Virus Demam Babi Afrika Mewabah di Indonesia, Peternak Dilarang Beri Makan Babi dari Sisa Makanan Penerbangan

Serangan virus demam babi Afrika baru-baru ini membuat lebih dari 34 ribu babi di Sumatera Utara mati dan pihak berwenang tak mau ambil risiko dengan 760 ribu babi yang tinggal di Bali. Serangan demam ini dikarenakan pemberian makanan sisa dari maskapai yang diberikan oleh para peternak.

Baca juga: Santap Sisa Makanan Penumpang, Awak Kabin Ini Terancam Sanksi Berat

Menurut pihak berwenang, sisa makanan bisa saja terinfeksi virus yang tidak berbahaya bagi manusia tetapi bisa membunuh seluruh kawanan babi. Kepala badan kesehatan hewan dan ternak Bali, Wayan Mardiana mengatakan, penyakit ini telah menyebar karena babi diberi makan dari sisa makanan penerbangan.

“Saat ini kami telah melarang praktik semacam itu. Kami bekerja dengan pihak-pihak terkait untuk memastikan semua maskapai yang memiliki makanan sisa dan mengandung babi harus dihancurkan,” kata Wayan.

“Bea cukai akan memeriksa dan memusnahkan semua makanan yang mengandung babi dan dibawa oleh penumpang seperti dari Cina,” tambahnya.

Dia mengatakan, sebanyak 25 peternak babi di Bali dengan jumlah total 100 ribu ekor yang diberi makan sisa penerbangan dianggap berisiko tinggi. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (6/1/2020), karena demam babi Afrika ini, peternakan babi di Cina, Thailand dan beberapa negara lainnya hancur.

Hal ini karena virus demam babi Afrika penyebarannya terbatas yakni pada babi domestik dan liar. Bahkan Departemen Pertanian Australia mengatakan sudah membunuh 80 persen hewan yang terinfeksi.

“Sejauh ini tidak berpengaruh pada pariwisata di Bali, karena tidak berdampak pada manusia,” kata Kepala Departemen Pariwisata Bali, Putu Astawa.

Setelah itu kemudian sebuah pertanyaan menjadi muncul, kenapa babi-babi itu makan makanan sisa penerbangan? Jawabannya yakni karena maskapai tak bisa memberikan makanan yang sisa kepada penumpang di penerbangan lain. Apalagi makanan tersebut juga dicek secara ketat sebelum disiapkan dan disajikan. Makanan tersebut juga akan dibuang ketika tidak lagi disajikan.

Baca juga: 65 Persen Makanan untuk Emirates Dibuat di Dubai

Maka dengan alasan ini, beberapa maskapai dan bandara membentuk kemitraan dengan peternak lokal untuk menyediakan makanan limbah bagi mereka untuk diberikan kepada babi. Adanya sisa makanan tersebut dikarenakan maskapai ingin memastikan mereka memiliki semua opsi menu yang tersedia untuk setiap penumpang.

Capaian Melebihi Ekspektasi 2019, MRT Jakarta Akan Mulai Fase 2

Fase 1 Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta sudah mengular dan target penumpang yang awalnya 65 ribu hingga akhir tahun 2019, justru melebihi ekspektasi awal yang ditutup dengan angka 95 ribu penumpang per hari. Bahkan ditotal hingga akhir tahun 2019, sebanyak 24,6 juta penumpang naik kertea MRT Jakarta semenjak beroperasinya Maret 2019.

Baca juga: Sinergi dengan MRT Jakarta, Basarnas Jakarta Fokus Pada Tanggap Darurat Gempa dan Banjir

Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar mengatakan, dengan jumlah tersebut menyatakan, MRT Jakarta sudah menjadi proyek lifestyle masyarakat ibu kota. Dia mengatakan, setelah ini, MRT Jakarta akan memulai dengan fase 2 pembangunan dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) menuju ke Kota.

“Kita akan mulai pembangunan fisik paket CP201 dari Bundaran HI ke Harmoni. Kontraktor pemenang sudah di tetapkan dan JICA sudah tanda tangan kontrak,” Kata William, di Dukuh Atas, Kamis (30/1/2020).

Dia menambahkan, jarak fase 2 dari Bundaran HI ke Kota sekitar 6,3 km dan akan ada tujuh stasiun underground (bawah tanah) yang dibangun. Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Silvia Halim menambahkan, paket CP201 dari Bundaran HI ke Harmoni akan mulai dilaksanakan setelah pembangunan skybridge CSW yang akan menghubungkan Stasiun MRT Asean dan Halte TransJakarta koridor 13 selesai di Maret 2020 mendatang.

“Selesai pembangunan CSW di Maret, kita langsung mulai CP201 ini,” kata Silvia.

Dia menyebutkan untuk depo di Ancol Barat yang terhubung dari Kota akan mulai setelah Feasibility Study (FS). Nantinya hasil FS inilah yang akan menentukan letak stasiun baik itu di elevated atau underground hingga estimasi biaya yang diperlukan untuk pembangunan.

“Kita juga berharap FS ini selesai di Maret barengan dengan CSW jadi kita bisa mulai perkiraan dari Kota ke Ancol Barat akan seperti apa pengerjaannya,” jelas Silvia kepada KabarPenumpang.com.

Dia menyebutkan, untuk perpanjangan dari Kota hingga Ancol Barat diperkirakan akan ada tiga atau empat stasiun bila dihitung satu kilometer. Silvia menambahkan, stasiun-stasiun yang akan diperpanjang hingga Ancol Barat tersebut akan melintas di trase Mangga Dua, Gunung Sahari dan Ancol.

