Terkatung di Perairan Selama 2 Minggu, Zaandam dan Rotterdam Akhirnya Berlabuh di Port Everglades

Kapal pesiar Zaandam dan Rotterdam yang membawa 1243 penumpang termasuk 247 penumpang Kanada dan satu awak Kanada akhirnya merapat di Port Everglades di Fort Lauderdale, Florida. Dua kapal pesiar ini akhirnya bisa merapat setelah lebih dari dua minggu mencari tempat berlabuh.

Baca juga: Setelah 17 Hari Dikosongkan, Virus Corona Masih Ditemukan di Kapal Pesiar Diamond Princess

Kedua kapal pesiar ini bisa merapat pada Kamis (2/4/2020) sore, di mana sebelumnya pejabat setempat menolak mengizinkan untuk berlabuh karena kapal Zaandam telah dikonfirmasi penumpangnya terinfeksi Covid-19, selain itu empat orang meninggal dan yang lainnya membutuhkan perawatan di rumah sakit. Empat penumpang Zaandam yang meninggal terkena penyakit seperti flu pada pertengahan Maret.

Holland America yang mengoperasikan kapal Zaandam mengatakan, dua orang yang meninggal dinyatakan positif Covid-19 dan dua lainnya tidak dikatakan penyebabnya. Selain itu setelah merapat para penumpang lainnya di tes dan beberapa diantaranya positif Covid-19.

Para penumpang di Zaandam dan Rotterdam Cruise (cbc.ca)

“Saya tidak bisa memberi tahu Anda betapa bahagianya kami. Ini merupakan perjalanan yang sangat panjang dan menjadi pengalaman terburuk dalam hidup kami. Bersyukur, akhirnya sudah berakhir,” kata seorang penumpang Chris Joiner yang bepergian dengan kapal Zaandam bersama sang istri Anna.

Sebelum kedua kapal tersebut berlabuh, pekan lalu, Rotterdam dan krunya bergabung dengan Zaandam dan membawa lebih dari setengah penumpangnya untuk memberikan bantuan.

“Warga Amerika berjajar di kanal sambil melambai dan menyemangati kami ketika memasuki daerah itu. Ini yang jelas adalah momen emosional. Aku lega dan tidak sabar untuk kembali ke tempat tidurku sendiri,” ujar Catherine McLeod penumpang Rotterdam.

KabarPenumpang.com melansir laman cbc.ca (2/4/2020), Holland America dalam sebuah pernyataan mengatakan, bahwa penumpagn akan menjalani pemeriksaan kesehatan dan menghapus bea cukai serta imigrasi di Port Everglades dan akan turun pada hari Jumat (3/4/2020). Sepuluh penumpang yang membutuhkan perawatan diketahui langsung di bawa ke rumah sakit setempat dan mereka yang dianggap sehat langsung diangkut ke bandara untuk sebagian besar penerbangan charter pulang.

Holland America mengatakan 45 penumpang yang masih menunjukkan gejala akan tetap di atas kapal sampai mereka diizinkan bepergian. Diketahui, Zaandam memulai pelayarannya ke Amerika Selatan pada 7 Maret, tetapi perjalanan itu terputus seminggu kemudian, pada 14 Maret, di tengah pandemi Covid-19 yang terus meningkat.

Operator kapal pesiar tersebut rencananya memungkinkan penumpang dengan cepat turun dan terbang pulang. Namun Holland America sudah berjuang untuk mendapatkan tempat berlabuh di negara-negara sekitar seperti Chili dan Peru. Sayangnya kedua negara itu menutup perbatasan mereka dari orang asing sebagai tanggapan terhadap pandemi.

Hingga akhirnya, stetelah wabah penyakit, penumpang kapal terpaksa menghabiskan 12 hari terakhir terbatas di kabin mereka sebagai tindakan pencegahan keamanan. Mereka menghabiskan lebih dari dua minggu tanpa mengetahui apakah dan kapan mereka akan turun dari kapal dan diizinkan untuk kembali ke rumah.

“Ini telah menjadi mimpi buruk sejak 14 Maret, ketika pelabuhan pertama di Chili ditutup. Kemudian semua pelabuhan di Chili ditutup dan semua Amerika Selatan ditutup,” kata Joiner.

Setelah serangkaian penolakan, Zaandam dan Rotterdam berencana untuk berlabuh di Fort Lauderdale. Tetapi ketika wabah Covid-19 di Florida memburuk, kekhawatiran tumbuh bahwa penumpang yang sakit akan menghabiskan sumber daya yang dibutuhkan untuk warga lokal.

“Kami sudah cukup banyak untuk berurusan dengan orang-orang kami di Florida. Kami tidak ingin kapal masuk,” kata Gubernur Ron DeSantis.

Namun, Presiden AS Donald Trump mengadvokasi untuk para penumpang dan perjalanan pulang mereka yang cepat.

“Kami harus membantu orang-orang – mereka dalam masalah besar di mana pun mereka berasal. Kita harus melakukan sesuatu, mereka sekarat dan gubernur juga tahu itu,” katanya Trump.

Joiner mengatakan dia terkejut tetapi senang ketika Trump mempertimbangkan masalah ini.

Baca juga: Jadi Heboh Setelah Serangan Virus Corona, Inilah Sosok Kapal Pesiar “World Dream”

“Kami tidak pernah berpikir Tuan Trump akan datang untuk menyelamatkan kami. Tapi, kamu tahu, kamu mulai berpikir, ini adalah misi kemanusiaan. Sekarang, ada orang-orang yang sakit, termasuk orang Amerika,” ujar Joiner.

Joiner dan istrinya, Anna, keduanya melewati pemeriksaan kesehatan setelah pengiriman mereka merapat. Tetapi dia mengatakan dia tidak akan merasa lega sampai mereka tertidur di kursi mereka di penerbangan pulang.

“Sampai kita di pesawat itu … saat itulah kita bisa bersantai,” kata dia.

Lima Tips Cegah Corona di Mobil, Nomor 5 Paling Sulit

Virus corona menyebar dengan cepat, tak kenal tempat dan waktu. Selain itu, menurut penelitian, virus Cina (menukil perkataan Presiden AS Donald Trump) ini disebut dapat bertahan di udara selama 3 jam, 4 jam di bahan tembaga, 24 jam di bahan kardus, 2-4 hari di permukaan plastik dan stainless, serta 9 hari di permukaan logam dan kaca.

