Dari Pada Bosan, Penumpang Pesawat Ini Menata Keju di Atas Papan Charcuterie

Tak semua penumpang bisa menikmati makanan yang disajikan oleh maskapai. Sebab beberapa kasus ternyata ada yang menemukan keganjilan dalam makanan yang mereka dapatkan. Namun beberapa orang sering melakukan hal dengan membawa makanan sehat pribadi dalam perjalanan mereka dan banyak yang heran ketika itu menjadi viral.

Baca juga: Era 40 dan 50-an, Jadi Masa Keemasan Sajian Makanan di Kabin Pesawat

KabarPenumpang.com melansir dari laman delish.com (5/2/2020), seorang wanita cantik menemukan cara untuk membuat sesuatu yang menyenangkan dalam penerbangan. Uniknya perempuan cantik bernama Marissa Mullen pemilik akun Instagram @thatcheeseplate menunjukkan dengan membawa papan charcuterie atau talenan kayu untuk menyajikan sesuatu. Saat dipesawat, dirinya kemudian memposting sebuah video di akun Instargramnya dan menjelaskan cara membuat keju dan bahan lainnya tersusun dengan cantik di talenan tersebut.

Dalam video tersebut, dia mulai mengeluarkan papan talelan dan menata keju, daging asap, blueberry ceri, kacang dan selai. Bahkan dari dalam tasnya pun dia mengeluarkan daun rosemary untuk mempercantik tatanan makanan yang sudah di susun dalam talenan itu.

Hal ini menunjukkan bahwa Marissa seorang master karikuter sejati, karena ketika dalam penerbangan pun dia tetap menampilkan sebuah video penataan keju yang apik pada sebuah talenan. Setelah terunggah di Instagram, banyak followers (pengikut) akun milik Marissa yang mulai mengomentari hal itu.

“Saya bahkan tidak yakin bisa membawa maskara di dalam pakaian saya kadang-kadang. Tetapi dia (Marissa) berhasil membawa papan charcuterienya sendiri yang dilengkapi dengan keju, dagin, ceri, blueberry, kacang dan tentu saja rosemary untuk hiasan,” komentar warganet.

Warganet tersebut juga menuliskan bahwa Marissa mengumpulkannya semua di atas meja nampan dan menhiasnya hingga sangat bagus. Karena perlakuannya dalam pesawat, komentar yang diterima Marissa pun mengakui bahwa mereka terkesan dengan apa yang dibuatnya saat itu.

“Jenius!!!” komentar warganet lainnya.

Yang lain bahkan mengatakan, “Kamu telah mengilhami saya secara sah untuk melakukan ini pada penerbangan saya malam ini!”

Dalam postingan itu, Marissa hanya membuat satu tagar yakni #inflightcheeseplatechallenge.

“Saya TIDAK BISA percaya ini diciptakan di udara. Apa yang saya lakukan pada penerbangan terakhir saya? Minum dua botol mini anggur merah dan tonton A Star is Born dua kali, itulah yang!” ujar seorang warganet.

Baca juga: 65 Persen Makanan untuk Emirates Dibuat di Dubai

“Satu-satunya hal yang perlu dilakukan sekarang adalah menemukan papan yang disetujui TSA dan mulai mengerjakan desain penerbangan Anda sendiri. Bolehkah saya menyarankan Instagram untuk inspirasi Marissa yang sangat indah?” kata yang lainnya.

Jepang Uji Coba Rute Penerbangan Baru, Masyarakat Komplain Karena Bising

Kementerian Transportasi Jepang mulai menguji penerbangan pesawat penumpang besar pada rute baru di atas jantung Tokyo pada 2 Februari 2020 kemarin. Uji coba ini dilakukan untuk mengukur tingkat kebisingan dan memeriksa layanan kontrol lalu lintas udara.

Baca juga: Melancong ke Tokyo, Pilih Turun Dimana? Bandara Haneda atau Narita?

Rute-rute baru ini akan mulai dibuka pada 29 Maret 2020 mendatang untuk penerbangan komersial ke dan dari Bandara Haneda. Saat uji coba, penerbangan yang tiba di bandara hanya diperbolehkan untuk mendekati dari atas Teluk Tokyo.

Dilansir KabarPenumpang.com dari asahi.com (3/2/2020), uji coba pada 2 Februari kemarin dilakukan selama satu jam dan 40 menit dari sekitar pukul 16.20. Dalam skema baru ini, pesawat akan mendarat di Bandara Handena setelah melintasi pusat Tokyo dari barat laut ke tenggara.

Pesawat akan terbang di ketinggian seribu meter dekat Shinjuku, sekitar 700 meter di dekat Shibuya dan sekitar 300 meter dekat Oimachi. Ketika uji coba, tingkat kebisingan di sekitar Oimachi diperkirakan mencapai 76 hingga 80 desibel.

Saat pesawat melintas, banyak pejalan kaki di daerah itu mendengar suara keras dan rendah ketika salah satu pesawat mendekat. Mereka juga berhenti berjalan dan menatap ke arah langit untuk melihat apa yang melintas tersebut. Seorang wanita berusia 60-an yang tinggal di sebuah apartemen dekat Stasiun Oimachi mengatakan dia mendengar deru saat dia berada di dalam ruangan dan dengan jendela tertutup.

“Ketika saya pergi ke luar, saya memiliki perasaan tertekan. Bahkan di musim semi dan musim gugur ketika cuaca bagus, saya tidak akan bisa membuka jendela karena kebisingan. Saya khawatir gaya hidup saya akan berubah,” katanya.

“Saya terkejut karena pesawat lebih besar dan suara yang mereka buat lebih keras dari yang saya bayangkan. Saya punya anak kecil, jadi saya juga khawatir benda itu jatuh,” ujar salah seorang penduduk setempat.

