Imbas Krisis Hong Kong, Makau dan Shenzhen Ikut Terdampak Penurunan Wisatawan

Kendati sudah terjadi sejak bulan Maret kemarin, namun kerusuhan yang ada di Hong Kong terkait RUU Ekstradisi masih belum juga surut. Bak efek bola salju, semakin lama durasi demonstrasi ini, maka semakin banyak pula pihak yang dirugikan – termasuk dari dunia penerbangan. Pada artikel sebelumnya sudah disebutkan bahwa sejumlah maskapai beken seperti Singapore Airlines, Qantas, Cathay Pacific hingga Garuda Indonesia mengalami kerugian akibat protes berkelanjutan ini, kini satu maskapai lagi yang turut mengalami penurunan kas perusahaan adalah AirAsia.

Baca Juga: Rute ke Hong Kong Lesu, Garuda Indonesia Susutkan Frekuensi Penerbangan Jadi 2 Kali Seminggu!

Ya, maskapai berbiaya rendah asal Negeri Jiran Malaysia ini juga dikabarkan turut terdampak proter RUU Ekstradisi di Hong Kong, setelah pihak maskapai membuka data soal penurunan jumlah penumpang tujuan Makau dan Shenzhen. Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (18/11), CEO dari AirAsia Tony Fernandes mengatakan bahwa penurunan angka penumpang menuju Negeri Tirai Bambu ini merupakan sesuatu yang, “buruk,”

Makau dan Shenzhen diketahui sebagai wilayah yang berdekatan dengan Hong Kong, dimana tak sedikit wisatawan yang mengambil peket tour terusan ke kedua wilayah tersebut.

Merosotnya jumlah penumpang ini semakin diperparah oleh himbauan pihak Malaysia yang melarang warganya untuk tidak melakukan perjalanan yang tidak penting ke bagian-bagian yang terkena dampak dari kerusuhan Hong Kong tersebut.

Menilik imbas bagi Hong Kong sendiri, kini jumlah wisatawan yang datang ke negara tersebut juga telah mengalami penurunan yang cukup signifikan. Selain itu, deru protes tak berujung ini juga sejatinya ‘melukai’ bisnis yang ada di sana – baik dalam partai besar maupun di kelas pengecer.

Baca Juga: Singapore Airlines, Cathay dan Qantas Mengaku Terdampak Kerusuhan di Hong Kong

Seperti yang sudah diketahui bersama, maskapai Singapore Airlines pun merasakan hal yang sama, dimana permintaan penerbangan menuju Hong Kong masih terbilang lesu. Lain cerita dengan Garuda Indonesia yang sampai-sampai memangkas jumlah penerbangan menuju Hong Kong – dimana sebelum kerusuhan terjadi, flag carrier Indonesia ini menjadwalkan 14 penerbangan dalam seminggu, kini dipangkas habis menjadi dua penerbangan saja dalam seminggu (Jakarta-Hong Kong).

Lalu untuk rute penerbangan dari Denpasar menuju Hong Kong, Garuda Indonesia yang tadinya menjadwalkan tujuh penerbangan dalam seminggu juga turut dipapas menjadi dua penerbangan saja.

Tiga Sleeper Train ini Sajikan Pengalaman Fantastis Mengular di Benua Biru!

Sempat dihilangkan dari pasar Indonesia karena menuai kontroversi yang berkenaan dengan tindak asusila, nyatanya keberadaan sleepers train di Indonesia kini mulai menggeliat kembali – tepatnya pada bulan Mei 2019 kemarin. Mengambil konsep yang mirip dengan bangku first class yang ada di dunia penerbangan, kini sleeper train banyak diburu oleh para penumpang yang ingin merasakan sensasi mengular dengan bangku super nyaman.

Baca Juga: Hadirkan Sleeper Train, Siapkah PT KAI Hapus Bayangan “Masalah” Sosial KA Bima?

Namun jika dibandingkan dengan sleeper train yang ada di luar, sudah barang tentu desain dan modelnya berbeda jauh. Jika sleeper train yang menjadi andalan PT KAI merupakan jenis tanpa kamar atau bilik, lalu bagaimana dengan negara-negara yang ada di luar sana? Berikut adalah penelusurannya, dikutip KabarPenumpang.com dari laman cnn.com.

Caledonian Sleeper

Caledonian Sleeper Train. Sumber: cnn.com

Ini merupakan nama kolektif dari layanan sleeper train yang menghubungkan Inggris dengan Skotlandia. Caledonian Sleeper merupakan satu dari dua layanan serupa yang ada di Tanah Britania – satunya Night Riviera yang menghubungkan London dengan Penzance. Salah satu poin yang membuat layanan ini begitu mahsyur adalah karena pemandangan indah khas Inggris – Skotlandia yang tersaji selama perjalanan. Adapun estimasi waktu perjalanan dari London menuju Fort William yang ada di Skotlandia kurang lebih delapan jam.

