Anies: KRL Berpotensi Jadi Tempat Kontaminasi Virus Corona, Ini Kata KCI

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan rute KRL-2 dengan relasi Bogor – Depok – Jakarta Kota menjadi jalur paling berisiko terkontaminasi virus corona. Dia mengatakan hal tersebut dalam presentasi tertutup penanganan corona dengan SKPD di Balai Kota DKI Jakarta pada Rabu (11/3/2020) pagi. Dia mengatakan presentasi itu bertujuan membangun kewaspadaan. Hal ini bisa saja karena ramainya suasana kereta sehingga adanya kontak dekat antar penumpang.

Baca juga: Prank Virus Corona di Kereta Bawah Tanah Rusia, Karomatullo Dzhaborov Didakwa 5 Tahun Penjara

PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) yang mengoperasikan kereta rel listrik (KRL) ini mengatakan, sebagai operator transportasi publik, berupaya mengerahkan sumber daya agar KRL tetap dapat mengantispasi peredaran virus corona dan tetap memberikan layanan bagi pengguna. Mereka menyebutkan jumlah pengguna lintas Bogor/Depok menuju Jakarta Kota/Angke/Jatinegara satu tahunnya sebesar 199.443.439 pengguna.

VP Corcomm PT KCI Anne Purba mengatakan dalam siaran pers, pengguna KRL per harinya mencapai 546.420 pengguna atau 69 persen dari keseluruhan pengguna KRL. Dia mengatakan, mulai 12 Maret 2020, akan ada tim kesehatan dengan jajaran pegawai KCI yang akan melakukan roadshow sosialisasi lanjutan ke sejumlah stasiun untuk melakukan upaya edukasi, pembagian masker dan menjelaskan langkah pencegahan penyebaran virus.

“Kita menghimbau agar penumpang tidak meludah sembarang di stasiun maupun kereta. Menggunakan masker ketika sedang sakit batuk, flu atau dalam masa penyembuhan,” ujarnya yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers.

Anne menyebutkan agar penumpang menjaga kebersihan antara lain mencuci tangan dengan benar. Memeriksakan diri ke pos kesehatan bila kurang sehat.

Bahkan pekan lalu, PT KCI bersama dengan PT KAI Daop 1 Jakarta mengadakan kegiatan pengobatan dan cek kesehatan gratis untuk penumpang dengan menghadirkan RailClinic di Stasiun Depok dan Bogor. Dikutip dari detik.com, juru bicara pemerintah terkait virus corona (Covid-19), Achmad Yurianto mengatakan, adanya pernyataan tersebut bukan untuk menakut-nakuti tetapi penularan memang menjadi risiko dalam kondisi yang berdesak-desakan.

“Tadi kan kata-kata Anies itu terkontaminasi kereta ini kan penuh orang, jadi rawan terjadi penularan karena penyakit ini yang bawa orang bukan kereta. Kenapa? karena padat, berdesak-desakan, sehingga kontak dekat sangat mungkin terjadi. Jadi bukan keretanya yang terkontaminasi tetapi dengan risiko berdesakan rawan terjadi penularan. Ya kalau (supaya) hati-hati kan bukan nakut-nakutin,” ujarnya.

Dia menghimbau pihak KCI mengatur perjalanan kereta agar tidak terjadi desak-desakan penumpang. Yuri mengingatkan agar tetap memakai masker dan mencuci tangan setelah turun kereta.

Baca juga: Pekerja dan Bahan Didatangkan dari Cina, Proyek Jembatan Kereta di Bangladesh Terhambat

“Artinya bisa nggak sih diatur perjalanan biar nggak terlalu padat keretanya, tidak perlu terlalu berdesak-desakan. Kemudian bisa saja pada saat seperti itu paling aman pakai masker, kemudian cuci tangan setelah turun kereta, sebenarnya sederhana kan,” katanya.

Dapati 72 Kasus Virus Corona, Kuwait Resmi Tutup Bandara Internasional Utama

Otoritas penerbangan Kuwait dilaporkan telah memutuskan untuk menutup Bandara Internasional Kuwait (KWI) pada Jumat, 13 Maret 2020. Belum jelas sampai kapan negara Teluk Arab tersebut men-shutdown bandara utamanya tersebut.

Baca juga: Bak Kuburan, Inilah 8 Penampakan Sepinya Bandara di Dunia Akibat Virus Corona

Menurut kantor berita thepointsguy.com, Kamis, (12/3), dengan ditutupnya bandara tersebut, seluruh penerbangan dari dan ke bandara akan ditangguhkan kecuali penerbangan yang memuat warga Kuwait yang hendak pulang. Di samping itu, bandara yang direnovasi besar-besaran pada 1999-2001 tersebut juga tetap akan melayani penerbangan kargo. Selebihnya, otoritas setempat tidak akan mengizinkan kecuali dengan beberapa negosiasi.

