Prank Virus Corona di Kereta Bawah Tanah Rusia, Karomatullo Dzhaborov Didakwa 5 Tahun Penjara

Ketika Rusia sedang disibukan dengan upaya preventif terkait penyebaran virus corona, mengingat teritorial mereka yang sangat luas dan berbatasan langsung dengan Cina, pemerintahan tersebut justru dihebohkan dengan prank seorang pria yang mengidap virus corona di pusat kota, tepatnya di kereta bawah tanah (metro) di Kota Moskow, Rusia.

Baca juga: Terjebak Karantina Virus Corona di Kapal Pesiar, Pasangan ini Pesan Anggur via Drone

Tak butuh waktu lama, otoritas Rusia akhirnya berhasil menangkap Karomatullo Dzhaborov, warga Tajikistan, negara pecahan Soviet di Asia Tengah, atas dugaan hooliganisme. Seperti dilaporkan kantor berita Rusia, TASS, melalui CNN.com, pria tersebut ditangkap tanpa perlawanan di sebuah tempat di sekitaran Moskow pada 8 Februari lalu.

Dalam video yang dilihat KabarPenumpang.com di media sosial, Senin, (17/2), Karomatullo Dzhaborov yang mengenakan sweater berwarna hitam dan masker bedah awalnya berjalan layaknya orang pada umumnya. Kemudian ia berlagak seperti tak sadarkan diri sambil sesekali berpegangan ke kompartemen bagasi hingga kemudian ambruk.

Sontak, ambruknya Karomatullo Dzhaborov mengundang simpati dari beberapa orang sekedar untuk mengecek kondisinya. Saat orang-orang sibuk menolong Karomatullo Dzhaborov, dua orang yang tak jauh dari lokasi kemudian berteriak bahwa orang tersebut (Karomatullo Dzhaborov) terkena virus corona. Mendengar hal itu, tentu saja seisi kereta buyar menjauh sambil terus melihat terduga virus corona itu kejang-kejang. Saat itu, tak ada yang menyangka kalau adegan tersebut hanya prank belaka.

Atas perbuatannya, Karomatullo Dzhaborov akhirnya harus berurusan dengan hukum dan kini tengah menghadapi dakwaan maksimal 5 tahun penjara. Saat ini, otoritas juga telah melalukan penahanan hingga proses persidangan digelar pada 8 Maret mendatang.

Sejak otoritas Rusia mempidana Karomatullo Dzhaborov, video yang diposting oleh akun media sosial bernama kara.prank pada 2 Februari pun hilang dari laman YouTube dan Instagramnya, tetapi masih dapat dilihat akun Telegram kara.prank.

Penelusuran redaksi KabarPenumpang.com, akun Telegram kara.prank memang terdapat empat video yang salah satunya video yang tengah menghadapi konsekuensi hukum. Dalam video tersebut, setidaknya terdapat enam orang (salah satunya pria yang berpura-pura jatuh dan kejang-kejang) tampak berjalan di peron hingga kemudian masuk dan melakukan aksi tersebut.

Hal itu (video di Telegram kara.prank) tentu berseberangan dengan Kementerian Dalam Negeri Rusia yang mengatakan, bahwa polisi saat ini juga tengah mengejar dua orang lainnya yang diduga bagian dari tim kara.prank. Dua orang tersebut diduga telah memuluskan prank virus corona tersebut dengan cara berteriak bahwa pria yang ambruk dan kejang-kejang itu mengidap virus corona. Adapun tiga orang lainnya, sebagaimana video yag beredar di Telegram, tidak disinggung sama sekali oleh pemerintah.

Akan tetapi, semua narasi yang beredar di media sosial, termasuk tuduhan dan dakwaan otoritas Rusia, ditolak oleh pengacara tersangka. Dalam keterangan resminya, Alexei Popov mengatakan, kliennya tersebut justru membuat prank untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap virus corona. Oleh karenanya, ia akan mengajukan banding atas dalih tersebut.

Baca juga: Boarding Pass Raksasa untuk Prank Bikin Semua Orang Tertawa

“Video ini tidak boleh dilihat secara terpisah dari videonya yang lain. Mereka merekam video di toko-toko dan bertanya kepada orang-orang apakah mereka mengetahui coronavirus. Mereka merekam video di apotek yang menjual topeng dengan harga yang meningkat. Mereka ingin menarik perhatian pihak berwenang terhadap masalah ini, tidak ada bukti kejahatan,” katanya.

Di Rusia sendiri, saat ini, setidaknya telah terdapat dua kasus virus corona. Dua kasus teresbut datang dari turis asal Cina dan langsung mendapat penanganan serius dari otoritas Rusia. Pasca kejadian itu, seluruh perbatasan melakukan penjagaan ekstra ketat, termasuk di bandara serta pelabuhan.

Wesel Kereta Bukanlah Wesel Pos untuk Kirim Uang

Selama sebelas hari yakni dimulai pada 13 hingga 23 Februari 2020 mendatang, PT Kereta Api Indonesia (KAI) mulai melakukan pergantian wesel yang ada di Stasiun Kota dan Stasiun Gambir. Penggantian ini untuk mengutamakan keselamatan dan meminimalisir terjadinya gangguan perjalanan kereta api dan juga karena wesel sudah berumur cukup tua yakni 28 dan 50 tahun.

Baca juga: Depo KRL Terbesar di Asia Tenggara, Ternyata Ada di Depok

Nah, sebenarnya wesel itu apa? Mungkin banyak yang berpikir wesel ini adalah wesel pos dimana surat pos untuk mengirimkan uang. Selain itu juga mungkin banyak yang tahu wesel merupakan surat pembayaan yang dapat diuangkan ke bank oleh pemiliknya.

