Jijik! Ini Alasan Mengapa Penumpang Pesawat Harus Mengindari Makanan Langsung Di Atas Baki

Pesawat dikenal tidak selalu menjadi tempat terbersih. Banyak hal yang mesti diperhatikan ketika seseorang bepergian dengannya. Salah satunya cara pesawat dibersihkan dari penerbangan satu ke penerbangan lainnya.

Baca juga: Sebelum Seperti Sekarang, Dulu Toilet Pesawat Gunakan Ember untuk Tampung Limbah Penumpang

Belum lama ini, seperti diwartakan KabarPenumpang.com dari laman express.co.uk, Selasa, (18/2), seorang pengguna Reddit (situs web hiburan dan juga berita) membeberkan hal-hal yang menjijikan namun telah lama dilakukan oleh maskapai-maskapai pada umumnya.

Dalam curhatannya, pengguna Reddit yang juga mantan penata rambut awak kabin tersebut, mengungkapkan bahwa banyak orang yang mengira bahwa toilet menempati urutan pertama sebagai tempat terkotor di pesawat. Namun, tidak ada yang mengira, bahwa tempat terkotor selanjutnya adalah baki dan meja nampan (seatback).

Akun anonim tersebut kemudian menjelelaskan bagaimana pesawat dibersihkan. Maskapai pada umumnya memiliki jadwal yang padat dengan memaksimalkan setiap armadanya hingga tingkat tertinggi. Akibatnya, awak kabin dituntut untuk membersihkan pesawat sesegera mungkin dan sebersih mungkin agar pesawat bisa digunakan ke penerbangan selanjutnya. Padahal, cepat dan bersih mungkin saja tak selalu berjalan beriringan.

Dari situlah kemudian awak kabin hanya dibekali cairan anti bakteri untuk membersihkan seluruh sudut-sudut kabin. Namun, bukan hanya kabin, melainkan juga menyeka seluruh baki dan meja kecil (seatback). Tentu saja cairan tersebut sangat tidak ramah untuk menaruh makanan langsung tanpa alas. Bila di lain kesempatan Anda mengalami hal tersebut, (makanan yang langsung diletakan di atas baki tanpa alas) pastikan Anda menolaknya.

“Jangan, dalam situasi apa pun meletakkan makanan Anda langsung di nampan makanan. Semprotan itu juga digunakan untuk menyeka meja kecil. Sekali lagi, itu sangat encer dan mungkin tidak benar-benar “membersihkan” meja sebagaimana mestinya,” tulis akun anonim tersebut.

Imbauan tersebut pun juga didukung oleh pengguna Reddit lainnya. Dalam tulisannya, akun anonim tersebut mengaku memupunyai istri yang berprofesi sebagai pramugari. “Jangan makan-makanan yang dijatuhkan di atas meja ataupun baki, mereka tidak pernah dibersihkan,” jelasnya.

Kesaksian dari dua pengguna Reddit itu pun juga didukung oleh hasil penelitian. Para ahli yang tergabung dalam CBA News Marketplace belakangan telah menemukan bahwa tempat paling kotor di dalam kabin pesawat faktanya memang tidak dapat diselesaikan secepat kilat.

Dalam penyelidikan untuk mencari tahu di mana bagian paling kotor dari pesawat itu, serta beberapa barang paling jahat yang ditemukan di atas pesawat, mereka menemukan bahwa headrest-lah yang paling banyak mengandung kuman dan bakteri.

Baca juga: Inilah GermFalcon, Robot Pembasmi Virus Corona di Kabin Pesawat dengan Teknologi UV

Setelah menyisir 100 area kabin pesawat di 18 penerbangan jarak pendek, sandaran kepala ditemukan mengandung bakteri hemolitik dan E.coli, serta memiliki jumlah aerobik tertinggi. Hal tersebut kemudian diikuti oleh saku kursi, pegangan kamar mandi, meja nampan, baki, dan kemudian sabuk pengaman.

Salah satu ahli yang memimpin penyelidikan tersebut (ahli mikrobiologi), Keith Warriner, mengatakan ia cukup puas dengan hasil yang didapat. Hal ini sebetulnya bisa saja memprihatinkan bagi penumpang, namun, di sisi lain, temuan tersebut justru dapat meningkatkan kewaspadaan penumpang untuk senantiasa menjaga kebersihan secara optimal. Caranya, yakni selalu mencuci tangan dengan sabun dan air. Bila perlu, membawa sanitiser tangan sekedar berjaga-jaga bila kesulitan mengakses air bersih untuk mencuci tangan.

Keberadaan Runway 3 Bandara Soetta Disebut Tak Berfungsi Optimal, Ini Sebabnya!

Landas pacu atau runway 3 Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) telah diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 23 Januari lalu. Dengan runway baru ini, kapasitas penerbangan yang dilayani Bandara Soetta diharapkan dapat semakin meningkat. Bila sebelumnya dengan dua runway hanya dapat dilayani 81 penerbangan dalam satu jam, maka dengan beroperasinya runway 3, di Bandara Soetta kini dapat melayani 120 penerbangan (capacity movement) per satu jam. Namun, apakah implementasi runway 3 tersebut sesuai rencana?

Baca juga: Molor dari Jadwal Awal, Bandara Soetta Siap Groundbreaking Runway 3 Dalam Waktu Dekat!

