Dengan Penerbangan Terbatas, Bandara Wuhan Tianhe Kembali Buka Setelah 76 Hari Ditutup

Pada Januari 2020 kemarin, Cina menutup semua moda transportasi ke dan dari kota Wuhan yang menjadi pusat penyebaran Covid-19. Setelah dua bulan berlalu, akhirnya pada 8 April 2020 kemarin, Cina mencabut semua pembatasan yang di berlakukan pada Wuhan setelah 76 hari terkurung.

Baca juga: Bandara Tianhe Wuhan, Semakin Dikenal Karena Wabah Virus Corona

Hal ini kemudian membuat Bandara Internasional Wuhan Tianhe di Hubei, Cina akhirnya kembali buka dan mulai mengoperasikan penerbangan. Namun sebelum dioperasikan kembali, bandara tersebut didesinfeksi oleh 161 profesional pada pekan lalu.

KabarPenumpang.com melansir laman airport-technology.com (8/4/2020), bandara yang terletak 26 km dari utara kota Wuhan tersebut, kini mengoperasikan penerbangan langsung ke New York, London, San Francisco, Paris, Roma dan Moskow. Penerbangan komersial pertama dari Bandara Wuhan Tianhe ini adalah dari maskapai Xiamen Air MF8095 sekitar pukul 07.45 pagi waktu setempat.

Meski sudah dibuka kembali untuk umum, bandara akan menerima pengurangan jumlah penerbangan dalam waktu dekat. Setelah bandara di buka, orang-orang banyak yang bergegas ke bandara untuk mengambil penerbangan pulang ke rumah mereka. Seperti diketahui, banyak orang yang datang ke Wuhan selama liburan Tahun Baru Imlek dan terjebak di sana ketika kota tersebut di kunci. Tak hanya melalu bandara, orang-orang juga memilih untuk bepergian dengan kereta api dan mobil.

Meski begitu, yang boleh meninggalkan Wuhan adalah mereka yang memiliki kode hijau yang diberikan oleh aplikasi dan diawasi oleh Alibaba Group dan Tencent. Aplikasi ini menggunakan riwayat perjalanan individu, informasi kesehatan dan kontak terdekat.

Manajer check in China Southern Airlines, He Yuqing mengatakan, bahwa mereka mengoperasikan 28 penerbangan yang berangkat dari Wuhan pada 8 April. Beberapa penerbangan charter juga dioperasikan untuk para medis kembali ke rumah mereka masing-masing.

Baca juga: Gegara Virus Corona, Puluhan Ribu Hewan Peliharaan Terancam Mati Kelaparan di Wuhan

Komisi Kesehatan Nasional China (NHC) melaporkan bahwa, pada 7 April, 62 kasus baru Covid-19 dikonfirmasi di Cina daratan, yang 59 di antaranya diimpor. NHC menambahkan bahwa ada dua kematian, satu di antaranya berasal dari Provinsi Hubei. Total kasus infeksi impor di negara ini saat ini mencapai 1042.

Boeing Akui Kembali Temukan Masalah Baru Pada Software 737 MAX

Meskipun pengerjaannya terus dikebut di tengah pandemi corona, 737 MAX yang sudah setahun lebih di-grounded dilaporkan kembali bermasalah. Dalam sebuah pernyataan, raksasa dirgantara dunia tersebut mengakui bahwa pihaknya menemukan sebuah masalah pada sistem software MAX. Meski demikian, masalah tersebut tidak akan mengurungkan niat untuk memulai kembali layanan MAX pada pertengahan tahun ini.

Baca juga: Masalah Lagi! Boeing Temukan Serpihan di Tangki Bahan Bakar 737 MAX

“Sebagai hasil dari tinjauan perangkat lunak kami yang ketat, Boeing membuat modifikasi tambahan pada software flight control computer 737 MAX setelah baru-baru ini kembali mengidentifikasi dua masalah. Modifikasi tidak terkait dengan Manuvering Characteristics Augmentation System (MCAS),” kata juru bicara Boeing, seperti dikutip dari barrons.com.

Lebih lanjut, Boeing menguraikan bahwa satu masalah terkait pada “kesalahan hipotesa” dalam mikroprosesor flight control computer yang berpotensi menyebabkan stabilizer tidak berfungsi dengan baik. Horizontal stabilizer di bagian ekor pesawat sejatinya dapat bergerak ke atas dan ke bawah sebagai peredam gerak aktif atau stabilisator. Bila fungsi tersebut hilang karena loss control, hal itu bisa saja berakibat fatal.

Adapun masalah kedua yang ditemukan Boeing baru-baru ini lebih mengarah pada fitur autopilot. Fitur ini ditemukan kerap aktif dengan sendirinya saat pilot sedang melakukan final approach. Tentu saja aktifnya fitur secara tiba-tiba dapat menggangu konsentrasi pilot dalam menguasai pesawat secara keseluruhan. Oleh karenanya, Boeing berjanji akan segera melakukan perbaikan pada sistem tersebut agar kejadian serupa tak terulang kembali.

Boeing sendiri saat ini dilaporkan masih terus menggenjot proses perbaikan, mulai dari menguji perubahan perangkat lunak terbaru dan menyempurnakannya hingga melakukan pengujian dalam simulator penerbangan yang dikenal sebagai e-cab di tengah pandemi corona, semata untuk menyesuaikan seluruh persyaratan dari regulator penerbangan sipil di Amerika Serikat (FAA).

Perusahaan tak gentar sekalipun sejauh ini dilaporkan sudah terdapat 88 kasus corona yang menimpa pekerjanya. Meskipun demikian, progres 737 MAX hanya dilakukan oleh tim kecil. Adapun sisanya, Boeing telah menghentikan proses produksi untuk sementara waktu.

