Bergaya “Dasi Kupu-Kupu,” Kelinci Pendamping Emosional Naik Kelas Bisnis

Setelah hampir dua tahun, berita seekor kelinci berwarna abu-abu dilayani kelas VIP dalam sebuah penerbangan baru terumbar di media masa. Kelinci milik Takako Ogawa tersebut bernama Coco yang berusia delapan tahun.

Baca juga: Bebek Ini Bantu Atasi Stress Pasca Trauma

Coco bisa menikmati layanan VIP ketika Ogawa saat itu naik pesawat United Airlines dari San Francisco ke Jepang pada 2018 lalu. Pria berusia 32 tahun tersebut membawa Coco sebagai hewan pendukung emosional terdaftar.

Coco ketika duduk di kelas bisnis (sfgate.com)

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sfgate.com (19/1/2020), Ogawa membayar $100 atau Rp1,3 juta (kurs saat ini) untuk membawa kandang portabel berisi Coco ke kabin sebagai barang bawaan pribadi. Ogawa yang naik kelas bisnis tersebut seperti ditakdirkan untuk membawa Coco dalam kabin.

Hal ini dikarenakan kursi kelas bisnis disebelahnya kosong dan kelinci dengan perilaku baik tersebut mendapatkannya sebagai tempat duduk pribadi. Kelinci abu-abu tersebut menikmati kelas bisnis dengan gaya di mana dipasangkan dasi kupu-kupu.

Saat duduk, Coco diberi serbet untuk menghindari tumpahan remah-remah yang akan jatuh ke tubuhnya ketika makan dari mangkuk berisi kacang. Lucunya lagi, disebelah mangkuk ada segelas champagne yang menemani.

Dari foto-foto yang beredar, kelinci tersebut mendapatkan bantal pribadi dalam perjalanan itu. Karena foto Coco viral, pemiliknya yakni Ogawa kemudian diwawancarai beberapa media massa yang menanyakan tentang hal tersebut.

Ogawa mengatakan, saat penerbangan itu, dirinya jtengah memesan es krim dan pramugari yang melayaninya tersebut bertanya apakah kelinci itu membutuhkan sesuatu. Kemudian pramugari datang membawa semangkuk almond dan segela champagne. Ogawa menambahkan ini bukanlah pertama kali Coco melintasi langit.

Saat itu tahun 2015 lalu, Ogawa membawa Coco dalam penerbangannya ke San Francisco tetapi tidak dibawa ke kabin melainkan masuk ke dalam kargo. Ini tidaklah semewah ketika dia kembali ke Jepang tahun 2018.

Ternyata tak hanya menikmati kelas bisnis, Coco juga pernah mengunjungi kantor Google tempat Ogawa bekerja dan tampil di beberapa acara. Setelah viralnya foto Coco, Ogawa mengatakan, kelincinya mungkin tidak akan terbang lagi karena usia.

Baca juga: Lagi Enak Makan Cemilan, Tiba-Tiba Seekor Anjing ‘Nimbrung’ di Celah Kursi Pesawat

“Karena usia Coco tidak akan lagi terbang. Jadi sepertinya kita semua hanya akan bermimpi menemukan kelinci yang mengenakan topi pada Muni lagi suatu hari nanti,” ujar Ogawa.

Tuduh Pasangan Suami-Istri Mesum, Sopir Grab Digugat oleh Penumpang

Cerita antara pengemudi taksi online dan penumpangnya seolah tak pernah habis. Beberapa waktu lalu, di Singapura, kisah seorang penumpang mendadak viral setelah di bagikan di media sosial Facebook. Bahkan, kisah dari pria bernama Kohji Toh itu hingga kini telah dibagikan hampir 2.000 kali serta mendapatkan hingga mendekati 1.000 likes.

Baca juga: [Update] Tips Aman Buat Wanita Penumpang Taksi Online, “Jangan Tidur Bila Sendirian”

Kisah viral tersebut bermula saat Kohji Toh dan istrinya memesan taksi online (Grab car), sore waktu setempat. Setelah masuk ke dalam mobil, Kohji Toh mulai merasakan beberapa keanehan. Ia menilai bahwa pengemudi tersebut terlalu banyak permintaan, yang salah satunya ialah permintaan untuk memakai sabuk pengaman. Dengan sabar, Kohji dan istri pun menurutinya.

Tak berselang lama, istrinya kemudian mulai merasa tidak enak badan. Ia kemudian meminta Kohji untuk merangkulnya sambil membiarkan sang istri berbaring di bahunya. Alih-alih istirahat dengan lelap di bahu Kohji, sang istri (dan Kohji) tiba-tiba dikagetkan dengan teguran dari pengemudi.

Menurut pengemudi, Kohji dan istrinya melakukan hal-hal yang terlalu intim di dalam mobilnya. Kemudian, ia meminta mereka berdua untuk saling berjauhan atau paling tidak istrinya bisa bersandar ke sisi lainnya agar tidak bersandar di bahu Kohji.

