Setelah Dua Insiden, EASA Keluarkan Aturan Bebas Cairan di Dalam Kokpit Airbus A350

Menyusul dua insiden yang menyebabkan matinya mesin pada pesawat Asiana Airlines dan Delta Airlines, Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA) akhirnya mengeluarkan aturan bebas cairan di dalam kokpit pesawat Airbus A350.

Baca juga: Dear, Pilot! Airbus A350-1000 Berhasil Lepas Landas Otomatis, Loh!

Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, arahan EASA berlaku untuk pesawat A350-900 dan A350-1000. Menurut Flight Global, cairan yang tumpah di panel start engine atau panel monitor elektronik pesawat berpotensi menyebabkan mesin pesawat mati.

Insiden pertama yang melibatkan maskapai Asiana Airlines terjadi pada 9 November 2019. Kala itu, maskapai yang menggunakan pesawat A350-900 itu, tiba-tiba mesin pesawat sebelah kanannya mati. Sekalipun coba di-restart, mesin Rolls-Royce Trent XWB tetap tidak berfungsi. Setelah ditelusuri, ternyata, matinya mesin pesawat akibat tumpahan yang terjadi pada center pedestal atau biasa juga disebut control pedestal instrument panel (biasanya terletak di antara tempat duduk pilot dan co-pilot).

Posisi center pedestal berada di antara pilot dan co-pilot. Foto: Istimewa

Insiden berikutnya terjadi belum lama ini, tepatnya pada 21 Januari 2020. Saat itu, Delta Air Lines A350-900 rute Detroit – Seoul juga mengalami hal serupa (mesin mendadak mati). Sama halnya dengan insiden pada Asiana, insiden pada Delta Airlines juga disebabkan oleh tumpahnya cairan ke center pedestal yang menjadi salah satu instrumen terpenting di dalam kokpit. Beruntung, pada kedua insiden tersebut, pesawat berhasil mendarat selamat.

Setelah kedua insiden tersebut, analisis perekam data penerbangan mengungkapkan bahwa kontrol mesin elektronik memerintahkan untuk menutup katup penutup bertekanan tinggi (mesin) setelah mencatat adanya data yang tidak konsisten dari panel kontrol terintegrasi atau integrated control panel.

Pertanyaan kemudian muncul, mengapa tidak dibuat instrument anti cairan atau instrument anti tumpahan saja? Menurut Captain Pilot Airbus A330-A350 Qatar Airways, sebetulnya, tanpa ada embel-embel alasan apapun, bisa saja dibuat instrument anti tumpahan. Namun, bila melihat beberapa pertimbangan, seperti bobot, biaya, dan komplikasi, hal itu masih sulit diterapkan.

Selain itu, ia juga menyoroti bahwa sebetulnya dengan aturan main yang ada seharusnya sudah bisa menghindari terjadinya insiden itu. Hanya saja, karena aturan dilanggar, seperti tidak boleh ada minuman di atas atau di dekat center pedestal, entah sengaja atau tidak, insiden pun terjadi.

Padahal, dalam catatannya, dari database ASRS dan safety reporting NASA, insiden seperti itu rupanya sudah lumrah terjadi dan tidak hanya menimpa Airbus A350 dan kedua maskapai di atas. Meski demikian, lagi-lagi, ketidakdisiplinan kru kokpit ataupun kru kabin membuat insiden tersebut terus beulang hingga kini.

Sebetulnya, dahulu, saat sistem kontrol masih berupa mekanik atau manual, tumpahan apapun tak akan membuat masalah. Saat ini, pada sistem terkomputerisasi pada pesawat, tumpahan sekecil apapun memang akan menjadi masalah.

Baca juga: Pilot Ketumpahan Kopi, A330 Condor Airlines Terpaksa Return to Base!Pilot Ketumpahan Kopi, A330 Condor Airlines Terpaksa Return to Base!

Sebetulnya, tanpa adanya larangan dari EASA pun, secara teknis, pilot dan co-pilot sudah dilatih untuk tidak makan dan minum di dekat center pedestal. Hal itu untuk menghindari insiden tumpahan apapun ke center pedestal karena akan berakibat fatal. Sebagai gantinya, makan dan minum di kokpit sedikit diberi kelonggaran jika dilakukan di dekat jendela.

Selain itu, di beberapa maskapai, untuk menghindari adanya tumpahan, mekanisme membuat minuman pun sampai diatur, tidak lebih dari ½ ataupun 3/4. Saat mengantarkan ke dalam kokpit pun, pramugari tidak boleh meletakan langsung ke dekat center pedestal, melainkan harus menyusuri sisi kokpit dan meletakannya di dekat jendela.

Gara-Gara Diet Keto, Awak Kabin American Airlines Dipecat Setelah Tes Breathalyzer Alkohol

Seorang awak kabin American Airlines harus dipecat karena gagal tes breathalyzer untuk alkohol. Dia mengklaim bahwa diet ketogeniknya bertanggung jawab atas kesalahan yang membuatnya positif alkohol tersebut.

