Virus Corona Sebabkan Jalur Ferry Cina-Jepang ‘Terputus’ Setelah 35 Tahun

Kekhawatiran masyarakat terhadap wabah virus corona terjadi dimana-mana. Di dalam negeri Cina sendiri, tak terhitung banyaknya warga yang menolak kedatangan orang-orang dari Wuhan, kota yang diduga menjadi tempat pertama kali virus corona menyebar. Di berbagai belahan dunia lainnya, kejadian sejenis juga banyak terjadi.

Baca juga: Penerbangan ke Shanghai Rusuh, Penumpang China Southern Airlines Tolak Terbang Bersama 16 Orang Wuhan

Akibatnya, kekhawatiran berlebih tersebut menjadi momok tersendiri bagi perekonomian Cina, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Selain pukulan dari luar dengan adanya travel advice ke Cina dari banyak negara, pukulan telak juga datang dari dalam negeri dengan semakin banyaknya kota-kota yang warganya terinfeksi. Bahkan, keputusan pemerintah Cina untuk mengisolasi juga turut menyumbang anjloknya perekonomian Negeri Tirai Bambu itu.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, berhentinya layanan transportasi udara, laut, dan darat, kekhwatiran dunia internasional, dan isolasi yang dilakukan, telah menyebabkan perjalanan hingga hari pertama Imlek kemarin anjlok 28,8 persen. Adapun rinciannya, perjalanan udara turun 41,6 persen, kereta turun 41,5 persen, dan darat turun 25 persen.

Dalam bidang perdagangan pun juga terkena imbas yang parah. Banyak pengamat yang berpendapat bahwa perekonomian Cina akan mengalami penurunan hingga di angka 6 persen. Hal itu tentu sangat wajar bila melihat dari berbagai reaksi mitra dagang China.

Baca juga: Tak Diberitahu Pihak Maskapai, Sejumlah Penumpang Scoot Frustasi Telah Terbang Bersama 110 Orang Wuhan

Yang terbaru, seperti dikutip dari maritimebulletin.ne, Rabu, (29/1), Jepang memutuskan untuk menghentikan sementara jalur ferry antara Jepang dan China, yang menghubungkan Kobe, Osaka, dan Shanghai sejak 1985. Jalur tersebut ditangguhkan sampai waktu yang tak ditentukan, mengingat virus corona masih terus menghantui masyarakat dunia, tak terkecuali di dalam jalur perdagangan tersebut. Jepang berdalih, bila jalur perdangan terus aktif, maka akan sangat membahayakan seluruh pelaku bisnis, khususnya para petugas di lapangan.

Wabah virus corona sendiri, hingga kini sedikitnya telah menewaskan 130 orang di Cina dan membuat hampir 6.000 orang terinfeksi di seluruh dunia. Krisis akibat wabah yang semakin intensif tersebut juga telah memaksa pihak berwenang mengkarantina setidaknya 56 juta orang yang tinggal di Provinsi Hubei, China tengah, termasuk Wuhan, dan membatalkan perayaan Tahun Baru Imlek di seluruh negeri.

Punya Tarif Paling Murah Diantara Kereta Perintis, KA Cut Meutia Dapat Subsidi Rp18,8 Miliar

Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan melakukan penandatanganan kontrak kereta perintis dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Adanya penandatangan tersebut membuat PT KAI akhirnya resmi mengelola lima kereta perintis yang ada di Indonesia.

Baca juga: Lagi di Aceh? Jangan Lupa Naik Kereta Diesel ‘Perintis’ Cut Meutia

Kelima kereta ini mendapat subsidi sekitar Rp159 miliar. Salah satu kereta perintis yang mendapat alokasi subsidi yakni kereta api Cut Meutia. KA Cut Meutia sendiri merupakan kereta perintis yang ada di Aceh dan mengular dari Stasiun Krueng Mane menuju ke Bungkaih dan berakhir di Krueng Geukueh.

KA ini masuk dalam Divisi Regional (Divre) I Sumatera Utara dan Aceh. KA Cut Meutia ini mendapat alokasi dana subsidi sekitar Rp18,8 miliar. Dikatakan Dirjen Perkeretaapian Kemenhub, Zulfikri bahwa KA yang beroperasi di Aceh ini memiliki tarif paling murah diantara yang lain yakni seribu rupiah sekali jalan.

“Namanya perintis ya kita masih murah sekali ada yang seribu rupiah itu di Aceh. Penetapan tarifnya sendiri bergam dengan mempertimbangkan ability to pay (ATP) dan willingness to pay (WTP). Tarif ini kita evaluasi terus setiap tahun,” kata Zulfikri.

