Badai Ciara Bikin Pesawat Air Europa Turbulensi Parah, Penumpang Muntah-muntah dan Teriak Histeris

Pesawat Air Europa mengalami turbulensi parah saat berada di sekitaran langit Bandara Schiphol, Belanda. Pesawat dengan nomor penerbangan UX1093 rute Madrid – Amsterdam itu akhirnya harus kembali ke Madrid setelah tiga kali percobaan pendaratan yang gagal. Selama dalam penerbangan tersebut, dari total 300 penumpang yang ada di dalamnya hampir seluruhnya mengalami muntah-muntah serta teriak histeris, saking kuatnya turbulensi yang disulut oleh Badai Ciara tersebut.

Baca juga: Jepang Diterjang Badai Faxai, Berimbas ke Penerbangan di Bandara Narita dan Haneda

Dalam video yang dilihat KabarPenumpang.com dari laman Twitter RTL Nieuws, Selasa, (11/2), Badai Ciara yang berkecepatan 80 mph atau 128 kilometer per jam tersebut setidaknya berhasil membuat pesawat beberapa kali terlihat bergoyang disertai suara gemuruh. Di samping itu, dalam video berdurasi 28 detik tersebut, saking kuatnya guncangan, beberapa di antara penumpang bahkan tak kuasa menahan tangis sambil berteriak histeris.

Menurut pengakuan Mark Haagen, salah satu penumpang dalam penerbangan tersebut, turbulensi kala itu bisa dikatakan sangat buruk, sehingga wajar bila sampai menyebabkan orang-orang “menjerit dan muntah-muntah.”

“Turbulensi di atas Schiphol sangat besar. Pilot benar-benar menghentikan pendaratan dua kali pada saat terakhir. Kami lepas landas lagi di ketinggian 150 meter (490 kaki) di atas landasan. Benar-benar kacau,” katanya kepada kantor berita RTL Nieuws.

“Bagasi itu terbang bolak-balik. Saya sudah terbiasa terbang, tetapi saya belum pernah mengalami ini,” tambahnya.

Selain itu, Haagen juga mengklaim, pilot dan awak kabin tidak mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi pada penumpang. Dalam ingatannya, mereka hanya terbayang saat-saat pilot coba mendaratkan pesawat hingga lima kali dan pada akhirnya pesawat kembali ke Madrid tanpa pemberitahuan apapun selama perjalanan menuju bandara (Madrid).

“Ada sedikit komunikasi. Saya melihat di layar bahwa kami kembali ke Madrid setelah lima kali mencoba mendarat. Kami tidak tahu di mana kami berada,” lanjutnya.

Menanggapi insiden tersebut, pihak maskapai pun buka suara. Dalam sebuah pernyataan kepada Fox News, mereka mengakui bahwa pesawat memang sempat mencoba mendarat sebanyak tiga kali sebelum akhirnya gagal dan kembali ke Madrid. Sesampainya di Madrid, maskapai mengaku telah memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggannya, mulai dari penginapan, makan malam, hingga penerbangan pengganti.

Baca juga: Dilanda Hujan Badai, Pesawat British Airways Alami Kebocoran di Ruang Kabin!

“Penerbangan UX1093 dari Madrid ke Amsterdam tidak bisa mendarat di Bandara Amsterdam karena cuaca buruk dan kembali ke Madrid. Penumpang dilayani setiap saat, ditampung di hotel-hotel, dan alternatif untuk mencapai tujuan mereka, sehari setelah insiden tersebut,” begitu bunyi keterangan dari pihak maskapai.

Penerbangan UX1093 dari Madrid ke Amsterdam sendiri dijadwalkan tiba 17.45 waktu Amsterdam, setelah lepas landas dari Madrid pada 3.00 sore. Selain membuat penerbangan dengan pesawat B788 atau B787-8 Dreamliner tersebut, Badai Ciara juga setidaknya membuat ratusan penerbangan di seantero Eropa dan Inggris batal, aliran listrik terputus, hingga beberapa laga Liga Inggris dan liga-liga lainnya di Eropa tertunda. Saat ini, badai yang menimpa Inggris dan sebagian besar Eropa tersebut dilaporkan telah merenggut tujuh korban jiwa serta puluhan lainnya luka-luka.

Bukan Hanya Kelas Bisnis, Kini Kelas Ekonomi Juga Lebih Nyaman dengan Seatback Micro-Nesting

Dalam setiap penerbangan, penumpang sering kali membutuhkan beberapa hal yang mungkin tak begitu diperhatikan oleh maskapai. Terlebih kelas ekonomi. Sudah bukan rahasia lagi bila harga mahal yang dikeluarkan penumpang kelas bisnis memungkinkan mereka mendapatkan fasilitas lebih. Padahal, penumpang ekonomi juga membutuhkan fasilitas lebih yang juga mesti diperhatikan oleh maskapai, sekalipun terlihat kecil.