Baca juga: Area Dekat Pintu Kereta Komuter, Jadi Lokasi Potensi Terbesar Penularan Virus Corona

Celakanya, permukaan-permukaan tersebut sangat sering dijumpai di sekeliling kehidupan sehari-hari, mulai dari mata terbuka di pagi hari sampai kembali tertutup di malam hari. Tak terkecuali di dalam mobil. Oleh karenanya, dibutuhkan trik ampuh untuk mencegah terpaparnya seseorang di dalam mobil. Dilansir dari caradvice.com.au berikut lima tips aman cegah penyebaran dan penularan Covid-19 di mobil.

1. Pakai Sarung Tangan
Berbagai protokol kesehatan di seluruh dunia menyerukan agar masyarakat tidak menyentuh hidung, mulut, atau mata dengan tangan yang digunakan untuk bersentuhan dengan hal-hal yang disentuh oleh orang lain. Oleh karenanya, dengan menggunakan sarung tangan saat di dalam atau di luar mobil, pengguna mungkin dapat mengurangi resiko tertular Covid-19 ketika di dalam mobil.

2. Gunakan Masker
Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan ahli kesehatan dari seluruh dunia menyarankan akan masker dipakai hanya oleh orang sakit. Namun, kondisi telah berubah. Pandemi virus Cina yang telah membunuh puluhan ribu nyawa dan menjangkiti lebih dari 1 juta orang di seluruh dunia, telah mendorong penggunaan masker juga pada orang sehat, mengingat percikan dari orang sakit yang terhirup orang sehat dapat menyebabkan penularan. Terlebih ketika percikan (bisa berupa batuk ataupun bersin) terjadi di ruang tertutup dan sistem filterisasi udara tak sebaik di rumah sakit, seperti di dalam mobil.

Oleh karenanya, jangan lupa untuk membawa masker dan menggunakannya ketika tengah berkendara dengan teman, kerabat, atau siapapun di dalam mobil saat Anda atau mereka tengah demam, pilek, dan batuk. Pasalnya kabin mobil merupakan area tertutup dengan sistem sirkulasi AC yang juga hanya berputar di dalam mobil. Jadi ada baiknya untuk menyediakannya di dalam mobil.

3. Sediakan Hand Sanitizer
Bagi pengendara yang malas menggunakan sarung tangan dan kesulitan mengakses air bersih untuk selalu mencuci tangan, hand sanitizer mungkin menjadi alternatif terbaik untuk memaksimalkan pencegahan penularan virus corona. Hand sanitizer, dengan komposisi sesuai protokol kesehatan dunia terbukti ampuh membunuh bakteri yang menempel di tangan. Pasalnya, tangan kerap kali refleks untuk menyentuh bagian-bagian wajah karena satu dan lain hal.

4. Bersihkan Mobil dengan Benar
Mengingat virus corona dapat bertahan selama beberapa waktu di berbagai permukaan, seperti permukaan plastik dan stainless, serta logam dan kaca yang notabene mudah dijumpai di mobil, oleh karenanya, penting untuk selalu membersihkan mobil dengan benar, bukan hanya sekedar membersihkan ala koboi yang identik serba cepat dan asal-asalan.

Baca juga: Ahli: Penumpang yang Duduk di Dekat Jendela Lebih Aman dari Virus Corona

Soal cara membersihkan mobil dengan benar untuk mencegah corona, Michael Simon, owner premium Carcierge, punya tips sederhana untuk Anda. Sebelum masuk ke dalam mobil, menyemprotkan cairan disinfektan atau sejenisnya ke gagang mobil dan menyekanya dengan tisu anti bakteri adalah penting. Kemudian, lakukan hal serupa ke setir dan persneling. Namun, sebelum itu, penting untuk memulainya dengan melakukan hal serupa ke kunci mobil. Tentu saja pengguna juga tak boleh melupakan tempat-tempat lainnya di dalam mobil yang sering disentuh.

5. Physical Distancing
Physical distancing tentu menjadi kunci memutus rantai penyebaran virus Cina dimanapun. Tak terkecuali di dalam mobil. Terlebih pada mobil mini. Oleh karenanya, penting untuk tetap menjalankan protokol kesehatan physical distancing sekalipun di dalam mobil dan bersama keluarga sendiri. Sebab, Anda tak pernah tahu kapan seseorang benar-benar terjangkit virus Cina tersebut. Jadi, usahkan untuk duduk menyilang. Kosongkan bangku depan samping kemudi dan belakang kemudi. Praktis, pada mobil sedan 2 seat, mobil hanya mampu menampung maksimal dua orang. Singkatnya, satu seat untuk satu orang.

Etihad Uji Coba Teknologi Canggih di Bandara untuk Cegah Corona

Etihad Airways dilaporkan akan segera mengagendakan uji coba teknologi baru di bandara. Teknologi tersebut diklaim mampu membantu petugas untuk mengidentifikasi wisatawan yang berisiko medis, baik mereka yang bergejala atau tidak hingga wisawatan yang sedang dalam masa inkubasi Covid-19 atau tidak.

Baca juga: Saudia vs Etihad, Siapa Juara di Kelas Ekonomi?

Dikutip dari laman businesstraveller.com, teknologi tersebut dikembangkan oleh perusahaan asal Negeri Kanguru Australia, Elenium Automation. Teknologi tanpa adanya kontak langsung ini bisa mengetahui seseorang bergejala corona atau tidak dengan memonitor suhu tubuh, detak jantung, dan pernapasan setiap orang yang menggunakan seluruh fasilitas dalam rangkaian menuju penerbangan, seperti self check-in, informasi, bag drop, security points hingga immigration gates.

Ketika suhu tubuh, detak jantung, dan pernapasan seluruh penumpang selesai dimonitor, beberapa saat kemudian hasilnya akan keluar berupa potensial untuk melanjutkan perjalanan atau tidak. Bila tidak, penumpang tersebut akan diarahkan untuk melakukan teleconference atau langsung menemui petugas di bandara. Dari situ, petugas akan melakukan tindakan medis lebih lanjut untuk mendapatkan hasil akhir yang lebih valid.

Saat ini, Etihad dikabarkan tengah mencari para sukarelawan untuk mengujicoba teknologi tersebut bersama dengan para penumpang lainnya dalam penerbangan sungguhan. Bila terealisasi, Etihad akan mencatatkan namnya sebagai maskapai pertama yang mengujicoba teknologi tersebut akhir bulan ini.

Pihak Elenium Automation sendiri mengatakan telah mengajukan paten untuk deteksi otomatis gejala penyakit (Covid-19) di seluruh titik touchpoint atau berbagai fasilitas dalam rangkaian proses sebuah penerbangan. Selain itu, perusahaan tersebut juga mengajukan paten atas teknologi self-service tanpa sentuhan di bandara. Bila keduanya dikombinasikan, perusahaan mengklaim teknologi tersebut dapat dijadikan standar untuk memastikan proses pemeriksaan kesehatan di bandara tanpa membahayakan staf ketika melakukan pengecekan manual.

