Penerbangan di Cina Mulai Bergairah, Industri Penerbangan Global Perlahan Bangkit

Industri penerbangan di Cina mulai kembali bergairah setelah terus-menerus dalam keadaan tertekan akibat turunnya frekuensi perjalanan sejak Januari hingga pertengahan Maret lalu. Okupansi dan frekuensi penerbangan juga mulai meningkat, ditandai dengan semakin banyaknya bandara yang dibuka, tak terkecuali di Provinsi Hubei yang notabene salah satu kotanya menjadi titik awal penyebaran virus corona.

Baca juga: Selamatkan Industri Penerbangan, APEX Serukan Pemerintahan Global Kucurkan ‘Bantuan’ Rp3.805 Triliun!

Seperti dikutip dari laman Simple Flying, CH-Aviation melaporkan bahwa semua bandara di Provinsi Hubei, kecuali Wuhan yang baru akan dibuka pada 8 April mendatang, telah dibuka kembali untuk penerbangan domestik. Sekalipun jaringan internasional Cina belum bisa dimaksimalkan sepenuhnya, namun, dengan luas daratan mencapai 9,597 juta km² atau menyandang sebagai negara terbesar ke-3 di dunia, serta dengan populasi penduduk hampir menyentuh 1,4 miliar jiwa, membuat jaringan domestik penerbangan Cina tak bisa dianggap remeh.

Masih dalam laporan CH-Aviation, penerbangan pertama yang berangkat dari provinsi yang menjadi sentra bisnis manufaktur tersebut adalah layanan Fuzhou Airlines dengan nomor penerbangan FU6779 rute Yichang-Fuzhou. Belum jelas penerbangan tersebut memuat berapa penumpang, hanya saja saat itu Fuzhou Airlines mengoperasikan Boeing 737-800 pada penerbangan tanggal 29 Maret tersebut.

Beberapa bandara lain yang juga sudah dibuka di provinsi tersebut yakni bandara di Kota Enshi, dengan penerbangan perdananya dilakoni oleh Capital Airlines rute Enshi-Hangzhou serta Bandara Shiyan oleh Loong Air dengan rute yang sama dengan Capital Airlines dan Juneyao Airlines yang mengoperasikan penerbangan pertama dari Xiangyang ke Shanghai Pudong pada hari yang sama.

Menurut OAG, kapasitas maskapai di seluruh dunia, secara keseluruhan, turun lebih dari seperempat. Laporan terbaru untuk minggu ini menunjukkan penurunan di seluruh dunia sebesar 28,7 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Bahkan, beberapa negara lainnya, seperti Italia dan Hong Kong, penurunannya cukup drastis, mencapai lebih dari 80 persen.

Bandingkan dengan tren di China yang notabene terus mengalami peningkatan dalam tempo empat pekan beruntun. OAG mencatat, titik terendah industri penerbangan Cina terjadi pada hari Minggu, 17 Februari, ketika perjalanan udara terkoreksi turun 70,8 persen.

Baca juga: Pengamat: Sulit Untuk Ikuti Cina Turunkan Harga Tiket Pesawat Hingga Rp60 Ribu

Namun, sejak saat itu perlahan mulai merangkak naik dengan penurunan menjadi hanya sekitar 40 persen untuk dua pekan pertama di bulan Maret. Bahkan untuk dua minggu terakhir angkanya lebih sedikit lagi. Minggu ketiga, mulai 16 Maret, penurunan penerbangan di Cina turun menjadi 38,7 persen. Minggu terakhir yang dianalisis oleh OAG menunjukkan lalu lintas turun menjadi hanya tinggal 37,5 persen. Masih tergolong lambat memang, tetapi pasti.

Bergairahnya kembali penerbangan di Cina tentu saja menjadi kabar gembira bukan hanya untuk maskapai-maskapai di Cina, melainkan ekosistem bisnis penerbangan global, seperti pemasok suku cadang, mesin, hingga produsen pesawat global seperti Airbus dan Boeing yang mau tak mau juga turut mendapat berkah dari kebangkitan tersebut.

Boeing ‘Wakafkan’ Pesawat Kargo Terbesar Miliknya untuk Perang Melawan Corona

Presiden Trump mengumumkan bahwa Boeing akan menyumbangkan tiga dari empat pesawat 747-400LCF Dreamlifter-nya dalam konferensi pers hari Jumat sore di Gedung Putih. Di depan awak media, ia pun dengan bangga menunjukkan foto burung besi terbesar milik Boeing tersebut. Pesawat berkapasitas 1.840 meter kubik atau 113 ton itu nantinya akan membantu upaya distribusi untuk memasok alat kesehatan seperti masker wajah, ventilator, dan kebutuhan lain bagi garda terdepan (pekerja medis) untuk melawan COVID-19.

Baca juga: Tim Formula 1 Mercedes-AMG Ciptakan Ventilator Canggih dan Lebih Mudah Digunakan

Seperti dilaporkan businessinsider.com, meskipun sempat mengaku kesulitan menjalankan roda bisnis pesawat sebagaimana mestinya, akibat rontoknya industri penerbangan global, Boeing akhirnya bisa bernapas lega setelah disebut telah menerima dana talangan sebesar $17 mliliar dolar atau sekitar Rp238 triliun (16.280) dari pemerintah federal.

