Layani Jamaah Umrah, Lion Air Buka Penerbangan Perdana Lombok-Jeddah

Tingginya jamaah umrah asal Nusa Tenggara Barat (NTB) rupanya mendapat perhatian tersendiri dari maskapai terbesar di Tanah Air, persisnya Lion Air telah memulai layanan penerbangan umrah 1441 Hijriah pertama dari Kota Mataram melalui Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, Lombok Praya, Nusa Tenggara Barat (LOP) ke Jeddah – Bandar Udara Internasional King Abdul Aziz, Arab Saudi (JED).

Baca juga: Layani Umrah 2019, Airbus A330-900NEO Lion Air Lakukan Penerbangan Perdana ke Arab Saudi

Penerbangan pertama dari Lombok Praya menggunakan nomor terbang JT-104, pesawat lepas landas pada 13.15 (Waktu Indonesia Tengah, GMT+ 08) dan dijadwalkan tiba di Bandar Udara Internasional King Abdul Aziz pukul 19.45 waktu setempat Arabia Standard Time (AST), GMT +03. Pada momen terbaik ini, Lion Air menerbangkan 257 jamaah.

Penerbangan umrah 2019 ditandai pengoperasian Airbus 330-900NEO, sebagai pesawat terbaru berbadan lebar (wide body) dan operator pertama di Asia Pasifik yang menggunakan armada ini. Pengoperasian Airbus 330-900NEO menjadi bagian dari langkah strategis Lion Air guna memperkuat pengembangan bisnis penerbangan jarak jauh (long haul) yang memerlukan waktu tempuh lebih dari 13 perjalanan tanpa henti (nonstop).

A330-900NEO bertata letak lorong ganda (double aisle) berkapasitas 433 kursi penumpang yang nyaman, menyediakan kabin paling senyap di kelasnya, menambah fitur utama dari kabin airspace, desain baru kompartemen bagasi kabin (overhead bin) yang memungkinkan lebih mudah mengatur dan menyimpan barang bawaan di kabin.

Di tahap awal, frekuensi terbang tersedia satu kali dalam sebulan. Lion Air memproyeksikan pertumbuhan perjalanan ibadah ke tanah suci dari Nusa Tenggara Barat akan meningkat positif karena ada potensi penumpang jamaah umrah, sehingga optimis dan tidak menutup kemungkinan penambahan frekuensi penerbangan dapat dilakukan.

Baca juga: Dari Embarkasi Luar Negeri, Lion Air Juga Layani Penerbangan Haji 2019

Lombok menjadi keberangkatan asal (origin) ke-13 untuk penerbangan umrah, yang dilayani dari Indonesia

1. Banda Aceh – Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda, Aceh (BTJ)

2. Medan – Bandar Udara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara (KNO).

3. Padang – Bandar Udara Internasional Minangkabau, Padang Pariaman, Sumatera Barat (PDG).

4. Pekanbaru – Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II, Riau (PKU).

5. Batam – Bandar Udara Internasional Hang Nadim, Batu Besar, Kepulauan Riau (BTH).

6. Palembang – Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Sumatera Selatan (PLM).

7. Jakarta – Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten (CGK).

8. Solo – Bandar Udara Internasional Adi Sumarmo, Boyolali, Jawa Tengah (SOC).

9. Surabaya – Bandar Udara Internasional Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur (SUB).

10. Balikpapan – Bandar Udara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Kalimantan Timur (BPN).

11. Banjarmasin – Bandar Udara Internasional Syamduddin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan (BDJ).

12. Makassar – Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi, Selatan (UPG).

13. Mataram – Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, Lombok Praya, Nusa Tenggara Barat (LOP)

Bisa Dinikmati Gratis, “WiFi on Board Entertainment” Segera Hadir di Lima Pesawat Lion Air

Smartphone atau tablet yang Anda bawa dalam penerbangan nantinya bakal lebih berguna saat di dalam kabin, pasalnya Lion Air Group bersiap meluncurkan layanan terbaru berupa hiburan dalam perjalanan udara (inflight entertainment) dalam konsep WiFi entertainment yang akan diperkenalkan sebagai Lion Entertainment dalam waktu dekat.

Baca juga: Singapore Airlines Rilis Tarif Baru WiFi Onboard 

Keunggulannya, Lion Entertainment bisa terkoneksi dengan W-IFE AirFi Indonesia yang dapat dinikmati penumpang (travelers) dari semua ponsel pintar (smartphone), tablet, laptop dengan operating system (OS) – perangkat lunak sistem yang mengatur sumber daya seperti iOS, Android, Windows, BBM, Linux dan lainnya

Untuk tahap awal, Lion Air akan memasang (instalasi) perangkat wireless pada lima pesawat Boeing 737-900ER. Untuk pemasangan perangkat tersebut dilakukan oleh Batam Aero Technic (BAT) sebagai pusat perawatan dan perbaikan pesawat member of Lion Air Group. Periode selanjutnya layanan Lion Entertainment akan tersedia di seluruh armada milik Lion Air.

