Sejak 1973, Iran, Rusia dan AS Ternyata Pernah Menghantam Pesawat Penumpang dengan Rudal

Di tengah ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS), pesawat Boeing 737-800 yang dioperasikan oleh Ukraine International Airlines dilaporkan jatuh. Tak lama setelah kejadian, beredar luas di dunia maya, video yang memperlihatkan rudal menghantam benda di angkasa hingga membuatnya terbakar di udara dan kemudian jatuh ke daratan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa benda di angkasa tersebut adalah pesawat Ukraine International Airlines yang terkena rudal hanud Iran.

Baca juga: Sama-sama Jatuh Dirudal, Inilah Persamaan dan Perbedaan Insiden Malaysia Airlines MH17 dan Ukraine International PS752

Walaupun sempat membantah tuduhan tersebut, pada hari Sabtu (11/01) waktu setempat, Iran mengumumkan bahwa militernya “secara tidak sengaja” menembak jatuh sebuah pesawat nahas tersebut hingga menewaskan 176 orang di dalamnya. Ketika itu, pesawat dijadwalkan akan melawat ke ibukota Ukraina Kyiv, dengan rincian membawa 167 penumpang dan sembilan anggota awak dari beberapa negara, termasuk 82 Iran, 57 Kanada dan 11 Ukraina, ketika ditembak jatuh.

Dalam sebuah pernyataan yang diposting di media sosial, Presiden Iran Hassan Rouhani menulis bahwa negara itu “sangat menyesali kesalahan yang menghancurkan ini”. Selain itu, Kanada, yang warganya banyak menjadi korban, juga mengutuk dan menuntut Iran untuk bertanggungjawab atas kejadian tersebut.

Di tempat terpisah, blunder Iran coba dimanfaatkan oleh Presiden AS Donald Trump dengan memprovokasi warga Iran untuk melakukan aksi protes terhadap pemerintah atas insiden jatuhnya pesawat Ukraina tersebut. Padahal, terhitung sejak tahun 1973 rupanya AS juga pernah menghantam pesawat komersial dengan rudal. Bahkan, memakan lebih banyak korban.

Dikutip dari Aljazeera.com, berikut daftar insiden pesawat yang ditembak jatuh oleh rudal berdasarkan lokasi kejadian.

Ukraina: 298 tewas
17 Juli 2014: Penerbangan Malaysia Airlines MH17 ditembak jatuh di Ukraina timur yang dikuasai pemberontak dalam perjalanan ke Kuala Lumpur dari Amsterdam. Sebanyak 298 orang di dalam pesawat tersebut tewas, termasuk 193 warga negara Belanda.

Pemerintah Kyiv dan pemberontak separatis pro-Rusia, yang berjuang untuk menguasai Ukraina timur, saling tuduh atas kejadian yang terjadi di tengah konflik tersebut.

Pada 2019, jaksa penuntut umum Belanda menetapkan empat tersangka dalam serangan itu, termasuk tiga mantan anggota angkatan bersenjata Rusia.

Somalia: 11 tewas
23 Maret 2007: Sebuah pesawat kargo Ilyushin II-76 milik maskapai Belarusia ditembak jatuh oleh roket tak lama setelah lepas landas dari ibukota Somalia, Mogadishu. Insiden tersebut sedikitnya menewaskan 11 orang.

Parahnya, pesawat itu mengangkut para insinyur dan teknisi Belarusia yang telah melakukan perjalanan ke negara itu untuk memperbaiki pesawat lain yang juga terkena rudal dua minggu sebelumnya.

Laut Hitam: 78 tewas
4 Oktober 2001: Tujuh puluh delapan orang, sebagian besar warga Israel, terbunuh ketika Siberia Airlines milik Rusia Tupolev-154, yang terbang dari Tel Aviv ke Novosibirsk, meledak di tengah penerbangan di atas Laut Hitam.

Kecelakaan itu terjadi kurang dari 300 kilometer (186 mil) dari pantai Krimea.
Seminggu kemudian Kyiv mengakui bahwa bencana itu disebabkan oleh penembakan rudal Ukraina secara tidak sengaja.

Iran: 290 tewas
3 Juli 1988: Sebuah Airbus A-300 milik Iran Air, terbang dari Bandar Abbas di Iran ke Dubai di Uni Emirat Arab, ditembak jatuh di perairan teritorial Iran di Teluk Persia tak lama setelah lepas landas oleh dua rudal yang ditembakkan dari kapal perang milik angkatan bersenjata AS, USS Vincennes. Ketika itu, kapal yang tengah melakukan patroli rutin di Selat Hormuz tersebut, tampaknya mengira pesawat tersebut sebagai pesawat tempur. 290 penumpang di dalamnya tewas seketika, termasuk 66 anak-anak.

Atas kejadian itu, Amerika Serikat membayar Iran $101,8 juta sebagai kompensasi bagi para korban setelah keputusan dari Pengadilan Internasional berlaku.

Sebagai bagian dari perjanjian, AS sebetulnya tidak mengakui tuntutan hukum atau secara resmi meminta maaf kepada Iran atas tragedi itu. Sebaliknya, AS kemudian menganugerahi kapten USS Vincennes, Will C Rogers, Legiun Merit atas jasanya sebagai komandan.