Kementerian Transportasi mengatakan, akan melakukan uji terbang pada rute pendaratan baru hingga tiga jam antara pukul 15.00 dan 19.00. Ini adalah jadwal yang sama pada rencana operasi komersial secara aktualnya.

Jumlah pendaratan per jam akan mencapai sekitar 44 di Landasan Pacu A dan C di bandara. Uji terbang lainnya menggunakan pesawat penumpang telah dilakukan pada rute yang berangkat dari Handea dan terbang ke utara di atas Tokyo di sepanjang sungai Arakawa ketika angin utara bertiup.

Penerbangan uji coba ini dimulai pada 30 Januari dan juga akan dilakukan sekitar tujuh hari. Diketahui rute penerbangan Haneda baru dirancang sebagai bagian dari tujuan Pemerintah Jepang untuk meningkatkan jumlah pengunjung asing ke Jepang menjadi 40 juta tahun ini.

Baca juga: Toilet Berteknologi Tinggi, Bikin Pelancong Bingung di Bandara Haneda

Rute baru akan meningkatkan jumlah pendaratan dan lepas landas di Bandara Haneda dari 80 menjadi 90 kali per jam. Dengan peningkatan operasional lainnya, jumlah pendaratan tahunan dan lepas landas dari penerbangan internasional (tidak termasuk penerbangan pagi dan tengah malam) akan melonjak dari 60 ribu saat ini ke hingga 99 ribu.

Lupakan Masker dan Sarung Tangan Karet! Ini Cara Hindari Virus Corona Versi Penasehat Medis Penerbangan Dunia

Virus corona telah membuat permintaan masker melonjak tinggi. Bahkan, kondisi tersebut dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk menahan pasokan masker hingga barang menjadi langka dan diikuti harga yang melonjak drastis. Namun, sebetulnya, masker dan sarung tangan karet bukanlah cara terbaik untuk menghindari virus corona.

Baca juga: Ahli: Penggunaan Masker yang keliru Justru Dapat Sebarkan Virus Corona

Dilansir KabarPenumpang.com dari bloomberg.com, Jumat, (7/2), menurut penasihat medis untuk penerbangan dunia atau International Air Transport Association (IATA), David Powell, cara terbaik dalam menghindari virus corona, termasuk virus-virus berat atau ringan lainnya, dengan sering-sering mencuci tangan. Pendapat ini tentu saja sangat bertentangan dengan pengetahuan dan stigma masyarakat luas tentang penggunaan masker dan sarung tangan karet, yang notabene justru dapat melindungi mereka.

“Virus tidak dapat bertahan lama di kursi atau sandaran tangan, sehingga kontak fisik dengan orang lain memiliki risiko infeksi terbesar dalam penerbangan. Bahkan, masker dan sarung tangan melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam menyebarkan virus daripada menghentikannya,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menyoroti terkait kemungkinan terinfeksi virus corona ketika di pesawat. Hal ini tentu menjadi informasi penting bagi awak kabin juga pelanggan dalam menyikapi kekhawatiran terhadap virus corona. Menurutnya, risiko terkena infeksi virus corona di pesawat cenderung rendah. Pasokan udara ke pesawat modern sangat berbeda dari bioskop atau gedung perkantoran.

Hal itu dikarekan udara di dalam kabin cenderung lebih sehat akibat dari sistem sirkulasi udara yang jauh lebih baik dibanding bioskop atau gedung perkantoran tadi. Terlebih, komposisi udara yang dihirup adalah 50 persen udara segar dan 50 persen lagi resirkulasi. Di samping itu, sistem filterisasi udara di dalam kabin pesawat berkat teknologi High Efficiency Particulate Arresting (HEPA) Cabin Air Filter. Jadi, suplai udara dijamin 99,97 persen bebas dari virus corona dan partikel lain. Namun, sekalipun ada kasus pelanggan yang tertular virus corona saat di dalam pesawat, hal itu dikarenakan tertular oleh orang lain, bukan karena sistem sirkulasi udaranya.

Pasalnya, menurut David, virus dan mikroba lain cenderung lebih suka hidup di permukaan kulit. Oleh karenanya, berjabat tangan dengan seseorang akan jauh lebih berisiko daripada permukaan kering yang tidak memiliki bahan biologis. Kelangsungan hidup virus di permukaan kulit sangat tidak baik untuk kesehatan. Dengan begitu, upaya pembersihan normal serta pembersihan ekstra, jika seseorang ditemukan tertular, adalah prosedur yang tepat.

Singkatnya, kebersihan tangan adalah hal mutlak untuk menghindari virus corona. Sebab, cara penyebaran virus paling cepat ditularkan lewat tangan. Maka tidak bersentuhan atau kontak langsung adalah cara terbaik. Kemudian, jika sudah tidak bersentuhan (berjabat tangan) dengan siapapun, cuci tangan, dengan atau tanpa sabun atau keduanya, adalah langkah tepat.

Di samping itu, lengkapi juga dengan langkah-langkah pencegahan virus corona lainnya, seperti menghindari menyentuh wajah hingga menutup wajah dengan lengan atau pakaian (bukan dengan tangan) saat batuk atau bersin.

Maka dari itu, ia pun kembali menekankan terkait penggunaan masker bedah. Dalam catatannya, terdapat beberapa bukti yang menunjukkan kecilnya manfaat masker. Kalaupun ada, hal itu hanya saat situasi santai saja. Kemudian, masker juga bermanfaat bagi orang sakit untuk melindungi orang sehat agar tak terinfeksi. Tetapi, akan menjadi masalah ketika seseorang mengenakan masker sepanjang waktu. Hal itu tidak akan efektif.

Baca juga: Awak Kabin Tidak Direkomendasi Gunakan Masker Terkait Virus Corona, Ini Penjelasannya!

