Lufthansa Berencana Jual Enam Unit A380, Airbus Siap Beli!

Masa kejayaan super-jumbo jet Airbus A380 semakin meredup. Setelah beberapa waktu yang lalu pihak Airbus menerima sejumlah pembatalan pemesanan dari berbagai maskapai di seluruh penjuru dunia, kini manufaktur pesawat asal Eropa ini harus kembali mendapatkan berita kurang sedap. Pasalnya, Lufthansa akan menjual enam armada Airbus A380nya di rentang tahun 2022 hingga 2023. pihak flag carrier Jerman sendiri mengaku, penjualan armada tersebut dilatarbelakangi oleh masalah finansial perusahaan.

Baca Juga: Stop Produksi di Awal 2019, Kapan Airbus A380 Pensiun Sepenuhnya?

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (13/3/2019), rencana penjualan armada ini sejalan dengan visi Lufthansa untuk memesan armada baru dari Boeing dan Airbus senilai US$12 miliar. Menurut catatan, kini Lufthansa mengoperasikan 14 armada Airbus A380 untuk melakoni rute penerbangan jarak jauhnya. Uniknya, pihak Airbus sendiri yang dikabarkan akan membeli enam unit A380 yang dijual oleh Lufthansa.

“Lufthansa terus memantau keuntungan dari jaringan rute di seluruh dunia. Sebagai salah satu dampaknya, kami akan mengurangi jumlah armada Airbus A380 dari 14 pesawat menjadi delapan karena alasan ekonomi,” ujar Lufthansa dalam sebuah keterangan tertulis.

“Struktur jaringan dan armada jarak jauh, yang dioptimalkan secara fundamental sesuai dengan aspek strategis, akan memberikan perusahaan lebih banyak fleksibilitas dan pada saat yang sama, akan meningkatkan efisiensi dan daya saingnya,” sambungnya.

Sebenarnya, Lufthansa merupakan salah satu fans berat dari Airbus A380 – tidak hanya dicintai oleh kru Lufthansa saja, pun dengan para penumpang setianya.

Kendati begitu, Lufthansa menambahkan bahwa penjualan ini merupakan salah satu bagian dari rencana bisnis mereka yang berkelanjutan, penting untuk mengevaluasi profitabilitas dalam jaringan mereka. Ini termasuk ukuran pesawat yang efisien sesuai dengan kondisi pasar. Dengan A380, Lufthansa mengatakan, “profitabilitas hanya mungkin terjadi pada rute paling banyak permintaan,”.

Baca Juga: Kendati Produksi Dihentikan, Airbus A380 Tetaplah Fenomenal

Sebagaimana yang diketahui bersama, Airbus A380 merupakan armada dengan daya angkut yang sangat besar, dan pihak maskapai kerap mengalamai kesulitan untuk mengisi bangku yang tidak terisi dalam sebuah penerbangan. Lain cerita jika A380 terisi penuh, maka pesawat ini akan bertransformasi menjadi armada paling irit. Tersiar kabar, Lufthansa telah melirik Airbus A350 dan Boeing 787 sebagai armada potensial untuk menjabani sejumlah rute penerbangannya.

“Selain efektivitas biaya Airbus A350 dan Boeing 787, emisi CO2 yang jauh lebih rendah dari pesawat angkut jarak jauh generasi baru ini juga merupakan faktor penentu dalam keputusan investasi kami,” ungkap Carsten Spohr, CEO dari Lufthansa.

 

Garuda Indonesia Akhirnya Pikirkan Pembatalan Pesanan Boeing 737 MAX 8

Kilas balik ke akhir tahun 2017 lalu, dimana maskapai plat merah Garuda Indonesia mendatangkan satu unit Boeing 737 MAX 8 ke Tanah Air. Pembelian yang sempat dibanggakan oleh pihak flag carrier Indonesia tersebut merupakan bagian dari 50 unit yang sudah dipesan oleh Garuda Indonesia ke Boeing pada tahun 2014 yang lalu.

Baca Juga: Tidak Ada Masalah dengan Pesawat, Garuda Indonesia Tetap Lanjutkan Pengadaan Boeing 737 Max 8

Laku mau ke 29 Oktober 2018, dimana maskapai berbiaya murah Lion air mengalami kecelakaan di Tanjung Karawang dengan menggunakan unit yang sama dengan yang dibeli oleh Garuda Indonesia – Boeing 737 MAX 8. Kala itu, Garuda Indonesia masih optimis untuk melanjutkan pengadaan armada berjenis narrow-body twin-engine jet airliner tersebut. Padahal di saat yang hampir bersamaan, Lion Air berencana membatalkan pesanan ratusan armada terkait dengan jumlah transaksi mencapai angka US$22 miliar atau setara Rp314 triliun.

