Didera Sanksi Ekonomi, Pembangunan Bandara Tehran Sempat Mangkrak Hingga 25 Tahun

Bandara internasional Imam Khomeini atau Tehran Imam Khomeini International Airport (IKIA) belakangan banyak disebut oleh media internasional. Bukan karena inovasi atau teknologi kekinian yang membuatnya dibicarakan banyak orang, melainkan insiden jatuhnya pesawat komersil, Ukraine International Airlines PS752, tak jauh dari bandara akibat sistem pertahanan udara Iran.

Baca juga: Sejak 1973, Iran, Rusia dan AS Ternyata Pernah Menghantam Pesawat Penumpang dengan Rudal

Terlepas dari insiden tersebut, tak banyak yang tahu, bahwa ternyata bandara kedua di ibu kota Iran tersebut (setelah Bandara Internasional Mehrabad) sempat mangkrak selama 25 tahun akibat sanksi ekonomi AS yang bertubi-tubi. Dengan rentan waktu selama itu, bukan tak mungkin, Bandara Internasional Imam Khomeini bisa dinominasikan dalam daftar bandara dengan pembangunan terlama di dunia.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, sanksi ekonomi terhadap Iran mulai dilakukan pada November 1979. Ketika itu, AS dituding melakukan intervensi terhadap politik dalam negeri Iran dengan memberikan suaka kepada pemimpin Iran yang tengah diasingkan, tak lama setelah revolusi Iran. Gelombang protes pun bermunculan hingga kantor kedutaan AS digeruduk dan menawan semua orang di dalamnya. Sanksi kemudian dihentikan pada tahun 1981 setelah Iran membebaskan warga AS yang ditawan.

Selanjutnya, secara sporadis, AS terus-menerus memberikan sanksi kepada Iran. Tahun 1980, 1983, 1987, 1995, 1996, hingga 2005 menjadi tahun-tahun sulit bagi pemerintahan Iran. Bahkan, berbagai kesulitan tersebut (sanksi ekonomi oleh AS) akan terus berlangsung hingga kini.

Beruntung, sebelum sanksi ekonomi jilid ke-7 diterapkan (2005), Iran terlebih dahulu mengumumkan bahwa bandara anyarnya akan mulai diresmikan pada 11 Februari 2004. Meskipun demikian, sisa-sisa sanksi ekonomi masih terus membekas hingga peresmian bandara yang memiliki luas 33.000 hektar tersebut molor. Kala itu, ada banyak masalah yang terjadi. Mulai dari pembangunan yang belum rampung, pasokan bahan bakar yang amburadul, hingga keterlambatan dalam menandatangani kesepakatan dengan kementerian perminyakan Iran. Pada akhirnya, 8 Mei 2004, bandara tersebut benar-benar bisa diresmikan oleh Presiden Iran kala itu, Mohammad Khatami.

Menariknya, walaupun AS dan Iran tak henti-hentinya terlibat ketegangan, pembangunan bandara yang sempat menjadi satu-satunya akses keluar masuk Iran tersebut sempat diramaikan dengan campur tangan (AS). Pembangunan bandara dimulai sebelum revolusi Iran 1979. Ketika itu, desainer asli adalah Tippetts-Abbett-McCarthy-Stratton (TAMS), sebuah kemitraan konsultan teknik dan arsitektur Amerika.

Campur tangan AS dalam pembangunan bandara kebanggaan publik Iran tersebut, mulai menemui titik terang ketika usaha patungan lokal dibentuk antara TAMS dan firma lokal Abdol Aziz Farmanfarmaian Associates yang disebut TAMS-AFFA, untuk melaksanakan desain penuh dan pengawasan konstruksi. Namun, setelah revolusi Iran, sentimen anti-AS pun menguat yang pada akhirnya mendorong proyek tersebut (TAMS-AFFA) ditinggalkan sampai pemerintah Iran akhirnya memutuskan untuk merancang dan membangun bandara menggunakan insinyur lokal.

Baca juga: Imbas Konflik AS vs Iran, Garuda Indonesia Gunakan Rute Mesir-Yunani untuk Ke Eropa

Hingga kini, walaupun terus menerus di embargo, bandara IKIA masih terus beroperasi seperti biasa. Bahkan sejak tahun 2013, Tehran Imam Khomeini International Airport (IKIA) terus-menerus mengalami peningkatan hingga mencapai angka 8,852,232 pengunjung pada 2017. Naik 13 persen dibanding tahun sebelumnya. Bahkan, pada tahun 2013 tersebut, IKIA yang melayani satu-satunya rute internasional di Iran (selain Bandara Internasional Mehrabad yang melayani rute dari dan ke Damaskus, Jeddah, dan Madinah) didaulat sebagai bandara tersibuk di Timur Tengah dengan kunjungan mencapai 4 juta lebih wisawatan. Wisatawan pada umumnya datang dari negeri-negeri di Timur Tengah, seperti Turki, Irak, Uni Emirat Arab, hingga Qatar.

