Sikat Gigi dan Meludah di Peron, Penumpang Ini Viral di Twitter

Ketika menggunakan kendaraan umum baik itu bus maupun kereta, setiap penumpang harus bisa menghilangkan ego karena ada ruang untuk berbagi dengan penumpang lain. Bahkan untuk berdiri saja ada kalanya terjepit diantara penumpang lain, adapula yang batuk tetapi tidak menutup mulutnya.

Baca juga: Berbaris di Peron, Anjing Golden Retriever Bukan Tunggu Kereta Tapi Untuk Pemotretan Kalender

Tak hanya itu, kentut, sendawa dan menguap juga menjadi satu bagian yang kerap kali terjadi di kendaraan umum. Namun bagaiman bila seseorang membuat peron sebagai kamar mandi pribadinya?

KabarPenumpang.com melansir dari laman mirror.co.uk (20/11/2019), baru-baru ini foto seorang penumpang pria yang di unggah di media sosial yang tengah menyikat gigi menjadi perbincangan warganet. Tak hanya itu yang lebih parahnya pria ini meludahkan isi mulutnya ke lantai peron Stasiun Euston, London.

Penumpang bernama Melissa Therms mengunggah foto itu dengan caption, “Perilaku menjijikkan di stasiun Euston pagi ini. Platform yang penuh sesak dan pria ini mulai menyikat giginya dan meludah ke platform berulang kali.”

Foto tersebut menggambarkan sang pria tengah dalam perjalanan menuju ke tempat kerja. Melissa mengatakan, pria tersebut tidak memiliki pemikiran disekitarnya ada orang selain dirinya.

Ternyata foto yang di unggah Melissa tersebut bukan hanya membuat jijik penumpang yang ada di peron, tetapi warganet yang melihat dan mengomentari hal tersebut.

“Wtf ?! Dia beruntung itu bukan saya di panggung karena saya mungkin akan muntah didepannya,” ujar seorang warganet.

Yang kedua menulis: “Ya Tuhan! Mengapa orang tidak bisa bangun tiga menit sebelumnya?”

Yang lain menjawab: “Dia senang dia tidak bertemu dengan orang seperti saya karena saya akan HARUS bercerita tentang dirinya yang kotor !!”

Baca juga: Bajaj Masuk Peron di Stasiun India, Pengemudi Diamankan Petugas

Namun, warganet lainnya menuliskan komentar mereka sembari menandai Transport for London dan mengatakan ini adalah hal yang menunjukkan perilaku anti sosial. Padahal sebenarnya tidak terlalu menjijikkan jika pria tersebut sedikit menjongkok dan meludahkannya ke rel dibandingkan di pinggir peron.

Foto Ayah Telantarkan Anak di MRT Singapura Viral di Media Sosial

Sebuah postigan anak balita perempuan dibiarkan duduk dekat pintu otomatis MRT Singapura viral di media sosial. Foto tersebut telah dibagikan ke grup Facebook Complaint Singapore pada 18 Oktober 2019 kemarin.

Baca juga: Lima Poin ini Buktikan Penumpang MRT Singapura Tidak Akan ‘Diterima’ di Komuter Jepang!

Karena hal ini, sang ayah anak tersebut yang membiarkan balitanya duduk di dekat pintu di hujat oleh warganet yang melihat postingan tersebut. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman asiaone.com, seorang saksi mata bernama Ogawa Konamoto yang mengunggah foto tersebut, sebelumnya telah mendekati sang ayah balita itu dan berbicara secara langsung tentang kemanannya.

Namun, bukan hal baik yang dikatakannya tetapi sang ayah diduga mengatakan itu bukan masalahnya dan tanpa syarat yang pasti untuk tidak ikut campur terkait anaknya. Postingan yang sudah dibagikan lebih dari 300 kali semenjak diunggah, membuat warganet berkomentar dan marah dengan menuduh kelalaian sang ayah bisa menyebabkan kecelakaan pada sang anak.

“Kenapa anak itu dibiarkan sendiri? Lebih baik diangkat sebelum terjadi apa-apa. Orang tua bodoh,” komen seorang warganet bernama Irene chan.

