PT KAI Luncurkan Kereta Penolong Tebaru, Sudah Dilengkapi Instalasi Gawat Darurat

Kereta Penolong yang baru saja diluncurkan PT Kereta Api Indonesia (KAI) memiliki dua gerbong yang berfungsi sebagai evakuasi sarana dan pertolongan korban. Kereta yang baru di luncurkan di Stasiun Bandung tersebut berwarna kuning, putih dan merah muda serta difungsikan saat terjadi gangguan atau peristiwa luar biasa hebat (PLH) di perjalanan atau perlintasan.

Baca juga: Rail Clinic, Klinik Berjalan Diatas Rel Milik PT KAI Gratis

Pada versi lama, kereta penolong hanya berfungsi untuk melakukan evakuasi sarana kereta api seperti kereta, gerbong dan lokomotif ketika mengalami gangguan. Namun versi barunya kini dilengkapi dengan fasilitas Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk penanganan penumpang dan petugas yang mengalami luka-luka.

“Dengan adanya Rangkaian Kereta Penolong terbaru ini memungkinkan proses evakuasi tidak hanya fokus pada penanganan gangguan perjalanan kereta api, akan tetapi perhatian juga diutamakan kepada korban kecelakaan KA atau PLH tersebut, meskipun itu tidak kita harapkan terjadi,” ujar Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro yang dikutip KabarPenumpang.com dari kai.id.

Keunggulan kereta penolong ini adalah memiliki tenaga penggerak sendiri dimana pembuatannya menggunakan metode alih fungsi dari kereta rel diesel (KRD). Sebagai KRD yabg tak perlu ditarik lokomotif, maka kereta penolong dapat tiba lebih cepat di lokasi kejadian.

“Hal ini dimungkinkan karena persiapan armada untuk diberangkatkan menjadi lebih singkat. KAI memproduksi rangkaian Kereta Penolong ini di Balai Yasa Yogyakarta sejak bulan Juli 2018 dan telah menjalani uji statis dan dinamis hingga dinyatakan laik untuk dioperasikan pada November 2018,” jelas Edi.

Edi mengatakan, saat ini KAI sudah memiliki dua kereta penolong dan yang terbaru ini memiliki peralatan untuk mengevakuasi korban. Dia sendiri belum bisa memastikan adanya penambahan tetapi kereta penolong harus tersedia, minimal ada di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kereta penolong ini memiliki nilai investasi Rp6 miliar dengan rincian di kereta penolong 1 berisi alat untuk evakuasi sarana kereta api jika terjadi PLH yakni tabung pemadam (APAR), tangga barang dan orang, alat pengelasan untuk memotong besi, fasilitas alat ungkit dan alat berat untuk kasus KA anjlok.

Sedangkan fasilitas di ruang Kereta Penolong 2 yang berfungsi untuk mengevakuasi korban di antaranya ruang obat, ruang kru medis, ruang tindakan yang berfungsi sebagai tempat melakukan tindakan medis seperti operasi ringan dan sebagainya, ruang resusitasi (berfungsi sebagai tempat untuk memberikan pertolongan pertama pada orang yang mengalami henti nafas), ruang pasien, gudang alat kesehatan, dan toilet. Kereta Penolong ini dalam operasionalnya tidak dipisahkan, namun saat proses evakuasi antara Kereta Penolong 1 dan 2 bisa dipisahkan.

Baca juga: PT KAI Siap Kenakan Tarif Kelebihan Bagasi Pada Penumpang, Tapi Apakah Efektif?

“KAI mencoba untuk terus berinovasi terlebih di sisi keselamatan penumpang maupun kru KA. Hadirnya Kereta Penolong terbaru yang bisa difungsikan sebagai IGD ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi waktu selama proses evakuasi,” pungkas Edi.

Duh! Penumpang Air Transat Tersengat Kalajengking Ketika Mengudara

Melakukan perjalanan udara bersama hewan mematikan? Mungkin pertanyaan ini terdengar sedikit menggelitik di telinga Anda, namun percayalah, beberapa orang di dunia ini pernah mengalami hal tersebut. Sebut saja maskapai berbiaya rendah Lion Air yang pada beberapa waktu lalu sempat ‘kedatangan’ kalajengking di bagasi kabin penerbangan JT-293, tak lama setelah pesawat ini mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dari Pekanbaru, Kamis (14/2/2019).