Anak generasi sekarang pun mungkin tak lagi kenal dengan wesel pos. Meski begitu memang bukan wesel pos yang akan dibahas, melainkan wesel yang ada di kereta api.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, wesel sendiri berasal dari bahasa Belanda wissel. Ini adalah konstruksi rel kereta api yang bercabang atau bersimpangan di mana tempat memindahkan jurusan jalan kereta api.

Wesel terdiri atas sepasang rel yang ujungnya diruncingkan sehingga bisa melancarkan perpindahan kereta api dari jalur yang satu ke jalur lain dengan menggeser bagian rel yang runcing itu. Ini nantinya akan membuat kereta api berjalan mengikuti rel sehingga ketika rel digeser kereta juga akan mengikutinya.

Untuk memindahkan rel tersebut akan digunakan wesel yang bisa digerakkan secara manual ataupun dengan motor listrik. Jika kereta kecepatan tinggi akan berada di wesel, maka dibutuhkan transisi yang lebih panjang sehingga membutuhkan rel yang lebih panjang daripada lintasan untuk kereta api kecepatan rendah.

Wesel juga menjadi salah satu tempat rawan pada prasarana kereta api. Ini dikarenakan sering terjadi kecelakaan seperti anjloknya kereta. Biasanya hal tersebut terjadi ketika wesel tidak berfungsi dengan baik karena keausan lidah wesel, motor penggerak wesel tidak bekerja sempurna atupun terganjal benda asing.

Selain itu, biasanya ada batas kecapatan untuk melalui wesel yang seringkali diabaikan oleh para masinis saat melintas. Tak hanya itu, wesel juga menjadi tempat yang paling mudah untuk disabotase karena dengan menempatkan batu atau benda logam tertentu di antara rel yang bergerak dapat mengakibatkan wesel tidak berfungsi sehingga harus diawasi.

Wesel juga berbeda dengan langsiran, sebab langsiran merupakan pergerakan rangkaian kereta, gerbong atau lokomotif untuk berpindah jalur. Biasanya ini dilakukan untuk memisahkan atau merangkaikan gerbong dengan lokomotif.

Baca juga: Ternyata Ada Beragam Jenis Bantalan Rel, Indonesia Pakai Yang Mana?

Selain itu prosesnya pun membutuhkan keahlian khusus agar dapat berlangsung aman, kegiatan langsir biasanya dipandu oleh seorang juru langsir. Juru langsir dapat turun langsung ke halaman langsir atau mengendalikan dari rumah langsir. Kata langsir merupakan serapan dari bahasa Belanda, rangeer(en).

Restoran dengan Model Replika Airbus A320 Dibangun di Bengaluru

Makan di pesawat ketika terbang dengan sebuah maskapai ke suatu destinasi tujuan mungkin sudah sering dilakukan oleh para pelancong. Namun bagaimana jika sensasi makan di pesawat yang tengah mengudara juga dirasakan oleh orang yang ada di daratan? Sepertinya hal ini mungkin saja terjadi, apalagi beberapa restoran menggunakan pesawat bekas.

Baca juga: Lima Restoran ini Gunakan Body Pesawat Sebagai Lapak Jualannya

Sehingga bisa dikatakan makan di dalam pesawat ketika tak bisa mengudara bukanlah sekedar fantasi saja. Ini juga bisa terjadi meski industri penerbangan tengah mengalami beberapa kali pergolakan dan makan direstoran bertema pesawat lepas landas tetap bisa terjadi secara nyata. Bahkan di Indonesia juga beberapa pesawat telah disulap menjadi  restoran. Tetapi ternyata di India pun juga ada hal yang seperti ini.

Namun bedanya adalah, di Bengaluru, bukan menggunakan pesawat bekas, melainkan membuat pesawat model hanya untuk bersantap. KabarPenumpang.com melansir dari laman indiatimes.com (18/1/2020), Bengaluru sendiri dikenal sebagai pusat penerbangan India. Saat ini di pinggiran kota Bengaluru dekat dengan desa Kuduregere di luar Jalan Tumkur, ada sebuah fasilitas pembuat pesawat terbang yang akan dikonversi menjadi restoran.

Para pekerja pabrik mengatakan bahwa restoran bertema pesawat terbang menjadi sangat populer dan ada banyak permintaan. Bahkan seorang pemilik restoran demi memberikan pengunjung pengalaman pesawat langsung mengeluarkan boarding pass untuk memberikan mereka menu makan dalam pesawat.

Tak hanya itu, pramusaji atau pelayan pun menggunakan pakaian layaknya seorang pramugari. Saat ini sebuah pesawat berbadan besar yang bermodel pada Airbus A320 tengah dirakit di Bengaluru. Naresh Kumar Ganesh (Ketua dan Direktur Pelaksana Royal Nag Aviation) mengatakan bahwa walaupun trennya adalah untuk menggunakan kembali pesawat yang mengerut untuk kegunaan lain, fasilitas Bengaluru ini membuat pesawat dari awal yang akan diubah menjadi restoran.

“Satu hotel telah didirikan di Dehradun dan pesawat kedua yang saat ini sedang dibangun akan menuju ke Vadodara (Gujarat). Kami membutuhkan minimal enam bulan untuk membuat badan pesawat penuh,” kata Naresh.

Naresh mengatakan, setelah pesawat siap, interior akan dirancang untuk menampung orang, nantinya satu restoran tersebut bisa menampung sebanyak 100 pengunjung. Interior akan mencerminkan bagian dalam pesawat dengan kokpit, kursi, karpet, bahkan suara sedikit berdengung yang didengar orang di dalam pesawat.