Layanan WiFi on-board ini adalah kerjasama PT Dua Surya Dinamika (AirFi Indonesia) selaku perusahaan penyedia W-IFE. Fasilitas hiburan dapat diakses hanya dari genggaman melalui wireless inflight entertainment (W-IFE) pada ketinggian jelajah hingga 35.000 kaki (10.000 meter) dari permukaan air laut untuk penerbangan domestik dan internasional secara cuma-cuma untuk melakukan aktivasi on board dengan mudah.

Konten yang disediakan dalam W-IFE dari AirFi Indonesia beragam dan menarik, antara lain film-film (Hollywood, Bollywood, Korea, Mandarin, Indonesia), video untuk anak-anak, majalah, permainan, percakapan pesan singkat dalam kabin (chat onboard) serta fitur unggulan yang lain.

Untuk urusam keamanan data, “Fitur Lion Entertainment menjamin privasi dan keamanan, karena jaringan W-IFE dari AirFi Indonesia tidak mengizinkan penumpang atau pihak lain mengakses data pribadi. Sistem kami adalah yang terbaru dan mutakhir dalam industri penerbangan. AirFi dirancang untuk berfungsi dengan perangkat genggam dalam bentuk atau variasi merek. Dengan konten yang beragam dan up to date, Lion Entertainment menjadikan passenger experience sebagai prioritas,” ujar Satish Mahtani, Direktur Utama PT. Dua Surya Dinamika dalam pesan tertulis yang diterima KabarPenumpang.com.

Baca juga: Duh! Pilot Delta Airlines Kirim Pesan ‘Menggoda’ Kepada Penumpang via Aplikasi Grindr

Rudy Lumingkewas, Direktur Utama Lion Air menyebutkan, “Lion Air telah menunjukkan keseriusan dalam menyediakan layanan yang memanjakan setiap pebisnis dan wisatawan ketika melakukan penerbangan, sesuai tren bepergiaan di era kekinian (millennials travelers). Dengan demikian, pada momen mendatang bagi travelers semakin mudah melengkapi pengalaman perjalanan (journey) dalam waktu tempuh kurang dari satu jam atau lebih dari satu jam.”

Olli, Bus Autonomous yang Bisa Diajak Bicara

Dewasa ini, semua negara tengah merencanakan sebuah konsep kendaraan tanpa awak sebagai gambaran masa depan. Setiap Negara dari berbagai penjuru dunia ini saling menunjukkan konsep jagoannya, dari mulai bus tanpa awak dengan roda sejajar, hingga sebuah drone yang digunakan sebagai angkutan penumpang kelak. Namun, salah satu konsep kendaraan masa depan yang satu ini cukup menarik perhatian banyak orang, yaitu bus tanpa awak yang memiliki berbagai sensor, dari mulai sensor suara hingga sensor gerak.

Adalah Local Motors, sebuah manufaktur mesin bermotor yang bekerja sama dengan International Business Machines (IBM) menciptakan sebuah kendaraan futuristik memiliki fungsi khusus. Seperti yang sudah dijabarkan di atas, bus nir awak yang memiliki beberapa sensor ini diperuntukkan untuk menjangkau beberapa titik dengan jarak yang berdekatan. Olli, begitulah nama dari bus ini, rencananya akan dipasarkan ke beberapa target, seperti bandara dan kampus. Tempat duduk yang didesain mengikuti bentuk dari Olli menunjang para penumpang untuk lebih leluasa bergerak.

Kendaraan yang mampu melaju dengan kecepatan dibawah 35 mil per jam ini ini rencananya akan mulai diproduksi pada musim panas tahun 2018 mendatang. Apabila tidak menemukan kendala selama proses produksi, maka ini akan menjadi bus nir awak pertama yang menjajal ruas jalan di Amerika. Sebagaimana formula pada awal pembuatannya, Olli yang sepenuhnya dioperasikan oleh sistem otomatis dipadukan dengan AI-powered, sebuah teknologi keluaran IBM yang memungkinkan bus ini berkomunikasi langsung dengan para penumpangnya, tentu saja melalui suara dan teks yang akan muncul di layar smartphone Anda.

Selain dua perusahaan di atas, Meridian Autonomous juga turun serta dalam menyempurnakan moda darat yang bentuknya menyerupai sebuah lemari ini. Meridian berperan serta dalam pengadaan sistem navigasi, dimana melibatkan radar, lidar, dan juga kamera optik. Sebelum memasang alat-alat tersebut, Meridian memproyeksikan lingkungan sekitar dalam sebuah konsep 3 dimensi yang amat detail. Layaknya kendaraan otomatis pada umumnya, terdapat sensor yang akan memaksa Olli berhenti ketika menemukan sebuah rintangan selama perjalanan dan mengimkan sinyal kepada remote supervisor (yang dikendalikan oleh manusia) untuk menentukan langkah selanjutnya.