Sakhalin, Rusia: 269 tewas
1 September 1983: Pesawat Boeing 747 Korea Selatan milik Korean Air ditembak jatuh oleh jet-jet tempur Soviet di Pulau Sakhalin, setelah berbelok keluar jalur. Sekitar 269 penumpang dan anggota kru dilaporkan tewas.

Lima hari berselang, pejabat Soviet mengakui bahwa mereka telah menembak jatuh pesawat Korea Selatan. Insiden tersebut terjadi akibat ketidaksengajaan karena mengira pesawat komersial tersebut telah melalui daerah terlarang milik Rusia.

Baca juga: Tragedi 11 September, Mengenang Momen Keberanian Penumpang Melawan Teroris di United Airlines Flight 93

Gurun Sinai: 108 tewas
21 Februari 1973: Pesawat Arab Saudi Boeing 727 yang terbang dari Tripoli ke Kairo ditembak jatuh oleh pesawat tempur Israel di atas gurun Sinai. Semua penumpang kecuali empat dari 112 orang di dalamnya tewas.

Angkatan Udara Israel melakukan intervensi setelah Boeing menerbangkan fasilitas militer di Sinai, yang kemudian diduduki oleh Israel. Pihak berwenang Israel mengatakan para pejuang terpaksa melepaskan tembakan ketika pesawat menolak untuk mendarat.

Sama-sama Jatuh Dirudal, Inilah Persamaan dan Perbedaan Insiden Malaysia Airlines MH17 dan Ukraine International PS752

Sejak tahun 1973, tercatat ada sekitar enam pesawat komersial yang jatuh ditembak rudal. Alasannya pun beragam, mulai dari ketidaksengajaan hingga keadaan genting yang mengharuskan operator pertahanan udara menembakkan rudal sekalipun dengan berbagai pertimbangan. Umumnya, titik tertembaknya pesawat-pesawat nahas tersebut berada di wilayah konflik.

Beberapa waktu lalu, peristiwa kelam di dunia penerbangan kembali terulang. Konflik berkepanjangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) sejak dekade 80-an kembali memakan korban. Kali ini korbannya justru berasal dari kalangan sipil yang tak berdosa.

Baca juga: Mengacu Data Intelijen, AS dan Kanada Yakin Boeing 737 Ukraine International Ditembak Rudal

Genderang perang Iran-AS dimulai ketika serangan drone MQ-9 Reaper milik AS menewaskan pemimpin Garda Revolusi Iran Jenderal Qasem Soleimani. Tak tinggal diam, Iran pun membalas dan menghujani pangkalan militer AS di Irak dengan rudal. Namun nahas, beberapa jam setelah serangan rudal tersebut sebuah pesawat Boeing 737-800 yang diduga terkena sistem anti rudal buatan Rusia milik Iran, Tor M-1, jatuh dan menewaskan seluruh penumpang dan awak kabin.

Disebut nahas, selain karena menewaskan seluruh penumpang dan awak kabin sebanyak 176 orang, di saat yang bersamaan, tak jauh dari lokasi tertembaknya pesawat Ukraine International PS752 tersebut ada beberapa pesawat lain yang juga tengah melintas. Beruntung pesawat-pesawat tersebut tidak mengalami nasib serupa.

Beberapa tahun sebelumnya, tepatnya pada 17 Juli 2014 silam, sistem rudal buatan Rusia juga pernah menjatuhkan sebuah pesawat komersil. Kali ini korbannya adalah Malaysian Airlines MH17. Dalam insiden tersebut, sedikitnya 298 orang tewas. Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, berikut rangkuman persamaan dan perbedaan insiden jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 dengan Ukraine International PS752.

Boeing 737-800 milik Ukraine International Airlines. Sumber: Airline Ratings

Boeing
Walaupun berbeda secara waktu, insiden rudal yang menjatuhkan Malaysia Airlines MH17 dengan Ukraine International PS752 sama-sama menggunakan pesawat buatan Boeing. Bedanya, jika Malaysia Airlines MH17 menggunakan jenis Boeing 777-200ER, maka Ukraine International PS752 menggunakan jenis 737-800.

Selain menjadi pukulan telak bagi kedua maskapai, jatuhnya kedua pesawat nahas tersebut juga menjadi pukulan telak bagi Boeing. Betapa tidak, selama beberapa dekade terakhir, puluhan armadanya berkali-kali harus kandas. Bahkan, yang paling menyeramkan dan menjadi misteri terbesar di dunia penerbangan adalah ketika pesawat Boeing jenis 777-200ER milik maskapai Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH370 hilang bak ditelan bumi. Meskipun hingga kini berbagai upaya masih terus dilakukan, namun, hal tersebut tetap tidak menggeser insiden tersebut sebagai sebuah misteri besar di era penerbangan modern.

Terlepas dari semua hal di atas, pesawat-pesawat Boeing tersebut, khususnya Boeing 777-200ER dan jenis 737-800 sama-sama tidak memiliki fitur sistem pertahanan. Peneliti di Middlebury Intitute of International Studies Michael Duitsman menyebut mustahil awak pesawat punya waktu untuk bereaksi terhadap rudal apapun.

