Airbus A380-800, Istana Terbang yang Siap Manjakan Orang Tajir Melintir Dunia

Produsen raksasa dunia asal Eropa, Airbus, banyak menyediakan varian transportasi orang kaya tajir melintir dunia dengan berbagai kebutuhan, mulai dari pesawat kecil seperti A220-300, agak besar seperti A350-900, dan superbesar; siapa lagi kalau bukan A380 atau Airbus ACJ380-800. Pesawat ini pulalah yang pada tahun 2007 silam sempat menjadi pembicaraan warganet setelah dipesan untuk dijadikan istana terbang oleh Pangeran Alwaleed dari Arab Saudi, sekalipun pada akhirnya pesanan tersebut batal.

Baca juga: Mewahnya Airbus A380, Sampai Pilot Miliki Kamar Pribadi dan Toilet Privat di dalam Kokpit

Dikutip dari laman Simple Flying, siapapun pasti akan dibuat sangat terkesan dengan istana terbang ACJ380-800 tersebut. Betapa tidak, dari sejak dari luar pun, pelanggan sudah bisa menikmati suguhan luar biasa di awal, naik pesawat dengan lift. Menarik, bukan? Desain liftnya pun tidak sembarangan. Dipenuhi dengan dinding kaca serta berbagai pajangan karya seni tingkat tinggi yang menghiasinya, menambah daya magis pelanggan bahkan ketika baru berada di liftnya saja, belum ke bagian lain, terlebih bagian utama.

Masuk ke dek bawah istana terbang, pelanggan akan disuguhi dengan berbagai ruang menakjubkan, mulai dari forward lounge, royal lounge, retire area, hingga conference/dining room. Di masing-masing bagian pun segalanya juga telah diperhitungkan dengan matang, ada bagian-bagian yang dibuat pas, tidak terlalu kecil ataupun besar, dan di bagian lainnya dibuat sangat besar dan luas. Di samping itu, pada masing-masing bagian juga dibuat tema yang berbeda-beda sehingga memberikan kesan mewah dan tidak membosankan.

Forward lounge, misalnya, dibuat dengan gaya tegas dengan sentuhan warna-warna dinamis yang melekat pada sofa, desain langit-langit mewah dengan permainan garis-garis cahaya, serta list dari dinding chrome yang makin memberikan kesan mewah pada bagian depan pesawat. Tak lupa, tentu saja juga dilengkapi dengan TV LED lebar, lemari buku, serta sampanye di meja lounge.

Lanjut ke bagian royal lounge, desain megah dan mewah sudah pasti akan membuat pelanggan beserta rombongan dan mitra bisnisnya akan merasa nyaman di ruangan ini. Selain sofa mewah dan empuk di kedua sisi, ruangan yang menampung 50 tamu tersebut jarak antar sofa juga tergolong berjauhan karena masing-masing sofa nyaris menempel di dinding pesawat, sehingga membuat suasana perbicangan lebih berkesan santai.

Begitu juga dengan retire area, bagi para tamu yang ingin sedikit mencari suasana lain, dan dining room yang juga bisa difungsikan sebagai conference room yang menyuguhkan tampilan mewah dengan berbagai furniture unik dan permainan cahaya indah. Dijamin rasa lelah akan hilang begitu memasuki ruangan ini.

Beranjak ke dek atas atau lantai dua, suasana mungkin agak lebih tenang karena memang dikhususkan untuk sang pemililk. Setidaknya ada lima area yang dihadirkan di lantai atas, mulai dari private lounge, guest area/room guest, private office, health area seperti gym, spa, serta sepeda fitness atau sepeda statis, dan private bedroom, lengkap dengan kamar mandi mewah di dalam area private bedroom. Tak lupa, bagi orang-orang beragama, ada juga ruang berdoa, serta berbagai fasilitas lainnya yang terletak di lantai ini.

“Ini adalah sesuatu yang sangat, sangat istimewa dan belum ada yang seperti itu di pasaran. Segala hal yang diinginkan oleh seorang miliarder ada di sini,” ujar salah satu pendiri Design Q, salah satu vendor desain A380 VIP, Gary Doy.

Baca juga: Mewahnya Airbus A380, Sampai Punya Dua Lift untuk Manjakan Penumpang

“Kami tidak mencoba untuk menempatkan hotel di udara, itu disesuaikan dengan kebutuhan penerbangan, dan memiliki fitur unik yang sesuai dengan itu. Pemandian Turki sangat spektakuler, ruang uap dengan marmer, pencahayaan pas, dan banyak perawatan spa untuk dipilih,” tambahnya.

Menurut Aviation Week, pada tahun 2018 sempat tersiar wacana visioner untuk mengubah salah satu A380 milik Singapore Airlines yang pensiun menjadi sebuah ‘kapal pesiar terbang’, bukan lagi ‘istana terbang’ sebagaimana julukan Airbus A380 VIP yang selama ini melekat. Menurut sumber tersebut, mengubah A380 menjadi pesawat pribadi cenderung lebih murah daripada membeli jet pribadi A350 atau Boeing 777. Dengan begitu, sekalipun nantinya Airbus sudah tidak lagi memproduksi A380, pecinta aviasi mungkin belum putus harapan lewat jalan mengubah pesawat bekas pakai milik maskapai menjadi pesawat VIP.

