Setelah Indonesia, Otoritas Penerbangan Singapura Resmi Temporary Grounded Boeing 737 MAX 8

Tak berselang lama setelah keputusan yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terkait temporary grounded armada Boeing 737 MAX 8 di Indonesia, maka hari ini (12/3/2019), Otoritas Penerbangan Sipil Singapura – Civil Aviation Authority of Singapore (CAAS) juga mengeluarkan keputusan yang sama. Keputusan tersebut didasari dua kecelakaan yang melibatkan Boeing 737 MAX 8 dalam waktu berdekatan, yakni yang menimpa Ethiopian Airlines ET302 dan Lion Air JT610.

Baca juga: Lakukan Inspeksi, Kemenhub Resmi Berlakukan Temporary Grounded Pada Boeing 737 MAX 8

Dikutip KabarPenumpang.com dari channelnewsasia.com, disebutkan keputusan temporary grounded atau temporarily suspending operation pada Boeing 737 MAX 8 resmi diberlakukan mulai Selasa, 12 Maret 2019, terhitung sejak pukul 14.00 waktu setempat. Populasi Boeing 737 MAX 8 di Singapura memang tak sebanyak di Indonesia. Di Negara Kota tersebut hanya SilkAir yang mengoperasikan 6 unit Boeing 737 MAX.

Seperti halnya langkah yang dilakukan di Indonesia, CAAS juga akan melakukan serangkaian inspeksi dan me-review berbagai aspek keselamatan pada pesawat. Namun berbeda dengan Garuda Indonesia dan Lion Air yang menyatakan temporary grounded tidak berpengaruh pada layanan dan jadwal penerbangan, maka SilkAir menyatakan grounded akan berpengaruh langsung pada jadwal penerbangan.

Dalam keterangan resmi di akun Facebook, pihak SilkAir menjelaskan bahwa penarikan 737 MAX 8 dari layanan akan berdampak pada beberapa jadwal penerbangan. Untuk itu pelanggan yang terkena gangguan penerbangan akan dihubungi untuk kompensasi atau penjadwalan penerbangan ulang. Selain keenam Boeing 737 MAX 8, SilkAir saat ini mengopersikan 17 unit 737-800NG.

Baca juga: Pasca Temporary Grounded Boeing 737 MAX 8, Lion Air dan Garuda Indonesia Nyatakan Jadwal Penerbangan Tidak Terganggu

Selain Lion Air, Garuda Indonesia dan SilkAir, maskapai pengguna Boeing 737 MAX 8 diantaranya adalah Air Canada, Air China, American Airlines, China Eastern Airlines, China Southern Airlines, Ethiopian Airlines, Flydubai, Jet Airways, Southwest Airlines dan Turkish Airlines.

Festival Ngopi Bareng KAI Jilid 3, Ajang Ngopi Gratis Sekaligus Edukasi Tentang Kopi

Terhitung sejak Senin (11/3/2019) kemarin dan Selasa (12/3/2019), PT KAI Daop 6 Yogyakarta membagikan 10 ribu gelas kopi gratis di Stasiun Tugu Yogyakarta dan Solo Balapan. Aksi itu merupakan bagian dari bagi-bagi 50 ribu gelas kopi secara cuma-cuma yang dilakukan PT KAI di seluruh Indonesia. Di Stasiun Tugu sendiri, ada sekitar 30 stand yang menyediakan kopi gratis selama Festival Ngopi Bareng KAI Jilid 3 dyang dihelat pada tanggal 11-12 Maret 2019.

Baca Juga: Apresiasi Petani Kopi, PT KAI Bagi-Bagi Kopi Gratis!

Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, kepala PT KAI Daop 6 Yogyakarta, Eko Purwanto, mengatakan bahwa festival ini merupakan agenda tahunan yang digelar oleh PT KAI. Tahun ini, sebanyak 50 ribu gelas kopi dibagikan secara cuma-cuma di 17 stasiun di 15 kota. Adapun 10 ribu kopi gratis itu dibagi di Stasiun Tugu Yogyakarta dengan jatah 7.500 gelas dan Stasiun Solo 2.500 gelas.

Dijelaskannya, Festival Ngopi Bareng KAI Jilid 3 terselenggara berkat kerjasama PT KAI dengan Komunitas Kopi Nusantara. Setidaknya ada 200 barista lokal yang terlibat, dengan 30 barista meramu di Stasiun Tugu. Untuk bisa menikmati kopi-kopi berkualitas ini, para pengunjung hanya cukup menunjukkan aplikasi KAI Access yang sudah diunduh di gadget mereka.