Menariknya, keputusan tersebut diambil hanya karena 72 kasus virus corona saja. Bahkan, dari 72 kasus tersebut, belum dilaporkan adanya kematian pertama. Tentu saja hal keputusan tersebut adalah langkah berani, mengingat, negara-negara dengan kasus Covid-19 tertinggi saja, seperti Korea Selatan, Iran, Amerika Serikat, Perancis, Jerman, Spanyol, sampai Cina sekalipun belum sampai menutup bandara utamanya, kecuali Italia yang baru saja menutup negaranya, termasuk bandara utamanya, beberapa waktu lalu.

Dengan begitu, bisa dikatakan Kuwait sebagai negara pertama yang menutup bandara internasional utamanya, bukan menutup bandara utamanya karena negaranya juga ditutup, layaknya Italia.

Badara Internasional Kuwait (KWI) sendiri adalah bandara terbesar dan tersibuk serta satu-satunya bandara komersial di Kuwait (mengingat teritorialnya yang tak lebih besar dari Provinsi Jawa Barat) dengan 335 penerbangan per hari. Menurut Kuwait Times, pada tahun 2019 lalu, bandara tersebut melayani sekitar 15,5 juta penumpang, meningkat empat persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Walaupun kecil, sebagai salah satu negara kaya di Timur Tengah, Bandara Kuwait rupanya menjadi hub bagi banyak maskapai, seperti Jazeera Airways, Kuwait Airways, Wataniya Airways, dan maskapai asal Singapura United Aviation. Di samping itu, bandara tersebut juga memiliki banyak penerbangan langsung dari sekitar 60 bandara di dunia.

Baca juga: Bandara Hong Kong Kucurkan Rp2,8 Triliun Guna Hadapi ‘Serangan’ Virus Corona

Selain menutup bandara, sama seperti beberapa negara lainnya yang disebutkan sebelumnya, negara kaya minyak tersebut juga memberlakukan beberapa langkah lanjutan, seperti menutup restoran, kafe, pusat perbelanjaan, hingga kantor pemerintahan. Khusus untuk kantor pemerintahan, isolasi tersebut hanya berlaku mulai 12-26 Maret 2020 dan baru kembali normal pada 29 Maret mendatang. Adapun larangan untuk ke pusat-pusat keramaian (restoran, kafe, dan pusat perbelanjaan) belum ada batasan pemberlakuan yang jelas.

Beruntung, pembatasan tersebut, sejauh ini, tak sampai menimbulkan gejolak di masyarakat. Pasalnya, di beberapa negara lainnya, seperti di Italia dan Spanyol, aturan sejenis membuat masyarakat panik dan justru berlomba-lomba untuk keluar negeri. Di Italia, larangan untuk mendatangi pusat-pusat keramaian bahkan aturan untuk menjaga jarak setidaknya satu meter satu dengan yang lainnya telah menimbulkan kerusuhan di beberapa wilayah.

Tersebar Foto Kabin ‘Kosong’ Singapore Airlines dari Korea Selatan ke Singapura

Pesawat Singapore Airlines (SIA) yang berangkat dari Korea Selatan dengan tujuan Singapura baru-baru ini tampak kosong. Hal ini dikarenakan penumpang maskapai Negeri Singa tersebut tidak mengizinkan penumpang yang bukan warga Singapura untuk naik ke pesawat mereka.

Baca juga: Virus Corona Bikin Singapore Airlines Turun Kelas Jadi Maskapai LCC?

Kosongnya kabin pesawat milik Singapura tersebut diunggah oleh seorang penumpang wanita asal Singapura di akun media sosialnya. Wanita itu mengatakan ini adalah penerbangan terbaik dalam hidupnya.

Dia memfoto seluruh kabin kosong bahkan dirinya bisa berselonjor di kursi-kursi sebelahnya. Wanita tersebut juga memperlihatkan hanya ada beberapa penumpang yang berbaring di kursi mereka.

Bahkan dirinya mengaku lupa berapa kali dilayani oleh awak kabin yang memberikan makanan ataupun minuman ringan selama penerbangannya tersebut. Dia mengatakan, tidak bisa menikmati penerbangan jarak jauh, tapi ini adalah penerbangan terbaik selama hidupnya.

Sayangnya akun media sosial wanita tersebut dikunci dan hanya yang berteman bisa melihatnya. Dilansir KabaraPenumpang.com dari laman mothership.sg (10/3/2020), atas viralnya foto-foto tersebut, warganet mulai menanggapi hal itu karena penasaran.

Kemudian wanita penyebar foto tersebut mengatakan, bahwa orang non Singapura dilarang naik kepesawat. Pelarangan tersebut membuat keributan besar terutama bagi pelancong yang seharusnya transit di Singapura.