Kemudian Ogawa menjawabnya, “Ayah anak itu berbicara kata-kata kasar. Tolong sebarkan ini!”

Warganet lain bernama Rohana Mudzaffar mengatakan, hal itu adalah situasi yang gawat dan lantai licin serta pengambil foto harusnya melaporkannya pada keamanan untuk mengamankan anak itu.

Meski banyak yang mengecam dan mengatakan ayah anak tersebut tidak bertanggung jawab, tetapi ada beberapa warganet yang mengatakan, tidak semua pola asuh orang lain sama. Sebenarnya berdebat pada media sosial terkait foto tersebut tidak masalah, tetapi lebih baik berpikir praktis dengan mengangkat anak itu dari pada menyesal karena terjatuh atau hal lainnya.

Baca juga: (Lagi) Keributan di MRT Singapura: Warganet Justru Anggap Sebagai ‘Hiburan’

Tak hanya foto anak tersebut, Ogawa juga membagikan foto pria yang diduga ayah anak itu. Bulan lalu, seorang bocah laki-laki berusia lima hampir jatuh dari eskalator di stasiun MRT Sixth Avenue. Bocah itu bermain eskalator ketika ibunya berbalik badan.

Mudahkan Pelancong Gunakan Aplikasinya di Jepang dan Timur Tengah, Grab Bermitra dengan Taksi Lokal

Sebagai super apss, Grab akan hadir di seluruh negara dunia dan baru-baru ini meluncurkan kemitraan cab-hailing di Jepang. Kemitraan ini dilakukan Grab dengan operator taksi di Jepang yakni JapanTaxi yang mana untuk memudahkan pengguna naik transportasi mereka di lokasi-lokasi populer.

Baca juga: Aplikasi Transportasi Online Asal Vietnam Siap Rebut Pasar GoJek dan Grab!

Layanan ini ada di lima lokasi seperti Tokyo, Kyoto, Sapporo, Nagoya dan Okinawa. Ini adalah lanjutan dari kemitraan dengan pasar mobilitas yang berbasis di London yakni Splyt Technologies yang memungkinkan pengguna di Jepang menggunakan aplikasi Grab untuk pemesanan perjalanan melalui JapanTaxi.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, tak hanya dengan Jepang, Grab juga hadir di Timur Tengah yakni dengan Careem. Di Timur Tengah ada 13 negara termasuk Uni Emirat Arab, Qatar, Irak, Oman, Turki, Yordania, Maroko, Mesir, Arab Saudi , Pakistan, Bahrain, Lebanon dan Kuwait yang dicakup layanan Grab dengan Careem ini.

Kerja sama Grab dengan JapanTaxi dan Careem memudahkan pengguna untuk tidak perlu mengunduh aplikasi lainnya di negara-negara tersebut. Bahkan aplikasi Grab akan diatur ke bahasa pilihan pengguna dan secara otomatis menerjemahkan pesan yang dikirm melalui aplikasi antar pengemudi dan penumpang.

Tak hanya itu, pengguna juga direkomendasikan untuk mengatur dan memverifikasi eWallet mereka untuk menambah dengan kredit yang cukup sebelum perjalanan. Nah, Singapura dan Filipina sudah bisa menggunakan ini, bagaimana dengan pengguna Indonesia sendiri yang bepergian ke Jepang atau negara Timur Tengah?

Ternyata, Grab mengaku akan menerapkan hal ini di seluruh wilayah operasinya di Asia Tenggara termasuk Indonesia pada 2020 dan sedang menunggu persetujuan regulasi. Fitur ini nantinya akan membantu pelancong Indonesia di Jepang atau Timur Tengah.

Baca juga: Bantu Investasi Startup, Grab Venture Hadir di Indonesia

Pelancong pun dimudahkan dengan melakukan pembayaran melali GrabPay Credits dan mendapat Grab Rewards Points seperti biasanya. Selain itu ketika pengguna tengah dalam keadaan darurat, bisa mengakses layanan darurat lokal melalui aplikasi Grab sehingga memudahkan pelancong. Diketahui, JapanTaxi mengperasikan 70 ribu unit dan Caeem memiliki lebih dari satu juta pengemudi.