Baca juga: Pan Am, Maskapai Pelopor Kelas Ekonomi Modern di Penerbangan Jarak Jauh

Seperti dikutip KabarPenumpang.com dari laman runwaygirlnetwork.com, Senin, (10/2), belum lama ini, dalam sebuah acara diskusi Aircraft Interiors Conference, ide untuk menghadirkan kemudahan bagi penumpang kelas ekonomi pun lahir. Dalam acara yang dihelat oleh salah satu event organizer spesialis konferensi internasional di bidang industri penerbangan dan otomotif tersebut (RedCabin), desain baru apa yang disebut “A/B Seat” tercetus setelah mendengarkan keluh-kesah salah satu panelis.

Matthew Coder, salah satu panelis yang malang-melintang di industri penerbangan sebagai manajer di Alaska Airlines sebetulnya hanya coba menjawab pertanyaan yang datang dari seorang peserta. Ketika itu ia ditanya terkait rincian kursi impian di kelas ekonomi. Ia pun menyampaikan sedemikan rupa. Belum jelas apa yang diterangkannya secara detail. Namun, dari mulutnya-lah kemudian Sekisui SPI, TrendWorks, appLab, dan Rollon coba menyaring dan menyerap (perkataan Coder), serta menyatukan ide hingga lahir konsep kursi A/B baru.

Konsep micro-nesting memungkinkan penumpang meletakan kacamatanya di bagian belakang kursi pesawat. Foto: Mary Kirby

“Kursi konsep A/B mengeksplorasi sejumlah teknologi berbeda dengan material dan inovasi penerbangan tradisional. Salah satu peningkatan utama bagi penumpang kelas ekonomi adalah menciptakan solusi ‘micro-nesting’ untuk mengatur penyimpanan pribadi di ruang terbatas, seperti halnya kami akan mengatur konsol atau laci di kabin premium. Dengan menggerakkan kantong penyimpanan lebih tinggi di sandaran kursi, kami menciptakan ruang kaki tambahan di lutut dan menyediakan solusi multi-saku untuk ponsel, tablet, buku, kacamata baca, dll yang cukup fleksibel untuk sejumlah alat yang berbeda,” kata salah satu petinggi TrendWorks, Elina Kopola.

Micro-nesting atau penyimpanan multi-fungsi, lanjutnya, saat ini sebetulnya merupakan fenomena menarik di industri fashion, misalnya produk-produk tas dengan beberapa kantong atau penyimpanan untuk ponsel, notebook, kacamata, dan botol minum. Hal itu kemudian coba diaplikasikan di pesawat sebagai jawaban dari kebutuhan para penumpang dengan mobilitas tinggi namun tidak punya cukup uang untuk mendapatkan fasilitas kelas bisnis.

JAL menyediakan kantong dan tempat gelas di kursi kelas ekonomi pada A350-nya. Foto: JAL

Akan tetapi, ide tersebut bukan berarti tanpa halangan. Selain masalah budget maskapai yang tidak terlalu besar untuk mewujudkannya, kebutuhan pelanggan terhadap konsep (micro-nesting) tersebut juga masih diragukan. Menurut sejumlah pihak, tak semua pelanggan mungkin akan membutuhkan hal tersebut. Pada akhirnya, para inovator coba mencari jalan keluar terbaik, agar uang yang dikeluarkan tidak terlalu besar, namun konsep tersebut tetap bisa diterapkan demi pelayanan terbaik, khususnya kepada pelanggan kelas ekonomi.

Baca juga: Terbang dari Jepang ke Inggris, Pangeran Harry Kepergok Duduk di Kelas Ekonomi

“Kami ingin membawa beberapa manfaat tekstil ke dalam kabin penerbangan. Rajutan 3D adalah cara yang hemat biaya untuk membuat struktur saku dalam sekali potong, dengan kata lain saku lengkap berasal dari mesin rajut sebagai satu bagian siap pakai. Hal ini memungkinkan proses produksi menjadi lebih cepat dan efisien,” jelas Kopola

Saat ini, maskapai yang sudah mulai menerapkan konsep tersebut pada kelas ekonomi baru JAL pada armada A350-nya. Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, hal tersebut memungkinkan pelanggan untuk menyimpang beberapa barang-barang tak terpisahkan dari penumpang, seperti ponsel, botol minum, pena, notepad, hingga kacamata.

Mau Gusur Airbus dan Boeing, Perusahaan Amerika Bikin Pesawat Listrik untuk Kurangi Pemanasan Global

Sebuah perusahaan desain asal New York, Amerika Serikat, belum lama ini merilis konsep untuk membuat pesawat penumpang serba listrik dengan tiga baling-baling sebagai pengganti mesin jet. Konsep pesawat berpenumpang yang dinamakan “Zero” tersebut, diklaim mampu menyumbang penurunan emis gas buang dan memperlambat laju pemanasan global berkat tenaga penggeraknya yang 100 persen listrik tersebut.

Baca juga: Harbour Air Uji Coba Pesawat Terbang Listrik Selama Lima Menit

Pesawat yang dirancang oleh Joe Doucet x Partners (JDXP) ini, secara fisik, memiliki struktur aerodinamis yang cukup erat, dilengkapi dengan ujung hidung meruncing, dan sayap lebar di bagian belakang. Sayap pesawat tersebut lebih besar daripada sayap pesawat komersial saat ini serta sengaja diposisikan lebih tinggi dan lebih jauh ke belakang dari badan pesawat untuk membuat bagian depannya secara alami sedikit mencongak ke atas agar memudahkan pesawat saat lepas landas.