Kondisi tersebut justru akan memungkinkan virus untuk ditularkan di sekitarnya. Lebih buruk lagi, jika masker berubah menjadi lembab akibat terus menerus digunakan, hal itu justru akan mendorong pertumbuhan virus dan bakteri. Sarung tangan bahkan mungkin lebih buruk, karena orang memakai sarung tangan dan kemudian menyentuh semua yang akan mereka sentuh dengan tangan. Jadi, hal itu hanya menjadi cara lain untuk mentransfer mikroorganisme. Lagi pula, saat di dalam sarung tangan, tangan cenderung menjadi panas dan berkeringat, yang sangat memungkinkan untuk bakteri dan kuman berkembang biak.

Dengan berbagai pertimbangan dan fakta-fakta sebagaimana yang diungkapkan di atas, David Powell pun ikut menyayangkan sikap maskapai-maskapai di dunia yang menghentikan berbagai jadwal terbangnya ke seluruh dunia. Hal itu dinilai tidak perlu dan sangat merugikan pribadi serta tentu saja industri penerbangan.

Tak Semudah Menontonnya, Begini Rahasia Dibalik Proses Pemilihan Film di Pesawat, Rumit!

Sebelum pintu-pintu pesawat ditutup dan petugas memeriksa sabuk pengaman para pelanggan, dalam setiap penerbangan, khususnya penerbangan jarak jauh, sebagian besar dari kita sudah membuat daftar film yang ingin ditonton atau mungkin sekedar melihat film-film yang tersedia, sambil sesekali menonton sekilas, untuk membuat kita tetap terhibur. Tetapi pernahkah kita bertanya-tanya bagaimana film-film tersebut dipilih?

Baca juga: Duh! Pesan Berbau Pelecehan Seksual Diterima Penumpang Lewat In-Flight Entertainment

Dalam urusan memilih list film yang dihadirkan dalam in-flight entertainment di setiap penerbangan tersebut, masing-masing maskapi mempunyai caranya tersendiri. Beberapa maskapai menyerahkan persoalan list film-film yang akan dihadirkan ke pihak kedua. Adapun yang lainnya menyerahkan ke staf atau awak kabin mereka untuk memilih film mana yang cocok untuk ditawarkan ke pelanggan.

Dengan sistem tersebut, tak jarang, satu dengan yang lainnya saling berdebat sengit untuk mempertahankan argumentasi masing-masing. Semua dilakukan semata-mata untuk menghadirkan film terbaik bukan hanya versi maskapai, melainkan juga versi pelanggan, yang notabene memiliki kecenderungan yang berbeda-beda dalam memilih genre film.

Singapore Airlines sendiri, dalam persoalan tersebut, memiliki lebih dari 70 penggemar film dari berbagai departemen dan negara untuk mewakili maskapai dalam memperbarui wawasan perfilman mereka. Selain itu, melalui Wakil Presiden Inovasi Produk Singapore Airlines, Mr Ng Yung Han, pihaknya bahkan harus mengadakan pertemuan langsung setiap bulanya dengan anggota Komite Tinjauan Film (semacam Komite Penyiaran Indonesia atau KPI) serta berkomunikasi tidak langsung (via email) dengan mitra luar negeri mereka terkait film-film terbaru dan hits di negara masing-masing.

“Suara dan ulasan para anggota komite membantu memberikan wawasan utama tentang apa yang populer atau kontroversial di negara asal mereka dan membuat kami tetap terhubung dengan tren atau rilis lokal yang tengah trending,” kata Mr Ng Yung Han, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari kantor berita dailyexaminer.com, Jumat, (7/2).

Popularitas, potensi pemenang penghargaan (seperti piala Oscar), dan relevansi budaya, lanjutnya, adalah faktor kunci serta membuat pihaknya harus bergerak cepat dalam menghadirkan film-film ngehits. Biasanya, untuk ukuran film ngehits di Hollywood, mereka baru bisa menghadirkan di setiap penerbangannya tiga bulan setelah film dirilis.

Tak melulu masalah ngehits, film favorit penumpang sekalipun tidak ngehits juga tetap diperhitungkan ketika mencari film baru. Jika tidak, pelanggan mungkin tak terpikirkan untuk meminta maskapai menghadirkan film kesukaannya, namun, bila itu terjadi, pihaknya tetap harus menuruti sesuai permintaan pelanggan. Akan tetapi, ketika dalam satu penerbangan terlalu banyak orang yang meminta film favoritnya dihadirkan, maskapai mungkin baru bisa menurutinya di penerbangan selanjutnya.

Lain Singapore Airlines, lain pula Emirates. Maskapai pertama yang memasang layar TV di setiap kursi di armadanya sejak tahun 1992 tersebut harus membuat tim kecil khusus, sekitar delapan orang, yang ditugaskan untuk menonton film sebanyak mungkin dalam sebulan. Setelah itu, mereka akan memberikan laporan, baik buruknya film, dalam sebuah sistem database mereka. Dengan sistem itu, Emirates pun dengan bangga menyajikan sekitar 700 film yang dinilai telah lulus uji, baik uji kepantasan maupun uji tingkat keterhiburan versi internal, di setiap penerbangan.

Berbeda dengan Emirates, Cathay Pacific mempunyai penilaian tersendiri dalam memaksimalkan fungsi film sebagai salah satu wahana liburan di dalam penerbangan. Manajer Hiburan, Platform, dan Konektivitas mereka, Simon Cuthbert, mengatakan keseimbangan bahasa dan genre yang tepat adalah kuncinya.

Mengingat box office Cina mayoritas menggunakan judul serta bahasa Cina, Hollywood, Jepang atau Bollywood sejauh ini masih menjadi pilihan teratas, sekalipun Cathay mempunyai korelasi tak langsung dengan Cina Daratan. Cuthbert mengatakan, Cathay Pacific membutuhkan beragam konten untuk membuat semua orang terhibur.

