Berat Bagasi Kabin Anda Berlebih? Jangan Takut di Jetstar Bisa Top Up 7 Kg

Jatah bagasi kabin atau barang bawaan yang bisa masuk ke dalam kabin biasanya hanya seberat tujuh kilogram dan ini termasuk dalam pembelian tiket starter. Namun bagaimana bila berat tersebut berlebih dan apakah harus masuk ke dalam kargo atau ada peningkatan kapasitas dan membayar lebih?

Baca juga: Agar Penerbangan Nyaman, Inilah Tips Bawa Koper ke Dalam Bagasi Kabin 

Baru-baru ini maskapai Jetstar menawarkan peningkatan jatah untuk bagasi jinjing hingga 14 kg. Untuk penambahan dua kali lipat ini, penumpang bisa memanfaatkan opsi terbaru dengan top up ekstra tujuh kilogram.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Corporate Communications Manager Jetstar Cynthia Yen-Sullivan mengatakan, ini adalah opsi tambahan bagi penumpang untuk melipatgandakan jatah tersebut. Dia mengatakan, layanan top up bagasi jinjing mulai dari harga AU$19 atau sekitar Rp182 ribu.

“Layanan top-up ekstra tujuh kilogram ini dapat dinikmati mulai dari harga sekitar Rp182 ribu pada tiket starter dan dapat dibeli mulai hari ini,” kata Yen-Sullivan yang dikutip dari siaran pers (25/11/2019).

Bukan hanya mendapat jatah dua kali lipat, penumpang juga diklaim bisa merasakan hal yang praktis ketika melewati check in dan mengambil bagasi. Layanan terbaru ini bisa dirasakan dalam semua penerbangan Jetstar Asia dari dan ke Singapura terkecuali dari dan ke Vietnam.

Yen-Sullivan megatakan, member Club Jetstar juga akan mendapat diskon hingga 20 persen ketika membeli layanan top up bagasi jinjing saat melakukan booking. Peningkatan jatah berat bagasi jinjing yang diperbolehkan memiliki ketentuan dengan satu tas tidak boleh melewati sepuluh kilogram, tetapi dapat dibagi menjadi dua tas berbeda.

Dia menjelaskan ketentuan dimensi tas jinjing yang dapat dibawa ke bagasi kabin tetap sama, yakni berukuran tidak lebih dari 56 x 36 x 23 cm. Barang bawaan lainya yang lebih kecil dapat disimpan di bawah kursi.

Diketahui, Jetstar pertama kali memperkenalkan opsi berbayar untuk top up bagasi jinjing pada 2018. Para penumpang dapat menikmati jatah ekstra tiga kilogram dan digantikan dengan layanan baru top up ekstra tujuh kilogram.

Yen-Sullivan menjelaskan opsi bagasi Jetstar antara lain pertama, penumpang Jetstar menerima jatah bagasi jinjing hingga tujuh kilogram untuk setiap pembelian tiket starter. Kedua, penumpang dapat melakukan top-up untuk jatah bagasi jinjing pada penerbangan tertentu.

Baca juga: Bocah Dimasukkan dalam Bagasi Kabin, Foto Pria ini Menjadi Viral

Ketiga, penumpang juga dapat membeli jatah bagasi terdaftar mulai dari 15 kg hingga 40 kg. Keempat, penumpang yang menambahkan paket Flex pada tiket starternya juga akan mendapatkan ekstra jatah bagasi jinjing sebagai bagian dari fasilitas disamping kebebasan memilih kursi dan fleksibilitas penerbangan pada hari yang sama.

Stasiun Barat Jadi Stasiun Magetan, Ternyata Pernah Punya Percabangan ke Lanud Iswahjudi

Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) 2019 akan mulai digunakan pada 1 Desember 2019 mendatang oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI). Adanya penggunaan Gapeka terbaru juga berdampak pada perubahan empat nama stasiun di dua daerah operasional (Daop) yakni Daop 7 dan 9.

Baca juga: Mulai 1 Desember, KA Kalijaga Berhenti Beroperasi Setelah Penetapan Gapeka 2019

Perubahan nama ini berdasarkan usulan masing-masing Daop. Stasiun yang pertama berubah nama yakni Stasiun Barat dan akan menjadi Stasiun Magetan kemudian Stasiun Paron menjadi Stasiun Ngawi. Stasiun Karangasem berubah menjadi Stasiun Banyuwangi Kota dan Stasiun Banyuwangi Baru akan menjadi Stasiun Ketapang.