Tanggap Wabah Corona, Airbus Produksi Visor APD dengan Printer 3D

Produsen pesawat asal Eropa, Airbus, dikabarkan telah mulai menggunakan fasilitas pencetakan 3D di Spanyol untuk memproduksi visor pelindung (APD) untuk berbagai rumah sakit sebagai respons terhadap pandemi virus corona. Juru bicara Airbus mengatakan, saat ini, fasilitas pencetakan tersebut sudah menghasilkan ratusan visor dengan menggunakan lebih dari dua puluh printer 3D. Peralatan tersebut umumnya didistribusikan ke rumah sakit di dekat fasilitas perakitan Airbus di Spanyol.

Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!

“Semalam, kami telah beralih dari membuat konsep ruang angkasa menjadi peralatan medis. Ini benar-benar membuat perbedaan dalam perang melawan pandemi Covid-19 dan saya tidak bisa berbangga diri melihat tim kami yang bekerja siang dan malam di proyek Airbus ini,” ungkap kepala Airbus Protospace, Alvaro Jara, seperti dikutip dari avweb.com.

Selain untuk sementara waktu fokus memproduksi visor APD, Airbus juga mengumumkan bahwa mereka untuk sementara waktu juga menghentikan semua kegiatan produksi apapun yang tidak penting di Spanyol hingga 9 April. Penutupan ini tak lepas dari arahan otoritas Spanyol sebagai bagian dari langkah-langkah pencegahan guna menekan penyebaran virus corona serta jatuhnya korban yang lebih banyak. Pasalnya, bersama Italia, Perancis, dan Inggris, Spanyol menjadi negara episentrum penyebaran virus corona di Eropa dengan jumlah kasus positif dan angka kematian per hari yang cukup tinggi.

Akan tetapi, visor bukanlah satu-satunya kontribusi Airbus dalam membantu Eropa memerangi penyebaran virus corona. Sebelumnya, perusahaan patungan antara Jerman, Perancis, dan Spanyol tersebut juga telah berkomitmen untuk memproduksi ventilator. Ventilator tersebut nantinya akan diserahkan ke berbagai rumah sakit di Inggris. Lewat sebuah konsorsium yang dikomandoinya, bersama perusahaan teknologi ternama di Negeri Ratu Elizabeth tersebut, Dyson, Airbus dilaporkan akan segera memproduksi 30 ribu ventilator.

Dalam proyek tersebut, Airbus ikut terlibat dalam penyediaan desain tiga dimensi dan fasilitas. Sadar produksi akan lebih cepat bila dilakukan bersama-sama, Airbus, melalui Ventilator Challenge UK kemudian menggandeng berbagai perusahaan lainnya, seperti Smiths Medical, dari Luton untuk membuat desain ventilator, serta Penlon, manufaktur medis yang berbasis di Abingdon, Oxfordshire.

Baca juga: Keren, Penjualan Pesawat Sepi, Airbus Produksi Ventilator Lawan Corona

Tak hanya berkontribusi di Inggris dan Spanyol, Airbus juga turut berkontribusi di Perancis serta Jerman dan Italia. Di Perancis, Airbus turut membantu pemerintah memerangi virus corona dengan mengerahkan armadanya. Mulai dari mengangkut pasokan media, seperti masker dan peralatan kesehatan dari Cina hingga mengangkut pasien untuk segera dirawat di berbagai rumah sakit di luar Paris atau kota-kota besar lainnya yang notabene sudah tak mampu lagi menampung.

Serupa dengan yang dilakukan di Perancis, Airbus juga turut membantu memerangi Covid-19 dengan membantu perpindahan pasien dari Italia ke Jerman lewat armada Airbus A-310, mengingat kondisi di kedua negara tersebut cukup berbeda. Jerman, sekalipun terus mengalami penambahan kasus positif, namun penanganan pasien Covid-19 di sana cukup baik sehingga angka kematian sangat kecil. Berbanding terbalik dengan Italia yang terus mengalami lonjakan angka kematian pasien corona akibat penanganan serta teknologi yang tak seciamik Jerman.

Daop 2 Bandung Batasi 50 Persen Okupansi Kereta Lokal dan Jarak Jauh

Pemberlakuan pembatasan kereta api untuk jarak menengah dan jarak jauh menjadi hanya 50 persen okupansi di mulai Kamis (2/4/2020). Pembatasan okupansi tersebut dilakukan PT Kereta Api Indoneisa (KAI) Daerah Operasional (Daop) 2 Bandung.

Baca juga: KAI Tanggap Darurat Covid-19, Pembatalan Tiket Kereta Bisa Secara Online!

Manajer Humas Daop 2 Bandung, Noxy Citrea mengatakan, adanya pembatasan kapasitas tempat duduk tersebut untuk mencegah meluasnya penyebaran virus corona atau Covid-19.

“Dengan meningkatnya penyebaran virus corona di Indonesia dan berdampak pada berkurangnya okupansi kereta, PT KAI Daop 2 kembali mengambil kebijakan sebagai upaya memutus rantai penyebaran Covid-19,” kata dia yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber.

Noxy mencontohkan pembatasan kapasitas tempat duduk pada kereta Argo Parahyangan yang melayani relasi Bandung – Jakarta. Dia menyebutkan, kapasitas penumpang KA Argo Parahyangan dalam satu rangkaian normal ada 570 tempat duduk.

Karena adanya pembatasan, maka kapasitas angkutnya hanya dibatasi 285 tempat duduk per rangkaian. Noxy juga menyebutkan, bahwa pada masa pandemi Covid-19 ini, PT KAI memberikan keleluasaan kepada penumpang kereta yang sudah memesan tiket dan ingin membatalkannya.