Rampung Uji Publik, LRT Jakarta Siap Beroperasi Penuh Mulai 1 Desember

Menjelang pengoperasian komersial dari LRT Jakarta yang direncanakan jatuh pada tanggal 1 Desember mendatang, berbagai persiapan hingga perijinan satu persatu mulai rampung dikerjakan. Tentu saja, pengoperasian komersial ini tidak sekonyong-konyong dilakukan begitu saja, melainkan sudah terlebih dahulu dilakukan uji publik guna melihat respon dan antusias warga terkait kehadiran dari salah satu angkutan berbasis massal yang diharapkan dapat menurunkan tingkat kemacetan di Ibukota.

Baca Juga: Tarif dan Jalur Integrasi Siap, Mengapa LRT Jakarta Masih Berstatus Uji Publik?

Sejumlah milestone juga sudah ditorehkan LRT Jakarta selama masa uji publik yang diadakan sejak tanggal 11 Juni kemarin. Sebut saja satu juta penumpang, fully integrated (integrasi fisik, integrasi rute, dan integrasi pembayaran) hingga pengoperasian dari stasiun terbesar yang ada di rute Velodrome Rawamangun – Kelapa Gading, Stasiun Pegangsaan Dua. Selain itu, semua stasiun LRT Jakarta hingga saat ini pun sudah terintegrasi dengan TransJakarta, baik itu BRT, Non-BRT, hingga MikroTrans.

Menyinggung soal On Time Performance (OTP) ketika uji publik, LRT Jakarta sendiri memiliki catatan ketepatan waktu keberangkatan yang cukup fantastis. Di bulan November saja, OTP-nya mencapai angka 99,5 persen, dimana angka ini menjadi yang tertinggi selama uji publik (dengan rataan OTP sebesar 95 persen kecuali pada bulan Agustus ketika Jakarta dilanda mati listrik). Tentu ini menjadi satu pencapaian sekaligus tren positif yang harus dipertahankan LRT Jakarta ketika mengoperasikan layanan komersialnya kelak.

Menurut Direktur Utama LRT Jakarta, Wijanarko, uji publik dari LRT Jakarta sendiri sudah sesuai dengan grafik perjalanan kereta api atau gapeka yang ditetapkan. Selain itu, mantan Direktur Teknik & Fasilitas PT Transjakarta ini juga menyebutkan bahwa semua fasilitas penjunjang pengoperasian sudah komplit, “termasuk space untuk pencucian kereta,” ujarnya di hadapan awak media di Stasiun Velodrome Rawamangun, Kamis (21/11).

Tak jauh berbeda dengan uji publik, kelak LRT Jakarta juga akan tetap beroperasi mulai pukul 05.30 hingga 23.00 WIB. Ketika sudah masuk fase operasi komersial, LRT Jakarta akan mengenakan bea sebesar Rp5.000 untuk single trip, flat.

“Menjelang operasi komersial, kamu memiliki target optimis di angka 7.000 penumpang per hari,” ujar Wijanarko.

Fase Dua
Masih di rangkaian acara yang sama, eksekutif dari LRT Jakarya juga tidak lupa menyinggung soal rencana perpanjangan rute menuju Jakarta International Stadium yang ada di kawasan Sunter, Jakarta Utara (Fase 2A).

Menurut Project Director LRT Jakarta, Iwan Takwin, perpanjangan rute fase 2 ini akan dimulai awal tahun depan dan direncanakan rampung pada tahun 2022 mendatang. Lalu berkenaan dengan rencana perpanjangan jalur ke Manggarai, Iwan menjelaskan bahwa, “perpanjangan rute ke Manggarai (fase 2B) masuk ke dalam target, tapi target utama tetap perpanjangan ke Sunter (fase 2A).” (Rendy Nurhalim)

Pengumuman di Dalam Kabin Ini Bikin Penumpang Mendadak Ambyarrr!