Baca juga: Kopilot Kedapatan Konsumsi Alkohol, Japan Airlines Terkena Delay 69 Menit

Andre Riley awak kabin yang dipecat itu telah bekerja di American Airlines sejak 2012 lalu dan diberhentikan pada 2019 karena tidak lulus tes breathalyzer setelah penerbangan dari Las Vegas menuju ke Charlotte.

“Saya tidak minum dan hanya mengubah diet saya,” klaim Riley yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman foxnews.com (18/2/2020).

Riley mengatakan dirinya tidak ingin dihukum dan mendapat konsekuensi atas perbuatan yang tidak dilakukannya. Menurutnya hal itu sama saja mengakui sebuah kejahatan dan masuk penjara meski tidak melakukannya.

Pengacara Riley, Charles Adkins mengklaim bahwa kliennya itu diminta untuk melakukan tes breathalyzer secara acak setelah penerbangan dari Las Vegas ke Charlotte. Adkins mengatakan, Riley meniup 0,0050 dan 0,0052 dan bahkan teman-teman kliennya mengatakan tidak pernah mencium bau atau perilaku mabuk dari Riley selama penerbangan empat jam sebelumnya.

Bahkan kegagalan Riley ini bukanlah yang pertama kali, sebab pada tes tahun 2013 lalu juga dirinya gagal. Bila dalam aturan Departemen Transportasi (DOT), dua tes gagal berarti disfikualifikasi permanen.

Tes tersebut dilakukan karena pilot ataupun awak kabin lainnya tidak diizinkan minum alkohol dalam waktu delapan jam penerbangan dan kadar alkohol dalam darah maksimum hanya 0,04. Diketahui, diet keto merupakan diet rendah karbohidrat dan tinggi lemak yang dapat membantu membakar lemak lebih efektif tetapi dapat menyebabkan toleransi alkohol yang lebih rendah.

Sehingga ketika tubuh tengah mengalami ketosis metabolik, hati akan memecah lemak menjadi bahan bakar dan pada gilirannya aseton diproduksi sebagai sampingan. Beberapa aseton yang tidak diingankan tersebut kemudian dapat dilepaskan dalam nafas sebagai alkohol isopropil.

Hal ini yang membuat Riley terdeteksi mengosumsi alkohol karena beberapa breathalyzer tidak bisa membedakan antara etanol dan isopropil. Karena adanya masalah pada breathalyzer membuat Riley khawatir akan terjadi hal yang sama pada awak kabin lainnya ketika mereka menjalani ketogenik kecuali maskapai mengubah alat mereka menjadi lebih modern.

Baca juga: Disangka di Bawah Pengaruh Minuman Keras, Awak Kabin EasyJet Dibui

“Aku ingin mereka menggunakan tes yang lebih akurat jika seseorang memberimu alasan mengapa ini bisa terjadi,” katanya.

Riley mengatakan, saat ini dirinya mengajukan banding dengan American Airlines dan DOT agar bisa kembali mendapatkan pekerjaannnya tersebut. Diketahui, American Airlines menolak berkomentar atas kasus ini.

Operasional Terganggu Akibat Virus Corona, Ini Strategi Maskapai Dunia Maksimalkan Pesawat Widebody

Kasus virus corona telah memaksa maskapai-maskapai dari seluruh dunia untuk membatalkan seluruh penerbangan dari dan ke Cina Daratan selama berminggu-minggu lamanya. Hal itu tentu akan mempengaruhi perjalanan internasional sebuah negara. Di Taiwan, misalnya, perjalanan internasional tercatat turun hampir 90 persen. Di beberapa negara lainnya diprediksi juga mengalami hal serupa, sekalipun tidak separah Taiwan.

Baca juga: Musibah Virus Corona Justru Selamatkan Boeing 787 dan Rolls-Royce

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com, Kamis, (20/2), pembatalan rute dari dan ke Cina memang menyisakan sejumlah permasalahan, salah satunya armada widebody maskapai. Terlebih, armada widebody dari maskapai yang biasa melayani penerbangan dari dan ke Cina, seperti United Airlines, American Airlines, Delta Air Lines, dan Air Canada.

United Airlines, dalam menyikapi penutupan rute dari dan ke Cina, coba memaksimalkan 19 armada widebody mereka (yang biasa beroperasi pada rute-rute Cina) untuk terjun langsung ke rute-rute pendek domestik di AS. Pada rute pendek tersebut, biasanya United Airlines menggunakan Boeing 737.

Dengan beroperasinya armada widebody United Airlines, yakni mayoritas Boeing 777-300ER dan Boeing 787, pada rute-rute pendek, maka kemungkinan besar maskapai akan menurunkan harga demi mencapai okupansi tinggi, sehingga bila dihitung secara bisnis, hal tersebut akan jauh lebih menguntungkan.