Stasiun Barat menjadi Stasiun Magetan (wikipedia)

Nah, KabarPenumpang.com akan membahas Stasiun Barat yang menjadi satu-satunya stasiun di Magetan. Stasiun kereta api kelas II tersebut berada di ketinggian 70 meter diatas permukaan laut dan masuk dalam Daop 7 Madiun.

Stasiun ini dibangun pada dasawarsa 1930-an atau tepatnya pada masa penjajahan Belanda. Stasiun ini melayani transportasi kereta api beberapa tujuan kota di Pulau Jawa tetapi hanya terbatas untuk kereta api ekonomi. Bahkan dulunya terdapat percabangan jalur kereta menuju Pangkalan Udara (Lanud) Iswahjudi di Madiun.

Selain itu jalur ini juga dipakai Pertamina untuk mengangkut bahan bakar pesawat. Bahkan Stasiun Barat dulunya dilengkapi dengan lintasan rel lori menuju PG Purwodadi untuk mengangkut tebu dan gula.

Dulunya stasiun ini punya empat jalur kereta api dengan jalur 2 eksisting yang merupakan sepur lurus. Kemudian jalur ganda pada segmen lintas Babadan-Geneng resmi dioperasikan per 16 Oktober 2019, jalur 1 eksisting diubah menjadi jalur 2 yang baru sebagai sepur lurus hanya untuk arah Madiun, jalur 2 eksisting diubah menjadi jalur 3 yang baru sebagai sepur lurus hanya untuk arah Solo, jalur 3 eksisting diubah menjadi jalur 4 yang baru, dan jalur 4 eksisting dibongkar.

Selain itu, sistem persinyalannya telah diganti dengan sistem persinyalan elektrik. Bangunan lama stasiun beserta gudang peninggalan Staatsspoorwegen sudah dibongkar karena terkena perpanjangan sepur badug eksisting menjadi jalur 1 yang baru sehingga digantikan dengan bangunan baru yang lebih besar dan tanah tempat gudang ini berdiri dijadikan lokasi bangunan baru stasiun.

Meski bangunan yang lama tinggal puing-puing besi yang berkarat itu menjadi bukti bahwa sejak zaman Belandapun daerah ini sudah ramai disinggahi. Walapun stasiun ini digunakan sebagai tempat pemberhentian kereta yang akan menuju ke Madiun, stasiun ini dulunnya juga berperan penting dalam lalu lintas kereta api, khususnya kereta api yang mengangkut kayu.

Baca juga: Waspadai Perubahan Jadwal Kereta! Mulai 1 Desember PT KAI Gunakan Gapeka 2019

Walaupun sudah mengalami pembaruan, ternyata bekas jalur kereta ini yang menuju ke Lanud Iswahjudi masih tersisa di dekat perkampungan warga. Selain penggantian nama, Bupati Magetan juga meminta kepada PT KAI untuk memberhentikan lebih banyak kereta api kelas eksekutif dan bisnis di stasiun ini.

Tak Sebut Alasan, Citilink Hentikan Operasional Rute Surabaya-Jember Setelah Enam Bulan

Kementeriaan Perhubungan dan Direktorat Jenderal Perhubungan secara resmi mengeluarkan surat izin rute penerbangan bagi maskapai Citilink Indonesia rute Surabaya-Jember-Surabaya untuk menunjang kebutuhan transportasi udara di Bandara Notohadinegoro Jember sejak 26 April 2019. Sayangnya setelah enam bulan melayani penerbangan dari Surabaya menuju ke Jember tersebut, akhirnya Citilink menghentikan operasinya di Bandara Notohadinegoro.

Baca juga: Kini Citilink Terbang ke Perth dan Kuala Lumpur dari Denpasar

Penghentian rute ini oleh maskapai berbiaya hemat (LCC) tersebut sejak 14 November 2019 kemarin hingga batas yang belum bisa ditentukan. Stasion Manager Citilink Jember Yogi Ardi Asmoko menyebutkan, penghentian opersional maskapai ini mengacu pada pemberitahuan dari kantor pusat.

