Lima Evolusi Wahana ‘Penderek’ Pesawat, Dari Mulai Tangan Kosong Sampai Teknologi Canggih

Dunia kedirgantaraan terus mengalami evolusi dari waktu kewaktu. Di artikel sebelumnya, redaksi KabarPenumpang.com telah mengupas tuntas teknologi body scanner sejak awak kemunculan hingga kemudian menginspirasi ilmuan untuk mengembangkannya menjadi thermal scanner yang kini marak digunakan di seluruh bandara di dunia untuk mencegah corona.

Baca juga: Bandara Internasional Moskow Gunakan Tank untuk Menderek Pesawat

Begitu juga dengan Ground Support Equipment (GSE) yang terus berevolusi dari waktu ke waktu. Salah satunya seperti aircraft tugs alias wahana untuk menderek pesawat.Mulai dari menggunakan Towbars, towbarless tractors, sampai electric aircraft tugs untuk pushback pesawat. Namun, sebelum itu semua ada, tepatnya saat teknologi belum secanggih saat ini, tangan kosong rupanya sempat menjadi andalan untuk membantu proses pushback pesawat, loh. Agar lebih jelas, berikut luma evolusi GSE sebagaimana dikutip dari laman mototok.com.

1. Bahu dan Tangan Kosong
Sebelum semua kendaraan aircraft tugs ada, dahulu bahu dan tangan kosong menjadi perantara ampuh untuk pushback pesawat, loh. Namun, jangan salah sangka dulu. Tentu saja pesawat yang di-pushback dengan menggunakan tangan kosong adalah pesawat tipe sport aircraft atau pesawat kecil lainnya. Adapun pesawat jet saat itu seperti de Havilland Comet ataupun McDonnell Douglas tentu menggunakan aircraft tugs versi jadul.

2. The Common Towbar
Sebelum kemunculan towbarless tractors atau yang jauh lebih mutakhir daripada itu, aircraft tugs with towbar tentu begitu diandalkan. Selama beberapa dekade sejak kemunculan industri penerbangan, dimana orang-orang dari seluruh dunia tertarik untuk mengunjungi satu negara ke negara lainnya dan dari satu benua ke benua lainnya, aircraft tugs with towbar terus setia mengawal geliat industri penerbangan global.

3. Towbar Tractors And Tug
Meskipun sudah mengalami perkembangan, namun, penggunaan traktor towbar untuk pushback pesawat masih kurang maksimal. Hal itu dikarenakan proses pushback masih tetap mengandalkan pilot untuk menggerakan kemana arah pesawat. Jadi, bila tidak terjadi komunikasi dengan baik, bukan tak mungkin insiden kecil akan terjadi.

4. Towbarless Tug
Setelah lama didominasi oleh inovasi towbar usang, seiring berjalannya waktu, solusi pun kemudian kembali muncul dengan hadirnya towbarless tug pada tahun 1980-an di Perancis. Dengan inovasi towbarless tug, seluruh proses pushback pesawat dimungkinkan untuk mendapat kontrol penuh tunggal oleh traktor, tak seperti sebelumnya dimana pilot masih harus mengendari pesawat ke arah tertentu. Sebab, roda pesawat bertengger di atas traktor. Tak lama setelah kemunculan inovasi tersebut, seluruh bandara-bandara di dunia pun akhirnya mulai menggunakan towbarless tug.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, penggunaan bahan bakar fosil pada traktor towbarless tug dinilai menjadi sebuah pemborosan dan tak baik untuk kesehatan karena mencemari lingkungan, khususnya di lingkungan kerja ground handler. Oleh karenanya, inovasi teknologi penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan di GSE pun terus didorong oleh sejumlah kalangan hingga akhirnya munculah Electric Towbarless Remote-Controlled Aaircraft Tugs

Baca juga: WheelTug, Dukung Pergerakan Pesawat Lebih Cepat di Area Terminal

5. Electric Towbarless Remote-Controlled Aircraft Tugs – Mototok
Sebuah studi tahun 2008 oleh Institute for Automotive Engineering (IKA) di RWTH University of Aachen, Jerman menyimpulan bahwa sudah saatnya untuk mengganti penggunaan traktor diesel towbarless tug menjadi electric towbarless aircraft tug. Alasannya, tentu saja untuk membuat bumi lebih hijau. Bahkan, pengembangan tidak hanya dilihat dari sisi ekologis, melainkan dari sisi ekonomi, dimana, electric towbarless aircraft tug dibuat tanpa jurumudi atau bisa dikendalikan dari jarak jauh (remote controlled).

Electric towbarless remote controlled aircraft tug karya Mototok ini pun digadang-gadang menjadi pioneer terciptanya ekosistem yang lebih hijau di lingkungan kerja GSE. Saat ini, beberapa unit di GSE pun juga sudah mulai menggunakan tenaga listrik sebagai sumber penggerak dan otonom. Salah satunya seperti shuttle bus listrik otonom di Bandara Haneda yang rencananya akan mulai beroperasi penuh pada akhir 2020 mendatang.

Masih Belum Berminat? Sepeda Listrik Xiaomi Ini Bisa Dilipat Seukuran Ransel!

Berbicara mengenai sepeda lipat, mungkin salah satu yang terlintas di pikiran masyarakat Indonesia adalah Brompton. Terlebih, setelah insiden yang melibatkan eks Direktur Utama Garuda Indonesia ramai diperbincangkan, dimana kala itu pesawat baru Airbus A330-900 kedapatan membawa beberapa muatan ilegal, salah satunya Brompton. Praktis, sepeda lipat elektrik asal Inggris tersebut namanya semakin melambung di masyarakat, khususnya pecinta sepeda.

Baca juga: Sepeda dengan Layar Lipat, Solusi Transportasi di Pedesaan

Akan tetapi, dengan harga selangit atau sekitar Rp 50an juta, bagi millenials atau kalangan lainnya dengan budget terbatas tentu harus berpikir ribuan kali untuk memilikinya. Namun, jangan khawatir, sepeda lipat listrik yang satu ini mungkin bisa menjadi oase. Tentu saja dengan harga yang lebih murah serta fitur yang tak kalah dengan Brompton.