(Pamper.My)

Sistem Pertahanan Udara Buatan Rusia
Sistem anti pesawat atau biasa disebut juga rudal sistem pertahanan udara buatan Rusia lagi-lagi menjadi biang keladi dari jatuhnya pesawat komersial. Dalam kasus jatuhnya pesawat Ukraina International PS752, sistem rudal Tor M-1 diduga digunakan untuk menembak jatuh pesawat pabrikan Boeing tersebut. Adapun pesawat Malaysia Airlines MH17 ditembak jatuh diduga menggunakan sistem rudal BUK yang juga buatan Rusia.

Baik sistem rudal Tor-M1 maupun sistem rudal BUK keduanya sama-sama memiliki kemampuan yang mengerikan. Dikutip dari laman The Moscow Times, Federasi Ilmuan Amerika pernah meneliti serta menganalisis ancaman yang dihasilkan dari sistem rudal tersebut. Hasilnya, sistem rudal Tor M-1 diprediksi dapat mematikan target pada ketinggian hingga 6.000 meter dan jarak 12 kilometer.

Sedangkan sistem rudak BUK, yang notabene lebih dahulu hadir yakni sejak 1979, juga memiliki kemampuan yang tak kalah mengerikan. Bahkan dari sisi jangkauan, lebih unggul dibanding sistem rudal Tor M-1. Disebutkan, rudal tersebut mampu menjatuhkan sasaran dengan tepat pada radius 20 kilometer. Selain itu juga memiliki daya jelajah hingga 500 kilometer dari lokasi peluncuran. Jarak tersebut masuk dalam kategori menengah sehingga biasa digunakan untuk pertempuran darat. Tiap satu kendaraan Buk memiliki empat rudal yang siap diluncurkan. Tiap rudal itu memiliki hulu ledak seberat 180 kilogram dan dapat menembakkan hingga 24 target sekaligus.

sumber: wikipedia

Wilayah Konflik
Dari serangkaian kasus tertembaknya pesawat komersial, baik kargo maupun pesawat penumpang, pada umumnya terjadi di wilayah-wilayah yang sedang berseteru. Tak terkecuali dengan Malaysia Airlines MH17 dan Ukraine International PS752.

Beberapa jam sebelum pesawat Ukraine International PS752 melintas, langit ibu kota Irak, Baghdad, memang sedang dihiasi oleh rudal-rudal kiriman Iran. Namun, siapa nyana, Iran yang pada umumnya aman dari serangan milliter justru menjadi negara terakhir yang disinggahi. Sejak hubungan antara Iran dan AS menagang, otoritas militer Iran memang tengah mengaktifkan sistem pertahanan udara mereka.

Setelah kejadian tersebut, berbagai maskapai dari berbagai penjuru dunia menyatakan bahwa pihak mereka akan mengalihkan rute penerbangan mereka agar tidak melewati langit Iran dan Irak. Salah satu maskapai tanah air yang menyatakan tersebut adalah Garuda Indonesia.

Baca juga: Imbas Konflik AS vs Iran, Garuda Indonesia Gunakan Rute Mesir-Yunani untuk Ke Eropa

Senada dengan Ukraine International PS752, Malaysia Airlines MH17 tujuan Kuala Lumpur – Amsterdam juga melintas di tengah ketegangan yang terjadi antara Rusia dan Ukraina. Kala itu, gelombang separatisme pro-Rusia tengah melancarkan berbagai serangan terhadap pemerintah Ukraina yang tujuan akhirnya adalah menyatukan kembali imperium Uni Soviet yang telah lama runtuh.

Meskipun sempat saling tuduh, penyidik internasional yang terdiri dari Belanda, Australia, Belgia, Malaysia dan Ukraina melaporkan bahwa banyak temuan yang mengarah pada rudal buatan Rusia. Selain itu, sadapan telepon juga menunjukkan bahwa Rusia mengarahkan separatis pro-Rusia.

Undang-undang Emisi di India, Singkirkan Taksi Ikonik “Premier Padmini”

Di akhir 2019, aktivis lingkungan berusia 16 tahun membuat isu lingkungan kembali hangat diperbincangkan. Lewat pidato kerasnya di markas PBB dalam sidang KTT Perubahan Iklim, Greta Thunberg mengecam para pebisnis dan pemerintah yang gagal bertindak lebih atas perubahan iklim. Aksi tersebut pun menuai pujian dari warga internasional. Salah satunya artis Hollywood yang juga aktivis lingkungan, Leonardo DiCaprio.

Baca juga: Di India, Suzuki Ertiga Hadir Dalam ‘Setelan’ Taksi Lho!

Terlepas dari pidato viral Greta Thunberg, beberapa tahun belakangan berbagai negara memang sedang berlomba-lomba untuk menerapkan energi hijau (red: ramah lingkungan) terbarukan. Langkah tersebut kemudian juga didukung dengan diterapkannya undang-undang emisi guna menciptakan udara bersih dan sehat. Salah satunya di India.