Pesawat yang menggunakan baterai dan generator listrik yang dapat diisi oleh panel surya, serta tiga set baling-baling sebagai tenaga penggeraknya itu memang sedikit lebih lambat dibanding pesawat konvensional dengan mesin jet ganda. Meskipun demikian, sebagian masyarakat yang sadar akan bahaya pemanasan global tidak akan cukup terganggu dengan konsekuensi 25 menit lebih lama.

“Kami tidak melanggar penghalang suara (tidak bising), tapi efisiensi adalah kuncinya,” kata Joe Doucet, pemimpin perusahaan JDXP, seperti dikutip KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk, Senin, (10/2).

“Sepertinya bagi saya ada teknologi yang dapat dicapai, dan keinginan para pelancong untuk melakukan perjalanan yang lebih baik, bahkan jika perjalanannya sedikit lebih lama,” tambahnya.

Hidung pesawat yang lebih aerodinamis dan lancip dibanding pesawat konvensional. Foto: JDXP

Joe Doucet selama ini beranggapan, emisi karbon dari perjalanan pesawat, yang terfokus di bagian atas atmosfer, dianggap sebagai salah satu kontributor terbesar pemanasan global. Hanya saja, pesawat tersebut sementara ini masih didesain untuk penerbangan jarak pendek saja. Sebab, semakin lama penerbangan, semakin besar waktu tambahan yang dibutuhkan dalam setiap penerbangan dibanding pesawat bermesin jet.

Dari sisi keamanan, Doucet mengatakan bahwa pesawat “Zero” juga dapat meluncur kembali ke tanah bahkan jika kehabisan daya atau dalam kasus kerusakan sekalipun. Namun, sejauh ini belum jelas bagaimana mekanismenya jika hal tersebut benar-benar terjadi.

Sebagai sebuah pesawat yang mengusung konsep “berkelanjutan” tentu saja segala hal yang melekat padanya harus berdasarkan konsep tersebut. Tak terkecuali terkait pelayanan di bagian dalam pesawat, dalam hal ini sajian makanan. Jangan berharap pelanggan akan menemukan plastik sekali pakai atau burger daging sapi –yang notabene dinilai menjadi penyebab nomor dua terbesar pemasan global– di setiap penerbangan. Sebab, hal tersebut mustahil.

Dengan konsep “berkelanjutan” tersebut, sebagian kalangan menilai, pesawat ini mungkin akan mendapatkan tempat tersendiri di hati masyarakat. Terlebih, efek pemanasan global saat ini sudah benar-benar meresahkan. Tentu saja, segala sesuatu yang membantu menurunkan laju pemanasan global akan mendapat perhatian dari masyarakat internasional, terlebih inovasi tersebut datang dari pesawat terbang.

Pesawat terbang listrik besutan Rolls-Royce. Foto: Rolls-Royce

Akan tetapi, di lain kesempatan, Doucet justru mengatakan hal sebaliknya. Ia tidak berniat membawa konsep tersebut ke tahapan yang lebih tinggi, dalam artian tidak pada tahap untuk membuat pesawat di seluruh dunia bertenaga listrik seperti produknya. Pasalnya, hal itu membutuhkan biaya yang tak sedikit untuk membuat pusat penelitian dan pengembangan pesawat hingga benar-benar bisa menjadi angkutan massal utama di masa mendatang.

Baca juga: Mampukah Pesawat Bertenaga Listrik Geser Kedigdayaan Pesawat Komersial?

Berbicara angkutan massal listrik berkemampuan terbang di masa mendatang, JDXP bukanlah satu-satunya pemain. Sebelumnya, sudah pernah ada pesawat bertenaga listrik pada tahun 1970, kemudian juga ada perusahaan otomotif asal Korea, Hyundai yang bekerjasama dengan Uber untuk membuat armada taksi terbang listrik, Rolls Royce yang bulan lalu juga membuat pesawat listrik berkemampuan 300 mil per jam dan paket baterai untuk 200 mil penerbangan per pengisian, serta maskapai asal Belanda, KLM, yang juga sudah membuat rancangan pesawat berpenumpang canggih bertenaga listrik di masa mendatang, dengan desain yang ditawarkan saat ini berbentuk “V”.

Sebagai tambahan, Badan Energi Internasional telah memperkirakan akan ada sekitar 125 juta kendaraan listrik yang dikerahkan secara global pada tahun 2030, menggantikan mobil bertenaga bahan bakar yang mengeluarkan karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya.

