Ikuti Diet Tak Jelas dari Google, Pria Muda Tabrakkan Diri ke Kereta di Manchester

Diet sebenarnya tidak akan menjadi masalah jika berkonsultasi dengan pihak yang tepat seperti ahli gizi ataupun dokter. Dengan konsultasi ini setiap orang yang akan diet akan diberikan tahapan dan program yang jelas. Namun apa jadinya jika tidak berkonsultasi dan menganggap yang dibaca dan dilihat adalah cara yang benar untuk berdiet? Ini terjadi pada seorang pria muda bernama Will Matthews yang salah mengikuti cara diet.

Baca juga: Tergeletak di Rel dan Tertabrak Kereta, Seorang Pria Bakal Didakwa Lakukan Tindakan Ilegal

Karena hal tersebut kesehatan mentalnya terpengaruh dan pada 8 Oktober 2017 lalu, ketika pria berusia 22 tahun tersebut akan naik kereta dari Stocport di Greater Manchester, dia melangkah menabrakkan dirinya ke kereta yang bergerak dari Brimingham. Saat kejadian Will ditemukan meninggal ditempat kejadian dan beberapa luka terlihat ditubuhnya.

Sebelum meninggal, mahasiswa Universitas Manchester Metropolitan tersebut mulai terobsesi dengan diet ketat yang hanya memakan sayur dan buah. Christopher Matthews yang merupakan ayah Will kesal dan mengatakan bahwa putranya memiliki fiksasi dengan diet ini dan menjadi lebih buruk.

Matthews mengatakan, disaat yang sama kesehatan mental Will juga ikut terpengaruh. Bahkan setelah dia mengonsumsi suplemen kesehatan untuk mengimbangi tubuhnya karena tidak ada protein ataupun karbohidrat yang masuk.

Tak hanya itu, Will juga mengaku dan yakni memiliki masalah dengan bagian tulang dan mulai kehilangan rambutnya. Matthews menambahkan, putranya sangat percaya semua informasi tentang diet yang didapatnya dari Google dan situs web Amerika. Bahkan hal tersebut membuat perilaku Will menjadi semakin irasional.

“Dia kemudian mengatakan bahwa memiliki masalah fisik dengan tulangnya dan harus bertemu dengan dokter,” ujar Matthews yang dikutip KabarPenumpang.com dari manchestereveningnews.co.uk (10/2/2020).

Melihat putranya seperti itu, Matthews kemudian memutuskan untuk membiayai konselingnya, tetapi menghentikannya karena Will tidak merespon hal tersebut.

“Dia benar-benar keluar dari kenyataan, dia berada di gelembung kecilnya sendiri. Dia benar-benar kelelahan dan tidak bisa fokus. Dia terus mengatakan pada banyak kesempatan dia akan mati dan bahwa penyakitnya memakannya secara fisik dan mental. Dia sesekali berkata kepadaku, ‘Aku sudah cukup, aku ingin mengakhiri sesuatu’, tetapi ini adalah komentar singkat, dia tidak mengatakan bagaimana atau kapan,” ujarnya.

Ibu Will, Sylvia Duncan mengatakan di persidangan bahwa dia sebelumnya menjadi pescatarian. Duncan mengatakan dia telah membaca saran diet di internet yang menyuruhnya untuk menurunkan berat badan sedikit lebih dulu.

“Saya mencoba mengatakan bahwa itu tidak masuk akal tetapi dia bersikeras bahwa mereka tahu apa yang mereka bicarakan. Saya pikir dia mengakses informasi yang salah dari Google yang mengirimnya ke arah yang salah,” kata Duncan.

Sebelum bunuh diri, Will diketahui sempat mendapat perawatan di Norbury di Stepping Hill Hospital pada September 2017 setelah kekhawatiran lebih lanjut tentang kondisi mentalnya. Leanne Callan dari Kepolisian Transportasi Inggris mengatakan, petugas menghampiri bangsal di Stepping Hill dan menghidupkan laptop serta mengirimkannya ke unit kejahatan teknologi tinggi di London.

Baca juga: Ditemukan Tewas di Dekat Jalur Kereta Api, Ternyata Pemuda India Ini Hilang Sejak Sabtu

“Saya sadar keluarga memang memiliki kekhawatiran mengenai akses ke situs web dan web gelap dan hal-hal seperti itu. Unit interogasi diminta untuk memeriksa apakah William telah mengakses materi web yang gelap tetapi tidak ada penggunaan web yang gelap tersebut. Mereka dapat mengakses sejumlah dokumen kata. Ada tiga dokumen yang menarik, satu disebut “catatan akhir”, satu disebut “catatan bunuh diri” dan yang ketiga disebut “jalan”. “Dari bukti di CCTV dan pernyataan pengemudi kereta, kami percaya bahwa Will dengan sengaja memasuki rel sendiri, tidak ada keterlibatan pihak ketiga, dan sengaja menempatkan dirinya di depan kereta,” ujar Callan.

Meski Boeing Keok, Airbus Belum Bisa Salip Boeing dalam Urusan Produksi Pesawat

Terpuruknya Boeing akibat sederet masalah yang terkait dengan 737 MAX, membuat manufaktur asal Eropa, Airbus, berada di atas angin. Sejumlah pengamat menyebut, kondisi ini membuat apapun yang dilakukan Airbus saat ini (dalam keadaan Boeing yang sedang terpuruk) akan senantiasa mengantarkan mereka berada selalu di depan.

Baca juga: Musibah Virus Corona Justru Selamatkan Boeing 787 dan Rolls-Royce

Terbukti, dalam urusan pengiriman pesawat pada 2019 lalu dan pesanan pesawat pada 2020 mendatang, Airbus memang unggul dan mencatatkan rekor pengiriman pesawat internalnya. Namun nyatanya, tidak demikian dalam urusan produksi pesawat.