Diketahui, pembatasan ketat yang dilakukan Singapore Airlines ini karena wabah virus corona atau Covid-19 yang tengah merebak di seluruh dunia. Pemerintah Singapura sendiri mengumumkan sejak 4 maret 2020 kemarin hingga batas waktu yang belum ditentukan, semua pengunjung yang memiliki sejarah perjalanan ke Korea Selatan, Iran dan Italia Utara dalam 14 hari terakhir tidak diizinkan masuk ke Singapura.

Pembatasan dilakukan karena ketiga negara tersebut memiliki jumlah masyarakat terinveksi Covid-19 yang makin banyak. Sehingga pembatasan ini menjadi alasan mengapa hanya orang Singapura yang diizinkan menggunakan penerbangan Singapore Airlines tertentu.

Baca juga: Terdampak Badai Corona, Inilah Alasan Singapore Airlines Mengurangi Frekuensi Penerbangan ke Sejumlah Negara

Adapun saat ini warga Singapura yang merupakan penduduk tetap dan pemegang paspor jangka panjang akan diberikan Stay-Home-Notice (SHN). Diketahui, wanita tersebut tidak langsung dipulangkan pada hari yang sama. Wanita itu kemudian mengungkapkan, dia harus mengisolasi dirinya sendiri di rumah selama 14 hari setelah tiba di Singapura.

Stasiun Pulau Air Mulai Beroperasi, Banyak Warga Antusias dan Berselfie Ria

Stasiun Pulau Air atau Pulau Aie yang berada di salah satu sudut kota tua Padang kini menjadi tempat berswafoto atau selfie. Bukan karena bangunan lamanya yang menjadi cagar budaya tetapi bangunan baru setelah reaktivasi.

Baca juga: Kisah Stasiun Pulau Air, Saksi Bisu Kebangkitan Perkeretaapian di Sumatera Barat

Ya, stasiun yang satu ini bisa dikatakan mati suri selama 37 tahun atau sejak 1983 silam. Mati surinya stasiun dan jalur kereta di Pulau Aie ini karena kalah dengan kendaraan bermotor serta diperburuk prasarana gerbong kereta yang rusak dimakan usia.

Peron Stasiun Pulau Air atau Pulau Aie (detik.com)

Selama hampir 37 tahun, meski jalur kereta masih terlihat, di sekitaran bekas Stasiun Pulau Aie sendiri sudah banyak bangunan rumah penduduk. Bahkan bangunan stasiun pun kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan.

Meski bangunannya terlihat kokoh, tetapi banyak retakan terlihat di dinding dan sambungan tembok. Dulunya, sebelum berhenti beroperasi, kereta dari Stasiun Pulau Aie berangkat menuju ke Stasiun Padang dan terhubung ke Pelabuhan Muaro.

Saat ini bangunan dan jalur kereta di Stasiun Pulau Aie sudah di reaktivasi dan dihidupkan kembali. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, Stasiun Pulau Aie sendiri mulai direaktivasi oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan pada Juli 2019 lalu.

Rencananya dari Stasiun Pulau Air reaktivasi akan berlanjut ke Stasiun Muaro. Adanya reaktivasi ini pemerintah berharap pariwisata dan kegiatan dagang di wilayah sekitar diharapkan bisa terus meningkat.

Tak hanya itu, pelancong yang menggunakan pesawat bisa dimudahkan dengan kereta bandara yang tersambung hingga Stasiun Pulau Aie. Setelah mulai beroperasi lagi, tarif kereta pun terbilang cukup murah yakni Rp10 ribu dari Bandara Minangkabau hingga ke Stasiun Pulau Aie.

Baca juga: “Baso,” Bukan Cuma Makanan, Tapi Juga Nama Bekas Stasiun di Sumatera Barat

Sedangkan dari Stasiun Padang ke Stasiun Pulau Aie Rp5 ribu sekali berangkat. Aktifnya kembali Stasiun Pulau Aie juga membuat warga antusias baik untuk pariwisata ataupun perekonomian mereka. Untuk diektahui, letak Stasiun Pulau Aie berada di Kota Lama Padang tepatnya di jalan Pulau Air Kelurahan Palinggam, Padang Selatan.

Stasiun ini merupakan stasiun ujung sebelum jalur menuju pelabuhan Muaro dari percabangan stasiun Padang. Stasiun yang menghubungkan kota Padang hingga Sawahlunto ini dibangun secara bertahap pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Dibangun tahun 1890-an, merupakan stasiun dan jalur kereta api pertama yang dibangun Belanda di Padang sekaligus di Ranah Minang.

Inisiatif Respon Virus Corona Bersama Maskapai Lain, Dirut Garuda: Jangan-jangan Solusi Malah Memakan Salah Satu

Direktur Utama (Dirut) Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, menyebut inisiatif untuk melakukan perbicangan dengan maskapai lain dipandang belum tepat. Sebab, saat ini, masing-masing maskapai tengah mengalami persoalan masing-masing, sekalipun ia memang mengakui kekompakan maskapai-maskapai dalam negeri ketika menghadapi sebuah problem.