Mendengar permintaan aneh tersebut Kohji pun dengan tegas menjawab bahwa wanita di sebelahnya tersebut adalah istrinya dan mereka sah secara hukum.

“Saya mengatakan kepadanya bahwa ini adalah istri saya, dan kami menikah secara resmi, jadi apa salahnya memeluk tangan saya dan tidur di pundak saya,” tulis Kohji Toh dalam akun Facebooknya.

“Dia masih memiliki nyali untuk mengatakan kepada saya ini melawan hukum dan bahwa dia dapat menghubungi polisi karena ini,” lanjutnya.

Seperti dilansir mothership.sg, setelah perdebatan sengit, pengemudi akhirnya memutuskan untuk menelepon polisi. Kohji yang yakin tak bersalah tentu saja mempersilahkan pengemudi untuk melakukannya. Mereka bertiga pun mangkir dari tujuan sebelumnya. Sesampainya di kantor kepolisian setempat, dengan tegas polisi menyebut bahwa Kohji tidak bersalah.

Baca juga: Banyak Kasus Pelecehan, Inikah Momen Taksi Online Perketat Penerimaan Pengemudi?

Atas insiden tersebut, Kohji yang merasa dirugikan justru akan menggugat balik pengemudi, baik ke pihak Grab selaku pengelola maupun ke kepolisian untuk diproses secara hukum.

Sebagai informasi, Peraturan Perundang-undangan di Singapura memang terdapat undang-undang tentang Ketertiban Umum, salah satunya telanjang di tempat-tempat umum. Bila melanggar, pelanggar akan didenda sebesar 2.000 dolar singapura atau penjara hingga tiga bulan. Namun, tindakan lain seperti berciuman atau berpelukan tidak termasuk yang dilarang.

Boeing Kembali Temukan Masalah Baru pada Software, 737 MAX Gagal Terbang (Lagi)

Boeing mengonfirmasi telah menemukan masalah baru pada software 737 MAX akhir pekan lalu. Menurut laporan terbaru, masalah ini dapat mempengaruhi kemampuan pesawat untuk memverifikasi bahwa sistemnya siap untuk penerbangan. Dengan ditemukannya masalah baru tersebut, dipastikan, Boeing 737 MAX kembali gagal terbang.

Baca juga: Belum Tuntas Soal Regulasi, Boeing Kembali Temukan Masalah di 737 MAX

Dilansir slashgear.com, sebelum masalah baru tersebut ditemukan, Boeing dan FAA (Federal Aviation Administration atau otoritas penerbangan sipil di Amerika Serikat ) berencana akan melakukan serangkaian uji coba serta melakukan sertifikasi penerbangan bersama pilot-pilot dari maskapai yang mengoperasikan 737 MAX di seluruh dunia.

Praktis, setelah temuan tersebut, rencana Boeing dan FAA dipastikan bakal buyar. Beruntung, menurut Boeing, masalah baru tersebut bukanlah masalah besar. Oleh karenanya,  Boeing menjelaskan penundaan untuk melakukan uji coba dan sertifikasi dengan para pilot dari seluruh dunia tidak akan lama.

“Kami sedang melakukan pembaruan yang diperlukan dan bekerja bersama dengan FAA saat mengajukan perubahan ini,” katanya. “Tampaknya akan ada lagi penundaan yang mungkin mendorong penerbangan (uji coba) mundur hingga paling cepat Februari awal,” lanjutnya.

Disebutkan bahwa masalah terjadi pada software yang memverifikasi apakah monitor yang melacak sistem utama pada pesawat, telah berfungsi dengan baik. Pemeriksaan monitor biasanya dilakukan secara otomatis saat pesawat atau sistemnya dinyalakan. Namun dalam pemeriksaan terbaru, salah satu monitor tidak menyala dengan benar.

Diketahui bahwa Boeing saat ini sedang memprogram kembali software 737 MAX yang mencelakakan Lion Air JT 610 dan Ethiopian Airlines ET 302 yang menewaskan total 346 orang. Perbaikan fokus pada sistem anti-stall penerbangan, MCAS, yang dilaporkan berperan besar pada dua kecelakaan itu.

Atas tragedi yang jaraknya tak terlalu jauh tersebut, Boeing 737 MAX akhirnya di-grounded secara global sejak Maret 2019. Sebelum pesawat itu kembali mengudara, otoritas penerbangan sipil AS harus menentukan jenis pelatihan apa saja yang diperlukan oleh para pilot 737 MAX untuk dijadwalkan melewati uji penerbangan.

‘Dikandangkannya’ Boeing 737 MAX sejak pertengahan tahun lalu juga membuat laju pendapatan Boeing jeblok. Pada 2019 lalu, Boeing hanya membukukan pendapat sebesar 58,6 miliar dolar AS atau turun 19 persen dari tahun sebelumnya. Laba bersihnya lebih parah lagi, turun hingga 97 persen menjadi 374 dolar AS.