Dikutip KabarPenumpang.com dari nytimes.com, Jumat, (14/2), kepala eksekutif Airbus, Guillaume Faury, melaporkan, tahun lalu pihaknya memang berhasil memecahkan rekor, yakni berhasil mengirimkan 863 pesawat komersial, naik dari tahun sebelumnya sebesar 800. Selain itu, pesanan juga meningkat dari semula 747 menjadi 768 pesawat di tahun 2020 mendatang.

Hal tersebut kemudian didukung dengan pangsa pasar pesawat narrow body Airbus yang kini semakin bergairah dengan meningkatkan kepemilikannya di A220, sebuah jet yang dikembangkan bersama oleh Bombardier, pabrikan pesawat asal Kanada.

Meski demikian, Guillaume Faury menyebut, dalam urusan produksi pesawat, pihaknya belum bisa menyalip Boeing, khususnya dalam jangka pendek. Hal itu disebabkan banyak faktor yang erat kaitannya dengan sebuah ekosistem bisnis. Singkatnya, mulai dari hulu hingga hilir; yang notabene banyak melibatkan pihak lain, seperti penyediaan bahan baku, kapasitas produksi, pengiriman bahan baku, mulai dari bahan mentah, setengah jadi, hingga barang jadi ke mitra kerja Airbus, baik internal maupun eksternal, yang tersebar di 11 negara, seperti Wales, Spanyol, Perancis, Jerman, hingga Cina.

“Ini mungkin terlihat seperti sebuah paradoks, tetapi dalam jangka pendek, kami tidak mendapatkan manfaat dari situasi dengan pesaing kami,” kata Faury, dalam pidatonya pada hari Kamis, di sebuah konferensi pers terkait laporan keuangan perusahaan pada 2019 lalu, di Kota Toulouse, Perancis.

Dalam kesempatan tersebut, dirinya juga mengungkapkan bahwa tantangan terbesar Airbus adalah mengirim pesanan pesawat ke pelanggan, yang sangat terpengaruh dengan kemampuan perusahaan dalam memproduksi pesawat secepat mungkin.

Oleh karenanya, pihaknya berencana untuk meningkatkan kapasitas produksi A320NEO, jet lorong tunggal terlaris sekaligus alternatif pelarian dari 737 MAX, menjadi sekitar 67 unit sebulan di tahun 2023, naik dari target 63 sebulan di tahun 2021. Namun, hal tersebut kini mendapat penolakan dari para pemasok. Belum jelas apa dasar penolakannya.

Akan tetapi, kedigdayaan Airbus dalam menyaingi Boeing sebagai pesaing utama merebut status raksasa dirgantara nomor satu dunia, diperkirakan akan mulai memudar saat Boeing 737 MAX mulai kembali mengudara. Pimpinan Federal Aviation Administration (FAA) sendiri pekan lalu melaporkan bahwa uji terbang 737 MAX akan diadakan dalam waktu dekat. Bila lulus, maka, pesawat tersebut akan dapat kembali mengudara musim panas mendatang atau sekitar pertengahan tahun 2020.

Ketika 737 MAX sudah kembali mengudara, hal tersebut dapat menjadi ancaman bagi Airbus. Bukan karena pangsa pasar mereka akan kembali tertekan karena kuallitas 737 MAX, melainkan perang diskon yang terjadi. Di awal kemunculannya kembali, Boeing memang diprediksi akan memberikan diskon menarik untuk merebut kembali kepercayaan maskapai pada 737 MAX.

Jika itu terjadi, Airbus mau tak mau juga harus mengikuti langkah Boeing untuk memberikan diskon menarik, agar pangsa pasar tidak sepenuhnya lepas ke tangan Boeing. Tentu hal tersebut akan menjadi petaka bagi kedua pihak bila tidak diimbangi dengan strategi penjualan lainnya, terlebih Airbus yang tengah mengalami kerugian besar tahun lalu.

Baca juga: Diduga Terima ‘Cashback’ dari Airbus, Tony Fernandes Mundur 2 Bulan dari AirAsia

Dalam acara jumpa pers laporan keuangan kemarin, Guillaume Faury, kepala eksekutif Airbus, juga melaporkan bahwa perusahaan yang dipimpinnya mengalami kerugian besar. Padahal sebelumya, ia justru mengabarkan bahwa Airbus berhasil mencetak rekor pengiriman dan lonjakan pesanan pesawat.

“Airbus melaporkan kerugian keseluruhan 1,36 miliar euro, atau US$1,48 miliar untuk 2019. Alasan utama kerugian itu adalah kesepakatan untuk membayar denda US$4 miliar ke Perancis, Inggris, dan Amerika Serikat untuk menyelesaikan skandal korupsi,” ujarnya.

Dulu Kirim Kilatan, Kini Alien Makin Agresif Kirim Sinyal Misterius ke Bumi

Sejak pertama kali dideteksi pada 2007 di bagian langit tertentu dan memancarkan banyak kilatan ke bumi, pesan dari peradaban lain di luar bumi secara bertahap terus menerus muncul. Tahun 2015 lalu, sebuah lonjakan sinyal radio yang berasal dari sebuah bintang mirip Matahari telah menarik perhatian sejumlah astronom. Sinyal tersebut diduga berasal dari sebuah bintang bernama HD 164595 yang terletak di konstelasi Hercules, sekitar 95 tahun cahaya dari Bumi.

Baca juga: Masih Misterius, Penyidik Perancis Curigai Adanya Peran Entitas Ketiga di Insiden Hilangnya MH370

Kal itu, para ilmuwan memperkirakan, sinyal tersebut merupakan hasil dari fenomena alam seperti microlensing, di mana gravitasi bintang menjadi lebih kuat dan memfokuskan sinyal di tempat lain. Namun, mereka belum dapat memastikan dari mana asal-muasal sinyal tersebut. Lebih lanjut, para astronom juga telah meminta SETI (Search for Extraterrestrial Intelligence) untuk melihat lebih dekat apakah sinyal radio itu merupakan pesan dari makhluk ekstraterestrial.