Baca Juga: Hiiii! Ada Kalajengking di Penerbangan Lion Air Pekanbaru – Jakarta

Nah, kali ini kasusnya bisa dibilang lebih parah! Pasalnya seorang penumpang Air Transat mengaku telah disengat oleh kalajengking ketika tengah melakoni perjalanan dari Toronto menuju Calgary, Kanada, Selasa (26/2/2019). Adalah Quin Maltais, penumpang yang mengaku merasakan sesuatu yang aneh pada bagian punggung bawahnya ketika pesawat tengah mengudara. Bukan sakit akibat memar atau sejenisnya, melainkan sakit seperti disengat oleh binatang.

“Sesaat, saya agak mengabaikannya,” ujar Quin.

“Namun sesaat sebelum pesawat mendarat, persis ketika lampu kabin mulai diredupkan, saya merasakan sakit yang amat sangat pada bagian punggung bawah, seperti disengat – dan seketika saya sadar, astaga, saya telah digigit oleh binatang,” sambungnya.

Ketika lampu kabin sudah kembali menyala pertanda pesawat sudah mendarat, Quin langsung memeriksa bagian belakang tubuhnya tadi guna mencari apakah yang menyebabkan rasa sakit tersebut. Ketika ia mencoba untuk menyingkapkan sweateryang dikenakannya, ia tidak menemukan apa-apa. Namun sebuah pergerakan terlihat oleh mata Quindan ia menyadari bahwa itu merupakan seekor kalajengking.

Baca Juga: 215 Penumpang Air Transat Tak Temukan Koper Saat Tiba di Birmingham

“Saya melihat ada seekor kalajengking di lipatan kursi dan ia menyelinap ke arah belakang,” terangnya.

Sepenglihatan Quin, kalajengking itu sendiri memiliki panjang tubuh sekira empat inci (10cm). Quin yang dalam kondisi panik langsung dilarikan oleh petugas medis keluar dari pesawat dan mendapatkan penanganan pertama guna mencegah bisa dari kalajengking ini menyebar – terlepas apakah kalajengking tersebut menyengat atau mencapit punggung Quin.

Adapun kalajengking tersebut dilaporkan telah ditemukan dan dibunuh. Tidak dijelaskan bagaimana hewan itu bisa berada di dalam pesawat. Dalam keterangan tertulisnya, maskapai Air Transat menyatakan kejadian itu sangat langka, dan mereka segera menggelar penyelidikan.

“Tim kami segera mengikuti protokol dengan menghelat inspeksi menyeluruh di pesawat dan melaksanakan proses pemusnahan secepatnya,” ujar juru bicara Air Transat.

 

Ngeri…! Di Makanan Kelas Satu Delta Airlines Ada Belatungnya!

Duduk di kelas satu dalam sebuah penerbangan, penumpang akan mendapatkan pelayanan yang lebih dibandingkan kelas bisnis ataupun ekonomi. Baik itu kursi, kenyamanan hingga pelayanan makanan yang disajikan akan berbeda.

Baca juga: Setelah Insiden Kecoa, Kini Belatung Hidup ‘Tersaji’ di Makanan Pakistan International Airlines

Namun apa jadinya jika sudah membeli kursi penerbangan kelas satu tetapi mendapat makanan yang tidak higienis? Salah seorang penumpang Delta Airlines yang tidak mau disebutkan namanya ini mendapatkan hal yang tak terduga dan mengerikan pada makanannya.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman express.co.uk (14/3/2019), penumpang kelas satu tersebut merasa jijik ketika dirinya menemukan belatung hidup tengah menggeliat di sekitar piring makannya. Pria tersebut mendapat makanan itu saat dalam penerbangannya dari Detroit ke Seattle.

Kejadian ini di-videokan dan menjadi viral dimana menunjukkan belatung hijau perlahan-lahan bergerak di sisi piring makanan. Awalnya terlihat seperti sayuran dari salad dan lolos sebagai makanan. Tetapi ternyata belatung itu bukan sayur dan tiba-tiba bergerak di sekitar makanan tersebut. Video tersebut dibagikan ke media sosial oleh Matthew Klink di blognya Live and Lets Fly.