Sebagai bagian dari langkah sadar lingkungan untuk memerangi polusi, pada tahun 2008, pemerintah di Mumbai, Maharashtra, India, melarang semua taksi berusia 25 tahun ke atas. Pada 2013, peraturan tersebut diubah menjadi 20 tahun. Dalam setiap putusannya, ribuan taksi Premier Padmini, sebuah mobil ikonik yang mengangkut orang-orang Mumbai selama beberapa dekade, telah menghilang dari sudut-sudut jalan.

Pada akhir tahun 2019, diperkirakan sekitar 50 Padminis masih bisa beroperasi, dan pada Juni 2020, taksi ikonik India yang telah menghiasi jalan-jalan selama beberapa dekade dipastikan akan berakhir.

“Aku rindu Padmini. Dia mobil yang tangguh,” kata Maurya, supir taksi Ram Vilas, seperti dilansir npr.org, Senin (13/01). Ia pun kemudian membandingkan, bahwa mobil modern yang dia kendarai saat ini mengalami penyok bahkan pada tabrakan sekecil apa pun. Menurutnya, Padmini tidak seperti itu.

Asal-usul Premier Padmini sendiri dimulai pada tahun 60-an dalam bentuk Fiat 1100D, yang juga dikenal sebagai Delight 1100. Model Fiat mulanya berfungsi sebagai ikon dari Premier Automobiles. Kemudian berganti nama menjadi Premier Padmini setelah mobil asal Italia tersebut dibuat di India.

Baca juga: Tingkatkan Keselamatan, Otoritas Transportasi India Siap Sodorkan QR Code untuk Penumpang

Mobil menjadi sangat populer dan penjualan melonjak karena menjadi taksi pilihan. Otoritas setempat memperkirakan sekitar 60.000 Padminis berada di Mumbai pada puncak keemasannya. Sayangnya, pasar terbuka dan masuknya mobil modern di tahun 90-an menghancurkan taksi dengan warna khas hitam dan kuning tersebut hingga akhirnya produksi dihentikan pada tahun 2000.

Akibat Kebocoran Freon, Asap Putih Mengepul dan Bikin Panik Penumpang MRT Singapura

Semua penumpang MRT dalam kereta yang tengah berhenti di Stasiun Raffles Place harus turun untuk dievakuasi. Pasalnya kereta yang mereka tumpangi mengeluarkan asap putih karena kompresor pendinging udara (AC) bocor. Insiden ini terjadi pada Jumat (10/1/2020) sekitar pukul 12.45 waktu setempat di platform timur stasiun.

Baca juga: Manajer Stasiun SMRT Baik Hati, Penumpang Diberi $100

KabarPenumpang.com melansir dari laman straitstimes.com (10/1/2020), kepala komunikasi SMRT Margaret Teo mengatakan pihaknya telah mengkonformasi bahwa asap itu disebabkan oleh kompresor pendingin udara yang bocor dan melepaskan gas freon.

“Sebagai tindakan pencegahan keselamatan, semua penumpang di dalam kereta yang terkena dampak diminta untuk turun dan naik kereta berikutnya,” kata Margaret.

Dia menambahkan kereta yang bermasalah tersebut ditarik dari layanan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Untungnya insiden ini tidak menyebabkan kebakaran dan cedera pada penumpang. “Kami minta maaf karena insiden ini memengaruhi perjalanan Anda,” ujar Margaret.

Seorang penumpang yang juga saksi dari kejadian mengatakan dirinya berada di kereta dan menuju Stasiun Raffles Place dari Staisun Tanjong Pagar ketika melihat asap di kabin dan merasakan bau terbakar.

“Baunya sangat kuat dan penumpang turun setelah kereta mencapai Raffles Place. Pengumuman yang ada dalam kereta pun mengatakan, kereta akan berhenti di stasiun untuk sementara waktu. Tidak ada kekacauan, hanya beberapa kecemasan di antara penumpang,” ujar Benny Ong.

Tak hanya itu, Pearly Hoon yang naik dari Staisun Outram Park mengatakan, kereta mulai dipenuhi asap di antara Stasiun Tanjong Pagar dan Raffles Place. Dia mengatakan, asap tersebut memiliki bau yang sangat kuat mirip dengan asap fumigasi dan menyebabkan sedikit keributan.

Baca juga: MRT Singapura Larang Pengguna PMD untuk Gunakan Layanan!

“Seorang wanita di sampingku mengeluarkan masker dan mengenakannya. Beberapa orang di gerbong lain berjongkok dan yang lainnya mulai menutupi hidung dan mulut serta mulai batuk,” ujar Hoon.

Sebelumnya pada Juni 2018, kebocoran gas freon di kereta menuju ke timur memaksa para penumpang untuk turun di stasiun MRT Tanjong Pagar.

Jelang Wisata Ke Bulan, Yusaku Maezawa Cari Pasangan Wanita!

Perjalanan wisata perdana SpaceX ke bulan direncanakan tahun 2023 dan misi tersebut menjadi perjalanan bulan pertama oleh manusia setelah tahun 1972 lalu. Dalam perjalanan ini, Yusaku Maezawa terpilih menjadi penumpang sipil pertama yang terbang di sekitar bulan dengan roket Starship.