Salah satu tugas terbesar bagi pabrikan adalah transportasi pesawat. Saat ini, model Airbus A320 memiliki panjang 123 kaki dan memiliki rentang sayap 115 kaki. Sebelumnya, komposit serat karbon digunakan untuk membangun badan pesawat tetapi sekarang produsen menggunakan aluminium.

Baca juga: Setelah Pesawat dan Kereta, Kini Giliran Bus Tingkat yang’ Disulap’ Jadi Hotel

Untuk keperluan transportasi, pesawat model dibongkar menjadi tiga bagian dan diangkut dalam empat trailer. Dibutuhkan dua minggu untuk mencapai tujuannya, kata juru bicara Royal Nag Aviation. Biaya pembuatan restoran pesawat bisa melebihi Rs1,8 crore.

Stasiun Catang – Berdiri Sejak 1905, Identik dengan Sejarah Bendungan Pamarayan

Berada di Serang, Stasiun Tjatang atau dikenal dengan Catang merupakan salah satu stasiun yang dibangun tahun 1905 silam. Stasiun ini berada di ketinggian +17 meter diatas permukaan laut. Stasiun Catang masuk dalam Daerah Operasional (Daop) 1 Jakarta.

Baca juga: Stasiun Labuan, Pernah Jadi Stasiun di Paling Ujung Barat Pulau Jawa

Staisun Catang

Meski masih beroperasi, status Stasiun Catang saat ini masuk sebagai salah satu benda cagar budaya. Bangunannya terdiri dari dua ruangan di mana ruang pertama merupakan ruang kontrol perjalanan kereta api dan ruang kepala stasiun.

Sedangkan ruangan kedua merupakan loket dan administrasi. Stasiun Catang merupakan stasiun kelas III atau kecil yang letaknya di Bojong Catang, Tunjung Teja, Serang. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Stasiun Catang memiliki dua jalur kereta api dengan jalur dua merupakan sepur lurus.

Terhitung dua kali perjalanan kereta penumpang yang melintas dengan relasi Stasiun Merak menuju ke Stasiun Tanahabang PP. Dulunya saat masih melayani kereta lokal atau Patas Merak, penumpang tak memiliki tiket pun bisa naik dan meski ada nomor di karcis penumpang juga tidak bisa duduk. Meski begitu, dari Stasiun Catang, pelancong bisa menikmati wisata seperti pantai.

Dari Stasiun Catang pelancong juga bisa ke destinasi sejarah terpendam yakni Bendungan Pamarayan. Untuk menuju ke sini, pelancong bisa jalan kaki, naik andong atau ojek.

Jarak Bendungan Pamarayan ini hanya sejauh 1,7 km dari Stasiun Catang. Bahkan pada tahun 1990 bendungan tersebut dibangun yang baru untuk menggantikan yang lama tetapi bukan lagi waduk melainkan pengendali air di Sungai Ciujung untuk keperluan irigasi yang jarakanya 300 meter dari bendungan lama.

Bendungan Pamarayan

Bendungan Pamarayan sendiri dibangun tahun 1905 sama dengan Stasiun Catang. Bisa dikatakan bendungan ini bisa menjadi wisata ilmu pengetahuan sejarah di masa kolonial. Sayang, sisa Bendungan Pamarayan lama ini tak dibenahi dan teronggok begitu seperti tembok tua tak bertuan.

Berdasarkan catatan sejarahnya, pintu air ini untuk menangani krisis pertanian saat musim kemarau yang sempat mengakibatkan masyarakat Banten dan Belanda kelaparan. Belanda pun menerapkan politik etis, di antaranya membangun irigasi.

Saat dibedol satu tahun sekali, selain untuk perawatan, masyarakat pun berduyun-duyun terjun ke air saat kering untuk menangkap ikan yang mabuk akibat kencangnya pusaran air. Pembangunan pintu air Pamarayan dilakukan setelah pembuatan jalur rel kereta api Rangkasbitung – Anyer Lor selesai. Pasalnya, diperlukan jalur untuk mengangkut batu dan material bahan pintu air yang berasal dari Bukit Cerlang di Anyer Lor.

Baca juga: Beralih Fungsi Menjadi Rumah dan Kandang Ayam, Begini Kabar Stasiun Menes

Batu puluhan ribu ton itu diangkut ke Pamarayan. Karena jalur ke Rangkasbitung ke Anyer Lor sangat jauh, pemerintah kolonial Belanda membuat sub rel dari stasiun Catang ke lokasi Bendungan Pamarayan. Pada 1925, dam utama dinyatakan selesai, kemudian mulai dibuat saluran irigasi induk barat dan timur. Pembangunan bendungan itu telah menghabiskan dana 5 juta gulden lebih dan 200 ribu tenaga kerja.

Stasiun Sukaresmi – Dari 2014 Hingga Kini Belum Juga Resmi Dibangun

Sejak 2014 lalu, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor berharap PT Kereta Api Indonesia (KAI) segera membangun stasiun baru di Kelurahan Sukaresmi, Kecamatan Tanah Sereal. Stasiun baru ini nantinya akan membantu mengurai kemacetan arus lalu lintas di pusat kota Bogor.

Baca juga: Rute KA Bogor – Sukabumi – Cianjur, Masih Eksis Meski Terlupakan

Bahkan Pemkot Bogor pun sudah menghibahkan lahan seluas 1, 8 hektare dari 4,2 hektare yang akan digunakan untuk Stasiun Sukaresmi. Kemudian pembangunannya pun tertunda dan kini Pemkot Bogor akan mengajukan kembali pembangunan Stasiun Sukaresmi tersebut.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Pemkot Bogor akan meminta bantuan PT KAI agar hal ini bisa diajukan ke Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim mengatakan, meminta adanya kejelasan dari PT KAI terkait dengan aset yang sudah dibeli oleh Pemda yang rencananya akan dibangun Stasiun Sukaresmi.

