Di Tengah Ancaman 2,2 Juta Korban Akibat Corona, Boeing Perpanjang Penutupan Pabrik di Washington

Boeing memutuskan untuk memperpanjang penutupan pabrik di Washington, Amerika Serikat (AS) akibat virus corona yang masih juga belum mampu dibendung pemerintahan Donald Trump. Penutupan pabrik tersebut meliputi fasilitas Boeing di Puget Sound dan Moses Lake serta tentu saja pabrik perakitan pesawat komersial andalan Boeing di Everett dan Renton.

Baca juga: Demi Kembali Terbang, Perbaikan Boeing 737 MAX Terus Dikebut di Tengah Corona

“Tindakan ini diambil mengingat fokus perusahaan yang terus berlanjut pada kesehatan dan keselamatan karyawan, situasi terkini terkait penyebaran COVID-19 di negara bagian Washington, stok rantai pasokan, dan rekomendasi tambahan dari otoritas kesehatan pemerintah,” kata para pejabat Boeing, dalam sebuah salinan statement yang tengah dipersiapkan, sebagaimana dikutip dari laman komonews.com.

Berbeda dengan keputusan sebelumnya pada 25 Maret lalu, dimana saat itu Boeing mengumumkan akan menutup pabrik di Washington selama 14 hari ke depan atau hingga Rabu, (8/4) mendatang, kali ini Boeing menegaskan bahwa penutupan pabrik tersebut dilakukan tanpa batas waktu. Semuanya akan bergantung pada bagaimana kondisi pandemi Covid-19 di sana.

Pasalnya ancaman virus Cina tersebut di AS diklaim akan mencapai titik puncak pada bulan ini. Presiden Donald Trump sendiri sudah mengingatkan akan ancaman besar virus corona selama 30 hari ke depan. Hal itu didasari data dan pemodelan tersebut yang adanya menunjukkan lompatan besar dalam kematian menjadi 100.000 hingga 200.000 orang dari virus corona dalam dua minggu mendatang. Dari data pemodelan itu, jika tak ada langkah mitigasi apapun, Trump mengatakan 2,2 juta orang bisa mati karenanya.

Beruntung, sekalipun karyawan sementara waktu bekerja dari rumah, Boeing menegaskan bahwa mereka tetap mendapatkan gaji penuh. Termasuk para karyawan pabrik yang benar-benar tak bisa berbuat banyak untuk perusahaan ketika diputuskan bekerja dari rumah. Berbeda dengan karyawan Boeing lainnya di beberapa divisi yang memang tetap bekerja seperti biasa, meskipun dari rumah, dengan segudang tugas.

Namun, bagi karyawan lainnya yang sedang terlibat dalam proyek penting Boeing, semisal 737 MAX, mereka tetap bekerja seperti biasa dengan sejumlah kontrol ketat di bawah aturan protokol kesehatan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC). Hal itu dilakukan agar tak ada lagi karyawan yang menjadi korban keganasan virus corona.

Setidaknya satu karyawan Boeing di pabrik Everett dilaporkan telah meninggal karena Covid-19. Boeing mengatakan, pada Jumat lalu, sudah ada sekitar 133 kasus positif corona di semua pabrik Boeing. Angka tersebut sedikit mengalami lonjakan dari sebelumnya berjumlah 118 kasus. Celakanya, dari jumlah tersebut, 95 di antaranya terjadi di pabrik Boeing di Washington.

“Kesehatan dan keselamatan karyawan kami, keluarga mereka, dan masyarakat adalah prioritas bersama. Kami memanfaatkan momen ini untuk terus mendengarkan tim kami yang luar biasa dan mengikuti arahan pemerintah, penyebaran virus corona di masyarakat, dan keandalan pemasok kami untuk memastikan kami siap untuk kembali dengan aman dan tertib seperti sediakala,” kata Presiden dan CEO Boeing Commercial Airplanes, Stan Deal.

Baca juga: Akibat Corona, Boeing dan Airbus Bahas Merger untuk Selamatkan Bisnis

Wabah virus corona memang telah meluluhlantahkan industri penerbangan, tak terkecuali Boeing. Produsen pesawat terbesar di dunia tersebut pada Kamis lalu dilaporkan telah memulai tawaran rencana PHK sukarela untuk karyawan, meskipun ditawari gaji dan tunjangan yang cukup besar. CEO Boeing, Dave Calhoun sendiri mengungkapkan bahwa PHK tersebut adalah sebuah keniscayaan akibat permintaan yang menurun.

“Ketika wabah corona muncul, pangsa pasar komersial serta jenis produk dan layanan yang diinginkan dan dibutuhkan pelanggan kami kemungkinan akan berbeda. Kita perlu menyeimbangkan penawaran dan permintaan sesuai dengan kebutuhan industri melalui proses pemulihan untuk tahun-tahun mendatang,” katanya.

Transjakarta: Calon Penumpang Tak Gunakan Masker Tidak Boleh Masuk Halte dan Naik Bus

Mulai hari Minggu (12/4/2020) mendatang, semua penumpang yang akan menggunakan bus TransJakarta wajib menggunakan masker. Hal ini adalah kebijakan yang diberlakukan oleh PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) yang menindaklanjuti seruan Gubernur DKI Jakarta No.9/2020 tentang penggunaan masker di area publik.