Tentu saja dana talangan tersebut memang dimaksudkan untuk menjaga persaingan bisnis global Boeing agar tetap bisa bersaing saat berhadapan dengan raksasa produsen pesawat Eropa, Airbus. Meski demikian, tetap saja, ada konsekuensi yang harus dijalankan Boeing, salah satunya dalam misi pengiriman logistik untuk memerangi corona di Negeri Paman Sam.

Pasalnya, saat ini, AS yang semula damai dan aman sentosa dari ancaman virus corona dalam tempo beberapa waktu belakangan kemudian berubah menjadi sangat mencekam. Hingga kemarin, Amerika telah mencatat lebih dari 164 ribu kasus dimana 3 ribu orang lebih di antaranya meninggal. Bahkan, saking banyaknya yang meninggal, dalam sebuah video viral, truk es sampai harus dikerahkan untuk menyimpan sementara mayat korban corona di AS karena rumah sakit tidak lagi menampung lonjakan pasien yang terus bertambah pesat.

Oleh karenanya, pemerintah AS pun terus melakukan berbagai langkah taktis untuk memutus laju peningkatan kasus positif dan kematian corona. Salah satunya dengan cara mempercepat suplai logistik alat pelindung diri (APD) untuk para petugas medis di sejumlah negara bagian, khususnya New York yang jadi episentrum penyebaran corona di AS. Dengan load muatan yang cukup besar serta jarak tempuh yang bisa dipangkas, bila dibandingkan dengan menggunakan jalur darat, tentu kehadiran Boeing 747-400LCF Dreamlifter cukup krusial saat ini.

Sebelum adanya pandemi virus corona, Boeing 747-400LCF atau Large Cargo Freighter Dreamlifter dioperasikan untuk kebutuhan suplai logistik pesawat-pesawat Boeing, seperti sayap dan badan pesawat 787 Dreamliner, dan lainnya.

Baca juga: Kesulitan Cari Utang Baru, Boeing Sebut Butuh Suntikan Modal Segera

Seperti halnya Airbus BelugaXL, bagian kargo B747-400LCF juga tak bertekanan (unpressurized). Perbedaan utama di antara kedua raksasa terbang ini adalah bukaan pintu kargonya. Bila BelugaXL menerapkan bukaan pintu di depan kepala yang membuka ke atas, maka B747-400LCF mengadopsi pintu model swing-tail atau bukaan mengayun kesamping yang berada di pinggang belakang. Model tersebut tak lepas dari sumbangsih perusahaan asal Spanyol, Gamesa Aeronáutica, dalam perancangan pintu kargo yang berada di pinggang belakang pesawat.

Meskipun terlihat mewah, semua armada Boeing 747-400LCF Dreamlifter dibuat dari pesawat bekas pakai. Rinciannya, satu eks maskapai Air China, dua bekas pesawat China Airlines, dan satu lainnya berasal dari maskapai Malaysia Airlines. Tiga pesawat selesai dibangun dan beroperasi sejak Juni 2008. Sementara pesawat keempat mulai beroperasi pada Februari 2010.

Tangkal Corona, PT KAI Kerahkan Rail Clinic dan Kereta Inspeksi di Jalur Utara-Selatan Jawa

Awal bulan Maret, tepatnya pada tanggal 5 hingga 9 Maret 2020, PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengoperasikan Rail Clinic dan Kereta Inspeksi. Keduanya beroperasi di lintas utara dan selatan Jawa sebagai upaya mengantisipasi penyebaran virus corona atau Covid-19.

Baca juga: Rail Clinic Bantu Korban Tsunami Banten

“Dijalankannya Rail Clinic dan Kereta Inspeksi mengelilingi Pulau Jawa adalah sebagai upaya KAI agar tidak terjadi penyebaran virus corona di area Stasiun dan Kereta Api,” ujar Direktur Utama KAI Edi Sukmoro yang dikutip dari website kai.id.

Dia menjelaskan dua kereta tersebut berhenti di beberapa stasiun untuk melakukan pelayanan kepada masyarakat berupa pemeriksaan kesehatan, pembagian masker, pembagian pamflet, penyuluhan kesehatan tentang Covid-19, cuci tangan, pemakaian masker serta etika batuk dan bersin. VP Humas PT KAI Yuskal Setiawan mengatakan, Rail Clinic beroperasi dengan keberangkatan dari Semarang, Tegal, Cirebon, Cikampek dan berlanjut ke Depok serta Bogor.

“Sedangkan keberangkatan dari Bandung menuju ke Purwokerto, Yogyakarta dan berlanjut ke Surabaya,” kata Yuskal yang dihubungi KabarPenumpang.com, Rabu (1/4/2020).

Selain Rail Clinic, Kereta Inspeksi yang dijalankan melayani Stasiun bandung, Tasikmalaya, Banjar, Kroya, Yogyakarta, Solo, Madiun, Mojokerto, Surabaya Gubeng, Bojonegoro, Purwokerto dan Pasar Senen. Yuskal menyebutkan, untuk daerah Sumatera Rail Clinic dan Kereta Inspeksi tidak dioperasikan tetapi hanya sosialisasi di stasiun-stasiun.