Dia menjelaskan, pembahasan kelanjutan pembangunan Stasiun Sukaresmi juga akan dibahas dengan sejumlah pihak. Sebab pembangunan Stasiun Sukaresmi juga masih terkendala kontur tanah yang miring.

“Sudut kemiringan rel ini harus disesuaikan, disudut yang memungkinkan kereta berhenti tanpa harus dilakukan semacam pengereman. Jadi kan gini, kalau misalnya masinis lupa narik rem, kalau misalnya sudut kemiringan masih curam, kereta akan jalan,” jelas Dedie yang dikutip dari republika co.id (10/2020).

Stasiun Sukaresmi sendiri merupakan stasiun yang masih dalam tahap perencanaan pembangunan. Stasiun ini dulunya bernama Halte Kebon Pedes yang terletak di Sukaresmi, Tanah Sereal, Bogor.

Baca juga: Stasiun Sukabumi, Tak Jadi Dipindah dan Tetap Berada di Pusat Kota

Berada di Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta, nantinya setelah dibangun, stasiun ini diharapkan mampu mengurai penumpang harian kerta rel listrik (KRL) CommuterLine yang kian hari bertambah banyak. Apalagi di Stasiun Bogor yang hampir melebihi kapasitas penumpang. Nantinya, kehadiran Stasiun Sukaresmi juga akan memudahkan penumpang agar tidak lagi perlu ke Stasiun Bogor untuk naik kereta.

Padahal proyek ini awalnya direncanakan akan diselesaikan tahun 2015. Tetapi ternyata molor dan bahkan belum ada kejelasan kapan akan dibangun meski lahan yang diberikan Pemkot Bogor sudah siap untuk digunakan.

Disorot Publik Akibat Sepi Penumpang, LRT Jakarta Justru Cetak Rekor Pengunjung Tertinggi

Sejak fase uji coba berakhir pada akhir tahun lalu, PT. Light Rail Transit (LRT) Jakarta rute Stasiun Velodrome – Kelapa Gading saat ini memang tengah mendapat soroton tajam. Proyek yang menelan biaya hingga Rp 6,8 triliun tersebut justru malah sepi peminat.

Baca juga: Dirut: LRT Jakarta Tidak Cuma 5,8 tapi Sudah 420 kilometer!

Seperti berbalas pantun, keraguan banyak pihak terkait keberadaan LRT Jakarta yang hanya sejauh 5,8 km pun perlahan mulai tersingkirkan. Selain nilai investasi yang masih dinilai minim jika dibanding dengan proyek serupa di negara lain, belum lama ini, moda transportasi yang hanya mempunyai lima stasiun tersebut justru malah mencetak rekor pengunjung tertinggi selama fase komersial mulai diberlakukan.

“Jadi di posisi tanggal 8 Februari kemarin kita memecahkan rekor juga selama ini dari kita komersial itu diangka 7.400. sementara kita angka tertinggi kita itu ada di bulan Januari itu diangka 5.400,” kata General Manager of Corporate Secretary, Arnold Kindangen, kepada KabarPenumpang.com di sela-sela acara bertajuk “Berbagi Kebahagiaan di Stasiun LRT Jakarta”, Jumat, (14/2).

Meski demikian, ia memang tak menampik bahwa sejak tarif mulai diberlakukan, sekalipun hanya sebesar Rp 5.000, di awal-awal, LRT Jakarta memang banyak ditinggal penumpangnya. Rata-rata penumpang juga rendah, hanya menyentuh angka 4.000 dari rata-rata target 7.000 pengunjung.

“Tapi memang perlu disampaikan juga, kita masih rata-rata diangka 4.000. Kalau target kita itu 7.000 dari panjang trek kita yang hanya 5,8 ya,” tambahnya.

Seiring berjalannya waktu, LRT Jakarta kini mulai kembali diminati masyarakat. Terlebih, setelah moda transportasi yang tiba di stasiun setiap 10 menit tersebut terintegrasi dengan Transjakarta. Walaupun tarif naik menjadi Rp 8.500, namun secara benefit, justru semakin besar, mengingat jangkauan pengunjung jadi lebih luas, mencapai lebih 430 km, sebagaimana panjang jalur Tranjakarta.

“LRT ini tidak cuma 5,8 (kilometer) sudah 420 kilo karena nyambung dengan Transjakarta karena mereka (masyarakat) belum mencoba aja. Pasti enak kok. Murah. 8.500 sampe pelosok Jakarta. Yakin,” Direktur utama (Dirut) PT. LRT Jakarta, Wijanarko.

Selain itu, berbagai pengembangan yang telah dilakukan juga membuat prospek bisnis perusahaan yang masih tergolong sebagai cucu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) tersebut menjadi lebih cerah. Wijanarko berujar, bahwa dalam waktu dekat, tak jauh dari lokasi Stasiun Pulomas, nantinya akan dibuat apartemen serta pusat bisnis yang akan terhubung langsung dengan LRT.

Baca juga: Nantinya, Kereta Cepat Jakarta-Bandung Akan Terintegrasi LRT Bandung Raya

Lebih daripada itu, secara keseluruhan, Stasiun Pulomas dan kawasan sekitarnya memang diproyeksikan akan menjadi kawasan terintegrasi baru, layaknya beberapa kawasan lainnya di DKI Jakarta, seperti Dukuh Atas dan Blok M.

“Stasiun Pulomas stasiun yang paling besar. Ini titik next integrasi, sebelah juga akan dibangun apartement dan pusat bisnis yang nantinya juga akan terintergrasi sehingga Stasiun Pulomas dari apartemen bisa langsung ke sini,” pungkasnya.