Akhirnya! “Si Manis Paus Terbang” Airbus Beluga XL Resmi Mengudara

Setelah melalui serangkaian tes sejak pertengahan 2018, Airbus Beluga XL akhirnya resmi dioperasikan pada Januari 2020. Pesawat yang mirip dengan paus putih Beluga Arktik tersebut nantinya akan mendukung mobilitas distribusi komponen pesawat Airbus di 11 destinasi, antara lokasi produksi Eropa (Wales, Spanyol serta beberapa negara lainnya) dan jalur perakitan akhir di Toulouse, Prancis; Hamburg, Jerman; dan Tianjin, Cina.

Baca juga: Libatkan 1.500 Perusahaan, Inilah Proses Perakitan Airbus A380 Yang Fenomenal

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, sebagai pesawat pendukung kebutuhan Airbus yang kini semakin membesar, mengingat kompetitornya (Boeing) sedang dalam kondisi terpuruk, tentu saja Airbus Beluga XL memiliki banyak keunggulan dibanding pendahulunya, Beluga ST . Beluga ST, yang telah beroperasi sejak 1994 silam, hanya mampu mengangkut 45 ton dengan menggunakan pesawat jenis A300-600ST. Sedangkan Beluga XL mampu mengangkut payload enam ton lebih banyak atau 51 ton.

Selain itu, dimensinya yang enam meter lebih panjang (20 kaki atau sekitar 63,1 meter) dan satu kali lebih lebar dari pendahulunya, juga memungkinkan pesawat yang mampu terbang 2.500 mil atau 4.000 kilometer setiap kali perjalanan tersebut mengangkut dua sayap pesawat A350. Sedangkan Beluga ST hanya sanggup menampung satu. Kapasitas yang besar tersebut juga didukung oleh dua mesin Rolls-Royce Trent 700.

Meskipun Airbus Beluga XL masih kalah jauh dari sisi dimensi dan muatan dibanding Boeing 747-8 yang mampu mengangkut 345 ton, desain Airbus Beluga XL yang unik membuat pesawat ini banyak dilirik oleh mitra bisnisnya (Airbus).

Perjalanan Airbus Beluga XL hingga resmi beroperasi secara komersial pada beberapa waktu lalu tidaklah mudah. Setelah pertama kali mengudara di langit Kota Toulouse, Perancis, Juli 2018, serta diikuti serangkaian uji coba untuk mencapai minimal terbang 600 jam, desain Beluga yang kini beroperasi juga harus melewati proses yang alot.

Desain Airbus Beluga XL pertama kali diumumkan pada 2014. Ketika itu, tak banyak perbedaan memang, dari segi dimensi. Namun, dari segi penampilan, desain Airbus Beluga XL jauh lebih mencolok dan menarik perhatian orang. Para insinyur pun akhirnya memberikan enam model desain sebagai pilihan.

Dikutip dari partsolutions.com, setelah melalui tahap voting, desain paus Beluga Arktik yang didominasi warna biru akhirnya mendapat 40 persen atau 20.000 suara yang menjadi suara mayoritas. Meskipun Airbus belum secara resmi mengumumkan berbagai desainnya yang lain, beberapa pengamat menduga Beluga versi pink menempati posisi runner-up.

Baca juga: Goyang Pasar Boeing, Airbus Bakal Bangun Dua Jalur Produksi di Amerika Utara

Dibalik desain imut paus terbang Airbus Beluga, sebetulnya, secara kasat mata, membuat orang awam sempat bingung terkait posisi kokpit pesawat. Terlebih, ketika dahi pesawat terbuka untuk memuat keluar masuk barang. Sebab, posisi kokpit sedikit samar dengan warna hitam yang melintang bagaikan senyum paus putih Arktik.

Hingga kini, Airbus Beluga XL sudah diproduksi sebanyak lima unit. Rencananya, hingga tahun 2023, Airbus akan memproduksi lima pesawat lainnya. Sebagai informasi, harga satu unit Airbus Beluga XL mencapai satu miliar dolar atau sekitar Rp 1,3 triliun.

Seorang Penumpang Tertidur, Bangun-Bangun Gerbong Terkunci

Seorang penumpang tertidur dalam gerbong kereta api dan terjebak selama semalaman karena pintu terkuci dan apesnya baterai ponsel habis. Kisah luar biasa unik ini terjadi pada Minggu (22/12/2019), di mana seorang penumpang naik kereta dari Stasiun Be’er Sheva Center di Jalur Negev Barat, Israel.