“Sistem akan menyeleksi setiap individu, termasuk beberapa orang ketika melakukan pemesanan secara kolektif,” kata Aaron Hornlimann, CEO sekaligus salah satu founder Elenium Automation.

“Teknologi ini juga dapat dipasang di kiosk bandara, bag drop, diinstall di desktop di berbagai titik vital proses pengecekan penumpang seperti pengecekan immigrasi. Kami percaya, inovasi layanan mandiri tanpa sentuhan dan pemeriksaan kesehatan otomatis akan mendorong penumpang untuk kembali melakukan perjalanan lebih cepat,” tambahnya.

Sementara itu Jorg Oppermann, VP hub and midfield operations Etihad Airways, mengatakan bahwa teknologi ini tidak didesain untuk mendiagnosis kesehatan penumpang. Tetapi, teknologi tersebut lebih pada indikator peringatan dini untuk membantu petugas mengidentifikasi orang-orang yang berpotensi membawa virus corona. Dengan begitu, petugas medis akan lebih mudah melakukan penanganan karena penumpang telah terseleksi secara otomatis. Lebih dari itu, penyebaran corona pun juga dapat ditekan sebelum benar-benar sampai ke negara tujuan.

Baca juga: Persaingan Maskapai Kelas Wahid Satu Negara: Etihad dan Emirates, Mana yang Lebih Baik?

“Sudah lama kasus bahwa pesawat terbang, dengan sistem air-recycling yang sangat canggih dan standar kebersihan bukanlah moda transportasi untuk penyebaran penyakit. Kami menguji teknologi ini karena kami percaya itu tidak hanya akan membantu dalam wabah Covid-19 saat ini, tetapi juga di masa depan, dengan menilai kesesuaian penumpang untuk bepergian dan dengan demikian meminimalkan gangguan,” katanya.

“Di Etihad kami melihat ini adalah langkah lain untuk memastikan bahwa wabah virus di masa depan tidak memiliki dampak yang sama menghancurkan pada industri penerbangan global seperti saat wabah Covid-19 merebak,” pungkasnya.

Sepi Penumpang, Singapura Bekukan Terminal 2 Bandara Changi Selama 18 Bulan

Operasional di Terminal 2 Bandara Changi akhirnya akan ditangguhkan selama 18 bulan, mulai 1 Mei hingga Oktober 2021 mendatang untuk menghemat biaya operasional. Hal itu disampaikan langsung oleh Menteri Transportasi Khaw Boon Wan dalam sebuah pernyataan di depan parlemen. Adanya penutupan tersebut, praktis operasional Terminal 2 akan dialihkan ke terminal lainnya. Adapun Singapore Airlines dikabarkan akan mengalihkan operasional ke Terminal 3.

Baca juga: Changi Airport, Bandara Terbaik di Dunia yang ‘Didirikan’ Para Tawanan Jepang

Changi Airport Group (CAG) sendiri selaku operator bandara mengatakan pihaknya memutuskan untuk melakukan hal tersebut mengingat turunnya arus keluar masuk penumpang, baik transit atau penumpang dari dan ke Singapura. Di samping itu, penutupan selama 18 bulan tersebut dilakukan atas dasar asumsi yang dikembangkan dengan melihat fakta yang ada. Hasilnya, pihak CAG menilai kemungkinan permintaan perjalanan udara tidak akan kembali seperti sediakala, sebelum adanya Covid-19, dalam waktu dekat.

Prediksi tersebut tentu cukup fantastis dibanding prediksi dari International Air Transport Association (IATA). Pada akhir Februari lalu, IATA telah berasumsi, jika corona sama dengan wabah SARS beberapa tahun lalu, maka, proses recovery sampai akhirnya benar-benar pulih kembali bisa mencapai 9 bulan atau 9 bulan lebih sedikit dibanding prediksi dari CAG.

“Untuk bisa pulih sebelumnya sepertinya tidak mungkin. Sebagian operasional mungkin akan kembali pulih tahun depan, jadi kami harus siap saat semuanya sudah kembali pulih,” kata Menteri Transportasi, Khaw Boon Wan.

Bak sambil menyelam minum air, penutupan tersebut pun dimanfaatkan oleh stakeholder untuk melakukan proses perbaikan di Terminal 2. Dengan ditutupnya Terminal 2 ini, proyek pengerjaan perbaikan bisa dipersingkat hingga satu tahun dari perkiraan semula yakni selesai di tahun 2024.

“Yang penting, ini juga memungkinkan kami untuk mempercepat pekerjaan peningkatan di Terminal 2 yang saat ini berjalan dan mempersingkat waktu proyek hingga satu tahun,” kata Khaw di parlemen.

Dengan ditutupnya Terminal 2 Bandara Changi pula, otomatis CAG dan seluruh tenant bisa menghemat biaya operasional serta mengoptimalkan sumber daya di terminal lainnya agar disesuaikan dengan permintaan yang notabene tengah menurun tajam.

Selain itu, CAG menambahkan bahwa mereka telah secara signifikan mengurangi operasional di Terminal 4, karena jumlah penerbangan yang sangat sedikit. Bahkan, saat ini CAG tengah mempertimbangkan penangguhan operasi sementara di Terminal 4 jika maskapai yang tersisa memilih untuk menangguhkan atau menyesuaikan jadwal penerbangan mereka. Hal itu dimaksudkan agar bandara bisa menata diri. Ketika kondisi benar-benar pulih kembali, mereka bisa kembali memberikan pelayanan terbaik.

“Kami bisa saja menutup satu atau dua terminal, akan tetapu kami harus memikirkan segalanya setelah wabah ini usai,” tambah Khaw, sebagaimana dikutip dari straitstimes.com.

Baca juga: Pangkas 96 Persen Kapasitas Penerbangan, Singapore Airlines Diambang Kebangkrutan?

Sementara itu, Wakil Perdana Menteri Heng Swee Keat bulan lalu mengatakan bahwa jumlah penumpang yang tiba di bandara telah mengalami penurunan lebih dari 90 persen sejak wabah Covid-19 menyebar luas ke seluruh dunia pada Februari lalu. Maka dari itu, tak heran bila Singapore Airlines Group memangkas kapasitas kursi hingga 96 persen hingga akhir April mendatang.