Stanley Robotics dan VINCI Airports Sepakat Perluas Layanan Robot Valet Parkir di Bandara Lyon

Setelah suskes dalam fase percobaan penerapan robot valet parkir otomatis yang melibatkan 500 titik di Bandara Lyon, baru-baru ini, Stanley Robotics dan VINCI Airports mengumumkan kesepakatan kerjasama lanjutan dalam memperluas layanan tersebut ke lebih dari 2.000 titik lainnya pada Maret mendatang. Belum jelas berapa nilai dan durasi kontraknya. Namun, sebuah sumber menyatakan bahwa kesepakatan tersebut mungkin bernilai hingga miliaran Euro.

Baca juga: Ada Robot Parkir Valet di Bandara Lyon, Begini Cara Kerjanya!

“Perjanjian ini merupakan tahap pengembangan utama untuk proyek utama kami di Bandara Lyon. Pembukaan 2.000 ruang baru menandai seberapa jauh kami telah membawa banyak perubahan dengan produk yang semakin canggih. Ini merupakan lompatan besar ke depan dalam sejarah perusahaan, dan dorongan keyakinan pada rencana kami untuk menaklukkan pasar bandara dan membuat proyek-proyek lain segera berjalan,” kata Clement Boussard, CEO Stanley Robotics, seperti dikutip KabarPenumpang.com dari roboticsbusinessreview.com, Senin, (10/2).

Mewakili VINCI Airports, CEO Bandara Lyon, Tanguy Bertolus mengatakan, kesepakatan baru tersebut dinilai sangat sejalan dengan visi perusahaan terkait pembangunan berkelanjutan bandara. Tak hanya itu, kesepakatan tersebut juga sejalan dengan visi perusahaan lainnya, yakni dalam memberikan pengalaman berbeda di setiap layanannya.

“Layanan robot valet parkir yang disediakan oleh Stanley Robotics dan dikembangkan di Lyon memenuhi tujuan strategis Bandara Lyon, yaitu, untuk meningkatkan pengalaman pelanggan dan mengurangi dampak lingkungan dari kegiatan bandara,” ujarnya.

Bila melihat kinerja dari robot valet parkir otomatis tersebut, berbagai keuntungan memang dapat dilihat, bahkan dengan kasat mata. Terkait masalah ruang maksimum di lahan parkir, robot bertenanga listrik tersebut mampu mencapai hingga 100 persen efisiensi, sehingga tidak ada ruang yang tersisa, berkat tata letak yang cukup rapat. Hal itu juga membuat lahan parkir yang jika dilakukan oleh manusia mencapai total sekitar 8.000, menjadi 12.000 saat ditangani oleh robot valet parkir otomatis tersebut.

Kemudian, perihal emisi gas buang (CO2), terhindarnya mobil dalam usaha untuk mencari-cari slot parkir kosong sampai selesai memarkirkannya, diperkirakan dapat menekan angka emisi CO2 tersebut hingga 100 ton dalam setahun untuk setiap 2.000 slot parkir.

Selain itu, dalam sebuah survey internal perusahaan, selama masa percobaan, robot tersebut juga memiliki daya jelajah tinggi, berkisar 2.000 kilometer sejak pertama kali dibuka. Di samping itu, robot valet parkir tersebut juga mendapatkan angka ketertarikan yang besar, yakni 90 persen pengguna mengatakan ingin memakai jasa robot tersebut setiap kali ke bandara, serta melayani hingga 8.000 pelanggan setiap tahunnya.

Layanan robot valet parkir sendiri adalah layanan inovatif yang sepenuhnya dikerjakan oleh robot otonom. Dalam menjalankan tugas untuk memaksimalkan ruang parkir yang tersedia, robot tersebut bekerja secara berkelompok, saling bahu-membahu, dengan total tujuh robot dalam melayani 28 loket khusus dimana mobil-mobil yang ditinggalkan pemiliknya, menunggu kedatangan robot bernama ‘Stan’ tersebut untuk diangkat ke ruang parkir yang masih tersedia.

Baca juga: YAPE, Robot Pengirim Barang Dengan Teknologi Pemindai Wajah

Pengembang robot layanan valet parkir otomatis tersebut mengatakan, proyek tersebut sudah dimulai sejak tahun 2017 silam, dengan menawarkan pengoperasian hingga 6.000 slot parkir pada awal kemunculanya.

“Layanan robot valet parkir membebaskan waktu bagi para penumpang yang mencari tempat-tempat kosong (untuk parkir) atau sebaliknya mencoba menemukan kendaraan mereka di tempat parkir. Setelah memesan slot parkir melalui situs web Bandara Lyon, penumpang dapat menaruh kendaraan mereka di salah satu loket khusus (semacam garasi), dan melanjutkan perjalanan ke bandara menggunakan shuttle bus. Robot valet parkir kemudian menjemput mobil dan memarkirnya di area parkir mobil yang aman. Ketika seorang penumpang kembali, mereka dapat mengambil kendaraan mereka di salah satu loket tadi,” kata Clement Boussard, CEO Stanley Robotics.

Pendapatan Turun, Pengemudi Taksi Singapura Tetap Bekerja dan Semprotkan Desinfektan serta Gunakan Masker

Ketika virus corona menyebar ke berbagai negara, banyak yang sudah melakukan tindakan pencegahan dari penutupan rute penerbangan hingga penggunaan masker saat bepergian keluar rumah. Bahkan taksi di Negeri Singa pun para pengemudinya juga mulai melakukan pencegahan dengan berbagai macam cara.