Baca juga: Tertidur Sepanjang Perjalanan, Penumpang Air Canada Terbangun dalam Kabin Gelap dan Kosong

Ketika kereta masuk ke Stasiun Ashdod penumpang tersebut tertidur. Ketika penumpang terbangun di tengah malam di stasiun kereta Ra’anana, mendapati dirinya berada di gerbong yang terkunci. Baterai teleponnya habis dan dia tidak dapat menghubungi keluarga atau layanan darurat untuk meminta bantuan.

Dia baru bisa keluar dari gerbong kereta setelah stasiun mulai beroperasi pada pagi hari. Keluarnya penumpang dari gerbong setelah terkunci semalaman mebuat para pekerja kaget. KabarPenumpang.com melansir laman ynetnews.com (14/1/2020), padahal petugas Israel Railways selalu menyisir setiap gerbong sebelum mengunci dan mematikan lampu kereta.

Penyisiran tersebut dilakukan untuk melihat apakah ada barang penumpang yang tertinggal atau penumpang yang salah stasiun. Namun dari laporan inspektur kereta, dirinya tidak menemukan penumpang pria tersebut saat melakukan penyisiran. Padahal dia sudah memeriksa keseluruhan termasuk toilet.

Kasus yang janggal ini kemudian membuat adanya laporan yang menyatakan bahwa inspektur kereta tidak melakukan penyisiran secara penuh seperti protokol yang ada. Karena hal ini, Israel Railways meminta untuk memperbaharui dan mengganti inspektur tersebut dengan yang lainnya serta melakukan kolaborasi dengan keamanan stasiun.

Hal tersebut dilakukan agar kasus unik seperti ini tak lagi terulang dan penyisiran setiap gerbong dilakukan dengan benar sebelum mengunci kereta. Israel Railways mengatakan bahwa kasus ini akan diselidiki dan prosedur pemindaian untuk semua kru kereta api telah dipertajam. Diketahui kereta tersebut tiba diperhentian terakhir pukul 00.57 waktu setempat dan inspektur langsung memindai.

Baca juga: Dua Hari Meninggal di Toilet Baru Ditemukan Karena Salah Nomor Kereta

Hal seperti ini juga pernah terjadi pada seorang penumpang wanita yang tertidur di pesawat Air Canada dan bangun dengan kabin dalam keadaan gelap serta kosong. Tiffani Adams, dalam penerbangan singkat 90 menit antara Kota Quebec dan Bandara Internasional Toronto Pearson (Kanada) ketika ia tertidur. Kemudian merasakan dirinya terbangun dalam pesawat yang sudah kosong tersebut.

Saat bangun dirinya kedinginan dan tanpa sarana untuk menghubungi siapapun karena baterai ponsel yang habis. Kemudian Tiffani menuju kokpit dan menemukan sebuah senter dan mengarahkannya keluar. Untungnya ada seorang petugas kereta bagasi yang melihatnya dan berhasil membuka pintu untuk menolong Tiffani.

Gatlinburg Skybridge Punya Lantai Kaca di Bagian Tengahnya, Berani Melintas?

Pada Malam Natal 2019 kemarin, seorang pria melamar wanita pujaan hatinya di Gatlinburg Skybridge. Pasangan tersebut adalah Colbi dan Sarah yang ketika itu tengah melintasi Gatlinburg Skybridge yang dihiasi lampu Natal. Sebenarnya Gatlinburg Skybridge ini ada di mana dan kenapa begitu terkenal?

Baca juga: Cavenagh Bridge, Jembatan Tertua di Singapura. Indonesia Punya Lebih Tua, Lho!

Jembatan yang dibuka pada 17 Mei 2019 lalu ini merupakan jembatan gantung pejalan kaki terpanjang yang berada di Tennessee, Amerika Serikat. Gatlinburg Skybridge menjadi satu-satunya daya tarik di daerah pusat kota di mana bisa melihat tiga puncak tertinggi di Smokies yakni Clingsman’s Dome, Mount Le Conte dan Mount Guyot.

Jembatan gantung ini membentang sepanjang 680 kaki dan melintasi lembah di Pegunungan Great Smoky. Terlihat seperti jembatan gantung biasa, tetapi ternyata Gatlinburg Skybridge punya panel lantai kaca di bagian tengahnya.

Dari lantai kaca ini, pelancong bisa menikmati keindahan 140 kaki di bawah jembatan. Karena ada lantai kaca ini, kerap kali membuat pengunjung berpikir apakah menyeberang atau tidak. Namun untuk merasakan sensasinya, mereka melangkahkan kaki untuk tiba ke seberang dengan melintas di atas lantai kaca.

Gatlinburg Skybridge sendiri merupakan bagian dari Skylift Park yang dilengkapi dengan kursi gantung yang membawa penumpang naik 500 kaki secara vertikal dari Gatlinburg ke puncak Gunung Crockett. Untuk kursi gantung ini bisa digunakan untuk naik dan turun dan dikenakan tarif untuk orang dewasa $15 dan anak-anak $12.