“Nantinya yang jelas FS akan menentukan segalanya dan kita baru bicara soal pendanaannya,” tambahnya.

Terkait masalah luasan depo baru untuk MRT Jakarta yang akan dibuat di Ancol Barat, Silvia mengatakan, pihaknya punya ekspektasi lahan baru tersebut lebih luas dari yang ada di Lebak Bulus. Silvia menambahakan, bila jalur timur-barat MRT Jakarta mulai beroperasi maka kereta akan bertambah banyak dan depo harus lebih besar.

Baca juga: Gambar dan Tulisan Tak Sama, “Mockup Signage” di Stasiun MRT Jakarta Jadi Viral

“Kalau fase 3 sudah berjalan dari timur ke barat, otomatis perjalanan bertambah dan kereta juga bertambah makanya kita butuh depo lebih besar. Kisarannya depo baru ini dekat pantai dan untuk dealnya kita masih tunggu mekanisme dengan Pemda,” tambah Silvia.

Evakuasi WNI di Wuhan Bakal Gunakan Pesawat Widebody Airbus A330

Mengikuti dinamika meluasnya wabah virus Corona, Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan evakuasi segera Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina. Sebelum adanya perintah Presiden, pihak TNI AU telah menyiapkan dua pesawat Boeing 737-400 dan satu pesawat angkut C-130 Hercules untuk diterbangkan ke Wuhan. Kabarnya dalam waktu dekat, diperkirakan pada Sabtu ini, rombongan pesawat penjemput akan diberangkatkan. Namun, rupanya bakal ada perubahan dari jenis pesawat yang digunakan.

Baca juga: Bandara Tianhe Wuhan, Semakin Dikenal Karena Wabah Virus Corona

Dari informasi yang ada, jumlah total WNI asal Indonesia yang akan di evakuasi dari Provinsi Hubei berjumlah 240 orang. Dan dilihat dari spesifikasi pesawat yang akan digunakan TNI AU, yaitu masing-masing Boeing 737-400 punya kapasitas 100 penumpang, sementara C-130 Hercules difungsikan sebagai pesawat pendukung logistik. Mengutip dari Angkasa.news.com, Kadispen TNI AU Marsma TNI Fajar Adrianto mengatakan, bahwa penerbangan ke Wuhan akan menempuh jarak 2.500 nautical mile (4.530 km). Rute yang ditempuh dari Bandar Halim Perdanakusuma – Natuna – Xianmen di Selata Beijing – Wuhan. “Jarak Xianmen ke Wuhan sekitar 400 nautical mile (740 km),” ujar Fajar.

Dan dari hasil rapat antara Kementerian Luar Negeri dengan Kedutaan Besar RI di Beijing (29/1/2020), maka ada perubahan dari pesawat yang digunakan, disebutkan yang akan melakukan misi evakuasi menggunakan pesawat berbadan lebar (widebody) jenis Airbus A330 milik Lion Air. Dari informasi yang ada, penggunaan A330 dipandang lebih efisien dalam hal waktu dan kecepatan, pasalnya dengan A330, 240 penumpang dapat diangkut sekaligus dengan satu pesawat saja. Dengan kemampuan terbang jarak jauh, maka penerbangan dari Indonesia ke Wuhan dapat dilangsungkan secara direct flight.

Sementara itu, komponen pesawat terbang dari TNI AU akan digunakan sebagai cadangan. Direncakan debarkasi akan dilakukan di Bandara Halim Perdanakusuma, untuk selanjutnya awak pesawat dan penumpang akan dikarantina di Asrama Haji Pondek Gede lebih kurang 14 sampai 28 hari.

Baca juga: Tak Diberitahu Pihak Maskapai, Sejumlah Penumpang Scoot Frustasi Telah Terbang Bersama 110 Orang Wuhan

Bila yang digunakan adalah jenis Airbus A330-300 misalnya, pesawat twin engine yang biasa melayani penerbangan Umrah ini punya kapasitas 440 kursi. Kemampuan jelajah A330-300 pun mumpuni untuk misi ini, yaitu dapat terbang sejauh 5.650 nautical mile (10.500 km).

Norwegian Air Kenakan Biaya Pada Tas Jinjing Per 23 Januari 2020

Norwegian Air mulai 23 Januari 2020 kemarin menetapkan biaya pada tas tangan. Namun untuk penumpang yang sudah membeli tiket sebelum tanggal 23 Januari dengan keberangkatan beberapa waktu kedepan tidak akan dikenakan biaya yang ada pada peraturan baru tersebut.

Baca juga: Beda Maskapai Beda Pula Aturan Bawa Bagasi Jinjing Dalam Kabin

Sebelum adanya aturan ini, para penumpang Norwegian Air boleh membawa satu tas jinjing secara gratis. Tak hanya itu, penumpang juga bisa membawa satu barang yang diletakkan di bawah kursi depan serta membawa barang bebas bea yang di beli di bandara.

KabarPenumpang.com melansir laman get.com (23/1/2020), saat ini, aturan baru tersebut akan dikenakan kepada penumpang yang membeli kursi kelas terendah di mana penumpang hanya bisa membawa satu tas jinjing dibawah sepuluh kilogram dan bisa masuk di bawah kursi. Jika barang tersebut tak bisa masuk ke bawah kursi atau melebihi sepuluh kilogram, maka penumpang akan dikenakan biaya tambahan.

Berikut ini kebijakan baru yang dibuat oleh Norwegian Air untuk tas jinjing penumpang. Kelas LowFare hanya memperbolehkan penumpang membawa satu tas untuk diletakkan di bawah kursi dengan ukuran 30 x 20 x 38 cm dan tidak ada tas yang masuk dalam kabin atass kepala.