Jebloknya pendapatan tersebut terkoreksi karena pengiriman pesawat yang juga jeblok, hingga 53 persen. Pada tahun lalu, Boeing tercatat hanya membukukan total pengiriman pesawat ke seluruh dunia sebesar 380 pesawat. Angka yang cukup jauh dibandingkan dengan kompetitornya, Airbus, yang membukukan pengiriman sebanyak 863 pesawat.

Baca juga: Grounded Boeing 737 MAX 8 Ikut Hantam Bisnis Agen Perjalanan Ini

Untuk saat ini, tidak jelas berapa lama masalah perangkat lunak baru ini dapat menunda proses sertifikasi. Kesalahan terbaru ini berdampak pada komputer kendali penerbangan, terutama ‘proses perangkat lunak’ yang dimaksudkan untuk memantau proses aktivasi dan kemampuan untuk memverifikasi bahwa komputer kontrol penerbangan siap untuk penerbangan.

Parfum dan Aerosol, Jadi Barang Favorit Para Pencuri Bagasi di Bandara

Kabar tentang pencurian isi pada bagasi di bandara sudah lazim kita dengar, namun tahukah Anda, jenis barang apa yang favorit digondol sang pencuri tersebut? Belum lama ini sepuluh orang petugas keamanan dari perusahaan keamanan yang dikontrak harus menelan pil pahit, yakni dipecat. Pemecatan terjadi karena sepuluh petugas ini melakukan tindakan pencurian barang di bagasi penumpang dan menjualnya kembali.

Baca juga: Cepat Temukan dan Cegah Pencurian Bagasi, Universitas di India Hadirkan Solusi di Ban Berjalan

KabarPenumpang.com melansir laman jacarandafm.com (18/12/2019), petugas keamanan menemukan barang curian di bagasi penumpang di Bandara Internasional OR Tambo, Afrika Selatan. Barang curiannya pun berupa parfum dan aerosol lainnya.

Juru bicara Bandara OR Tambo, Betty Maloka mengatakan, pemecatan ini dilakukan setelah pihaknya melihat adanya lonjakan kerusakan bagasi sejak awal musim liburan.

“Keberhasilan yang kami miliki termasuk sejumlah penangkapan untuk sekitar sepuluh orang yang ditangkap dan beberapa izin mereka telah disita sambil menunggu tindakan disipliner. Dari Agustus kita telah melihat lonjakan perusakan bagasi. Salah satu item yang telah kami identifikasi adalah parfum sebagai salah satu item yang memiliki statistik tinggi dalam hal hal-hal lain yang hilang dari barang-barang penumpang,” ujar Betty.

Pengambilan barang-barang kecil tersebut dikatakan Betty karena lebih mudah dikeluarkan dari tas penumpang. Selain itu barang-barang seperti parfum lebih mudah dijual kembali di pasar gelap.

“Kami tidak benar-benar tahu alasannya, tetapi saya pikir parfum adalah jenis barang-barang yang dianggap mahal atau jenis barang cepat yang dapat Anda ambil dan masukkan ke dalam saku Anda. Itu adalah hal-hal cepat yang bisa dijual orang, apakah digunakan atau tidak digunakan,” jelas Betty.

Karena hal ini, kemudian sistem kemanan Bandara OR Tambo ditingkatkan. Box pembawa bagasi dan kendaraan lain pun mengalami pemberhentian dan pemeriksaan acak untuk meminimalisir risiko keamanan yang muncul.

Baca juga: Bandara Manchester Hadirkan Layanan Pengambilan Barang Bawaan Penumpang dari Rumah

“Langkah ketat telah kami lakukan untuk memastikan bahwa para petugas dapat bekerja dengan profesional, mereka tidak boleh keluar area kerja dengan apa pun barang yang bukan milik mereka,” kata Betty.

Setelah 20 Tahun, Awak Kabin Aer Lingus Akhirnya Punya Seragam Baru

Penggantian model seragam untuk memudahkan para awak kabin ternyata kerap kali dilakukan oleh maskapai-maskapai dunia. Belum lama ini, Aer Lingus, maskapai flag carrier Irlandia, akhirnya mengumumkan seragam baru setelah 20 tahun tak mengganti model. Kehadiran seragam baru ini memudahkan awak kabin wanita karena ada opsi celana panjang selain gaun dan setelan dengan rok.

Baca juga: Sambut Olimpiade Tokyo 2020, Japan Airlines Tampilkan Desain Seragam Baru

Bahkan sebelumnya gaun hanya pilihan untuk digunakan awak kabin wanita. Tak hanya untuk wanita, awak kabin pria pun memiliki pilihan setelan lengkap atau kemeja dan pullover. Dalam menghadirkan seragam terbarunya, Aer Lingus juga menghadirkan sepatu yang bisa digunakan oleh para awak kabin untuk bekerja.