Seperti dikutip dari newatlas.com, belum lama ini produsen teknologi asal Cina, Xiaomi merilis sepeda lipat listrik terbarunya, HiMo H1. Dengan harga cuma Rp 8 jutaan atau $500, sepeda listrik lipat Xiaomi memiliki berbagai fitur unggulan, seperti bisa dilipat hingga seukuran ransel, headlight yang terintegrasi dengan LED smart display, hingga satu pack baterai lithium berkapasitas 36V yang diklaim mampu menyuplai tenaga tambahan dengan sekali charger untuk menempuh jarak hingga 30km.

Selain itu, sepeda lipat listrik yang rangkanya tampak membentuk huruf H tersebut juga mempunyai diameter ban yang mini dibanding sepeda listrik merk lainya seperti Xiaomi Qi Cycle. Dengan ukuran yang lebih kecil akan membuat sepeda lebih smooth dan mampu membawa pengguna merasakan tiap adrenalin lebih detail. Tampilannya pun terlihat lebih sporty.

Wujud HiMo H1 saat dilipat. Foto: HiMo

Sepeda listrik ini juga memiliki frame berkualitas yang terbuat dari bahan aluminium alloy. Bahan ini terkenal tak mudah berkarat, di samping juga membuat bodi sepeda begitu ringan namun tetap kokoh dengan beban maksimal 80kg dan memberikan stabilitas tinggi ketika pengguna mengendarainya. Dalam keadaan gelap, HiMo H1 menawarkan lampu depan layaknya sepeda motor yang penggunaannya juga dapat dipantau pengguna lewat layar odometer yang juga menampilkan sejumlah informasi jarak tempuh dan kecepatan kendaraan serta juga kapasitas baterai.

Baca juga: Sepeda Kini Tanpa Dilipat Bisa Masuk Ke Gerbong Kereta

Dalam keadaan normal atau unfold HiMo H1 memiliki dimensi sebesar 955 x 840 x 485 mm, masih tergolong mungil dibanding sepeda listrik lipat lainnya. Namun, ketika dilipat (folding), sepeda listrik lipat dengan bobot 13.8 kg tersebut memiliki dimensi hanya sekitar 455 X 230 mm atau seukuran ransel. Menarik, bukan? Tak cukup sampai di situ, HiMo H1 juga cukup nyaman dikendarai dengan kecepatan 18 km per jam serta motor rated output power yang hanya sebesar 180W.

Dengan berbagai kemudahan tersebut, khususnya fitur folding yang mampu dilipat hingga seukuran ransel, pengguna dijamin dapat sangat terbantu untuk menyusuri sudut-sudut perkotaan yang tak terjangkau moda transporatasi umum, menyusuri gang-gang sempit menawan di luar negeri, seperti Inggris, Italia, dan Perancis dengan segudang panorama indah dari arsitektur klasik abad pertengahan yang eksotik, atau bahkan menembus kemacetan yang kerap terjadi di kota-kota besar di dunia.

Berjibaku Dua Bulan Lebih, Para Medis Kembali Pulang Setelah Lockdown Wuhan Dicabut

Ketika akhirnya Bandara Internasional Wuhan Tianhe dibuka setelah 76 hari ditutup untuk mencegah meluasnya penyebaran Covid-19, banyak orang yang berbondong-bondong untuk kembali ke rumah mereka masing-masing di kota lainnya. Apalagi saat Covid-19 menyerang Wuhan, saat itu banyak orang yang berdatangan ke kota di Cina tengah untuk liburan Tahun Baru Imlek pada bulan Januari dan terjebak dalam masa tinggal yang panjang.

Baca juga: Gegara Virus Corona, Puluhan Ribu Hewan Peliharaan Terancam Mati Kelaparan di Wuhan

Untungnya setelah 11 minggu tertutup dari dunia luar, penguncian tersebut akhirnya dicabut pada Rabu (8/4/2020) kemarin dan orang-orang keluar kota dengan kereta api, mobil hingga pesawat. Seorang penduduk provinsi Qinghai yang bernama Zhang bersama orang tua dan anaknya kini berada di bandara setelah terjebak di Wuhan sejak liburan yang dimulai pada 15 Januari 2020 lalu.

“Suamiku telah sendirian di rumah selama hampir tiga bulan. Aku tidak sabar untuk kembali,” kata Zhang.

masyarakat yang keluar kota Wuhan (bloomberg.com)

Seorang penduduk Shanghai bernama Wang mengatakan, dirinya bersama sang istri sudah berada 80 hari di Wuhan dan tengah mengejar penerbangan pertama mereka untuk pulang ke rumah.

“Aku lebih bersemangat untuk pulang,” katanya.

Dilansir KabarPenumpang.com dari bloomberg.com (8/4/2020), pencabutan kuncian di Wuhan ini menjadi ujian penting bagi Cina yang mendorong narasi kemenangan atas pandemi di tengah tuduhan memanipulasi data virus dan penyakit yang sangat menular tidak sepenuhnya dihilangkan. Namun, kemunculan Wuhan dari wabah yang membanjiri sistem rumah sakitnya dan menewaskan lebih dari 2500 orang memberikan cetak biru dan rasa harapan untuk kota lainnya yang saat ini terkunci serta bergulat dengan tingkat infeksi yang masih memuncak.

Dibukanya kembali Wuhan oleh Cina bukan hanya membuat tenang masyarakat provinsi lain yang terkunci, tetapi bagi para medis yakni dokter dan perawat dari provinsi Jilin timur laut yang membantu menyembuhkan pasien yang terinfeksi dari Wuhan. Para medis dari berbagai wilayah di Cina ini di datangkan ketika puncak epidemi dan rumah sakit Wuhan kewalahan dengan banyaknya pasien terinfeksi Covid-19, sementara banyak dokter dan perawat terinfeksi.

Para medis dari Jilin tersebut berbalut pakaian olahraga merah masuk ke bandara dan diberi karangan bunga oleh staf bandara. Para medis mungkin terlihat semangat, namun orang-orang lainnya tidak dalam semangat yang baik, sebab mereka diizinkan meninggalkan Wuhan jika memiliki kode hijau yang diproses melalui aplikasi yang di jalankan oleh raksasa internet Alibaba Group Holding Ltd. dan Tencent Holdings Ltd. berdasarkan pada riwayat perjalanan pengguna, informasi kesehatan dasar dan kontak dekat.