Kelas LowFare+, penumpang bisa membawa satu tas untuk diletakkan di bawah kursi, satu tas masuk dalam kabin atas kepala dengan ukuran 55 x 40 x 23 cm dan jika digabungkan beratnya harus sepuluh kilogram atau kurang. Kelas Flex, Premium dan Premium Flex memiliki aturan yang sama dengan LowFare+, tetapi memiliki batas bawaan 15 kg.

Bila penumpang kelas LowFare ingin membawa tas tambahan maka akan dikenakan biasa $6,5 hingga $11,7. Pihak Norwegian Air mengatakan, mereka menerapkan perubahan ini untuk mempercepat proses naik, sehingga penerbangan bisa berangkat tepat waktu.

Baca juga: Enam Hal Sebelum Pilih Koper atau Tas Jinjing untuk Berlibur

Tak hanya kebijakan pengenaan biaya, maskapai Norwegian Air juga memberikan kabar baik yakni, penumpang dengan kelas LowFare+ bisa membawa barang terdaftar hingga 23 kg yang tadinya hanya 20 kg. Sedangkan kelas Flex, Premium, PremiumFlex dapat membawa duat tas terdaftar dengan masing-masing berat maksimum 23 kg.

Boeing Catatkan Kerugian Terbesar Sepanjang Sejarah Berdiri

Setelah melalui tahun yang buruk, ditandai dengan jatuhnya Boeing 737 MAX milik maskapai Lion Air dan Ethiopian Airlines, Boeing akhirnya merilis laporan tahunan. Dalam laporan tersebut, Boeing mengaku mencatatkan kerugian bersih terbesar sepanjang sejarah berdirinya perusahaan sebesar US$636 juta (Rp8,864 triliun).

Baca juga: Boeing Akui Fitur Folding Wingtip 777X Bisa Jadi Penyebab Kecelakaan

Dikutip dari seattletimes.com, Kamis, (30/1), kinerja keuangan Boeing sebetulnya sempat membaik pada kuartal ketiga 2019. Kala itu, perusahaan berhasil memperoleh laba US$ 895 juta (sekitar Rp12,53 triliun). Padahal, periode tersebut Boeing tengah mengalami pukulan telak akibat serangkaian kecelakaan pada Boeing 737 MAX.

Meski demikian, keuntungan yang berhasil diperoleh Boeing pada kuartal tiga ini turun jika dibandingkan dengan pendapatannya tahun lalu sebesar US$1,9 miliar (sekitar Rp26,6 triliun). Boeing mengamankan keuntungannya berkat bisnisnya di sektor pertahanan dan luar angkasa, meskipun sektor pesawat komersial (Commercial Airplanes division) miliknya terus membukukan kerugian lain.

Kinerja keuangan Boeing baru benar-benar teruji ketika pada kuartal kedua dan kuartal keempat, dimana perusahaan tersebut mengalami defisit besar. Pada kuartal kedua, Boeing mencatat kerugian US$3,7 miliar (sekitar Rp51,8 triliun). Kemudian pada kuartal keempat, kerugian sebesar US$1,01 miliar (Rp13,7 triliun). Hal itu belum termasuk revenue yang juga menurun dibanding tahun sebelumnya pada kuartal pertama hingga keempat.

Pada kuartal pertama hingga keempat tahun lalu, Boeing membukukan total pendapatan mencapai US$3,7 miliar (Rp244,5 triliun), turun hampir 37 persen dibanding tahun sebelumnya US$28,3 miliar (Rp386,9 triliun).

Selain itu, kinerja keuangan terburuk Boeing sepanjang sejarah berdirinya perusahaan juga dikarenakan oleh turunnya harga saham perusahaan asal negeri Paman Sam tersebut. Polanya nyaris sama dengan pendapatan Boeing pada kuartal dua dan empat di 2019. Pada tahun tersebut, saham Boeing anjlok menjadi hanya US$1,79 per lembar, jauh dibandingkan dengan harga saham di tahun sebelumnya saat membukukan keuntungan sebesar US$3,4 miliar (Rp 46,4 triliun), yakni sebesar $5.93 per lembar.

Selain karena merosotnya pengiriman hingga 53 persen, belum ditambah jumlah pesanan di tahun 2020 yang juga mengalami penurunan, yang pada akhirnya berdampak pada kinerja keuangan, kerugian Boeing juga disumbang oleh banyaknya pembatalan pesanan serta pembayaran ganti rugi kepada para pelanggan, termasuk kepada ahli waris dari para korban terdampak.

Tak hanya itu, keputusan Boeing untuk memangkas tingkat produksi 787 Dreamliner, dari 14 unit lebih per bulan menjadi hanya kurang dari 12 unit per bulan, juga turut menyumbang laju perlambatan keuangan Boeing. Menurut sebagian pengamat, keputusan teresbut bukanlah hal yang mengejutkan, mengingat permintaan jangka pendek yang lamban untuk jet berbadan lebar dan sisa pesanan yang hanya tinggal beberapa pesawat saja.

Menanggapi beban yang ada dihadapannya, ditambah fakta bahwa perusahaan yang dipimpinnya kini telah mengalami kerugian terbesar sepanjang sejarah berdiri, CEO Boeing, Dave Calhoun pun akhirnya buka suara. Berbanding terballik dengan keadaan keuangan yang tengah terpuruk, ia justru menyikapi berbagai keterpurukan Boeing dengan optimis.