Sebaliknya, jika okupansi rendah, maka akan sangat merugikan maskapai, mengingat biaya operasional armada widebody jauh lebih besar ketimbang armada narrowbody. Skema bisnis seperti ini juga bukanlah barang baru. Pada tahun 1927, maskapai legendaris, Pan American (Pan Am), juga pernah melakukan strategi bisnis seperti itu dan berhasil mencapai profit luar biasa.

Senada dengan United Airlines, maskapai terbesar lainnya di AS, American Airlines juga akan memaksimalkan armada widebody-nya untuk menggeser armada narrowbody. Bedanya, bila United mengoperasikan armada widebody-nya pada rute-rute domestik di AS, American Airlines akan mengoperasikan Boeing 787 dan 777-300ER widebody miliknya pada rute internasional, seperti Dallas ke Meksiko dan Eropa.

Baca juga: Dampak Virus Corona, Tiap Hari Bandara Changi Kehilangan 20 Ribu Pelancong

Menurut sebagian pengamat, strategi American Airlines tersebut dinilai kurang begitu berdampak bila dibandingkan United Airlines. Pasalnya, frekuensi rute-rute internasional tidak sebanyak rute-rute domestik. Di samping itu, di tengah kondisi ekonomi yang masih stagnan akibat konflik, perang dagang, dan virus corona, perjalanan internasional (bukan hanya ke Cina) juga diprediksi akan mengalami penurunan.

Adapun Delta Airlines dan Air Canada, keduanya juga melakukan sejumlah perubahan opersional armada widebody-nya untuk rute-rute internasional ke Eropa. Namun, lagi-lagi, hal tersebut juga dinilai tak akan terlalu meyelamatkan perusahaan dari kemungkinan profit lost yang besar mengingat kondisi perekonomian global yang sedang tak menentu hingga mendorong para pelancong menunda perjalanan internasional mereka.

Dengan kasus di atas, besar kemungkinan Garuda Indonesia juga akan mengambil strategi serupa, yakni dengan mengoperasikan armada widebody seperti Airbus A330 untuk rute-rute pendek, mengingat Garuda Indonesia juga kehilangan rute-rute gemuk ke Cina Daratan yang selama ini dilayani armada widebody.

Masalah Lagi! Boeing Temukan Serpihan di Tangki Bahan Bakar 737 MAX

Pimpinan Federal Aviation Administration (FAA) belum lama ini mengatakan bahwa dalam waktu dekat Boeing 737 MAX akan segera melakukan uji terbang. Bila lulus, 737 MAX akan mulai kembali mengudara pada pertengahan tahun ini, dimana sekitar 400 pesawat “nganggur” telah menunggu dikirim ke maskapai. Namun, sepertinya rencana tersebut gagal total, menyusul temuan masalah baru, yakni adanya serpihan pada tangki bahan bakar 737 MAX.

Baca juga: Boeing Kembali Temukan Masalah Baru pada Software, 737 MAX Gagal Terbang (Lagi)

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman edition.cnn.com, Kamis, (20/2), Boeing menyatakan menemukan “Serpihan Obyek Asing” (Foreign Object Debris – FOD) yang tertinggal di dalam tangki bahan bakar yang berada di sayap pada beberapa 737 Max yang belum dikirim ke pembelinya.

Serpihan Obyek Asing (FOD) adalah istilah teknis untuk serpihan atau benda-benda yang bukan merupakan bagian dari pesawat yang menutupi permukaan dan berpotensi menimbulkan kerusakan.

Dalam sebuah catatan dari Wakil Presiden dan Manajer Umum Program 737 dan Pabrik Renton, Washington, Mark Jenks, kepada karyawan, perusahaan berpesan bahwa serpihan benda asing tersebut benar-benar tidak dapat diterima. Sebab, temuan serpihan benda asing dalam tangki bahan bakar itu dinilai terlalu banyak. Oleh karenanya, perusahaan meminta untuk segera menyelesaikan masalah itu dengan se-teliti mungkin.

Dengan adanya masalah baru pada 737 MAX ini, Boeing mengatakan akan mengatasi masalah dengan memperbarui mekanisme dan daftar periksa yang diperlukan untuk karyawan, bersama dengan verifikasi tambahan termasuk inspeksi dan audit.

Meskipun temuan serpihan di dalam tangki bahan bakar 737 MAX tersebut cukup mengkhawatirkan, namun, Boeing, melalui juru bicaranya, mengatakan perusahan tidak melihat adanya masalah yang menghalangi pesawat jet ini untuk kembali terbang melayani penumpang pada pertengahan tahun ini, sebagaimana yang sudah disebutkan di awal.

Mendengar kabar mengenai temuan serpihan di dalam tangki bahan bakar 737 MAX, FAA mengaku akan terus mengikuti perkembangan dari temuan tersebut, di samping akan meningkatkan pengawasan berdasarkan laporan inspeksi awal dan akan mengambil tindakan lebih jauh, tergantung pada temuan. Otoritas Penerbangan Sipil AS tersebut justru memaklumi bahwa temuan serpihan di dalam tangki itu menjadi pertanda bahwa Boeing serius untuk memperbaiki kualitas 737 MAX-nya.