Klink menyatakan bahwa penemuan belatung memberi arti yang baru pada istilah organik. Blogger ini mengklaim memiliki detail tanggapan Delta ketika penumpang mengeluh dan mengatakan Delta meminta maaf atas makanan tersebut dan menawarkan pria itu US$50 sebagai kompensasi.

“Kami bekerja keras dengan vendor makanan kami untuk menawarkan porsi makan siang dan makan malam yang konsisten dan berkualitas yang menarik bagi semua penumpang kami. Namun, jelas kami menjatuhkan bola selama perjalanan ini. Perlu diketahui bahwa saya menyampaikan kekhawatiran Anda secara langsung ke tim kepemimpinan Vendor Penerbangan dan Katering kami, dengan harapan mencegah acara seperti ini terjadi lagi di masa mendatang,” ujar Delta.

Baca juga: Menjijikan, Ada Kecoa di Makanan ‘Bersegel’ Pada Penerbangan Full Service Air India

“Meskipun saya tidak bisa kembali dan mengubah pengalaman Anda, saya ingin memberi Anda hadiah Delta Choice $50 sehingga Anda dapat menikmati makanan yang lebih baik dari kami.”

Klink mengklaim, penumpang berkata, setelah mendengar tawaran moneter ini: “Siapa yang benar-benar berpikir tentang makan di luar ketika Anda baru saja makan makanan tercemar?”

Saat Airbus A320-200 Batik Air di “Force Down” Jet Tempur Sukhoi Su-30

Jumat siang, 15 Maret lalu sebuah Airbus 320-200CEO Batik Air dengan registrasi PK-LUW dan nomor penerbangan ID 6262 mendapat kawalan langsung dari dua jet tempur Sukhoi Su-30. Pesawat dengan rute Jakarta menuju Makassar dengan 7 awak dan 115 penumpang ini terpaksa di intercept untuk selanjutnya di force down alias dipaksa mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.

Baca juga: Terima Pesan Hoax, Eurofighter Typhoon Inggris Paksa Mendarat Ryanair

Pengerahan jet tempur mutahkir dari Skadron Udara 11 tentu bukan karena sembarang tujuan, melainkan jet tempur ini diterbangkan atas perintah Kosek Hanudnas II, pasca diperoleh informasi pesawat dibajak 60 menit mengudara dari Jakarta.

Tapi tunggu dulu, peristiwa di atas adalah bagian dari Join Emergency Response Plan Exercise yang memiliki skenario latihan pembajakan (hijack) dalam penerbangan. Dikutip dari siaran pers (15/3), rangkaian kegiatan latihan melibatkan personil dari berbagai divisi Batik Air, TNI Angkatan Udara Lanud Sultan Hasanuddin, Kosek Hanudnas II, Airnav dan Bandar Udara Sultan Hasanuddin. Latihan penanggulangan tanggap darurat (emergency response plan exercise) dihadiri dan disaksikan secara langsung oleh Chief Executive Officer (CEO) Batik Air, Capt. Achmad Luthfie dan Komandan Wing Udara 5 Kolonel Pnb Hermawan Widhianto.

Seluruh proses penanganan pesawat, tamu dan bagasi dilaksanakan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP). Penerbangan ID-6262 berangkat tepat waktu (on time), lepas landas pukul 08.40 WIB dari Soekarno-Hatta dan tiba di Makassar pada pukul 12.05 WITA.

Setelah 60 menit mengudara, diketahui bahwa penerbangan ID-6262 mengalami pembajakan oleh teroris. Pilot menjalankan prosedur dengan berkoordinasi dan menyampaikan informasi kepada Air Traffic Controller (ATC) bandar udara tujuan. Atas keterangan tersebut, Komandan Lanud Sultan Hasanuddin mengambil langkah pengamanan kepada pesawat Batik Air ID-6262 dengan menginstruksikan dua pesawat Sukhoi 30 untuk melaksanakan pengawalan dan force down ID-6262 di Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar.