Belum juga selesai menjawab persoalan tersebut, sinyal misterius atau biasa juga disebut fast radio bursts (FRB) kembali terdeteksi. Tercatat hingga 2019 lalu, sinyal aneh yang berjarak hingga miliaran tahun cahaya tersebut, sudah mencapai 52 sumber FRB.

Lagi-lagi, belum pecah misteri tersebut, baru-baru ini ilmuan kembali menerima sinyal misterius dari luar bumi. Berbeda dari sebelumnya, ilmuan kali ini menerima sinyal yang lebih masif, setiap empat hingga 12 hari.

Dikutip KabarPenumpang.com dari sciencealert.com, Jumat, (14/2), salah satu ciri khas sinyal misterius sebetulnya secara model mereka tidak dapat diprediksi. Mereka (sinyal tersebut) bersendawa melintasi kosmos tanpa sajak atau alasan, tanpa pola yang jelas, membuat ilmuan kesulitan mempelajari apa pesan, maskud, serta dari mana sinyal tersebut berasal.

Ilmuan dari Canadian Hydrogen Intensity Mapping Expreiment (CHIME) FBRs hanya menemukan bahwa adanya pola detak ledakan yang terjadi setiap 16 hari. Selama empat hari, sinyal akan melepaskan satu atau dua detakan setiap jam, kemudian akan kembali hening selama 12 hari.

Meski demikian, sekalipun polanya sulit dipelajari, ilmuan menduga sebuah sinyal radio misterius yang disebut berdetak berulang-ulang seperti jarum jam, berasal dari galaksi yang berjarak 500 juta tahun cahaya.

Pengamatan yang dikenal dengan FRBs 1890916.J0158+65 itu diamati pada 16 September 2018 hingga 30 Oktober 2019. Detak ledakan yang dikelompokkan menjadi periode empat hari ini menggunakan teleskop radio CHIME di British Columbia. Belum ada ilmuwan yang berhasil memecahkan misteri sinyal dari luar angkasa tersebut. Tahun lalu, CHIME mendeteksi adanya delapan detakan sinyal radio cepat yang berulang.

“Penemuan perioditas 16 hari dalam FRBs berulang ini merupakan petunjuk penting dari sifat ledakan sinyal radio dari luar angkasa,” tulis studi yang diterbitkan dalam server preprint arXiv tersebut.

Meskipun secara periode berbeda dengan sinyal sebelum-sebelumnya, FRB 180916.J0158 + 65 diduga memiliki kesamaan dengan FRB lainnya. Dengan begitu, dapat dikatakan sebetulnya FRB berulang pada satu siklus yang sama, hanya saja, teknologi saat ini belum dapat mendukung riset ilmiah untuk mengungkap hal tersebut.

Peneliti lain yang masih menerka-nerka sumber sinyal misterius luar angkasa tersebut mengatakan itu merupakan sistem bintang biner tipe OB berisi bintang masif dan inti bintang super padat bernama bintang neutron. Ada lagi studi yang menyebut bahwa bintang neutron terkecil di alam semesta yang merupakan sisa-sisa supernova akan memancarkan ledakan atau sinyal radio, tapi sinyalnya akan disamarkan angin secara berkala.

Terlepas dari semua hal tersebut, faktanya, teknologi yang ada saat ini memang belum memungkinkan untuk mendeteksi apa maskud dari pesan tersebut. Layaknya sandi-sandi yang dikirim dari sebuah instansi satu ke yang lainnya, sinyal tersebut bisa saja berupa sandi yang karena keterbatasan teknologi atau perbedaan peradaban dengan sang pengirim sinyal, membuat komunikasi yang coba dibangun oleh makhluk luar angkasa (sebut saja Alien) hingga kini belum membuahkan hasil.

Baca juga: Lakukan Pendaratan Darurat, Penumpang Southwest Airlines Dibuat Bingung dengan Sosok Misterius di Sayap

Para ilmuan dunia sendiri sebetulnya sudah coba mengirim kembali pesan dari bumi ke lokasi yang diduga sebagai tempat pengirim berada. Namun, lagi-lagi, keterbatasan teknologi membuat sinyal yang dikirim balik dari bumi baru akan sampai setelah sekitar 500 juta tahun mendatang. Tentu saja peradaban sudah berganti dan mungkin saja sinyal yang dikirimkan akan lebih sulit dideteksi.

Sebagaimana yang telah umum diketahui, dalam sebuah jagat raya ini, terdapat miliaran galaksi yang bernaung di rumah besar yang kalau dalam literatur Islam disebut Arsy. Dalam sebuah galaksi, terdapat miliaran pula benda-benda langit yang salah satunya bumi. Terkait sinyal misterius, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, sangat mungkin galaksi lain yang mempunyai kehidupan layaknya bumi tempat kita bernaung, coba membangun komunikasi lintas galaksi.

Pemerintah Dorong Pemberian Insentif kepada Maskapai Akibat Virus Corona, Pertanda Industri Penerbangan Lampu Kuning?

Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan berjanji akan memberikan insentif kepada maskapai tanah air sebagai respon dari turunnya pendapatan (potential loss) akibat distopnya penerbangan dari dan ke Cina hingga waktu yang belum ditentukan. Selain memberikan insentif, pemerintah juga mendorong untuk pihak lainnya untuk sama-sama memberikan insentif di bidang lainnya. Hal tersebut guna mendukung iklim pariwisata dalam negeri yang tak bisa dipungkiri juga berdampak langsung ke maskapai.

