[Video] Taksi Drone 282 Karya Anak Bangsa Berhasil Terbang Sebelum Dipamerkan di Jerman

Masih ingat taksi drone 282 karya anak bangsa? Belum lama ini rupanya telah berhasil terbang, loh. Taksi terbang yang rencananya akan dipamerkan di Hannover Messe pada 20-24 April 2020 mendatang, tersebut berhasil terbang sekalipun dengan durasi yang belum terlalu lama, tak seperti taksi terbang lainnya yang sudah lebih dahulu mapan secara teknologi.

Baca juga: Mau Diboyong Ke Jerman, Inilah “Frogs” Drone Taksi Asli Kota Gudeg

Seperti video yang dilihat KabarPenumpang.com, taksi terbang drone yang lahir buah hasil riset selama dua tahun dan menghabiskan dana sebesar Rp1 miliar tersebut awalnya sempat terangkat beberapa cm. Setelah sekian detik tertahan, taksi terbang tersebut kemudian terbang lebih tinggi lagi hingga kemudian mendarat sekalipun belum terlalu mulus.

Meskipun demikian, keberhasilan mesin mengangkat drone yang mampu mengangkut maksimal beban 200 kilogram tersebut rupanya sudah membuat sang kreator puas. Pasalnya, ada beberapa parameter penting sebelum delapan motor atau propellernya berhasil mengangkat wahana taksi terbang, seperti misalnya udara dingin dan lembab yang membuat massa jenis udaranya menjadi agak berat.

Sebagaimana taksi terbang lainnya di berbagai penjuru dunia, Frogs juga didesain lebih untuk memenuhi kebutuhan transportasi di Indonesia, khususnya Jakarta yang sudah sangat macet dan membutuhkan alternatif transportasi lain. Selain membidik pangsa pasar jasa taksi udara, drone ini juga bisa dimanfaatkan untuk memuat kargo, kebutuhan militer, serta kepentingan darurat maupun pertolongan pertama di daerah bencana yang sulit diakses.

Diketahui, Frogs, pionir drone berawak di Indonesia, memimpin barisan produk teknologi yang akan mewakili Indonesia di pameran tersebut tahun ini. Drone taksi ini mampu mengangkut dua penumpang dengan delapan buah baling-baling dan terbang sejauh 100 km hanya dengan satu kali pengisian daya listrik. Drone ini lahir di sebuah bengkel di Yogyakarta yang kemudian dikembangkan dalam ekosistem UMG Idealab.

Dibanding produk lainnya, taksi terbang karya anak bangsa tersebut memang belum terlalu mencolok, baik secara desain, dimensi, maupun kemampuan. Sebagai perbandingan, dengan taksi terbang buatan Cina, Ehang 184, misalnya, secara daya angkut, Frogs memang masih tertinggal sedikit. Bila Ehang 184 mampu mengangkut 230 kilogram, Frogs hanya sedikit di bawahnya 200 kilogram.

Baca juga: Investasi di Taksi Terbang Joby Aviation, Toyota Gelontorkan Rp5,3 Triliun

Akan tetapi, bila berbicara soal daya jelajah, Frogs buatan asli Indonesia tersebut mampu terbang lebih jauh dibanding batan Cina. Ehang 184 yang juga menggunakan listrik sebagai sumber tenaga bisa membawa penumpang hingga sejauh 10 mil atau 16 kilometer atau sekitar 23 menit penerbangan dengan kecepatan standar. Sedangkan Frogs sanggup melesat sejauh 100 km.

Hanya saja, bila dibandingkan dengan produk serupa lainnya, khususnya dari pabrikan besar, Frogs memang tertinggal cukup jauh. Dengan Joby Aviation, misalnya, Frogs hampir tertinggal di semua lini. Dengan hanya enam baling-baling listrik, taksi terbang Toyota tersebut justru mampu terbang lebih jauh, mencapai 150 mil (241 km) dengan sekali pengisian daya serta kecepatan hingga 200 mph ata 322 kilometer per jam. Namun, perbedaan mencolok tersebut tentu sangat wajar, mengingat Toyota menggelontorkan investasi senilai Rp5,3 triliun sedang kan Frogs hanya sekitar Rp1 miliar.

Setelah Boeing, Kini Karyawan Airbus di Spanyol Dilaporkan Positif Terinfeksi Corona

Setelah Boeing yang mengumumkan kasus karyawan yang positif terkena corona, kini karyawan Airbus di pabrik Getafe, Spanyol di diagnosa positif terinfeksi virus corona dan harus dikarantina. Airbus merilis salah satu karyawannya yang terinfeksi virus corona pada 9 maret 2020.