Keluarkan Unek-Unek Selama Bekerja, Petugas Stasiun Kereta Api Jepang Curhat di Twitter

Siapa saja bisa melampiasakan kemarahan atau unek-unek ketika mereka bekerja. Bahkan petugas stasiun kereta api pun berhak mengungkapkan rasa kesal, marah atau apapun itu untuk menenangkan diri dan membuka mata orang lain bahwa mereka tidaklah serba bisa.

Baca juga: Stasiun Raffles Place Jadi ‘Saksi’ Cinta Dua Petugas MRT Singapura

Seperti petugas stasiun kereta api Jepang yang menuliskan rasa frustasi mereka di media sosial. Mungkin saat Anda melihat mereka bekerja, para petugas terlihat hormat dengan meminta maaf sedalam-dalamnya atas keterlambatan hingga membantu penumpang mendapat informasi jelas terkait jalur transportasi yang tersebar di Tokyo.

Dilansir KabarPenumpang.com dari japantimes.co.jp (8/2/2020), bila bertugas sisi baik terlihat, ternyata mereka juga punya sisi gelap ketika frustasi dan menuliskan di media sosial. Di Twitter para petugas stasiun mengomel dan banyak pengalaman yang mereka tuliskan ketika pelecehan yang dilakukan pelanggan dan tidak menyenangkan.

Akun anonim dari pengguna Twitter yang mengatakan mereka adalah petugas kereta api bahkan kini semakin bermunculan dalam bahasa Jepang dengan rincian profil mereka menunjukkan bergabung dengan Twitter sejak 2019. Seorang petugas dengan akun @stsf_psn mengatakan, dia mencarai cara untuk melampiaskan masalah pekerjaannya secara anonim dan meningkatkan kesadaran akan aspek pekerjaan yang kurang dikenal sebagai karyawan stasiun kereta api.

“Membuat tweet dan menyampaikan apa yang ada di pikiran saya dan terhubung dengan orang lain di industri ini untuk membantu saya melepaskan stres,” tulis @stsf_psn.

Kicauan para petugas kereta api tersebut lebih banyak membahas berbagai aspek pekerjaan. Tetapi mereka mengatakan itu adalah sebuah pertempuran yang digambarkan sebagai pelanggan raksasa. Ini adalah istilah yang merujuk pada pelanggan dengan permintaan yang sangat menuntut atau permintaan yang tidak masuk akal dan membuat mereka lelah.

“Saya memiliki penumpang yang meminta kami membayar untuk naik taksi karena kereta yang mereka rencanakan akan ditangguhkan,” tulis @stsf_psn.

Pengguna Twitter @Black_railway, yang mengaku sebagai karyawan kereta api berusia 30-an, juga menceritakan beberapa insiden pelecehan.

“Satu hal yang saya ingin orang mengerti adalah bahwa karyawan stasiun kereta api tidak mahatahu,” tulis akun @Black_railway.

Berada dalam bidang pekerjaan ini, tulisnya, tidak berarti dia setara dengan peta jalan kaki yang memiliki pengetahuan ensiklopedis dari setiap stasiun.

“Banyak orang telah mendekati saya dan berkata, ‘Hei, saya harus pergi ke toko ini, tetapi saya tidak tahu di mana itu atau apa stasiun terdekatnya. Katakan bagaimana cara ke sana’. Tapi, sungguh … bagaimana aku tahu?” tulisnya.

Menurut kementerian transportasi, 670 kasus kekerasan terhadap karyawan stasiun dilaporkan pada tahun fiskal 2018, termasuk insiden di mana staf dipukul, didorong, atau diludahi secara fisik. Maka tidak mengherankan jika karyawan stasiun terkadang menggunakan bahasa yang penuh warna dalam melampiaskan rasa frustrasi mereka di Twitter.

“Penumpang berusia sekitar 70-an kasar secara verbal dan berteknologi rendah. Apakah ini benar-benar orang yang berkontribusi pada pertumbuhan pascaperang Jepang?” pengguna Twitter @ monkey_56su memposting pada Januari.

Pengguna Twitter @shiotaiosyuseki mengatakan ada alasan mengapa beberapa pekerja stasiun tidak sebaik yang Anda harapkan. Dia mengatakan tidak semua dari mereka kasar sejak awal, tetapi penumpang yang buruklah yang membuat berperilaku seperti itu.

Sementara itu, pengguna Twitter @Sta__attendant mengatakan akibat dari upaya bunuh diri oleh seorang penumpang membuatnya sakit kepala terbesar. Bahkan banyak pelanggan yang menyalahkan atas keterlambatan tersebut padahal polisi tengah melakukan penyelidikan atas insiden tersebut.

“Namun, mengeluarkan kemarahan Anda pada kami seperti itu tidak membuat operasi lebih cepat lagi bahkan tidak sedetik pun,” kata @Sta_attendant.

Pemilik akun @Sta_attendant mengatakan, beberapa penumpang menuduh karyawan stasiun tidak memiliki pandangan ke depan untuk memasang penghalang platform untuk mencegah upaya bunuh diri, tetapi banyak dari tragedi ini sebenarnya terjadi di persimpangan kereta api bukan di platform. Meskipun dia percaya banyak orang membenci, bukannya bersimpati dengan, orang yang meninggal.

“Saya tidak bisa membayangkan membayangkan tekanan emosional yang harus mereka lalui untuk merasa harus bunuh diri dengan cara ini. Itulah yang kurasakan setiap kali aku memproses akibat dari apa yang terjadi,” tulis @Sta__attendant.

