Redam Kebisingan, Jepang Lakukan Riset Aerodinamika Kereta Cepat dengan Terowongan Angin

Railway Technical Research Institute (RTRI) Jepang dikabarkan tengah mempelajari cara untuk mengurangi efek dari fenomena aerodinamis pada kereta berkecepatan tinggi dan infrastruktur pendukung lainnya. Seperti yang sudah diketahui bersama, Jepang merupakan negara yang bisa dibilang terdepan dalam urusan moda rel. Hal ini ditunjang dengan kehadiran Shinkansen sebagai kereta berkecepatan tinggi paling terkenal di dunia.

Baca Juga: Lima Fakta Unik dari Shinkansen yang Mungkin Anda Belum Tahu!

Mungkin beberapa dari Anda masih ingat bahwa aerodinamis merupakan salah satu faktor penting yang melancarkan pengoperasian dari kereta cepat ini. Jika tidak ditunjang dengan gaya aerodinamis, maka kecil kemungkinan kereta semacam Shinkansen ini bisa ngacir hingga kecepatan lebih dari 200 km per jam. Kendati begitu, namun gaya aerodinamis ini juga menimbulkan efek samping yang bisa mengganggu kenyamanan penumpang – mulai dari suara bising hingga guncangan.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman railjournal.com, RTRI tengah melakukan penelitian dan pengembangan guna mengklarifikasi mekanisme yang menghasilkan fenomena gaya aerodinamis ini. Tidak hanya itu, RTRI juga mengevaluasi fenomena aerodinamis ini dengan menggunakan metode simulasi numerik, pengujian laboratorium hingga tes kendaraan. Belakangan,  tersiar kabar bahwa RTRI menggunakan pendekatan eksperimental guna mengusut masalah ini.

Menurut RTRI, fenomena aerodinamis ini mempengaruhi struktur garis dan orang-orang yang berada di sekitaran rel. Semakin kencang kecepatan operasi kereta, maka semakin besar pula efek dari fenomena ini. Maka dari itu, pendekatan eksperimental yang dilakukan oleh RTRI adalah dengan menggunakan terowongan angin (wind tunnel) dan rig kereta model bergerak (moving model train rig).

“Kami mengembangkan metode untuk uji terowongan angin untuk menyelidiki sumber suara dengan menggunakan microphone array,” ujar pihak RTRI.

“Sebagai hasilnya, kami mengklarifikasi bahwa distribusi sumber suara aerodinamis ini berasal dari bogie, dan menemukan bahwa bunyi aerodinamis yang dihasilkan oleh bogie dapat dikontrol dengan mengurangi kecepatan aliran udara di dekat permukaan bagian bawah kereta atau dengan mencegah udara berkecepatan tinggi,” sambungnya.

Menanggapi temuan ini, RTRI mengatakan bahwa pihaknya akan mempelajari lebih lanjut guna menemukan solusi untuk kebisingan ini.

Baca Juga: Hokkaido Shinkansen, Bisa Tetap Kebut Walau di Bawah Laut

“Jika kereta Shinkansen terbaru beroperasi pada kecepatan lebih dari 300 km per jam, maka kontribusi kebisingan aerodinamis akan meningkat secara signifikan,”

“Kami sedang mempelajari cara-cara untuk mengurangi suara yang dihasilkan dari fenomena aerodinamis ini,” tutup RTRI.

“Black Friday,” Satu Hari Pasca Thanksgiving yang Dianggap Awal Musim Belanja Natal

Kenapa hari Jumat ini banyak sekali bertabur iklan tentang Black Friday? Sebenarnya Black Friday itu apa dan bagaimana awal mulanya? Ternyata Black Friday bukanlah nama resmi untuk Jumat setelah Hari Thanksgiving di Amerika Serikat yang biasanya dirayakan Kamis keempat November. Bisa dikatakan Black Friday yang dilaksanakan satu hari setelah Thanksgiving ini dianggap sebagai awal musim belanja Natal Amerika sejak 1952 silam.

Baca juga: Tidak Hanya Indonesia yang Punya Tradisi Mudik, Amerika Serikat Juga Punya!