Bahkan Direktur Utama Garuda Indonesia, Ari Askhara mengatakan rencananya akan tiba tiga unit Boeing 737 Max 8 pada tahun 2020 mendatang. “Kami akan menunggu laporan kecelakaan terakhir dan akan melihat apa masalahnya. Bila nanti ada perbaikan atau penarikan yang diperlukan kami akan mengikutinya,” ujar Ari Askhara terkait eksistensi Boeing 737 Max 8 di tubuh flag carrier.

Nah, ternyata dengan jatuhnya Ethiopia Airlines pada tanggal 10 Maret 2019 kemarin menggetarkan tekad Garuda Indonesia untuk tetap melanjutkan sisa 49 pesanan unit Boeing 737 MAX 8. Pernyataan ini dilontarkan oleh Direktur Utama Garuda Indonesia, Ari Askhara.

“Kami belum melihat ke sana, tetapi kemungkinan membatalkan (pemesanan) itu ada,” ujar Ari, dikutip KabarPenumpang.com dari laman tribunnews.com (14/3/2019).

Gontainya keyakinan pihak Garuda Indonesia ini bisa dibilang semata-mata karena mereka mempertimbangkan keselamatan penumpang. Mereka enggan berspekulasi untuk tetap melanjutkan pembelian, namun pada akhirnya mengancam keselamatan para penumpangnya.

Baca Juga: Intip Kecanggihan dan Ruang Kabin Boeing 737 MAX 8 Garuda Indonesia

Pada kesempatan yang sama, Ari mencontoh maskapai Lion Air yang sudah terlebih dahulu secara buka-bukaan berencana membatalkan pesanan terhadap Boeing dan menyiarkannya melalui awak media. “Seperti contoh Lion (Air) sudah ada suratnya di media untuk membatalkan pesanan,” sambungnya Ari.

Jika tetap pada rencana awalnya, Garuda Indonesia akan memiliki 50 unit Boeing 737 MAX 8 di tahun 2030 mendatang – yang tentu saja didatangkan secara bertahap.

 

 

Tertunda Lebih dari 2 Jam, Pilot Belikan 70 Burger Untuk Penumpang

Siapa yang tak suka mendapat makanan gratis dan yang membelikannya seorang pilot sebuah maskapai penerbangan? Pastinya semua penumpang akan suka apalagi jika pesawat yang hendak mereka tumpangi mengalami keterlambatan yang lebih dari biasanya.

Baca juga: Sambut Hari Perempuan Internasional, Pilot dan Awak Kabin Air India Seluruhnya Adalah Perempuan

Baru-baru ini seorang pilot maskapai Mesa Airlines membuat penumpangnya seperti memiliki gairah dan senyuman. Pasalnya setelah penundaan lebih dari dua jam di Bandara Internasional Tusla pada Senin (11/3/2019), pilot tersebut membelikan makan siang untuk semua penumpangnya di kedai burger terdekat di salah satu bandara Amerika Serikat itu.

Seorang penumpang pesawat bernama Sam Walker yang mengalami penundaan dan mendapat burger tersebut memuji sang pilot yang diketahui bernama Kapten Matthew Hoshor. Foto pilot ini kemudian dibagikan oleh Walker di akun Twitternya dan menjadi viral.

Adanya tindakan baik dari pilot tersebut kemudian membuat United Airlines merespons langsung tweet milik Walker tersebut dan mengatakan mereka senang mendengar anggota kru memenuhi kebutuhan penumpang.

“Kami akan menyampaikan pujian Anda kepada tim kami,” ujar United Airlines yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman nypost.com (13/3/2019).

Walker mengatakan hampir lima jam setelah waktu keberangkatan dijadwalkan akhirnya dirinya dan penumpang lain naik ke pesawat dan duduk di kelas satu. Ia kemudian kembali mentweet foto pilot itu lagi.

“Kapten hebat Mesa ada di sini!” kata Walker dalam tweetnya.

Dalam sebuah pernyataan juru bicara Mesa Airlines mengatakan bahwa maskapai penerbangan itu sangat bangga dalam timnya dan menghargai umpan balik positif dari pelanggan United Airlines, yang mengoperasikan United Express sebagai maskapai regional. United Airlines mengkonfirmasi pada hari Rabu bahwa tweet penumpang itu akurat.