Setelah berkoordinasi dengan Kosek Hanudnas II, dua pesawat Sukhoi 30 tersebut berhasil melaksanakan intercept, identifikasi dan force down sesuai dengan SOP. Setelah pesawat Batik Air ID 6262 mendarat dengan aman di Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar, proses pengamanan di darat dilakukan oleh TNI Angkatan Udara Lanud Sultan Hasanuddin, Petugas keamanan Bandar Udara dan Pihak terkait lainnya. Dengan kerjasama dan koordinasi yang baik, teroris dapat ditangkap dan diamankan untuk penanganan lebih lanjut. Seluruh crew dan tamu Penerbangan Batik Air ID 6262, berada dalam kondisi aman. Proses penurunan tamu dan bagasi berjalan normal.

Baca juga: Saat Terjadi Pembajakan, Inilah Sinyal Rahasia Yang Dapat Dikirimkan Oleh Pilot

Kegiatan ini merupakan latihan terpadu yang dilakukan secara berkala dan berkesinambungan yang bertujuan untuk menguji fungsi komunikasi, komando dan koordinasi antar-stakeholder sesuai dengan Prosedur Penanggulangan Keadaan Darurat (Emergency Response Plan).

Bukan SMRT, Ternyata Taipei Metro Lebih Andal dalam Sistem MRT di Dunia

Sebenarnya dimanakah sistem Metro atau MRT terbaik di dunia? Apakah di Hong Kong, Singapura atau mungkin salah satu negara di Eropa? Ternyata jawabannya ada di Taipei, Taiwan dengan Taipei Metro yang dikenal sebagai sistem kereta bawah tanah paling andal di dunia. Hal ini bisa terlihat dari operator transportasi Singapura, SMRT yang mengundang tim ahli Taipei Metro untuk ikut dalam peninjauan operasi di tengah berbagai masalah.

Baca juga: Kejar Target Operasi di 2019, MRT Kaohsiung Taiwan “Kedatangan” Armada Alstom

Taipei Metro hadir dengan 117 stasiun dan mengangkut dua juta penumpang setiap harinya. Moda transportasi massal ini menghubungkan kota-kota termasuk Taipei, New taipei dan Taoyuan. Bahkan on time performance dari Taipei Metro sendiri mendekati 100 persen. Dilansir KabarPenumpang.com dari mothership.sg, ternyata kurang dari 30 keterlambatan yang melebihi waktu lima menit dalam setahun.

Penumpang Taipei Metro sendiri naik hampir dua kali lipat dalam delapan tahun terakhir dan membuat kepuasan penumpang sebesar 95 persen. Penumpang Taipei Metro sendiri memuji kereta karena bersih dan kursi prioritas tersedia cukup banyak, sehingga lansia dan orang tua yang membawa anak-anak bisa terbantu dengan baik. Keandalan Taipei Metro ternyata tak lepas dari para staf yang bertugas di dalamnya. Pasalnya, karyawan yang bekerja di Taipei Metro berdedikasi dari atas hingga kebawah.

Bahkan Presiden Taipei Rapid Transit Corporation sendiri sudah menduduki jabatannya selama 19 tahun. Adapun penggantian staf sendiri hanya tiga persen dari keseluruhan. Staf yang bertugas di stasiun juga memiliki pengalaman yang cukup lama dan keahliannya sangat berguna.

Lebih dari dua ribu pekerja bertanggung jawab hanya untuk pemeliharaan dimana masalah yang tidak terlalu besar bisa diselesaikan dalam waktu rata-rata dua menit. Prosedur pengoperasian pemeliharaan juga direncanakan dengan baik seperti operasi standar untuk menangani semua insiden, termasuk penumpang yang melompat ke rel.

Bila ada masalah di jalur atau kereta, penumpang akan diberi tahu dalam waktu lima menit masalah penundaannya. Pihak Taipei Metro juga membuka satu jalur yang bisa dioperasikan untuk dua arah saat ada masalah teknis dan bus akan hadir juga untuk membantu mengangkut penumpang.

Meski begitu Taipei Metro pernah terkena masalah cukup besar dimana tahun 2001 lalu, Topan Nar yang menghantam pulau tersebut membuat hujan turun selama tiga hari. Karena itu sebanyak 16 stasiun bawah tanah kebanjiran dan kerusakan mencapai US$76 juta dan pihak Taipei Metro membutuhkan waktu selama tiga bulan untuk membuka layanannya kembali.

