Di Tengah Wabah Virus Corona, Mitsubishi SpaceJet Sukses Terbang Perdana

Wabah virus corona atau COVID-19 masih terus membayangi Jepang dengan menewaskan sedikitnya 29 orang. Namun demikian, hal tersebut rupanya tak membuat Mitsubishi menunda kembali ambisinya. Pabrikan asal Jepang tersebut belum lama ini dilaporkan berhasil melakukan penerbangan perdananya pada Mitsubishi SpaceJet M90.

Baca juga: Mitsubishi Uji Coba Regional Jet, Inikah Momen Kebangkitan Industri Dirgantara Jepang?

Dikutip dari laman mitsubishiaircraft.com, Kamis, (19/3), pesawat dengan nomor registrasi JA26MJ tersebut, yang merupakan bagian dari pesawat uji yang ke-10 atau Flight Test Vehicle 10 (FTV10), berhasil lepas landas pada 14:53 dari Bandara Nagoya dan kembali ke bandara yang sama pada 16:40waktu setempat.

Selama sekitar dua jam, pesawat tersebut berputar-putar di atas lautan Samudera Pasifik untuk menguji karakteristik dasar pesawat dalam kondisi normal, seperti saat menanjak, menurun, atau saat berbelok. Pesawat yang dikomandoi oleh dua pilot kawakan Jepang, Hiroyoshi Takase dan Akira Udagawa, tersebut diklaim bekerja dengan baik dan tidak terdapat gangguan apapun.

“Tes penerbangan hari ini berjalan dengan lancar dan sesuai rencana. Pesawat memenuhi ekspektasi dan menangani tepat seperti yang saya perkirakan,” kata kapten pilot FTV10, Hiroyoshi Takase.

Setelah penerbangan perdana Mitsubishi SpaceJet M90, dengan nomor registrasi JA26MJ FTV10, tes penerbangan berikutnya dijadwalkan akan dilakukan pada beberapa pekan ke depan, setelah pabrikan melakukan beberapa penyempurnaan.

“Setelah penerbangan pertama, Mitsubishi Aircraft Corporation bersiap untuk memasuki tahap akhir pengujian sertifikasi penerbangan untuk SpaceJet M90. Tes penerbangan lebih lanjut akan dilakukan di Nagoya dalam beberapa minggu mendatang,” tulis pabrikan asal Jepang tersebut dalam sebuah pernyataan.

“Kabar hari ini sangat menggembirakan, karena menandai dimulainya pengujian penerbangan sertifikasi untuk SpaceJet M90 pertama dalam konfigurasi final yang dapat disertifikasi,” kata Alex Bellamy, Chief Development Officer Mitsubishi Aircraft.

Setelah uji coba kedua yang dilakukan beberapa pekan ke depan dilakukan, FTV10 tersebut akan langsung diterbangkan ke Moses Lake Flight Test Center untuk bergabung dengan armada uji Mitsubishi SpaceJet M90 lainnya, guna melalui tahap akhir dari uji sertifikasi penerbangan.

Baca juga: Meski Bakal Merugi, Mitsubishi Regional Jet Siap Masuk Jalur Produksi di 2020

Mitsubishi Heavy Industries Ltd sebelumnya telah menargetkan bahwa pesawat buatannya akan mulai dikirimkan ke para pelanggannya pada pertengahan 2020 lalu. Namun, setelah sempat tertunda sampai lima kali, mengingat Pesawat Mitsubishi Regional Jet (MRJ) yang kini telah berganti nama menjadi Mitsubish SpaceJet tersebut sejatinya sudah memasuki pengiriman pertama pada 2013 silam, pada 5 Februari 2020 pabrikan tersebut kembali mengumumkan kemballi penundaan pengiriman pesawat. Hal itu disebabkan pesawat harus melewati desain ulang pada sistem kelistrikan. Alhasil, pesawat harus menjalani sertifikasi ulang.

Setelah sukses pada penerbangan perdana, pesawat hasil koloborasi dengan Mitsubishi Heavy Industries dengan Toyota Motor Corporation, yang desainnya dibantu oleh Fuji Heavy Industries, anak usaha Toyota, diharapkan dapat segera memasuki tahun layanan perdananya pada akhir 2021 atau awal tahun 2022.

Imbas Lockdown, Singapura Sediakan Kamar Hotel untuk Pengemudi dan Teknisi Bus Asal Malaysia

Malaysia yang sudah menyatakan dirinya lockdown per 18 Maret 2020 hingga dua minggu kedepan membuat beberapa pengemudi bus dan teknisi yang bekerja di Singapura tertahan tak bisa pulang. Para pengemudi dan teknisi bus ini merupakan warga Malaysia yang tinggal di Johor dan biasanya bekerja pergi pulang.

Baca juga: Malaysia Berlakukan “Lockdown,” Ini Enam Ketentuan yang Harus Dipatuhi

Karena hal tersebut, Menteri Transportasi Khaw Boon Wan mengatakan dalam laman Facebooknya bahwa bagi para pengemudi dan teknisi bus yang ingin tinggal di Singapura dan bekerja selama dua minggu karena lockdownya Malaysia akan disediakan hotel untuk beristirahat.