Baca juga: SpaceX Sebut Pemilik Situs Belanja Online Terbesar di Jepang Jadi Orang Pertama Kunjungi Bulan di 2023

Sebagai orang yang terpilih untuk menikmati perjalanan wisata perdana SpaceX ke bulan, membuat Maezawa mencari pendamping hidup. Dia bahkan mengatakan ingin berbagi pengalaman terbang ke bulan ini bersama dengan wanita spesial tersebut.

“Ketika perasaan kesepian dan kekosongan perlahan mulai menggelora pada saya, ada satu hal yang saya pikirkan yaitu terus mencintai seorang wanita,” tulis Maezawa dalam website yang dikutip KabarPenumpang.com dari bbc.com (13/1/2020).

Dia mengatakan, ingin menemukan pasangan hidup dan mau meneriakkan cinta dan kedamaian dunia dari luar angkasa. Dalam situs web tersebut, ada daftar dan jadwal aplikasi pencarian pasangan hidup yang akan diproses selama tiga bulan. Kriteria yang diinginkan pria 44 tahun itu adalah pelamar harus wanita lajang dengan usia diatas 20 tahun. Selalu positif dan juga punya minat untuk pergi ke luar angkasa.

Batas pendaftaran pencarian calon pasangan hidup ini hingga 17 Januari 2020 mendatang dan keputusan akhirnya akan diumumkan pada akhir Maret. Pendiri situs belanja online Jepang Zozo Inc ini, bahkan berjanji membagikan 100 juta Yen pada 100 orang yang dipilih secara acak bila berbagi salah satu tweet miliknya.

“Untuk berpartisipasi, yang harus Anda lakukan adalah mengikuti saya dan re-tweet pesan saya ini,” jelasnya.

Maezawa diperkirakan memiliki kekayaan pribadi hampir US$3 miliar dan banyak dihabiskan untuk seni. Dia menjadi terkenal di luar negeri pada akhir tahun lalu setelah dinobatkan sebagai penumpang pribadi pertama yang akan terbang ke bulan bersama SpaceX.

Baca juga: WARR Hyperloop Pertahankan Gelar Juara di Kompetisi Besutan SpaceX Hyperloop

SpaceX sendiri diketahui milik miliander terkenal Elon Musk. Untuk terbang ke bulan ini, belum diketahui berapa banyak uang yang akan dikeluarkan oleh Maezawa. Tak hanya dengan pendamping hidup, Maezawa juga berencana membawa sekelompok seniman dalam pejelajahannya ke bulan.

Ikuti Seleksi Pengelolaan Bandara Hang Nadim, Angkasa Pura I Gandeng Incheon dan WIKA

PT Angkasa Pura I (AP I) menggandeng Incheon International Airport Corporation (IIAC) dan PT Wijaya Kary Tbk (WIKA). untuk mengikuti seleksi pengelolaan Bandara Hang Nadim Batam melalui mekanisme Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Hal tersebut ditandai dengan pendatanganan perjanjian konsorsium yang dilakukan oleh Direktur Utama Angkasa Pura I Faik Fahmi, Presiden & CEO IIAC Koo Bon Hwan, serta Direktur Utama Wijaya Karya Tumiyana, Senin (13/1/2020) malam di Jakarta.

Baca juga: Kelola Bandara-bandara Potensial di Dalam dan Luar Negeri, Angkasa Pura I Gandeng Incheon

Sebagai pemimpin konsorsium, Angkasa Pura I akan bertanggung jawab dalam hal manajemen operasional dan komersial secara umum. Sementara IIAC memiliki kewajiban dan tanggung jawab dalam hal pemasaran dan strategi pengembangan bandara secara umum. Sedangkan Wijaya Karya selaku BUMN bidang konstruksi yang terintegrasi dengan industri pendukungnya bertanggung jawab dalam hal manajemen infrastruktur bandara.

“Kerja sama ini merupakan salah satu strategi perusahaan dalam mengembangkan bisnisnya sekaligus menegaskan komitmen Angkasa Pura I untuk memperluas jaringan pengelolaan bandara di Indonesia. Kami optimistis berpeluang lebih besar untuk mendapatkan kontrak kerja sama pengelolaan Bandara Hang Nadim Batam dengan menggandeng Incheon dan Wijaya Karya sebagai mitra strategis, mengingat kemampuan dan pengalaman global di sektor kebandarudaraan dan konstruksi bandar udara yang konsorsium ini miliki,” kata Direktur Utama PT Angkasa Pura I Faik Fahmi yang dikutip KabarPenumpang.com  dari siaran pers.

Sebelumnya, pada 14 Agustus 2019 lalu Angkasa Pura I telah menandatangani nota kesepakatan dengan IIAC untuk menjajaki peluang kerja sama pengelolaan bandara-bandara potensial di dalam negeri maupun luar negeri. Salah satunya adalah peluang pengelolaan Bandara Hang Nadim Batam ini. Selain itu sebagai bentuk pengakuan atas kualitas pengelolaan operasional yang dimiliki Angkasa Pura I di mata internasional, IIAC secara resmi juga menggandeng Angkasa Pura I dalam rencana pengelolaan Terminal 4 Bandara Internasional Kuwait.