Baca juga: Tiga Pekerja Boeing di Washington Positif Terinfeksi Covid-19

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman flightglobal.com (12/3/2020), pihak manufaktur mengatakan, telah menyarankan karantina pribadi selama 14 hari bagi pekerja yang telah melakukan kontak langsung dengan karyawan yang terinfeksi virus corona. Airbus menegaskan, bahwa kesehatan dan keselamatan adalah prioritas nomor satu bagi mereka.

Dalam tindakan pencegahan penyebaran virus tersebut, Airbus mengikuti protokol medis dari otoritas kesehatan global dan nasional serta telah menerapkan pedoman staf dalam kaitannya dengan interaksi sosial, kebersihan, perjalanan dan kunjungan ke fasilitas Airbus. Pabrik Airbus di Gertafe sendiri membuat stabilisator horisontal untuk seri A350, A330 serta untuk keluarga A320 dan membangun tail-cone untuk A350.

Selain itu, di pabrik Getafe, Airbus juga melakukan pekerjaan konversi untuk pesawat tanker militer A330 MRTT, memasang pengisian bahan bakar dan sistem avionik khusus pada twinjet.

Selain Airbus, tiga karyawan Boeing di pabrik jet Everett, Washington juga positif terinfeksi virus corona. Ketiga karyawan tersebut kini dalam karantina dan tengah menerima perawatan. Karena hal ini, Boeing juga merumahkan sepuluh karyawan lainnya untuk mengkarantina diri mereka di rumah selama 14 hari.

“Kami telah memberitahu karyawan lain dan mengikuti saran pejabat kesehatan masyarakat. Sebagai tindakan pecegahan, kami telah meminta semua rekan kerja karyawan yang terinfeksi dan berada dalam kontak dekat untuk tetap tinggal di rumah agar dikarantina dan mengawasi diri sendiri,” ujar Boeing dalam sebuah pernyataan yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman seattletimes.com (9/3/2020).

Adanya karyawan Boeing yang terinfeksi, membuat mereka melakukan pembersihan menyeluruh terhadap area kerja dan ruang umum. Meski adanya karyawan yang positif corona, Boeing mengaku pekerjaan produksi maupun rantai pasokan mereka belum terpengaruh.

Baca juga: Akibat Virus Corona, Airbus Tangguhkan Produksi Pesawat di Pabrik Tianjin, Cina

Seattle sendiri merupakan satu dari beberapa wilayah Amerika Serikat yang menangani virus corona. Washington yang merupakan hotspot infeksi virus ini sudah melaporkan 267 kasus yang dikonfirmasi termasuk 54 kasus di Snohomush County yang mencakup Everett.

Pakai Kostum Hazmat di Bandara, Naomi Campbell Lagi-lagi Viral di Instagram

Naomi Campbell, supermodel senior asal Inggris membuat viral di Instagram, lantaran Ia melakukan dan menggunakan sesuatu yang unik ketika berada di bandara. Pasalnya ditengah menyebarnya virus corona saat ini, dia menggunakan pakaian atau kostum hazmat (hazardous materials) di bandara ketika akan bepergian dengan pesawat.

Baca juga: Pakai StadiumPod di Kabin Pesawat, Pebisnis Ini Coba Cegah Tertular Virus Corona

Naomi memang diketahui sudah lama menjadi pendukung untuk tetap bebas kuman saat bepergian. Viralnya foto tersebut ketika wanita 49 tahun itu mengunggah gambar dirinya yang menggunakan kostum hazmat di Bandara Internasional Los Angeles pada hari Selasa (10/3/2020).

https://www.instagram.com/p/B9kwcbPnFPo/?utm_source=ig_web_button_share_sheet

Selain kostum hazmat, Naomi juga melengkapi dirinya dengan kaca mata, masker wajah dan sepasang sarung tangan lateks berwarna merah muda. KabarPenumpang.com melansir laman cnn.com (12/3/2020), dalam satu foto dia berpose di Terminal Internasional Tom Bradley dengan koper putih yang senada dengan kostum hazmatnya.

Kemudian foto lainnya menunjukkan Naomi tengah berada di dalam kabin pesawat dengan tambahan jumbah cokelat yang menutupi kostum hazmat dengan tangan yang tertutup sarung tangan sembari memegang ponselnya dan tangan lain memegang plastik transparan.

Dalam foto yang diunggah di akun Instagramnya tersebut, Naomi menuliskan caption “Safety First NEXT LEVEL”. Dia juga berjanji akan mengunggah videonya di saluran YouTube secepatnya. Tindakan uniknya tersebut banyak pengikutnya di Instagram yang setuju dengan perilakunya itu.

Sedangkan lainnya ada yang menuduh dirinya meremehkan virus yang sudah menginfeksi lebih dari 100 ribu orang dan menewaskan lebih dari empat ribu di seluruh dunia. Diketahui, sebelum viral dengan jas hazmat, supermodel ini pernah memposting video di YouTube ritual sebelum penerbangan yang intens.