Akan tetapi, mengingat pentingnya posisi Bandara Changi dan Singapore Airlines (SIA) dalam menyokong pendapatan negara, pemerintah pun bergerak cepat untuk menyelamatkan bisnis serta posisi Changi dan SIA sebagai salah satu pelaku industri penerbangan terbaik di dunia. Oleh karenanya, kedua unit bisnis tersebut terus didorong untuk tetap melakukan sejumlah pengerjaan guna terus bertahan di tengah pandemi corona.

Video Pramugari Bekerja dari Rumah Viral dan Banyak Dikomentari

Untuk para pekerja lain mungkin work from home atau bekerja dari rumah sangat bisa untuk dilakukan. Namun bagaimana dengan seorang pramugari yang biasanya bekerja melayani penumpang di pesawat harus di rumah untuk mengkarantina diri di tengah wabah virus corona (Covid-19) ini?

Baca juga: Pramugari Mulai Terinfeksi Virus Corona, Lantas Pilih Tetap Pakai Masker atau Tidak?

Seorang pramugari WestJet bernama Kristen Gillet menulis dan membuat sebuah video pendek bersama sang suami Wes Barker seorang komedian dan pesulap yang menunjukkan bagaimana pramugari mengatasi karantina di tengah wabah Covid-19 ini. Dilansir KabarPenumpang.com dari travelweekly.com.au (7/4/2020), dalam video tersebut Kristen melakukan pekerjaan seoalah-olah rumah mereka adalah sebuah kabin pesawat.

Dalam video berdurasi empat menit tersebut, Kristen terlihat mengenakan seragam pramugarinya yang lengkap dengan syal leher, blus putih, rok, sepatu serta menata rambutnya seperti benar-benar tengah bekerja. Saat itu dia berbicara dengan sang suami seolah-olah dia dalam penerbangan.

Kristen menyapa suaminya di sofa dan bertanya apakah dia ingin minuman selamat datang. Kemudian dia melakukan briefing keselamatan seperti menjelaskan titik-titik aman yakni pintu balkon yang seolah-olah menjadi pintu darurat.

Karena video ini didedikasikan untuk pekerjaannya, Kristen terus meminta Wes menyimpan laptopnya beberapa kali sambil memberikan handuk panas. Dalam penerbangan tengah hari itu, Kristen memberikan camilan manis dan asin untuk dimakan Wes selama penerbangan tersebut. Bahkan ada beberapa adegan di mana Kristen menawarkan alkohol miliknya sendiri pada Wes.

Kristin Gillett dan Wes Barker beradegan ketika akan menggunakan toilet pesawat (YouTube)

“Apakah Anda benar-benar mencoba menjual alkohol saya sendiri kepada saya?” tanya Wes.

“Jadi, apakah Anda ingin membeli minuman bebas pajak?” kata Kristen yang berlaku bak pramugari dalam kabin.

Sambil menunjuk sebuah botol, sang suami berteriak, “Aku dapat itu untuk ulang tahunku!”

“Jadi, apakah itu tidak?” tanya Kristen sembari pergi menjualnya lagi.

Selain itu ada adegan dimana Kristen tengah menyantap saladnya di dekat pintu toilet dan menjelaskan cara membuka pintunya. Adapula di mana saat Kristen tengah sembunyi-sembunyi makan cemilan di balik tirai dan mengintip ke lorong penumpang takut-takut ada yang melihat perbuatannya.

Video yang diunggah sejak 26 Maret 2020 kemarin ini sudah ditonton oleh lebih dari 1,5 juta orang dan disukai sebanyak 11 ribu. Bahkan banyak yang mengomentari video tersebut.

“Kau bisa tahu dia sebenarnya pramugari. Ini sangat realistis …. Saya MISS FLYING SUDAH dan baru 8 hari sejak pasangan terakhir saya. Video yang sangat lucu ….” komentar seseorang.

“Istri saya adalah seorang Pramugari, dan dia berdiri di atas bahu saya, mengawasi dan menertawakannya. Suka salad makan di lav scene! ” seorang komentator menulis.

“Sebagai pramugari, saya hanya bisa mengatakan ini terlalu akurat dan lucu. Kami menghabiskan setengah waktu kami di tempat kerja untuk memberi tahu penumpang cara membuka pintu toilet,” tulis seseorang.

Ratusan komentar membanjiri, memuji wanita itu atas perannya sebagai pramugari, memanggil detail-detail lucu dari video.

“Ini jeritan! Saya seorang pramugari dan saya tidak bisa berhenti menontonnya. LOL saya mungkin akan membuat Anda melihat 1k sendiri. Kerja bagus!!” sebuah komentar dibaca.

Baca juga: Antisipasi Coronavirus, Cathay Pacific Izinkan Pramugari Kenakan Masker

“Dia pasti seorang pramugari. Membuat saya tertawa ketika mencoba berbicara dengan penumpang dengan earphone. Saya membagikan ini di email grup pramugari maskapai saya. Merci,” orang lain membagikan.

Yang lain, apakah mereka pramugari atau tidak, juga menghargai video itu sebagai momen kesembronoan selama masa-masa sulit di mana banyak orang menemukan diri mereka di bawah perintah perlindungan di tempat.

Ini Dia! Lima Kelemahan Covid-19

Sebagai pengguna moda transportasi, di tengah merebaknya virus corona (Covid-19), harus bisa menjaga diri ketika bepergian. Apalagi virus yang satu ini tidak pandang bulu penularannya baik kepada anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua. Tak hanya itu, vaksin dan obat untuk virus ini belum ditemukan yang tepat.

Baca juga: Transjakarta: Calon Penumpang Tak Gunakan Masker Tidak Boleh Masuk Halte dan Naik Bus

Namun, meski begitu, ternyata Covid-19 ini punya beberapa kelemahan dan sebagai pengguna moda transportasi Anda bisa mengatasinya. Nah dengan mengetahui kelemahan virus baru ini, maka penumpang bisa mencegah penularan sehingga risiko terinfeksi pun lebih terminimalisir. Lalu apa sebenarnya kelemahan virus corona ini? KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, beriku ini kelemahan virus corona.

1. Mudah hilang dengan pelarut lemak
Banyak yang bertanya pastinya pelarut lemak itu apa? ternyata pelarut lemak adalah sabun yang biasa digunakan sehari-hari. Virus corona bisa hancur dan mati jika terkena sabun. Itu sebabnya para pengguna moda transportasi atau masyarakat lainnya dianjurkan untuk mencuci tangan dengan air dan sabun yang mengalir untuk mencegah terinfeksi Covid-19.