General Manager Local Motors yang juga menangani proyek Olli, Gina O’Connell mengutarakan bus autonomous ini bahkan dapat memilih pilihan sendiri dalam kondisi darurat. “Jika penumpang mengalami masalah terhadap kesehatan atau keamanannya, maka Olli akan segera mendatangi rumah sakit atau kantor polisi terdekat,” ucapnya seperti yang dilansir dari laman technologyreview.com, Kamis (13/4/2017).

Bus yang mampu mengangkut hingga 12 penumpang dalam sekali perjalanan ini dapat berkomunikasi menggunakan teknologi AI-powered yang terpasang di dalamnya, sehingga penumpang dapat memerintah Olli menggunakan suara secara spesifik, seperti “Restoran Mexico terdekat dari sini” dan semacam itu. Selain menggunakan sensor suara untuk memerintah Olli, penumpang juga dapat menggunakan teks untuk menyuruh Olli mengantarkan Anda.

Selain beberapa keunggulan di atas, Olli juga memiliki machine vision, yang berfungsi untuk memantau situasi apabila ada penumpang atau penyandang disabilitas belum sepenuhnya naik ke dalam kabin bus, maka Olli tidak akan berjalan hingga orang tersebut sudah sepenuhnya duduk. Machine vision juga berfungsi sebagai pembaca gerak bibir dari orang penderita tuna rungu dan tuna wicara yang nantinya akan menampilkan jawaban orang-orang tersebut pada sebuah layar, tentunya dengan menggunakan bahasa isyarat.

Ritase – Perkembangan Mobilitas Barang Membutuhkan Solusi Multimoda Secara Digital

Dinamika ekonomi yang makin cepat dan terintegrasi membutuhkan solusi logistik yang mampu mengikuti akselerasi itu. Pada saat yang sama, penyedia jasa logistik harus memutar otak agar layanan mereka tetap efisien dan bersaing, baik dari segi harga dan kualitas.

Baca juga: Nippon Express Canangkan Pengiriman Barang dengan Kereta dari Cina Menuju Eropa

Ritase, layanan logistik truk berbasis aplikasi, menjawab masalah itu dengan mengembangkan transportasi multimoda (combined transport) yang memadukan angkutan darat, air, dan udara di Indonesia dalam platform aplikasi (apps) marketplace logistik yang telah diluncurkan sejak Mei 2019.

Ritase memadukan kemudahan penggunaan aplikasi dengan jaringan logistik terpercaya sehingga konsumen merasakan pengalaman baru dalam pengiriman barang antarpulau secara efisien dan efektif. Keunggulan Ritase diperoleh dari perpaduan optimasi rute dengan proses yang efektif dalam menyesuaikan beban dengan truk sebelum beroperasi sehingga menghasilkan harga yang lebih efisien.

Transportasi multimoda Ritase memanfaatkan angkutan kereta untuk jalur darat, pesawat untuk jalur udara, dan pelayaran untuk jalur air. Aplikasi ini akan mencari kombinasi angkutan yang tercepat dan termurah melalui sistem sehingga konsumen punya pilihan yang sesuai dengan kebutuhannya.

“Aplikasi kami sangat cocok untuk shipper karena menyediakan fitur Track & Trace pada tiga moda yang berbeda ketika pengiriman di luar pulau tidak bisa dipantau,” ujar David Samuel, CTO & Co-Founder Ritase di Jakarta (2/12).

Selain soal pelacakan, lanjut David, pengguna apps Ritase dapat menerima laporan berkala tentang cloud stock atau barang yang sudah keluar dari gudang muat tetapi belum tiba di end customer, nilai barang yang sudah keluar dari gudang muat (in transit) dan sudah sesuai dengan lead time pengiriman, maupun nilai barang in transit tetapi sudah melebihi lead time pengiriman.

Ritase adalah perusahaan rintisan (startup) dalam digitalisasi industri trucking di Indonesia. Dalam kurun waktu satu tahun beroperasi, Ritase mampu mencakup area trucking di Indonesia dan sekarang telah memiliki lebih dari 13,000 armada truk dari 600 perusahaan truk (transporter) yang melayani beberapa perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) terbesar di Indonesia.

Baca juga: Bandara Manchester Hadirkan Layanan Pengambilan Barang Bawaan Penumpang dari Rumah

Tahun ini Ritase telah berhasil mendapatkan pendanaan Seri A sebesar US$ 8,5 juta untuk mendorong pertumbuhan bisnisnya sebagai pelopor layanan trucking digital di Indonesia. Pendanaan tersebut diberikan oleh sejumlah investor dengan Golden Gate Ventures (SG) sebagai investor terbesar. Selain itu, Ritase didukung sarana yang bersifat open-API dan perangkat lunak cloud-based memungkinkan pengirim untuk menikmati akses informasi real-time pergerakan barang dan perkembangan di marketplace trucking.