Pada Black Friday banyak toko yang menawarkan promosi atau potongan harga pada barang yang mereka jual. Bahkan sejak 2005 lalu, Black Friday secara rutin menjadi hari belanja tersibuk di Amerika Serikat. Hal ini kemudian membuat para pedagang dan toko-toko lebih memilih menjual barang mereka selama November dan Desember daripada berkonsentrasi pada satu hari belanja atau akhir pekan.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari wikipedia, bukti awal frasa Black Friday diterapkan pada hari setelah Thanksgiving dalam konteks belanja menunjukkan bahwa istilah ini berasal dari Philadelphia. Di mana kata ini digunakan untuk mengggambarkan lalu lintas pejalan kaki serta kendaraan berat dan menggangu yang akan terjadi pada hari setelah Thanksgiving tersebut.

Penggunaan ini dimulai di Philadelphia sendiri sejak tahun 1961 silam dan lebih dari 20 tahun kemudian, frasa tersebut menjadi lebih luas dengan sebuah penjelasan populer menjadi hari yang mewakili titik di tahun ketika pedagang mulai menghasilkan keuntungan. Ketika frasa tersebut mendapat perhatian nasional pada awal 1980-an, para pedagang keberatan dengan penggunaan istilah yang merendahkan untuk merujuk pada salah satu hari belanja paling penting tahun ini yang menyarankan derivasi alternatif, bahwa pedagang secara tradisional beroperasi dengan kerugian finansial untuk sebagian besar tahun (Januari hingga November) dan mendapat untung selama musim liburan, dimulai pada hari setelah Thanksgiving.

Ketika ini dicatat dalam catatan keuangan, praktik akuntansi yang umum dilakukan akan menggunakan tinta merah untuk menunjukkan jumlah negatif dan tinta hitam untuk menunjukkan jumlah positif. Black Friday, di bawah teori ini, adalah awal dari periode di mana pedagang tidak lagi “merah”, sebagai gantinya mengambil keuntungan tahun ini.

Ternyata Black Firday pun pernah memakan korban jiwa dimana sejak 2006 dilaporkan 12 orang meninggal dan 117 lainnya luka-luka di seluruh Amerika Serikat. Ini biasanya karena calon pembeli berkemah selama libur Thanksgiving untuk mendapatkan tempat di depan garis sehingga peluang untuk mendapatkan barang yang diinginkan lebih baik.

Ini menimbulkan risiko keamanan yang signifikan, seperti penggunaan propana dan generator dalam kasus-kasus yang paling rumit, dan secara umum, pemblokiran akses darurat dan jalur api, menyebabkan setidaknya satu kota melarang praktik tersebut. Sejak awal abad ke-21, telah ada upaya oleh pedagang dengan asal di Amerika Serikat untuk memperkenalkan ritel “Black Friday” ke negara-negara lain di seluruh dunia. Di beberapa negara, pedagang lokal telah berupaya mempromosikan hari itu agar tetap kompetitif dengan pedagang online yang berbasis di AS.

Baca juga: Mesin Meledak di Ketinggian 11.000 Meter, Southwest Airlines Mendarat Darurat di Philadelphia

Selama berabad-abad, kata sifat “hitam” telah diterapkan pada hari-hari dimana bencana terjadi. Banyak peristiwa telah digambarkan sebagai “Black Friday”, meskipun peristiwa yang paling signifikan dalam Sejarah Amerika adalah Panic of 1869, yang terjadi ketika pemodal Jay Gould dan James Fisk mengambil keuntungan dari koneksi mereka dengan Administrasi Grant dalam upaya untuk menyudutkan pasar emas. Ketika Presiden Grant mengetahui tentang manipulasi ini, dia memerintahkan Departemen Keuangan untuk melepaskan persediaan emas dalam jumlah besar, yang menghentikan pelarian dan menyebabkan harga turun delapan belas persen.

GoJek Punya Fitur “Panic Button” yang Tersambung ke Unit Darurat

GoJek ternyata punya fitur keamanan berupa tombol darurat yang bisa diakses pengguna untuk keselamatan mereka selama perjalanan. Fitur panic button ini ketika ditekan nantinya akan tersambung ke hotline darurat Gojek.

Baca juga: Komnas Perempuan Gandeng Grab Indonesia Tangani Kekerasan Perempuan di Transportasi Online

Panic button tersedia di pojok kanan bawah aplikasi berupa ikon perisai. Bila pengguna menekan tombol tersebut akan langsung tersambung ke layanan Unit Darurat GoJek yang bekerja 24 jam dalam seminggu.

Nantinya pengguna akan dimintai data-data terkait kasus yang dialami, seperti nama konsumen, nama mitra pengemudi dan nomor pemesanan. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Unit Darurat ini terdiri dari tim internal Gojek yang bekerja sama dengan Kepolisian.