Edi menambahkan, saat ini KAI menyediakan pos kesehatan di 89 stasiun di Jawa dan Sumatera bagi penumpang yang ingin memeriksa kesehatan. Dia mengimbau kepada penumpang yang dalam kondisi tidak fit agar tidak memaksakan naik kereta api. Selain itu Edi juga berpesan kepada penumpang untuk melapor kepada petugas stasiun atau kondektur jika merasa tidak sehat, sehingga dapat ditindaklanjuti oleh petugas.

“Demi efektivitas pencegahannya, KAI juga mengajak kepada pengguna KA untuk menjaga kesehatan diri dan memakai masker jika sedang sakit,” ujar Edi.

Sebelumnya, KAI telah melakukan sosialisasi pencegahan penyebaran virus corona di berbagai stasiun dan internal KAI pada Januari 2020, yakni saat awal beredarnya kabar virus corona. Sosialisasi tersebut berupa pemasangan spanduk, pembagian brosur, dan kampanye hidup sehat oleh petugas kepada penumpang.

“Upaya-upaya preventif penyebaran virus corona terus kami lakukan baik di atas kereta maupun stasiun. Kami juga mengajak pengguna KA untuk sama-sama proaktif mencegah penyebaran virus corona,” ujar Edi.

Baca juga: Suhu Tubuh Tinggi Saat Dicek Masuk Stasiun? PT KAI Siap Kembalikan Tiket Anda

Dia menambahkan, dalam hal kebersihan sarana kereta, KAI melakukan pencucian interior dan eksterior kereta secara rutin setiap sebelum perjalanan dengan menggunakan bahan kimia untuk sterilisasi. KAI juga menyiagakan petugas kebersihan baik di stasiun maupun selama perjalanan. Bantal yang disediakan di kereta pun selalu dalam kondisi baru tercuci bersih setiap pergantian penumpang.

“Hand sanitizer juga mulai kami sediakan di stasiun, kereta makan, pos kesehatan, kantor, dan titik-titik lainnya,” tambah Edi.

Lawan Covid-19, Ford dan GE Healthcare Produksi Ventilator Tanpa Perlu Aliran Listrik

Pabrikan otomotif di Amerika Serikat (AS) ikut berlomba memproduksi ventilator untuk membantu pemerintah melawan pandemi virus corona yang tengah menyebar cepat di AS. Layaknya manufaktur di berbagai Eropa dan Asia, salah satu manufaktur otomotif ternama di dunia asal AS, Ford, dikabarkan telah menjalin kemitraan dengan GE Healthcare untuk memproduksi ventilator canggih yang penggunaannya bergantung pada tekanan udara tanpa memerlukan listrik.

Baca juga: Tim Formula 1 Mercedes-AMG Ciptakan Ventilator Canggih dan Lebih Mudah Digunakan

Dikutip dari usatoday.com, keduanya mengumumkan pada hari Senin lalu terkait rencana untuk memproduksi 50.000 ventilator dalam 100 hari ke depan. Sadar produksi akan lebih cepat dikebut dengan bersama-sama, nantinya Ford dan GE Healthcare juga akan mendapat dukungan dari 500 karyawan United Auto Workers (UAW) di Michigan untuk membantu percepatan proses produksi. Meski demikian, Ford akan tetap mengirim orang untuk bekerja di Florida sebagai bagian dari kolaborasi, guna memberikan dukungan teknik dan logistik.

Menariknya, selain digadang-gadang akan meproduksi ventilator canggih tanpa memerlukan aliran listrik, proyek tersebut digadang-gadang juga bernuansa gotong royong atau sukarelawan. Beberapa sumber melaporkan bahwa para pekerja UAW dibayar secara sukarelawan, sekalipun penuh dengan tekanan dan dituntut untuk mencapai target 50 ribu ventilator dalam 100 hari, dan akan bekerja pada tiga shift.

“Laki-laki dan perempuan pekerja keras yang bersemangat dalam menjawab panggilan untuk menjadi sukarelawan untuk memenuhi kebutuhan (ventilator) mendesak,” kata salah satu politisi partai Demokrat yang juga perwakilan pemerintah AS, Debbie Dingell.

Selain memproduksi 50 ribu ventilator dalam 100 hari, Ford dan mitra kerjanya juga merencanakan agar dapat membuat 30.000 ventilator setiap bulannya untuk perawatan pasien yang terpapar virus corona. Desain ventilator yang akan dibuat Ford ini telah mengalami penyederhanaan dan tentu saja telah mendapat lisensi dari Airon Corp yang berbasis di Florida dan Food and Drug Administration.

Meskipun tergolong berat, namun, secara teknis, 50 ribu ventilator dalam 100 hari masih masuk dalam hitungan para stakeholder. Skemanya, Ford memproyeksikan terlebih dahulu memproduksi 1.500 ventilator pada akhir April, kemudian meningkat menjadi 12.000 pada akhir Mei, dan genap 50.000 pada hari ke-100 sejak dimulainya proyek tersebut atau 4 Juli mendatang.