Secara keseluruhan, Hoshor membeli 70 hamburger dari restoran untuk memberi makan para penumpang yang lapar, sebuah langkah yang tidak akan luput dari perhatian, menurut ketua dan kepala eksekutif maskapai.

“Dia orang yang sangat baik. Kami sangat bangga padanya. Bahwa dia pergi keluar dari jalannya seperti itu untuk merawat para penumpang … itu benar-benar layanan pelanggan yang luar biasa, jauh di atas dan di luar,” kata Jonathan Ornstein CEO Mesa Airlines.

Baca juga: Salahkan Kopilot, Pilot Senior Tidur Saat Menerbangkan Boeing 747

Ornstein mengatakan, Hoshor juga seorang pilot yang berbakat dan membuat dirinya bangga sebagai CEO karena melihat karyawannya melakukan hal hebat tersebut. Seorang karyawan di Fat Guy Burger Bar di Tulsa, sementara itu, mengatakan kepada KOKI bahwa pesanan besar untuk penumpang yang terlambat tampaknya adalah yang pertama.

Meski Khusus Internal Perusahaan, Boeing Tepati Janji Perlihatkan 777-9

Kendati tengah menjadi sorotan publik lantaran banyaknya maskapai yang menangguhkan pengoperasian dari 737 MAX 8, namun Boeing tetap menunjukkan bahwa mereka merupakan perusahaan yang profesional. Mungkin beberapa dari Anda masih ingat tentang janji Boeing yang akan merilis varian 777X pada tanggal 13 Maret 2019. Namun karena adanya kecelakaan Ethiopia Airlines pada Minggu (10/3/2019) kemarin, Boeing terpaksa tidak menggembar-gemborkan perilisan dari armada teranyarnya ini.

Baca Juga: Goyang Pasar Wide-Body, Boeing Siap Luncurkan 777X 13 Maret 2019

Perilisan varian Boeing 777X tetaplah berjalan sesuai dengan timeline, namun tidak disiarkan ke publik karena dianggap tidak etis jika harus bersuka cita di atas penderitaan para korban Ethiopia Airlines. Jadi, Boeing hanya merilis moda terbarunya ini di hadapan para karyawan perusahaan tersebut. Adapun varian yang diluncurkan Boeing kali ini adalah 777-9, dan ukuran pesawat ini sangatlah besar!

Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman samchui.com (13/3/2019), Boeing 777-9 ini idukung oleh dua mesin General Electric GE9X dengan kemampuan untuk mengeluarkan daya dorong sebesar 105.000 pounds. Boeing sendiri mengakui bahwa ini merupakan mesin terbesar di dunia, namun daya dorongnya tidak sekuat GE90 yang sangat ikonik.

Sumber: samchui.com

Sayap dan mesin baru pada armada 777-9 memungkinkan pihak maskapai pengguna untuk mengangkut sekitar 400-425 penumpang dan menerbangkan mereka hingga jarak 7.600 nautical miles atau yang sekira 14.000 km. Sementara itu, nggota keluarga kedua yang memiliki ukuran lebih kecil, Boeing 777-8, dijadwalkan memulai konstruksi dua tahun setelah Boeing 777-9 memasuki layanan komersialnya.

Dengan rentang jarak 8.690 nautical miles atau yang sekira 16.090 km yang mampu ditempuh dan kemampuannya untuk mengangkut sekitar 365 penumpang, Boeing 777-8 rencananya akan diplot untuk menjadi penerus dari Boeing 777-200LR dan berpotensi menjadi dasar untuk model kapal angkut baru.

Baca Juga: Wow! Mesin Boeing 777X Lebih Besar dari Body 737

Bahkan, satu yang tidak bisa terpisahkan dari Boeing 777X adalah bentuk winglet lipatnya yang ikonik.

Setelah diperkenalkan secara internal kepada karyawan di Boeing, rencananya pesawat ini akan melakukan uji coba penerbangan dalam waktu dekat. Hingga saat ini, Boeing telah mengantongi 358 pesanan dari berbagai maskapai, mulai dari Emirates, Lufthansa, ANA, Cathay Pacific, Etihad, Qatar Airways, Singapore Airlines, hingga British Airways.