Bahkan setelah ada laporan dan diverifikasi maka bantuan akan langsung ke lokasi kejadian. Adanya fitur panic button ini diapresiasi oleh Komnas Perempuan karena keberadaannya bisa menciptakan ruang publik yang aman terutama bagi kaum perempuan.

Komisioner Komnas Perempuan Magdalena Sitorus mengatakan, usaha preventif GoJek melalui edukasi sudah tepat sasaran. Di mana budaya aman, pemahaman yang benar manjadi salah satu kuncinya.

“Penekanan program dan teknologi GoJek atas kekerasan seksual di jalan adalah tindakan preventif (pencegahan). Sudah bagus upaya-upaya yang dilakukan Gojek dalam perlindungan dan penanganan. Yang pasti upaya itu perlu diapresiasi,” kata Magdalena.

Sebab kehadiran panic button sendiri diaktakan Magdalena adalah bagian dari konteks pencegahan. Senior Manager Corporate Affairs Gojek Alvita Chen menyatakan bahwa GoJek fokus pada upaya preventif melalui edukasi.

”Kami percaya diperlukan pemahaman yang menyeluruh agar masyarakat yang bermitra dengan Gojek dan masyarakat pada umumnya dapat bekerja bersama-sama untuk menciptakan ruang publik yang nyaman,” paparnya.

Pelatihan, salah satunya, dilakukan bekerja sama dengan Hollaback Jakarta dan perEMPUan untuk memahami berbagai jenis kekerasan seksual yang harus dihindari.

Baca juga: Kini Penumpang Bisa Tekan Tombol Darurat Ketika Bus Dirasa Tak Aman Ketika Dikendarai Pengemudi

”Mitra kami diberi pembekalan sehingga memiliki pemahaman yang benar akan fakta-fakta seputar kekerasan seksual. Bahkan, mitra driver mampu mengintervensi secara aktif seandainya terjadi kekerasan di sekeliling mereka. Dengan berbagai edukasi dan pelatihan itu semakin banyak mitra driver yang turut serta menjadi duta anti kekerasan seksual. Bahkan menjadi pahlawan bagi yang membutuhkan,” ujar Alvita.

Diketahui, sejak pertengahan 2018 kemarin, Grab juga punya fitur tombol darurat bernama SOS. Tombol ini terhubung dengan tiga kontak milik keluarga atau teman yang dipilih sehingga secara otomatis akan tersambung ke nomor-nomor tersebut jika tombol ditekan.

Duh! Potongan Pesawat Uji Airbus Jatuh di Desa Dekat Bandara Toulouse-Blagnac

Sebuah potongan bagian pesawat Airbus ditemukan oleh penduduk di sekitaran desa Daux yang berada dekat dengan Bandara Toulouse-Blagnac, Perancis pada Selasa (19/11) kemarin. Tentu saja penemuan ini menghebohkan warga sekitar, mengingat banyaknya asumsi yang menyebutkan bahwa potongan bagian pesawat tersebut kemungkinan besar berasal dari pesawat uji Airbus. Adapun ukurannya tergolong cukup besar – panjang kurang lebih satu meter dengan lebar sekira 50 cm.

Baca Juga: Tidak Ada Varian Airbus A370, Netizen Sampai Bikin Ilustrasi Sendiri!

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman aerotime.aero (27/11), warga desa Daux semakin percaya bahwa potongan tersebut merupakan bagian dari pesawat uji manakala mereka mendapati bahwa bahan dasarnya terbuat dari material komposit – bahan yang sama yang digunakan untuk membangun tubuh pesawat. Walikota desa Daux, Patrice Lagorce mengatakan bahwa spekulasi warganya semakin kuat terbukti mengingat sangat sedikit penerbangan komersial yang terbang di atas desa yang ia pimpin.

Menanggapi penemuan potongan yang diduga milik pesawat uji Airbus ini, French Accident Investigation Bureau for State Aviation Safety (BEA-É) bertanggung jawab atas insiden yang menimpa pesawat yang belum terdaftar ini. Pihaknya mengatakan bahwa telah menerima laporan terkait penemuan ini, namun tidak membuka penyelidikan lantaran pihak Airbus diberitakan tengah menggelar penyelidikan sendiri.

“Kami mengkonfirmasi bagian pesawat telah ditemukan dan kami sedang menyelidiki masalah ini secara internal,” ujar pihak Airbus.