Bulim Bus Depot untuk Pengemudi sebelum dipindahkan ke hotel (straitstimes.com)

“Karena sejumlah pengemudi dan teknisi bus kami adalah orang Malaysia yang pergi pulang dari Johor untuk bekerja di sini, kami memiliki rencana darurat jika seandainya perjalanan mereka terganggu. Kami sekarang telah mempraktikkan rencana darurat,” ujar Khaw yang dikutip KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (17/3/2020).

Dia mengatakan, layanan kereta api dan bus tidak terlalu terpengaruh meski mungkin ada sedikit degradasi dari beberapa layanan bus. Khaw mengatakan, bahwa empat transportasi umum Singapura seperti SBS Transit, MRT, Tower Transit Singapore dan Go-Ahead Singapore telah bekerja sama dengan Serikat Pekerja Transportasi Nasional dan Otoritas Transportasi Darat untuk menghadirkan akomodasi hotel bagi pengemudi dan teknisi bus asal Malaysia yang ingin tinggal dan terus bekerja di Negeri Singa tersebut.

“Mereka akan merasa nyaman dan bisa beristirahat dengan baik,” kata Khaw.

Saat ini operator transportasi umum SBS Transit sudah menghadirkan akomodasi di beberapa hotel untuk pengemudi Malaysia. Adanya pengadaan akomodasi hotel tersebut memungkinkan layanan bus akan terus berlanjut sesuai jadwal.

“Mengingat pengumuman terakhir oleh pihak berwenang Malaysia, kami telah mengamankan akomodasi sementara di beberapa hotel untuk kapten bus Malaysia kami. Ini akan segera berlaku untuk memastikan bahwa layanan bus terjadwal tidak terpengaruh,” ujar SBS Transit dalam laman Facebooknya.

Bahkan para pengemudi tidak akan dipaksa tidur di kursi malas dalam depot. Selain SBS, MTR Singapura juga menghadirkan kamar yang cukup untuk semua staf asal Malaysia dan meyakinkan para penumpang akan tetap beroperasi dengan baik.

Tower Transit mengatakan mengatur akomodasi untuk pengemudi mereka di berbagai hotel di Singapura adalah isyarat kecil jika dibandingkan dengan semua pekerjaan yang mereka lakukan untuk menjaga layanan bus tetap berjalan. Menanggapi gambar dan video yang beredar di media sosial tentang akomodasi sementara yang didirikan di Bulim Bus Depot, Tower Transit mengatakan daerah tersebut berfungsi sebagai perumahan sementara staf untuk membiarkan pengemudi beristirahat sambil menunggu akomodasi hotel mereka selesai.

Baca juga: Pegawai MRT Singapura Kena Pengurangan Gaji 5 Persen Akibat Virus Corona

Kapten bus SMRT Lim Kheng Toh, (42 tahun), yang akan tinggal di sebuah hotel di Jurong, mengatakan ia berterima kasih kepada operator untuk pengaturannya.

“Sementara saya kecewa bahwa saya tidak punya lebih banyak waktu untuk pulang dan membuat persiapan yang cukup, saya telah berdiskusi dengan istri saya dan kami memutuskan bahwa saya harus tinggal bersama tim saya dan bekerja di sini sementara itu,” tambahnya.

Akibat Virus Corona, Harga Airbus A380 Bekas Turun Drastis

Pada bulan Februari 2019 lalu, Airbus menyadari bahwa permintaan untuk pesawat superjumbo telah berakhir setelah pelanggan terbesar mereka, Emirates, memutuskan untuk membatalkan pesanan untuk 39 pesawat (A380) barunya. Kala itu, maskapai tersebut melihat bahwa era pesawat lebih kecil namun mampu terbang tak kalah jauh,seperti 330-900 dan A350-900, dapat menggantikan posisi A380.

Baca juga: Percaya atau Tidak? Airbus A380 Dijual Rp415 Ribu!

Dikutip dari laman Simple Flying, meskipun saat ini maskapai telah beralih dari pesawat besar dengan empat mesin ke pesawat medium atau menengah besar dengan mesin ganda, maskapai yang telah terlanjur memiliki pesawat superjumbo, dan tak lagi memiliki banyak pelanggan A380, setidaknya masih mempunyai dua opsi. Seperti penerbangan haji dan pesawat angku militer.

Namun demikian, jikalau pun dipaksakan untuk penerbangan komersial, maskapai setidaknya harus merogoh kocek sebesar Rp464 juta per jam. Bila pada umumnya armada A380 digunakan dalam penerbangan jarak jauh, bahkan ada yang sampai 21 jam, bisa dibayangkan berapa dana yang harus dikeluarkan untuk sebuah perjalanan A380. Tentu sangat besar. Terlebih, di tengah iklim maskapai global yang kacau akibat virus corona atau COVID-19, menerbangkan A380 rasanya bukanlah keputusan tepat.