Dia melibatkan pembersihan segala sesuatu yang dekat dengan kursi pesawatnya menggunakan tisu anti bakteria Dettol tahun lalu. Dalam video itu, Naomi berbicara tentang tekniknya untuk menghindari kuman saat terbang selama lima menit.

“Bersihkan apa pun yang mungkin bisa Anda sentuh, sebelum menyeka kursi, sabuk pengaman, meja nampan, layar TV, remote control dan jendela dengan tisu anti-bakteri. Ini yang saya lakukan di setiap pesawat yang saya naiki. Saya tidak peduli apa yang orang pikirkan tentang saya. Ini kesehatan saya dan itu membuat saya merasa lebih baik,” ujarnya.

Setelah mengenakan masker wajah sanitasi sebelum lepas landas, Naomi menekankan bahwa rutinitas yang ketat telah membantunya untuk tetap sehat selama karir modeling yang panjang dan telah berlangsung selama tiga dekade.

“Maksudku, sama seperti aku bepergian, aku seharusnya lebih sering sakit pilek dan sebagainya. Aku bersyukur tidak sakit. Aku benar-benar berpikir ini membantuku, rutinitas kecilku,” ujar Naomi.

Baca juga: Hindari Virus Corona, Penumpang ini Kenakan Helm di Kabin Pesawat!

Sementara pendekatan Naomi mungkin tampak sedikit di sisi ekstrim, para pelancong diperintahkan untuk mencuci atau membersihkan tangan mereka setelah menyentuh permukaan di bandara dan pesawat ketika para pemimpin dunia berusaha untuk mengandung virus corona. Menurut para ahli penyakit menular, sering mencuci tangan adalah salah satu pertahanan terbaik melawan penyebaran virus tersebut.

Para Ahli Sebut Penumpang Lansia Buat Penularan Virus Corona Jadi Lebih Cepat

Para ahli kesehatan dunia mengatakan sejumlah besar penumpang lansia (lanjut usia) membuat moda transportasi menjadi lebih rentan terhadap penyebaran penyakit menular. Mereka pun mengambil contoh dari kasus penyebaran virus corona atau Covid-19 di Diamond Princess, yang menjadi satu-satunya lokasi terbanyak di luar negara, dengan jumlah kasus 696 dan delapan orang di antaranya tewas.

Baca juga: Jepang Karantina Kapal Pesiar Diamond Princess Gara-gara Satu Penumpang Terinveksi Virus Corona

Dikutip dari kantor berita dailymail.co.uk, Kamis, (12/3), dalam kasus tersebut, para ahli telah menyoroti sejumlah alasan mengapa kapal pesiar rentan terhadap penyebaran penyakit, termasuk sebagian besar penumpang tua sekalipun berada di ruang terbatas, terutama mereka yang memiliki riwayat penyakit kronis seperti penyakit jantung atau paru-paru.

“Diketahui bahwa infeksi tertentu dapat menyebar dengan cepat di kapal pesiar. Kapal pesiar membawa penumpang dan kru dari seluruh dunia, seringkali penumpang relatif tua, mereka menghabiskan sebagian besar waktu mereka di dalam rumah bercampur dengan orang lain, dan kemudian mereka pergi untuk pulang atau melanjutkan liburan,” kata Paul Hunter, seorang profesor medis di University of East Anglia, Inggris.

Selain itu, ada juga kekhawatiran bahwa sistem pendingin udara dapat menyebarkan virus dengan berkaca pada kasus-kasus sebelumnya, seperti SARS. Dr Bharat Pankhania, seorang dosen klinis senior di Universitas Exeter, mengatakan bahwa lubang ventilasi hotel, saat itu, telah berkontribusi besar terhadap wabah SARS pada tahun 2002-03 silam. Jika Covid-19 bisa menyebar dengan cara yang sama, maka mengkarantina penumpang di Princess Diamond selama dua minggu adalah sebuah kesalahan.

“Sangat menarik bahwa ada begitu banyak kasus di atas kapal, dan yang jauh lebih mengkhawatirkan bahwa kasus-kasus ini muncul setelah pengisolasian di kapal,” katanya.

“Jika ini juga merupakan kasus di kapal, itu menunjukkan bahwa kapal itu bukan tempat yang cocok untuk menampung sejumlah besar kasus dengan sistem pendingin udara terpusat,” tambahnya.

Meningkatnya kasus virus corona setelah proses karantina berlangsung memang sangat dimungkinkan, mengingat, para pasien yang diduga terinfeksi tetap berada di sana, sekalipun dirawat dengan serius.

Pasalnya, sistem pendingin udara atau sirkulasi udara di sana tak seperti di rumah sakit bahkan di pesawat yang telah dilengkapi dengan teknologi High Efficiency Particulate Arresting (HEPA) yang dinilai mampu menyerap dan mengubah udara kotor (bahkan ukuran lebih kecil dari dari 2,5 mikrometer sekalipun) menjadi udara yang bisa diterima dengan baik oleh tubuh. Dengan begitu, udara yang mengandung virus corona atau bakteri jahat lainnya bisa saja terhirup oleh orang yang sehat dan pada akhirnya ikut terinfeksi.