Idealnya dengan dibukanya runway 3 diharapkan dapat dilayani aktivitas penerbangan secara bersamaan antara runway 2 dan runway 3, dimana kedua runway yang berada di sisi utara dan dibangun sejajar yang dapat dilihat langsung dari ruang tunggu di Terminal 3. Tapi rupanya ada sesuatu yang berbeda dari yang awalnya diharapkan, yaitu runway 2 dan runway 3 tidak dapat dioperasikan secara bersamaan, artinya aktivitas penerbangan antara dua runway harus dilakukan secara bergantian. Yang menjadi pertanyaan, mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Kapten SM Nababan, mantan pilot senior Garuda Indonesia dalam acara Pertemuan Bulanan PSAPI (Pusat Studi Air Power Indonesia) di Kantor Pusat PPAU, Selasa (18/2/2020) memberi penjelasan, bahwa runway 3 dibangun dengan jarak yang terlalu dekat dengan posisi runway 2, yaitu hanya 500 meter. “Seharusnya jarak antar dua runway yang sejajar seperti itu adalah 700 sampai 1.035 meter,’ ujar Nababan. Ia menambahkan, dengan kondisi tersebut kedua runway harus digunakan secara bergantian, atau dijadikan runway cadangan dan itu telah bergeser dari tujuan semula runway itu dibangun. Bahkan disebut-sebut runway tersebut tidak memenuhi syarat internasional.

Mengutip dari cnbcindonesia.com (23/1/2020), Organisasi Penerbangan Sipil Internasional atau International Civil Aviation Organization (ICAO) sempat melayangkan surat terkait pengoperasian Runway 3 Bandara Soetta. ICAO pada 17 Desember 2019 mengirimkan surat ke Kemenhub yang diteken oleh Regional Director ICAO Arun Mishra. Isinya soal beberapa catatan terkait hasil misi pendampingan tim dari ICAO pada 9-12 Desember 2019 mengenai rencana pengoperasian runway baru Soekarno-Hatta. Sejumlah hal teknis menjadi catatan antara lain, soal jarak antara runway 3 dan runway 2 yang dianggap tak memadai dalam mendukung keberangkatan pesawat secara paralel.

ICAO juga memberikan catatan soal Advanced Surface-Guidance and Control System (A-SMGCS) alias sistem permukaan-gerakan lanjutan dan manajemen lalu lintas udara agar memerlukan evaluasi lebih lanjut setelah beroperasinya runway baru. Lembaga ini juga memberikan catatan soal pelatihan bagi air traffic controller untuk penggunaan operasional runway yang baru, dan lainnya.

Baca juga: Hanya Dengan Single Runway, Bandara di Mumbai Layani 837 Penerbangan Per Hari

Atas adanya masalah pada runway 3, tentu saat ini seperti istilah nasi telah menjadi bubur, “runway 3 sudah terlanjur dibangun dan kini sudah diresmikan, saat ini yang terpenting adalah bagaimana mengatur atas situasi yang telah terjadi, karena tidak mungkin untuk saat ini menggeser runway tersebut,” kata Nababan.

Percaya atau Tidak? Airbus A380 Dijual Rp415 Ribu!

Pada umumnya, pesawat memang dijual dengan harga yang tak murah dan pembelinya sudah pasti harus merogoh kocek miliaran hingga triliunan rupiah. Namun, apa jadinya kalau sebuah pesawat, terlebih pesawat terbesar di dunia, Airbus A380, dijual dengan harga mulai dari Rp 415.000 atau €27.95?

Baca juga: Restoran dengan Model Replika Airbus A320 Dibangun di Bengaluru

Belum lama ini, seperti dikutip KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com, Selasa, (18/2), pesawat Airbus A380 yang sudah purna tugas dari maskapai Singapore Airlines memang dijual dengan harga semurah itu. Hanya saja, bukan untuk harga sebuah pesawat, melainkan untuk sebuah gantungan kunci asli yang diolah dari sebagian badan pesawat Airbus A380.

Ide untuk melucuti pesawat yang sudah purna tugas, termasuk A380, datang dari sebuah perusahaan asal Jerman. Melalui situs aviationtag.com, perusahaan yang berbasis di Cologne, Jerman, itu selain hendak menyelamatkan lingkungan dengan menghindari penumpukan pesawat-pesawat bekas yang jumlahnya jutaan di dunia, mereka juga melihat minat tinggi para pecinta penerbangan untuk mengabadikan pesawat favoritnya sekalipun dalam bentuk yang lebih kecil.

“Kami selalu memiliki emosi yang campur aduk. Di satu sisi, sangat menyedihkan melihat era ini berakhir setelah hanya 10 tahun. Di sisi lain, kami senang bahwa kami berhasil melestarikan bagian dari pesawat ikonik ini untuk semua penggemar penerbangan,” Vice President Aviation Tag, Tobias Richter.

Penjualan gantungan kunci asli dari bagian badan pesawat Airbus A380 sendiri adalah yang pertama kali dilakukan oleh perusahaan tersebut. Sebelumnya, sudah lebih dahulu ada berbagai gantungan kunci asli dari bagian badan pesawat beragam merek di dunia, mulai dari Airbus (A340, A320, A319, dan A380), Boeing (767, 757, 747, 737, dan 777), Antonov (AN-2), ATR, Cessna, Royal Air Force, Lockheed, Fokker, Douglas (DC-9 dan DC-3), hingga Piper.

Gantungan kunci asli dari bagian Airbus A380. Foto: Pinterest

Baca juga: Di Bahrain, Bakal Ada Sosok Boeing 747 di Bawah Permukaan Laut

Menariknya, sekalipun bentuknya cenderung sama, mayoritas konsep pewarnaan pada gantungan kunci ini juga tergolong unik, yakni mengikuti negara asal maskapai yang terakhir mengoperasikan pesawat yang bersangkutan. Misalnya seperti Airbus A380, gatungan kuncinya berwarna putih, mengikuti salah satu warna dasar dari bendera kebangsaan negara asal Singapore Airlines, Singapura, yang berwarna merah putih.

Airbus A380 milik Singapore Airlines dengan nomor registrasi 9V-SKA dan memiliki nomor seri pabrikan 003 sendiri adalah pesawat pertama yang melayani dan mengakhiri penerbangan komersial. Pesawat ini pertama kali mengudara pada tanggal 7 Mei 2006. Setelah melewati fase pengujian dan verifikasi, pesawat itu akhirnya dikirim ke Singapore Airlines pada tanggal 15 Oktober 2007. Setelah menghabiskan lebih dari 10 tahun, pesawat akhirnya dikembalikan ke lessor pada tanggal 5 Desember 2017.