Dengan begitu, Boeing tetap menargetkan bahwa 737 MAX dapat kembali terbang pertengahan tahun ini. Kabar baiknya, langkah tersebut juga didukung oleh FAA. Pasalnya, tidak selamanya tinjauan teknis diperlukan. Mereka bisa saja mengecek lewat dokumen, video conference, atau lewat telepon. FAA juga memuji Boeing bahwa mereka terus membuat kemajuan untuk 737 MAX dengan hampir memenuhi standar sertifikasi dan semua itu dilakukan di tengah pembatasan di AS.

“Tim kami mengelola melalui wabah Covid-19 seperti banyak orang lain dengan bekerja secara virtual di mana kita bisa, sambil mengambil tindakan pencegahan untuk memastikan lingkungan yang aman bagi kita semua,” kata Boeing dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari bloomberg.com.

Baca juga: Demi Kembali Terbang, Perbaikan Boeing 737 MAX Terus Dikebut di Tengah Corona

“Kami terus membuat kemajuan dalam upaya sertifikasi kami dan bekerjasama dengan regulator untuk memenuhi persyaratan mereka. Perkiraan kami masih merupakan pertengahan tahun untuk mengembalikan armada 737 MAX ke layanan,” tambahnya.

Produsen pesawat terbesar di dunia itu baru saja melewat ‘perayaan’ setahun grounded Boeing 737 MAX pada 14 Maret lalu. Dalam kurun waktu setahun tersebut, produsen pesawat asal Negeri Paman Sam tersebut mengaku telah menggelontorkan uang sebesar Rp268 triliun (Rp14.352). Jumlah tersebut diperkirakan akan membengkak menjadi sebesar Rp330 triliun sampai pesawat tersebut benar-benar kembali diizinkan terbang. Maka, tak heran bila Boeing terus ngotot untuk segera kembali menerbangkan 737 MAX.

Berlin Mulai Operasikan Bus Artikulasi Listrik Pertama

Otoritas transportasi Berlin BVG atau Berliner Verkehrsbetriebe sudah menambahkan bus artikulasi (bus gandeng) listrik pertama ke armadanya sebagai bagian dari proyek penelitian. Di mana BVG baru-baru ini menambahkan listrik Solaris Urbino 18 yang merupakan bus listrik artikulasi pertama ke armadanya.

Baca juga: Implementasi Bus Listrik, Tak Hanya Berbicara Armada Tapi Juga Sistem Pendukung

Bus listrik tersebut berada di rute 200 yang akan menjadi bagian proyek penelitian dan pengembangan E-MetroBus. KabarPenumpang.com melansir dari laman electrive.com (5/4/2020), nantinya ada 16 kendaraan lagi yang akan menyusul dalam beberapa minggu mendatang.

Setelah uji coba singkat E-Schlenkis yang disebut oleh operator transportasi Berlin akan mengambil alih semua perjalanan pada rute 200 di musim panas. Rolf Erfurt yang bertanggung jawab untuk operasi BVG menggambarkan bus listrik yang diartikulasi sebagai terobosan untuk mobilitas listrik di Berlin.

Ini tidak berbeda dengan London, sebab armada bus Berlin mengandalkan armada-armada besar. Untuk mengisi daya bus Solaris, BVG memilih untuk pengisian cepat dengan pantograf di halte maupun terminal. Akan ada dua pengisi daya pantograf yakni yang pertama dari Siemens dan sudah di pasang di Kebun Binatang Bahnhof serta stasiun pusat bekas Berlin Barat.

Mitra lainnya di E-MetroBus adalah TU Berlin dan Reiner Lemoine Institute, mereka akan menguji kendaraan dan infrastruktur. Menurut BVG, volume proyek berjumlah total €16,74 juta dan yang akan menanggng sebagian besar biaya adalah operator transit hingga jumlah yang dikeluarkan oleh bus diesel yang sebanding.

Selain itu dana tambahan juga datang dari Kementerian Federal Transportasi dan Infrastruktur Digital dengan total €4,3 juta. Menurut makalah Tagesspiegel, pendanaan berfokus pada dua stasiun pengisian pantograf. Sedangkan sisa pendanaan untuk bus listrik akan ditanggung negara bagian Berlin.

Untuk diketahui, saat ini BVG telah memesan 90 bus elekrtik dari Solaris dan dimulai dari model Urbino 12 Electric yang sudah masuk layanan saat ini. BVG mengkonfirmasi laporan sebelumnya dan awalan pengiriman pada bulan Maret.

Pengiriman batch pertama dari 30 listrik akan selesai di Berlin bulan ini. Sedangkan 60 lainnya akan mengikuti dari awal Agustus hingga akhir tahun. Selain itu 15 bus Mercedes dan Solaris sudah dikirim tahun lalu dan satu kendaraan dari kampus riset Mobility2Grid.

Baca juga: Malaga, Kota Pertama di Eropa yang Operasikan Bus Listrik Otonom di Jalan Raya

Sehingga total armada BVG adalah 121 all electric single deckers. Bus elektrik baru ini nantinya akan melayani seluuh rute yakni 142, 259, 300, 347, 147, 155, 250, 294 dan N50. BVG juga menambah 83 titik pengisian ke 30 stasiun pengisian yang ada.

Pandemi Masih Berlangsung, Makapai di Amerika Serikat Beroperasi Meski Penumpang Menurun

Di tengah pendemi corona, maskapai penerbangan di Amerika Serikat masih terbang dan setiap penerbangannya hanya mengangkut penumpang 5-15 persen, bahkan beberapa kasus hanya mengangkut satu penumpang. Maskapai milik Amerika Serikat juga telah mengurangi rencana penerbangan internasional mereka sebanyak 80-90 persen untuk bulan April dan Mei dan sedikit demi sedikit mengurangi penerbangan domestik.