“Tujuan festival ini ikut mendorong produk kopi lokal. Ini (disebut) ngopi kebangsaan bisa juga, ngopi bareng, (ngopi) dengan santai, rileks dan gembira. Sehingga meningkatkan rasa persaudaraan di antara kita,” tambah Eko.

Sumber: detik.com

Nah, di sisi para barista yang menyuguhkan kopi ini sendiri, mereka memiliki pandangan lain tentang dihelatnya festival semacam ini. Adalah Bagas Sunu, salah seorang barista kawakan di Yogyakarta dan juga salah satu anggota dari Komunitas Kopi Nusantara mengaku senang menyambut Festival Ngopi Bareng KAI Jilid 3 ini.

Menurutnya, ini merupakan kesempatan bagi para anggota komunitas untuk tidak hanya membagikan kopi kepada para pendatang, melainkan juga sebagai ajang untuk menyalurkan berbagai pengetahuan mereka di bidang kopi.

“Karena di acara ini kami bergandengan dengan BUMN, jadinya seperti simbiosis mutualisme. Para anggota Komunitas Kopi Nusantara dapat stimultant event, sementara untuk KAI sendiri dapat para barista yang siap menyajikan kopi,” ujar Bagas kepada KabarPenumpang.com.

“Bagi kami (Komunitas Kopi Nusantara), yang terpenting itu bukan hanya menyajikan kopi kepada para pengunjung, melainkan edukasi tentang segala hal yang berkaitan tentang kopi kepada para pengunjung. Edukasi kualitas kopi, cara nyeduh bahkan buat kopi di rumah, dan lain-lain,” tandasnya.

Baca Juga: Sepenggal Cerita dari Loko Coffee Shop Yogyakarta

Sebagai salah satu barista yang terjun langsung dalam acara ini, Bagas sendiri berharap agar acara semacam ini dapat lebih sering diadakan. Pasalnya, dengan diadakannya acara semacam ini, maka itu seolah menjadi gerbang untuk para anggota komunitas untuk menyadarkan masyarakat tentang menikmati kopi yang berkualitas dengan lebih mudah.

“Kalau dari komunitas pasti juga berharap yang terbaik untuk para anggotanya maupun masyarakat, apalagi acara semacam ini ada sangkut pautnya dengan keberlangsungan industri kopi nusantara.” Tutup Bagas.

 

Pasca Temporary Grounded Boeing 737 MAX 8, Lion Air dan Garuda Indonesia Nyatakan Jadwal Penerbangan Tidak Terganggu

Ethiopian Airlines yang mengoperasikan Boeing 737 MAX 8 baru saja mengalami kecelakaan kemarin serta menewaskan 157 orang didalamnya. Imbas dari musibah tersebut, Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan telah mengeluarkan surat penghentian sementara atau temporary grounded untuk semua maskapai yang mengoperasikan jenis pesawat Boeing 737 MAX 8.

Baca juga: Lakukan Inspeksi, Kemenhub Resmi Berlakukan Temporary Grounded Pada Boeing 737 MAX 8

Maskapai terbesar di Indonesia, Lion Air yang memiliki sepuluh pesawat Boeing 737 MAX 8 mau tak mau juga ikut terkena imbasnya dengan menghentikan pengoperasian sementara dari armada tersebut. Corporate Communications Strategic of Lion Air, Danang Mandala Prihantoro mengatakan, pihaknya mengikuti surat edaran tersebut untuk upaya memastikan keselamatan dan keamanan penerbangan.

“Kami punya sepuluh pesawat Boeing 737 MAX 8 dan kini harus menghentikan sementara sampai batas waktu yang ditentukan. Lion Air tidak mengalami gangguan, karena di sistem kami ada rotasi pengoperasian pesawat, sehingga sepuluh pesawat tadi digantikan dengan pesawat lainnya,” ujar Danang yang dihubungi KabarPenumpang.com, Selasa (12/3/2019).

Danang menambahkan, dengan rotasi ini tidak akan ada yang dirugikan baik penumpang maupun maskapai. Sebab Lion Air selalu melaksanakan budaya keselamatan dalam setiap operasional penerbangan dan akan meminimalisir dampak dari keputusan penghentian sementara Boeing 737 MAX 8 tersebut agar operasional penerbangan dapat berjalan dengan baik dan tidak terganggu.

Sama dengan Lion Air yang memiliki pesawat Boeing 737 MAX 8, Garuda Indonesia yang memiliki satu armada, melakukan inspeksi ekstra terhadap pesawat jenis itu.

“Sebagai provider jasa penerbangan yang turut mengoperasikan satu armada Boeing 737 Max 8, Garuda Indonesia secara berkelanjutan terus melaksanakan prosedur inspeksi ekstra serta pemeriksaan berkala lanjutan,” kata M Ikhsan Rosan, Vice President Corporate Secretary PT Garuda indonesia.