Kode hijau adalah hal yang berharga, karena memberikan kebebasan bergerak dalam realitas pasca-virus China, dan dapat dengan mudah hilang. Hanya dengan mengunjungi pusat perbelanjaan tempat kasus virus dikonfirmasikan nanti dapat mengubah kode seseorang menjadi kuning, yang berarti dua minggu isolasi lagi di rumah.

Ketika penjaga keamanan bandara berunding dengan mereka yang kode hijaunya tidak muncul dengan lancar, orang-orang di barisan mendorong ke depan, karena tidak ingin ketinggalan penerbangan mereka. Mereka yang berhasil melewati pintu masuk bandara melontarkan senyum lega.

He Yuqing, manajer check in untuk China Southern Airlines, mengatakan bahwa maskapai ini mengoperasikan 28 penerbangan dari Wuhan pada hari Rabu dengan beberapa penerbangan charter yang membawa pekerja medis kembali ke rumah.

“Beberapa penerbangan 90 persen penuh,” katanya.

Di pos pemeriksaan perbatasan lain di sekitar kota, orang-orang pergi secepat mungkin. Sekitar 55 ribu orang memiliki tiket kereta api untuk hari Rabu sementara mobil berbaris di gerbang tol setelah 75 pos pemeriksaan jalan dilepas. Terlepas dari arus keluar hari pertama, banyak orang di Wuhan tetap terkunci atau takut untuk pergi.

Baca juga:

Bahkan kompleks perumahan masih dapat memaksa penduduk untuk tinggal di rumah jika ditemukan kasus yang dicurigai atau ditemukan dengan alasan mereka, dan kekhawatiran akan timbulnya infeksi akan menghentikan orang kembali ke restoran dan mal. Ekonomi lokal, yang pernah menjadi pusat manufaktur mobil dan teknologi yang sedang naik daun, tidak mungkin kembali ke kesehatan penuh untuk beberapa waktu.

Di Masa Pandemi Ternyata Banyak Orang yang Merasa Lebih Baik dan Bahagia

Di masa pandemi yang terjadi di seluruh dunia saat ini, membuat banyak orang sudah merasa tingkat kejenuhan mereka di atas rata-rata. Hal ini bisa membuat orang yang biasanya berinteraksi dengan orang lain bisa kehilangan akal sehat dan melakukan hal diluar nalar.

Baca juga: Lima Tips Cegah Corona di Mobil, Nomor 5 Paling Sulit

Namun, meski begitu sebenarnya bisa dicegah dan diri pribadi mampu untuk melakukan hal tersebut agar kembali berpikir normal seperti sebelumnya meski di tengah pandemi. KabarPenumpang.com merangkum blogs.psychcentral.com (5/4/2020), nyatanya banyak orang juga yang merasa lebih baik saat ini dan sebagain besar mereka yang peduli, jikapun ada cenderung terlalu fokus pada kebutuhan orang lain. Nah, ada tujuh alasan beberapa orang merasa lebih baik dan bahagia selama pandemi berlangsung.

1. Orang dengan Fomo Kronis (Takut kehilangan)
Inilah orang-orang yang menjalani hidup mereka dengan perasaan seolah-olah mereka berada di luar hal-hal. Mereka melihat sekeliling dan melihat orang lain tertawa dan menikmati hidup. Bagi orang-orang ini, selalu tampak bahwa orang lain hidup lebih menyenangkan dan bahagia. Hingga akhirnya, sekarang, dengan hampir seluruh populasi terperangkap di rumah, lebih mudah untuk bersantai dalam pengetahuan bahwa mereka tidak kehilangan apa pun.

2. Mereka yang Selalu Merasa Sendirian di Dunia
Jika, sebagai seorang anak, Anda tidak menerima dukungan emosional yang cukup dari orang tua. Anda cenderung menjalani kehidupan dewasa dengan perasaan sendirian di dunia. Mungkin Anda sudah merasa sendirian begitu lama sehingga tidak nyaman. Sehingga, dalam krisis global ini, Anda benar-benar sendirian dan mungkin bisa mentolerir sendirian jauh lebih baik daripada yang lain. Mungkin, akhirnya, kehidupan nyata di luar mencerminkan apa yang selalu Anda rasakan di dalam dan itu, pada tingkat tertentu, memvalidasi.

3. Orang-Orang yang Tantangannya Masa Kecil Khususnya Disiapkan Mereka
Jika masa kecil Anda tidak dapat diprediksi seperti dipenuhi dengan ketidakpastian, atau mengharuskan untuk membuat keputusan yang tidak persiapkan atau bertindak di luar usia, maka mungkin masa kecil Anda mempersiapkan untuk saat ini. Ketika tumbuh dengan cara ini, Anda mengembangkan beberapa keterampilan khusus karena kebutuhan. Anda belajar bagaimana hiper-fokus dalam situasi yang ambigu dan bagaimana bertindak tegas dan percaya diri. Karena memiliki dasar yang kuat untuk keterampilan yang tepat yang dibutuhkan untuk pandemi, Anda mungkin merasa lebih fokus dan percaya diri sekarang daripada yang sudah dimiliki selama bertahun-tahun.

4. Orang-orang yang Merasakan Mati Rasa Kecuali Sesuatu yang Ekstrim sedang Terjadi
Jika Anda tidak akan menggambarkan diri sebagai orang yang emosional, atau mendapati diri tidak merasakan apa-apa, maka ketika tahu akan merasakan sesuatu, Anda mungkin mendapati diri memiliki emosi nyata karena COVID- 19 pandemi terbuka. Banyak orang membutuhkan novel atau situasi ekstrem untuk merasakan sesuatu. Beberapa terlibat dalam aktivitas yang berbahaya, tidak terduga, atau mencari sensasi untuk merasakan. Saat ini, bahaya, ketidakpastian, dan kesenangan telah datang kepada mereka. Akhirnya, mereka memiliki perasaan, dan perasaan apa pun, bahkan yang negatif, lebih baik daripada mati rasa.

5. Introvert Ekstrim
Bila Anda adalah orang yang lebih suka dirumah dan bergaul dengan orang lain tidak lebih nyaman, saat ini merupakan waktu istirahat yang tepat. Sehingga alih-alih harus menyesuaikan diri dengan orang lain dan mereka pun sebaliknya, inilah Anda. Bisa dikatakan, pada akhirnya saat ini adalah perasaan yang menyenangkan.