“Pembatalan tiket atas keinginan calon penumpang, untuk KA yang masih jalan atau beroperasi, calon penumpang bisa membatalkan tiket 100 persen,” kata Noxy.

Untuk memudahkan penumpang yang ingin membatalkan tiket mereka, Noxy menjelaskan ada dua cara yang bisa dilakukan yakni melalui aplikasi KAI Access dengan waktu paling lambat tiga jam sebelum jadwal keberangkatan kereta itu. Kemudian calon penumpang juga bisa membatalkan tiket mereka di stasiun paling lambat 30 menit sebelum jadwal yang tertera pada tiket kereta.

PT KAI juga memberikan pengembalian 100 persen, atau bea penuh tiket kereta untuk kereta yang dibatalkan perjalanannya. Untuk diketahui, keputusan mengurangi okupansi kereta tersebut, menyusul keputusan Daop 2 Bandung untuk mengurangi perjalanan kereta sepanjang April 2020.

“PT KAI Daop I2 kembali melakukan pengurangan perjalanan kereta api. Total ada 37 perjalanan baik itu kereta lokal maupun kereta jarak jauh pada periode 1 April sampai dengan 30 April 2020,” kata Noxy

Noxy mengatakan, pengurangan perjalanan kereta tersebut diputuskan seiring dengan jumlah penumpang yang terus menurun. Dia menyebutkan, secara total baik untuk kereta api lokal dan kereta api jarak jauh mengalami penurunan hingga 50 persen dibandingkan dengan periode yang sama bulan Maret tahun lalu.

Baca juga: Imbas Pembatalan Sejumlah Perjalanan KA Jarak Jauh, 3624 Calon Penumpang Pilih Batalkan Tiket

Noxy mengatakan, masih ada lima kereta yang masih beroperasi di Daop 2 Bandung yakni lima Kereta Argo Parahyangan ke arah Jakarta, satu Kereta Api Harina ke arah Surabaya Pasar Turi, satu kereta Api Ciremai ke arah Semarang Tawang, satu Kereta Api Kahuripan, dan dua Kereta Api Serayu Pagi dan Serayu Malam.

Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!

Episentrum virus corona telah berubah, dari semula di Cina pindah ke Eropa dan Amerika Serikat. Selain itu, Cina juga mulai beraktivitas normal, dimana Negari Tirai Bambu tersebut mengekspor barang-barang made in china ke seluruh penjuru dunia. Dalam kaitannya dengan pandemi corona, tentu saja made in china yang dimaksud adalah peralatan serta perlengkapan medis.

Baca juga: Setelah 18 Bulan ‘Tidur’, Pesawat Terbesar di Dunia Antonov An-225 Kembali Mengudara

Dengan kondisi tersebut, lalu lintas udara pun kini lebih beragam, dari semula hanya mengandalkan perpidahan orang dan sedikit barang, karena pada umumnya banyak lini bisnis terhenti akibat lockdown di berbagai negara, berubah menjadi perpindahan barang tanpa satupun orang (penumpang).

Bahkan, bila perlu, semua bangku penumpang dicopot atau sekalipun tidak dicopot, fungsinya dialihkan menjadi kabin kargo. Semua untuk memaksimalkan kapasitas angkut dalam sekali jalan. Dilansir dari forbes.com, berikut tujuh penerbangan tak biasa pesawat untuk memenuhi mobilitas perpindahan barang di tengah pandemi corona.

1. Pesawat Uji Coba

Airbus A330-800 dalam penerbangan Touluse-Tianjin-Toulouse. Foto: AIRBUS

Airbus mengirim pesawat uji A330-800 dari Toulouse ke Tianjin untuk mengambil sekitar dua juta masker wajah dan membawanya kembali ke Perancis. Airbus menyebut, mayoritas masker tersebut akan diserahkan ke pemerintah. Tak hanya itu, dalam penerbangan tersebut, pesawat juga memuat alat pemantau kesehatan dan beberapa peralatan lainnya.

Pesawat dengan kode pabrik MSN1888 ini sebetulnya sudah mengakhiri masa uji coba pada Februari lalu dengan melahap 370 jam terbang uji di 132 penerbangan. Selain itu, pesawat tersebut juga telah mendapatkan sertifikasi dari EASA dan FAA. Penerbangan berbalut misi kemanusiaan tersebut adalah kunjungan perdana keluarga A330neo ke Cina. Hal itu juga disinyalir menjadi pertanda bahwa mungkin saja pabrik Airbus di Tianjin, Cina, kelak akan memproduksinya.

2. Pesawat Angkut Militer

Airbus A400M diterjunkan oleh pemerintah Spanyol guna mengangkut pasokan medis dari Cina dalam perang melawan corona. Foto: AIRBUS

Tak lama setelah A330-800 kembali dari Toulouse, beberapa masker wajah kemudian dimuat ke dalam A400M untuk selanjutnya dikirim ke Getafe, dekat Madrid. Nantinya masker akan diserahkan ke Kementerian Pertahanan Spanyol, yang kemudian akan diserahkan sepenuhnya ke Kementerian Kesehatan Spanyol. A400M adalah pesawat angkut militer yang dirancang khusus oleh Airbus. Pesawat terbesut sebelumnya jarang digunakan dalam misi kemanusiaan seperti ini.