Angkasa Pura I akan mengirimkan tenaga ahli yang dimilikinya pada periode 2021-2023. Kemudian dilanjutkan dengan keikutsertaan Angkasa Pura I – IIAC dalam seleksi pengelolaan Terminal 2 Kuwait Bandara Internasional Kuwait dan Bandara Internasional Jeddah di Arab Saudi pada masa yang akan datang.

Baca juga: Liburan Nataru 2020, Angkasa Pura I Akui Adanya Penurunan Jumlah Penumpang

Sebagai informasi, saat ini Angkasa Pura I mengelola 15 bandara komersial di Indonesia dengan total penumpang yang dilayani sebanyak 96,7 juta penumpang di tahun 2018 atau meningkat sebesar 7,8 persen dari 89,7 juta penumpang yang dilayani di tahun sebelumnya. Di bawah pengelolaan Angkasa Pura I, tiga belas bandara berhasil memperoleh sejumlah pengukuran terbaik Airport Service Quality dari Airport Council International (ACI) dengan rata-rata skor 4,6 pada tahun 2018.

“Trump Shuttle,” Maskapai Milik Donald Trump yang Hanya Berusia 18 Bulan!

Siapa yang tak kenal Donald Trump, Presiden Amerika Serikat (AS) yang kehidupan pribadinya nyeleneh, plus kebijakannya yang serba kontroversial,  hampir setiap hari menjadi trending topix bahasan di jagad global. Namun tahukah Anda, bahwa sosok Trump juga dikenal sebagai pengusaha sukses di berbagai bidang. Mulai dari real estate, hotel, lapangan golf, kasino, agensi model, minyak wangi, media, hingga maskapai penerbangan.

Baca juga: Berikan Dukungan Pada Boeing, Donald Trump Usulkan Rebrand 737 MAX

Yang disebut terakhir rupanya sedikit terlupakan, yaitu bisnis penerbangan, tak banyak publik yang mengetahui bisnis yang digeluti mulai tahun 1989 tersebut. hal itu tentu sangat wajar mengingat Trump Shuttle telah lama bubar, tepatnya sejak 1992.

Bisnis penerbangan milik Donald Trump kembali hangat diperbincangkan setelah ia memberikan komentarnya yang membangun guna merespon berbagai insiden yang menimpa Boeing. Lewat twitter-nya, sebagaimana dilansir businessinsider.com, Trump menyebut bahwa dalam menyikapi berbagai insiden yang menimpa Boeing 737 MAX, sudah seharusnya Boeing menambah beberapa fitur hebat tambahan dan membuat pesawat dengan nama baru dan model baru.

Awalnya publik mengira bahwa cuitan tersebut hanya sebatas arahan presiden untuk membantu perusahaan di negaranya agar tetap eksis atau memberi masukan dari kacamata bisnis, mengingat Trump adalah pebisnis ulung. Nyatanya, lebih dari sekedar itu.

Disebutkan, ide awal Trump membeli maskapai didasari oleh asetnya yang semakin menggunung. Kala itu (1988), Surat kabar New York Times menyebutnya sebagai salah satu orang terkaya di dunia, dengan kekayaan bersih diperkirakan US$3 miliar. Setelah membeli Plaza Hotel yang mewah dengan harga US$390 juta, ia pun mulai berpikir untuk menancapkan gurita bisnisnya di bidang lain, selain menyalurkan asetnya yang terus menggunung, yakni dengan membeli maskapai.

Bak gayung bersambut, ide Trump tersebut pun dibarengi dengan keadaan maskapai Eastern Airlines yang tengah dalam kesulitan finansial pada akhir 1980-an. Setelah serangkaian proses yang alot, kesepakatan pun tercapai. Usai bertemu Trump di sebuah pesta, Presiden Eastern Airlines, Frank Lorenzo mengumumkan bahwa telah terjadi kesepakatan dengan Trump senilai US$365 juta. Dengan angka sebesar itu, Trump berhak mendapat banyak hal, seperti 17 armada Boeing 727, fasilitas pendaratan di masing-masing dari tiga kota yang diterbangkan maskapainya, dan hak untuk menempatkan namanya di perusahaan dan pesawatnya.

Usai beroperasi secara resmi pada 8 Juni 1989, Trump langsung tancap gas. Pada akhir Agustus, Trump Shuttle, yang menyediakan jasa penerbangan cepat bagi para pelancong bisnis antara New York, Boston, dan Washington, telah kembali ke pangsa pasar yang kuat dikisaran 40-50 persen di industri penerbangan nasional. Selain itu, Trump Shuttle juga menciptakan lebih dari 1.000 pekerjaan. Banyak di antaranya diisi oleh karyawan Eastern Airlines yang kehilangan pekerjaan karena mogok kerja.

Dalam perjalanannya, Trump tak henti-hentinya berinovasi. Di samping itu, Trump juga mendorong untuk membuat pesawat ulang-alik baru dengan layanan mewah. Pesawat barunya dicat dengan corak putih dan interiornya didekorasi ulang dengan fitur-fitur seperti veneer kayu maple, kait sabuk pengaman krom, dan perlengkapan toilet berwarna emas.