Diketahui, KA Cut MEutia sendri mulai uji coba pada 1 Desember 2013 lalu dan sempat beroperasi pada Juli 2014. Kemudian pada 3 November 2016, KA perintis Aceh tersebut mulai beroperasi kembali dan rangkaiannya diistirahatkan di Depo Bungkaih setelah digunakan.

KA ini namanya diambil dari pahlawan wanita asal Aceh yakni Cut Nyak Meutia. Beroperasi dengan jarak 11,3 km dan mampu mengangkut 132 penumpang dengan menempuh waktu 32 menit dari Stasiun Krueng Mane ke Stasiun Krueng Geukueh.

KA ini juga hanya dibolehkan melaju dengan kecepatan maksimal 40 km per jam. Rangkaian KA Cut Meutia dilayani dengan kereta diesel Indonesia (KRDI) buatan PT INKA.

Baca juga: Terobsesi Jakarta, Banda Aceh Rencanakan Bangun MRT

Menurut Gapeka tahun 2017, KA Cut Meutia berangkat dari Stasiun Krueng Geukueh sebanyak empat kali yakni pukul 08.27 WIB, 10.05 WIB, 15.24 WIb dan 17.05 WIB. Sedangkan yang berangkat daru Kureng Mane hanya tiga kali yakni pukul 09.15 WIB, 16.15 WIB dan 17.55 WIB.

Penerbangan ke Shanghai Rusuh, Penumpang China Southern Airlines Tolak Terbang Bersama 16 Orang Wuhan

Setelah beberapa hari lalu penumpang Scoot frustasi akibat tak diberitahu pihak maskapai bahwa mereka terbang bersama 110 orang Wuhan, belum lama ini hal tersebut kembali terjadi. Bedanya, kali ini, seorang penumpang berhasil memergoki penumpang lain dari Wuhan minum obat anti demam. Ujungnya, mereka pun menolak terbang dan menuntut maskapai mengeluarkan orang-orang Wuhan dari penerbangan.

Baca juga: Tak Diberitahu Pihak Maskapai, Sejumlah Penumpang Scoot Frustasi Telah Terbang Bersama 110 Orang Wuhan

Seperti dikutip dari laman dailymail.co.uk, Rabu, (29/1), drama penolakan tersebut dilaporkan terjadi di Jepang, pada hari Selasa kemarin, ketika sekitar 70 penumpang dan 16 orang Wuhan tengah bersiap untuk melakukan penerbangan CZ380 Nagoya (Bandara Internasional Chubu Centrair) – Shanghai (Shanghai Pudong International Airport). Saat itu, seorang wanita parauh baya asal Shanghai awalnya hanya duduk di ruang tunggu sambil melihat-lihat beberapa orang di seberangnya berbicara satu sama lain dalam dialek Wuhan.

Tak lama berselang, salah satu dari mereka tertangkap basah meminum obat anti demam, di tengah rekan-rekannya yang sedang berbincang dalam dialek Wuhan tersebut. Melihat hal itu, perempuan paruh baya tersebut langsung memberi tahu ke rekan-rekannya sesama dari Shanghai atas apa yang ia lihat. Mereka pun kemudian ramai-ramai mengadu ke pihak maskapai tentang keberadaan orang-orang Wuhan di dalam penerbangan tersebut. Khususnya terhadap orang yang diduga demam tadi.

Akibat insiden yang terjadi 30 menit sebelum penerbangan tersebut, pihak maskapai pun kalang kabut untuk melerai kedua belah pihak. Jadwal penerbangan pun molor hingga lima jam. Padahal, penerbangan China Southern Airlines Nagoya (NGO) – Shanghai (PVG) sejatinya hanya membutuhkan waktu selama dua jam.

Pada akhirnya, orang-orang Wuhan tetap diizinkan berangkat, setelah perwakilan dari Konsulat Jenderal Cina di Nagoya turun tangan. Selain itu, otoritas bandara juga mengutus petugas medis untuk mengukur suhu tubuh setiap penumpang yang salah satunya ditemukan diduga mengalami sedikit demam. Penumpang tersebut pun akhirnya dikeluarkan dari penerbangan.

Salah satu dari orang-orang Wuhan yang berada di penerbangan tersebut tak kuasa menahan amarah dan kemudian membagikan kisah mereka di media sosial Twitter versi Cina, Weibo, dengan unggahan berikut.

“Kami tidak bisa kembali ke rumah. Tetapi setengah jam sebelum waktu keberangkatan, kelompok orang Shanghai ini mengeluh ke bandara dan menolak untuk melakukan penerbangan yang sama dengan kami. Apakah mereka benar-benar teman sebangsa kita? Kami juga korban. Ketika kami pergi, pemerintah tidak menutup kota. Kami di sini bukan untuk menghindari bencana, kami menikmati liburan seperti biasa. Siapa yang akan memikirkan situasi ini?”