“Kami menyadari memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Kami berfokus untuk mengembalikan 737 MAX ke layanan dengan aman dan memulihkan kepercayaan lama yang diwakili oleh merek Boeing dengan publik penerbangan,” katanya.

Baca juga: Boeing Kembali Temukan Masalah Baru pada Software, 737 MAX Gagal Terbang (Lagi)

“Untungnya, kekuatan keseluruhan portofolio bisnis Boeing kami menyediakan likuiditas keuangan untuk mengikuti proses pemulihan yang menyeluruh dan disiplin,” lanjut, CEO yang baru menjabat awal bulan ini, menggantikan CEO lama, Dennis Muilenburg.

Sebagai informasi, sebelum tahun 2019, Boeing juga pernah mencatat kerugian besar pada tahun 1995 dan 1997. Kala itu, Boeing mencatat kerugian total sebesar US$214 miliar (sekitar Rp 46,4 triliun).

Heboh Fitur Folding Wingtip di Boeing 777X, Apa Sih Bedanya Winglet dan Wingtip?

Setelah lama tertunda, Boeing 777X akhirnya sukses terbang perdana pada Sabtu lalu. Sekalipun sempat tertunda, Boeing mengklaim bahwa pesawat tersebut akan bisa bersaing dengan kompetitornya berkat fitur folding wingtip serta beberapa inovasi lainnya.

Baca juga: Boeing Akui Fitur Folding Wingtip 777X Bisa Jadi Penyebab Kecelakaan

Pada umumnya, sebagian kalangan mungkin lebih akrab dengan istilah winglet. Dengan hadirnya folding wingtip pada Boeing 777X, mereka pasti akan sedikit rancu bahkan cenderung bingung dengan penggunaan istilah winglet dan wingtip.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, sebetulnya tidak sederhana untuk mulai menjelaskan winglet dan wingtip. Barangkali, penjelasan terkait winglet dan wingtip bisa dimulai dari cara kerja pesawat hingga burung besi tersebut dapat terbang.

Sebagaimana yang umum diketahui, pesawat bisa terbang disebabkan oleh adanya empat gaya. Gaya thrus (gaya dorong), lift (gaya angkat), weight (gaya berat), dan drag (gaya ke belakang atau menarik mundur). Namun, semua gaya untuk membuat sebuah pesawat dapat terbang akan sia-sia bila tida ada sayap. Sebab, komponen utama pesawat terbang yang menghasilkan gaya angkat adalah sayap.

Blended Wingtip dari Airbus A350XWB. Sumber: Wikipedia

Prinsip kerja sayap sendiri adalah udara yang mengalir di bawah sayap lebih lambat daripada di bagian atasnya dikarenakan jalur yang dilewati udara di atas sayap lebih jauh, perbedaan kecepatan tersebut menghasilkan perbedaan tekanan yaitu tekanan di bawah sayap lebih tinggi dari pada tekanan di atas sayap, yang mana mengakibatkan pesawat terangkat ke atas.

Tentu saja kita telah sama-sama ketahui bahwa udara mengalir dari tekanan rendah ke tekananan tinggi, misalkan balon yang kita tiup akan menyemburkan udaranya keluar ketika kita lepaskan karena tekanan di dalam balon lebih tinggi dari tekanan luar balon.

Hal tersebut juga terjadi pada perbedaan tekanan antara bagian bawah dan atas sayap, tepatnya terjadi pada ujung sayap. Aliran udara dari bawah ke atas sayap pada ujung sayap menghasilkan aliran udara yang berputar dengan cepat pada ujung sayap yang disebut juga dengan tip vortex. Aliran ini dapat meningkatkan drag pada sayap, menurunkan gaya angkat dan mengganggu aliran udara.

Winglet B747. Foto: Hydro.aero

Guna menghindari terjadinya hal tersebut, ujung sayap dibuat berbelok ke atas dan mengecil atau disebut juga dengan winglet. Winglet berfungsi untuk meredam putaran udara (vortex) pada bagian ujung sayap yang disebabkan pertemuan udara bagian bawah sayap yang bertekanan tinggi dengan udara bagian atas sayap yang bertekanan rendah yang menyebabkan terjadinya turbulensi. Putaran udara ini juga menyebabkan pesawat membutuhkan energi yang lebih besar agar dapat stabil di udara, sehingga akan boros bahan bakar. Dengan adanya winglet, bahan bakar pesawat bisa diirit hingga 7%, jumlah yang cukup besar untuk pesawat yang melakukan perjalanan long distance.

Baca juga: Ditengah Keraguan Soal “Folding Wingtip,” Boeing 777X Sukses Terbang Perdana

Jadi, winglet bisa dikatakan sebagai bentuk dari ujung sayap yang modelnya berupa perpanjangan dari sayap dan ditekuk ke arah atas sayap. Contoh pesawat yang menggunakan winglet jenis ini adalah keluarga Boeing 737 NG. Adapun wingtip secara harfiah adalah ujung sayap pesawat. Selain bentuk winglet, wingtip juga mempunyai bentuk lainnya, seperti Sharklets dan Raked wing.

Sharklets adalah berupa sebuah sirip tambahan pada bagian atas dan bawah pada posisi tegak di ujung sayap. Contoh pesawat yang menggunakan winglet jenis ini adalah Airbus A320. Sedangkan Raked wing adalah perpanjangan sayap yang memiliki sudut agak lebih tinggi di bagian ujung sayap. Winglet jenis ini adalah salah satu dari teknologi Boeing yang digunakan pada pesawat terbarunya yaitu 787 dan 747-8.