“Pemberhentian operasional penerbangan ATR-72 rute Surabaya-Jember-Surabaya mulai efektif pada 14 November 2019 sampai batas waktu yang tidak ditentukan,” kata Yogi yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber.

Dalam surat pemberitahuan, pihak manajemen Citilink pusat tidak menyebutkan alasan secara detail penutupan rute Surabaya-Jember tersebut.

“Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada UPT (Unit Pelaksana Teknis) Bandara Notohadinegoro atas kerja sama yang baik selama ini, sehingga operasional penerbangan Citilink Indonesia dapat berjalan lancar,” ujarnya.

Kenyataan penghentian operasional Citilink rute Surabaya menuju Jember dibenarkan oleh Kepala UPT Bandara Notohadinegoro Edy Purnomo. Dia mengatakan, hampir sepekan lebih maskapai hijau ini tak lagi terbang dirute tersebut.

“Memang benar hampir sepekan lebih Citilink sudah tidak menerbangi rute Surabaya-Jember, sehingga hanya maskapai Wings Air yang beroperasi di Bandara Notohadinegoro,” kata Edy yang dikutip dari antaranews.com.

Dia mengatakan, keputusan tersebut merupakan kebijakan Citilink pusat dan pihaknya sudah menerima surat pemberitahuan penghentian operasional penerbangan dari pihak Citilink di Jember.

“Sebenarnya okupansi penumpang sudah mulai bagus, namun pihak UPT Bandara Notohadinegoro juga tidak bisa berbuat banyak terkait dengan keputusan manajemen Citilink,” tuturnya.

Baca juga: Citilink dan GMF AeroAsia Bentuk Anak Usaha Baru di Bidang Pendidikan

Karena adanya penutupan rute Citilink, maka hanya tinggal Wings Air yang beroperasi di Bandara Notohadinegoro. Untuk alasan penghentian operasionalnya sendiri, pihak KabarPenumpang.com sudah menghubungi Citilink namun belum ada respon hingga saat ini. Umumnya dalam bisnis penerbangan komersial, pengentian rute penerbangan dikarenakan load factor yang rendah.

10 Tahun Lalu, Penerbangan Kelas Ekonomi Terasa Lebih Nyaman!

Terbang dengan menggunakan maskapai berbiaya rendah (Low Cost Carrier/LCC) atau duduk di bangku penerbangan kelas ekonomi agaknya tidak terlalu cocok bagi Anda yang hendak melakoni penerbangan jarak menengah-jauh. Konfigurasi bangku yang seolah tidak memperhatikan kenyamanan penumpang menjadi satu momok menakutkan. Ditambah ruang untuk kaki yang sempit dan jarak antar bangku yang sangat mepet menjadi bahan pertimbangan banyak orang untuk tetap melanjutkan membeli tiket LCC atau duduk di bangku kelas ekonomi.

Baca Juga: Layakkah Full-Service Carrier Layani Penumpang dengan Standar LCC?

Namun agaknya skema ini tidak begitu menonjol di masa lampau – mengingat pesawat masih diplot sebagai moda transportasi untuk kalangan berduit saja. Guna membuktikan pernyataan di atas, KabarPenumpang.com mengutip dari laman forbes.com, dimana konfigurasi bangku 2-4-2 untuk konfigurasi bangku kelas ekonomi masih merajalela – setidaknya 10 hingga 15 tahun ke belakang. Kala itu, dua pesawat yang masih mendominasi puncak pengangkut penumpang adalah Airbus A340 dan Boeing 767 – dua pesawat wide-body dengan kemampuan menempuh jarak menengah-jauh.

Dengan konfigurasi semacam ini (8 penumpang dalam satu deret), penumpang masih bisa merasakan nyaman walaupun tidak senyaman business class dan first class.

Seiring kompetisi antar maskapai dan meningkatnya minat penumpang untuk melakukan perjalanan udara, pihak maskapai mulai meminta pabrikan pesawat untuk memaksakan konfigurasi bangku 3-3-3 untuk pesawat jenis wide-body. Hadirnya ide ini menandakan bahwa kenyamanan penumpang mulai tergadaikan hanya demi kas perusahaan yang diharapkan semakin ‘membengkak’ akibat meningkatkanya biaya operasional dan bahan bakar.