KabarPenumpang.com melansir laman simpleflying.com (15/1/2020), ada beberapa warna yang dihadirkan oleh Aer Lingus untuk model seragam terbaru awak kabin dan darat mereka yakni gaun dan celana panjang berwarna biru tua. Sedangkan setelah rok dan blus tetap berwarna Kenmare Green yang merupakan ciri khas maskapai ini. Diketahui, untuk rancangan model seragam awak kabin dan darat ini ternyata ada 25 potongan pakaian berbeda yang dirancang untuk maskapai oleh desainer Irlandia, Louise Kennedy.

Dengan seragam baru, awak kabin wanita bisa memilih menggunakan sepatu dengan hak ataupun sepatu tanpa hak. Mereka juga tidak perlu bingung ketika mengambil keputusan memilih seragam, sebab baik awak kabin atau staf darat akan memiliki berbagai model dari seragam terbaru itu.

Ini berarti bahwa kru dapat memilih untuk mengenakan rok terbang ke Miami sambil memilih celana panjang untuk Chicago. Kemudian, pada tanggal 10 Februari, semua petugas baik di kabin maupun di darat akan beralih dari seragam lama ke seragam baru.

Seragam tersebut telah diuji secara ketat oleh Aer Lingus, baik dalam penerbangan jarak jauh dan pendek ke berbagai iklim yang berbeda. Salah satu anggota kru kabin di penyingkapan menyebutkan bahwa banyak yang sudah mencobanya.

Sehubungan dengan seragam lama, Aer Lingus belum memutuskan apa yang harus dilakukan dengannya. Dara McMahon, Direktur Pemasaran dan Pengalaman Digital di Aer Lingus, mengatakan bahwa keputusan akan dibuat ketika mereka tahu berapa banyak seragam telah dikembalikan dan dalam kondisi apapun.

Penggantian seragam tersebut ternyata dilakukan juga untuk meningkatkan kesadaran akan dampak lingkungan dari fashion. Sebab industri mode menyumbang sepuluh persen dari emisi global menurut PBB dibandingkan dengan 2,5 persen dari industri penerbangan.

Baca juga: Oman Air Kenalkan Seragam Baru Awak Kabin di London Heathrow

Hal ini lah yang membuat seragam baru dirancang dengan dampak berkelanjutan dan lingkungan sebagai prioritas tinggi. Seragam baru akan memiliki peluncuran yang sangat cepat di mana empat ribu staf yang akan memakainya sudah bisa mendapatkannya mulai besok.

Investasi di Taksi Terbang Joby Aviation, Toyota Gelontorkan Rp5,3 Triliun

Taksi terbang yang akan mulai merambah dunia dan membuat berbagai investor mulai menggelontorkan kocek mereka untuk ikut dalam segmen transportasi baru ini. Salah satunya Toyota Motor Co. yang menginvestasikan US$394 juta atau Rp5,3 triliun di Joby Aviation. Ini adalah perusahaan yang bekerja untuk membuat taksi udara dan mengantarkan orang ke jalan raya serta jalanan kota yang macet.

Baca juga: Baru Uji Coba di Sungai Seine Paris, Taksi Terbang ini Sudah Kena Tilang

KabarPenumpang.com melansir laman japantimes.co.jp (16/1/2020), Joby yang berbasis di Santa Cruz, Calivornia sebagai eVTOL (electronic Vertical Take-off and Landing) yang didanai terbaik dalam kategori booming, harus mengatasi rintangan peraturan yang signifikan dan kekhawatiran tentang keselamatan serta kebisingan penumpang.

“Transportasi udara telah menjadi tujuan jangka panjang bagi Toyota, dan sementara kami melanjutkan pekerjaan kami di bisnis mobil, perjanjian ini mengarahkan pandangan kami ke bisnis di angkasa. Ketika kami menerima tantangan transportasi udara bersama dengan Joby, seorang inovator di ruang eVTOL yang baru muncul, kami memanfaatkan potensi untuk merevolusi transportasi dan kehidupan di masa depan,” kata Presiden dan CEO Toyota Akio Toyoda.

Selain mengumumkan pendanaan, Joby merilis gambar pesawat prototipe. Kendaraan itu menggunakan enam baling-baling listrik dan mampu terbang 150 mil (241 km) dengan sekali pengisian daya, dengan kecepatan hingga 200 mph (322 kph). Ini dirancang untuk mengangkut empat penumpang dan seorang pilot, sebuah pendekatan yang berbeda dari para pesaing seperti Kitty Hawk, yang kendaraan “Cora” dua kursinya dimaksudkan untuk terbang secara mandiri tanpa pilot di dalam pesawat.