Dengan kondisi di tengah wabah corona dan kecenderungan maskapai yang lebih memilih pesawat bermesin ganda namun memiliki kemampuan terbang jarak jauh, harga untuk sebuah pesawat Airbus A380 disinyalir akan terus anjlok. Dalam katalog daftar harga pesawat-pesawat Airbus, pesawat baru A380 terakhir masih berada dikisaran US$445 juta atau Rp7,1 triliun (kurs 15.480). Namun, harga tersebut diprediksi akan terus mengalami penurunan di tengah harga suku cadangnya yang justru tengah mengalami kenaikan. Tak terkecuali dengan nilai jual pesawat bekas pakai A380.

Seorang analis valuasi dari Ascend by Cirium, Valerie Bershova, harga A380 keluaran 2005 lalu saat ini dibanderol senilai US$77 juta atau Rp1,2 triliun (kurs 15.480). Untuk keluaran tahun lalu, harganya diperkirakan mencapai US$276 juta atau Rp4,4 triliun (kurs 15.480). Angka-angka tersebut keluar sebelum wabah virus corona terus menggrogoti industri penerbangan global, tak terkecuali dalam pasar penjualan pesawat bekas. Oleh karenanya, saat ini, diperkirakan harga pesawat A380 bekas berada jauh lebih rendah dari nilai jual terakhir Rp4,4 triliun.

Baca juga: Virus Corona Bikin Qantas ‘Pensiunkan Dini’ Pesawat Terbesar di Dunia Airbus A380

Pangsa pasar pesawat bekas di dunia memang tak kalah menariknya dengan pangsa pasar pesawat baru. Pasalnya, selain dapat digunakan kembali untuk berbagai penerbangan, baik sipil maupun militer, pesawat bekas juga dapat dijadikan untuk sebuah gantungan kunci. Bagi mereka yang tak tertarik di dunia penerbangan, mungkin itu hanya sebuah gantungan kunci biasa. Namun, bagi pecinta dirgantara, gatungan kunci dari pesawat bekas pakai mungkin adalah sebuah kebanggan.

Pada pertengahan Februari lalu, situs aviationtag.com, mengumumkan bahwa mereka untuk pertama kalinya menjual gantungan kunci dari pesawat bekas Airbus A380 milik Singapore Airlines yang sudah purna tugas. Dalam situs tersebut, tertara bahwa Airbus A380 dijual dengan harga mulai dari Rp 415.000 atau €27.95. Menarik, bukan?

Restoran di Stasiun Higashikoganei Punya Robot yang Bisa Buat Mie Soba

Sebuah restoran di Stasiun Higashikoganei di Jalur Chuo East Japan Railway Company mengenalkan robot pembuat mie soba. Robot ini akan memasak mie bagi penumpang yang kelaparan ketika berada di restoran tersebut.

Baca juga: Jepang Punya Bartender Robot, Ada di Stasiun Ikebukuro

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman japantimes.com (17/3/2020), robot tersebut diperkenalkan Senin kemarin. Robot ini mampu membuat 40 hidangan mie soba per jam dan jumlahnya hampir sama dengan yang dibuat manusia.

Robot pembuat mie soba (japantimes.co.jp)

Dikatakan JR East, robot ini akan memasak di restoran Sobaichi selama masa percobaan hingga 15 April 2020 mendatang. Masa percobaan ini dilakukan untuk menentukan apakah robot tersebut dapat berfungsi dengan baik dan bisa memenuhi harapan pelanggan yang menyukai mie.

Dikembangkan oleh Connected Robotics Inc. yang berbasis di kota Koganei, robot dapat merebus hingga tiga porsi soba pada saat yang sama sebelum membilasnya dengan air dingin. Setelah matang, pekerja manusia harus meletakkannya di piring membantu robot.

“Kita bisa menghindari panas musim panas dan risiko luka bakar akibat mendidihnya air panas. Kita juga bisa melakukan hal-hal lain, seperti berurusan dengan pelanggan, memasak makanan yang digoreng dan membersihkan piring,” kata karyawan restoran Akimasa Yasue tentang robot itu.

Percobaan ini didorong oleh JR East Start Up Co., sebuah perusahaan yang bertugas mengembangkan bisnis baru untuk operator kereta api. Tak hanya robot pembuat mie soba, tapi di salah satu stasiun di Jepang juga sampai 19 Maret 2020 ada pub kecil yang menjadikan robot sebagai bartendernya.

Pub kecil yang mempekerjakan robot sebagai bartender ini berada di Stasiun Ikebukuro, Tokyo. Pub itu disebut Zeroken Robo Travern yang dimiliki oleh Yoronotaki sebuah perusahaan yang mengoperasikan rantai restoran bergaya izakaya di seluruh negeri. Pub tersebut sebenarnya hadir sebagai, bagian dari program percontohan yang dijalankan untuk melihat bagaimana pelanggan merespon ketika dilayani oleh mesin dan bukan manusia.