Baca juga: Cegah Virus Corona di Kabin, Inilah Sejumlah Langkah yang Dilakukan Maskapai Penerbangan

United Airlines sendiri masih terbang sekitar sepertiga dari kapasitas domestiknya. KabarPenumpang.com melansir laman businessinsider.sg (3/4/2020), saat paket stimulus federal yang dikenal sebagai CARES Act diimplementasikan, kecil kemungkinannya bahwa penerbangan akan dipotong lebih jauh, bahkan ketika jumlah penumpang berkurang.

Itu karena kedua ketentuan paket bailout untuk maskapai, hibah penggajian untuk menjaga kestabilan gaji karyawan, dan pinjaman untuk membantu mengimbangi arus kas negatif serta berisi ketentuan yang mengharuskan maskapai untuk melanjutkan layanan saat menerima bantuan. Secara khusus, Undang-Undang mewajibkan maskapai penerbangan yang menerima pinjaman atau hibah untuk “mempertahankan layanan transportasi udara terjadwal sebagaimana yang dianggap perlu oleh Sekretaris Transportasi untuk memastikan layanan ke titik mana pun yang dilayani oleh operator tersebut sebelum 1 Maret 2020.

Ketika mempertimbangkan apakah akan menggunakan wewenang yang diberikan oleh ini, Sekretaris Transportasi harus mempertimbangkan kebutuhan transportasi udara dari komunitas kecil dan terpencil serta kebutuhan untuk mempertahankan perawatan kesehatan yang berfungsi dengan baik dan rantai pasokan farmasi, termasuk untuk peralatan medis dan pasokan.

Menurut Robert Mann, seorang konsultan dan mantan eksekutif maskapai, perjalanan bisnis dan liburan hampir macet, tetapi masih ada kebutuhan untuk konektivitas udara untuk melanjutkan. Dia mengatakan, layanan penerbangan terjadwal adalah jalur logistik nasional yang strategis untuk kesehatan masyarakat dan personel serta material terkait.

“Tanpa itu, badan pemerintah federal dan negara bagian akan perlu mencarter sebanyak ribuan penerbangan setiap hari, dengan biaya yang jauh lebih besar daripada hibah CARES Act,” kata dia.

Penerbangan terus membawa tenaga kesehatan pemerintah dan publik, serta dokter dan staf pendukung membawa sumber daya ke daerah yang paling terpukul serta juga pengiriman kargo. Henry Harteveldt, seorang konsultan dan analis industri menyebutkan, layanan penerbangan reguler menggerakkan orang dan barang dan itu membuatnya penting selama krisi ini.

Ketentuan penting dalam UU tersebut adalah kebijaksanaan yang diberikan kepada Sekretaris Transportasi, Elaine Chao. Meskipun memerlukan layanan ke kota untuk dilanjutkan, dibiarkan terbuka untuk interpretasi berdasarkan kebutuhan yang dirasakan.

“DOT (Department of Transportation) telah mengamanatkan layanan yang berkelanjutan, tetapi memungkinkan setiap operator pemasaran untuk mengkonsolidasikan layanannya menjadi sesedikit satu penerbangan harian ke setiap titik di jaringannya pada akhir Februari 2020,” kata Mann.

Harteveldt mengatakan, dalam kasus sebuah kota dengan lebih dari satu bandara seperti Chicago, New York, Washington DC atau daerah lainnya seperti di Pantai Barat, Dot telah mengklarifikasi bahwa mereka akan memungkinkan maskapai penerbangan yang melayani beberapa bandara untuk melakukan konsolidasi dan menjadikannya satu.

“Ini tentang mempertahankan layanan ke kota, bukan bandara tertentu. Maskapai dapat menjalankan satu penerbangan per minggu dan masih memenuhi persyaratan,” kata Harteveldt.

Hartveldt mengatakan, kota-kota menengah dan besar tidak perlu khawatir kehilangan layanan, ketentuan ini dirancang untuk memastikan bahwa layanan dipertahankan untuk tujuan yang lebih kecil yang dapat terputus selama pandemi sehingga terpisah dari program Essential Air Service yang ada, di mana pemerintah mensubsidi penerbangan ke tujuan pedesaan dan terpencil.

“Perhatian utama di balik persyaratan ini adalah untuk memastikan maskapai tidak menurunkan layanan ke kota-kota terkecil di jaringan rute mereka. Itu sering kota-kota pertama yang akan dipotong ketika permintaan turun, dan yang terakhir ditambahkan ketika hal-hal naik lagi,” kata dia.

Sementara maskapai yang bersaing telah mempertimbangkan apakah mungkin untuk mengkonsolidasikan penerbangan di antara mereka, mengurangi penerbangan dan memangkas biaya lebih banyak, Departemen Transportasi Amerika Serikat mengesampingkan gagasan itu. DOT melarang itu dengan alasan anti-trust, seperti yang mereka lakukan pasca 11 September.

“Mereka menggantikan kemampuan masing-masing operator individu untuk mengkonsolidasikan layanannya sendiri,” tambah Mann.

Baca juga: Gegara Virus Corona dan Tak Dapat Utang Baru, Maskapai Terbesar Inggris “FlyBe” Bangkrut

Tidak jelas dengan segera maskapai mana yang akan mengajukan permohonan bantuan berdasarkan UU CARES. Meskipun American Airlines dan Southwest Airlines mengatakan mereka akan melakukannya, maskapai lain enggan karena ketentuan yang memungkinkan AS untuk mengambil saham ekuitas di maskapai yang menerima bantuan.