 

Margin Keuntungan Tipis, Lufthansa Hibahkan Rute Penerbangan Menuju Bangkok

Di tahun 2018  ada kabar yang cukup menggembirakan dari Munich, dimana flag carrier Jerman, Lufthansa disebutkan akan mentransfer beberapa layanan bergengsi dari Frankfurt ke Munich. Khususnya untuk ibukota Negeri Bavaria, akan mendapatkan lebih banyak link tanpa henti menuju Asia. Bak koin dengan dua sisi, tersiarnya pernyataan di atas tidak menutup kemungkinan jika Lufthansa akan mengalami downgrade terhitung sejak musim gugur ini.

Baca Juga: Salip IAG dan Air France-KLM, Lufthansa Kini Jadi Maskapai Terbesar di Eropa

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman businesstraveller.com (10/3/2019), pada 27 Oktober 2018 lalu, divisi utama dari Lufthansa berencana untuk mengoperasikan rute penerbangan Munich – Bangkok. Menurut perusahaan, mereka akan menggunakan armada Airbus A350 yang terbagi ke dalam tiga kelas penerbangan – A350 merupakan pesawat paling modern di tubuh Lufthansa.

Namun tampaknya, ada sedikit perubahan taktik di sini. Salah satu leisure airlines, Sunexpress (joint venture antara Lufthansa dan Turkish Airlines) mengoperasikan penerbangan harian di rute tersebut mulai tanggal 3 Juni. Dan sekarang, pihak Lufthansa mengatakan bahwa rute penerbangan Munich – Bangkok tidak akan diambil oleh divisi utama perusahaan terhitung sejak 27 Oktober dengan menggunakan Airbus A350.

Tentu saja, hal ini berbanding terbalik dengan apa yang sempat tersiar di media, dimana pihak Lufthansa mengatakan, “Pada jadwal musim dingin 2019/2020, tanggal 27 Oktober merupakan tanggal efektif untuk mengoperasikan penerbangan yang menghubungkan Munich dengan Bangkok.”

Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa Lufthansa mengalami downgrade layanan. Mengapa? Karena selain pengalaman onboard penumpang yang akan jelas berbeda (Lufthansa menggunakan Airbus A350 yang terbagi ke dalam tiga kelas), Eurowings (anak perusahaan Lufthansa Group) menggunakan armada Airbus A330-200 dengan pilihan tempat duduk premium untuk rute penerbangan yang sama.

Baca Juga: Jerman Datangkan Saksi Bisu Pembajakan Lufthansa 1977, Indonesia Juga Punya Sejarah Yang Mirip

Lalu, mengapa Lufthansa sampai harus menghibahkan rute penerbangan tersebut? Lufthansa dan sejumlah operator penerbangan asal Benua Biru menganggap bahwa rute Eropa – Bangkok cenderung tidak memberikan keuntungan bagi perusahaan yang menjalankan rute tersebut. Maka dari itu, andaikan ada maskapai penerbangan yang menjalankan rute menuju Bangkok, biasanya mereka tidak akan memberikan fasilitas terbaik mereka, karena tipisnya keuntungan yang akan mereka raih jika rute menuju Bangkok dilakoni dengan fasilitas terbaik. Bahkan, beberapa maskapai Eropa menarik kembali rute penerbangan menuju Bangkok.

 

Bayi Tertinggal di Ruang Boarding, Ibu Panik dan Pesawat Terpaksa “Return to Base”

Umumnya pesawat yang melakukan return to base dikarenakan kendala teknis, dimana pilot tak ingin ambil risiko atas keselamatan penerbangan. Namun belum lama ini diberitakan pesawat yang melakukan return to base (RTB) dikarenakan faktor non teknis, persisnya salah seorang penumpang panik setelah mengetahui anaknya yang masih bayi tertinggal di ruang tunggu keberangkatan.

Baca juga: Bayi 5 Bulan Keliling 50 Negara Bagian Amerika Serikat

Mungkin ini terdengar lucu, tetapi faktanya pesawat Boeing 787-900 Dreamliner Saudi Arabian Airlines harus RTB untuk menjemput sang bayi yang tertinggal di ruang tunggu Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Dilansir KabarPenumpang.com dari simpleflying.com (12/3/2019), insiden unik ini terjadi dalam penerbangan Saudi Airlines SV832 dari Jeddah dengan tujuan Kuala Lumpur, Malaysia.