Baca juga: Terjebak Karantina Virus Corona di Kapal Pesiar, Pasangan ini Pesan Anggur via Drone

Seorang pengemudi taksi bernama Alan Tay mengatakan, dirinya memastikan mendesinfeksi taksi sebelum dan sesudah akhir shiftnya. Dia juga menurunkan jendela mobil setelah menurunkan setiap penumpang dan mencuci tangan usai memegang uang.

Meski begitu pria 55 tahun tersebut tidak mengenakan masker sesuai yang direkomendasikan pemerintah. Namun setelah pengumuman dari departemen kesehatan pada Sabtu (8/2/2020), ditemukan tujuh kasus baru terinfeksi pada pengemudi taksi atau mobil sewaan membuat Alan mempertimbangkan apakah akan berhenti mengemudi taksi selamanya.

“Apa saran otoritas terkait sehubungan dengan apakah pekerja angkutan umum harus memakai topeng? Apa pengemudi juga akan diberi masker yang memadai?” ujar Alan mempertanyakan hal tersebut.

Berita tujuh kasus baru terinfeksi itu membuat para pengemudi taksi dan swasta takut. Mereka juga mengeluhkan penurunan pendapatan dengan sedikitnya permintaan untuk layanan mereka. Bahkan, beberapa pengemudi ini mengambil tindakan pencegahan selain medesinfeksi mobil dan melindungi diri juga menghindari mengangkut penumpang dari rumah sakit.

Kementerian kesehatan sebelumnya mengatakan bahwa pengemudi harus dilindungi karena mereka berada di lingkungan dengan paparan terus menerus dengan penumpang. Tak hanya Alan, pengemudi taksi lain yakni Lian Yau Chun mengatakan, dirinya menghindari berbicara panjang lebar pada penumpang dan menggunakan masker saat menjemput penumpang di Bandara Changi.

“Saya belum terlalu khawatir, tetapi saya masih akan berusaha untuk tidak begitu dekat dengan para penumpang,” kata Lian yang dikutip KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (9/2/2020).

Dia memperkirakan bahwa bisnis telah turun sebanyak 30 persen, dengan lebih sedikit orang di jalanan. Tetapi penumpang yang menuju atau kembali dari rumah sakit mengatakan mereka merasa sulit untuk mendapatkan tumpangan dari daerah tersebut.

Gan J.M, 25, mengatakan dia memiliki dua sopir pribadi yang membatalkannya secara berurutan, setelah mereka menyadari bahwa dia menuju ke Singapore General Hospital di mana dia bekerja. Salah satu pengemudi mengirim pesan kepadanya untuk menanyakan apakah dia berasal dari Cina. Bahkan setelah dia menjawab bahwa tidak dari Cina, sopir mengatakan kepadanya bahwa dia membatalkan perjalanan.

“Saya tidak terlalu memikirkannya dan menepisnya, tetapi saya terlambat untuk janji pertemuan saya,” kata Gan.

Pengemudi persewaan swasta Tan Chew Ming mengatakan bahwa penumpang yang dijemputnya dari Rumah Sakit Tan Tock Seng mengatakan kepadanya bahwa sulit untuk mendapatkan tumpangan dari rumah sakit. Tan, 30, membersihkan mobilnya dengan semprotan desinfektan setiap dua jam, dan mengenakan masker saat mengemudi.

Baca juga: Lupakan Masker dan Sarung Tangan Karet! Ini Cara Hindari Virus Corona Versi Penasehat Medis Penerbangan Dunia

Tan mengatakan, semakin sulit untuk mengikuti langkah-langkah ini, karena persediaan semprotan disinfektan dan masker semakin menipis. Meskipun orang-orang telah menyarankannya untuk berhenti mengemudi, dia mengatakan ini tidak mungkin.

“Aku tidak punya pilihan, aku harus meletakkan makanan di atas meja,” kata Tan.

Militer Jepang Siapkan Kapal Ferry untuk Karantina Masyarakat Terinfeksi Virus Corona

Virus corona yang membuat satu kapal pesiar harus di karantina baru-baru ini membuat militer Jepang menyiapkan kapal ferry sewaan pada Rabu (5/2/2020) kemarin. Kapal ferry ini rencananya akan digunakan sebagai kapal karantina yang dapat menampung ratusan kasus diduga virus corona.

Baca juga: Jepang Karantina Kapal Pesiar Diamond Princess Gara-gara Satu Penumpang Terinveksi Virus Corona

Kehadiran kapal ferry tersebut juga karena jumlah orang terinfeksi virus di Jepang meningkat. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman reuters.com (5/2/2020), kapal Hakuou seberat 17 ribu ton itu berlabuh di pangkalan angkatan laut Yokosuka di dekat Tokyo.

Pangkalan angkatan laut ini juga merupakan pelabuhan asal kapal induk Ronald Reagan dari Amerika Serikat. Kapal ini awalnya hanya mampu mengangkut 94 orang dan jika diservis akan mampu menampung lebih banyak lagi.