Belakangan ini, beragam jagad jejaring sosial – mulai dari Facebook, Twitter, hingga Instagram tengah diramaikan dengan pengumuman di dalam kabin yang membuat hati para pendengarnya mendadak ambyar. Bagaimana tidak, suara yang ada di dalam pengumuman tersebut diganti dengan susunan kata yang menggambarkan kondisi hati yang tengah gundah gulana akibat hubungan percintaan. Kejadian unik ini sontak menjadi topik obrolan hangat warganet karena isinya yang mengundang gelak tawa siapapun yang mendengarnya.

Baca Juga: Geger Video Menu dengan Tulisan Tangan, Garuda Indonesia Keluarkan Surat Larangan Ambil Gambar di Kabin!

Adalah akun @nksthi di Twitter yang pertama kali ‘menggegerkan’ jagad jejaring sosial. Di dalam rekaman video yang berdurasi kurang dari satu menit ini, terdengar suara pengumuman yang isinya,

“Para penumpang yang terhormat saat mendarat sudah dekat, namun hati ini terasa pekat mendengar jawaban yang menolak begitu cepat. Sudah lama jiwa meronta-ronta inginkan dia tapi harus sadar dia bukan lagi siapa-siapa,”

Siapa yang tidak tertawa mendengar baris kalimat sedih seperti di atas?

KabarPenumpang.com mengutip dari laman detik.com, perkataan yang dilontarkan oleh awak kabin ini bercerita tentang perjuangan seseorang yang patah hati dan rapuh karena cintanya ditolak. Nah, jika disambungkan dengan instruksi keselamatan sebelum mendarat, kurang lebih hasilnya akan seperti ini,

“Silahkan tetap duduk jangan lupa jaga jarak dengan dia karena sadar dia sudah milik orang,
Kencangkan sabuk pengaman dan harus tetap menerima kenyataan bahwa dia tak lagi memilih Anda,
Tegakan sandaran kursi agar kuat melihat dia bersama yang lainnya,
Melipat hati yang telah pupus akibat dia tak lagi menoleh memilih melupakan Anda,
Buka penutup jendela tapi jangan buka folder kenangan,
Semua perangkat elektronik dimatikan termasuk rasa yang masih tersimpan.”

Ambyar sekali, bukan?

Namun setelah diselidiki lebih jauh, ternyata ini bukanlah suara dari awak kabin yang tengah menginstruksikan langkah keselamatan sebelum pesawat mendarat, melainkan suara dari seorang penyiar online bernama Novita Ika Priantin.

Baca Juga: Harap Waspada Jika Anda Mendengar Frasa ‘Easy Victor’ dari Awak Kabin

Novita mengaku bahwa awalnya suara tersebut merupakan konten siarannya untuk para pendengarnya yang disebut sebagai ‘warga kerapuhan’. Ia kemudian mengubah naskah penerbangan menjadi versi yang sesuai dengan cerita-cerita patah hati.

“Awalnya itu konten siaran aku di radio online buat warga kerapuhan karena aku sering siaran dengan konten drama suara aku bikin hal beda, agar live aku beda sama yang lainnya, aku olah script penerbangan Citilink dengan versi penerbangan untuk warga kerapuhan,” tukas Novita.

Setelah INKA Ekspor Kereta, PT KAI Juga Ekspor Gerbong Bekas ke Kamboja dan Afrika

Gerbong kereta yang tak lagi digunakan atau bekas milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) mulai ditawarkan ke beberapa negara daripada harus menjadi rongsokan tak berguna. Gerbong-gerbong tua ini sendiri rata-rata usianya diatas 30 tahun dan tak lagi digunakan.

Baca juga: Sepak Terjang PT INKA di Mancanegara yang Harumkan Nama Ibu Pertiwi

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro membenarkan adanya rencana penjualan gerbong tua ke beberapa negara. Dia mengatakan, saat ini pihak KAI tengah menjajaki penjualan kereta bekas di Kamboja dan negara di Afrika.

Pemilihan negara-negara ini karena KAI dan beberapa BUMN lainnya seperti WIKA, Adhi Karya dan INKA tengah menggarap proyek di negara-negara itu.

“Oh (iya) Sedang dijajaki karena kita memang ada 3 yang bekerja itu INKA, KAI sama Asia itu. Kalau enggak salah di Afrika, WIKA (Wijaya Karya). Kalau 3 ini Adi Karya,” kata Edi yang dikutip dari kumparan.com (18/11/2019).