Baca juga: Ahli: Penggunaan Masker yang keliru Justru Dapat Sebarkan Virus Corona

Udara kotor di sini bisa diartikan semacam bakteri, bau tak sedap, hingga virus. Tak terkecuali virus corona yang saat ini tengah menjadi sorotan dunia karena telah memakan begitu banyak korban jiwa dan telah ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO.

Dengan kondisi kapal pesiar yang penuh sesak, tidak adanya teknologi sejenis HEPA, tingginya interaksi antar penumpang, dan lemahnya sistem penanggulangan penyebaran virus yang tak se-ketat di moda transportasi atau bahkan di tempat lainnya, semisal bandara, membuat Covid-19 menyebar dengan ganas.

Jadi Korban Salah Tangkap, Pengemudi ini Gunakan Akun Orang Lain, GoJek: Itu Tak Dibenarkan!

Ari Darmawan pengemudi GoCar yang menggunakan akun Komarus Jaman, menjadi terdakwa dan pesakitan di meja Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Hal ini dikarenakan seorang penumpang bernama Suhartini melaporkan Ari melakukan tidak kekerasan dan pencurian.

Baca juga: Akibat Miskomunikasi dengan Pengemudi, Penumpang GrabCar Tekan ‘Tombol Darurat’

Ari diamankan pihak kepolisian pada Oktober 2019 kemarin dan diduga menjadi korban salah tangkap. Namun, kuasa hukum Ari, Ditho Sitompul mengaku yakin kliennya akan dinyatakan tidak bersalah dalam kasus pencurian dan kekerasan yang dilaporkan oleh korban penumpang taksi online Suhartini.

Bahkan mereka siap melaporkan balik dan meminta ganti rugi jika memang kliennya terbukti tidak bersalah. Dikutip KabarPenumpang.com dari kompas.com (11/3/2020), keyakinan Ditho bahwa kliennya tidak bersalah berdasarkan beberapa fakta persidangan yang sudah terungkap. Fakta pertama datang dari saksi pihak GoJek yang mengatakan Ari memakai akun Komarus Jaman dan tidak pernah melakukan penjemputan terhadap Suhartini.

Sebab pengemudi yang menjemput adalah Dadang Supriatna yang merupakan pengemudi sebelum Ari. Tak hanya itu, adanya kesan terburu-buru dari pihak penyidik Polres Metro Jakarta Selatan dalam menyusun BAP.

“Menurut saya ini terburu-buru bahkan penyidik pembantu yang dihadirkan jaksa dalam persidangan kemarin mengatakan tidak ada gelar perkara sebelum penetapan tersangka,” kata Ditho.

Bahkan Ditho mengatakan, pihak kepolisian tidak memeriksa bukti percakapan ke pihak GoJek antara Ari dan korban. Selain itu, pihak kepolisian juga tidak mengetahui adanya pengemudi lain bernama Dadang Supriatna ini.

Kronologi Kasus dugaan salah tangkap berawal ketika Ari mendapat orderan dari seorang pelanggan bernama Suhartini pada Rabu 4 Oktober 2019 pukul 03.40 WIB. Kala itu, Suhartini meminta dijemput dari daerah Kemang Venue Jakarta Selatan menuju daerah Damai Raya Cipete.

Ketika mendapat orderan tersebut, Ari mencoba menghubungi Suhartini untuk meminta konfirmasi. Namun, tidak kunjung mendapat balasan dari Suhartini. Suhartini pun pada akhirnya tidak jadi naik ke mobil Ari. Pada keesokan harinya, Ari tiba-tiba didatangi polisi dan ditangkap karena dituduh melakukan tindak pencurian dan kekerasan.

Ari kemudian memberikan mandat kepada Hotma Sitompul sebagai kuasa hukum untuk mulai melakukan investigasi. Dari hasil investigasi tersebut diketahui bahwa Suhartini kemudian mendapatkan pengemudi taksi online bernama Dadang. Setelah Suhartni masuk ke mobil, Dadang langsung membatalkan pesanan secara sepihak.

Secara otomatis, aplikasi akan mencari pengemudi baru dan dapatlah Ari Darmawan. Disitulah Dadang diduga melakukan tindak pencurian dan kekerasan. Usai dirampok, korban langsung diturunkan di Jalan Senopati depan Roger Salon, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Atas dasar itulah, Hotma Sitompul melaporkan Dadang ke Polres Metro Jakarta Selatan.