“Sekitar 300 orang bisa hidup dengan nyaman di kapal dan kapal ini juga mampu menampung 500 orang meski itu berarti antrian untuk pemandian dan fasilitas lainnya,” kata seorang pejabat pasukan bela diri Jepang.

Kapal Hakuou dipersiapkan ketika lebih dari 3.500 orang di karantina selama dua minggu di kapal pesiar yang berlabuh di Jepang. Dalam kapal pesiar tersebut sepuluh diantaranya sudah dinyatakan terinfeksi virus corona dan mungkin lebih banyak lagi penumpang bisa terinfeksi.

Karena adanya pengkarantinaan ini, Pemerintah Jepang mengkritik bahwa terlalu lambat untuk menanggapi krisis kesehatan. Bahkan tidak seperti negara lain, Jepang belum secara terpaksa mengkarantina orang yang mungkin membawa virus corona masuk ke Jepang setelah kembali dengan penerbangan evakuasi dari Wuhan di Cina tempat epidemi dimulai.

Jepang sendiri diketahui sudah memiliki 33 kasus virus corona yang termasuk 17 orang berada di Wuhan dan sepuluh lainnya terkarantina di kapal pesiar Princess Diamond. Sejak Sabtu (1/2/2020), Jepang sudah menolak masuk orang asing yang datang dari Wuhan, provinsi Hubei dan larangan tersebut bisa diperluas ke negara bagian lainnya di Cina. Nantinya orang-orang yang akan dikarantina di kapal Hakuou kurang lebih selama sepuluh hari akan mendapatkan fasilitas yang bisa membantu mengabiskan waktu.

Baca juga: Terjebak Karantina Virus Corona di Kapal Pesiar, Pasangan ini Pesan Anggur via Drone

“Kapal akan dilengkapi dengan komputer tablet dan WiFi yang bisa membantu mereka yang dikarantina menghabiskan waktu. Mereka masing-masing juga diberi perlengkapan mandi dan kebutuhan lainnya selama tinggal di kapal. Makanan pun di antar ke kamar mereka masing-masing,” kata pejabat pertahanan Jepang.

Penumpang Panik Gegara Seorang Pria Gunakan Masker Gas di Dalam Kabin

Apa jadinya ketika Anda yang akan terbang menggunakan pesawat dan tiba-tiba seorang penumpang naik dengan masker gas yang menutupi wajahnya? Pastinya Anda dan semua penumpang pesawat lainnya akan panik dan berharap bisa turun karena hal tersebut.

Baca juga: Saat Masker Oksigen Turun, Ini yang Penumpang Wajib Tahu!

Inilah yang terjadi pada penumpang maskapai American Airlines yang akan berangkat dari Bandara Internasional Dallas-Fort Worth menuju ke Houston. Saat itu penerbangan tersebut harus tertunda hampir satu jam karena seorang penumpang yang naik menggunakan masker gas ke dalam kabin.

Seorang penumpang bernama Joseph Say menuliskan di Twitter-nya terkait adanya penumpang yang menggunakan masker gas tersebut.

“Hanya penerbangan FYI 2212 ke Houston ditunda satu jam karena Anda membiarkan orang ini di pesawat mengenakan masker gas. Ini kemudian membuat orang-orang panik di pesawat dan kami harus menunggunya dikawal,” tulis Joseph di akun Twitter miliknya.

Dia mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa insiden aneh sebelum berangkat itu membuat semua penumpang khawatir setelah seorang pria naik mengenakan masker gas dan beani hitam pada 30 Januari 2020 kemarin. Joseph mengatakan dirinya berada di kursi belakang dan berbicara pada wanita disebelahnya karena mendengar keributan.

“Aku mendongak dan melihat seorang pria datang ke pesawat menggunakan masker gas tertutup yang agak aneh. Dia tidak memiliki filter yang kupikir lebih aneh,” ujarnya yang dikutip KabarPenumpang.com dari abc13.com (9/2/2020).

Joseph menjelaskan, saat itu orang-orang mulai berbicara dan khawatir, bahkan kebanyakan dari mereka ingin turun dari pesawat. Tak hanya ingin turun, penumpang juga bertanya-tanya kenapa pria itu menggunakan masker gas.

Namun ketika pramugari meminta pria itu melepaskan maskernya, Joseph mengatakan, sang pria menolak. Pria tersebut akhirnya turun dari pesawat setelah awak kabin memanggil pihak kemanan untuk mengamankan pria tersebut.

“Apa yang kami dengar dari wanita yang duduk di sebelahnya adalah dia berkata dia ingin membuat pernyataan. Saya tidak tahu apa pernyataan itu. Saya tidak yakin apa tujuannya. Bagi saya, itu tampak tidak konsisten. Kamu tidak bisa melihat wajahnya. Kamu tidak bisa mengidentifikasi fitur padanya. Orang-orang khawatir dia telah menyelinap sesuatu di papan dan bahwa dia memiliki topeng untuk keselamatannya sendiri,” ujarnya.