Ikhsan mengatakan, inspeksi ekstra tersebut adalah pemeriksaan fitur-fitur vital penunjang kelaikan armada seperti airspeed, altitude system, flight control system, hingga stall management system dengan catatan hasil inspeksi baik. Pihak Garuda juga melakukan training terhadap pilot secara rutin untuk melaksanakan proficiency check di simulator Boeing 737 MAX.

“Garuda Indonesia juga terus melaksanakan close review dan berkoordinasi intensif dan memberikan regular report sejak Oktober tahun lalu. Dengan regulator dalam hal ini Direktorat Jenderal Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU), dan memberikan saran dalam menyikapi adanya insiden penerbangan yang melibatkan armada Boeing 737 Max 8,” ujar Ikhsan.

Baca juga: Alvin Lie: Pemerintah Indonesia Sebaiknya Tidak Terbangkan Dulu Boeing 737 MAX 8

Terkait dengan keputusan Dirjen Pehubungan Udara Kemenhub, Ikhsan mengatakan Garuda Indonesia sebagai maskapai penerbangan nasional terus berupaya mengedepankan komitmen dan budaya safety dalam seluruh lini operasionalnya. Hal tersebut sejalan dengan value aspek “safety” sebagai “core” operasional perusahaan yang sudah tertanam dalam budaya kerja jajaran karyawan dan lini operasional Garuda Indonesia.

Penasaran dengan Arti Tanda Pangkat di Pundak Pilot? Ini Penjelasannya!

Bagi Anda yang kerap menyandarkan pilihan kepada pesawat ketika hendak menyambangi satu destinasi, pernahkah Anda berpapasan dengan seorang pilot? Bagi Anda yang belum pernah berpapasan dengan seorang pilot, ada baiknya Anda memperhatikan keseluruhan dari seragam yang dikenakan oleh juru kemudi pesawat tersebut dan menaruh fokus terhadap bar pangkat yang ada di pundak mereka. Tahukah Anda arti dari setiap garis pada pangkat yang disematkan di pundak para pilot tersebut?

Baca Juga: Inilah Penyebab Ketika Pilot Benar-Benar Kelelahan!

Alih-alih tanpa arti, ternyata setiap garis tersebut memiliki artinya masing-masing. Jika diperhatikan, ada empat jenis pangkat yang disematkan di pundak pilot, mulai dari yang bergaris satu hingga bergaris empat. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, untuk pilot yang memiliki satu garis di pangkat pundaknya itu disebut Cadet Pilot. Cadet Pilot sendiri biasanya adalah seorang co-pilot yang baru lulus dari sekolah penerbangan.

Nah, untuk pilot yang memiliki dua garis di pangkat pundaknya, ia berarti seorang Second Officer, dimana biasanya ia merupakan seorang kopilot yang sudah memiliki jam terbang lebih dari 150 jam terhitung sejak ia bergabung bersama suatu maskapai.

Lanjut ke pilot yang memiliki tiga garis di pangkat pundaknya. Mereka ada First Officer (FO), dimana untuk jenis ini, terbagi lagi ke dalam dua klasifikasi – Junior First Officer dan Senior First Officer. Tidak ada perbedaan yang terlalu menohok di antara dua pembagian ini, namun salah satu aspek yang membedakan keduanya adalah jam terbang, dimana yang senior memiliki jam terbang yang lebih tinggi ketimbang yang junior.

Lalu yang terakhir, ada Captain yang memiliki empat garis pada pangkat pundaknya. Dimana ia yang memegang tanggung jawab penuh terhadap suatu penerbangan.

Namun, patut Anda ingat, penjabaran di atas tidaklah mutlak digunakan oleh semua maskapai. Masing-masing maskapai memiliki ketentuannya sendiri dalam menggunakan garis-garis pangkat tersebut. Hal ini diungkapkan oleh Capt. Vincent Raditya dari maskapai Batik Air.

“Tentunya maskapai memiliki beda-beda porsinya antara setiap bar. Ambil contoh di tempat saya bekerja (Batik Air), untuk bar satu akan digunakan oleh kopilot dengan jam terbang mulai dari 0-500 jam. Nah, di atas 500 jam, maka mereka akan menggunakan bar dua. Sementara di atas 2500 jam mereka akan menggunakan bar tiga. Baru setelah mereka upgrading mereka menggunakan bar empat,” tutur Capt. Vincent melalui video yang diunggahnya ke akun Youtube pribadinya.

Baca Juga: Ketika Penerbangan Jarak Jauh, Apa Saja Sih Yang Dilakukan Pilot?