Baca juga: Penutupan Rute dari dan ke Seluruh Cina Daratan, Berpotensi Hanguskan Triliunan Rupiah

“Contoh insentif dari pemerintah kepada maskapai misalnya, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) akan kita kurangi, kemudian API dan AP II mengurangi landing fee, diskon sewa ruangan, dan sebagainya. Jadi Pemerintah, operator bandara, maskapai, hotel harus sama-sama memberikan insentif. Tidak mungkin pemerintah melakukan sendiri. Hal ini dilakukan untuk menggenjot sektor pariwisata. Supaya orang tetap punya keinginan untuk berlibur,” ujar Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, dalam keterangan pers yang diterima KabarPenumpang.com, Kamis, (13/2).

Dengan diberikannya insentif kepada maskapai, tentu saja hal tersebut adalah berita baik untuk dunia penerbangan dalam negeri. Namun, bila melihat dari sudut lain, kabar tersebut justru bisa saja menandakan maskapai dalam negeri tengah dalam kondisi yang terseok-seok atau bisa dikatakan tengah masuk periode lampu kuning.

Sebagaimana sudah banyak diinformasikan, di Indonesia sendiri, saat ini tercatat lima maskapai nasional yang mengoperasikan penerbangan ke Cina, yakni Garuda Indonesia, Citilink, Batik Air, Lion Air, dan Sriwijaya Air.

Garuda Indo sendiri, memiliki penerbangan dari dan menuju Cina ke lima kota, meliputi Beijing, Shanghai, Guangzhou, Zhengzhou dan Xi’an. Setiap pekannya, maskapai pelat merah itu melayani sebanyak 30 penerbangan.

Sementara itu, Lion Air, tercatat memiliki 15 rute ke Cina, meliputi Xi’an, Beijing, Shanghai, Guangzhou, Zhengzhou, hingga Wuhan. Berbeda dengan Garuda Indonesia, Lion Air memiliki frekuensi yang lebih banyak, sekitar 45 penerbangan dari 15 rute tersebut setiap pekannya.

Bila diambil rata-rata 30 penerbangan dalam sepekan, plus rata-rata okupansi 80 persen serta dikalikan lima maskapai, maka total potensi kerugian maskapai-maskapai tersebut mencapai Rp120 miliar per pekan. Bila penundaan rute dari dan ke Cina berlangsung selama sebulan, maka total potensi kerugian yang dihasilkan kelima maskapai tersebut mencapai Rp2,4 triliun. Angka yang cukup fantastis, mengingat kondisi penerbangan dalam negeri yang tengah lesu, ditandai dengan anjloknya jumlah penumpang pesawat udara tahun 2019 lalu.

Menteri Perhubungan sendiri, dalam pertemuan bersama MenParekraf, AP1, AP2 dan seluruh airlines yang beroperasi di Indonesia, menyebut potential lost yang dialami oleh maskapai berkisar di kisaran 30 persen. Namun ia belum dapat memastikan berapa tepatnya jumlah potential lost tersebut.

“Kita memang belum bisa memastikan kerugiannya sendiri, yang punya masalah itu rata-rata adalah yang berhubungan dengan mainland China dan Singapura. Yang lainnya sebenarnya relatif masih baik. Tetapi karena penerbangan ini juga ada sebagian ke Tiongkok kira-kira 30 persen, jadi berkurang rata-rata 30 persen,” terangnya.

Untuk menutupi potensial lost tersebut, pihaknya mengaku telah telah berdiskusi dengan maskapai, dengan memikirkan peluang-peluang apa yang mungkin dilakukan.

“Untuk opportunity, yang paling masif itu di Asia Barat seperti India, Pakistan, Bangladesh. karena memang beberapa saat sebelum kejadian ini, para duta besar itu bertemu saya untuk dapat connecting flight. Oleh karenanya saya minta kepada Garuda, Batik, Lion, Air Asia untuk mencari konektivitas ke Asia Barat, paling lambat bulan Mei ini untuk buka rute baru, karena perencanaan itu tidak bisa langsung seketika,” pungkas Menhub.

Baca juga: Dampak Virus Corona, Tiap Hari Bandara Changi Kehilangan 20 Ribu Pelancong

Sementara itu Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengatakan insentif ini adalah untuk semua. Menurutnya dalam menyikapi hal ini harus dipikirkan secara komprehensif supaya dapat bertahan dalam tantangan menghadapi virus Corona ini, bukan hanya maskapai, tapi juga hotel dan sebagainya.

“Jadi kita mencoba kali ini untuk mendengarkan pemikiran dari maskapai dan kita juga sudah melakukan pembicaraan dengan PHRI dan sebagainya yang terkait dengan pariwisata secara keseluruhan. Jadi saya pikir ini adalah usaha kita untuk bagaimana dapat menghadapi tantangan virus Corona ini, tidak mudah tetapi kita harus lakukan yang terbaik. Untuk kerugian ini masih berjalan, kita tidak tahu karena virus Corona belum berhenti. Sebagai gambaran dalam setahun Tiongkok menyumbang 2 juta wisatawan dengan total devisa USD 2,8 milyar,” tuturnya.

Kurang dari 5 Jam, British Airways Catatkan Rekor Penerbangan Trans-Atlantik Tercepat di Dunia dengan Boeing 747

Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, sebuah pesawat penumpang komersial berhasil terbang melintasi Atlantik dalam waktu kurang dari lima jam. Belum lama ini, sebuah penerbangan British Airways mendarat mulus Minggu pagi, pukul 4.43 waktu setempat, di Bandara Heathrow (LHR), London, setelah meninggalkan Bandara Internasional John F. Kennedy (JFK), New York hanya empat jam dan 56 menit, hampir dua jam lebih cepat dari jadwal semula, yakni pukul 6.25 pagi.

Baca juga: Norwegian Airlines Bebaskan Awak Kabin untuk Berdandan Seadanya

Dikutip dari laman cnbc.com, Kamis, (13/2), menurut catatan Flightradar24, lembaga yang melacak penerbangan global, dengan waktu tempuh tersebut, British Airways berhasil mengunci rekor kecepatan baru untuk pesawat komersial subsonik – atau lebih lambat daripada kecepatan suara – untuk terbang di antara kedua kota tersebut. Rekor sebelumnya dipegang oleh penerbangan Norwegian Air, yang terbang antara kedua kota dengan waktu penerbangan lima jam dan 13 menit.