Dengan Mesin Eco-Friendly, Batik Air Datangkan Airbus A320NEO Pertama

Batik Air mengumumkan rencananya untuk mendatangkan pesawat Airbus A320-200NEO pertama dalam waktu dekat. Saat ini, pesawat berbadan sempit (narrow body) tersebut sudah selesai proses uji terbang di Toulouse, Perancis, pada Rabu kemarin, waktu setempat. Meskipun berbadan sempit, pesawat tersebut dinilai tangguh untuk mengarungi rute pendek hingga menengah berkat sokongan mesin yang eco-friendly.

Baca juga: Ternyata Penerbangan (Rute) Terpendek Airbus A320 Ada di Indonesia

Keputusan maskapai, yang masih satu grup dengan Lion Air tersebut, mendatangkan Airbus A320 NEO tentu didasari banyak pertimbangan. Selain karena pesawat sudah didukung oleh teknologi fly-by-wire yang memungkinkan pilot mengendalikan penerbangan melalui penggunaan sistem elektronik, Airbus A320NEO juga dinilai mampu memberikan pengalaman terbang baru.

“Kami telah mempertimbangkan berbagai faktor, bahwa pesawat tersebut akan memberikan pengalaman baru lebih kepada setiap tamu yang melakukan perjalanan,” kata Chief Executive Officer (CEO) Batik Air, Capt. Achmad Luthfie, kemarin.

Selain itu, terpilihnya Airbus 320-200NEO oleh Batik Air juga didasari oleh kebutuhan jangka panjang maskapai. Nantinya, pesawat penumpang jet komersial yang diklaim paling cepat terjual ini akan dipergunakan untuk pengembangan bisnis Batik Air itu sendiri, meliputi pemenuhan berbagai rute yang sudah ada (eksisting), rencana penambahan frekuensi terbang, serta pembukaan rute baru domestik dan internasional.

Guna mendukung pengembangan bisnis tersebut, Batik Air juga akan menyulap Airbus A320-200NEO dengan konfigurasi kursi lorong tunggal (single aisle) berkapasitas 12 kelas bisnis dan 144 kelas ekonomi tersebut dengan berbagai fitur menarik (inflight entertainment). Seperti berupa audio video visual di setiap kursi, pengaturan suara (audio control), kabin paling senyap di kelasnya, menambah fitur utama kursi lebih ergonomis, dan sandaran kursi pada kaki (foot rest).

Tak hanya itu, bagi pengunjung yang kerap membawa banyak barang bawaan (hand luggage), Batik Air juga akan memanjakan anda dengan kompartemen penyimpanan barang bawaan (overhead bin) yang lebih besar.

Kompartemen atau penyimpanan yang terletak di atas kursi penumpang ini menyediakan 10% volume ekstra, menampung lebih banyak jumlah tas hingga 60 persen, serta desain baru kompartemen bagasi kabin yang memungkinkan lebih mudah mengatur dan menyimpan banyak barang bawaan di kabin.

Saat ini, setelah lulus tes uji terbang, pesawat harus kembali ke pabrik untuk dilakukan berbagai pekerjaan lainnya. Bila tidak ada halangan yang berarti, rencananya, sejumlah armada baru Batik Air tersebut akan datang dalam waktu dekat.

Baca juga: Terima A330-300CEO eks Thai Lion, Batik Air Resmi Masuki Pasar Widebody Full Service

“Kami bangga akan menyambut kedatangan Airbus 320-200NEO dan memperkenalkan pesawat terbaru,” pungkas CEO sudah sejak 2012 lalu bergabung dengan Batik Air, Capt. Achmad Luthfie.

Pesawat A320-200 NEO juga menawarkan kompartemen penyimpanan barang bawaan (overhead bin) yang paling besar di kabinnya. Kompartemen yang terletak di atas kursi penumpang ini menyediakan 10 persen volume ekstra, menampung lebih banyak jumlah tas hingga 60%., serta desain baru kompartemen bagasi kabin yang memungkinkan lebih mudah mengatur dan menyimpan banyak barang bawaan di kabin.

Bersiaplah, Ajang Crystal Cabin Awards Akan Hadirkan Desain Kabin Pesawat Masa Depan

Dari kabin yang sangat terhubung dan dipersonalisasi di masa depan hingga memutar kursi pesawat yang membuat kelas ekonomi jadi lebih fleksibel, semua hal tersebut nantinya dari dalam pagelaran Crystal Cabin Awards. Acara yang dihelat pada Maret mendatang di Hamburg, Jerman tersebut diyakini akan dipenuhi dengan inovasi pesawat yang tak terduga, namun sebetulnya dibutuhkan penumpang.

Baca juga: Manjakan Mata Penumpang, LG Display Luncurkan Teknologi OLED di Kabin Pesawat

Tentu saja, soal kebutuhan selama penerbangan di udara, sangat relatif, bergantung pada situasi dan kondisi pribadi. Beberapa mungkin suka dengan hal-hal yang menjadi tren rancangan kabin di masa mendatang, begitupun sebaliknya.

Akan tetapi, para perancang di balik ide-ide inovatif ini (pada gelaran Crystal Cabin Awards) berkeyakinan, terlepas dari berbagai situasi dan kondisi para penumpang dalam mensikapi rancangan, mereka dapat mengubah pengalaman interior pesawat menjadi lebih baik. Sebab, memang itulah tujuan dari digelarnya salah satu penghargaan paling bergengsi di industri penerbangan.