Lalu, mengapa sabun efektif untuk membunuh virus corona? Jawabannya ada pada susunan virus itu sendiri. Virus corona pada intinya tersusun atas tiga bagian, yaitu DNA atau RNA yang menjadi inti dari virus, protein yang merupakan bahan baku virus untuk memperbanyak diri, dan lapisan lemak sebagai pelindung luarnya. Ketiga bagian tersebut sebenarnya tidak terikat dengan kuat satu sama lain. Sehingga, saat lapisan lemak tersebut hancur karena sabun, maka virus tersebut pun akan hancur dan mati.

Jadi, imbauan untuk mencuci tangan adalah langkah yang valid dan sangat efektif untuk mencegah penularan Covid-19. Jika Anda rajin cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, maka kemungkinan virus berpindah dari tangan dan masuk ke dalam tubuh akan berkurang drastis.

2. Bisa dikalahkan oleh antibodi
Infeksi Covid-19 bisa terjadi dalam beberapa tingkat keparahan, mulai dari yang ringan hingga parah. Pada pasien Covid-19 yang memiliki gejala ringan, infeksi ini bisa sembuh dengan sendirinya selama daya tahan tubuhnya baik. Sebuah penelitian yang dilakukan di Australia mengamini bahwa salah satu kelemahan virus corona adalah dalam menghadapi antibodi yang sehat. Penelitian ini melihat secara teratur kadar antibodi yang dihasilkan oleh seorang pasien Covid-19 berusia 47 tahun dengan gejala ringan hingga sedang.

Pasien tersebut tidak memiliki penyakit penyerta seperti hipertensi atau diabetes. Kondisi tubuhnya secara keseluruhan sehat dan hanya terdapat satu infeksi yang sedang terjadi, yaitu Covid-19. Pada hari ke 7-9 sejak gejala Covid-19 pertama kali muncul pada pasien tersebut, sejumlah antibodi mulai terbentuk di tubuh. Ini tandanya, tubuh tengah mengeluarkan berbagai senjatanya untuk berusaha melawan virus corona. Beberapa hari setelah antibodi terbentuk, tubuh pasien tersebut mulai membaik.

Memang masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut dalam skala yang lebih besar lagi untuk melihat pola “peperangan” antara virus corona dan antibodi. Namun, penelitian di atas bisa dijadikan sebagai pengingat pentingnya menjaga daya tahan tubuh dengan menjalani gaya hidup yang sehat.

3. Bisa dibunuh dengan disinfektan
Virus corona ada banyak jenisnya, yakni virus corona yang menyebabkan SARS, MERS, dan saat ini jenis yang baru ditemukan, mengakibatkan Covid-19. Masing-masingnya memang memiliki perbedaan dan masih butuh lebih banyak penelitian. Namun sejauh ini, diketahui bahwa secara umum karakter keluarga coronavirus cukup mirip, yaitu dianggap lemah jika harus berhadapan dengan bahan disinfektan.

Berdasarkan hasil penelitian, virus corona penyebab SARS dan MERS bisa bertahan di permukaan benda seperti metal, kaca, atau plastik hingga beberapa hari. Meski sejauh ini belum ada penelitian mengenai ketahanan virus penyebab Covid-19 di permukaan, tapi diduga hasilnya tidak jauh berbeda dari sepupu sesama virus corona lainnya.

Kabar baiknya, virus tersebut dianggap bisa nonaktif dengan bahan disinfektan seperti alkohol dengan kadar 60-70 persen, hidrogen peroksida 0,5 persen, atau sodium hipoklorit 0,1 dalam waktu 1 menit. Jadi rajin-rajinlah membersihkan permukaan benda yang sering disentuh seperti telepon genggam, gagang pintu, dan meja kerja menggunkaan bahan disinfektan.

Baca juga: Kata Ahli Medis: Cuci Tangan dengan Sabun Lebih Baik Dibanding Terus-terusan Pakai Masker

4. Tidak bisa bertahan lama dipermukaan
Virus corona memang bisa bertahan beberapa hari di permukaan. Namun, seiring berjalannya waktu, virus ini tidak lagi cukup kuat untuk bisa menimbulkan infeksi.

Sehingga baik WHO maupun Kementerian Kesehatan RI tidak melarang pengiriman paket antar negara karena risiko penularan melalui media pengiriman paket tersebut sangatlah rendah.

5. Melemah di suhu panas
Sejauh ini belum ada penelitian yang menyebut bahwa virus penyebab Covid-19 lemah terhadap panas. Namun, coronavirus penyebab penyakit SARS, terbukti bisa melemah pada suhu panas. Berdasarkan data yang diterbitkan oleh badan kesehatan dunia, World Health Organization (WHO), virus penyebab SARS bisa terbunuh pada suhu 56°C. Baca juga: Mungkinkah Wabah Covid-19 Reda di Cuaca Hangat?

Jaunt’s ROSA Gyrodyne – Rancangan Taksi Udara eVTOL Paling Aman di Dunia

Era taksi terbang semakin menggeliat. Tak terhitung jumlah pabrikan yang coba mengeluarkan produk taksi terbang atau biasa juga disebut taksi udara. Desain dan konsep yang ditanamkan pun juga cukup beragam. Volocopter, misalnya, percaya pada konsep pesawat kecil dengan puluhan baling-baling kecil. Lain halnya dengan Hyundai S-A1, yang lebih memilih menggunakan sistem baling-baling multi-fungsi dengan sayap konvensional. Begitu juga dengan Jaunt Air Mobility LCC yang lebih memilih desain taksi udara gyrodyne.

Baca juga: Sukses Terbang Perdana, Taksi Udara Uber Mahakarya Boeing Mengudara di Tahun 2023

Seperti dikutip dari newatlas.com, Jaunt Air Mobility LCC atau Jaunt telah merilis desain taksi terbang miliknya dengan teknologi Reduced Rotor Operating Speed (ROSA) yang merupakan sebuah gyrodyne. Gyrodyne sendiri adalah jenis pesawat VTOL (Vertical Takeoff and Landing) dengan sistem mirip helikopter yang digerakkan oleh mesin untuk lepas landas dan mendarat dengan dilengkapai satu atau lebih baling-baling atau propeller konvensional untuk memberikan daya dorong ke depan.

Begitu juga dengan Jaunt, baling-baling utama pada bagian atas berfungsi seperti helikopter untuk terbang serta mendarat secara vertikal. Setelah taksi terbang mengudara, empat baling-baling listrik pada sayap kemudian memberikan daya dorong ke depan layaknya pesawat pada umumnya. Ketika baling-baling listrik tersebut bekerja, baling-baling atau rotor utama kemudian perlahan mengurangi daya sehingga daya dorong lebih maksimal

Desain tersebut diakui Jaunt merupakan sebuah pengembangan dari desain CarterCopter yang dikembangkan pada 2004 silam. Sejauh ini, Jaunt mengklaim taksi terbang keluarannya sudah melakukan lebih dari 100 jam uji terbang serta 1.000 kali uji lepas landas dan mendarat.