3. Boeing 747-400LCF Dreamlifter

Boeing 747-400LCF Dreamlifter. Foto: Bloomberg

Presiden Trump mengumumkan bahwa Boeing akan menyumbangkan tiga dari empat pesawat 747-400LCF Dreamlifter-nya dalam konferensi pers hari Jumat sore di Gedung Putih. Di depan awak media, ia pun dengan bangga menunjukkan foto burung besi terbesar milik Boeing tersebut. Pesawat berkapasitas 1.840 meter kubik atau 113 ton itu nantinya akan membantu upaya distribusi untuk memasok alat kesehatan seperti masker wajah, ventilator, dan kebutuhan lain bagi garda terdepan (pekerja medis) untuk melawan COVID-19.

Sebelum adanya pandemi virus corona, Boeing 747-400LCF atau Large Cargo Freighter Dreamlifter dioperasikan untuk kebutuhan suplai logistik pesawat-pesawat Boeing, seperti sayap dan badan pesawat 787 Dreamliner, dan lainnya.

4. Pesawat Tanker

A330MRTT sedang bongkar muat di Getafe, Spanyol setelah kembali dari Cina untuk mengambil pasokan medis. Foto: AIRBUS

Tak hanya pesawat uji, Airbus juga menerjunkan pesawat lainnya yang tak biasa, yakni A330 yang sedang menjalani masa peralihan dari semula pesawat sipil menjadi versi militer yang disebut sebagai Multi-Role Tanker Transport (MRTT). Meskipun umumnya dikaitkan sebagai tanker pengisian bahan bakar dari udara-ke-udara, pesawat tersebut juga memiliki kemampuan tambahan sebagai pengangkut kargo (seperti yang digunakan dalam penerbangan ini) dan pesawat evakuasi medis (seperti yang dilakukan Perancis untuk memindahkan pasien ke rumah sakit yang kurang padat di tempat lain di negaranya).

5. Pesawat Tanpa Penumpang

American Airlines gunakan 777-300ER untuk memuat hanya kargo pada penerbangan Dallas ke Frankfurt. Foto: AMERICAN AIRLINES

Sepinya penumpang membuat banyak maskapai kini beralih fokus ke penerbangan kargo. Bahkan, tak jarang, maskapai global justru menerbangankan pesawat tanpa penumpang dan hanya dipenuhi kargo saja. Cathay Pacific, Korean Air, Scoot, dan El Al, Delta Airlines, United Airlines, Virgin Atlantic, adalah deretan maskapai yang sudah terang-terangan hanya memuat kargo pesawat tanpa satupun penumpang.

6. Kabin Penumpang Dipenuhi Kargo

Kabin penumpang Boeing 777-200 milik Austrian Airlines disulap menjadi kargo untuk memaksimalkan kapasitas angkut dalam sekali jalan. Foto: Austrian Airlines

Maskapai mulai memaksimalkan ruang kargo dengan menempatkan beberapa barang di atas kursi penumpang. Sebelum barang diletakkan, kursi-kursi pesawat terlebih dahulu ditutupi dengan plastik sebagai pelindung kursi. Austrian Airlines, misalnya, mengirim dua pesawat 777-200 ke Xiamen, Cina untuk mengambil pasokan medis.

Baca juga: [Video] Peti Jenazah Jenderal Qasem Soleimani Ditempatkan di Kabin Penumpang

Austrian Airlines biasanya tidak terbang ke Xiamen, begitupun juga dengan maskapai lain yang tidak punya penerbangan ke Cina namun terpaksa terbang ke sana untuk menjemput pasokan medis. Aer Lingus, maskapai asal Irlandia, juga telah mengirim A330 dari Dublin ke Beijing, termasuk empat penerbangan dalam sehari. Sama seperti Austrian Airlines, Aer Lingus biasanya juga tidak terbang ke Beijing atau ke wilayah manapun di Asia. Demikian juga armada Airbus A220 dari Latvia yang terbang dari Riga ke Urumqi, Cina hanya untuk mengambil pasokan medis.

7. Kursi Penumpang Dicopot Demi Kargo

Penampakan kabin penumpang setelah kursi pesawat Airbus A321 milik Aegean Airlines dicopot. Foto: AEGEAN AIRLINES

Aegean Airlines, maskapai asal Yunani, terpaksa harus mencopot kursi pesawat A320 dan A321. Mereka mengharapkan setidaknya ada 10 penerbangan bantuan peralatan medis ke Asia. Begitu juga dengan China Eastern yang mencopot sekitar 160 kursi dari A330-200 dan hanya menyisakan 42 kursi ekonomi dan semua kursi di kelas bisnis. Semua bertujuan agar pesawat mampu memuat kargo lebih banyak. Terlebih, Cina saat ini tengah kebanjiran pesanan pasokan medis.

Pria Asia Disemprot Febreze di Kereta Komuter, Polisi New York Cari Pelaku

Sepertinya masalah rasisme terhadap keturunan Asia masih saja dilakukan oleh warga Amerika Serikat. Hal ini terlihat dari sebuah video yang kembali beredar di jagad maya di mana seorang pria kulit hitam menyemprotkan Febreze (spray penghilang bau) ke seorang pria Asia.

Baca juga: Imbas Corona, Wanita Asia Jadi Bahan Omelan Rasis di Kereta Bawah Tanah New York

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman silive.com (6/3/2020), video itu viral di media sosial dan sudah dilihat lebih dari satu juta orang. Dalam video terlihat seorang pria berkulit hitam tengah marah pada pria muda Asia di MTA (kereta bawah tanah kota New York).

