentuk karakrer perusahaan ini.”

Tak hanya memperbolehkan pramugarinya tanpa riasan, Virgin Atlantic juga mengonfirmasi bahwa celana panjang bisa digunakan sebagai opsi seragam standar saat bergabung dengan kru. Celana panjang selalu bisa digunakan pramugari daripada menawarkannya hanya atas permintaan.

Baca juga: Kerap Alami Pelecehan, Cathay Pacific Bakal Ganti Seragam Awak Kabin

Sebelumnya, lipstik merah, maskara hitam atau coklat, eye shadow dalam nuansa netral, coklat dan abu-abu wajib digunakan sebagai pedoman tata rias. Untuk diketahui, kebijakan riasan wajah baru akan berlaku sekarang, dan celana panjang akan diberikan kepada semua anggota kru mulai bulan Juli mendatang.

Stop Produksi di Awal 2019, Kapan Airbus A380 Pensiun Sepenuhnya?

Seperti diketahui, Airbus telah menghentikan produksi super-jumbo jet rakitannya, A380 pada awal tahun 2019 ini. Sebelumnya, raksasa manufaktur asal Benua Biru ini mendapatkan pembatalan pesanan dari sejumlah maskapai yang telah atau hendak menggunakan armada wide-body ini – mulai dari Qantas, Singapore Airlines, Etihad hingga pengguna terbesarnya, Emirates. Diprediksi, Airbus A380 terakhir diharapkan meninggalkan jalur perakitan pada tahun 2021 mendatang.

Baca Juga: Kendati Produksi Dihentikan, Airbus A380 Tetaplah Fenomenal

KabarPenumpang.com melansir dari laman simpleflying.com (4/3/2019), flag carrier Singapore Airlines bahkan sudah terlebih dahulu ‘mengandangkan’ A380 ketika sejumlah maskapai lain di luar sana masih menunggu kehadiran dari armada yang pertama kali mengudara pada tanggal 27 April 2005 ini. Sementara itu, kebijakan lain ditempuh oleh British Airways dimana maskapai ini malah berencana untuk membeli A380 bekas untuk menggantikan unit Boeing 747 yang sudah ‘lapuk’ termakan usia.

Lain cerita dengan Qatar yang mengumumkan bahwa mereka akan mulai mempensiunkan 10 unit armada A380-nya kelak ketika menyentuh angka 10 tahun pengoperasiannya – yaitu di tahun 2024 mendatang. Lalu Air France akan mempensiunkan setengah dari 10 armada A380 di akhir tahun 2019 ini, sementara 5 sisanya akan di upgrade dan dilepas di tahun 2020.

Dari beberapa contoh di atas, ini menandakan bahwa kendati sebagian maskapai lebih memilih untuk mengandangkan A380 mereka, namun masih ada permintaan terhadap A380 dari maskapai lain.

Jadi, kalau di luar sana ada pertanyaan, “kapan Airbus A380 benar-benar pensiun dari dunia kedirgantaraan global? Seyogyanya tidak ada jawaban yang benar-benar presisi untuk menjawab pertanyaan tersebut, karena semua ini bergantung dari masing-masing maskapai yang mengoperasikannya. Mengingat mereka memegang kendali penuh terhadap setiap armadanya – termasuk A380. Lepas dari itu, pasokan suku cadang pun masih tetap diproduksi oleh pihak Airbus.

Baca Juga: A380 ‘Terancam Punah,’ Benarkah Airbus Salah Langkah Hadapi Kedigdayaan Boeing?

Namun jika dilihat lagi dari segi penggunaan bahan bakar yang tidak sedikit dari A380 dimana ini akan berimplikasi langsung pada pembengkakkan biaya operasional, juga dari suku cadang yang kelak akan semakin sulit dicari, maka dua faktor ini sudah lebih dari cukup untuk mempensiunkan Airbus A380 lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

 

YLKI Minta Pemerintah Hilangkan Bilik Rokok di Dalam Bus AKAP

Sebagai bagian dari fasilitas, bus antar kota antar provinsi (AKAP) tak sedikit yang dilengkapi dengan bilik khusus merokok. Kehadirannya sendiri di bus AKAP guna memudahkan penumpang yang merokok dan agar tidak mengganggu penumpang lainnya yang tidak merokok. Selain itu membebaskan penumpang dari penumpang dari risiko sebagai perokok pasif.

Baca juga: Masih Adakah Bilik Rokok di Dalam Bus?