Soal kenyamanan penumpang? Tentu saja ruang gerak mereka semakin terbatas dengan konfigurasi sembilan bangku dalam satu deret.

Hingga pada akhirnya muncul ide untuk menghadirkan konfigurasi 10 bangku dalam satu deret. Baik Boeing dan Airbus mulai mempromosikan konfigurasi bangku semacam ini – khususnya bagi para operator LCC, yang ingin memaksimalkan okupansi penumpang guna menyeimbangkan biaya operasional. Ya, konfigurasi 3-4-3 semacam inilah yang banyak Anda saksikan di maskapai yang mengoperasikan pesawat wide-body dengan kelas ekonomi di dalamnya, atau bahkan maskapai LCC yang mengoperasikan pesawat berbadan besar.

Baca Juga: Vistara dan Jet Airways, Maskapai Full Service yang Sajikan Layanan Bergaya LCC

Sebut saja maskapai asal Hong Kong yang kini tengah dideru masalah akibat RUU Ekstradisi, Cathay Pacific – dimana maskapai ini mengaplikasikan konfigurasi 3-4-3 untuk varian Boeing 777 yang mereka miliki. Selain Cathay, ada juga United Airlines, Qatar, hingga Emirates yang menerapkan konfigurasi semacam ini.

Lalu, benarkah kenyamanan penumpang ‘tergadaikan’ hanya demi pemasukan perusahaan yang lebih besar?

Load Factor Rendah, Air France Mulai ‘Pensiunkan’ Airbus A380

Flag carrier Perancis, Air France dikabarkan mulai menyudahi tugas dari pesawat penumpang terbesar Airbus A380. Alih-alih memberhentikan ke-10 unit A380 yang tergabung di dalam tubuh maskapai secara berbarengan, pihak Air France lebih memilih untuk melakukan proses ini secara perlahan – adalah A380-800 kedua milik perusahaan yang kena giliran pertama untuk purna tugas dari maskapai yang tergabung ke dalam aliansi penerbangan SkyTeam ini.

Baca Juga: Stop Produksi di Awal 2019, Kapan Airbus A380 Pensiun Sepenuhnya?

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman samchui.com (24/11), adalah Airbus A380 dengan nomor registrasi F-HPJB yang menjalani penerbangan terakhirnya dari Paris menuju Malta International Airport (MLA) pada hari Minggu (24/11) kemarin. Air France AF370V, menjadi pesawat yang mengawali masa pensiun dari Airbus A380 dari tubuh Air France yang dijadwalkan akan sepenuhnya berhenti menggunakan moda ini sebelum tahun 2022 mendatang. Pada penerbangan terakhirnya, pesawat ini mengudara dengan durasi penerbangan sekitar dua jam 17 menit.

Sumber: samchui.com

Menurut pihak perusahaan, setibanya pesawat di Malta, keseluruhan body dari F-HPJB akan dicat ulang dengan warna putih di Aviation Cosmetics Malta, sebelum pada akhirnya dikembalikan ke pihak penyewa, Dr. Peters Group.

Diketahui, F-HPJB merupakan unit Airbus A380 kedua yang bergabung ke dalam tubuh perusahaan pada Februari 2010 silam. Menurut pihak Air France, biaya pengoperasian dari Airbus A380 dinilai tidak lagi bisa menyeimbangkan keuntungan dari yang didapatnya.

Baca Juga: Tak Kunjung Balik Modal, Tepatkah Airbus Hentikan Program A380?

“Lingkungan kompetitif saat ini membatasi pasar di mana A380 dapat beroperasi secara menguntungkan,” tulis Air France dalam siaran pers.

Tidak seperti seperti Lufthansa, Singapuro Airlines, Qantas, China Southern Airlines, dan Emirates yang juga mengoperasikan Airbus A380, Air France tidaklah mendapatkan keuntungan dari burung besi ini. Besar kemungkinan load factor dari A380 milik air France ini tidaklah setinggi maskapai tersebut di atas, sedangkan biaya operasionalnya tergolong tinggi. Jadi, wajar adanya jika pihak maskapai tidak mendapatkan keuntungan maksimal.