Namun, bukan simpati yang didapat justru cibiran. Di antara netizen ada yang mengatakan bahwa penumpang asal Shanghai berada dalam posisi yang benar untuk memprotes maskapai atas keberadaan mereka (orang-orang Wuhan). Yang lainnya malah meminta orang-orang Wuhan tersebut untuk secara sukarela mengasingkan diri (mengkarantina).

Baca juga: Cegah Coronavirus, Angkasa Pura I Lakukan Pemeriksaan Kesehatan Penumpang Asal Cina

Wabah virus corona sendiri hingga kini sedikitnya telah menewaskan 130 orang di Cina dan membuat hampir 6.000 orang terinfeksi di seluruh dunia. Krisis akibat wabah yang semakin intensif tersebut juga telah memaksa pihak berwenang mengkarantina setidaknya 56 juta orang yang tinggal di Provinsi Hubei, Cina tengah, termasuk Wuhan, dan membatalkan perayaan Tahun Baru Imlek di seluruh negeri.

Menanggapi insiden di Nagoya itu, otoritas Cina sebetulnya sudah mengingatkan seluruh warganya agar tidak membeda-bedakan orang-orang dari Provinsi Hubei, khususnya terkait wabah virus corona.

TrollyBus Dipilih untuk Transportasi Koneksi Bandara Bali Utara dan Selatan

Untuk menemani Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai yang mulai overload, Bali juga akan membangun bandara baru di bagian utaranya. Namun sebelum pembangunan tersebut terlaksana Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, harus ada angkutan massal yang terkoneksi diantara kedua wilayah tersebut.

Baca juga: Setelah 2 Tahun Berlalu, Bagaimana Nasib Pembangunan Bandara Bali Utara?

Dia mengatakan, dari selatan ke utara banyak alternatif yang sudah dipikirkan pemerintah yakni jalan tol, bypass, rel kereta api hingga LRT. Tapi, Budi Karya mengatakan, jika menggunakan LRT akan mengeluarkan biaya yang mahal dan untuk kereta api akan sulit menanjak.

“LRT itu mahal, kereta sulit menanjak. Kalau jalan tol atau bypass akan merusak tata ruang sekitar. Kita pilih kendaraan semacam trollybus dengan dedicated jalur di mana dia hanya hanya butuh 10-15 meter dan biaya lebih murah,” kata Budi Karya yang ditemui usai konfrensi pers di Kementerian Perhubungan, Selasa (28/1/2020).

Budi Karya mengatakan, trollybus tersebut menjadi pilihan karena biaya yang relatif murah. Menurutnya, bus bisa melakukan yang tidak bisa dilakukan kereta api seperti crossing dari selatan naik ke atas dan kemudian turun lagi ke bawah.

“Satu inisiatif dari kita, kita minta dirjen perkeretaapian melakukan ini. Pemilihan trollybus juga belum final tapi dalam finalisasi,” kata Budi Karya.

Dia menambahkan, selain murah, pemilihan trollybus juga ramah lingkungan karena tidak mengganggu tata ruang yang ada saat ini di Bali. Budi mengatakan proyek ini akan mulai dilaksanakn tahun 2021 mendatang.

“PT KAI cari partner dan tahun 2021 kita sudah mulai tender. Dalam 3-4 bulan ini selesai penentuan lokasi (penlok) untuk Bandara Internasional Bali Utara (BIBU) tersebut,” jelasnya.

Dirjen Perkeretaapian Kemenhub, Zulfikri menambahkan, karena efisiensi trollybus tersebut, maka tidak perlu bangunan konstruksi. Sebab bisa menggunakan jalanan biasa sebagai tracknya.

“Dia tidak bangun konstruksi dan ini sangat hemat bahkan jauh lebih hemat daripada bangun LRT. Nanti kita ada virtual track di jalan untuk trollybus tersebut dan kita kaji. Karena pakai listrik ini lebih hemat energi dan modelnya kita mengacu ke Eropa,” kata Zulfikri kepada KabarPenumpang.com.

Baca juga: Tengah Dikaji Pemerintah, Apakah O-Bahn Bakal Mengular di Indonesia?

Untuk diketahui, kabar pembangunan BIBU sendiri gaungnya sudah dari 2017 lalu. Bahkan usulan rencanya adalah akan mengakomodasi semua maskapai berbiaya hemat (LCC).