Namun, kehadiran bilik merokok sendiri tidak menutup kemungkinan penumpang lainnya bisa mencium dan menghirup asap rokok. Biasanya hal ini terjadi karena sekat untuk bilik tidak terpasang dengan benar dan pintu pemisah rusak serta belum diperbaiki oleh agen atau PO bus itu. Baru-baru ini Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyoroti ketersediaan fasilitas bilik rokok tersebut.

Pasalnya, YLKI mendapat masukan, keluhan dan menjumpai secara langsung bilik rokok dalam bus AKAP, ironisnya hal itu terdapat dalam bus DAMRI dan Bus Trans Jawa. Tak hanya itu, pihak YLKI pun melihat, sebagai pengguna angkutan umum, khususnya bus AKAP dimana konsumen atau penumpang berhak mendapat keamanan, keselamatan dan kenyamanan selama menggunakannya.

Ketua pengurus harian YLKI Tulus Abadi mengatakan, keberadaan bilik atau area merokok dalam bus adalah anti regulasi karena melanggar peraturan. Dia menyebutkan dalam Pasal 115 Undang-undang No.36/2009 tentang Kesehatan, menyebutkan bahwa angkutan umum adalah Kawasan Tanpa Rokok dan dilarang keras ada area merokok. Ketentuan ini juga ada dalam PP No.109/2012 tentang pengamanan rokok sebagai zat adiktif.

YLKI sendiri meminta Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Republik Indonesia untuk melarang atau membatalkan ruang merokok di semua bus AKAP. Selain itu juga mematuhi regulasi yakni UU tentang kesehatan dan PP No.109/2012.

“Contohlah PT KAI yang sukses dan konsisten menerapkan kereta api tanpa rokok, selama dalam perjalanannya. Tak kenal KA jarak pendek, atau KA jarak jauh,” ujar Tulus yang dikutip KabarPenumpang.com dari liputan6.com (23/2/2019).

Tulus meminta semua pihak untuk konsisten dalam melindungi konsumen atau penumpang yang tidak merokok, terbebas dari kontaminasi racun asap rokok baik langsung atau tidak langsung.

“Lagipula, armada bus yang akan cepat kumuh, kumal dan lebih cepat menjadi bus rongsok akibat dampak asap rokok dari bilik merokok itu. Salah-salah armada bus terbakar oleh perilaku merokok penumpang yang acap teledor dan sembrono,” tutupnya.

Sebenarnya beberapa bus antar kota yang berseliweran di DKI masih memiliki ruang khusus merokok hingga tahun 2014 lalu. Namun, semenjak adanya Peraturan Daerah Propinsi DKI Jakarta No.5/2014 mengenai transportasi, bus antar kota tidak memiliki lagi areal ruang merokok di dalamnya.

Baca juga: Berani Langgar Aturan, Tak Ada Ampun Bagi Perokok di Dalam Kereta

Padahal, dalam bus antar kota yang berseliweran di DKI saat itu, ruangan khusus perokok sudah mendapat izin yang pasti dan segi keamanannya sudah diperhitungkan. Untuk larangan kawasan tanpa rokok sudah di atur dalam Peraturan Pemerintah No.13/2003 tentang pengamanan rokok bagi kesehatan, pada Pasal 22-25 terdapat peraturan Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Selain itu di UU No.36/2009 tentang kesehatan, pada Pasal 115 ayat 1 dan 2 tentang Kawasan Tanpa Rokok dan kewajiban Pemda menetapkan

Punya Kinerja yang Menggiurkan, AirAsia Indonesia Berniat Akuisisi Citilink

Benarkah PT AirAsia Indonesia akan mengakuisisi Citilink Indonesia? Kemudian apa yang melatarbelakangi maskapai asal Malaysia ini ingin mengakuisisi anak perusahaan PT Garuda Indonesia tersebut?

Baca juga: Citilink Gunakan ATR 72-600 untuk Rute Bandung dan Lampung

Awalnya AirAsia Indonesia memiliki rencana mengakuisisi maskapai hijau ini sebagai bagian rencana kerja sama operasi (KSO) dengan Garuda Indonesia dan bisa terwujud jika maskapai plat merah tersebut melepasnya. Apalagi maskapai berbiaya hemat (LCC) Citilink memiliki tingkat keterisian atau load faktor 80 persen di tahun 2018 dan berlanjut hingga dua bulan pertama tahun 2019 ini.

Direktur Utama Citilink Indonesia, Juliandra Nurtjahjo mengatakan, tahun 2018 pihaknya mencapai kinerja yang postif, sehingga mereka optimis mencatatkan hasil positif di kuartal I tahun 2019 yang merupakan kuartal lemah.

“Citilink sudah menerbangkan 15 juta penumpang selama tahun 2018 dan ini naik 22 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 12,3 juta penumpang,” ujar Juliandra yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber.