Trump Shuttle juga merupakan pemimpin dalam penerapan teknologi canggih. Terbukti dari gebrakannya dengan memperkenalkan beberapa kios check-in swalayan penumpang pertama, berkoordinasi dengan Kinetics di pangkalan LaGuardia dan bermitra dengan LapStop, sebuah perusahaan pemula yang menyewakan komputer laptop kepada para penumpang. Maskapai ini juga merupakan pengguna awal sistem telepon dalam pesawat GTE Airfone.

Baca juga: Langkahi FAA, Trump Putuskan Temporary Grounded Boeing 737 MAX 8 di Amerika Serikat

Inovasi lainnya juga tak kalah menarik. Dalam setiap penerbangannya, maskapai menawarkan makanan gratis, termasuk ayam dan steak di beberapa penerbangan, serta sampanye, bir, dan anggur gratis. Baik Trump maupun mitra bisnisnya, kala itu, sama-sama menghabiskan jutaan dolar untuk kampanye iklan pada media 1989 untuk menarik minat publik.

Meskipun sempat mengalami sentimen positif di awal kemunculan, pada akhirnya, setelah 18 bulan beroperasi, maskapai mengaku kehilangan lebih dari US$125 juta. Pada tahun 1992, Trump pun memutuskan untuk mengakhiri bisnisnya di dunia penerbangan.

KA Argo Parahyangan Excellence Beri Snack Gratis dan Bagasi Sepeda

Melancong ke Bandung bisa menggunakan bus ataupun kendaraan pribadi. Tapi banyak yang lebih memilih kereta api karena bisa menikmati pemandangan yang dilintasi kereta tersebut sebelum tiba di tujuan. Pada 1 Januari 2020, PT Kereta Api Indonesia (KAI) memberikan tambahan layanan bagi penumpang kereta api Argo Parahyangan.

Baca juga: Metode Penyimpanan Beda-Beda di Kereta, Yakin Sepeda Bisa Keangkut?

Kereta ini disebut dengan KA Argo Parahyangan Excellence di mana dalam layanannya diberikan snack dan minuman gratis. Bagi pelancong yang membawa sepeda pun ada fasilitas bagasi sepeda. Dilansir KabarPenumpang.com dari kai.id, KA Argo Parahyangan Excellence menawarkan perjalanan yang lebih cepat karena pemberhentiannya hanya di Gambir dan Bandung.

Ini membuat perjalanan lebih singkat dan kereta tersebut hanya ada dua kali perjalanan yakni dari Bandung pukul 04.20 WIB dan dari Gambir pukul 15.40 WIB. Bila di total untuk perjalanan KA Argo Parahyangan Excellence ini menempuh waktu dua jam 50 menit atau lebih cepat 30 menit dari KA Argo Parahyangan biasa yang menempuh waktu tiga jam 20 menit.

Untuk pembagian snack dan minuman gratis ini sepuluh menit setelah kereta berangkat. Sedangkan untuk fasilitas bagasi sepeda, penumpang dapat menambahkan maksimal satu sepeda saat memesan tiket KA Argo Parahyangan Excellence melalui aplikasi KA Access versi terbaru. Saat ini, fasilitas baru tersebut masih dalam uji coba dan KAI memberikannya secara cuma-cuma pada penumpang.

“Kedua tambahan layanan ini bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan penumpang saat menggunakan kereta api. Pada tahap awal layanan tambahan ini diberikan di KA Argo Parahyangan Excellence,” kata VP Public Relations KAI Yuskal Setiawan.

Yuskal menambahkan adanya fasilitas Bagasi Sepeda ini diharapkan dapat meningkatkan jumlah penumpang kereta api, khususnya yang terbiasa menggunakan sepeda untuk bepergian setelah menggunakan transportasi umum.

Baca juga: Jadi Kapan Indonesia Punya Kereta yang Bisa Bawa Sepeda Tanpa Masuk Logistik?

“Fasilitas ini juga mengakomodir permintaan para penumpang yang selama ini telah setia menggunakan layanan kereta api,” tambahnya.

Diketahui, dalam setiap perjalanan KA Argo Parhyangan Excellence, sepeda yang dapat diangkut sebanyak enam unit

Festival Musim Semi di Cina, Kereta Berikan Tarif Murah Jelang Imlek

Perjalanan Festival Musim Semi (Spring Rush) atau disebut juga dengan chūn yùn merupakan periode perjalanan yang sibuk di sekitar Tahun Baru Cina atau Imlek. Biasanya saat ini lalu lintas padat dan dimulai 15 hari sebelum Tahun Baru Imlek serta berlangsung selama 40 hari.

Baca juga: Perayaan Imlek di Cina, Ratusan Juta Orang Mudik Padati Berbagai Moda Transportasi

Dalam sekitaran 40 hari ini, akan ada tiga miliar penumpang yang akan melakukan perjalanan dan menjadikan chūn yùn adalah migrasi manusia tahunan terbesar di dunia. Spring Rush pada tahun 2020 akan dari 10 Januari hingga 19 Februari, di mana tiket kereta api dan bus akan sangat diminati.

Ada tiga alasan utama untuk musim perjalanan gaya Cina ini yakni tradisi, ekonomi dan liburan. Tradisi karena festival Musim Semi adalah hari libur paling penting di Tiongkok. Ekonomi karena banyak pekerja dari desa ke kota dan ketika Festival Musim Semi ini mereka kembali untuk berbagi dengan keluarga.