Baca juga: Kata Ahli Medis: Cuci Tangan dengan Sabun Lebih Baik Dibanding Terus-terusan Pakai Masker

Dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers, Minggu (5/4/2020), Kepala Divisi Sekretaris Korporasi dan Humas PT TransJakarta Nadia Diposanjojoyo mengatakan, jenis masker yang disarankan untuk digunakan penumpang adalah masker kain dua lapis dan dicuci setiap hari agar terjaga kebersihannya. Dia menyebutkan, bagi pelanggan yang tidak menggunakan masker tidak diperbolehkan memasuki halte ataupun menggunakan bus.

“Selama enam hari kedepan, kami (TransJakarta) mengimbau bagi seluruh pelanggan untuk mempersiapkan masker pribadi,” ujar Nadia.

Dia mengatakan, adanya kebijakan baru ini, tidak meninggalkan kebijakan yang sudah ada sebelumnya yang sudah diberlakukan oleh Transjakarta sehubungan dengan darurat Covid-19. Nadia menyebutkan, seperti memastikan sanitasi di halte maupun bus, menjaga jarak antar pelanggan satu dengan lainnya, mendeteksi suhu tubuh, mendahulukan petugas medis dan menyediakan hand sanitizer serta wastafel portable di beberapa halte serta memberlakukan pembatasan jumlah pelanggan di dalam bus maupun di halte untuk memastikan jarak aman antar pelanggan terpenuhi.

“Kami manajemen Transjakarta tetap mengajak kepada pelanggan kami untuk sebaiknya tetap #dirumahsaja dan selalu menjaga kesehatan dengan memberikan asupan yang cukup agar daya tahan tubuh tetap baik dalam kondisi saat ini. Disamping itu kami pun berharap agar pelanggan selalu membiasakan cuci tangan dengan sering agar penyebaran virus Covid-19 tetap dapat diminimalisir. Begitu juga kepada masyarakat agar selalu mengikuti anjuran Pemerintah untuk tidak keluar rumah jika tidak ada hal yang darurat,” kata nadia.

Tak hanya TransJakarta, untuk mencegah penularan Covid-19, MRT Jakarta juga memberlakukan hal yang sama yakni melakukan sosialisasi mulai hari ini 6 April 2020 hingga 11 April mendatang agar penumpang menggunakan masker sehingga 12 April 2020 bisa efektif berjalan. Selain itu LRT Jakarta juga menerpakan hal yang sama untuk seluruh penumpangnya.

Untuk diketahui, masker dua lapis yang dapat dibeli atau dibuat sendiri, serta dapat dicuci setiap hari untuk menjaga kebersihannya, dan tidak membeli atau menggunakan masker medis karena diprioritaskan untuk para tenaga medis. Himbauan penggunaan masker kain untuk lebih ramah lingkungan, sehingga bisa dipakai berulang kali karena bisa dicuci dan tidak mengganggu suplai kebutuhan para tenaga medis.

Baca juga: Gegara Batuk Tak Gunakan Masker, Penumpang Lain Tekan Tombol Darurat di Kereta

“Kami (MRT Jakarta) juga terus mengajak seluruh penumpang untuk bersama-sama cegah penyebaran virus corona COVID-19 dengan menjaga kesehatan dan kebersihan diri, tetap mengutamakan berkegiatan di rumah, berpergian hanya untuk kebutuhan medesak serta menerapkan jarak fisik (physical distancing) dalam kegiatan sehari-hari,” tambah Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta Muhamad Kamaluddin.

Dornier Seawing Seastar Sukses Terbang Perdana

Dunia penerbangan tak akan lagi asing dengan jenis pesawat Dornier. Pesawat yang menggunakan baling-baling tersebut ada dua jenis yang terkenal hingga saat ini yakni Dornier 228 dan 328 turbopop. Baru-baru ini tepatnya pada 28 Maret 2020 prototipe pesawat amfibi terbaru Dornier Seawing Seastar berhasil lakukan penerbangan perdanannya.

Baca juga: N-219 Nurtanio, Digadang Sebagai Jawara Penerbangan Perintis di Papua

Pesawat bermesin ganda turbopop ini diterbangkan selama 31 menit yang pelaksanaan penerbangannya dilakukan di fasilitas Oberpfaffenhofen, Jerman. KabarPenumpang.com melansir dari laman flyingmag.com (31/3/2020), pada penerbangan perdananya, Wolfram Cornelius menjadi kepala pilot untuk uji coba Dornier Seawings tersebut.

“Penerbangan pertama selesai dengan sukses dan mengkonfirmasi kualitas penanganan yang bagus dari Seastar. Semua sistem berfungsi dengan baik, sistem avionik canggih mencerminkan state-of-the-art dalam desain kokpit dan merupakan dasar yang baik untuk pengemabangan masa depan,” kata Wolfram.

Pesawat ini ditenagai oleh dua mesin Pratt & Whitney Canada PT6A-135A yang ditempatkan disayapnya. Seastar adalah produk dari Dornier Seawings yang merupakan perusahaan patungan antara Dornier dan dua perusahaan Cina milik negara yang berbasis di Wuxi, Provinsi Jiangsu, Cina.

Usaha patungan ini berupaya meningkatkan perjalanan jarak pendek dan menengah dengan biaya lebih rendah dan mengurangi waktu penerbangan, namun dengan kapasitas, efisiensi, dan keamanan yang lebih tinggi. Seastar generasi terbaru dengan nomor seri SN1003 ini diproyeksikan memiliki berat lepas landas maksimum 5100 kg (11.220 pound), kecepatan jelajah maksimum 180 ktas, dan kisaran sekitar 900 nm.