Dari atas jembatan, pengunjung selain menikmati pemandangan juga bisa menjadikan setiap sudut jembatan tempat untuk berfoto dan mengunggahnya ke media sosial seperti Instragram dengan latar belakang Taman Nasional Pegunungan Great Smoky. Jembatan ini kokoh karena diperkuat dengan jutaan pound beton dan dapat menahan angin 100 MPH.

Baca juga: Jembatan Ciherang, Lintasan Melengkung dan Spot Foto Favorit Para Railfans

Sebenarnya untuk melintas di sepanjang jembatan dari ujung ke ujung yang satunya hanya memakan waktu selama tiga menit. Namun ketika melintasi lantai kaca, terkadang banyak yang berpikir untuk berhenti sejenak memberanikan diri atau berhenti di bagian tertentu untuk menikmati pemandangan dari atas atau berfoto ria.

Bus PO Sari Mustika Ugal-Ugalan, Pengemudi Teriak “Asu” ke Penumpang

Belum lama ini penumpang maskapai Garuda Indonesia di amankan AvSec Bandara Ngurah Rai karena mengumpat kekesalannya karena tak bisa mengantar anak ke toilet saat dipesawat. Padahal umpatan yang dikeluarkan tersebut saat berbicara kepada sang istri. Namun, bagaimana bila ini dilakukan seorang pilot, masinis atau pengemudi bus dan langsung kepada penumpangnya? Hal ini bisa saja terjadi dan pada awal tahun 2020 seorang penumpang bus harus merasakan umpatan dari pengemudi.

Baca juga: Pilot Garuda ‘Baper,’ Dilaporkan ke Pejabat Lantas Ngeloyor

Umpatan pengemudi tersebut terjadi di dalam bus milik PO Sari Mustika asal Yogyakarta. Saat itu seorang penumpang bernama Mina hendak turun di Cilameri tetapi pengemudi memaksakan untuk menurunkannya di bawah jembatan atau di Cikopo. Sayangnya adu mulut penumpang dan pengemudi bus tak lagi terelakkan karena hal ini.

“Asu-asu ini,” ujar si pengemudi sembari bersikeras untuk menurunkan penumpang tersebut di bawah jembatan.

Namun, karena keberatan di turunkan dibawah jembatan, Mina mengatakan, “Malam-malam begini mau diturunkan dibawah jembatan, ini kan tiketnya perjanjian di agen Cilameri, kenapa harus ke Cikopo atau dibawah jembatan.”

Meski begitu pegemudi tetap menurunkan di Cilameri tetapi sikap emosional dan perlakuan awak bus akan dilaporkan kepada Kementerian Pehubungan. Bahkan seharusnya Direktorat Jenderal Perhubungan Darat menyeleksi ketat bus reguler dan tambahan di hari libur. Sebab hal ini bisa saja merugikan bahkan mencelakakan penumpang yang ada di dalam bus.

Diketahui, bus yang ditumpangi Mina tersebut berangkat dari Yogyakarta menuju Bekasi, Jawa Barat. Sejak awal beberapa agen tiket menjual dengan harga Rp230 ribu dengan tujuan Cilameri pada dua orang calon penumpang dan diduga menjadi modus jika penumpang tak berhati-hati. Bahkan bisa saja ini akal-akalan agen dan calo yang mencari keuntungan.

Mina saat itu mengakui, bus yng ditumpanginya bukan eksekutif, kursi berdempetan dan banyak yang rusak.

“Celana penumpang ada yang sobek dan tiket harga selangit. Kapok deh beli di agen terminal. Penumpang asal naik dan tidak dipertanggungjawabkan mau kapan benar transportasi bus AKAP Indonesia?” ungkap Mina yang dikutip KabarPenumpang.com dari wartakini.co (2/1/2020).

Dia juga mengaku, perjalanan bus Sari Mustika tersebut berkali-kali berulah seperti ugal-ugalan di jalan bahkan berangkat tidak tepat waktu yang seharusnya 14.30 menjadi 17.00 dan tidak berhenti sama sekali hingga pukul 00.00. Karena tak berhenti ini, semua penumpang tak bisa berhenti untuk makan dan sholat.

“Kapok saya, ini gak berhenti, kasian anak-anak, didalam sumpek, dari awal bus ini sudah berulah, salah menempatkan penumpang hingga bertengkar di terminal Giwangan, karena di tiket tak ditulis nopol bus yang akan digunakan, sementara bus ada tiga dengan jurusan yang hampir sama,” ujar penumpang lainnya.

Baca juga: Pemberian Kupon Makan oleh PO Bus, Bagaimana di Bulan Ramadhan?