Saat ini, prosesnya sudah memasuki tahap penyeleksian. Lebih dari 100 desainer terbaik telah memasuki fase nominasi, dengan kategori yang diperebutkan yakni “Hiburan dan Konektivitas dalam Penerbangan” dan “Konsep-konsep Visioner”. Setelah nominasi ditetapkan, nantinya para nominator akan mempresentasikan desainnya tersebut. Pada akhirnya, dua pemenang untuk masing-masing kategori pun akan diumumkan pada acara Aircraft Interiors Expo di Hamburg, Jerman Maret 2020 mendatang.

Upaya untuk mengubah pengalaman terbang di kelas ekonomi memang tengah ‘memanas’ belakangan ini. Yang paling menyita perhatian adalah, bagaimana kelas ekonomi bisa menghadirkan layanan tidur di kabin pesawat dengan nyaman dalam penerbangan jarak jauh, seperti London Sydney dan berbagai penerbangan jarak jauh lainnya.

Beberapa desain yang sudah masuk dalam nominasi mungkin bisa menjawab tantangan tersebut. Misalnya, perusahaan teknik Heinkel Group. Mereka menawarkan konsep yang disebut “Flex Lounge”, yang memungkinkan konfigurasi fleksibel untuk baris kursi di kabin ekonomi. Pasca take-off, pramugari dapat mengatur ulang baris sehingga penumpang yang bepergian bersama dapat saling berhadapan, memungkinkan pengalaman yang lebih intim dan santai bagi keluarga, teman atau rekan kerja.

Lain lagi dengan Adient Aerospace yang menawarkan “Space For All”. Konsep tersebut, memungkinkan tiga kursi di bagian depan pesawat, dengan tambahan kursi lipat yang menempel di dinding, berubah menjadi tempat tidur datar bergaya sofa yang nyaman, khususnya untuk keluarga.

Konsep-konsep lainnya pun tak kalah menarik. Bahkan, beberapa konsep kursi pesawat yang dinominasikan memang dirancang untuk pesawat yang masih dalam tahap pengembangan. Pesawat Flying-V, misalnya, adalah pesawat hemat bahan bakar yang saat ini sedang dikembangkan di Delft University of Technology di Belanda, bekerjasama dengan KLM.
Dalam kaitannya dengan Crystal Cabin Awards, Delft telah mengajukan desain untuk kursi fleksibel yang dapat dilipat serta berubah menjadi tempat tidur datar dalam desain gaya bunk-bed, agar efisiensi ruang mencapai maksimum.

Sementara itu, Ciara Crawford, menawarkan konsep brilian untuk kursi ROW 1. Mereka membayangkan kursi pesawat dan kursi roda dapat bersatu. Hal memungkinkan pengalaman pesawat yang lebih mudah diakses, khususnya bagi para penyandang disabilitas. Jadi, mereka (penyandang disabilitas) hanya perlu masuk ke dalam pesawat dengan kursi rodanya dan ‘duduk’ bersama kursi rodanya di barisan awal.

Konsep kabin generasi berikutnya datang dari Airbus yang menawarkan “Airspace Cabin Vision 2030”. Dengan konfigurasi tempat tidur dan tempat duduk yang lebih fleksibel, serta suasana kabin yang penuh dengan digitalisasi atau Airspace Connected Experience, mereka juga masuk dalam daftar nominasi. Konsep tersebut termasuk dengan konsep kursi pesawat dengan preferensi berbaring opsional yang dapat diprogram dengan mudah serta kabin overhead yang menyala hijau atau merah, bergantung pada load factor.

Airbus menganggap konsep ini adalah konsep diinginkan penumpang dari pengalaman terbang merekabersama Ingo Wuggetzer, Vice President Cabin Marketing Airbus, pada 201 lalu. Kuncinya, menurut mereka, apapun yang penumpang alami di darat, pasti akan dialami juga selama di udara.

Menariknya, dalam ajang Crsytal Cabin Awards tahun ini, para perancang tidak hanya memperhatikan kebutuhan penumpang, melainkan juga kebutuhan awak kabin. Salah satunya datang dari Collins Aerospace telah mengusulkan Zero G Attendant Seat. Konsep tersebut menawarkan kursi dengan kenyamanan tinggi bagi awak kabin. Kursi awalnya berada dalam posisi pada umumnya saat lepas landas dan mendarat, tetapi di luar itu, juga dapat dipindahkan ke posisi yang lebih nyaman dan bersandar untuk pramugari yang tidak bertugas, yang siap untuk bersantai dengan penerbangan jarak jauh.

Baca juga: Ada di Jepang, Kamar Hotel dengan Simulator Kokpit Boeing 737-800!

Selain desain cabin untuk penumpang dan awak kabin, para perancang juga memperhatikan hal-hal lainnya, seperti baki makanan dan air bersih di pesawat. Zero, misalnya, konsep tersebut menawarkan ‘baki’ makanan yang bisa dimakan, bahkan bisa didaur ulang.

Hal lainnya, Diehl Aviation, misalnya, mereka mengusulkan konsep Greywater Reuse Unit yang menggunakan air dari cuci tangan di wastafel untuk menyiram toilet. Perusahaan tersebut mengklaim, konsep tersebut dapat menghemat 550 ton CO2 per tahun untuk satu pesawat Boeing 787.

Ada Pilot dan Helikopter Terbaik Dibalik Kecelakaan Kobe Bryant, Lantas Apa Sebabnya?

Pada Minggu pagi sekitar pukul 9:45 pagi waktu setempat, helikopter Sikorsky S-76B dilaporkan hilang di lereng bukit dekat Kota Calabasas, California, sekitar 30 mil barat laut Los Angeles. Jika menilisik dari kapasitas, sebetulnya maksimum hanya delapan orang, dua awak kabin dan enam lainnya penumpang. Faktanya, pesawat nahas tersebut jatuh saat membawa sembilan orang termasuk Bryant dan putrinya, Gianna Maria Onore, yang berusia 13 tahun. Mungkinkah disebabkan oleh kelebihan muatan?