Baca juga: Dirut Garuda Indonesia: “Tidak Ada PHK Massal di Tengah ‘Badai’ Virus Corona”

“Sepanjang pengetahuan saya sih kita memang kompak, banyak asosiasi, banyak berinteraksi, kerjasama antar maskapai. Tapi ini kayanya sebuah situasi yang semua orang belum pernah mengalami. Jadi hari ini kalau saya ada rencana bertemu dengan beberapa CEO maskapai menurut saya sih hari ini mungkin ga terlalu tepat juga kita bicarakan karena mereka juga mempunyai masalahnya masing-masing yang berat sekali gitu kan,” katanya saat ditemui KabarPenumpang.com di kantor Garuda Indonesia Kebon Sirih, beberapa waktu lalu.

“Jadi kalau kita duduk terus mencoba mencari solusi dari masalah masing-masing, jangan-jangan solusi tuh malah memakan salah satu kan, bukan malah membantu. Kita ada beberapa ide, Cuma saya pikir timing-nya belum tepatlah untuk kita bicara,” tambahnya.

Dirut berpostur tinggi besar tersebut pun kemudian mengambil sebuah perumpamaan penerbangan ke Cina yang dalam hematnya hampir semua maskapai di Asia tidak dapat terbang ke sana. Menurunya, kondisi tersebut tentu saja membuat masing-masing maskapai mengalami penurunan pada utilisasi atau isi pesawat. Selain itu, ia juga mengambil perumpamaan terhadap dampak virus corona yang dalam amatannya telah membuat penerbangan terpukul keras karena sentimen yang meningkat hingga menyebabkan jumlah penumpang terus menurun.

“Kaya yang terbang misalnya dalam satu hari ke satu tempat, misalnya Jakarta-Singapura. Satu hari misalnya ada 20 ribu orang yang terbang. Sekarang tinggal 2 ribu, misalnya, atau tinggal 5 ribu. Sementara kan jumlah pesawat yang disiapkan oleh semua maskapai yang melayani Jakarta-Singapura itu kan cukup untuk 20 ribu. Tapi berlebih karena 5 ribu kan. Nah ketika masing-masing mencoba mengambil ceruk pasar 5 ribu ini, apakah penurunannya eksponensial?” paparnya.

“Misalnya saya 20 persen, kalau begitu saya dapat 1 ribu? Kan belum tentu begitu dan karena saya 20 persen dari 20 ribu itu 4 ribu, wah ini kesempatan ini jadi ngambil 5 ribu. Atau yang tadinya 50 persen ya mereka ingin mengambil yang 5 ribu tadi. Jadi semuanya mau ngambil yang 5 ribu sisa ini kan? Untuk dirinya sendiri,” jelasnya.

Baca juga: Tegas! Ini Tanggapan Dirut Garuda Indonesia Terkait Pengaruh Diskon Tiket Pada Demand Penumpang

Jika skema tersebut benar adanya, hal itu pun membuatnya khawatir bahwa maskapai akan perang tarif atau banting-bantingan harga. Jika hal itu terjadi, ia memandang penerbangan justru akan merugikan maskapai itu sendiri.

“Nah ini (disaat penerbangan sepi) yang akan terjadi adalah perang harga. Saya Cuma mau mengingatkan aja pada setiap orang, perang harga tidak akan membantu siapapun dan perang harga juga akan penerbangan itu sendiri pun merugi,” pungkasnya.

Tiga Maskapai Besar Ini Kompak Bebaskan “Change Fees” di Tengah Wabah Covid-19

Qatar Airways, Singapore Airlines (SIA), dan Emirates Airlines semuanya telah mengumumkan bahwa mereka akan membebaskan biaya untuk perubahan tanggal atau change fees bersamaan dengan wabah Covid-19 yang makin merebak.

Baca juga: Cegah Virus Corona di Kabin, Inilah Sejumlah Langkah yang Dilakukan Maskapai Penerbangan

Seperti dilansir laman ttgasia.com, Rabu, (11/3), pelanggan Qatar Airways dapat mengubah jadwal perjalanan mereka tanpa biaya tambahan jika tanggal perjalanan mereka jatuh antara 6 Maret dan 30 Juni 2020. Selain itu, pelanggan juga dipastikan mendapatkan kebijakan tersebut bila dilakukan setidaknya tiga hari sebelum keberangkatan.

Di samping itu, bila tidak ingin mengambil opsi refund, maskapai yang berbasis di Doha, Qatar tersebut akan memberi pelanggan opsi tambahan untuk menukarkan tiket penerbangan dengan voucher perjalanan yang dapat digunakan dalam rentang waktu satu tahun sejak voucher tersebut dikeluarkan. Adapun nilai voucher tersebut sejauh ini dilaporkan sama dengan kelebihan nominal saat proses penukaran terjadi.