“Kalau maskapai luar negeri, tentunya ada juga yang menggunakan bar satu sebagai pramugaranya, ada pula yang mengenakan bar dua sebagai second officer, tapi ada pula yang co-pilot menggunakan bar satu. Semua bar tergantung dengan apa yang diberikan perusahaan tentang apa arti tanda pangkat tersebut. ada juga pilot yang memiliki tanda bintang di pangkat mereka. Bintang ini mungkin mereka Company Check Pilot (CCP), ada pula yang terdapat bunganya. Lain negara dan lain perusahaan memiliki policy dan seragam yang berbeda,” tandas Capt. Vincent.

Jadi, kalau berpapasan dengan pilot di Bandara, Anda sedikitnya sudah paham ya dengan tanda pangkat yang ada di pundak mereka.

Alergi Pada Kacang, Penumpang Qantas Ini Terpaksa Duduk di Toilet Sepanjang Penerbangan

Mungkin sebagian dari Anda masih ingat dengan insiden yang menimpa buah hati dari pasangan Chris dan Hong Daley, Marcus dimana ia mengalami muntah-muntah, mata bengkak, hingga kesulitan berbicara ketika mereka bertiga tengah melakukan perjalanan pulang dari Thailand pada 12 Juli 2017 silam. Disinyalir, Marcus mengidap sebuah penyakit yang bernama anaphylaxis. Anaphylaxis merupakan reaksi alergi yang menyerang lebih dari satu fungsi organ tubuh yang bisa menyebabkan kematian.

Baca Juga: Tak Disangka! Snack Kacang Nyaris Mengundang Maut di Penerbangan Ini

Nah kali ini kejadian yang hampir serupa menyerang seorang penumpang maskapai Qantas Airways, dimana penumpang berjenis kelamin wanita ini terpaksa bersembunyi di dalam toilet maskapai setelah awak kabin flag carrier Australia tersebut menyajikan kacang almond kepada penumpang lain. Tidak hanya bersembunyi di dalam toilet saja, penumpang yang bernama Laura Merry tersebut sampai-sampai harus memakai masker karena dirinya berisiko mengalami syok anafilaksis – hampir mirip seperti yang dialami oleh Marcus.

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman uk.news.yahoo.com (9/3/2019), Laura yang berprofesi sebagai guru ini mengaku kecewa dengan pelayanan yang dilakukan oleh pihak Qantas Airways, pasalnya ketika ia memesan tiket penerbangan menuju Australia guna mengunjungi adiknya, Laura sudah menginformasikan kepada pihak maskapai bahwa dirinya memiliki alergi terhadap kacang. Sampai-sampai, Laura menuliskan dokumen khusus yang menyatakan agar pihak Qantas tidak menyajikan kacang selama penerbangan tersebut.

“Ketika saya mengudara pada tanggal 3 Maret 2019 kemarin, reaksi manajer awak kabin ketika melihat alergi saya terkesan acuh tak acuh, dengan mengatakan bahwa dirinya tidak memegang catatan permintaan khusus dari penumpang,” ujar Laura.

Ketika Laura menegur manajer awak kabin yang bersangkutan, ia malah menampik untuk tidak membagikan cemilan gratis tersebut karena kacang almond tersebut, “merupakan bagian dari kebijakan maskapai.”

Alih-alih menuruti permintaan dari Laura yang sudah diminta berbulan-bulan sebelumnya, manajer awak kabin tersebut malah memberikan Laura sebuah masker yang bisa ia gunakan untuk menyaring bau dari kacang almond tersebut.

Baca Juga: Mulai Alergi Kacang Hingga Abu Jenazah, Inilah Deretan Peraturan Unik di Maskapai

“Selama penerbangan tersebut, mereka memberi saya sebuah masker untuk dipakai sebagai solusi. Padahal mereka bisa saja untuk tidak menyajikan cemilan gratis tersebut atau menggantinya dengan menu lain yang tidak menggunakan kacang,” ujar Laura.

“Masker ini tidak akan mencegah reaksi dari alergi yang saya idap. Saya juga terpaksa duduk di toilet untuk menghindari bau dari makanan ringan di sekitar saya,” sambungnya.

Menanggapi hal ini, pihak Qantas belum memberikan konfirmasi resmi, namun salah satu perwakilan perusahaan mengatakan, “Qantas sadar akan tantangan yang dihadapi oleh penderita alergi dan mengambil langkah-langkah untuk mengurangi risiko bagi banyak pelanggan kami, terutama dari paparan kacang. Tetapi karena ada berbagai jenis alergi, kami tidak mungkin memenuhi kebutuhan semuanya,”

 

Qatar Airways Siap Ganti Bangku Kelas Ekonomi Menjadi Lebih Nyaman dan Elegan!