Bandara Tianhe Wuhan, Semakin Dikenal Karena Wabah Virus Corona

Bandara Internasional Tianhe Wuhan di Cina, akhirnya resmi ditutup setelah pemerintah memutuskan mengisolasi ibu kota provinsi Hubei tersebut. Hal ini terjadi setelah wabah virus corona yang terus menyebar dan menjangkiti ribuan serta menewaskan puluhan orang. Meski telah ditutup, namun bandara ini masih digunakan sebagai ujung tombak operasi evakuasi dan logistik dalam penanganan wabah corona

Baca juga: Tak Diberitahu Pihak Maskapai, Sejumlah Penumpang Scoot Frustasi Telah Terbang Bersama 110 Orang Wuhan

Terlepas dari wabah virus corona, sebetulnya, Bandara Tianhe Wuhan mempunyai kandungan artistik yang tinggi, loh. Bandara yang melayani hampir 25 juta penumpang pada 2018 ini, dari segi nama, terinspirasi oleh salah satu galaksi yang di dalamnya terdapat planet bumi.

Seperti dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, pengambilan nama Wuhan memang berasal dari nama bandara tersebut berada. Adapun, nama Tianhe, secara harfiah, berarti “Sungai Sky”. Namun, bila ditarik mundur ke belakang, dalam bahasa China kuno, Tianhe berarti Bimasakti.

Dari berbagai referensi yang ada, memang tak terlalu detail menjelaskan asal usul penamaan nama bandara tersebut. Pada dasarnya, Cina memang memiliki masa kejayaan atas imperium besar di masa lalu. Oleh karenanya, bukan tak mungkin penamaan tersebut didasari oleh Bimasakti, sebagaimana arti Tianhe dalam bahasa Cina kuno.

Penamaan yang unik tentu sangat sejalan dengan posisi geopolitik Wuhan di Cina. Sejak beberapa tahun lalu, khususnya saat kebangkitan ekonomi Cina, Wuhan memang menjadi salah satu kota penting di Cina. Tak ayal, status kota tersebut sebagai pusat transportasi dan manufaktur menjadikan perpindahan barang dan manusia menjadi ramai. Hal tersebut setidaknya terlihat dari bandara Wuhan itu sendiri yang didaulat menjadi bandara tersibuk di Cina tengah.

Bandara Internasional Tianhe Wuhan sendiri tercatat melayani pertama kali dibuka pada 15 April 1995 untuk menggantikan Bandara Hankou Wangjiadun dan Bandara Nanhu lama sebagai bandara utama Wuhan. Bandara ini terletak di distrik Huangpi, pinggiran kota Wuhan, sekitar 26 km (16 mil) di utara pusat kota Wuhan. Selain karena sokongan bisnis, status Bandara Internasional Tianhe Wuhan sebagai bandara tersibuk di Cina tengah juga disokong oleh posisi geografisnya, yang terletak di pusat jaringan rute penerbangan Cina.

Untuk menggantikan Bandara Wangjiadun yang lama, pemerintah China mengizinkan rencana untuk membangun bandara komersial di Kota Tianhe, Distrik Huangpi, Wuhan pada 1 Juli 1985. Pembangunan tahap pertama dimulai pada Desember 1989 dan selesai pada April 1994. Awalnya, bandara tersebut hanya mengoperasikan penerbangan domestik tetapi pada tahun 2000, CAA (otoritas penerbangan China) menetapkannya kembali sebagai bandara internasional.

Baca juga: Tetap Ingin Bepergian di Tengah Ancaman Virus Corona? Berikut Tips dan Ulasannya

Saat ini, bandara tersibuk ke-14 ini memiliki rute penerbangan internasional yang tergolong banyak (sebagai Bandara internasional yan terletak di luar ibu kota), seperti Kota New York, San Francisco, London, Tokyo, Roma, Istanbul, Dubai, Paris, Sydney, Bangkok, Moskow, Osaka, Seoul, Singapura, hingga Bali.

Banyaknya rute internasional sangat masuk akal, mengingat sejak 1 Januari 2019, penumpang dari 53 negara seperti negara Uni Eropa, Jepang, Korea, Rusia, AS, saat bepergian ke negara ketiga, dapat memasuki Cina dari bandara ini tanpa visa hingga 144 jam. Sangat menarik, bukan?

SoftBank Kerja Sama dengan Navya Hadirkan Bus Otonom di Jepang

Bus otonom di Jepang akan mulai beroperasi di jalanan umum pada April 2020 mendatang. Nantinya ketika beroperasi ada sebelas bus yang akan berjalan secara otonom. Armada bus ini disediakan oleh startup Perancis yakni Navya yang bekerja sama dengan SoftBank.