Baca juga: Meski Boeing Keok, Airbus Belum Bisa Salip Boeing dalam Urusan Produksi Pesawat

Bila dirunut ke belakang, temuan serpihan atau benda asing di dalam tangki pesawat-pesawat Boeing sendiri bukanlah yang pertama. Sebelum terjadi pada Boeing 737 MAX, temuan serpihan benda asing di dalam tangki juga pernah terjadi pada pesawat tanker KC-46 Pegasus, Boeing 727 pada 1965, dan pada 2010 lalu juga ditemukan pada pesawat 787 Dreamliners.

Dalam keterangannya kala itu, Boeing mengaku, bahwa keberadaan serpihan di dalam tangki bahan bakar tersebut bisa saja berdampak fatal, seperti korsleting listrik hingga menyebabkan kebakaran. Atas dasar itu, kemudian Boeing melakukan beberapa perubahan ada 787 Dreamliners. Dari peristiwa tersebut, cukup aneh bila Boeing mengatakan permasalahan temuan serpihan atau benda asing di dalam tangki pesawat 737 MAX tidak akan menunda kembalinya MAX terlalu lama.

Geram Gegara Sering ‘Berantakan,’ Pramugara AirAsia Berbagi Tips Cara Gunakan Toilet di Pesawat

Bagi sebagian orang, pesawat bisa saja menjadi sarang virus karena mengangkut ribuan orang dari dan ke berbagai kota atau negara, meskipun hal tersebut tak sepenuhnya benar karena pesawat memiliki sistem udara canggih seperti High Efficiency Particulate Arresting (HEPA) Cabin Air Filter. Meski demikian, menjaga kebersihan tetap menjadi salah satu hal terpenting untuk mencegah pesawat menjadi sarang virus, sebagaimana yang dikhawatirkan orang banyak; khususnya kebersihan di toilet.

Baca juga: Punya Budaya Kebersihan yang Kuat, ANA Sabet Predikat Maskapai dengan Kabin Terbersih

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman asiaone.com, Rabu, (19/2), baru-baru ini, seorang pramugara AirAsia, Amir, coba berbagi tips tentang cara menggunakan toilet pesawat dengan benar lewat platform Instagram storiesnya miliknya di @amirchewill. Belum jelas apa yang mendasarinya berbagi tips mengenai hal tersebut. Namun, bila dilihat dari caption-caption di postingannya, ia tampak terlihat tengah geram dengan perilaku oknum penumpang dalam penerbangannya.

Banyak hal yang disorotinya, mulai dari memperkenalkan fasilitas dasar di toilet, seperti tisu, cara menggunakan WC, changing table, wastafel, membuang tisu dengan benar, hingga tombol panggilan jika terjadi keadaan darurat.

1. Gunakan Tisu untuk Menekan Tutup Tempat Sampah

Tips dari Amir. Foto: Instagram via Asia One

Tak bisa dipungkiri tempat sampah bisa menjadi media penyebaran kuman yang paling besar di dalam pesawat. Untuk menghindarinya, para penumpang bisa menggunakan tisu sebelum mendorong tutup tempat sampah supaya tidak bersentuhan langsung dengan tangan. Jangan lupa gunakan pula sanitiser khusus tangan untuk menambah kebersihan setelah menggunakan toilet.

Di samping itu, jangan sesekali memulai untuk melakukan hal-hal yang tak baik, seperti membuat toilet, dalam hal ini tempat sampah, menjadi berantakan. Sebab, jika hal itu terjadi, maka, penumpang lainnya akan mengikuti perilaku buruk tersebut, ketimbang membersihkan dan menyulapnya menjadi seperti semula, seperti apa yang ditunjukkan Amir dalam laman Instagram Story-nya. Sangat berantakan.

2. Gunakan Tisu Toilet untuk Menekan Tombol Flush

Saran dari Amir untuk menggunakan tisu sebelum menekan flush. Foto: Instagram via Asia One

Pegangan pintu, flush, dan kran air bisa menjadi sarana penyebaran kuman dan virus di dalam pesawat. Jika Anda tak ingin tangan menjadi kotor, maka membilas dan membungkus jari tangan menggunakan tisu toilet untuk mematikan kran air atau menekan flush toilet bisa menjadi solusi paling efektif.

Amir mengatakan para orang tua yang membawa bayi juga kerap meletakan popok bekas pipis maupun buang air besar milik bayi di meja wastafel pesawat yang nantinya bisa menjadi risiko penularan penyakit dan bakteri. Ia kemudian mengimbau ke para orang tua untuk membungkus bekas popok kotor menggunakan kantong plastik sebelum membuangnya ke tempat sampah untuk menghindari bau pada toilet.