Sederet Bintang K-Pop Ini ‘Banting Setir’ jadi Pramugari dan Pramugara

Seorang rapper, pembawa acara, penari, dan komposer, yang juga merupakan leader dari grup idol generasi pertama Korea Selatan SechsKies, Eun Ji Won, banting setir menjadi pramugara (awak kabin). Usut punya usut, ternyata, bintang K-pop yang juga akrab disapa G1 itu belakangan diketahui tengah mengikuti sebuah acara reality show yang sangat populer di Korea Selatan.

Baca juga: Gegara Parfum Mahal, Artis Asal Australia Terpaksa Digeledah Petugas Bandara

Seperti dikutip KabarPenumpang.com dari laman Paddle Your Own Kanoo, Selasa, (18/2), artis K-pop yang pernah diisukan dekat dengan Lee Soo Yeon tersebut, sebelum benar-benar memulai profesi dadakan sebagai awak kabin, ia terlebih dahulu mengikuti pelatihan singkat di dua maskaapai berbeda, Air Busan dan Cebu Pacific.

Dalam video yang menampilkan Eun Ji Won selama menjalani profesi barunya tersebut, berbagai kesulitan memang sangat terlihat. Di samping itu, ia juga beberapa kali bak orang kebingungan, mondar-mandir sana sini, membantu merapikan kompartemen bagasi, hingga kerepotan dalam menyiapkan beberapa mie instan untuk penumpang. Adapun hal yang lumayan patut dipuji, selama ia menjadi awak kabin, adalah sambutannya yang cukup hangat.

https://www.facebook.com/yourownkanoo/videos/260426411609820/

Meski demikian, ia mengakui bahwa pengalaman tersebut adalah pengalaman yang dapat mengubah pendapatnya tentang pramugari. Pasalnya, selama ini, ia hampir selalu tertidur saat di pesawat. “Setiap kali saya naik pesawat, saya hampir selalu tidur sehingga saya tidak pernah benar-benar bertemu dengan pramugari,” jelasnya.

“Saya selalu ingin tahu tentang apa yang mereka lakukan. Setelah merasakannya langsung, saya bertekad untuk tidak pernah mengambil minuman saya sendiri di pesawat. Saya tidak pernah tahu bahwa mereka harus membuang minuman di toilet karena tidak ada tempat lain untuk melakukannya,” tambahnya, saat ditanya tentang pengalamannya menjadi awak kabin.

Senada dengan Eun Ji Won, bintang K-pop lainnya, Kim Yu Jin juga mengaku tidak tahu menahu tentang profesi pramugari dan tugas serta tanggung jawabnya. Pasalnya, selama ini, penyanyi dan aktris Korea Selatan yang lebih dikenal dengan sebutan UEE tersebut selalu tertidur ketika sampai di dalam pesawat.

“Berada di dalam pesawat, saya merasa bahwa pramugari benar-benar luar biasa. Saya selalu tidur di pesawat tetapi setelah pengalaman ini, saya menyadari bahwa pramugari melakukan banyak hal,” katanya yang juga ambil bagian dalam acara tersebut.

Selain Eun Ji Won dan Kim Yu Jin, beberapa bintang K-pop lainnya juga turut meramaikan acara tersebut. Seperti Song Yunhyeong, anggota dari grup K-pop iKON, aktor kenamaan Korea Shin Hyun Joon, dan komedian Hwang Jesung.

Kehadiran sederet bintang K-pop tersebut tentu saja mengundang perhatian banyak penumpang. Beberapa penumpang tampak sibuk merekam sambil tersenyum melihat tingkah awak kabin dadakan itu selama di dalam pesawat.

Baca juga: Regulasi Sudah Disahkan Sejak 2008, Ternyata Masih Banyak Penumpang Korean Air yang Nekat Merokok di Ketinggian 36.000 Kaki!

Di Korea Selatan sendiri, karir sebagai pramugari masih sangat diminati hingga tak sedikit orang yang mengejar profesi tersebut dengan menjalani operasi plastik agar tampak sempurna. Saking banyaknya calon pramugari yang menjalani bedah plastik, sampai-sampai ada klinik bedah kosmetik di Seoul yang menawarkan program ‘operasi plastik’ khusus pramugari.

Hal tersebut pun juga beriringan dengan isu miring mengenai perilaku maskapai-maskapai asal Korea Selatan yang sengaja merekrut wanita-wanita muda yang dinilai sangat menjual. Terlebih, setelah menjalani program operasi plastik khusus pramugari. Sekilas memang tidak ada yang salah, namun, bagi sebagian pengamat di sana, budaya seperti itu sangat tidak baik untuk masa depan Korea Selatan.

Minat Bikin Aplikasi Mobile, Ini 7 Hal yang Mesti Diperhatikan

Dengan meningkatnya pertumbuhan dunia teknologi digital, tidak ada bisnis yang tidak terdampak sama sekali oleh digitalisasi bisnis. Platform online menyediakan ruang bagi bisnis untuk menjangkau jutaan orang sekaligus dan itulah alasan mengapa sebagian besar pengusaha cerdas memanfaatkannya sebaik mungkin.

Baca juga: Gunakan Aplikasi di Ponsel, Warga Cina Hindari Lingkungan Terinfeksi Virus Corona

Di samping memudahkan pelanggan, lumrah dan murahnya harga smartphone juga semakin memungkinkan sebuah perusahaan meraih pangsa pasar yang jauh lebih luas dibandingkan dengan strategi marketing konvensional. Singkatnya, setiap orang yang mempunyai smartphone bisa jadi target pasar mereka. Terlebih, ekosistem bisnis pendukungnya juga mendukung terbentuknya bisnis berbasis aplikasi.