6. Mereka yang Sudah Berjuang dengan Tantangan Hidup yang Signifikan Sebelum Pandemi
Beberapa orang sudah menghadapi beberapa krisis atau tantangan besar dalam kehidupan sebelum epidemi ini melanda. Bagi mereka, situasi ini mungkin terasa agak melegakan. Tiba-tiba, dengan dunia ditutup, tidak mungkin untuk berjuang atau menyelesaikannya. Akibatnya, situasi ini mungkin menawarkan Anda sedikit istirahat dan juga melihat semua orang berjuang, yang mungkin terasa menghibur dengan cara tertentu. Bukannya Anda ingin orang lain mengalami masalah, hanya terasa menenangkan bahwa Anda tidak lagi sendirian. Semua orang juga mengalami masalah.

Baca juga: Tetap Ingin Bepergian di Tengah Ancaman Virus Corona? Berikut Tips dan Ulasannya

7. Mereka yang Cemas Bertahun-tahun Mengantisipasi Bencana
Kecemasan dapat membuat orang-orang memiliki ketakutan besar akan pengabaian oleh pengalaman yang tak terduga dan menyakitkan. Jadi, beberapa orang terus-menerus mengantisipasi kesalahan apa yang mungkin terjadi sebagai cara untuk mencegah diri mereka sendiri dari kejutan yang tiba-tiba dan negatif. Sekarang, inilah kita. Peristiwa yang telah lama dinanti-nantikan itu telah terjadi. Orang-orang ini merasa lega bahwa apa yang telah mereka waspadai selama hidup mereka akhirnya ada di sini. Alih-alih merasa kaget, mereka merasa lega.

Jadi, apakah Anda termasuk satu dari tujuh alasan lebih bahagia saat pandemi terjadi?

Perang Dunia I Dorong Ilmuan Inggris Kembangkan Telepon Nirkabel di Kokpit

Peperang mungkin dipandang sebagai petaka dengan banyaknya korban yang berjatuhan, baik dari sipil maupun militer, serta kerusakan yang ditimbulkan. Namun, bila melihat dari sisi lain, mungkin peperangan tak selamanya menjadi petaka. Ambil contoh pada Perang Dunia I. Di balik sengitnya peperangan, rupanya telah mendorong ilmuan mengembangkan teknologi tertentu untuk mendukung kekuatan perang, salah satunya telepon nirkabel di kokpit.

Baca juga: Boeing 377 Stratocruiser, Pesawat dengan Kabin Bertekanan Pertama di Dunia

Seperti dikutip dari laman spectrum.ieee.org, saat itu, ilmuan lain sebetulnya sudah memantik adanya telepon nirkabel dengan penemuan berupa telegraf, telepon, dan pesawat terbang. Tantangannya adalah, bagaimana ketiga temuan tersebut disatukan menjadi komunikasi singkat lewat media telepon nirkabel, baik dari darat-ke-udara maupun dari udara-ke-darat dengan perantara antara mesin-ke-mesin.

Pasalnya, teknologi telepon nirkabel di kokpit saat Perang Dunia I menjadi penting mengingat fungsinya yang vital. Dengan teknologi tersebut, pilot-pilot pesawat pengintai dapat langsung memberikan informasi mengenai apapun yang mereka lihat begitu mereka berada beberapa meter di belakang garis musuh. Singkatnya, negara peserta perang manapun yang lebih dahulu berhasil mengembangkan teknologi tersebut, kemungkinan besar mereka adalah pemenangnya.

Pada tahun 1911, Letnan Satu Benjamin D. Foulois, pilot pesawat tunggal Angkatan Darat AS, terbang di sepanjang perbatasan Meksiko dan melaporkan ke stasiun-stasiun Signal Corps di darat dengan kode Morse. Tiga tahun kemudian, di bawah naungan British Royal Flying Corps (RFC), pilot Letnan Donald Lewis dan Baron James mencoba radiotelegraphy udara-ke-udara dengan terbang 16 kilometer secara terpisah dan berkomunikasi dengan kode Morse selama penerbangan.

Tidak butuh waktu lama bagi sistem nirkabel RFC untuk melihat tindakan nyata pertamanya. Inggris memasuki Perang Dunia I pada tanggal 4 Agustus 1914. Pada tanggal 6 September ketika terbang selama Pertempuran Marne yang pertama di Perancis, Lewis melihat jarak 50 km di garis musuh. Ia dengan segera mengirim pesan nirkabel untuk melaporkan apa yang dilihat dan pasukan Inggris-Perancis langsung momentum dari informasi itu.

Pesawat telepon udara hasil pengembangan dari insinyur Marconi yang bertugas di British Royal Flying Corps. Foto: Science Museum/SSPL/Getty Images

Ini adalah pertama kalinya pesan nirkabel yang dikirim dari pesawat Inggris diterima dan ditindaklanjuti. Komandan tentara Inggris pun mendorong penggunaan teknologi nirkabel yang lebih luas dan menuntut lebih banyak peralatan serta pelatihan untuk kedua pilot dan dukungan darat.

Sejak saat itu, RFC, yang terbentuk pada tahun 1912 di bawah Kapten Herbert Musgrave, tumbuh dengan cepat. Awalnya, Musgrave ditugaskan menyelidiki daftar penyelidikan aktivitas terkait perang, seperti balon udara, layang-layang, fotografi, meteorologi, bom, senapan, dan komunikasi. Ia pun memutuskan untuk fokus pada yang terakhir, komunikasi. Pada awal perang, RFC mengambil alih Stasiun Marconi Eksperimental di Brooklands Aerodrome di Surrey, barat daya London.

Pada Oktober 1914, Inggris telah mengembangkan peta dengan referensi grid, yang berarti bahwa hanya dengan beberapa huruf dan angka, seperti “A5 B3,” seseorang dapat menunjukkan arah dan jarak. Bahkan dengan penyederhanaan itu, bagaimanapun, menggunakan radiotelegraphy masih rumit.

Kemudian, pada musim semi 1915, Charles Edmond Prince dari Perancis dikirim ke Brooklands untuk memimpin pengembangan sistem suara dua arah untuk pesawat. Pria keturunan aristokrat Perancis tersebut sebelumnya telah bekerja sebagai insinyur untuk Perusahaan Marconi sejak tahun 1907 bersama beberapa rekannya yang banyak di antaranya juga berasal dari Marconi. Dengan cepat, ia pun segera menjalankan sistem udara ke darat.