Baca juga: Antisipasi Serangan dari Penumpang, Petugas Kereta di Jepang Dibekali Peralatan Anti Huru Hara

Pemilik akun @Black_railway menuliskan, keluhan umum lainnya yang dikutip oleh karyawan stasiun kereta api termasuk shift kerja maraton yang dapat menahannya di sana selama 24 jam atau lebih. Jam kerja yang tidak teratur seperti itu sering mengambil korban dalam kehidupan pribadi mereka dengan mengganggu pencarian asmara mereka.

“Hubungan kita tidak akan bertahan lama kecuali kita bertemu dengan mitra yang bisa mentolerir gaya kerja seperti itu. Kami telah melihat peningkatan dalam rekrutmen wanita baru-baru ini, jadi sekarang ada lebih banyak roman di tempat kerja daripada sebelumnya,” tulisnya.

Dirut: LRT Jakarta Tidak Cuma 5,8 tapi Sudah 420 kilometer!

Direktur utama (Dirut) PT. Light Rail Transit (LRT) Jakarta, Wijanarko, menyindir pihak-pihak yang mengatakan bahwa LRT Jakarta terlampau pendek, yakni hanya sejauh 5,8 kilometer. Menurutnya, perusahaan yang dipimpinnya tersebut bukan hanya 5,8 kilometer, sebagaimana yang disebut banyak orang, melainkan kini sudah lebih panjang, mencapai 420 kilometer.

Baca juga: Rampung Uji Publik, LRT Jakarta Siap Beroperasi Penuh Mulai 1 Desember

“LRT ini tidak cuma 5,8 (kilometer) sudah 420 kilo karena nyambung dengan Transjakarta karena mereka (masyarakat) belum mencoba aja. Pasti enak kok. Murah. 8.500 sampe pelosok Jakarta. Yakin,” katanya di sela-sela acara yang bertajuk “Berbagi Kebahagiaan di Stasiun LRT Jakarta”, Jum’at, (14/2), di Stasiun LRT Pulomas, Jakarta.

Lebih lanjut, pihaknya, melalui Arnold Kindangen, General Manager of Corporate Secretary, juga menolak bahwa LRT Jakarta dikatakan sepi. Pasalnya, belum lama ini LRT sempat mencatatkan rekor pengunjung terbanyak. Padahal, sebagaimana yang santer diberitakan, sejak mulai diberlakukan tarif normal (atau sejak periode uji coba berakhir) pada akhir tahun lalu, pengguna LRT Jakarta memang sempat anjlok.

“Jadi di posisi tanggal 8 Februari kemarin kita memecahkan rekor juga selama ini dari kita komersial itu diangka 7.400. sementara kita angka tertinggi kita itu ada di bulan Januari itu diangka 5.400. tapi memang perlu disampaikan juga, kita masih rata-rata diangka 4.000. Kalau target kita itu 7.000 dari panjang trek kita yang hanya 5,8 ya,” jelasnya.

Oleh karenanya, LRT Jakarta saat ini tengah melakukan berbagai program untuk menjaga tren positif tersebut (hingga 7.400 pengunjung sehari). Di antaranya seperti acara yang pada Jumat hingga dua hari ke depan diselenggarakan.

Sebagaimana yang sudah disinggung di atas, dalam rangka mempererat sinergi dengan berbagai pihak, PT LRT Jakarta berkolaborasi dengan pemerintah dan swasta untuk menggelar kegiatan bersama ratusan kaum lansia, anak yatim, dan anak-anak korban banjir yang berdomisili di sekitar Stasiun LRT Jakarta.

Baca juga: Stasiun Velodrome LRT Jakarta dan Halte Pemuda TransJakarta Kini Resmi Terkoneksi

Acara yang bertajuk “Berbagi Kebahagiaan di Stasiun LRT Jakarta” ini berlangsung mulai hari Jumat, 14 Februari 2020 hingga Minggu, 16 Februari 2020 di Stasiun Pulomas, Jakarta Timur. LRT Jakarta menggandeng, Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta, Suku Dinas PPKUKM Jakarta Timur, Suku Dinas Sosial Jakarta Timur, Bank DKI, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Duit HaPe, Dompet Dhuafa, Lazismu, Matahatimu.org, Muslimnesia, Enesis Group, Danone Aqua, dan Waste for Change.

Direktur Utama LRT Jakarta menyampaikan, melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, tercapai sebuah niat dan pesan untuk menyampaikan kebaikan dan berbagi kebahagiaan. Harapannya, melalui momen ini, energi positif yang dihasilkan dari melakukan kebaikan akan membuahkan berkah untuk kita semua dan meringankan langkah untuk bersama-sama menciptakan kota Jakarta yang lebih baik lagi, sesuai dengan visi yang sering diungkapkan pak Gubernur DKI Jakarta, Maju kotanya Bahagia Warganya. (Alpin Hardiyansah)

Dear Maskapai, Mau Kejar OTP Tinggi? Perhatikan Pengaturan Masuknya Penumpang Ke Kabin!

On Time Performance (OTP), tak bisa dipungkiri, sering kali menjadi salah satu hal yang sangat diperhatikan maskapai penerbangan. Terlebih, setiap tahunnya terdapat perhargaan khusus bagi maskapai dengan OTP terbaik oleh OAG Flightview. Sayangnya, OTP terbaik di dunia terakhir yang dicetak oleh Garuda Indonesia pada periode Juni 2018 – Mei 2019 hanya mencapai 91,6 persen. Padahal, angka tersebut masih dinilai kecil bila mampu mengatasi hal-hal sepele sebelum keberangkatan.

Baca juga: ‘On Time Performance’ Tak Cuma Milik Dunia Penerbangan

Dilansir KabarPenumpang.com dari dailymail.co.uk, Selasa, (11/2), belum lama ini hasil penelitian menunjukkan bahwa hal sepele yang seringkali terlewat adalah pengkoordinasian penumpang saat hendak naik ke pesawat. Pada umumnya, maskapai membiarkan penumpang mengatur dirinya masing-masing pada momen tersebut. Bila hal itu diorganisir dengan baik, mungkin 91,6 persen adalah angka yang cukup kecil untuk menyandang rata-rata maskapai dengan OTP terbaik di dunia.