Beruntungnya, insiden ini tidak tidak memakan korban, baik luka maupun jiwa – karena pesawat jatuh di sebuah taman di dalam area pemukiman warga. Menurut keterangan yang beredar, insiden ini terjadi manakala pihak Airbus tengah melakukan evaluasi terkait pembukaan airways baru untuk penerbangan menuju Bandara Toulouse-Blagnac yang akan segera diluncurkan dalam waktu dekat.

Baca Juga: Lima Penyebab Umum Terjadinya Kecelakaan Pesawat

Beberapa dari airways baru ini akan melintas langsung di atas desa Daux, dimana pembukaan rute ini tidak menutup kemungkinan akan mendulang protes dari warga desa tersebut. Hanya jika Airbus melakukan satu kesalahan yang menyebabkan sebuah pesawat atau ada bagian dari pesawat yang jatuh ke desa Daux, maka di situlah momen ketegangan di desa akan meningkat secara drastis.

Pasca Insiden AirAsia Rute Perth-Bali, KNKT Australia Rekomendasi Tinjau Ulang Instruksi Keselamatan

Menindaklanjuti insiden respon awak kabin yang dianggap terlalu berlebihan manakala pesawat mengalami depresurisasi di penerbangan AirAsia Indonesia rute Perth – Bali pada 15 Oktober 2017 silam, Australian Transportation Safety Bureau (ATSB) telah melayangkan rekomendasi keselamatan terhadap pihak maskapai. Badan semacam Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) asal Negeri Kangguru ini mengatakan bahwa pihak AirAsia Indonesia harus meninjau ulang materi pengarahan keselamatan penumpang guna memastikan instruksi tentang tata cara menggunakan masker oksigen yang benar dan efektif.

Baca Juga: Bikin Panik! Awak Kabin AirAsia Teriakkan Hal Tak Penting Ketika Pesawat Alami “Depresurisasi”

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman theedgemarkets.com (28/11),  ATSB menambahkan bahwa rekomendasi ini mengikuti hasil investigasi pasca insiden yang terjadi di dalam pesawt Airbus A320 ini. ATSB mengatakan bahwa selama pendakian pesawat (climbing), kru penerbang mulai menurunkan ketinggian jelajah ke level 10.000 kaki sebagai tanggapan atas kerusakan yang terjadi pada sistem tekanan dalam kabin.

“Kapten membuat pengumuman kepada penumpang yagn menginformasikan bahwa pesawat akan melakukan pendaratan darurat dan meminta penumpang untuk secara manual memasang masker oksigen,” ujar pihak ATSB.

“Namun, beberapa masker oksigen tidak berfungsi dan penumpang kalang kabut di dalam kabin untuk mencari masker oksigen yang berfungsi,” sambungnya.

Menurut survei yang dilakukan oleh ATSB, para penumpang mengingat bahwa awak kabin sempat meneriakkan beberapa perintah, seperti ‘BRACE’, ‘GET DOWN’, dan ‘CRASH POSITION’ – dimana hal ini berimbas pada meningkatnya level kepanikan penumpang di dalam kabin.  Beruntung, pesawat berhasil mendarat di Bandara Perth dengan selamat, tanpa ada kru atau penumpang yang mengalami cidera.

Dari hasil investigasi yang dilakukan oleh ATSB pula, mereka menemukan bahwa briefing keselamatan yang dilakukan oleh pihak AirAsia Indonesia terhadap cara mengaktifkan masker oksigen terbilang tidak cukup jelas.

Baca Juga: Hipotesa Baru Misteri MH370: Kopilot Sempat Ambil Kendali Penuh dan Arahkan Pesawat Kembali ke Malaysia

Beberapa kantung di masker oksigen tidak mengembang yang menandakan tidak ada aliran oksigen di dalamnya, dan kondisi seperti inilah yang membuat suasana di dalam kabin semakin panik – mengingat absennya instruksi tentang cara mengaktifkan masker oksigen secara manual.

Menanggapi rekomendasi yang ditelurkan oleh ATSB tersebut, pihak AirAsia Indonesia menerima dan akan mempertimbangkan terlebih dahulu terkait munculnya rekomendasi terkait.

Bikin Panik! Awak Kabin AirAsia Teriakkan Hal Tak Penting Ketika Pesawat Alami “Depresurisasi”

Sudah semestinya seorang awak kabin melayani penumpang dengan penuh keramahan dan senyum lebar nan ikhlas. Namun apa yang akan Anda rasakan jika seorang awak kabin malah meneriakkan suatu perintah yang tidak penting kepada penumpang – ditambah dengan kabar hoax. Ya, kejadian ini benar adanya, dimana seorang awak kabin dari maskapai berbiaya rendah asal Malaysia, AirAsia hendak melangsungkan relasi penerbangan dari Perth menuju Bali. Alih-alih melayani penumpang dengan senyum sapa, ia malah meneriakkan bahwa pesawat berada dalam posisi bertabrakan dengan pesawat lain.