Keberhasilan Bristish Airways dalam mencatatakan rekor penerbangan trans-atlantik tercepat di dunia tentu sangat spesial. Selain tidak mengharapkan atau berniat mengejar rekor tersebut, pada penerbangan sebelumnya, rata-rata waktu tempuh memang jauh lebih daripada itu. Terlebih, kala itu, di saat yang hampir bersamaan, penerbangan Virgin Atlantic juga berhasil mendarat mulus di Bandara LHR. Hanya saja, maskapai asal Britania Raya tersebut terpaut waktu satu menit lebih lambat dari penerbangan British Airways.

Seperti dilihat KabarPenumpang.com dari situs flightradar24, Kamis, (13/2), sejak tanggal 5 Februari – 11 Februari 2020, penerbangan JFK – LHR umumnya mencatatkan waktu lebih dari enam jam, adapun yang sejak tanggal tersebut (kecuali penerbangan tanggal 8 Februari yang mencatatkan rekor) penerbangan tercepat tercatat pada tanggal 5 Februari, dengan waktu tempuh enam jam 10 menit.

Menanggapi rekor penerbangan tercepat trans-atlantik tersebut, Direktur Komunikasi Flightradar24, Ian Petchenik, mengungkapkan, rekor penerbangan itu terjadi karena didukung beberapa faktor alam. Hal tersebut sangat jarang dan hampir sulit ditemukan dalam setiap penerbangan.

Baca juga: Tanpa Tiket dan Dokumen, Bocah 13 Tahun ‘Sukses’ Terbang dengan British Airways

“Angin dan arus udara ideal untuk penerbangan cepat. Di musim dingin, aliran jet turun sedikit. Ini semacam tempat yang sempurna untuk penerbangan melintasi Atlantik Utara untuk memanfaatkannya,” ungkapnya.

Meskipun berhasil memecahkan rekor waktu tercepat sebelumnya, pihak British Airways sendiri menyebut, keberhasilan dengan nomor penerbangan BA112 yang menggunakan pesawat Boeing 747 tersebut, pihaknya tetap memprioritaskan keselamatan di atas kecepatan.

Akibat Miskomunikasi dengan Pengemudi, Penumpang GrabCar Tekan ‘Tombol Darurat’

Baru-baru ini, seorang wanita menekan tombol darurat yang ada pada layanan ride hailing GrabCar. Wanita tersebut menekan tombol darurat untuk membebaskan diri dari situasi yang sulit, karena dia berpikir akan diculik padahal ternyata pengemudi memasukkan alamat langsung ke BSD bukan ke Dharmawangsa terlebih dahulu.

Baca juga: GoJek Punya Fitur “Panic Button” yang Tersambung ke Unit Darurat

Bahkan hal tersebut viral di media sosial selama akhir pekan. Tombol tersebut sebenarnya fitur yang disediakan aplikasi untuk melindungi pengemudi maupun penumpang. Penekanan tombol ini terjadi ketika wanita itu menggunakan layanan GrabCar untuk pergi ke kedua tempat berbeda. Perempuan bernama Tian itu mengaku perjalanan pertama adalah ke kantornya di Dharmawangsa, Jakarta Selatan untuk menjemput temannya.

Kemudian ke pameran pernikahan di Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan. Sayangnya mobil tersebut tidak mengikuti arahannya ke tujuan pertama di Dharmawangsa. Mobil itu ke rute berbeda dan pengemudi mengaku diarahkan ke jalur tersebut oleh aplikasi navigasi. Selama perjalanan, dia tiba-tiba mendengar suara apa yang dia pikir sebagai walkie talkie yang datang dari kursi pengemudi.

“Saya merasa tidak enak ketika mendengarnya. Pengemudi itu berulang kali menatap saya di kursi belakang sementara saya berusaha untuk tidak panik,” tulisnya di Instagram.

Dilansir KabarPenumpang.com dari thejakartapost.com (10/2/2020), dia mengatakan mobil tiba-tiba berbelok ke jalan tol dan semakin jauh dari tujuan pertama. Dia mencoba memberi tahu pengemudi untuk kembali ke jalan yang benar sambil mencoba menghubungi pacarnya.

“Sopir terus membisikkan sesuatu dan mengatakan semacam kode, saya tidak tahu kepada siapa dia berbisik,” lanjutnya.

Tian mengatakan pengemudi tiba-tiba mengubah kecepatan, mungkin dalam upaya untuk membuatnya menjatuhkan ponselnya.

“Tapi kemudian saya ingat ada tombol darurat di aplikasi Grab, jadi saya menekannya dan terhubung ke call center,” tulisnya.

Saat menekan tombol darurat, dirinya menjelaskan pada operator situasinya saat itu. Kemudian pengemudi mulai melaju kencang dan berkata dengan keras dia menuju ke arah yang benar.

“Saya bertanya apakah mereka dapat melacak lokasi saya dan operator memberi tahu saya bahwa gugus tugas Grab sedang dalam perjalanan ke lokasi saya. Pengemudi mulai panik dan dia menurunkan saya di jalan tol, ”tulisnya.

Ketika diturunkan, operator mengatakan dirinya akan dijemput oleh petugas Grab, yang kemudian melaporkan kejadian itu ke polisi dengan dia. Grab menyediakan fitur “Bantuan Darurat” di aplikasi sehingga pengguna dapat menghubungi pusat panggilan dan tim darurat jika penumpang atau pengemudi merasa bahwa mereka dalam bahaya. Fitur ini juga menginformasikan kontak darurat yang ditetapkan pengguna saat digunakan.