Tolstoy Sleeper Train

Tolstoy Sleeper Train. Sumber: cnn.com

Dioperasikan oleh Russian Railways guna menghubungkan Helsinki yang ada di Finlandia dengan Moskow yang ada di Rusia, Tolstoy Sleeper Train sejatinya memiliki beragam varian kelas yang bisa Anda jajal, mulai dari second class yang berisikan empat ranjang tersusun dua hingga deluxe business class dengan tampilan bak sebuah suite mewah. Membutuhkan waktu sekira 15 jam untuk menghubungkan Helsinki dan Moskow dengan menggunakan kereta ini.

Baca Juga: Sleepers Train di Jepang Sukses Angkat Pamor Wilayah yang Dilaluinya

Russian Railways

Russian Railways Sleeper Train. Sumber: cnn.com

Selain mengoperasikan Tolstoy Sleeper Train, Russian Railways juga memiliki sleeper trainnya sendiri. Tidak hanya sekedar sleeper train, perjalanan dari Paris menuju Moskow ini juga didaulat sebagai salah satu rute kereta terpanjang yang ada di Eropa. Jarak 2.164 mil yang terbentang di antara dua destinasi ini tidak akan terasa melelahkan kala Anda menjajal sleeper train yang satu ini.

Selain menyediakan ruangan nyaman bak sebuah kamar hotel, sleeper train ini jua menyediakan gerbong restorasi khusus yang memiliki desain seperti restoran bintang lima, lho!

Mulai 1 Desember, KA Kalijaga Berhenti Beroperasi Setelah Penetapan Gapeka 2019

PT Kereta Api Indonesia (KAI) mulai menggunakan Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) 2019 pada 1 Desember 2019. Dengan penggunaan Gapeka terbaru ini akan ada beberapa kereta api yang tak akan lagi mengular di rel dan digantikan oleh kereta dengan tujuan yang sama.

Baca juga: KA Banyubiru Ekspres – Mati Karena Uzur dan Kalah Saing dengan Transportasi Lain

Salah satu kereta yang tak akan lagi beroperasi setelah Gapeka 2019 adalah KA Kalijaga relasi Solo ke Semarang dan sebaliknya. Manajer Humas Daerah operasional (Daop) 6 Yogyakarta, Eko Budianto menjelaskan, penghentian pengoperasian KA Kalijaga karena tidak masuk dalam Gapeka 2019 dan menawarkan alternatif KA Joglosemarkerto dengan relasi Yogyakarta-Solo-Semarang-Purwokerto.

Eko mengatakan, tarif kedua kereta ini pun berbeda yang mana KA Kalijaga mendapat subsidi sehingga tarifnya hanya Rp10 ribu. Sedangkan KA Joglosemarkerto tidak disubsidi dengan tarif mulai Ro50 ribu dan terdiri dari kelas ekonomi dan eksekutif.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, KA Kalijaga merupakan kereta api kelas ekonomi yang menggantikan KA Pandanwangi dan KA Banyubiru yang sudah tua. Kereta ini biasanya menarik tujuh gerbong kelas ekonomi rangkaian KA Bengawan yang di operasikan sore hari dengan waktu tempuh dua jam 45 menit.

KA Kalijaga sendiri berhenti di Stasiun Semarang Poncol, Stasiun Semarang Tawang, Stasiun Brumbung, Stasiun Kedungjati, Stasiun Gundih, Stasiun Salem, dan Stasiun Solo Balapan. Nama Kalijaga diambil dari seorang Walisongo terkenal yakni Sunan Kalijaga.

Bila dalam perkeretaapian motto Kalijaga adalah menjaga tradisi yakni memelihara tradisi relasi kereta api Solo-Semarang yang merupakan relasi kereta api antarkota pertama di Jawa sekaligus Indonesia. Adapun relasi KA ini melanjutkan KA Pandanaran, KRD Purwosari-Pekalongan dan KA Pandawangi.

Kereta ini sendiri adalah lanjutan dari KA Joglosemar yang menggunakan rangkaian KA Bengawan dengan tujuh gerbong yang mampu menampung 636 penumpang. KA ini melunucur di rel pada 15 Februari 2014.

Bahkan karena berkembangnya transportasi lain dan sepinya peminat, KA Kalijaga hampir dihentikan operasionalnya. Ini juga disebabkan keuntungan yang ada tidak sebanding dengan biaya operasional untuk kereta jalur lintas ini, apalagi kereta ini bukan kereta komuter.