“Joby akan memproduksi prototipe di fasilitas di Marina, California, dekat Monterey, dan berencana untuk memanfaatkan kemampuan Toyota untuk mengembangkan sistem perangkat keras,” kata Paul Sciarra, ketua eksekutif Joby dan salah satu pendiri dari Pinterest.

Baca juga: Meluncur di 2023, Uber Masih Rahasiakan Kota Ketiga Untuk Taksi Terbangnya

Sciarra dan Joeben Bevirt, pendiri dan CEO Joby, mengatakan bahwa mereka telah menghabiskan waktu yang signifikan dengan Toyoda di kota Toyota, Prefektur Aichi, serta dengan para eksekutif Toyota lainnya di kantor pusat Joby di sebuah peternakan seluas 500 acre di perbukitan utara Santa Cruz.

Unik! Di Polandia Ada Kapal Laut ‘Berjalan’ Di Atas Daratan

Kanal Elblag, mungkin tak sepopuler Terusan Suez atau Terusan Panama. Namun, dari sisi pariwisata, Kanal Elblag rasanya jauh lebih unggul dibanding kedua terusan tersebut. Terlebih, sejak tahun 1948 memang difungsikan untuk kegiatan menarik wisatawan, bukan untuk lalu lintas kapal pesiar.

Baca juga: Perkeretaapian Polandia Gandeng Nokia Dalam Luncurkan Jaringan GSM-R

Fenomena kapal ‘berjalan’ terjadi akibat perbedaan ketinggian antara sungai dengan daratan sebesar 9,5 kilometer atau 5,9 mil. Daratan tersebut memisahkan Danau Drużno, sungai Drwęca, dan Danau Jeziorak. Berbeda dengan Terusan Suez dan Terusan Panama yang menyiasatinya dengan membuat permukaan menjadi sama rata, di Kanal Elblag, pemerintahan kala itu justru membuat sistem ‘kerekan’ bertenaga air.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, kapal kecil hingga kapal besar dengan bobot maksimal 50 ton, dengan spesifikasi panjang maksimum 24,48 meter, lebar maksimum 2,98 meter dan ketinggian maksimum 1,1 meter, mula-mula menyusuri sungai yang berwarna kecoklatan seperti biasa. Beberapa meter menjelang sampai di daratan, sistem kerekan bertenaga air tersebut kemudian salah satu dari empat kereta pengangkut untuk menjemputnya. Ketika kapal dan kereta sudah berada dalam posisi yang sejajar (dengan mengikuti tanda khusus), sistem kerekan tersebut kemudian diaktifkan. Saat itulah, kapal kemudian ‘berjalan’ di daratan selama dua jam, untuk melahap daratan sejauh 10 kilometer.

Kapal tengah ditarik keluar daratan oleh sistem kerekan bertenaga air. Foto: Facebook Learn Polish Daily

Selama dua jam tersebut, pengunjung setidaknya akan melewati lima daratan dengan tingkat kemiringan yang berbeda-beda. Keempat tersebut adalah Buczyniec (Buchwalde) dengan kemiringan 20,4 meter dan panjang 224,8 meter, Kąty (Kanthen) dengan kemiringan 18,83 meter dan panjang 225,97 meter, Oleśnica (Schönfeld) dengan kemiringan 21,97 meter dan panjang 262,63 meter dan Jelenie (Hirschfeld) dengan kemiringan 21,97 meter dan panjang 263,63 meter. Adapun yang kelima adalah Całuny Nowe (Neu-Kussfeld) dengan kemiringan 13,72 meter.

Hingga saat ini, Kanal Elblag masih aktif digunakan terutama untuk tujuan rekreasi. Monumen ini dianggap sebagai salah satu monumen paling signifikan yang terkait dengan sejarah teknologi dan dinobatkan sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Polandia. Kanal itu juga dinobatkan sebagai salah satu monumen bersejarah nasional resmi Polandia (Pomnik historii), yang ditetapkan pada 28 Januari 2011 silam oleh Dewan Warisan Nasional Polandia.

Baca juga: Terdampak Cuaca Buruk, Ryanair Terlantarkan Penumpang di Polandia

Kanal Elblag sendiri dirancang antara 1825 dan 1844 oleh Georg Steenke, atas perintah Raja Prusia. Terletak di Provinsi Warmian-Masurian di Polen, Kanal tersebut menghubungkan berbagai kota, seperti Elbląg, Ostróda, dan Iława. Konstruksinya pertama kali dimulai pada 1844.

Awalnya ada empat carrier kapal, dengan yang kelima ditambahkan kemudian, menggantikan lima kunci kayu. Dibangun dengan nama Oberländischer Kanal (Kanal Dataran Tinggi) dan terletak di Kerajaan Prusia, dibuka pada tanggal 29 Oktober 1860. Pasca perang dunia, Kanal Elblag sempat mengalami beberapa kerusakan. Setelah kerusakan masa perang diperbaiki, kanal kembali beroperasi pada tahun 1948 hingga saat ini.