Demikian pula SIA, maskapai asal Singapura tersebut akan membebaskan biaya perubahan atau reschedule untuk penerbangan antara 6 Maret hingga 31 Maret. Menariknya, kebijakan tersebut berbeda dengan ketika Cina melakukan lockdown terhadap sejumlah wilayah. Ketika itu, maskapai pada umumnya, tak terkecuali SIA, hanya menawarkan kebijakan sejenis untuk penerbangan dari dan ke Negeri Tirai Bambu tersebut saja. Kali ini, kebijakan tersebut berlaku untuk penerbangan dari dan ke semua tujuan. Kemudian, untuk penerbangan pengganti, SIA membatasinya untuk penerbangan sebelum tanggal 31 Maret 2021.

Sedangkan Emirates Airlines, pelanggan akan dapat mengubah tanggal perjalanan mereka tanpa penalti atau change fees, jika tiket mereka dikeluarkan dalam rentang waktu 7 Maret dan 31 Maret 2020, nyaris senada dengan Qatar Airways dan SIA. Bedanya, bila kedua maskapai tersebut memberikan kelonggran waktu penerbangan pengganti sebelum genap satu tahun atau 31 Maret 2021 mendatang, maskapai yang berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab tersebut hanya memberikan batas penerbangan pengganti hanya dalam rentang 11 bulan, dengan catatan kelas pemesanan yang sama.

Baca juga: Bak Kuburan, Inilah 8 Penampakan Sepinya Bandara di Dunia Akibat Virus Corona

Akan tetapi, khusus bagi anggota Emirates Skywards yang telah memesan dalam penerbangan antara 1 Maret dan 30 Juni akan menerima bonus 20 persen dalam Tier Miles. Tier miles sendiri adalah lawan dari Skywards Miles. Bila Skywards Miles dapat digunakan untuk membeli hadiah, Tier Miles dikumpulkan untuk membantu pelanggan menaikkan tingkat keanggotaan, seperti Blue, Silver, Gold, atau Platinum yang nantinya berujung pada penawaran menarik lainnya, mengikuti tingkat setiap keanggotaan.

Sebelum memutuskan mengubah jadwal penerbangan, penumpang disarankan untuk menghubungi maskapai terkait dengan rincian penerbangan pengganti agar bisa untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut, di samping berpotensi adanya perbedaan tarif atau pajak yang masih berlaku.

Malaysia Airlines Potong Gaji Senior Manajemen 10 Persen dan Tak Ada Tunjangan

Beberapa maskapai mulai menawarkan skema cuti sukarela tanpa gaji hingga melakukan pemotongan gaji para stafnya. Hal ini dilakukan untuk mengatasi dampak dari virus corona atau Covid-19 yang menyebabkan merosotnya jumlah penerbangan.

Baca juga: Dirut Garuda Indonesia: “Tidak Ada PHK Massal di Tengah ‘Badai’ Virus Corona”

Sedangkan Malaysia Airlines Bhd (MAS) justru memangkas gaji manajemen seniornya sebesar sepuluh persen mulai Maret 2020. CEO MAS Kapten Izham Ismail mengatakan, bahwa para manajemen senior tak akan lagi menerima tunjangan dalam gaji.

Menurut sebuah video kepada 13 ribu karyawan MAS, Izham mengatakan pemotongan adalah bagian dari langkah-langkah mengatasi penurunan tajam dalam permintaan ditengah wabah Covid-19. KabarPenumpang.com merangkum theedgemarkets.com (9/3/2020), Izham mengatakan, langkah-langkah pemotongan gaji ini akan diperkenalkan dalam beberapa hari mendatang.

“Anda telah mendengar selama beberapa minggu terakhir bagaimana maskapai penerbangan di seluruh dunia dari Emirates ke Cathay Pacific, Singapore Airlines (SIA) dan Malindo Air telah dipaksa untuk mengambil tindakan keras untuk menjaga arus kas. Tim kepemimpinan senior dan saya memiliki juga telah melakukan brainstorming langkah-langkah potensial untuk melakukan hal yang sama untuk MAG (Malaysia Airlines Group) dan kami akan memutuskan tindakan segera dan jangka panjang dalam beberapa hari,” katanya dalam video.

“Saya akan menghubungi Anda (karyawan) lebih banyak pada hari-hari dan minggu-minggu berikutnya tentang apa yang perlu kita lakukan. (Sejauh ini,) kami telah memperkenalkan pengurangan kapasitas yang sangat besar. Pada kuartal pertama tahun 2020 saja, kami telah menghapus 7,1 persen dari kapasitas (penerbangan) kami. Sampai saat ini, kami telah membatalkan lebih dari 1600 penerbangan dan jumlahnya meningkat,” tambah Izham.