Baca juga: Keren, Penjualan Pesawat Sepi, Airbus Produksi Ventilator Lawan Corona

Lonjakan produksi yang cukup tinggi dari akhir April, Mei, hingga Juni dikarenakan pembuatan ventilator yang akan dilakukan di pabrik Ford di Ypsilanti, Michigan tersebut diakibatkan oleh masa pencarian framework terbaik dalam memproduksi ventilator, mengingat mereka bukanlah perusahaan yang terbiasa menjalankan bisnis produksi alat kesehatan. Jadi, perlu waktu untuk menyesuaikan diri, baik secara bisnis maupun secara pola kerja.

Meskipun proyek melawan virus corona tersebut tetap tidak lepas dari bayang-bayang virus corona itu sendiri, khususnya bagi para pekerja yang rentan terpapar Covid-19, pihak Ford mengaku bahwa mereka akan menerapkan protokol kesehatan sesuai arahan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau CDC serta WHO, seperti physical distancing dan berbagai pemeriksaan ketat sebelum maupun sesudah bekerja, untuk mencegah proyek tersebut menjadi cluster baru penyebaran corona.

Tim Formula 1 Mercedes-AMG Ciptakan Ventilator Canggih dan Lebih Mudah Digunakan

Balap jet darat atau Formula 1 (F1) memang telah dihentikan akibat pandemi virus corona yang saat ini titik episenternya tengah berpindah, dari semula di Cina menjadi di Eropa dan Amerika Serikat. Terbukti dengan tingginya kasus positif dan jumlah kematian akibat Covid-19 di kedua wilayah tersebut. Meski demikian, hal itu bukan berarti membuat tim balap F1 gabut.

Baca juga: Keren, Penjualan Pesawat Sepi, Airbus Produksi Ventilator Lawan Corona

Seperti dikutip dari caranddriver.com, tim F1 Mercedes-AMG dilaporkan tengah berjuang untuk membantu penyebaran Covid-19 di Eropa, khususnya di Inggris, dengan membuat ventilator canggih atau continuous positive airway pressure (CPAP). Ventilator tersebut diklaim lebih mudah digunakan dibanding ventilator lainnya yang sudah beredar di berbagai rumah sakit.

Melalui tim dari divisi High Performance Powertrains, Mercedes-AMG tidaklah sendirian menggarap proyek tersebut dan telah bermitra dengan para insinyur dari University College London serta paramedis dari University College London Hospital (UCLH) untuk mengembangkan perangkat CPAP dalam waktu kurang dari seminggu untuk membantu pasien corona.

Pasalnya, saat ini Inggris tengah menghadapi ‘musim’ kematian akibat virus corona dimana sekitar 25.150 orang kini dinyatakan positif dan 1.789 telah meninggal per tanggal 31 Maret kemarin. Bahkan, angkanya diperkirakan akan terus bertambah mengingat Inggris belum memasuki puncak kematian corona. Angka kasus kematian per hari akibat corona pun juga saling susul dengan Perancis. Inggris sempat menjadi negara dengan kasus kematian akibat virus corona tertinggi 381 pada hari Selasa lalu, sebelum akhirnya kembali disalip oleh Perancis dengan 499 kematian per hari.

Oleh karenanya, pemerintah Inggris bergerak cepat dengan mendorong banyak manufaktur yang berbasis di Inggris untuk berlomba membuat ventilator, tak terkecuali Mercedes-AMG. Selain itu, 6 tim lainnya yang berbasis di Inggris kabarnya juga siap membantu pemerintah dalam menangani kasus virus corona.

Baca juga: Awak Kabin ‘Ancam’ Semprot Lysol ke Bokong Penumpang yang Batuk

Tim-tim tersebut bertugas mengembangkan alat medis serupa dan juga mendistribusikan peralatan-peralatan medis lainnya, termasuk ventilator. Setelah lolos uji dari badan pengawas setempat, Mercedes-AMG sudah berhasil membuat 40 sampel CPAP di University London College Hospital dan juga 3 buah di London Hospital. Jika sampel sukses, Mercedes-AMG sudah siap ngebut di pabrik membuat seribu alat setiap harinya selama satu pekan.

Bergabungnya Mercedes-AMG dan berbagai mitranya ke dalam perlombaan untuk memproduksi ventilator tentu menjadi kabar baik dalam upaya perang melawan virus corona di Inggris. Sebelumnya Negeri Ratu Elizabeth tersebut telah menggandeng Airbus beserta beberapa mitranya, Dyson, Mclaren, Nissan, Rolls Royce, dan Inspiration Healthcare, juga untuk membantu pemerintah memerangi virus corona dengan membuat 30 ribu ventilator.

Antisipasi Covid-19, Semua Awak Kabin di Taiwan Dilengkapi APD

Maskapai dunia saat ini tengah terpuruk karena banyak rute penerbangan yang di tutup karena Covid-19 yang tengah merebak. Tak hanya itu, pelancong-pelancong pun membatalkan tiket penerbangan mereka demi pencegahan diri sendiri agar tidak terinfeksi.

Baca juga: Virus Corona Merebak, Awak Kabin Cari Perlindungan

Meski terpuruk, tetapi sepertinya Taiwan cukup berhasil dalam memerangi dampak terburuk krisis dan ancaman terhadap industri penerbangan saat ini. Bahkan semua maskapai Taiwan seperti Eva Air, China Airlines dan beberapa lainnya akan dibagikan alat pelindung diri (APD).