Gaduh Ramalan Cuaca BMKG Dinilai Tak Akurat, Begini Penjelasannya

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMGK) beberapa hari belakangan banyak disebut-sebut warganet di jagat media sosial Twitter. Mulanya, kegaduhan tersebut diawali oleh cuitan influencer sekaligus jurnalis senior, Karni Ilyas dan politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sekaligus Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Hidayat Nur Wahid.

Baca juga: Gandeng BMKG, UnDip dan Lion Group, KNKT Kembangkan Sistem Informasi/Peringatan Dini di Bandara

Dengan total followers mencapai 3,9 juta yang dihasilkan dari keduanya, tak mengherankan bila cuitan keduanya mendorong BMKG menjadi trending topic. Cuitan dari kedua tokoh tersebut memang bernada sindiran keras terhadap prakiraan cuaca yang dalam beberapa hari terakhir dinilai meleset. Bahkan, Karni sempat membandingkan prakiraan cuaca BMKG dengan pawang hujan.

Seperti dilihat KabarPenumpang.com, cuitan Karni Ilyas menyoal prakiraan cuaca yang meleset baru-baru ini sebetulnya sudah dijelaskan dengan gamblang oleh BMKG. Melalui Kepala Humasnya, Akhmad Taufan Maulana, seperti dihimpun dari berbagai sumber, BMKG menyebut bahwa yang mereka lakukan sebetulnya sudah jelas dan terukur, sebagaimana mottonya, memberikan layanan yang prima, cepat, tepat, dan akurat.

Artinya, berbagai rilis yang diinformasikan ke publik berdasarkan pergerakan dan pertumbuhan awan, pergerakan angin, dan berbagai fenomena alam lainnya. Misalnya, dalam pengamatan BMKG, terdapat pergerakan angin dan awan dari Australia (Selatan) yang mengarah ke utara (melintasi Indonesia) dengan kecepatan dan besaran tertentu. Atas dasar itu, BMKG kemudian membuat perhitungan yang outputnya kemudian disampaikan ke publik.

Selanjutnya, bila sewaktu-waktu terdapat perubahan akibat fenomena alam, BMKG dengan segera akan memperbaharui informasi sebelumnya yang sudah disampaikan. Di sinilah, terkadang masyarakat melewati pembaharuan informasi yang dilakukan oleh BMKG. Masyarakat cenderung sudah menelan bulat-bulat informasi awal mengenai cuaca ekstrem yang dikeluarkan BMKG beberapa waktu belakangan.

Hal itu pulalah yang terjadi dengan Karni Ilyas. Cuitannya yang mengatakan BMKG tidak memprediksi hujan ekstrem pada tanggal 1 Januari 2020 lalu mutlak terbantahkan. Seperti dilihat KabarPenumpang.com, rilis BMKG tertanggal, Senin, 23 Desember 201 dengan gamblang bahwa adanya faktor dinamika atmosfer skala regional dan lokal terkini serta adanya Monsun Asia yang menyebabkan peningkatan massa udara basah, terbentuknya pola konvergensi, perlambatan, dan belokan angin yang ujungnya menyebabkan pertumbuhan awan-awan hujan.

Atas dasar itu, kemudian BMKG menghimbau masyarakat untuk mewaspadai cuaca ekstrem yang mungkin akan terjadi pada natal dan tahun baru. Pada akhirnya, terjadilah huJan ekstrem tepat sebelum malam tahun baru hingga sore di hari berikutnya.

Demikian juga dengan prakiraan cuaca yang menyebut bahwa hampir seluruh wilayah Indonesia akan diguyur hujan dalam sepekan ke depan, tepatnya pada tanggal 15-18 Januari 2020. Semua telah dilakukan dengan terukur berdasarkan data-data. Bila ada perkembangan cuaca, entah membatalkan, merevisi, atau menguatkan informasi sebelumnya, BMKG akan menginformasikannya kepada masyarakat.

Selain menimpa Karni Ilyas, kesalahan informasi terkait prakiraan cuaca atau cuaca ekstrem juga pernah menimpa Keduataan Besar (Kedubes) Amerika Serikat. Kala itu, pihak kedutaan mengeluarkan informasi terkait prakiraan cuaca untuk warga negaranya yang berada di Indonesia.

“Weather forecasts indicate the greater Jakarta region will experience unusually heavy rainfall through January 12, 2020,” demikian bunyi ‘Weather Alert’ dari Kedubes AS untuk Indonesia, tertanggal 6 Januari 2020.

Menurut Kedubes AS, terdapat kesalahpahaman oleh beberapa masyarakat Indonesia dalam pengartian pengumuman yang ditulis dengan bahasa Inggris itu. Masyarakat banyak yang mengartikan, 12 Januari bakal terjadi hujan deras. Padahal bukan begitu maksud Kedubes AS. Dalam Twitter resmi Kedubes AS @usembassyjkt, mengunggah tulisan penjelasan.