Baca juga: GoJek Hadirkan Tiga Fitur Baru, Permudah Penjemputan Penumpang

Namun apakah dibenarkan seseorang pengemudi menggunakan akun pengemudi lain? VP Corcomm GoJek Michael Say mengatakan, hal ini tidak dibenarkan dan tidak diperbolehkan memindah tangankan akun.

“Tentu tidak, aturan kami jelas sangat tidak dibenarkan untuk memindah tangankan akun,” kata Michael yang dihubungi KabarPenumpang.com, Kamis (12/3/2020)

Mengenal Bandara Terbesar dan Tersibuk di Italia, Leonardo da Vinci–Fiumicino

Perdana Menteri Italia, Giuseppe Conte, telah mengumumkan penutupan seluruh negara dalam upaya mereka memerangi wabah virus corona. Keputusan tersebut adalah pertama kalinya sepanjang Covid-19 merebak belakangan. Tak tanggung-tanggung, bila Cina hanya mengisolasi beberapa wilayah saja, Italia justru mengisolasi satu negara, yang menjadikannya sebagai satu-satunya negara di dunia yang melakukan langkah tersebut.

Baca juga: Dari Italia Sampai Ke Inggris, Berikut 10 Bandara Tersibuk di Benua Biru!

Keputusan tersebut tentu tak terlalu mengherankan, mengingat, Italia kini merangsek masuk ke jajaran dua besar negara dengan kasus virus corona tertinggi, mencapai 9.172 kasus. Begitupun juga dengan jumlah kematiannya, dari semula 93 orang meningkat drastis menjadi 463 orang. Jumlah itu menjadikan Italia negara di luar China dengan kasus kematian terbanyak, yang sebelumnya disandang oleh Iran dan Korea Selatan.

Imbas dari diblokade atau di-lockdown-nya Italia, tentu saja sangat berpengaruh terhadap Bandara Leonardo da Vinci–Fiumicino, bandara terbesar dan tersibuk di Italia, bahkan menjadi bandara tersibuk kedelapan di Eropa, dengan 43 juta penumpang di tahun 2018 lalu.

Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, sekalipun bandara tersebut hanya berada di posisi kedelapan dalam hal traffic penumpang, namun, berkenaan dengan historical atau keterikatan sejarah di dunia penerbangan, Bandara Leonardo da Vinci–Fiumicino justru jadi salah satu bandara yang paling mencolok, lewat nama besar yang disematkan pada bandara yang resmi berdiri pada tahun 15 Januari 1961, yakni Leonardo da Vinci.

Dunia dirgantara memang sangat mengenal Wilbur Wright dan Orville Wright atau lebih dikenal dengan Wright bersaudara karena berhasil terbang dengan mesin secara terkendali untuk pertama kalinya sejauh 36,5 meter setinggi 3 meter selama 12 detik di kaki bukit pasir Big Kill Devil, dekat Kitty Hawk, North Carolina. Dari situlah cikal bakal penerbangan modern berasal.

Namun, tidak banyak yang tahu bahwa bandara yang berlokasi di kota Roma ini juga mempunyai andil besar di dunia penerbangan lewat rancangan Sekrup Terbang (Aerial Screw) pada tahun 1480. Prinsip kerja rancangan tersebut mirip sekali dengan cara kerja rotor utama helikopter. Oleh karenanya, tak heran bila beberapa ahli kemudian menyebutnya sebagai “nenek moyang” helikopter.

Terlepas dari nama besar Leonardo da Vinci, bandara yang dikelola oleh Aeroporti di Roma (ADR) tersebut, sejak awal kelahirannya memang sudah lekat dengan hal besar, yakni untuk menggantikan salah satu bandara tertua di dunia yang masih aktif, Rome Ciampino Airport (12 km dari pusat kota Roma), yang sudah dibuka sejak tahun 1916.

Baca juga: Inilah 5 Bandara Tertua di Dunia Yang Masih Beroperasi

Selain itu, sebelum resmi dibuka pada 1961, Bandara yang menjadi hub bagi maskapai penerbangan terbesar di Italia, Alitalia, serta maskapai berbiaya rendah asal Spanyol, Vueling tersebut, sebetulnya sudah mulai beroperasi pada tahun 20 Agustus 1960, untuk membantu meringankan lalu lintas udara yang padat di Bandara Roma Ciampino selama Olimpiade Musim Panas 1960 yang menjadi salah satu momentum besar Italia di dunia penerbangan dan olahraga.

Kini, setelah hampir 60 tahun beroperasi, bandara yang memiliki tiga terminal dan empat landasan pacu (runway) tersebut dirproyeksikan bakal melayani hingga 100 juta penumpang per tahun, dengan penambahan empat terminal dan dua landasan pacu baru, dalam sebuah konsep bernama Masterplan Fiumicino Nord. Belum jelas masterplan tersebut akan dilaksanakan di tahun berapa, hanya saja, beberapa kalangan menilai hal itu akan direalisasikan dalam waktu dekat.