Seperti diwartakan KabarPenumpang.com dari laman customerthink.com, Senin, (17/2), inilah tujuh hal yang mesti diperhatikan sebelum benar-benar membuat aplikasi mobile. Bila terlanjur membuat aplikasi sebelum membaca artikel ini, jangan tunda untuk melakukan perubahan agar aplikasi mobile yang telah dibuat benar-benar dibutuhkan customer.

1. Pastikan Dapat Menghemat Waktu Pengguna
Di dunia ini, hanya ada dua hal yang tidak bisa kembali ataupun bertambah, luas bumi dan waktu. Waktu adalah satu-satunya prioritas bagi orang yang memilih untuk menggunakan aplikasi. Bila tidak ada bedanya, menggunakan aplikasi dengan tidak, maka, kecil kemungkinan aplikasi yang Anda buat akan diterima khalayak ramai.

Namun, hal itu juga tergantung pada persyaratan dan bisnis apa yang hendak dibangun lewat aplikasi mobile. Tetapi, apapun itu, segalanya harus tetap mendapat dukungan teknologi, arsitektur (pengembangan), dan desain serta semua yang mendukung ekosistem dan iklim bisnis Anda. Semakin banyak jaringan dan relasi, maka, aplikasi mobile dapat benar-benar menghemat waktu pengguna.

2. Jaminan Keamanan yang Lebih Baik
Dalam bisnis apapun, faktor kemanan pasti menjadi hal yang utama. Bisnis yang terkait transaksi elektronik, keamanan pengguna serta keamanan transaksi pasti menjadi nilai jual dan alasan utama mengapa seseorang ingin bertransaksi dengan aplikasi mobile.

Demikian juga dengan bisnis trasnportasi berbasis aplikasi. Moda transportasi harus bisa memastikan lokasi real time pengguna dan pengemudi serta berbagai fitur lainnya untuk mencegah perbuatan yang dapat mengancam keselamatan pengguna, seperti lokasi real time tidak terdeteksi dengan akurat akibat sinyal dari pengguna dan pengemudi tidak baik dan faktor-faktor sejenisnya.

Aplikasi Uber

3. Kualitas
Kualitas mungkin menjadi kata kunci umum yang mana jaminan keamanan dan keselamatan pengguna aplikasi bisa saja tergabung ke dalamnya. Di era persaingan bisnis yang semakin ketat seperti sekarang ini, kualitas kerap kali menjadi pembeda. Sebuah bisnis berbasis aplikasi bisa saja tampak sama, menjual produk yang sama, melayani dengan cara yang sama, serta mengkampanyekan bisnis mereka dengan model yang sama.

Akan tetapi, kualitas pada akhirnya tetap akan menjadi pembeda. Mereka yang konsisten untuk menomorsatukan kualitas-lah yang akan mejadi pemenang di akhir pertempuran. Di samping itu, kualitas juga erat kaitannya dengan inovasi. Jadi, bisa dibilang, aplikasi berbasil mobile yang bagus adalah aplikasi yang tidak lepas dari inovasi.

4. Komunikasi Langsung dengan Pelanggan
Terkadang, kaum urban dengan mobilitas tinggi tidak mau ambil pusing. Dalam artian, dengan adanya paket internet, mereka hampir mungkin melakukan segalanya, mengirim pesan instan dan menelepon, tanpa perlu repot-repot membeli pulsa (di luar paket internet) untuk dapat berkomunikasi langsung. Tak terkecuali dengan aplikasi mobile atau mobile app.

Hadirnya fitur chat atau komunikasi langsung antara pengguna aplikasi dengan pihak ketiga atau dalam hal ini pihak yang bersentuhan atau berhubungan langsung dengan pengguna aplikasi atau pelanggan, disadari atau tidak, sangat membantu dan memang dibutuhkan oleh pelanggan. Dengan fitur tersebut pula, privasi (nomor kontak) pelanggan atau pihak ketiga bisa tetap aman tanpa harus diketahui oleh kedua belah pihak. Sekalipun harus mencantumkan nomor kontak, pastikan fitur keamanan (seperti fitur hanya bisa mengontak atau dikontak dengan nomor yang sudah terfdaftar) hadir untuk melengkapi fitur lainnya.

Aplikasi Aira yang membantu penyandang tuna netra di bandara (aira.io)

5. Menghasilkan Pengeluaran Lebih Rendah
Menghasilkan pengeluaran yang lebih rendah atau efisiensi menjadi salah satu catatan penting mengapa pengguna memilih sebuah aplikasi. Misalnya, aplikasi pencari kos-kosan atau sejenisnya. Dengan menggunakan aplikasi, pengguna terhindar dari mencari rumah tinggal atau indekos di wilayah yang mereka tidak kuasai. Ujungnya, pasti lebih efisien dan sedikit waktu yang terbuang karenanya.

Begitupun juga dalam unit bisnis lainnya, bila tidak mengakomodir pengeluaran yang lebih rendah dengan menggunakan aplikasi mobile ketimbang cara-cara konvensional, siap-siap aplikasi Anda akan sepi peminat.

Baca juga: Jangan Sembarangan Gunakan WiFi Gratisan, Berikut Tips Keamanan Data dari FBI

6. Kustomisasi
Kebanyakan orang percaya bahwa aplikasi, sekali dikembangkan tidak dapat dikustomisasi. Tetapi ini adalah gagasan yang sangat salah. Solusi pra-dibangun selalu dapat disesuaikan. Misalnya, jika orientasi warna tidak sesuai dengan tanda, maka Anda dapat mengubahnya atau menghapusnya.

7. Bebas Repot
Sebuah aplikasi mungkin akan sangat diminati bila dapat menggantikan tugas-tugas yang semestinya dilakukan seseorang kepada orang lain. Dengan begitu, pengguna dapat memaksimalkan waktunya untuk kegiatan lainnya, yang mungkin saja lebih bernilai ekonomi ataupun holistik.