Pesawat yang berkapasitas 12 penumpang ini akan ditawarkan untuk angkutan penumpang reguler, VIP, angkutan kargo hingga misi khusus. Diketahui prototipe pesawat ini merupakan pengembangan dari Seastar hasil rancangan dan pengembangan Claudius Dornier Jr di tahun 1980-an.

Dornier Seastar yang pertama, terbang perdana 17 Agustus 1984 silam. Sayangnya saat itu program Seastar ini dihentikan karena pabrik Dornier asal Jerman tersebut mengalami kesulitan finansial.

Baca juga: Jerman Datangkan Saksi Bisu Pembajakan Lufthansa 1977, Indonesia Juga Punya Sejarah Yang Mirip

Kemudian tahun 2013 lalu dua perusahaan Cina mengambil aleh aset perusahaan tersebut untuk menghidupkannya kembali. Museum Dornier di Friedrichshafen menawarkan pandangan mendalam pada sejarah perusahaan selama 100 tahun.

Zeppelin, Riwayat Balon Udara dengan Bahan Bakar Hidrogen

Zeppelin bukanlah nama sebuah band rock asal Inggris yang tidak pernah mengeluarkan singel lagu, tetapi sebuah balon udara yang berbentuk cerutu raksasa dan dapat terbang terarah karena mempunyai mesin serta kemudi. Balon udara ini dinamai sesuai dengan perancangnya yakni Ferdinand Adolf Heinrich August Graf von Zeppelin yang merupakan seorang aeronautika dari Jerman yang berhasil menerbangkan untuk pertama kali tanggal 2 Juli 1900.

Baca juga: Banyak Perombakan, Wahana Udara Terbesar Airlander 10 Siap Komersial di 2024

Saat melakukan uji coba pertamanya, Graf Zeppelin mengalami kegagalan dan Kaisar Wilhelm II mencibirnya sebagai manusia paling bodoh di selatan Jerman. Bahkan awalnya Zeppelin disambut dingin oleh masyarakat, namun keberadaannya justru membuka jalan bagi penerbangan Trans Atlantik dan membidangi industri penerbangan sipil seperti yang dikenal saat ini.

KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, meski dicibir akhirnya zeppelin dioperasikan oleh Deutsche Luftschiffahrts-AG (DELAG) dan penerbangan komersial pertama dengan melayani penerbangan terjadwal sebelum Perang Dunia I. Hal ini yang kemudian pada tahun 1908 Kaisar Wilhelm II akhirnya menyebut Graf Zeppelin sebagai tokoh Jerman paling besar abad ini.

Bahkan Wilhelm II juga ikut mendorong produksi massal kapal udara apalagi saat itu Jerman mulai terseret dalam Perang Dunia I dan membutuhkan alat perang untuk untuk menjatukan bom dari udara. Sayangnya kekalahan Jerman dalam Perang Dunia I tersebut menghentikan bisnis kapal terbang untuk sementara waktu.

Meski begitu setelah Perang Dunia I industri penerbangan sipil akhirnya mulai marak di Eropa dan Zeppelin dipasarkan untuk penerbangan singkat di dalam negeri. Tahun 1924 Hugo Ecker mencatatkan diri sebagai manusia pertama yang berhasil melintasi Samudera Atlantik dengan Zeppelin.

Kapal udara yang mengandalkan hidrogen itu terbang lebih rendah dibandingkan pesawat sipil modern. Pencipta Zeppelin, Graf Zeppelin mencatatkan ketinggian maksimal 1700 meter di udara saat dia mengelilingi bumi dengan kapal ciptaannya tersebut. LZ 127 tercatat sebagai Zeppelin paling sukses dalam sejarah karena dari 1928 hingga 1937, kapal tersebut melakukan 590 penerbangan sebelum dipensiunkan di museum.

Selain LZ 127 ada juga LZ 129 Hindenburg mengoperasikan penerbangan Trans Atlantik dari Jerman ke Amerika Utara dan Brasil. Zeppelin Hidenburg tersebut dibuat dengan kerangka aluminium yang dibalut dengan tenun serupa dengan kapal layar. Karena rancang bangunan yang stabil, kemudian Zeppelin digemari sebagai moda transportasi udara bagi warga sipil.

Zeppelin dengan penerbangan Trans Atlantik hanya bisa dinikmati oleh masyarakat menengah ke atas karena layanan yang ditawarkan selaras dengan penumpang yang naik di dalamnya. Bahkan, Zeppelin menyediakan kabin tidur untuk penerbangan jarak jauh dengan dua tempat tidur tingkat yang dilengkapi westafel untuk mencuci muka.

Biasanya kabin ini tersedia dalam penerbangan dari Frankfurt, Jerman ke Recife di Brazil yang memiliki waktu tempuh 68 jam. Sayangnya kehancuran tragis LZ 129 Hindenburg terjadi pada 6 Mei 1937 di mana saat itu sebelum Perang Dunia II terbakar di New Jersey, Amerika Serikat dan sempat meledak di udara.