Baca Juga: Berlaku Kasar ke Awak Kabin AirAsia, Model ini Bikin Malu Dirinya Sendiri

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman stuff.co.nz (28/11), teriakkan awak kabin tersebut terjadi manakala pesawat tengah mengalami depresurisasi dan sontak membuat seluruh penumpang panik bukan kepalang. Pesawat ini sendiri mengalami depresurisasi ketika baru mengudara sekitar 30 menit.

Sebagai informasi, depresurisasi adalah situasi di mana tekanan udara berkurang yang biasa terjadi di dalam kabin pesawat. Ketika terjadi depresurisasi, pilot harus menurunkan ketinggian pesawat untuk mengembalikan tekanan udara seperti sedia kala. Namun, dalam situasi tersebut, rata-rata manusia dapat bertahan 25 detik sebelum pingsan.

Mengingat depresurisasi dapat berakibat fatal, maka pilot langsung mengambil inisiatif untuk melakukan pendaratan darurat. Masker oksigen mulai berjatuhan dari arah bagasi kabin dan membuat suasana menjadi semakin mencekam. Namun amat disayangkan, beberapa dari masker tersebut tidak berfungsi.

Kepanikan penumpang semakin menjadi manakala banyak dari mereka yang hilir mudik mencari masker oksigen yang berfungsi. Tidak sampai di situ, awak kabin juga sempat memerintahkan penumpang untuk berpegangan dengan erat dan merunduk – dimana perintah ini cukup membuat jantung penumpang hampir lepas dari dudukannya.

Beruntung, kepiawaian pilot dalam mengendalikan pesawat berhasil mengantarkan penumpang kembali ke Bandara Perth dengan selamat. Menanggapi insiden yang terjadi pada bulan Oktober tahun 2017 lalu ini, Australian Transport Safety Bureau (ATSB) mengatakan bahwa perintah yang dilayangkan oleh pihak awak kabin AirAsia dinilai tidak tepat dan malah memperkeruh suasana.

Biro Keselamatan Transportasi Australia juga menemukan bahwa tidak diterangkannya cara menggunakan masker oksigen yang tepat di kartu keselamatan penerbangan penumpang.

Baca Juga: Sempat Viral, Awak Kabin AirAsia X Ini Tirukan Gaya Britney Spears

“Kejadian ini menyoroti bahwa aspek penting dalam mengelola respon kepanikan penumpang di dalam sebuah penerbangan merupakan bagian dari kemampuan seorang awak kabin, dimana mereka harus mengerahkan kemampuan mereka untuk meminta penumpang melakukan prosedur yang tepat,” ujar direktur keselamatan transportasi ATSB, Dr Stuart Godley.

“Jika awak kabin melontarkan perintah yang baik dan tepat, maka penumpang akan meresponnya dengan tepat pula, berbeda halnya jika awak kabin melayangkan perintah yang salah – hasilnya kepanikan akan terjadi di dalam kabin,” sambungnya singkat.

Gara-Gara Sekrup Lepas, Pintu Kereta Terbuka 23 Menit

Baru-baru ini terjadi lagi sebuah pintu kereta terbuka ketika dalam perjalanan. Pintu ini terbuka karena sekrup longgar saat kereta tersebut melaju dengan kecepatan 80 km per jam. Kereta Anglia tersebut ternyata sudah berjalan sejauh 16 mil selama 23 menit dari Shenfield ke Hockley begitu sekrup terjatuh dan pintu terbuka sebelum penumpang memberitahukan masinis.

Baca juga: Pintu Kereta Shinkansen Terbuka Saat Melaju 280 Km Per Jam!

KabarPenumpang.com melansir bbc.com (27/11/2019), sebuah laporan Rail Accident Investigation Board (RAIB) atau Badan Investigasi Kecelakaan Kereta api di Inggris mengatakan, bahwa operator Greater Anglia sejak itu menemukan sekrup longgar pada setidaknya 60 pintu dalam armada gerbong kelas 321 yang diperbarui. Bahkan pihak perusahaan mengatakan sudah meningkatkan prosedur keselamatan dan melakukan pengecekan tambahan.