Mungkin beberapa dari Anda sudah muak dengan konfigurasi bangku di penerbangan kelas ekonomi, dimana Anda harus duduk berjam-jam dengan posisi yang ‘tegak-lurus’ sebelum pesawat tiba di destinasi tujuan. Sadar bahwa masalah semacam ini harus dientaskan sesegera mungkin, salah satu maskapai asal Timur Tengah, Qatar Airways memperkenalkan desain bangku yang kelak akan menawarkan kenyamanan, kendati Anda harus mengudara di kelas ekonomi sekalipun.

Baca Juga: Dilema Seat Pitch, Maskapai Tambah Untung Penumpang Merana

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman forbes.com (6/3/2019), bangku-bangku baru ini akan tersedia pertama kali di armada Airbus A321neo dan A321LR yang akan didatang oleh pihak maskapai. Kedua armada ini merupakan pesawat jet bermesin ganda, single-aisle yang biasanya digunakan untuk melakoni penerbangan jarak pendek dan menengah. Qatar Airways sendiri memiliki pesanan 50 jet dari Airbus, termasuk 10 diantaranya merupakan versi untuk penerbangan jarak jauh.

Para penumpang juga dapat berharap untuk melihat bangku-bangku baru ini pada 60 pesanan armada Boeing 777X milik maskapai, yang menurut rencana, akan mulai diluncurkan pada tahun 2020 mendatang. Untuk armada Airbus A321, adapun konfigurasi yang akan digunakan oleh pihak Qatar adalah 3-3, sebagaimana yang sering ditemukan di armada narrow-body rilisan Airbus.

Seperti yang bisa Anda lihat pada video di atas, kelak seat pitch antar bangku tidaklah sempit lagi seperti dulu – dimana kaki para penumpang bisa dibentangkan ke arah bangku di depannya. Belum lagi head rest penumpang yang bisa disetel sesuai kebutuhan para penumpangnya. Lalu untuk reclining seat, penumpang bisa menyandarkan tubuhnya ke belakang hingga kemiringan 19 derajat.

Lalu bagaimana dengan layar hiburan yang biasa Anda temui di belakang bangku penumpang? Tenang, karena bangku-bangku ini seolah sudah menjadi paket dengan sistem hiburannya – sebuah layar 13,3 inci dengan resolusi layar 4K. Lalu para penumpang juga bisa mengisi daya gadget mereka di sistem layar hiburan ini – berkat hadirnya outlet USB Type-C.

Baca Juga: 5 Fakta Unik Tentang Qatar Airways yang Mungkin Baru Anda Tahu!

Dan, saatnya Anda untuk mengucapkan selamat tinggal pada meja lipat model lama yang berada di belakang bangku penumpang, karena di bangku yang baru ini, Anda akan menemukan sebuah meja lipat yang memiliki desain elegan dan juga penampang gelas minuman persis di bawah layar hiburan tersebut.

Bagaimana, apakah ini cukup membuat Anda penasaran untuk segera menjajal penerbangan kelas ekonomi dari Qatar Airways?

Lakukan Inspeksi, Kemenhub Resmi Berlakukan Temporary Grounded Pada Boeing 737 MAX 8

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengambil langkah untuk melakukan inspeksi, larang terbang sementara pesawat terbang Boeing 737-8 MAX di Indonesia. Langkah diambil terkait jatuhnya Pesawat Ethiopian Airlines berjenis Boeing 737-8 MAX. Kebijakan ini diambil untuk memastikan bahwa pesawat yang beroperasi di Indonesia dalam kondisi laik terbang.

Baca juga: Alvin Lie: Pemerintah Indonesia Sebaiknya Tidak Terbangkan Dulu Boeing 737 MAX 8

Dalam siaran pers, Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Polana B. Pramesti, langkah tersebut diambil untuk menjamin keselamatan penerbangan di Indonesia. “Salah satu langkah yang akan dilakukan oleh Ditjen Hubud adalah melakukan inspeksi dengan cara larang terbang sementara (temporary grounded), untuk memastikan kondisi pesawat jenis tersebut laik terbang (airworthy) dan langkah tersebut telah disetujui oleh Menteri Perhubungan” kata Polana di Jakarta, Senin (11/3).

Inspeksi akan dimulai secepatnya mulai besok 12 Maret 2019. Apabila ditemukan masalah pada saat inspeksi, maka pesawat tersebut akan dilarang terbang sementara sampai dinyatakan selesai oleh inspektur penerbangan.