Baca juga: Balon Udara, Teror Si Bulat Warna-Warni Untuk Dunia Aviasi

Dari ledakan tersebut hanya kerangka saja yang jatuh kedarat dan sebanyak 35 penumpang serta awak tewas serta 61 lainnya selamat. Peristiwa naas tersebut menandai akhir penerbangan sipil Zeppelin. Yang terakhir dari Zeppelin adalah LZ 130 Graf Zeppelin II, ini hanya digunakan untuk militer dan dibongkar tahun 1940.

Belajar dari Pandemi, Seharusnya Pekerja Tak Perlu Mempertaruhkan ‘Nyawa’

Ketika sebuah virus menjadi pandemi di dunia, banyak negara yang menutup diri untuk meminimalisir penularan dan penyebarannya. Tak hanya itu karena pandemi ini akhirnya banyak orang yang tetap harus berangkat ke tempat kerja meski risiko tertular virus lebih besar dibandikan bekerja dari rumah.

Baca juga: Area Dekat Pintu Kereta Komuter, Jadi Lokasi Potensi Terbesar Penularan Virus Corona

Apalagi bagi mereka yang menggunakan angkutan umum seperti bus atau kereta menuju ke tempat kerja. Para pekerja ini mungkin tidak menginginkan hal tersebut karena mereka tahu cara penularan virus tersebut.

Namun mereka membutuhkan uang untuk menghidupi diri pribadi dan keluarga. Mungkin untuk kalangan menengah atas, memilih untuk melakukan aktivitas di rumah atau bepergian ke tempat yang jauh adalah hal yang bisa dilakukan dan tidak takut tertular.

Tapi bagi para pekerja bisa saja merepotkan karena harus mencari pengasuh anak-anak. Selain itu harus naik bus atau kereta yang ramai dan khawatir ketika seseorang batuk saat di tempat kerja hingga tidak ada pembersih tangan yang cukup.

KabarPenumpang.com melansir theguardian.com (1/4/2020), bila para pekerja yang menaiki angkutan umum penuh sesak dan tertular virus pandemi sepertinya akan kalah menarik daripada urusan politik di Washington atau para selebriti yang terinfeksi. Dunia tahu bahwa virus bukanlah kesalahan para pekerja, tetapi kenyataan bahwa ada manusia yang terinfeksi yang menaiki angkutan umum.

Diketahui,  gudang, perusahaan angkutan truk dan toko-toko besar masih buka serta melakukan aktivitas mereka. Hal ini yang kemudian membuat para pekerja masih harus bekerja dan tidak ada perlindungan bagi mereka.

Namun tidak diketahui bagaiman para pekerja gudang, pengemudi truk barang ataupun pramusaji di toko akan berelasi jika diantara merek ada yang sakit. Bahkan tidak diketahui nasib Masyarakat di Capitol Hill, Malibu dan Hamptons kedepannya.

Baca juga: Cegah Penyebaran Virus Corona, Pembatasan Transportasi Publik Dilakukan Banyak Negara

Sebab tidak bisa diprediksi biaya yang harus dikeluarkan orang-orang dan kuangan yang tidak diasuransikan, karena kerusakan yang terjadi saat ini. Terlepas dari semua ini,  ada harapan di mana manusia belajar dari kesalahan saat pandemi yang sedang berlangsung sekarang.

 

 

Vision-Box Hadirkan Teknologi Identitas Digital dengan Biometrik Canggih di Bandara

Model operasional dan interaksi di bandara saat ini ternyata dapat menimbulkan risiko penularan virus. Hal tersebut kemudian membuat Vision-Box menerbitkan buku putih tentang potensi teknologi identitas digital tanpa kontak dengan biometrik canggih.

Baca juga: Bandara Heathrow Siap Adopsi Teknologi Biometrik Pada Musim Panas 2019

Tak hanya itu, teknologi ini juga bisa memudahkan dan mempercepat penumpang di pos pemeriksaan keamanan maupun imigrasi untuk mencegah interaksi fisik dengan perangkat, personel atau permukaan yang berpotensi terinfeksi. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman biometricupdate.com (1/4/2020),  teknologi ini bisa dikatakan tanpa batas sehingga dapat membantu mencegah penularan patogen di bandara.

Teknologi ini berargumen tentang tujuh hal seperti menghilangkan kebutuhan untuk bertukar dokumen perjalanan, mempercepat izin, mengurangi tingkat kerumunan dan jajaran produk serta menyediakan solusi yang mudah didesinfeisi. Bahkan Vision-Box, memberikan penawaran biometrik yang dapat meminimalkan risiko hotspot hub perjalanan serta risiko penularan di luar hub perjalanan atau area perbatasan.

Solusi Seamless Flow meningkatkan biometrik wajah dan aplikasi ID seluler digital yang telah mendapatkan momentum dan mungkin menjadi hal baru yang normal karena teknologi tanpa sentuh. Sehingga bisa digunakan untuk menghilangkan antrean serta hal lainnya.

“Meskipun setiap bandara telah merencanakan insiden yang akan mengakibatkan banyak korban, bencana alam, dan peristiwa buatan manusia, sangat sedikit yang menerapkan sistem untuk mengurangi risiko tertular penyakit menular,” tulis Vision-Box.