Pria tersebut mengatakan untuk pindah dan kemudian mengambil botol Febreze yang kemudian menyemprotkannya pada pria Asia itu. Bahkan ketika menyemprotkan Febreze, pria berkulit hitam tersebut berulang kali menyuruh pria Asia itu untuk bergerak dan pindah.

Kemudian ketika pria Asia itu berhadapan dengan yang lainnya dan bertanya mengapa dia tidak bisa duduk disebelahnya.

“Kamu harus bergerak. Kamu bodoh sekarang,” ujar pria yang ditanyainya itu.

Insiden ini diketahui terjadi pada 4 Maret 2020 sekitar pukul 09.00 pagi waktu setempat. Kepala Detektif Kepolisian New York, Rodney Harrison mengatakan, ada seorang pria yang berdiri di sebelah pria Asia dan mulai menyemprotkan Febreze di sekitar kaki dan sekelilingnya.

Dia mengatakan, saat itu pihak kepolisian menerima panggilan 911 untuk orang yang mengalami gangguan emosi di kereta N dekat 8th Avenue di Brooklyn. Namun setelah tiba, kereta sudah meninggalkan stasiun dan pihak kepolisian tidak bisa mendapatkan laporan secara resmi.

“Kami menerima postingan di media sosial. Kami sedang menyelidikinya sekarang dan gugus tugas kriminal kebencian kami sedang meninjau insiden itu dan ini adalah penyelidikan yang sedang berlangsung,” ujar Harrison.

Tak hanya itu, dua minggu setelah insiden Febreze ini, seorang wanita bernama Emily Chen tengah menumpang di kereta bawah tanah New York untuk kembali pulang ke rumahnya diteriaki kata-kata kasar oleh seorang penumpang pria. Pria tersebut berkata, “Kamu orang Cina, mengapa kamu membawa corona ke Amerika?”

Untungnya seorang penumpang lainnya datang untuk memberitahu agar berhenti mengganggu. Tapi, penumpang tersebut terus meneriakkan kata-kata kasar kepada Chen karena merekam kejadian itu dan penumpang lain menghalangi dia agar tidak semakin mendekat.

Baca juga: Prank Virus Corona di Kereta Bawah Tanah Rusia, Karomatullo Dzhaborov Didakwa 5 Tahun Penjara

“Ini bukan saatnya menyalahkan orang lain atau mencari alasan untuk menyakiti orang lain,” kata Chen di posting Facebook.

Japan Airlines Izinkan Pramugari Gunakan Celana Panjang dan Sepatu Tanpa Hak

Sebuah maskapai penerbangan di Negeri Sakura, baru-baru ini membebaskan pramugari mereka untuk mengenakan celana panjang selain rok dan memperbolehkan menggunakan sepatu tanpa hak ketika bertugas. Hal ini dilakukan untuk mengikuti kampanye nasional.

Baca juga: Tak Perlu Make Up, Kini Pramugari Virgin Atlantic Bisa Tampil Natural

Maskapai yang melakukan perubahan tersebut adalah Japan Airlines yang mengumumkannya pada Kamis (26/3/2020) kemarin. Juru bicara Japan Airline mengkonfirmasi, mereka akan mulai memberlakukan hal tersebut sejak 1 April 2020.

“Ini akan menjadi pertama kalinya untuk memperkenalkan celana panjang dan memberi opsi tambahan pemilihan alas kaki yang digunakan pramugari,” kata juru bicara Japan Airlines yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman independent.co.uk (29/3/2020).

Juru bicara tersebut mengatakan, akan ada enam ribu wanita yang bekerja di maskapai mereka bisa memilih alas kaki yang sesuai dengan kebutuhan untuk pertama kalinya. Dia menyebutkan, keputusan tersebut mengikuti gerakan di media sosial nasional #KuToo yang menyerukan tempat kerja untuk mengabaikan aturan berpakaian yang memaksa perempuan mengenakan sepatu hak tinggi.

Dimulai oleh aktor dan aktivis Yumi Ishikawa, di mana melalui gerakan feminis dia memainkan kata-kata Jepang untuk sepatu (kutsu) dan rasa sakit (kutsuu).

“Ini langkah besar mengingat Japan Airlines adalah perusahaan besar. Ini bukan hanya maskapai penerbangan tetapi pada hotel, department store, bank, dan banyak perusahaan lain dengan persyaratan ini. Saya harap mereka mengikuti contoh ini,” kata Ishikawa.

Diketahui, alasan ini juga mengikuti pengumuman Virgin Atlantic yang pada beberapa waktu lalu menyebutkan awak kabin wanita tidak lagi diharuskan memakai makeup atau riasan untuk bekerja. Awak kabin maskapai yang dikenal dengan seragam merah mereka juga diberikan celana panjang sebagai standar.

Menurut maskapai Virgin, langkah ini menjadi sebuah perubahan signifikan bagi industri penerbangan. Wakil presiden eksekutif pelanggan Virgin Atlantic, Mark Anderson, mengatakan pada saat itu bahwa maskapai itu “selalu menonjol dari kerumunan dan melakukan berbagai hal secara berbeda”.

Baca juga: Kerap Alami Pelecehan, Cathay Pacific Bakal Ganti Seragam Awak Kabin

“Kami ingin seragam kami benar-benar mencerminkan siapa kami sebagai individu sambil mempertahankan gaya Virgin Atlantic yang terkenal itu,” tambahnya.