Bus Berkonsep Alam di Taipei Tuai Banyak Pujian dari Netizen

Selama ini, transportasi umum berbasis massa yang biasa Anda naiki di Ibu Kota tidaklah memiliki sebuah desain khusus yang dapat menarik hati para calon penggunanya, sebagaimana yang dilakukan oleh Pemkot Bandung dengan menyediakan Bandros. Jika Bandros lebih menonjolkan nuansa double decker kuno khas Inggris, lain halnya dengan sebuah bus di Taipei, Taiwan yang memiliki konsep nyentrik pada bagian kabinnya.

Baca juga: Bus Singapura Gunakan Aroma Terapi Sebagai Tanda

Adalah Alfie Lin, seorang yang berada di balik ide pemindahan nuansa hutan ke dalam bus komuter di Taipei. Bus kota yang semula hanyalah bus biasa kemudian diubah menjadi green house keliling yang penuh dengan berbagai bunga hias, seperti anggrek, lili, dan beragam pakis. Interior yang serba hijau, dipadukan dengan kursi berbalut rumput sintetis serta ornamen pendukung lainnya yang berhasil menyulap sebuah moda transportasi berbasis massa menjadi hutan buatan.

KabarPenumpang.com melansir dari laman Reuters, Rabu (24/5/2017), Pemerintah Taipei sengaja menyediakan bus berkonsep hutan seperti itu dalam rangka untuk mengkampanyekan zona hijau dan pentingnya keberadaan tanaman hijau di negaranya. Sosialisasi dan integrasi konsep hijau seperti ini menjadi hal yang amat penting di Taiwan mengingat tingkat polusi di negara itu yang sudah perlu mendapatkan perhatian secara serius. Bus bernuansa hutan ini baru saja menjalani masa uji cobanya yang baru saja berakhir pada hari Minggu, (28/5/2017) kemarin. Selama masa uji coba tersebut, sebanyak 20 penumpang yang mampu ditampung oleh bus ini tidak perlu membayar ongkos perjalanan, alias gratis.

Sumber: ctvnews.ca

Dengan hadirnya bus ini ke jalan-jalan di Taipei beberapa hari yang lalu, perhatian warga seolah langsung tersita dikala bus ini melintas. Tak ayal, bus ini menjadi idaman sesaat para warga Taipei. Bukan hanya warga Taipei, para pelancong mancanegara yang tengah mengunjungi Ibu Kota dari Negara berjuluk Naga Kecil Asia tersebut juga turut penasaran dengan kehadiran dari bus bernuansa hutan tersebut.

Baca Juga: Revolusi Pembelian Tiket Bus di Myanmar Tidak Lepas dari Peran Kakak-Beradik Ini

Benar saja, kehadiran bus bernuansa alam tersebut disambut respon positif dari siapa saja yang sudah pernah menaikinya. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang seolah ketagihan untuk kembali menaiki bus ini. “Terkesan lebih santai ketimbang bus biasa, saya bisa bercengkrama dengan teman-teman sambil mengambil beberapa foto. Ini merupakan kali ketiga saya menaiki bus berkonsep alam dalam kurun waktu sepekan ke belakang,” tutur seorang pegawai museum yang merupakan salah satu penggemar dari bus ini.

Komentar lain datang dari seorang ibu Rumah Tangga yang mengharapkan bus semacam ini menjadi layanan regular, terutama untuk bus tingkat. “Saya merasa senang dan amat nyaman berada di dalam sini, ditambah dengan aroma bunga serta tanaman lain. Saya berharap bus ini bisa diaplikasikan pula untuk double decker dengan layanan regular. Tentu saja, kehadirannya kelak akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan,” tukasnya.

Selain menarik hati penumpangnya, desain bus bernuansa hutan ini merupakan salah satu aksi nyata dalam mengentaskan masalah polusi yang semakin mengerak. Kenyamanan dan rasa senang yang dirasakan oleh penumpang diharapkan akan menjadi motivasi bagi mereka untuk mulai menanam tanaman di rumah mereka atau melakukan gerakan “hijau” lainnya, seperti mulai mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Walaupun terkesan sepele, namun dampak yang ditimbulkan dari gerakan “hijau” semacam ini tentulah tidak kecil. Semakin banyak orang yang teracuni pikirannya oleh gerakan hijau tersebut, maka semakin besar pula jumlah pasukan garda depan yang akan memerangi bahaya polusi untuk masa yang akan datang.

TransMilenio, Bakal Jadi Operator Bus Listrik Terbesar di Benua Amerika

Otoritas transportasi massal Bogota, TransMilenio SA dikabarkan telah menjalin hubungan kerja sama dengan produsen bus raksasa asal Cina, BYD dalam upayanya menghadirkan 379 armada bus listrik murni. Jika rencana TransMilenio SA ini terlaksana kelak, maka Bogota akan menjadi pengguna bus listrik terbesar di benua Amerika dan salah satu yang terbesar di dunia. Tidak lain dan tidak bukan, masuknya armada bus listrik ini merupakan tanggapan operator terhadap masalah polusi udara yang belakangan menjadi sorotan dunia karena semakin parah dari hari ke hari.