Virus Corona Bikin Qantas ‘Pensiunkan Dini’ Pesawat Terbesar di Dunia Airbus A380

Maskapai asal Australia, Qantas, memutuskan untuk ‘mempensiunkan dini’ atau meng-rounded delapan dari 12 armada Airbus A380-nya. Adapun dua pesawat masih akan digunakan (sambil terus melihat perkembangan lanjutan) dan dua lainnya masih harus menjalani perawatan rutin. Hal tersebut dilakukan seiring menurunnya permintaan dari pelanggan, khususnya rute-rute jarak jauh yang biasa diterbangi pesawat komersial terbesar itu.

Baca juga: Mendarat di Tengah Terjangan Badai 150 Km Per Jam, Pilot Airbus A380 Dimarahi Pihak Maskapai

Dikutip dari laman flightglobal.com, Kamis, (12/3), maskapai yang memiliki nama panjang Queensland and Northern Territory Aerial Services (Qantas) tersebut rencananya akan mengrounded A380 selama kurang lebih enam bulan atau hingga September 2020 mendatang.

Sebagai gantinya, Qantas masih memiliki dua armada pilihan, Boeing 787 Dreamliner dan Airbus A330. Belum jelas mana yang akan digunakan untuk menggantikan posisi A380. Sejalan dengan keputusan tersebut, Qantas dan anak perusahaannya, Jetstar, juga akan memangkas kapasitas rute internasional mereka sebesar 23 persen, khususnya di pasar Asia-Pasifik. Adapun rute lainnya, seperti AS dan Inggris, masing-masing akan dipangkas sebesar 19 persen dan 17 persen.

Selain itu, Qantas juga akan menunda pembukaan rute baru Brisbane-Chicago hingga September mendatang. Sebagai gantinya, maskapai tersebut akan memaksimalkan rute favoritnya, Perth-London. Tentu saja dengan pilihan menggunakan pesawat yang lebih kecil atau memaksimalkan dua armada A380 yang masih tersisa. Adapun Jetstar, maskapai tersebut akan menangguhkan penerbangan ke Bangkok, dan memangkas separuh penerbangan dari Australia ke Vietnam dan Jepang.

Menurut juru bicara perusahaan, hal itu dilakukan untuk terus menancapkan eksistensi maskapai di tengah rendahnya load factor karena permintaan yang menurun akibat berbagai hal, khususnya virus corona atau Covid-19. Langkah tersebut tentu saja berbeda dengan beberapa strategi maskapai lainnya yang banyak memutuskan untuk menutup beberapa rute, tak terkecuali rute andalannya akibat minimnya permintaan.

“Daripada keluar (menutup) rute sama sekali, Qantas akan menggunakan pesawat yang lebih kecil dan mengurangi frekuensi penerbangan untuk menjaga konektivitas secara keseluruhan,” ujarnya.

Baca juga: Beragam Poin ini Menjadi Pertimbangan Qantas dalam Uji Coba “Project Sunrise”

Selain mengurangi kapasitas di rute-rute internasional, Qantas dan maskapai berbiaya rendah yang juga anak perusahaannya, Jetstar, berencana akan mengurangi kapasitas di jarangan domestiknya. Masing-masing sebesar 3 persen dan 5 persen hingga September mendatang. Dengan begitu, dari keduanya, total pesawat yang di-grounded mencapai 38 unit.

Sebagaimana yang umum diketahui, Qantas selama ini, memang mempunyai jaringan global yang cukup baik, terbukti dari keberhasilan mereka sebagai maskapai terbaik kedelapan versi Skytrax pada 2019. Maskapai tersebut dikenal kuat untuk beberapa rute long range dan medium, seperti Sydney-Los Angeles, Sydney-London (via Singapura), Sydney-Dallas, Melbourne-Los Angeles. Sydney-Sapporo, Sydney-Osaka, Sydney-Hong Kong, Melbourne-Narita, Melbourne-Auckland, serta Brisbane-Narita.

Marak Virus Corona, Wanita di Australia ini Timbun Tisu Toilet untuk Stok 12 Tahun!

Merebaknya virus corona di dunia membuat sebagian besar orang panik dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berbelanja berlebihan. Mungkin membeli bahan makanan atau masker ketika panik tak masalah, tapi bagaimana bila yang terbeli adalah tisu gulung yang bisa digunakan selama 12 tahun?

Baca juga: Di Tengah Merebaknya Virus Corona, Kemenhub Naikkan Tarif Ojol di Jabodetabek

Ya, hal ini terjadi pada sebuah keluarga di Australia yang membeli persediaan tisu toilet selama 12 tahun secara tidak sengaja. KabarPenumpang.com melansir laman usatoday.co (10/3/2020), seorang wanita mengaku menjadi penimbun tisu toilet karena tidak sengaja. Ini kemudian membuatnya menjadi ratu tisu toilet yang diproklamirkannya sendiri dalam penimbunan tak sengaja itu.