Adapun kereta bekas yang berusia diatas 30 tahun sebanyak 672 dan terbagi atas kereta penumpang, kereta makan, kereta pembangkit dan kereta bagasi yang ditawarkan untuk dijual. Meskipun bekas, Edi mengatakan tidak akan menjualnya langsung seperti itu melainkan diperbaiki dulu sebelum dikirim.

Selain perbaikan juga akan ada modifikassi sebelum gerbong-gerbong itu dijual agar bisa dioperasikan kembali di negara tujuannya. Salah satunya bentang rel yang berbeda, ini akan diperbaiki sesuai bentang rel di negara tujuan seperti ada perbedaan lebar bentang rel yang mana Indonesia memiliki lebar 1067 mm, sedangkan Kamboja 1000 mm.

Penjualan ini dilakukan KAI untuk memperbaharui sarana kereta dan uang yang didapat digunakan untuk pembelian kereta dan gerbong baru, pembaharuan lokomotif, KRD dan lainnya.

Baca juga: PT INKA dan Standler Rail Sepakat Bangun Perusahaan Joint Venture di Banyuwangi

Diketahui, sebelum KAI melakukan penjualan kereta bekas, PT INKA sudah menjual kereta besutannya ke beberapa negara di Asia seperti Bangladesh, Singapura, Filipina, Malaysia, Taiwan hingga Singapura. Penjualan ke Kamboja pun karena Presiden Joko Widodo menawarkan produk kereta dari PT INKA kepada Perdana Menteri (PM) Kamboja Hun Sen ketika ada kunjungan kehormatan.

Kasus Kecelakaan Grumman yang Libatkan WNI di Perth, Terbukti Akibat Kesalahan Pilot

Mungkin beberapa dari Anda masih ingat dengan kecelakaan Grumman G-73 Mallard flying boat yang terjadi pada 26 Januari 2017 silam di Swan River, Perth, Australia. Ya, kecelakaan nahas yang menewaskan dua orang korban ini – salah satunya adalah Endah Ari Cakrawati, Warga Negara Indonesia (WNI) nyatanya masih dalam tahap penyelidikan guna mengungkap penyebab dari terjadinya kecelakaan yang bertepatan dengan perayaan Australia Day ini.

Baca Juga: Lima Penyebab Umum Terjadinya Kecelakaan Pesawat

Seperti yang sudah disebutkan di atas, kecelakaan ini masih dalam tahap penyelidikan dan baru-baru ini, Australian Transport Safety Bureau (ATSB) menegur Civil Aviation Safety Authority (CASA) atas pengawasannya. Direktur Eksekutif ATSB, Nat Sagy mengatakan bahwa pilot tidak seharusnya melakukan manuver dadakan.

“Cara pilot (Peter Lynch) kembali ke arena pertunjukan untuk kedua kalinya ternyata tidak sesuai dengan prosedur, dimana risiko terjadinya kesalahan dalam pengoperasian pesawat menjadi meningkat. Terlebih ketika itu dilakukan di area yang relatif dekat publik,” tutur NAT dalam Final Report, dikutip KabarPenumpang.com dari laman perthnow.com.au (19/11).

Peter Lynch (kiri) dan Endah Ari Cakrawati (kanan). Sumber: Tribun

Dari hasil penyelidikan, ditemukan bahwa pesawat mengalami “stalled at an unrecoverable height”. Kondisi ini terjadi manakala sebuah pesawat mengalami stall di ketinggian rendah – dimana pesawat tidak memiliki momentum untuk mengembalikan ketinggian pesawat ke level aman hingga akhirnya berujung kecelakaan.

Tidak hanya itu, ATSB juga menemukan bahwa seharusnya pilot Peter Lynch tidak memboyong penumpang di dalam pesawat (dalam kasus ini adalah Endah). Lagi, ATSB menegur CASA karena dinilai tidak memiliki kerangka kerja yang efektif dalam hal melakukan persetujuan dan pengawasan terhadap suatu pertunjukkan di udara.