Sedihnya lagi saat di rest area pun belum sepuluh menit, bus sudah bersiap bergerak tanpa ada informasi dan membuat penumpang terburu-buru. Selain itu ternyata wiper depan terlepas dan diganti kain yang diikat, bus berhenti di bahu jalan berlama-lama.

“Pokoknya bus Sari Mustika tidak profesional merusak citra PO bus,” ujar penumpang itu lagi.

Pan Am, Maskapai Pelopor Kelas Ekonomi Modern di Penerbangan Jarak Jauh

Terbang di kelas ekonomi awalnya identik dengan pelayanan yang serba ngepass, namun ternyata sejak 1927, Pan American (Pan Am) telah memberikan fasilitas dan pelayanan di kelas ekonomi seperti di first class. Saat itu, Pan Am melawan pusaran arus yang dilakukan maskapai pada umumnya, yakni memberikan layanan mewah dengan harga lebih murah dari kompetitornya di segmen full service.

Baca juga: Neerja Bhanot – Mengenang Tameng Hidup Tragedi Pan Am Penerbangan 73

Dikutip dari cntraveler.com, ada banyak alasan mengapa Pan Am kerap disebut-sebut dalam buku-buku sejarah penerbangan, meskipun akhirnya harus bangkrut pada tahun 1991 lalu. Selain gaya jetnya dan akomodasi mewah kelas satu, Pan Am adalah salah satu maskapai penerbangan pertama yang membentuk kelas ekonomi modern dan membuka penerbangan internasional untuk pelancong di seluruh dunia – jauh sebelum maskapai berbiaya rendah saat ini ada. Tak heran bila di masa keemasannya, maskapai tersebut mnedominasi era Golden Age of travel atau masa keemasan bepergian.

Gebrakan awal Pan Am dalam mewujudkan mimpinya, mengantarkan para pelancong dari seluruh dunia kemanapun tempat yang mereka sukai dengan harga terjangkau, dimulai pada Mei 1945. Ketika itu, bepergian dengan pesawat kemanapun masih terbatas pada kalangan atas saja. Sebagai gambaran, perjalanan dari New York ke London dipatok seharga $711. Cukup mahal untuk ukuran saat itu.

Juan Trippe, pendiri Pan Am, pun datang bak pahlawan. Dengan niat baiknya untuk mengantarkan lebih banyak orang ke penjuru dunia, ia memberanikan diri untuk melanggar ketentuan harga yang diatur oleh International Air Transport Association (IATA). Caranya, ia memberikan harga murah untuk setiap rute-rute internasionalnya. Kala itu, tarif maskapai memang selama beberapa dekade diatur oleh organisasi tersebut.

Meskipun sempat dijegal oleh IATA, ia tak patah arang. Sambil dibarengi dengan promosi yang gencar, ia terus melakukan inovasi untuk membangun jaringan rute internasionalnya. Menurutnya, semakin banyak orang yang ingin bepergian, semakin banyak pundi-pundi rupiah yang bisa diraupnya.

Menyiasati animo luar biasa sambil terus mencari jalan keluar untuk menutupi biaya yang tinggi, Trippe memangkas ukuran kursi dan meningkatkan kapasitas tempat duduk sehingga rencana dapat membawa lebih banyak orang dengan harga lebih rendah dapat terwujud.

Pesawat standar Boeing 707, salah satu pesawat paling populer saat itu, misalnya, terbang dalam konfigurasi dengan dua kursi di satu sisi lorong dan tiga di sisi lain. Trippe pun menyulapnya menjadi formasi tiga kali tiga untuk membantu menurunkan biaya. Namun, tetap tidak mengurangi kenyamanan penumpang.

Di salah satu pesawat pertama Pan Am, pesawat DC-6B, leg room atau ruang kaki penumpang tercatat seluas 38 inci. Cukup luas dibandingkan dengan rata-rata maskapai penerbangan hari ini yang hanya sekitar 28 hingga 30 inci dari tempat duduk.

Selain berinovasi pada kapasitas dengan menambah kursi pesawat dan mematok harga murah, Pan Am juga berinovasi pada layanannya. Penumpang disajikan dengan menu dan makanan khusus yang disesuaikan dengan tujuan. Dengan kata lain, setiap rute memiliki menu khas yang berbeda-beda, sesuai dengan tujuannya.

Baca juga: Hari Ini 80 Tahun Lalu, Boeing 314 Pan Am Lakukan Penerbangan Berjadwal Perdana Trans-Atlantik

Penerbangan Pan Am 811 dari Los Angeles ke Sydney, misalnya, akan menyiapkan menu untuk setiap segmen perjalanan (Los Angeles-Honolulu-Auckland-Sydney). Makanan tidak disajikan dalam stirofoan atau sejenisnya, seperti sekarang ini. Pramugari akan menyiapkan piring di setiap hidangan, seperti restoran, dan menyerahkannya secara langsung ke setiap pelanggan. Kemudian makanan pembuka dan lauk didistribusikan dengan troli di lorong. Tidak ada di baki atau stirofoam yang tersedia. Pan Am menggunakan piring dan gelas khusus untuk semua hidangan kelas ekonomi. Cukup bahkan sangat mewah untuk ukuran kelas ekonomi bukan?

