Banyak Minum Air Mineral Jadi Obat Manjur untuk Jetlag!

Melakukan perjalanan udara, terutama untuk melakoni sebuah perjalanan jarak jauh agaknya sudah menjadi pilihan bagi semua orang. Kendati memiliki harga tiket yang lebih mahal ketimbang moda lain, namun efisiensi waktu dan dampaknya terhadap kebugaran seseorang menjadi poin utama yang diperhatikan oleh penumpang. Namun ketika perjalanan Anda tergolong memakan waktu sangat lama, satu bahaya yang patut Anda waspadai adalah terserang jetlag.

Baca Juga: Atasi Jetlag, LumosTech Hadirkan Masker Tidur Pintar

Seperti yang sudah diketahui bersama, jet lag merupakan gangguan tidur temporer berupa rasa kantuk pada siang hari dan sulit tidur pada malam hari, yang timbul setelah melakukan perjalanan jarak jauh dengan pesawat dan melewati zona waktu yang berbeda. Tentu saja jet lag bisa membuyarkan rencana aktivitas Anda di destinasi tujuan jika tidak diatasi dengan tepat. Nah, untuk mengatasi maslaah jet lag ini, seorang awak kabin dari Air France membocorkan rahasia yang bisa Anda lakukan untuk mencegah jet lag selama penerbangan langsung jarak jauh.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman thesun.co.uk, satu hal yang harus Anda lakukan untuk mencegah jet lag adalah dengan cara meminum air putih dalam jumlah yang banyak. Menurut awak kabin yang ingin tetap anonim ini, staf medis di perusahaan menyarankan setiap awak kabin untuk meminum satu liter air setelah empat jam melakukan perjalanan udara.

Kendati dianjurkan untuk banyak minum selama perjalanan, tapi Anda hanya diperbolehkan untuk meminum air mineral – tidak untuk kopi atau bir.

Mungkin Anda semua akan skeptis, “Bagaimana bisa banyak minum dapat meminimalisir jet lag?”

Baca Juga: Gara-Gara Jetlag Jadi Susah BAB

Jawabannya sederhana, karena Anda berada di dalam kabin yang bertekanan, sehingga kondisi di dalam kabin dapat dengan mudah membuat tubuh Anda dehidrasi. Maka dari itu, banyak meminum air selama perjalanan jarak jauh akan membuat tubuh Anda tetap terhidrasi dan dipercaya dapat terhindar dari jet lag.

Bagaimana, Anda siap mencobanya?

Pembebasan Lahan Tuntas, LRT Jabodebek dan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Mengular 2021

Bagaimana kelanjutan light rail transit (LRT) Jabodebek dan kereta cepat Jakarta-Bandung yang katanya akan selesai akhir tahun 2021? Ternyata tidak ada sama sekali yang namanya persoalan krusial sehingga bisa berjalan dengan lancar.

Baca juga: LRT Jabodebek Siap Uji Coba, Bagaimana Tarif, Headway dan Kapasitas Keretanya?

Bahkan masalah pembebasan lahan yang kala itu masih belum selesai kini sudah rampung dan proses pun berjalan lancar. Tak hanya itu Presiden Joko Widodo bahkan memerintahkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menghubungkan dengan TransJakarta.

“Lahan untuk kereta cepat sudah mencapai 99,9 persen. Tinggal kerja lapangannya saja,” ujar Jokowi yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers Kementerian Perhubungan.

Namun diakui mantan Walikota Solo ini, bahwa pembangunan masa kini tidaklah mudah dikarenakan kondisi yang sudah terlalu ramai. Menurutnya pembangunan infrastruktur di Kawasan Jakarta-Cikampek menjadi salah satu contoh rumitnya jika terlambat membangun infrastruktur.

Meski begitu Jokowi optimis pembangunan LRT Jabodebek dan kereta cepat Jakarta-Bandung akan selesai di akhir 2021.

“Investasi $6 miliar akan diselesaikan insya Allah akan selesai di akhir 2021. LRT investasi Rp29 triliun juga akahan selesai akhir 2019,” kata Jokowi.

Bahkan dua proyek ini akan terintegrasi seperti kereta cepat punya stasiun di Halim dan LRT juga ada. Sehingga keduanya akan terhubung dengan jalur Transjakarta. Direktur Jenderal Perkeretaapian Zulfikri mengatakan penyelesaian LRT Jabodebek sesuai dengan perencanaan akan selesai akhir Desember 2021.

“Sebelumnya memang LRT Jabodebek ada kendala pembebasan lahan untuk Depo di Bekasi Timur dan yang kedua ada lagi longspand di Dukuh Atas. Untuk lahan saat ini sudah proses penyelesaian 75 persen lahan dibebaskan. Bahkan gedung kontrol (OCC Room) sudah mulai dibangun. Gedung ini sangat penting karena nanti akan bertugas mengontrol perjalanan LRT yang otomatis penuh,” ujar Zulfikri.

Pembangunan Gedung ini diharapkan bisa segera selesai sehingga uji coba semua teknologi yang digunakan di LRT bisa dilakukan dengan leluasa.

“Jika Gedung kontrol bisa cepat selesai, kita akan mempunyai waktu yang cukup Panjang untuk melakukan uji coba, sehingga teknologi yang cukup canggih ini bisa handal dalam pengoperasiannya,” jelas Zulfikri.

Pembangunan LRT Jabodebek tahap I ini mempunyai tiga lintasan, yakni Cawang-Cibubur sepanjang 14,89 km dengan empat stasiun, Cawang-Dukuh Atas sepanjang 11,05 km dengan delapan stasiun, dan Cawang-Bekasi Timur sepanjang 18,49 km dengan lima stasiun dan satu stasiun integrasi. Total Panjang lintasan LRT Jabodebek Tahap 1 adalah 44,43 km. Saat ini progress pembangunannya sudah mencapai 67,73 persen.

Untuk LRT Jabodebek Tahap II juga akan mempunyai tiga lintasan, yakni Dukuh Atas-Senayan sepanjang 7,8 km dengan 3 stasiun, Cibubur-Bogor sepanjang 25,8 km dengan empat stasiun, dan Palmerah-Grogol sepanjang 5,7 km dengan tiga stasiun. Total Panjang LRT Jabodebek Tahap dua adalah 38,5 km. Namun saat ini belum ada pembangunan dilakukan berkaitan LRT Jabodebek tahap II.

Untuk Kereta Cepat Jakarta-Bandung, target progres pembangunan konstruksinya di akhir 2019 adalah 40 persen. Saat ini progress sudah mencapai 38,2 persen, dan hingga akhir Desember target bisa tercapai 40 persen. Jalur kereta cepat ini akan mempunyai Panjang 142,3 km, dengan empat stasiun. Pembangunan jalur kereta cepat cukup sulit karena harus membangun 13 terowongan dengan total panjang 16,82 km.

Baca juga: Rp300 Ribu! Inilah Harga Tiket Termurah Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Selain itu lebih dari separuh atau 82,7 panjang jalur akan melayang (elevated). Untuk penunjang kereta cepat ini, maka PT Kereta Cepat Indonesia China, selaku pemilik proyek, akan membangun tiga kawasan Transit Oriented Development yakni Karawang TOD, Walini TOD, dan Tegalluar TOD.

Uji Coba Wayfinding, TransJakarta Siap ‘Naik Kelas’

PT Transjakarta secara resmi telah melakukan ujicoba sistem pengarah perjalanan atau Wayfinding. Sistem baru ini sudah diterapkan di Koridor 1 rute Blok M – Kota sejak 6 November 2019 lalu.

Baca Juga: Kontroversi MetroTrans Melaju di Jalur ‘Sempit,’ Inilah Tanggapan PT TransJakarta

Sebagaimana informasi yang didapatkan KabarPenumpang.com dari siaran pers, wayfinding ini sendiri merupakan suatu sistem di mana layanan yang diberikan kepada pelanggan, berupa pengarah perjalanan seperti peta rute baik di dalam halte hingga di dalam bus. Selain itu juga pengarah perjalanan diberikan menggunakan sistem pengeras suara.

Kepala Divisi Sekretaris Korporasi dan Humas PT TransJakarta Nadia Diposanjoyo mengatakan, sistem ini diberlakukan mengingat pelanggan Transjakarta sudah mandiri dan terbiasa menuju lokasi kegiatan mereka masing-masing menggunakan moda transportasi TransJakarta. Sebab itu, informasi saat ini sudah bisa diberikan lewat sistem wayfinding atau pengarah perjalanan.

“Sistem ini juga untuk mengasah diri dan lingkungan. Dengan wayfinding kita bisa mensejajarkan diri dengan negara-negara maju. Setidaknya kita akan naik kelas,” ungkap Nadia saat berbincang dengan masyarakat yang tergabung dalam komunitas TransJakarta di Upnormal Coffee Roaster, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (6/12/2019).

Dalam temu komunitas tersebut disampaikan Nadia, para anggota menyambut baik adanya sistem ini. Sebab, secara tidak langsung sistem ini bisa mengasah kepekaan pelanggan terhadap sesama. Hal ini tentu saja membawa banyak dampak positif terhadap para pelanggan itu sendiri.

”Misalnya di situ ada yang butuh pertolongan, pelanggan yang ada di dalam (bus) bisa membantu sampai bus berhenti di halte selanjutnya,” terang Nadia.

Baca Juga: TransJakarta Punya Rute Baru Setiap Bulan, Bagaimana Integrasi dengan Mikrolet?

Untuk mendukung layanan tersebut, PT Transjakarta lanjut Nadia, juga telah melakukan pelatihan dan pengarahan terhadap petugas TransJakarta, salah satunya dalam hal bagaimana melakukan evakuasi. Sosialisasi ini juga nantinya kata Nadia akan diberikan kepada pelanggan, agar pelanggan bisa mantap dan mandiri jika sistem wayfinding ini secara resmi dierlakukuan.

“Soal evakuasi, itu PLB kita sudah punya sertifikasi dan latihan untuk masalah evakuasi.  Tapi tetap kita akan lakukan sosialisasi. Karena kalau pelanggan pintar, kami juga senang,” tutup Nadia.

Beragam Kasus Seksis yang Sempat Warnai Dunia Pramugari

Stigma seksi agaknya sulit dipisahkan dari seorang pramugari. Walaupun di luar sana sudah banyak kasus yang menjerumuskan pihak maskapai karena pramugarinya menggunakan pakaian terlalu ‘berani’, namun tetap saja ada maskapai di luar sana yang seolah buta terhadap masalah gender semacam ini. Tidak melulu soal gaya berpakaian atau seragam saja, urusan poles memoles wajah juga kerap menjadi buah bibir warganet – mulai dari detail make up hingga urusan tata rambut.

Baca Juga: VietJet Buka Rute Jakarta-Vietnam, Penumpang Pria Siap-Siap Kecewa

Seorang pramugari yang ingin tetap anonim mengatakan bahwa isu seksis seperti yang sudah digambarkan di atas masih sangat jamak terjadi khususnya di sektor aviasi global. Lalu, kira-kira isu seksis apa saja atau maskapai mana saja yang masih sangat santer dengan penjabaran di atas? Berikut ada tiga contoh kasus seksis yang masih menyelimuti sektor aviasi global, dikutip KabarPenumpang.com dari laman forbes.com.

Viet Jet
Mungkin beberapa dari Anda masih ingat kejadian yang sempat mengegerkan sektor aviasi dalam negeri, dimana maskapai asal Vietnam, Viet Jet hendak membuka rute penerbangan langsung dari ‘kandangnya’ menuju Jakarta pada tahun 2017 silam. Satu yang membuat pemberitaan ini dengan cepat menyebar adalah karena Viet Jet merupakan maskapai yang ‘mewajibkan’ awak kabinnya untuk menggunakan bikini di dalam penerbangan.

Khusus untuk rute menuju Jakarta, Viet Jet mengatakan bahwa pihaknya tidak akan memberlakukan aturan penggunaan bikini kepada para pramugarinya – sehingga dapat memenuhi aturan norma yang ada di Tanah Air.

Skymark Airlines

sumber: forbes.com

Kedua ada maskapai berbiaya rendah asal Jepang, Skymark Airlines. Nama maskapai ini sempat juga menjadi bahan pembicaraan warganet dan kalangan terkait pada tahun 2014 silam, dimana pihak perusahaan mengeluarkan seragam pramugari sementara yang dinilai terlalu ketat dan minim. Skymark Airlines mengatakan bahwa seragam yang dinilai terlalu berani ini ditujukan untuk rute penerbangan domestik.

Seolah tidak tergoyahkan dengan banyaknya pihak yang menentang aturan ini, dikabarkan pihak maskapai masih menggunakan seragam seksi ini dengan dalih, “tidak mempengaruhi keselamatan penerbangan,”

Baca Juga: Iklan Menjurus Seksis, AirAsia Menuai Kecaman dari Netizen

Pramusaji Hooters

sumber: forbes.com

Restoran Hooters terkenal dengan outfit pramusajinya yang cukup berani – dengan menggunakan celana super pendek yang dipadukan dengan tank top. Tidak ada masalah jika restoran ini tetap berada di darat, namun lain cerita ketika sudah masuk ke ranah transportasi udara. Terbukti di tahun 2003, ada sebuah maskapai di Amerika Serikat yang ‘mempekerjakan’ karyawan Hooters di dalam penerbangannya. Seragam yang digunakan? Ya tetap seragam Hooters!

Bandara Toulouse-Blagnac Uji Coba Truk Otonom Pengangkut Bagasi Penumpang

Dapatkah Anda membayangkan masa depan dari sektor aviasi global, dimana semua pekerjaan yang sebelumnya melibatkan tenaga manusia, lambat laun mulai tergantikan oleh teknologi otomatisasi? Belakangan yang tengah ramai dibicarakan adalah kehadiran robot-robot multi fungsi di dalam bandara, dimana robot-robot ini berfungsi untuk mengarahkan penumpang menuju gerbang keberangkatan. Itu baru sebagian kecil dari teknologi yang berkembang – belum lagi era otomatisasi yang juga perlahan mulai merambah ke apron.

Baca Juga: Antara Fakta dan Mitos Pada Penerapan Mobil Otonom

Sebut saja Bandara Toulouse-Blagnac di Perancis yang tercatat menjadi bandara pertama di dunia yang menguji coba mobil traktor otonom dalam skala penuh dan kondisi layanan sesungguhnya. Adalah Autonom Tract AT135, moda otonom rakitan Charlatte Autonom diklaim memiliki banyak sekali sensor yang akan menunjang pengoperasian komersialnya kelak. Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (8/12), hadirnya AT135 ini akan mempercepat proses pemindahan bagasi penumpang dari area terminal menuju pesawat, ataupun sebaliknya.

Sepintas, AT135 ini tampak seperti traktor pengangkut bagasi biasa – namun ketika Anda menilik ke bagian dalamnya, Anda akan menemukan tombol switch yang dapat mengubah fungsi kendaraan – dari otonom menjadi manual, ataupun sebaliknya.

Moda ini ditenagai oleh baterai 32kWh yang memberikan kecepatan tertinggi di angka 24km/jam, dengan maksimal beban angkut 25 ton.

Nampaknya pemangku kepentingan setempat tidak tanggung-tanggung dalam mengembangkan project ini, mengingat ‘aktor-aktor’ utama yang bermain di project pengadaan moda otonom ini berisikan perusahaan-perusahaan raksasa, seperti Navya (pemasok sistem kemudi otonom), Groupe 3S (memiliki keahlian di ground handling), Air France, Bandara Toulouse-Blagnac, serta TCR yang bertanggung jawab seputar masalah pemeliharaan dan pengoperasian.

Baca Juga: Di 2020, Uber dan Volvo Siap Uji Mobil Otonom Generasi Ketiga

“Uji coba ini merupakan langkah awal bagi kami untuk meluncurkan kendaraan sejenis di bandara-bandara lain,” tutur Vincent Euzeby, head of IT & Tech Innovation di Air France.

Jika ditelaah sedikit lebih dalam lagi, kehadiran moda otonom semacam ini di apron akan meminimalisir human error yang mungkin ditimbulkan ketika bekerja. Jika tugas manusia sudah muali tergantikan dengan kehadiran teknologi seperti ini, maka mereka bisa ditempatkan di ‘sisi’ lain yang membutuhkan perhatian khusus.

Tidak Melulu di Bandara, Osaka Metro Hadirkan Teknologi Face Recognition di Stasiun Bawah Tanah

Jika selama ini Anda mendengar pemberitaan seputar teknologi face recognition hanya sekedar di ruang lingkup bandara saja, maka saatnya Jepang untuk membuktikan bahwa teknologi semacam ini juga bisa diimplementasikan di prasarana transportasi lain. Dikabarkan, Osaka Metro Co. pada hari Selasa (10/12) kemarin melakukan uji coba terhadap teknologi face recognition di salah satu gate tiket otomatis. Menurut pihak operator kereta bawah tanah ini, teknologi face recognition ini akan diluncurkan pada tahun fiskal 2024, berdekatan dengan pagelaran akbar World Expo 2025.

Baca Juga: Tak Hanya di Imigrasi Bandara, Restoran Cepat Saji Mulai Adopsi Pemindai Wajah Untuk Pemesanan

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman japantimes.co.jp (10/12), uji coba ini sendiri melibatkan sekitar 1.200 karyawan Osaka Metro dan dilalah menjadi pengujian teknologi face recognition pertama yang dilakukan oleh operator kereta api Jepang. Menurut pihak perusahaam, uji coba ini sendiri akan dihelat hingga bulan September 2020 mendatang dan titik pengujian akan tersebar di empat stasiun: Dome-mae Chiyozaki, Morinomiya, Dobutsuen-mae dan Daikokucho.

Nantinya, setiap stasiun ini akan memiliki gate face recognition yang dikembangkan oleh empat perusahaan berbeda. Hal ini ditujukan agar pihak Osaka Metro bisa membandingkan produk mana yang menawarkan teknologi paling sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Adapun empat perusahaan yang berkecimpung dalam pengadaan gate face recognition ini adalah Omron Social Solutions Co., Takamisawa Cybernetics Co., Toshiba Infrastructure Systems & Solutions Corp. dan Nippon Signal Co.

Pada uji coba yang dilakukan oleh salah satu karyawan Osaka Metro pada hari Senin (9/12) kemarin, pria yang sebelumnya sudah didaftarkan terlebih dahulu identitasnya berusaha untuk melintasi gate face recognition. Seketika kamera memindai wajah karyawan tersebut, gate langsung terbuka dan karyawan tersebut bisa masuk ke area boarding kereta bawah tanah.

Baca Juga: Cina Siap Kontrol Warganya dengan Teknologi Pemindai Wajah

“Bahkan lansia dan penyandang disabilitas dapat dengan muda melintasi gate ini tanpa harus taping,” tutur salah seorang pejabat perusahaan.

“Kami mengharapkan teknologi ini bisa dipasang di semua stasiun di Jepang,” imbuhnya.

Kadishub DKI Usulkan Pergeseran Rute MRT Jakarta Fase III

Tak terasa, sudah sembilan bulan MRT Jakarta hadir untuk melayani warga Ibukota. Kendati sudah terbilang cukup berhasil dalam mengakomodasi penumpang setiap harinya, namun PT MRT Jakarta terus melakukan pembenahan di berbagai lini guna meningkatkan pelayanan kepada para penumpangnya. Pada perhelatan Diskusi Publik “Evaluasi 9 Bulan Operasional MRT Jakarta”, Direktur Operasi dan Pemeliharaan PT MRT Jakarta, Muhammad Effendi mengatakan bahwa diharapkan acara seperti ini bisa menjadi wadah untuk mengumpulkan informasi dan rekomendasi guna meningkatkan pelayanan.

Baca Juga: Di 2030, MRT Jakarta Bakal Mengular Sepanjang 230 KM di Jabodetabek

“Dari diskusi publik ini juga diharapkan setiap narasumber dan peserta dapat memberikan respons dan rekomendasi konstruktif demi perbaikan pelayanan dan fasilitas di MRT Jakarta,” ujar Muhammad Effendi.

“Dengan begitu, diharapkan akan meningkatkan jumlah penumpang dan harapannya juga terhadap meningkatnya kepuasan pelanggan terhadap layanan MRT Jakarta,“ imbuhnya.

Salah satu poin dari diskusi publik ini juga cukup menarik untuk dibahas lebih dalam lagi – dimana MRT Jakarta berhasil mengubah kebudayaan berkendara dengan menggunakan transportasi massal. Warga Indonesia yang terkenal cukup susah diatur menjadi lebih tertib ketika hendak menggunakan MRT Jakarta, cukup dengan ‘iming-iming’ akan viral di sosial media, maka para calon pelanggar tersebut sontak mengurungkan niatnya.

Selain itu, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta Syafrin Liputo yang juga turut hadir dalam acara yang diadakan di Hotel Grand Sahid Jaya, Rabu (11/12) kemarin ini mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah mengubah paradigma membangun kota dari car oriented development menjadi transit oriented development melalui beberapa cara, “seperti revitalisasi trotoar, akses first and last mile dalam bentuk jalur sepeda, serta peningkatan kualitas dan kuantitas transportasi publik, agar lebih banyak lagi masyarakat yang berpindah menjadi pengguna transportasi umum untuk kegiatan sehari-harinya,”

Tidak hanya itu, Syafrin juga sempat menyinggung soal usulan tentang perubahan MRT Jakarta Fase III koridor Timur – Barat, dimana pada awalnya, rute yang diprioritaskan membentang dari Kalideres hingga Ujung Menteng.

“Memang yang kami usulkan adalah untuk koridor MRT itu naik ke Harmoni atau Sawah Besar, jadi intersection-nya ada di sana,” tutur Syafrin.

Usul tersebut disampaikan sebagai tanggapan atas permintaan dari Direktur Prasarana Perkeretaapian Ditjen Kereta Api Kementerian Perhubungan, Heru Wisnu Wibowo untuk mengubah jalur LRT Pulo Gadung-Kebayoran Lama karena berhimpitan dengan koridor Timur – Barat MRT Jakarta.

Baca Juga: “Bebas,” Jadi Film Pertama yang Dibuat dengan Latar MRT Jakarta

Adapun alasan dari dipilihnya kawasan Harmoni atau Sawah Besar sebagai intersection baru di koridor Timur – Barat MRT Jakarta karena permintaan penumpang yang tinggi dari kawasan tersebut. Kapasitas yang mampu diangkut MRT Jakarta dinilai mampu untuk mengakomodir pergerakan penumpang di kawasan tersebut.

“Jika kita melihat demand real yang ada saat ini, maka transfer yang paling besar terjadi di Harmoni, itu kenapa kemudian Transjakarta membangun Harmoni Central Busway,” terangnya.

Bandara Australia Pekerjakan Robot Untuk Jual SIM Card Perjalanan

Bepergian ke luar negeri memang menjadi salah satu opsi terbaik untuk menghabiskan waktu liburan akhir tahun. Mulai dari mengunjungi beragam destinasi wisata hingga menyaksikan pesta kembang api di malam pergantian tahun menjadi aktivitas yang amat sayang untuk dilewatkan. Namun apa jadinya jika perjalanan Anda mesti terhalang masalah keterbatasan jaringan komunikasi karena lupa membeli SIM card negara tujuan? Wah, ini memang masalah sepele dan harus Anda tangkal sebelum terjadi.

Baca Juga: Geser Yang “Manual,” Selamat Datang Era Robotika di Bandara

Guna mengatasi masalah ini, perusahaan telekomunikasi terbesar kedua di Australia, Optus dikabarkan tengah aktif mengembangkan sistem robotika yang akan menjual SIM card perjalanan kepada setiap penumpang yang masuk ke bandara-bandara di Australia. Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman finder.com.au, robot humanoid kembangan Optus ini dapat mendengarkan pertanyaan dari para pelancong dalam berbagai bahasa.

Ketika ada penumpang yang hendak membeli SIM card perjalanan, robot Optus ini akan mendengarkan dan menanggapi permintaan penumpang. Lazimnya, robot ini akan merekomendasikan SIM card perjalanan sesuai kebutuhan penumpang. Setelah memilih SIM card yang hendak dibeli, maka Anda dapat dengan mudah mengaktifkannya melalui kios otomatis dengan cara memindai paspor (guna memverifikasi ID). Jika malas membayar dengan menggunakan uang tunai, Anda juga bisa memanfaatkan kartu kredit Anda untuk membayarnya. Simple, bukan?

Mungkin Anda semua akan sedikit bertanya-tanya, “mengapa sebuah robot yang notabene sangat canggih ditugaskan untuk menjual SIM card perjalanan? Mengapa tidak memerintahkan mereka untuk melakukan sebuah tugas yang lebih sulit atau berat?”

Jawabannya sederhana, karena robot dapat bekerja 24 jam/7 hari. Ya, bandara merupakan gerbang kedatangan utama bagi para pelancong yang hendak berkunjung ke Australia. Terlebih hampir semua bandara di Australia melayani penerbangan internasional selama 24 jam dalam sehari.

Baca Juga: Robot Vortex – Robot Kecil yang Lakukan Maintenance Pada Badan Pesawat Besar

Kemampuan utama yang dijual oleh pihak Optus adalah kemampuan bahasa dari robot humanoidnya – dimana perusahaan mengatakan bahwa robot ini bisa ‘menerjemahkan’ 20 bahasa, walaupun sampai saat ini robot baru bisa ‘menerjemahkan’ bahasa Inggris dan Chinese saja.

Gandeng Bosch, Mercedes-Benz Perkenalkan ‘Taksi’ Otonom di San Jose

Setelah kurang lebih satu tahun pasca mengutarakan niat untuk mengembangkan moda otonom, akhirnya dua perusahaan kenamaan asal Jerman, Mercedes-Benz dan Bosch sukses meluncurkan moda otonom S-Class yang kelak ditujukan untuk mengangkut penumpang dari San Jose (California) sebelah barat menuju ke pusat kota. Rencana yang dilontarkan oleh kedua perusahaan ini pun terbilang cukup tepat waktu, mengingat pada tahun 2018 lalu, keduanya sepakat akan merilis moda otonom di paruh kedua tahun 2019.

Baca Juga: Kembangkan Moda Otonom, Scania Masih Gunakan Bahan Bakar Nabati Terbarukan

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman theverge.com (9/12), sudah barang tentu nantinya moda ini tidak akan melakukan perjalanan dinamis layaknya moda pengangkut manual di luaran sana, melainkan moda ini hanya akan beroperasi di rute tetap yang ada di sepanjang San Carlos Street dan Stevens Creek Boulevard saja. Guna mencegah hal-hal yang tidka diinginkan, kedua perusahaan ini kabarnya akan menambahkan fitur safety drivers pada bagian bangku depan guna memantau pengoperasian dari moda otonom ini.

Kendati baik Mercedes-Benz maupun induk perusahaannya, Daimler sudah banyak berkecimpung di ranah perakitan moda otonom, namun project bersama Bosch ini akan menjadi yang pertama bagi Mercedes-Benz, mengingat moda yang dikembangkannya ditujukan untuk pasar ride-hailing atau layanan taksi.

Memang, moda otonom bukanlah sesuatu yang baru lagi di era modern ini – sejumlah perusahaan sudah terlebih dahulu berkecimpung di dalamnya, mulai dari Waymo, Lyft, Voyage, hingga raksasa manufaktur otomotif asal Jepang, Honda juga dikabarkan tengah mengembangkan moda otonomnya sendiri. Tentu saja fitur yang ditawarkan oleh semuanya berbeda, namun tetap menjual fitur driverless sebagai yang utama.

Baca Juga: City of Bryan Siap Rilis Moda Otonom Bertenaga Listrik Pada Pertengahan Oktober Mendatang!

Baik Mercedes-Benz maupun Bosch sama-sama saling mengembangkan perangkat lunak untuk mengendalikan pergerakan serta manajemen kendaraan – dimana ini akan menjadi salah satu pilar penting dalam terwujudnya ekosistem transportasi nirawak. Setidaknya, kedua perusahaan ini sudah lebih dari dua tahun dalam pengembangannya.

Perlu dicatat bahwa Mercedes-Benz merupakan salah satu dari 65 perusahaan yang berlisensi di California yang mendapatkan fasilitas untuk menguji mobil nirawak di jalan umum.

Begini Sensasi Terbang dari London ke Singapura ala Maskapai LCC

Jika pada artikel sebelumnya telah diberitakan tentang Norwegian Air Shuttle (Norwegian AS) yang diplot sebagai Low Cost Carrier (LCC) yang pernah mengoperasikan penerbangan terjauh, yaitu dari London Gatwick menuju Singapura, maka kini giliran untuk mengulas bagaimana pengalaman penumpang yang pernah menjajal rute penerbangan ini. Kira-kira, apakah yang dirasakan penumpang selama mengudara bersama Norwegian AS di rute London Gatwick – Singapura ini?

Baca Juga: London Gatwick-Singapura, Menjadi Rute Penerbangan LCC Terjauh di Dunia!

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman independent.co.uk, kendati penerbangan ini tercatat sebagai maskapai LCC, namun Norwegian AS menawarkan dua pilihan kelas di dalam penerbangan yang dilakoni dengan armada Boeing 787-9 ini – premium class dan economy class.

Masalah utama yang selama ini menggelayuti benak para penumpang maskapai penerbangan berbiaya rendah adalah soal legroom. Namun beruntung bagi para penumpang premium class Norwegian AS, dimana ukuran legroom mencapai 117cm – sebuah ruang yang cukup untuk kaki dapat melakukan ‘manuver kecil’ untuk menghindari kelelahan. Sementara untuk ukuran legroom yang ada di economy class hanyalah berkisar 79cm saja. Tentu saja, ukuran legroom di economy class ini menjadi salah satu titik perhatian, dimana agaknya Anda akan sedikit ‘tersiksa’ ketika harus mengudara selama 13 jam dari London Gatwick menuju Singapura ataupun sebaliknya.

IFE Norwegian AS. Sumber: Twitter.com

Untuk masalah hiburan, tersedia In-Flight Entertainment (IFE) yang tersemat di balik armrest masing-masing bangku – tidak seperti kebanyakan pesawat atau maskapai yang menyimpan IFE mereka di bagian belakang bangku penumpang. Selain IFE, meja lipat juga ‘disembunyikan’ di balik armrest – dimana laman sumber mengatakan bahwa ukuran armrest sendiri terbilang cukup besar sehingga bisa digunakan oleh dua penumpang sekaligus.

Pun halnya dengan tayangan yang ada di IFE Norwegian AS di rute penerbangan London Gatwick – Singapura, dimana Anda bisa menikmati berbagai film, mulai dari film jadul sampai yang baru sekaligus.

Penumpang pun akan diberikan headset serta selimut ketika mereka mengudara di rute penerbangan ini – begitu pula halnya dengan In Flight Meal, dimana jika Anda duduk di premium class, maka Anda akan disuguhkan beberapa penganan selama perjalanan.

Baca Juga: Regulasi Perusahaan Jadi ‘Separator’ Layanan LCC di Seluruh Dunia

Jika membaca deskripsi di atas, agaknya perbedaan kasta antara penerbangan full service dan berbiaya rendah saat ini sudah semakin terkikis – hanya berbeda di tempat duduk saja. Terlebih ini merupakan penerbangan LCC dengan jarak terbang terjauh di dunia, dimana fasilitas seperti makanan, selimut, headset, dan lain-lain akan menjadi hak yang akan Anda dapat sebagai penumpang.

Namun sayang, karena satu dan lain hal, Norwegian AS tidak lagi memperpanjang rute penerbangan ini per Januari 2019 kemarin.