Dari sisi keamanan, taksi terbang ROSA dengan konsep gyrodyne tersebut setidaknya memiliki beberapa keunggulan. Ketika baling-baling listrik kehilangan daya karena satu dan lain hal, maka taksi terbang Jaunt masih dapat mendarat dengan aman dengan menggunakan rotor utama layaknya pendaratan pada helikopter. Kelebihan lainnya, ketika taksi terbang ROSA melakukan penerbangan mendatar, rotor utama tidak lagi menanggung beban karena seluruh beban sepenuhnya sudah diambil alih oleh baling-baling listrik pada sayap. Hasilnya tingkat kebisingan pun dapat ditekan (whisper quiet). Bahkan, diklaim 50-66 persen lebih halus dibanding helikopter ataupun pesawat fixed-wing pada umumnya.

Selain itu, masih dari segi keamanan, dengan tidak adanya bahan bakar cair yang mudah terbakar, serta dimensi sayap yang jauh lebih rendah dari pada pesawat pada umumnya, membuat wahana taksi udara Jaunt diklaim jauh lebih aman, baik di darat maupun di udara. Bahkan, ketika di darat, taksi udara Jaunt juga diklaim cocok untuk digunakan hingga tataran kompleks perumahan. Di samping itu, dengan teknologi 100 persen listrik, tentu saja taksi udara Jaunt juga lebih ramah lingkungan.

Baca juga: Dari Selandia Baru, Boeing Siap Wujudkan Taksi Udara Listrik Otonom Pertama di Dunia

Belum lagi berbagai teknologi lainnya seperti radar cuaca, system with advanced flight control, hingga sistem kontrol Fly-By-Wire, yang biasa dijumpai di pesawat, membuat taksi terbang Jaunt dinilai menjadi taksi udara dengan sistem VTOL paling aman di dunia. Yang paling mengagumkan adalah teknologi LevelFly yang membantu kenyaman di dalam kabin dengan menyeimbangkan posisi pesawat. Singkatnya, ketika penumpang di dalam kabin duduk tak beraturan atau melakukan terlalu banyak gerakan sehingga menyebabkan taksi terbang menjadi tidak seimbang, tiang rotor utama dapat digerakan untuk menyesuaikan pesawat agar tetap stabil. Cukup nyaman, bukan?

Menurut Jaunt, taksi udara keluaran mereka diklaim mampu terbang dengan kecepatan maksimal mencapai 344 km per jam dan ketinggian maksimal mencapai 18.000 kaki. Selain itu, taksi udara Jaunt dilaporkan mampu mengangkut empat penumpang ditambah satu pilot. Dilihat dari situs resmi perusahaan, Jaunt menargetkan taksi udara ROSA tersebut dapat melakukan penerbangan perdana pada 2022 mendatang, kemudian memulai uji sertifikasi pada tahun berikutnya, menpatakan sertifikasi dari FAA pada 2025 dan mulai beroperasi secara komersil dengan tambahan kemampuan taksi swaterbang atau otomatis 2030 mendatang.

Laporan Q1 2020: 15 Bandara PT Angkasa Pura I Alami Penurunan Trafik Penumpang 8,11 Persen

Imbas wabah corona alias covid-19 telah berpengaruh negatif pada industri penerbangan, selain hampir semua maskapai dibuat tumbang, pun demimian dengan pihak pengelola jasa bandara. Seperti PT Angkasa Pura I yang menyebutkan mengalami penurunan trafik penumpang pada triwulan I (Januari-Maret) 2020 sebesar 8,11 persen dibanding periode yang sama pada 2019. Penuruna tersebut dihitung pada 15 bandara yang dikelola oleh BUMN tersebut.

Baca juga: Bak Kuburan, Inilah 8 Penampakan Sepinya Bandara di Dunia Akibat Virus Corona

Dikutip dari siaran pers PT Angkasa Pura I yang diterima KabarPenumpang.com (6/4/2020), disebutkan pada triwulan I 2020, trafik penumpang di 15 bandara Angkasa Pura I dicatat mencapai 17,78 juta penumpang, turun sebesar 8,11 persen dibanding periode yang sama pada 2019 yang mencapai 19,3 juta penumpang. Begitu juga trafik pesawat yang mengalami penurunan 4,86 persen menjadi 175.143 pergerakan pesawat pada triwulan I 2020 dari 184.085 pergerakan pada triwulan I 2019. Hal serupa juga terjadi pada trafik kargo yang turun 16,98 persen menjadi 121.127.758 kg pada triwulan I 2020 dari 145.894.028 kg pada triwulan I 2019.

Pada periode ini, penurunan trafik penumpang internasional mencapai 20,12 persen yaitu menjadi 3,2 juta penumpang pada triwulan I 2020 dari 4,02 juta penumpang pada triwulan I 2019. Sedangkan penurunan penumpang domestik sebesar 5,32 persen menjadi 13,49 juta penumpang pada triwulan I 2020 dari 14,25 juta penumpang pada triwulan I 2019. Sementara trafik penumpang transit mengalami penurunan 0,33 persen menjadi 1.081.931 penumpang pada triwulan I 2020 dari 1.085.563 penumpang pada triwulan I 2019.

“Seperti kita ketahui, penurunan trafik penumpang pada Maret 2020 seiring dengan teridentifikasinya kasus Covid19 pertama terhadap WNI yang kemudian ditindaklanjuti dengan kebijakan physical distancing dan imbauan Pemerintah untuk tidak melakukan perjalanan agar dapat memutus mata rantai penyebaran Covid19. Namun di tengah masa pandemi ini, Angkasa Pura I tetap memberikan pelayanan optimal kepada para pengguna jasa bandara yang memang harus melakukan perjalanan udara dengan menerapkan protokol kesehatan terkait pencegahan penyebaran Covid19, baik berupa penyemprotan disinfektan di area bandara, pemasangan panduan jarak minimal 1 meter, kebijakan penggunaan APD bagi petugas bandara, dan lainnya,” ujar Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Faik Fahmi.

Trafik penumpang di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, yang merupakan bandara dengan trafik tertinggi di antara bandara Angkasa Pura I lainnya, pada triwulan I 2020 yaitu sebanyak 4,66 juta penumpang, turun 13,57 persen dibanding periode yang sama pada 2019 yang dapat mencapai 5,39 juta penumpang. Sedangkan penurunan tertinggi terjadi di Bandara Adi Soemarmo Solo yang mencapai 19,45 persen menjadi 335.928 penumpang pada triwulan I 2020 dari 417.023 penumpang pada triwulan I 2019.