APD tersebut dibagikan oleh Pusat Komando Epidemi Sentral Taiwan atau Taiwan Centers for Desease Control (CECC). Peralatan yang dibagikan seperti masker bedah, kacamata, pakaian pelindung dan sarung tangan yang juga merupakan alat yang sama diberikan kepada tenaga medis. Bisa dikatakan kehadiran peralatan ini menjadi peningkatan besar-besaran dari hanya awalnya yang menggunakan masker saja.

KabarPenumpang.com melansir laman simpleflying.com (30/3/2020), kehadiran APD ini sendiri karena Menteri Kesehatan Cheng Shih-Chung merupakan kepala dari CECC di Taiwan. Selain menghadirkan APD, CECC juga tengah mempertimbangkan mandat undang-undang dan peraturan baru untuk memastikan bahwa penumpang tidak membahayakan awak kabin.

Hal ini mungkin termasuk memberi tahu staf jika mereka memiliki kondisi demam, duduk terpisah atau mencegah batuk pada orang lain. Sejauh ini satu-satunya aturan yang berlaku untuk maskapai Taiwan adalah bahwa penumpang dapat membawa botol desinfektan dan APD mereka sendiri, tetapi mereka tidak dapat mengganti kursi di pesawat tanpa izin dari awak pesawat.

Selain dengan APD, pemerintah Taiwan juga mengatakan agar awak pesawat yang baru kembali dari penerbangan jarak jauh atau luar negeri diharapkan untuk mengisolasi diri selama lima hari. Hal ini dilakukan jika ada yang terinfeksi tidak akan menularkannya pada orang lain.

Selain awak pesawat komersial, awak pesawat kargo yang mengantar barajng ke dan dari luar negeri pun harus mengisolasi diri mereka hanya saja waktunya lebih singkat yakni tiga hari. Bisa dikatakan, waktu isolasi diri para awak pesawat ini lebih pendek dari aturan yang diterapkan pada penumpang, yang perlu mengisolasi diri selama 14 hari ketika tiba di Taiwan.

Baca juga: Penumpang Terpapar Virus dalam Penerbangan, Vietjet Tawarkan Asuransi ‘”Sky Covid Care”

Untuk diketahui, Taiwan saat ini tidak mengizinkan pelancong untuk berkunjung dan telah menutup bandaranya untuk transit penumpang. Mereka juga membatasi yang tiba di Taiwan seperti warga negara dan yang memiliki hak untuk tinggal di sana.

Apakah dengan kehadiran APD yang akan digunakan awak pesawat ini membuat mereka terlindungi?

Setelah 18 Bulan ‘Tidur’, Pesawat Terbesar di Dunia Antonov An-225 Kembali Mengudara

Belum lama ini, situs FlightRadar24.com mencatat adanya pergerakan Antonov An-225 setelah 18 bulan atau sejak Oktober 2018 silam pesawat mulai menjalani program pemeliharaan dan peningkatan besar atau moderniasasi. Pihak perusahaan tidak menjelaskan secara detail apa saja komponen yang dimodernisasi pada pesawat dengan kemampuan angkut sebesar 250 ton tersebut.

Baca juga: Oleg Konstantinovich Antonov – Sosok Legendaris di Balik Nama Besar “The Mammoth” An-225

Meski demikian, diketahui, pesawat yang merupakan kombinasi dari desain jadul dan inovasi modern, mencakup sistem kontrol fly-by-wire dan hidraulik triple-redundan, serta memiliki roda pendarat utama yang berjumlah 32 roda tersebut telah menerima sistem avionik yang lebih baik dan setidaknya satu mesin baru dari pemasok Ivchenko-Progress. Hal itu tentu membawa angin segar bagi para pecinta aviasi untuk tetap melihat burung besi terbesar sejagat tersebut tetap terus mengudara dengan beberapa peningkatan tersebut.

Dilansir popularmechanics.com, pada penerbangan Rabu lalu waktu setempat itu, Antonov An-225 tercatat mengudara selama dua jam di atas pedesaan Kiev, Ukraina sebelum akhirnya kembali ke Antonov Aiport (GML). Lapangan terbang ini dimiliki oleh perusahaan dan berfungsi sebagai riset and development atau R&D utama dan pusat uji terbang untuk tugas berat pesawat kargo tersebut.

Sebelum muncul kembali di Kiev, Ukraina, para pecinta aviasi memang kerap menunggu momen mengudaranya Antonov An-225. Sebab, pada umumnya, Antonov tidak mempublikasikan jadwal penerbangannya akibat jarang terbang. Selain harus terbang dengan muatan penuh atau setidaknya 70 persen dari kapasitas, pesawat raksasa itu jarang mengangkasa juga lantaran biaya operasionalnya sangat mahal sehingga membuat peminat sangat sedikit.

Untuk sekali terbang selama satu jam, penggunanya harus merogoh kocek sekitar $30.000 atau hampir Rp492 juta per jam, tak terlalu berbanding jauh dengan pesawat komersial terbesar di dunia, Airbus A380 yang menghabiskan setidaknya $28 ribu atau Rp464 juta per jam. Bahkan, sepanjang 2016, pesawat berjuluk ‘Mriya’ (‘Mimpi’ dalam bahasa Indonesia), hanya mengudara selama tiga bulan dalam dua misi penerbangan. Sembilan bulan sisanya, ‘Mriya’ tidur dan bermimpi.