Berkaca pada kecelakaan ini, CASA lalu merevisi pedoman manual, delapan bulan pasca kecelakaan.

Baca Juga: Banyak Kecelakaan Tapi Bandara Ini Mendapat Award Bergengsi

Layaknya Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang ada di Indonesia, ATSB pun lalu melayangkan rekomendasi kepada CASA untuk lebih meningkatkan kinerja, kemampuan alat, hingga panduan ketika hendak menghelat suatu pertunjukan udara.

“Rekomendasi ini untuk memastikan kesesuaian jika mereka adalah pihak yang bertanggung jawab untuk mengatur, mengoordinasi, dan berpartisipasi dalam suatu pertunjukkan udara,” tutup Nat.

Pengadaan Moda “Sunrise Project,” Qantas Tolak Proposal Airbus dan Boeing

Setelah sukses menorehkan sejarah baru di bidang aviasi dengan Sunrise Project-nya, kini tersiar kabar bahwa Qantas telah menolak proposal yang diajukan Airbus dan Boeing yang menawarkan pesawat baru yang dapat terbang non-stop dari Sydney dan Melbourne ke New York dan London. Ya, proposal untuk pengadaan pesawat jenis baru yang diajukan oleh dua produsen pesawat ini dinilai Qantas masih terlalu mahal dan alih-alih menuai untung dari pengadaan rute ini, yang ada pihak maskapai malah akan merugi.

Baca Juga: Setelah Persiapan Ekstra, Qantas Sukses Lakoni Penerbangan Non-Stop Sydney-New York

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman traveller.com.au (20/11), pihak Qantas sendiri rencananya akan membuat keputusan terkait apakah rute Sunrise Project ini akan dioperasikan atau tidak pada akhir tahun 2019 ini – termasuk keputusan tentang moda apa yang akan digunakan pada rute penerbangan non-stop terjauh ini, apakah Boeing 777-8X atau Airbus A350-100ULR.

Sebenarnya tawaran untuk moda khusus ini sudah datang sejak bulan Agustus lalu, namun pada Selasa (19/11) kemarin, pihak Qantas mengirimkan kembali kedua moda ini ke masing-masing perusahaan dengan nota perbaikan yang tersemat.

“Kami telah meminta untuk menilik kembali moda yang mereka ajukan, karena masih ada celah di sana,” ujar chief executive Qantas International, Tino La Spina.

“Jadi kita harus sabar menunggu untuk melihat apa yang dilakukan oleh mereka (Airbus dan Boeing),” sambungnya.

La Spina juga menambahkan bahwa Qantas telah meminta kedua produsen pesawat untuk tidak hanya mempertimbangkan masalah harga, melainkan juga jaminan dan ketentuan untuk menangani skenario “bagaimana jika…”.

Baca Juga: “Sunrise Project,” Qantas Bakal Sabet Gelar Penerbangan Langsung Terlama di Dunia

“Pesawat ini akan berada di armada selama 20 tahun ke depan dan kami ingin menutup beragam kemungkinan (kerusakan) … memastikan bahwa pesawat itu masih terbukti andal di masa depan,” katanya.

Sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama, uji coba penerbangan Sunrise Project yang menghubungkan Sydney dengan New York yang terpaut jarak 16.200 km ini ditempuh dalam waktu 19 jam 16 menit dengan menggunakan Boeing 787-9 Dreamliner pada minggu ketiga bulan Oktober kemarin.

Di 2020, Luksemburg Jadi Negara Pertama yang Gratiskan Transportasi Massal di Dunia

Menjadi salah satu negara terkecil di Eropa, Luksemburg mengalami kemacetan lalu lintas yang cukup besar. Dari studi yang dilakukan menunjukkan pengemudi di ibukota menghabiskan rata-rata 33 jam dalam kemacetan tahun 2016 lalu.

Baca juga: Pemkot Berlin Luncurkan Layanan Transportasi Umum Gratis untuk Pelajar

Apalagi negara yang memiliki luas 2586 kilometer persergi tersebut memiliki penduduk sebanyak 600 ribu orang dengan 200 ribu diantaranya pergi bekerja ke negara tetangga setiap harinya. Bahkan Luksemburg adalah satu diantara negara terkaya di Eropa dengan PDB per kapita tertinggi di Uni Eropa.