Baca juga: KA Badra Surya – Kereta Ekonomi Legendaris Favorit Mahasiswa di Perantauan

Awal pengoperasiannya tarif KA Kalijaga Rp25 ribu dan kemudian mengalami reduksi tarif menjadi Rp10 ribu setelah PT KAI mengajukan public service obligation.

Gapasdap Minta Tiga Fungsi Pelabuhan Penyeberangan Dibagi, Ini Tanggapan ASDP

Adanya kekhawatiran terkait persaingan usaha yang tidak sehat di antara operator kapal yang berlabuh di pelabuhan milik PT ASDP Indonesia Ferry, membuat Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) meminta pengelolaan penyeberangan menjadi lebih profesional. Permintaan tersebut konkritnya dengan pemisahan tiga fungsi yang kini masih dipegang ASDP yakni sebagai operator jasa penyeberangan (ferry), operator pengelola pelabuhan dan pengendali lalu lintas kapal.

Baca juga: Bila di Udara ada Air Navigation Charges, maka di Laut ada Traffic Separation Scheme

Gapasdap mengungkapkan permintaan tersebut dapat dimulai dari PT ASDP Indonesia Ferry sebagai BUMN yang mengelola pelabuhan penyeberangan. Menurut Ketua umum Gapasdap, Khoiri Soetomo, ia menganalogikan pemisahan fungsi ini penting, contohnya seperti yang dilakukan oleh angkutan udara yang mana fungsi operator bandara dijalankan oleh PT Angkasa Pura I dan II, serta Kemenhub, sementara navigasi udara oleh AirNav Indonesia dan operator penerbangan dilakukan oleh swasta atau BUMN.

Sedangkan kondisi saat ini, PT ASDP menjalankan semua fungsi tersebut dan menurut Khoiri, dengan pembagian ini masyarakat pengguna menuntut pelayanan angkutan penyeberanga yang semakin aman, nyaman, mudah, cepat dan terjangkau.

“Tentu kita ingin agar ASDP semakin profesional terutama dalam meningkatkan pelayanan pelabuhan penyeberangan di seluruh Indonesia. Dengan ASDP yang semakin profesional maka angkutan penyeberangan tidak kalah dengan moda transportasi lain,” ujar Khoiri yang dikutip KabarPenumpang.com dari bisnis.com (4/11/2019).

Dengan adanya permintaan pemisahan tiga fungsi tersebut, PT ASDP sebagai BUMN yang mengelola pelabuhan penyeberangan menyatakan siap dengan segala keputusan pemerintah terkait hal ini. Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry, Ira Puspadewi mengatakan, saat ini pemerintah tengah melakukan kajian komperhensif mengenai kemungkinan pengembangan atau pembagian tiga fungsi operasi.

Namun bagaimana bila dilihat dari kacamata pengusaha atau pihak swasta terkait adanya pembagian tiga fungsi pelabuhan penyeberangan ini? KabarPenumpang.com mendapatkan pernyataan dari salah seorang pengusaha jasa pelayaran kapal di Pelabuhan Merak, yang menyatakan tidak masalah dengan adanya hal tersebut.

Baca juga: Pelabuhan Lembar, Pintu Masuk Utama Pelancong di Lombok Barat

Bahkan ditambahkan, hal ini lebih baik untuk ASDP karena bisa lebih fokus pada pelabuhan dan bila sudah mampu seperti angkutan penerbangan maka pembagian tiga fungsi ini sah-sah saja. Siapapun pemilik pelabuhan, siapapun operatornya, masyarakat sebagai penumpang tetap akan naik kapal ferry untuk menyeberang ke tujuan mereka.

Tak Dapat Kursi, Inilah Derita Penumpang Tunanetra di Kereta Komuter Inggris

Penyandang disabilitas menjadi penumpang prioritas dalam setiap angkutan umum. Biasanya para difabel ini memiliki tempat khusus dalam angkutan umum, namun bila tidak ada pun setiap penumpang wajib memberikan kursi mereka.

Baca juga: Di Inggris, Penyandang Disabilitas Tak Terlayani dengan Baik di Stasiun dan Kereta

Seperti baru-baru ini seorang penyandang disabilitas yang buta dan membawa anjing penuntun terpaksa berdiri di dalam kereta karena penumpang tak memberikannya tempat duduk. Penumpang bernama Jonathan Attenborough mengatakan, dirinya berulang kali bertanya pada penumpang adakah kursi yang tersedia di kereta ScotRail tersebut.