Baca juga: Untuk Pesawat Narrow Body, ST Engineering Tawarkan Desain Toilet Baru yang Lebih Besar dan Nyaman

3. Jangan Sungkan Meminta Cangkir Air untuk Membilas kepada Awak Kabin

Tips terakhir dari Amir soal BAB. Foto: Instagram via Asia One

Beberapa orang kerap kurang merasa nyaman apabila tidak membersihkan bagian bokong dengan air usai buang air besar. Oleh karenanya, jangan ragu untuk meminta cangkir air ke awak kabin untuk membasuh bagian tersebut. Cara lain, mungkin Anda bisa membasahi tisu toilet sebelum membasuhnya agar lebih bersih. Apabila toilet pesawat terasa bau, Anda juga tak perlu sungkan untuk meminta penyegar ruangan kepada awak kabin.

Namun, pada bagian ini, Amir menyarankan, bila sanggup menahan BAB, bahkan hingga lima jam perjalanan, lebih baik menyelesaikannya nanti saat di bandara. Hal itu dinilai jauh lebih baik ketimbang harus BAB di pesawat, agar senantiasa tercipta kenyamanan bersama.

Project Vektor, Mobil Otonom untuk Kota Pintar Buatan Jaguar Land Rover

Jaguar Land Rover (JAL) belum lama ini telah memperkenalkan kendaraan mobilitas perkotaan bertenaga listrik yang disebut “Project Vector”. Sekilas, kendaraan buatan perusahaan otomotif asal Inggris tersebut tampak lebih mirip airport shuttle train car atau shuttle train bandara dengan dimensi yang lebih rendah ketimbang terlihat seperti mobil pada umumnya.

Baca juga: Jamin Keselamatan Pejalan Kaki, Jaguar Land Rover Uji Sensor Indikator di Moda Otonom

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman techcrunch.com, Rabu, (19/2), desain mobil aneh tersebut justru dinilai sebagai tampilan yang sedang dan semakin populer di kalangan pembuat mobil. Hal itu dikarenakan, di masa depan, mobilitas otonom, baik pribadi maupun bersama akan memainkan peran besar. Hal tersebut (model kendaraan persegi panjang dan agak sedikit lebih pendek) saat ini sebetulnya sudah dimulai, dengan diluncurkannya, Cruise (Januari lalu), sebuah taksi otonom yang berbentuk persegi panjang.

Tampilan mobil otonom JAR saat tertutup. Foto: Techcrunch

Secara eksternal, konsep Vector JLR terlihat sangat mirip (Cruise), dengan ujung depan dan belakang yang dapat menjadi akses keluar masuk satu sama lain, serta pintu geser yang dapat terbuka dari tengah sehingga memungkinkan tercapainya jumlah ruang maksimum. Di samping itu, lantainya juga lebih rendah dan dekat ke permukaan tanah untuk mengakomodasi penumpang, baik saat memasukan atau mengeluarkan barang ataupun hendak turun seorang diri.

Namun, tidak seperti desain Cruise yang beroperasi secara otonom atau tanpa pengemudi sehingga seat depan sepenuhnya diisi penumpang, mobil listrik otonom Jaguar Land Rover masih memiliki fitur layaknya mobil pada umumnya, seperti kursi menghadap ke depan dan setir untuk kontrol manusia. Kemudian, interiornya juga diatur sedemikian rupa yang menawarkan fleksibilitas untuk mengakomodasi pengiriman barang, transportasi penumpang, serta konfigurasi yang tepat ketika penggunaan otonom.

Di luar konsep eksterior, secara garis besar, Project Vector akan berperan untuk mencapai visi Zero Destination, yakni dorongan untuk terciptanya masa depan nol emisi, nol kecelakaan dan nol kemacetan. Kendaraan tersebut merupakan platform siap-otonom untuk infrastruktur kota pintar di masa depan, yang dirancang memberikan layanan untuk kebutuhan mobilitas pribadi dan bersama.

Sliding door mobil otonom JAR. Foto: Techcrunch

Untuk mewujudkan ini, JLR akan bekerja sama dengan Dewan Kota Coventry dan Otoritas Gabungan West Midlands menguji coba layanannya pada akhir 2021. Saat itu, Project Vector akan memulai program percontohan, sekaligus laboratorium hidup untuk mobilitas masa depan di jalan-jalan Kota Coventry.

Baca juga: Volvo Siap Rilis Mobil Otonom Super Mewah Tanpa Bangku Baris Depan

“Dalam proyek ini, kami berkolaborasi dengan pakar di dunia, akademisi, rantai pasokan dan layanan digital, untuk menciptakan sistem mobilitas terintegrasi. Project Vector adalah lompatan ke depan yang berani dan inovatif diperlukan untuk mewujudkan misi kami (Destination Zero),” ujar CEO Jaguar Land Rover, Sir Ralf Speth.