Sistem Prince sama sekali tidak seperti ponsel modern, atau bahkan tidak seperti telepon pada saat itu. Meskipun pilot dapat berbicara dengan stasiun darat, operator darat hanya dapat menjawab dalam kode Morse. Butuh satu tahun lagi untuk mengembangkan telepon nirkabel dari darat-ke-udara dan mesin-ke-mesin.

Baca juga: Perang Dunia 3 Nyaris Pecah! Begini Kesaksian Pilot Jet Tempur Uni Soviet Pada Tragedi KAL 007

Selama musim panas 1915, kelompok ilmuan Prince berhasil menguji komunikasi suara udara-ke-darat pertama menggunakan pemancar radio telepon pesawat. Tak lama kemudian, Kapten J.M. Furnival, salah satu asisten Prince, mendirikan Sekolah Pelatihan Nirkabel di Brooklands. Setiap minggu 36 pilot pesawat tempur melewati untuk mempelajari cara menggunakan peralatan nirkabel dan seni artikulasi yang tepat di udara. Sekolah juga melatih petugas cara merawat peralatan.

Pada akhir perang, Prince dan timnya telah mencapai transmisi suara nirkabel dari udara-ke-darat, darat-ke-udara, dan mesin-ke-mesin. Royal Air Force pun kala itu telah melengkapi 600 pesawat dengan radio suara gelombang kontinu dan menyiapkan 1.000 stasiun darat dengan 18.000 operator nirkabel. Ini sepertinya contoh yang jelas tentang bagaimana teknologi militer mendorong inovasi selama masa perang.

Stres Akibat Covid-19? Cobain Aplikasi Meditasi Khusus Corona Ini Deh

Wabah virus Cina benar-benar merepotkan. Social atau physical distancing, lockdown kota dan negara, hingga karantina mandiri telah benar-benar merenggut kebahagiaan masyarakat dunia. Belum lagi berbagai protokol kesehatan ketat, wajib pakai masker, selalu sedia hand sanitizer, rapid test, dan pemberlakuan jam malam yang semakin membuat masyarakat rindu saat-saat dalam situasi normal.

Baca juga: Aplikasi “Ambulans Jadi Taksi” Agar Terhindar dari Kemacetan Segera Diluncurkan, Setuju Kah?

Tak cukup sampai di situ, masyarakat juga kerap dibuat jadi lebih khawatir dengan maraknya pemberitaan terkait banyaknya korban jiwa, setiap hari, di seluruh dunia. Hal itu kemudian diperparah dengan pemberitaan terkait gonjang-ganjing ekonomi dimana telah terjadi PHK massal di banyak negara di seluruh dunia, serta ketidakpastian kapan pandemi Covid-19 akan berakhir. Masyarakat benar-benar dibuat stres karenanya.

Dengan berbagai kondisi tersebut, masyarakat pun coba mencari alternatif untuk memulihkan kondisi kejiwaan mereka. Salah satunya lewat aplikasi meditasi. Dikutip dari news.crunchbase.com, aplikasi meditasi yang berbasis di Los Angeles, Headspace, misalnya, menawarkan layanan dan panduan gratis untuk membantu orang-orang dan kelompok-kelompok tertentu mengatasi stres dengan berbagai kategori, mulai dari Headspace untuk profesional kesehatan, Headspace untuk para pekerja, dan Headspace untuk pendidik.

Headspace for professionals, fokusnya yakni memberi para pekerja berbagai informasi layanan kesehatan sesuai dengan protokol kesehatan masyarakat di AS serta akses gratis ke Headspace Plus sepanjang tahun. Untuk kontinuitas, pengguna juga bisa berlangganan dengan mendaftarkan alamat email dan nomor indentitas. Adapun kategori lainnya, yakni Headspace untuk pekerja dan Headspace untuk pendidik menawarkan akses gratis ke koleksi meditasi untuk para guru dan anggota lain seprofesi.

Singkatnya, aplikasi Headspace dapat membantu pengguna melakukan meditasi sederhana. Melalui aplikasi ini, pengguna dapat berlatih keterampilan kewaspadaan dan meditasi dengan menggunakan aplikasi ini hanya beberapa menit per hari. Terdapat dua layanan yang ditawarkan oleh Headspace, meditasi yang diarahkan dan meditasi yang tidak diarahkan. Selain itu, pengguna juga akan mendapatkan akses ke ratusan konten meditasi dalam segala hal mulai dari mengelola stres, meredakan kecemasan hingga membantu meningkatkan kualitas tidur dan fokus Anda dengan berbagai cara, lewat musik, pengetahuan sederhana, dan lain sebagainya.

Di Indonesia sendiri, aplikasi tersebut sudah banyak digemari masyarakat. Umumnya, mereka sangat merasakan manfaat dari layanan pada aplikasi tersebut. Hanya saja, pengguna di Indonesia masih mengeluhkan tidak adanya pilihan dalam bahasa Indonesia sehingga sedikit menyulitkan.

Selain Headspace, ada lagi dua aplikasi lainnya yang tak kalah menarik untuk dicoba, yakni Calm dan Simple Habit. Calm merupakan aplikasi yang dapat menenangkan penggunanya. Seri meditasi yang ditawarkan oleh aplikasi ini dapat diselesaikan dalam waktu 10-20 menit.

Aplikasi ini dapat membantu untuk mengembangkan seseorang dengan latihan yang dilakukan sehari-hari dan mereka yang bergabung dengan aplikasi Calm akan merasakan ketenangan serta kedamaian saat meresa stres dan depresi. Sebagian besar meditasi dari aplikasi ini bisa didapatkan secara gratis. Akan tetapi, terdapat pula beberapa sesi yang dikunci dan harus berlangganan terlebih dahulu untuk dapat mengaksesnya.

Senada dengan Calm, Simple Habit juga membantu pengguna untuk merasakan ketenangan dan kedamaian. Bahkan, pihak pengembang juga telah membuat tema khusus tentang corona, dimana pengguna dapat melatih diri untuk menghadapi virus Cina tersebut dengan meningkatkan perawatan diri, perhatian terhadap anak-anak di rumah, pola komunikasi dengan keluarga, dan meredakan kekhawatiran.