Namun sayangnya sekrup yang terpasang di braket pintu ke mekanisme penutup tidak menunjukkan tanda-tanda telah dikencangkan dengan benar ketika perbaikan dilakukan. Tak hanya itu, sekrup yang hilang pun berarti bahwa yang tidak terpasang pada pintu dapat kembali ke posisi tertutup. Ini kemudian memberikan sinyal yang salah pada masinis bahwa semua pintu ditutup.

RAIB mengatakan sekrup di unit yang diperbaharui harus dikencangkan dan garis kuning ditarik melewati kepala sekrup dan braket, sehingga pelonggaran apa pun akan dikenali, tetapi tidak ada tanda yang ditemukan. Ini berarti “salah satu indikasi visual dari sekrup longgar tidak ada, sehigga mengurangi kemungkinan pemeriksaan mengidentifikasi pelonggaran.

Greater Anglia sejak itu memasang kembali semua sekrup pintu pada gerbongnya yang telah diperbarui ke torsi yang benar setelah berdiskusi dengan pabrikan suku cadang. Seorang juru bicara untuk Greater Anglia meminta maaf kepada penumpang, dan mengatakan itu mengambil keselamatan “sangat serius”.

“Kami telah bekerja sama sepenuhnya dengan RAIB dalam penyelidikan mereka dan juga melakukan penyelidikan sendiri. Kami telah memperkenalkan prosedur keselamatan baru yang lebih ketat dan berkomitmen untuk melakukan pemeriksaan tambahan di pintu kereta kami mulai sekarang,” kata juru bicara itu.

Kejadian pintu kereta terbuka bukan hanya sekali ini saja, Maret 2019 kemarin, pintu MRT di Singapura yang bergerak dari Stasiun Ang Mo Kio menuju Stasiun Yio Chu Kang terbuka dan membuat kepala stasiun dikenakan sanksi karena lalai dalam menjalankan tugas dan ditangguhkan sementara dari SMRT untuk efek jera. Tak hanya itu, Agustus 2019, sebuah pintu kereta cepat Shinkansen di Jepang terbuka ketika melaju dalam kecepatan 280 km per jam.

Baca juga: Pintu Kereta Tidak Tertutup Saat Melaju, Kepala Stasiun MRT Diganjar Sanksi

Saat pintu terbuka, kereta tengah melaju selama satu menit dengan jarak empat kilometer. Untungnya saat terbuka tidak ada satu penumpang pun yang berdiri didekat pintu dan 340 penumpang yang ada didalamnya juga tidak ada yang terluka.

Persiapan Mengudara di 2020, Akankah Polemik 737 MAX Berhenti Begitu Saja?

Agaknya upaya Boeing untuk mengembalikan varian 737 MAX ke layanan penerbangan komersial masih harus ditunda untuk waktu yang belum bisa dipastikan.  Masih lekang dalam ingatan dimana pihak Boeing ‘memaksakan’ Federal Aviation Administration (FAA) untuk sesegera mungkin melakukan sertifikasi terhadap varian tersebut, sehingga 737 MAX bisa kembali ke layanan pada akhir tahun 2019. Namun pada kenyataannya sekarang, berbagai aral melintang nampaknya siap menjegal langkah Boeing hingga 737 MAX baru bisa mengudara tahun 2020 mendatang.

Baca Juga: Tak Terpengaruh Krisis MAX 8, Boeing Luncurkan 737 MAX 10 di Hadapan Ribuan Karyawan

“Semakin jelas bahwa mereka (Boeing) tidak akan menyelesaikannya tahun ini,” kata Scott Hamilton, direktur pelaksana Leeham Company, sebuah konsultan penerbangan, dikutip KabarPenumpang.com dari laman nytimes.com (27/11).

Ketidakpastian masa depan varian 737 MAX dari Boeing ini telah sukses mencukur 15 persen nilai perusahaan sejak bulan Maret kemarin. Selain itu, jika grounded varian 737 MAX ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin juga apabila gelar eksportir terbesar Amerika Serikat juga turut lengser dari pundak perusahaan.

Kuat dugaan, pihak Boeing telah memaksakan pihak FAA untuk segera melakukan uji penerbangan terhadap varian 737 MAX. Ya, siapa yang mau berlama-lama berada di posisi Boeing? Mereka juga menginginkan kas perusahaannya kembali terisi dan bisa menutupi kerugian yang ditimbulkan selama masa grounded varian 737 MAX. Namun jika Boeing ingin terburu-buru menerbangkan kembali varian tersebut, apakah ada satu kepastian yang bisa diberikan perusahaan agar supaya dua kecelakaan yang diakibatkan oleh Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) ini tidak terulang kembali di masa depan?