Mobil yang bertuliskan “Tomorrow’s Mobility. Today” tersebut memiliki dimensi berukuran hanya empat meter (157,5 inci). Ini merupakan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) multiguna yang kompak dan fleksibel, dirancang untuk wilayah perkotaan. Baterai dan komponen drivetrain diletakkan di lantai datar, sehingga lebih lapang, memungkinkan berbagai konfigurasi tempat duduk, baik untuk penggunaan pribadi, bersama maupun pengiriman barang.

Ada di Jepang, Kamar Hotel dengan Simulator Kokpit Boeing 737-800!

Tidur di dalam penerbangan dengan menempuh jarak jauh dan memankan waktu lama mungkin sudah biasa. Namun bagai mana bila tidur di sebuah kamar hotel tapi dilengkapi dengan sebuah kokpit pilot atau simulator pesawat terbang?

Baca juga: Setelah Pesawat dan Kereta, Kini Giliran Bus Tingkat yang’ Disulap’ Jadi Hotel

Mungkin sensasi ini menjadi hal yang baru bagi penikmat penerbangan dan memiliki rasa ingin mencoba. Simulator pesawat ini hadir di dalam salah satu kamar hotel di Jepang tepatnya di The Haneda Excel Hotel Tokyu.

Hotel ini sendiri berada di Terminal 2 Bandara Internasional Haneda di Tokyo. Kamar itu bahkan disebut sebagai ‘Superior Cockpit Room‘ dan menawarkan beragam paket baik hanya untuk menginap ataupun dengan mencoba simulator Boeing 737-800 tersebut.

KabarPenumpang.com melansir dari laman kotaku.com (11/7/2019), bila pelancong hanya ingin menumpang tidur di kamar doble bed ini dengan sebuah simulator tanpa menggunakannya akan dikenakan biaya 25.300 yen atau sekitar Rp3,2 juta. Tetapi bila hanya ingin belajar menerbangkan pesawat dengan simulator kokpit pesawat Boeing tersebut selama 90 menit dan diajarkan oleh seorang instruktur, akan dikenakan biaya 30 ribu Yen atau sekitar Rp3,8 juta.

Dalam pelajaran menerbangkan pesawat dengan simulator ini, pelanggan akan diajak terbang dari Bandara Haneda menuju ke Bandara Osaka. Kehadiran kamar hotel dengan sebuah simulator pesawat Boeing 737-800 ini dikatakan lebih murah dan lebih keren dibandingkan dengan kamar hotel Alienware yang dibangun di Hilton Panama tahun 2018 lalu.

Hotel ini dilengkapi dengan mesin gaming yang cukup tinggi dengan CPU Core i7-7800 dan kartu gravis Nvidia GTX 1800 Ti yang disambungkan dengan TV OLED 65 inci. Harga kamar tersebut pun terbilang lebih mahal yakni $349 atau Rp4,8 per malamnya.

Baca juga: Boeing 747-400 Eks KLM “City of Bangkok” Bakal Menjadi Daya Tarik Hotel di Amsterdam

Selain ada simulator, karena letaknya di Bandara Internasional Handea, kamar di Haneda Excel Hotel Tokyu ini ini juga memiliki pemandangan ke arah runway. Sehingga tamu hotel bisa menikmati pesawat lalu lalang. Selain itu bisa dikatakan, simulator ini lebih cocok digunakan bagi tamu setelah bangun tidur bukan ketika mencobanya sebelum tidur.

So, kalalu di Indonesia ada yang seperti ini, apakah Anda tertarik?

Masa Karantina Berakhir, Penumpang Kapal Pesiar Diamond Princess Mulai Turun

Setelah melewati 14 hari masa karantina atas wabah virus corona, akhirnya 3.700 penumpang dan awak kapal pesiar Diamond Princess hari ini (19/2/2020) secara bertahap mulai diturunkan dari kapal yang sejak 3 Februari lalu sandar di Pelabuhan Yokohama, Jepang. Ribuan penumpang kapal pesiar ini harus dikarantina akibat adanya penumpang asal Cina yang terkena virus corona.

Baca juga: Jepang Karantina Kapal Pesiar Diamond Princess Gara-gara Satu Penumpang Terinveksi Virus Corona

Dikutip dari bbc.com (19/2/2020), sebanyak 543 penumpang dan awak Diamond Princess dinyatakan telah terinfeksi virus corona dan menjadikan kapal tersebut sebagai lokasi ‘cluster’ terbesar kedua virus corona setelah Cina Daratan. Kebanyakan penumpang menyebut masa karantina di kapal adalah hal yang sangat sulit dilewati.

Dengan berkembangnya jumlah orang yang terinfeksi corona, mendorong beberapa negara untuk melakukan evakuasi warganya dari kapal pesiar tersebut. Seperti AS pada hari Minggu lalu mengeluarkan ratusan warganya dari Diamond Princess dan menempatkan mereka di fasilitas karantina lain. Inggris mengatakan pihaknya berharap untuk menerbangkan 74 warga negaranya dari Diamond Princess pada akhir pekan ini.