Baca juga: Gunakan Aplikasi di Ponsel, Warga Cina Hindari Lingkungan Terinfeksi Virus Corona

“Kami menyadari bahwa banyak orang sekarang diharuskan untuk tinggal di rumah, yang mengakibatkan hilangnya pendapatan dan ketidakpastian keuangan,” tulis CEO Simple Habit Yunha Kim dalam sebuah blog.

“Sebagai tanggapan terhadap perubahan besar ini, mulai hari ini (23 Maret) hingga akhir April 2020, kami akan menawarkan keanggotaan premium Simple Habit gratis kepada semua orang yang terkena dampak finansial saat masa-masa sulit ini dan tidak lagi mampu membayar. Jika Anda berjuang atau membutuhkan, kami akan membantu mengurus Anda,” tambahnya.

Hong Kong ‘Lockdown’ Warganya dengan Gelang Canggih

Otoritas Hong Kong tengah berupaya melakukan berbagai tindakan untuk mencegah meluasnya wabah virus Cina, salah satunya melalui teknologi gelang elektronik canggih. Nantinya, gelang tersebut akan diberikan kepada turis maupun masyarakat yang baru pulang bepergian dari luar negeri untuk memantau mereka selama fase karantina mandiri. Guna mendukung kesuksesan kebijakan tersebut, pemerintah Hong Kong mengklaim pihaknya telah memiliki lebih dari 60.000 gelang siap guna.

Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!

Dikutip dari laman CNBC Internasional, pemimpin eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, mengatakan keputusan tersebut diambil akibat dari temuan maraknya kasus ‘impor’ corona. Data menunjukkan, setidaknya dari 57 kasus baru (Covid-19) dalam beberapa pekan terakhir, 50 di antaranya adalah berasal dari wisatawan asing.

Declan Chan, seorang stylist yang juga salah satu penduduk Hong Kong, baru saja kembali dari Zurich, Swiss, beberapa waktu lalu. Begitu sampai di bandara, ia pun terkejut ketika diberitahu bahwa ada langkah-langkah baru dari pemerintah dalam pencegahan meluasnya Covid-19 yang harus dipatuhi oleh siapapun ketika masuk ke Hong Kong, tak terkecuali dirinya.

“Saya kira hanya sebatas mengisi formulir saja. Saya tidak menduga akan ada gelang seperti ini,” katanya kepada wartawan melalui sambungan telepon dari rumahnya di Hong Kong, saat tengah menjalani karantina mandiri.

Saat itu, lanjut Chan, ketika dirinya sampai di bandara, ia disodorkan formulir kesehatan, lengkap dengan opsi agar ia berbagi lokasi ke pemerintah melalui berbagai platform, mulai dari WeChat dan WhatsApp atau sebatas menggunakan gelang elektronik. Namun, opsi tersebut rupanya semu. Nyatanya, ia dan wisawatan atau warga lokal lainnya yang baru tiba di bandara Hong Kong wajib menggunakan gelang elektronik. Alhasil, ia pun menyaksikan dengan jelas saat beberapa wisawatan menolak menggunakan gelang tersebut dan memilih kembali memesan tiket untuk hengkang dari Hong Kong.

Akan tetapi, gelang tersebut tidak serta merta langsung berfungsi bergitu saja. Teknisnya, mula-mula seluruh pengguna, termasuk Chan, harus terlebih dahulu berjalan di sudut-sudut rumahnya untuk memastikan teknologinya dapat dengan tepat melacak koordinat selama masa karantina. Namun, sebelum itu, pengguna terlebih dahulu harus terlebih dahulu mendownload aplikasi tertentu agar gelang tersebut dapat terhubung ke smartphone.

Baca juga: Dari Amerika, Inggris, Thailand Hingga Lebanon, Ini Cara Unik Masyarakat Terapkan Social Distancing

Berdasarkan koordinat tersebut, pemerintah akan membuat pemodelan ruang lingkup pengguna. Jadi, bila selangkah saja pengguna keluar dari rumah, maka pemerintah akan segera mengetahuinya. Oleh karena itu, selama karantina, Chan tak punya pilihan lain untuk memenuhi isi perutnya kecuali menggunakan aplikasi berbasins daring untuk memesan makanan dan bahan makanan.

“Seseorang yang melanggar atau secara sengaja memberikan informasi palsu kepada Departemen Kesehatan akan dikenakan hukuman denda $5.000 HKD ($644) dan penjara selama 6 bulan,” menurut selebaran yang diberikan kepada penumpang yang baru tiba di Hong Kong.

1001 Inovasi di Ajang Crystal Cabin Award Berikan Kenyaman dan Keamanan Penumpang

Para peneliti di berbagai penjuru dunia, setiap detik saling berlomba untuk menemukan berbagai solusi di dalam kehidupan. Caranya, tentu saja dengan berinovasi. Tak terkecuali di dalam bidang penerbangan. 1001 satu inovasi telah dan masih akan terus dilakukan sampai benar-benar tak ada masalah atau kesulitan apapun bagi manusia, dalam hal ini penumpang.

Baca juga: Bersiaplah, Ajang Crystal Cabin Awards Akan Hadirkan Desain Kabin Pesawat Masa Depan

Di dunia penerbangan, khususnya terkait interior di dalam pesawat, Crystal Cabin Award (CAA) mungkin bisa dibilang salah satu ajang yang paling nyentrik dengan memamerkan inovasi-inovasi mutakhir dari tahun ke tahun. Seperti dikutip dari runwaygirlnetwork.com, pada gelaran CAA 2016 silam, misalnya, ada banyak inovasi brilian yang dihadirkan pada ajang tersebut, salah satunya inovasi self-cleaning lavatory oleh Boeing. Inovasi tersebut menjadi sebuah jawaban dari banyaknya penelitian yang menyebut bahwa toilet menjadi salah satu sumber kuman dan bakteri terbesar di dalam kabin.

Setahun berselang, giliran UV-light Germ Falcon yang tampil nyentrik di CAA. Setidaknya hal itu terlihat dari keberhasilan inovasi tersebut mencapai fase final. Robot ini diklaim mampu membunuh segala virus, termasuk virus corona, dan kuman serta bakteri lainnya tak kasat mata di pesawat.