Bahkan Juliandra menyampaikan, untuk tahun 2019 ini, Citilink sendiri optimis mampu mencapai target pengangkutan 18 juta penumpang hingga akhir tahun. Citilink juga meningkatkan pertumbuhan volume produksinyaa sebesar 17 persen di 2018 dibandingkan 2017 lalu.

Hasil data dari Center for Aviation (CAPA) menyebutkan, Citilink adalah maskapai LCC terbesar kedua di Indonesia yang memiliki armada sebanyak 61 pesawat. Sedangkan tingkat ketepatan waktu penerbangan atau OTP untuk Januari-Februari 2019 sudah tercatat 91,7 persen.

“Kami di tahun 2019 ini telah membuka berbagai rute internasional lainnya di Asia maupun domestik. Tak hanya itu pesawat ATR yang dioperasikan milik Garuda Indonesia juga membuka dua rute domestik yakni Tanjungkarang-Halim dan Bandung-Halim,” jelasnya.

Nantinya 17 pesawat ATR akan dioperasikan Citilink sehingga akan ada rute-rute baru dibuka. Terkait akuisisi yang akan dilakukan AirAsia, Juliandra belum menanggapiya dan dari hasil laporan keuangan PT Garuda Indonesia, per September tercatat kepemilikian Garuda di Citilink sendiri mencapai 99,9 persen.

Baca juga: Horee! Garuda Indonesia, Citilink dan Sriwijaya Air Turunkan Harga Tiket 20 Persen di Semua Rute

“Belum ada arahan dari pemegang saham Citilink, baik Garuda Indonesia maupun Kementerian BUMN untuk menggandeng partner strategis dalam pengembangan usaha untuk rencana jangka panjang,” tutur Juliandra.

Untuk market share, di banding maskapai domestik lainnya, Citilink mencatatkan market share tertinggi kedua di kelas LCC yaitu sebesar 14,29 persen pada tahun 2018. Jumlah ini meningkat dari tahun 2017 sebesar 12,62 persen. Sedangkan pangsa pasar Garuda turun menjadi 26,9 persen dari 2017 sebesar 29 persen.

Startup Asal Australia Canangkan Perakitan Wahana Transportasi ‘Dua Alam’

Era mobil terbang kini siap untuk merebut ceruk pasar mobil konvensional. Menawarkan kemudahan bermobilisasi tanpa harus terkena macet di jalan, plus penggunaan tenaga listrik yang dinilai jauh lebih ‘bersahabat dengan alam’ ketimbang bahan bakar fosil – sudah barang tentu kendaraan semacam ini seolah memberikan tawaran yang menggiurkan bagi setiap orang yang sudah penat dengan kemacetan dan polusi udara yang semakin menjadi belakangan ini.

Baca Juga: BlackFly, Moda VTOL Personal dengan Fleksibilitas Tinggi

Seolah enggan kehilangan momen yang sedang ramai dibicarakan ini, sebuah startup asal Australia, Macchina Volantis mengumumkan kesiapan dirinya untuk turun dalam persaingan menghadirkan moda Vertical Take Off Landing (VTOL). Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (28/2/2019), sebenarnya kendaraan semacam ini mirip dengan apa yang tengah dikembangkan oleh Airbus, dimana moda ini memiliki kapasitas untuk lima penumpang dengna masing-masing bagasi yang diperbolehkan untuk masuk ke dalam adalah 25 kg.

Moda yang bisa merangkap juga sebagai mobil ini tidak terlalu unggul di darat, karena hanya mampu mencapai kecepatan maksimum 60 km per jam saja. Kendati begitu, Stephen Fries selaku CEO dari Macchina Volantis mengaku bahwa kendaraan ini memiliki keunggulan di jalur udara, bukan di darat.

“Ini seperti problem fixer, saya sudah benar-benar muak dengan kondisi lalu lintas darat yang sudah carut-marut,” ujar Stephen.

Ketika menjadi moda darat, kendaraan rancangan Stephen ini bisa dibilang cukup ringkas, karena bisa masuk ke dalam garasi atau tempat parkir yang sempit. Namun akan berbeda cerita ketika moda ini berubah menjadi moda udara, dimana sebuah sayap akan mengembang dari bagian atas moda dan siap untuk mengudara.

Di setiap ujung kendaraan memilliki baling-baling yang memiliki dua motor listrik dengan kapasitas 60-kilowatt (80 hp). Setiap motor mendapatkan paket baterai sendiri untuk redundansi.