Tak Terpengaruh Krisis MAX 8, Boeing Luncurkan 737 MAX 10 di Hadapan Ribuan Karyawan

Setelah sempat terseok-seok menghadapi rumitnya buntut dari kecelakaan varian 737 MAX 8 yang menimpa Lion Air dan Ethiopian Air, pemberitaan terbaru dari raksasa manufaktur asal Amerika, Boeing menyebutkan bahwa pihak perusahaan baru saja merayakan penampilan perdana dari varian terbaru milik mereka, Boeing 737 MAX 10. Adapun penampilan perdana dari pesawat anyar ini dilakukan Boeing di pabrikan perusahaan yang ada di Renton, Washington. Hampir sama seperti penampilan perdana dari Boeing 777X, Boeing 737 MAX 10 juga ditampilkan di hadapan ribuan karyawannya.

Baca Juga: Lion Air Group Beli 50 Unit Boeing 737 Max 10 Senilai Rp858 Triliun

Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, berkenaan dengan seremoni di tengah nestapa perusahaan, para pemimpin Boeing menyampaikan pencapaian tim dan memberikan penghargaan atas upaya mereka dalam menyelesaikan produksi varian terbaru dari seri pesawat 737 MAX.

“Hari ini bukan saja mengenai pesawat baru. Hari ini adalah milik mereka yang merancang, membangun, dan mendukung pesawat ini,” tutur Mark Jenks, wakil presiden dan general manager program 737.

“Fokus tim yang tajam terhadap aspek keselamatan dan kualitas menunjukkan komitmen kami terhadap para maskapai pelanggan dan setiap orang yang terbang bersama pesawat Boeing,” sambungnya.

Patut diketahui, varian Boeing 737 MAX 10 merupakan varian terbesar dari keluarga 737 MAX, dimana pesawat ini dirancang untuk menampung 230 penumpang dengan biaya kursi per jarak terendah diantara semua pesawat single aisle yang pernah diproduksi. Pesawat ini akan terlebih dahulu menjalani pemeriksaan sistem dan uji mesin sebelum melakukan penerbangan pertama yang direncanakan jatuh pada tahun depan.

Kendati masih lama hingga uji penerbangan perdana, namun Boeing sudah mengantongi satu nama yang kelak akan menerbangkan si burung besi anyar ini untuk pertama kalinya.

Baca Juga: Meski Khusus Internal Perusahaan, Boeing Tepati Janji Perlihatkan 777-9

‘’Saya merasa terhormat dapat membawa pesawat ini pada penerbangan pertamanya dan menunjukkan kepada dunia hasil curahan hati dan jiwa kami,’’ ujar Jennifer Henderson, kepala pilot pesawat 737, kepada kerumunan karyawan dalam acara seremonial pesawat tersebut.

Diketahui, hingga saat ini pihak Boeing sudah mencatatkan pemesanan 550 unit 737 MAX 10 dari 20 pelanggan di seluruh dunia.

Iklankan “Terminator: Dark Fate,” Rev-9 Terpajang di Stasiun Shinjuku

Di Jepang, hampir di semua stasiun kereta baik di bawah tanah atau tidak selalu sibuk apalagi di jam pergi dan pulang kerja. Namun satu diantaranya yakni Stasiun Tokyo Shinjuku menjadi yang tersibuk karena punya selusin jalur sehingga banyak kereta yang bertemu di sana.

Baca juga: Ekspansi Bisnis, Japan Railway East Buka Area Belanja di Stasiun Singapura Akhir 2019

Dilansir dari japantoday.com oleh KabarPenumpang.com (25/11/2019), meski sibuk tetapi Stasiun Shinjuku bahkan menjadi salah satu pusat transportasi paling nyaman bagi penumpang. Tak hanya itu, tetapi juga lokasi strategis yang paling dilirik oleh para pengiklan produk.

Apalagi jalan setapak yang panjang dengan pilar-pilar penyanggahnya dan di sebut Metro Promenade yang menjadi seperti kanvas serta diidam-idamkan oleh para tim pemasaran kreatif. Hal ini yang membuat Cyberdyne pada awal November 2019 kemarin memajang iklan film “Terminator: Dark Fate.”