Hingga pria itu turun dari pesawat tidak diketahui apakah dia didakwa atau tidak. Penerbangan 2212 yang dijadwalkan meninggalkan Bandara Internasional DFW sebelum jam 19.00 pada Kamis (30/1/2020) itu terlambat 50 menit dan tiba di Bandara Bush Intercontinental pukul 21.07 waktu setempat. Adanya insiden ini membuat American Airlines angkat bicara dan mengatakan, penumpang itu naik ke penerbangan berikutnya menuju Houston dan terbang tanpa masker gas yang digunakan sebelumnya.

Baca juga: Bikin Panik Penumpang! Masker Oksigen Mendadak Keluar di Boeing 777 British Airways

“Terima kasih atas kicauan Anda. Tim kami menyadari hal ini dan bekerja dengan pejabat setempat. Beri tahu kami jika Anda membutuhkan bantuan untuk perjalanan Anda,” tulis @AmericanAir di Twitternya untuk membalas @ThePlatypusesTX, akun milik Joseph.

Terjebak Karantina Virus Corona di Kapal Pesiar, Pasangan ini Pesan Anggur via Drone

Meski berada di atas kapal pesiar nan mewah, namun bila dalam status dikarantina tentu ini bukan sesuatu yang menyenangkan. Saat ini ribuan penumpang dan awak kapal pesiar Diamond Princess tengah dikarantina di lepas pantai Yokohama, lantaran ada penumpang asal Wuhan, Cina yang diduga terinfeksi virus corona. Rupanya di tengah masa karantina 14 hari di lautan, ada kejadian unik yang patut diwartakan.

Baca juga: Jepang Karantina Kapal Pesiar Diamond Princess Gara-gara Satu Penumpang Terinveksi Virus Corona

Seprti dikutip dari dronedj.com (9/2/2020), disebutkan pasangan turis asal Australia dikabarkan sukses mengorder anggur lewat wahana drone copter. Pasangan tajir ini diketahui merasa terjebak di atas kapal pesiar, sementara kesulitan untuk memesan makanan dan minuman ke daratan. Pasangan yang tak disebutkan namanya itu kemudian menghubungi The Naked Wine Club.

Dan selanjutnya The Naked Wine Club pada 7 Februari menyetujui untuk mengirimkan paket botol anggur ke kapal pesiar lewat drone, hebatnya sang penjual anggur memberika free ongkir untuk jasanya. Uniknya, aksi pengiriman anggur lewat drone ini ternyata tidak diketahui oleh otoritas Penjaga Pantai Jepang. Sebagai bagian dari kegiatan karantina, seharusnya aksi order minuman lewat drone itu tidak diperbolehkan.

Baca juga: Viral! Akibat Virus Corona, Sebuah Drone ‘Tegur’ Nenek dan Kakek Tua

Terkait virus corona, di Cina, drone digunakan untuk meronda kawasan pemukiman, dimana drone akan mengawasi penduduk, sekiranya ada yang lupa menggunakan masker, maka petugas lewat drone akan memberikan peringatan langsung dari udara.

Tak Lagi Gratis, Ini Harga Makanan dan Minuman di Maskapai Eropa

Saat ini maskapai internasional dengan rute penerbangan jarak pendek tak lagi memberikan secara cuma-cuma alias gratis makanan dan minuman. Sehingga penumpang harus membayar ekstra untuk sandwich (roti lapis) ataupun segelas anggur (wine).

Baca juga: Singapore Airlines Pertimbangkan Sajian Makanan ‘On Demand’ di Kelas Bisnis

Karena harus membayar, banyak penumpang yang menganggap ini berarti mengeluarkan biaya tambahan berlebih. Namun, bila harus membeli makanan atau wine maskapai mana yang memiliki harga paling terjangkau?

KabarPenumpang.com melansir dari laman thesun.ie (6/2/2020), menurut penelitian yang dilakukan Jetcost, bila mencari minuman murah baiknya pilih terbang bersama Eurowings atau Wizz Air. Dua maskapai ini dipilih karena situs perbandingan penerbangan melihat empat harga item berbeda yang ditawarkan 12 maskapai penerbangan yang mengoperasikan rute jarak pendek di Eropa.

Empat item berbeda itu yakni makanan utama seperti sandwich atau toastie, minuman panas dengan kue atau cemilan, bir atau awine. Ditelisik setelah dibagi per item yang pertama harga bir dalam penerbangan Eropa ternyata Flybe menjadi yang paling mahal menjual sekaleng ukuran 330 ml dengan harga £5,50 atau setara dengan £9,74 untuk satu liternya.

Harga bir termahal selanjutnya ada pada maskapai Norwegia, Jet2, TUI, esayJet dan British Airways yakni £4,50. Sedangkan untuk sekaleng bir termurah dengan harga £2,97 dijual oleh maskapai Eurowings dan £5,11 untuk ukuran satu liter.

Vueling dan Wizz Air juga menawarkan bir yang relatif murah masing-masing seharga £3,05 dan £3,81. Sedangkan untuk wine Wizz Air menjualnya untuk botol 187 ml dengan harga £3,81 dan menjadi satu-satunya maskapai yang menjual dengan harga di bawah £4.