“Keselamatan penerbangan menjadi prioritas nomor satu kami,” tutur Gordon Johndroe, juru bicara Boeing.

Baca Juga: Ketua FAA: “Jika Ingin Sertifikasi Turun, Saya Harus Terbangkan 737 MAX”

Sebelumnya, pada awal tahun 2019 ini, eksekutif Boeing menyarankan bahwa jika grounded terhadap varian ini masih terjadi hingga lepas tahun 2019, maka perusahaan mempertimbangkan untuk menutup jalur produksi 737 MAX. Ya, ini memang sebuah pilihan yang penuh risiko, dimana Boeing bisa-bisa semakin terpuruk dari segi finansial – bahkan yang paling parah, akan ada banyak pegawainya yang kehilangan pekerjaan lantaran opsi penuh risiko ini.

Namun jika  tetap mengerjakan jalur produksi, maka tugas Boeing akan lebih menumpuk lagi, mengingat ada ratusan hingga ribuan pesawat jenis 737 MAX yang masih harus dikirim ke semua pelanggan – dan proses ini bisa memakan waktu hingga lebih dari satu tahun. Lalu, apa babak selanjutnya dari polemik 737 MAX?

Banyak Pengemudi Ilegal, TfL Tolak Perpanjangan Izin Uber di London, Bagaimana di Indonesia?

Setelah terdepak dari persaingan Tanah Air, kini Uber terpaksa harus menghadapi polemik yang cukup rumit, dimana regulator transportasi London menolak untuk memperbarui izin operasi perusahaan lantaran masalah keamanan. Adapun masalah yang dimaksud merujuk pada banyaknya pengemudi yang menggunakan identitas palsu ketika memboyong penumpang. Tentu saja ini menjadi satu masalah yang cukup pelik, mengingat jika oknum pengemudi palsu ini memiliki niat jahat, maka pihak yang akan dirugikan pertama kali adalah Uber itu sendiri.

Baca Juga: Dianggap Ilegal, Pengemudi Uber di Hong Kong Harus Bayar Denda Rp5,3 Juta

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnet.com (26/11), regulator Transport for London (TfL) menyebutkan bahwa setidaknya ada 14.000 perjalanan penumpang yang dioperasikan oleh pengemudi ilegal. Adapun modus operandi yang dilakukan oleh pengemudi ilegal ini adalah: satu orang pengemudi terdaftar akan membagikan akunnya kepada beberapa orang yang tidak terdaftar di Uber. Jikalau dibutuhkan, pengemudi ilegal ini akan mengunggah foto mereka sendiri guna memastikan penumpang dan membuatnya tidak curiga. Para pengemudi ilegal ini juga bisa saja mengaku memiliki lisensi yang pada kenyataannya tidak.

Selain London, ada beberapa kota besar lain dimana penumpang kerap dilayani oleh pengemudi ilegal, seperti San Francisco, Houston, dan Boston. Terkadang, pengemudi ilegal ini dilaporkan karena kedapatan menggunakan lisensi mengemudi milik orang lain, menggunakan nama orang lain, hingga menggunakan identitas palsu yang diambil dari internet.

Layaknya aplikasi ride-hailing lain, Uber juga mengaplikasikan metode keamanan selfie check guna memverifikasi keabsahan identitas suatu pengemudi, namun sayangnya, tidak ada yang tahu seberapa akurat metode keamanan ini.

“Dari waktu ke waktu, Uber menggunakan ‘selfie check’ untuk memverifikasi pengemudi, tetapi tidak jelas seberapa akurat metode ini,” ujar Harry Campbell, seorang blogger terkenal (Rideshare Guy).

Jika dibandingkan dengan apa yang ada di Tanah Air, agaknya kasus pengemudi ilegal ini sudah terlebih dahulu terjadi di Indonesia. Kebanyakan dari penumpang bahkan tidak menanyakan identitas atau lisensi keamanan yang dimiliki oleh si pengemudi – atau yang lebih parahnya lagi, banyak penumpang di luar sana yang bahkan tidak membuka topik perbincangan sama sekali ketika tengah berkendara.