Tim hiburan dalam penerbangan mereka bekerja dengan para ahli dan kritikus film lokal, sementara untuk film regional mereka juga berkonsultasi dengan para pelaku industri film untuk mengetahui seberapa besar tren film itu secara lokal, dengan setidaknya 20 orang terlibat dalam memilih konten, dua kali lipat lebih banyak dari tim kecil khusus Emirates tadi.

Baca juga: Kamera In-Flight Entertainment, Berbahayakah atau Malah Menguntungkan?

Cuthbert mengatakan mereka biasanya membeli antara 70 dan 200 film dalam satu bulan, dengan pertimbangan tadi, genre dan kemudahan bahasa.

“Kami selalu terkejut melihat seberapa baik komedi rom dan komedi di papan, misalnya. Orang-orang akan selalu mencari film-film semacam ini ketika terbang – saya pikir kita semua menikmati tawa dan kisah cinta,” jelasnya.

Jepang Punya Bartender Robot, Ada di Stasiun Ikebukuro

Sejak 23 Januari hingga 19 Maret 2020 mendatang, Stasiun Ikebukuro di Tokyo membuka sebuah pub kecil. Pub dibuka oleh jaringan restoran Tokyo dan menggunakan robot sebagai bartender yang akan menyajikan minuman untuk para penumpang ketika dalam perjalanan pulang.

Baca juga: JR East Bangun Stasiun Robotika, Mudahkan Penyandang Disabilitas dan Pelancong Asing

Dilansir KabarPenumpang.com dari dailymail.co.uk (5/2/2020), pub kecil ini disebut Zeroken Robo Travern yang dimiliki oleh Yoronotaki sebuah perusahaan yang mengoperasikan rantai restoran bergaya izakaya di seluruh negeri. Pub tersebut sebenarnya hadir sebagai, bagian dari program percontohan yang dijalankan untuk melihat bagaimana pelanggan merespon ketika dilayani oleh mesin dan bukan manusia.

Untuk menikmati bir, koktail atau minuman campuran yang disajikan robot, pengunjung stasiun harus membayar di kios pembayaran otomatis. Kemudian ketika mendapatkan QR Code, pengunjung memberikannya kepada robot agar kode tersebut dipindai dan menyiapkan minuman yang dipesan.

Robot-robot itu memerlukan waktu sekitar 40 detik untuk menuangkan segelas bir dan untuk koktail serta minuman campuran waktunya di bawah satu menit. Robot bartender ini memiliki seperangkat kamera yang dipasang pada layar untuk memantau keadaan emosional pelanggan seperti melacak apakah mereka bahagia atau semakin tidak sabar.

Robot bartender tersebut dirancang oleh QBIT Robotics yang mengembangkan server lengan robot serupa untuk restoran pasta takout kecil.

“Untuk robot, pasta, izakaya, dan kopi adalah sama. Kamu bisa melakukan berbagai hal dengan mengganti peralatan memasak,” kata Hiroya Nakano dari QBIT.

Di industri kesehatan, pengamat memperkirakan kekurangan pekerja akan mencapai 380 ribu orang pada 2025. Diketahui, Yoronotaki memutuskan untuk mengejar proyek bartender robot sebagian karena dapat menghadirkan solusi untuk tantangan perusahaan saat ini dalam mempertahankan staf penuh.

“Kekurangan tenaga kerja baru-baru ini di industri layanan makanan adalah masalah yang sangat serius, dan perusahaan kami tidak terkecuali,” kata Yukio Tsuchiya dari Yoronotaki.

Biaya bartender robot sekitar $82 ribu atau sekitar Rp1,1 miliar, setara dengan sekitar tiga tahun gaji untuk rata-rata bartender di Jepang. Kehadiran robot bartender ini kemudian ternyata memiliki respon positif dari pengunjung.

Baca juga: Minimalisir Tenaga Manusia, Jepang Mulai Kembangkan Puluhan Robot di Stasiun

“Aku suka itu karena berurusan dengan orang bisa merepotkan. Dengan ini Anda bisa datang dan mabuk. Jika mereka bisa membuatnya sedikit lebih cepat akan lebih baik,” ujar seorang pengunjung bernama Satoshi Harada.

Dari Selandia Baru, Boeing Siap Wujudkan Taksi Udara Listrik Otonom Pertama di Dunia

Pemerintah Selandia Baru belum lama ini telah menandatangani nota kesepahaman dengan perusahaan mobilitas udara perkotaan, Wisk, untuk mendukung uji coba taksi udara listrik otonom berpenumpang pertama di dunia. Rencananya, taksi udara yang diberi nama Cora tersebut akan diujicoba di Region Canterbury (setingkat provinsi atau negara bagian yang membawahi beberapa kota).

Baca juga: Berusaha Tetap di Arus Persaingan, Porsche pun Turut Luncurkan Taksi Udara Otonom!

Uji coba tersebut sebetulnya adalah lanjutan dari uji coba sebelumnya (pada 2017 silam). Bedanya, bila saat itu hanya mengujicoba unit taksi otonom listriknya saja, dalam waktu dekat ini, taksi udara otonom listrik pertama di dunia tersebut akan diujicoba kembali bersama penumpang. Belum jelas berapa penumpang yang akan jadi bagian dari uji coba tersebut, namun diperkirakan, Cora akan lebih tangguh dibandingkan taksi udara otonom dengan konsep drone milik perusahaan Cina, Ehang 184, yang hanya mampu mengangkut satu penumpang plus barang bawaan yang sangat terbatas.

Dengan adanya uji coba lanjutan tersebut, Wisk berharap, teknologinya tersebut akan lebih siap untuk dibawa ke pasar, dalam menyambut era baru taksi udara otonom di masa depan. Selain itu, perusahaan patungan antara The Boeing Company dan Kitty Hawk Corporation tersebut juga berharap, pihaknya dapat menjadi bagian dari masa depan dalam membentuk sebuah ekosistem perjalanan harian lintas kota atau dalam sekala yang lebih kecil dari itu, dimulai dari Selandia Baru.