Baca Juga: TransMilenio, BRT dari Bogota yang Menjadi Benchmark TransJakarta

Sebelum membahas tentang pengadaan armada listrik ini lebih jauh, patut diketahui bahwa jaringan Bus Rapid Transit (BRT) yang ada di Indonesia, TransJakarta terinspirasi dari jaringan BRT yang ada di Ibukota Kolombia ini. Kendati terinspirasi dari Kolombia, namun TransJakarta lebih memercayai merk Scania hingga Mercedes-Benz untuk menjalankan pengoperasian hariannya – TransJakarta hanya menggunakan segelintir bus rakitan Cina, seperti Zhongtong dan Yutong. Bukan tidak mungkin juga jika TransJakarta mengikuti jejak dari TransMilenio SA untuk mengoperasikan bus listrik rakitan BYD di kemudian hari.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman intelligenttransport.com (19/11), ada beberapa kota di Kolombia yang kabarnya baru pertama kali mengoperasikan bus listrik, seperti Usme dan Fontibón. Kelak, bus-bus listrik ini juga akan dioperasikan oleh Integrated Public Transport System (SITP), dimana para pengguna jasa akan leluasa untuk berpindah moda di dalam satu koridor transportasi.

“Dengan hadirnya bus listrik bebas emisi ini ke dalam jaringan SITP, maka kami sudah memenuhi impian pemerintah guna memberikan layanan transportasi umum berteknologi tinggi yang ramah lingkungan dan lebih baik dari sebelumnya,” ujar General Manager TransMilenio SA, Maria Counselo Araujo.

Baca Juga: Jadikan BRT Bogota Sebagai Benchmark, ‘Eksekusi’ TransJakarta Masih Jauh dari Harapan

Menurut Maria, di tahun pertama pengoperasian bus listrik ini akan ada penurunan 21.900 ton kadar CO2 dan 526kg partikel polutan PM 2,5. Selain membawa dampak positif terhadap lingkungan, bus listrik ini juga nyatanya lebih murah untuk dioperasikan – 60 persen lebih hemat ketimbang bus yang saat ini dioperasikan. Menurut berita yang tersiar, armada anyar dari TransMilenio SA ini akan mulai beroperasi pada September 2020 mendatang.

Bersama Yulu, Bajaj Auto di India Terjun ke Bisnis Sewa Skuter Listrik

Jika Indonesia, khususnya di Jakarta belakangan ini tengah terkena demam skuter listrik, maka lain halnya dengan yang ada di India sana – tepatnya di Bangalore, dimana yang belakangan ini tengah menjadi sorotan adalah hadirnya platform ride-sharing sepeda listrik. Dikabarkan, salah satu startup asal Bangalore, Yulu mempertahankan kemitraannya dengan Uber dan Bajaj Auto guna terus menyediakan platform tersebut.

Baca Juga: Swytch Conversion Kit, Ubah Sepeda Konvensional Jadi Sepeda Listrik

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman techcrunch.com (26/11), Yulu sendiri diketahui memiliki 3.000 unit sepeda listrik, dimana pengguna jasa yang hendak menggunakannya tidak akan dimintai SIM – tidak seperti sepeda motor yang memerlukan SIM. Para pengguna jasa dapat menyewa satu unit sepeda listrik ini dengan harga 14 sen per satu jam penggunaan. Dengan beragam pendanaan yang didapat, rencananya Yulu akan menambah hingga 100.000 unit sepeda listrik pada akhir tahun 2020 mendatang.

“Di Yulu kami menemukan mitra yang berpengalaman dan berkomitmen dengan pencapaian yang kuat dari metrik keberhasilan dalam waktu yang sangat singkat. Dan inilah mengapa kami memutuskan untuk bermitra dengan mereka dalam perjalanan mereka membawa layanan Yulu ke setiap lingkungan di Urban India,” ujar Managing Director Bajaj Auto, Rajiv Bajaj.

Kemitraan Yulu dengan Bajaj Auto tidak hanya sekedar di pendanaan saja, melainkan juga Bajaj Auto lebih memiliki pengalaman dalam membangun ekosistem transportasi roda dua di India.

“Mereka (Bajaj Auto) jelas memiliki pemahaman yang lebih baik tentang konteks (transportasi) India,” tutur pendiri Yulu, Amit Gupta.

Berkenaan dengan operasional, dikabarkan Yulu sudah mendapatkan ijin untuk beroperasi di New Delhi, dimana startup ini sudah mengantongi ijin untuk beroperasi di 250 stasiun bawah tanah di sana, “dimana kami sudah mengoperasikan sepeda listrik ini di sembilan stasiun bawah tanah,” lanjut Amit.