Baca Juga: Pengemudi Uber Diamankan Polisi Setelah Tembak Mati Penumpang

Masih minimnya ‘pengawasan langsung’ dari penumpang terhadap kasus semacam ini membuat kehadiran pengemudi ilegal di Indonesia terkadang tidak terlalu menjadi sorotan – hanya jika si pengemudi ini melakukan suatu tindak kriminal, barulah kasus ini akan mencuat ke permukaan.

Yuk Intip ‘Daleman’ Airbus A330-900NEO Anyar Milik Garuda Indonesia

Maskapai nasional Garuda Indonesia pada hari Rabu (27/11) kemarin menyambut hadirnya armada Airbus A330-900NEO perdananya sebagai bagian dari langkah strategis perusahaan dalam program revitalisasi armada untuk senantiasa menghadirkan kenyamanan dan pengalaman penerbangan bagi pengguna jasa sekaligus mendukung perkembangan bisnis dan optimalisasi jaringan penerbangan Garuda Indonesia.

Baca Juga: Meski Sempat Tertunda, Garuda Indonesia Akhirnya Terima Airbus A330-900NEO Perdana

Acara penyambutan armada baru dengan nomor registrasi PK-GHE ini sendiri bertempat di Hanggar 2 Garuda Indonesia Maintenance Facility AeroAsia yang turut dihadiri oleh Direktur Utama Garuda Indonesia, Ari Askhara beserta sejumlah duta besar dari negara sahabat. Pada kesempatan tersebut, Ari mengatakan bahwa revitalisasi armada di tubuh Garuda Indonesia sendiri sudah berjalan sejak tahun 2012 silam, dan diharapkan dapat memperkuat kinerja layanan operasional perusahaan.

“Pesawat canggih generasi terbaru ini akan membantu Garuda Indonesia memperluas konektivitas, dan dalam waktu yang bersamaan mendorong terciptanya peluang lebih besar untuk potensi pariwisata nasional, bisnis dan perdagangan,” ujar Ari Askhara, dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers.

Tidak hanya sekedar menyambut, Ari juga sempat memaparkan sejumlah keunggulan dari Airbus A330-900NEO yang diharapkan dapat meningkatkan pengalaman penumpang.

“Para pengguna jasa juga akan menikmati nilai tambah kenyamanan dengan desain dan fitur terbaru seperti kabin yang lebih luas, sistem Airspace Cabin Lighting (full LED) yang akan memberikan kesan estetika berbeda di dalam ruang kabin, koneksi internet nirkabel (wifi) generasi terbaru high throughput satellite (HTS) dengan kecepatan hingga 80mbps, fasilitas In-Flight Entertainment (IFE) generasi ke-5 dengan layar yang lebih lebar yaitu 17 inchi di kelas bisnis dan 12 inchi di kelas ekonomi, serta USB Plug dan power outlet di setiap kursi,” tukasnya.

Sementara khusus untuk business class, tambah Ari, kursi di pesawat anyar Garuda Indonesia ini memiliki desain khusus yaitu tipe Opal – generasi terbaru kursi kelas bisnis yang akan memberikan kenyamanan lebih dan mewah bagi para penumpang. Adapun konfigurasi Airbus A330-900 Neo ini terdiri atas 24 bangku di kelas bisnis dan 277 kursi di kelas ekonomi dengan jarak tempuh mencapai 13.000 km dan maksimal penerbangan hingga 14,5 jam tanpa henti.

Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, total Garuda Indonesia memesan 14 armada Airbus A330-900neo yang akan dikirimkan secara bertahap hingga tahun 2022.

“Tiga armada Airbus A330-900NEO yang segera akan tiba akan digunakan untuk rute penerbangan domestik seperti Jakarta – Surabaya pp, Jakarta – Makassar pp, Jakarta – Kualanamu pp, Jakarta – Denpasar pp,” jelas Ari.

Baca Juga: Hadir dengan Beragam Fitur Terbaru, Kenapa Penjualan A330neo Masih Lesu?

“Rencana kedepannya akan digunakan untuk rute penerbangan internasional seperti Jakarta – Amsterdam pp sebagai salah satu upaya untuk memperkuat jaringan konektivitas penerbangan internasional khususnya di wilayah Eropa sekaligus memenuhi kebutuhan pasar Amsterdam yang tinggi ke Indonesia,” imbuhnya.

Pihak Garuda Indonesia sendiri optimistis dengan hadirnya armada baru A330-900NEO ini dapat semakin mempertegas komitmen perusahaan untuk senantiasa menyelaraskan customer voice atas inovasi dan terobosan layanan terbarukan bagi pengalaman penerbangan penumpang.