Baca juga: Tempatkan Tenaga Ahli di Kereta Nirawak, MRT Singapura Mampu Saingi Kinerja Sistem Metro Taipei

Hal ini kemudian membuat adanya peningkatan pada pengendalian banjir dimana pompa diperlebar untuk mempercepat pengeringan air banjir. Papan kontrol pompa juga dipindahkan ketempat yang lebih tinggi dan hingga saat ini sistem Taipei Metro tak penah mengalami banjir setelahnya.

Mudahkan Pelayanan di Konter Check-in, Japan Airlines Gandeng Accenture Hadirkan Artificial Intelligent

Maskapai plat merah asal Negeri Matahari Terbit, Japan Airlines (JAL) dikabarkan telah menjalin kemitraan dengan salah satu perusahaan teknologi, Accenture dalam upayanya untuk memperkenalkan layanan Artificial Intelligent (AI). Nantinya, layanan kecerdasan buatan ini akan diperuntukan menjawab pertanyaan para pelancong di konter check-in maskapai. Perusahaan akan mulai menguji layanan bertenaga AI di konter check-in internasional di Bandara Narita dan Bandara Haneda, Jepang mulai 12 Maret 2019.

Baca Juga: Hitachi Luncurkan EMIEW3, Robot Pintar di Bandara Dengan Artificial Intelligence

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (12/3/2019), cara kerja dari layanan ini adalah mesin akan mengevaluasi percakapan antara agen konter check-in dan penumpang, lalu layanan ini akan mengirimkan informasi yang relevan ke tablet agen secara real-time. Layanan ini sendiri menggunakan pengenalan suara, dan mampu untuk memahami pertanyaan hingga menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh pelancong.

Layanan ini diharapkan dapat membantu mempercepat proses check-in untuk penumpang, sekaligus membuat waktu yang penumpang habiskan di bandara lebih efisien. Lalu bagi para pegawai di konter check-in, layanan ini jelas akan membantu mereka menangani proses check-in tanpa repot, yang sebelumnya mencakup berbagai sistem operasi dan dokumen cetak untuk menjawab pertanyaan seperti penjemputan bagasi untuk menghubungkan penerbangan internasional, permintaan peningkatan kursi, dan lokasi lounge bandara di tujuan.

Untuk mengembangkan platform ini, Accenture menggunakan kemampuan AI dari Accenture Applied Intelligence, sejalan dengan metode pengembangan proyek dan keahlian maskapai dari Accenture’s Travel Consulting Group.

Baca Juga: RADA! Robot Berteknologi Artificial Intelligence di Bandara Indira Gandhi

Menurut rencana, teknologi kecerdasan buatan ini akan diuji di bandara Narita dan Bandara Haneda hingga akhir Maret mendatang. Setelah melakukan uji coba, kedua perusahaan ini akan mengevaluasi hasil dari uji coba tersebut, dan selanjutnya mitra akan sepenuhnya menggunakan layanan di bandara Haneda dan bandara Narita.

Sebagai informasi tambahan, Japan Airlines didirikan pada tahun 1951, dan saat ini, pihak maskapai telah mengoperasikan penerbangan ke 349 bandara di 52 negara dan wilayah dengan armada 233 pesawat.

Meski Diidamkan, Hadirnya Kereta Cepat di Australia Belum Dipandang Ideal

Perkembangan jaman yang bisa dibilang terus melaju setiap harinya ini seolah memaksa setiap bagian untuk turut hanyut di dalamnya. Khusus di sektor transportasi, salah satu imbas dari perkembangan teknologi ini adalah lahirnya moda kereta cepat. Mengambil contoh dari Jepang dengan Shinkansennya, setiap negara seolah ingin mengaplikasikan moda serupa di tanah airnya masing-masing. Namun, apakah dengan hadirnya moda semacam ini bisa menguntungkan dan membawa pembaruan bagi negara yang ingin menghadirkannya?

Baca Juga: Berbagi Pasar dengan Dunia Penerbangan, Eurostar Rilis Layanan Kereta Cepat London-Amsterdam

Sebut saja Australia yang sempat menggagas kehadiran dari kereta cepat yang menghubungkan Sydney, Canberra, dan Melbourne di masa lampau. Gagasan tersebut hadir dari kepala Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO), Paul Wild yang pada awal tahun 1980-an, dirinya mengaku mendapatkan ilham sepulangnya ia dari Jepang dan menjajal teknologi kereta super cepat Shinkansen. Namun karena satu dan lain hal, visi dari Paul Wild tersebut gagal diimplementasikan dan hanya menyisakan angan. Namun ketika ditimbang kembali, perlukah setiap negara memiliki moda kereta cepat?