Tetapi, meski demikian, secara rutin, pesawat tersebut memang kerap muncul di tempat-tempat yang jauh seperti Afrika Barat, sudut terpencil Amerika Selatan, atau Pedalaman Australia — di samping tujuan yang lebih akrab seperti di Eropa, Timur Tengah, dan Asia; termasuk juga ke AS.

Baca juga: Bicara Dimensi dan Bobot, Lima Pesawat Ini Masih Juara

Pesawat Antonov An-225 awalnya dirancang sebagai pengangkut pesawat ulang-alik Buran milik Uni Soviet. Setelah Uni Soviet bubar, An-225 terpaksa mencari misi lainnya sebagai pesawat kargo, kata Alexander Galunenko, orang pertama yang menerbangkan An-225.

An-225 pertama kali mengudara pada 21 Desember 1988. Pesawat berbobot terbang maksimum (MTOW) 640.000 kg, dengan enam mesin jet, dan memiliki panjang sayap 290 kaki atau setara dengan 88 meter ini diawaki oleh enam orang.
.

Awak Kabin ‘Ancam’ Semprot Lysol ke Bokong Penumpang yang Batuk

Ada banyak cara menghibur penumpang sebelum penerbangan dimulai. Kurang dari dua pekan lalu, seorang pramugari Southwest Airlines menjadi perbicangan di media sosial lantaran aksi uniknya menaruh sebuah benda di lantai sebelum pesawat lepas landas. Alhasil, setelah bagian moncong pesawat berada pada posisi lebih tinggi dibanding ekor pesawat, perlahan sebuah benda plastik berwarna merah tersebut meluncur ke belakang, menuju lokasi pramugari tersebut berada.

Baca juga: Pramugari Hibur Penumpang dengan Cara Unik Di Tengah Penerbangan yang Nyaris Kosong

Di Indonesia sendiri, awak kabin salah satu maskapai juga kerap menghibur melalui berbagai pantun-pantun unik, lucu, dan fresh yang sangat menghibur, baik sebelum maupun saat pesawat hendak turun landas.

Senada dengan kedua cara unik awak kabin untuk menghibur penumpang, belum lama ini, sebuah penerbangan dari Florida ke Connecticut, Amerika Serikat (AS) ramai diperbincangkan di media sosial Instagram lantaran sebuah jokes receh dari awak kabin. Bedanya, pada penerbangan itu, awak kabin memulai jokes tersebut berkenaan langsung dengan pandemi virus corona yang tengah meningkat tajam di Negeri Paman Sam.

Dikutip dari dailymail.co.uk, awak kabin dari maskapai yang tak disebutkan tersebut sebetulnya hanya memperingatkan penumpang bahwa mereka akan disemprot dengan Lysol, deterjen yang disebut-sebut memiliki senyawa ampuh dalam membunuh virus corona, jika mereka batuk atau bersin selama penerbangan.

Dalam video yang dibagikan oleh pengguna Instagram Zion Setal melalui Barstool Sports, rekaman ponsel menangkap momen ketika awak kabin berbicara kepada penumpang tepat sebelum pesawat mulai lepas landas. Sambil memegang sekaleng Lysol Disinfectant Spray, pria itu bercanda memperingatkan orang-orang terhadap penyebaran Covid-19.

“Aku memberitahumu sekarang. Jika aku melihatmu batuk (atau) bersin, aku akan menyemprot pantatmu. Aku tidak main-main,” kata awak kabin yang tidak disebutkan namanya tersebut. Sontak, peringatan dari awak kabin, lengkap dengan brewok yang menambah kesan maskulin tersebut, justru disambut dengan tawa oleh sebagian besar penumpang yang mendengarkan ocehannya itu.

Betapa tidak, sekalipun ia menyebut bahwa dirinya tak main-main dan benar-benar akan menyemprot Lysol Disinfectant Spray ke bokong pelanggan saat tertangkap basah batuk atau bersin, sebagai representatif dari gejala seseorang terpapar corona, tapi ekspresi wajah memang tak pernah bohong. Belum lagi ditambah dengan nada bicara dan gesture tubuhnya yang tampaknya lebih terkesan ingin membuat sebuah jokes halus.

Baca juga: Pramugari EasyJet Bikin Tubuh Penumpang Melepuh Akibat Ketumpahan Mie

Setal sendiri mengatakan bahwa awak kabin menggunakan cara unik membuat sedikit humor untuk menghibur penumpang yang gugup dalam penerbangan tersebut selama wabah corona mengintai. Bahkan, Setal menyebut awak kabin tersebut membuat lelucon nyaris sepanjang waktu dan membuat semua orang merasa lebih nyaman.