Baca juga: Komnas Perempuan Gandeng Grab Indonesia Tangani Kekerasan Perempuan di Transportasi Online

Manajer humas Grab Indonesia Andre Sebastian mengatakan bahwa dia berharap pos viral akan meningkatkan kesadaran pengguna Grab akan fitur darurat aplikasi. Saingan Grab, aplikasi Gojek juga menyediakan fitur serupa yang disebut “Tombol Darurat” untuk menghubungkan pengguna yang merasa terancam selama perjalanan ke hotline daruratnya.

Implementasi Bus Listrik, Tak Hanya Berbicara Armada Tapi Juga Sistem Pendukung

Transportasi dunia bertanggung jawab atas sekitar seperempat emisi global dan ini tumbuh lebih cepat dibanding dengan sektor lainnya. Karena hal ini, teknologi baru hadir, salah satunya bus listrik yang akan membantu mengurangi emisi. Kehadiran bus listrik bisa lebih baik, sebab hanya memiliki sedikit getaran, suara dan nol asap knalpot.

Baca juga: Malaga, Kota Pertama di Eropa yang Operasikan Bus Listrik Otonom di Jalan Raya

Bahkan dalam jangka panjang, bus listrik memiliki biaya operasional yang lebih rendah. Hal ini karena bus listrik punya mesin efisien yang lebih mudah untuk di rawat. Kehadiran bus listrik ini membuat penjualan global meningkat 32 persen pada 2018 lalu.

“Anda melihat ke arah elektrifikasi mobil, truk itu adalah bus yang memimpin revolusi ini,” kata David Warren, direktur transportasi berkelanjutan di pabrik bus New Flyer.

Saat ini sekitar 17 persen atau sebanyak 425 ribu bus yang ada di dunia sudah berganti dengan listrik dan 99 persennya ada di Cina. Amerika Serikat sendiri di beberapa kotanya sudah membeli beberapa bus listrik, seperti di California mengamanatkan bahwa tahun 2029 semua bus angkutan massal akan bebas emisi.

KabarPenumpang.com melansir wired.com, Becky Collins, manajer inisiatif perusahaan di Southeastern Pennsylvania Transportation Authority mengatakan, pihaknya ingin responsif dan menjadi inovatif dengan menguji coba teknologi baru serta berkomitmen sebagai agen perubahan.

“Tetapi jika bus diesel adalah ponsel mobil generasi pertama, kami sedang melakukan verifikasi di wilayah smartphone sekarang. Ini tidak sesederhana hanya membalik saklar,” kata dia.

Becky mengatakan, salah satu alasan terkait keraguan kendaraan listrik adalah masih banyak hal yang belum bisa dilakukan. Salah satunya seperti saat tes di daerah Belo Horizonte, Brasil yang mana bus listrik kesulitan melewati bukit curam dengan muatan penuh. Bahkan di Albuquerque, New Mexico, membatalkan kesepakatan 15-bus dengan BYD pabrikan Cina setelah menemukan masalah peralatan selama pengujian.

Bus yang diuji coba selain itu sudah bisa menempuh 225 mil per charger dan hal ini tergantung pada kondisi topografi serta cuaca dan berarti bus harus kembali sekitar satu kali sehari pada rute yang lebih pendek di kota padat. Ini juga menjadi masalah di banyak tempat. Bahkan ketika berbicara bus listrik bukan hanya masalah armada saja, tetapi keseluruhan sistem yang akan digunakan. Sebab, armada bus listrik bisa dikatakan hanya sebuah awalan saja.

“Kami berbicara dengan banyak organisasi berbeda yang begitu terpaku pada kendaraan,” kata Camron Gorguinpour, manajer senior global untuk kendaraan listrik di World Resources Institute.

Seperti stasiun pengisian listrik dan dana yang harus dikucurkan untuk membuat depot standar yakni sekitar US$50 ribu. Camron mengatakan, dana segitu pun juga belum termasuk dengan biaya konstruksi pembangunan depot. Bisa dikatakan, infrastruktur bus listrik baru berarti memikirkan kembali ruang terbatas dan itu akan sangat memberatkan ketika agen-agen beralih dari diesel ke bus listrik.

“Masalah besarnya adalah mempertahankan dua set infrastruktur pengisian bahan bakar,” kata Hanjiro Ambrose, seorang mahasiswa doktoral di UC Davis yang mempelajari teknologi dan kebijakan transportasi.

Warren mengatakan, yang harus dipikirkan saat ini adalah memperkirakan perlu listrik 150 megawatt-jam untuk membuat depot 300 bus terisi penuh sepanjang hari. Itu banyak pekerjaan oleh perusahaan utilitas,” kata Warren.

Untuk kota-kota di luar Cina, banyak dari mereka masih menguji bus listrik dan mencari tahu bagaimana mereka masuk ke dalam armada mereka yang lebih besar dan belajar tentang apa yang diperlukan untuk menjalankan satu adalah bagian dari proses. Ini, tentu saja, membutuhkan uang dan waktu.

Baca juga: Bus Listrik Otonom Melenggang Mulus di Bandara Haneda

Saat ini, diproyeksikan bahwa hanya di bawah 60 persen dari semua armada bus diesel yang akan menjadi bus listrik pada 2040, dibandingkan dengan di bawah 40 persen dari van komersial dan 30 persen dari kendaraan penumpang. Yang berarti, tentu saja, bahwa pekerjaan baru saja dimulai.

 

Diterjang Corona dan ‘Ditinggalkan’ Pelancong Asal Cina, Sektor Pariwisata Singapura Mulai Goyang

Cina menjadi penyumbang pelancong ke Singapura dengan presentase sebanyak 20 persen dan menjadi yang terbesar dibandingkan dengan Indonesia ataupun India. Karena masalah virus corona, kini larangan pelancong Cina datang ke Singapura telah menyebabkan “penguapan” pada sumber pendapatan di negara pulau tersebut.