Untuk menikmati bir, koktail atau minuman campuran yang disajikan robot, pengunjung stasiun harus membayar di kios pembayaran otomatis. Kemudian ketika mendapatkan QR Code, pengunjung memberikannya kepada robot agar kode tersebut dipindai dan menyiapkan minuman yang dipesan.

Robot-robot itu memerlukan waktu sekitar 40 detik untuk menuangkan segelas bir dan untuk koktail serta minuman campuran waktunya di bawah satu menit. Robot bartender ini memiliki seperangkat kamera yang dipasang pada layar untuk memantau keadaan emosional pelanggan seperti melacak apakah mereka bahagia atau semakin tidak sabar.

Baca juga: JR East Bangun Stasiun Robotika, Mudahkan Penyandang Disabilitas dan Pelancong Asing

Robot bartender tersebut dirancang oleh QBIT Robotics yang mengembangkan server lengan robot serupa untuk restoran pasta takout kecil. Biaya bartender robot sekitar $82 ribu atau sekitar Rp1,1 miliar, setara dengan sekitar tiga tahun gaji untuk rata-rata bartender di Jepang. Kehadiran robot bartender ini kemudian ternyata memiliki respon positif dari pengunjung.

‘Berkat’ Wabah Corona, Boeing 787 Dreamliner Air Tahiti Nui Pecahkan Rekor Penerbangan Terjauh

Virus corona tak selamanya berdampak negatif. Setelah sebelumnya British Airways mencatat rekor baru untuk Penerbangan Trans-Atlantik Tercepat di Dunia dengan empat jam dan 56 menit pertengahan Februari lalu, belum lama ini, maskapai Air Tahiti Nui justru berhasil mencetak rekor sebagai penerbangan komersial terjauh di tengah ekosistem industri penerbangan yang memburuk akibat COVID-19.

Baca juga: Kurang dari 5 Jam, British Airways Catatkan Rekor Penerbangan Trans-Atlantik Tercepat di Dunia dengan Boeing 747

Dilansir CNN Travel, maskapai asal Polinesia Perancis tersebut biasanya terbang menuju Bandara Charles de Gaulle di Paris dengan transit terlebih dahulu di Bandara Internasional Los Angeles (LAX), Amerika Serikat. Namun, karena negara tersebut tengah memberlakukan pembatasan penerbangan akibat maraknya wabah COVID-19, pesawat Boeing 787 Dreamliner Air Tahiti Nui terpaksa terbang langsung dari Pape’ete di Tahiti menuju Paris, Perancis.

Namun, siapa nyana, penerbangan yang ‘dipaksakan’ tersebut justru berhasil mendorong terpecahkannya rekor penerbangan komersial terjauh. Bila sebelumnya rekor tersebut disandang Singapore Airlines pada rute Singapura-Newark dengan jarak tempuh 15.348 km, Air Tahiti Nui berhasil mematahkannya dengan mencatatkan penerbangan sejauh 15.715 km dalam waktu selama 15 jam 45 menit.

Pesawat dengan nomor penerbangan TN064 diketahui tinggal landas dari Pape’ete sekitar pukul 03.00 waktu setempat pada tanggal 15 Maret dan mendarat di Perancis 16 Maret pukul 5.54 pagi waktu setempat. Sekalipun berhasil mencatatkan rekor, penerbangan tersebut bukannya tanpa risiko.

Pasalnya, pesawat Boeing 787 Dreamliner yang digunakan saat maskapai tersebut memecahkan rekor penerbangan komersial terjauh, standar pabrikannya hanya mampu terbang sejauh 14.800 km, sedangkan kala itu penerbangan dipaksakan sampai 15.715 km.

Beruntung, karena virus corona telah membuat penurunan jumlah penumpang dimana-mana, tak terkecuali di Polinesia Perancis (dalam hal ini maskapai Air Tahiti Nui), pilot jadi memiliki keberanian untuk terbang lebih dari standar penerbangan terjauh yang telah ditetapkan.

Baca juga: London Gatwick-Singapura, Menjadi Rute Penerbangan LCC Terjauh di Dunia!

Sebab, saat itu, pesawat Boeing 787-9 Dreamliner hanya mengangkut total 150 penumpang dari kapasitas maksimal mencapai 290 penumpang. Oleh karenanya, pilot memiliki dasar yang cukup untuk menerbangkan pesawat lebih jauh dari biasanya karena konsumsi bahan bakar yang lebih irit (disebabkan jumlah penumpang yang lebih sedikit).

Air Tahiti Nui sendiri, dalam sebuah pernyataan, mengaku kagum dengan penerbangan tersebut, sekaligus tak menyangka akan berakhir manis seperti itu. “Penerbangan ini dioperasikan secara luar biasa dan dalam batasan yang diberlakukan oleh otoritas Amerika dalam menghadapi epidemi Covid-19,” kata juru bicara Air Tahiti Nui, seperti dikutip dari CNN Travel.

Selamatkan Industri Penerbangan, APEX Serukan Pemerintahan Global Kucurkan ‘Bantuan’ Rp3.805 Triliun!