Setelah beberapa hampir tiga dekade sirna,beberapa maskapai berusaha menghidupkan kembali kejayaan dan kegembiraan serupa yang pernah diberikan Pan Am. Delta Air Lines Emirates, Qatar Airways, telah mencoba menghidupkannya kembali. Namun, seberapa besarpun mencoba, Talaat Captan, CEO and founder of Air Hollywood, studio film penerbangan terbesar di dunia, memprediksi, Pan Am tetap tak akan tergantikan.

Makin Diujung Tanduk, Cathay Pacific Bakal Rumahkan Ribuan Karyawan

Kunjungan wisatawan mancanegara ke Hong Kong menyentuh angka terburuk sejak 16 tahun terakhir atau menurun sebesar 55,9 persen. Di samping itu, intervensi dari pemerintah Cina, serta boikot yang dilancarkan kelompok pro-Cina kepada seluruh produk Hong Kong membuat hampir seluruh bisnis memburuk di wilayah eks koloni Inggris tersebut. Tak terkecuali Cathay Pacific.

Baca juga: (Masih) Terdampak RUU Ekstradisi, Cathay Pacific Bakal Turunkan Kapasitas Bangku di 2020

Setelah melakukan berbagai langkah penyelamatan, maskapai pelat merah Hong Kong tersebut dalam waktu dekat dikabarkan akan merumahkan karyawannya selama sebulan. Saat ini aturannya sedang dipersiapkan. Bila terjadi, nantinya aturan tersebut akan berimbas pada 27 ribu karyawan. Singkatnya, selama sebulan, karyawan akan digilir untuk ‘dipaksa’ cuti tanpa dibayar.

Seperti dilansir South China Morning Post dalam bangkokpost.com, analisis ekuitas Morningstar, Ivan Su, menilai kebijakan tersebut akan sangat membantu Cathay dalam menyelamatkan keuangan perusahaan. Selain itu, Su percaya bahwa Cathay akan mampu bertahan lebih lama dengan kebijakan tersebut.

“Saya percaya penawaran cuti tak berbayar yang secara sukarela harus diambil para karyawan akan membantu Cathay mengelola sumber dayanya (keuangannya) dengan lebih baik, sambil mengurangi beberapa biaya operasional di saat permintaan lemah,” katanya.

Menurut Luya You, analis transportasi di pialang Bocom International, kebijakan tersebut justru harus dilakukan. Hal itu dikarekan rencana Cathay Pacific di 2020 untuk mengurangi kapasitas penumpang atau operasional yang berimbas pada menurunnya target pendapatan. Dengan begitu, menurutnya, sangat wajar bila Cathay melakukan pengurangan. Jika tidak, akan terjadi ketidakefektifan dalam bekerja.

Kebijakan cuti tanpa dibayar tersebut merupakan yang pertama kalinya sejak terakhir kali Cathay Pacific melakukannya pada 2008 silam. Kala itu, setelah krisis keuangan global, maskapai tersebut juga melakukan hal serupa. Demikian juga pada tahun 2003, selama wabah sindrom pernafasan akut (SAR) yang parah, dan setelah penurunan perjalanan udara yang disebabkan oleh peristiwa 11 September 2001.

Baca juga: Hapus Penggunaan Kertas di Kokpit, Cathay Pacific Targetkan Hemat 1 Juta Liter Bahan Bakar per Tahun

Masih dalam sengkarut dari masalah RUU Ekstradisi, maskapai ini memang terus mengalami penurunan dari segi finansial – baik dari revenue maupun saham. Belum lagi mundurnya CEO dari maskapai tersebut, membuat kondisi perusahaan menjadi terombang ambing di ambang ‘kehancuran’.

Sebelum memulai langkah untuk merumahkan karyawan, Cathay Pacific terlebih dahulu telah melakukan berbagai penghematan. Mulai dari penangguhan penjualan tiket, pengurangan kapasitas, hingga menghapus penggunaan kertas di kokpit, yang diprediksi dapat menghemat sebesar satu juta liter per tahun.

17 Tahun di Unilever, Nguyen Thai Hai Van Kini Jadi Bos Grab di Vietnam

Grab di Vietnam kini punya bos baru yakni Nguyen Thai Hai Van. Nguyen akan menduduki posisi direktur pelaksana Grab Vietnam. Sebelumnya Nguyen pernah bekerja di Unilever selama 17 tahun dan karir terakhirnya adalah wakil presiden divisi perawatan kecantikan dan pribadi.