Batas waktu untuk menerima pertimbangan prioritas untuk hibah penggajian adalah Jumat pukul 17.00 waktu setempat. ET, sementara maskapai masih memiliki opsi untuk mendaftar hingga 27 April, sebab prosedur untuk mengajukan hibah belum dirilis.

Peneliti: Virus Corona Bisa Bertahan Selama 7 Hari di Masker Bedah

Pademi virus corona yang memiliki nama resmi SARS-Cov-2 ini menyebabkan penyakit pernapasan dan bisa menyebar melalui tetesan udara. Ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin, tetesan yang membawa partikel virus bisa mendarat di hidung atau mulut orang lain yang kemudian terhirup. Tetapi ternyata seseorang bisa terinfeksi virus ini juga  jika mereka menyentuh permukaan atau benda yang memiliki partikel virus yang kemudian menyentuh mulut, hidung atau mulut.

Baca juga: Setelah 17 Hari Dikosongkan, Virus Corona Masih Ditemukan di Kapal Pesiar Diamond Princess

Kemudian banyak pertanyaan yang muncul, berapa lama masa hidup virus ini di permukaan maupun benda? Dirangkum KabarPenumpang.com dari businessinsider.sg (6/4/2020), masa hidup virus tersebut tergantung dari banyak faktor termasuk suhu, kelembaban dan jenis permukaan di sekitarnya. Sebuah studi yang diterbitkan 2 April dalam jurnal The Lancet menemukan bahwa virus ini bertahan paling lama hingga tujuh hari pada stainless steel, plastik dan masker bedah.

Para peneliti di balik studi baru ini menguji rentang hidup virus di ruang bersuhu 71 derajat Fahrenheit atau 21,6 derajat Celcius dengan kelembaban relatif 65 persen. Setelah tiga jam virus telah hilang dari percetakan dan kertas tisu. Sedangkan untuk meninggalkan kain dan kayu virus ini membutuhkan waktu selama tiga hari dan empat hari sudah tak lagi terdeteksi pada uang kertas ataupun kaca. Virus ini mampu bertahan paling lama tujuh hari pada stainless steel dan plastik.

Ada pun hal yang paling mengejutkan ternyata virus corona ini mampu bertahan paling lama di lapisan luar masker bedah di mana pada hari ke tujuh penyelidikan nyatanya virus masih menepel. Karena virus corona baru ini, para peneliti melakukan perbandingan rentang hidup dengan virus corona SARS. Para peneliti kemudian menemukan kedua jenis virus ini hidup paling lama di stainless stell dan polipropylene. Keduanya juga bertahan hingga tiga hari di plastik tetapi virus corona baru (SARS-Cov-2) bertahan tiga hari di atas baja.

Namun, di atas kertas karton, virus corona baru bertahan 24 jam, atau tiga kali delapan jam dibandingkan SARS. Virus corona SARS, pada suhu 68 derajat Fahrenheit (20 derajat Celsius), bertahan selama dua hari pada baja, empat hari pada kayu dan kaca, dan lima hari pada logam, plastik, dan keramik.

SARS bertahan selama dua hingga delapan jam pada aluminium dan kurang dari delapan jam pada lateks. Menurut Rachel Graham, seorang ahli epidemiologi di University of North Carolina, permukaan yang halus dan tidak keropos seperti gagang pintu dan permukaan meja lebih baik dalam membawa virus. Sedangkan permukaan berpori seperti uang, rambut, dan kain tidak memungkinkan virus bertahan selama ruang kecil atau lubang di dalamnya dapat menjebak virus dan mencegah transfernya.

Graham merekomendasikan untuk mendisinfeksi ponsel terutama ketika dibawa ke kamar mandi. Studi Journal of Hospital Infection juga menemukan bahwa lonjakan suhu membuat perbedaan dalam rentang hidup virus corona. Lompatan 18 derajat Fahrenheit, dari 68 derajat ke 86 derajat, mengurangi berapa lama SARS bertahan pada permukaan baja setidaknya setengah.

Studi Lancet menemukan hubungan serupa antara rentang hidup virus dan suhu di sekitarnya. Pada empat derajat Celcius, atau 39 derajat Fahrenheit, virus bertahan hingga dua minggu dalam tabung reaksi, tetapi saat suhu berubah hingga 37 derajat Celcius, atau 99 derajat Fahrenheit, rentang hidup itu turun menjadi satu hari. Itu karena beberapa virus corona, termasuk yang baru ini, memiliki amplop virus yakni lapisan lemak yang melindungi partikel virus ketika bepergian dari orang ke orang di udara.

“Selubung itu bisa mengering dan membunuh virus, jadi kelembaban yang lebih tinggi, suhu sedang, angin rendah, dan permukaan padat semuanya baik untuk kelangsungan hidup virus corona,” kata Graham.

Para penulis studi Journal of Hospital Infection mencatat bahwa virus corona manusia dapat secara efisien tidak aktif pada permukaan dalam satu menit jika mereka dibersihkan dengan larutan yang mengandung 62-71 persen alkohol etanol, hidrogen peroksida 0,5 persen atau 0,1 persen natrium hipoklorit .

“Kami mengharapkan efek yang sama terhadap SARS-CoV-2,” tambah mereka.

Graham mengatakan disinfektan permukaan ini bahkan dapat bekerja dalam 15 detik. Namun, untuk mendapatkan tingkat pembunuhan yang diiklankan pada kemasan, itu biasanya melibatkan menunggu beberapa menit antara lima menit dan enam menit. Graham mengatakan hal penting ketika mendesinfeksi permukaan adalah mendapatkan dosis potensial infeksi virus di bawah level yang akan menyebabkan penyakit.