Baca juga: Volvo Demonstrasikan Bus Otonom Bertenaga Listrik yang Bisa Keliling Depo!

Bus otonom tersebut ketika berjalan akan dioperasikan oleh perangkat lunak pemantauan terintegrasi yang dikembangkan sendiri oleh SB Drive yang merupakan anak perusahaan perangkat lunak SoftBank. Nantinya bus akan berjalan sejauh 2,5 kilometer di Jalanan Sakai yang merupakan sebuah kota sederhana di kawasan Tokyo.

Perhentian bus otonom pun sudah ditentukan sebelumnya yakni sekolah dan bank. Menurut CEO SB Drive, bus akan menawarkan kenyamanan praktis dan bisa dianggap sebagai elevator horisontal yang mengangkut penumpang di sepanjang rute yang telah ditentukan.

KabarPenumpang.com melansir wccftech.com (27/1/2020), sebenarnya hukum Jepang tidaklah mengizinkan adanya kendaraan otonom yang beroperasi di jalanan umum. Namun sepertinya SoftBank memiliki pengecualian karena memodifikasi penawaran yang diberikan Navya sesuai dengan peraturan Jepang.

Dalam peraturan yang dibuat dalam hukum Jepang, ada berbagai perubahan yang dilakukan yakni mencakup kursi yang ditunjuk untuk mengemudikan bus ketika terjadi keadaan darurat. Ini membuat proyek otonom tersebut diklasifikasikan sebagai sistem level 2.

Tapi karena kepercayaan diri SoftBank, mereka langsung beralih ke sistem level 4 yang sepenuhnya otonom setelah penghapusan pembatasan peraturan yang berlaku. Sebagai penyegaran, bus saat ini dianggap sebagai aplikasi paling praktis dari teknologi mengemudi otonom di Jepang karena kekurangan pengemudi dan menurunnya jumlah penumpang yang menuju ke daerah-daerah terpencil.

Meski demikian, kelayakan finansial jangka panjang proyek ini masih belum jelas walaupun kota Sakai berencana untuk mengalokasikan anggaran 520 juta yen ($4,7 juta) untuk proyek lima tahun. Kemitraan SoftBank dengan Navya menggarisbawahi ambisinya yang berkembang di bidang mengemudi mandiri atau otonom.

Raksasa Jepang ini tetap menjadi pendukung utama Uber dengan ekstensi, teknologi mengemudi mandiri miliknya. Menariknya, taruhan ini belum membuahkan hasil. Diketahui harga saham Uber anjlok secara dramatis setelah pencatatan perusahaan dan mengakhiri tahun turun sekitar 34 persen karena investor semakin skeptis mengenai prospek keuntungan berkelanjutan.

Baca juga: Sukses Uji Bus Otonom, Singapura Siap Operasionalkan di 3 Distrik Tahun Depan

Selain itu, tantangan peraturan dan masalah keselamatan penumpang karena pemeriksaan latar belakang pengemudi yang tidak memadai hanya berfungsi untuk semakin memikat selera investor. Meskipun demikian, selama kuartal ketiga tahun 2019, manajemennya meyakinkan para investor bahwa perusahaan akan dapat mencapai profitabilitas berdasarkan EBITDA pada tahun 2021.

Berbasis di Makassar, Xpressair Jadi Raja di Rute Indonesia Timur

Baru-baru ini ada kabar bahwa Xpressair akan memindahkan rute penerbangannya dari Yogyakarta ke Solo. Nah siapa Xpressair, dan maskapai ini asalnya dari mana serta menerbangkan rute apa saja dan kemana?

Baca juga: Pasar di Bandara NYIA Tak Sesuai, Xpressair Pindah ke Bandara Adi Soemarmo Maret

Xpressair sendiri merupakan maskapai yang mulai beroperasi secara komersial dengan penerbangan antara Jayapura dan Jakarta pada 23 Juni 2003. Hal ini kemudian membuat Xpressair tumbuh menjadi salah satu maskapai besar di Indonesia tepatnya di Indonesia Timur.

KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, maskapai yang berbasis di Makassar tersebut memulai penerbangannya dengan pesawat Boeing 737. Xpressair merupakan maskapai terjadwal milik swasta pertama yang menghubungkan Jakarta ke 24 tujuan domestik seperti Makassar, Ternate, Sorong, Manokwari dan Jayapura.

Makassar sebagai hub utama berfungsi untuk melayani rute penerbangan yang datang dari pulau Jawa ke kota-kota Indonesia Timur. Sedangkan Sorong menjadi hub kedua di Papua yang menghubungkan tempat-tempat terpencil di sekitar wilayah Papua Barat.