Tim Fisikawan Internasional Temukan Cara Terbaik Minimalisir Kepadatan Dalam Kabin

Ketika tiba di gerbang keberangkatan dan dipanggil untuk naik pesawat, penumpang mengantri dan menemukan kursi masing-masing setiba di dalam kabin. Tapi ternyata tidaklah semudah itu, sebab ada saja masalah yang akan dihadapi penumpang sebelum benar-benar tiba di kursi mereka.

Baca juga: Rahasia di Bandara yang Tak Semua Diketahui Penumpang

Salah satunya adalah penyimpanan bagasi di atas kepala yang sudah penuh dengan barang penumpang lainnya. Bahkan selama bertahun-tahun sebagian besar maskapai terjebak dengan sistem yang sama di mana penumpang kelas satu atau bisnis naik terlebih dahulu dan baru penumpang lainnya.

Karena hal ini kemudian sebuah tim fisikawan internasional mengklaim telah menemukan cara terbaik untuk meminimalisir hal tersebut. KabarPenumpang.com merangkum laman thenational.ae (26/1/2020), rahasianya adalah dengan memberikan prioritas kepada penumpang yang lebih lambat dan menempatkan mereka pada pola tertentu.

Dipimpin oleh Profesor Sveinung Erland dari Western Norway University, tim menemukan bahwa yang terbaik untuk mendudukkan penumpang ini mulai dari belakang dalam urutan nomor kursi yang zig-zag menyusuri lorong. Ini menciptakan lebih banyak ruang di sekitar penumpang ini saat mereka memilah diri mereka sendiri, mengurangi risiko kemacetan di lorong yang memperlambat orang lain naik setelah mereka.

Menggambarkan temuan mereka di Ars Technica, sebuah situs web yang mencakup sains dan teknologi, para peneliti menjelaskan teknik tersebut dengan analogi pengemasan batu dan pasir ke dalam toples. Jika Anda mendapatkan batu terlebih dahulu, pasir dapat mengisi celah di sekitarnya dengan lebih mudah.

Simulasi komputer menunjukkan kebijakan paling lambat-pertama dapat memotong waktu naik hingga 28 persen dibandingkan dengan memberikan prioritas kepada penumpang yang bepergian lebih ringan atau tanpa tas. Setidaknya itu teorinya, yang didukung oleh beberapa matematika yang sangat canggih. Tetapi apakah ini akan berhasil dalam praktiknya?

(Tribunnews)

Para peneliti mengakui ada beberapa masalah praktis yang masih harus diselesaikan dan paling tidak menghentikan penumpang “bermain” sistem. Maskapai saat ini memberikan prioritas kepada mereka yang telah membayar hak istimewa, atau lambat karena mereka membutuhkan bantuan atau memiliki anak kecil.

Namun jika kebijakan baru ini memiliki dampak besar, penumpang yang “lebih lambat” akan termasuk mereka yang perlu menyimpan banyak barang bawaan. Itu, pada gilirannya, dapat mendorong penumpang untuk membawa barang bawaan sebanyak mungkin, dalam upaya untuk duduk lebih awal, sehingga meningkatkan penundaan.

Seperti kata pepatah, penelitian lebih lanjut jelas diperlukan dan sedang berlangsung. Bandara Gatwick di Inggris baru saja menyelesaikan studi selama dua bulan dari berbagai metode naik pesawat untuk mengetahui teori mana yang terbaik di dunia nyata. Salah satunya adalah penumpang dengan kursi jendela berjalan lebih dulu, diikuti oleh mereka yang duduk di tengah dan akhirnya lorong.

Itu lebih cepat daripada pendekatan “kursi blok” yang biasa, karena orang tidak mencoba untuk menyimpan bagasi dan duduk di area kecil yang sama, atau menunggu sementara mereka yang sudah duduk di kursi berlengan berdiri untuk membiarkan mereka masuk. Tetapi sementara lebih baik daripada pendekatan blok, metode ini juga memiliki masalah seperti orang yang memesan kursi tetangga tidak dapat naik bersama.

Hal ini memaksa pengecualian untuk dibuat misalnya, untuk keluarga dengan anak kecil bisa merusak perolehan kecepatan. Kemudian ada rahasia kecil kotor tentang naik ke dalam pesawat yakni maskapai ingin agar semua orang duduk dengan cepat tetapi mereka tidak ingin itu sepenuhnya bebas masalah.

Sebab mereka membuat keuntungan rapi dari skema tempat duduk prioritas, yang memungkinkan orang untuk melenggang di atas pesawat sambil menyeringai pada mereka yang terjebak di belakang para shopaholic. Meski begitu, uji coba Gatwick cenderung mengidentifikasi tweak kecil yang bisa membuat perbedaan signifikan.

Hasil dari studi tersebut dalam Teori Optimalisasi, cabang ilmu terapan yang dapat membantu membuat hidup sedikit lebih menjengkelkan. Setiap penumpang udara mendapat manfaat dari wawasannya dan langsung dari titik di mana mereka check in.

“Ketika segala sesuatunya tidak terlalu sibuk, kami mungkin memilih antrian di depan salah satu check out hanya untuk mengetahui kami terjebak di belakang pasangan dengan koper yang tampak cerdik dan tanpa paspor. Kami kemudian mengutuk keberuntungan kami, sambil menonton antrian di sebelah kami,” ujar tim fisikawan.

Pada waktu sibuk, Teori Optimasi datang menyelamatkan penumpang dengan sengaja merampok dari pilihan apa pun. Semua check in dilayani oleh satu baris, yang menjalin dengan cara ini dan itu di seluruh ruang pertemuan. Meskipun sering disambut dengan cemas, sistem antrian “satu-kanal multi-server” seperti itu secara matematis terbukti jauh lebih cepat dan tidak membuat frustrasi daripada membiarkan penumpang menebak check in mana yang akan melayani Anda terlebih dahulu.

Memiliki saluran pengumpan tunggal memastikan semua orang berakhir di mana pun check out baru saja mengalahkan semua tetangganya. Maskapai itu sendiri mengandalkan Teori Optimasi untuk menyelesaikan masalah yang benar-benar mengerikan di mana pesawat penjadwalan yang tergantung pada koneksi penumpang, transfer kru dan waktu istirahat dan pemeliharaan pesawat.