Sementara pertumbuhan penumpang tertinggi terjadi di Bandara Lombok Praya yaitu sebesar 13,02 persen menjadi 680.619 penumpang pada triwulan I 2020 dari 602.190 penumpang pada triwulan I 2019. Pertumbuhan juga terjadi di Bandara El Tari Kupang yaitu sebesar 4,37 persen menjadi 417.964 penumpang pada triwulan I 2020 dari 400.446 penumpang pada triwulan I 2019.

Baca juga: Gandeng Gudang Garam, PT Angkasa Pura I Bangun Bandara “Dhoho” di Kediri

“Di tengah masa pandemi ini, Angkasa Pura I tetap mengoperasikan bandara-bandaranya dan tetap melanjutkan pembangunan proyek pengembangan beberapa bandara dengan memperhatikan protokol kesehatan terkait pencegahan penyebaran Covid19. Pengoperasian bandara di masa pandemi ini berguna untuk melayani angkutan logistik dan pos yang dibutuhkan oleh masyarakat, berfungsi sebagai bandara alternatif bagi penerbangan yang mengalami kendala teknis maupun operasional, dan melayani penerbangan untuk penanganan kesehatan juga mengangkut infection sample Covid19,” tambah Faik Fahmi.

Singapore Airlines Akan Dapatkan Pesawat ke-1000 Boeing 787 Dreamliner

Setelah menunggu sembilan tahun, Boeing akhirnya menatap keberhasilan untuk mengirimkan pesawat 787 Dreamliner ke-1000 unit. Sebelum benar-benar dikirim, pesawat diujicoba terlebih dahulu. Penerbangan perdana sendiri sudah dilakukan pada Jumat, 3 April lalu di fasilitas produksi Boeing di North Charleston, South Carolina, Amerika Serikat (AS). Singapore Airlines menjadi maskapai yang beruntung untuk menerima pesawat spesial tersebut.

Baca juga: ‘Berkat’ Wabah Corona, Boeing 787 Dreamliner Air Tahiti Nui Pecahkan Rekor Penerbangan Terjauh

Menurut laporan Aeronews, Boeing 787-10 dengan kode registrasi 9V-SCP tersebut tampak begitu eye catching dengan livery khusus bertuliskan “1000th 787 DREAMLINER” di bagian depan kiri pesawat atau tak jauh dari posisi jendela kokpit dan pintu utama pesawat.

Dengan tambahan satu pesawat, Singapore Airlines kini tercatat sudah memiliki 16 armada Boeing 787-10 Dreamliner. Namun, hal itu belum lah cukup. Flag carrier Singapura tersebut berharap masih akan mendapat tambahan sekitar 49 Dreamliners dalam beberapa tahun ke depan. Pasalnya, SIA memang berharap banyak pada 787 Dreamliner. Hal itu setidaknya tercermin dari statement CEO Singapore Airlines, Mr Goh Choon Phong, saat menerima 787-10 pertama pada Maret 2018 silam.

“787-10 benar-benar mahakarya teknik yang luar biasa dan benar-benar sebuah karya seni. Ini akan menjadi elemen penting dalam strategi pertumbuhan kami secara keseluruhan, memungkinkan kami untuk memperluas jaringan kami dan memperkuat operasi kami,” katanya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Singapore Airlines memang begitu kepincut dengan 787 Dreamliner. Meskipun bukan maskapai pertama yang memesan pesawat jet komersil pertama di dunia yang mengaplikasikan material karbon komposit di struktur rangka utama pada badan pesawat tersebut, nyatanya, SIA memang begitu mengandalkan Dreamliner, khususnya pada penerbangan point-to-point.

Selain itu, Dreamliner juga dinilai lebih efisien dengan bahan komposit termasuk serat karbon untuk membuat pesawat lebih ringan serta fitur mesin baru dari Rolls Royce dan General Electric yang akan memberikan jangkauan yang lebih luas sekaligus mengurangi konsumsi bahan bakar. Menariknya, dengan kemampuan jangkauan yang lebih jauh, pesawat hanya bermodalkan dua mesin serta mengangkut lebih banyak penumpang dibanding pesawat medium lainnya kala itu. Tentu saja hal tersebut menjadi sebuah daya tarik bagi SIA, dan juga banyak maskapai lainnya, yang ingin melakukan ekspansi besar-besaran di masa mendatang.

Meskipun berhasil digandrungi banyak maskapai di seluruh dunia, Boeing 787 Dreamliner bukan tanpa masalah. Hingga awal Maret lalu, maskapai-maskapai yang mengoperasikan pesawat tersebut bahkan harus memutar otak akibat permasalahan pada mesin Rolls-Royce-nya.

Di antaranya ada Air New Zealand’s yang menangguhkan layanan penerbangan Auckland ke Shanghai dengan menggunakan Dreamliner. Ada juga British Airways yang biasa menerbangkan 787-9 ke Beijing dan Shanghai. Kemudian LOT Polish Airlines menggunakan Dreamliner untuk penerbangan ke Beijing dari Tallinn (ibukota Estonia) dan Warsawa (ibukota Polandia) hingga Virgin Atlantic Airways yang mengoperasikan penerbangan hariannya ke Shanghai dengan 787-9.

Jauh sebelum masalah pada mesin muncul, Boeing 787 Dreamliner juga pernah memiliki riwayat permasalahan pada sistem oksigen. Sistem ini bekerja untuk tetap memasok oksigen bagi penumpang dan awak, saat tekanan udara dalam kabin turun (dekompresi). Masker udara akan turun dari langit-langit pesawat untuk memasok oksigen dari tabung gas. Tanpa sistem ini, siapa pun yang ada di pesawat akan lumpuh.

Baca juga: Setelah Pamor Meroket di 2009, Mungkinkah 2020 Jadi Tahun Terakhir Boeing 787 Dreamliner?

Pada ketinggian 35.000 kaki (sekitar 10.600 meter), kurang dari semenit penumpang akan pingsan. Pada ketinggian 40.000 kaki, mereka akan pingsan kurang dari 20 detik. Ini bisa disusul dengan kerusakan otak, bahkan kematian. Dekompresi sebetulnya jarang terjadi, tetapi bukan tidak pernah.

Bulan April 2018, jendela pesawat Southwest Airlines meledak, sesudah terhantam serpihan mesin yang rusak. Seorang penumpang yang duduk di samping jendela cedera parah dan kemudian meninggal dunia. Adapun penumpang lain bisa meraih oksigen darurat dan selamat. Masalah tersebut, walaupun tidak masif, namun cukup membuktikan bahwa permasalahan Dreamliner yang dilaporkan oleh John Barnett, eks manajer pengendalian kualitas di pabrik Boeing, benar adanya.