Kursi penumpang anti mikroba karya Boeing. Foto: Boeing

GermFalcon kurang lebih terlihat seperti troli makan yang biasa digunakan dalam penerbangan komersial. Bedanya, GermFalcon dilengkapi dengan semacam sayap yang melebar ke sisi kanan dan kiri pesawat. Alat tersebut kemudian memancarkan sinar UV (UltraViolet)-C yang bisa mensterilkan ruang sekitar.

Sinar UVC sendiri umumnya digunakan untuk mendesinfeksi udara, air, dan permukaan di fasilitas kesehatan. Sejauh ini, teknologi tersebut telah terbukti aman dan sangat efektif dalam menghilangkan kuman yang menyebabkan penyakit menular. GermFalcon adalah sistem UVC pertama yang dirancang khusus untuk mendisinfeksi permukaan interior pesawat antar penerbangan dengan cepat.

Terkait membunuh bakteri di dalam kabin, khususnya kursi penumpang, GermFalcon bukanlah satu-satunya. Belum lama ini Boeing berhasil mengembangkan kursi penumpang anti bakteri. Kursi tersebut dibuat dengan bahan polimer khusus. Bahkan, inovasi tersebut juga bisa bekerja di bahan lainnya, seperti kaca, logam, dan plastik. Cara kerjanya, saat bakteri menempel di lapisan tersebut, otomatis, sistem perlindungan akan menghancurkan bakteri dan mencegahnya datang kembali dengan membersihkan dirinya sendiri.

The Grey Water Reuse Unit karya Diehl Aviation. Foto: Diehl Aviation

Kompetitor sejati Boeing, Airbus, juga tak mau ketinggalan. Pabrikan pesawat asal Eropa ini menyodorkan inovasi yang dinamakan The Airbus Dry Floor system pada gelaran CCA tahun ini. Inovasi tersebut dinilai menjadi solusi dari problem klasik di toilet, yakni becek dan kotor setiap kali selesai digunakan oleh penumpang.

Dengan adanya The Airbus Dry Floor system, nantinya, setiap kali air yang keluar dari kran air di wastafel, aircraft vacuum system dan vacuum nozzle Airbus akan langsung menyedot air sehingga meminimalisir terbuangnya air ke lantai. Sistem tersebut dinamakan automated vacuum cleaning yang kemudian juga dilengkapi dengan sistem passive transpiration untuk menghisap uang air sehingga kelembaban di dalam toilet tetap terjaga. Namun, kalaupun tetap ada percikan air di lantai, awak kabin dapat dengan mudah menyekanya dengan bantuan kain pel yang mudah digunakan.

Baca juga: Diklaim Bisa Bikin Pramugari Jadi Lebih Nyaman, Inilah Konsep Zero G-Attendant Seat

Akan tetapi, inovasi teknologi dari Airbus rasanya kurang lengkap. Sebab, air yang sudah terbuang tak bisa dimanfaatkan untuk keperluan lainnya, semisal menyiram toilet atau flush. Celah itu kemudian coba diambil oleh Diehl Aviation. Perusahaan asal Jerman tersebut berhasil menjawab tantangan terbuangnya air di toilet dengan inovasi Grey Water Re-Use Unit. Nantinya, air bekas pakai dari wastafel bisa kembali digunakan untuk menyiram toilet. Dengan begitu, beban pesawat terhadap air bersih bisa dipangkas. Ujungnya, bisa membuat efisensi bahan bakar di setiap perjalanan pesawat.

Tak berhenti sampai di situ, perusahaan yang berbasis di Nuremberg, Jerman tersebut juga berhasil mengembangkan konsep Touchless Lavatory. Alhasil, kemungkinan menempelnya kuman dan bakteri di setiap kali penumpang menggunakan toilet bisa diminimalisir dengan mengurangi frekuensi sentuhan.

Hiburan di Tengah Pandemi, Pemadam Kebakaran di Rio de Janeiro Bikin Konser dari Atas Tangga Penyelamat

Bila ditanyakan secara acak apakah pandemi Covid-19 membuat kejenuhan pada masyarakat? Pastinya banyak yang akan menjawab ya. Hal ini karena banyak kota dan negara di seluruh dunia yang menutup diri untuk meminimalisir penyebaran Covid-19 tersebut.

Baca juga: Pandemi Masih Berlangsung, Makapai di Amerika Serikat Beroperasi Meski Penumpang Menurun

Meski begitu, ternyata di Rio de Janeiro, Brasil justru mengadakan konser khusus di tengah pandemi ini. KabarPenumpang.com melansir laman newlagoon.com (2/4/2020), konser ini dihadirkan untuk ratusan penghuni sebuah lingkungan di Rio de Janeiro yang dibatasi pergerakannya untuk meminimalisir penyebaran Covid-19.

https://youtu.be/sz5uXt5Pghw

Uniknya mungkin konser biasa dilakukan oleh grup band atau penyanyi, tapi di Rio de Janeiro para petugas pemadam kebakaranlah yang melakukan konser. Beragam repertoar musik Brasil dimainkan oleh pemadam kebakaran di ketinggian 50 meter.

Dalam sebuah video, terekam pada puncak salah satu eskalator yang digunakan untuk memadamkan api, letnan dua Elielson Silva dos Santos memainkan karya-karya komposer Brazilian terkenal seperti Samba do aviao Tom Jobim dan Aquerela, Arry Barroso dengan menggunakan terompet. Kehadiran konser unik ini membuat orang-orang mengelilingi alun-alun Largo do Machado yang terletak di lingkungan Laranjeiras melalui jendela mereka.

Orang-orang ini menikmati musik yang dibawakan oleh petugas pemadam kebakaran ke jendela mereka dan salah satu lagu yang dibawa adalah lagu kebangsaan. Para pemadam kebakaran ini ternyata terinspirasi oleh inisiatif Jerman selama kurungan oleh virus corona, brigade Api Rio de Janeiro memutuskan untuk membuat presentasi di titik-titik tertentu kota, seperti pantai Copacabana, lagoa Rodrigo de Freitas yang ikonik, lingkungan mewah Leblon dan Barra de Tijuca dan alun-alun Largo do Machado.

Mereka juga melakukan konser di Rocinha, favela terbesar di ibukota dan komunitas lain seperti Cross São Sebastião dan Vidigal. Idenya adalah orang-orang yang tidak bisa keluar ke jalan-jalan untuk menikmati pertunjukan musik, setinggi 50 meter, dari jendela-jendela bangunan di dekatnya.