Izham menyebutkan dalam catatannya, MAS telah memangkas kapasitas penerbangannya ke Cina sebesar 53 persen, Korea Selatan dan Jepang sebesar 23 persen. Dia mengatakan, pada tingkat dan momentum krisis ini lebih banyak penerbangan harus dibatalkan karena hanya ada sedikit permintaan pasar.

Diketahui, SIA memotong gaji manajemen senior sebesar 10-15 persen per 1 Maret kemarin dan menawarkan skema cuti sukarela tanpa gaji ke karyawan. Sedangkan Malindo Air akan memberlakukan pemotongan gaji 50 persen pada stafnya selain dua minggu cuti tak dibayar. Dalam video tersebut juga dibahas kinerja MAS pada 2019 lalu dengan adanya kenaikan pada pendapatan.

“Kami mencapai rekor memecahkan hasil RASK di 2Q hingga 4Q 2019, dengan RASK tertinggi yang pernah tercatat dalam tiga tahun,” kata Izham.

Dia mencatat bahwa selama tahun pertama penerapan rencana bisnis jangka panjang (LTBP), MAG perusahaan induk MAS mencapai pendapatan bersih setelah pajak (NIAT) keseluruhan yang lebih baik dibandingkan dengan 2018, yaitu 18 persen di depan anggaran.

“Pendapatan grup (MAG) tumbuh tujuh persen year on year pada 2019. Peningkatan kinerja NIAT tahun ke tahun adalah meskipun harga bahan bakar lebih tinggi sebesar US$3 per barel, kenaikan tiga pesen dalam dolar AS terhadap dampak ringgit dan MFRS16,” kata Izham.

Namun, ia tidak mengungkapkan NIAT dan angka pendapatan, maupun MAS yang merugi untuk 2019. Kerugian bersih MAS untuk FY18 menyempit menjadi RM791,71 juta dari RM812,11 juta di FY17, karena pendapatan meningkat sedikit 0,8 persen year on year menjadi RM8,74 miliar.

LTBP MAS akan membuat maskapai penerbangan nasional mencapai titik impas keuangan pada tahun 2022 dan menghasilkan pendapatan yang cukup untuk menutupi biaya modal untuk operasinya dua tahun kemudian. Masih memposisikan MAS sebagai maskapai penerbangan premium, LTBP terdiri dari empat pilar, yang terdiri dari penentuan ukuran armada maskapai, memberikan pengalaman pelanggan premium, memiliki strategi kemitraan dan diversifikasi pendapatan maskapai.

Baca juga: Dampak Krisis Corona, Cathay Pacific Group ‘Parkirkan’ Setengah dari Jumlah Armada

“(Melangkah ke depan,) yang perlu kita lakukan lebih baik adalah lebih jauh menurunkan biaya. Meskipun kita sudah kompetitif dibandingkan dengan maskapai sejenis, masih ada ruang untuk perbaikan, terutama dalam mengurangi pemborosan. Sayangnya, Covid-19 telah menghambat momentum kami. Sudah sembilan minggu (sejak wabah virus) dan arus kas (kekurangan) telah mengalami dampak yang serius, kata Izham.

Di Tengah Merebaknya Virus Corona, Kemenhub Naikkan Tarif Ojol di Jabodetabek

Di tengah virus corona yang sedang mewabah dan jadi sorotan di Ibukota Jakarta, Kementerian Perhubungan (Kemnhub) akan menaikkan tarif ojek online (ojol). Padahal tarif ojol baru saja naik pada September 2019 kemarin. Bahkan, para aplikator seperti GoJek dan Grab sudah menerapkannya sesuai pembagian zonasi di seluruh Indonesia.

Baca juga: Resmi, Tarif Ojol Naik di Seluruh Indonesia, Ini Dia Kisarannya!

Kenaikan tarif baru ojol ini, dikatakan Direktur Perhubungan Darat Kemenhub, Budi Setiyadi, akan berlaku per 16 Maret 2020. Dia mengatakan, tarif yang naik hanya akan terjadi pada Zona II yakni Jabodetabek dan bukan keseluruhan zonasi.

Budi Setiyadi mengatakan, kenaikan ini untuk tarif batas bawah sebesar Rp250 per kilometer (km) dan tarif batas atas Rp150 per km. Budi menjelaskan, kenaikan tarif ini sudah disepakati oleh aplikator termasuk juga dengan Yayasan lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

“Dengan demikian maka tarif batas bawah ojol naik dari sebelumnya Rp2 ribu menjadi Rp2.250. Lalu untuk tarif batas atas naik dari Rp2.500 menjadi Rp2.650. Berikutnya untuk biaya jasa minimalnya setelah dihitung sedemikian rupa naik dari Rp8 ribu – Rp10 ribu menjadi Rp9 ribu – Rp10.500,” jelas Budi Setiyadi.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, GoJek dan Grab yang menanggapi hal tersebut mengaku tunduk pada kebijakan yang sudah diputuskan terkait kenaikan tarif. Bahkan GoJek dan Grab akan melakukan penyesuaian sehingga mulai pekan depan bisa langsung menerapkan tarif baru tersebut.