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman abc.net.au (11/3/2019), profesor transportasi kereta api dari University of Southampton, John Preston mengatakan bahwa sedikit kota di dunia yang dapat memenuhi kondisi yang diperlukan untuk jaringan kereta api berkecepatan tinggi yang layak secara komersial, dalam hal ini termasuk di Australia yang populasi penduduknya rendah, maka disinyalir tingkat kebutuhan pada kereta cepat tidak memadai dalam skala bisnis dan investasi.

“Tokyo-Osaka sudah jelas, dan Paris-Lyon pun sama. Shanghai-Nanjing di Cina masih memiliki harapan (untuk dibangun kereta api berkecepatan tinggi), tetapi mereka menghadapi tingkat permintaan yang relatif berat,” ujar John Preston.

“Kita berbicara total 20 juta penumpang per tahun di tahun pertama operasi, dan kemudian biasanya akan diikuti oleh pertumbuhan yang cukup besar,” lanjutnya.

Di sisi lain, konsultan transportasi Peter Thornton mengatakan bahwa ada fenomena unik yang muncul ketika wacana tentang pembangunan kereta cepat mulai mencuat ke permukaan.

“Yang menarik, orang-orang mau merancang dan membangunnya, tetapi tidak ada yang mengatakan mereka akan mau menjalankannya,” tutur Peter.

Lagi, jika kereta cepat ini hadir di setiap negara, dikhawatirkan akan berimbas pada menururnnya value dari sektor aviasi di negara terkait. Seperti yang sudah pernah diberitakan sebelumnya, bukan tidak mungkin jika penumpang akan beralih menggunakan kereta cepat dan meninggalkan si burung besi.

Baca Juga: Perkembangan Kereta Cepat Bakal ‘Interupsi’ Layanan Penerbangan di Masa Depan, Mungkinkah?

Pernyataan di atas didukung oleh direktur Program Transportasi dan Kota di Institut Grattan, Marion Terrill yang juga menyatakan pandangan yang sama.

“Bahwa kereta cepat akan menggantikan rute penerbangan yang ada yang selama ini berdiri di atas kaki sendiri secara komersial,” ujarnya.

 

Batik Air Buka Penerbangan Charter Non-Stop Jakarta-Kunming

Batik Air, anggota dari Lion Air Group bekerja sama dengan Grand China Travel meresmikan rute baru charter non stop dari Jakarta menuju Kunming di Yunan, Cina. Rute pergi pulang (PP) ini sendiri memulai terbang dengan jadwal 1 Maret hingga 30 April 2019.

Baca juga: Heboh Boarding Pass 2015 di Batik Air, Ternyata Hanya Penunjuk Waktu Keberangkatan

Maskapai dengan kode penerbangan ID ini akan terbang dua kali seminggu dari Jakarta yakni setiap Rabu dan Minggu pukul 19.00 WIB dan dua kali seminggu dari Kunming setiap Senin dan Kamis pukul 02.10 waktu setempat. Sedangkan untuk periode penerbangan 1 Mei hingga 29 Februari 2020 mendatang akan ada tiga kali penerbangan dari Jakarta yakni Rabu, Jumat, Minggu dan Setiap senin, Kamis, Sabtu dari Kunming dengan waktu keberangkatan yang sama.

Jarak tempuh penerbangan ini sendiri dari Jakarta menuju Kunming sekitar 3.484 km. CEO Batik Air, Capt. Ahmad Luthfie mengatakan, penerbangan dengan rute charter baru ini sebagai bagian dari pembukaan destinasi baru dan ini merupakan bagian komitmen Batik Air dalam menghubungkan antardestinasi internasional.

“Ini sejalan untuk memperkuat layanan dan jaringan Batik Air saa ini. Kami bangga mampu memberikan pilihan baru dalam melakukan perjalanan udara kepada setiap pelanggan bisnis dan pelancong melalui penerbangan langsung,” ujar Ahmad yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers.