“Sebagian besar produk komersial berlabel ‘desinfektan’ berbicara tentang tingkat pembunuhan 99,9 persen,” katanya.

Tapi pembersih tangan berbahan dasar alkohol tidak ideal untuk mendisinfeksi permukaan keras karena kandungan alkoholnya tidak cukup tinggi. Pembersih tangan dimaksudkan untuk menurunkan berapa banyak infeksi yang ada di tangan Anda tanpa menghilangkan semua minyak dan kelembabannya. Disinfektan permukaan seperti Lysol, pemutih lebih baik untuk permukaan.

Baca juga: Deretan Teknologi ini Berhasil Digunakan Cina untuk Melawan Virus Corona

Graham menekankan pentingnya mencuci tangan dan tidak menyentuh wajah Anda, itu adalah cara terbaik untuk meminimalkan kesempatan Anda mendapat virus corona dari permukaan. Dia juga menyarankan mencuci rambut Anda jika bersin, meskipun virus tidak bertahan lama. Tentu saja, coronavirus tidak dapat menginfeksi Anda melalui tangan, jadi jika Anda tidak pernah menyentuh mata, hidung, mulut, Anda dapat menghindari infeksi. Tapi itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.

“Sebagian besar manusia menyentuh wajah mereka beberapa kali ratusan kali per hari, jadi yang terbaik adalah menyadari betapa bersihnya tangan Anda,” kata Graham.

Bandara Internasional Moskow Gunakan Tank untuk Menderek Pesawat

Alih-alih membeli traktor sebagai kendaraan emergency, Bandara Internasional Domodedovo Moskow, Rusia, justru membeli tank jadul. Tank yang semasa perang  dijadikan oleh militer Uni Soviet untuk menderek tank lainnya yang rusak di medan perang tersebut, nantinya akan bertugas membantu menderek pesawat saat terjadi keadaan darurat, seperti badai salju, pesawat keluar landasan, atau insiden sejenis lainnya yang membutuhkan kendaraan lain untuk menderek.

Baca juga: Mewah Bak Limousine, Berlapis Baja Laksana Tank, Inilah Kereta Diktator Korea Utara

Seperti dikutip dari popularmechanics.com, keputusan bandara yang terletak di Distrik Domodedovsky, Oblast Moskow, Rusia, 42 kilometer sebelah tenggara pusat kota Moskow tersebut menjadikan BREM-L sebagai tank recovery vehicle for airport emergencies, bila dilihat dari sisi kemampuan, tentu tak terlalu mengherankan.

BREM-L yang diproduksi pada medio 1970-an dan 80-an ditaksir memiliki kemampuan menderek kendaraan setara 125 ton dengan kecepatan maksimal 70 km per jam di darat dan 10 km per jam di laur. Daya jelajahnya juga terbilang luas, mencapai 600 km. Hal itu berkat bantuan dapur pacu dari mesin diesel V-46 yang menghasilkan 780 tenaga kuda. Tank tempur dengan bobot 41 ton ini juga tergolong tangguh di segala medan, termasuk saat kondisi badai salju ekstrem. Jadi, sangat cocok untuk diberikan mandat sebagai tank recovery di Negeri Beruang Kutub yang notabene akrab dengan salju.

Dengan adanya tank recovery nyentrik berwarna orange kombinasi hitam (sengaja dibuat seperti itu agar dapat terlihat jelas saat kondisi salju ekstrem) di bandara terbesar di Rusia dalam jumlah penumpang dan kargo, bersama tiga bandara utama Moskwa beserta Sheremetyevo dan Vnukovo tersebut, seorang juru bicara perusahaan induk Uralvagonzavod, Rostec, mengatakan bahwa ada kemungkinan bandara-bandara lainnya melakukan hal serupa. Hal itu tentu saja didasari oleh berbagai kemampuan tank BREM-L tersebut.

BREM-L sendiri, sebagaimana dikutip dari indomiliter.com, adalah sosok ranpur lapis baja beroda rantai yang punya peran untuk melakukan evakuasi dan perbaikan langsung pada IFV atau ranpur ringan yang mengalami kerusakan dalam medan pertempuran.

Sebagai ranpur recovery, BREM-L dilengkapi beberapa fasilitas utama untuk menjalankan operasinya. Sebut saja ada crane full swing yang mampu mengangkat beban hingga bobot 11 ton. Crane ini digerakan dengan tenaga mekanis hidrolik. Untuk keperluan perbaikan lainnya, BREM-L juga dilengkapi peralatan las listrik untuk memotong plat baja dan alumunium.

Sementara kemampuan BREM-L untuk melakukan perbaikan pada ranpur, menjadikan tank recovery ini punya kewajiban untuk membawa aneka ‘perkakas dan suku cadang’ untuk keperluan service di lapangan. Nah, tank ini punya kapasitas kargo, yakni 1,7 ton saat melintas di darat, sementara kapasitas kargo hanya 0,3 ton bila BREM-L melaju di air.

Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!

Perlu diketahui, ranpur buatan Kurganmashzavod, Rusia, ini memang punya kemampuan amfibi. Dengan mengambil platform sasis dari BMP-3, BREM-L dapat melaju di air hingga kecepatan 9 – 10 km per jam. Kemampuan mengarungi air ini berkat adanya dua water jet propeller, serupa dengan yang ada di BMP-3F. Bahkan, dengan telescopic air intake tube, BREM-L mampu mengarungi laut hingga level gelombang Sea Stage 3.