Bandara dapat mengukur dan mengelola risiko yang ada di sepanjang perjalanan penumpang dengan menerapkan Seamless Flow dan sistem Izin Manajemen Identitas. Vision-Box mencatat bahwa lebih dari 100 juta pelancong menggunakan teknologinya setiap tahun dengan pelanggan utama yang sudah berinvestasi dalam skala besar termasuk Schiphol Amsterdam, Emirates, Bandara Gatwick, Bandara Bangalore, Bandara Los Angeles dan Aruba.

Baca juga: Identifikasi Biometrik di Bandara Canberra Mencapai Akurasi 94 Persen

Diketahui, perusahaan baru-baru ini mengumumkan telah memenangkan kontrak untuk menyediakan teknologi bagi pengalaman penumpang yang mulus tanpa henti di Gatwick

Terjebak Lockdown di India, Ibu dan Anak Asal Inggris Bisa Pulang Berkat Bantuan Kedubes Jerman

Bagaimana jadinya ketika tengah menikmati liburan, tetapi pandemi virus corona membuat negara yang tengah disinggahi harus lockdown atau menutup semuanya? Mungkin jawabannya adalah tidak akan nyaman. Ya, hal ini dirasakan oleh seorang ibu 50 tahun dan anaknya yang berusia enam tahun ketika berada di Jaisalmer, India.

Baca juga: Lockdown Serempak Bikin Travelers Hampir Mustahil Bepergian Lintas Benua

KabarPenumpang.com merangkum metro.co.uk (2/4/2020), Dawn Hardwick dan anaknya Rosie yang tengah bepergian di Jaisalmer dekat dengan perbatasan Pakistan dan India mengumumkan jam malam karena pandemi Covid-19 meluas. Negara itu juga melarang 1,3 miliar penduduknya keluar selama 21 hari yang kemudian semua penerbangan internasional dan domestik ditangguhkan serta layanan pada sistem kereta api dibatalkan.

Karena hal ini, ibu dan anak tersebut terperangkap di India bersama ribuan turis lainnya. Bahkan dia kesal dengan Kedutaan Inggris di India yang menutup pintu mereka dan tidak membantu warga negara Inggris yang terjebak di India. Dawn kemudian menceritakan suasana jam malam yang diberlakukan kemudian membuat Jaisalmer berubah dalam sekejap.

“Saya telah bolak balik ke India selama bertahun-tahun dan selalu merasa sangat disambut. Tetapi saya untuk pertama kalinya, saya benar-benar tidak melakukannya. ‘Saya membuat orang-orang berteriak di wajah saya, memanggil kami“ orang asing coronavirus ”. Seorang pria meludahi kami. “Itu menakutkan dan menakutkan tetapi saya harus mengatasinya demi Rosie. Saya menertawakannya dan mengatakan kepadanya bahwa mereka hanya konyol,” cerita Dawn kala itu.

Dawn dan Rosie kemudian memulai serangkaian perjalanan dengan menemukan pengemudi dan mobil taksinya yang bersedia membawa mereka sejauh ratusan mil untuk kembali ke Delhi. Perjalanan pertama membawa mereka keluar dari Jaisalmer ke Jodhpur yang memakan waktu selama lima jam perjalanan darat.

Ketika dirinya dan putri kecilnya tiba di hotel, mereka disemprot dengan desinfektan dari ujung kepala hingga kaki. Keesokan paginya mereka menaiki taksi dengan waktu tempuh lima jam ke Pushkar di mana dia berharap untuk bisa kembali ke Delhi dengan penerbangan. Sayanganya ketika tiba di Puskhar, semua penerbangan domestik dilarang karena lockdown.

“Rosie tertidur dan aku berdiri di balkon dan menangis sambil minum teh. Aku hanya merasa tidak aman. Segalanya berubah dari buruk menjadi lebih buruk. “Dengan putus asa aku menelepon kantor polisi setempat dan berhasil mendapatkan izin yang memungkinkan kami melakukan perjalanan melalui jalan darat,” katanyan.

Perjalanan dari Pushkar ke Delhi membawa Dawn dan Rosie sembilan jam naik taksi lagi. Dia mengatakan kenyataannya adalah di jalanan hanya ada kendaraan militer, jip polisi, truk makanan serta jalanan yang dipenuhi dnegan sapi dan monyet.

“Saya kehilangan hitungan jumlah blok jalan dan setiap kali kami menabraknya, saya diharapkan akan kembali. Polisi memukuli orang-orang yang tidak mematuhi jam malam dengan tongkat panjang. Saya harus menjaga Rosie berjongkok di belakang sehingga dia tidak menyaksikannya,” jelas Dawn.

Begitu keduanya tiba di New Delhi, mereka ke Kedutaan Besar Inggris namun ternyata mereka telah menutup pintu dan bandara dipenuhi oleh orang asing yang berharap kembali ke rumah. Sementara orang-orang dari negara Eropa lainnya dipesan untuk penyelamatan dan Dawn mengakui, tidak ada apapun untuk orang Inggris.

“Seorang teman di Inggris dengan koneksi yang baik di India mengetahui adanya penerbangan Lufthansa yang diselenggarakan oleh Kedutaan Jerman dan ketika saya memberi tahu mereka bahwa saya bepergian sendirian dengan seorang anak, mereka setuju untuk membiarkan kami masuk. Saya tidak bisa menggambarkan perasaan lega berjalan ke dalam kedamaian dan ketenangan taman kedutaan untuk menunggu transportasi kami ke bandara. Saya bisa menangis,” kata Dawn mengakui hal itu.