Sejauh ini, pengawasan untuk pengoperasian pesawat jenis Boeing 737-8 MAX sudah dilakukan sejak 30 Oktober 2018 lalu pasca kecelakaan JT610, bilamana jika terjadi masalah atau temuan hasil inspeksi pesawat langsung digrounded di tempat.

Ditjen Hubud terus berkomunikasi dengan Federal Aviation Administration (FAA), untuk memberikan jaminan bahwa seluruh pesawat Boeing 737 – 8 MAX yang beroperasi di Indonesia laik terbang. FAA telah menerbitkan Airworthiness Directive yang juga telah diadopsi oleh Ditjen Hubud dan telah diberlakukan kepada seluruh operator penerbangan Indonesia yang mengoperasikan Boeing 737-8 MAX.

Saat ini, maskapai yang mengoperasikan pesawat jenis tersebut adalah PT Garuda Indonesia sebanyak 1 unit dan PT Lion Air sebanyak 10 unit. FAA menyampaikan akan terus berkomunikasi dengan Ditjen Hubud sekiranya diperlukan langkah lanjutan guna memastikan kondisi airworthy (laik terbang) untuk Boeing 737-8 MAX.

Baca juga: Tidak Ada Masalah dengan Pesawat, Garuda Indonesia Tetap Lanjutkan Pengadaan Boeing 737 Max 8

Ditjen Hubud juga telah menerima pernyataan langsung dari Boeing Co., dimana pihak manufaktur menyampaikan akan memberikan keterangan terkini terkait hasil investigasi kecelakaan Ethiopian Airlines. Boeing Co. juga siap menjawab pertanyaan dari Ditjen Hubud tentang langkah-langkah yang perlu diambil untuk memastikan aiworthy jenis pesawat terbang Boeing 737-8 MAX.

Kenali Jenis Kereta Crane yang Bantu Evakuasi KRL Anjlok di Cilebut

Anjloknya KRL Jabodetabek jurusan Jatinegara – Bogor di Cilebut, Bogor pada Minggu (10/3/2019) siang kemarin memang membawa dampak yang cukup signifikan terhadap pengoperasian harian para komuter Ibukota. Menanggapi kejadian ini, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi datang ke lokasi kejadian untuk meninjau secara langsung terkait kecelakaan yang memakan 17 korban luka ini. Menurutnya, adapun upaya yang dilakukan untuk menormalkan kembali pengoperasian dari salah satu tulang punggung transportasi Ibukota ini adalah dengan cara melakukan evakuasi kereta.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dalam Mesin Perawatan Jalan Rel, Si Kuning Yang Gemar “Patroli” di Malam Hari

“Evakuasi harus menunggu crane dari Bandung (Daerah Operasi/Daops II), 3 sampai 4 jam baru sampai. Kami mengimbau masyarakat menggunakan non KRL dari dan ke Bogor,” ujar Menhub Budi, sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman Tribunnews.com (10/3/2019) kemarin. Sementara untuk penyebab anjlok, baik Menhub Budi maupun VP Corporate Communcation PT Kereta Commuter Line Indonesia, Eva Chairunnisa belum dapat memberikan jawaban karena pihaknya hingga saat ini masih melakukan investigasi.

Disini, salah satu instrumen yang membantu proses evakuasi kereta Commuter Jabodetabek KA 1722 adalah kereta crane. Jika di moda darat, mungkin kereta crane ini memiliki fungsi yang hampir mirip dengan mobil derek. Namun, tidak semua kereta crane memiliki fungsi untuk mengevakuasi armada yang baru saja tertimpa musibah.

Seperti yang jadi andalan PT KAI adalah kereta crane Gottwald SC39302 yang punya kapasitas angkat sampai 120 ton. Untuk tiba di lokasi kecelakaan, kereta crena ditarik oleh lokomotif diesel. Gottwald SC39302 termasuk ke dalam jenis breakdown crane.

Mengutip dari laman sumber lain, ada tiga jenis kereta crane yang biasanya disiapkan untuk menunjang pengoperasian dari kereta – baik kereta komuter maupun kereta konvensional. Kereta crane ini biasanya dirancang secara khusus untuk menanganai satu dari tiga tujuan.

Goods Yard Crane. Sumber: istimewa

Goods yard crane biasanya memiliki bentuk yang paling kecil diantara kereta crane lain, namun memiliki kemampuan untuk mengangkat benda dari satu titik menuju titik lainnya.

Baca Juga: Antisipasi Kecelakaan di Jalur Kereta, Kemenhub Datangkan Kereta Derek

Adapula yang namanya maintenance crane, dimana kereta crane jenis ini memiliki paling banyak varian bentuk yang berfungsi sesuai dengan namanya – pemeliharaan. Untuk tujuan umum, crane ini sering digunakan untuk memasang instrumen persinyalan, sementara tipe lain yang lebih spesifik bisa digunakan untuk meletakkan track.