Dalam sebuah penelitian yang dipimpin tim peneliti dari Norwegia menggunakan teknik geometri ruang-waktu untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang mengarah pada take-off yang cepat atau penundaan yang membosankan di landasan menunjukkan, bahwa ketika penumpang yang lebih lama (semisal penumpang dengan anak-anak, lanjut usia, atau berkebutuhan khusus) didahulukan, mulai dari naik ke pesawat, mencari lokasi tempat duduk, mengatur kompartemen bagasinya, hingga kemudian duduk, hal tersebut justru mencatatkan waktu sekitar 28 persen lebih efisien dibanding dengan model percobaan lainnya. Celakanya, hal tersebutlah yang luput dari perhatian maskapai dalam mengejar OTP.

Para peneliti menghitung waktu naik berdasarkan rantai penumpang yang saling menghalangi ketika mereka mencoba untuk duduk di kursi mereka. Semakin banyak penumpang yang bisa duduk pada saat yang sama, semakin sedikit kemacetan yang menumpuk dan semakin cepat naik bisa naik. Foto: Daily Mail

Ahli statistik dari Western Norway University, Sveinung Erland, yang tergabung dalam penelitian tersebut bersama timnya, memutuskan coba untuk membuktikan cara mencapai OTP terbaik ketika naik pesawat dengan menggunakan teori apa yang disebut ‘geometri Lorentzian’. Geometri ruang-waktu ini adalah cabang matematika yang sama dengan matematika pada umumnya yang menopang teori relativitas umum Albert Einstein yang terkenal.

Teorinya, tim mempertimbangkan hubungan yang diketahui antara dinamika mikroskopis dari sekumpulan partikel yang berinteraksi dan sifat berskala lebih luas yang terkait – suatu hubungan yang merupakan tema utama dalam fisika statistik. Bila diterjemahkan ke dalam konteks proses naik pesawat, mereka mempertimbangkan hubungan antara interaksi penumpang yang naik dalam barisan dan waktu menyeluruh yang diperlukan bagi setiap orang untuk duduk.

“Kemampuan penumpang untuk menunda penumpang lain tergantung pada posisi antrean dan penunjukan baris mereka. Ini setara dengan hubungan sebab akibat antara dua peristiwa dalam ruang-waktu,” kata tim peneliti dalam makalah mereka.

Dalam model mereka, para peneliti memperlakukan boarding sebagai proses dua bagian, dengan para penumpang menempati garis satu dimensi di lorong dan akhirnya duduk dalam matriks kursi.

Pertama, penumpang bergerak menyusuri lorong sampai mereka mencapai barisan yang ditugaskan, atau untuk sementara tertahan oleh penumpang lain di depan mereka.

Setelah setiap penumpang mencapai barisan mereka, model selanjutnya mempertimbangkan berapa lama mereka harus berdiri di lorong untuk menyimpan bagasi tangan mereka di kompartemen overhead dan kemudian duduk.

Dengan menyatukan langkah-langkah ini, model dapat menentukan apakah masing-masing penumpang pada akhirnya akan saling menghalangi berdasarkan posisi relatif mereka dan seberapa jauh jarak alokasi kursi mereka.

Secara keseluruhan, waktu yang dibutuhkan untuk melengkapi penumpang duduk tergantung pada di mana masing-masing barisan berada, baris mana yang mereka tuju, dan berapa lama yang dibutuhkan seseorang untuk menyimpan bagasi mereka dan duduk.

Dengan pendekatan ini, para peneliti dapat menguji berbagai strategi naik pesawat yang mungkin dipekerjakan oleh maskapai – mulai dari membiarkan penumpang yang lebih lambat naik terlebih dahulu ke naik secara acak. Mereka sampai pada temuan bahwa sekitar 28 persen lebih efisien untuk membiarkan penumpang yang lebih lambat naik pesawat terlebih dahulu dibandingkan dengan membiarkan yang lebih cepat memulai terlebih dahulu. Foto: Daily Mail

Para peneliti menemukan bahwa antrian penumpang yang naik dapat dibayangkan sebagai serangkaian gelombang, dengan masing-masing gelombang mewakili kelompok penumpang yang semuanya dapat mengambil tempat duduk pada saat yang sama.

Dengan pendekatan khusus, para peneliti dapat menguji berbagai strategi naik pesawat yang mungkin dipekerjakan oleh maskapai, yakni dimulai dari membiarkan penumpang yang lebih lambat naik terlebih dahulu untuk naik secara acak.

Mereka sampai pada temuan yang tampaknya berlawanan dengan inisiatif bahwa sekitar 28 persen lebih efisien untuk membiarkan penumpang yang lebih lambat naik pesawat terlebih dahulu dibandingkan dengan membiarkan yang lebih cepat memulai terlebih dahulu.

“Ini adalah hasil universal, valid untuk kombinasi parameter apa pun yang menjadi ciri masalah,” tulis tim.

Baca juga: Garuda Indonesia Sabet Predikat “Maskapai Paling Tepat Waktu di Dunia,” Begini Cara Menghitungnya!

Temuan ini sebanding dengan penelitian serupa yang dilakukan oleh fisikawan Amerika, Jason Steffen pada 2011. Kala itu, penelitian yang menggunakan teori algoritma ‘Markov chain Monte Carlo’ dan pendekatan ‘metode Steffen’ menemukan bahwa penumpang yang cenderung lebih lambat harus didahulukan. Sebaliknya, penumpang yang duduk dalam satu barisan yang sama (biasanya penumpang yang bepergian secara berkelompok) harus dipisahkan. Kemudian, penumpang yang duduk diujung pesawat harus didahulukan, berbanding terbalik dengan penumpang yang duduk pada bagian depan pesawat yang menurut penelitian tersebut harus ditunda.