Bahkan dia mengaku terkejut saat bertanya kursi kosong tak ada satupun penumpang yang menjawabnya dan mengatakan bahwa ScotRail harus berbuat lebih baik kepada penyandang disabilitas.

Namun sayangnya perjalan Jonathan dari Edinburgh ke Perth pada hari Senin (11/11/2019) itu bagai mimpi buruk karena pihak ScotRail tak menolong dirinya. Dilansir KabarPenumpang.com dari thesun.co.uk (14/11/2019), dia mengaku bahwa tempat duduk bagi tunanetra sangat penting dan agar tidak terjadi disorientasi.

“Sangat penting bagi setiap orang tunanetra untuk duduk ketika dalam perjalanan karena pergerakan kereta bisa sangat membingungkan. Saya juga suka duduk sehingga anjing saya aman tanpa mengganggu penumpang lain. Kalau berdiri sulit untuk bertahan dan menjaga keseimbangan di atas kereta yang bergerak,” ujar Jonathan.

“Saya tidak menemukan staf ScotRail di kereta karena sangat ramai sehingga kondektur kereta tidak bisa berjalan melalui kereta sampai lebih jelas. Saya pikir pengalaman layanan pelanggan harus ditingkatkan dari ScotRail terutama untuk orang cacat. Saya juga berpikir bahwa semacam peraturan pemerintah tentang perjalanan bantuan untuk orang-orang cacat tentu harus diperhatikan juga,” tambahnya.

Karena hal ini, dia men-tweet tentang pengalamannya di ScotRail, “Bantuan penumpang yag sepenuhnya tidak dapat diterima dari @ScotRail untuk meninggalkan saya dan anjing pemandu saya di pintu kereta.”

“Saya bertanya beberapa kali apakah ada kursi cadangan, dan tidak ada satu penumpang yang menjawab. Tidak memberi saya banyak kepercayaan pada kemanusiaan @MathesonMichael.”

Dia juga membagikan dua foto pengalamannya di kereta yang mana satu gambar menunjukkan anjingnya yang bernama Sam duduk di lantai dikelilingi orang empat orang berdiri dekat pintu dan yang lain menunjukkan anjing terjepit di antara dua tas saat ia berjuang untuk tempat bergerak.

Karena tweet-nya tersebut, ScotRail membalasnya dengan mengaku kecewa karena tidak ada penumpang yang memberikan kursi mereka bagi penyandang disabilitas. Mereka menambahkan saat ini tengah meluncurkan pelatihan wajib dalam kebijakan perjalanan bantuan.

Tweet tersebut juga banyak di komentari warganet lain yang marah perlakuan yang didapat Jonathan.

“Malu pada setiap penumpang dalam gerbong itu,” kata seorang penumpang.

Warganet lain menambahkan, “Saya pikir @ScotRail hrus bertanggung jawab untuk ini! Paling tidak mengembalikan uang Anda untuk tiket! Itu kereta mereka, mereka tidak memiliki aturan atau tidak melatih staf mereka. Either way, mereka harus bertanggung jawab untuk ini; tidak ada alasan!”

Warganet lain mengatakan, “Itu benar-benar memalukan, penumpang juga berperan dan harus memiliki pertimbangan, mempermalukan mereka.”

Seorang juru bicara ScotRail mengatakan bahwa pihaknya minta maaf karena mengecewakan Mr Attenborough pada standar tinggi perjalanan yang dibantu yang ingin mereka sediakan.

Baca juga: JR East Bangun Stasiun Robotika, Mudahkan Penyandang Disabilitas dan Pelancong Asing

“Kami bekerja keras untuk belajar dari ini, dan memastikan bahwa ini tidak terjadi lagi. Sangat mengecewakan mengetahui bahwa tidak ada pelanggan yang menawarkan kursi, karena kami mengharapkan pelanggan untuk menjaga kursi prioritas kami, yang terletak di dekat pintu kereta kami, gratis untuk orang-orang yang kurang mampu berdiri,” ujar juru bicara itu.

Empat Bandara ini Punya Observation Deck yang Dianggap Terbaik

Bagi Anda yang mencintai sektor aviasi, tentu saja bandara menjadi tempat yang sangat cocok untuk ‘memuaskan’ kecintaan Anda semua. Selain dapat melihat melihat beragam jenis  pesawat, anda juga bisa menikmati beragam livery dari para penyedia layanan ini. Cara untuk menikmati pemandangan ini pun bermacam-macam, bisa dari kendaraan seperti yang selama ini Anda lakukan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, atau melalui kaca berukuran besar yang tersaji di dalam terminal.

Baca Juga: Inilah Pemandangan Fanstastik yang Bisa Anda Lihat dari Udara!