Dia menyebutkan, mereka dijaga sangat baik, disambut dengan hangat dan diberi minuman. Mereka ke bandara dengan pengawalan militer dan saat naik ke pesawat Dawn merasa benar-benar lelah. Dawn dan Rosie terbang ke Frankfurt Kamis (26/3/2020) lalu dan tiba di rumah pada Jumat (27/3/2020) malam setelah naik pesawat ke London.

Baca juga: Tak Lakukan Lockdown, Singapura Optimalkan Social Distancing

Pada hari Senin (30/3/2020), Menteri Luar Negeri Dominic Raab mengumumkan rencana £75 juta untuk menerbangkan orang Inggris yang terdampar ke luar negeri kembali ke Inggris setelah kemarahan yang meluas dari mereka yang terjebak di luar negeri. Tapi untuk Dawn dan Rosie, ini terlalu sedikit dan Dwan mengatakan sudah terlambat.

Italia ‘Ekspor’ Pasien Corona ke Jerman Pakai Pesawat Militer Airbus A310

Italia benar-benar telah kewalahan dengan tingginya kasus positif dan kematian akibat corona. Melihat hal tersebut, Jerman pun menawarkan bantuan sekalipun negara tersebut sebetulnya juga menghadapi tingginya kasus corona. Namun, berkat penanganan maksimal serta dukungan teknologi canggih, Jerman berhasil menekan angka kematian. Maka dari itu, tak mengherankan bila Jerman sampai menawarkan bantuan untuk merawat pasien corona dari Italia.

Baca juga: Tanggap Wabah Corona, Airbus Produksi Visor APD dengan Printer 3D

Pada Sabtu pekan lalu, pesawat Airbus A310 milik Angkatan Udara Jerman versi Medevac (Medical Evacuation) dilaporkan mengangkut enam pasien Covid-19 dari Bergamo, Italia ke Bandara Cologne Bonn, Jerman. Menurut cuitan Angkatan Udara Jerman atau biasa dikenal Luftwaffe, setibanya di sana, pasien tersebut langsung dirujuk ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.

Akan tetapi, pasien ekspor dari Italia ke Jerman tersebut bukanlah rombongan perdana. Sejak pemerintah tersebut mengumumkan telah membuka rumah sakit di negaranya untuk pasien corona dari Italia, Jerman memang telah kedatangan banyak pasien dari dari Negeri Pizza. Menurut laporan The Hill, per 26 maret, Jerman telah menerima sekitar 50 pasien plus tambahan pasien sebanyak enam orang di hari Sabtu lalu sehingga total menjadi 56 pasien. Dengan peningkatan kasus corona yang masih terus terjadi, bukan tidak mungkin angkanya terus meningkat hingga hari ini.

“Setiap bantuan lintas batas sekarang penting. Itulah mengapa Bundeswehr (Pasukan Pertahanan Federal) membantu unit perawatan intensif Angkatan Udara kami untuk mengangkut orang-orang yang sakit parah dari Italia ke Jerman untuk perawatan. Eropa bersatu. ” ujar Menteri Pertahanan Jerman, Annegret Kramp-Karrenbauer, dalam sebuah cuitan, seperti dikutip businessinsider.sg.

Menurut Luftwaffe atau Angkatan Udara Jerman, sebetulnya Medevac mampu mengangkut total 38 pasien lengkap dengan berbagai peralatan pendukung dan tim dokter untuk perawatan sementara selama proses pemindahan. Hebatnya, itu belum termasuk enam ruang ICU untuk pasien yang terluka parah.

Selain itu, sejumlah peralatan yang lazimnya ditemukan di rumah sakit di darat pada umumnya, juga bisa ditemui di pesawat tersebut. Mulai dari ventilator, pompa jarum suntik, hingga defibrillator semua tersedia. Tak heran bila pesawat tersebut mampu melakukan penanganan medis kepada pasien berat virus corona. Belum lagi sistem ultrasonik dan monitor pasien yang semakin melengkapi ‘rumah sakit’ berjalan ala Angkatan Udara Jerman.

Meski demikian, Jerman masih belum puas. Saat ini, Negeri Panzer itu dikabarkan tengah berusaha memodifikasi pesawat serupa yang dalam kondisi normal mampu mengangkut penumpang 214 orang atau bisa juga difungsikan untuk mengisi bahan bakar pesawat dari udara-ke-udara dengan kapasitas 72 ton, semata agar bisa mengangkut lebih banyak pasien dari Italia.

Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!

“Karena kita mendukung teman-teman Italia kita. Kami hanya bisa menghadapi ini (virus corona) bersama-sama,” kata Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas dalam sebuah pernyataan.

Jerman diketahui memiliki tingkat kematian akibat Covid-19 yang relatif rendah meskipun jumlah kasus corona di negara tersebut juga tergolong besar. Setidaknya, Jerman memiliki sekitar 71.690 kasus virus corona per tanggal 31 Maret lalu, dengan 774 orang di antaranya meninggal. Dengan begitu, angka kematian akibat corona di Jerman hanya 1,07 persen. Berbanding jauh dengan Italia yang mencapai angka 11,75 persen di tanggal yang sama.