Baca Juga: Wiz, Skuter Listrik Wanita yang Mampu Melaju 80 Kilometer Per Jam

Untuk modanya sendiri, sepeda listrik ini diplot dapat berakselerasi hingga kecepatan 25 km per jam, dengan daya ketahanan baterai hingga 60 km perjalanan dalam sekali pengisian daya. Jika ada pengguna jasa yang hendak menggunakan sepeda listrik ini, maka mereka hanya butuh untuk memesannya via aplikasi dan pergi ke spot penyewaan terdekat. Jika sudah selesai menggunakan moda, maka yang harus dilakukan oleh pengguna saja adalah memulangkan sepeda listrik tersebut ke depot dekat – tidak perlu ke depot peminjaman awal.

65 Persen Makanan untuk Emirates Dibuat di Dubai

Maskapai asal Uni Emirat Arab, Emirates, terkenal dengan berbagai kemewahannya bukan hanya fasilitas tetapi makanannya juga. Apalagi ada 1800 koki di Dubai yang menyiapkan 12.450 resep bertema regional untuk brosur.

Baca juga: Singapore Airlines Datangkan Sayur Segar dari AeroFarms di New Jersey

Nah, KabarPenumpang.com merangkum dari gulfnews.com (13/11/2019), maskapai yang bermarkas di Dubai ini ternyata memiliki fasilitas Emirates Flight Catering. Di Dubai, hidangan pembuka dan masakan lain yang terinspirasi secara regional dibuat. Bahkan minuman dari Emirates mendapat penghargaan Minuman Terbaik di Timur Tengah pada 13 November 2019 lalu di Singapura.

Setiap hari, dapur Emirates terus bekerja dengan 1800 koki yang berbasis di Dubai menyediakan 12.450 resep dan membutuhkan perencanaan yang teliti. Bahan-bahan berkualitass untuk makanan pun disediakan selalu tepat waktu.

Ya, bisa dikatakan Emirats Flight Catering (EKFC) mengikuti konsep farm to fork yang menghadirkan pasokan sayur segar secara lokal. Dengan luas kebun vertikal 130 ribu kaki persegi tersebut, perkebunan ini mengasilkan 2,7 ton sayur hijau bebas herbisida dan pestisida setiap hari dan menggunakan 99 persen lebih sedikit air dibandingkan ladang luar.

Bahkan dalam pembuatan makanannya, Emirates memiliki filosofi dimana makan dalam penerbangan adalah tetap bergaya restoran dan berusaha tetap tradisional serta membuat makanan terasa enak. Ini berarti melayani 125 ribu makanan bergaya restroran sehari dan mencapai 150 ribu pada musim panas ketika lalu lintas bandara mencapai puncak.

Ternyata, belakangan makanan vegan menempati urutan ketiga yang dipilih oleh penumpang kelas ekonomi. Sehingga setelah dorongan ini, permintaan untuk alternatif nabati meningkat lebih dari 40 persen yang menunjukkan kebutuhan yang semakin meningkat untuk bertindak hijau.

Diketahui, 65 persen makanan maskapai ini dibuat di Dubai dan sisanya berasal dari stasiun katering di seluruh dunia dengan 24 di wilayah Asia Pasifik. Setiap hari, Unit Komisaris Sentral Katering Penerbangan Emirates (CCU) memproses 15 ton sayuran, 9 ton buah-buahan, dan 30 ton daging.

Jalur untuk memproduksi pasta dan es krim baru-baru ini diperkenalkan, menggunakan sekitar 3.300 ton tepung setiap tahun untuk menghasilkan 45 ribu kue kering setiap hari. EKFC juga melayani 120 maskapai internasional. Dalam penerbangan maskapai Emirates yang khas, makanan yang ditetapkan sebelum penumpang diputuskan setahun sebelumnya, diambil dari berbagai resep, dibuat dengan bahan-bahan dari peternakan di Al Ain, dan disiapkan oleh koki terampil yakni banyak dari yang memiliki pengalaman bintang Michelin.

Baca juga: Persaingan Maskapai Kelas Wahid Satu Negara: Etihad dan Emirates, Mana yang Lebih Baik?

Tak hanya itu, sebelum makanan dikirim pun dilakukan pengecekan kembali oleh staf katering. Perusahaan telah mengganti kemasan kardus dengan peti yang dapat digunakan kembali untuk menyimpan dan mengangkut rata-rata 100.000 makanan dalam pesawat setiap hari. Sebagai hasil dari inisiatif lingkungan terbarunya, EKFC akan menghemat 750 ton limbah kardus, setara dengan 260 ribu m² (65 hektar) lahan hutan dewasa, setiap tahun. Hidangan bertema regional yang disiapkan oleh Emirates Flight Catering. Hingga 180.000 makanan setiap hari disiapkan untuk lebih dari 400 penerbangan setiap hari ke 142 tujuan.

Kecewa Makanan Maskapai, Begini Kata Penumpang yang Pernah Rasakan Itu!