Maintenance Crane. Sumber: wikipedia

Lalu yang terakhir ada breakdown crane, kereta crane yang biasa digunakan untuk pekerjaan pemulihan pasca kecelakaan. Untuk masalah ukuran, kereta crane ini cukup besar untuk mengangkat rolling stock yang tergelincir untuk kembali ke trek. Dalam terminologi Amerika Utara, breakdown crane sendiri sering disebut sebagai wrecker.

 

Catat Laba Spektakuler di 2018, Cathay Pacific Berencana Akuisisi Hong Kong Express

Kompetisi yang dihadapi maskapai penerbangan semakin cepat dan berkembang dengan adanya perluasan peta rute. Salah satu maskapai besar Asia yang tengah menghadapi kompetisi itu ialah Cathay Pacific yang bersaing dengan maskapai Cina dan Timur Tengah. Dimana maskapai-maskapai tersebut membuat penumpang tak lagi transit di Hong Kong dan mengarahkan penumpang untuk transit di Dubai atau Doha dengan tarif lebih rendah.

Baca juga: Serba-Serbi Cathay Dragon, Mantan Pesaing Cathay Pacific yang Kini Jadi Anak Perusahaan

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman airlinegeeks.com (7/3/2019), situasi di atas membuat dampak besar pada Cathay Pacific dan tercatat kerugian mencapai US$74 juta di tahun 2016 dan US$161,4 juta di 2017. Setelah dua tahun berturut-turut merasakan kerugian, baru di tahun 2018, maskapai uatama di Hong Kong ini mencatat laba US$294,8 juta.

Bahkan dengan laba yang cukup, Cathay Pacific bersiap menghadapi kompetisi perluasan rute, persisnya Cathay Pacific akan mengakuisisi maskapai berbiaya hemat (LCC) Hong Kong Express. Akuisisi ini sendiri masih dalam diskusi aktif. HK Express merupakan maskapai LCC satu-satunya di Hong Kong yang berafiliasi dengan Grup HNA Cina. Saat ini, Cathay Pacific telah mempunyai anak perusahan, yaitu Cathay Dragon, yang sebelum diakuisisi bernama Dragonair.

“Ini adalah bagian dari perubahan besar dalam strategi Cathay. Pesaing mengembangkan maskapai murah yang menantang bisnisnya. Saya pikir kesepakatan ini akan bermanfaat bagi perusahaan dalam jangka panjang,” ujar Steven Leung, direktur eksekutif Cathay Pacific.

Dalam akuisisi ini, Cathay Pacific akan memanfaatkan masalah utang yang ada di Grup HNA Cina dan potensi yang berhadapan dengan para pesaing berbiaya hemat lainnya yang tengah maik daun.

Para pakar mengatakan membeli HK Express akan menjadi langkah yang lebih baik untuk Cathay daripada meluncurkan pembawa anggaran sendiri.

“Ini adalah pertama kalinya Cathay Pacific memasuki pasar anggaran dengan biaya yang relatif rendah. Yang terbaik bagi Cathay untuk mengakuisisi saham di HK Express, daripada Hong Kong Airlines, setidaknya dalam pengeluaran keuangan,” kata K Ajith, direktur Asia Transport Research.

Cathay telah disengat oleh pesaing seperti Singapore Airlines dan Qantas yang masuk di pasar berbiaya rendah. Maskapai tanpa embel-embel, seperti AirAsia bahkan telah memikat penumpang dan memaksa Cathay untuk menjual tiket di bawah biaya standar, dan ini telah berkontribusi terhadap kerugian finansial selama dua tahun.

Rencana Cathay untuk mengakuisisi HK Express terungkap dalam pernyataan perusahaan yang terdaftar di bursa saham Hong Kong. Perusahaan itu menyatakan dalam menanggapi laporan tentang diskusi untuk mengakuisisi Hong Kong Express dan Hong Kong Airlines. Cathay Pacific mengumumkan laba bersih HK $2,3 miliar untuk 2018.

Andrew Lee, seorang pakar ekuitas di Jefferies, mengatakan Cathay berpotensi unggul dari maskapai saingannya yang menuntut akses lebih banyak ke Bandara Internasional Hong Kong (HKIA).

“Kami percaya ini bisa positif untuk Cathay Pacific memberikannya pasar penumpang yang berbeda karena Hong Kong Express adalah maskapai penerbangan bertarif rendah. Kami percaya pihak lain dapat tertarik pada Hong Kong Express mengingat keterbatasan kapasitas di bandara Hong Kong,” katanya.