Meski tak langsung berhadapan dengan lawan di medan peperangan, BREM-L yang diawaki 3 personel plus 2 bangku cadangan, juga dibekali persenjataan ringan untuk self defence. Aslinya dari pihak pabrikan, BREM-L dipersiapkan dengan senjata PKTM kaliber 7,62 mm yang ditempatkan pada mounted hatch. Senjata ini dapat melibas sasaran hingga jarak 2.000 meter, dalam sekali jalan umumnya bisa disaipkan stok amunisi hingga 1.000 peluru. Karena mengambil basis rancang bangun dari BMP-3F, maka elemen mobilitas dan proteksi nya pun tak beda jauh dengan BMP-3F.

Dipaksa Keluar dari Toilet dalam Kondisi Celana Melorot, Penumpang Wanita ini Gugat Aer Lingus

Maskapai Aer Lingus baru-baru ini menyombongkan diri sebagai maskapai paling ramah keluarga kelima di dunia dalam penelitian yang dilakukan oleh Lastminute.com. Namun apa jadinya jika maskapai yang dibilang ramah keluarga ini, ternyata awak kabinnya pernah melakukan hal kasar pada penumpangnya?

Baca juga: Setelah 20 Tahun, Awak Kabin Aer Lingus Akhirnya Punya Seragam Baru

Hal tersebut terjadi pada seorang penumpang wanita yang mengklaim dirinya ditarik paksa keluar dari toilet oleh dua awak kabin Aer Lingus ke lorong dengan celana yang menggantung di sekitar pergelangan kaki dan bokong serta alat kelaminnya terpapar ke semua penumpang sekitar. Rincian kejadian aneh ini terungkap dalam beberapa hari terakhir setelah Mary Oshana mengajukan gugatan di Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk Distrik Utara Illinois mencari kompensasi dari Aer Linggus dalam insiden April 2018 lalu.

KabarPenumpang.com melansir laman paddleyourownkanoo.com (7/4/2020), Oshana diketahui adalah penumpang pada penerbangan Aer Lingus EI122 dari Chicago ke Dublin di Irlandia pada 26 April 2018. Saat itu, pesawat tengah mengantri di landasan untuk parkir dan menurunkan penumpang.

Setelah menunggu selama 30 menit dan tidak bergerak sama sekali, Oshana mengatakan dirinya bangkit dari kursi karena harus menggunakan toilet. Dalam 20 detik dirinya memasuki toilet, Oshana mengklaim awak kabin Aer Lingus mulai menggedor pintu dan memerintahkannya untuk segera kembali ke tempat duduknya.

Namun saat itu, Oshana tengah duduk di toilet dengan celana di pergelangan kaki. Dia mengatakan kepada awak kabin bahwa dirinya akan kembali ke kursi dalam satu menit. Dia mengatakan awak kabin ‘membobol’ lavatory (toilet) pesawat hanya 20 detik kemudian dan tanpa peringatan sebelumnya.

“Dalam proses diseret dari toilet ke kursinya dengan celana di bawah lutut, bokong dan alat kelamin Mary Oshana terlihat oleh penumpang lain di pesawat EIO122.”

Baca juga: Lupa Nyalakan Airplane Mode, Penumpang Aer Lingus Kena Denda Jutaan Rupiah!

Gugatan itu mengklaim dua awak kabin memegangnya “di bawah lengannya, menyeretnya ke kursinya sementara celananya berada di bawah lututnya, dan melemparkannya dengan kekuatan besar ke sandaran tangan dan kursi. Dia mengatakan bahwa merasa sakit dan memar karena dilemparkan ke sandaran tangan, dia juga menghadapi tekanan emosional ketika melihat dan mendengar penumpang pria di belakangnya tertawa dan menunjuk padanya.

Sebagai hasil dari memukul sandaran tangan, Oshana sekarang mengklaim telah menderita “cedera parah dan permanen pada sistem sarafnya.” Sayangnya Aer Lingus belum menanggapi permasalah penumpang malang ini.

 

 

PSBB Berlaku di Jakarta, Inilah Kebijakan GoJek dan Grab untuk Mudahkan Mitra Pengemudi

Ibukota DKI Jakarta resmi menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai upaya pencegahan penyebaran virus corona atau Covid-19 agar tidak semakin meluas. Pembatasan tersebut diterapkan setelah Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menandatangani surat permohonan Provinsi DKI Jakarta terkait PSBB ini.

Baca juga: Imbas Covid-19, Pengemudi Ojol Sepi Penumpang, Layanan Pesan Antar Banjir Order

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, dalam surat keputuan itu disebutkan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta wajib melaksanakan PSBB sesuai ketentuan perundang-undangan dan secara konsisten mendorong dan mensosialisasikan pola hidup bersih dan sehat kepada masyarakat. Aturan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) RI No.9/2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam rangka percepatan penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Dalam poin peliburan tempat kerja dengan pengecualian salah satunya mengatur tentang operasional ojek online (ojol). Hal ini terdapat dalam pasal 15 yang berbunyi layanan ekpedisi barang, termasuk sarana angkutan roda dua berbasis aplikasi dengan batasan hanya untuk mengangkut barang dan tidak untuk penumpang.

Terkait hal ini, dua aplikasi ride hailing terbesar di Indonesia yakni GoJek dan Grab akan terkena imbasnya. Pasalanya para ojol untuk sementara tak lagi bisa mengangkut penumpang dan hanya bisa mengangkut serta mengirimkan barang. Namun meski begitu, keduanya tengah mencari solusi dan selalu mematuhi regulasi yang ditetapkan pemerintah untuk pencegahan Covid-19 semakin meluas.