“Kami dari GoJek pada prinsipnya senantiasa mematuhi pedoman biaya jasa yang ditetapkan pemerintah. Kami juga berusaha selalu meningkatkan keamanan, keselamatan, dan kenyamanan untuk konsumen kami,” ucap Chief of Public Policy and Goverment Relation Gojek Dyan Shinto Nugroho.

Shinto juga menegaskan bila GoJek juga sudah resmi mengandeng pihak asuransi guna menjamin keselamatan baik penumpang dan driver-nya. Ke depan, dia juga mengklaim akan terus meningkatkan kenyamanan baik dalam hal pelayanan atau melalui aplikasi.

Sedangkan Head of Public Affairs Grab, Tri Sukma Anreiano mengaku kemungkinan besar akan ada penurunan permintaan pelanggan. Dia mengatakan, untuk penyesuaian algoritma tidaklah rumit karena sudah terjadi kenaikan tarif beberapa kali.

“Sampai pekan depan itu cukup untuk penyesuaian,” kata Tri.

Karena hanya untuk Zona II yakni Jabodetabek, Tri mengatakan akan coba mengkomunikaiskan dengan mitra di wilayah. Selain itu, mereka juga menjelaskan Grab akan mengevaluasi adanya keputusan tersebut terutama mengenai respon dari masyarakat karena di prediksi akan ada dampak yang menimbulkan efek khusus bagi masyarakat pengguna Grab.

Baca juga: Tarif Baru Ojol Berlaku 1 Mei di Lima Kota, GoJek dan Grab Ikut Aturan Pemerintah

“Untuk yang sudah ditetapkan pemerintah, kami akan beradaptasi dalam skema baru, dan kami harap keputusan ini bisa meningkatkan kesejahteraan mitra pengemudi kami juga kelangsungan industri ojol,” ujar Tri

Beroperasi Penuh Per 29 Maret 2020, Semua Maskapai dari Adisucipto Pindah ke YIA

Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kulon Progo akan diresmikan pada 29 Maret 2020 oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Hal ini kemudian membuat maskapai yang tadinya mendaratkan pesawat mereka di Bandara Adisucipto pindah ke bandara baru ini semua sebelum tanggal 29 Maret itu.

Baca juga: Di Tengah Hembusan Angin Laut Selatan, Proving Flight Berlangsung Sukses di Bandara Internasional Yogyakarta

Seperti maskapai milik Lion Air Group yakni Lion Air dan Batik Air. Dua hari lalu, tepatnya 8 Maret 2020, keduanya memindahkan penerbangan mereka ke YIA. Corporate Communication  Strategic of Lion Group Danang Mandala Prihantoro mengatakan, pemindahan Lion dan Batik ke YIA sekaligus menandai sebagai bandara kelima di kawasan Jogja, Solo Semarang  (Joglosemar) yang dilayani untuk penerbangan sipil komersial.

KabarPenumpang.com mengutip siaran pers, Danang mengatakan, Lion berencana mengoperasikan 46 frekuensi penerbangan setiap hari pergi pulang (PP) di YIA. Nantinya akan melayani 14 kota tujuan domestik yakni Padang, Pekanbaru, Batam, Palembang, Jakarta, Banjarmasin, Balikpapan, Samarinda, Makassar, Denpasar, Mataram, Medan, Pontianak dan Tarakan.

Selain itu Garuda Indonesia dan Citilink yang sudah memindahkan layanan mereka lebih dahulu ke YIA juga akan mulai melayani seluruh penerbangannya pada 29 Maret 2020. Direktur utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra mengungkapkan, pemindahan layanan mereka ke YIA merupakan bagian dari upaya peningkatan layanan penerbangan melalui hadirnya layanan fasilitas ke bandarudaraan bertaraf internasional di YIA.

Pada perpindahan ini, Garuda Indonesia akan mengoperasikan 81 penerbangan dari dan menuju ke YIA ke sejumlah destinasi penerbangan domestik seperti Makassar, Denpasar, Balikpapan dan Jakarta. Dia mengatakan, dioperasikannya layanan penerbangan Garuda Indonesia di YIA kedepannya di harapkan dapat semakin memperkuat berbagai potensi peningkatan layanan terhadap penumpang mulai dari aspek pre-flight hingga post-flight melalui berbagai fasilitas penunjang yang dihadirkan bandara berkapasitas 20 juta penumpang per tahun tersebut.