Penggunaan Bilik Sterilisasi, Bila Tak Gunakan Desinfektan Secara Benar Justru Sangat Berbahaya

Beberapa pusat perbelanjaan dan pra sarana transportasi seperti bandara, halte, terminal hingga stasiun kereta api memasang bilik desinfektan. Pemasangan bilik ini digunakan untuk menyemprot penumpang ataupun pelanggan agar terhidar dari virus corona atau covid-19. Namun apakah ini aman dan bisa mencegah penularan Covid-19?

Baca juga: Dokter Spesialis Infeksi: Risiko Terinfeksi Corona di Transportasi Umum Sangat Kecil

Berdasarkan informasi di lapangan ternyata cairan desinfektan yang digunakan pada bilik desinfeksi ini berbagai macam seperti diluted bleach (larutan pemutih/natrium hipoklorit), klorin dan sejenisnya, etanol 7096, amonium kuarterner (seperti benzalkonium klorida), hidrogen peroksida (H2O2) dan sebagainya.

Desinfektan digunakan untuk mendisinfeksi ruangan dan permukaan, seperti lantai, perabot, peralatan kerja, pegangan tangga atau eskalator, moda transportasi, dan lain-lain. Menurut World Health Organization (WHO) menyemprotkan desinfektan ke tubuh dapat membahayakan membran mukosa seperti mata dan mulut. Hal ini akan berpotensi menimbulkan risiko terhadap kesehatan dan merusak pakaian. Tak hanya itu, terpapar desinfektan langsung ke tubuh secara terus menerus dapat menyebabkan iritasi kulit dan saluran pernapasan.

Solusi teraman dalam pecegahan Covid-19 adalah tetap dengan mencuci tangan dengan sabun dan membasuhnya di air mengalir secara rutin atau menggunakan hand sanitizer ketika tidak bisa mencuci tangan seperti dalam perjalanan. Selain itu melakukan pembersihan dengan desinfektan secara rutin pada permukaan benda-benda yang sering disentuh seperti perabot, peralatan kerja, pegangan pintu dan tangga, pegangan di alat transportasi dan lainnya.

Jikapun harus keluar rumah, gunakan masker, hindari kerumunan dan jaga jarak. Bila di rumah buka jendela untuk sirkulasi yang baik. Guru besar Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Prof Dr rer nat Fredy Kurniawan MSi mengungkapkan, baru-baru ini, WHO telah memberi peringatan terkait bahaya pemakaian alkohol dan klorin (chlorine) pada tubuh dan penggunaannya harus dengan tepat serta benar.

“Dalam hal ini, pengetahuan mengenai kimia sangat diperlukan, mengingat banyak masyarakat awam yang membuat disinfektan maupun antiseptik sendiri,” ujar Fredy yang dikutip KabarPenumpang.com dari goriau.com (4/4/2020).

Dia menyebutkan bahwa pemakaian alkohol dan klorin jika dilakukan oleh orang yang tidak punya kompetensi dan kapabilitas yang cukup dalam meramu serta menggunakan secara benar maka akan sangat berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain serta bagi lingkungan sekitar. Fredy menjelaskan, antiseptik dan desinfektan berdasarkan istilah dari WHO bahwa antiseptik merupakan salah satu desinfektan yang menghancurkan atau menghambat mikroorganisme patogen dalam keadaan nonspora atau vegetatif. Bahan yang biasa digunakan untuk antiseptik yakni klorin dan etanol serta bisa dibeli di pasaran.

Dia menjelaskan bahwa WHO sendiri tidak merekomendasikan cairan seperti etanol, klorin dan H2O2 pada bilik sterilisasi. Sebab bahan-bahan ini bersifat karsinogenik yang bisa mengakibatkan mutasi bakteri. Pendapat ini mempertimbangkan dampak negatif pada satu hingga dua tahun ke depan. Fredy menerangkan, bilik sterilisasi memiliki dua bagian, yaitu bilik itu sendiri dan bahan disinfektan yang digunakan.

“Tujuan dari bilik ini adalah membunuh mikroorganisme yang menempel di badan atau di pakaian seseorang secara seketika,” kata dia.

Padahal, disinfektan hanya akan memengaruhi yang ada dalam ruangan bilik meski residunya pun dapat keluar dalam jumlah besar. Namun, hal yang menjadi pokok masalah bahaya dari bilik ini adalah bahan kimia yang digunakan. Di mana semua bahan kimia yang umum tersedia sebagai disinfektan berdasarkan Centers of Disease Control and Prevention (CDCP) dan WHO, hampir semua senyawa tersebut memiliki efek yang cukup signifikan. Apalagi, bila digunakan kepada manusia secara langsung.

“Ada dua senyawa yang aman digunakan, yaitu ozon dan chlorine dioxide, namun tetap dengan ukuran yang telah ditentukan dan cara pemakaian yang benar,” kata Fredy.

Bilik sterilisasi menggunakan ozon dan chlorine dooxide memiliki potensi untuk digunakan mengatasi kasus Covid-19 dengan aman. Namun, syarat bilik sterilisasi harus dibuat dan dikontrol kualitasnya oleh tenaga ahli yang kompeten.

“Kontrol kualitas dari bilik yang dimaksud adalah terkait dosis dan cara penggunaan yang benar. Bahan-bahan disinfektan lain selain ozon dan chlorine dioxide tidak direkomendasi karena dapat mengakibatkan efek samping yang fatal dalam jangka waktu dekat maupun panjang,” kata Fredy.

Fredy mengatakan, dengan kondisi pandemi seperti saat ini, tentu saja semua cara perlu untuk dikerahkan dalam mengatasinya.

Baca juga: Pendapatan Turun, Pengemudi Taksi Singapura Tetap Bekerja dan Semprotkan Desinfektan serta Gunakan Masker

“Saya harap hal ini dapat mengingatkan masyarakat bahwa boleh mengatasi masalah, tetapi jangan sampai menimbulkan masalah baru agar masyarakat tetap sehat selamat,” ujar Fredy.

Diketahui, Kementerian Kesehatan RI resmi mengeluarkan Surat Edaran bernomor HK: 0202/III/375/2020 tentang Penggunaan Bilik Disinfeksi Dalam Rangka Pencegahan Penularan Covid-19. Surat edaran tersebut memberi penilaian tentang bilik disinfeksi yang sekarang banyak digunakan di masyarakat untuk mendisinfeksi permukaan tubuh yang tidak tertutup, pakaian dan barang-barang yang digunakan atau dibawa oleh manusia.