Dia mengatakan bersama Grand China Travel, pihaknya optimis bahwa perkembangan dan pertumbuhan pariwisata nasional semakin pesawat seiring mendukung program pemerintah untuk mencapai target kunjungan 20 juta wisatawan asing. Hal tersebut ditandai dengan akses mudah bagi wisatawan mancanegara khususnya dari Kunming yang berkunjung ke Indonesia melalui Jakarta.

“Penerbangan dioperasikan dengan armada terbaru Airbus A320-200 berkapasitas 12 kursi kelas bisnis dan 144 kelas ekonomi yang dilengkapi inflight entertainment (audio video on demand) di setiap kursi. Kesungguhan Batik Air ialah menyediakan pelayanan terbaik dan menambahkan kenyamanan tamu saat berada di pesawat (in-flight services) dengan upaya semakin meningkatkan pengalaman terbang sekitar lima (5) jam di kelas premium services airlines berkonsep pre-flight, in-flight serta post-flight,” ujar Ahmad.

Untuk kedepannya, Batik Air akan terus berencana menambahkan beberapa rute ke kota wisata unggulan menuju Tiongkok dengan menggandeng Grand China Travel sebagai mitra perjalanan. Upaya ini dalam rangka menunjang sektor pariwisata Indonesia. Batik Air juga sangat berharap, penerbangan tersebut bisa berdampak positif dalam membantu peningkatan potensi bisnis, perdagangan, industri kreatif, jasa dan sektor lainnya di kedua kota.

Baca juga:  Mulai Hari Ini, Batik Air Buka Penerbangan Jakarta – Banyuwangi

“Travelers asal Kunming yang mempunyai rencana menjelajahi lebih luas lagi kota-kota favorit yang dilayanai oleh Batik Air semakin mudah. Batik Air menawarkan koneksi perjalanan terbaik melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta,” ujarnya.

Depok Canangkan Bangun MRT atau LRT di Tahun 2022

Setelah Jakarta, apakah daerah di dekatnya seperti Depok akan memiliki transportasi massal seperti Mass Rapid Transit (MRT) atau Light Rail Transit (LRT)? Kemungkinan untuk memiliki transportasi massal ini bisa terealisasi. Pasalnya, studi kelayakan atau feasibilty study (FS) sudah mulai dilakukan Badan Pegelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ).

Baca juga: Jelang Beroperasi Penuh, Sebenarnya Berapa Tarif Tiket MRT Jakarta?

“Baru rencana. Ini baru FS-nya. FS MRT atau LRT dari Harja Mukti (Cibubur) sampai Pondok Cina (Beji, Depok). Baru FS-nya yang dibuat,” Kepala Dinas Perhubungan Kota Depok, Dadang Wihana, Kamis (14/3/2019) yang dikutip KabarPenumpang.com dari wartakotalive.com.

Studi kelayakan itu sendiri sudah masuk ke dalam Rencana Induk Transportasi Jakarta (RITJ). Rencananya bila tak ada hambatan MRT ataupun LRT ini akan melintas dan dinikmati warga Depok tahun 2022 mendatang.

Dalam memuluskan proyek tersebut Pemkot Depok telah mengusulkan besaran biaya Rp600 miliar untuk membangun infrastruktur pendukung di wilayah Depok. Dana ini diharapkan dari pihak swasta dalam bentuk kerja sama investasi.

“Yang kami kelola itu APBD Depok, APBD Provinsi, dan dana kementerian. Jadi ada lintas pembiayaaan. Tapi yang paling besar itu dari dana swasta, investasi ya. Sumber pembiayaan itu kan banyak,” kata Dadang.

Dia menambahkan, bila berjalan sesuai rencana, MRT atau LRT yang melintas di Depok akan dikelola oleh swasta.

“Selama ini kalau kayak MRT atau LRT itu kaya investasi kan, misal Harja Mukti ke Pocin investasi oleh investor,” tutur Dadang.

Kehadiran moda transportasi modern itu diharapkan menjadi pilihan lain untuk mendukung mobilitas warga, sekaligus mengurangi penggunaan kendaraan umum demi mengurai kemacetan. Bahkan kehadiran MRT sendiri bukan hanya keuntungan bagi warga ibukota Jakarta melainkan untuk masyarakat yang tinggal di kota penyangga seperti Depok.

Dadang mengatakan, pihaknya tengah membahas rencana pengaktifan rute angkutan umum Depok-Lebak Bulus untuk memudahkan warga Depok menuju Stasiun MRT Lebak Bulus di Jakarta Selatan.