Baca juga: Aplikasi Transportasi Online Asal Vietnam Siap Rebut Pasar GoJek dan Grab!

Menjadi direktur pelaksana Grab di Vietnam, Nguyen punya tugas untuk menangani strategi media perusahaan baik bisnis maupun operasi di semua bisnis Grab ketika perusahaan berupaya memperkuat proposisi super aplikasinya di negara tersebut. Penunjukan Nguyen sendiri menandai restrukturisasi besar-besaran untuk Grab Vietnam, saat memasuki fase pertumbuhan berikutnya.

Sebelumnya ada Jerry Lim, Kepala bagian yang menangani Vietnam kini kembali ke perannya yang berbasis di Singapura setelah Nguyen hadir. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman techinasia.com (14/1/2020), Lim akan memimpin tim pengalaman pelanggan Grab di delapan negara Asia Tenggara termasuk Vietnam untuk fokus yang lebih besar pada layanan mandiri pelanggan, otomatisasi dan AI.

Saat bertugas di Vietnam selama tiga tahun, Lim mendorong ekspansi Grab di Hanoi dan Ho Chi Minh pada 2014. Bahkan kini jejak operasionalnya sudah mencakup 43 kota dan dirinya juga mengawasi peluncuran GrabFood di Vietnam, pada tahun 2018.

Diketahui, ternyata perusahaan itu terjerat dalah guatan hukum selama 18 bulan dengan Vinasun yang merupakan salah satu perusahaan taksi terbesar di Vietnam. Ini juga pusat oposisi konstan dari industri taksi yang ada di negara tersebut.

Pada bulan Agustus, Grab mengumumkan investasi tambahan US$500 juta untuk Vietnam selama lima tahun ke depan. Grab telah berkembang secara agresif di seluruh vertikal di negara ini dan telah mengembangkan ikatan dengan pemangku kepentingan pemerintah melalui berbagai proyek transportasi dan sosial.

Baca juga: Tunjang Keselamatan Pengemudi, Vietnam Legalkan Pemasangan Sekat Pelindung di Taksi

Diketahui, para pemangku kepentingan di industri ride hailing di Vietnam kini tengah menunggu pemerintah untuk mengeluarkan keputusan tentang bisnis transportasi setelah tiga tahun perdebatan tentang peraturan baru. Hal ini bisa membuat perusahaan-perusahaan seperti itu beroperasi di negara tesebut untuk memenuhi persyaratan yang lebih ketat.

Pulang Umrah, Dua Penumpang Lion Air Meninggal dalam Perjalanan Pulang ke Indonesia

Satu orang jamaah Umrah yang akan kembali dari Jeddah ke Surabaya meninggal di pesawat dan satu lagi meninggal ketika dibawa ke rumah sakit saat tiba di bandara. Keduanya tengah dalam perjalanan dengan pesawat Lion Air JT085 dari Bandara Internasional King Abdul Aziz Jeddah, Arab Saudi ke Bandara Internasional Juanda, Surabaya.

Baca juga: Saat Ada Penumpang Meninggal di Kabin Pesawat? Inilah Prosedur Penanganannya

Saat itu penerbangan berangkat pukul 18.20 waktu Jeddah dan harusnya tiba di Surabaya pukul 08.30 pagi hari Senin (13/1/2020) waktu Indonesia. Namun, pesawat Airbus A330-300CEO dengan nomor registrasi PK-LEG yang mengangkut 13 kru dan 257 penumpang itu harus mendarat darurat di Bandara Internasional Bandaranaike, Katunayake, 35 km Utara dari Kolombo, Sri Lanka.

Pendaratan darurat ini karena alasan medis yang mana seorang penumpang bernama Saringa Albadiah segera membutuhkan pertolongan. Dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers yang diterima, awalnya dalam penerbangan tersebut awak kabin sudah menjalankan tindakan dengan bertanya apakah ada dokter atau petugas medis dalam penerbangan tersebut.

Kemudian dari pengumuman tersebut dokter menghampiri dan membantu awak kabin melakukan pertolongan pertama. Namun sayang, Saringa Albadiah dinyatakan meninggal dunia ketika pesawat akan mendarat di Bandaranaike.

Karena hal ini, petugas layanan di Bandaranaike bersama pusat kesehatan bandara juga mempersiapkan pertolongan. Ketika tiba di Bandaranaike pukul 01.45 waktu setempat ternyata ada dua penumpang laki-laki lain yakni Suwadi dan Amadulah yang membutuhkan pertolongan medis.

Keduanya langsung dibawa ke rumah sakit terdekat dan Suwadi dinyatakan meninggal dunia oleh tim medis. Sedangkan Amadulah menjadi perawatan di rumah sakit dan setelah proses penanganan medis selesai, Lion Air JT085 kembali melanjutkan penerbangan dari Bandaranaike pukul 09.45 waktu setempat dan tiba di Bandara Juanda pukul 16.30 WIB.