Baca juga: Cegah Virus Corona, Otoritas Angkutan Darat Singapura Bagikan 300 Ribu Masker ke Sopir Taksi

KabarPenumpang.com melansir laman bloomberg.com (11/2/2020), Kepala Eksekutif Singapore Tourism Board, Keith Tan mengatakan, saat ini Singapura kehilangan 18 hingga 20 ribu pelancong sehari dan angka tersebut masih bisa lebih menurun jika situasi seperti ini terus bertahan lama.

“Seruan utama yang saya dengar adalah ‘tolong’ sekarang dari seluruh industri pariwisata. Ada banyak bukti anekdotal bisnis mengering, tapi itu tidak mengherankan mengingat berapa banyak kontribusi Cina untuk kedatangan pengunjung kami,” kata Keith.

Dia mengatakan, STB punya lebih dari 1600 pemandu wisata yang memandu dalam bahasa Mandarin. Keith menjelaskan, memandu adalah mata pencaharian dan menguap karena banyak dari mereka yang merupakan pekerja lepas.

Karena penyebaran virus corona ini, Keith menambahkan, tak hanya pelancong dari Cina, tetapi dari negara lain juga menunda kujungan mereka ke Singapura atau ke wilayah Asia lainnya. Dia menyebutkan, Korea Selatan dan Kuwait telah menyarankan warga mereka untuk meminimalkan atau menunda perjalanan ke Singapura.

Sebenarnya Singapura bukan satu-satunya negara yang terkena dampak dari virus corona. Sebab di seluruh dunia, hotel, kasino, maskapai penerbangan dan peritel yang mengandalkan pelancong asal Cina juga terkena dampaknya.

Diketahui, sekitar 163 juta pelancong Cina melakukan perjalanan ke luar negeri tahun 2018 dan menyumbang lebih dari 30 persen pengeluaran perjalanan di seluruh dunia. Sayangnya untuk proyeksi tahun 2020, negara yang terdampak akan kehilangan pendapatan mereka.

Padahal tahun 2019, Singapura sendiri kedatangan 19,1 juta pelancong Cina. Pendapatan pariwisata juga naik menjadi S$21,7 miliar tahun 2019 berdasarkan perkiraan awal dari S$26,9 miliar pada tahun sebelumnya.

Dalam laporan minggu lalu, DBS Group Holding Ltd. mengatakan pihaknya melihat penurunan satu juta penumpang pelancong sama dengan sekitar S$1 miliar dalam pengeluaran. Kedatangan pelancong yang menurun juga memotong sekitar 0,5 persen dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) setahun penuh.

Baca juga: Militer Jepang Siapkan Kapal Ferry untuk Karantina Masyarakat Terinfeksi Virus Corona

Charles Tan, Sekretaris Jenderal Asosiasi Nasional Agen Perjalanan Singapura mengatakan, langkah-langkah pemotongan biaya telah diberlakukan oleh sektor perhotelan Singapura, seperti meminta beberapa pekerja untuk meninggalkan atau pergi bekerja selama empat hari seminggu. Badan Pariwisata Singapura juga akan membentuk Satgas Aksi Pemulihan Pariwisata, yang terdiri dari para pemimpin pariwisata dari sektor publik dan swasta untuk membantu upaya pemulihan. Itu mirip dengan tindakan yang diambil selama SARS, ketika kedatangan wisatawan menurun 18 sampai 19 persen.

Buat Toilet “Eksklusif,” Pramugari KLM Dituduh Rasis Terkait Virus Corona

Penerbangan KLM Airlines rute Amsterdam, Belanda ke Seoul, Korea Selatan belum lama ini viral di media sosial Twitter. Hal tersebut disebabkan oleh pramugari mereka yang secara sengaja dan tanpa alasan yang jelas menulis sebuah pesan (hanya dalam bahasa Korea) berisi informasi adanya toilet khusus bagi awak kabin.

Baca juga: Diklaim Bisa Bikin Pramugari Jadi Lebih Nyaman, Inilah Konsep Zero G-Attendant Seat

Seperti diwartakan KabarPenumpang.com dari laman onemileatatime.com, Kamis, (13/2), insiden bermula ketika seorang penumpang tak sengaja melihat tanda tersebut. Penumpang, yang mengerti bahasa Korea, akhirnya mengambil gambar informasi yang ditulis di selembar kertas tersebut sebelum akhirnya kembali ke tempat duduknya.

Pramugari yang melihat adanya salah satu penumpang yang mengambil gambar tanpa izin, menghampirinya dan menanyakan maksud serta tujuan mengambil gambar tersebut. Dengan santai, penumpang tadi hanya menanyakan balik perihal peraturan yang menyebutkan penumpang tidak boleh mengambil gambar di dalam pesawat.

Pramugari yang mulai tersulut emosi, kemudian mengambil daftar hal-hal yang tak boleh dilanggar penumpang selama di dalam kabin. Hasilnya, penumpang hanya tidak dipebolehkan untuk mengambil gambar penumpang lain dan pramugari tanpa seizin yang bersangkutan. Adapun mengambil gambar toilet, tidak diatur dalam peraturan tersebut. Pramugari yang mulai merasa tersudut kemudian merespon balik. Sebaliknya, penumpang yang merasa dikecewakan akibat toilet eksklusif tersebut juga tak mau kalah. Adu mulut pun tak terhindarkan.

Penumpang yang tak diketahui namanya tersebut kemudian menanyakan dasar dibuatnya toilet eksklusif tersebut. Pramugari dengan santai menjawab bahwa perkembangan virus corona di Asia belakangan membuat dunia khawatir, tak terkecuali dengan mereka. Akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan hal tersebut agar mereka dapat tetap sehat. Jika mereka sehat, mereka tetap akan bisa membantu penumpang, termasuk penumpang yang bertanya tadi.