Langkah konkret perusahaan patungan Boeing dan Kitty Hawk tersebut pun sekaligus menandai persaingan ketat antara Airbus dan Boeing, bukan hanya pada urusan pesawat terbang saja, melainkan juga pada urusan taksi terbang otonom listrik berpenumpang. Bedanya, jika saat ini Airbus dianggap lebih unggul karena nasib buruk kompetitornya tersebut dalam industri pesawat terbang, Boeing kini lebih unggul dalam implementasi taksi terbang otonom listrik karena sudah memiliki mitra (Selandia Baru) untuk mengaplikasikan teknologinya di tengah perkotaan. Adapun Airbus masih dalam proses uji coba dan belum mendapatkan mitra strategis untuk mengimplementasikan produk inovatifnya itu.

Menteri Riset, Ilmu Pengetahuan, dan Inovasi Canterbury, Megan Woods, pun menyambut baik sinergi antara pihaknya dengan Wisk. Menurutnya, uji coba tersebut sejalan dengan pembentukan Program Percobaan Integrasi Ruang Angkasa atau Airspace Integration Trials Programme (AITP) dan Wisk adalah mitra industri pertama yang bergabung. Program AITP sendiri adalah bagian dari strategi pemerintah dalam melihat peluang potensi di sektor transportasi di masa depan.

“Pemerintah melihat potensi besar dalam pengembangan sektor pesawat tak berawak yang inovatif di Selandia Baru dan kami berada dalam posisi utama untuk bekerja dengan perusahaan-perusahaan terkemuka global di sini untuk menguji dan masuk ke pasar dengan aman,” katanya, seperti dikutip KabarPenumpang.com dari laman futuretravelexperience.com, Jumat, (7/2).

“Selain manfaat ekonomi dan sosial yang ditawarkan pertumbuhan industri ini, kami juga berbagi visi dengan Wisk tentang cara yang lebih ramah lingkungan dan bebas emisi masyarakat dan pengunjung di Selandia Baru untuk berkeliling. Mengaktifkan kemunculan layanan taksi udara yang sepenuhnya listrik adalah hal yang wajar dengan tujuan nol karbon Selandia Baru pada tahun 2050,” tambahnya.

Sekilas tentang Canterbury , wilayah tersebut adalah rumah bagi sekelompok perusahaan penerbangan yang inovatif dan sektor manufaktur serta teknologinya adalah yang terbesar kedua di Selandia Baru. Ekosistem kebutuhan tersier dan penelitian serta inovasi perkotaan yang kuat di samping konektivitas ke seluruh dunia, dengan pelabuhan dan bandara internasional, membuat Christchurch, kota di Canterbury, cocok untuk menjadi tempat uji coba teknologi baru tersebut.

Baca juga: Prototipe Taksi Drone Ehang 184, Sukses Uji Coba Dalam 1000 Kali Terbang

Dalam waktu, uji coba ditargetkan dapat segera dilakukan. Saat ini, prosesnya tengah dalam pembicaraan bersama pihak-pihak terkait, seperti regulator penerbangan di Selandia Baru, dewan kota, dewan regional, perusahaan, bahkan pemerintah pusat.

Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, pada Oktober 2019 lalu, Pemerintah Selandia Baru mengumumkan pembentukan Program Percobaan Integrasi Ruang Angkasa atau Airspace Integration Trials Programme (AITP), yakni sebuah program inovatif yang berfokus pada industri untuk mendukung pengujian yang aman dan pengembangan pesawat tanpa awak canggih serta mempercepat integrasi mereka ke dalam sistem penerbangan. Hal itu diharapkan dapat segera memajukan masa depan perjalanan di Selandia Baru dan dunia.

Diklaim Bisa Bikin Pramugari Jadi Lebih Nyaman, Inilah Konsep Zero G-Attendant Seat

Crystal Cabin Awards secara luas memang diakui sebagai salah satu wadah teratas untuk memamerkan produk-produk inovatif di industri penerbangan. Dari daftar nominasi yang dirilis panitia penyelenggara, setidaknya terdapat beberapa inovasi yang menarik perhatian, seperti kursi yang dapat diubah menjadi tempat tidur untuk keluarga, kemewahan ruang kargo dari EarthBay dan, tentu saja, tempat tidur rata untuk penumpang kelas ekonomi bak di kamar pribadi.

Baca juga: Bersiaplah, Ajang Crystal Cabin Awards Akan Hadirkan Desain Kabin Pesawat Masa Depan

Tak hanya mendesain bagi pelanggan, para peserta juga menciptakan inovasi baru untuk awak kabin. Hal tersebut tentu sangat wajar, mengingat, tak ada yang lebih lama dalam urusan menghabiskan waktu di dalam pesawat selain awak kabin. Salah satu inovasinya adalah konsep Zero-G Flight Attendant, yang menjanjikan awak kabin memiliki tempat yang nyaman untuk beristirahat, khususnya pada saat di udara dimana awak kabin pada umumnya memiliki waktu istirahat yang relatif terbatas.

Kursi yang multi fungsi atau reclining seat menjadikannya mudah diatur sesuai kebutuhan. Foto: Collins via Simple Flying

Dikembangkan oleh Collins Aerospace, Zero G-Attendant Seat sejak awal memang dirancang untuk memberikan kenyamanan terbaik bagi pramugari. Pengembang menyebut kursi itu sebagai “kursi kabin dengan kenyamanan tinggi”. Terobosan dari salah satu perusahaan pemasok produk dirgantara dan pertahanan terbesar di dunia Ini diklaim sebagai yang pertama dan bisa membuat hidup bagi pramugari jauh lebih nyaman, khususnya saat di udara.