Baca Juga: Kembangkan Wahana VTOL, Uber Gandeng NASA dan Angkatan Darat AS

Ketika moda ini sudah mulai mengudara, Anda akan bergerak maju dengan kecepatan mencapai 65 knot. Mengingat Stephen terinspirasi dari pesawat terbang yang memiliki kecepatan jelajah 150 knot (278 km per jam) dan jangkauan lebih dari 1.000 mil ( 1.600 km), maka Stephen mengaplikasikan tangki bahan bakar diesel berkapasitas 100 liter agar moda ini bisa menjelajah lebih jauh daripada moda serupa yang tengah dimatangkan oleh perusahaan lain.

Mengenai tanggal perilisannya, Stephen enggan berkomentar lebih jauh dan dirinya mengaku tengah mematangkan konsep mobil terbangnya ini sehingga mampu menguasai ceruk pasar di masa yang akan datang.

Pasca Duel Udara dengan India, Pakistan Mulai Buka Blokade Udara Secara Terbatas

Pada 27 Februari lalu telah terjadi ketegangan tingkat tinggi antara Pakistan dan India, pangkal musababnya adalah terjadinya duel udara jarak dekat (dogfight) antara jet tempur kedua negara di atas langsit Kashmir. Beberapa jet tempur dari Pakistan dan India dilaporkan berhasil ditembak jatuh dalam peristiwa tersebut.

Baca Juga: Ilan and Asaf Ramon International Airport, Bandara Terbaru di Israel Yang Serba Unggul

Buntut dari duel di udara tersebut langsung berimbas pada penerbangan sipil. Seperti Pakistan yang melakukan blokade udara pasca insiden tersebut. Akibat bloade udara, maka beberapa penerbangan sipil mengalami hambatan untuk pergi dan datang ke Pakistan.

Dan setelah selang seminggu, akhirnya Pakistan telah membuka kembali wilayah udaranya untuk sementara waktu agar sejumlah maskapai dapat melayani penerbangannya kembali dari dan menuju Arab Saudi dan UEA. Sementara itu, flag carrier mereka, Pakistan International Airlines (PIA) yang sebelumnya mengumumkan tentang penutupan rute udara ini, mengkonfirmasi bahwa jalur udara Pakistan akan dibuka sementara untuk Arab Saudi dan UEA berdasarkan “prioritas”.

Merespon hal tersebut, regulator penerbangan Uni Emirat Arab (UEA) dikabarkan telah mencabut sebagian larangan penerbangannya menuju Pakistan. Dengan diberlakukannya putusan ini, maka akan memungkinkan maskapai penerbangan nasional untuk melanjutkan penerbangan menuju Karachi, Islamabad dan Peshawar. General Civil Aviation Authority (GCAA) UEA mengatakan keputusan itu mengikuti stabilitas di wilayah udara Pakistan.

“Situasi mengenai bandara Pakistan lainnya akan ditinjau kemudian hari,” tutur GCAA, seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman thenational.ae (2/3/2019).

Sementara itu, salah satu maskapai yang melayani rute penerabangan tersebut, Emirates menyampaikan dalam sebuah pernyataan tertulis, “Penerbangan dari dan menuju Karachi, Islamabad, dan Peshawar tidak lagi terpengaruh oleh penutupan (rute penerbangan),”

Sebelumnya, penerbangan Emirates di rute Sialkot – Lahore mengalami pembatalan mengudara pada Senin (4/3/2019), dimana hal ini menjadi salah satu contoh dampak dari pelarangan mengudara tersebut.

Lain cerita dengan maskapai asal Timur Tengah lainnya, Etihad Airways. Maskapai yang berbasis di Khalifa City, Abu Dhabi ini mengatakan bahwa akan meningkatkan load factor dengan cara menggunakan pesawat yang lebih besar di semua rute penerbangannya menuju Pakistan – kecuali Lahore. Hal ini ditempuh pihak maskapai agar mereka dapat mengakomodasi penumpang yang sebelumnya terdampak ‘isolasi’ wilayah udara Pakistan ini. Menurut laman resmi Etihad, layanan penerbangan menuju Lahore dibatalkan hingga tanggal 3 Maret 2019 kemarin.

Baca Juga: Berdasarkan Indeks Keamanan, Inilah 10 Negara Teraman Untuk Dikunjungi

Dalam sebuah cuitannya di jejaring sosial Twitter, PIA mengatakan: “PIA telah memutuskan untuk mengembalikan beberapa penerbangan dari Arab Saudi dan UEA berdasarkan pembukaan sementara batas maskapai Pakistan.” Adapun kicauan tersebut mencantumkan tiga penerbangan dari Jeddah, Madinah, dan Dubai yang terbang ke Karachi.