Awal mula penyebaran virus corona di Diamond Princess setelah seorang pria yang turun di Hong Kong dikonfirmasi mengidap virus corona. Penumpang tersebut awalnya diisolasi di kabin mereka, tapi kemudian diizinkan untuk keluar secara sporadis di geladak. Meskipun langkah-langkah karantina telah dijalankan, tapi hari demi hari jumlah orang yang terinfeksi bertambah pesat. Angka terbaru menunjukkan bahwa setidaknya 542 penumpang telah dinyatakan positif dan telah dibawa ke rumah sakit terdekat.

Dari 542 orang yang positif corona di Diamond Princess, diketahui sebanyak tiga dari 78 WNI yang menjadi kru kapal dinyatakan positif virus corona. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan dua WNI telah dibawa ke rumah sakit di Kota Chiba, Jepang, sementara satu WNI lainnya dibawa ke rumah sakit yang belum diketahui lokasinya. Lebih dari 1.000 kru kapal yang melakukan kontak dekat dengan orang yang terinfeksi virus telah dipindahkan ke ruangan dengan fasilitas medis. Sementara awak kapal yang sehat akan menjalani masa karantina selama 14 hari setelah penumpang terakhir meninggalkan kapal.

Baca juga: Terjebak Karantina Virus Corona di Kapal Pesiar, Pasangan ini Pesan Anggur via Drone

Otoritas Jepang mengatakan proses penurunan penumpang bisa mencapai hingga tiga hari, karena mengevakuasi sekitar 2.000 ribu penumpang lainnya tidak mudah.

Ngeri! Ada Sekrup dalam Hidangan Sup di First Class Singapore Airlines

Singapore Airlines, maskapai penerbangan dengan status sebagai penerima penghargaan paling banyak di dunia, dinilai sebagai salah satu maskapai terbaik di dunia. Tentu sangat sejalan dengan ratusan penghargaan yang diterimanya. Namun, apa jadinya, bila di dalam hidangan sekelas maskapai terbaik di dunia terdapat sebuah benda tajam yang mungkin saja bisa berujung hilangnya nyawa penumpang?

Baca juga: Youtuber Asal Jerman Dapat Ancaman Pembunuhan Usai Review Singapore Airlines

KabarPenumpang.com menukil dari laman samchui.com, Rabu, (19/2), belum lama ini pemberitaan penerbangan internasional dihebohkan dengan kabar tak sedap tentang Singapore Airlines. Hal itu akibat dari ulasan seorang penumpang lewat WeChat mengenai pengalamannya terbang bersama Singapore Airlines SQ285 Suites dari Singapura ke Auckland pada 1 Januari 2020 lalu.

Dalam ulasan menyeluruh dari ruang tunggu untuk check-in dan naik pesawat A380, penumpang menulis bahwa dia “cukup beruntung” untuk merasakan benda tajam di mulutnya sambil menyeruput sup jamur labu. Setelah menemukan sekrup di dalam hidangan supnya, penumpang tersebut mengaku tidak lagi memiliki nafsu makan.

“Saya mengeluarkan sekrup logam dan semua kru mungkin mereka kencing di celana melihat sekrup itu ketika saya menunjukkannya,” tulisnya.

Voucher yang ditolak penumpang anonim yang menemukan sekrup dalam hidangan sup di Singapore Airlines. Foto: Will via Samchui

Menanggapi hal tersebut, melalui email balasan dari Singapore Airlines (SIA), pihaknya mengaku lalai dan meminta maaf atas kejadian itu. Menurut hasil penyelidikan internal, sekrup tersebut adalah milik blender dari SATS katering. Tidak dijelaskan lebih detil bagaimana proses hilangnya sekrup tersebut dari blender.

Yang jelas, dengan adanya insiden tersebut, pihak SIA mengaku akan menerapkan sistem deteksi logam untuk semua makanan yang disajikan maskapai asal Singapura tersebut. Di samping itu, SIA juga akan melakukan standar tinggi, mencakup pemeriksaan alat-alat dapur, sebelum dan sesudah proses produksi. Bilamana terdapat satu atau beberapa item yang hilang, hal tersebut akan lebih membantu proses filterisasi makanan yang akan dihidangkan ke penumpang.

“Untuk mencegah berulangnya kejadian serupa, katering kami menerapkan deteksi logam untuk semua makanan yang disiapkan di fasilitas mereka dan mereka juga mengeksplorasi peralatan dapur baru yang dapat mengurangi risiko ini. Kami berharap semua makanan kami memenuhi standar keamanan tinggi secara konsisten dan kami kecewa dengan penemuan ini,” kata seorang juru bicara SIA.

Baca juga: Ada Batu di Dalam Salad Dibilang ‘Kacang Kering,’ Air Canada Kena Semprot Penumpang!