Tak berhenti sampai disitu, penumpang tersebut kemudian lanjut bertanya. Kali ini ia mempersoalkan mengapa pemberitahuan toilet eksklusif tersebut hanya ditulis dalam bahasa Korea, tidak ditambah bahasa lain yang lebih umum, seperti bahasa Inggris atau bahasa lainnya. Di pertanyaan ini, pramugari tampak kalap. Setelah memberikan jawaban yang terkesan “ngeles”, di akhir jawaban, ia pun akhirnya mengakui bahwa ia dan tim salah tulis.

Tak lama setelahnya, pramugari senior pun turun tangan. Dengan singkat dan padat, ia menjelaskan bahwa mereka (awak kabin KLM) telah melakukan hal tersebut (membuat kamar mandi eksklusif dadakan) sebanyak tiga kali. Pertama saat virus MERS dan kedua saat SARS merebak.

Baca juga: Brigita Jagelaviciute, Mantan Pramugari Emirates yang Mengaku Jenuh Pada Rutinitas

Percakapan pun akhirnya berakhir setelah pramugari senior tersebut, semacam Purser, menutup ketegangan dengan berjanji akan segera menulis informasi adanya toilet khusus awak kabin dengan bahasa Inggris.

Atas insiden tersebut, pihak maskapai sejauh ini belum memberikan keterangan resmi mengenai apa yang sebetulnya terjadi. Di sisi lain, penumpang yang terlibat percekcokan dengan pramugari KLM, melanjutkan keluh kesahnya di Twitter. Setidaknya ada beberapa hal yang ia cukup sayangkan, mulai dari masalah tidak adanya pemberitahun resmi yang diumumkan sebelum pesawat lepas landas, keberadaan toilet khusus awak kabin yang dinilai berlebihan, hingga pengumuman toilet tersebut yang hanya dalam bahasa Korea, seakan-akan orang Korea membuat mereka cemas terkait virus corona.

Dampak Virus Corona, Tiap Hari Bandara Changi Kehilangan 20 Ribu Pelancong

Menjadi negara terbanyak kedua terinfeksi virus corona, pelancong yang datang ke Singapura lewat Bandara Changi mengalami penurunan yang drastis. Bahkan Singapore Tourism Board (STB) memperkirakan kedatangan penumpang turun 18 ribu hingga 20 ribu per hari dan akan semakin menurun lagi di hari-hari kedepan. Dalam sebuah laporan yang diberikan Tiffani Fumiko Tay, mengatakan wabah virus corona memiliki dampak yang lebih besar di Singapura daripada wabah SARS di tahun 2003 lalu.

Baca juga: Cegah Virus Corona, Otoritas Angkutan Darat Singapura Bagikan 300 Ribu Masker ke Sopir Taksi

“Pada titik ini, kami memperkirakan bahwa setiap hari, kami kehilangan rata-rata 18 sampai 20 ribu pengunjung internasional ke Singapura. Sektor pariwisata Singapura menghadapi tantangan terbesar sejak SARS pada tahun 2003. Namun tidak seperti SARS, kami sekarang lebih siap dan lebih tangguh. Tujuan kami tetap menarik, kami memiliki saluran produk pariwisata yang kuat, dan portofolio pasar kami beragam,” ujar Keith Tan, Kepala Eksekutif STB yang dikutip KabarPenumpang.com dari simpleflying.com (12/2/2020).

Menurut STB, Cina menyumbang sekitar 20 persen dan menjadi pelancong terbesar dari kedatangan pelancong lain di Singapura. Tetapi Singapura menjadi negara Asia Tenggara pertama yang menutup perbatasannya dengan pendatang baru dari Cina Daratan.

Akibat virus corona yang belum terkendali ini, STB mengatakan kedatangan pengunjung turun 25 persen menjadi 30 persen di tahun 2020. Singapura diketahui pada 2019 kemarin menyambut kedatangan 19,1 juta pelancong.

Para pelancong tersebut menghabiskan US$19,55 miliar dengan produk domestik bruto (PDB) Singapura adalah sekitar US$365 miliar. Menurut data dari OAG, jumlah penerbangan antara Cina dan Singapura telah turun 89,1 persen pada bulan lalu.

Selain itu, maskapai penerbangan lokal Singapura juga membatalkan penerbangan ke Cina. Singapore Airlines dan Silk Air menangguhkan dan mengurangi beberapa layanan ke Cina termasuk rute Singapura – Beijing, Singapura – Shanghai, Singapura – Guangzhou, Singapura – Shenzhen, Singapura – Xiamen, Singapura – Chengdu dan Singapura – Chongqing.

“Masih banyak warga Singapura yang bekerja dan tinggal di Cina, banyak di antaranya masih akan membutuhkan konektivitas antara Singapura dan Cina. Sebagai operator nasional, kami akan terus mempertahankan konektivitas minimum ke kota-kota utama di Beijing, Shanghai, Guangzhou dan Chongqing untuk saat ini meskipun permintaan berkurang. Kami akan terus memantau situasi dengan cermat dan melakukan penyesuaian seperlunya,” ujar Singapore Airlines dalam sebuah pernyataan.

Tak hanya itu, maskapai berbiaya hemat (LCC) Scoot juga menangguhkan semua penerbangannya dari Singapura ke Cina Daratan hingga Maret 2020 mendatang. Scoot saat ini memiliki 19 tujuan ke Cina Daratan dan mereka juga memperingatkan pembatalan ad hoc pada layanan Singapura – Makau dan Singapura – Hong Kong.

Baca juga: Akibat Virus Corona, Tiada Lagi Handuk, Makanan Panas, Selimut, Bantal, dan Majalah dalam Penerbangan

Pada tahun keuangan 2018, ketiga maskapai tersebut menghasilkan pendapatan $11,77 miliar dengan laba bersih $770 juta. Namun, saat ini dengan anjloknya kedatangan penumpang di Singapura, prospek keuangan ketiga maskapai tersebut tidak akan secerah biasanya.