Pria 57 Tahun Meninggal di Kereta Thailand Positif Covid-19

Seorang penumpang berusia 57 tahun yang dinyatakan positif terinfeksi Covid-19 meninggal di kereta api Ekspress Selatan. Kabar tersebut dilaporkan oleh pejabat kereta api Thailand atau State Railway of Thailand (SRT) pada Rabu (1/4/2020).

Baca juga: Dari Amerika, Inggris, Thailand Hingga Lebanon, Ini Cara Unik Masyarakat Terapkan Social Distancing

Penumpang tersebut dikatakan Wakil Gubernur SRT Voravuth Mala, membeli tiket untuk gerbong ber-AC kelas dua. Dia naik di gerbong kereta No.4 di Stasiun Bang Sue dalam perjalanan ke Sungai Kolok. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman chiangraitimes.com (2/4/2020), penumpang pria itu menderita batuk dan muntah selama perjalanan.

Namun kondisinya membaik pada saat kereta tiba di Stasiun Hua Hin. Ketika petugas di stasiun kota Hua Hin memeriksa suhu tubuh pria yang disebut bernama Anant Sahor itu tidak demam yakni 36 derajat Celcius. Saat itu pejabat menyarankan penumpang itu untuk beristirahat di Stasiun Hua Hin.

Sayangnya pria paruh baya tersebut bersikeras untuk melanjutkan perjalanannya. Kemudian pukul 22.15 waktu setempat staf kereta menemukan penumpang tersebut ambruk di depan toilet. Karena hal tersebut, staf kereta menghubungi stasiun terdekat dan ketika tiba di Stasiun Thap Sakae, tim penyelamat lokal menaiki kereta untuk membawa ke rumah sakit terdekat.

Tak lama tiba di Rumah Sakit Thap Sakae, pria tersebut dinyatakan meninggal.
Menurut departemen kesehatan pria tersebut juga menderita diabetes. Karena hal ini, SRT telah mengirim daftar 15 penumpang lain yang naik kereta sama dengan pria tersebut.

Diketahui saat ini departemen kesehatan telah mengkarantina 11 penumpang dan dua staf kereta di Stasiun Bang Sue. Selain itu seorang petugas keamanan dan tujuh staf kereta lainnya yang bekerja di tol khusus juga ikut di karantina.

Dr Suriya Khuharat, kepala departemen kesehatan umum Prachuap Khiri Khan mengatakan bahwa penumpang tersebut baru kembali dari Pakistan melalui Bandara Suvarnabhumi. Saat di bandara pria tersebut juga diperiksa suhu tubuhnya namun tidak ditemukan demam ataupun yang lainnya.

Baca juga: Nok Air, Terkenal dengan Logo Paruh Burung, Inilah LCC Khas Thailand

Gubernur Prachuap Khiri Khan Pallop Singhasenee mengatakan, Anant merupakan kasus infeksi Covid-19 ke-13 di provinsi tersebut. Selain itu dia merupakan orang pertama yang meninggal karena Covid-19.

Mesin Mendadak Mati, Boeing 737 Aeroflot Mendarat Darurat Setelah Bertahan Satu Jam di Udara

Pada 29 Maret lalu, pesawat dari maskapai terbesar di Federasi Rusia, Aeroflot, dilaporkan mengalami kegagalan mesin saat pesawat tengah di udara. Pesawat dengan nomor penerbangan SU1741 tersebut pun akhirnya terpaksa mendarat darurat di Bandara Internasional Sheremetyevo, Moskow. Beruntung, insiden tersebut tak sampai memakan korban jiwa ataupun luka.

Baca juga: Akibat Corona, Boeing dan Airbus Bahas Merger untuk Selamatkan Bisnis

Dilansir Aviation Herald, Boeing 737-800 dengan nomer registrasi VP-BRF yang membawa 154 penumpang dan tujuh awak, sejatinya tengah menuju ke ibukota Rusia, Moskow, via Laut Hitam setelah berangkat dari Bandara International Sochi, sebelah Barat Daya Rusia. Sekitar 1.45 menit setelah lepas landas, sensor mesin CFM56-7B kiri mengindikasikan adanya kerusakan dan mesin pesawat akhirnya mati.

Mengetahui pesawatnya bermasalah, kru kokpit pun memutuskan untuk perlahan menurunkan ketinggian, dari semula 34.000 menjadi 24.000 kaki. Kemudian turun lagi menjadi 20.000 dan 18.000, sebelum akhirnya mendarat darurat di Bandara Sheremetyevo, satu jam setelah deteksi kerusakan awal pada mesin atau 30 menit sebelum pesawat tiba di lokasi tujuan.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi Rusia menyatakan bahwa pesawat berhasil mendarat dengan selamat tanpa adanya insiden apapun pada pukul 23:47 waktu setempat. Padahal bila berbicara tahun produksinya, pesawat tersebut bisa dikatakan tergolong muda. Menurut sebuah laporan, pesawat Boeing 737-800 dengan nomor registrasi VP-BRF masih berusia sekitar tujuh tahun pemakaian dan memiliki kapasitas kursi maksimal untuk 158 penumpang.

Kejadian mati mesin pada pesawat Boeing 737-800 bukanlah hal pertama. Sebelumnya, pada Agustus tahun lalu, pesawat serupa milik maskapai Smartwings juga mengalami mati mesin di tengah penerbangan. Meskipun demikian, insiden yang terjadi ketika pesawat berada di atas Laut Aegea tersebut, pesawat B737 masih mampu melanjutkan perjalanannya ke Praha atau menempuh dua jam perjalanan dengan hanya satu mesin saja.