Hingga kini, video tersebut telah ditonton lebih dari 3 juta orang dari seluruh dunia. Aksi awak kabin tersebut yang beredar luas di media sosial tentu sangat berpengaruh terhadap kondisi psikologis penumpang. Pasalnya, saat ini, Presiden AS, Donald Trump memang telah memperingatkan warganya bahwa penerbangan manapun, entah domestik apalagi internasional, sangat rentan terpapar virus corona. Hal itu kemudian juga diikuti dengan tingginya kasus Covid-19 di AS yang sudah mencapai 163.429 kasus pada Selasa ini, dimana, menurut Johns Hopkins University, 3.008 orang di antaranya telah dinyatakan meninggal dunia.

Inilah Beragam Fitur Canggih di Airbus A350 “Regierungsflieger” Angela Merkel

Pesawat A340 yang membawa Kanselir Jerman Angela Merkel dilaporkan harus melakukan pendaratan darurat pada tahun 2018. Tentu saja hal tersebut menjadi catatan buruk perjalanan dinas salah seorang pejabat tertinggi Jerman. Tak ingin mengulangi kesalahan yang sama, Jerman pun akhirnya memesan tiga buah pesawat A350 yang satu di antaranya dikabarkan tak lama lagi akan segera tiba.

Baca juga: Gantikan Airbus 340, Pemerintah Jerman Bakal Gunakan A350 Sebagai Pesawat Kenegaraan

Dikutip dari thepointsguy.co.uk, Airbus A350-900 pesanan Jerman dikabarkan baru saja menyelesaikan uji terbang keempat dari fasilitas Airbus di Toulouse, Perancis. Diperkirakan, bila tak ada kendala apapun, dalam waktu dekat satu pesawat akan dikirim. Adapun dua pesawat lainnya dijadwalkan pada 2022 mendatang, mengingat kondisi sejumlah pembatasan kerja di berbagai suplai chain Airbus akibat pandemi corona.

Menurut Aerotime Hub, pemerintah Jerman diperkirakan merogoh kocek sebesar $1,3 miliar atau sekitar Rp21 triliun untuk tiga buah pesawat A350-900. Hal itu termasuk beberapa modifikasi untuk menyesuaikan spesifikasi sebagai sebuah pesawat angkut VIP setingkat kepala negara.

Sebagai sebuah negara besar, pesawat dinas setingkat kepala negara Jerman sudah barang tentu harus dilengkapi dengan berbagai teknologi canggih. Pasalnya, bila tidak dilengkapi dengan teknologi canggih, bukan tak mungkin, pesawat dapat dengan mudah dirudal oleh para teroris kelas kakap. Terlebih, perjalanan dinas Angela Merkel yang mencapai 50-an setiap tahunnya semakin menambah kerentanan pesawat bila tidak dilengkapi dengan sistem keamanan pendukung.

Kantor berita Aerotelegraph melaporkan, setidaknya, pesawat dari keluarga A350 XWB (Extra Wide Body) dengan kemampuan terbang jarak jauh atau Ultra Long Range (ULR) tersebut telah disisipi dua fitur pertahanan, seperti sistem pertahanan rudal atau CAMS (Civilian Aircraft Missile Protection System) yang mampu menahan rudal dari udara-ke-udara dan dari darat-ke-udara serta peralatan radio militer dengan dilengkapi kombinasi pesan rahasia yang terenkripsi untuk berkomunikasi di udara.

Dua sistem pertahanan tersebut dinilai sangat cocok untuk saling melengkapi satu sama lain. Sebab, bila hanya mengandalkan pada salah satu dari dua sistem pertahanan tersebut, perjalanan dinas kepala negara belum sepenuhnya aman. Misalnya, sekalipun pesawat dilengkapi dengan sistem anti rudal dari udara-ke-udara ataupun dari darat-ke-udara, umumnya sistem tersebut hanya mampu menangkal dua atau tiga kali serangan. Selebihnya, pesawat telah kehabisan amunisi untuk melakukan penghalauan.

Oleh karenanya, dengan adanya peralatan radio militer terenkripsi, ketika pesawat mendapat serangan pertama, pilot dapat langsung menghubungi pusat komando angkatan udara Jerman ataupun negara yang bersekutu dengan Jerman agar segera mengirimkan bantuan militer. Dengan begitu, ketika serangan kembali datang, bantuan militer dapat membantu menangkalnya, sebelum sistem pertahan udara pesawat kehabisan amunisi.

Di antara sekian banyak pesawat dinas kepala negara atau setingkat kepala negara di dunia, tercatat hanya beberapa pesawat yang dilengkapi dengan fitur tersebut, seperti pesawat kepresidenan AS, Perancis, Inggris, dan Rusia. Mungkin pesawat kepresidenan negara lainnya memiliki fitur serupa. Hanya saja, mereka memilih untuk merahasiakan fitur-fitur tersebut.

Selain itu, pihak Lufthansa Technik, yang dipercaya untuk mengubah konfigurasi pesawat, juga telah membocorkan bahwa kelak pesawat ini akan dilengkapi dengan ruang kantor untuk melakukan beberapa lobi-lobi politik, area konferensi yang luas, lounge multifungsi, hingga sejumlah tempat duduk super nyaman yang dapat digunakan oleh para delegasi ketika melakukan perjalanan dengan menggunakan moda ini.