Xpressair terdaftar dalam kategori dua oleh Otoritas Penerbangan Sipil Indonesia untuk kualitas keamanan penerbangan. Pada 2014, maskapai ini sudah menerbangkan penumpang mereka ke regional yakni beberapa kota di Malaysia seperti Kuching dan Melaka.

Saat ini, Xpressair tengah dalam proses memperbanyak armada untuk melayani lebih banyak tujuan di sepanjang Papua Barat, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara. Mereka juga memiliki visi untuk menawarkan rute ke wilayah barat dan terpenuhi ketika mulai menghubungkan penumpang ke Yogyakarta, Surabaya, Pontianak dan beberapa daerah lainnya.

Pada awalnya maskapai ini bernama Express Air dan tahun 2012 memulai perjalanan baru menjadi Xpressair untuk mewakili maskapai penerbangan yang lebih modern dan ramah pelanggan. Xpressair sendiri punya slogan “Terbanglah Indonesia” yang memiliki arti, budaya dan tradisi maskapai penerbangan yang sama dengan kemajuan, motivasi baru dan modern.

Baca juga: Sebelum “Mengudara”, Kenali Dulu Yuk Kode Penerbangannya!

Untuk diketahui, Desember 2014 lalu, Xpressair bersama dengan beberapa maskapai penerbangan Indonesia lainnya masuk dalam daftar maskapai penerbangan yang dilarang di Uni Eropa dengan alasan keamanan. Xpressair juga didukung oleh PT Aero Nusantara Indonesia (ANI). Xpressair hingga 2017 memiliki sepuluh armada dengan 37 tujuan destinasi.

Boeing Akui Fitur Folding Wingtip 777X Bisa Jadi Penyebab Kecelakaan

Setelah lama tertunda, Boeing 777X akhirnya sukses terbang perdana pada Sabtu lalu. Sekalipun sempat tertunda, Boeing mengklaim bahwa pesawat tersebut akan bisa bersaing dengan kompetitornya berkat fitur folding wingtip serta beberapa inovasi lainnya. Padahal, sebelum benar-benar berhasil terbang, varian baru dari seri 777 tersebut mendapat respon negatif dari publik terkait mesin GE9X.

Baca juga: Ditengah Keraguan Soal “Folding Wingtip,” Boeing 777X Sukses Terbang Perdana

Dilansir dari laman simpleflying.com, Selasa (28/1), diantara sederet hal baru pada 777X, fitur ujung sayap yang dapat bergerak melipat (folding wingtip) dinilai sebagai fitur paling menonjol. Dengan fitur tersebut, pesawat dimungkinkan untuk menjadi lebih ramping untuk parkir di apron bandara, dari semula 71,8 meter menjadi hanya di bawah 64,8 meter.

Boeing beralasan, bahwa fitur tersebut belajar dari insiden Airbus A380 yang memaksa bandara melakukan modifikasi mahal ketika pesawat dua tingkat dengan bentang sayap sejauh 79,5 meter tersebut memulai debutnya pada 2007 silam.

Nantinya, pesawat yang dirancang untuk bersaing dengan Airbus A350 tersebut, akan memiliki dua model. Model pertama yakni 777X-8 akan memuat sekitar 384 penumpang dan memiliki jangkauan 16.093 kilometer, dan 777X-9 akan memuat sekitar 426 penumpang, dengan daya jelajah sekitar 13.491 km, serta kapasitas bahan bakar sebesar 2 juta liter lebih.

Walaupun berhasil terbang dan mengelilingi langit Washington dan Seattle selama empat jam, tetap saja, terdapat beberapa keraguan bila sewaktu-waktu folding wingtip tidak berjalan sebagaimana mestinya atau mengalami kerusakan saat diterpa berbagai tekanan, baik saat lepas landas, di udara, maupun ketika mendarat.

Boeing sendiri sudah berani memastikan bahwa fitur tersebut aman. 777X pun juga lolos tes Federal Aviation Administration (FAA) atau regulator penerbangan sipil di Amerika. Hanya saja dengan beberapa syarat. Beberapa syarat tersebut mencakup keamanan dan daya tahan bantalan, baik di darat maupun saat di udara di tengah cuaca buruk, serta sistem peringatan ke pilot jika sesuatu yang tak beres terjadi.

Selain mengajukan beberapa syarat untuk Boeing terkait wingtip, FAA juga memberikan beberapa mekanisme. Pada intinya, mekanisme tersebut memastikan bahwa folding wingtip berada pada posisi yang benar, baik saat lepas landas maupun saat mendarat.