Chief Corporate Affairs PT GoJek Indonesia Nila Marita mengatakan, pihaknya selalu berupaya untuk mematuhi regulasi-regulasi yang dikeluarkan pemerintah dalam pencegahan meluasnya Covid-19.

“Saat ini, kami sedang mengkaji dan berdiskusi lebih lanjut bersama dengan pemerintah terkait implementasi peraturan ini,” kata Nila yang dikutip dari kompas.com.

Sejauh ini, menurut Nila, GoJek telah melakukan berbagai upaya untuk membantu mitra perusahaannya agar tetap dapat beroperasi dan menjalakan tugas dengan aman ditengah pandemi Covid-19. Bahkan mitra perusahaan terutama mitra pengemudi diimbau untuk di rumah saja untuk menekan penyebaran Covid-19.

Tak hanya itu, pihaknya juga memastikan keamanan dan kesehatan mitra pengemudi dengan menyediakan masker, handsanitaizer, vitamin serta desinfektan. GoJek juga menyediakan kartu penanda suhu tubuh di merchant GoFood.

“Kartu penanda suhu tubuh ini merupakan pedoman dari GoJek yang dijalankan berbagai mitra merchant GoFood untuk memastikan keamanan makanan yang dikirimkan,” kata Nila.

Nila memaparkan, Gojek juga menyediakan fitur contactless delivery untuk perlindungan mitra driver. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir kontak langsung antara mitra driver dan pelanggan, dengan menyediakan opsi teks pesan cepat pada fitur chat. GoJek juga mengimbau mitra merchant GoFood untuk memprioritaskan metode pembayaran digital atau nontunai. Tak hanya GoJek, Grab indonesia juga tengah menindaklanjuti stasus PSBB tersebut.

Head of Public Affairs Grab Indonesia, Tri Sukma Anreianno mengatakan, sejak awal penyebaran virus Covid-19, Grab telah memantau kondisi dan menyiapkan semua pemangku kepentingan terkait respons mereka terhadap Covid-19 termasuk para mitra pengemudi.

Baca juga: Di Tengah Merebaknya Virus Corona, Kemenhub Naikkan Tarif Ojol di Jabodetabek

“Selain itu kami juga secara aktif mengimbau semua mitra pengemudi dan pengiriman untuk mengutamakan kesehatan mereka dan untuk mengambil tindakan pencegahan secara menyeluruh termasuk mengenakan masker setiap saat. Mendesinfeksi kendaraan dan tas pengiriman mereka secara teratur, sering mencuci dan membersihkan tangan mereka serta menjaga jarak aman melalui prosedur contactless delivery bagi mitra pengiriman GrabFood dan GrabExpress,” kata Tri yang dikutip dari antaranews.com

Timeline Teknologi Body Scanner di Bandara, dari Isu Gender Hingga Cegah Corona

Sejak awal kemunculannya, body scanner (alat pemindai tubuh) kerap kali ditentang oleh beberapa kalangan di beberapa negara. Di Indonesia sendiri, body scanner sempat menjadi polemik ketika Ombudsman Republik Indonesia (ORI) turun tangan menginspeksi penggunaannya. Kala itu, ORI menilai jika penggunaan body scanner di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta (Soetta) bisa menimbulkan diskriminasi.

Kala itu, Komisioner Ombudsman, Adrianus Meliala, mengkritik alat pemeriksaan yang berbentuk tabung tersebut karena petugas bandara secara acak memilih para penumpang yang harus diperiksa di dalam alat tersebut. Oleh karenanya, ia menyarankan agar pihak bandara membuat aturan yang jelas terkait penggunaan alat tersebut. Tujuannya agar tidak ada praktik diskriminasi dalam kegiatan pemeriksaan.

Baca juga: Bak Kuburan, Inilah 8 Penampakan Sepinya Bandara di Dunia Akibat Virus Corona

Akan tetapi, terlepas dari polemik yang terjadi, sebetulnya, body scanner sedikit banyaknya menempati posisi strategis di beberapa kondisi, mulai dari ancaman akibat tindak kejahatan hingga wabah virus mematikan, tak terkecuali virus corona. Dikutip dari airport-technology.com, berikut rangkuman timeline body scanner sejak awal kemunculan hingga penggunaan terkini di berbagai bandara.

1. 1960an-1990an: Pemeriksaan Manual, Metal Detectors, dan Body Scanner Pertama

Dipicu oleh ledakan ekonomi pasca berakhirnya Perang Dunia II, perjalanan udara memperoleh daya tarik besar pada 1960-an. Pemeriksaan keamanan seseorang dan barang bawaannya sebagian besar dilakukan secara manual selama periode ini.

Seiring berjalannya waktu, mesin pemindaian x-ray pertama untuk bagasi di tahun 1970-an pun muncul. Namun, penumpang sendiri hanya diperiksa dengan magnetometer elektronik dan kemudian melalui detektor logam.

Menjelang akhir milenium, pada awal 1990-an, Dr Steven Smith berhasil mengembangkan konsep pertama body scanner. Model awal ini terdiri dari sistem skrining keamanan sinar-X backscatter dosis rendah yang juga dikenal sebagai Secure 1000.

2. 2000-2007: Insiden 9/11 Menunjukkan Kurangnya Langkah-langkah Pemeriksaan yang Efektif

Pada periode ini, proses pengawasan setiap penumpang di berbagai bandara, khususnya Amerika dan sekutunya, menjadi lebih ketat. Hasilnya, pemerikasaan full body scanner pun dilakukan. Bandara Amsterdam Schiphol saat itu digadang-gadang memimpin pengecekan full body scanner dengan teknologi selangkah lebih maju dibanding negara lainnya pada tahun 2007.