“Mimin @usembassyjkt dibanjiri pertanyaan ttg peringatan cuaca utk warga negara AS di Indonesia. Nah, kata ‘through’ dan ‘on’ itu artinya berbeda loh! Seperti ‘sampai tanggal’ dan ‘pada’. Yuk, belajar #BahasaInggris dgn #MissUnderstanding! Hati-hati ya di musim hujan ini,” tulis @usembassyjkt, seperti dilihat KabarPenumpang.com, Jum’at (17/1).

Meskipun demikian, terlepas dari perubahan atmosfer dan fenomena alam yang membuat prakiraan cuaca BMKG terkesan ‘tak akurat’ di mata netizen, sebetulnya, pemerintah telah melakukan beberapa langkah antisipatif dalam merespon cuaca ekstrem tersebut. Tercatat, melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), pemerintah telah menerapkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).

Baca juga: Suhu Ekstrem Pada Musim Panas dan Dingin Ancam Pengoperasian Kereta di Inggris

Operasi TMC sendiri sudah dimulai sejak 3 Januari silam, memasuki hari ke-9, Sabtu lalu, BPPT mencatat telah dilakukan sebanyak 28 sorti dengan total jam terbang lebih dari 60 jam dan total bahan semai hampir 50 ton garam. Proses penyemaian awan bertujuan untuk memindahkan hujan ke Laut Jawa dan Selat Sunda sehingga mencegah hujan di wilayah Jabodetabek.

Kepala BPPT, Hammam Riza, mengklaim proses cloud seeding dapat mengurangi curah hujan sebesar 44 persen. BPPT juga dengan tegas menginformasikan bahwa pihaknya tidak bisa menghilangkan 100 persen potensi hujan. Selain karena fenomena alam, hujan sebetulnya juga dibutuhkan oleh warga.

Courchevel, Bandara Ekstrem di Adegan James Bond “Tomorrow Never Dies”

Siapa di antara pembaca sekalian yang tak kenal dengan James Bond, seorang agen intelijen M16 (Inggris) yang kerap membuat decak kagum penonton lewat adegan-adegan berbahayanya? Berbicara film, yang salah satunya dibintangi oleh aktor kawakan Pierce Brosnan tersebut, memang tidak ada habisnya. Mulai dari perlatan canggih yang kerap ditonjolkan hingga tempat-tempat ‘wow’ yang tak jarang menjadi lokasi shooting. Salah satunya Bandar Udara (Bandara) Courchevel yang digunakan dalam sekuel James Bond “Tomorrow Never Dies.”

Baca juga: 10 Bandara Ini Punya Landasan Paling Ekstrim

Bandara yang terletak di daerah Rhone, Alpes, Perancis tersebut menjadi salah satu destinasi dari sekian banyak destinasi favorit yang terdapat di negara yang terkenal dengan produk anggurnya tersebut. Selain terkenal karena pernah menjadi lokasi shooting film James Bond serta panoramanya yang mempesona, Bandara Courchevel terkenal juga karena lokasinya yang ekstrem untuk mendaratkan pesawat

Dikatakan ekstrem, bandara yang dibuat untuk memudahkan wisatawan berkunjung ke resor-resor ski ternama di Courchevel, hanya memiliki panjang landasan sejauh 537 meter saja, cukup pendek dibanding bandara-bandara pada umumnya yang memiliki panjang landasan sejauh 1.200 atau 1.800 meter.

Tak hanya itu, dikutip dari laman courchevel.com, selain berada di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), bandara ini juga memiliki tingkat kecuraman yang tinggi, mencapai 18,66 persen. Tak heran, dengan kecuraman tersebut, lokasi ini menjadi destinasii favorit bagi para pecinta ski dari seluruh dunia. Tetapi, untuk ukuran penerbangan, tingkat kecuraman tersebut tergolong ekstrem. Cukup ekstrem untuk membuatnya menjadi salah satu bandara paling berbahaya di dunia. Bahkan yang paling berbahaya di dunia bila dilihat dari tingkat kecuraman.

Baca juga: Beken dengan ‘Atraksi’ Jet Blast, Bandara Princess Juliana Ternyata Pernah Makan Korban Jiwa

Hal lainnya yang membuat bandara ini menjadi yang paling berbahaya di dunia, bersama bandara Bandara Juancho E. Yrausquin di Kepulauan Saba yang memiliki landasan terpendek di dunia dan beberapa bandara lainnya di Nepal, Bhutan, hingga Portugal, bila bandara pada umumnya pilot mendapat instruksi dan petunjuk pendaratan dari menara Air Traffic Control (ATC), di Bandara Courchevel hal-hal tersebut tidak tersedia. Tak hanya itu, sistem pencahayaan yang kurang memadai dan landasan pacu yang licin (karena salju dan embun) hingga membuat sistem pengereman menjadi tidak maksimal juga semakin menambah ‘horor’ bandara tersebut.