Namun di Jepang film itu berjudul “Terminator: New Fate” dan iklan tersebut menampilkan Rev-9 yang menjadi peran terminator penjahat baru. Rev-9 tersebut di pajang di pilar Metro Promenade dan dalam balutan sebuah poster tiga dimensi.

Di mana Rev-9 terlihat keluar dari poster yang tertempel pada diding pilar tersebut. Iklan ini awalnya dipikirkan untuk menjadi hiasan Hallowen karena Terminator dianggap masuk kategori film horor.

Meski begitu menyeramkan tetapi kehadiran iklan yang menggambarkan Rev-9 membuat stasiun dan film tersebut terlihat keren ketika terpajang. Pemajangan poster iklam film Terminator di Stasiun Shinjuku berakhir pada 3 November kemarin karena pada 8 November film tersebut debut perdana di Jepang.

Kehadiran iklan ini karena sebelumnya ada iklan Metro Promenade yang menarik dari Yu-Gi-Oh penerbit Konami. Kala itu mereka melakukan pengembangan “Dragon Quest” Square Enix dan Streaminger anime Netflik.

Baca juga: Gunakan Teknologi Pengenal Wajah, Taksi Jepang Hadirkan Iklan Sesuai Jenis Kelamin dan Usia Penumpang

Bahkan Cyberdyne menjadi organisasi terbaru yang membuat ini agar mendapat dorongan promosi pada orang atau penumpang yang lewat. Sehingga iklan Rev-9 akhirnya ditangani oleh Cyberdyne Skynet dengan menggunakan AI-strike hingga terlihat seperti yang dipajang tersebut.

Angkut Penumpang Kereta Secara Acak, Bus Ultra Mewah Yuga Akan Beroperasi 5 Hari di Tokyo

Kepadatan penumpang kereta api di Jepang tepatnya yang menuju ke arah pusat kota Tokyo di setiap hari kerja tak lagi perlu diherankan. Sebab kereta jam sibuk pada pagi hari sangat tidak menyenangkan untuk kota yang memiliki banyak perkantoran dan sebagian besar memulai jam kerja yang bersamaan. Sehingga hal ini membuat agak sulit mengurangi kepadatan stasiun di Jepang.

Baca juga: Luxury Class Sleeper Bus PO Harapan Jaya, Fasilitas “Mewah” dengan Harga Terjangkau

Namun pada Desember 2019 medatang, selama lima hari akan ada hal yang menyenangkan untuk para pekerja di Tokyo. Sebab beberapa penumpang tidak akan merasakan padatnya kereta dan akan menggunakan bus ultra mewah.

KabarPenumpang.com melansir laman japantoday.com (23/11/2019), bus ultra mewah merupakan proyek bersama antara Nestlé dan operator bus wisata Yuga yang berbasis di Tokyo. Bus ultra mewah tersebut akan beroperasi pukul 08.00 pagi waktu setempat antara Stasiun Ikebukuro dengan Stasiun Tokyo.

Perjalanan ini akan ditempuh dengan waktu 40 menit dengan penumpang yang semuanya duduk dan tidak ada yang berdiri. Akan ada sepuluh penumpang yang naik bus ini dan bisa menikmati kursi malas nan mewah dilengkapi dengan sandaran kaki, port pengisian USB dan juga disediakan selimut serta sandal untuk kenyamanan penumpang.

Sayangnya meski begitu, penumpang tidak disarankan untuk tidur karena akan ada sarapan gratis yang disiapkan oleh restoran World Breakfast Allday dan tak boleh dilewatkan. Penumpang bahkan bisa memilih menu dengan sarapan ala Inggris, Meksiko dan Swiss yang menyajikan sosis, huevos rancheros, irisan keju serta daging.

Tak hanya itu, untuk menemani sarapan, secangkir kopi Nescafé Excella akan diberikan. Bisa dikatakan ini yang terbaik dari semuanya dan bus Yuga hadir dengan gratis.

Baca juga: Tukar Botol Bekas, Dapat Tiket Bus Suroboyo Gratis!

Meski begitu, sebagai seorang penumpang jangan membuang pass kereta karena bus hanya beroperasi selama lima hari yakni tanggal 2, 9, 10, 17 dan 18 Desember. Penumpang yang naik bus ultra mewah ini pun akan dipilih secara acak dan sebelumnya penumpang bisa mendaftar pada https://nescafe-yuga.com/entry.