Baca juga: Pernah Kecelakaan di Indonesia Juga, Berikut Spesifikasi Helikopter Kobe Bryant Sikorsky S-76B

Hingga kini, pejabat Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) Amerika Serikat sendiri terus berkutat di lokasi untuk menyelidiki misteri di balik insiden tersebut. Sebagaimana kecelakaan pada umumnya, sambil menunggu proses investigasi usai, berbagai analisa dari pakar penerbangan global pun terus berdatangan. Tak terkecuali dari Les Abend, pilot senior Boeing 777 yang juga seorang analis penerbangan, sebagaimana dikutip dari CNN Internasional, Rabu, (29/1).

Menurutnya, dilihat dari segi akomodasi, helikopter khusus yang diproduksi pada tahun 1991 tersebut (Sikorsky S-76B) sebetulnya sangat baik dan dikelola oleh perusahaan charter pesawat yang juga baik. Bahkan, Island Express Helicopters, selaku perusahaan yang menyewakan helikopter tersebut menyatakan bahwa pilot Ara Zobayan, kapten pilot yang juga jadi korban, adalah pilot terbaik. Bersama Islan Express Helicopters, Ara telah berkarir lebih dari 10 tahun dan memiliki lebih dari 8.000 jam penerbangan.

Dari fakta di atas -pilot terbaik dan helikopter canggih versi komersial dari Black Hawk- analis yang juga kontributor senior majalah Flying ini menilai kecil kemungkinan terjadi kecelakaan. Belum lagi dari sisi dapur pacu. Lewat dua mesin poros turbo Pratt dan Whitney, helikopter memiliki daya cukup besar, untuk menggerakan rotor utama dan rotor ekor. Dengan kata lain, dua mesin jet kecil beroperasi bersamaan untuk memasok daya ke gearbox yang menjadikannya memililki sistem yang sangat andal. Rasanya sulit diterima adanya kecelakaan tersebut.

Sikorsky sendiri mulanya berangkat dari John Wayne, Bandara Orange County ke utara menuju Bandara Van Nuys. Laporan dari BMKG AS menunjukkan bahwa cuaca saat helikopter mengudara sedang mendung, dengan awan yang berarak di ketinggian 304 meter serta jarak pandang 6,4 kilometer.

Meskipun kondisinya dianggap horor, tetapi legal untuk dilewati Sikorsky S-76B dengan spesifikasinya yang lengkap, sesuai dengan aturan jarak pandang (Visual Flight Rules Clearance) yang ditetapkan oleh Administrasi Penerbangan Federal. Selain itu, dari segi armada, helikopter juga memiliki persyaratan yang lebih rendah (dibanding pesawat lainnya) karena kemampuan manuvernya yang lebih besar.

Kobe Bryant pose bersama Sikorsky S-76B dengan kode penerbangan N72EX yang merenggut nyawanya. Foto: Twitter

Akan tetapi, sebetulnya, sekalipun spesifikasi helikopter cukup aman untuk melintas dalam cuaca seperti itu, terlebih juga sudah mendapat izin terbang dari bandara tempat helikopter berangkat, terbang dalam kondisi cuaca tersebut tergolong tak lazim. Bahkan helikopter milik kepolisian Los Angeles pun tidak berani terbang dalam kondisi tersebut karena pilot dan petugas harus memiliki jarak pandang yang cukup ketika melakukan patroli. Menurut Les Abend, kemungkinan besar hal itu terjadi karena perbedaan regulasi. Kepolisian sangat mungkin memiliki aturan yang lebih ketat dibanding dengan operator helikopter charteran.

Bila melihat dari puing-puing, muncul dugaan bahwa ketika penerbangan mendekati Bandara Van Nuys, visibilitas atau jarak pandang cenderung menurun. Menurut data komunikasi terakhir, Sikorsky S-76B sempat tertahan di udara selama 12 menit sambil menunggu menara kontrol memberi arahan agar helikopter kembali masuk ke jalur aman.

Setelah mendapat arahan, helikopter pun kembali mengudara pada jalur 101. Komunikasi pilot dengan menara kontrol pun terdengar sangat profesional dan tak terindikasi adanya masalah. Setelah lebih dari empat dekade pengalaman mendengarkan komunikasi di udara, pendapat saya adalah bahwa respons dan nada suara pilot mencerminkan keakrabannya dengan rutinitas. Artinya, tidak ada hal lain yang membuat pilot bingung menghadapinya.

Namun, bila mendengar semua percakapan pilot dengan lebih teliti, penerbangan memang diduga mendapat perubahan medan yang cukup signifikan, ditambah jarak pandangan yang cukup berkurang. Jarak pandang atau prediksi terkait ketinggian pesawat dalam penerbangan seringkali tak sesuai dengan yang dilaporkan menara kontrol di daratan akibat ketebalan awan yang meningkat seiring ketinggian yang juga meningkat. Dengan kata lain, pilot lebih sulit melihat dan mengambil keputusan saat dihadapkan dengan kondisi nyata di depan mata, dibanding laporan dari menara kontrol yang notabene berada di daratan.