Ketika seorang penumpang menyadari bahwa mereka telah salah meletakkan sesuatu yang agak penting. Awalnya mereka memeriksa kantong dan ponsel mereka, tetapi meskipun puas masih merasa tidak nyaman. Tapi kemudian mereka tiba-tiba menyadari bahwa bayi mereka telah tertinggal di ruang tunggu.

Sebuah video yang diunggah ke Youtube menampilkan percakapan pilot dan petugas pengawas penerbangan karena insiden unik ini.

“Semoga Tuhan bersama kita, apakah kami boleh kembali?” ujar pilot tersebut ke petugas lalu lintas udara.

Kemudian, petugas tak langsung menjawab dan berdiskusi dengan rekannya setelah mendapat nomor penerbangan untuk melakukan protokol yang harus dijalankan.

“Sebuah pesawat meminta izin kembali ke bandara… Seorang penumpang meninggalkan bayinya di ruang tunggu, kasihan sekali,” ujarnya.

Namun, petugas pengawas tersebut tidak percaya akan hal itu dan meminta pilot mengulangi alasannya meminta izin kembali ke bandara. “Kami sudah bilang, seorang penumpang meninggalkan bayinya di terminal dan menolak melanjutkan penerbangannya,” kata pilot itu.

Akhirnya dengan alasan tersebut, petugas pengawas ATC akhirnya mengizinkan kembali dan mereka mengatakan insiden unik ini adalah kasus pertama yang ditangani mereka.

Saat kembali ke bandara, si ibu bertemu dengan bayinya dan pesawat Boeing 787-9 dengan nomor penerbangan SV832 tersebut melanjutkan penerbangannya setelah 42 ment tertunda. Video yang kemudian menjadi viral tersebut mendapat tanggapan beragam dari warganet yang menyaksikan video itu.

Baca juga: Alami Kelainan Genetika, Ibu dan Balitanya ‘Diusir’ dari Penerbangan American Airlines

Mereka lebih banyak memuji sang pilot karena rasa kemanusiaannya dan membuat insiden itu menjadi masalah darurat sehingga pesawat dengan mudah kembali mendapatkan izin ke bandara untuk mempertemukan ibu dan bayi serta membawanya kembali dalam penerbangan.

Lawan Opik, Grab Indonesia Luncurkan “Grab Defense”

Belum lama ini GoJek sudah menghadirkan perangkat kecerdasan buatan untuk menangkal orderan dari akun-akun palsu. Kali ini saingannya, yakni Grab menghadirkan teknologi deteksi dan pencegahan kecurangan terbaru untuk para mitra melalui serangkaian solusi Grab Defence. Kehadiran Grab Defense sendiri bagi para mitra bisa memanfaatkan kemampuan data Grab dalam mengurangi tindak kecurangan untuk memperkuat ekosistem teknolohgi dan arus transaksi.

Baca juga: Hadapi Order Fiktif dan GPS Palsu, GoJek Ambil Tindakan Preventif dengan Kecerdasan Buatan

Dirangkum KabarPenumpang.com dari siaran pers, Rabu (13/3//2019), pihak Grab mengatakan, tindakan kecurangan ini sendiri bisa menghancurkan kepercayaan pengguna, penyedia layanan dan platform. Grab Defence sendiri merupakan bagian dari strategi GrabPlatform dimana membantu mitra mengintegrasikan layanan mereka. Kehadirannya sendiri di Indonesia akan ada pada kuartal kedua dan diluncurkan keseluruh dunia akhir tahun 2019.

“Setiap hari machine learning kami menganalisis jutaan data secara real-time untuk mendeteksi pola kecurangan, baik yang telah ada maupun yang baru. Melalui peluncuran Grab Defence, kami ingin berbagi keahlian yang kami miliki dengan para mitra yang mungkin menghadapi masalah yang sama. Kita harus bahu-membahu mengatasi masalah ini demi tercapainya ekosistem teknologi yang lebih kuat dan terpercaya di Asia Tenggara,” ujar Wui Ngiap Foo, Head of User Trust at Grab.

President of Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata, mengatakan, di Indonesia, pihaknya telah melihat bagaiman sindikat kejahatan mendapatkan keuntungan secara ilegal dengan menggunakan aplikasi GPS palsu atau yang sudah dimodifikasi serta metode lainnya untuk mencuri intensif hasil kerja keras mitra pengemudi dan menciptakan pengalaman buruk dari pengguna platform Grab.