Saat hendak digunakan, kursi menawarkan berbagai posisi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan (Reclining Seat), baik saat lepas landas, selama di udara, maupun menjelang turun landas. Selama lepas landas dan mendarat, pramugari dapat menggunakannya dengan cara yang sama seperti kursi lipat pada umumnya, yakni kursi pada posisi tegak. Tak hanya itu, kursi tersebut juga dilengkapi dengan meja portabel untuk meletakkan sesuatu di atasnya.

Ketika di udara, pramugari dapat dengan mudah mengubah bentuk kursi untuk mengaktifkan posisi berbaring. Saat badan dan kepala bersandar, kaki pun juga tak luput dari perhatian dengan hadirnya sandaran juga pada kaki, sangat membantu pramugari untuk melepas pegal akibat banyak berdiri plus menggunakan sepatu hak tinggi.

Seperti dikutip KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com, Rabu, (5/2), selain nyaman digunakan, kursi tersebut juga sangat mudah dibereskan saat tak dibutuhkan. Cukup dengan melipat rapi ke dinding, kursi tersebut dijamin tidak akan mengganggu jalan keluar darurat dalam keadaan sangat mendesak sekalipun. Hal ini dinilai sangat penting, mengingat, segala apapun yang mengganggu proses evakuasi, inovasi tersebut tetap akan dianggap tak bermutu, terlebih pada pesawat.

Posisi kursi reclining seat saat tak digunakan didesain agar tak mengganggu proses evakuasi. Foto: Collins via Simple Flying

Dalam keterangannya, Collins Aerospace atau biasa dikenal juga dengan sebutan UTC Aerospace Systems mengatakan dengan memungkinkan awak kabin menikmati istirahat cukup serta dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang, hal tersebut sangat mungkin untuk mengembalikan stamina mereka ke kondisi normal. Ujungnya, pelayanan kepada para pelanggan diharapkan jadi lebih maksimal dan konsisten.

Baca juga: Reclining Seat, Ternyata Justru Membuat Susah Penumpang

Akan tetapi, kabar baik untuk para pramugari ini belum bisa diaplikasikan ke dalam pesawat. Semua tergantung pada keinginan maskapai untuk menghadirkan fasilitas tersebut bagi para awak kabinnya atau tidak. Pada umumnya, maskapai banyak menghabiskan waktu untuk terus berinovasi dengan segala sesuatu yang berhubungan langsung dengan pelanggan, bukan awak kabin.

Di samping itu, inovasi dari Collins Aerospace tersebut dinilai hanya cocok untuk penerbangan jarak jauh. Itupun lagi-lagi, tergantung pada maskapai. Pada penerbangan jarak pendek, plus menggunakan pesawat kecil, sekalipun pada saat-saat tak banyak pekerjaan, awak kabin memang jarang mendapat akses kenyamanan seperti itu. Namun, faktanya, sebelum inovasi tersebut diaplikasikan, hingga kini, para pramugari tampak cukup menikmati di setiap penerbangan dengan fasilitas yang ada.

British Airways Hadirkan Selimut dan Bantal Baru untuk Kelas Ekonomi

British Airways serius untuk meningkatkan pengalaman terbaik bagi para pelanggan kelas ekonominya. Belum lama ini, salah satu maskapai penerbangan terbesar di Britania Raya dan di dunia dengan penerbangan trans-Atlantik dari Eropa tersebut meluncurkan selimut dan bantal baru untuk penumpang World Traveler (kelas ekonomi) pada rute jarak jauh.

Baca juga: Penumpang British Airways Melihat Drone di Ketinggian 30 Ribu Kaki, Fakta atau Halusinasi?

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thepointsguy.com, Kamis, (6/2), tak hanya menawarkan varian selimut dan bantal baru, British Airways juga menawarkan inovasi lainnya, yakni berupa sandaran kepala baru. Desain dari inovasi-inovasi tersebut juga telah dibuat semenarik mungkin, dengan tetap segar dipandang mata dan nyaman saat digunakan. Pilihan pun jatuh pada warna biru, lengkap dengan pola herringbone (sebuah motif yang tersusun dari sekumpulan persegi panjang atau segitiga) serta headrest putih cerah.

Peluncuran layanan baru tersebut, khususnya selimut, tentu sangat sejalan dengan fenomena perilaku pelanggan saat di udara. Dalam laporan blog travel asal Los Angeles, AS, Live and Lets Fly, perilaku pelanggan, khususnya pada kategori first flight, cenderung lebih mencari selimut hangat dan halus untuk menemani penerbangan mereka. Adapun yang lainnya, seperti in-flight entertainment hanya sebagai pelengkap saja, bukan menjadi kebutuhan pokok apalagi barang mewah.

Bahkan, saking nyamannya dengan selimut yang membersamai mereka selama di udara, maskapai-maskapai besar, seperti United Airlines, American Airlines, hingga British Airways beberapa kali kerap kehilangan selimutnya dalam penerbangan jarak jauh.

Sayangnya, layanan selimut, bantal, dan headrest baru ini baru tersedia di semua penerbangan British Airways jarak jauh ke dan dari London Heathrow (LHR) serta London Gatwick (LGW) mulai 1 Maret 2020 mendatang. Selebihnya, pelanggan masih harus berkutat dengan barang lama, yakni bantal putih dan selimut cokelat.

Wujud selimut dan bantal lama. Foto: British Airways

Menariknya, kantor berita businesstraveller.com melaporkan, nantinya, selimut dan bantal yang sudah purna tugas per 1 Maret mendatang, akan disumbangkan ke badan amal guna mendukung berbagai proyek sosial di Inggris dan di luar Inggris. Bukan didaur ulang apalagi hanya akan menjadi ‘pemanis’ gudang saja, seperti yang dilakukan banyak maskapai.