Airbus Umumkan Produksi A380Ultra, Pesawat Mewah Tiga Lantai

Kamis, 14 Februari 2019, Airbus mengumumkan bahwa mereka akan berhenti memproduksi salah satu pesawat komersial paling ikonik di abad ke-21, Airbus A380. Pengumuman tersebut tentu saja telah mengnyakitkan banyak orang, khususnya para pecinta aviasi, travelers, dan pebisnis lintas negara yang sangat mencintai pesawat superjumbo itu. Pengumuman tersebut juga bertolak belakangan dengan momen valentine’s day yang umumnya hati banyak orang di dunia tengah berbunga-bunga lewat hadiah dari orang terkasih dan Airbus merusak momen itu semua dengan sebuah pengumuman menyedihkan.

Baca juga: Akibat Virus Corona, Harga Airbus A380 Bekas Turun Drastis

Airbus sendiri sebetulnya tak kuasa mengumumkan penghentian produksi salah satu mahakaryanya. Namun, berhubung permintaan dari berbagai maskapai langganan terus berkurang, ditambah royal customer Airbus, Emirates Airlines yang memiliki ratusan armada A380, tiba-tiba membatalkan pesanan A380 dan menggantinya menjadi 30 Airbus A350-900 serta 40 Airbus A330-900neo, tentu saja Airbus tak punya pilihan lain. Kala itu, Emirates Airlines beralasan bahwa double-decker (A380) tak lagi relevan dengan kondisi penerbangan global di masa mendatang.

Namun, pada 1 April 2020, entah apa yang merasuki para petinggi Airbus, pabrikan yang berbasis di Toulouse itu mengumumkan akan memproduksi sebuah pesawat baru, yakni Airbus A380ultra. Tentu pengumuman tersebut disambut positif oleh para pecinta aviasi, travelers, dan pebisnis lintas negara untuk menjajal pesawat out of the box tersebut. Betapa tidak, saat maskapai global seragam mengatakan pesawat besar dengan empat mesin tak lagi relevan, Airbus justru malah membuat pesawat yang lebih besar. Bukankah itu out of the box? Atau mungkin lebih tepatnya think without box?

Sesuai namanya, Airbus A380Ultra nantinya akan semakin mengukuhkan posisi pendahulunya sebagai raksasa atau raja sejati di langit dengan menawarkan triple-deck atau tiga lantai. Luar biasa, bukan? Bila Boeing punya armada 747-400 sebagai Queen of the Skies, mungkin A380Ultra bisa dikatakan King of the Skies. Ada queen (ratu) , tentu tak lengkap jika tidak ada king (raja).

Seperti dikutip dari aerotime.aero, dengan penambahan menjadi tiga lantai, tentu saja akan ada penambahan kapasitas. Bila sebelumnya hanya mampu mengangkut maksimal 850 penumpang dalam konfigurasi satu kelas, maka Airbus A380Ultra diklaim mampu menampung hingga 1060 penumpang. Kemudian, bila sebelumnya hanya mampu mengangkut maksimal 555 penumpang dalam tiga kelas, maka Airbus A380Ultra mampu mengangkut 880 dalam sekali angkut.

Khusus untuk konfigurasi tiga kelas, di sini letak perbedaan juga akan semakin terlihat. Bila sebelumnya business class dan first class masih berada di deck yang sama, yakni di lantai dua, namun tidak untuk Airbus A380Ultra. Penumpang first class nantinya akan ditempatkan khusus, dengan pemandangan eksotis di lantai tiga. Sementara penumpang kelas bisnis dan kelas ekonomi masing-masing akan menempati lantai dua dan satu.

Tak cukup sampai di situ, Airbus A380 juga punya senjata lain untuk memajakan penumpang, khususnya first class. Pesawat tersebut juga diklaim memiliki konfigurasi yang sangat fleksibel, termasuk pilihan bahwa lantai ketiga dapat dikonversi menjadi berbagai fasilitas seperti bioskop, pusat spa, pusat perbelanjaan, restoran, gym, food court, kantor, arena bola basket, dan banyak lainnya. Bagi perancang pesawat manapun, tentu fasilitas mewah tersebut bukanlah isapan jempol belaka. Semuanya sangat mungkin dilakukan, bergantung pada masing-masing maskapai yang nantinya mengoperasikan pesawat tersebut.

Baca juga: Virus Corona Bikin Qantas ‘Pensiunkan Dini’ Pesawat Terbesar di Dunia Airbus A380

Meskipun tampil lebih besar, namun, sejumlah CEO maskapai global dikabarkan telah membicarakan opsi membeli Airbus A380Ultra kepada manajemen. Di samping itu, sekalipun sama-sama akan menggunakan empat mesin, namun, dengan kapasitas angkut yang jauh lebih banyak, cost Arbus A380ultra dalam sekali jalan pastinya juga lebih besar. Bila pendahulunya saja harus merogoh kocek Rp464 juta per jam, A380Ultra diperkirakan harus menambah sepertiga dari angka tersebut. Namun, nyatanya, hal itu tak membuat maskapai besar gentar untuk memilikinya.

Airbus A380ultra nantinya akan ditenagai oleh empat mesin General Electric GE9X, yang secara khusus sebetulnya dikembangkan untuk Boeing 777X. Sejauh ini, baru royal customer pesawat superjumbo Airbus, Emirates Airlines, yang sudah memberi sinyal akan memesan sekitar 100 unit. Namun, baik Emirates, pecinta aviasi, travelers, pebisnis lintas negara, serta kalangan lainnya yang tak sabar menjajal sensai terbang bersama A380ultra, setidaknya harus menunggu hingga tahun 2023 mendatang.