Tapi tahukah Anda bahwa di beberapa bandara, Anda bisa melihat kesibukan di apron melalui teras yang disediakan khusus oleh pihak bandara? Nah, jika Anda berkesempatan berkunjung ke bandara-bandara di bawah ini, jangan lewatkan kesempatan langka ini. Tanpa berlama-lama lagi, berikut adalah bandara-bandara di dunia yang memiliki observation deck (teras khusus untuk melihat pesawat), dirangkum KabarPenumpang.com dari laman seatmaestro.com.

Amsterdam Airport Schiphol

Panorama terrace di Amsterdam Airport Schiphol. Sumber: seatmaestro.com

Bandara internasional utama yang terletak 9 km sebelah barat daya kota Amsterdam ini memiliki sebuah teras yang memungkinkan anda untuk melihat kesibukan di apron – dimana Anda bisa melihat semua itu dengan mata telanjang. Tanpa terhalang langit-langit, Anda bisa menikmati nuansa para ground crew dari atas teras yang dikenal sebagai Panorama Terrace ini. Oh iya, bagi Anda yang ingin menikmati keindahan dari atas sini, tidak ada bea yang harus dibayarkan, alias gratis!

Berlin Tegel Airport

Observation Deck di Berlin Tegel Airport. Sumber: seatmaestro.com

Menyusul Amsterdam Airport Schiphol ada Berlin Tegel Airport di Jerman. Observation deck yang ada di bandara ini dapat diakses setelah Anda membayar biaya 2 Euro untuk dewasa (berkisar Rp31.000) dan 1 Euro untuk anak-anak (berkisar Rp15.000). Adapun observation deck yang ada di Berlin Tegel Airport ini ada di Terminal D – tepat di atas terminal keberangkatan.

Dallas/Fort Worth International Airport

Observation deck di Dallas/Fort Worth International Airport. Sumber: seatmaestro.com

Hub terbesar untuk maskapai American Airlines ini yang terletak di Texas, Amerika Serikat ini memiliki observation deck yang bisa Anda jajal secara cuma-cuma. Tidak hanya bisa melihat dengan mata telanjang, Anda juga menikmati fasilitas teropong untuk bisa melihat masing-masing pesawat secara lebih jelas lagi, lho!

Hong Kong International Airport

Sky Deck di Hong Kong International Airport. Sumber: seatmaestro.com

Tidak mau kalah dengan bandara-bandara di atas, bagian dari Negeri Tirai Bambu ini juga memiliki observation deck yang bernama Sky Deck. Untuk bisa menikmati pemandangan apron dari Sky Deck, Anda semua tidak akan dikenakan biaya apapun. Tidak hanya Sky Deck, Anda juga bisa menikmati museum dan pameran interaktif yang memberikan informasi seputar dunia aviasi global.

Baca Juga: 10 Bandara Internasional Ini, Pilihan Transit Ternyaman di Dunia

Munich International Airport

Bandara Munich merupakan bandara kedua tersibuk di Jerman, setelah yang pertama adalah Bandara Frankfurt. Di Bandara Munich, obvservation deck terdapat di Terminal 2. Menyajikan pemandangan panorama, desk ini dilengkapi atas pelindung transparan dan juga sekat fiberglass untuk faktor keamanan.

Observation deck dapat diakses secara gratis oleh publik, meski begitu observation desk tidak dibuka 24 jam. Sekitar jam 17.00 waktu setempat, area pantau ini ditutup untuk umum. Melengkapi kenikmatan melihat-lihat pesawat, juga tersedia coffee shop, dan tak lupa ada teropong pantau, yang ini dapat diakses secara berbayar.

KabarPenumpang.com yang beberapa waktu lalu mendapat kesempatan menyambangi Bandara Munich, dannsecara khusus telah membuat video seputar bandara ini, termasuk di dalamnya sekuel di observation deck. Simak pada video di bawah ini.

Usung Eco-Flight , Etihad dan Boeing Siap Luncurkan Varian 787 Greenliner

Mungkin Anda semua sudah tidak asing lagi dengan nama Boeing 787 Dreamliner, tapi baru-baru ini maskapai asal Timur Tengah, Etihad baru saja mengganti nama pesawat tersebut menjadi Boeing 787 Greenliner. Tentu saja pihak Etihad tidak serta-merta merubah nama pesawat ini begitu saja, melainkan telah terlebih dahulu menjalin kerja sama dengan pihak Boeing dalam upayanya untuk menghadirkan ‘burung besi’ yang ramah lingkungan.

Baca Juga: Etihad dan Air Arabia Kerjasama Hadirkan Low Cost Carrier Baru!