Airline Passenger Experience Association (APEX) menyerukan pemerintah global untuk membantu upaya penyelamatan industri penerbangan di tengah wabah virus corona atau COVID-19. Menurut asosiasi yang berdiri sejak 1979 tersebut, upaya penyelamatan maskapai dapat dicapai lewat kucuran dana senilai Rp3.805 triliun (kurs Rp 15.133).

Baca juga: Kata Konsultan Penerbangan: Sebagian Besar Maskapai Global Akan Bangkrut Akhir Mei!

“Dunia kita harus segera merespons untuk melindungi industri penerbangan globalnya dengan seperempat triliun dolar ($250 miliar atau Rp3.805 triliun) dalam bentuk pajak dan pinjaman darurat sesegera mungkin kepada maskapai dan pemasoknya,” kata CEO APEX, Joe Leader seperti dikutip KabarPenumpang.com dari laman apex.aero, Rabu, (18/3).

“Maskapai membutuhkan dukungan ini untuk keselamatan, keamanan, dan kelangsungan hidup mereka terhadap anjloknya jumlah penurunan penumpang yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat COVID-19,” tambahnya.

Oleh karenanya, untuk melindungi industri penerbangan, APEX merekomendasikan pemerintah dan seluruh stakeholder global terkait, untuk melakukan empat langkah berikut. Pertama, potongan pajak dengan segera oleh pemerintah global atas pajak industri penerbangan yang sebelumnya dibayarkan dalam bentuk hibah senilai US$125 miliar.

Kedua, segera mengakses pinjaman jangka menengah dan jangka panjang tanpa bunga untuk menyediakan likuiditas atau kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban (utang) jangka menengah dan panjang senilai $125 miliar. Dengan begitu, genap sudah total $250 miliar atau Rp3.805 triliun.

Ketiga, bank dunia harus menyediakan likuiditas yang dibutuhkan dalam bentuk dana pendamping dan pinjaman yang cukup untuk pemerintah yang membutuhkan. Adapun yang keempat, jumlah (pinjaman) yang dialokasikan untuk masing-masing negara harus didasari pada pangsa negara dari PDB global di samping pangsa pasar penerbangan dengan tepat dan teliti.

APEX percaya, bahwa maskapai global dan supplier atau pemasok industri penerbangan (perusahaan penyedia pesawat, mesin pesawat dan lainnya seperti Airbus, Boeing, Rolls Royce, dan sebagainya) akan membutuhkan dukungan untuk menghadapi krisis COVID-19. Dengan demikian, asosiasi non profit yang berbasis di New York, Amerika Serikat tersebut menyarankan bahwa 80 persen dukungan pemerintah global untuk industri penerbangan harus diberikan langsung ke maskapai penerbangan. Adapun 20 persen sisanya dialokasikan kepada supplier atau pemasok industri penerbangan.

Tanpa bantuan dari pemerintah, APEX berpendapat bahwa ada potensi terjadinya depresi ekonomi global yang menurutnya akan diikuti oleh penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) global lebih dari 10 persen. Bila terjadi, hal itu tentu akan berefek pada industri penerbangan global yang dampak kecilnya sudah bisa dilihat dari kondisi industri penerbangan global selama periode kritis di tengah wabah virus corona seperti sekarang ini.

“Pemerintah global harus bereaksi secara terkoordinasi untuk mendukung maskapai mereka di setiap negara. Jika tidak, mungkin ada kekacauan permanen (bangkrutnya maskapai) pada negara dan wilayah yang tidak sepenuhnya mendukung saat krisis COVID-19 yang dramatis ini,” tegas Joe Leader.

Baca juga: Miris, Inilah Tampilan Ruang Udara Cina Sebelum dan Sesudah Wabah Virus Corona, Sepi!

Pernyataan Joe memang bukan tanpa alasan. Beberapa waktu lalu, maskapai regional terbesar di Eropa, Flybe dinyatakan bangkrut. Maskapai asal Inggris tersebut dinyatakan bangkrut usai tak mendapatkan suntikan dana segar dari pemerintah pusat serta dari owner mereka, konsorsium Connect Airways, perusahaan patungan milik Virgin Atlantic, Stobart Air, dan Cyrus Capital, senilai Rp3,6 triliun atau masing-masing Rp1,8 triliun.

Selain itu, dikutip dari Bloomberg, seorang konsultan penerbangan dari Centre for Aviation atau CAPA mengatakan, saat ini maskapai global, secara substansial, mungkin telah melanggar perjanjian utang atau telah melakukan praktik bisnis tak sehat. Singkatnya, maskapai bisa dikatakan telah bangkrut (secara substansial). Pasalnya, saat ini, perputaran uang maskapai global tengah mandek akibat banyaknya pesawat yang grounded.