Haidee Janetzki, mengatakan dirinya membeli 2304 gulungan tisu toilet dari layanan online Who Gives a Crap. Dia biasanya memesan sebanyak 48 gulungan setiap tiga bulan, tetapi karena ada peralihan ke layanan baru, semuanya menjadi kacau.

Karena layanan baru tersebut Haidee keliru memasukkan pesanan yang harusnya 48 gulungan menjadi 48 dus tisu toilet. Bila ditotal harganya lebih dari $2000. Dia dan sang suami Chris mengatakan, insiden salah pesan tersebut terjadi pada bulan Februari kemarin atau beberapa minggu sebelum negara tersebut terkena dampak virus corona.

Karena terlanjur membeli, keduanya kemudian menumpuk semua dus tisu tersebut di garasi. Mereka membuat tumpukan seperti takhta kerajaan dan mengunggahnya di akun Facebook. Australia menghadapi kekurangan tisu toilet sama dengan yang dihadapi beberapa orang di Amerika yang karena panik membeli disebabkan oleh ketakutan virus corona.

“Saya lega teman-teman dan keluarga saya tidak perlu khawatir tentang itu,” kata Haidee.

Sedangkan sang suami, Chris mengatakan, dirinya tidak percaya orang-orang membeli tisu toilet seperti itu secara massal. Setelah menjadi penimbun tisu toilet tidak sengaja, Haidee berencana menjualnya untuk penggalangan dana dan harganya pun sama seperti mereka membelinya.

Baca juga: Virus Corona, Petaka Buat Maskapai, Bisa Jadi Berkah Buat Perusahaan Leasing

Dia mengatakan, hasilnya akan akan diberikan ke sekolah putri mereka. Diketahui, Who Gap Crap mengembalikan biaya pengiriman untuk kotak yang berjumlah lebih dari $250 dan perusahaan saat ini sudah menjual habis dari penawaran tisu toilet 48 paket itu.

Jelang Setahun Grounded, Boeing Habiskan Total Rp268 Triliun Gegara 737 MAX

Jelang satu tahun grounded Boeing 737 MAX pada 14 Maret mendatang dan sehari setelah ‘anniversary’ insiden Ethiopian Airlines yang menewaskan 157 orang, 10 Maret 2019 lalu, Boeing mengumumkan telah menggelontorkan uang sebesar Rp268 triliun. Jumlah tersebut diperkirakan akan membengkak menjadi sebesar Rp330 triliun sampai pesawat tersebut benar-benar kembali diizinkan terbang.

Baca juga: Masalah Lagi! Boeing Temukan Serpihan di Tangki Bahan Bakar 737 MAX

Padahal, sebagaimana dilaporkan gwinnettdailypost.com, Selasa, (10/3), Januari lalu, di depan para investor, Boeing memperkirakan estimasi biaya yang akan dikeluarkan untuk pemulihan 737 MAX hanya sekitar Rp209 triliun. Dana tersebut setidaknya digunakan untuk dua hal. Pertama, membayar kompensasi kepada maskapai pelanggan sebesar Rp119 triliun. Kedua, untuk memproduksi kembali Boeing 737 MAX sebesar Rp90 triliun.

Seiring berjalannya waktu, Boeing kemudian memperkirakan butuh sekitar Rp57 triliun untuk memproduksi kembali 737 MAX begitu pesawat diizinkan kembali terbang. Di samping itu, Boeing juga telah menganggarkan dana sebesar Rp1,4 triliun untuk kompensasi bagi keluarga korban, meliputi Ethiopian Airline dan Lion Air, yang dari keduanya sampai merenggut 346 orang korban tewas. Dengan begitu total estimasi dana membengkak jauh di luar dugaan menjadi Rp268 triliun.

Bahkan, seorang analis Bank of America Merrill Lynch (BAML), Ronald Epstein, memperkirakan bahwa Rp268 triliun tersebut bisa saja akan terus melambung karena Boeing 737 MAX yang tak kunjung bisa kembali terbang setelah hampir setahun lamanya. Parahnya, analis yang juga mantan ilmuan riset terapan Boeing itu memprediksi, angka tersebut belum termasuk kompensasi yang mungkin bisa saja juga melambung.

“Perkiraan kami adalah sekitar $23 miliar (Rp330 triliun), tidak termasuk tanggung jawab atas kematian dan jika diperpanjang lebih lama, jumlah itu akan naik,” jelasnya. Atas prediksi tersebut dan juga prediksi dari para analis lainnya, selain dari analis internal, tak heran bila Boeing sangat berharap 737 MAX-nya dapat kembali terbang pertengahan tahun ini.