Selain inovasi pada selimut, bantal, dan headrest baru, British Airways juga melakukan inovasi pada beberapa hal lainnya, seperti berbagai perlengkapan yang terbuat dari botol plastik daur ulang hingga menguji coba layanan mesin pembuat koktail otomatis yang akan mengeluarkan salah satu dari 30 pilihan koktail dalam waktu kurang dari 45 detik di lounge San Francisco dan Newark, AS.

Baca juga: British Airways Sajikan ‘Makanan Kelinci’ Kepada Penumpang!

Terkait berbagai inovasi baru tersebut, Direktur Pengalaman Pelanggan British Airways, Carolina Martinoli mengatakan, Peningkatan layanan pada kelas ekonomi ini adalah bagian dari investasi langkah terbaru dari sajian pengalaman kepada penumpang. Sebagai bagian dari inisiatif itu, British Airways juga telah berinvestasi dengan pesawat baru, seperti A350, yang pembagian tiga kabinnya, yakni Club Suite, World Traveler Plus dan World Traveller. Di samping itu, pihaknya juga ingin membuat awal perjalanan yang baik untuk para pelanggannya.

“Kami ingin pelanggan kami dapat duduk dan benar-benar bersantai, memanfaatkan perabotan lembut baru yang nyaman, film dan program dalam penerbangan, dan menu World Traveler empat macam. Tujuan kami adalah mengantarkan mereka ke tempat tujuan dengan perasaan segar dan merasa perjalanan mereka dimulai dengan awal yang baik,” ujarnya.

Melihat Pemetaan Street View Google Maps dari Kursi Penumpang

Siapa yang tak kenal dengan fitur Street View Google Maps? Bila tak mengenal ini, artinya Anda tidak pernah menggunakan Google Maps alias gaptek (gagap teknologi). Sedangkan pada pengguna Google Maps sudah pasti paham fitur yang satu ini.

Baca juga: Google Maps Hadirkan Fitur Info ‘Kepadatan Penumpang’ di Moda Transportasi Umum

Ternyata Street View Google Maps sudah ada sejak 12 tahun lalu dan pada 2019 kemarin fitur tersebut telah memotret lebih dari sepuluh juta mil di seluruh dunia.  KabarPenumpang.com merangkum cheddar.com (1/2/2020), ada beberapa hal Google bisa mencapai jumlah yang sudah di potret mereka di seluruh dunia, dan bila dilihat dari kursi penumpang akan seperti berikut. Pertama adalah mobil yang digunakan untuk mendapatkan Street View Google Maps bervariasi di setiap wilayah kota hingga negara.

Mobil tersebut dilengkapi dengan tujuh kamera yang bisa bergerak, dua sensor LIDAR (Light Detection and Ranging), dua kamera menghadap samping hingga kamera definisi tinggi. Tujuh kamera pertama menangkap gambar yang akan digabung dengan yang lain.

Sensor LIDAR memungkinkan pencitraan 3D dalam 360 derajat. Sistem ini juga ditemukan dalam kendaraan otonom. Dua kamera menghadap samping, memungkinkan Google menangkap dengan detail rambu jalan dan toko yang akhirnya menghasilkan daftar baru di Google Maps secara otomatis.

Sedangkan di bagian dalam mobil, sebuah komputer diletakkan di lantai kursi belakang dan akan menyimpan data yang sudah diambil kamera serta sensor di luar mobil. Nanti data ini akan dijahit semuanya di kantor Google.

Di kursi bagian depan hanya ada tampilan yang menunjukkan pengemudi tentang informasi yang sudah dikumpulkan. Google menyebut ini dan pada akhirnya berbentuk garis biru yang mewakili rute serta digerakkan.

Direktur teknik di Google Maps, Andrew Lookingbill menjelaskan, mereka ingin menjaga interior sesederhana mungkin untuk meminimalkan gangguan berkendara. Kedua adalah perjalanan yang mana berkeliling menjadi bagian termudah.

Mobil Street View nyatanya hanya beroperasi dalam kondisi cuaca cerah atau berawan. Sedangkan ketika hujan, hujan es ataupun salju tidak berjalan karena akan menghalangi kamera dalam mengambil gambar.

Jika ada sesuatu yang menghalangi lensa, layar menunjukkan pesan kepada pengemudi. Terkadang ketukan sederhana akan menghapus peringatan, tetapi, jika tidak, pengemudi akan keluar untuk memeriksa peralatan.

Ketiga yakni upaya mendapatkan Street View bukan hanya menggunakan operasi roda empat. Google merekrut individu terlatih dan mengirim karyawan untuk mengumpulkan gambar dari lokasi yang lebih menantang seperti gunung berapi, gunung, dan Great Barrier Reef.

Mereka mengikat perangkat portabel yang mirip dengan beanstalk di mobil Street Vehicle di punggung mereka. Itu memiliki tujuh kamera HD, dua sensor LIDAR, dan beratnya sekitar 40 pound atau sekitar 18 kg. Google juga membuat variasi trekker di atas mobil salju dan moped.

Diketahui. Google Maps digunakan lebih dari satu miliar orang setiap bulan. Aplikasi ini telah berkembang untuk memasukkan lebih banyak fitur yang menghasilkan lebih banyak uang bagi Google: Butuh hotel? Cari di Google Maps dan pesan langsung. Temukan restoran yang kamu suka? Itu bisnis lokal yang telah membeli iklan Google.

Karena alasan ini, Google Maps harus selalu mutakhir dan teknologi di Street View memungkinkan hal itu terjadi. Kamera dan perangkat lunak dapat mengenali perubahan dan membaca tanda-tanda, yang memungkinkan mereka melakukan hal-hal seperti membuat-otomatis daftar bisnis baru.

“Bisnis masuk dan keluar dari bisnis, mengubah jalan, penghentian sementara – kita harus tetap di atas itu. Begitulah cara kami mencapai keseimbangan antara informasi yang berasal dari pengguna, panduan lokal kami, komunitas besar pengguna Maps yang melaporkan masalah saat mereka melihatnya, dan algoritme kami mencari petunjuk dari citra dan sumber lain,” kata Lookingbill.