Sedangkan untuk liburan digunakan bepergian bersama keluarga untuk bersenang-senang atau mengunjungi kerabat dan teman. Festival Musim Semi ini bahkan memberi tekanan besar pada sistem transportasi karena perjalanan terburu-buru. Apalagi dengan menjadi jaringan kereta api terbesar di dunia, Cina masih belum bisa sepenuhnya memenuhi permintaan lalu lintas di sekitar Tahun Baru Cina.

Namun, meski begitu, kereta bisa memberikan penawaran pilihan alternatif bagi penumpang untuk bepergian dengan tarif murah di Gansu. Dilansir KabarPenumpang.com dari xinhuanet.com (11/1/2020), kereta No. 7505 di Provinsi Gansu, Barat Laut Cina melakukan perjalanan dari Lanzhou ke Wuwei. Kereta ini menarik empat gerbong dan menghubungkan lebih dari selusin stasiun kecil di antara Lanzhou dan Wuwei.

Kereta tersebut berjalan di sepanjang 290 km dengan waktu yang ditempuh sekitar lima jam 27 menit. Dikatakan tarif murah karena seorang penumpang yang membayar tiket penuh hanya membayar 18,5 Yuan atau sekitar US$2,7 atau Rp36 ribu. Bahkan tarif terendahnya hanya satu Yuan. Kereta ini ternyata sudah beroperasi hampir 40 tahun sejak 1980-an dengan membawa hampir sepuluh juta penumpang.

Baca juga: Sampai Berhari-Hari! Inilah Lima Macet Terparah di Dunia

Tiket murah ini ditawarkan selama musim perjalanan Festival Musim Semi. Dari foto-foto yang beredar pada 10 Januari 2020, kereta No. 7505 ini memperlihatkan seorang penumpang dengan cucunya, konduktor kereta yang membantu penumpang turun, kepadatan penumpang dalam kereta, penumpang yang memberikan susu pada bayinya hingga petugas kabin yang membantu meletakkan barang penumpang di atas kursi.

Seorang Ibu Lahirkan Bayi Kembar di Kereta, Suami: Ini Tidak Akan Terlupakan

Melahirkan di moda transportasi bisa menjadi berita yang mengejutkan dan menghebohkan seluruh penumpangnya. Sebab, tidak akan ada yang menyangka seorang ibu yang hamil akan melahirkan bayinya dalam kereta yang tengah berjalan ke tujuan.

Baca juga: Wanita Muda Melahirkan di Peron Saat Akan Masuk ke Lift

Baru-baru ini, seorang ibu melahirkan anak kembarnya di dalam kereta ketika dia dan suaminya akan kembali Uttar Pradesh. Bahkan keduanya tidak pernah berharap anak mereka akan lahir di dalam kereta dan mengaku kelahiran ini tidak akan pernah mereka lupakan.

Saat itu Jyoti Devi tengah bersama sang suami Hridesh dan akan kembali ke Uttar Pradesh naik kereta Poorva Express pada Sabtu, (11/1/2020). KabarPenumpang.com melansir dari laman gulfnews.com (12/1/2020), Devi tiba-tiba merasakan sakit seperti ingin bersalin ketika kereta baru saja melintasi Stasiun Ara di Bihar, setelah menepuh jarak 432 km dari Dirgapur.

Karena Devi mengerang kesakitan dan akan melahirkan, para petugas di dalam kereta tergesa-gesa menginformasikan masalah tersebut ke ruang kontrol lokal dan meminta dokter bersiap di Stasiun Buxur yang jauhnya 68 km. Kemudian para petugas kereta membuat ruang darurat di sekitar kursi mereka agar Devi bisa melahirkan anak kembarnya.

Ketika tiba di Stasiun Buxur, ibu dan bayi kembar itu sudah ditunggu oleh seorang dokter dan perawat untuk memeriksa kondisi mereka. Kemudian kereta dihentikan selama 30 menit untuk pemeriksaan kesehatan mereka dan ketiganya langsung di bawa ke rumah sakit pemerintah setempat untuk perawatan lanjutan. Setelah ketiganya dipindahkan ke rumah sakit, kereta kemudian melanjutkan perjalanan dan diketahui ketiganya aman dan selamat.

“Kami sangat senang melihat bayi kembar di keluarga. Saya sangat cemas tentang nasib istri saya dan bayi yang baru lahir, tetapi syukurlah semuanya aman. Kami tidak akan pernah melupakan perjalanan kereta ini dalam hidup kami,” ujar Hridesh.

Dia mengatakan mereka memiliki empat anak perempuan tetapi tidak memiliki anak lelaki sebelumnya.

“Tapi hari ini kita dikaruniai bayi laki-laki. Kami tidak bisa mengungkapkan kegembiraan kami dengan kata-kata,” katanya.

Baca juga: Air Ketuban Pecah, Seorang Ibu Melahirkan di Kereta Cepat Cina Timur

Hridesh menambahkan, bahwa dokter yang merawat ketiganya mengatakan semuanya aman dan sehat, tetapi memerlukan perawatan. Ketiganya akan dipulangkan setelah beberapa hari.