“Kami telah meluncurkan kampanye Grab Lawan Opik (Orderan Piktip) tahun lalu di Indonesia untuk memerangi order fiktif dan mencanangkan Grab FairPlay yang mendorong mitra pengemudi kami untuk melaporkan tindak kecurangan yang terjadi dalam ekosistem Grab. Kami juga bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk menangkap puluhan orang yang terbukti melakukan kecurangan di platform kami. Kami bangga dengan apa yang telah dan berbagai upaya yang tengah kami lakukan untuk mengurangi tingkat kecurangan di platform kami. Kami senang dapat menghadirkan layanan Grab Defence bagi para mitra strategis kami demi menciptakan perkembangan ekosistem teknologi yang sehat di Indonesia,” jelas Ridzki.

Layanan Grab Defence terdiri dari tiga fitur utama dan masing-masing fitur dapat berfungsi secara terpisah yakni Event Risk Management Suite, ini merupakan paket komprehensif yang akan memungkinkan pelaku bisnis untuk menilai risiko dari suatu peristiwa atau transaksi. Terdiri dari serangkaian API untuk mengevaluasi risiko yang didukung oleh machine learning yang dapat digunakan kalangan pebisnis untuk memprediksi risiko secara real-time, menetapkan sejumlah tolok ukur kecurangan (Rules Engine) sesuai dengan model bisnis dan kebutuhan, perangkat investigasi dan analisis perilaku untuk menyelidiki perilaku-perilaku mencurigakan sekaligus meningkatkan kebijakan dan aturan.

Entity Intelligence Services, layanan ini menggunakan database Grab serta keahlian dalam mengidentifikasi berbagai jenis entitas pelaku kejahatan (seperti nomor telepon, alamat e-mail, dan lain-lain) untuk memprediksi potensi risiko kepada semua pengguna yang berinteraksi dengan platform tersebut. Sebagai contoh, pelaku bisnis dapat menggunakan layanan ini untuk mendapat informasi nilai risiko dari pengguna baru. Jika angka prediksi risikonya rendah, mereka bisa memilih untuk mengizinkan pengguna masuk ke aplikasi tanpa harus melalui sejumlah langkah tambahan, atau menawarkan promo atau insentif tertentu.

Terakhir adalah Device & Network Intelligence Services, layanan ini bisa mendeteksi pelaku kejahatan dengan menggunakan data dari perangkat pengguna. Manfaat lainnya adalah layanan ini bisa membantu pelaku bisnis menjaga diri mereka dari pembuatan akun palsu akibat perangkat yang berpindah tangan, dan bahkan mendeteksi jika aplikasi mereka telah terdampak serangan siber.

Layanan Grab Defence bekerja berdasarkan grafik informasi risiko dan kecurangan Grab. Miliaran transaksi terjadi setiap tahunnya dalam berbagai vertikal di bawah platform Grab. Transaksi yang terjadi ini memberi gambaran dan pemahaman lebih baik bagi Grab mengenai pelaku kejahatan di Asia Tenggara, dan bagaimana tindak kecurangan bekerja.

Baca juga: Grab Hadirkan Beberapa Fitur Baru di Aplikasi, Termasuk Raih Poin Bila Order Dibatalkan Pengemudi

“Setiap bisnis yang melakukan transaksi online akan diuntungkan dengan adanya Grab Defence. Teknologi unik yang kami bangun, berikut grafik informasi yang kami miliki, dapat menjadi tambahan berharga meskipun telah ada sistem anti-fraud/anti kecurangan sebelumnya. Kita semua memiliki peran penting dalam menurunkan tingkat kecurangan di Asia Tenggara. Kolaborasi yang melibatkan berbagai pihak akan membantu kita mencapai hal tersebut lebih cepat,” ungkap Wui Ngiap Foo.

Langkahi FAA, Trump Putuskan Temporary Grounded Boeing 737 MAX 8 di Amerika Serikat

Dalam beberapa jam terakhir FAA (Federal Aviation Administration) masih mempertahankan argumen bahwa tidak diperlukan temporary grounded pada armada Boeing 737 MAX 8 yang beroperasi di Amerika Serikat. Sementara hampir di seantero dunia, regulator penerbangan beberapa telah memberlakukan grounded sampai larangan terbang pada pesawat twin jet narrow body tersebut. Namun keputusan berbeda telah diambil oleh Donald Trump, dimana sang presiden AS telah menetapkan pada 13 Maret 2019 bahwa Boeing 737 MAX telah di temporary grounded.