Dengan menggunakan algoritma dan komputer ultra-cepat, maskapai penerbangan menghitung jadwal optimal yang meminimalkan waktu henti dan memaksimalkan efisiensi. Tetapi bandara yang terikat kabut atau pesawat yang rusak dapat menuntut agar seluruh jadwal yang dioptimalkan untuk dihitung ulang dengan penundaan minimal.

Yang mengherankan, Delta Air Lines baru saja mengungkapkan bahwa pihaknya bekerja sama dengan IBM untuk menggunakan komputer kuantum untuk pengolah angka terbesar dalam “mengatasi tantangan di sepanjang hari perjalanan”. Itu kode untuk mengoptimalkan jadwal ketika tiba-tiba ada masalah.

Baca juga: Dear Maskapai, Mau Kejar OTP Tinggi? Perhatikan Pengaturan Masuknya Penumpang Ke Kabin!

Tapi ada satu masalah optimasi yang ingin diselesaikan semua wanita sekarang adalah menghilangkan antrian untuk loos. Sepintas sepertinya cukup mudah. Studi menunjukkan bahwa wanita membutuhkan waktu sekitar dua kali lebih lama daripada pria. Jadi jelas wanita harus mendapat dua kali lebih banyak bilik daripada pria. Sebuah kekhasan matematis berarti akan membutuhkan empat kali lebih banyak bilik untuk memberikan pengalaman antrian yang sama dengan laki-laki kepada perempuan yang sangat mahal.

Terdampak ‘Badai’ Corona, Inilah Serangkaian Strategi Singapore Airlines Group untuk Bertahan

Meluasnya wabah virus corona menimbulkan tantangan yang signifikan bagi Singapore Airlines (SIA) Group. Permintaan layanan penerbangan ke Cina Daratan sangat terpengaruh. Maskapai induk (Singapore Airlines) dan SilkAir secara drastis melakukan pengurangan frekuensi penerbangan pada semua rute ke Cina Daratan selama bulan
Februari dan Maret 2020, sementara Scoot telah menangguhkan semua layanan penerbangan ke Cina Daratan hingga 28 Maret 2020.

Baca juga: Diterjang Corona dan ‘Ditinggalkan’ Pelancong Asal Cina, Sektor Pariwisata Singapura Mulai Goyang

Di tengah kondisi lingkungan yang menantang tersebut, SIA Group akan terus bersikap proaktif dan sigap dalam melakukan penyesuaian jaringan penerbangan yang tepat dan mengelola biaya secara ketat.

Memastikan keselamatan dan kesehatan para penumpang dan staf merupakan prioritas utama. SIA telah membentuk gugus tugas yang berkompeten untuk memonitor situasi virus corona secara teliti dan segera melakukan tindakan untuk meminimalkan risiko terhadap penumpang dan staf. “Sebagai contoh, kami telah meningkatkan kegiatan pembersihan dan disinfeksi kabin pesawat kami, memodifikasi layanan penerbangan kami guna meningkatkan keselamatan para penumpang dan awak, serta menghentikan transit untuk penerbangan ke Cina,” ujar juru bicara SIA Group dalam siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com pada 17 Februari 2020.

Volatilitas harga bahan bakar kemungkinan akan berlanjut, mengingat ketegangan geopolitik saat ini serta ketidakpastian pada sisi permintaan di pasar minyak
global. Namun, kebijakan lindung nilai oleh Grup memberikan stabilitas pada biaya bahan bakar bersih. Pada kuartal keempat, Grup telah melakukan lindung nilai sebesar 79 persen dari kebutuhan bahan bakarnya di MOPS dengan harga rata-rata tertimbang USD76.

Program transformasi telah memperkuat kemampuan Grup untuk menghasilkan pendapatan dan mendorong efisiensi operasional serta mempertahankan standar layanan yang tinggi. Bersamaan dengan likuiditas kami yang kuat, hal ini menjadikan Grup SIA dapat bertahan dalam menghadapi tantangan saat ini.

Pada saat bersamaan, SIA Group juga akan terus melakukan beberapa inisiatif strategis yang saat ini sedang berlangsung, termasuk integrasi Perusahaan Maskapai
Induk dan SilkAir, melanjutkan pertumbuhan Scoot sebagai maskapai berbiaya rendah, berinvestasi di joint-venture dengan India; Vistara, serta mengembangkan sumber-sumber pendapatan baru seperti KrisShop. Inisiatif-inisiatif ini akan semakin memperkuat fondasi untuk pertumbuhan dan kesuksesan SIA Group di masa depan.

Pihak SIA Group menyebut, mengoperasikan bisnis secara berkelanjutan selalu menjadi prioritas. “Kami telah banyak melakukan investasi pada armada pesawat berusia muda yang hemat bahan bakar, serta terus-menerus mencari cara untuk lebih meningkatkan efisiensi dengan mengoptimalkan rute penerbangan, mengurangi bobot pesawat, dan meningkatkan analisis data untuk mengoptimalkan peningkatan bahan bakar. Kami telah meluncurkan langkah-langkah untuk mengurangi jumlah plastik sekali pakai dan mengurangi limbah baik di dalam pesawat maupun berbagai fasilitas kami,” ujar juru bicara SIA Group.

Baca juga: Pemerintah Dorong Pemberian Insentif kepada Maskapai Akibat Virus Corona, Pertanda Industri Penerbangan Lampu Kuning?

Langkah-langkah tersebut telah dilakukan untuk meningkatkan penggunaan energi yang dapat diperbaharui dan menurunkan konsumsi listrik. Kami akan terus mengejar berbagai peluang dan memulai inisiatif-inisiatif yang akan membantu Group SIA mengurangi jejak karbon secara keseluruhan.