Pramugari Hibur Penumpang dengan Cara Unik Di Tengah Penerbangan yang Nyaris Kosong

Ada banyak jalan untuk menghibur penumpang di tengah sepinya penerbangan. Dengan cara unik dan simpel sekalipun, tentunya dengan memperhatikan berbagai aturan yang berlaku, penumpang bisa benar-benar terhibur, bahkan pada kondisi yang mengkhawatirkan di tengah pandemi virus corona atau COVID-19 seperti sekarang ini, layaknya apa yang telah dilakukan oleh pramugari di Amerika Serikat (AS).

Baca juga: Di Tengah Isu Corona dan Cuti Tak Berbayar, Pejabat Malaysia ini Malah Terapkan Soal Kostum Syariah Bagi Pramugari

Seperti dikutip dari laman dailymail.co.uk, Rabu, (18/3), seorang pramugari Southwest Airlines belum lama ini berhasil menghibur pelanggannya dengan sebuah hal unik. Tepat jelang beberapa detik sebelum pesawat lepas landas, pramugari tersebut meletakkan sesuatu di lantai, tepat di tengah tempat duduk yang diisi penumpang. Awalnya penumpang tak mengerti maksud dan tujuan pramugari tersebut.

Usai meletakkan plastik berwarna merah seukuran kantong celana itu, pramugari yang tak disebutkan namanya tersebut meninggalkannya dengan sengaja dan berjalan ke bagian belakang pesawat. Tentu saja pramugari tersebut ingin duduk di kursi awak kabin mengingat pesawat akan segera take off.

Ketika roda pesawat mulai meninggalkan runway dan bagian moncong pesawat berada pada posisi lebih tinggi dibanding ekor pesawat, perlahan plastik berwarna merah tesebut meluncur ke belakang, menuju lokasi pramugari tersebut berada. Dari situlah penumpang yang berada dalam penerbangan Southwest Airlines dari Dallas menuju Orlando tersebut mengerti. Pramugari tersebut rupanya hendak menghibur para pelanggannya dengan cara sesimpel itu.

Salah satu penumpang yang menyaksikan momen tersebut, Kady Carrougher, mengatakan bahwa pramugari tersebut diakui berhasil menghibur dirinya di tengah sepinya penerbangan. Pasalnya, penerbangan tersebut hanya memuat 29 dari kapasitas 175 penumpang. Saking terkesannya, ia pun tak lupa mengabadikan momen tersebut dan membagikannya di media sosial Twitter.

Hingga kini, video tersebut sudah ditonton lebih dari 300 orang dan berhasil mengundang komentar positif dari netizen. Bahkan, video tersebut sampai menarik perhatian salah seorang peneliti dari Newsflare, perusahaan video viral yang berbasis di London, untuk meneliti lebih lanjut terkait sejauh mana dampak dari video tersebut terhadap publik.

Selain berhasil menghibur penumpang di tengah sepinya penerbangan, cara tersebut mungkin juga menjadi sebuah hiburan tersendiri bagi maskapai, khususnya di Amerika. Terlebih setelah Menteri Keuangan, Steven Mnuchin, memberikan peringatan perihal situasi penerbangan di AS.

Sebelumnya, pada hari Selasa, Menteri Keuangan, Steven Mnuchin memperingatkan bahwa wabah virus corona dampaknya ‘lebih buruk daripada 9/11’ terhadap industri penerbangan. Hal itu setidaknya dapat terlihat dari beberapa maskapai di Negeri Paman Sam, seperti United, Delta, dan Virgin yang secara drastis memangkas jadwal penerbangan mereka.

Tak hanya itu, ketiga maskapai yang masuk dalam jajaran maskapai top di AS tersebut juga mengambil berbagai langkah pemotongan biaya dan menggrounded pesawat dalam jumlah besar akibat sepinya penerbangan.

Baca juga: Pramugari EasyJet Bikin Tubuh Penumpang Melepuh Akibat Ketumpahan Mie

Selain itu, melalui Airlines for America (A4A), maskapai penerbangan juga telah meminta paket bailout dari pemerintah, berkisar antara $45 miliar hingga $65 miliar atau Rp924 triliun. Bila paket bailout tersebut tidak terealisasi, asosiasi yang mewakili 11 maskapai penerbangan utama Amerika Utara tersebut memprediksi bahwa tujuh maskapai terbesar di negara itu akan benar-benar kehabisan uang antara Juni dan akhir tahun.

Gedung Putih sendiri telah meminta Kongres pada Selasa lalu untuk menyetujui paket stimulus darurat tersebut (baliout) untuk membantu para pelaku bisnis, khususnya industri penerbangan, mengatasi dampak ekonomi dari pandemi pandemi virus corona atau COVID-19. Bila bailout tersebut disetujui, hal tersebut akan menjadi paket penyelamatan ekonomi tertinggi sejak resesi hebat tahun 2008 lalu.

Bandara Taoyuan Taiwan Alami Penurunan Jumlah Penumpang Sampai 70 Persen

Pada 1 Maret 2019 lalu, penumpang yang berangkat dari Bandara Internasional Taoyuan di Taipei, Taiwan sebanyak 119 ribu penumpang. Namun ketika virus corona kini menjadi penademi di dunia, bandara di Taiwan ini hanya melayani sekitar 34 ribu penumpang di tanggal yang sama.