Meskipun demikian, hal tersebut tetap harus didukung dengan management yang apik, mulai dari penyuluhan, kerjasama awak kabin satu dengan yang lainnya, hingga meyakinkan penumpang tidak kehabisan slot kompartemen bagasi overhead jika mereka ditahan untuk masuk ke pesawat lebih dahulu. Jika hal tersebut dilakukan dengan harmoni, tentu OTP 91,6 persen bisa dikatakan kecil.

Untuk Pesawat Narrow Body, ST Engineering Tawarkan Desain Toilet Baru yang Lebih Besar dan Nyaman

Singapore Technologies Engineering Ltd (ST Engineering) memperkenalkan desain terbarunya di bidang aviasi, dalam hal ini terkait desain interior pesawat, mulai dari konsep kursi kelas ekonomi penerbangan jarak jauh berbahan magnesium aloi yang diklaim mengurangi bobot kursi hingga 30 persen hingga desain toilet terbaru yang lebih besar. Inovasi desain toilet baru tersebut dipamerkan dalam ajang Singapore AirShow 2020 yang masih berlangsung hingga kini.

Baca juga: Sebelum Seperti Sekarang, Dulu Toilet Pesawat Gunakan Ember untuk Tampung Limbah Penumpang

Seperti dikutip KabarPenumpang.com dari laman runwaygirlnetwork.com, Rabu, (12/2), VP commercial business Hean Seng Tan disela-sela gelaran Singapore AirShow 2020 mengatakan, pihaknya memang sangat mendambakan untuk menghadirkan toilet yang lebih besar bagi semua orang. Pasalnya, belakangan ini, toilet yang dihadrikan maskapai pada umumnya sudah tergolong cukup sempit dan tidak nyaman. Hal itu sangat wajar bila melihat dari sisi efisiensi tata letak dalam kabin.

Namun, bila dilihat dari segi kebutuhan penumpang, toilet sempit, sekalipun tetap bisa digunakan, bukanlah sesuatu yang diharap-harapkan oleh penumpang. Justru sebaliknya, penumpang kerap kali melayangkan keluhan demi keluhan terkait toilet yang cukup sempit. Bahkan, terkadang, untuk memutar badan pun tidak bisa sehingga memaksa penumpang untuk masuk ke toilet dengan berjalan mundur, saking sempitnya.

Berangkat dari fakta tersebut, ST Engineering pun coba menciptakan produk yang disebut “Access lavatory” yakni toilet dengan dua tujuan sekaligus, pertama untuk memberikan layanan toilet yang lebih luas bagi pelanggan sekaligus (yang kedua) tetap mengakomodir maskapai yang ingin mengurangi dimensi toilet, agar dapat dimanfaatkan untuk hal lainnya.

Access lavatory sendiri dinilai dapat memenuhi dua tujuan tersebut berkat inovasi dinding samping yang dapat diperpanjang hingga 33 cm, menciptakan ruang lantai 40 persen lebih banyak hingga menghadirkan kesan lebih luas. Bahkan, penumpang dengan kursi roda pun tetap bisa masuk ke dalam toilet tersebut dan berbalik badan dengan mudah. Hal tersebut tentu sangat ditunggu-tunggu oleh pelanggan.

Bila sudah selesai digunakan, dinding samping toilet kemudian didorong untuk kembali ke posisi semula, sehingga membuat area pantry kembali luas serta tidak menghalangi akses keluar masuk penumpang saat waktunya tiba, mengingat, jika toilet tersebut tengah digunakan, akses keluar masuk memang akan sedikit terganggu.

Ketika sudah di dalam toilet, tata letak (seperti stainless steel untuk pegangan, kaca, hingga westafel), desain, serta interiornya yang lengkap juga membuat toilet tersebut dinilai mampu menjawab keluhan-keluhan penumpang pesawat selama ini.

Dengan berbagai kemudahannya dalam meningkatkan aksesibilitas penumpang pada pesawat sempit, sebagaimana usulan Departemen Perhubungan AS untuk tetap memberikan kemudahan bagi pelanggan bahkan di pesawat sempit sekalipun, Access lavatory dinilai cocok untuk pesawat narrow body seperti A320 dan Boeing 737.

Baca juga: Toilet Meluap, Penumpang Pesawat Pipis di Kantong Plastik

Agar produknya bisa diaplikasikan ke Airbus dan Boeing (A320 dan Boeing 737) tersebut, Access lavatory kini tengah mengejar sertifikasi EASA dan tentu saja FAA. Namun, mereka menargetkan untuk mengaplikasikan produknya di pesawat Boeing 737 terlebih dahulu, yakni pada Oktober 2020 mendatang, dibanding Airbus A320 (kuartal pertama taun 2021). Hal tersebut dikarenakan, menurut ST Engineering, pesawat buatan Boeing lebih sulit untuk dibuatkan Access lavatory ketimbang pesawat besutan Airbus.

Hingga kini, pihak ST Engineering mengaku telah membuka obrolan terkait pengaplikasian Access lavatory kepada dua maskapai asal AS. Namun, perusahaan belum mau menyebut siapa yang dimaksud dua maskapai tersebut. Tak hanya itu, pihaknya juga dijadwalkan bertemu dengan beberapa maskapai dan masih akan terus membuka diri kepada maskapai lainnya untuk membuat berbagai kesepakatan di sela-sela gelaran Singapore Airshow hingga Senin mendatang.