Penggantian Wesel Stasiun Gambir Selesai Lebih Awal, Perjalanan KRL Normal Mulai 17 Februari Pukul 15.00 WIB

PT KAI Daop 1 Jakarta mulai melakukan proses revitalisasi Penggantian Wesel 11A dan 21A di Stasiun Gambir sejak Kamis 13 Februari 2020, semula pengerjaan penggantian wesel Gambir yang berdampak pada perjalanan KRL dan PT KAI Daop 1 perlu melakukan rekayasa pola operasi tersebut akan berlangsung selama 7 hari dengan target penyelesaian pada 19 Februari 2020. Dalam pelaksanaannya Daop 1 Jakarta, melalui percepatan pada proses tahapan pekerjaan, saat ini Daop 1 Jakarta telah menyelesaikan sebagian besar tahapan pekerjaan yang berdampak pada pola operasi KRL.

Baca juga: Wesel Kereta Bukanlah Wesel Pos untuk Kirim Uang

Melihat tahapan proses pengerjaan lebih awal dari yang ditargetkan, maka PT KAI Daop 1 Jakarta berkordinasi dengan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) akan menormalkan kembali perjalanan kereta rel listrik (KRL). Terhitung pada hari ini, Senin (17/2) mulai pukul 15.00 WIB, PT KAI Daop 1 Jakarta kembali memberlakukan pola operasi normal tanpa rekayasa operasi pada lintas Stasiun Manggarai – Jakarta Kota. Dengan kebijakan tersebut maka semua perjalanan KA dari Cikarang/Bekasi dan Bogor dapat beroperasi normal menuju Jakarta Kota dan sebaliknya sesuai relasi.

Sebagaimana informasi sebelumnya, bahwa dari 281 perjalanan KRL lintas Stasiun Manggarai – Jakarta Kota, 45 diantaranya mengalami rekayasa pola operasi atau hanya sampai Stasiun Manggarai sementara proses pekerjaan penggantian wesel di Gambir dan Jakarta Kota dilakukan selama 11 hari.

“Saat ini proses penggantian wesel Gambir telah mencapai tahap akhir, namun rekayasa pola operasi KRL lintas Stasiun Manggarai – Jakarta Kota sudah tidak diberlakukan meskipun jalur di Stasiun Gambir masih terdapat pengerjaan wesel menyilang. Tahapan pekerjaan akhir di Gambir akan kami upayakan tidak berdampak pada operasional KA. PT KAI Daop 1 Jakarta menyampaikan permohonan maaf atas perjalanan KA yang sempat terdampak sekitar 4 hari kemarin. Tentunya kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pengguna jasa yang telah mendukung pekerjaan revitalisasi prasarana wesel di Stasiun Gambir dan Jakarta Kota tersebut melalui penyesuaian aktifitas masyarakat menggunakan jasa kereta selama pekerjaan berlangsung,”jelas Executive Vice President Daop 1 Jakarta, Dadan Rudiansyah dalam siaran pers.

Saat ini proses pengerjaan wesel di Stasiun Gambir memasuki proses pemasangan wesel baru tambahan untuk menyilang, yakni wesel 11A1 dan 21A1. Pemasangan akan dikerjakan pada malam hari dalam kurun waktu window time atau waktu perawatan sebelum KA beroperasi agar tidak berdampak pada perjalanan KA.

Selanjutnya, sejalan proses pengerjaan tahap akhir penggantian wesel Gambir, Daop 1 Jakarta secara bertahap juga memulai pengerjaan penggantian 4 wesel di Jakarta Kota yang ditargetkan akan selesai pada tanggal 23 Februari 2020.

Pada proses penggantian wesel Jakarta Kota, rekayasa pola operasi juga akan diberlakukan selama satu hari yakni pada Sabtu 22 Februari 2020. Pada tanggal tersebut pekerjaan akan berdampak pada 56 nomor KA, diantaranya sebanyak 34 KA akan dilakukan rekayasa operasi dan 22 KA akan dibatalkan perjalanannya.

Baca juga: Ternyata Ada Beragam Jenis Bantalan Rel, Indonesia Pakai Yang Mana?

Revitalisasi berupa penggantian wesel di Stasiun Gambir dan Jakarta Kota bertujuan untuk meningkatkan faktor keselamatan dan keamanan perjalanan KA. Selain itu, revitalisasi wesel juga dapat menjadi alternatif solusi pada pengaturan perjalanan KA, apabila dalam kondisi tertentu terjadi kendala di jalur layang maka pelayanan perka dapat lebih terakomodir melalui fleksibilitas pergantian jalur menggunakan wesel baru.

Inilah GermFalcon, Robot Pembasmi Virus Corona di Kabin Pesawat dengan Teknologi UV

Selain mengkarantina penumpang, pesawat yang telah mengangkut terduga maupun suspect virus corona, atau sehabis menjalani penerbangan Cina, juga harus melewati masa ‘karantina’. Hal itu tentu sedikit banyaknya merugikan pihak maskapai dikarenakan operasional yang terganggu akibat berkurangnya armada pesawat. Namun, hal tersebut mungkin tak akan terjadi lagi.

Baca juga: Tak Khawatir Penumpang Hindari Pesawat Bekas Bawa WNI dari Wuhan, Batik Air: Prosedur Sterilisasi Telah Dijalankan

Seperti dikutip KabarPenumpang.com dari laman inflight-online.com, Senin, (17/2), belum lama ini, perusahaan asal AS, Dimer UVC Innovations, meluncurkan produk terbarunya yang dinamakan GermFalcon, robot pembunuh virus corona dan kuman serta bakteri lainnya tak kasat mata di pesawat.

Robot tersebut diklaim dapat memudahkan maskapai dalam membersihkan pesawat agar terbebas dari segala macam bakteri yang mengendap di lantai, kursi, serta sudut-sudut lainnya. Saat ini, robot pembasmi tersebut sudah tersebar di beberapa bandara di AS. Menariknya lagi, perusahaan memberikan layanan robot tersebut secara gratis selama fase tanggap darurat virus corona.