Tak hanya itu, FAA juga mengingatkan, ketika folding wingtip tak berjalan dengan baik, hal tersebut harus terhubung ke instrumen-instrumen di dalam kokpit dalam bentuk beragam, bisa dengan suara, ataupun tombol peringatan yang menyala.

Menariknya, ketika hal itu terjadi (folding wingtip mengalami ganguan dan tidak berada posisi yang benar saat di udara) Boeing mengakui bahwa sesuatu hal bisa saja terjadi. Bahkan, mereka cukup sadar untuk mengakui di hadapan FAA, bahwa fitur tersebut masih sangat mungkin menjadi penyebab terjadinya kecelakaan.

Sekalipun Boeing belum mengeluarkan dampak pastinya saat sistem folding wingtip eror di udara, sebagian kalangan menilai bahwa hal tersebut mungkin tidak berdampak terlalu fatal. Pasalnya, bila melihat dimensi bentang sayap yang ada, harusnya penerbangan akan baik-baik saja. Folding wingtip dalam keadaan normal berada pada kisaran 71 meter dan jika melipat berada pada posisi berkisar 64 meter.

Artinya, lebar bentang sayap tersebut masih lebih besar dibanding B747-100 yang memiliki bentang sayap 59,6 meter. Padahal, baik 777X maupun 747-100, dari segi kapasitas, tak jauh berbeda. Jadi, dari segi keamanan, beberapa kalangan berpendapat tetap akan aman. Kecuali dari segi tingkat efisiensi bahan bakar, erornya folding wingtip mungkin akan membuat penerbangan tidak se-efisien yang diharapkan sebelumnya.

Baca juga: ‘Move on’ dari Kasus 737 MAX, Boeing Siap Uji Terbang Perdana Seri 777X

Boeing sendiri, hingga kini, belum memberikan detail pasti tentang bagaimana folding wingtip bekerja. Tetapi Boeing berkilah bahwa mereka telah melakukan segalanya untuk membuat folding wingtip aman.

“Ujung sayap lipat sederhana dan sangat andal dengan mekanisme penyebaran, penarikan, dan penguncian yang berlebihan. Kami merancang ujung sayap lipat seperti setiap sistem kritis penerbangan lainnya sehingga memenuhi persyaratan keselamatan,” katanya.

Tak Ada Peron di Jalur, Petugas ini Gendong Nenek Turun dari Gerbong Kereta

Seorang nenek digendong saat turun kereta ketika tiba di stasiun dan tidak ada peron karena berhenti di jalur kedua. Leng Hiang saat itu menaiki kereta ekspres dari Stasiun Hat Yai di Songkhla menuju ke Stasiun Ban Ppong di Ratchaburi pada Senin (13/1/2020) kemarin.

Baca juga: Gegara Tak Ada Kursi di Gerbong MRT, Kakek Ini Terpaksa Duduk di Lantai Kereta

Dia pergi bersama putrinya, Pimchanik Praiwusan untuk menghadiri pemakaman. Keduanya berangkat dari Hat Yai pukul 1845 waktu setempat pada hari Minggu (12/1/2020) dan tiba di Ban Pong pukul 09.43 pagi hari berikutnya. Saat itu kereta mereka terlambat satu jam ketika tiba di Ban Pong.

KabarPenumpang.com melansir dari laman bangkokpost.com (16/1/2020), saat akan turun dari kereta tidur, ternyata di jalur tersebut tidak ada peron. Kemudian seorang staf gerbong kereta ekspres itu menggendong nenek 82 tahun tersebut melintasi jalur lain untuk naik ke peron utama.

Tak hanya itu, seorang petugas lainnya juga membantu membawakan tasnya ke peron. Karena hal ini, Hiang mengaku benar-benar menghargai bantuan para petugas itu. Dia bahkan berterimakasih kepada State Railway of Thailand (SRT) yang sudah memberikan perlakuan khusus kepadanya.

“Saya benar-benar menghargai bantuannya. Saya ingin berterima kasih kepada State Railway of Thailand (SRT) karena telah merawat penumpang dengan baik,” kata Leng pada hari Kamis setelah tiba di stasiun Hat Yai dalam perjalanan kembali.

Diketahui, petugas yang menggendong Hiang bernama Yakareeya Manu. Pria 34 tahun yang merupakan penduduk asli distrik Cho Airong di Narathiwat tersebut sudah bekerja sejak 2008 di kereta api sebagai petugas keamanan di Hua Lamphong dan kini mulai bekerja sebagai staf di gerbong tidur kereta ekpres sejak tahun 2012.

Baca juga: Beberapa Lansia Justru Tak Ingin Duduk di Kereta Komuter, Ini Alasannya!