Menurut data yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman businesstraveller.com (18/11), rencananya pesawat Boeing 787 Greenliner ini akan beroperasi di awal tahun 2020 – tepatnya pada 11 hingga 18 Januari, bertepatan dengan perhelatan Abu Dhabi Sustainable Week. Salah satu juru bicara Etihad mengatakan bahwa penerbangan eco-flight tersebut akan menghubungkan Abu Dhabi dan Brussels dengan menggunakan livery berwarna hijau kebiruan nan sporty.

“Penerbangan ini akan menggabungkan beberapa inisiatif yang berfokus pada lingkungan,” ujar CEO Etihad Aviation Group, Tony Douglas.

“Adanya unsur gradasi warna biru pada livery pesawat ini merepresentasikan pentingnya peran air bagi kehidupan di Arab – pun halnya dengan simbolisasi dari pemikiran dan inisiatif dalam urusan menekan konsumsi bahan bakar dan emisi karbon,” tandas Tony.

Adapun kerja sama yang terjalin antara pihak Etihad dan Boeing ini dikabarkan menyentuh angka US$215 juta atau yang berkisar Rp3,02 triliun yang mencakup berbagai layanan termasuk program perbaikan landing gear, komponen badan pesawat bernilai tinggi, dan alat optimisasi perencanaan pemeliharaan.

Melalui Chief Operating Officer Etihad, Mohammad Al Bulooki, Etihad sendiri mengaku bangga bisa menjadi salah satu maskapai yang secara kooperatif bekerja sama dengan Boeing dalam urusan menciptakan perjalanan moda udara yang ramah lingkungan.

Baca Juga: Persaingan Maskapai Kelas Wahid Satu Negara: Etihad dan Emirates, Mana yang Lebih Baik?

“Perjanjian semacam ini melengkapi kemitraan kami dalam cakupan yang lebih luas, dimana kolaborasi masa depan antara Etihad dan Boeing dalam urusan manajemen supply chain, hingga pemeliharaan antar lini akan semakin kuat terbangun,” ujarnya.

Keduanya sepakat bahwa di masa yang akan datang akan melakukan eksplorasi dengan universitas di Abu Dhabi dan Seattle, tempat fasilitas perakitan terbesar Boeing, untuk lebih meningkatkan kemampuan yang mendukung pengembangan sektor dirgantara di Abu Dhabi, dan di tempat lain di Uni Emirat Arab.

Negara-Negara ini Punya Regulasi Otoped Listrik, Bagaimana dengan Indonesia?

Otoped listrik (skuter listrik) yang mulai booming di masyarakat belum lama menjadi sorotan setelah adanya kecelakaan di kawasan Gelora Bung Karno dan mengakibatkan dua pengendara otoped listrik meninggal karena tertabrak mobil dari belakang. Menjadi moda transportasi baru dunia, ini merupakan model terbaru dari otoped atau skuter biasa yang dulu digunakan anak-anak.

Baca juga: Otoped Listrik Mulai Menjamur, Apakah Bakal ada Regulasinya?

Sayangnya otoped listrik ini belum jelas regulasinya di Indonesia akan seperti apa? Bahkan KabarPenumpang.com mendengar kabar bahwa Dinas Perhubungan tengah menggodok regulasi untuk otoped listrik tersebut. Nah, bagaimana dengan negara tetangga seperti Singapura dan negara lain di dunia? Dirangkum dari techradar.com, berikut regulasi otoped listrik diberbagai belahan dunia.

Inggris
Otoped listrik dinegara ini termasuk dalam kategori Light Electric Vehicles yang tidak dikenakan pajak. Namun Inggris melarang otoped listrik digunakan di semua jalan, jalur sepeda dan trotoar. Otoped listrik hanya digunakan di properti pribadi dengan seizin pemilik. Bagi pelanggar peraturan ini akan dikenakan denda sebesar 300 Poundstreling atau sekitar Rp5,4 juta dan pengurangan enam poinnya di Surat Izin Mengemudi (SIM).

Jepang
Bila kecepatan otoped listrik melebihi sembilan kilometer per jam maka diklasifikasian sebagai kendaraan bermotor karena memerlukan lisensi. Otoped ini pun membutuhkan pengendara memiliki surat izin, registrasi, plat nomor, lampu sein, kaca spion dan hal lain selayaknya kendaraan bermotor pada umumnya. Bila tidak memiliki persyaratan tersebut, maka otoped listrik hanya boleh digunakan sebagai properti pribadi.