Maka dari itu, jangan heran, bila mendarat di bandara ini saat kondisi gelap atau berkabut akan mustahil dilakukan. Meski menjadi salah satu yang paling ekstrem, menurut catatan penerbangan, nyaris belum ada laporan kecelakaan fatal yang banyak memakan korban jiwa.

 

Dear, Pilot! Airbus A350-1000 Berhasil Lepas Landas Otomatis, Loh!

Airbus tampaknya telah mengambil penerbangan jet komersial tanpa pilot satu langkah lebih maju setelah mengungkapkan bahwa salah satu pesawat uji cobanya telah berhasil lepas landas secara otomatis. Bila proses pengembangan berjalan lancar, bukan tak mungkin dalam beberapa tahun mendatang, hanya diperlukan satu pilot dalam setiap penerbangan.

Baca juga: Hanya Butuh Satu Pilot, Boeing Akan Umumkan Proyek “797” New Midsize Airplane di Paris AirShow 2019

Baru-baru ini, produsen pesawat komersial yang berbasis di Toulouse, Perancis tersebut merilis beberapa foto uji coba di bandara Toulouse-Blagnac. The European planemaker menjelaskan bahwa dalam tes yang dilakukan pada 18 Desember tersebut, sebuah A350-1000, dengan dua pilot siap untuk mengambil alih (jika sewaktu-waktu uji coba gagal), melakukan delapan lepas landas dengan otomatis.

Selain itu, foto lainnya juga memperlihatkan seorang pilot duduk dengan satu tangan pada posisi bebas (diam) saat pesawat mulai mengudara.

“Kami memindahkan tuas throttle ke pengaturan take-off dan kami memantau pesawat. Pesawat mulai bergerak dan mempercepat secara otomatis, mempertahankan garis tengah landasan pacu, pada kecepatan rotasi, tepat seperti yang dimasukkan dalam sistem. Hidung pesawat mulai terangkat secara otomatis untuk mengambil nilai take-off pitch yang diharapkan dan beberapa detik kemudian kami mengudara, ”kata Kapten Pilot Uji Coba Airbus, Yann Beaufils, seperti dikutip dari cbnc.com, Jum’at (17/1).

Menurut Airbus, teknologi dibalik uji coba tersebut berbeda dari Instrument Landing System (ILS) yang saat ini digunakan di seluruh dunia. Sebagai gantinya, perusahaan mengatakan, bahwa lepas landas otomatis dimungkinkan oleh teknologi pengenalan gambar yang dipasang langsung di pesawat.

Setelah uji coba lepas landas otomatis berhasil, pada pertengahan 2020, Airbus menargetkan akan mulai mengujicoba sistem pendaratan dan parkir (taxi way) secara otomatis.

Airbus sendiri mengungkapkan, bahwa lepas landas otomatis ini merupakan tonggak penting bagi proyek Autonomous Taxi, Take-Off & Landing (ATTOL)- salah satu dari beberapa yang dilakukan Airbus dalam mewujudkan otomasi di penerbangan.

Meskipun uji coba dilaporkan berjalan lancar, dua kecelakaan yang melibatkan Boeing 737 Max pada akhir 2018 dan awal tahun lalu telah menimbulkan kekhawatiran tentang proyek otomatisasi dalam penerbangan tersebut.

Akan tetapi, Airbus tampaknya tetap berambisi untuk terus mengembangkan teknologi tersebut. Pasalnya, kekurangan pilot dan operator maskapai penerbangan akibat penghematan yang terjadi di industri penerbangan menyebabkan The European Planemaker mencium kebutuhan otomatisasi yang lebih besar.

Baca juga: Akhirnya! “Si Manis Paus Terbang” Airbus Beluga XL Resmi Mengudara

Terhadap sebuah terobosan teknologi, pro-kontra memang tak terhindarkan. Namun, faktanya, Bank Swiss UBS pernah memperkirakan bahwa seorang pilot biasanya dalam kendali penuh dari pesawat jet selama rata-rata hanya tujuh menit pada setiap penerbangan. Ia juga mengklaim bahwa pesawat komersial dan kargo satu pilot dapat terwujud dalam lima tahun ke depan.

Salah satu bank ternama di dunia karena tingkat keamanannya yang tinggi tersebut juga mengklaim, sistem operasi satu pilot juga akan mengarah pada peluang penghematan biaya untuk industri pesawat komersial yang lebih besar, setidaknya $15 miliar atau sekitar Rp204 triliun, yang mencakup gaji pilot tahunan, pelatihan, bahan bakar, dan asuransi. Namun, sepertinya proyek tersebut tak akan berjalan mulus. Survei tahun 2017 yang dilakukan oleh UBS menemukan bahwa 63 persen orang menentang terbang dengan pesawat tanpa pilot.