Aurigny mengenakan biaya £4, Eurowings £4,24 dan easyJet serta Jet2 dengan harga £4,50 per botol. Penjualan wine termahal dengan ukuran botol yang sama adalah maskapai TUI yakni £6 dan Norwegia serta Flybe sama-sama mengenakan biaya £5,50.

Selain minuman, Jetcost juga menelisik harga dari makanan dan minuman panas yang disertai kudapan atau cemilan. Ternyata Aurigny tidak memiliki pilihan makanan utama, dan British Airways tidak mencantumkan pilihan kue jadi keduanya dikeluarkan.

Dari maskapai yang termasuk, Norwegia adalah yang paling mahal di £8,50 untuk makanan utama dan kedua yang paling mahal untuk camilan di £4,24. Wizz Air menawarkan harga terbaiknya, dengan penawaran makanan utama termurah di £5,09 dan satu-satunya di bawah £6 dan harga camilan juga cukup baik pada £3,81.

Baca juga: Lagi Enak Makan Cemilan, Tiba-Tiba Seekor Anjing ‘Nimbrung’ di Celah Kursi Pesawat

Sementara Eurowings menawarkan beberapa minuman keras termurah, itu sebenarnya cukup mahal untuk kesepakatan camilan kombinasi minuman panas dan camilan keluar menjadi £ 4,66 dan merupakan yang paling mahal dari semua maskapai. Untuk camilan termurah, cobalah Aurigny (£3,50) atau Jet2 (£3,55).

Makan Seledri Sambil Berjoget, Video Penumpang Wanita Viral di Instagram

Kelakuan penumpang pesawat sangatlah beragam ketika mereka sudah berada di dalam kabin. Bahkan tak jarang karena menempuh jarak yang jauh dan waktu tempuh yang lama, membuat penumpang bosan dan bingung akan melakukan apa.

Baca juga: Unik! Penumpang ini Lakukan Yoga Erotis Saat Mengudara dengan United Airlines

Mereka yang tenang biasanya hanya menonton dari monitor yang di sediakan di depan kursi. Membaca majalah, mendengarkan lagu atau mungkin tidur untuk menghilangkan kebosanan. Namun sebaliknya yakni penumpang yang melakukan hal aneh pun juga banyak.

KabarPenumpang.com bahkan beberapa kali mengulasnya seperti menjemur dalaman di pendingin atas kepala, menggunting kuku hingga melakukan gerakan yoga. Nah, dilansir dari laman express.co.uk (19/1/2020), seorang penumpang wanita terekam sebuah kamera penumpang lainnya.

Video yang diposting di Tik Tok dan akun Instagram @passangershaming kemudian viral. Rekaman Tik Tok itu hanya berfokus pada penumpang wanita yang duduk di kursi tengah dan diapit dua pria yang tak jelas pergi bersama atau tidak.

Dalam video terlihat sebuah tas biru besar berada di pangkuan wanita itu. Hal mencengangkan adalah ketika dia mengeluarkan beberapa batang seledri ukuran besar dari dalam tas biru itu. Wanita tersebut kemudian mematahkan tangkai seledri dan memegang satu di setiap tangan.

Ketika dia memasukkan seledri tersebut ke mulutnya, wanita itu juga sambil menggoyangkan tubuhnya bak seorang penari. Sambil mengunyah dia sempat memasukkan satu bagian seledri lainnya ke dalam tas dan melanjutkan mengunyah.

Setelah menjadi viral, banyak warganet pengguna Instagram yang sangat terhibur dan juga terkejut dengan camilan pesawat yang tidak biasa. Beberapa bahkan mengomentari kalau itu adalah hal yang baik untuk tujuan kesehatan dan yang lainnya mengatakan dia harus menjadi vegan.

“Tujuan resolusi Tahun Baru-nya kuat,” diposting salah satu pengguna Instagram.

“Beginilah cara vegan dengan camilan santai,” tambah yang lain.

“Saya pikir dia akan membuat Bloody Mary,” kata yang ketiga.

Selain itu, warganet lainnya juga mengatakan makan seledri bisa membuat berisik tetangga sebelahnya.

“Saya marah mendengarkan orang mengunyah jadi saya akan mendidih di dalam jika saya duduk di sebelahnya” komentar seorang warganet.

Yang lain menambahkan: “Saya tidak pernah bisa makan seperti itu dalam jarak sedekat itu dengan orang asing.

Baca juga: Foto Penumpang Pakai Sarung Tangan Streril Untuk Tutupi Kaki Viral di Instagram

“Seledri berbau, dan mengeluarkan suara yang cukup keras untuk mengganggu orang lain! Tuhanku! Mengunyah tongkat itu dengan suar.”

Setelah menjadi kontroversi antar warganet, kemudian beberapa diantaranya mengatakan “Apa yang salah dengan seledri?” Tanya mereka. “Orang-orang membawa barang-barang berbau busuk di pesawat sepanjang waktu seperti burger, pizza, dll.”