Cathay Pacific dan Cathay Dragon menguasai sekitar 45 persen slot landasan pacu di Bandra Internasional Hong Kong, mengoperasikan armada gabungan dari 201 pesawat penumpang dan kargo, dan terbang ke 232 tujuan di 53 negara dan wilayah. HK Express, sebagai perbandingan, memiliki sekitar 5 persen dari slot landasan pacu HKIA.

Kesepakatan untuk HK Express akan mendorong kontrol Cathay atas slot landasan pacu sejalan dengan dominasi beberapa maskapai besar lainnya di bandara asal mereka, seperti British Airways di London Heathrow dan Singapore Airlines Group di Changi.

Baca juga: Blunder Beruntun! Cathay Pacific ‘Diskon’ Hampir 90 Persen Tiket Penerbangan Portugal – Hong Kong

Jika akuisis terjadi, maskapai HK Express akan menjadi maskapai keempat dari Cathay Pacific Group. Grup ini sudah memiliki Cathay Pacific Airways, Cathay Dragon Airlines, dan AHK Air Hong Kong Cargo.

H-1 Uji Coba Gratis MRT Jakarta, Tinggal Tersisa Kuota untuk 104.391 Orang!

Hingga hari keenam, registrasi online untuk menikmati uji coba Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta yang akan dimulai pada 12 Maret 2019 besok, sudah mencapai 181.209 orang. Jumlah ini menyisakan 104.391 pendaftar lagi untuk memenuhi target 285.600 orang. Pendaftaran yang dibuka selama 24 jam tersebut membuat antusiasme masyarakat makin meningkat.

Baca juga: Lebih dari Setengah Total Kuota Uji Coba Gratis MRT Jakarta Telah Terlampaui di Hari Ke-2 Pendaftaran

Bahkan dari ratusan ribu warga masyarakat ibukota Jakarta memilih hari Sabtu dan Minggu karena dianggap efisien. Sebab waktu beroperasi yang dimulai pukul 08.00 hingga berakhir pukul 16.00 membuat dua hari libur tersebut menjadi pilihan yang cukup untuk digunakan mencoba kereta MRT Jakarta.

Pemilihan stasiun dengan pendaftaran terbanyak dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) 46.553 orang dan Lebak bulus 38.968 orang. Dari keterangan tertulis yang diterima KabarPenumpang.com, Minggu (10/3/2019) bila dibandingkan dengan hari keempat menambah 14.686 orang dari 166.523 orang.

Sampai saat ini, pihak MRT Jakarta belum memberi tanggapan yang pasti terkait antusiame masyarakat ibukota untuk melakukan uji coba. Beberapa lalu hanya dikatakan, pihaknya masih melakukan diskusi bila target yang diberikan melebihi batas kuota uji coba.

Sebab hal ini masih menyangkut dengan pertimbangan keselamatan, kenyaman dan keamanan masyarakat yang ikut berpartisipasi dalam uji coba tersebut.

“Ini kan uji coba dan belum ada tiket berbayar. Makanya saat mendaftar ada ketentuan yang memang ditekankan salah satunya tidak ada biaya asuransi ketika masyarakat mengikuti uji coba ini,” jelas pihak humas.

Untuk kuota dari tanggal 12 hingga 17 Maret 2019 mendatang terlihat sudah terpenuhi. Pihak MRT Jakarta mengatakan, bagi masyarakat yang ingin ikut uji coba bisa melakukan pendaftaran untuk uji coba tanggal 18-22 Maret 2019.

Nantinya penumpang yang tiba di stasiun harus menunjukkan QR Code kepada petugas stasiun dan akan mendapat stiker yang disesuaikan dengan waktu kedatangan. Warna merah pukul 08.00-10.00, biru pukul 10.00-12.00, kuning pukul 12.00-14.00 dan hijau pukul 14.00-16.00.

Baca juga: Ayo Buruan Daftar Uji Coba Gratis MRT Jakarta, Kuota Tersisa Hanya untuk 193.252 Orang!

Pihak PT MRT Jakarta berharap, melalui uji coba tersebut masyarakat bisa merasakan pengalaman awal sebelum MRT Jakarta beroperasi secara komersial dan dapat menjadi masukan bagi MRT Jakarta untuk meningkatkan kualitas layanan. Kehadiran MRT Jakarta sendiri nantinya tidak hanya akan meningkatkan mobilitas masyarakat, tetapi juga memberikan manfaat tambahan seperti perbaikan kualitas udara dan mendorong perubahan gaya hidup masyarakat ibukota dengan beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum.