Bandara Tianhe Wuhan, Semakin Dikenal Karena Wabah Virus Corona

Bandara Internasional Tianhe Wuhan di Cina, akhirnya resmi ditutup setelah pemerintah memutuskan mengisolasi ibu kota provinsi Hubei tersebut. Hal ini terjadi setelah wabah virus corona yang terus menyebar dan menjangkiti ribuan serta menewaskan puluhan orang. Meski telah ditutup, namun bandara ini masih digunakan sebagai ujung tombak operasi evakuasi dan logistik dalam penanganan wabah corona

Baca juga: Tak Diberitahu Pihak Maskapai, Sejumlah Penumpang Scoot Frustasi Telah Terbang Bersama 110 Orang Wuhan

Terlepas dari wabah virus corona, sebetulnya, Bandara Tianhe Wuhan mempunyai kandungan artistik yang tinggi, loh. Bandara yang melayani hampir 25 juta penumpang pada 2018 ini, dari segi nama, terinspirasi oleh salah satu galaksi yang di dalamnya terdapat planet bumi.

Seperti dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, pengambilan nama Wuhan memang berasal dari nama bandara tersebut berada. Adapun, nama Tianhe, secara harfiah, berarti “Sungai Sky”. Namun, bila ditarik mundur ke belakang, dalam bahasa China kuno, Tianhe berarti Bimasakti.

Dari berbagai referensi yang ada, memang tak terlalu detail menjelaskan asal usul penamaan nama bandara tersebut. Pada dasarnya, Cina memang memiliki masa kejayaan atas imperium besar di masa lalu. Oleh karenanya, bukan tak mungkin penamaan tersebut didasari oleh Bimasakti, sebagaimana arti Tianhe dalam bahasa Cina kuno.

Penamaan yang unik tentu sangat sejalan dengan posisi geopolitik Wuhan di Cina. Sejak beberapa tahun lalu, khususnya saat kebangkitan ekonomi Cina, Wuhan memang menjadi salah satu kota penting di Cina. Tak ayal, status kota tersebut sebagai pusat transportasi dan manufaktur menjadikan perpindahan barang dan manusia menjadi ramai. Hal tersebut setidaknya terlihat dari bandara Wuhan itu sendiri yang didaulat menjadi bandara tersibuk di Cina tengah.

Bandara Internasional Tianhe Wuhan sendiri tercatat melayani pertama kali dibuka pada 15 April 1995 untuk menggantikan Bandara Hankou Wangjiadun dan Bandara Nanhu lama sebagai bandara utama Wuhan. Bandara ini terletak di distrik Huangpi, pinggiran kota Wuhan, sekitar 26 km (16 mil) di utara pusat kota Wuhan. Selain karena sokongan bisnis, status Bandara Internasional Tianhe Wuhan sebagai bandara tersibuk di Cina tengah juga disokong oleh posisi geografisnya, yang terletak di pusat jaringan rute penerbangan Cina.

Untuk menggantikan Bandara Wangjiadun yang lama, pemerintah China mengizinkan rencana untuk membangun bandara komersial di Kota Tianhe, Distrik Huangpi, Wuhan pada 1 Juli 1985. Pembangunan tahap pertama dimulai pada Desember 1989 dan selesai pada April 1994. Awalnya, bandara tersebut hanya mengoperasikan penerbangan domestik tetapi pada tahun 2000, CAA (otoritas penerbangan China) menetapkannya kembali sebagai bandara internasional.

Baca juga: Tetap Ingin Bepergian di Tengah Ancaman Virus Corona? Berikut Tips dan Ulasannya

Saat ini, bandara tersibuk ke-14 ini memiliki rute penerbangan internasional yang tergolong banyak (sebagai Bandara internasional yan terletak di luar ibu kota), seperti Kota New York, San Francisco, London, Tokyo, Roma, Istanbul, Dubai, Paris, Sydney, Bangkok, Moskow, Osaka, Seoul, Singapura, hingga Bali.

Banyaknya rute internasional sangat masuk akal, mengingat sejak 1 Januari 2019, penumpang dari 53 negara seperti negara Uni Eropa, Jepang, Korea, Rusia, AS, saat bepergian ke negara ketiga, dapat memasuki Cina dari bandara ini tanpa visa hingga 144 jam. Sangat menarik, bukan?

SoftBank Kerja Sama dengan Navya Hadirkan Bus Otonom di Jepang

Bus otonom di Jepang akan mulai beroperasi di jalanan umum pada April 2020 mendatang. Nantinya ketika beroperasi ada sebelas bus yang akan berjalan secara otonom. Armada bus ini disediakan oleh startup Perancis yakni Navya yang bekerja sama dengan SoftBank.

Baca juga: Volvo Demonstrasikan Bus Otonom Bertenaga Listrik yang Bisa Keliling Depo!

Bus otonom tersebut ketika berjalan akan dioperasikan oleh perangkat lunak pemantauan terintegrasi yang dikembangkan sendiri oleh SB Drive yang merupakan anak perusahaan perangkat lunak SoftBank. Nantinya bus akan berjalan sejauh 2,5 kilometer di Jalanan Sakai yang merupakan sebuah kota sederhana di kawasan Tokyo.

Perhentian bus otonom pun sudah ditentukan sebelumnya yakni sekolah dan bank. Menurut CEO SB Drive, bus akan menawarkan kenyamanan praktis dan bisa dianggap sebagai elevator horisontal yang mengangkut penumpang di sepanjang rute yang telah ditentukan.

KabarPenumpang.com melansir wccftech.com (27/1/2020), sebenarnya hukum Jepang tidaklah mengizinkan adanya kendaraan otonom yang beroperasi di jalanan umum. Namun sepertinya SoftBank memiliki pengecualian karena memodifikasi penawaran yang diberikan Navya sesuai dengan peraturan Jepang.

Dalam peraturan yang dibuat dalam hukum Jepang, ada berbagai perubahan yang dilakukan yakni mencakup kursi yang ditunjuk untuk mengemudikan bus ketika terjadi keadaan darurat. Ini membuat proyek otonom tersebut diklasifikasikan sebagai sistem level 2.

Tapi karena kepercayaan diri SoftBank, mereka langsung beralih ke sistem level 4 yang sepenuhnya otonom setelah penghapusan pembatasan peraturan yang berlaku. Sebagai penyegaran, bus saat ini dianggap sebagai aplikasi paling praktis dari teknologi mengemudi otonom di Jepang karena kekurangan pengemudi dan menurunnya jumlah penumpang yang menuju ke daerah-daerah terpencil.

Meski demikian, kelayakan finansial jangka panjang proyek ini masih belum jelas walaupun kota Sakai berencana untuk mengalokasikan anggaran 520 juta yen ($4,7 juta) untuk proyek lima tahun. Kemitraan SoftBank dengan Navya menggarisbawahi ambisinya yang berkembang di bidang mengemudi mandiri atau otonom.

Raksasa Jepang ini tetap menjadi pendukung utama Uber dengan ekstensi, teknologi mengemudi mandiri miliknya. Menariknya, taruhan ini belum membuahkan hasil. Diketahui harga saham Uber anjlok secara dramatis setelah pencatatan perusahaan dan mengakhiri tahun turun sekitar 34 persen karena investor semakin skeptis mengenai prospek keuntungan berkelanjutan.

Baca juga: Sukses Uji Bus Otonom, Singapura Siap Operasionalkan di 3 Distrik Tahun Depan

Selain itu, tantangan peraturan dan masalah keselamatan penumpang karena pemeriksaan latar belakang pengemudi yang tidak memadai hanya berfungsi untuk semakin memikat selera investor. Meskipun demikian, selama kuartal ketiga tahun 2019, manajemennya meyakinkan para investor bahwa perusahaan akan dapat mencapai profitabilitas berdasarkan EBITDA pada tahun 2021.

Berbasis di Makassar, Xpressair Jadi Raja di Rute Indonesia Timur

Baru-baru ini ada kabar bahwa Xpressair akan memindahkan rute penerbangannya dari Yogyakarta ke Solo. Nah siapa Xpressair, dan maskapai ini asalnya dari mana serta menerbangkan rute apa saja dan kemana?

Baca juga: Pasar di Bandara NYIA Tak Sesuai, Xpressair Pindah ke Bandara Adi Soemarmo Maret

Xpressair sendiri merupakan maskapai yang mulai beroperasi secara komersial dengan penerbangan antara Jayapura dan Jakarta pada 23 Juni 2003. Hal ini kemudian membuat Xpressair tumbuh menjadi salah satu maskapai besar di Indonesia tepatnya di Indonesia Timur.

KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, maskapai yang berbasis di Makassar tersebut memulai penerbangannya dengan pesawat Boeing 737. Xpressair merupakan maskapai terjadwal milik swasta pertama yang menghubungkan Jakarta ke 24 tujuan domestik seperti Makassar, Ternate, Sorong, Manokwari dan Jayapura.

Makassar sebagai hub utama berfungsi untuk melayani rute penerbangan yang datang dari pulau Jawa ke kota-kota Indonesia Timur. Sedangkan Sorong menjadi hub kedua di Papua yang menghubungkan tempat-tempat terpencil di sekitar wilayah Papua Barat.

Xpressair terdaftar dalam kategori dua oleh Otoritas Penerbangan Sipil Indonesia untuk kualitas keamanan penerbangan. Pada 2014, maskapai ini sudah menerbangkan penumpang mereka ke regional yakni beberapa kota di Malaysia seperti Kuching dan Melaka.

Saat ini, Xpressair tengah dalam proses memperbanyak armada untuk melayani lebih banyak tujuan di sepanjang Papua Barat, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara. Mereka juga memiliki visi untuk menawarkan rute ke wilayah barat dan terpenuhi ketika mulai menghubungkan penumpang ke Yogyakarta, Surabaya, Pontianak dan beberapa daerah lainnya.

Pada awalnya maskapai ini bernama Express Air dan tahun 2012 memulai perjalanan baru menjadi Xpressair untuk mewakili maskapai penerbangan yang lebih modern dan ramah pelanggan. Xpressair sendiri punya slogan “Terbanglah Indonesia” yang memiliki arti, budaya dan tradisi maskapai penerbangan yang sama dengan kemajuan, motivasi baru dan modern.

Baca juga: Sebelum “Mengudara”, Kenali Dulu Yuk Kode Penerbangannya!

Untuk diketahui, Desember 2014 lalu, Xpressair bersama dengan beberapa maskapai penerbangan Indonesia lainnya masuk dalam daftar maskapai penerbangan yang dilarang di Uni Eropa dengan alasan keamanan. Xpressair juga didukung oleh PT Aero Nusantara Indonesia (ANI). Xpressair hingga 2017 memiliki sepuluh armada dengan 37 tujuan destinasi.

Boeing Akui Fitur Folding Wingtip 777X Bisa Jadi Penyebab Kecelakaan

Setelah lama tertunda, Boeing 777X akhirnya sukses terbang perdana pada Sabtu lalu. Sekalipun sempat tertunda, Boeing mengklaim bahwa pesawat tersebut akan bisa bersaing dengan kompetitornya berkat fitur folding wingtip serta beberapa inovasi lainnya. Padahal, sebelum benar-benar berhasil terbang, varian baru dari seri 777 tersebut mendapat respon negatif dari publik terkait mesin GE9X.

Baca juga: Ditengah Keraguan Soal “Folding Wingtip,” Boeing 777X Sukses Terbang Perdana

Dilansir dari laman simpleflying.com, Selasa (28/1), diantara sederet hal baru pada 777X, fitur ujung sayap yang dapat bergerak melipat (folding wingtip) dinilai sebagai fitur paling menonjol. Dengan fitur tersebut, pesawat dimungkinkan untuk menjadi lebih ramping untuk parkir di apron bandara, dari semula 71,8 meter menjadi hanya di bawah 64,8 meter.

Boeing beralasan, bahwa fitur tersebut belajar dari insiden Airbus A380 yang memaksa bandara melakukan modifikasi mahal ketika pesawat dua tingkat dengan bentang sayap sejauh 79,5 meter tersebut memulai debutnya pada 2007 silam.

Nantinya, pesawat yang dirancang untuk bersaing dengan Airbus A350 tersebut, akan memiliki dua model. Model pertama yakni 777X-8 akan memuat sekitar 384 penumpang dan memiliki jangkauan 16.093 kilometer, dan 777X-9 akan memuat sekitar 426 penumpang, dengan daya jelajah sekitar 13.491 km, serta kapasitas bahan bakar sebesar 2 juta liter lebih.

Walaupun berhasil terbang dan mengelilingi langit Washington dan Seattle selama empat jam, tetap saja, terdapat beberapa keraguan bila sewaktu-waktu folding wingtip tidak berjalan sebagaimana mestinya atau mengalami kerusakan saat diterpa berbagai tekanan, baik saat lepas landas, di udara, maupun ketika mendarat.

Boeing sendiri sudah berani memastikan bahwa fitur tersebut aman. 777X pun juga lolos tes Federal Aviation Administration (FAA) atau regulator penerbangan sipil di Amerika. Hanya saja dengan beberapa syarat. Beberapa syarat tersebut mencakup keamanan dan daya tahan bantalan, baik di darat maupun saat di udara di tengah cuaca buruk, serta sistem peringatan ke pilot jika sesuatu yang tak beres terjadi.

Selain mengajukan beberapa syarat untuk Boeing terkait wingtip, FAA juga memberikan beberapa mekanisme. Pada intinya, mekanisme tersebut memastikan bahwa folding wingtip berada pada posisi yang benar, baik saat lepas landas maupun saat mendarat.

Tak hanya itu, FAA juga mengingatkan, ketika folding wingtip tak berjalan dengan baik, hal tersebut harus terhubung ke instrumen-instrumen di dalam kokpit dalam bentuk beragam, bisa dengan suara, ataupun tombol peringatan yang menyala.

Menariknya, ketika hal itu terjadi (folding wingtip mengalami ganguan dan tidak berada posisi yang benar saat di udara) Boeing mengakui bahwa sesuatu hal bisa saja terjadi. Bahkan, mereka cukup sadar untuk mengakui di hadapan FAA, bahwa fitur tersebut masih sangat mungkin menjadi penyebab terjadinya kecelakaan.

Sekalipun Boeing belum mengeluarkan dampak pastinya saat sistem folding wingtip eror di udara, sebagian kalangan menilai bahwa hal tersebut mungkin tidak berdampak terlalu fatal. Pasalnya, bila melihat dimensi bentang sayap yang ada, harusnya penerbangan akan baik-baik saja. Folding wingtip dalam keadaan normal berada pada kisaran 71 meter dan jika melipat berada pada posisi berkisar 64 meter.

Artinya, lebar bentang sayap tersebut masih lebih besar dibanding B747-100 yang memiliki bentang sayap 59,6 meter. Padahal, baik 777X maupun 747-100, dari segi kapasitas, tak jauh berbeda. Jadi, dari segi keamanan, beberapa kalangan berpendapat tetap akan aman. Kecuali dari segi tingkat efisiensi bahan bakar, erornya folding wingtip mungkin akan membuat penerbangan tidak se-efisien yang diharapkan sebelumnya.

Baca juga: ‘Move on’ dari Kasus 737 MAX, Boeing Siap Uji Terbang Perdana Seri 777X

Boeing sendiri, hingga kini, belum memberikan detail pasti tentang bagaimana folding wingtip bekerja. Tetapi Boeing berkilah bahwa mereka telah melakukan segalanya untuk membuat folding wingtip aman.

“Ujung sayap lipat sederhana dan sangat andal dengan mekanisme penyebaran, penarikan, dan penguncian yang berlebihan. Kami merancang ujung sayap lipat seperti setiap sistem kritis penerbangan lainnya sehingga memenuhi persyaratan keselamatan,” katanya.

Tak Ada Peron di Jalur, Petugas ini Gendong Nenek Turun dari Gerbong Kereta

Seorang nenek digendong saat turun kereta ketika tiba di stasiun dan tidak ada peron karena berhenti di jalur kedua. Leng Hiang saat itu menaiki kereta ekspres dari Stasiun Hat Yai di Songkhla menuju ke Stasiun Ban Ppong di Ratchaburi pada Senin (13/1/2020) kemarin.

Baca juga: Gegara Tak Ada Kursi di Gerbong MRT, Kakek Ini Terpaksa Duduk di Lantai Kereta

Dia pergi bersama putrinya, Pimchanik Praiwusan untuk menghadiri pemakaman. Keduanya berangkat dari Hat Yai pukul 1845 waktu setempat pada hari Minggu (12/1/2020) dan tiba di Ban Pong pukul 09.43 pagi hari berikutnya. Saat itu kereta mereka terlambat satu jam ketika tiba di Ban Pong.

KabarPenumpang.com melansir dari laman bangkokpost.com (16/1/2020), saat akan turun dari kereta tidur, ternyata di jalur tersebut tidak ada peron. Kemudian seorang staf gerbong kereta ekspres itu menggendong nenek 82 tahun tersebut melintasi jalur lain untuk naik ke peron utama.

Tak hanya itu, seorang petugas lainnya juga membantu membawakan tasnya ke peron. Karena hal ini, Hiang mengaku benar-benar menghargai bantuan para petugas itu. Dia bahkan berterimakasih kepada State Railway of Thailand (SRT) yang sudah memberikan perlakuan khusus kepadanya.

“Saya benar-benar menghargai bantuannya. Saya ingin berterima kasih kepada State Railway of Thailand (SRT) karena telah merawat penumpang dengan baik,” kata Leng pada hari Kamis setelah tiba di stasiun Hat Yai dalam perjalanan kembali.

Diketahui, petugas yang menggendong Hiang bernama Yakareeya Manu. Pria 34 tahun yang merupakan penduduk asli distrik Cho Airong di Narathiwat tersebut sudah bekerja sejak 2008 di kereta api sebagai petugas keamanan di Hua Lamphong dan kini mulai bekerja sebagai staf di gerbong tidur kereta ekpres sejak tahun 2012.

Baca juga: Beberapa Lansia Justru Tak Ingin Duduk di Kereta Komuter, Ini Alasannya!

“Saya senang membantu Anda, nenek. Semoga kesehatan Anda baik,” kata Yakareeya.

Nah, bagaimana petugas kereta Indonesia dan negara lain bila ada orang lanjut usia yang kesulitan berjalan? Apakah akan melakukan hal seperti ini atau dibiarkan begitu saja karena ada keluarga disekitar mereka?

Kucing Penumpang Mati di Pesawat, Aeroflot: Petugas Bandara Harus Bertanggung Jawab

Dua ekor kucing mati dan satunya mengalami trauma dalam penerbangan dari New York ke Sofia (Bulgaria) menggunakan pesawat Aeroflot. Satu dari kucing tersebut diketahui mati ketika transit sebentar di Bandara Sheremetyevo, Moskow. Insiden ini terjadi saat Maxim Chumachenko dan ketiga kucingnya naik pesawat Aeroflot SU10 dari New York pada 22 Januari 2020 kemarin.

Baca juga: Gara-Gara Kucing Kelebihan Berat Badan, 370 Ribu ‘Miles’ Milik Pria Rusia Dibatalkan Aeroflot

Namun ketiga kucing tersebut harus masuk ke ruang kargo pesawat. Kemudian, pesawat yang mereka tumpangi menuju Sofia transit sebentar di Moskow. Ketika dia naik penerbangan kedua untuk menuju ke Sofia, seorang penumpang berkata pada Chumachenko bahwa kucing-kucingnya telah dilempar dari pesawat ketika kargo dibongkar.

Namun untuk masalah tersebut, dirinya tak mendapat jawaban yang jelas dari Aeroflot ketika meminta konfirmasi tentang kucing-kucingnya ke meja layanan. Karena masalah itu, Chumachenko diizinkan membawa kedua kucing lainnya ke kabin pesawat untuk penerbangan keduanya menuju Sofia.

Sayangnya salah satu kucingnya mati di pesawat dan satu dari yang dibawa ke dalam kabin mati ketika dibawa ke dokter hewan. Diketahui penyebab kematian kedua kucingnya karena pendarahan internal akibat trauma.

Untungnya kucing ketiga miliknya selamat meski didiagnnosa menderita radang dingin. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman themoscowtimes.com (27/1/2020), insiden ini kemudian membuat Aeroflot mengkonfirmasi bahwa kematian kucing-kucing tersebut dan meminta maaf secara terbuka pada Chumachenko dan menyatakan bahwa para petugas penanganan bagasi di Bandara Sheremetyevo bertanggung jawab atas hal tersebut.

Pihak Aeroflot menambahkan, mereka juga berencana untuk menyerukan revisi kebijakan dan teknologi transportasi hewan peliharaan di semua bandara Rusia. Namun, karena insiden ini Chumachenko mengatakan akan mengajukan tuntutan pidana atas kekejaman pada hewan kepada mereka yang bertanggung jawab.

Untuk diketahui, masalah terkait hewan pada Aeroflot bukanlah yang pertama kali. Bulan November lalu, maskapai Rusia itu di kritik para pecinta binatang karena sudah menarik semua miles milik seorang penumpang yang memasukkan seekor kucing dengan berat badan berlebih ke kabin sebagai barang bawaan.

Padahal pemilik kucing tersebut melakukan hal itu karena khawatir kucingnya tak selamat di ruang kargo. Bahkan hal ini pun mengundang perhatian dari warganet di Twitter dan bereaksi atas insiden tersebut.

“Ingat bahwa Aeroflot menelanjangi seorang pria karena menyeret kucing gemuk bersamanya ke kabin? Hari ini, selama transportasi oleh Aeroflot yang sama, dua kucing mati, yang ketiga beku. Aeroflot adalah perusahaan yang membenci kucing.” tulis @GusevaOlyaa.

“Dana Perlindungan Kucing Gemuk dibuka kembali. Apa-apaan ini, Aeroflot? ” kata @PolinaPars.

Baca juga: Gegara Seekor Merpati di Kabin, Penerbangan Aeroflot Tertunda di Moskow

“Ketika satu-satunya tiket yang tersisa ada di Aeroflot, ayolah doggies, kami akan berangkat.” tulis @Spellann.

“Bisakah seseorang tolong jelaskan kepadaku mengapa Aeroflot melarang hewan peliharaan dalam penerbangan? Mereka hanya akan menghabiskan seluruh penerbangan dalam peti di bawah kursi Anda. Dan mengapa aturan yang sama tidak berlaku untuk anak-anak? Di bawah 3 tahun mereka jauh kurang pintar daripada hewan … dan mereka berperilaku jauh lebih buruk.” komentar @Cattiva777.

Liburan Imlek Diperpanjang, Wuhan Masih Akan Jadi ‘Kota Mati’

Cina mengumumkan telah memperpanjang hari libur nasional untuk Tahun Baru Imlek hingga hari Minggu mendatang. Tak lama berselang, negeri Tirai Bambu juga akan mengisolasi lebih banyak kota ketika jumlah korban tewas akibat virus corona meningkat menjadi 81 orang. Mayoritas korban tewas tersebut berasal dari kalangan lanjut usia yang sebelumnya memang memiliki riwayat penyakit, khususnya pernapasan.

Baca juga: Tetap Ingin Bepergian di Tengah Ancaman Virus Corona? Berikut Tips dan Ulasannya

Kota Wuhan sendiri, dimana wabah mematikan tersebut bermula, hingga kini masih tertutup rapat bagi siapapun yang ingin keluar masuk, dengan semua bandara, stasiun kereta api, dan bus bak mati suri. Tak hanya Wuhan, kota-kota lainnya di seluruh Provinsi Hubei dan beberapa kota-kota lainnya juga sudah diisolasi.

Akibat diperpanjangnya hari libur nasional, Wuhan, dan juga kota-kota lainnya otomatis masih akan menjadi layaknya ‘kota mati’. Seperti video yang banyak beredar di media sosial, sejak kota yang menjadi pusat transportasi dan manufaktur di Cina tersebut diisolasi, di sudut-sudut kota, jalanan tampak lengang dan hampir tak ada manusia yang beraktivitas. Seakan-akan, kota tersebut seperti ditinggal warganya, yang mengingatkan kita pada ‘kota mati’ lainnya, salah satunya Chernobyl di Ukraina. Bedanya, jika Chernobyl menjadi ‘kota mati’ akibat radiasi nuklir, Wuhan diakibatkan oleh virus corona.

Berbeda dengan Wuhan, di Shanghai, masa libur nasional bahkan diperpanjang hingga tanggal 10 Februari mendatang. Sejalan dengan hal itu, perusahaan-perusahaan di kota berjuluk seribu cahaya itu pun menginstruksikan karyawannya untuk bekerja dari rumah, guna meminimalisir aktivitas di luar rumah.

Menurut spesialis risiko perjalanan dari Copenhagen, Denmark, Riskline, seperti dikutip dari buyingbusinesstravel.com, Selasa (28/1), isolasi yang dilakukan tentu saja telah berdampak besar pada aktivitas perjalanan udara, kereta api, dan transportasi umum lainnya.

Sementara itu, di saat yang bersamaan, rumah sakit di China justru terus-menerus berada dalam tekanan hebat, khususnya di Provinsi Hubei, di mana antrean panjang terduga suspect virus corona belum juga terurai.

https://twitter.com/i/status/1221423180134350848

Dalam video yang juga beredar di media sosial, tekanan hebat para pekerja medis di China, terlebih setelah salah satu dokter yang menangani pasien virus corona tewas, membuat beberapa di antara mereka mengalami stres hebat. Bahkan di beberapa kasus, terdapat pekerja medis yang teriak histeris akibat tak kuasa melihat banyaknya pasien.

Baca juga: Kereta Terakhir Selamatkan Wisatawan Asal Singapura dari Isolasi Coronavirus di Wuhan

Namun, jika bepergian ke Cina mutlak diperlukan, Riskline menghimbau agar para pelancong wajib mengikuti arahan dari perwakilan konsuler dan otoritas kesehatan setempat. Selain itu, mereka juga harus meminta perlindungan kepada biro perjalanan dan perwakilan konsuler untuk memastikan keamanan mereka. Termasuk, bila sewaktu-waktu kota-kota yang dikunjungi para pelancong akan diisolasi, mereka harus membawa para pelancong keluar sesegera mungkin.

Dalam menekan risiko tertular virus, pelancong juga harus melakukan tindakan preventif, seperti menjaga kesehatan, mencuci tangan setiap beraktivitas, khususnya dari luar rumah, hingga menggunakan masker yang direkomendasikan. Jika terdapat tanda-tanda infeksi, seperti demam, diare, sesak napas dan batuk, pelancong harus sesegera mungkin berkonsulitasi dengan petugas medis.

Banyak Perombakan, Wahana Udara Terbesar Airlander 10 Siap Komersial di 2024

Setelah mengumumkan akan mengkomersialkan wahana udara terbesar pada 2020, Hybrid Air Vehicles (HAV) akhirnya dengan rendah hati memastikan rencana tersebut molor. Hal tersebut didasari oleh banyak hal, seperti perubahan desain, dimensi, hingga teknologi mutakhir terbarukan.

Baca juga: Gagal Saat Uji Terbang, Hybrid Air Vehicle Tidak Gentar Komersialkan Airlander 10

Seperti dikutip dari robbreport.com, Senin (27/1), belum lama ini, perusahaan kapal udara asal Inggris tersebut (HAV) kembali muncul ke publik. Kemunculannya tersebut dibarengi dengan berbagai bocoran terbaru soal perkembangan kapal udara terbesarnya.

Seperti diketahui sebelumnya, sejak berhasil mengujicoba prototipe Airlander 10 pada 2017 lalu, lengkap dengan beberapa insiden yang mewarnainya, HAV seperti menghilang bak hantu. Tak ada informasi apapun mengenai perkembangan wahana udara yang mirip Kapal Udara Zeppelin di masa lalu tersebut.

Kemunculan HAV tentu mengejutkan berbagai pihak. Terlebih, impian HAV untuk mengkomersialkan wahana udara tersebut memang ditentang banyak pihak. Namun, HAV tetap pada pendiriannya. Justru saat ini, mereka sudah mendapatkan pakem terbaru, dengan berbagai transformasi dari prototipe sebelumnya.

Airlander 10 yang sedang dikembangkan saat ini nantinya akan berwujud lebih besar, menjadi 97 meter dari sebelumnya hanya 92 meter. Selain itu, bagian depannya akan dibuat lebih bulat, lengkap dengan bagian ekor terbaru. Bentuk mutakhir tersebut juga diklaim akan lebih efisien. Bahkan, diklaim mencapai emisi karbon 75 persen lebih rendah dari pesawat atau kapal udara sejenis. Model pendaratannya pun juga telah berubah dari jenis pendaratan tipe helikopter menjadi model pendaratan pesawat dengan dukungan enam kaki.

Tak hanya itu, Airlander 10 yang telah dimutahirkan juga dilengkapi dengan kabin yang lebih luas dan lebih panjang untuk penumpang dan kargo. Dengan model lebih panjang, kabin utama (tidak termasuk dek kapal) menawarkan ruangan sebesar 640 meter persegi, memastikannya mewah dan nyaman untuk penerbangan premium ke kutub utara yang menjadi tujuan Airlander 10.

Dengan kapasitas 16 penumpang, model next-gen juga memungkinkan “The Flying Bum” dapat tetap di langit selama tiga hari penuh dan memiliki daya jelajah sekitar 3704 kilometer. Spesifikasi tersebut digadang-gadang membuat penumpang jauh lebih nyaman dibanding pesawat konvensional.

Perlu diketahui, wahana udara tersebut dapat terbang lebih lama di udara karena menggunakan aerodinamika dan teknologi yang lebih ringan dari udara untuk menghasilkan daya angkat, yang memungkinkan kendaraan untuk tetap tinggi selama beberapa pekan.

Baca juga: Bell Tampilkan Desain Teknologi Taksi Udara

Guna merealisasikan semuanya, saat ini, tim juga membuat penyesuaian untuk meningkatkan penanganan di semua mode penerbangan — lepas landas, naik, mengudara, turun, atau mendarat — dan menambahkan sistem penggerak maju dan teknologi pendorong baru. Sebagai tambahan, kini HAV juga sedang mengembangkan sistem propulsi listrik dengan Collins Aerospace dan University of Nottingham, yang memungkinkan kapal udara menyentuh angka 0 karbon persen.

Tak sabar bagaimana hasilnya? Berbagai pemutakhiran tersebut diakui memang membutuhkan waktu agak lama. Oleh karenanya, HAV memperkirakan Airlander 10 pertama akan kembali mengudara pada 2024 mendatang.

Beroperasi di 2027, JR Central Batasi Kecepatan SCMaglev ‘Hanya’ 500 Km Per Jam!

Kereta cepat SCMaglev atau Superconducting Magnetic Levitation sudah mulai diuji coba oleh Jepang dan rencananya akan mulai beroperasi penuh pada tahun 2027. JR Central yang akan mengoperasikan kereta Maglev ini berencana akan mulai meluncurkannya di jalur Tokyo- Nagoya, kemudian jalur kedua akan diperpanjang dari Nagoya ke Osaka sepuluh tahun kemudian, yakni di tahun 2037.

Baca juga: Di 2027, Jepang Hadirkan Kereta Cepat Maglev Tokyo-Nagoya

Dalam tahap uji coba perdana SCMaglev memulai simulasinya di Taman Kereta Api di Nagoya. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman hurriyetdailynews.com (25/1/2020), kereta ini memiliki konsep yang mirip dengan pesawat terbang, dimana pertama berjalan kereta akan bergerak dengan roda. Kemudian setelah mencapai kecepatan tertentu, roda kereta akan masuk ke bagian dalam kereta.

Tak hanya itu, Maglev hanya memiliki sedikit getaran, dan ketika melaju penumpang bisa saja tak sadar kereta sudah melintas. Apalagi ketika sudah melaju dalam kecepatan tinggi, maka getaran pun akan semakin berkurang. SCMaglev sendiri dalam uji cobanya mampu melaju dengan kecepatan 603 km per jam. Namun nantinya jika mulai beroperasi secara komersial, kecepatan maksimumnya dibatasi 500 km per jam.

Alasan pembatasan kecepatan ialah JR Central lebih memprioritaskan keselamatan dibandingkan kecepatan. Pengerjaan penelitian dan pengembangan proyek SCMaglev telah dimulai tahun 2014 lalu. Kereta ini mulai dikembangkan karena Jepang memandangnya sebagai teknologi kereta api di masa depan.

Menggunakan propulsi elektromagnetik, kereta ini melaju sekitar sepuluh sentimeter di udara. Di jalur Maglev, gulungan magnet terletak di samping rel. Ini akan mendorong magnet untuk terintegrasi dengan kereta yang tengah melaju di udara. Di Maglev, kecepatan yang meningkat akan memudahkan dalam menghilangkan gaya gesekan. Sistem levitasi magnetik menjaga kereta tetap seimbang dan mencegahnya tergelincir.

“Ada batas tertentu yang bisa mereka capai dengan menggunakan roda dan kereta api karena ada hambatan gesekan. Tetapi menurut sistem baru, mereka mengangkat kereta itu sendiri menggunakan kekuatan magnet. Memanfaatkan kekuatan magnet untuk mengangkatnya dan menggunakan kekuatan yang sama untuk menarik kereta ke depan. Dengan cara ini mereka dapat mengurangi daya tahan sehingga mereka dapat membiarkan kereta bergerak dengan sangat cepat,” ujar seorang pejabat Jepang.

Baca juga: Gara-gara Jalur 9 Km di Shizuoka, Pembangunan Jalur Maglev Terancam Menggantung

Kepala Kantor Kerjasama Internasional, Kebijakan Internasional dan Divisi Proyek Biro Kereta Api Shikama Koji mengatakan, kereta Maglev telah selesai. Saat ini tengah dalam pengadaan untuk pengerjaan konstruksi rel.

Pasar di Bandara NYIA Tak Sesuai, Xpressair Pindah ke Bandara Adi Soemarmo Maret

Xpressair pada Maret 2020 rencananya akan mulai memindahkan lokasi penerbangannya dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta ke Bandara Adi Soemarmo, Solo. Namun apa alasannya tidak memindahkan ke New Yogyakarta International Airport (NYIA)?

Baca juga: Pembangunan Capai 90 Persen, Maret 2020 Seluruh Penerbangan di Bandara Adisutjipto Pindah ke YIA

Ternyata Manager Bandara Adi Soemarmo Abdullah Usman mengatakan bahwa, maskapai ini belum memiliki alat Performance Based Navigation (PNB). Di mana navigasinya harus menggunakan satelit.

“Maskapai ini belum memiliki alat PBN (Performance Based Navigation). Jadi navigasinya harus pakai satelit, karena nggak punya terus geser ke sini,” kata Abdullah.

Namun tak hanya masalah navigasi Sales and Corporate Manager Xpress Air, Irfan mengatakan masalah market juga menjadi salah satu penyebabnya.

“Kami lebih memilih ke Solo atau Semarang karena melihat marketnya. Kalau di Bandara baru Kulon Progo permasalahannya hampir mirip dengan Kertajati yang belum banyak integrasi transportasi lain,” kata Irfan yang dihubungi KabarPenumpang.com, Senin (27/1/2020).

Dia menambahkan Bandara Adi Soemarmo sudah memiliki kereta bandara. Hal ini memudahkan penumpang menuju ke Stasiun Balapan Solo dari bandara atau sebaliknya. Bisa dikatakan, moda transportasi integrasi ini menjadi satu nilai yang dipilih Xpressair berpindah ke Bandara Adi Soemarmo.

Ketika ditanya apakah memiliki hub di Kertajati selain Makassar? Irfan mengatakan, hub utama mereka hanya ada di Makassar dan dia mengaku, maskapai Xpressair tidak menerbangkan pesawat mereka dari Kertajati. Sebagai informasi, situs wikipedia.org menginformasikan Xpressair memiliki hub di Kertajati.  “Kami justru tidak punya hub utama di Kertajati. Bahkan Xpressair tidak punya rute terbang sama sekali dari sana,” tambahnya.

Baca juga: Gratis Hingga Februari 2020, KA Bandara Adi Soemarmo Mulai Beroperasi

Nantinya setelah berpindah ke Adi Soemarmo, rute yang akan dilayani maskapai berbasis di Makassar ini yaitu Palembang, Samarinda, Pontianak dan Lampung. Diketahui, maskapai tersebut selama melayani rute Yogyakarta ke Kalimantan memiliki okupansi (keterisian penumpang) dalam penerbangannya cukup bagus dengan rata-rata mencapai 80 persen dari kapasitas satu pesawat 150 orang.