Demi Kembali Terbang, Perbaikan Boeing 737 MAX Terus Dikebut di Tengah Corona

Boeing baru saja melewat ‘perayaan’ setahun grounded Boeing 737 MAX pada 14 Maret lalu. Dalam kurun waktu setahun tersebut, produsen pesawat asal Negeri Paman Sam tersebut mengaku telah menggelontorkan uang sebesar Rp268 triliun (Rp14.352). Jumlah tersebut diperkirakan akan membengkak menjadi sebesar Rp330 triliun sampai pesawat tersebut benar-benar kembali diizinkan terbang.

Baca juga: Jelang Setahun Grounded, Boeing Habiskan Total Rp268 Triliun Gegara 737 MAX

Sadar tak ingin menghabiskan lebih banyak uang lagi akibat tak kunjung menerbangkan kembali 737 MAX, Boeing pun tancap gas. Bahkan, di tengah pandemi virus corona yang tengah mewabah dengan cepat di Amerika Serikat (AS). Betapa tidak, hingga kemarin, Amerika telah mencatat lebih dari 244 ribu kasus dimana 6 ribu orang lebih di antaranya meninggal dunia. Bahkan, saking banyaknya yang meninggal, dalam sebuah video viral, truk es sampai harus dikerahkan untuk menyimpan sementara mayat korban corona di AS karena rumah sakit tidak lagi menampung lonjakan pasien yang terus bertambah pesat.

Boeing dilaporkan masih terus menggenjot proses perbaikan, mulai dari menguji perubahan perangkat lunak terbaru dan menyempurnakannya hingga melakukan pengujian dalam simulator penerbangan yang dikenal sebagai e-cab di tengah pandemi corona, semata untuk menyesuaikan seluruh persyaratan dari regulator penerbangan sipil di Amerika Serikat (FAA). Perusahaan tak gentar sekalipun sejauh ini dilaporkan sudah terdapat 88 kasus corona yang menimpa pekerjanya. Meskipun demikian, progres 737 MAX hanya dilakukan oleh tim kecil. Adapun sisanya, Boeing telah menghentikan proses produksi untuk sementara waktu.

Dengan begitu, Boeing tetap menargetkan bahwa 737 MAX dapat kembali terbang pertengahan tahun ini. Kabar baiknya, langkah tersebut juga didukung oleh FAA. Pasalnya, tidak selamanya tinjauan teknis diperlukan. Mereka bisa saja mengecek lewat dokumen, video conference, atau lewat telepon. FAA juga memuji Boeing bahwa mereka terus membuat kemajuan untuk 737 MAX dengan hampir memenuhi standar sertifikasi dan semua itu dilakukan di tengah pembatasan di AS.

“Tim kami mengelola melalui wabah Covid-19 seperti banyak orang lain dengan bekerja secara virtual di mana kita bisa, sambil mengambil tindakan pencegahan untuk memastikan lingkungan yang aman bagi kita semua,” kata Boeing dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari bloomberg.com.

“Kami terus membuat kemajuan dalam upaya sertifikasi kami dan bekerjasama dengan regulator untuk memenuhi persyaratan mereka. Perkiraan kami masih merupakan pertengahan tahun untuk mengembalikan armada 737 MAX ke layanan,” tambahnya.

Meski demikian, Boeing bukan tanpa halangan. Khususnya terkait logistik. Seorang analis dari Melius Research, Carter Copeland, belum lama ini memperkirakan bahwa dengan rintangan pada proses logistik, kembalinya Max berisiko molor satu hingga tiga bulan ke depan.

“Sekarang sulit, jika bukan tidak mungkin, bagi berbagai staf regulator global untuk masuk ke Amerika, dan daftar tugas FAA sekarang mencakup banyak tantangan besar terkait dengan Covid-19,” tulisnya dalam sebuah catatan.

Lagi pula, jika Boeing ingin benar-benar mewujudkan target kembalinya 737 MAX pada pertengahan tahun, setidaknya mereka harus benar-benar menyelesaikan proses uji terbang MAX langsung oleh regulator pada bulan ini. Faktanya, sampai saat ini, belum ada satupun jadwal pengujian oleh pilot uji regulator.

Baca juga: Akibat Corona, Boeing dan Airbus Bahas Merger untuk Selamatkan Bisnis

Selain itu, bila Boeing masih kukuh pada pendiriannya, paling tidak mereka harus memulai kembali proses produksi di berbagai pabrik dua bulan sebelum waktu yang ditentukan. Bila Boeing mengambil target pertengahan tahun atau Juni atau Juli, maka bulan April atau paling lambat Mei, aktivitas produksi sudah harus kembali dimulai. Dengan kondisi pandemi corona di AS yang masih terus meningkat, kemungkinan Boeing akan kesulitan merealisasikan target tersebut.

Bila skenario (penundaan kembalinya 737 MAX) maka hal itu diperkirakan akan semakin menekan kinerja keuangan Boeing. Meskipun sudah mendapatkan suntikan modal besar, nyatanya, Boeing kamis lalu baru saja mengumumkan tawaran rencana PHK sukarela untuk karyawan, meskipun ditawari gaji dan tunjangan yang cukup besar. Artinya, Boeing memang tengah terpukul telak, satu akibat corona dan satu lainnya akibat grounded berkepanjangan 737 MAX.