Pasalnya, bila tidak juga terbang sesegera mungkin, pesanan yang sudah dilakukan oleh maskapai global akan bisa dibatalkan secara sepihak atau ditunda tanpa adanya penalti apapun. Sebab, pada umumnya, tenggat waktu pengiriman pesawat mencapai waktu setahun.

Hal itu (pembatalan atau penundaan pembelian pesawat oleh maskapai) sangat dimungkinkan mengingat saat ini iklim penerbangan global tengah kacau akibat virus corona dan memaksa maskapai melakukan efisiensi besar-besar. Jangankan untuk menambah armada, pesawat yang ada saja banyak yang digrounded akibat sepinya penerbangan.

Lagi pula, bila pun Boeing 737 MAX dapat segera terbang, pesawat tersebut hampir telah kehilangan daya magisnya, yakni menyangkut efisiensi bahan bakar dan dimensi yang ditawarkan (tak terlalu kecil untuk terbang jarak jauh atau menengah namun juga tak terlalu besar untuk terbang jarak pendek atau menengah).

Baca juga: ‘Curi’ Pasar Boeing, Airbus Genjot Produksi A321XLR

Berkenaan dengan efisiensi, saat ini, harga minyak dunia tengah terus menerus turun. Akibatnya, maskapai tak terlalu mementingkan efisiensi. Kondisi yang mungkin akan berbeda dengan tahun lalu atau tahun-tahun sebelumnya, dimana harga minyak dunia tengah melonjak tajam. Kemudian, terkait dengan pangsa pasar medium long range atau pesawat yang bisa melakukan perjalanan lebih jauh dan menampung lebih banyak penumpang daripada narrowbody tetapi lebih sedikit daripada pesawat widebody, ceruk pasar tersebut sudah diambil dengan baik oleh A321neo XLR.

“Apa lagi yang bisa mereka lakukan jika bukan karena krisis MAX? Apa artinya itu dalam persaingan mereka dengan Airbus. A321neo XLR telah bekerja dengan sangat baik. Boeing belum mampu melakukan apa pun,” kata Ronald Epstein.

Tiga Pekerja Boeing di Washington Positif Terinfeksi Covid-19

Tiga orang karyawan Boeing di pabrik jet Everett, Washington rumah bagi produksi widebod-ynya positif terinveksi virus corona atau Covid-19. Karyawan tersebut saat ini berada di karantina dan tengah menerima perawatan. Adanya karyawan yang terinfeksi kemudian membuat perusahaan menjaga keamanan pekerja lainnya.

Baca juga: Musibah Virus Corona Justru Selamatkan Boeing 787 dan Rolls-Royce

“Kami telah memberitahu karyawan lain dan mengikuti saran pejabat kesehatan masyarakat. Sebagai tindakan pecegahan, kami telah meminta semua rekan kerja karyawan yang terinfeksi dan berada dalam kontak dekat untuk tetap tinggal di rumah agar dikarantina dan mengawasi diri sendiri,” ujar Boeing dalam sebuah pernyataan yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman seattletimes.com (9/3/2020).

Selain itu Boeing juga melakukan pembersihan menyeluruh terhadap area kerja dan ruang umum. Untungnya Boeing mengaku pekerjaan produksi maupun rantai pasokan mereka belum terpengaruh meski ada yang terinfeksi virus corona.

“Kami mengambil tindakan untuk memastikan kesehatan dan keselamatan karyawan kami dan keluarga mereka. Kami telah meminta karyawan di wilayah Puget Sound yang dapat melakukan pekerjaan di luar kantor untuk melakukan telekomunikasi dari rumah. Kami terus berkomunikasi secara terbuka dan sering dengan karyawan kami dan mendorong semua orang untuk berhati-hati dan mengambil semua tindakan kesehatan dan keselamatan yang tepat,” tulis Boeing.

Boeing mengkonfirmasi karyawannya yang terinfeksi virus corona saat mengerjakan produksi 777 dan sakit dengan gejala mirip flu. Pada saat itu, Boeing bertanya pada sepuluh rekan karyawan yang sakit tersebut selama shift dua dan menyuruh mereka untuk pulang.

Setelah pekan lalu ada pengumuman dari Boeing yang menyatakan satu karyawannya terinfeksi virus corona, pada (11/3/2020) kemarin, dua karyawan Boeing lainnya yang bekerja di Everett juga positif terinveksi virus corona.

Baca juga: Transit di Denpasar, Malindo Air OD171 Dikonfirmasi Situs Kesehatan Australia Terdampak Corona

Hal ini kemudian menambah jumlah pekerja yang terinfeksi menjadi tiga orang setelah para pekerja lainnya juga diuji. Seattle sendiri merupakan satu dari beberapa wilayah Amerika Serikat yang menangani virus corona. Washington yang merupakan hotspot infeksi virus ini sudah melaporkan 267 kasus yang dikonfirmasi termasuk 54 kasus di Snohomush County yang mencakup Everett.