Kalau ini ada di Indonesia apakah Anda sebagai penumpang tertarik?

Wings Air Tambah Frekuensi Penerbangan Jakarta-Bandung, Hanya 30 Menit di Udara!

Meski banyak dikutuk akan kemacetannya yang parah, tetap saja perjalanan dari Jakarta menuju Bandung tetap digandrungi oleh warga Ibukota – terutama ketika akhir pekan tiba. Beragam akses menuju Kota Kembang tersedia, mulai dari kereta, bus, hingga shuttle (travel) yang siap mengantarkan Anda ke berbagai destinasi.

Baca Juga: Penumpang Kereta Jakarta-Bandung Kian Padat, KAI Tambah Jadwal Perjalanan

Namun kerap kali warga Ibukota kehabisan tiket kereta api (yang diplot sebagai moda paling digemari oleh warga Jakarta karena estimasi perjalanannya yang relatif tepat waktu) untuk melakoni perjalanan ke Bandung, mengingat perjalanan dengan menggunakan moda darat seperti shuttle dan bus memakan waktu jauh lebih lama karena macet. Nah, jika  Anda merupakan salah satu ‘korban’ kehabisan tiket kereta api, namun ingin cepat sampai di Bandung, Anda bisa menjajal perjalanan udara, karena pada Minggu (24/11) kemarin, anak perusahaan dari Lion Air Group, Wings Air meresmikan penambahan frekuensi penerbangan menuju Bandung menjadi tiga kali dalam sehari.

Detail Penambahan Layanan
Sebagaimana informasi yang didapatkan KabarPenumpang.com dari siaran pers, Wings Air nomor penerbangan IW-1951 mengudara dari Husein Sastranegara pada 19.20 WIB dan memiliki jadwal kedatangan di Jakarta pukul 19.50 WIB. Untuk rute sebaliknya, Wings Air berangkat dari Halim Perdanakusuma pada 20.10 WIB bernomor IW-1950 dan tiba di Bandung pukul 20.40 WIB.

Peningkatan layanan penerbangan ini dijalankan secara berjadwal, dengan demikian memperkuat operasional Wings Air dari Jakarta tujuan Bandung menjadi tiga kali sehari atau enam kali pergi pulang. Wings Air menilai permintaan pasar Jakarta – Bandung – Jakarta akan terus berkembang.

Dalam menjalankan rute penerbangan ini, Wings Air menggunakan varian ATR 72-500 atau ATR 72-600 dengan kapasitas 72 kursi kelas ekonomi yang diklaim paling nyaman dan canggih di kelasnya yang mampu menerbangi rute jarak pendek secara point to point.

Menurut pihak Wings Air, Anda akan menikmati sensasi mengudara dengan menggunakan jet pribadi karena konfigurasi kursi 2-2, dapat bersantai ketika di kabin atau hanya sekadar menikmati pemandangan memukau dari ketinggian, daya tariknya bahwa pesawat mampu terbang rendah. Selain itu, bisa menikmati dan melihat pemandangan luar yang akan memanjakan mata karena pesawat mampu terbang dengan rendah.

Perbandingan Harga
Seperti yang sudah disebutkan di atas, penambahan jadwal penerbangan dari Wings Air ini akan melengkapi opsi perjalanan bagi Anda semua yang hendak melawat ke Bandung maupun Jakarta. Mengingat ini merupakan perjalanan udara, maka wajar adanya jika harga yang ditawarkan sedikit lebih tinggi ketimbang moda-moda lainnya.

Jika dilihat dari laman traveloka.com, tiket penerbangan Wings Air rute Jakarta – Bandung dibanderol dengan harga Rp332.200 (berangkat pukul 14.00 WIB) hingga Rp349.800 (berangkat pukul 20.20 WIB) untuk tanggal keberangkatan 4 Desember 2019. Sementara untuk harga tiket kereta sendiri berada di kisaran Rp110.000 untuk kelas ekonomi premium hingga Rp170.000 untuk kelas eksekutif di hari yang sama.

Lain halnya dengan shuttle dengan harga yang lebih beragam – tergantung operator yang menjalankannya. Salah satu shuttle kelas premium, Cititrans menyediakan harga berkisar Rp145.000 untuk perjalanan di hari yang sama (4/12).