“Luksemburg adalah tempat yang sangat menarik untuk pekerjaan,” jelas Geoffrey Caruso, seorang profesor di Universitas Luxembourg dan Institut Penelitian Sosial-Ekonomi Luksemburg.

Tetapi dengan ‘booming ekonominya’ dan konsentrasi pekerjaan yang tinggi telah menyebabkan masalah kemacetan. Kemacetan yang menghabiskan 33 jam tersebut lebih buruk dibandingkan Kopenhagen dan Helsinki yang memiliki populasi sebanding dengan Luksemburg.

Di dua negara ini, pengemudi hanya menghabiskan waktu rata-rata 24 jam dalam perjalanannya. Karena masalah kemacetan ini, pemerintah Luksemburg berupaya memprioritaskan lingkungan dan mengakhiri kemacetan lalu lintas terburuk di dunia.

KabarPenumpang.com merangkum dari cnn.com, Luksemburg akan diatur menjadi negara pertama di dunia yang membuat semua transportasi publiknya gratis. Tarif kereta, trem dan bus pada musim panas mendatang akan diubah.

Pada musim ini, transportasi gratis sudah diberikan kepada anak-anak dan remaja di bawah usia 20 tahun. Siswa sekolah menengah dapat menggunakan angkutan gratis antar lembaga dan rumah mereka.

Baca juga: Beli Sepatu Adidas Dapat Tiket Gratis Naik Transportasi Umum di Berlin

Sedangkan penumpang lain hanya membayar €2 atau sekitar Rp31 ribu untuk perjalanan selama dua jam. Nantinya pada rencana yang tengah dalam pembicaraa, pada tahun 2020 mendatang semua tiket akan dihapuskan untuk menghemat koleksi tiket dan pengawasan pembelian tiket. Ini juga masih memikirkan gerbong kereta untuk kelas satu dan dua. Selain itu juga ada kekhawatiran yang secara tidak sengaja menghalangi orang yang biasa berjalan kaki atau bersepeda di perkotaan.

“Daripada berjalan 500 meter, Anda melihat bus datang dan Anda berkata, ‘Saya (bisa) naik dan bepergian sejauh 500 meter karena gratis,'” kata Caruso.

Tak 100 Persen Aman, Aplikasi Pelacakan Bagasi Dipertanyakan Keakuratannya!

Sepasang suami istri yang tengah menikmati liburan untuk merayakan ulang tahun pernikahan pada September lalu di Yunani harus kehilangan bagasi mereka selama dua hari. Padahal pasangan Marci dan Eric Rose yang menggunakan American Airlines diberitahu oleh aplikasi di ponsel pintar mereka bahwa bagasi sudah menunggu di ban berjalan atau carousel bagasi.

Baca juga: Global Locator, Alat Pelacak Posisi Bagasi Dalam Penerbangan

Namun ternyata ketika mereka tiba di tempat pengambilan bagasi, barang mereka tidak ada dan memaksa pasangan itu membeli pakaian dan perlengkapan mandi hingga tas tersebut tiba di Athena dua hari kemudian. Kecelakaan ini ternyata, aplikasi memberitahukan tas tersebut ada pada perjalanan mereka dari Bandara Internasional Los Angeles ke Bandara Internasional O’Hare Chicago dan belum dimuat ke pesawat menuju Yunani.

“Itu sangat membuat frustasi. Saya menangis karena tidak punya pakaian untuk dipakai dan tidak ada yang bisa kami lakukan,” ujar Marci.

Padahal maskapai terbesar di Amerika itu telah menginvestasikan jutaan dolar untuk teknologi selama delapan tahun terakhir untuk memudahkan penumpang dalam melacak keberadaan tas mereka dan mengatasi kehilangan bagasi. Dilansir KabarPenumpang.com dari latimes.com, lebih dari tiga perempat maskapai penerbangan di seluruh dunia berencana untuk menawarkan penumpang mereka untuk melacak tas pada tahun 2020. Namun insiden yang menimpa pasangan Roses dan keluhan di media sosial menunjukkan bahwa teknologi pelacakan bagasi tidak akurat 100 persen.