“Tindakan ini bertujuan untuk menenangkan jiwa dan memompa semangat di masa-masa sulit dan, pada saat yang sama, ingat bahwa petugas pemadam kebakaran selalu dekat dengan warga. Selalu bersedia melayani masyarakat,” kata saran pers.

Baca juga: Peneliti: Virus Corona Bisa Bertahan Selama 7 Hari di Masker Bedah

Aksi para petugas pemadam kebakaran ini telah meluas ke kota-kota lain di negara bagian, seperti Nova Friburgo, di mana petugas pemadam kebakaran lain, kali ini seorang pemain saksofon, memberikan konser kepada penduduk kota itu. Menurut laporan terbaru dari Kementerian Kesehatan, setidaknya 240 orang meninggal oleh pandemi virus corona di Brasil, di mana sudah ada lebih dari 6836 yang terinfeksi.

Jumlah Penumpang Turun Drastis, PT Angkasa Pura I Kurangi Jam Operasional di 15 Bandara

Terus merosotnya trafik penumpang tentu harus disikapi secara bijaksana oleh pengelola bandara. Salah satu opsi yang dapat dilakukan adalah penyesuaian jam operasional yang dilakukan untuk menutupi tingkat kerugian. Seperti PT Angkasa Pura I yang telah mengumumkan penyesuaian operasional di 15 bandara. Peyesuaian dilakukan melalui optimalisasi penggunaan area, fasilitas, dan pengaturan shift dinas petugas bandara agar kebijakan physical distancing dan protokol kesehatan terkait pencegahan penyebaran Covid-19.

Baca juga: Laporan Q1 2020 – 15 Bandara PT Angkasa Pura I Alami Penurunan Trafik Penumpang 8,11 Persen

“Penyesuaian kegiatan operasional 15 bandara ini yang dimulai sejak 1 April, terutama bertujuan agar protokol kesehatan terkait pencegahan penyebaran Covid-19 di bandara dapat diterapkan secara optimal. Hal ini sesuai dengan arahan Pemerintah terkait kebijakan physical distancing yang kemudian diturunkan dalam bentuk Surat Edaran Direktur Keamanan Penerbangan Nomor SE.10 Tahun 2020 tanggal 23 Maret 2020 perihal Pencegahan Penyebaran Covid-19 dalam Penerbangan,” ujar Direktur Utama PT Angkasa Pura I Faik Fahmi dalam pesan tertulis (9/4/2020).

Penyesuaian operasional ini didasarkan atas penurunan trafik penumpang yang cukup tajam, sekitar 25 persen pada Maret 2020 dibanding Maret 2019. Adapun upaya efisiensi yang dilakukan yaitu pengurangan waktu operasional sebagian besar bandara dan pengurangan penggunaan utilitas.

Adapun penyesuaian operasional bandara disesuaikan berdasarkan kapasitas dan kondisi trafik aktual di masing-masing bandara. Misalnya di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, yang waktu operasinya dikurangi menjadi 12 jam (pukul 06.00 – 18.00) dari sebelumnya 17 jam (pukul 06.00 – 23.00). Untuk layanan check in di terminal keberangkatan dikonsentrasikan di area C dan D. Sedangkan area A dan B dinonaktifkan untuk sementara waktu. Untuk ruang tunggu terminal keberangkatan juga hanya dioperasikan sebagian, yaitu Gate 5 hingga Gate 11. Adapun terminal kedatangan di area timur akan ditutup sehingga kedatangan maskapai rute domestik seperti Garuda Indonesia dan Citilink dipindahkan ke area kedatangan barat menggunakan conveyor belt 5 sampai 8.

Begitu juga dengan Bandara Lombok Praya yang waktu operasinya dikurangi menjadi 16 jam (pukul 06.00 – 22.00) dari sebelumnya 24 jam. Selain itu, beberapa penyesuaian operasional Bandara Lombok adalah penutupan sementara terminal internasional karena tidak ada lagi penerbangan internasional, penataan ulang flow operasi pelayanan penumpang dan pengaturan parkir pesawat, serta pengurangan waktu shift dinas petugas bandara.

Adapun perubahan durasi dan jam operasional 15 bandara Angkasa Pura I yaitu:
1. Bandara Juanda Surabaya menjadi 17 jam (pukul 05.00 – 22.00) dari sebelumnya 24 jam.
2. Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali tetap beroperasi 24 jam.
3. Bandara Sultan Hasanuddin Makassar tetap beroperasi 24 jam.
4. Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan menjadi 12 jam (pukul 06.00 – 18.00) dari sebelumnya 17 jam (pukul 06.00 – 23.00)
5. Bandara Adisutjipto Yogyakarta tetap beroperasi 13 jam (pukul 05.00 – 18.00).
6. Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) menjadi 17,5 jam (pukul 05.00 – 22.30) dari sebelumnya beroperasi 24 jam.
7. Bandara Adi Soemarmo Solo menjadi 16 jam (pukul 06.00 – 22.00) dari sebelumnya 18 jam (06.00 – 00.00).
8. Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang menjadi 16 jam (pukul 06.00 – 22.00) dari sebelumnya 18 jam (06.00 – 00.00).
9. Bandara Lombok Praya menjadi 16 jam (pukul 06.00 – 22.00) dari sebelumnya 24 jam.
10. Bandara El Tari Kupang tetap beroperasi 16,5 jam (pukul 06.00 – 22.30).
11. Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin menjadi 12 jam (pukul 06.00 – 18.00) dari sebelumnya 17 jam (pukul 06.00 – 23.00).
12. Bandara Sam Ratulangi Manado menjadi 14 jam (pukul 06.00 – 20.00) dari sebelumnya 24 jam.
13. Bandara Pattimura Ambon menjadi 14 jam (pukul 06.00 – 20.00) dari sebelumnya 17 jam (pukul 06.00 – 23.00).
14. Bandara Frans Kaisiepo Biak menjadi 9 jam (pukul 06.00 – 15.00) dari sebelumnya 14 jam (pukul 06.00 – 20.00).
15. Bandara Sentani Jayapura menjadi 9 jam (pukul 06.00 – 15.00) khusus angkutan logistik dan tidak melayani angkutan penumpang, dari sebelumnya beroperasi 14 jam (pukul 06.00 – 20.00).