Sedangkan Citilink akan mengoperasikan sebanyak 24 penerbangan dari dan menuju ke YIA setiap minggunya ke sejumlah destinasi seperti Jakarta, Medan, Pekanbaru, Balikpapan, Makassar, Palembang, Banjarmasin dan Denpasar.  PT Angkasa Pura I yang mengoperasikan Bandara Internasional Yogyakarta ini mengatakan semua maskapai sudah harus pindah pada 29 Maret 2020. Mereka mengatakan transportasi untuk integrasi angkutan penumpang lain menuju ke kota Yogyakarta seperti Danri, Satelqu, taksi sudah ada.

“Penumpang juga bisa menggunakan kereta api dari Stasiun Wojo yang jaraknya sepuluh menit dari Bandara Internasional Yogyakarta,” kata VP Corporate Secretary AP I, Handy Heryudhitiawan.

Baca juga: Pasar di Bandara NYIA Tak Sesuai, Xpressair Pindah ke Bandara Adi Soemarmo Maret

Diketahui, satu maskapai yang lebih memilih pindah ke Solo adalah Xpressair.  Mereka mengatakan pemindahan ke Solo dikarenakan pasar di bandara baru Yogyakarta ini berbeda dengan di Adisutjipto.

Gandeng Gudang Garam, PT Angkasa Pura I Bangun Bandara “Dhoho” di Kediri

PT Angkasa Pura I hari ini menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan PT Gudang Garam Tbk, terkait rencana kerja sama pembangunan Bandara Dhoho Kediri di Jawa Timur. Angkasa Pura I sebagai pemilik lisensi badan usaha bandar udara (BUBU) dari Kementerian Perhubungan akan bekerja sama dengan Gudang Garam melalui Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha berdasarkan prakarsa oleh badan usaha (unsolicited).

Baca juga: Ikuti Seleksi Pengelolaan Bandara Hang Nadim, Angkasa Pura I Gandeng Incheon dan WIKA

Pembangunan Bandara di Kediri ini dipandang potensial karena dapat menjadi alternatif penerbangan setelah Bandara Juanda di Jawa Timur. Maka seiring dengan perkembangan dan potensi tersebut, bandara di Kediri ini dapat menjadi alternatif bandara yang akan dapat menjadi gerbang kedua di wilayah Jawa Timur, terutama dapat membuka area ke wilayah Tulung Agung, Blitar, Ponorogo, Trenggalek, Madiun, Magetan dan lain lain.

Bandara Kediri direncanakan menjadi salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) dan menjadi gerbang alternatif menuju Jawa Timur selain Bandara Juanda Surabaya. Di tahun 2019 yang lalu, tercatat Bandara Juanda telah melayani lebih dari 16,6 juta penumpang dengan trafik pesawat mencapai 129 ribu pergerakan pesawat dan kargo mencapai 88,4 juta kilogram.

Dikutip dari siaran pers Angkasa Pura I, disebutkan Bandara Dhoho akan dibangun di Desa Grogol, Kecamatan Grogol dan Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan Kabupaten Kediri. Jarak Desa Grogol ke Pusat Kota Kediri sekitar 13 km dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Sementara jarak dari Bandara Juanda Sidoarjo sekitar 120 km dengan waktu tempuh 1,5 hingga 2 jam perjalanan via jalan tol. Sedangkan jarak dari Bandara Abdurahman Saleh Malang sekitar 87 km dengan waktu tempuh perjalanan darat 3 hingga 4 jam.

Pada tahap awal, Bandara Dhoho Kediri direncanakan akan dibangun seluas 13.558 meter persegi dari luas total lahan bandara hampir 400 hektar dengan dimensi runway 2400 meter x 45 meter untuk kapasitas 1,5 Juta penumpang per tahun.

Penandatanganan MoU ini dilakukan oleh Direktur Utama Angkasa Pura I Faik Fahmi bersama Direktur PT Gudang Garam Tbk. Istata T. Siddharta di Jakarta, Selasa (10/3) siang.

Baca juga: Cegah Coronavirus, Angkasa Pura I Lakukan Pemeriksaan Kesehatan Penumpang Asal Cina

“Kami sangat antusias dapat menuangkan suatu rencana kerja sama yang baik antara Angkasa Pura I dengan Gudang Garam terkait pengelolaan Bandara Dhoho di Kediri di Jawa Timur. Pembangunan Bandara Dhoho Kediri sangat potensial karena dapat menjadi alternatif penerbangan setelah Bandara Internasional Juanda di Jawa Timur,” ujar Direktur Utama Angkasa Pura I Faik Fahmi. Direktur PT Gudang Garam Tbk. Istata T. Siddharta mengatakan, “Investasi ini merupakan investasi jangka panjang dan komitmen perusahaan untuk berkontribusi terhadap pengembangan wilayah Jawa Timur.”

*