Baca Juga: Terdampak Kecelakaan Ethiopia Airlines, Siapa Saja yang Melarang Pengoperasian Boeing 737 MAX 8?

Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, sebelumnya FAA telah mengumumkan bahwa pihaknya, “tidak menemukan masalah kinerja sistematik.” Namun, pernyataan dari FAA tadi tampaknya terbantahkan oleh laporan dari dua pilot penerbangan Amerika Serikat yang mengalami tilt down (menukik) ketika mengudara dengan menggunakan Boeing 737 MAX 8. Hal ini diduga terjadi karena adanya kesalahan pada sistem otomatis pesawat. Laporan dari kedua pilot itu bersifat sukarela dan tidak secara terbuka mengungkapkan nama-nama pilot tersebut, maskapai penerbangan atau lokasi insiden.

Keputusan Donald Trump ditempuh sesaat setelah Kanada juga memberlakukan kebijakan yang sama. Dengan kebijakan yang ditempuh Presiden Trump ini, maka menjadikan Amerika sebagai negara besar terakhir yang mengumumkan temporary grounded Boeing 737 MAX 8.

“Keselamatan rakyat Amerika dan semua orang adalah perhatian utama kami,” ujar Presiden Trump di Gedung Putih, dikutip dari laman nytimes.com (13/3/2019). Mengingat keputusan ini sudah diambil oleh Presiden Trump, maka FAA mau tidak mau harus mengikuti dan tunduk terhadap mandat Presiden tersebut.

Baca Juga: Imbas Kecelakaan Ethiopia Airlines, Pemerintah Malaysia Pertimbangkan Ulang Pembelian Boeing 737 MAX 8

Perlahan, sejumlah regulator aviasi di berbagai negara mulai menghentikan pengoperasian dari Boeing 737 MAX 8. Hal ini ditempuh sebagai salah satu langkah preventif pasca kcelakaan Ethiopia Airlines ET302 yang jatuh di Addis Ababa, Minggu (10/3/2019) kemarin. Tercatat, ini merupakan kecelakaan kedua dalam rentang waktu lima bulan terakhir setelah sebelumnya Lion Air JT610 jatuh di Tanjung Karawang di penghujung tahun 2018 silam. Nah, baru-baru ini, Negara Adikuasa juga ikut melarang pengoperasian dari keluarga Boeing 737 MAX ini.

Ini Dia Daftar Maskapai yang Belum Hentikan Penggunaan Boeing 737 MAX 8

Sejumlah maskapai dari berbagai penjuru dunia sudah mulai ‘mengandangkan’ secara temporer armada Boeing 737 MAX 8 yang ada di dalam list armada mereka. Keputusan ini menyusul kecelakaan maut Ethiopia Airlines pada hari Minggu (10/3/2019) yang kebetulan menggunakan armada yang pertama kali diluncurkan dalam seri 737 MAX ini. Dalam kecelakaan yang merenggut ratusan nyawa baik penumpang maupun awak kabin ini, sejumlah regulator menghimbau kepada seluruh maskapai untuk tidak mengoperasikan armada Boeing 737 MAX 8 terlebih dahulu – hingga waktu yang belum bisa ditentukan.

Baca Juga: (berita maskapai yang ‘mengandangi’ Boeing 737 MAX 8)

Tapi sebagaimana yang sudah diberitakan sebelumnya, ada sejumlah maskapai yang lalu ‘mengandangkan’ armada Boeing 737 MAX 8 sesaat setelah himbauan dari para regulator tersebut sampai ke pihak perusahaan – bahkan ada beberapa maskapai yang malah memberhentikan sementara pengoperasian dari keluarga Boeing 737 MAX. Namun ada juga maskapai yang tetap mengoperasikan narrow-body twin-engine jet airlines ini – seperti American Airlines, Southwest Airlines, United Airlines, hingga Flydubai.

Selain nama-nama maskapai yang sudah disebutkan pada artikel sebelumnya, berikut adalah nama maskapai yang juga menghentikan sementara pengoperasian dari Boeing 737 MAX 8:

Hainan Airlines;

Kunming Airlines;

Norwegian Airlines;

Okay Airways;

Shandong Airlines;

Shanghai Airlines;

Shenzhen Airlines;

SilkAir;

SpiceJet; dan

Xiamen Airlines.