GermFalcon kurang lebih terlihat seperti troli makan yang biasa digunakan dalam penerbangan komersial. Bedanya, GermFalcon dilengkapi dengan semacam sayap yang melebar ke sisi kanan dan kiri pesawat. Alat tersebut kemudian memancarkan sinar UV (UltraViolet)-C yang bisa mensterilkan ruang sekitar.

Sinar UVC sendiri umumnya digunakan untuk mendesinfeksi udara, air, dan permukaan di fasilitas kesehatan. Sejauh ini, teknologi tersebut telah terbukti aman dan sangat efektif dalam menghilangkan kuman yang menyebabkan penyakit menular. GermFalcon adalah sistem UVC pertama yang dirancang khusus untuk mendisinfeksi permukaan interior pesawat antar penerbangan dengan cepat.

Dalam video tutorialnya, Dimer UVC Innovations mengklaim bahwa GermFalcon dapat menjangkau sejauh 30 baris kursi di pesawat dalam waktu hanya tiga menit. Di samping itu, tingkat efektivitasnya juga hampir menyentuh angka sempurna, membasmi 99,99 persen bakteri dan virus apapun, termasuk virus corona, Ebola, SARS, MERC, EColi, MRSA, dan virus serta bakteri jahat lainnya.

Selain itu, alat tersebut juga tergolong mudah digunakan, cukup dengan mendorong robot tersebut di sepanjang lorong dan menariknya kembali ke titik semula, pesawat pun akan kembali aman untuk digunakan. Kemudian, berbeda dengan High Efficiency Particulate Arresting (HEPA) Cabin Air Filter yang tertanam pada sistem filter udara di pesawat, GermFalcon dapat digunakan secara portable, sehingga memungkinkan dioperasikan di pesawat-pesawat lainnya yang tak dilengkapi teknologi HEPA.

Baca juga: HEPA, Teknologi yang Mampu Bersihkan Radioaktif hingga Virus Corona di Dalam Kabin Pesawat

“Ancaman virus corona yang menginfeksi penumpang yang tidak bersalah di pesawat adalah salah satu yang harus kita segera singkirkan,” kata Co-Founder Dimer, Elliot Kreitenberg.

“Ini adalah virus berbahaya yang telah merenggut nyawa. GermFalcon adalah respons yang cepat dan efektif untuk ancaman ini, dan kami senang untuk menawarkannya tanpa biaya untuk berkontribusi pada upaya tanggap darurat di Bandara Los Angeles (LAX), San Francisco (SFO), dan Jhon F. Kennedy (JFK) selama krisis ini,” tambahnya.

Tempuh Jalur 6 Km, Pekerjaaan Konstruksi MRT Jakarta Fase 2A Dimulai Maret 2020

Sebagai bentuk kelanjutan pembangunan Fase Utara Selatan MRT Jakarta, hari ini (17/2) bertempat di Stasiun Bundaran HI, PT MRT Jakarta yang diwakili oleh Direktur Konstruksi Silvia Halim dan Shimizu-Adhi Karya Joint Venture yang diwakili Yutaka Okumura melaksanakan penandatanganan Paket Kontrak antara PT MRT Jakarta (dan Shimizu-Adhi Karya JV (SAJV) terkait Design and Build Underground Section MRT Jakarta Project Phase 2 Contract Package 201.

Baca juga: Capaian Melebihi Ekspektasi 2019, MRT Jakarta Akan Mulai Fase 2

Fase 2A dimulai dari Stasiun Bundaran HI hingga Stasiun Kota dengan total panjang jalur 6 kilometer dan terdiri dari 7 stasiun bawah tanah yaitu Stasiun Thamrin, Stasiun Monas, Stasiun Harmoni, Stasiun Sawah Besar, Stasiun Mangga Besar, Stasiun Glodok, dan Stasiun Kota.

Pembangunan fase 2A dibagi ke dalam 3 paket kontrak sipil, terdiri dari paket kontrak CP 201, CP 202 dan CP 203. Periode konstruksi Fase 2A akan dimulai pada Maret 2020 dan direncanakan selesai pada Desember 2024.

Penandatangan kontrak pekerjaan CP 201 antara PT MRT Jakarta dengan Shimizu – Adhi Karya JV (SAJV) menandai dimulainya pekerjaan proyek pembangunan Fase 2A. Dalam kontrak tersebut terdapat dua pekerjaan stasiun bawah tanah yaitu Stasiun Thamrin dan Stasiun Monas. Paket pekerjaan CP 201 akan membangun terowongan dan stasiun yang memiliki jalur sepanjang 2,8 Km untuk menghubungkan Stasiun Bundaran HI dan Stasiun Harmoni.

“Mengingat lokasi proyek yang berada di area ring 1, PT MRT Jakarta selalu mengedepankan keamanan untuk masyarakat khususnya warga Jakarta. Sehubungan dengan hal tersebut PT MRT Jakarta akan menggunakan sistem perencanaan pembangunan dengan sistem pengamanan tinggi khususnya pada saat pengerjaan konstruksi Stasiun Thamrin dan Stasiun Monas,” jelas William P Sabandar.

Baca juga: Fase II MRT Jakarta Diprediksi Selesai Tahun 2024

Selanjutnya PT MRT Jakarta akan melakukan integrasi pembangunan Fase 2B atau yang disebut sebagai Jalur Utara-Selatan dan akan dilanjutkan dengan pembangunan Jalur Timur-Barat. Daerah Kota akan menjadi titik awal dibangunnya Fase 2B dengan titik pemberhentian di Ancol Barat. Fase 2B ini diperkirakan memiliki jalur sepanjang 5,8 Km yang terdiri dari 3 (tiga) stasiun, yaitu Stasiun Mangga Dua, Stasiun Ancol, dan Stasiun Ancol Barat dengan estimasi pengerjaannya akan mulai dibangun pada pertengahan 2022 dan beroperasi pada 2027.