Selain mengaku menyesal dan meminta maaf kepada penumpang, ditambah sejumlah mekanisme baru agar kejadian tersebut tak terulang, SIA atau biasa juga disebut SQ juga memberikan voucher senilai 200 dolar Singapura, sekalipun ditolak oleh penumpang yang bersangkutan. “Sulit dipercaya voucher senilai 200 dolar Singapura untuk penumpang suite class akan membenarkan pengalaman yang telah dialami,” tulisnya.

Sebelum adanya kejadian tersebut, penumpang yang menemukan sekrup itu awalnya berencana untuk memberikan bintang lima dari lima bintang yang tersedia dalam perjalanannya dengan SIA. Setelah kejadian itu, ia pun urung melakukannya, tak peduli seberapa hebat perangkat keras yang ada pada A380 dan betapa indahnya kru SIA, ia menyebut sangat memalukan bahwa insiden seperti itu terjadi pada SQ dan bagaimana mereka menanganinya.

Pernah Dengar Cockpit Emergency Hatch? Ini Penjelasannya

Bagi mereka yang sering bepergian menggunakan pesawat terbang, sudah barang tentu mereka akrab dengan boarding pass, handling luggage, overhead baggage, safety induction, garbarata, hingga emergency exit door. Sebaliknya, sekalipun mereka sering bepergian naik pesawat, belum tentu sadar atau mungkin memperhatikan sesuatu tepat di bagian atas kokpit.

Baca juga: Sempat Sesak Napas, Penumpang Turkish Airlines Coba Mendobrak Kokpit

Meski demikian, sekalipun tak banyak penumpang atau orang awan yang mengetahuinya, namun, sesuatu yang berada tepat di atas kokpit tersebut pasti diketahui oleh kokpit kru bahkan awak kabin dan wajib ada (karena menjadi salah satu syarat sertifikasi pesawat). Pada situasi tertentu, sesuatu di atas kokpit tersebut bisa jadi hal yang sangat vital. Sesuatu di atas kokpit yang dimaksud adalah pintu darurat kokpit atau biasa juga dikenal Cockpit Emergency Hatch.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, eks juru bicara Boeing, Tom Cole pernah mengatakan, cockpit emergency hatch dirancang untuk memudahkan pilot, co-pilot, serta kru lainnya keluar dalam kondisi darurat. Kondisi darurat yang dimaksud bisa disebabkan banyak hal, mulai dari kebakaran, kecelakaan, hingga insiden pembajakan yang biasanya memblokir akses keluar masuk reguler.

Oleh karenanya, dengan fungsi se-vital itu, cockpit emergency hatch juga dilengkapi dengan peralatan pendukung, yakni cockpit crew emergency escape gear atau biasa juga disebut cockpit escape reels, agar memudahkan penggunanya keluar meluncur turun dalam hitungan detik dari ketinggian sekitar 10 meter lebih. Bila tidak dapat meluncur karena satu dan lain hal, kokpit kru dapat mengibarkan bendera atau kode lainnya untuk memberi sinyal diperlukannya bantuan dari petugas yang ada di darat.

Pintu darurat kokpit pada Airbus A350. Foto: Quora

Akan tetapi, selain berfungsi sebagaimana yang dijelaskan di atas, dalam kondisi tertentu, cockpit emergency hatch juga berguna bagi para petugas ground crew, khususnya saat membersihkan bagian kaca depan pesawat. Jadi, tak selamanya pintu keluar darurat kokpit tersebut difungsikan pada saat-saat genting saja.

Cara menggunakan dan keluar lewat cockpit emergency hatch juga tergolong mudah. Kru hanya perlu memutar tuas pada cockpit emergency hatch dan kemudian mendorongnya keluar hingga terbuka. Setelah itu, kru perlu sedikit memanjat, sambil memegang cockpit escape reels (semacam peralatan untuk membersihkan gedung di ketinggian atau sejenisnya) dan segera melompat keluar tanpa perlu patah kaki akibat terlalu cepat meluncur ke daratan.

Baca juga: Bagaimana Awak Kokpit Mengatasi Situasi Darurat di Udara?

Dengan fitur keamanan yang dimiliki, cockpit escape reels akan menyesuaikan beban yang ditanggungnya agar proses turunnya tak terlalu cepat atau terlalu lambat. Di beberapa pesawat, pada umumnya cockpit escape reels hanya tersedia sebanyak lima buah. Dua untuk pilot dan co-pilot, tiga lainnya untuk kokpit kru.

Selain keluar lewat cockpit emergency hatch, sebetulnya kru kokpit juga punya cara lain untuk keluar, yakni lewat jendela deser atau biasa disebut juga cockpit emergency escape through sliding window. Berbeda dengan keluar lewat cockpit emergency hatch, jalan keluar lewat jendela geser sedikit merepotkan. Sekalipun tak butuh pijakan lebih (karena letaknya di bagian samping), peralatan pendukungnya hanya seutas tali sehingga membutuhkan tenaga dan usaha yang ekstra; tak semudah menggunakan cockpit escape reels yang hanya tinggal berpegangan erat dan melompat keluar.