Baca Juga: Rp300 Ribu! Inilah Harga Tiket Termurah Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Di atas angin, harga dari Wings Air ini memang berada di atas moda-moda lain yang menjalankan relasi Jakarta – Bandung PP. Namun dengan efektivitas durasi penerbangan (30 menit) hingga nilai prestise yang didapat oleh penumpang, rasanya harga yang ditawarkan oleh Wings Air masih cukup masuk akal.

Agaknya, jika umur dari rute penerbangan Jakarta – Bandung PP ini cukup panjang, maka Wings Air akan bersaing head-to-head dengan Kereta Cepat yang diproyeksikan bakal meluncur dalam beberapa tahun ke depan dengan harga tiket mulai dari Rp300 ribu untuk durasi 45 menit perjalanan Jakarta – Bandung.

Jadi, Anda pilih yang mana?

60 Tahun Beroperasi, Monorail di Kebun Binatang Ueno Tokyo Harus Pensiun

Sebuah kereta yang sudah lanjut usia biasanya akan dipensiunkan meskipun masih tampak kokoh dan digemari penumpang. Hal ini pun terjadi pada monorail di kebun binatang Ueno Tokyo yang sangat populer di kalangan pengunjungnya untuk melihat hewan dan menikmati keindahan dari atas.

Baca juga:  Ternyata Aeromovel Sudah Ada Sejak Zaman Kereta Api Victoria

Penghentian operasional monorail di kebun binatang tersebut dikarenakan sudah beroperasi selama 60 tahun, di mana kereta dan fasilitasnya sudah tua. Bahkan sebelum dihentikan pengoperasiannya pada 31 Oktober 2019 kemarin, pihak pemerintah metropolitan sempat mempertimbangkan akan diremajakan dengan merombak sistem atau menghapus secara permanen.

Diluncurkan tahun 1957 oleh biro transportasi Pemerintah Metropolitan Tokyo, monorail ini menjadi yang pertama di negeri Matahari Terbit itu. Selama 60 tahun beroperasi, monorail di Ueno sudah mengangkut lebih dari 65 juta penumpang dari bagian timur hingga ke barat kebun binatang tersebut.

Dilansir KabarPenumpang.com dari japantimes.co.jp (31/10/2019), monorail di kebun binatang Ueno merupakan kereta yang tergantung pada rel tunggal dan membentang sepanjang 330 meter. Memiliki dua stasiun, waktu tempuhnya sekitar 90 detik. Monorel ini memiliki dua gerbong dalam satu rangkaian yang mampu menampung 62 penumpang.

Monorail di Ueno merupakan generasi keempat dengan tipe 40 yang digunakan sejak tahun 2001 lalu. Pada hari terakhirnya beroperasi, penumpang yang naik pun di pilih secara acak melalui lotre. Bahkan sebelum beroperasi untuk yang terakhir kali, Kepala Stasiun Kazuhide Nagata menyampaikan pesan singkatnya.

“Saya ingat dengan jelas banyak anak mengatakan bahwa perjalanan monorail itu menyenangkan. Monorail memberikan pemandangan yang indah, seperti kolam Shinobazunoike (di Taman Ueno), dan kereta itu berwarna-warni dan populer. Sangat disesalkan bahwa layanan ini telah ditangguhkan,” katanya.

Seorang lelaki berusia 38 tahun dari Prefektur Ehime, yang mengunjungi kebun binatang bersama keluarganya pada hari itu, mengatakan, “Saya yakin monorail itu dicintai oleh semua orang. Saya harap ini akan dikembalikan.”

Baca juga: Bakal Hubungkan Rusia dan Cina, Inilah Kereta Gantung Lintas Negara Pertama di Dunia

Pada awal 1980-an, pihak berwenang mempertimbangkan untuk menghapus monorail, tetapi pemerintah metropolitan memutuskan untuk memperbaikinya setelah muncul permintaan untuk dilanjutkan. Diketahui, sehari setelah berhenti beroperasi pada 1 November 2019, para pengunjung bisa menggunakan bus yang disediakan oleh pengelola kebun binatang. Setelah pensiun, monorail ini dipanjang di Stasiun East Garden hingga 24 November 2019.