Baca juga: Macron dan Angela Merkel Gelar ‘Rapat’ Bahas Masa Depan Airbus di Kabin A350

Kendati pihak Lufthansa Technik tidak membocorkan secara detail tentang kapasitas angkut dari pesawat ini, namun mereka hanya memberikan gambaran kasar bahwa pesawat ini mampu memboyong 150 tamu sekaligus.

Layaknya pesawat kepresidenan AS yang lebih dikenal dengan Air Force One, pesawat Kanselir Jerman juga demikian. Pesawat tersebut disinyalir akan diberinama sebagai “Regierungsflieger” atau Government Aviator atau Penerbangan Pemerintah dalam bahasa Indonesia.

Mengapa Orang Pilih Timbun Tisu Toilet Ketimbang yang Lain? Ini Dia Jawabannya

Mengapa semua orang tiba-tiba mencari tisu, khususnya tisu toilet? Pertanyaan tersebut mungkin banyak terdengar di sana sini. Tentu saja dengan didasari berbagai fenomena dimana supermarket manapun di banyak negara di dunia, dilaporkan hampir kehilangan stok tisu toilet yang mereka punya. Hal itu karena masyarakat ramai-ramai memborong tisu untuk jangka panjang. Di Australia, seorang wanita bahkan sampai menyetok tisu toilet hingga kebutuhan 12 tahun mendatang. Luar biasa bukan?

Baca juga: Marak Virus Corona, Wanita di Australia ini Timbun Tisu Toilet untuk Stok 12 Tahun!

Peneliti psikologi konsumen, Kit Yarrow, mengatakan bahwa sebetulnya hal tersebut adalah naluriah atau wajar mengingat masyarakat dihadapi dengan pemberitaan massif mengenai berbagai ketidakpastian akibat satu atau beberapa hal, dalam hal ini akibat pandemi virus corona. Terkhusus bagi sebagian besar masyarakat di Eropa, Amerika Serikat dan Australia, pun masih sangat bergantung pada gulungan tisu toilet untuk cebok selepas buang air besar. Dan inilah yang menjadi dasar begitu dicarinya tisu toilet di tengah pendemi corona, yakni ada rasa ketakutan bilamana tisu toilet langka di pasaran.

Di samping itu, secara psikologis, panic buying masyarakat untuk membeli tisu toilet bukanlah hal baru. Di musim dingin, saat badai salju mengintai masyarakat, misalnya, berbagai kebutuhan pokok, seperti roti, telur, dan susu juga kerap diborong habis. Namun, untuk panic buying saat ini, Kit Yarrow beranggapan bahwa masyarakat lebih disebabkan tidak bisa mengontrol keadaan di luar. Oleh karenanya, masyarakat lebih memilih untuk mengontrol apapun yang mereka bisa kontrol, semacam pelarian. Salah satunya memborong tisu toilet.

“Dan karena kita tidak bisa benar-benar mengendalikan jejak penyakit ini, kita beralih ke apa yang bisa kita kontrol, dan itulah sebabnya orang berbelanja. Itu seperti, ‘well, aku merasa seperti sedang melakukan sesuatu, aku merasa seperti aku’ Saya sedang bersiap-siap. Saya merasa seperti mengendalikan hal yang dapat saya kendalikan, yang sedang menumpuk,” katanya.

“Beberapa orang yang melakukan penimbunan, mereka bukan orang jahat dan mereka bukan orang yang egois. Mereka hanya orang-orang yang takut, dan saya pikir jika mereka memikirkan hubungan mereka dengan orang lain dan tanggung jawab mereka kepada masyarakat , mereka mungkin tidak akan melakukannya,” tambahnya, seperti dikutip laman arstechnica.com.

Selain itu, peneliti yang sudah hampir 30 tahun bergelut di bidang psikologi konsumen tersebut juga tidak begitu yakin kalau masyarakat benar-benar mencari tisu toilet sebagai kebutuhan pertama. Namun, saat berada di supermarket, dalam perjalanan ke supermarket, atau saat di rumah dengan melihat di televisi, beberapa orang terlihat sedang memborong tisu, alhasil beberapa masyarakat pun ikut melakukannnya. Terus seperti itu hingga seluruh masyarakat benar-benar tertarik untuk ikut memborong tisu.

Baca juga: Tisu Toilet di Stasiun Tokyo ‘Ingatkan’ Penumpang untuk Tak Gunakan Ponsel Ketika Berjalan

Sebab, di saat ketidakpastian tengah mendera masyarakat, seperti sekarang ini, mereka cenderung melihat apa yang orang lain lakukan. Dalam psikologi, hal itu disebut ilusi optik. Sayangnya hal yang masyarakat lihat kebanyakan terkait dengan toilet. Padahal, bukan tidak mungkin barang-barang lainnya juga ikut diborong habis jika ilusi optik yang tercipta bukan pada tisu toilet melainkan pada barang lainnya.

Oleh karenanya, Kit Yarrow, yang juga menulis buku tentang pola pembelian konsumen terhadap suatu barang tersebut, menyarankan agar masyarakat mencari ‘pelarian’ lain untuk memuaskan kontrol terhadap diri mereka sendiri. Seperti menghubungi orang lain, berjalan-jalan di taman, dan mencari aktivitas lainnya yang memungkinkan terjadinya banyak interaksi, ketimbang mencari kontrol atas diri sendiri dengan berbelanja.