Makanan dalam pesawat memang bukanan makanan yang dibuat pada hari yang sama, sebab bisa jadi sudah tiga hari sebelumnya dibuat dan dibekukan. Meski begitu tidak semua bentuk makanan tidak layak dinikmati. Namun beberapa pelanggan yang menikmati penerbangan pada hari libur sering kali mendapat makanan yang tidak menarik meski sudah membayar mahal. Bahkan banyak yang menyarankan maskapai penerbangan harus bisa menawarkan makanan yang terlihat menarik dan juga enak.

Baca juga: [Galeri Foto] Deretan Makanan di Pesawat ini Mampu Menjatuhkan Selera Makan Anda!

KabarPenumpang.com merangkum dailymail.co.uk (30/10/2019), tak hanya membayar mahal, uprage ke kabin di atas kelas pesanan pun tidak akan menyelamatkan penumpang dari mimpi buruk kuliner. Meski begitu, maskapai penerbangan seringkali sudah berusaha keras mempekerjakan koki selebriti untuk menghasilkan makanan berkualitas.

Memang beberapa masalah di kabin seperti tekanan udara dan suhu mengubah cara makan dan minum. Apalagi ilmu pengetahuan yang menunjukkan bahwa suara mesin kabin dapat mengubah cara orang merasakan makanan.

Penumpang Ryanair, Billy Shearer, membuat kesalahan dengan memesan sarapan Irlandia untuk penerbangan pagi berdasarkan deskripsi perusahaan sebagai “pilihan sempurna untuk mengisi dan memulai hari Anda”. Harga yang tercantum 10 Euro menunjukkan bacon, dua sosis, kentang goreng, puding putih, tomat dan beberapa irisan yang tampak seperti roti cokelat pedesaan.

Sayangnya saat membuka wadah makanan dia hanya mendapatkan wafel kentang yang lembek, jamur kancing yang layu, dan puding putih beku. Ryanair adalah maskapai berkinerja terburuk dalam survei makanan maskapai dengan hasil itu satu-satunya maskapai yang menerima peringkat satu bintang yang mengerikan.

Bahkan, operator tampaknya memiliki masalah khusus dengan sarapan. Tak hanya itu sajian oleh BA termasuk satu porsi telur orak-arik yang hampir tidak dapat dikenali karena warna dan konsistensi yang aneh, di samping jamur yang basah.

Nick Avery, yang terbang dengan operator India SpiceJet, berkata,”Saya sekarang tahu mengapa sebagian besar penumpang memilih untuk sarapan kari. ‘Rupanya, itu adalah telur dadar, sosis, dan kentang goreng. Rasanya enak seperti kelihatannya”.

David Ball terbang dengan kelas bisnis British Airways dari London Gatwick ke Mauritius dan mengasumsikan tarif yang lebih tinggi akan memberinya pengalaman mewah. Namun, harapan itu dengan cepat mati ketika ia dihadapkan dengan ayam lumpen Biriyani.

“Pramugari itu mengoceh kepada semua orang di bagian saya tentang makanan yang akan kami nikmati. ‘Apa yang Anda lihat dalam gambar adalah sepotong ayam kering, sepotong mati, kembang kol dibakar, sesendok penuh gunk dan nasi matang. Mengerikan'”, kata pramugari tersebut.

Selebaran ekonomi premium BA lainnya juga kecewa dengan makanannya yang ditingkatkan. Dia menggambarkan daging sapi dengan sayuran panggang dan kentang tumbuk sebagai ‘matang dan dibakar di tepi’. Seorang penumpang Norwegia kecewa ketika menemukan ayam dan tumbuknya berenang dalam minyak dalam makanan yang ia sebut sebagai ‘slop’.

Kalkun ham dan keju Swiss ‘baguette’ sama-sama kurang memuaskan dan salah digambarkan dengan sedikit isi dan hanya upaya samar untuk mentega roti. Pelanggan Etihad, Richard Cooney, tidak terkesan dengan penawaran ‘kualitas buruk dan tawar’ dalam penerbangannya dari Bangkok ke Abu Dhabi pada bulan Maret.

Dia menggambarkan sweetcorn, kacang polong dan nasi starter sebagai ‘makanan dingin tanpa bumbu’ sementara kue itu begitu ‘kering dan tangguh’ itu menyerupai batu bata. David Cann memiliki pengalaman bersantap yang mengesankan di atas pesawat, Airways Uzbekistan yang kurang dikenal karena semua alasan yang salah.

“Mereka yang memiliki kebutuhan diet khusus dapat menemukan bahwa pilihan penerbangan mereka lebih terbatas dan tidak menyenangkan. Seorang penumpang BA dan celiac meminta pilihan bebas gluten hanya untuk berakhir dengan makanan vegetarian / vegan ‘satu ukuran cocok untuk semua,” ujarnya.