Baca juga: Bak Kuburan, Inilah 8 Penampakan Sepinya Bandara di Dunia Akibat Virus Corona

Jumlah penumpang ini menurun 70 sampai 80 persen bila dibandingkan tahun lalu atau hanya ada 20-30 persen penumpang di periode yang sama tahun lalu. Berkurangnya penumpang tidak hanya mempengaruhi maskapi penerbangan tetapi hal lainnya di bandara seperti toko bebas pajak, restoran dan moda transportasi penghubung ke bandara seperti taksi.

Restoran di Taoyuan International Airport, Taiwan (taiwannews.com.tw)

KabarPenumpang.com melansir dari laman taiwannews.com.tw (1/3/2020), penurunan jumlah penumpang hingga tersisa 34 ribu ini dikatakan Korps Urusan Perbatasan dan Badan Imigrasi Nasional (NIA). Karena virus corona ini tak hanya penerbangan yang dibatalkan tetapi persyaratan karantina bagi mereka yang tiba di Taiwan dari berbagai negara juga mengurangi keinginan orang untuk bepergian.

Agi Chan, direktur eksekutif asosiasi pengembangan industri Bandara Internasional Taoyuan mengatakan bahwa karyawan toko bebas pajak dan anggota keluarga mereka yang bila ditotal sekitar 5300 orang ternyata bergantung pada penumpang bandara.

“Banyak pemilik toko di bandara Taiwan ini yang khawatir bahwa penurunan bisnis akan terus berlanjut,” kata Chan.

Bahkan pemilik restoran di food court mengamati bahwa ada banyak kursi kosong di ruangan besar dalam restoran. Bila berkaca dari sebelum adanya penyebaran virus corona ini, ketika hari biasa penumpang bahkan berebut kursi di dalam restoran.

Para pengemudi taksi juga terpukul dengan kosongnya penumpang bandara. Pasalnya bila sebelum ada virus corona ini mereka mengantri di luar aula kedatangan.

Di masa lalu seorang pengemudi mungkin berangkat beberapa menit setelah mengantri. Jika saat ini mereka lebih sering harus menunggu lebih dari 20 menit.

Baca juga: Dapati 72 Kasus Virus Corona, Kuwait Resmi Tutup Bandara Internasional Utama

Tak hanya Bandara Taiwan, tetapi bandara di negara lain seperti Haneda di Tokyo, Daxing di Beijing, Bao Bai di Vietnam, Hong Kong dan Ben Gurion juga sepe pengunjung. Selain itu, kini Indonesia pun Bandara Internasional Soekarno-Hatta juga sepi karena infeksi virus corona yang mulai masuk dan merebak di berbagai wilayah Ibokota dan sekitarnya.

Tiga Aliansi Maskapai Global Desak Pemerintah di Seluruh Dunia Cari Cara Agar Maskapai Tak Bangkrut

Belum lama ini, tiga aliansi maskapai penerbangan global terbesar, Oneworld, SkyTeam, dan Star Alliance, mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk mencari segala cara yang mungkin bisa dilakukan untuk membantu industri penerbangan. Hal itu guna meringankan tantangan maskapai dalam menghadapi bencana yang diklaim belum dihadapi oleh industri penerbangan global saat ini di tengah pandemi virus corona atau COVID-19.

Baca juga: Kata Konsultan Penerbangan: Sebagian Besar Maskapai Global Akan Bangkrut Akhir Mei!

Dilansir situs resmi oneworld, tiga aliansi global, yang mewakili hampir 60 maskapai penerbangan di seluruh dunia yang berkontribusi lebih dari setengah pergerakan pesawat global, mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk mempersiapkan dampak ekonomi yang luas, seiring berbagai upaya pencegahan lainnya yang dilakukan negara untuk menahan penyebaran COVID-19.

Tak hanya itu, ketiga aliansi tersebut juga meminta stakeholder lainnya di seluruh dunia untuk memberikan dukungan. Sebagai contoh, operator bandara didesak untuk mengevaluasi berbagai biaya, seperti landing charges dan pengurangan tarif Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U), dan berbagai biaya lainnya untuk mengurangi tekanan keuangan maskapai akibat anjloknya jumlah penumpang.

“Dampak manusia (korban) dan finansial yang disebabkan oleh wabah COVID-19 terhadap industri penerbangan belum pernah terjadi sebelumnya. SkyTeam, dengan mitra aliansi, dan atas nama maskapai anggota, mendesak semua lembaga dan pemangku kepentingan industri yang terlibat untuk menghadapi masa-masa yang luar biasa ini dengan langkah-langkah luar biasa juga. Ini termasuk tindakan seperti pengurangan (biaya) slot, bandara, dan pengurangan biaya penerbangan lainnya,” kata Kristin Colvile, CEO dan Managing Director SkyTeam.