Sementara untuk maskapai-maskapai yang masih mempertahankan pengoperasian dari Boeing 737 MAX 8, mereka memiliki ‘pembelaannya’ masing-masing. Sebut saja Air Italy yang mengatakan bahwa pihaknya masih dalam tahap komunikasi intens dengan para regulator. Lain cerita dengan American Airlines, melalui salah satu juru bicaranya mengatakan, “Kami percaya penuh pada pesawat (Boeing 737 MAX 8) … akan memonitor investigasi,”.

Baca Juga: Setelah Indonesia, Otoritas Penerbangan Singapura Resmi Temporary Grounded Boeing 737 MAX 8

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman bbc.com, berikut adalah sejumlah maskapai yang juga menggunakan armada Boeing 737 MAX 8 – yang mungkin akan juga mengandangi armada tersebut:

Air Canada;

Aviation Capital Group;

Corendon Airlines;

Enter Air;

Gecas Travel Services;

Jet Airways;

Malindo Air;

Mauritania Airlines

Oman Air; (juga menggunakan pesawat tetapi tanggal pengiriman mereka belum dikonfirmasi oleh Boeing)

Sunwing Airlines; dan

Turkish Airlines.

 

Terdampak Kecelakaan Ethiopia Airlines, Siapa Saja yang Melarang Pengoperasian Boeing 737 MAX 8?

Belakangan ini, pemberitaan di sektor aviasi global tengah menyoroti masalah ditangguhkannya sejumlah armada Boeing 737 MAX 8 pasca dua kecelakaan mematikan dalam rentang waktu kurang dari enam bulan – Lion Air JT610 di Tanjung Karawang (29/10/2018) dan yang baru-baru ini terjadi adalah jatuhnya Ethiopia Airlines ET302 pada Minggu (10/3/2019), di Addis Ababa, tidak lama setelah lepas landas.

Baca Juga: Setelah Indonesia, Otoritas Penerbangan Singapura Resmi Temporary Grounded Boeing 737 MAX 8

Berlandaskan dua insiden mematikan ini, ternyata cukup membuat sejumlah regulator dari berbagai negara untuk menghimbau kepada para maskapai untuk menghentikan sementara pengoperasian dari Boeing 737 MAX 8. Memang, tidak ada kesamaan rinci antara kecelakaan yang melibatkan Lion Air atau Ethiopia Airlines, kedua kecelakaan ini juga sama-sama tengah diinvestigasi lebih lanjut. Namun sehubungan dengan adanya kesamaan pada jenis moda yang digunakan, ini cukup untuk dijadikan alasan di balik himbauan penghentian operasi dari Boeing 737 MAX 8.

Menurut data yang dimiliki oleh Federal Aviation Administration (FAA), terdapat sekitar 350 armada Boeing 737 MAX 8 yang dioperasikan oleh 54 operator penerbangan di seluruh dunia – termasuk Lion Air dan Garuda Indonesia.

KabarPenumpang.com mengutip dari laman cnn.com (12/3/2019), adapun sejumlah negara atau maskapai yang menghentikan pengoperasian dari Boeing 737 MAX 8 adalah Ethiopia Airlines, Cina (China Airlines, China Eastern, dan China Southern), Indonesia (Lion Air dan Garuda Indonesia), Aeromexico, Aerolineas Argentinas, Cayman Airways, Comair Airways, Eastar Jet, TUI Airways, GOL Linhas Aéreas (Brazil), Malaysia, Jerman, dan Icelandair.

Seolah enggan berspekulasi, para maskapai dan sejumlah negara tersebut menghimbau untuk tidak mengoperasikan terlebih dahulu setiap armada Boeing 737 MAX 8 yang mereka miliki – mayoritas mengedepankan alasan keselamatan penumpang.

Baca Juga: Alvin Lie: Pemerintah Indonesia Sebaiknya Tidak Terbangkan Dulu Boeing 737 MAX 8

Jika ditelisik lebih dalam lagi, ternyata ada juga negara dan maskapai yang malah melarang pengoperasian dari keluarga Boeing 737 MAX – Singapura, Australia, Otoritas Penerbangan Sipil Inggris, Oman, Norwegian Airlines, Perancis, Irlandia, dan Turkish Airlines.

Kendati sudah banyak negara dan maskapai yang menghentikan sementara pengoperasian dari Boeing 737 MAX 8 – bahkan keluarga Boeing 737 MAX, namun masih saja ada maskapai yang mengoperasikan armada yang tengah ramai diperbincangkan ini. Sebut saja American Airlines, Southwest Airlines, United Airlines, Fiji Airways, Flydubai, dan WestJet.