Baca juga: Inilah 11 Anggapan yang Keliru Seputar Makanan di Pesawat

Dia berkata, ‘Seperti apa rasanya? Menjijikkan. Tidak termakan. Bubur tanpa rasa. Saya membawa sekantong keripik yang harus saya makan karena saya sangat lapar. ”

Penumpang BA, Yannis Psomadakis, yang memiliki serangkaian persyaratan diet yang rumit, menemukan kesulitan ‘tertawan dalam penerbangan jarak jauh’. Dia memiliki pengalaman yang mengerikan dengan cod laktosa pilihan rendah dengan bayam dan kacang-kacangan.

Manajer Stasiun SMRT Baik Hati, Penumpang Diberi $100

Sebagai seorang ayah yang memiliki tanggung jawab pada pasti akan melakukan apapun untuk kebahagiaan keluarganya. Seperti seorang ayah yang satu ini ketika mengantarkan dua anak laki-lakinya ke sekolah dan kekurangan uang tunai untuk bepergian.

Baca juga: Foto Ayah Telantarkan Anak di MRT Singapura Viral di Media Sosial

Caleb yang bercerita ke Stomp mengatakan dirinya kemudian mendekati pusat kendali stasiun untuk meminta bantuan dan manajer stasiun SMRT Mohan kemudian mendatanginya dan menawarkan bantuannya. Dia mengatakan, kala itu Mohan mendapati dirinya yang kekurangan uang di Stasiun MRT Tiong Bahru pada 20 November 2019 kemarin.

KabarPenumpang.com melansir laman stomp.straitstimes.com (28/11/2019), Caleb bercerita, bahwa Mohan berbagi dengan dirinya bahwa dia juga ayah dari beberapa anak yang sudah dewasa dan menunjukkan sisi yang sangat empatik.

“Dia seperti merobohkan penghalang antara penumpang dengan staf dan menanggalkan seragamnya serta berbagi perjalanan menjadi ayah dengan anak saya. Dia mengatakan kepada saya agama dan warna kulit tidak masalah dan hidup itu terlalu singkat sehingga kita harus baik satu sama lain,” kata Caleb.

Calem menambahkan, Mohan juga menceritakan bagaimana dia melihat keindahan pernikahan lintas etnis, berbagi bagaimana putranya menikahi seorang wanita Cina. Dia berbagi bahwa perjalanan perjuangan seorang ayah akan bertemu dengan hal-hal yang lebih besar dan lebih bermanfaat dalam hidup yang belum terlihat.

“Ketekunan dan dorongan adalah apa yang dia tinggalkan padaku,” tambahnya.

Sebelum berpisah, Mohan pergi ke ruang staf dan mengambil uang tunai $100 dari dompetnya sendiri untuk diberikan kepada Caleb sebagai berkah.

“Dia bilang dia ingin aku memilikinya. ‘Saya tidak berbagi ini hanya untuk kemurahan hatinya tetapi juga karena menjadi karakter yang luar biasa’,” kata Caleb.

“Saya bukan siapa-siapa baginya, tetapi jika dia bisa memperlakukan saya dengan cara ini, saya hanya bisa membayangkan ayah baik untuk anak-anaknya sendiri, jenis pemimpin dan manajer yang dia miliki untuk stafnya sendiri. Benar-benar pria yang luar biasa. Hitung bintang keberuntunganmu, SMRT, kamu punya permata!” ujar Caleb lagi.

Karena Caleb menceritakan kisahnya pada Stomp, ini membuat pihak Stomp bertemu dengan Mohan dan memberikan goodybag karena kebaikannya. Karena hal ini Mohan pun terkejud bahwa pertemuan dirinya dengan Calem dibagikan pada Stomp.

“Ceritanya sangat menyentuh saya, bahkan sekarang saya menjadi emosional memikirkannya,” kata Mohan, matanya penuh dengan air mata.

“Aku bilang padanya untuk bertahan saja dan jangan khawatir, segalanya akan berbalik. Dia telah melakukan pekerjaan bagus merawat kedua anaknya setiap hari,” ujarnya.

Diketahui, Mohan sudah bekerja di SMRT selama 26 tahun dan mengaku ini bukanlah yang pertama kali menemukan seseorang dalam keadaan sulit.

“Ketika pekerjaan saya memungkinkan, saya mencoba meluangkan waktu untuk berbicara dengan mereka yang membutuhkannya. Selalu penting untuk meluangkan waktu,” kata dia.

Bahkan ketika dipuji atas kebaikannya pun, pria 68 tahun tersebut hanya menggelengkan kepada dan berkata siapapun bisa melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukannya.

Baca juga: Lima Poin ini Buktikan Penumpang MRT Singapura Tidak Akan ‘Diterima’ di Komuter Jepang!

“Ini bukan cerita saya, itu adalah filosofi bahwa siapa pun yang berada dalam situasi saya akan melakukan sesuatu untuknya, mungkin dengan cara yang berbeda, tetapi jika Anda telah mendengarnya dan melihatnya, Anda pasti ingin membantunya juga. Saya bisa bertaruh bahwa anggota tim saya juga akan memiliki ini, saya tahu. Saya memiliki banyak kepercayaan pada kemanusiaan,” tambahnya.