3. 2010-2013: Konsolidasi dan Masalah Privasi

Pasca insiden 9/11 disusul percobaan pemboman di Bandara Detroit pada tahun 2009, seluruh bandara di dunia pun akhirnya mengeluarkan protokol keselamatan di bandara dengan menerapkan dua model skrining. Pertama menggunakan sinar-X untuk memancarkan radiasi untuk mendeteksi benda logam dan non-logam yang dikenakan oleh seseorang. Adapun yang kedua adalah radiasi elektromagnetik yang mampu menghasilkan gambar 3D seseorang. Teknologi inilah yang kemudian memancing polemik karena mengancam privasi penumpang. Akhirnya teknologi tersebut tak diberlakukan

4. 2013-2019an: Kemajuan Teknologi dan Polemik Gender Atas Body Scanner

Pada periode ini program pengembangan mulai dilakukan. Pada tahun 2017 start-up Evolve Technology berhasil menemukan teknologi yang mampu memindai dengan cepat dan efektif hingga 600 penumpang per jam. Setahun berikutnya, ilmuwan di Cardiff mengumumkan uji coba pemindai ‘super sensitif’ yang menggunakan teknologi luar angkasa untuk mendeteksi panas tubuh manusia. Dari sinilah kemudian teknologi thermal scanner mulai marak dikembangkan; termasuk penggunannya untuk menangkal penyebaran virus corona lewat bandara seperti sekarang ini.

Pada periode ini juga sempat terdapat polemik dari kelompok non-gender. Sebab, body scanner memungkinkan petugas mengetahui jenis kelamin penumpang. Kondisi tersebut seringkali menjadi aneh. Sebab, di dokumen seorang penumpang tertulis berjenis kelamin pria, sedangkan hasil pemindaian body scanner menunjukkan penumpang berjenis kelamin wanita. Hal inilah yang kemudian menjadi polemik. Desakan untuk dilakukannya perubahan pun terus digaungkan.

Baca juga: Ini Dia! Lima Kelemahan Covid-19

5. 2020: Virus Corona dan Kebutuhan untuk Berevolusi

Virus corona menyebar dengan cepat pada 2020. Tercatat, virus yang diduga berasal dari Cina ini telah menyebar ke seluruh benua, kecuali Antartika. Thermal scanner, yang notabene merupakan hasil pengembangan dari body scanner pun amat sangat diandalkan dalam menangkal virus corona di bandara.

Namun, belakangan kemampuan thermal scanner untuk mencegah penularan atau pasien terinfeksi corona bebas bepergian ke negara tujuan mulai diragukan. Banyak hal yang mendasarinya. Oleh karenanya, berbagai peniliti pun coba melakukan pengembangan. Mungkin nanti ketika virus Cina ini lenyap dari muka bumi, mengingat saat ini peneliti mayoritas tengah fokus mengembangkan vaksin virus corona.

Harus Menengok Ibunya yang Sakit Keras, Wanita Ini Satu-Satunya Penumpang di American Eagle

Banyak maskapai yang mendaratkan pesawat mereka di kala pandemi virus corona atau Covid-19 saat ini. Hal ini dilakukan karena menurunya penumpang yang akan bepergian demi mencegah tertular pandemi yang tengah menjangkiti hampir seluruh dunia.

Baca juga: Virus Corona, Petaka Buat Maskapai, Bisa Jadi Berkah Buat Perusahaan Leasing

Nah, bagaimana kala pandemi tengah menyerang dan menjadi satu-satunya penumpang dalam sebuah penerbangan? Ya, ini mungkin saja terjadi dan penerbangan tersebut pun tetap akan berangkat. Hal itu baru-baru ini dirasakan oleh seorang penumpang bernama Sheryl Pardo yang naik pesawat milik American Eagle.

Saat itu dia akan berangkat ke Boston untuk mengunjungi ibunya yang sedang sakit keras. KabarPenumpang.com melansir dari laman news4sanantonio.com (3/4/2020), tanpa diduga ternyata dia satu-satunya penumpang dalam penerbangan oleh maskapai American Eagle ketika industri penerbangan mendekati hibernasi.

Sheryl mengaku memesan penerbangan yang berangkat dari bandara Nasional Reagan Washington pada hari Jumat (27/3/2020) yang lalu. Dia memesan penerbangan tersebut ketika tahu ibunya mungkin hanya memiliki beberapa hari untuk hidup.

Begitu berada di dalam kabin pesawat yang kabarnya akan mengakut seratus penumpang, ternyata dia hanya mendapati dirinya sendirian di dalam pesawat. Dalam video yang direkam oleh Sheryl, seorang awak kabin terlihat tengah memperkenalkan dirinya melalui interkom.

“Nama saya Jessica dan saya yang akan menjadi pramugari Anda dan kami memiliki Sheryl sebagai penumpang kami hari ini,” kata pramugari tersebut.

“Menghidupkannya di kelas satu. Semua orang berteriak kepada Sheryl, satu-satunya penumpang di pesawat. Semoga kamu nyaman dan berharap kamu terbang bersama kami kembali.”

Ketika pramugari memperkenalkan dirinya dan menyebut Sheryl sebagai satu-satunya penumpang, Sheryl tertawa sembari terus memvideokannya.

Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!

Diketahui, Ibu Sheryl kemudian meninggal dalam keadaan yang tidak terkait dengan wabah virus corona yang tengah merebak tersebut. Lalu lintas udara di Amerika Serikat telah turun 55 persen pada minggu terakhir bulan Maret jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019 ketika virus corona melanjutkan penyebarannya.