Namun, jika pilot pada dasarnya tetap mengikuti rute semula ke tempat tujuan, Les Abend menilai seharusnya tak akan terjadi masalah besar karena umumnya rute awal dapat menembus atau melewati bukit dan rintangan lainnya, sehingga jalurnya jelas. Tetapi, ia mengakui, pilot manapun, sekalipun menerbangkan helikopter di rute yang sudah dikuasainya, tetap akan dibuat kerepotan dengan kondisi jarak pandang yang terbatas. Ia kemudian menekankan, dalam kondisi tersebut, jika seseorang mengendarai mobil, mereka mungkin bisa berhenti atau bisa melalui kondisi jalan berkabut dengan lebih baik. Berbeda dengan pilot, ketika menyimpang dari jalur awal dengan kondisi jarak pandang terbatas, mereka hampir tidak punya waktu lebih untuk menghindari medan dan berakhir dengan menabak lereng bukit.

Data pelacakan dalam 15 detik terakhir penerbangan menunjukkan bahwa helikopter itu berada dalam penurunan cepat, disertai dengan peningkatan kecepatan yang cukup cepat. Peningkatan kecepatan tersebut mirip sepeda saat menuruni bukit. Ada kemungkinan bahwa data menunjukkan pilot sengaja mengurangi daya angkat untuk menjauhi medan pada detik terakhir. Penyelidik akan melihat segala sesuatu termasuk apakah ada gangguan teknis yang mengganggu pilot, atau menyebabkan helikopter menyimpang dari jalur penerbangan yang aman.

Terlepas dari itu, bukti lapangan puing-puing yang relatif besar dengan potongan-potongan kecil pesawat yang tersebar di lokasi kecelakaan, hal itu menunjukkan helikopter menabrak tanah dengan kecepatan tinggi. Sekalipun helikopter mengalami kegagalan mesin, pilot melakukan upaya manuver yang cukup baik atau biasa disebut “autorotation,” di mana bilah rotor berputar hanya menggunakan gaya aerodinamis, memungkinkan pesawat terbang untuk mendarat dengan kecepatan vertikal yang dapat bertahan. Jadi, bidang puing merupakan indikasi bahwa ada sesuatu yang sangat salah.

Baca juga: Igor Sikorsky, Kini Jadi Nama Bandara di Dua Negara

Guna mengungkap semuanya, NTSB atau Dewan Keselamatan Transportasi Nasional nantinya akan melakukan penyelidikan menyeluruh dengan terfokus pada hal-hal seperti, catatan pemeliharaan helikopter, data cuaca, kontrol lalu lintas udara, berat beban, dan keseimbangan pesawat, pengalaman pilot, waktu tugas pilot, hingga toksikologi pilot.

Seperti semua kecelakaan penerbangan lainnya, kecelakaan ini adalah tragedi yang mengerikan. Proses investigasi mungkin memerlukan waktu hingga satu tahun untuk menemukan kemungkinan penyebabnya, yang mungkin disebabkan banyak faktor.

20 Unit GrabCar Elektrik Mulai Beroperasi di Bandara Soekarno-Hatta

Sebanyak 20 unit mobil Hyundai Ioniq Electric dengan kapasitas baterai 38 kwh, yang mampu menempuh perjalanan 380 kilometer resmi diluncurkan Grab sebagai taksi online. Mobil-mobil ini nantinya akan mulai beroperasi di bandara yang dikelola oleh PT Angkasa Pura (AP) II.

Baca juga: Mulai Beroperasi Mei 2019, Inilah Tarif Taksi Listrik Blue Bird

Pada tahap awal hanya ada 20 unit, yang baru diluncurkan Grab dan harga yang dipatok untuk sekali naik taksi online listrik ini pun lebih mahal dibanding taksi online yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM) yakni sebesar 15 persen. Tarif GrabCar Elektrik ini mulai Rp17.000 hingga Rp22.500 untuk per kilometernya.

“Kita ada penyesuaian tarif sedikit dibandingkan dengan GrabCar airport, itu sekitar sepuluh sampai 15 persen,” kata Presiden Grab Indonesia, Ridzki Kramadibrata yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber.

Untuk saat ini taksi listrik milik Grab tersebut baru bisa dipesan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta meski memiliki tujuan ke seluruh Jabodetabek. Ridzki menambahkan, pemilihan lokasi Bandara Soetta ini karena memiliki pasar potensial yang baik dan banyak peminat.

“Pertimbangan kenapa memilih airport ini, karena PT AP II adalah rekan yang sama-sama suka berinovasi, jadi kami mempertimbangkan hal tersebut,” kata dia.

Dia menjelaskan, nantinya para mitra pengemudi GrabCar Elektrik adalah pilihan yang sudah menempuh masa pelatihan terlebih dahulu. Sebab mobil berbahan bakar listrik dan BBM memiliki perbedaan cara mengemudikannya.

Kehadiran taksi listrik Grab sendiri dikatakan Ridzki juga untuk mendukung pemerintah menciptakan ekosistem kendaraan ramah lingkungan dan menjadi investasi jangka panjang mengurangi polusi udara yang menjadi persoalan ibukota.

“Buka aplikasi Grab pada pukul 12 nanti, sudah bisa ditemukan pilihan Grabcar Elektrik di aplikasi Anda. Silahkan dicoba,” kata Ridzki.

Baca juga: Blue Bird Gunakan Mobil Listrik Tesla untuk Armada Taksi Terbaru

Ridzki mengatakan, pihaknya menargetkan tahun ini mengadakan 500 unit kendaraan listrik daring yang akan beroperasi di Indonesia. Direktur Utama PT PLN Zulkifli Zaini mengatakan, kehadiran taksi listrik ini mereka siap mendukung dengan menambahkan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).

“Pasti ada penambahan titik charger, tapi nanti kita hitung dulu sesuai kebutuhan mereka berapa,” jelas Zulkifli.