“Kami sudah bicara dengan Transjakarta, kalau Stasiun MRT di Lebak Bulus kami akan mengaktifkan satu jaringan yang dulu (PO) Deborah ya. Kemarin baru satu kali pertemuan, ingin mengaktifkan kembali trayek-trayek yang lama tidak digunakan,” ujar Dadang.

Baca juga: “Debby,” Sebutan Kesayangan untuk Bus PO Deborah Rute Depok – Lebak Bulus

Dalam pembahasan itu, Dadang berkeinginan agar pengaktifan rute itu nantinya ada kerjasama antara pengusaha lokal pemilik perusahaan otobus (PO) dengan Transjakarta.
Namun, dia ingin kendali operasi berada dalam satu manajemen.

Kemenhub: Masa Temporary Grounded Boeing 737 MAX 8 Bisa Diperpanjang

Kecelakaan Ethiopia Airlines berbuntut panjang! Setelah beberapa hari yang lalu ramai diberitakan pembekuan armada Boeing 737 MAX 8 di sejumlah maskapai dari seluruh penjuru dunia, kini Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengeluarkan pernyataan bahwa masa pembekuan armada Boeing 737 MAX 8 di Indonesia bisa diperpanjang. Pelarangan operasi dari armada asal Amerika ini diperpanjang hingga waktu yang belum ditentukan.

Baca Juga: Garuda Indonesia Akhirnya Pikirkan Pembatalan Pesanan Boeing 737 MAX 8

“Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menetapkan larangan beroperasi bagi seluruh pesawat terbang B737-8 MAX yang dioperasikan oleh operator penerbangan Indonesia di wilayah ruang udara Republik Indonesia, berlaku sejak tanggal 14 Maret 2019,” kata Kepala Bagian Kerja Sama Internasional Humas dan Umum Ditjen Perhubungan Udara Hari Budianto, dikutip KabarPenumpang.com dari laman detik.com (14/3/2019).

Tidak lain dan tidak bukan, pembekuan operasi dari Boeing 737 MAX 8 ini dilatarbelakangi oleh jatuhnya pesawat Ethiopia Airlines di Addis Ababa pada Minggu (10/3/2019) kemarin – dimana kejadian ini merupakan kecelakaan kedua kalinya armada Boeing 737 MAX 8 dalam kurun waktu lima bulan terakhir.

Sebelumnya, pada 19 Oktober 2018 yang lalu, pesawat dengan jenis yang sama yang dioperasikan oleh Lion Air dengan nomor penerbangan JT610 mengalami kecelakaan di Tanjung Karawang dan menewaskan keseluruhan penumpang dan awak penerbangan yang berada di dalamnya.

Menurut Hari, langkah ini ditempuh dengan memperhatikan Continuous Airworthiness Notification to the International Community (CANIC), yang diterbitkan oleh FAA pada 13 Maret 2019 perihal Updated Information Regarding FAA Continued Operations Safety Activity Related to the Boeing Model 737-8 and 737-9 (737 MAX) Fleet dari Federal Aviation Administration.

“Direktur Jenderal Perhubungan Udara Polana B. Pramesti menegaskan bahwa larangan beroperasi ini berlaku sampai dengan adanya pemberitahuan lebih lanjut, dengan mempertimbangkan terpenuhinya keselamatan penerbangan,” sambungnya.

Baca Juga: Pasca Temporary Grounded Boeing 737 MAX 8, Lion Air dan Garuda Indonesia Nyatakan Jadwal Penerbangan Tidak Terganggu

“Demi terpenuhinya keselamatan penerbangan di Indonesia, kami memutuskan untuk melarang terbang seluruh pesawat Boeing 737-8 MAX yang dioperasikan oleh operator penerbangan Indonesia di wilayah ruang udara Republik Indonesia, berlaku sejak tanggal 14 Maret 2019,” tegas Hari.

Namun bukan berarti himbauan pembekuan pengoperasian dari Kemenhub ini bisa ‘dipukul rata’. Kemenhub memberikan pengecualian terhadap penerbangan Boeing 737 MAX 8 yang bersifat non komersial (tidak membawa penumpang) dan ferry flight (penerbangan ke lokasi perawatan atau penyimpanan pesawat).