Baca juga: Layani Jamaah Umrah, Lion Air Buka Penerbangan Perdana Lombok-Jeddah

Diketahui, sebelum penerbangan dari Bandara Internasional King Abdul Aziz menuju ke Bandara Internasional Juanda, semua penumpang memiliki izin medis sebelum melakukan penerbangan. Mereka juga menunjukkan dan melampirkan surat keterangan kelaikan terbang.

Perang Dunia 3 Nyaris Pecah! Begini Kesaksian Pilot Jet Tempur Uni Soviet Pada Tragedi KAL 007

Ketegangan Iran dengan AS baru-baru ini dikhawatirkan banyak pihak akan menyulut Perang Dunia Ketiga. Iran, bersama kompatriotnya yang juga berseberangan dengan AS, yakni China, Rusia, dan Korea Utara diprediksi akan berada dalam satu barisan. Sementara Inggris dan negara-negara NATO akan bergabung dalam barisan AS. Namun, jauh sebelum ini, yaitu pada medio 80-an, Perang Dunia Ketiga juga nyaris meletus. Kala itu, Uni Soviet dan AS yang menjadi aktornya.

Baca juga: Sejak 1973, Iran, Rusia dan AS Ternyata Pernah Menghantam Pesawat Penumpang dengan Rudal

Ketegangan tercipta ketika Soviet dengan sengaja menembak jatuh pesawat komersial Boeing 747 milik Korean Airlines (KAL) Flight 007 di dekat Pulau Moneron, sebelah barat Sakhalin di Laut Jepang. Atas insiden itu, sebanyak 269 penumpang dan awak kabin dilaporkan tewas; termasuk Larry McDonald, seorang perwakilan AS dari Georgia.

Dalam sebuah wawancara dengan CNN, sebagaimana dikutip dari express.co.uk, pilot jet tempur Soviet yang ditugaskan kala itu, Kolonel Gennadi Osipovich mengenang saat-saat yang mengejutkan ketika ia dikirim untuk mencegat sebuah pesawat yang melintas secara ilegal. Sebelum pesawat nahas itu ditembak, ia mengaku sudah mengirimkan sinyal dengan memberikan kode kalau pesawat tersebut telah melanggar kedaulatan udara Soviet.

“Saya mulai memberi sinyal kepada [pilot] dalam kode internasional, saya memberi tahu dia bahwa dia telah melanggar wilayah udara kita, tetapi dia tidak menanggapi,” ungkapnya.

Setelah pilot maskapai Korean Air tersebut tidak menggubris, lanjutnya, ia tidak begitu saja langsung menembak jatuh. Ia beberapa kali sempat memberikan tembakan peringatan. Di samping itu, ia juga tidak mempunyai opsi lain untuk langsung bertindak kecuali pimpinannya telah memberikan tugas untuk menembakkan rudal ke pesawat tersebut.

Di samping itu, ia juga sempat ragu ketiga melihat pesawat yang dianggap pemerintahan Soviet telah melanggar kedaulatan udara tersebut. “Saya bisa melihat dua baris jendela, yang menyala, saya bertanya-tanya apakah itu pesawat sipil, pesawat kargo militer tidak memiliki jendela seperti itu,” tambahnya.

Dalam keadaan genting tersebut, ia mengaku tidak mempunyai pilihan lain. Ia juga tak punya cukup waktu untuk berpikir jernih. Saat itu, yang ada dibenaknya adalah, ia memiliki misi yang harus diselesaikan dan misi tersebut adalah menghancurkan pesawat penyusup, yang notabene adalah pesawat sipil.

Tepat pada 1 September 1983, Uni Soviet akhirnya menembak jatuh penerbangan Korean Air rute New York-Seoul via Alaska. Akibat insiden tersebut, tentu saja menambah ketegangan yang memang sebelumnya sudah terjadi, bahkan terancam akan masuk ke dalam jurang perang nuklir.

Baca juga: Mengacu Data Intelijen, AS dan Kanada Yakin Boeing 737 Ukraine International Ditembak Rudal

Merespon kejadian itu, Presiden AS Ronald Reagan dalam sebuah kesempatan menyebut serangan itu sebagai pembantaian dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang sama sekali tidak ada pembenaran, hukum atau moral.

Sebaliknya, pemimpin Soviet, Yuri Andropov, justru menuduh balik Washington melakukan konspirasi busuk, mengklaim semuanya adalah provokasi halus yang didalangi oleh layanan khusus AS dengan memanfaatkan Korea Selatan. Walaupun terus bersitegang, beruntung Perang Dunia Ketiga tidak jadi membara akibat runtuhnya Soviet, 10 tahun berselang.