Kala itu, saat pesawat tengah berada di atas Laut Aegea dan 100 mil laut timur laut Athena, Yunani, mesin sayap kiri mendadak mati. Kru menanggapi kejadian ini dengan mengurangi ketinggiannya dari ketinggian jelajah 36.000 kaki ke 24.000 kaki. Penerbangan dilanjutkan di ketinggian tersebut hingga mendarat tanpa insiden lebih lanjut – dua jam dan 20 menit kemudian.

Baca juga: Jelang Setahun Grounded, Boeing Habiskan Total Rp268 Triliun Gegara 737 MAX

Berbeda dengan pesawat Aeroflot yang notabene masih berusia tujuh tahun saat mendadak mati mesin ketika di udara, Boeing 737-800 milik Smartwings dengan nomor registrasi OK-TVO saat itu sudah berusia 17,5 tahun. Menariknya, pesawat tersebut juga sudah berkali-kali pindah tangan. Sejak pertama kali dikirim ke maskapai GOL pada tahun 2002, pesawat itu juga telah dipakai oleh maskapai biaya murah Kanada, Sunwing Airlines, dan maskapai berbiaya murah India, SpiceJet.

Sebagai informasi, sebuah pesawat bermesin ganda memang didesain mampu terbang dengan baik, menggunakan satu mesin. Hanya saja, berbagai situasi dan kondisi tetap berlaku, seperti misalnya muatan, bahan bakar pesawat, serta cuaca yang dihadapi pesawat saat mendadak mati mesin. Bila segalanya mendukung, tentu, pesawat masih mampu bertahan lebih lama di udara, bahkan tak jarang pilot memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan sampai ke bandara tujuan, layaknya Boeing 737-800 milik Smartwings.

Akibat Corona, Boeing dan Airbus Bahas Merger untuk Selamatkan Bisnis

Produsen pesawat terbesar di dunia Boeing dan Airbus dikabarkan tengah membahas rencana merger untuk menyelamatkan bisnis kedua perusahaan tersebut. Tak hanya itu, kedua perusahaan asal Amerika dan Eropa tersebut juga dikabarkan akan memperkuat lini bisnis keduanya ketika pandemi virus corona benar-benar telah lenyap dari muka bumi.

Baca juga: Penerbangan di Cina Mulai Bergairah, Industri Penerbangan Global Perlahan Bangkit

Dikutip dari aeronauticsonline.com, dasar keduanya untuk membahas merger tak lain dan tak bukan adalah wabah Covid-19 yang diakui telah meluluhlantahkan industri penerbangan global dan membuat seluruh perusahaan (yang bergelut di bidang penerbangan, baik suplai chain, maskapai, hingga travel agent) semuanya telah menderita kerugian, termasuk di dalamnya Airbus dan Boeing.

Airbus, misalnya, pada Februari kemarin dilaporkan sama sekali tidak menerima satupun pesanan pesawat. Adapun kompetitornya, masih lebih baik, di bulan Februari, pabrikan tersebut berhasil mengirimkan 42 pesawat hingga menyisakan 5.351 backlog pesawat (belum dikirim). Jika kondisi tersebut terus berlanjut, dampak yang lebih besar tentu akan sangat terasa. Celakanya, menurut kepala pemasaran Boeing, Tonya DelMaestro, kondisi seperti ini masih akan terus berlanjut sampai batas waktu yang belum dapat diprediksi.

Meskipun keduanya mengaku telah melakukan sejumlah langkah pencegahan (efisiensi), hal tersebut hanyalah bagian dari strategi jangka pendek dan masih belum cukup untuk membuat perusahaan benar-benar aman dalam menatap masa depan bisnis. Oleh karenanya, setelah melalui serangkaian proses, anggota dewan komisaris dari kedua belah pihak pun akhirnya mengadakan pertemuan online. Setidaknya ada lima poin penting yang dibahas pada pertemuan online tersebut.

Pertama, Boeing dan Airbus akan memproduksi jumlah pesawat dalam jumlah tetap di setiap bulannya. Adapun jumlah tetapnya berapa, hal tersebut belum diumumkan secara resmi. Kedua, produsen pesawat tersebut akan menyewakan jasa parkir pesawat untuk maskapai yang paling membutuhkan, dengan harga yang lebih kompetitif dibanding parkir di bandara setempat (Amerika dan Eropa).

Ketiga, Boeing dan Airbus akan menyiapkan jalur perawatan pesawat masing-masing dengan menawarkan harga yang lebih murah. Hal ini nantinya akan sangat membantu maskapai yang notabene tengah dalam kondisi terpuruk, selain juga membantu mencegah penumpukan yang terjadi di fasilitas perawatan milik maskapai.

Baca juga: Boeing ‘Wakafkan’ Pesawat Kargo Terbesar Miliknya untuk Perang Melawan Corona

Keempat, Boeing dan Airbus akan mengucurkan sejumlah dana untuk investasi proyek strategis mereka dan akan mengembalikan uang tersebut secara utuh. Adapun yang kelima, keduanya sepakat untuk memberikan akses ke jalur produksi masing-masing. Dengan begitu, pesawat Airbus dapat berada di fasilitas milik Boeing, begitupun sebaliknya. Hal ini dimaksudkan untuk konversi dari penumpang ke barang, yakni Boeing Converted Freighter (BCF) dan Airbus passenger to freighter (P2F).