Singapura
Negeri Singa ini resmi melarang kendaraan listrik digunakan di jalur pejalan kaki pada 5 November 2019 kemarin. Tak hanya otoped listrik, tetapi kendaraan lain yang termasuk motorised personal mobility device seperti hoverboards dan unicycles akan turut dikenakan aturan tahun depan. Penetapan aturan ini karena meningkatnya kecelakaan yang melibatkan otoped listrik. Bagi para pelanggar pun akan dikenakan tindakan tegas dengan denda S$2 ribu atau sekitar Rp20 juta dan/atau penjara selama tiga bulan. Aturan ini pun akan berlaku pada 2020 mendatang dan saat ini masih dalam sosialisasi.

Kanada
Tiap provinsi punya aturan berbeda tentang penggunaan otoped listrik. Otoped listrik tidak diakui sebagai jenis kendaraan bermotor di undang-undang Alberta, British Colombia dan Ontario. Sehingga pengguna otoped listrik hanya dapat digunakan di sekitaran rumah saja. Sedangkan di Calgary ada pengecualian di tengah proyek percontohan dua tahun yang membuat undang-undang kota ditinjau menjadikan otoped dan sepeda listrik legal. Ini juga berlaku di Quebec namun dengan aturan ketat usia pengemudi, pelatihan dan kepatuhan peralatan. Jika melanggar, akan ada denda yang cukup besar menanti.

Australia
Di Australia, undang-undang otoped listrik berbeda dari satu negara ke negara lain. Brisbane adalah kota Australia pertama yang mencoba otoped Lime, yang hanya dapat dikendarai di trotoar (bukan jalur sepeda atau jalan) dan membutuhkan helm. Izin Lime diperpanjang hingga 2019, tetapi setelah beberapa kecelakaan, masa depannya di Australia tampak kurang cerah. Di tempat lain di Queensland, otoped seperti Lime adalah ilegal. Situs web Pemerintah Queensland menyatakan bahwa otoped listrik harus memiliki motor listrik yang tidak lebih kuat dari 200W, dan kecepatan maksimum 10 km per jam. Jika skuter Lime ditemukan di luar zona peraturan Brisbane, mereka sepatutnya disita oleh polisi.

Baca juga: Unagi Scooter, Otoped Listrik yang Bisa Menanjak Hingga 15 Derajat

Nah, ini dari berbagai negara di dunia, bahkan beberapa waktu lalu KabarPenumpang.com sudah membahas aturan di Perancis. Bagaimana dengan Indonesia, apakah sudah ada pencerahan dari aturan yang berlaku di berbagai dunia untuk penggunaan otoped listrik ini?

Setelah 55 Tahun, Boeing Akhirnya Lepaskan Gelar Sebagai Raja “Narrow Body”

Mungkin beberapa dari Anda masih ingat dengan salah satu predikat prestisius yang pernah disabet oleh salah satu varian pesawat narrow body milik Boeing – 737, yang didaulat sebagai pesawat terlaris sepanjang sejarah kedirgantaraan global. Namun apalah arti sebuah gelar jika tidak bisa mempertahankannya. Ya, tahun 2018 lalu, Boeing tersandung kasus Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) pada varian 737 MAX 8 yang menyebabkan semua ‘borok’ perusahaan di balik pengadaan moda ini seolah terbongkar satu per satu. Lalu, masihkah pabrikan pesawat asal Negeri Paman Sam ini bercokol di puncak kejayaannya?

Baca Juga: Boeing 737 Sabet Predikat Sebagai Pesawat Terlaris Sepanjang Sejarah Aviasi Global

Jawabannya tentu saja tidak. Ini merupakan anti-klimaks dari sejarah Boeing 737, dimana tidak hanya sekedar jatuh tersungkur saja akibat sistem anyar MCAS tersebut, melainkan juga nama Boeing kini seolah hilang pamor dan tidak lekang dari sesuatu yang berbau negatif. KabarPenumpang.com mengutip dari laman businessinsider.sg (18/11), Boeing sudah lebih dari 55 tahun menyandang predikat sebagai produsen pesawat narrow body paling laris di dunia.

Sebuah rentang waktu yang bisa dibilang sangat lama untuk mempertahankan gelar tersebut. Namun seperti yang sudah disebutkan di atas, ‘hanya’ karena kesalahan pada sistem MCAS, Boeing harus mengikhklaskan semuanya. Tidak hanya predikatnya saja sebagai produsen pesawat terlaris di dunia, melainkan juga nama besarnya, sahamnya, hingga kepercayaan dari para konsumennya.

Lain cerita dengan rival abadinya, Airbus, dimana produsen kedirgantaraan asal Benua Biru ini mampu dengan sangat jeli menyalip ‘kebobrokan’ yang tengah dialami oleh Boeing. Pengembangan dari dua pesawat generasi terbaru (salah satunya adalah Airbus A321XLR) membuat pamor Airbus perlahan mendongak dan menyaingi Boeing.