“Saya senang membantu Anda, nenek. Semoga kesehatan Anda baik,” kata Yakareeya.

Nah, bagaimana petugas kereta Indonesia dan negara lain bila ada orang lanjut usia yang kesulitan berjalan? Apakah akan melakukan hal seperti ini atau dibiarkan begitu saja karena ada keluarga disekitar mereka?

Kucing Penumpang Mati di Pesawat, Aeroflot: Petugas Bandara Harus Bertanggung Jawab

Dua ekor kucing mati dan satunya mengalami trauma dalam penerbangan dari New York ke Sofia (Bulgaria) menggunakan pesawat Aeroflot. Satu dari kucing tersebut diketahui mati ketika transit sebentar di Bandara Sheremetyevo, Moskow. Insiden ini terjadi saat Maxim Chumachenko dan ketiga kucingnya naik pesawat Aeroflot SU10 dari New York pada 22 Januari 2020 kemarin.

Baca juga: Gara-Gara Kucing Kelebihan Berat Badan, 370 Ribu ‘Miles’ Milik Pria Rusia Dibatalkan Aeroflot

Namun ketiga kucing tersebut harus masuk ke ruang kargo pesawat. Kemudian, pesawat yang mereka tumpangi menuju Sofia transit sebentar di Moskow. Ketika dia naik penerbangan kedua untuk menuju ke Sofia, seorang penumpang berkata pada Chumachenko bahwa kucing-kucingnya telah dilempar dari pesawat ketika kargo dibongkar.

Namun untuk masalah tersebut, dirinya tak mendapat jawaban yang jelas dari Aeroflot ketika meminta konfirmasi tentang kucing-kucingnya ke meja layanan. Karena masalah itu, Chumachenko diizinkan membawa kedua kucing lainnya ke kabin pesawat untuk penerbangan keduanya menuju Sofia.

Sayangnya salah satu kucingnya mati di pesawat dan satu dari yang dibawa ke dalam kabin mati ketika dibawa ke dokter hewan. Diketahui penyebab kematian kedua kucingnya karena pendarahan internal akibat trauma.

Untungnya kucing ketiga miliknya selamat meski didiagnnosa menderita radang dingin. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman themoscowtimes.com (27/1/2020), insiden ini kemudian membuat Aeroflot mengkonfirmasi bahwa kematian kucing-kucing tersebut dan meminta maaf secara terbuka pada Chumachenko dan menyatakan bahwa para petugas penanganan bagasi di Bandara Sheremetyevo bertanggung jawab atas hal tersebut.

Pihak Aeroflot menambahkan, mereka juga berencana untuk menyerukan revisi kebijakan dan teknologi transportasi hewan peliharaan di semua bandara Rusia. Namun, karena insiden ini Chumachenko mengatakan akan mengajukan tuntutan pidana atas kekejaman pada hewan kepada mereka yang bertanggung jawab.

Untuk diketahui, masalah terkait hewan pada Aeroflot bukanlah yang pertama kali. Bulan November lalu, maskapai Rusia itu di kritik para pecinta binatang karena sudah menarik semua miles milik seorang penumpang yang memasukkan seekor kucing dengan berat badan berlebih ke kabin sebagai barang bawaan.

Padahal pemilik kucing tersebut melakukan hal itu karena khawatir kucingnya tak selamat di ruang kargo. Bahkan hal ini pun mengundang perhatian dari warganet di Twitter dan bereaksi atas insiden tersebut.

“Ingat bahwa Aeroflot menelanjangi seorang pria karena menyeret kucing gemuk bersamanya ke kabin? Hari ini, selama transportasi oleh Aeroflot yang sama, dua kucing mati, yang ketiga beku. Aeroflot adalah perusahaan yang membenci kucing.” tulis @GusevaOlyaa.

“Dana Perlindungan Kucing Gemuk dibuka kembali. Apa-apaan ini, Aeroflot? ” kata @PolinaPars.

Baca juga: Gegara Seekor Merpati di Kabin, Penerbangan Aeroflot Tertunda di Moskow

“Ketika satu-satunya tiket yang tersisa ada di Aeroflot, ayolah doggies, kami akan berangkat.” tulis @Spellann.

“Bisakah seseorang tolong jelaskan kepadaku mengapa Aeroflot melarang hewan peliharaan dalam penerbangan? Mereka hanya akan menghabiskan seluruh penerbangan dalam peti di bawah kursi Anda. Dan mengapa aturan yang sama tidak berlaku untuk anak-anak? Di bawah 3 tahun mereka jauh kurang pintar daripada hewan … dan mereka berperilaku jauh lebih buruk.” komentar @Cattiva777.