Kelima poin tersebut dijanjikan sesegera mungkin akan dilakukan guna menghindari kerugian yang semakin membesar. Namun, tetap saja, pada akhirnya, hanya waktu yang bisa menjawab kapan kedua perusahaan tersebut dapat benar-benar menjalankan poin-poin tersebut serta poin-poin lainnya yang mungkin tak diungkap ke publik.

12 Stasiun Dunia Sepi Penumpang Imbas Covid-19

New York City setiap paginya jutaan orang bergegas ke peron kereta bawah tanah untuk naik kereta api mereka ketika berangkat kerja. Di Stasiun Flinders Street, Melbourne, Australia juga biasanya terlihat dipenuhi oleh para pelancong yang mengunjungi Down Under.

Baca juga: Bak Kuburan, Inilah 8 Penampakan Sepinya Bandara di Dunia Akibat Virus Corona

Bahkan setiap harinya, miliaran orang menggunakan kereta api untuk pergi bekerja, melakukan perjalanan dan menjelajahi tujuan baru. Namun, saat Covid-19 menyebar luas dan menginfeksi banyak orang di dunia, kegiatan di stasiun kereta pun sebagain besarnya terhenti.

Tak hanya itu, stasiun kereta ini yang biasanya ramai kini sepi bak kota stasiun berhantu karena tidak ada penumpang yang menunggu kereta. KabarPenumpang.com merangkum laman insider.com (30/3/2020), ada beberapa gambar stasiun kereta api yang tadinya ramai kini menjadi sepi bahkan tidak terlihat penumpang sama sekali. Berikut ini beberapa stasiun itu sebelum dan sesudah Covid-19.

1. Staisun Shanghai Hongqiao yang melayani kereta peluru berkecepatan tinggi ke sebagaian besar kota-kota populer Cina ini biasanya dipenuhi oleh penumpang yang akan bepergian ke berbagai kota di Cina. Namun saat ini hanya terlihat beberapa pelancong yang tersisa menunggu kereta di stasiun.

Stasiun Hongqiao, Sanghai (insider.com)

2. Stasiun Sao Bento di Porto, Portugal menjadi salah satu tempat yang menarik pelancong dan pecinta sejarah karena ada 20 ribu ubin yang menggambarkan sejarah negara itu. Namun kini menjadi kosong karena Portugal telah menyatakan keadaan darurat.

3. Sekitar 750 ribu orang berjalan melalui Grand Central Terminal di New York City setiap harinya. Namun kini stasiun itu terlihat sangat sepi karena virus corona yang mulai merebak.

4. Menurut Network Rail, London Waterloo adalah stasiun tersibuk di Inggris. Namun saat ini Perdana Menteri Boris Johnson mengeluarkan perintah lockdown di seluruh Inggris sehingga hanya pekerja pemelihara yang berada di stasiun.

Stasiun London Waterloo (insider.com)

5. Di Kairo, Mesir, Stasiun Ramses adalah hotspot teramai di pusat kota. Sayangnya Perdana Menteri Mostafa Madbouly mengeluarkan jam malam dan penerbangan yang ditangguhkan untuk mencegah penyebaran Covid-19 di seluruh Mesir.

Stasiun Ramses (insider.com)

6. Retiro adalah stasiun utama di ibu kota Argentina, Buenos Aires dan setiap hari, ribuan penumpang dan pelancong mengunjungi stasiun. Kemudian setelah Covid-19 menyebar di negara itu, Presiden Fernandez memerintahkan penutupan total Argentina pada 19 Maret yang membuat stasiun itu kosong.

Stasiun Retiro (insider.com)

7. Stasiun Flinders Street adalah stasiun terbesar di belahan bumi selatan, dengan lebih dari 110 ribu pelancong melewati setiap hari. Sayangnya stasiun tertua di negara itu sekarang hampir kosong karena Australia membatasi perjalanan.

Stasiun Flinders Street (insider.com)

8. Meskipun Bangkok Mass Transit System lebih mahal daripada sistem transportasi lain di ibukota Thailand tapi itu digunakan oleh ribuan orang setiap hari. Kini Stasiun kereta Bangkok sepi untuk mencegah penyebaran COVID-19.

Stasiun Bangkok (insider.com)

9. Stuttgart Hauptbahnhof adalah stasiun utama di Stuttgart, Jerman. Ribuan penumpang menggunakan stasiun setiap hari. Bahkan selama jam sibuk, stasiun sebagian besar tetap kosong karena Covid-19.

10. Centrale di Brussel biasanya penuh dengan turis karena lokasinya di pusat kota. Tetapi karena Covid-19, para pelancong tak lagi memadati Brussels Centrale

11. Tahun 2018 lalu, Sistem Metro di Washington DC menyelesaikan lebih dari 174 juta perjalanan. Namun karena Covid-19, saat ini banyak orang di DC yang bekerja dari rumah dan membuat metro di kota tersebut sepi penumpang.

Baca juga: Tekan Penyebaran Virus Corona, Social Distancing di Transportasi Umum Harusnya Pikirkan Soal Jarak Antrian

12. Stasiun Liverpool Street di London, Inggris, memiliki sekitar 123 juta penumpang setiap tahun. Namun stasiun mengalami penurunan pengunjung yang drastis pada 24 Maret, hari pertama penguncian paksa di Inggris.