Dengan citra satelit resolusi tinggi sebagai basis tata letak jalan pertama, Lookingbill mengatakan perusahaan sering menyebut seluruh proses pembuatan Google Maps dengan Street sebagai “kue lapis”. Mengingat perusahaan induk Google, Alphabet, masih membuat sebagian besar pendapatannya melalui iklan, daftar dan peta lokal adalah bagian penting untuk membuat Google lebih berguna.

“Iklan di Maps dirancang untuk berintegrasi dengan mulus ke dalam pengalaman Maps alami dan kami memantau dengan cermat bagaimana pengguna merespons untuk memberikan pengalaman terbaik yang mungkin,” kata Google.

Perusahaan juga telah mendorong bisnis untuk membangun konten Street View mereka sendiri, dengan alasan fitur pemetaan membantu mendorong kunjungan langsung. Seperti semua kisah teknologi terkini, keajaiban operasi seperti Google Maps tidak terletak pada perangkat keras tetapi perangkat lunaknya.

Baca juga: Google Maps Mudahkan Pengguna Kereta dan Bus di India Dapatkan Informasi

Dalam hal ini, perjalanan di mobil Street View tidak dengan sendirinya menarik, tetapi bagian pengumpulan data dari pekerjaan yang membuatnya istimewa. Pemrosesan yang menjahit gambar bersama dan membuat peta agar terlihat mulus semua terjadi dalam perangkat lunak pemetaan.

Dirancang Selama 18 Bulan, Inilah Tampilan Seragam Baru Awak Kabin Saudia

Belum lama ini, Saudi Arabian Airlines dengan bangga mengumumkan peluncuran seragam awak kabin terbaru. Nantinya, seragam baru tersebut akan dikenakan oleh para awak kabin untuk pertama kalinya pada penerbangan tujuan ke Paris Charles de Gaulle dan London Heathrow. Rencananya, pada pertengahan 2021 mendatang, seragam yang dirancang khusus selama 18 bulan tersebut akan dikenakan oleh seluruh kru maskapai, baik di darat maupun di udara.

Baca juga: Saudia vs Etihad, Siapa Juara di Kelas Ekonomi?

“Tampilan dan citra keseluruhan awak kabin yang baru ini hadir sebagai bagian dari peningkatan kabin dan penambahan keramahan; ini adalah cerminan dari ekspansi global maskapai ini dalam beberapa tahun terakhir, ” kata juru bicara Saudi Arabian Airlines, seperti diwartakan KabarPenumpang.com dari laman arabnews.com, Kamis, (6/2).

Dalam perjalanan mendapatkan desain baru, selain dirancang khusus dalam waktu lebih dari setahun lebih, maskapai yang juga biasa disebut Saudia itu juga mendengarkan masukan dari anggota timnya, baik pramugari hingga staf konter, tentang perspektif mereka perihal kemudahan pemakaian, kenyamanan bahan, dan desain yang kekinian. Dukungan dan masukan dari para karyawan tersebut pada akhirnya diserap dan diramu oleh desainer hingga mendapatkan hasil akhir brillian, dalam arti memastikan bahwa desain dan kepraktisan berpadu secara harmonis.

Seragam baru dengan bahan campuran dari poli-wol dan spandex yang menampilkan kombinasi warna ungu, krem, emas, dan biru kerajaan tersebut juga dinilai sangat spesial karena terdapat unsur budaya dan identitas negara dalam proses perancangannya. Selain itu, desain dan aksen Arab yang melekat di seluruh seragam, mulai dari pin hingga syal wanita, kain, blazer khusus, dan lainnya, juga makin menguatkan citra Saudia sebagai maskapai yang berkelas namun tetap mengangkat kearifan lokal. Tak heran jika desain akhir memakan waktu selama itu.

Tampilan seragam terbaru Saudia. Foto: Businesstraveller

Sebelumnya, Saudia tercatat sudah pernah beberapa kali berganti-ganti seragam. Misalnya, pada tahun 2012, maskapai pelat merah Arab Saudi tersebut juga tampil hangat untuk para awak kabin pria dengan sedikit modifikasi. Dua tahun kemudian, desain baru untuk awak kabin wanita pun menyusul.

Kini, setelah lebih dari enam tahun, Saudia akhirnya benar-benar melakukan peluncuran penuh atau merombak total seragam dengan desain yang menyesuaikan misi perusahaan ke depan. Memberikan tampilan yang benar-benar disempurnakan, mulai dari lencana nama, kancing manset, ikat pinggang, jas, topi, pin, sepatu, hingga tas travel.

Baca juga: Inilah Sejumlah Fakta Unik dari Flag Carrier Arab Saudi, Saudi Arabian Airlines!

Peluncuran seragam baru Saudia tersebut pun mendapatkan komentar positif dari pelanggannya. Banyak dari mereka menilai bahwa seragam baru tersebut sangat elegan, menampilkan citra positif, dan menjadi salah satu seragam terbaik, khususnya pada model full dress. Bahkan, salah satu pelanggan setia Saudia selama 38 tahun menilai, perubahan yang menyeluruh tersebut bukanlah perkara mudah. Tetapi, Saudia berhasil melakukannya dengan baik.

Sebagai informasi, seragam baru Saudia memang tampil dengan dua vairan berbeda. Dua untuk laki-laki dan dua lainnya perempuan. Khusus perempuan, satu di antaranya tampil dengan varian full dress atau tertutup. Adapun varian lainnya memakai bawahan rok ¾. Namun keduanya, (seragam perempuan) tetap anggun dengan tampilan hijab yang kekinian. Sedangkan untuk model seragam baru pria, sebetulnya sangat biasa, memakai jas, dasi, dan lencana atau pin khusus.