Menurut laman sumber, hingga akhir Oktober kemarin, Boeing secara keseluruhan mencatat ada 15.136 pesanan yang masuk untuk keluarga 737 (mencakup semua model). Sedangkan di waktu yang sama, Airbus menoreh 15.193 pesanan untuk keluarga A320 untuk semua modelnya. Ya, Airbus sudah berhasil mencuri tahta dari Boeing yang disandang lebih dari 55 tahun lamanya.

Baca Juga: 737-800, Didapuk Jadi Varian Paling Laris di Keluarga Boeing 737

Padahal, pada akhir tahun 2018 saja, jumlah pesanan untuk varian A320neo milik Airbus masih tertinggal sekira 400 unit dari varian 737 MAX milik Boeing. Namun itu tadi, kecelakaan fatal yang menimpa Lion Air dan Ethiopian Airlines (keduanya sama-sama menggunakan varian 737 MAX 8) menjadi titik balik dari masa kejayaan Boeing.

Ratusan hingga ribuan pesawat 737 MAX oleh semua maskapai yang ada di seluruh dunia menjadi momen yang sangat tepat bagi Airbus untuk membalikkan keadaan dan mempertahankannya hingga hari ini.

Bus Listrik di Singapura Meluncur Tahun Depan, Interiornya Mirip ‘Punya’ TransJakarta

Bus listrik di Singapura terbaru memiliki model yang hampir sama dengan bus di Indonesia. Sebab pintu depan bus tidak memiliki tiang tengah yang memungkinkan akses lebih mudah bagi orang tuaatau penyandang disabilitas dengan kursi roda.

Baca juga: Harapan untuk Transportasi Jakarta, Ada Bus Listrik dengan Teknologi Pantograf

Tak hanya itu, kapasitas penumpang yang diangkut pun akan berkurang dari 35 duduk dan 56 orang berdiri di bus biasa menjadi 28 duduk dan 52 penumpang berdiri dalam bus elektrik satu dek. Sedangkan bus elektrik dengan dek ganda mampu menampung 120 penumpang dan lebih sedikit bila dibandingkan dengan bus bahan bakar diesel yang mampu mengangkut 133 orang.

KabarPenumpang.com melansir laman todayonline.com (11/11/2019), akan ada 60 bus listrik yang akan mulai beroperasi secara progresif mulai awal tahun depan sebagai bagian dari perubahan menuju bus energi yang lebih bersih. Bahkan Otoritas Angkutan Darat (LTA) bertujuan untuk memiliki seluruh armadanya yang terdiri dari bus-bus tersebut pada tahun 2040.

Nantinya jika ke 60 bus digunakan, emisi karbon CO2 tahunan yang dikurangi dari bus akan setara dengan 1700 mobil penumpang. Sebab, pihak LTA mengatakan, bus listrik memiliki emisi karbon CO2 lebih rendah dari bus diesel biasa dan dapat memberi pengalaman perjalanan lebih tenang dan nyaman pada penumpangnya.

Dengan motor listrik, tingkat kebisingan yang dihasilkan bus listrik akan berkurang menjadi sekitar 75 desibel dan tiga desibel lebih rendah dari bus diesel saat ini. Armada bus listrik yang akan mulai meluncur berasal dari tiga pemasok dan menelan biaya hingga $50 juta.

Adapun pemasok bus yakni ST Engineering Land System yang akan menyediakan 20 bus satu dek dengan harga sekitar S$15 juta. BDY (Singapura) memasok 20 bus satu dek dengan harga S$17 juta. Untuk pemasok ketiga yakni Yutong-NARI Consortium yang merupakan konsorsium Cina yang akan memasok sepuluh bus satu dek dan sepuluh bus dek ganda dengan harga sekitar S$18 juta.

Pengisian baterai untuk bus milik BYD dan Yutong-NARI membutuhkan waktu sekitar dua hingga empat jam untuk terisi penuh dan memungkinkan untuk menempuh jarak sekitar 200-300 km. Sedangkan untuk spesifikasi bus ST Engineering belum dirilis.

Baca juga:  FlixBus Uji Coba Bus Listrik Terjauh di Amerika Serikat

Bus-bus listrik ini baru saja dipajang di Depot Bus Ulu Pandan. Tak hanya itu beberapa bus diesel yang dikonversi ke listrik pun juga dipajang di sana. Nantinya bus konversi yang sudah diuji coba ini tinggal menunggu hasil kelayakannya.