Di luar langkah dan upaya dari para stakeholder, maskapai penerbangan global sendiri, baik anggota dari tiga aliansi tersebut maupun bukan, sudah sejak pertengahan Januari lalu mulai melakukan beberapa langkah efisiensi, seperti pengurangan karyawan, pemotongan gaji dan tunjangan, menunda segala bentuk invenstasi jangka panjang, meminta karyawan untuk cuti tanpa dibayar atau sukarela, mengurangi beberapa layanan di darat dan di udara, bahkan menunda dan membekukan pesanan pesawat baru, khususnya yang sudah masuk periode pengiriman.

Di samping itu, upaya mendapatkan dana segar juga telah dilakukan banyak maskapai. Setidaknya hal tersebut dapat diketahui oleh pengakuan Domhnal Slattery, bos dari salah satu leasing pesawat terbesar di dunia, Avolon Leases Aircraft, yang menyebut pihaknya telah dihubungi banyak maskapai global, khususnya maskapai-maskapai dari Cina.

Baca juga: Virus Corona, Petaka Buat Maskapai, Bisa Jadi Berkah Buat Perusahaan Leasing

International Air Transport Association (IATA) atau Asosiasi Transportasi Udara Internasional sendiri sudah memperkirakan, jika krisis virus corona sama dengan wabah SARS pada awal 2000-an silam, hal itu sangat mungkin akan menyebabkan hilangnya pendapatan (profit loss) maskapai global tahun ini sebesar $29 miliar atau Rp417 triliun atau turun 4,7 persen sepanjang 2020.

Selain itu, upaya recovery-nya pun tak sebentar, (jika krisis virus corona sama dengan wabah SARS pada awal 2000-an silam) membutuhkan setidaknya sembilan bulan untuk memulihkan ekosistem bisnis di dunia aviasi. Lantas, bagaimana dengan virus corona, akankah sama dengan SARS (dalam hal recovery yang mencapai 9 bulan)?

Cegah Penyebaran Virus Corona, TransJakarta Tak Terima Uang Tunai Untuk Top Up Kartu Elektronik

Penyebaran virus corona yang kian hari kian merebak di Indonesia sempat membuat moda transportasi di Ibukota Jakarta menjadi sasaran pengurangan rangkaian. Bahkan beberapa rute pun tidak ada angkutan dan menyebabkan penumpukan penumpang di berbagai stasiun Moda Raya terpadu (MRT) Jakarta dan halte-halte milik TransJakarta pada Senin (16/3/2020) kemarin.

Baca juga: Jilat Jemari dan Pegang Tiang Kereta Bawah Tanah, Pria ini Mendapat ‘Kutukan’ dari Netizen!

Padahal awal pengurangan ini dilakukan untuk mencegah penyebaran virus corona antar penumpang. Namun karena tak berhasil kemudian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akhirnya mengembalikan seperti semua layanannya baik MRT jakarta, bus TransJakarta dan LRT Jakarta.

Meski begitu banyak hal lain yang dilakukan beberapa moda transportasi ini, seperti TranJakarta yang mulai Kamis (19/3/2020) mulai melayani pembayaran non tunai. Kepala Divisi Sekretaris Korporasi dan Humas PT TransJakarta Nadia Diposanjoyo mengatakan, pihaknya akan menutup semua bentuk transaksi dengan menggunakan uang tunai.

“Kita pada kamis besok akan menutup transaksi dengan uang tunai dalam aktivitas isi ulang atau top up uang elektronik serta pembelian kartu perdana diseluruh halte Bus Rapid Transit (BRT) untuk sementara waktu,” ujar Nadia melalui siaran pers yang diterima, Rabu (18/3/2020).

Nadia mengatakan, kebijakan ini sendiri diambil oleh PT TransJakarta sebagai salah satu upaya menghambat penularan virus corona khususnya di transportasi publik. Dia menambahkan, karena hal ini, maka penumpang yang menggunakan layanan TransJakarta memastikan saldo uang elektroniknya cukup.

“Bagi yang ingin melakukan isi ulang atau top up bisa menggunakan debit yang dilakukan di halte seperti biasanya. Namun hanya berlaku untuk bank tertentu seperti BCA, Mandiri dan BNI. Untuk bentuk pengisian ulang lain bisa dilakukan melalui mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) atau minimarket terdekat,” jelasnya.

Tak hanya itu, bagi pengguna kartu JakLingko yang dikeluarkan oleh BNI juga bisa melakukan top up mandiri melalui vending machine di beberapa halte TransJakarta yakni Blok M, Bundaran Senayan, Dukuh Atas, Bundaran HI, Harmoni dan Tanah Abang.

Baca juga: Malaysia Berlakukan “Lockdown,” Ini Enam Ketentuan yang Harus Dipatuhi

Namun, saat ini untuk kereta rel listrik (KRL) CommuterLine masih bisa menggunakan uang tunai ketika top up dilakukan di loket stasiun dan belum ada pemberitahuan terkait penggunaan uang tunai dalam pengisian saldo di loket. Hingga berita ini diturunkan pihak PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) belum memberikan jawaban akan hal tersebut.