“Ketika itu melibatkan manusia, Anda akan selalu mendapatkan kesalahan,” kata Peter Drummond, direktur portofolio untuk bagasi di SITA.

Maret lalu, SITA merilis sebuah studi dan menemukan 26 persen penumpang maskapai penerbangan di seluruh dunia menggunakan perangkat mobile tahun lalu untuk melacak bagasi mereka dan jumlah ini naik 14 persen dari tahun 2017. Studi SITA sebelumnya menyebutkan 77 persen maskapai berencana menawarkan penumpang update secara real time informasi pelacakan bagasi tahun depan.

Model dan teknologi pelacakan tas ini pun bervariasi tergantung maskapai dan semua bergantung pada pekerja, titik tertentu dalam bongkar muat bagasi untuk secara manual memindai label bagasi. Sayangnya keakuratan bisa menurun jika pekerja maskapai lupa untuk memindai tas atau label bagasi terlepas.

American, United dan Delta, tiga dari operator terbesar di dunia, menawarkan layanan pelacakan bagasi gratis kepada penumpang yang memungkinkan mereka memantau status koper mereka di beberapa titik di setiap penerbangan, melalui aplikasi ponsel pintar, pesan teks atau peringatan email. Tak hanya itu Alaska Airlines berencana menawarkan aplikasi pelacakan tahun depan.

“Kami sedang mengembangkan teknologi baru yang akan mendukung proses pemuatan bagasi kami. Perbaikan akan memungkinkan para tamu untuk melihat pemindaian bagasi mereka melalui aplikasi kami dan harus siap pada tahun 2020,” kata juru bicara Alaska Airlines Ray Lane.

Southwest Airlines bulan ini menyelesaikan pemasangan 3400 pemindai untuk meningkatkan sistem pelacakan bagasi. Tetapi operator yang berbasis di Dallas ini tidak bekerja pada aplikasi sehingga penumpang dapat melacak barang bawaan mereka sendiri.

“Tidak ada rencana segera untuk menawarkan aplikasi pelacakan bagasi eksternal karena ini saat ini merupakan upaya untuk meningkatkan sistem pelacakan internal kami,” kata juru bicara Southwest, Brian Parrish.

Para ahli mengatakan sistem pelacakan yang lebih lama yang mengandalkan label bagasi yang dicetak dengan kode batang (QR Code) seperti yang ada pada item toko grosir dan tidak seakurat teknologi terbaru yang melibatkan Radio Frequency Identification (RFID) yang memancarkan sinyal yang dibaca oleh sensor.

Orang Amerika menggunakan label bagasi, dihiasi dengan kode batang untuk melacak tas. Manusia dengan perangkat pemindaian harus memindai setiap kode batang saat bagasi dimuat atau dibongkar di pesawat. American Airlines mengatakan sedang mempertimbangkan untuk beralih ke teknologi baru untuk sistem pelacakan kopernya tetapi menolak untuk mengungkapkan rincian tentang teknologi itu.

Delta Airlines menjadi operator besar pertama yang menawarkan aplikasi pelacakan bagasi pada tahun 2011, awalnya menggunakan label bagasi dengan kode bar yang sesuai dengan rencana perjalanan penumpang. Namun pada tahun 2016, Delta mulai beralih ke tag yang tertanam dengan chip RFID.

RFID dipindai oleh pekerja Delta atau sinyal diambil oleh puluhan sensor stasioner pada pemuat sabuk dan di tempat lain dalam proses pemuatan. Ketika Delta beralih ke tag RFID, maskapai ini menggembar-gemborkan teknologi baru itu memiliki “tingkat keberhasilan 99,9 persen.”

Baca juga:

International Air Transport Assn., Yang mewakili operator terbesar di dunia, mengeluarkan resolusi pada Juni 2018 yang menyerukan kepada semua maskapai penerbangan untuk menginstal teknologi pelacakan bagasi dan merekomendasikan agar mereka bergantung pada tag yang disematkan RFID untuk melacak tas.